Connect with us
a a

Cerpen

Bussum

mm

Published

on

oleh: Tyo Prakoso

Untuk R

Tanganku bergetar saat menyentuh kayu nisan itu. Harum bebungaan terasa menusuk hidung. Air mata jatuh di pipi merahku. Pasmina abu-abu yang kukenakan terjatuh di bahu. Satu per satu pelayat meninggalkan pemakaman. Tinggal aku dan Fathir terduduk tersipu di atas gundukkan tanah merah. Samar-samar kicauan burung terdengar. Kilau matari perlahan-lahan masuk dari dedaunan bunga tulip. Nampak dari kejauhan sebuah kincir berputar kencang.

NAMAKU Benazir. Aku lahir dari rahim perempuan keturunan India, Arab, Aceh dan Maluku Utara. Aku memanggilnya; “Ummi”. Bapakku orang Jawa tulen. Aku lahir dan tumbuh di negeri Belanda. Tepatnya, di kota kecil di tepi Laut Utara, Samudera Atlantik, bernama Haarlem. Bapak seorang wartawan yang tengah melanjutkan studi di Belanda. Saat usiaku belum genap 7 tahun, aku kembali ke Indonesia.

Siang itu Ummi sedang sibuk di dapur, perutnya nampak semakin besar di balik bajunya yang berwarna putih. Bapak sedang tidak di rumah. Ia tengah melakukan liputan di luar kota. Aku tengah bermain kertas origami di ruang kerja Bapak. Sementara Ummi sedang membuat roti cane dan kari ayam di dapur.

Tiba-tiba terdengar suara benturan. Ummi terjatuh di kamar mandi. Keluar begitu banyak darah dari selangkangannya. Aku menjerit histeris: tak tahu apa yang mesti kulakukan. Ummi pingsan. Tangisku semakin keras. Seketika itu aku tak lagi mengingat apa-apa. Dalam kepalaku hanya ada satu hal: darah. Merah…

Ingatanku pulih saat aku sudah di rumah sakit yang berada di Jacobijnestraat, Haarlem. Di sampingku ada wanita yang berpakaian serba putih. Aku melihat Bapak yang tengah berjalan-jalan kecil di depan pintu ruang ICU. Ia panik. Wajahnya begitu cemas. Seorang lelaki yang juga berbaju serba putih keluar dari ruang tersebut. Ia berbicara pada Bapak. Aku tak mengerti apa yang dibicarakan. Tiba-tiba Ummi dikeluarkan dari ruang ICU ke ruang yang lain dengan sejumlah peralatan yang menempel di tubuhnya. Aku tak mengerti saat itu. Yang aku tahu Bapak begitu terlihat semakin cemas. Wajahnya kuyuh. Ia masih mengenakan mantel cokelatnya. Tas kerjanya terserak di sudut lantai.

Beberapa saat aku melihat Bapak meneteskan air mata. Ia menangis. Saat lelaki berbaju serba putih tadi berbisik kepada Bapak dan menepuk-nepuk pundaknya. Saat itu aku tak tahu apa yang terjadi. Baru kemudian aku mengetahui; Ummi meninggal dunia. Sementara bayi yang di kandungnya, adikku, Fathir selamat. Aku histeris. Tertegun.  Ummi dimakamkan di sebuah taman pemakaman di sebuah desa bernama Bussum. Tak terlalu jauh dari Haarlem. Saat itu aku berumur 5 tahun 2 bulan.

Kematian Ummi, membuat Bapak begitu tak bergairah menjalani hari. Berminggu-minggu Bapak hanya duduk-duduk di depan meja kerjanya. Ia hanya memandang lukisan Ummi yang tanpa busana. Sementara Fathir diasuh oleh tetangga kami, bernama Nyonya Christina Johanna Henderiks Djikhoff. Ia seorang janda. Suaminya telah lama meninggal dunia karena penyakit jantung. Anaknya, Reitze Djikhoff merantau ke Belgia.

Butuh waktu hampir 3 bulan untuk Bapak menerima kematian Ummi dan bisa beraktivitas seperti biasa. Dan, memang takkan pernah bisa menjadi biasa. Setelah satu tahun kematian Ummi, akhirnya kami memutuskan kembali ke Indonesia. Bapak meninggalkan studi dan pekerjaannya. Namun, rumah di Haarlem tak di jual. Hanya dititipkan pada Nyonya Johanna. Tumpukkan buku dan beberapa arsip koleksi Bapak tertinggal di rumah itu.  Nyonya Johanna mengantarkan kami ke stasiun. Ia menetes air mata.

Sesampainya di Indonesia, Bapak mengontrak rumah di daerah Bantul, Yogyakarta. Sebuah rumah kecil, yang di sampingnya memiliki halaman yang begitu luas; ada pohon rambutan, sawo, sukun, bunga anggrek, melati dan mawar. Di sudut-sudutnya tertanam juga berbagai tanaman obat-obatan. Rumah itu hanya memiliki 2 ruang tidur, 1 ruang kerja Bapak dan 1 ruang utama. Kamar mandi terpisah dengan rumah utama. Berada di tengah halaman samping rumah.

Semenjak di Indonesia, aku tak lagi melihat Bapak sering keluar rumah. Bapak banyak menghabiskan waktu di ruang kerja: menulis. Jika keluar rumah, Bapak pasti mengajakku dan Fathir. Seperti saat Bapak mengantarkanku untuk pertama kali masuk sekolah dasar. Bapak mengendarai motor bebek. Aku duduk di belakang, sementara Fathir duduk di depan dengan kain melilit di perut Bapak.

Sepeninggalnya Ummi, Bapak adalah orangtua sekaligus sahabatku. Aku selalu meniru-niru apa yang kerap dilakukannya: berlama-lama duduk di kursi rotan untuk membaca atau mengunting-gunting koran lalu menempelkan di sebuah bundelan kertas.

Seperti siang itu, saat Bapak tengah asik membaca buku tebal yang bersampul berwarna merah. Aku juga sibuk membolak-balik buku tebal yang berjudul Arus Balik. Walau aku tak tahu pasti apa yang sedang kubaca (baru dikemudian hari aku mengetahui itu karya sastrawan terkemuka Indonesia, Pram). Aku bangkit dari tempat duduk, saat mendengar Fathir bangun dari tidur siangnya. Seketika pun Bapak menyuruhku untuk menggendong Fathir. Saat itu Fathir berusia 3 tahun.

