Connect with us

Cerpen

Camilo Jose Cela : Tukang Foto Keliling Bernama Sanson Garcia

mm

Published

on

SANSON GARCIA CERCEDA Y EXPOSITO DE ALBACETE menggunakan mata kenangannya ketika mengintip lewat corong dalam kerudung alat pemotretnya. Mata kirinya, karena suatu kejadian tak terelakkan, tercampak di Sorihuela Provinsi Jaen pada hari San Claudio di awal maas kediktatoran, dalam pertengkaran dengan seorang Prancis tak berprinsip—Juanito Clermond—yang dijuluki orang Aristides Briand II.

Sejak kecil Sanson Garcia sudah menyenangi fotografi yang menyebabkan ayahnya, Don Hibrido Garcia Exposito Y Machado Coscuelluela, memukulnya sampai lebam sambil berkata—tentulah karena ia tahu kenapa—bahwa fotografi bukanlah pekerjaan yang layak buat laki-laki.

“Tapi Ayah, saya ragu,” sanggah Sanson untuk mengatasi rasa sedihnya, “Mana ada tukang foto perempuan yang bergerak dari satu kota ke kota lainnya.”

“Diam, kataku! Lebih hormatlah pada bapakmu, anak cacing! Lebih hormatlah pada orangtua!”

Dan Don Hibrido, seorang penganut dialektika, tak pernah beranjak dari pendiriannya. Melihat ayahnya bersikeras seperti keledai, Sanson diam, karena kalau tidak keadaan akan bertambah buruk.

“Tenang, Ayah, tenang! Saya akan memikirkan usul Ayah.”

“Bagus begitu…..”

Don Hibrido Garcia Exposito dulu seorang pemilik penginapan. Selama kurang lebih empat puluh tahun ia memiliki sebuah penginapan yang hasilnya kecil tapi teratur di Cabezarados, daerah La Mancha di kaki Sierra Gorda, tidak jauh dari Telaga Carrizoca dan Perdiguera. Pada masa itu Don Hibrido adalah seorang bos yang mandiri, seperti yang selalu dibanggakannya.

“Aku senantiasa menyukai orang mandiri, yang jika bilang begini diikuti semua orang, baik mereka senang atau tidak. Orang seperti itulah yang kusebut lelaki sejati. Sialnya sekarang tak ada lagi orang seperti itu. Contoh telaki sejati adalah kardinal Cisneros dan Agustine de Aragon. Bandingkan dengan cacing-cacing yang sudah jatuh pingsan hanya karena menyaksikan setengah lusin orang yang luka. Tak tahulah aku mau jadi apa dunia ini.”

Dengan sikap mandiri yang tegar itulah Don hibrido mengaggap enteng semua orang, kecuali istrinya yang berasal dari lalin, yang satu hari setelah kawin menggosok satu telinga suaminya dengan setrika, hingga telinga itu keriput seperti kol Brussel.

Sanson yang agak urakan—sehingga terus-menerus menggelisahkan Don hibrido—banyak menderita. Setelah perang berakhir ia membaca pernyataan Sekretaris Departemen Industri dan Perdagangan tentang kewajiban mandiri yang membuatnya gemetar, gelisah, dan sedih.

Apa jadinya kita ini, pikirnya. Air sudah sampai ke leher!

            Sanson Garcia yang sangat alergi pada kata mandiri, dengan mata sebelah, kamera berkaki tiga dan kerudung seperti akordion itu, telah melengkapi klub fotografi Spanyol dengan gambar anak-anak manis berambut-jurai memakai sandal, anggota pasukan infanteri yang menyerahkan tanda mata pada buah hati, para babu berambut kelabu di kuduk, dan sekelompok gadis kota kecil yang kecantikan alamiahnya tiba-tiba bertukar dengan terima kasih pada segelas anggur putih dan pawai perkawinan yang sumbang.

Sanson Garcia sebenarnya sangat liris; ia penyair sejati yang merasa sangat bahagia dengan pekerjaannya yang terus berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

“Aku puas,” kadang-kadang ia berpikir setelah menyantap makanan hangat, “dapat bekerja sambil melihat orang-orang tersenyum. Aku pikir tak ada pekerjaan seperti ini di seluruh dunia. Bahkan tidak tukang goreng pastel!”

Sansom menyukai alam, anak-anak kecil laki-perempuan, hewan dan pohon-pohon. Matanya hilang dalam pertengkaran dengan Aristides Briand II, karena orang Prancis itu hendak mencoba guillotine tipe barunya pada beberapa ekor kucing yang malang.

Aristides Briand Ii berkata, “Aku menyukai kemajuan dan aku gembira dapat menyumbangkan sesuatu pada evolusi teknik. Lagi pula aku ini orang asing dan memerintah diriku menurut hukum Prancis.”

Sanson Garcia menjawab, meskipun Aristides orang asing tapi kucing-kucing itu tetap Spanyol, dan ia tak akan tenggang rasa terhadap kezaliman. Sebagai jawabannya, Aristides menghardik, “Babi! Keledai kampung tak makan sekolah!” Dan sanson langsung menyambung dengan dua kali babi, dua kali keledai kampung dan dua kali tak makan sekolah. Lalu si Perancis memberi tinju yang menyebabkan mata sanson tingggal satu untuk seumur hidupnya.

Setelah sembuh, Sanson menempelkan kain hitam pada bagian matanya yang hilang, sedangkan Aristides Briand II kabur bersama guillotine tipe barunya untuk bereksperimen di tempat lain, karena kecuali beberapa orang, penduduk Sorihuela memihak Sanson Garcia dan hendak menghukum orang Perancis itu.

***

“YANG Anda lihat ini,” kata Sanson sambil memperlihatkan foto seorang gadis sintal pada saya, “Genovevita Munoz, penyanyi asal Valencia del Mombuey, provinsi Badajos dekat sempa dan Portugal, tepat di depan Cerro Mentiras, Saya mencintai nona ini sedikit.”

Dengan gaya seorang Don Juan yang berpengalaman, Sanson meneguk anggur dan melanjutkan, “Meskipun menggairahkan kalau ia mau, Genovevita agak cepat naik darah, kenyal-liat seperti tak bertulang-tengkorak, sehingga kalau lagi datang anginnya—biasanya sebulan sekali—hindarilah dia seperti menghindari wabah. Sungguh, siapa pun yang dekat akan celaka, karena Genovevita menyimpan penyodok tukang sepatu dalam tasnya. Coba lihat ini!”

Lekukan yang ditunjukkan Sanson di tengkuknya cukup untuk sebuah mata uang logam.

