© 2016 GALERI BUKU JAKARTA. ALL RIGHTS RESERVED.
 

Buku-Buku Terbaik karya Virginia Woolf

Virginia Woolf hanya menuliskan 9 novel,  beberapa cerita non fiksi, cerita pendek dan sebuah karya biografi yang luar biasa. Dan itu semua tak mengurangi ‘takdirnya’ untuk menjadi klasik dan terus dikenang dunia. 

Dalam kehidupan pribadi yang penuh guncangan, ia tetap seorang penulis prempuan yang produktif, nyatanya ia bisa menghasilkan banyak esai, yang tak terhitung jumlah dan tinjauan atasya. Apa saja buku terbaik karya Woolf? Kami telah merangkumnya kedalam daftar 10 teratas buku-buku karya Vignia Woolf dengan beberapa fakta menarik tentang masing-masing novel. Apa rekomendasi pribadi Anda untuk karya terbaik buku Virginia Woolf?

9/ The Years (1937) buku ini merupakan buku karya Woolf yang paling populer selama hidupnya. The Years terkenal hampir setengah abad yaitu dari tahun 1880 sampai 1930an, novel ini menyajikan kronologi tentang kehidupan sebuah keluarga Pargiters. Novel ini menyesuaikan ide-ide Woolfs yang dieksplorasi kedalam beberapa novel sebelumnya, seperti Mr. Dalloway yang merupakan novel pertama karya Woolf dan Novel To the Linghthouse. Disini, setiap bagian (Novel ini berfokus pada suatu tahun tertentu selama rentang waktu 50 tahun) berpusat pada satu hari di tahun tersebut. Edisi Rekomendasi : The years (Classic Oxford Dunia)

8/ Flush ; A Biography (1933). Ini bukanlah sebuah Novel, melainkan sebuah Biografi seperti Biografi Orlando karya Woolf. Biografi ini bukan cerita non-fiksi yang baik. Namun, subjek dalam bentuk nyata: seperti Puisi seorang Victorian berjudul Elizabeth Barret Browning’s pet dog. Flush, yang di miliki oleh Berrett Browning dan cerita yang diambil dari perdesaan, London.

7/ A Room of One’s Own (1929). Berdasarkan beberapa pembelajaran yang diberikan oleh Woolf di Universitas Camridge, A Room of One’s Own sendiri dipandang sebagai saluran sastra feminis. Woolf berpendapat bahwa penulis terbaik adalah mereka yang “berkelamin ganda” dalam arti bahwa mereka memiliki impuls maskulin, feminin, dan simpati. Woolf juga membahas bagaimana, Shakespeare yang memiliki adik yang berbakat bernama “Judith” Shakespeare ( Woolf memilih untuk menyebut ini sebagai fiski saudara kandung) yang tidak akan pernah berhasil sebagai seorang penyair nan dermawan selama di era Elizabeth, ini dikarenakan ia tidak memiliki peluang dalam hal pendidikan yang seperti saudara laki-lakinya. Kemudian , Woolf menerbitkan sekuel karya ini, Three Guineas (1938)- ide yang datang ketika ia sedang merenung di kamar mandi.

6/ Monday or Tuesday (1921).  Koleksi cerita pendek bersejarah Woolf  yang ditandai dengan daerah aliran sungai dalam pengembangan ide kreatifnya. Setelah dua novel yang sedikit konvensional, The Voyage Out (1915) dan Night and Day (1919), Woolf mulai bereksperimen dengan cerita pedek atau sketsa sebagai cara baru untuk melakukan percobaan impresionistik menulis. Hasilnya adalah beberapa sketsa klasik dengan beberapa halaman yang cukup panjang, seperti “The Mark on the Wall”, “Kew Gandens”, dan “A haunted House, (dua halaman yang menceritakan tentang hantu).

