Connect with us

Buku

Buku-Buku Terbaik karya Virginia Woolf

mm

Published

on

Virginia Woolf hanya menuliskan 9 novel,  beberapa cerita non fiksi, cerita pendek dan sebuah karya biografi yang luar biasa. Dan itu semua tak mengurangi ‘takdirnya’ untuk menjadi klasik dan terus dikenang dunia. 

Dalam kehidupan pribadi yang penuh guncangan, ia tetap seorang penulis prempuan yang produktif, nyatanya ia bisa menghasilkan banyak esai, yang tak terhitung jumlah dan tinjauan atasya. Apa saja buku terbaik karya Woolf? Kami telah merangkumnya kedalam daftar 10 teratas buku-buku karya Vignia Woolf dengan beberapa fakta menarik tentang masing-masing novel. Apa rekomendasi pribadi Anda untuk karya terbaik buku Virginia Woolf?

9/ The Years (1937) buku ini merupakan buku karya Woolf yang paling populer selama hidupnya. The Years terkenal hampir setengah abad yaitu dari tahun 1880 sampai 1930an, novel ini menyajikan kronologi tentang kehidupan sebuah keluarga Pargiters. Novel ini menyesuaikan ide-ide Woolfs yang dieksplorasi kedalam beberapa novel sebelumnya, seperti Mr. Dalloway yang merupakan novel pertama karya Woolf dan Novel To the Linghthouse. Disini, setiap bagian (Novel ini berfokus pada suatu tahun tertentu selama rentang waktu 50 tahun) berpusat pada satu hari di tahun tersebut. Edisi Rekomendasi : The years (Classic Oxford Dunia)

8/ Flush ; A Biography (1933). Ini bukanlah sebuah Novel, melainkan sebuah Biografi seperti Biografi Orlando karya Woolf. Biografi ini bukan cerita non-fiksi yang baik. Namun, subjek dalam bentuk nyata: seperti Puisi seorang Victorian berjudul Elizabeth Barret Browning’s pet dog. Flush, yang di miliki oleh Berrett Browning dan cerita yang diambil dari perdesaan, London.

7/ A Room of One’s Own (1929). Berdasarkan beberapa pembelajaran yang diberikan oleh Woolf di Universitas Camridge, A Room of One’s Own sendiri dipandang sebagai saluran sastra feminis. Woolf berpendapat bahwa penulis terbaik adalah mereka yang “berkelamin ganda” dalam arti bahwa mereka memiliki impuls maskulin, feminin, dan simpati. Woolf juga membahas bagaimana, Shakespeare yang memiliki adik yang berbakat bernama “Judith” Shakespeare ( Woolf memilih untuk menyebut ini sebagai fiski saudara kandung) yang tidak akan pernah berhasil sebagai seorang penyair nan dermawan selama di era Elizabeth, ini dikarenakan ia tidak memiliki peluang dalam hal pendidikan yang seperti saudara laki-lakinya. Kemudian , Woolf menerbitkan sekuel karya ini, Three Guineas (1938)- ide yang datang ketika ia sedang merenung di kamar mandi.

6/ Monday or Tuesday (1921).  Koleksi cerita pendek bersejarah Woolf  yang ditandai dengan daerah aliran sungai dalam pengembangan ide kreatifnya. Setelah dua novel yang sedikit konvensional, The Voyage Out (1915) dan Night and Day (1919), Woolf mulai bereksperimen dengan cerita pedek atau sketsa sebagai cara baru untuk melakukan percobaan impresionistik menulis. Hasilnya adalah beberapa sketsa klasik dengan beberapa halaman yang cukup panjang, seperti “The Mark on the Wall”, “Kew Gandens”, dan “A haunted House, (dua halaman yang menceritakan tentang hantu).

5/ Jacob’s Room (1922). Setelah sukses dalam cerita pendek berjudul Monday or Tuesday, Woolf menuliskan novel ketiganya berjudul, Jacob’s Room, untuk melihat bagaimana mereka menunjukan gaya impresionistk kedalam ke kanvas besar. Meskipun ringkasan plot cerita “Jacob’s Room” sedikit konvensional—karena hal ni mengikuti alur kehidupan awal seorang anak muda bernama Jacob Flanders dari masa kanak-kanak hingga tua, cara woolf menceritakan kehidupan Jacob adalah “sangat” dirinya. Kami tidak pernah mendapatkan wawasan dari karakter Jacob, sebaliknya dalam cerita ini hanya sebuah hubungan dengan sekilas pria yang tertangkap oleh orang lain, tayangan sekilas ini terjadi di kereta atau di meja sebelah restaurant. Untuk karya satu ini sebaiknya anda tidak berharap menemukan ending cerita, karena Wolf mungkin sengaja tak menuliskannya.