Hari-hari Bapak berjalan begitu tenang. Pagi hari ia memasak untuk sarapan kami bertiga. Kadang ia membuat bubur ayam atau kacang ijo. Kadang ia membuat nasi goreng. Atau memasak tumis-tumisan. Bapak berperan sebagai ayah sekaligus juga ibu. Apalagi saat Fathir tengah menangis. Terpaksa ia harus membuatkan susu dan menimang-nimangnya atau menganti popoknya. Jika kelelahan, Bapak meniduri Fathir di sebuah ayunan dari kain yang mengantung di kusen pintu kamar. Tepat pukul 7, ia harus mengantarkan aku ke sekolah sambil membawa Fathir. Sesampainya di rumah lagi, Bapak mulai bekerja. Menulis dan menulis. Untung saja, ada Mbok Har, tetangga kami, yang kerap bantu-bantu di rumah: bebersih rumah atau sekedar menjaga Fathir saat Bapak tengah bekerja.

Di akhir pekan, biasanya Bapak mengajak aku dan Fathir berkunjung ke kota Yogya. Untuk sekedar bertemu teman-temannya, atau menyaksikan sebuah pameran lukisan di gedung Bentara Budaya Yogya dan menonton pentas teater. Atau, jika tak pergi ke kota Yogya, Bapak kerap mengajarkanku melukis atau membaca puisi di halaman samping rumah yang luas. Di pojok halaman, terdapat sebuah pendopo yang tak terlalu besar. Di sanalah biasanya Bapak membacakan puisi-puisi dan cerita-cerita buatannya. Aku hanya duduk terpukau sambil menggendong Fathir. Saat itu, aku diam-diam belajar membuat puisi dan menulis cerita. Walau tanpa sepengetahuan Bapak.

Jika sedang libur sekolah, aku kerap berusaha untuk ‘menjadi Bapak’: duduk berlama-lama di kursi rotan sambil membaca buku-buku yang tebal dan berlama-lama di depan komputer jinjing untuk menulis. Atau mengunting-gunting koran yang tadi pagi dibeli dan dibacanya. Melihat tingkah lakuku, Bapak hanya hanya tersenyum-senyum, lalu mencium keningku sambil ia mengajarkan Fathir berjalan. Dan satu lagi tingkah pola Bapak yang kerap aku tiru, yakni menyiram tanaman di sore hari tepat pukul 4 lewat 15 menit. Mengapa pukul 4 lewat 15 menit? Aku tak pernah tahu alasannya. Bapak hanya tersenyum dan memberiku selang air saat aku menanyainya.

Semenjak kematian Ummi, Bapak sangat jarang sekali berbicara, sekalipun itu pada aku dan Fathir. Saat bapak menyuruhku, hanya beberapa kata saja keluar dari mulutnya. Tapi sorot matanya seolah berbicara. Itu yang membuatku tak pernah membantah perintahnya dan selalu mendengarkan kata-katanya. kata-kata yang begitu mahal keluar dari mulutnya. Dari kata-katanya, kejadian sore itu akan selalu kuingat.

Begini: saat awal masuk di kelas 1 SMP, aku diwajibkan memperkenalkan diri di depan kelas oleh guruku: nama, asal daerah, asal sekolah, tanggal tempat dan tahun kelahiran, nama orangtua hingga kegemaran. Aku maju ke depan. Kakiku terasa bergetar. Seluruh tatap mata mengarah ke arahku. Seisi ruangan memperhatikan hidungku yang mancung, rambutku yang cokelat, pipiku yang merah, bola mataku yang cokelat dan tubuhku yang tinggi dari rata-rata anak seusiaku. “Namaku Benazir. Aku dari….,” tak mampu aku melanjutkan kata-kataku. Tatapan mata seisi ruangan membuatku begitu minder. Aku merasa aneh. Seketika aku menangis. Berlari ke luar kelas. Guruku, Bu Fatimah mengejar. Kudengar, seisi ruangan tertawa terbahak-bahak. Tapi aku terus berlari ke arah rumah. “Orang bule! Orang bule!” kata sebagian teman kelasku. “Bule masuk desa! Bule masuk desa!” kata yang lainnya. “Bukan bule, tapi arab! Arab! Arab masuk desa!” sambut yang lainnya lagi. Semuanya tertawa. Terdengar sayup-sayup di telingaku.

Sesampainya di rumah, Bapak yang tengah mengajarkan Fathir membaca, terheran-heran melihat aku menangis. Aku peluk Bapak. Air mataku tumpah di pundaknya. “Kenapa, nak?” kata Bapak sambil membelai rambutku yang cokelat. Aku didudukkan di kursi rotannya. Pipi merahku yang basah diusapnya. Aku menceritakan kejadian di ruang kelas tadi. Bapak hanya tersenyum. Diusapnya lagi pipi merahku yang basah. “Kamu orang Indonesia, nak. Bukan orang Aceh, Arab, Malaku atau jawa. Tapi Indonesia! Ummi orang Indonesia. Bapak orang Indonesia. Fathir juga orang Indonesia….” kata Bapak sambil mencium keningku.

Siang itu banyak kata keluar dari mulut Bapak, selain saat ia membaca puisi atau cerita. Aku merasa senang. Bukan saja hanya karena penjelasan Bapak, tapi juga kata-kata yang keluar dari mulutnya. Itu seperti beberapa tahun lalu saat Ummi masih hidup. Aku memeluknya lagi. “Sudah jangan menangis, nak. Kalau kamu menangis, Ummi ikut menangis di surga.” Bisik Bapak. Kemudian ia mengelus-elus rambutku yang cokelat. Dan Fathir memelukku dari belakang.

