Connect with us

Buku

Catatan Kecil tentang “Menuju tak Terhingga”

mm

Published

on

 

Penulis: Hendra Gunawan.

Judul: Menuju Tak Terhingga.

Penerbit: Penerbit ITB Bandung

Tahun : 2016

Peresensi: Andi Achdian*

Semesta adalah kolam keruh dengan teratai, katak, serangga, dan seekor bunglon yang sedang berganti warna dengan tubuh kehijauan bercampur coklat tua. Ini adalah sepenggal ingatan ketika anak kecil bosan bermain dan orang dewasa sibuk sendiri. Dunia adalah sederet pertanyaan. Apakah semesta semacam mangkuk dengan sup hangat di dalamnya?

Guru sekolah dasar bercerita tentang telur Columbus dengan muka jenaka. Saya pun mengayuh sepeda menuju pelabuhan. Persoalan bagaimana bumi bulat bundar dan kita tidak terlempar ke ruang angkasa memenuhi isi kepala. Namun yang nampak hanya kuli-kuli pelabuhan dengan karung-karung di pundaknya, laut bercampur oli kapal, dan anak-anak nelayan yang bergerak seperti manusia ikan.

***

Lembaran halaman di buku tipis “Menuju tak Terhingga” karya Hendra Gunawan (2016) adalah mantra penyihir nokturnal yang membawa imajinasi terbang tinggi pada dekade-dekade lalu. Ada sejumlah rumus yang saya tak paham. Namun ada pula kisah menawan melatari kelahiran setiap persamaan melalui perkalian, pembagian, dan penjumlahan berbagai bilangan. Segala sesuatu yang tercatat dalam buku ini menghidupkan kembali dunia penuh pertanyaan masa  kanak-kanak yang lama hilang dalam kehidupan dewasa.

Orang awam melihat dunia sebagai apa adanya. Namun selalu ada masa ketika sesuatu yang bersifat maha—besar dan kecil—menyelinap hadir dalam benak. Buku ini memberikan kesenangan saat menarik diri dari dunia ramai dan tenggelam dengan sejumlah pertanyaan.

Matematika selalu memiliki banyak cara menghadirkan dunia di luar sana, baik yang kongkrit serupa lapangan tempat orang bermain bola atau yang abstrak sekalipun tentang batas terjauh semesta, melalui sejumlah bilangan dan persamaan.

Kepada pembaca, saya meminta permaklumannya untuk tidak menuntut terlalu banyak kepada saya pribadi untuk menyampaikan wujud perhitungan matematis yang disampaikan buku ini. Saya bahkan sudah tidak mengingat lagi detailnya saat menulis ulasan tentang buku itu. Bahkan saya lebih ingat kumis pelukis Dali saat penulis buku ini menyampaikan simbol pengakaran dalam  salah satu perhitungan matematisnya.

***

Saya tertarik untuk menulis catatan kecil tentang buku tersebut dalam ulasan ini karena memang penulisnya bisa menghargai pembaca awam seperti saya. Segala perkara dalam dunia matematika senantiasa dimulai dari kehidupan dunia manusia yang dipahami maksud dan tujuannya.

Membaca buku ini pada akhirnya lebih membawa saya pada satu penyesalan. Mengapa pengajaran matematika dahulu membenamkan segala pertanyaan yang pernah muncul dalam imajinasi kanak-kanak saya?

Saya pun kehilangan selera terhadap segala sesuatu yang disebut matematika sejak menginjak sekolah menengah. Sepertinya ini bukan sebuah pengalaman unik.

Anak-anak Indonesia boleh saja menghasilkan sejumlah medali emas olimpiade matematika dunia. Mereka mampu berhitung cepat dengan jawaban yang juga tepat. Tidak dapat disangkal ini merupakan kecerdasan yang patut dihargai pencapaiannya. Namun persoalannya sekali lagi, sejauh mana isi kepala mampu melahirkan sejumlah pertanyaan dengan kemustahilan tak terhingga?

“Menuju tak Terhingga” menjadi alasan bahwa segala sesuatu yang benar dan salah terkadang sekedar persoalan waktu. Sayangnya, anak-anak kita sudah dibuat takut untuk “berbuat salah”  sejak belia. Anak kecil pun akhirnya bosan bermain dan orang dewasa kembali sibuk sendiri. (*)

*Andi Achdian, Sejarawan.

