Connect with us

Cerpen

Camilo Jose Cela : Tukang Foto Keliling Bernama Sanson Garcia

mm

Published

on

SANSON GARCIA CERCEDA Y EXPOSITO DE ALBACETE menggunakan mata kenangannya ketika mengintip lewat corong dalam kerudung alat pemotretnya. Mata kirinya, karena suatu kejadian tak terelakkan, tercampak di Sorihuela Provinsi Jaen pada hari San Claudio di awal maas kediktatoran, dalam pertengkaran dengan seorang Prancis tak berprinsip—Juanito Clermond—yang dijuluki orang Aristides Briand II.

Sejak kecil Sanson Garcia sudah menyenangi fotografi yang menyebabkan ayahnya, Don Hibrido Garcia Exposito Y Machado Coscuelluela, memukulnya sampai lebam sambil berkata—tentulah karena ia tahu kenapa—bahwa fotografi bukanlah pekerjaan yang layak buat laki-laki.

“Tapi Ayah, saya ragu,” sanggah Sanson untuk mengatasi rasa sedihnya, “Mana ada tukang foto perempuan yang bergerak dari satu kota ke kota lainnya.”

“Diam, kataku! Lebih hormatlah pada bapakmu, anak cacing! Lebih hormatlah pada orangtua!”

Dan Don Hibrido, seorang penganut dialektika, tak pernah beranjak dari pendiriannya. Melihat ayahnya bersikeras seperti keledai, Sanson diam, karena kalau tidak keadaan akan bertambah buruk.

“Tenang, Ayah, tenang! Saya akan memikirkan usul Ayah.”

“Bagus begitu…..”

Don Hibrido Garcia Exposito dulu seorang pemilik penginapan. Selama kurang lebih empat puluh tahun ia memiliki sebuah penginapan yang hasilnya kecil tapi teratur di Cabezarados, daerah La Mancha di kaki Sierra Gorda, tidak jauh dari Telaga Carrizoca dan Perdiguera. Pada masa itu Don Hibrido adalah seorang bos yang mandiri, seperti yang selalu dibanggakannya.

“Aku senantiasa menyukai orang mandiri, yang jika bilang begini diikuti semua orang, baik mereka senang atau tidak. Orang seperti itulah yang kusebut lelaki sejati. Sialnya sekarang tak ada lagi orang seperti itu. Contoh telaki sejati adalah kardinal Cisneros dan Agustine de Aragon. Bandingkan dengan cacing-cacing yang sudah jatuh pingsan hanya karena menyaksikan setengah lusin orang yang luka. Tak tahulah aku mau jadi apa dunia ini.”

Dengan sikap mandiri yang tegar itulah Don hibrido mengaggap enteng semua orang, kecuali istrinya yang berasal dari lalin, yang satu hari setelah kawin menggosok satu telinga suaminya dengan setrika, hingga telinga itu keriput seperti kol Brussel.

Sanson yang agak urakan—sehingga terus-menerus menggelisahkan Don hibrido—banyak menderita. Setelah perang berakhir ia membaca pernyataan Sekretaris Departemen Industri dan Perdagangan tentang kewajiban mandiri yang membuatnya gemetar, gelisah, dan sedih.

Apa jadinya kita ini, pikirnya. Air sudah sampai ke leher!

            Sanson Garcia yang sangat alergi pada kata mandiri, dengan mata sebelah, kamera berkaki tiga dan kerudung seperti akordion itu, telah melengkapi klub fotografi Spanyol dengan gambar anak-anak manis berambut-jurai memakai sandal, anggota pasukan infanteri yang menyerahkan tanda mata pada buah hati, para babu berambut kelabu di kuduk, dan sekelompok gadis kota kecil yang kecantikan alamiahnya tiba-tiba bertukar dengan terima kasih pada segelas anggur putih dan pawai perkawinan yang sumbang.

Sanson Garcia sebenarnya sangat liris; ia penyair sejati yang merasa sangat bahagia dengan pekerjaannya yang terus berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

“Aku puas,” kadang-kadang ia berpikir setelah menyantap makanan hangat, “dapat bekerja sambil melihat orang-orang tersenyum. Aku pikir tak ada pekerjaan seperti ini di seluruh dunia. Bahkan tidak tukang goreng pastel!”

Sansom menyukai alam, anak-anak kecil laki-perempuan, hewan dan pohon-pohon. Matanya hilang dalam pertengkaran dengan Aristides Briand II, karena orang Prancis itu hendak mencoba guillotine tipe barunya pada beberapa ekor kucing yang malang.

Aristides Briand Ii berkata, “Aku menyukai kemajuan dan aku gembira dapat menyumbangkan sesuatu pada evolusi teknik. Lagi pula aku ini orang asing dan memerintah diriku menurut hukum Prancis.”

Sanson Garcia menjawab, meskipun Aristides orang asing tapi kucing-kucing itu tetap Spanyol, dan ia tak akan tenggang rasa terhadap kezaliman. Sebagai jawabannya, Aristides menghardik, “Babi! Keledai kampung tak makan sekolah!” Dan sanson langsung menyambung dengan dua kali babi, dua kali keledai kampung dan dua kali tak makan sekolah. Lalu si Perancis memberi tinju yang menyebabkan mata sanson tingggal satu untuk seumur hidupnya.

Setelah sembuh, Sanson menempelkan kain hitam pada bagian matanya yang hilang, sedangkan Aristides Briand II kabur bersama guillotine tipe barunya untuk bereksperimen di tempat lain, karena kecuali beberapa orang, penduduk Sorihuela memihak Sanson Garcia dan hendak menghukum orang Perancis itu.

***

“YANG Anda lihat ini,” kata Sanson sambil memperlihatkan foto seorang gadis sintal pada saya, “Genovevita Munoz, penyanyi asal Valencia del Mombuey, provinsi Badajos dekat sempa dan Portugal, tepat di depan Cerro Mentiras, Saya mencintai nona ini sedikit.”

Dengan gaya seorang Don Juan yang berpengalaman, Sanson meneguk anggur dan melanjutkan, “Meskipun menggairahkan kalau ia mau, Genovevita agak cepat naik darah, kenyal-liat seperti tak bertulang-tengkorak, sehingga kalau lagi datang anginnya—biasanya sebulan sekali—hindarilah dia seperti menghindari wabah. Sungguh, siapa pun yang dekat akan celaka, karena Genovevita menyimpan penyodok tukang sepatu dalam tasnya. Coba lihat ini!”

Lekukan yang ditunjukkan Sanson di tengkuknya cukup untuk sebuah mata uang logam.

“Tetapi perlu juga anda tahu, Genovevita sangat memikat dan berbakat, perempuan yang selalu dirindukan lelaki. Tak pernah dipersoalkannya berapa tebal dompet Anda seperti yang biasa dilakukan perempuan lain, tapi yang pertama dia tanyakan adalah lelaki macam apa Anda. Sebelum mulai bicara, dia memastikan dulu apakah lawan bicaranya itu orang Spanyol atau bukan. Dia selalu bilang, ‘Saya ini Spanyol, seperti Sang Perawan dari Pilar. Dan saya tak mau tahu tentang orang Prancis.’ Barangkali dia benar.”

Sanson meneguk habis anggur di gelasnya dan memanggil pelayan.

“Dua anggur putih.”

“Baik, baik!”

Apabila Sanson merasa sedih dan sentimentil, penutup hitam matanya berubah dari warna sayap terkembang menjadi hijau berkabung.

“Dan lanjutan ceritanya, Genovevita Munoz pada usia sangat muda sudah menjadi pembantu rumah tangga di Barcarrota, tempat arena pertandingan sapi yang berada dalam puri seperti kaki di dalam kaus. Karena gajinya kecil, banyak kerja dan tafsiran sang majikan untuk istilah babu-penuh sudah melampaui batas, Genovevita pun terbang pada kesempatan pertama; ia terdampar di Valverde del Carmino di wilayah Huelva, di bawah naungan bukit-bukit Sedundaralejo, tempat dia bergabung dengan kelompok Seni Pertunjukan Rakyat Oriflamas de Andalucia yang menyebabkan dia terombang-ambing antara berkeringat dan menahan lapar dari satu peristiwa ke peristiwa lain sepanjang ciptaan Tuhan. Karena pada mulanya ia tidak pandai menyanyi  dan menari, sang manajer menyuruhnya berjalan hilir-mudik di atas panggung memakai rok dalam. Baru dalam lakon Para Pemandi New York, La Genovevita menjadi tenar dan disukai umum, sehingga terbukalah harapan pekerjaan yang lebih baik.”