“Tetapi perlu juga anda tahu, Genovevita sangat memikat dan berbakat, perempuan yang selalu dirindukan lelaki. Tak pernah dipersoalkannya berapa tebal dompet Anda seperti yang biasa dilakukan perempuan lain, tapi yang pertama dia tanyakan adalah lelaki macam apa Anda. Sebelum mulai bicara, dia memastikan dulu apakah lawan bicaranya itu orang Spanyol atau bukan. Dia selalu bilang, ‘Saya ini Spanyol, seperti Sang Perawan dari Pilar. Dan saya tak mau tahu tentang orang Prancis.’ Barangkali dia benar.”

Sanson meneguk habis anggur di gelasnya dan memanggil pelayan.

“Dua anggur putih.”

“Baik, baik!”

Apabila Sanson merasa sedih dan sentimentil, penutup hitam matanya berubah dari warna sayap terkembang menjadi hijau berkabung.

“Dan lanjutan ceritanya, Genovevita Munoz pada usia sangat muda sudah menjadi pembantu rumah tangga di Barcarrota, tempat arena pertandingan sapi yang berada dalam puri seperti kaki di dalam kaus. Karena gajinya kecil, banyak kerja dan tafsiran sang majikan untuk istilah babu-penuh sudah melampaui batas, Genovevita pun terbang pada kesempatan pertama; ia terdampar di Valverde del Carmino di wilayah Huelva, di bawah naungan bukit-bukit Sedundaralejo, tempat dia bergabung dengan kelompok Seni Pertunjukan Rakyat Oriflamas de Andalucia yang menyebabkan dia terombang-ambing antara berkeringat dan menahan lapar dari satu peristiwa ke peristiwa lain sepanjang ciptaan Tuhan. Karena pada mulanya ia tidak pandai menyanyi  dan menari, sang manajer menyuruhnya berjalan hilir-mudik di atas panggung memakai rok dalam. Baru dalam lakon Para Pemandi New York, La Genovevita menjadi tenar dan disukai umum, sehingga terbukalah harapan pekerjaan yang lebih baik.”

Pelayan berkemeja kotor, celana cururoy dan celemek bergaris hijau dan hitam meletakkan dua gelas anggur putih di atas meja, dan sebuah piring kecil berisi dua butir limau yang sudah kisut.

“Saya berjuma La Genovevita di San Martin de Valdeiglesias, sebuah kota subur-makmur di antara Avila dan Toledo. Dia sudah menjadi anggota paduan suara dalam lakon Gema Panas Karibia, menarikan rumba dan danzon sedikit sebelum bagian kedua berakhir. Sebenarnya dia mencoba meniru Suara Api Camaguey yang dinyanyikan Belan Baracoa, gadis mulatto dari Betanzoz yang terkenal dengan aksen Galisia itu. Menonton La Genovevita dan jatuh cinta padanya, saya lalu bersumpah demi semua yang penting dalam hidup ini. Itu saya katakan degnan cara terbaik menurut saya, dan dia menjawab dengan ya yang penuh gairah; dan karena tak ada tempat buah saya dalam Gema Panas Karibia kami pun pergi ke ibukota, tinggal di alam terbuka seperti pasukan jalan-kaki, sambil berpikir alangkah malangnya kami, karena di ibukota anjing-anjing ditambat dengan sosis. Segera kami menyadari kekhilafan itu—jika anjing-anjing ditambat dengan sosis, sosis itu tentu rapat di perut majikannya—lalu setelah berpikir masak-masak, kami pun pergi dari situ dengan kesimpulan lebih baik mati di hutan seperti kelinci daripada seperti kucing di tempat terbuka. Dua anggur putih!”

“Apa?”

“Bukan, bukan kepada Anda. Saya memanggil pelayan. Ia tidur. Oi, dua anggur putih!”

“Ya, ya.”

“Seperti sudah kukaktakan tadi, saya ini berbakat pencemburu dan tidak terlalu ambil pusing soal profesi La Genovevita sebagai artis, sebab seperti Anda tahu para artis biasanya punya reputasi buruk—begitulah pada suatu hari saya bangkitkan keberanian, pergi kepadanya dan berkata, ‘Dengarkan, Genovevita sayang. Cinta dalam kehidupan tak boleh disamakan dengan yang di atas panggung.’ Dia lalu menggeliat, siap menyerang. Darahnya mendidih, lalu menghamburkan diri sambil menghadiahkan satu pukulan yang kalau tak segera dihentikan—saya tidak malu mengakui ini—pastilah menyebabkan saya tak dapat mengisahkan cerita ini pada Anda.”

Wajah Sanson bersinar dengan senyuman tipis.

“Bukan main cantiknya La Genovevita dengan rambut merebang dan mata seperti harimau! Maafkan saya karena tak dapat mengingat hal itu tanpa rasa pilu. Jika Anda punya perasaan sama seperti saya, kita lanjutkan cerita ini lain kali.”

“Terserah.”

“Terima kasih. Hari ini saya tak bisa melanjutkannya. Pelayan, empat ya.!”

***

ESOKNYA, Sanson Garcia tampak seperti enggan melanjutkan cerita tentang La Genovevita.

“Bagaimana sambungan cerita perempuan kemarin?”

Sanson menyeringai.

“Lebih baik kita tinggalkan saja kisah itu. Penutupnya tidak bagus, artinya cerita itu buruk di ujung. La Genovevita memang cantik, itu tidak saya sangkal, tapi rasa pemarahnya tak tertanggungkan. Dia sendiri heran dan selalu bertanya pada saya, ‘Sanson, tololkah saya ini?” Tentu saja saya menyangkal, “Tidak, Sayang. Kau sama seperti orang lain. ‘Tapi itu tidak benar. Percayalah, La Genovevita lebih tolol dari kebanyakan orang. Lebih baik kita cerita yang lain saja.”

“Terserah.”

Sanson Garcia terdiam.

“Terima kasih. Maukah Anda jika saya ceritakan tentang Senorita Tiburcia del Oro Y Gomis, juru rawat lautan kasih yang menggantikan tempat la Genovevigta di hati saya?”

“Ceritakan saja.”

Sanson menggeser kursinya ke belakang sedikti dan berkata, “Ya, begitulah. La Tiburcia del Oro, meskipun namanya seperti matador perempuan, adalah seorang gadis yang punya prinsip, terdidik, rajin, terpelajar. La Tiburcia del Oro—maaf, menyebutnya Tiburcia saja rasanya kurang sopan—saya jumpai di Cuenca, ibukota provinsi tempat dia mengurus anak-anak orang kaya, yang makan sup dengan tangan dan sehari suntuk berjingkrak di atap rumah. ‘Tak ada yang dapat melarang mereka,’ kata Tiburcia pada saya. ‘Paling-paling hanya membiarkan dan melihat mereka jatuh. ‘Beberapa hari sesudah itu saya bertemu dia dengan rasa iman yang mendalam. Anda dengar tidak?”