 

Continue Reading
Advertisement

Journal

Gunawan Wiradi: Konsepsi Tentang Ilmu dalam Penelitian Masalah Agraria

mm

Published

on

“Ilmu (science) bukanlah masalah isi pengetahuan itu sendiri, melainkan suatu ‘metode pendekatan’, yaitu metode yang menghasilkan temuan yang dapat diuji kebenarannya, melalui penelitian.”

___

Oleh: DrHC. Ir. Gunawan Wiradi M.Sos.Sc

Di dalam membicarakan konsepsi tentang ilmu, maka sekedar sebagai titik tolak, akan disampaikan pandangan yang berasal dari aliran positivisme. Menurut kaum positivist, ilmu merupakan usaha untuk memperoleh bangunan pengetahuan yang dapat meramal dan menjelaskan berbagai fenomena di dunia ini. Untuk itu, harus disusun teori-teori, yaitu pernyataan-pernyataan yang sangat umum sifatnya mengenai keteraturan hubungan-hubungan segala yang terdapat di dunia ini, yang memberikan kemampuan kepada kita untuk dapat meramal dan menjelaskan berbagai fenomena yang kita temukan melalui observasi dan eksperimen secara sistematis (Keat and Urry, 1980: 4).

Tujuan ilmu adalah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang timbul sebagai akibat dari adanya “puzzles” (kejutan, keterheranan) yang dihadapi manusia (Kuhn, 1970). Dengan kalimat lain, tujuan ilmu adalah mencari kebenaran (truth), dalam hal ini adalah kebenaran ilmiah. Adapun yang dimaksud dengan kebenaran ilmiah adalah kebenaran obyektif-positif, bukan kebenaran normatif. Jadi, bukan masalah right or wrong, tetapi masalah true or false. Untuk ini, semua kegiatan ilmiah dalam rangka mencari kebenaran dalam arti ini haruslah didasarkan pada suatu sikap berpikir secara ilmiah (scientific attitude of mind), dan bukan pada sikap dogmatis, misalnya.

Ada beberapa prinsip di kalangan ilmuwan yang biasanya dijadikan pegangan di dalam bersikap ilmiah ini, walaupun di antara prinsip-prinsip itu ada yang masih selalu menjadi perdebatan di antara mereka, bahkan memecah para ilmuwan menjadi dua atau lebih kelompok-kelompok yang saling silang pendapat atau sikap. Beberapa prinsip itu adalah sebagai berikut (Bierstedt, 1970):

  1. Obyektivitas (tetap menjadi debat, terutama secara filsafat).
  2. Netralitas etik atau “bebas nilai” (tetap menjadi debat, bahkan dalam hal ini ilmuwan terbelah menjadi dua kelompok).
  3. Relativisme, yakni bahwa “kebenaran ilmiah” itu sifatnya sementara. Artinya, sesuatu itu dianggap benar (setelah diuji dengan metode ilmiah), sepanjang belum ada bukti-bukti ilmiah yang lain uang membantahnya.
  4. Parsimony, maksudnya adalah “hemat” atau “secukupnya”. Artinya, cara menguraikan sesuatu itu jangan sampai berlebihan. Ini bukan soal panjang pendeknya uraian, melainkan bahwa menguraikannya jangan melebihi yang diperlukan.
  5. Skepstisime, maksudnya suatu sikap kritis, dengan selalu bertanya “benarkah begini”, “salahkah begitu”, “mengapa”, dan seterusnya.
  6. Kerendahan hati (humility).

Selain berpijak pada prinsip-prinsip sikap ilmiah di atas, kebenaran ilmiah lebih lanjut juga didasarkan atas kriteria tertentu. Ada berbagai teori tentang kriteria kebenaran ilmiah ini, tetapi pada hakikatnya dapat dibedakan menjadi dua teori; dan pada umumnya kedua-duanya ini adalah aturan yang harus ditaati oleh semua cabang ilmu, yaitu teori koherensi dan teori korespondensi.

Teori Koherensi. Kriterium koherensi menyatakan bahwa “sesuatu pernyataan itu dianggap benar apabila pernyataan itu ‘koheren’ dan konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang telah dianggap benar”. Hal ini didasarkan atas anggapan bahwa sumber kebenaran adalah rasio (reason). Pola pikir yang demikian ini biasa disebut sebagai pola deduktif-rasional.