5/ Jacob’s Room (1922). Setelah sukses dalam cerita pendek berjudul Monday or Tuesday, Woolf menuliskan novel ketiganya berjudul, Jacob’s Room, untuk melihat bagaimana mereka menunjukan gaya impresionistk kedalam ke kanvas besar. Meskipun ringkasan plot cerita “Jacob’s Room” sedikit konvensional—karena hal ni mengikuti alur kehidupan awal seorang anak muda bernama Jacob Flanders dari masa kanak-kanak hingga tua, cara woolf menceritakan kehidupan Jacob adalah “sangat” dirinya. Kami tidak pernah mendapatkan wawasan dari karakter Jacob, sebaliknya dalam cerita ini hanya sebuah hubungan dengan sekilas pria yang tertangkap oleh orang lain, tayangan sekilas ini terjadi di kereta atau di meja sebelah restaurant. Untuk karya satu ini sebaiknya anda tidak berharap menemukan ending cerita, karena Wolf mungkin sengaja tak menuliskannya.

Virginia Wolf/ Getty Image/ www.1843magazine.com

4/ The Waves (1931). Novel ini mungkin yang paling liris dan puitis dari semua novel karya Woolf, The Waves awalnya berjudul “The Moths” dan terdiri dari enam monolog atau ‘suara-suara’, yang longgar dihubungkan bersama oleh narator-sosok yang lebih konvensional yang menggambarkan jalannya hari dari matahari terbit sampai matahari terbenam. Dalam surat November 1928, Woolf disebut buku yang abstrak  dan bermata gaib: playpoem a’, bukan sebuah novel.

3/ Orlando (1928) berjudul ‘A Biography’ novel ini semacam novel versi fantasi dan beberapa abad sejarah Inggris, melalui tituler Orlando- tokoh ini beralih menjadi seorang bohemian dengan penuh suka cita. Teman Woolf Vita Sackville-West, dan sebagai respon pembaca menyatakan ini adalah novel tentang sejarah sastra inggris.

2/ To the lighthouse (1927). Dibagi menjadi tiga bagian – mungkin penghormatan ironis ke Victoria Novel ‘triple-decker’ klasik – To the Lighthouse, novel kelima Woolf, berfokus pada keluarga Ramsay dan liburan mereka di Isle of Skye di awal abad kedua puluh. Namun, Woolf menggambar juga kenangan liburan masa kecilnya ada tahun 1890; Mr Ramsay, mengingatkan ayah Woolf sendiri, orang Victorian Man of Letter Sir Leslie Stephen. Tinggal dengan Ramsays juga beberapa karakter lainnya termasuk artis wanita Lily Briscoe, yang dalam banyak hal adalah seperti Woolf, pribadi yang artistik..

1/ Mrs Dalloway (1925). Seperti yang kami ungkapkan dalam postingan mengenai novel ini, karakter Clarissa Dalloway memulai didebutnya didalam cetakan pertama novel karya woolf, The Voyage Out (1915). Tetapi sepuluh tahun kemudian Woolf kembali memunculkan karakter seperti ini, her fourth – and, for our money, greatest. Memuat dalam waktu selama satu hari di bulan Juni 1923, novel cerdik dan puitis mampu menggabungkan berbagai kesadaran yang berbeda, yaitu judul karakter, cinta lamanya Peter Walsh, dan Perang Dunia ke I, veteran dan penderita ganguan saraf karena pertempuran Septimus Smith. Bagaimana pun kami sangat merekomendasikan  Mrs. Dalloway didalam kerja-kerja kesustraan modern yang layak anda baca.

————————————————————–

Dari berbagai sumber: Eliza Amalia/ Susan Gui/ GBJ

 

Written by

Galeri Buku Jakarta (GBJ) merupakan portal berita literasi; “halaman kebudayaan” yang memuat dan menayangkan karya-karya tulis (literature) mau pun ragam karya seni lain dalam bentuk fotografi, video, mau pun lukisan dengan tujuan mendampingi proses pembangunan manusia Indonesia. Kirim karyamu ke email redaksi: galeribukujakarta@gmail.com Twitter @galeribuku_jkt

No comments

LEAVE A COMMENT