“Ya, tentu. Teruskan!”

“Begitulah. Beberapa hari setelah berkenalan, seorang di antara anak-anak yang diurusnya, bernama Julito, jatuh dari atap dan meninggal. Ah, si bandel cilik!”

Sanson diam sebentar.

“Lalu orangtua si anak menendang La Tiburcia del oro sampai ke jalan raya dan tidak membayarnya satu sen pun. Kemudian, setelah terlunta-lunta sendirian, La Tiburcia del oro tiba di tempat saya menginap di gang del Clavel; di situlah kami bertemu; saya, La Tiburcia del oro, ibu pemilik penginapan bernama Donna Ester, dan pedagang keliling berwajah bopeng bekas cacar. Simeoncito namanya, yang meskipun tubuhnya seperti raksasa, ia sudah berpisah dengan istrinya dan diam bersama kami. Dengan bersimbah airmata, La Tiburcia del oro hanya dapat berkata, ‘Malapetaka! Malapetaka!’ Untuk menenangkan dia, kami semua berkata, ‘Jangan berduka. Julito itu memang bandel.’ Anda pasti tahu tak banyak kata-kata yang dapat kami keluarkan dibanding sedih-pedih yang ditanggung La Tiburcia del Oro.”

Sanson Garcia berhenti dan melihat orang-orang yang naik ke atas atap.

“Mereka seperti anak-anak kecil, bukan? Anak-anak yang jatuh dari atap.”

“Hah?”

Sanson melanjtukan ceritanya.

“Polisi, yang banyak tahu soal hukum, menyarankan jalan terbaik bagi la Tirbucia; lari dari situ. ‘Kalau kau suka, kau boleh pergi bersamanya,’ kata polisi itu, ‘tapi yang penting dia harus segera bergi sebelum keadaan bertambah buruk.’ Ibu pemilik penginapan dan Simeoncito setuju pada usul itu. Begitulah. La Tirbucia dan saya membeli dua karcis kereta kelas tiga dan tiba di Calencia, sebuah kota di Turia kata orang, tempat saya mendapat pekerjaan di studio foto El Arco Iris; dan membuat foto-foto besar dan berwarna tentang orang-orang yang meninggal dalam perang. Ketika itu perang baru saja usai dan kenangan pada si mati masih mencengkeram banyak keluarga, dan pesanan pun banyak dan saya mendapat banyak keuntungan.”

“Ck, ck, ck.”

“Demikianlah, di kota Turia itu, seperti saya katakan tadi, La Tiburcia del oro dan saya sangat bahagia. Dia menjajakan saputangan dan renda, dan hasilnya disatukan dengan pendapatan saya hingga banyak; sehingga kadang-kadang kami dapat pergi ke bioskop, meneguk berliter anggur putih tanpa meminta potongan harga yang merendahkan derajat. Itulah hari-hari bahagia itu. Setiap detik menjadi kenangan. Percayalah, badan saya menggelenyar oleh ingatan terhadap dia.”

“Apa yang kemudian terjadi dengan Tiburcia del oro?”

“Apa yang terjadi? Saya tak mau mengingatnya. Kami sedang berada di puncak bahagia; tak seorang pun, tak satu pun yang dapat merusak cinta kami, tapi tiba-tiba La Tiburcia dipukul seorang bajingan busuk—terkutuklah bajingan yang penuh jumbai di bahu itu—tapi orang busuk itu kemudian jadi fanatikus sukses, sendangkan La Tiburcia justru meninggal di rumah sakit karena dijangkiti penyakit yang obatnya ditemukan oleh Pasteur. Perempuan malang, sangat memalukan akhir hidupmu!”

“Betul. Maafkan saya, saya sudah mengingatkan Anda pada cerita sedih ini.”

“Oh, tak apa. Semuanya sama saja akhirnya.”

Sanson Garcia berdiri, meraih tasnya, dan meletakkan tiga lusin lebih foto Tiburcia del Oro di atas meja.

“Lihat, begitu bergaya, alangkah tenang pandangan matanya!”

***

ESOKNYA Sanson Garcia mengais-ngais lagi foto-foto miliknya.

“Lelaki ini lucu sekali Ha, ha, ha. Orang bisa mati ketawa karena ulahnya. Anda kenal orang ini?”

“Mana saya tahu. Siapa?”

“Anda benar-benar tidak mengenalnya?”

“Sama sekali tidak. Siapa orang ini?”

Sanson meneguk anggurnya perlahan-lahan, mengecap lidahnya beberapa kali dan berkumur sedikit.

“Baiklah kalau begitu, akan saya ceritakan …….” (*)

 

| Penerjemah: Fransiskus Asmana

______________________

CAMILO JOSE CELA (Nobel Prize for Literature 1989)

Lahir di Madrid, Spanyol tahun 1917, Cela pernah  menjadi anggota parlemen Spanyol, menggeluti pekerjaan sebagai matador, pengawai negeri, pelukis, dan aktor sebelum mencurahkan perhatiannya pada dunia sastra. Sebagai sastrawan, ia dikenal biasa bicara blak-blakan, dengan logat yang khas, bahasa yang lugas dan mudah dicerna; di mana di dalam karya-karyanya ditemukan “situasi” yang kelabu, yang ditulis dengan simpati sangat besar terhadap orang-orang “terkutuk” (pelacur, orang-orang miskin, dan bodoh).

Cela lebih dikenal sebagai novelis, meski ia juga menulis puisi. Karya-karyanya yang banyak dibicarakan antara lain La Familia de Pascual Duarte (1942), La Colmena (1951), Viaje a la Alcarria (1958), San Camilo 1939 (1969), dan Mazurca Para Dos Muertos (1984).

Dalam keterangan pers-nya Akademi Swedia menganugerahkan Hadiah Nobel Kesusastraan pada Cela dengan pertimbangan: “…untuk kekayaan dan intensitas prosanya yang dengan bentuk rasa kasih yang tertahan, menghasilkan visi yang menantang atas integritas kemanusiaan ….