Bapak adalah ayah, sekaligus ibuku. Ia menjadi tempatku bertanya dan mengadu. Dulu, Ummi yang selalu menemaniku belajar membaca dan berhitung. Ummi juga yang memberitahuku tentang arti perempuan dan keperawanan. Ia mengenalkan alat-alat vitalku, seperti vagina dan payuhdara. Yang tak boleh sekalipun disentuh oleh orang lain, terlebih lawan jenisku. Sepeninggalnya Ummi, aku tak lagi mendapatkan pelajaran tentang seks. Oleh karena itu, akupun mencari tahu sendiri tentang seks dan permasalahan perempuan lainnya. Dan sesekali bertanya pada Bapak.  Waktu pertama kalinya datang bulan, misalnya, usiaku 10 tahun, aku merasakan begitu sakitnya perut dan vaginaku. Darah kental terus mengalir dari alat vitalku. Bapak kebingungan. Ia mondar-mandir membeli minuman pereda sakit perempuan datang bulan di swalayan. Tapi tak berhasil. Sakit itu pun terasa sampai ke leher. Lebih dari seminggu aku hanya jungkir-balik di tempat tidur. Bapak terus mondar-mondir panik. Lebih 10 merk pereda sakit perempuan datang bulan dibelinya. Hasilnya nihil. Akhirnya, Mbok Har datang. Ia bawakan jamur beras kencur dan air rebusan daun sirih. Aku dipaksa meminumnya. Rasanya tak karuan. Memang, sakitnya agak reda. Tapi, aku masih jungkir-balik di tempat tidur.

Setelah kejadian itu, aku teringat Ummi. Aku katakan pada Bapak: ‘Aku sangat merindukan Ummi.’ Ia hanya tersenyum. Aku pun ceritakan pada Fathir: ‘Sebelum kau merasakan haid dan melahirkan, janganlah pernah menyakiti perempuan, terlebih ibumu sendiri’. Ia menangis. Bapak memeluk kami berdua. “Jangan kalian menangis. Nanti Ummi ikut menangis.” Kata Bapak. Memang, sebelum aku ceritakan waktu itu, Fathir tak pernah tahu cerita di balik kelahirannya dan kematian Ummi. “Kelahiran dan kematian adalah cerita klise dalam kehidupan.” Begitu tulis Bapak dalam salah satu ceritanya, yang aku baca secara diam-diam di surat kabar Kedaulatan Rakyat.

Semenjak tinggal di Bantul, jika tak perlu-perlu amat, kami jarang sekali pergi keluar kota. Jikalau pun pergi, pasti bapak mengikutsertakan aku dan Fathir. Bapak seolah tak ingin meninggalkan aku dan Fathir di rumah tanpa pengawasannya. Jika kutanya mengapa, Bapak tak menjawab. Ia hanya tersenyum. Kemudian ia memandang lukisan Ummi yang tanpa busana menggantung di ruang kerjanya.

Seperti saat Aku mendapatkan kesempatan berkuliah di Institut Teknologi Bandung. Bapak melarangku. Lebih baik di UGM atau ISI, katanya. Akupun patuh. Lalu aku kuliah di ISI Yogya.

Begitu juga saat Mas Samudera, suamiku, melamar 7 tahun lalu. Raut wajah Bapak berubah. Bukan karena ia tak setuju pada Mas Samudera. Jangan pergi dari rumah ini, nak. Kata Bapak saat Mas Samudera dan rombongan keluarganya pulang seusai acara lamaran. Saat kutanya mengapa, lagi-lagi Bapak hanya tersenyum. Dan akhirnya akupun meninggalkan rumah juga. Meninggalkan Bapak. Aku ikut Mas Samudera yang ditugaskan di Kalimantan setelah acara pernikahan. Bapak tersedu, tapi akhirnya melepasku juga. Bapak di rumah bersama Fathir yang telah tumbuh menjadi dewasa. Saat itu, Fathir sudah kelas 3 SMA semester akhir.

Kepergianku ke Kalimantan, membuat aku hanya berkomunikasi dengan Bapak melalui surat elektronik atau telepon seluler. Aku tahu Bapak kesepian. Karena Fathir mulai sibuk di kampus. Tapi ia tak pernah mengatakan secara terang. Ia tetap menyembunyikan kerinduannya.

Seperti malam itu: saat aku menelponnya. Kira-kira pukul 8 malam. Aku bercerita tentang keinginanku untuk pulang ke Yogya saat libur tahun baru. Dan akupun mengabari, aku tengah mengandung 4 bulan. Bapak sumringah. Tapi seketika nada bicaranya berubah. Tak usahlah, nak, kata Bapak, tunggu sampai anakmu lahir, barulah kamu pulang ke rumah. Bilang ke Samudera, jangan terlalu sering diluar rumah, lanjut Bapak.

Benar, saat Dipa dan Sjam lahir, anakku kembar, dan setelah berusia 3 bulan, aku pulang ke Yogya. Bapak senang melihat cucu pertama yang kembar. Digendongnya Dipa dan Sjam lama-lama secara bergantian. Meskipun  kerap mengompol dan berak di gendongannya, Bapak hanya tertawa dan cepat-cepat menggantikan popok. Hanya beberapa minggu di Yogya, aku harus kembali ke Kalimantan. Mas Samudera harus kembali bekerja. Raut wajah Bapak berubah. Ia nampak sudah begitu tua. Walau usianya baru saja melewat setengah abad.

Hingga beberapa bulan kemudian, aku mendapat kabar melalui surat elektronik dari Fathir: ‘Bapak sakit, sudah hampir satu minggu. Tapi menolak untuk dirawat di rumah sakit.’ Aku panik. Segera menelpon Fathir. Dan akupun memutuskan, untuk ke Yogya 5 hari kedepan. Tanpa Mas Samudera.

Sehari sebelum keberangkatan, Fathir menelpon. Bapak koma di rumah sakit, katanya. Aku kaget. Segera menuju Bandar Udara Supadio. Sial, keberangkatan ke Yogya baru ada esok hari, pukul 4 pagi. Aku menelpon Fathir. Tak ada jawaban. Aku berdoa. Semoga baik-baik saja. Entah mengapa saat itu aku teringat Ummi.

Pagi hari, aku berangkat. Sebelum dan sesudah perjalanan kuhubungi Fathir, tak ada jawaban. Pukul 7 pagi, aku sampai. Lekas menuju RSUD Panempaham Senopati. Di lorong rumah sakit aku melihat Fathir di depan ruang 007 Ahmad Yani. Ia terduduk lesu. Matanya merah. Ia menangis. Aku memeluknya. Fathir berbisik, tapi tak kedengaran. Bisiknya bercampur tangis. Tapi aku paham. Kutemui lelaki baju yang serba putih yang baru saja keluar daru ruang 007 Ahmad Yani. Lelaki itu menepuk-nepuk pundakku. Sabarlah, ini sudah kehendakNya, katanya. Aku paham. Aku menangis.