Pelayan berkemeja kotor, celana cururoy dan celemek bergaris hijau dan hitam meletakkan dua gelas anggur putih di atas meja, dan sebuah piring kecil berisi dua butir limau yang sudah kisut.

“Saya berjuma La Genovevita di San Martin de Valdeiglesias, sebuah kota subur-makmur di antara Avila dan Toledo. Dia sudah menjadi anggota paduan suara dalam lakon Gema Panas Karibia, menarikan rumba dan danzon sedikit sebelum bagian kedua berakhir. Sebenarnya dia mencoba meniru Suara Api Camaguey yang dinyanyikan Belan Baracoa, gadis mulatto dari Betanzoz yang terkenal dengan aksen Galisia itu. Menonton La Genovevita dan jatuh cinta padanya, saya lalu bersumpah demi semua yang penting dalam hidup ini. Itu saya katakan degnan cara terbaik menurut saya, dan dia menjawab dengan ya yang penuh gairah; dan karena tak ada tempat buah saya dalam Gema Panas Karibia kami pun pergi ke ibukota, tinggal di alam terbuka seperti pasukan jalan-kaki, sambil berpikir alangkah malangnya kami, karena di ibukota anjing-anjing ditambat dengan sosis. Segera kami menyadari kekhilafan itu—jika anjing-anjing ditambat dengan sosis, sosis itu tentu rapat di perut majikannya—lalu setelah berpikir masak-masak, kami pun pergi dari situ dengan kesimpulan lebih baik mati di hutan seperti kelinci daripada seperti kucing di tempat terbuka. Dua anggur putih!”

“Apa?”

“Bukan, bukan kepada Anda. Saya memanggil pelayan. Ia tidur. Oi, dua anggur putih!”

“Ya, ya.”

“Seperti sudah kukaktakan tadi, saya ini berbakat pencemburu dan tidak terlalu ambil pusing soal profesi La Genovevita sebagai artis, sebab seperti Anda tahu para artis biasanya punya reputasi buruk—begitulah pada suatu hari saya bangkitkan keberanian, pergi kepadanya dan berkata, ‘Dengarkan, Genovevita sayang. Cinta dalam kehidupan tak boleh disamakan dengan yang di atas panggung.’ Dia lalu menggeliat, siap menyerang. Darahnya mendidih, lalu menghamburkan diri sambil menghadiahkan satu pukulan yang kalau tak segera dihentikan—saya tidak malu mengakui ini—pastilah menyebabkan saya tak dapat mengisahkan cerita ini pada Anda.”

Wajah Sanson bersinar dengan senyuman tipis.

“Bukan main cantiknya La Genovevita dengan rambut merebang dan mata seperti harimau! Maafkan saya karena tak dapat mengingat hal itu tanpa rasa pilu. Jika Anda punya perasaan sama seperti saya, kita lanjutkan cerita ini lain kali.”

“Terserah.”

“Terima kasih. Hari ini saya tak bisa melanjutkannya. Pelayan, empat ya.!”

***

ESOKNYA, Sanson Garcia tampak seperti enggan melanjutkan cerita tentang La Genovevita.

“Bagaimana sambungan cerita perempuan kemarin?”

Sanson menyeringai.

“Lebih baik kita tinggalkan saja kisah itu. Penutupnya tidak bagus, artinya cerita itu buruk di ujung. La Genovevita memang cantik, itu tidak saya sangkal, tapi rasa pemarahnya tak tertanggungkan. Dia sendiri heran dan selalu bertanya pada saya, ‘Sanson, tololkah saya ini?” Tentu saja saya menyangkal, “Tidak, Sayang. Kau sama seperti orang lain. ‘Tapi itu tidak benar. Percayalah, La Genovevita lebih tolol dari kebanyakan orang. Lebih baik kita cerita yang lain saja.”

“Terserah.”

Sanson Garcia terdiam.

“Terima kasih. Maukah Anda jika saya ceritakan tentang Senorita Tiburcia del Oro Y Gomis, juru rawat lautan kasih yang menggantikan tempat la Genovevigta di hati saya?”

“Ceritakan saja.”

Sanson menggeser kursinya ke belakang sedikti dan berkata, “Ya, begitulah. La Tiburcia del Oro, meskipun namanya seperti matador perempuan, adalah seorang gadis yang punya prinsip, terdidik, rajin, terpelajar. La Tiburcia del Oro—maaf, menyebutnya Tiburcia saja rasanya kurang sopan—saya jumpai di Cuenca, ibukota provinsi tempat dia mengurus anak-anak orang kaya, yang makan sup dengan tangan dan sehari suntuk berjingkrak di atap rumah. ‘Tak ada yang dapat melarang mereka,’ kata Tiburcia pada saya. ‘Paling-paling hanya membiarkan dan melihat mereka jatuh. ‘Beberapa hari sesudah itu saya bertemu dia dengan rasa iman yang mendalam. Anda dengar tidak?”

“Ya, tentu. Teruskan!”

“Begitulah. Beberapa hari setelah berkenalan, seorang di antara anak-anak yang diurusnya, bernama Julito, jatuh dari atap dan meninggal. Ah, si bandel cilik!”

Sanson diam sebentar.

“Lalu orangtua si anak menendang La Tiburcia del oro sampai ke jalan raya dan tidak membayarnya satu sen pun. Kemudian, setelah terlunta-lunta sendirian, La Tiburcia del oro tiba di tempat saya menginap di gang del Clavel; di situlah kami bertemu; saya, La Tiburcia del oro, ibu pemilik penginapan bernama Donna Ester, dan pedagang keliling berwajah bopeng bekas cacar. Simeoncito namanya, yang meskipun tubuhnya seperti raksasa, ia sudah berpisah dengan istrinya dan diam bersama kami. Dengan bersimbah airmata, La Tiburcia del oro hanya dapat berkata, ‘Malapetaka! Malapetaka!’ Untuk menenangkan dia, kami semua berkata, ‘Jangan berduka. Julito itu memang bandel.’ Anda pasti tahu tak banyak kata-kata yang dapat kami keluarkan dibanding sedih-pedih yang ditanggung La Tiburcia del Oro.”

Sanson Garcia berhenti dan melihat orang-orang yang naik ke atas atap.

“Mereka seperti anak-anak kecil, bukan? Anak-anak yang jatuh dari atap.”

“Hah?”

Sanson melanjtukan ceritanya.

“Polisi, yang banyak tahu soal hukum, menyarankan jalan terbaik bagi la Tirbucia; lari dari situ. ‘Kalau kau suka, kau boleh pergi bersamanya,’ kata polisi itu, ‘tapi yang penting dia harus segera bergi sebelum keadaan bertambah buruk.’ Ibu pemilik penginapan dan Simeoncito setuju pada usul itu. Begitulah. La Tirbucia dan saya membeli dua karcis kereta kelas tiga dan tiba di Calencia, sebuah kota di Turia kata orang, tempat saya mendapat pekerjaan di studio foto El Arco Iris; dan membuat foto-foto besar dan berwarna tentang orang-orang yang meninggal dalam perang. Ketika itu perang baru saja usai dan kenangan pada si mati masih mencengkeram banyak keluarga, dan pesanan pun banyak dan saya mendapat banyak keuntungan.”

“Ck, ck, ck.”

“Demikianlah, di kota Turia itu, seperti saya katakan tadi, La Tiburcia del oro dan saya sangat bahagia. Dia menjajakan saputangan dan renda, dan hasilnya disatukan dengan pendapatan saya hingga banyak; sehingga kadang-kadang kami dapat pergi ke bioskop, meneguk berliter anggur putih tanpa meminta potongan harga yang merendahkan derajat. Itulah hari-hari bahagia itu. Setiap detik menjadi kenangan. Percayalah, badan saya menggelenyar oleh ingatan terhadap dia.”

“Apa yang kemudian terjadi dengan Tiburcia del oro?”