Cela adalah sastrawan kelima Spanyol (setelah Jose Echegaray Y Eizaguirre tahun 1904, Jacinto Benavente tahun 1922, Juan Ramon Jimenez tahun 1956, dan Vicente Aleixandre tahun 1977) yang memperoleh penghargaan tersebut. (*)

Cerpen

Cinta Ayu

mm

Published

on

Dengan langkah kaki cepat, Ayu bergegas menuju gedung Diponegoro untuk mengikuti seminar. Seminar yang mengambil tema “Menyoal Cinta dan Feminisme” bukan hanya memikat hati Ayu, melainkan kebanyakan hati perempuan. Sebab, pembicara dalam seminar ialah seorang feminis laki-laki, sekaligus aktivis “kemanusiaan” yang menjadi diskursusnya. Kendati ia masih berstatus mahasiswa. Namun, ia bagaikan matahari yang menjadi pusat perhatian di kampusnya. Pagi itu, bukan tanpa perjuangan bagi seorang gadis yang hidupnya normal. Ayu memutuskan alpa sarapan pagi beserta Abah dan Umminya. Satu keputusan radikal yang sepanjang usianya belum sekalipun dilakukannya. “Semoga acaranya belum dimulai,” gumamnya dalam hati.

Setelah setengah berlari menaiki tangga sepanjang lima lantai, Ayu mengatur nafasnya sambil sesekali mengipasi wajahnya yang merah setelah mengambil tempat duduk. “Ayu, sini, kamu lama sekali,” kata April sahabat karibnya. “Ia, maaf saya ketiduran sehabis salat Subuh,” jawabnya pelan.

“Raka sudah berbicara?”

“Belum, Ayu.”

Setelah satu jam berlalu, kini giliran pembicara terakhir yang sudah dinanti-nantikan tampil di podium. “Selamat pagi Puan dan Tuan. Baik untuk menghemat narasi saya langsung masuk pada bagian subtansi…”

“Kenapa tidak mengucapkan Assalamualaikum.”

“Entahlah.”

“Apa dia non-Muslim?”

Ayu tak menjawab. Hanya mengangkat kedua bahunya.

Setelah hampir setengah jam Raka menyampaikan pandangannya, kini waktunya berdiskusi: tanya-jawab. Empat orang penanya sudah mendapatkan jawabannya. Dan Ayu memberanikan diri mengangkat tangannya. “Baik, silakan perkenalkan diri Anda sebelum bertanya,” kata moderator. “Nama saya Ayu Arunika. Saya ingin bertanya pada Mas Raka. Sepanjang penjelasan Anda tentang feminisme. Saya merasa bahwa Anda terlalu liberal. Sebab, Islam justru memuliakan perempuan. Perkara peradaban menghendaki perempuan selalu di bawah laki-laki, karena seorang suami adalah pemimpin dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Sebagai hamba tentu harus taat pada perintah Allah SWT. Itu yang pertama. Yang kedua, atas dasar apa Anda mengajukan argumen bahwa doktrin teologis adalah penyumbang kerusakan alam? Bahkan berperan dalam mendorong rusaknya lingkungan alam akibat doktrin antoposentrisnya. Terima kasih.”

Pertanyaan yang mengagetkan semua orang yang sedang asyik-masyuk mendengar penjelasan Raka, mahasiswa filsafat yang menjadi bintang di acara itu. Dengan tenang Raka menjawab, “Ayu Arunika. Sebagai fakta nama itu indah untuk dikecupkan. Saya tahu arah pertanyaanmu. Benar-benar pertanyaan teologis. Tadi dikecupkan kata “hamba”. Maka, dengan sendirinya ada hierarki dalam kalimat yang Anda susun: Tuhan dan hamba. Saya mengajukan argumen yang basisnya adalah reasoning. Dan Anda mengajukan pertanyaan yang dibungkus dokumen dari langit. Tidak mungkin saya debat dengan argumen. Itu yang pertama. Yang kedua perihal ekofeminisme…”

“Tunggu sebentar. Apa keyakinan Anda?” Ayu memotong.

Setelah diam sesaat, Raka menjawab. “Anda tahu bahwa diskusi ini mengangkat tema feminisme. Artinya tidak membahas tema teologis. Pertanyaan Anda tidak ethics, kendati dibungkus dengan kesantunan bahasa. Karena Anda bertanya sesuatu yang bersifat privat. Tidak mungkin saya jawab di ruang publik. Tapi tidak jadi soal. Pukul setengah empat nanti saya ada perlu di perpustakaan. Jika Anda masih penasaran dan menuntut jawaban dari saya, silakan temui saya.” Selanjutnya diskusi berjalan lancar. Namun pertanyaan dari Ayu membuat orang-orang mulai berpikir ulang tentang sosok sang pembicara.

***

Pukul empat sore Ayu datang ke perpustakaan. Di ruang kecil, tempat diskusi, seorang pemuda sedang duduk dengan tenang. Di tangannya terlihat Ivan Illich: Deshooling Society. Setelah menarik nafas panjang Ayu memberanikan diri menghampirinya. “Assalamulaikum, maaf saya terlambat datang.”

“Tak apa. Artinya dikau masih orang Indonesia. Silakan duduk.”

Jawaban yang membuat wajah Ayu merah sebab malu. “Maaf, tadi saya habis salat Ashar terlebih dahulu.” Jawabnya pelan. “Mas Raka sudah Salat?”

Setelah meletakan Ivan Illich, Raka menatap mata Ayu dengan tatapan tajam. “Puan, apa dikau tahu siapa nama orangtuaku? Pekerjaannya apa? Apa dikau juga tahu sosio-historisku?”

Ayu menggelengkan kepala.

“Pertanyaan teologismu itu menghukum psikologiku. Semacam hukuman bahwa saya telah divonis dalam perkara privat: agama tertentu. Dan seringkali pertanyaan itu dianggap hal yang wajar hingga berkumandang di telinga setiap orang. “Kamu sudah salat? Apa agamamu? Pertanyaan itu buat saya semacam arogansi karena disponsori suara mayoritasisme. Bahkan hal semacam itu, terjadi di wilayah akademis. Seharusnya seorang akademis bisa lepas dari hal semacam itu. Di ruang akademis yang ada hanya pikiran. Universitas dalam definisi bebas ialah wilayah di mana sikap kritis itu tumbuh. Artinya tidak dikekang oleh doktrin teologis. Yang ada hanya dialektika rasionalisme. Sebab universitas adalah tempat lalu lintasnya pikiran. No road to heaven. Dan sebagai warga negara, kita hanya diikat oleh etika publik. Status agama itu hak. Artinya seseorang boleh tidak menggunakan haknya. Paham Ayu?”

Mendengar jawaban Raka, airmuka Ayu merah padam. Baru kali ini ia diceramahi pelajaran di luar nalar pikirannya. Wajahnya menunduk, seakan-akan tak sanggup melihat matanya yang tajam bagai mata pedang. Barulah ia sadar bahwa pemuda yang sedang menceramahinya adalah pemuda yang setiap hari diperbincangkan teman-temannya sesama mahasiswi: Raka adalah pemuda cerdas. Menyukai sastra, filsafat, sosiologi, psikologi, politik, hukum dan pelbagai ilmu pengetahuan lainnya. Ada juga yang mengatakan bahwa Raka penggila filsuf Immanuel Kant, Sartre, Heidegger hingga Ivan Illich. Juga ada pula yang mengatakan bahwa sudah banyak perempuan yang patah hati. Bukan lantaran disakiti, melainkan karena alasan yang abnormal: Raka tidak ingin menikah. Pikiran yang benar-benar gila bagi anak muda seusianya.