Aku masuk ke dalam ruang 007 Ahmad Yani. Tangisku tumpah. Bapak sudah terbujur kaku. Di kantong kemejanya kulihat kertas kusam. Terdapat tulisan dari bolpoin berwarna biru; ‘Bussum’. Ya, hanya ‘Bussum’ tulisan di kertas itu. Dan akupun paham: Ummi.

Bapak disemayamkan di rumah. Para tetangga hadir. Sanak-keluarga datang. Kejadian 19 tahun lalu teringat lagi.

‘Jenazah akan dimakamkan di Bussum, Belanda.’ kataku di depan  para pelayat.

***

AKU bangkit dari dudukku di gundukkan tanah merah. Harum wewangian bunga masih menusuk hidung. Mataku lembam sepenuhnya. Fathir masih menunduk. Tiupan angin Samudera Atlantik begitu kencang. Pasminaku jatuh sepenuhnya di bahu. Kincir angin masih nampak begitu kencang berputar. Seolah menyejukkan perjalanan Bapak menemani Ummi di Bussum.(*)

Jatikramat, Agustus 2014

*Cerpenis dan Mahasiswa Sejarah, @cheprakoso

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cerpen

Gao Xingjian: Bayangan Kematian

mm

Published

on

Getty Images/ google

Kau tak lagi hidup dalam bayang-bayang orang lain dan tak lagi menganggapnya sebagai musuh khayalan. Kau meninggalkan bayangan itu, berhenti berkhayal dan melamunkan hal-hal aneh, dan kini terpuruk dalam kehampaan yang damai. Kau datang ke dunia dengan telanjang, tiada yang membutuhkanmu dan andaikan kau menginginkan sesuatu, kau tak akan mampu melakukannya. Satu-satunya rasa takutmu hanyalah pada maut yang datang tiba-tiba.

Kau ingat rasa takutmu pada maut berawal di masa kecil. Saat itu rasa takut itu lebih besar dari kini. Kesedihan sepele membuatmu begitu cemas, seolah-olah itu adalah penyakit tak terobati dan saat kau jatuh sakit kau akan mengigau ketakutan.

Kau telah bertahan melalui berbagai penyakit dan bencana yang kau lewati dengan kemujuran. Kehidupan itu sendiri adalah keajaiban yang tak bisa dijelaskan dan hidup di dalamnya adalah perwujudan sebuah keajaiban. Tak cukupkah bahwa sesosok tubuh yang sadar bisa merasakan sakit dan senang dalam hidup ini? Apalagi yang mesti dicari?

Ketakutanmu pada kematian muncul saat kau rapuh jiwa dan raga. Kau merasa sesak dan cemas, khawatir keburu mati sebelum sempat menghela napas berikutnya. Seolah-olah kau terlempar ke dasar jurang, perasaan keterpurukan ini sering muncul dalam mimpi-mimpi masa kecilmu dank au akan terbangun dengan napas terengah-engah, ketakutan. Saat itu ibumu akan membawamuke rumah sakit, namun kini, sebuah permintaan dokter untuk melakukan pemeriksaan pun kau tunda berkali-kali.

Jelas sekali bagimu kehidupan berakhir dengan sendirinya dan saat akhir itu tiba rasa takutmu memudar, karena rasa takut itu sendiri adalah perwujudan kehidupan. Saat kehilangan kesadaran dan keinsyafan, hidup tiba-tiba berakhir tanpa menyisakan makna dan pemikiran.

Penderitaanmu adalah pencarian makna bagimu. Saat kau mulai membincangkan arti kesejatian hidup manusia dengan teman-teman masa mudamu, kau hidup dengan susah payah, seolah-olah kini kau telah menikmati segala kesemuan hidup dank au menertawakan kesia-siaanmu dalam pencarian makna. Yang terbaik adalah mengalami keberadaan dan menjaganya.

Kau merasa melihat makna hidup dalam kehampaan, cahaya samar yang muncul dari antah berantah. Ia tak berdiri di tempat tertentu di atas bumi. Ia seperti dahan pohon tanpa bayangan, sementara ufuk yang memisahkan langit dan bumi telah lenyap. Atau, ia bagaikan seekor burung di sebuah tempat berselimut salju yang memandang berkeliling. Terkadang, ia menatap ke depan, menghunjam dalam pikiranmu, walaupun tak jelas benar apa yang ia renungi. Itu hanyalah isyarat tubuh sederhana, isyarat tubuh yang indah. Keberadaan pun senyatanya adalah sebuah isyarat tubuh, mencoba mencari rasa nyaman, merentangkan lengan, menekuk lutut, berbalik, memandang ke belakang di atas relung kesadaran. Dari situ ia mampu menggapai kebahagiaan sekejap. Tragedi, komedi, dan lelucon. Penghakiman atas keindahan hidup manusia yang berbeda bagi masing-masing orang, waktu, dan tempat. Perasaan pun mungkin seperti ini. Kesedihan yang timbul di saat ini di waktu yang lain bisa jadi sebuah kekonyolan dan penyucian diri. Hanya isyarat tubuh yang tenang bisa memperpanjang hidup ini dan bersusah payah menyimpulkan misteri kekinian di saat kebebasan tercapai. Menyendiri, meneliti pendapat diri melalui kekalahan-kekalahan orang lain.

Kau tak tahu apa lagi yang akan dilakuan, apa pun yang bisa kau lakukan tak penting lagi. Jika kau ingin melakukan sesuatu, lakukanlah. Tapi tak kau lakukan pun tak jadi soal. Dan kau tak perlu ngotot melakukan sesuatu jika kau merasa lapar dan haus, lebih baik kau makan dan minum. Tentu saja kau bebas berpendapat, menafsir apapun, punya keinginan, dan bahkan marah, biarpun kau telah sampai pada usia di mana tenagamu tak cukup lagi untuk marah. Secara alamiah, kau bisa naik darah, namun tanpa gairah amarah. Perasaan dan inderamu tetap bekerja, namun tak seperti dulu. Tak akan ada lagi penyesalan. Penyesalan itu sia-sia dan merusak diri.