“Apa yang terjadi? Saya tak mau mengingatnya. Kami sedang berada di puncak bahagia; tak seorang pun, tak satu pun yang dapat merusak cinta kami, tapi tiba-tiba La Tiburcia dipukul seorang bajingan busuk—terkutuklah bajingan yang penuh jumbai di bahu itu—tapi orang busuk itu kemudian jadi fanatikus sukses, sendangkan La Tiburcia justru meninggal di rumah sakit karena dijangkiti penyakit yang obatnya ditemukan oleh Pasteur. Perempuan malang, sangat memalukan akhir hidupmu!”

“Betul. Maafkan saya, saya sudah mengingatkan Anda pada cerita sedih ini.”

“Oh, tak apa. Semuanya sama saja akhirnya.”

Sanson Garcia berdiri, meraih tasnya, dan meletakkan tiga lusin lebih foto Tiburcia del Oro di atas meja.

“Lihat, begitu bergaya, alangkah tenang pandangan matanya!”

***

ESOKNYA Sanson Garcia mengais-ngais lagi foto-foto miliknya.

“Lelaki ini lucu sekali Ha, ha, ha. Orang bisa mati ketawa karena ulahnya. Anda kenal orang ini?”

“Mana saya tahu. Siapa?”

“Anda benar-benar tidak mengenalnya?”

“Sama sekali tidak. Siapa orang ini?”

Sanson meneguk anggurnya perlahan-lahan, mengecap lidahnya beberapa kali dan berkumur sedikit.

“Baiklah kalau begitu, akan saya ceritakan …….” (*)

 

| Penerjemah: Fransiskus Asmana

______________________

CAMILO JOSE CELA (Nobel Prize for Literature 1989)

Lahir di Madrid, Spanyol tahun 1917, Cela pernah  menjadi anggota parlemen Spanyol, menggeluti pekerjaan sebagai matador, pengawai negeri, pelukis, dan aktor sebelum mencurahkan perhatiannya pada dunia sastra. Sebagai sastrawan, ia dikenal biasa bicara blak-blakan, dengan logat yang khas, bahasa yang lugas dan mudah dicerna; di mana di dalam karya-karyanya ditemukan “situasi” yang kelabu, yang ditulis dengan simpati sangat besar terhadap orang-orang “terkutuk” (pelacur, orang-orang miskin, dan bodoh).

Cela lebih dikenal sebagai novelis, meski ia juga menulis puisi. Karya-karyanya yang banyak dibicarakan antara lain La Familia de Pascual Duarte (1942), La Colmena (1951), Viaje a la Alcarria (1958), San Camilo 1939 (1969), dan Mazurca Para Dos Muertos (1984).

Dalam keterangan pers-nya Akademi Swedia menganugerahkan Hadiah Nobel Kesusastraan pada Cela dengan pertimbangan: “…untuk kekayaan dan intensitas prosanya yang dengan bentuk rasa kasih yang tertahan, menghasilkan visi yang menantang atas integritas kemanusiaan ….

Cela adalah sastrawan kelima Spanyol (setelah Jose Echegaray Y Eizaguirre tahun 1904, Jacinto Benavente tahun 1922, Juan Ramon Jimenez tahun 1956, dan Vicente Aleixandre tahun 1977) yang memperoleh penghargaan tersebut. (*)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cerpen

Sebuah Cerita Untuk Anak-Anak

mm

Published

on

Sebuah Cerita Untuk Anak-Anak[1] | Karya: Svava Jakobsdóttir[2] | Diterjemahkan oleh: Regina N. Helnaz

Sepanjang ingatannya, ia telah menetapkan hati untuk setia pada sifat dasarnya dan mengabdikan seluruh tenaga untuk rumah dan anak-anaknya. Saat ini ada beberapa anak dan dari pagi hingga malam ia dibanjiri pekerjaan, melakukan kegiatan rumah tangga dan mengurus anak. Ia sekarang sedang menyiapkan makan malam dan menunggu kentang mendidih.[3] Majalah wanita Denmark tergeletak di atas bangku dapur seakan dilempar dengan tidak sengaja; kenyataannya, ia memang sengaja menaruh majalah itu disana dan meliriknya ketika ada kesempatan. Tanpa mengacuhkan panci kentang dari pikirannya, ia mengambil majalah dan membaca sepintas kolom nasihat Fru Enson[4].  Bukan berarti kolom itu terlihat paling menarik baginya, namun karena tulisannya pendek-pendek. Mungkin juga akan memakan cukup banyak waktu untuk membacanya sehingga kentang yang dimasak akan mendidih ketika, ia selesai membaca. Surat pertama di kolom itu singkat: Kepada Fru Enson, saya hidup demi anak saya dan selalu melakukan segala sesuatunya untuk mereka. Sekarang saya ditinggal sendiri dan mereka tidak pernah mengunjungi saya. Apa yang harus saya lakukan? Fru Enson membalas: Lakukan lebih untuk mereka.

Tentunya, ini jawaban yang logis. Sangat jelas hingga tidak ada lagi hal yang lebih memungkinkan. Ia berharap tidak akan mulai menulis untuk majalah itu tentang hal yang sudah jelas adanya ketika waktunya tiba. Tidak, kolom ini tempat orang-orang mengerang dan mengeluh bukanlah kesukaannya.  Kolom yang berisi cara pengasuhan anak dan peran ibu – lebih terdengar positif. Aspek fundamental pengasuhan anak tentunya telah familiar baginya sekarang ini, tapi ada saatnya ia merasa lemah dan letih di beberapa waktu. Di saat itu, ia akan buru-buru membalik halaman majalah untuk segera membaca kolom pengasuhan anak demi mencari keteguhan hati dan penegasan bahwa ia memang berada di jalur yang benar dalam hidup. Ia hanya menyesal memiliki sedikit dan semakin sedikit waktu untuk membaca.

Ikan yang belum dibersihkan menunggu dirinya di bak cuci piring dan kali ini ia menahan godaan untuk membaca kolom pengasuhan anak. Ia menutup majalah dan kemudian berdiri. Ia sedikit pincang sejak anak-anaknya memotong satu jari besar di kaki kanannya. Mereka penasaran apa yang akan terjadi jika seseorang hanya memiliki sembilan jari kaki. Di dalam dirinya, ia merasa bangga atas kepincangannya dan atas hasrat belajar anak-anaknya, dan terkadang ia bahkan pincang lebih sering daripada seharusnya. Sekarang ia mendinginkan kentang dan mulai membersihkan ikan. Pintu dapur terbuka dan anak laki-laki kecilnya, yang berusia enam tahun, bermata biru dan berambut agak ikal, menghampirinya.

“Mama,” katanya, dan menusukkan peniti ke tangannya. Ia kaget dan hampir mengiris jarinya dengan pisau.

“Ya, sayang,” jawabnya, dan membentangkan tangannya yang lain sehingga sang anak bisa menusuknya juga.

“Mama, ceritakan aku satu kisah.”

Ia menaruh pisau, mengeringkan tangan dan duduk dengan anaknya di pangkuan untuk menceritakan sebuah kisah. Ia sudah setengah jalan bercerita ketika terpikirkan bahwa salah seorang anaknya bisa menderita gangguan psikologi akibat tidak makan malam tepat waktu. Di wajah anaknya, ia mencoba melihat bagaimana anaknya akan bereaksi ketika ia berhenti bercerita. Ia merasakan keraguan menggenggam tangannya dan menjadi tidak konsentrasi bercerita. Ketidakmampuan dirinya untuk membuat keputusan semakin bertambah beriringan dengan banyaknya anak dan tugas rumah tangga yang tak ada habisnya. Ia mulai mengkhawatirkan hal-hal tadi yang menyela kesibukannya dari pagi hingga malam.  Lebih dan lebih sering ia kehilangan ketenangan jika berhenti membuat keputusan. Kolom pengasuhan anak sedikit sekali, bahkan tidak membantu, pada saat-saat seperti itu, meskipun ia mencoba mengingatnya. Kolom itu hanya membicarakan satu masalah dan satu anak di satu waktu. Masalah-masalah lainnya selalu harus menunggu hingga minggu depan.

Kali ini ia menghindari membuat keputusan. Pintu terbuka dan semua anaknya berbondong masuk ke dapur. Stjani, si sulung, memimpin yang lain. Di usia yang amat dini, dia telah menunjukkan minat mengagumkan akan biologi manusia dan hewan. Anak laki-laki yang sedaritadi mendengarkan cerita sekarang meluncur dari pangkuan dan mengambil posisi di antara saudara-saudara lelaki dan perempuannya. Mereka membentuk setengah lingkaran di sekelilingnya dan ia memandang mereka satu persatu.