“Saya minta maaf bila pertanyaanku membuat Mas Raka tersinggung,” kata Ayu sebelum meninggalkan Raka. Akan tetapi, sebelum Ayu menghilang ditelan pintu perpustakaan, Raka menyahut, “Ayu, saya yang minta maaf. Senang berkenalan denganmu. Di luar ada cafe yang nyaman untuk menikmati segelas kopi dan sepotong kenangan.” Ayu terseyum mendengarnya. Senyuman yang menawan. Demikianlah perempuan gemar membunuh seorang lelaki dengan senyumannya.

***

Waktu bergulir dengan cepat. Bergantinya nama bulan seperti bergantinya siang dan malam. Demikianlah bagi hati anak muda yang hari-harinya diliputi bahagia bertabur bunga. Begitulah hari-hari Ayu dan Raka. Keduanya semakin akrab, bukan hanya sebagai teman, melainkan sepasang kekasih yang sedang mengepakan sayapnya. Selepas pertemuan itu, Ayu terpesona oleh Raka yang dinilainya berbeda.

Kendati kasak-kusuk berita negatif tentang Raka tersebar luas di lingkungan kampus. Namun, hal itu tidak membuat Ayu membatalkan cintanya. Tidak pula mempengaruhi Ayu untuk memadamkan api cinta yang menyala di hatinya. Masih menggema lonceng cinta di pikiran batinnya, baginya Raka serupa sang pengusik sepi yang membunyikan loncengnya. “Janganlah dikau padamkan matahari cinta yang terbit dari hati seorang pujangga,” kata-kata itu bagai anak panah yang dilepaskan dari busurnya tepat mengenai jantung hati gadis pujaannya. Ujar Raka pada Ayu suatu senja di bukit Mandalawangi.

Dalam cinta selalu ada kegilaan. Orang gila yang rasional adalah orang yang sedang dimabuk cinta. Hari-hari berikutnya, di mana kaki Raka melangkah, di situ jejak Ayu tertinggal. Terlebih Raka selalu membimbing langkah kaki Ayu pada tempat yang tak terduga: gunung, hutan, dan sekolah rakyat yang didirikannya bersama para sahabatnya. Deschooling Society adalah kitab sucinya Raka.

Namun, ada yang ganjil dalam pikiran Ayu yang setiap malam selalu menghantuinya. Sebab, selama menjadi kekasih Raka, sekalipun Ayu tak pernah mendengar kata dari kamus agama diucapkan olehnya. Juga tidak sekalipun Ayu mempergoki sisa-sisa jejak ritual keagamaan yang dilakukan Raka. Baik jejak kakinya di Gereja, Masjid, maupun rumah ibadah lainnya yang tertinggal.

Keganjilan itu membuat Ayu memberanikan diri untuk mencari tahu. Entah sudah berapa banyak teman-teman Raka yang diinterogasi. Namun, semuanya menjawab seragam seperti orang mengucapkan kata “Aamiin”, yakni “tidak tahu”. Hingga pada suatu hari Ayu menanyakan langsung kepada Raka. Sebagaimana kebiasaannya, Raka yang suka merenung di tempat sunyi seorang diri di hutan, tiba-tiba dikagetkan oleh kehadiran Ayu yang sudah mengetahui tempat pelariannya. Lama keduanya bertukar pandangan.

Ayu mulai mencium keganjilan kekasihnya itu. Karena tak tahan sambil bercucuran air mata Ayu bertanya, “Apa agamamu Mas? Banyak orang yang membicarakanmu perihal itu. Apakah Mas percaya akan adanya Tuhan?”

Raka tak menjawab. Lama ia terdiam.

“Sekali lagi saya tanya, apa Mas percaya akan adanya Tuhan?”

“Ayu, dikau menyusulku ke sini hanya untuk menanyakan sesuatu yang menjadi antitesis kemanusiaan.” Kemudian Raka menjemput tangan Ayu sambil berujar, “Kamu mencintaiku?” Ayu mengangguk diiringi tangisan.

“Jika dikau percaya Sartre adalah seorang atheis, dan Simon de Beauvoir tidak mempermasalahkannya, maka kamu harus percaya bahwa kekasihmu adalah orang yang percaya sebagaimana kepercayaan Sartre.”

Mendengar jawaban itu, tangisan Ayu semakin dera. Segera saja Ayu melepaskan tangannya dari genggaman Raka. “Wahai dzat yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku di atas agama-MU,” ucap Ayu sebelum pergi.

“Jatuh cinta adalah cara paling manis untuk menyakiti diri sendiri. Sebab, cinta sedari dulu kala selalu saja drama. Cinta adalah kesunyian yang panjang, kendati keramaian selalu mengintainya. Namun cinta selalu memilih untuk sendiri,” kata Raka pada dirinya sendiri. (*)

*) Arian Pangestu, aktif di sekolah feminisme. Artikelnya berupa cerpen, esai, dan puisi dimuat di koran Minggu Pagi, Pikiran Rakyat, Padang Ekspres, Bangka Pos, Radar Surabaya, Harian Analisa. Saat ini aktif sebagai mahasiswa sastra.

Continue Reading

Cerpen

Rahwana Di Tepi Kolam Pemancingan Ikan

mm

Published

on

Memancing adalah usahaku menyelamatkan diri dari kematian. Bagaimana bisa? Iya, setiap ikan yang kudapat dari kolam pemancing mampu menyelamatkanku dari kematian itu. Kematian macam apa? Mengusahakan hidup bahagia bukankah kalimat lain dari menghindari kematian. Dan buatku itu mulia. Sedangkan hidup yang penuh duka nestapa, kesedihan, kesusahan, kemurungan, kegalauan dan lain sejenisnya serupa dengan kematian. Kematian semasa hidup. Tak ada yang lebih buruk dari itu. Siapa tahu, apa yang sudah menggerakkan pikiranku hingga setubuhku, sepagi itu, mematung hidmat di tepi kolam pemancingan ikan. Yang kulakukan bukan laku orang suci yang menyepi di dalam gua Tsur atau naik ke Sinai atau Olympus.