Teori Korespondensi. Teori ini menyatakan bahwa “suatu pernyataan itu dianggap benar apabila materi yang dikandung oleh pernyataan itu ‘bersesuaian’ (corresponds) dengan obyek faktual yang dituju oleh pernyataan itu”. Artinya, isi pernyataan itu harus mempunyai manifestasi empiris (artinya, bersifat nyata dalam pengalaman atau pengamatan). Di sini yang dianggap sebagai sumber kebenaran adalah fakta. Pola berfikir ini bersifat induktif-empiris (faktual).

*) Gunawan Wiradi, adalah pakar politik agraria indonesia, Guru Besar IPB dan penasihat di berbagai organisasi penelitian dan jurnal.

Unduh Makalah Lengkpanya di sini 

Continue Reading

Buku

Memungut Welas Asih dari “The Adventures of Huckleberry Finn”  karya Mark Twain

mm

Published

on

Shinta Maharani *)

Sosok Finn istimewa karena ia digambarkan sebagai cerdik yang kemampuannya menggunakan akal begitu menonjol.Dia digambarkan selalu menggugat sesuatu yang tidak masuk akal buat dia. Misalnya suatu hari keluarga angkatnya, janda Douglas mengeluarkan buku dan mengajari Finn tentang Musa dan pengrajin rotan. Tubuh Finn mengucurkan keringat dingin karena ia takut bertemu dengan Musa. Janda Douglas kemudian mengatakan bahwa Musa telah lama mati. Finn lalu tak takut lagi karena dia tidak percaya kepada orang yang sudah mati.

Sementara Tom Sawyer sendiri identik dengan heroisme. Dia digambarkan ingin mengumpulkan semua budak, mengajak mereka berdansa, dan mengaraknya ke kota dengan iringan kelompok musik tiup. Dengan begitu dia akan menjadi pahlawan.

Mereka berdua sahabat karib yang tidak tahan berada di rumah. Mereka gemar berpetualang ke hutan, menyusuri lembah, berkumpul di gua, dan bermain-main.

“Aku merasa sangat kesepian dan nyaris berharap mati saja. Bintang-bintang berkilauan di langit, dan desau daun-daun di hutan terdengar begitu memilukan. Aku mendengar suara burung hantu di kejauhan, mengabarkan ada seseorang yang sedang mendekati ajalnya,” kata Finn.

Dia anak yang malang. Ayahnya suka memukuli Finn dalam kondisi mabuk berat. Finn terbiasa hidup susah dengan pakaian compang camping, penuh lumpur. Janda Douglas kemudian menjadi keluarga angkatnya. Dia tak tahan dikurung dan aturan rumah keluarga angkatnya.

Finn suka mengendap-endap keluar rumah menemui Tom. Suatu hari Tom mengajaknya pergi ke gua bersama rombongan anak-anak lainnya. Mereka merencanakan merampok orang-orang, menjarah barang-barang berharga, dan membunuh orang yang dirampok. Tentu saja ini cuma main-main.

Di dalam gua, mereka membikin janji sumpah setia sebuah geng berandalan. Melukai tangan dengan peniti lalu menggoreskan darah sebagai bentuk sumpah setia geng. Ketua geng si Tom Sawyer.

Kenakalan-kenakalan mereka semakin menjadi-jadi. Suatu hari mereka ingin berpetualang menggunakan rakit menyusuri sungai Mississippi bersama budak Jim.

Tapi, Jim budak yang dirantai oleh tuannya. Sebagian orang ingin menggantungnya untuk dijadikan contoh buat semua budak agar tidak coba-coba melarikan diri. Orang-orang memaki Jim sebagai tawanan. Tapi, Jim tidak membalas sedikitpun.

Tom dan Finn berusaha membebaskan Jim. Merencanakan pelarian Jim. “Mereka tak berhak mengurung dia. Bertindaklah, jangan buang-buang waktu lagi. Bebaskan dia. Dia bukan budak, dia bebas seperti makhluk lain yang hidup di atas bumi,” kata Tom.

The Adventures of Huckleberry Finn by Mark Twain

Finn lalu berusaha membebaskan Jim. Alasan dia ingin membebaskan Jim karena ingin berpetualang bersama Jim di atas rakit menyusuri sungai Mississippi.

Jim dikurung di sebuah pondok dengan rantai pada pergelangan kakinya yang terluka dan nyaris membusuk. Finn mencuri kunci rantai. Mereka lari dikejar sejumlah orang dan anjing.

Finn yang tengil kemudian menyuruh Jimm melepas bajunya. Dia mengalihkan perhatian anjing pengendus. Sedangkan Jim berenang ke tengah sungai. Finn menaruh baju Jim di semak-semak. Dia memanjat pohon.