“Mama, kami mau tahu rupa otak seseorang.”

Ia melirik jam dinding.

“Sekarang juga?” tanyanya.

Stjani tidak menjawab pertanyaan ibunya. Dengan anggukan kepala dan pandangan tajam, dia memberikan tanda kepada adik laki-lakinya, dan si adik laki-laki keluar dan kembali dengan tali, sementara Stjani mengencangkan pisau gergaji ke pegangan kursi. Tali kemudian diikatkan disekitar sang ibu. Sang ibu merasakan ketika tangan-tangan kecil meraba punggungnya sementara simpul dikencangkan.  Talinya dibuat longgar dan tidak butuh banyak usaha untuk meloloskan diri. Namun ia berhati-hati agar anak-anak tidak mengetahui hal itu. Stjani selalu sensitif akan kecerobohan tangannya sendiri. Tepat ketika anaknya, Stjani, mengangkat gergaji ke kepalanya, gambaran akan sang ayah dari anak-anak muncul di pikirannya. Ia melihat lelaki itu di hadapannya seperti dia sesekali terlihat: berdiri di ambang pintu dengan tas kerja di satu tangan dan topi di tangan lainnya. Ia tidak pernah melihat lelaki itu kecuali di pintu depan rumah, entah ketika lelaki itu sedang berjalan keluar atau masuk ke rumah. Ia pernah sekali berhasil membayangkan lelaki itu sedang berada di luar rumah di antara orang-orang atau di kantor, tapi sekarang, setelah anak-anak mereka lahir, mereka pindah ke rumah baru dan lelaki itu bekerja di kantor baru, dan ia kehilangan arah.  Lelaki itu akan pulang lebih cepat dan ia bahkan belum mulai menggoreng ikan. Darahnya sekarang mulai menetes dari kepalanya. Stjani sudah selesai dengan gergaji. Operasi itu nampaknya berhasil, dan lumayan singkat.  Lalu dia berhenti seakan sedang mengira-ngira dengan matanya, seberapa besar lubang yang dihasilkan. Darah memuncrat ke seluruh wajahnya dan makian terucap dari mulutnya. Dia menganggukkan kepala dan adik laki-lakinya buru-buru keluar ruangan untuk mengambil ember pel. Mereka menaruh ember itu di bawah lubang dan tak lama ember terisi setengah penuh. Prosedur itu selesai dilaksanakan tepat di saat sang ayah muncul di pintu rumah. Sang ayah berdiri kaku sesaat dan merenungkan pemandangan yang tersuguhkan kepadanya: istrinya terikat, dengan sebuah lubang di kepala, anak laki-laki bungsunya memegang otak berwarna abu-abu di tangan, anak-anak dengan rasa penasaran saling berkerumun membentuk grup, dan hanya ada satu panci di kompor.

“Anak-anak! Bisa-bisanya kalian berpikiran melakukan ini di saat waktunya makan malam?”

Sang ayah mengambil potongan tengkorak istrinya dan memasangnya kembali saat sang istri hampir mati karena pendarahan. Lalu dia mengambil kendali dan segera setelahnya anak-anak sibuk merapihkan diri mereka. Dia mengelap hampir semua noda darah di dinding sebelum memeriksa panci di kompor. Ada suara mencurigakan dari panci itu. Air sudah lama mendidih dan dia memindahkan panci dari kompor dan menaruhnya di meja besi di sebelah bak cuci piring. Saat dia melihat ikan yang setengah bersih di bak cuci piring, dia sadar bahwa istrinya belum bergerak dari kursi. Bingung, dia mengerutkan alis. Tidak biasanya istrinya hanya duduk-duduk ketika ada banyak hal yang harus dikerjakan. Dia menghampiri istrinya dan menatapnya dengan penuh perhatian. Ternyata, anak-anak lupa membuka tali yang mengikat istrinya.

Saat dia telah membebaskan istrinya dari tali, mereka saling menatap mata satu sama lain dan tersenyum. Tidak pernah ada saat harmoni mereka terasa lebih dalam dibanding ketika mata mereka bertemu karena rasa bangga atas anak-anak mereka.

“Anak-anak malang,” katanya, dan suara lelaki itu dipenuhi nada khawatir sekaligus sayang untuk keluarganya.

Tak lama setelahnya mereka duduk di meja. Semuanya kecuali Stjani. Anak laki-laki itu sedang di kamar mempelajari otak dibawah mikroskop. Sementara itu, ibunya menghangatkan makan malamnya di dapur. Mereka semua lapar dan menghabiskan makanan dengan lahap; makan malam kali ini lebih telat dari biasanya. Tidak ada perubahan terlihat pada sang ibu. Ia sudah keramas dan menyisir rambut melewati bekas luka sebelum ia duduk. Ekspresi tenangnya menampakkan kesabaran dan penyangkalan diri yang biasa terlihat pada waktu makan. Ekspresi ini pertama kali muncul bertahun-tahun lalu ketika ia selalu menomorsatukan anaknya dan hanya menyimpan bagian yang teramat kecil bagi dirinya sendiri. Sekarang anak-anaknya sudah cukup besar hingga mereka dapat mengambil potongan terbaik untuk diri mereka sendiri dan ekspresi sebenarnya tidaklah penting, namun sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kegiatan makan. Sebelum makan malam berakhir, Stjani masuk ke ruangan dan duduk. Sang ibu segera mengambilkannya makan malam. Di dapur, ia membersihkan ikan dari tulang dengan cermat sebelum meletakkannya di piring. Saat mengambil ember sampah untuk membuang tulang-tulang ikan, ia berteriak kencang. Otaknya ada di bagian paling atas ember itu.

Anggota keluarga lainnya bergegas keluar sesaat setelah teriakannya mencapai ruang makan. Sang ayah memimpin di depan dan segera mengetahui permasalahan ketika dia melihat istrinya menundukkan pandangan ke ember sampah. Teriakan istrinya telah padam, namun masih bisa terlihat di garis wajahnya.

“Kamu malu membuangnya, bukankah begitu, sayang?” dia bertanya.

“Aku tidak tahu,” jawabnya dan menatap dengan penuh rasa maaf. “Aku tidak berpikir.”

“Mama engga berpikir, mama engga berpikir, mama engga berpikir,” ejek salah seorang anaknya yang berselera humor tajam.

Mereka semua tertawa terbahak dan tawa itu nampaknya menyelesaikan masalah. Sang ayah berkata dia punya ide; mereka tidak harus membuang otak itu, mereka bisa merendamnya dalam alkohol.

Maka, sang ayah meletakkan otak itu di toples bening dan menuangkan alkohol di atasnya. Mereka membawa toples itu ke ruang tamu dan menaruhnya di rak pajangan. Mereka semua sepakat otak itu cocok ditaruh disana. Kemudian mereka menyelesaikan makan malam.

Tidak ada perubahan kentara pada rutinitas rumahtangga akibat hilangnya otak. Awalnya, banyak orang berkunjung. Mereka datang ingin melihat otak itu, dan mereka yang membanggakan diri karena memiliki mesin pintal tua nenek mereka yang diletakkan di sudut ruang tamu sekarang tampak iri akan otak yang ditaruh di rak itu. Sang ibu tidak merasakan sedikitpun perubahan pada dirinya bahkan sejak awal. Tidak juga sulit baginya untuk melakukan pekerjaan rumah tangga atau untuk mengerti majalah Denmark. Banyak hal bahkan menjadi lebih mudah dimengerti dibandingkan sebelumnya, dan situasi yang dahulu sempat membuatnya harus putar otak tidak lagi berlaku sekarang. Namun lama-kelamaan ia mulai merasa sesak di dada. Seakan paru-parunya tidak lagi punya cukup ruang untuk berfungsi dan setelah setahun berlalu ia pergi ke dokter. Melalui pemeriksaan seksama terungkap bahwa di dalam hatinya telah tumbuh usus in naturalis et adsidui causa.[5] Ia meminta maaf pada dokter karena telah melupakan Bahasa Latin yang pernah dipelajarinya di sekolah, dan dengan sabar sang dokter menjelaskan padanya bagaimana hilangnya satu organ bisa berdampak perubahan pada organ lainnya. Sama halnya dengan seorang pria yang kehilangan penglihatan akan menderita gangguan pendengaran akut, hatinya telah mengalami peningkatan aktivitas yang pesat di saat otaknya tidak lagi tersedia. Ini adalah perkembangan yang alami, lex vitae[6], konon begitu katanya – dan karena hal itu, sang dokter tertawa – tidak perlu khawatir karena dalil tersebut pasti adil. Maka ia tidak perlu takut. Ia dalam kondisi primanya.