Seperti aku yang beribu, kota ini semestinya memiliki asal-usul yang bisa ditelusuri secara genetika sejarah. Itu akan berguna seperti markah jalan yang akan menolong para sopir. Sopir itu adalah anak-anak zaman dalam perjalanannya menuju kehidupan agung, bukan kematian. Manusia, dalam ekspedisi hidupnya, mengikatkan diri pada dua mitologi, ibu dan rumah. Sehingga, Abdul Wachid BS pun tak kuasa menolak, maka jadikannya sekumpulan puisinya, Rumah Cahaya. Bahkan, sebuah negara menyebut pusat administrasi pemerintahannya dengan nama ibu kota. Jakarta adalah tempat yang kupilih untuk tinggal, meninggalkan ibu di kampung kelahiranku. Sebagai penghormatan, aku menyematkan nama kampung itu di belakang namaku dalam kartu nama.

Kota bagi ibuku tak ubahnya sawah yang ditumbuhi gedung pencakar langit sebagai gulma. Sedangkan gulma adalah sianggit yang akan merebut dengan serakah hara yang menjadi cikal bakal bulir-bulir padi yang hanya mahal ongkos produksinya.

Pernah suatu ketika, aku terbangun dengan mata yang tak awas karena sisa-sisa kantuk mengira terjadi gempa. Sepasang sandal murahan, kipas angin yang sudah rusak, dan keyboard mengapung di atas air setinggi dengkul. Beruntung, laptop dan flashdisk sempat kutaruh di meja sebelum tidur. Kalau dua benda itu ikut terendam, itu akan menjadi subuh terkutuk kedua terbesar dalam sejarah dosa manusia seperti yang menyebabkan Ratna Anjani dan dua saudaranya mewujud segawan, kera.

Tapi, benarlah kata ibu, segala yang di dunia adalah nisbi. Terbatas ruang dan waktu. Dari derita Anjanilah kemudian lahir Anoman yang agung. Kota ini begitu arogan dan culas, hujan pun dituduh sebagai penyebab banjir yang mengapungkan sampah tak berharga dalam kamarku itu. “Menanam padi, pasti akan tumbuh gulma, tapi tak kebalikannya,” kata ibuku suatu hari.

Apa sudah menjadi tabiatnya, manusia takut perubahan, apalagi yang mendadak. Yang membuat kaget. Jantungan. Yang darah tinggi bisa stroke, kalau tak modar sekalian. Bukankah manusia dibekali kemampuan menalar, menganalisis, bersistesis, mengevalusi hingga berimajinasi untuk mengada dari yang ada sesuai kebutuhan dan seleranya. Orang di kota ini, ibarat menanam benih padi kualitas terbaik di atas tanah subur, tapi tak dirawat. Ia akan  menjadi rumpun liar. Angker. Anak-anak takkan menjadikannya tempat bermain, orang dewasa tanpa kesaktian yang mumpuni akan mati sia-sia tak mampu menaklukan ketakutan dan kesunyian di dalamnya.

Kota ini kapankah lepas dari kutukan. Penduduknya diharamkan dari sinar matahari. Tubuh mereka terhimpit bangunanan yang semakin hari makin tinggi besar seperti Rahwana yang lahir dari ayah ibu yang terhasut nafsu. Bahkan, ayam jago tak tahu kapan waktu berkokok, makan, dan kawin. Anak-anak tak bisa membedakan fajar atau senja, timur atau barat, siang atau malam, bagaimana mereka ingat pulang ke rumah dan ibu?  Wajah mereka letih dan tua, bosan dengan permainan hingga berubah friksi.

Sementara itu, kota ini makin sempit karena penduduk harus berbagi tempat dengan koloni tikus, kecoa, dan lalat. Mereka bukan hewan biasa—kalau manusia tak mau disamakan—dari leher hingga kaki mereka adalah manusia, hanya kepala saja yang menyerupai hewan-hewan yang akrab dengan sampah itu. Ah, penduduk kota yang manusia seutuhnya makin punah, dalam satu malam mereka telah berrevolusi menjadi manusia berkepala hewan hanya dengan hasutan dan fitnah. Mereka yang sadar dan tak sanggup menerima perubahan itu memutuskan mengakhiri hidup alih-alih hidup tersiksa tak kuat menahan malu. Ah, kata mereka yang bertahan, malu takkan buat orang kenyang dan hidup.

Hari ini, di kota yang tak penah ibu injak tanahnya, semua kata-kata ibu menjadi nyata. Aku membayangkan, kota ini akan bebas dari kutukan kesialannya bila tanahnya sekali saja ibuku menginjakkan telapak kakinya yang penuh tuah. Seakan kebenaran itu datang kepadaku hanya untuk menggatikan jasadnyanya. Ia datang ketika ibu telah memantapkan dirinya untuk tinggal seorang diri di rumah sunyi tanpa pintu dan jendela. Tapi, aku sendiri menjadi geli ketika tersadar aku sendiri—sebagai penghuni kota—tak pernah menginjak tanahnya dalam arti yang sesungguhnya, kecuali latai keramik atau marmer dan jalan beton atau aspal.

Tanggal merah di hari Jumat—kemewahan yang langka untuk para buruh urban sepertiku—menjadi tanpa makna. Umumnya, orang sepertiku akan pulang kampung, atau menepi ke puncak Bogor menyewa vila untuk satu atau dua malam. Di antara keduanya tak satupun kupilih. Ibarat orang luka parah, hanya diberi obat penahan rasa sakit, bukan disembuhkan lukanya.

Aku tak punya lagi alasan untuk pulang kampung. Berkereta empat atau lima jam hanya untuk menziarahi kuburan rasanya hanya akan menambah deritaku. Aku bahkan tak tahu di sebalah mana ibuku dikuburkan. Apa yang mesti kukatakan pada orang-prang kampung. Mereka akan bertanya, kenapa tak pulang di hari kematian ibumu? Apa tempat kerjamu di tengah samudera sehingga tak dapat dihubungi? Untuk apa pandai dan bersekolah di luar negeri kalau sekarang hanya jadi buruh? Bukankah bos di perusahaanmu yang tak selesai kuliah karena dropout?

Ibu tidak menyukai hobiku yang satu ini meski tak pernah mengatakan dan melarangku. Satu-satunya hal yang tidak pernah ia mau lakukan untukku adalah memasak ikan pancinganku. Karenanya, aku terbiasa mengolah ikan sendiri. Ikan-ikan itu tak pernah kumakan, melainkan kuberikan pada tetangga kanan-kiri rumah. Kepada ibu, mereka kerap memberi pujian atas kemampuanku mengolah ikan. Karena itu pula, ibu sering mendapat kiriman balasan dari para tetangga dalam bentuk masakan yang lain.