Jim bebas. Suatu hari Tom mengajak Finn pergi berpetualang. Tapi, Finn sedang memikirkan ayahnya yang menghabiskan uangnya untuk mabuk-mabukan. Kepada Finn, Jim berkata ayah Finn tidak akan kembali (mati).

“Kau ingat rumah yang hanyut di sungai itu, yang di dalamnya ada seorang laki-laki terjebak? Waktu itu aku masuk untuk melihatnya dan melarangmu ikut masuk,” kata Jim.

*

Apa yang terjadi berikutnya? Mereka merantai kedua tangan dan kakinya. Setelah kejadian itu, mereka bilang Jim hanya akan mendapatkan roti dan air hingga majikannya datang. Dia akan dijual ke pelelangan jika majikannya tidak datang dalam kurun waktu tertentu.

Kutipan yang ada dalam dua bab terakhir “The Adventures of Huckleberry Finn” itu karangan sastrawan penting Amerika Serikat Mark Twain. Karya sastra modern yang diterbitkan pertama kali pada 1884. Usia karya yang berkali-kali difilmkan itu sekarang 135 tahun.

Novel penuh petualangan seru bocah bandel ini berlatar perang sipil Amerika Serikat tahun 1860. Perbudakan, rasisme, segregasi kulit putih dan kulit hitam merajalela. Tragedi kemanusian yang mengerikan.

Mark Twain adalah nama pena dari Samuel Langhorne Clemens, yang meninggal pada 1910 dalam usia 74 tahun. Dia dilahirkan sebagai anak dengan kondisi tubuh yang lemah. Ayah Mark Twain meninggal karena pneumonia saat dia berumur 13 tahun. Mark Twain meninggalkan bangku sekolah dan bekerja di bidang percetakan.

“The Adventures of Huckleberry Finn” tak lepas dari karya lainnya berjudul “The Adventures of Tom Sawyer”. Keduanya saling bertautan, mengisahkan dua bocah panjang akal dan karenanya mungkin “bandel”. Finn yang istimewa karena akalnya, dan Tom yang heroik.

*

Karya ini membawa pesan mendalam tentang persahabatan Finn dengan budak Jim, pencarian kebebasan, dan melawan prasangka rasial. Saya ingin menekankan soal rasialisme yang kini jadi masalah kemanusian akut. Saya teringat beberapa masalah berlatar rasialisme yang menghentak jagad mental kewargaan kita akhir-akhir ini. Di Yogyakarta misalnya, praktik rasialisme gagah menjulang di tengah yogya yang damai dan istimewa.

Hanya gara-gara beragama Katolik, seorang seniman ditolak mengontrak di sebuah kampung dengan aturan hanya Muslim yang bisa tinggal di kampung itu. Alasannya kearifan lokal. Belum lagi masalah yang terjadi sebelumnya, nisan bersimbol Katolik dipotong dengan alasan itu kuburan kampung Muslim. Rasialisme lainnya juga menimpa orang-orang yang dianggap separatis (Papua Barat) dan orang-orang yang dilabeli sebagai preman. Betapa mudah menjalar rasialisme seperti urat syaraf manusia yang tak putus.

Dari The Adventures of Huckleberry Finn, kita bisa belajar kepada bocah yang sekuat tenaga melawan prasangka rasial dan arti kemanusiaan. Finn bocah bandel, miskin, gembel, pemberontak, tidak menyukai dunia sekolah, tapi pintar, dan suka menolong. Dia patut jadi inspirasi buat orang-orang dewasa untuk keberaniannya menolak rasisme. Kapan terakhir kita belajar dari dunia kanak-kanak yang bebas dan begitu tulus pada rasa kasih kemanusiaan?

Oh ya di negeri Abang Sam, karya ini sempat dilarang di sekolah-sekolah karena kritiknya terhadap situasi sosial negeri itu. (*)

*) Shinta Maharani, penulis lepas dan jurnalis.

 

Continue Reading

Buku

Nasib Sunyi Seorang Penyendiri

mm

Published

on

Shinta Maharani *)

Bartleby terbaring meringkuk di dekat dinding dengan lutut menekuk, dengan kepala menyentuh batu yang dingin. Tak ada bagian tubuhnya yang bergerak. Dia hidup tanpa makan dan kemudian menutup matanya.