 Ia merasa lega karena kata-kata itu. Belakangan ini ia khawatir hanya memiliki sedikit waktu tersisa dalam hidup, dan ketakutan ini telah menjadi suara lantang di dalam dadanya yang berkata: Akan jadi apa mereka jika aku mati? Namun sekarang ia menyadari bahwa suara ini, yang kekuatan dan kemurniannya semakin bertumbuh, bukanlah ramalan, melainkan suara hatinya. Hal ini membuatnya senang sebab suara hati seseorang dapat dipercaya.

Tahun demi tahun berlalu dan suara hatinya menunjukkan jalan: mulai dari kamar anak-anaknya dan ruang kerja suaminya hingga ke dapur dan kamar tidur. Rute ini berharga baginya, dan tidak sedikitpun angin yang menghempas dari pintu rumah cukup kuat untuk menyapu jejaknya. Hanya satu hal yang bisa bangkitkan ketakutan dirinya: perubahan yang tidak terduga di dunia ini. Tahun ketika orang-orang lima kali memecat dan mengganti gadis-gadis konter di toko susu, ia tidak pernah merasa baik-baik saja. Namun anak-anak tumbuh. Ia bangun bersamaan dengan mimpi buruk saat anak tertuanya, Stjani, mulai merapihkan kopernya untuk pergi menjelajah dunia. Dengan kekuatan berapi-api yang tak terkontrol ia melemparkan dirinya ke ambang pintu untuk menghadang anaknya keluar. Suara sesapan terdengar saat anak laki-laki itu menginjaknya kala melangkah keluar. Anak laki-laki itu mengira ia sedang merintih dan berhenti sejenak lalu berkata bahwa semua salah dirinya sendiri. Tidak ada yang menyuruhnya untuk berbaring di lantai. Wanita itu tersenyum kala ia bangkit karena apa yang telah dikatakan anak laki-laki itu tidaklah benar. Hatinya berkata untuk berbaring disana. Ia telah mendengar suara itu teramat jelas dan sekarang, saat ia melihat lelaki itu berjalan menyusuri jalanan, suara itu kembali berbicara padanya dan berkata kalau ia masih bisa merasa senang karena telah melunakkan langkah pertama anak laki-lakinya keluar menuju dunia. Setelahnya mereka semua, anak-anaknya, pergi satu per satu dan ia ditinggal sendirian. Ia tidak lagi punya hal untuk dilakukan di kamar anak-anaknya dan ia seringkali duduk di kursi goyang di ruang tamu belakangan ini. Jika ia mendongak, toples di rak terlintas di pandangannya, dimana otaknya berada selama bertahun-tahun ini, dan nyatanya, hampir terlupakan. Budaya membuat hal ini lumrah adanya. Kadang ia merenungkan ini. Sejauh yang ia lihat, otaknya baik-baik saja disana. Namun ia kehilangan kesenangan menatap itu. Membuatnya teringat anak-anaknya. Dan lambat laun ia merasa suatu perubahan sedang terjadi dalam dirinya, namun ia tidak bisa mengatakan hal ini pada suaminya. Ia jarang melihat suaminya akhir-akhir ini, dan kapanpun suaminya muncul di rumah, ia segera beranjak dari kursi, seakan tamu baru saja tiba. Suatu hari suaminya dengan sendirinya bertanya apakah ia tidak baik-baik saja. Puas, ia mendongak, tapi ketika ia lihat suaminya sedang menghitung rekening di saat yang bersamaan, ia jadi bingung menjawab (ia tidak pernah mahir dalam berhitung). Dalam kebingungannya ia berkata tidak punya cukup banyak hal yang bisa dilakukan. Suaminya melihat ke arahnya takjub dan berkata bahwa ada cukup banyak hal yang bisa dilakukan hanya jika orang menggunakan otak mereka. Tentu saja lelaki itu berkata demikian tanpa berpikir. Lelaki itu tahu benar kalau ia tidak punya otak, tapi bagaimanapun juga ia tidak mengartikannya secara harfiah. Ia menurunkan toples dari rak, membawanya ke dokter dan bertanya jikalau otak itu masih bisa digunakan. Dokter tidak meniadakan kemungkinan otak itu masih berfungsi untuk satu dua hal, namun di sisi lain, semua organ akan mengalami penyusutan setelah diawetkan dalam alkohol dengan rentang waktu sedemikian lama. Oleh karena itu, akan menjadi perdebatan apakah sebanding jika harus memindahkannya; sebagai tambahan, nervi cerebrales[7] telah berubah bentuk menjadi memprihatinkan, dan dokter bertanya apakah pernah ada sosok ceroboh yang melakukan operasi sebelumnya.

“Ia masih sangat kecil waktu itu, menyedihkan sekali,” kata si wanita.

“Omong-omong,” kata dokter, “Saya ingat anda pernah punya hati yang tumbuh pesat.”

Sang wanita menghindari tatapan menyelidiki sang dokter dan sebersit samar hati nurani mencengkeramnya. Ia berbisik pada dokter apa yang tidak berani ia ungkapkan pada suaminya:

“Suara hatiku telah bungkam.”

Saat mengatakan ini ia sadar mengapa ia datang ke tempat itu. Ia membuka kancing blusnya, melepaskannya, dan menyampirkannya rapi di belakang bangku. Bra nya juga bernasib sama. Lalu ia berdiri siap di hadapan dokter, telanjang dari pinggang ke atas. Dia mengambil pisau bedah dan menyayat, lalu sesaat kemudian dia menyerahkan hati yang merah juga berkilauan. Hati-hati dia menaruhnya di atas telapak tangan wanita itu dan tangan si wanita lalu mendekapnya. Detak ragu-ragu hati itu serupa kepakan burung dalam sangkar. Ia menawarkan untuk membayar sang dokter, namun dia menggelengkan kepala dan, melihat bahwa ia sedang dilanda kesulitan, dia membantunya berpakaian. Dia lalu menawarkan untuk memanggilkan taksi untuknya mengingat ia memiliki banyak hal untuk dibawa. Ia menolak, menyumpalkan toples berisi otak ke tas belanjanya dan menyampirkan tas itu di lengannya. Kemudian ia pergi dengan membawa hatinya di kedua tangannya.

Sekarang dimulailah long march dari anak yang satu ke yang lainnya. Mulanya ia pergi menemui anak laki-lakinya, tapi tak satupun dari mereka ada di rumah. Mereka telah menemukan tempat berlabuh di kapal Negara dan mustahil untuk berkata kapan mereka akan kembali. Terlebih lagi, mereka tak pernah berlabuh di rumah cukup lama untuk memiliki waktu melakukan hal lain alih-alih mengurus anak. Ia menarik diri dari kegetiran menantu perempuannya dan pergi mengunjungi putri sulungnya, yang membuka pintu rumah. Ekspresi terkejut dan jijik muncul di wajahnya saat melihat hati merah, berlendir, yang berdenyut di telapak tangan ibunya, dan ketakutan, ia membanting pintu. Tentu ini hanya reaksi sesaat dan segera ia membuka pintu kembali, namun ia menekankan pada ibunya bahwa ia sama sekali tidak peduli akan hati ibunya; dan ia tidak yakin hati itu akan cocok dengan furnitur baru di ruang tamu. Sang ibu lalu sadar bahwa sia-sia melanjutkan long march-nya, sebab anak-anak perempuannya yang lebih muda bahkan memiliki furnitur baru. Maka, ia pulang. Di sana ia mengisi toples dengan alkohol dan menjatuhkan hatinya ke dalam toples. Suara sesapan yang dalam, seperti hembusan napas dalam dada manusia, bisa terdengar saat hati itu tenggelam ke dasar. Dan sekarang, mereka berdiri beriringan di rak dalam toples masing-masing, otaknya dan hatinya. Tapi tak ada satupun orang yang datang untuk melihatnya. Dan anak-anaknya tidak pernah datang berkunjung. Mereka selalu beralasan sibuk. Namun kenyatannya, mereka tak suka bau steril yang melekat pada segala hal yang ada di rumah. (*)

______________________________________________

[1] Teks asli berjudul Saga Handa Börnum dalam Bahasa Islandia diterjemahkan oleh Dennis Auburn Hill ke dalam Bahasa Inggris berjudul A Story for Children. Teks diunduh dari http://www.shortstoryguide.com/feminist-short-stories/.  Dalam cerita ini, ia adalah kata ganti untuk perempuan dan dia adalah kata ganti untuk pria.