Bagimu hanyalah kehidupan yang bernilai. Kau telah melekat dan terserap padanya seolah-olah masih ada hal menakjubkanyang bisa kau temukan di dalamnya. Seolah-olah hanya kehidupan yang bisa membuatmu senang. Bukankah itu yang kau rasakan? (*)

Gao Xingjian (高行健, pinyin: Gāo Xíngjiàn, lahir di Ganzhou, Jiangxi, Republik Rakyat Tiongkok, 4 Januari 1940; umur 77 tahun), ialah penulis seorang novelis, dramawan, dan kritikus Tiongkok seberang lautan. Ia juga seorang penerjemah, sutradara, dan pelukis terkenal.

Continue Reading

Cerpen

Valentin Rasputin: Pelajaran Bahasa Perancis

mm

Published

on

Kejadian ini berlangsung pada tahun 1948. Perang[1] belum lama usai, orang-orang ketika itu hidup dengan penuh kesulitan dan kelaparan.

Pada  tahun itu saya pergi dari  desa ke kota untuk melanjutkan pendidikan, lantaran sekolah di desa kami hanya sampai kelas 4.[2]

Di kota saya masuk ke kelas 5. Saya belajar dengan begitu baiknya, di semua mata pelajaran saya memperoleh nilai pyatyorka,[3] kecuali bahasa Perancis.

Dengan bahasa Perancis persoalan yang terjadi pada saya adalah karena pelafalan yang buruk. Untuk membenarkan pelafalan itu, Lidia Mikhailovna, guru bahasa Perancis, kerap menjelaskan, di manakah harusnya menempatkan lidah untuk mendapatkan bunyi yang benar. Tetapi semua kelihatannya sia-sia, lidah saya tidak mematuhi saya. Dan ada sedih yang lain. Ketika saya pulang dari sekolah dan tinggal sendirian, saya berpikiran mengenai rumah di desa. Saya merindukan ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan saya, juga kawan-kawan. Saya sangatlah kurus, dan ibu, ketika datang melihat, dengan penuh kesulitan mengenali saya.

Akan tetapi saya kurus bukan hanya lantaran rindu kepada rumah. Saya pada sepanjang waktu merasa kelaparan. Ibu kadang-kadang mengirimkan roti dan kentang lewat orang-orang, yang pergi ke kota, tetapi itu tidaklah banyak. Dan saya tidak mampu meminta lebih kepada ibu, karena di rumah masih ada saudara laki-laki dan saudara perempuan saya. Kira-kira ada dua kali ibu mengirimkan kepada saya 50 kopek,[4] agar saya dapat membeli susu. Saya membeli susu di tetangga.

Dan pada suatu hari, pemuda sebelah, bernama Fedka[5] bertanya kepada saya:

“Kau main uang?”

“Apa? Main uang?”

“Ya, kalau kau punya uang, mari kita pergi untuk main.”

“Tidak, saya tak punya uang.”

“Ya, kalau begitu mari kita pergi untuk melihat, bagaimana mereka bermain.”

Kami pergi menuju ke sekolah. Di belakang sekolah semua anak-anak berdiri.

“Buat apa kau bawa dia?” seorang yang paling tua di antara kami bertanya kepada Fedka.

“Tidak apa-apa, Vadik,[6] biarkan dia melihat, dia orang kita sendiri,” jawab Fedka.

“Kau akan main?” tanya Vadik kepada saya.

“Saya tidak punya uang.”

“Baiklah, kalau begitu kau lihatlah, jangan bilang kepada siapapun juga, kalau kami main di sini.”

Lebih jauh lagi tidak ada yang memperhatikan saya dan saya mulai melihat. Memahami permainan tersebut tidaklah sukar. Anak-anak menggambar kuadrat[7]di atas tanah yang tidak begitu besar dan meletakkan uang di dalam kuadrat, setiap orang 10 kopek. Kemudian mereka menjauh kira-kira dua meter dan mulai melemparkan koin. Kalau koin jatuh di dalam kuadrat, maka orang yang melempar tersebut mengambil semua, yang ada di dalam kuadrat.

Kelihatannya bagi saya, jika saya ikut main, saya juga akan mampu memenangkannya. Dan demikianlah ketika ibu mengirimkan 50 kopek kepada saya untuk kali ketiga, saya tidak pergi untuk membeli susu. Saya pergi untuk ikut bermain. Mula-mulanya saya kalah 30 kopek, kemudian menang 20 kopek, kemudian menang lagi 50 kopek. Hari tampak sudah malam, saya ingin pulang, tetapi Vadik berkata:

“Main!”

Dia melemparkan koin dan koin tersebut agak tidak sampai ke dalam kuadrat. Dan saya melihat bagaimana Vadik mendorong koin tersebut.

“Kau mendorong koinnya!” kata saya.

“Apa? Coba, kau ulangi!” teriaknya.

“Kau mendorong koinnya!”

Vadik memukul saya. Saya pun terjatuh dan dari hidung saya keluar darah.

“Kau mendorongnya, kau mendorongnya!”

Vadik memukul saya dan saya ketika itu tidak menangis. Kemudian dia meninggalkan saya sendirian. Dengan susah payah saya bangun dan pulang ke rumah.

Di pagi hari saya dengan rasa khawatir melihat diri sendiri di  dalam cermin: hidung jadi membesar, di bawah mata kiri terlihat lebam kebiru-biruan.

“Hari ini di kelas kita ada yang terluka,” kata Lidia Mikhailovna, ketika saya masuk ke dalam kelas. “Apakah yang terjadi?”

“Tidak ada yang terjadi,” jawab saya.

“Hah, tidak ada yang terjadi!” teriak Fedka secara tiba-tiba. “Kemaren dia dipukul Vadik. Mereka main uang!”

Saya tidak tahu, apa yang harus dikatakan. Kami semua tahu dengan jelas, bahwa karena main uang, orang bisa dikeluarkan dari sekolah dan Fedka mengatakan semuanya kepada Lidia Mikhailovna!

“Saya tidak bertanya kepadamu, tetapi jika kau ingin menceritakan mengenai sesuatu, mendekatlah ke papan tulis dan ceritakanlah suatu teks pelajaran.” Lidia Mikhailovna menghentikan kata-kata Fedka. Dan kepada saya, dia berkata: “Kau tunggulah setelah mata pelajaran.”

Setelah mata pelajaran Lidia Mikhailovna menghampiri saya.

“Itu benar, bahwa kau main uang?” tanyanya.