Joran yang kuletakkan di lantai tepi kolam yang disemen kasar itu bergerak. Umpannya disambar ikan. Kaki kananku sigap menginjak pangkal joran. Tangan kananku angkat ujung jorannya. Berat. Joran itu membentuk parabol yang indah seperti lengkungan pelangi. Aku merasa joran itu akan patah. Aku melepaskan kuncian tali, memberi jarak yang cukup untuk ikan melakukan perlawanan.

Perlawanan ikan segera berganti pada kejadian empat puluh hari setelah kematian ibu. Satu jam tertidur di dalam mobil, getar ponsel di saku kemeja yang tak lagi rapi membangunkanku. Sejam kemudian, kami baru sampai di rumah setelah kujamu mereka makan malam di restoran mewah. Tak ada pembicaraan serius selama perjamuan, hanya perkenalan seorang gadis yang turut bersama paman.

Selepas subuh, gadis itu sudah berada di dapur yang aku sendiri tak pernah memakainya. Memasak air untuk membuat kopi, kebiasaan yang entah kapan terakhir kali lakukan.

Setelah membicarakan masalah rumah dan sawah peninggalan ibu dan ayah yang harus kuurus agar tak terbengkalai, dia mengingatkanku tentang perjodohanku dengan anak perempuan saudari sepupu ibuku, anak tetangga yang dulu sering kukirim ikan pancingan.

Astaga, ibu pun membaca bahasa cinta masa kecilku yang aku sendiri hampir lupa. Aku berkecil hati karena pernah menyembunyikan sesuatu di balik punggungku dari ibu, dan itu gagal. Meski bukan sesuatu yang perlu ditutupi karena bukan dosa seperti yang pernah melahirkan Rahwana.

Tapi, itu baru hidangan pembuka di restoran, hidangan intinya adalah akulah Rahwana itu sendiri. Gadis yang dijodohkan dengaku oleh ibu adalah Sinta yang hatinya telah dikuasai Rama. Sinta datang kepadaku untuk meminta pembebasan atas ikatan perjodohan yang disepakati antara ibuku dan kedua orang tuanya.

“Bagaimana?”

Aku tak merasa perlu segera menjawab. Kuminum kopi buatan Sinta. Dua tamuku terlihat tegang menunggu jawabanku. Tanpa sadar, aku menghabiskan satu cangkir kopi itu dalam satu teguk saja.

“Aku setuju melepas perjodohan itu.”

Sejam berlalu, ikan menghentikan perlawanannya kemudian bersikap tenang meski mata kail sudah menancap di antara bibir dan matanya. Aku menunda ikan yang hampir pasti kudapat untuk menjawab telfon. Baru kuambil ponsel itu dari dalam tas, berhenti. Kubaca notifikasi, sepuluh panggilan tak terjawab dari nomor yang sama, Sinta. Kubuka pesan WA, foto undangan pernikahan dengan desain sampul gunungan wayang. Tercetak tulisan emas dua nama Sinta dengan Rama, pamanku.

Joran yang sejak tadi kuinjak pangkalnya itu kuangkat. Berasa ringan. Ikan lepas bersama kailnya. Aku membuka tas kecil di pinggang, mengmbil dan memasang kail yang baru. (*)

Bunga Pustaka, 2017

*) Mufti Wibowo. Penulis, tinggal di Jalan Perintis Kemerdekaan 06 Purwokerto. Email: bowoart60@yahoo.co.id

Continue Reading

Cerpen

Jika Neraka Itu Ada…

mm

Published

on

Ole: Ferry Fansuri

Terkadang saat kuberdiri diantara senja itu kubisa merasakan hawa dingin yang pekat, bisa kusentuh aliran udara disekitarku. Terasa waktu berhenti seketika, entah ini sebuah ilusi tapi yang kurasakan nyata. Gejala itu selalu terjadi ketika mata ini menemukan burung-burung gereja berkeliaran di sekeliling diriku. Cuma aku tak habis berpikir kenapa burung-burung gereja ini ada disini, apalagi kampung ini tidak ada tradisi atau jejak burung-burung gereja itu.

Mereka begitu jinak berjalan dihamparan sawah kampung kami, melompat-lompat sesekali terbang rendah di dahan-dahan, ranting pada pohon-pohon rindang disana. Munculnya burung-burung gereja ini semenjak pertikaian itu terjadi di kampung kami. Dulu kampung ini yang dibelah sungai yang mengalir di tengah-tengah memberikan penghidupan bagi penduduk disini. Tanah disini bagai melempar sebuah biji akan menghasilkan buah-buahan, tumbuh subur dan tak pernah habis.

Disini dulunya terdapat dua kampung yang saling berdekatan biarpun secara harfiah berbeda. Kampung Maidiling ada diutara sungai ini, disana tengah bangunan kokoh bertahtakan tembok dan diatas tanda salib. Gereja bergaya renaisance menjulang dan dipuja masyarakat Maidiling. Sedangkan bagian selatan dari sungai besar tersebut Kampung Sidempuan setiap senja atau saat ayam belum berkokok, alunan ayat-ayat suci begitu merdu ditelinga. Dua kampung saling berdekatan dan bersahabatan, berabad-abad tak pernah sekalipun bermusuhan atau menumpahkan darah untuk hal yang konyol sekalipun.

Tapi tepat dua ratus abad setelah bulan Oktober yang lalu, masa kelam merudung kedua desa tersebut. Diawali gemuruh awah hitam bukan menandakan hujan, muncul sosok asing yang meracuni kedua desa tersebut. Dia datang entah darimana atau dari dunia antah berantah, mulutnya begitu berbisa dan siapa saja yang mendengarkannya seperti dihipnotis untuk membenarkan semua perkataannya. Berkoar tentang kemurnian ajaran, siapa sesat atau bukan, pilihan neraka atau surga dan hal-hal yang tak bisa dipikirkan oleh akal pikiran.

“Tak maukah engkau janji Surga bagimu jika masih membenarkan Neraka untukmu”

Doktrin-doktrin itu membangkitkan napsu purba dalam penduduk kampung tersebut. Orang asing menuduh bahwa toleransi adalah bahaya laten yang harus diberantas sampai akar-akarnya. Semua perbedaan akan menimbulkan pertikaian di masa depan jika tidak ditekan sejak dini.

“Sesuatu yang murni itu merupakan hal mutlak dan tidak bisa diganggu gugat”

Entah kenapa dari sanalah kemudian muncul wajah-wajah beringas kesetanan yang terus merangsek ke ubun-ubun. Hawa iblis keluar dari cangkang manusianya, saling olok, ejek kemudian adu fisik tak terhindarkan. Aku dulu merasa hawa yang begitu panas melingkupi kampungku ini, Sidempuan dulu berhawa sejuk karena konon kadar oksigen disini tinggi hingga harapan hidup penduduknya tinggi diatas rata-rata. Tak heran disini tak pernah jatuh sakit biarpun sudah berumur lebih 100 tahun.

Tapi saat ini berbeda, pertumpahan darah terus terjadi. Gesekan kecil atas nama agama pun berujung bertikai tak habis-habisan. Aku sendiri tak habis pikir mengapa mereka menumpahkan darah hanya janji-janji surga dan neraka sesuai ajaran yang mereka pegang. Apakah nalar dan logika mereka tak dipakai untuk mencerna semua ini?.

Tiap kali ada hinaan dari kampung sebelah, kumpulan pemuda kampung ini terbakar emosi dan menyulut emosi. Tangan-tangan mereka berkumpul benda-benda tumpul yang dikit demi dikit diasah menjadi tajam. Tapi aku tak bergeming sedikitpun atas ajakan mereka, caci maki dilontarkan dari mulut-mulut mereka yang berbusa dan berbau arak.

“Pengecut !!”

“Penista !!”

“Murtad!!”

Ocehan dan rancuan mereka tan aku gubris sama sekali, lebih baik aku moksa daripada harus menebas orang-orang yang tak sejalan dengan kita. Manusia diciptakan dengan derajat yang sama yang membedakan amalan dan napsunya.

Mereka selalu pulang dengan bersimbah darah apakah itu sebuah kemenangan atau kekalahan, itu sama saja. Andai aku bisa menghentikan semua tanpa kaki ini tetap terjejak masuk kedalam tanah.

Sebenarnya aku membenci mereka yang melakukan ini. Demi apa? demi rancuan-rancuan tak becus menerangkan apa itu Surga atau Neraka.

Aku membenci mereka yang culas menjual agama demi sebuah kemurnian yang omong kosong belaka.

Aku menghujat mereka yang begitu gampang menumpahkan darah saudara-saudara yang tak sejalan atau tidak seiman. Mereka menganggap apa yang dilakukan adalah perang suci yang direstui penguasa langit.

Kuingin melenyapkan mereka !

Memberanggus !

Menggibas !

Menghembuskan topan !

Memporak porandakan !

Tapi aku hanya manusia lemah hati dan pikiran, ada secuil ketakutan yang berkutat dalam rongga dadaku. Menyerah akan keadaanku yang ganjil dan mereka pun mengucilkan dan memasung diriku di tanah antah berantah. Hingga mereka bisa bebas melakukan pekerjaan nistanya itu tanpa diriku.

Hura-hara itu sudah sampai ke titik pedih, kulihat langit mendung berbalut merah jingga hampir semerah darah. Teriakan-teriakan menyayat dari wanita serta bocah kecil membahana beriringan kegelapan menelusup.

Kejadian itu terus bergulir dari hari ke hari, minggu ke mingu sampai berbulan-bulan. Entah aku tak tahu sampai kapan ini akan berakhir, dulu disini gemah lo jinawi berganti gersang sengsara. Tanah disini kering membentuk petak-petak pecah, tak ada juluran padi atau korekan katak, semua hilang kusam.

***

            Kehampaan dan keheningan ini selalu kurasakan saat memasuki kampung ini, udara sekitarnya sekali lagi terhenti. Kaki ini mencoba melangkah dan sejurus mata ini melihat rumah-rumah itu tampak kosong melompong tanpa penghuni. Kemana orang-orang beringas itu, apakah masih trengginas untuk menyerang kampung sebelahnya? Atau semua tewas ditebas parang terbang kiriman dukun sakti milik kampung seberang.

Tidak ada jejak kaki atau saksi mata yang nyata untuk ditanyakan, makhluk hidup tak diijinkan menghirup napas di bumi Sidempuan ini. Sungai disana tampak keruh hitam pekat bak tinta yang akan dikuaskan pada lukisan kesedihan. Langit diatas tidak sejingga dulu, sekarang merah sedarah. Tiba-tiba gemuruh beriringan  kilat berkejaran dengan guntur, awan hitam itu menyemburkan airmata yang tersampaikan hujan. Titik-titik air itu mengenai mata dan mukaku, bau amis dan sangir terasa di hidungku.

Ini darah!!

Guyuran hujan itu berubah menjadi darah mengenangi tanah, kaki telanjangku merasakan gemericik air darah itu. Tapi yang kurasakan beda, rinai hujan perlahan menetes seperti waktu terhenti seketika. Ujung jariku bisa menyentuh bulir-bulir itu, aku bisa menyibak dan menepisnya. Gejala apakah ini?

Bersamaan itu muncul burung-burung gereja berkeliaran di sekitarku. Kasat mata aku melihat ratusan bahkan ribuan burung gereja itu terbang berseliweran tak tentu arah. Berputar-putar diatas kepalaku, kemudian hinggap diatas kubah berujung bintang rembulan itu.

Sunyi dan senyap.

Terkadang ada sebuah pertanyaan yang dalam tempurung otak ini bergeliat saat melihat burung-burung gereja yang nangkring di kubah bulan bintang ini. Agama apakah yang tepat buat mereka? Mereka dikenal burung gereja yang bisa hinggap kemana mereka mau tanpa kuatir. Jika mereka punya agama, tak mungkin rela menjejakkan kakinya diatas kubah itu.

Suara-suara koak-koak itu muncul dari burung-burung gereja itu, menciptakan senandung kematian yang memekakkan telinga ini. Mata bulat hitam itu menatap tajam ke arahku, mereka seperti menginginkan diriku. Sekali kepak berterbangan jingkat diatas ubun-ubun, berputar-putar. Sekali kibas, burung-burung gereja itu menerjang. Mata ini melihat itu dengan terbelalak tak percaya, mereka mengincar mata ini. Paruh burung-burung itu menusuk kedua mata ini, masuk kedalam menyelinap dan melesat hilang dalam pupil bola mata ini. Mereka terus masuk tanpa henti, aku hanya berteriak kesakitan.

“Hentikan !!”

Teriakanku tak membuat mereka berhenti memasuki mataku, tidak hanya satu tapi ribuan terus dan terus. Akhirnya terhenti saat burung gereja terakhir lenyap kedalam kedua mataku. Aku merasakan perih yang amat sangat, disela-sela kelopak mataku meleleh darah hitam pekat. Aku hanya bisa memegangi dan menutupi salah satu mataku, raunganku menggelegar.

Aku pun tertunduk.

Saat kubuka mata ini, kulihat sekitarku bergelimpang mayat-mayat bersimbah darah dan tangan kananku lunglai begitu saja meloloskan sebilah parang belepotan darah segar yang tercecer beku.  (*)

Surabaya, November 2017

Continue Reading

Classic Prose

Trending