[2] Svava Jakobsdóttir (1930-2004) ialah seorang penulis, politikus, juga feminis asal Islandia. Ia banyak menyuarakan hak-hak perempuan dalam karyanya. Jane Simmonds (1999) dalam buku berjudul Iceland (1999) menyebutnya sebagai penulis yang berhaluan feminisme surealis.

[3] Dalam cerita ini, ia adalah kata ganti orang ketiga perempuan, dan dia adalah kata ganti orang ketiga lelaki

[4] Fru Enson, Bahasa Denmark: Nyonya Kesepian

[5] Latin: kasus yang melibatkan penggunaan yang tidak wajar dan terus-menerus

[6] Latin: dalil kehidupan

[7] Latin: saraf otak

 

Continue Reading

Cerpen

Anton Chekhov: Oh! Masyarakat

mm

Published

on

Karya: Anton Pavlovich Chekhov[1] (1885) | Diterjemahkan oleh: Regina N. Helnaz

“Baiklah, cukup sudah aku minum-minum! Tidak… t-ti-dak akan aku tergiur lagi. Saatnya ambil kendali, aku harus bangkit dan bekerja… Tentunya kau senang mendapat gaji, jadi kau harus bekerja dengan jujur, tulus, teliti, tanpa peduli tidur dan kenyamanan. Mesin membuat segalanya mudah. Kau mendapat gaji secara cuma-cuma, kawanku – itu bukan hal baik… bukan hal baik bagaimanapun juga…”

Setelah menceramahi dirinya sendiri, Podtyagin, Kepala Pengumpul Tiket, mulai tergerak hatinya untuk kembali bekerja. Kala itu sudah lewat pukul 01.00 dini hari, walaupun begitu, ia membangunkan pengumpul tiket lainnya dan bersama mereka naik dan turun gerbong kereta, memeriksa tiket.

“M-m-m-mohon T-t-t-iketnya…!” ia terus berteriak, begitu lihainya merobek kertas dengan alat pemotong.

Sosok-sosok yang mengantuk, terselimuti senja gerbong kereta api, tersentak, menggelengkan kepala, dan menyerahkan tiket mereka.

“M-m-m-mohon T-t-t-iketnya…!” Podtyagin berbicara pada penumpang kelas dua, pria ramping, kurus kering, yang terbungkus mantel berbulu dan tikar dan dikelilingi bantal. “Mohon tiketnya!”

Si pria kurus kering tak memberikan jawaban. Ia benar-benar terlelap. Kepala Pengumpul Tiket itu menyentuh pundaknya dan mengulang perkataan dengan tidak sabar: “M-m-mohon t-t-tiketnya!”

Si penumpang tersentak, membuka matanya, memandang Podtyagin dengan gelisah.

“Apa? … Siapa? … Eh?”

“Anda ditanya dengan bahasa yang sederhana: m-m-mohon t-t-tiketnya! Jika Anda berkenan!”

“Ya Tuhan!” erang si pria kurus, menunjukkan wajah sedihnya. “Yang benar saja! Saya menderita rematik…. Sudah tiga malam saya tidak tidur! Saya baru saja minum morfin supaya bisa tidur, dan Anda… dengan tiket Anda! Anda tidak kenal ampun, tidak manusiawi! Kalau saja Anda tahu betapa sulitnya saya supaya bisa tidur maka Anda tidak akan mengganggu saya hanya untuk hal yang tidak masuk akal… Tak kenal ampun, ini kejam! Dan apa yang Anda inginkan dengan tiket saya! Perbuatan Anda sungguh bodoh!”

Podytagin mempertimbangkan apakah harus membalas ucapan tersebut atau tidak – dan memutuskan untuk membalasnya.

“Jangan berteriak di sini! Ini bukan bar!”

“Tidak, bahkan di bar, orang-orang lebih manusiawi…” kata si penumpang sambil terbatuk. “Mungkin Anda akan membiarkan saya tidur di lain waktu! Luar biasa: Saya telah bepergian ke luar negeri, ke semua tempat, dan tidak ada yang menagih tiket saya di sana, tapi sekarang Anda menagih lagi dan lagi, seperti sedang dikejar setan….”

“Nah, harusnya Anda pergi saja ke luar negeri jika benar-benar suka di sana.”

“Itu bodoh, Tuan! Ya! Tidak hanya membunuh penumpang dengan asap dan kesesakan dan udara dingin, mereka juga ingin mencekik kami dengan birokrasi yang sulit, terkutuklah semua ini! Anda harus menagih tiket itu pula! Ya ampun, antusias sekali! Kalau bukan karena kepentingan perusahaan – setengah penumpang bisa bepergian tanpa tiket!”

“Dengar baik-baik, Tuan!” teriak Podtyagin, marah. “Jika Anda tidak berhenti berteriak dan mengganggu masyarakat, saya berhak mengeluarkan Anda di stasiun berikutnya dan melaporkan kejadian ini!”

“Ini memuakkan!” seru ‘masyarakat’, naik pitam. “Menganiaya seorang invalid! Dengar dan pedulilah sedikit!”

“Tapi pria itu sendiri juga kasar!” kata Podtyagin, sedikit takut. “Bagus sekali… saya tidak akan menagih tiketnya… seperti yang Anda mau… Hanya, tentu saja, seperti yang Anda ketahui dengan baik, sudah tugas saya untuk melakukannya… Jika itu bukan tugas saya, maka tentu saja… Anda bisa tanya kepala stasiun… tanyakan siapa pun yang Anda mau…”

Podtyagin mengangkat bahunya dan berjalan menjauhi si invalid. Awalnya ia merasa dirugikan dan agak terluka hatinya, lalu, setelah melewati dua atau tiga gerbong, ia mulai merasa gelisah.

“Sebenarnya tidak perlu membangunkan si invalid,” pikirnya, “meskipun itu bukan salahku… Mereka pikir aku melakukannya tanpa alasan, tanpa tujuan. Mereka tidak tahu aku terikat kewajiban… kalau mereka tidak percaya, aku bisa bawa kepala stasiun untuk bertemu mereka.”

Stasiun. Kereta berhenti setiap lima menit. Sebelum bel ketiga[2] berbunyi, Podtyagin memasuki gerbong kelas dua yang sama. Kepala stasiun mengikuti di belakangnya.

“Laki-laki ini,” mulai Podtyagin, “menyatakan bahwa saya tidak memiliki hak untuk meminta tiketnya dan… dan dia merasa tersinggung. Saya mohon pada Anda, Pak Kepala Stasiun, untuk menjelaskan padanya… Apakah saya menagih tiket menurut peraturan atau untuk menyenangkan diri saya sendiri? Tuan,” Podtyagin memanggil lelaki kurus itu, “Tuan! Anda bisa tanya kepala stasiun sekarang jika Anda tidak percaya ucapan saya.”

Si invalid terkejut seperti baru saja disengat, membuka mata, dan dengan wajah sedihnya ia tenggelam di kursinya.

“Ya Tuhan! Saya baru saja minum puyer dan terlelap barang sekejap ketika ia sekarang mulai lagi… lagi! Saya mohon kasihanilah saya!”

“Anda bisa tanya kepala stasiun… apakah saya punya hak untuk menagih tiket Anda atau tidak.”

“Benar-benar keterlaluan! Ambil tiketnya, ambil! Saya bersedia membayar lima kali lipat jika Anda membiarkan saya mati dalam damai! Tak pernahkah Anda sakit? Dasar orang tak punya hati!”

“Ini adalah penganiayaan!” Seorang pria berbaju militer naik pitam. “Saya rasa tidak ada penjelasan lain dari kekeraskepalaan Anda ini.”