Dan Herman Melville, pengarang Amerika Serikat dalam bukunya “Bartleby; Si Juru Tulis” pun mengakhiri cerita pendeknya: “Bartleby Si Juru Tulis. Bartleby di Wall Street, jantung uang New York, Amerika Serikat. Tempat para pialang saham bersaing di pinggiran kota Manhattan. Surga para kapitalis yang tak pernah sepi.”

Sepanjang cerita, Bartleby menjadi tokoh yang keras kepala. Dia selalu membuat jengkel pengacara yang menjadi bosnya. Bartleby seorang pemuda yang pucat dan mengundang iba. Dia jenis orang yang kalem dan berkepala dingin.

Penolakan, Apa Artinya? 

Sebagai juru tulis, ia pendiam dan senang mengurung diri, Bartleby menikmati pekerjaannya menyalin dokumen. Ia sama sekali tak beristirahat menulis. Semalaman penuh, dengan bantuan cahaya matahari di kala siang dan lilin di saat hari gelap. Wajahnya pucat bagai mesin dan ia tak berkata-kata.

Suatu hari sang pengacara meminta Bartleby untuk membantunya memeriksa dokumen. Tapi, Bartleby menolak “Saya tak mau,” kata dia.

Herman Melville

Si pengacara mengulang lagi perintahnya dan Bartleby bersikukuh menolak. Sejak itu hari-hari pengacara dan Bartleby diwarnai ketegangan. Bartleby selalu menolak perintah si bos.

Bartleby yang tenang dan dingin terus saja bekerja di dalam ruangannya. Tak mau keluar dari pertapaannya. Si pengacara tak tahu harus berbuat apa lagi. Hingga suatu hari dia mengusir Bartleby dan dia tidak mau pergi dari ruangannya.

Pengacara sangat jengkel dengan sikap Bartleby yang sekeras batu. Tapi, ia juga kasihan pada Bartleby yang malang.

Bartleby tak mau pergi dari kantor itu. Rekan-rekan pengacara yang datang ke sana pun tak mampu menyuruh Bartleby melakukan keinginan mereka. Ketegangan, mungkin juga frustasi dari kedua pihak mengemuka, terus berlangsung dan memuncak.

Bartleby sekonyong-konyong jadi momok dan setan. Pengacara kehilangan akal. Mau lapor polisi tapi ia kasihan karena di penjara Bartleby akan menjemput kesuraman.

Keputusan pun didapat! Akhirnya pengacara menempuh jalan tak semestinya, ia mengalah, bukan mengusir, ia sendiri yang pindah meninggalkan kantor itu. Si pengacara mengosongkan kantor. Semua perabot dibawa. Bartleby tak merespon, ia tetap berdiri di balik sekat biliknya yang akan dibongkar.

Dia mengucapkan selamat tinggal kepada Bartleby. Sepekan kemudian ia datang ke kantor lamanya. Bartleby tetap berada di gedung di Wall Street. Dia duduk di pegangan tangga di siang hari dan tidur di pintu masuk di malam hari. Dia tak mau beranjak meski diusir berkali-kali. “Saya suka diam tak bergerak,” kata Bartleby.

Hingga suatu hari, pemilik baru kantor lama pengacara memberi tahu kalau dia melaporkan Bartleby ke polisi sebagai gelandangan. Si juru tulis tak melawan ketika digiring polisi. Beberapa pejalan kaki iba terhadap Bartleby. Dia berjalan tenang melewati panas dan riuh jalanan.

Di penjara dia tak mau menyentuh makanan. Ia senang menyendiri di lapangan kompleks penjara dengan dinding tinggi yang mengelilingi. Tak semua tahanan boleh ke lapangan.

Bartleby menghembuskan napasnya di lapangan yang senyap. Pemakamannya sepi.

*

Setelah membaca cerpen ini ingatan saya seakan terus bangkit di jalan-jalan, saat saya melintasi jalanan tengah malam hingga subuh menjelang. Melihat gelandangan di pasar-pasar, tidur di emperan toko-toko. Mereka melawan dinginnya malam, serbuan nyamuk, dan tikus yang mondar mandir.

Seperti Bartleby, nestapa menyusup di antara gemerlap bintang dan kerlap kerlip lampu kota.

Untuk perempuan yang menjulurkan tubuhnya di emperan penjual kembang mawar-melati tengah malam: selamat tidur. Kesendirian tak kalah sepi dari kesunyian, aku tak pernah benar-benar tahu.

*) Shinta Maharani, penulis lepas dan jurnalis.

 

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending