© 2016 GALERI BUKU JAKARTA. ALL RIGHTS RESERVED.
 

Cerita Pendek Perbudakan ABK Kapal yang Belum Akan Berakhir

“Sudah saya pendam dalam, karena jengkel dan kadang trauma. Tapi sekarang ingatan saya terusik lagi, jengkel lagi… di sana dia dipanggil Asung, awak kapal memanggilnya… saya takut menyebut nama tapi dia orang indonesia juga, kaya sekali, punya rumah mewah di Phuket.”

| Susan Gui*

Saya menatap wajah ketiga orang laki-laki yang sedang tertawa terbahak-bahak. Mereka bertiga tertawa bukan karena ada komedi yang lucu, namun mereka tertawa karena mereka sedang berhitung berapa kali mereka sudah merasakan penjara imigrasi. Untuk sementara rekor dipegang oleh Pak Hery, Awak Kapal yang berasal dari Sukabumi, Jawa Barat. Pengalaman pertama Pak Hery merasakan penjara imigrasi di Phuket Thailand, karena salah satu surat izinnya mati beberapa hari.

Hery masuk ke dalam penjara imigrasi selama 20 menit, pada saat itu salah satu awak kapal sekaligus teman baiknya menegaskan bahwa perpanjangan surat-surat merupakan tanggung jawab dari agensi. Perihal tanggung jawab dan hak agensi tertuang dalam PKL (Perjanjian Kerja Laut).

Lalu saya kembali menatap ketiga wajah para awak kapal di Phuket, Thailand itu, mereka melanjutkan cerita lucu lainnya. Salah satunya ketika mereka harus menahan rasa lapar selama dua hari karena tidak ada makanan dan pihak agensi, hal semacam itu sering terjadi.

Sodikin, salah satu awak kapal menuturkan, rasa lapar yang ia rasakan sudah tidak bisa lagi diceritakan. Di atas kapal, segala kondisi mungkin saja terjadi. Termasuk kelaparan hingga penelantaran di atas kapal-kapal perikanan. Bagi Sodikin, bisa makan nasi dan cumi saja sudah menjadi berkah luar biasa. Terlebih lagi jika sang Kapten mau bermurah hati memberikan para awak kapal beras dan ayam.

Di atas kapal, para awak kapal harus bertahan untuk hidup selama dua tahun. Tantangan terbesar mereka bukan hanya cuaca yang buruk, ombak dan badai, namun juga kekerasan baik verbal maupun fisik.

Bagi Rudy, salah satu awak kapal yang duduk bersama saya, kesulitan untuk saling memahami bahasa menjadi kendala yang sering dihadapi.

Tiga awak kapal tersebut hingga hari ini masih berjuang untuk mendapatkan hak-haknya, berupa gaji dan uang jaminan yang telah mereka setorkan kepada agensi. Mereka telah bekerja lebih dari 10 bulan dan belum pernah mendapatkan gaji sekali pun. Jika ada kebutuhan mendadak, awak kapal terpaksa meminjam uang dari nakhoda atau agensi namun terkesan mengemis. Nakhoda pun agensi terus berdalir jika gaji mereka belum dibayarkan oleh pemilik perusahaan.

Rudy menuturkan, sewaktu lebaran hatinya ngilu. Keluarganya berharap ada sedikit uang untuk mereka bisa merayakan hari raya dalam suka cita. Rudy terus meminta kepada agensi, dan akhirnya mereka meminjamkan uang. Jika dirupiahkan jumlahnya tidak lebih dari Rp 350.000, itupun perlu perjuangan panjang untuk mendapatkannya. Uang tersebut masuk dalam pinjaman, padahal hak Rudy yang telah bekerja selama 17 bulan belum pernah dibayarkan sekali pun. Rudy tertawa geli menatap saya, seakan dia sedang mentertawakan kemalangannya di hadapan orang yang tidak pernah merasakan hal yang lebih tragis dari dirinya.

Saya menjadi ingin tahu, rata-rata awak kapal ini mengetahui buruknya kondisi para pekerja di atas kapal perikanan, lalu mengapa mereka masih mau bekerja di atas kapal? Alasan yang mereka sampaikan hampir sama semua, bahwa mereka terlahir di atas pesisir. Jiwanya adalah pelaut, tempat tidurnya adalah ombak dan buih.

Maka jika mereka harus bekerja, mereka harus berada di sekitar lautan. Di sisi lain keahlian yang mereka miliki adalah melaut, mereka memiliki pengetahuan tentang alat tangkap, pengetahuan membaca alam dan angin. Saya tidak bisa berkata apa-apa lagi, jika alasan paling mendasar adalah soal jiwanya sendiri.

Malam ini saya tutup dengan menambahkan titik pada tulisan akhir saya. Namun, bagi mereka yang hingga hari ini masih berjuang atas hak-hak penghidupannya, titik bukanlah satu tanda untuk berhenti dan memukul barisannya mundur.

Dari mata Sodikin, saya melihat cahaya baru; cahaya perjuangan untuk menolak segala bentuk perbudakan, termasuk perbudakan di atas kapal-kapal perikanan. Titik adalah tanda bagi Sodikin, Hery dan Rudy untuk menyudahi hari ini dengan memikirkan segala bentuk kemungkinan untuk perubahan. Tidak ada yang ingin diperlakukan tidak baik, sekali pun kami buruh yang bekerja pada satu perusahan. Selamat Hari Buruh 2017, napas kita masih panjang; untuk memutus rantai perbudakan di kapal-kapal perikanan. (*)

—————————–

*Susan Gui: Penulis Lepas, Pekerja Sosial dan Ibu Rumah Tangga.

Share Post
Written by

Galeri Buku Jakarta (GBJ) merupakan portal berita literasi; “halaman kebudayaan” yang memuat dan menayangkan karya-karya tulis (literature) mau pun ragam karya seni lain dalam bentuk fotografi, video, mau pun lukisan dengan tujuan mendampingi proses pembangunan manusia Indonesia. Kirim karyamu ke email redaksi: galeribukujakarta@gmail.com Twitter @galeribuku_jkt

No comments

LEAVE A COMMENT