“Jatuhkan tiketnya…” ucap si kepala stasiun, memberengut dan menarik lengan baju Podtyagin.

Podtyagin mengangkat bahu dan berjalan perlahan melewati kepala stasiun.

“Tidak untuk menyenangkan hati mereka!” pikirnya, kebingungan. “Demi ia lah saya membawa kepala stasiun kemari, agar ia bisa paham dan lebih tenang, dan ia… mengumpat!”

Stasiun lainnya. Kereta berhenti sepuluh menit. Sebelum bunyi bel kedua, saat Podtyagin sedang berdiri di bar makanan dan minuman, meminum air soda, dua pria menghampirinya, seorang berpakaian seperti insinyur, dan seorang lainnya mengenakan mantel militer.

“Dengar, petugas pengumpul tiket!” seru si insinyur, mengalamatkan Podtyagin. “Perlakuanmu terhadap penumpang invalid membuat muak semua orang yang menyaksikannya. Nama saya Puzitsky; saya seorang insinyur, dan pria di sebelah saya ini seorang kolonel. Jika Anda tidak meminta maaf kepada penumpang tadi, kami harus mengadukan hal ini kepada kepala lalu lintas yang juga adalah teman kami.”

“Tuan-tuan sekalian! Mengapa tentunya saya… mengapa tentunya Anda…” Podtyagin diserang kepanikan.

“Kami tidak mau dengar penjelasan apa pun. Tapi kami peringatkan Anda, jika Anda tidak meminta maaf, kami harus memastikan keadilan berlaku pada penumpang tadi.”

“Tentu saya… saya akan minta maaf, pastinya… saya pastikan…”

Satu setengah jam setelahnya, Podtyagin yang sedang memikirkan ucapan permintaan maaf yang akan meyakinkan si penumpang tanpa merendahkan harga dirinya, berjalan menuju gerbong. “Tuan,” ia berkata pada si invalid. “Dengar, Tuan…”

Si invalid terkejut dan melompat: “Apa?”

“Saya… bagaimana ya? … Anda tidak seharusnya merasa tersinggung…”

“Argh! Air…” ucap si invalid megap-megap, mencengkeram dadanya. “Saya baru saja minum dosis ketiga morfin, jatuh tertidur, dan… lagi! Oh Tuhanku! Kapan siksaan ini akan berhenti!”

“Saya hanya… Anda harus memaafkan…”

“Oh! . . . Turunkan saya di stasiun berikutnya! Saya tak tahan lagi… saya… saya sekarat…”

“Benar-benar jahat, menjijikkan!” seru ‘masyarakat’, muak. “Enyahlah! Kau harus bertanggung jawab atas penyiksaan yang kau lakukan. Enyah dari sini!”

Podtyagin melambaikan tangannya berputus asa, mendesau, dan pergi keluar gerbong. Ia menghampiri kompartemen[3] pegawai kereta, duduk di meja, kelelahan, dan mengeluh:

“Oh, masyarakat! Tak ada gunanya menyenangkan mereka! Tak ada gunanya bekerja dan melakukan yang terbaik! Karenanya orang jadi tergerak untuk minum-minum dan bersumpah-serapah… Kalau kau tidak mengerjakan apapun – mereka marah, kalau kau mulai mengerjakan tugasmu, mereka juga marah. Lebih baik minum-minum daripada memikirkannya!”

Podtyagin menenggak habis sebotol minuman keras saat itu juga dan tidak mau lagi memikirkan pekerjaan, kewajiban, dan kejujuran! (*)

_____________________________

[1] Karya ini pertama kali dipublikasikan di Rusia pada 30 November 1885. Versi bahasa Inggris berjudul Oh! The Public diterjemahkan dari bahasa Rusia ke bahasa Inggris oleh Constance Garnett. Teks sumber berasal dari http://www.eldritchpress.org/ac/jr/

[2] Penumpang kereta diberikan 3 bel peringatan: bel pertama (1 kali denting) menandakan 15 menit sebelum keberangkatan, bel kedua (2 kali denting) menandakan 5 menit sebelum keberangkatan, dan bel ketiga (3 denting) dibunyikan saat kereta meninggalkan stasiun.

[3] Ruang terpisah di kereta.

Continue Reading

Cerpen

Dia Yang Menyimpan Batu Di Kepalanya

mm

Published

on

Dia menjatuhkan segelas teh pahit yang terhidang di meja, pagi itu. Di beranda, kursi-kursi rotan masih terbalik. Hanya satu kursi yang baru tegak di samping meja, menampung segelas teh. Ia kebingungan harus melap bekas tumpahan itu dengan apa. Lantaran takut dimarahi, ia segera ke dapur untuk membuat teh baru. Lalu terdengar suara memanggil namanya. Suara tersebut datang dari belakang rumah. Ia sibakan gorden jendela kayu yang menghadap langsung ke aliran irigasi sawah.

Ternyata seorang lelaki sedang jongkok menghadap tepat ke pintu jendela kamarnya. “apa kamu sudah makan pagi ini, Re?” tanya pria itu sambil menyeringai. Lantaran gegas, ia tutup kembali jendela dengan bau busuk setengah masuk ke dapur. “gila, itu sarapan pagi paling harum.” Umpatnya sambil terus menuangkan teh bubuk. Setelah itu ia kembali ke beranda. Ia harus membuat meja dan properti lain terlihat seperti sebelum ia menumpahkan air dari gelas sampai berkeping. Kemudian ia berlekas menuju kamar, mencoba untuk tidur lagi dengan harapan, jika terjadi sesuatu tentu ia tidak akan tertuduh.

            Baru saja ia terbaring di atas kasur, terdengar kembali suara gelas jatuh. Tapi diiringi umpatan kasar. Hasratnya berburu antara keluar dan bersembunyi dalam selimut tebal. Takut sudah berdatangan, dadanya berdebar deras, memompa perdetik detak jarum jam yang tergantung. Umpatan terus seliweran menggema menyelinap ke telinganya. Kadang terdengar jelas, kadang kurang jelas, “…tek” umpatnya terus mengalir.

Setelah beberapa waktu berlalu, suara itu tiba-tiba hilang, dan langkah kaki terdengar menuju kamarnya. Posisinya tersudut. Meski tidurpun, jika pria itu ingin membangunkannya, tentu saja ia tidak akan bisa mengelak, begitu mungkin pikirannya. Sambil terus berpura-pura tidur ia buka jendela. Kemudian ia bangun dan bangkit dari tidur, lalu ia buka pintu kamar yang masih menyimpan takut. Terlihat pria itu marah-marah, tentu saja ia harus terus berpura-pura seperti bangun tidur. Sembari mengusap kedua matanya, ia pun bertanya, “ada apa ini, pagi-pagi sudah ribut?” tanyanya seolah-olah setengah sadar, lantaran baru bangun tidur.

 ***

            Pagi itu burung-burung sewiliran mengitari halaman rumah Kare dengan suara kicau semeraut. Setelah pertengkaran pagi itu, Kare tidak lagi bersapaan selama beberapa minggu dengan pria itu. Ia tidak menghitung sudah berapa lama ia tidak menyapa pria itu. Kentara membuat suasana di rumah menjadi tidak terasa nyaman. Mereka saling melarikan diri entah kemana. Meski mereka berdua sangat dibutuhkan para wanita yang berada di rumah. Tapi apalah hendak dikata, mereka lebih mementingkan keras kepala masing-masing, ketimbang kesejahteraan rumah.

Wanita yang harus ia jaga pertama adalah orang tua bagi Kare dan ibu dari anak-anak pria itu. Hampir setiap hari mereka berselisi tanpa bersapaan. Walau setiap pagi Kare harus menunggu pria itu bangun untuk sekedar menanti uang jajan. Tidak ada lagi pamitan atau salam layaknya dua orang anak dan ayah. Padahal malam sebelum kejadian pagi itu, mereka berdua baru saja menyelesaikan sangkar ayam yang akan dijual di pasar minggu. Malam itu mereka begitu bahagia karena sudah lebih satu bulan mereka bekerja untuk menyelesaikan sepuluh sangkar ayam untuk dapat dijual.

Sudah jelas malam itu adalah hari dimana mereka akur dan tertawa dengan bahasan kuno khas pria itu: cerita Abu Nawas anak kampung yang datang ke kota. Pun rencana-rencana untuk membuat sangkar-sangkar dengan bentuk baru, agar pelanggan tidak bosan dan peternak ayam aduan terus memesan buatan mereka. Pria itu menyadari Kare adalah anak yang keras kepala. Anak yang tidak bisa diatur-atur hidupnya, apalagi untuk sebuah urusan kebiasaan.

Pria itu mengetahui tabiat Kare setiap bangun pagi. Sudah sembilan belas tahun pria itu harus mengurus tabiat Kare. Tabiat yang setiap bangun pagi Kare adalah berlari ke beranda rumah sambil kejang-kejang. Kemudian selalu bangun dengan sesuatu yang pecah atau patah. Dahulu sekali, tangan Kare pernah patah, lantara pagi itu ia kejang-kejang setelah memanjat pohon yang ada di halaman rumah. Begitulah keadaan rumah setiap pagi.

Saban hari ada saja yang membuat rumah riuh dengan keadaan itu. Jikapun tidak ada pagi yang semeraut di beranda rumah. Sudah pasti di dalam rumah terjadinya. Jika di ruang tamu tidak ada juga, sudah pasti di kamarnya telah terjadi geliat kejang-kejang yang sengit. Itu adalah salah satu alasan kenapa kamar Kare tidak lagi diletakkan lemari atau semacam properti yang bisa pecah atau patah.

Kare menyadari tabiat buruknya, itu sebabnya ia selalu menyuruh pria itu menggembok kamarnya dari luar. Tapi karena pagi itu terjadi sesuatu hal yang mungkin Kare tidak ingin mengingatnya, pria itu harus membiarkan tabiat Kare diurus oleh wanita-wanita yang ada di rumah. Mulai dari ibu sampai saudara perempuannya yang ada harus teliti setiap malam; menutup pintu jedela kamar, menggembok kamar, juga tidak meletakkan apapun yang bisah pecah dan patah di kamar Kare.

***

            Mereka terus terperangkap dalam labirin kemarahan. Sepanjang hari berganti terus memupuk kebencian dan kecewa. Kare berpikir keras untuk mencari kesalahan-kesalahan yang diperbuat pria itu. Sampai ia terus membenci dan tidak akan mengingatnya bahwa ia pernah bahagia bersama pria itu, barangkali itu pikir Kare. Sebab sudah sangat lama ia tidak melakukan pekerjaan membuat sangkar. Pria itu harus bekerja sendiri. Kadang dibantu oleh perempuan-perempuan yang ada di rumah. Memang, kadang pria itu emosian jika pertolongan yang diberikan tidak sesuai keinginannya, ia akan marah. Tidak jarang juga ia mengumpat dengan carut yang jelas.

Tentu saja dapat dilihat oleh Kare, karena setiap hari pria itu harus berjuang sendiri membuat sangkar. Tidak jarang bambu-bambu yang sudah diraut akhirnya patah ketika dirangkai menjadi bundar. Perihal membuat sangkar tidak semua orang dapat melakukannya. Sebab ada sisi ketelitian dan kesabaran. Itulah yang biasanya dilengkapi Kare, pria itu bersemangat dan Kare sabar mengikutinya. Berbanding dengan perempuan-perempuan yang membantunya setelah Kare tidak mau lagi membantunya. Mereka tidak sabar untuk menyelesaikan pertololongannya, sedangkan pertolongannya hanya semakin membuat pria itu kerepotan setia saat mengajarkan cara memegang bambu yang baik, cara menjalin rotan dan lain-lain.

Pria itu juga mencoba untuk membuat variasi baru yang pernah direncanakan bersama Kare. Meski banyak aral, mulai dari susahnya mencari bambu serta rotan—pun mengangkat peralatan tersebut untuk dibawa pulang. Pria itu harus berjuang sendiri, setiap hari. Untuk mengumpulkan bahan tersebut, pria itu harus memakan waktu seminggu. Biasanya itu dilakukan berdua dengan Kare hanya tiga hari. “Matilah, akhirnya kau merasakan betapa pentingnya aku, bukan.” ucap Kare lirih sambil menengok pria itu kesusahan membawa bahan membuat sangkar.

Kare memerhatikan pria itu berusaha keras untuk membuat variasi baru. Biasanya ia membuat sangkar ayam, sekarang ia mencoba membuat sangkar burung. Tentu sangkar burung memiliki kesulitan yang berdeda. Selain telaten, juga buruh kesabaran yang lebih. Kare masih mengitip kerja pria itu, setiap sore Kare selalu berdiam di balik pintu hanya untuk menyaksikan kesusahan pria itu. Sambil bernyanyi ia seolah-olah menikmati hidup tanpa membantu siapapun.

Berbeda sekali dengan pria itu. Ia menyadari bahwa ia adalah pria yang sangat emosional ketika menyangkut fokus dalam bekerja. Tapi karena pagi itu emosinya begitu meluap bagai letusan gunung berapi, membuat hubungannya dengan Kare menjadi tidak harmonis. Menyebabkan pekerjaannya menjadi lalai dan keuangan rumah juga berdampak buruk. Begitulah syukur Kare tidak harus membantu pria itu lagi, pikirnya.

Dia yang saling menyimpan batu di kepalanya. Dia yang menaruh dendam kesumat sampai benar-benar kata sapa lupa bertadang. Kare memilih untuk menyimpan dendam, sedangkan pria itu menunggu Kare menerima keadaan. Lantas, tidak semua situasi dapat dikendalikan seperti sedia kala lagi. Begitulah keadaan ketika hati sudah dicampuri rasa kecewa berkecamuk. Pria itu selalu menantikan kedatangan Kare saat ingin mengerjakan sangkar, namun tetap nihil. Kare terus bersikeras dengan hatinya, tanpa melihat sesuatu yang bahaya sudah mengerogoti hatinya. Kemudian melupakan sebuah kebaikan yang dirasakan dalam kehidupan barunya tanpa tabiat lama.

____

            Pagi itu memang merubah segala hal tentang kehidupan Kare, mulai dari perempuan-perempuan di rumah dan pria yang tidak pernah lagi disapa Kare. Lantara pagi itu membuat segala hal tentang pria itu hilang seketika dan berbalik menjadi kumpulan zat yang membatu di kepalanya. Seketika Kare harus mengingat pagi itu lagi, agar ia terus bisa membenci pria itu. Sampai mati, sampai benar-benar tidak ada lagi hubungan antara mereka.

“begitulah pagi yang selalu mereka banggakan. Dengan rintik rinai juga burung-burung pipit berterbangan.” Perempuan-perempuan di rumah itu selalu mengumpat setiap pagi. Hampir setiap pagi yang tidak ada lagi suara benda pecah dan patah. Barangkali begitulah sebuah pengorbanan pria itu.

Pengorbanan yang berujung benci dan berakibatkan sesal yang tak kunjung usai nantinya. “anak jalang, tidak tahu apa-apa, bodoh!!!” terus terngiang sampai ke seluruh sendi yang ada di tubuh Kare. “kadang, hal paling gila harus dilakukan untuk menyelamatkan ketidakwarasan di masa selanjutnya. Pria itu berangkat dengan sesal—serta syukur yang dideritanya.

Mereka yang menyimpan batu di kepalanya, yang terus melahirkan anak-anak kerikil lainnya. Mereka yang menyimpan dendam di kepalanya, akan terus diramu menjadi benci dan kecewa. Mereka yang menaruh benih di kepalanya, tidak selalu berbuah baik dan keburukan. Mereka yang terus-terusan memupuk banyak hal di kepalanya, maka bersedialah menerima segala hal tentang yang disimpannya. Mereka yang terus menunggu lantaran sebuah kesalahan, terimalah sesal diakhir nanti. (*)

Arif Purnama Putra, berasal dari Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Alumni di STKIP PGRI Padang, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Bergabung bersama Komunitas Menulis “Daun Ranting.” Pernah tergabung dalam Antologi 20 Cerpen terbaik lomba PCINU-Maroko, 100 The Competition ASEAN Poem 2017 DEMA FTIK-IAIN Purwokerto “Requiem Tiada Henti”. Karya pernah dimuat beberapa media, seperti Haluan, Minggu Pagi, Singgalang dan beberapa lainnya.

 

 

 

Continue Reading

Trending