“Benar.”

“Dan bagaimana, kau menang atau kalah?”

“Menang.”

“Berapakah?”

“40 kopek.”

“Dan apa yang akan kau lakukan dengan uang itu?”

“Saya akan membeli susu.”

“Susu?” Lidia Mikhailovna dengan penuh perhatian memandangi saya. “Tetapi tetap saja tidak boleh bermain uang. Kau tahu mengapa? Kita mesti belajar bahasa Perancis. Datanglah ke rumah saya nanti malam,” katanya mengakhiri percakapan.

Begitulah pelajaran bahasa Perancis dimulai untuk saya. Hampir setiap malam saya datang ke rumah Lidia Mikhailovna untuk belajar. Dan setelah belajar, dia mengundang saya untuk makan malam. Tetapi saya seketika itu juga bangun, berkata, bahwa saya tidaklah lapar dan dengan sesegeranya saya berlari pulang. Begitulah berulang beberapa kali, dan kemudian Lidia Mikhailovna berhenti mengundang saya untuk makan.

Pada suatu hari saya diberitahu untuk datang ke sekolah mengambil bingkisan. Saya berpikir, bahwa ibu sekali lagi mengirimkan saya kentang melalui seseorang, tetapi di dalam bingkisan tersebut terdapat makaroni. Makaroni! Di manakah ibu membeli makaroni? Di desa kami makaroni tidak pernah dijual. Surat di dalam bingkisan juga tidak ada. Jika ibu yang mengirimkan bingkisan, maka ibu pasti akan menggeletakkan surat di dalamnya dan di  dalam surat tersebut ibu akan mengisahkan, dari mana kekayaan tersebut bermuasal. Artinya, ini bukanlah ibu. Saya mengambil bingkisan tersebut dan menuju kepada Lidia Mikhailovna.

“Apakah yang  kau bawa itu? Untuk apa?” tanyanya, manakala dia melihat bingkisan.

“Ibu guru yang melakukan ini, ibulah yang mengirimkan ini kepada saya,” kata saya.

“Mengapa kau berpikir, bahwa sayalah yang melakukannya?’

“Karena di desa kami makaroni tidak ada, ibu harusnya  tahu itu.”

Dengan seketika Lidia Mikhailovna tertawa: “Ya, seharusnya lebih dulu saya tahu. Dan apakah yang kalian punya di desa?”

“Kentang.”

“Kami di Ukraina memiliki apel. Di sana sekarang banyak apel. Yah, baiklah, ambillah makaroni tersebut. Kau harus banyak makan, agar bisa belajar.”

Tetapi saya sudah lari menjauh.

Di dalam perkara yang demikian, pelajaran belumlah berakhir, saya masih melanjutkan untuk pergi ke rumah Lidia Mikhailovna. Patutlah diceritakan, bahwa saya telah melakukan keberhasilan dan oleh karenanya saya belajar bahasa Perancis dengan senang hati. Mengenai bingkisan kami tidaklah lagi mengingatnya.

Suatu hari Lidia Mikhailovna berkata kepada saya: “Nah, bagaimana, kau tidak lagi bermain uang?”

“Tidak,” jawab saya.

“Dan bagaimanakah permainan tersebut? Ceritakanlah!”

“Buat ibu, untuk apakah?”

“Itu menarik! Di dalam masa kanak-kanak saya juga bermain-main. Ceritakanlah, tidak perlu takut!”

“Untuk apa saya takut!”

Saya pun menjelaskan aturan permainan kepada Lidia Mikhailovna.

“Mari kita bermain,” tiba-tiba dia menawarkan.

Saya tidak mempercayai pendengaran saya sendiri. “Ibu kan seorang guru!”

“Lantas apa? Guru – mahluk lainkah? Hanya jangan sampai direktur sekolah tahu, bahwa kita main. Nah, mari kita mulai, jika tidak tertarik, kita tidak akan main.”

“Baiklah,” kata saya dengan penuh keraguan.

Kami mulai main. Lidia Mikhailovna tidak beruntung, dan tiba-tiba saya jadi faham, bahwasanya  dia memang tidak ingin memenangkan! Dia sengaja membuang koin, agar koin tersebut sejauh-jauhnya jatuh dari titik tujuan.

“Sudahlah,” kata saya, “kalau caranya demikian saya tidak bermain. Untuk apa ibu justru mengalah?”

“Sama sekali tidak, lihatlah!” kata Lidia Mikhailovna dan dia melemparkan koin. Sekali lagi koin jatuh cukup jauh dan pada ketika itu juga saya melihat, bahwa Lidia Mikhailovna mendorong koin!

“Apa yang ibu lakukan?” teriak saya.

“Apa?”

“Buat apa ibu mendorong koinnya?”

“Tidak, koinnya memang tergeletak di sini,” dengan riang Lidia Mikhailovna menjawab.

Saya langsung tidak ingat, bahwa dia secara khusus memang mengalah pada saya. Saya memandang dengan hati-hati, agar dia tidak mengelabui saya.

Semenjak itu kami bermain hampir pada setiap sore. Sekali lagi saya memiliki uang dan sekali lagi saya membeli susu.

Akan tetapi pada suatu hari segalanya berakhir. Seperti biasanya, pada setiap sore kami bermain dan berbantahan dengan kencang.

“Apakah yang sedang terjadi di sini?” tiba-tiba saja kami mendengar suara yang berat. Di depan kami berdiri direktur sekolah.

“Saya pikir, Anda akan mengetuk pintu terlebih dulu sebelum masuk,” dengan perlahan Lidia Mikhailovna berkata.

“Saya sudah mengetuknya, tetapi tidak seorang pun yang menjawab. Apakah yang sedang terjadi di sini? Saya punya hak untuk mengetahui sebagai direktur sekolah.”

“Kami main uang,” dengan tenang Lidia Mikhailova menjelaskan.

“Anda main uang?…Dengan murid sendiri?!”

“Benar.”

“Anda tahu, saya…saya telah dua puluh tahun mengajar di sekolah, tetapi yang demikian ini…Ini perbuatan kriminal!”

“Selang tiga hari Lidia Mikhailovna pergi. Menjelang keberangkatannya dia berkata kepada saya: “Saya akan pergi ke Ukraina, ke tempat saya sendiri. Dan kau belajarlah dengan tenang. Tidak seorang pun yang akan mengeluarkanmu dari sekolah. Di sini sayalah yang bersalah. Belajarlah.”

Dia pun pergi dan saya tidak pernah melihatnya lagi.

Pada musim dingin, selepas waktu liburan, saya menerima bingkisan. Di dalamnya ada makaroni dan tiga buah apel merah yang besar-besar. Dulu kala saya hanya melihat apel di dalam gambar-gambar, tetapi sekarang saya langsung mengerti, beginilah apel-apel itu.

 

*Biografi Valentin Rasputin

Valentin Grigorevich Rasputin (15 Maret 1937-14 Maret 2015) lahir di desa Atalanka, Rusia dan wafat di Moskow, Rusia. Valentin Rasputin menamatkan Universitas Irkutsk pada tahun 1959 dan dalam beberapa tahun beliau bekerja di surat kabar di Irkutsk dan Krasnoyarsk. Buku pertamanya “The Edge Near The Sky” dipublikasikan tahun 1966 di Irkutsk dan “Man from This World” dikeluarkan tahun 1967 di Krasnoyarsk. Pada tahun yang sama “Money for Maria” dimuat di Angara No. 4 dan pada tahun 1968 “Money for Maria” diterbitkan sebagai buku terpisah di Moskow. Karya-karyanya yang lain: The Last Term (1970), Live and Remember (1974), Farewell to Matyora (1976), You Live and Love (1982), Ivan’s daughter, Ivan’s mother (2004).

Valentin Rasputin sangat dekat dikaitkan dengan gerakan kesusastraan Soviet Pasca Perang yang disebut dengan village prose atau rural prose. Karya village prose biasanya berfokus pada kesulitan kaum tani Soviet, pada gambaran ideal tentang kehidupan desa tradisional, dan secara implisit atau eksplisit mengkritik proyek modernisasi.

**Penerjemah Cerita Pendek ini diterjemahkan oleh Ladinata Jabarti, seorang penerjemah sastra Rusia khususnya sastra klasik Rusia. Ia telah menerjemahkan di antaranya karya-karya Alexander Pushkin, Anton Chekov, Leo Tolstoy dan penulis Rusia lainnya. Menyelesaikan Master Sastra Rusia di  Saint Petersburg State University, kini mengajar di Universitas Padjajaran. Dan salah satu Board of Directors Galeri Buku Jakarta.

 

[1] Великая Отечественная Война (Velikaya Otechestvennaya Voina) atau Great Patriotic War adalah perang  antara Rusia dan Republik-republik yang tergabung di dalam Uni Soviet (kecuali negara-negara Baltik, Georgia, Azerbaijan dan Ukraina) melawan invasi Jerman dengan aliansinya Hungaria, Italia, Rumania, Slovakia, Finlandia, dan Kroasia. Perang berlangsung dari tanggal 22 Juni 1941 sampai tanggal 9 Mei 1945

[2] Primary general education merupakan tingkatan pertama dan berlangsung  selama 4 tahun, basic general education adalah tingkatan kedua berlangsung selama 5 tahun, dari kelas 5 sampai kelas  9, dan secondary (complete) general education yang merupakan tingkatan terakhir, berlangsung selama 2 tahun, dari kelas 10 sampai kelas 11

[3] Sistem penilaian di dalam pendidikan Rusia: единица yedinitsa = 1, двойка dvoika = 2, тройка troika = 3, четвёркa chetvorka = 4 dan пятёрка pyatyorka = 5

[4] Satuan terkecil mata uang Rusia

[5] Berasal dari nama Fyodor

[6] Beberapa sumber  menyebutkan berasal dari nama Vadim

[7] Persegi

Continue Reading

Cerpen

Chingiz Aitmatov: Mankurt

mm

Published

on

Ini terjadi pada berabad-abad yang lalu. Di antara suku-suku nomaden, yang hidup di tanah Kazakhstan, berlangsung perang yang permanen. Para pemenang perang mengubah orang-orang taklukan menjadi budak. Zhuanzhuan, yang pada suatu waktu menguasai sebagian besar tanah Kazakhstan, merupakan orang-orang yang terutama sangat keji. Mereka mengubah para tawanan menjadi mankurt, manusia yang kehilangan ingatan. Untuk itu ke kepala para tawanan dilekatkan kulit unta yang lembab dan mereka ditinggal  tanpa air, tanpa roti, dalam beberapa hari di atas tanah lapang terbuka. Matahari memanaskan kulit unta yang lembab dan kulit itu pun menjadi mengkerut, dan manusia bisa mati lantaran rasa sakit atau bisa menjadi gila, kehilangan ingatan. Baru pada hari ke lima Zhuanzhuan datang melihat, siapakah di antara tawanan yang bertahan hidup. Biasanya yang bertahan hidup hanyalah 1-2 orang dari lima. Mereka merupakan budak-mankurt, yang harganya sangat mahal, karena mereka adalah manusia tanpa ingatan, manusia, yang melupakan ayah dan ibunya dan hanya mengetahui tuannya. Budak yang demikian tidak memimpikan kebebasan, dia mampu mengerjakan pekerjaan yang paling hitam dan berat, dan tidak menginginkan apa-apa. Dan tidak ada seorang dari para kerabat atau kawan yang berupaya membebaskan mankurt, manusia, yang melupakan segala.

Tetapi ada seorang ibu, bernama Naiman-Ana, tidak mampu berdamai dengan hal tersebut. Anak laki-lakinya, yang ikut di dalam pertempuran dengan Zhuanzhuan, jatuh ke dalam tawanan. Naiman-Ana ingin menemukan anaknya. Dia memimpikan hanya satu hal: semoga anaknya masih hidup, meskipun menjadi seorang mankurt, yang kehilangan ingatan, tetapi anaknya tetap hidup, tetap hidup! Naiman-Ana mengambil selembar selendang putih dan mulai berjalan ke padang stepa. Begitu lama dia berjalan di atas padang stepa dan akhirnya dia bertemu dengan seorang pemuda rupawan dan dia mengetahui, bahwa itu adalah anaknya.

“Anakku, anak kandungku! Aku mencarimu!” teriaknya, “aku ibumu!” Dan dengan seketika Naiman-Ana memahami semuanya dan dia pun mulai menangis, dan dia memandangi wajah anaknya yang beku, yang berdiri di sampingnya. Tetapi anaknya bahkan tidak bertanya, siapakah dia dan mengapa juga dia menangis. Kedua mata anaknya tampak kosong dan wajahnya tidak pedulian.

“Kau tidak mengenalku?” tanya sang ibu, akhirnya.

“Tidak,” jawab mankurt.

“Siapakah namamu?”

“Mankurt.”

“Begitulah sekarang kau dipanggil. Dan bagaimanakah dulunya kau dipanggil? Ingatlah namamu sendiri!”

Mankurt terdiam.

“Dan siapakah nama ayahmu? Dan kau sendiri siapa, dari mana, di manakah kau dilahirkan? Kau ingatkah?”

Tidak, anaknya tidak ingat apa-apa dan dia tidak mengenali.

“Apakah yang mereka lakukan terhadapmu!” kata sang ibu dengan lirih. “Kau dengar? Namamu Zholaman. Ayahmu bernama Donenbai. Kau ingat ayahmu? Dialah yang mengajari kau memanah. Dan aku adalah ibumu, kau dengar?”

Akan tetapi semua, apa yang dikatakan sang ibu, tidaklah menarik baginya.

“Marilah aku lihat, apa yang mereka lakukan dengan kepalamu?” kata Naiman-Ana.

“Tidak,” jawab mankurt dan dia tidak ingin lebih jauh lagi berbicara dengan Naiman-Ana. Dan Naiman-Ana memutuskan untuk membawa pulang anaknya. Lebih baik anaknya tinggal di rumah sendiri, dibandingkan di padang stepa, menjadi budak Zhuanzhuan.

Naiman-Ana dengan begitu lama meminta anaknya untuk pulang ke rumah, tetapi anaknya tidak memahami, bagaimanakah harus pergi, jika sang tuan tidak mengijinkan. Dan kembali, dan kembali lagi Naiman-Ana mengulangi:

“Ayahmu Donenbai, dan namamu bukan Mankurt, tetapi Zholaman. Ketika kau dilahirkan di dalam keluarga kita ada perayaan yang demikian besar.”

Dan tiba-tiba saja Naiman-Ana melihat seseorang, yang berjalan ke arah mereka di atas seekor unta.

“Siapakah dia?” tanyanya.

“Itu sang tuan.”

Naiman-Ana mestilah pergi.

“Jangan katakan apa-apa kepadanya, aku akan segera datang kembali.” Kata Naiman-Ana. Anaknya tidak menjawab. Baginya semua sama saja.

Tetapi sang tuan telah melihat sang perempuan tersebut. “Siapakah dia?” tanyanya kepada mankurt.

“Dia berkata, bahwa dia adalah ibuku.”

“Dia bukan ibumu! Kau tidak punya ibu! Kau tahu, apa yang dia inginkan? Dia ingin mengambil kepalamu!” teriak Zhuanzhuan.

Mankurt ketakutan. Wajahnya menjadi suram.

“Jangan khawatir!” kata sang tuan, “bukankah kau bisa memanah? Nah, ambillah!” Dan dia memberikan mankurt busur beserta anak panahnya.

Ketika Zhuanzhuan pergi, Naiman-Ana menghampiri anaknya. Dia tidak melihat, bahwa anaknya, mankurt, telah bersiap-siap memanah. Sinar matahari mengganggu mankurt, dan dia menantikan momen yang tepat.

“Zholaman, anakku!” panggil Naiman-Ana kepada anaknya. Tetapi terlambat: anak panah telah menghantam tepat di jantung Naiman-Ana. Itu adalah hantaman yang mematikan. Naiman-Ana pelan-pelan terjatuh, tetapi dari bagian kepalanya selendang putih terlebih dulu jatuh, berubah menjadi seekor burung dan terbang dengan teriakan: “Ingatlah, kau milik siapa! Siapa namamu! Ayahmu Donenbai! Donenbai!”

Orang-orang mengatakan, bahwa sekarang pejalan yang berjalan di padang stepa masih bisa mendengar, bagaimana burung tersebut berteriak:

“Ingatlah, kau milik siapa! Siapa namamu! Ayahmu Donenbai!” (*)

 

*Biografi Chingiz Aitmatov

Chingiz Torekulovich Aitmatov lahir pada tanggal 12 Desember 1928, di Sheker, Kyrgyzstan dan meninggal pada tanggal  10 Juni 2008, di Nürnberg, Jerman. Karyanya antara lain: “Jamila” (1958), “Farewell, Gulsary” (1966), “The White Ship” (1970), “The Day Last More Than a Hundred Years” (1980), “Mother Earth and Other Stories” (2011). Chingiz Aitmatov juga pernah berkaris sebagai ambassador Uni Soviet dan kemudian Kyrgyzstan untuk European Union, NATO, UNESCO dan negara-negara Benelux. Karya-karya Chingiz Aitmatov memiliki elemen-elemen yang unik, khususnya pada proses kreatifnya dan karya-karyanya menggambarkan folklore, bukan dalam cita  rasa kuno, tetapi Chingiz berupaya mengkreasi kembali dan mensintesiskan karya-karya lisan ke dalam kehidupan kontemporer.

Dalam arti kiasan, kata mankurt digunakan untuk merujuk kepada seseorang yang telah kehilangan kontak dengan akar sejarah dan kenasionalan mereka, dan melupakan hubungan mereka. Kata mankurt telah menjadi identik dan telah digunakan di dalam jurnalisme. Di Rusia muncul neologisme: mankurtismmankurtizatsiya, dan  demankurtizatsiya.

Kata mankurt bisa jadi diderivasi dari bahasa Mongolia мангуурах (manguurah, yang bermakna bodoh), atau mungkin bahasa Turki mengirt (manusia yang memorinya dirampas) atau man kort (suku yang jelek, buruk atau jahat).

**Penerjemah Cerita Pendek ini diterjemahkan oleh Ladinata Jabarti, seorang penerjemah sastra Rusia khususnya sastra klasik Rusia. Ia telah menerjemahkan di antaranya karya-karya Alexander Pushkin, Anton Chekov, Leo Tolstoy dan penulis Rusia lainnya. Menyelesaikan Master Sastra Rusia di  Saint Petersburg State University, kini mengajar di Universitas Padjajaran. Dan salah satu Board of Directors Galeri Buku Jakarta.

 

Continue Reading

Trending