Virginia Wolf/ Getty Image/ www.1843magazine.com

4/ The Waves (1931). Novel ini mungkin yang paling liris dan puitis dari semua novel karya Woolf, The Waves awalnya berjudul “The Moths” dan terdiri dari enam monolog atau ‘suara-suara’, yang longgar dihubungkan bersama oleh narator-sosok yang lebih konvensional yang menggambarkan jalannya hari dari matahari terbit sampai matahari terbenam. Dalam surat November 1928, Woolf disebut buku yang abstrak  dan bermata gaib: playpoem a’, bukan sebuah novel.

3/ Orlando (1928) berjudul ‘A Biography’ novel ini semacam novel versi fantasi dan beberapa abad sejarah Inggris, melalui tituler Orlando- tokoh ini beralih menjadi seorang bohemian dengan penuh suka cita. Teman Woolf Vita Sackville-West, dan sebagai respon pembaca menyatakan ini adalah novel tentang sejarah sastra inggris.

2/ To the lighthouse (1927). Dibagi menjadi tiga bagian – mungkin penghormatan ironis ke Victoria Novel ‘triple-decker’ klasik – To the Lighthouse, novel kelima Woolf, berfokus pada keluarga Ramsay dan liburan mereka di Isle of Skye di awal abad kedua puluh. Namun, Woolf menggambar juga kenangan liburan masa kecilnya ada tahun 1890; Mr Ramsay, mengingatkan ayah Woolf sendiri, orang Victorian Man of Letter Sir Leslie Stephen. Tinggal dengan Ramsays juga beberapa karakter lainnya termasuk artis wanita Lily Briscoe, yang dalam banyak hal adalah seperti Woolf, pribadi yang artistik..

1/ Mrs Dalloway (1925). Seperti yang kami ungkapkan dalam postingan mengenai novel ini, karakter Clarissa Dalloway memulai didebutnya didalam cetakan pertama novel karya woolf, The Voyage Out (1915). Tetapi sepuluh tahun kemudian Woolf kembali memunculkan karakter seperti ini, her fourth – and, for our money, greatest. Memuat dalam waktu selama satu hari di bulan Juni 1923, novel cerdik dan puitis mampu menggabungkan berbagai kesadaran yang berbeda, yaitu judul karakter, cinta lamanya Peter Walsh, dan Perang Dunia ke I, veteran dan penderita ganguan saraf karena pertempuran Septimus Smith. Bagaimana pun kami sangat merekomendasikan  Mrs. Dalloway didalam kerja-kerja kesustraan modern yang layak anda baca.

————————————————————–

Dari berbagai sumber: Eliza Amalia/ Susan Gui/ GBJ

 

Buku

Joko Pinurbo, Menjadi Penyair Adalah Menjadi Manusia Biasa

mm

Published

on

Konon, kehidupan Jokpin sejak kecil bersinggungan dengan biskuit Khong Guan. Biskuit Khong Guan menjadi ikon bingkisan yang mewah. Sampai kini, ia mendapati Khong Guan hadir di meja ruang tamu di berbagai perayaan hari raya umat beragama.

Mari kita buka

apa isi kaleng Khong Guan ini

biskuit

peyek

keripik

ampiang

atau rengginang?

Simsalabim. Buka!

Isinya ternyata

ponsel

kartu ATM

tiket

voucer

obat

jimat

dan kepingan-kepingan rindu

yang sudah membatu.

(Bingkisan Khong Guan, 2019)

Oleh Rizka Nur Laily Muallifa

Seorang lelaki paruh baya berjalan tenang melintasi deretan kursi yang sudah penuh terisi. Puluhan pasang mata pirsawan yang hadir bergerak mengikuti langkah lelaki itu sampai ia tiba dan duduk di kursi di atas panggung. Dari kursi pirsawan, kaos berkerah dan celana kain yang membalut tubuhnya tampak longgar. Sementara bagian bawah matanya menghitam.

Begitulah Joko Pinurbo atau yang juga dikenal publik dengan akronim Jokpin malam itu (31/1/2020). Ialah penyair yang menulis puisi Bingkisan Khong Guan. Bersama puluhan puisi lain, puisi yang tak sungkan menyebut merek dagang itu belum lama diterbitkan sebagai buku dan lekas menjadi salah satu buku paling dicari pembeli.

“Saya menulis Khong Guan bukan karena saya duta Khong Guan, juga bukan karena pengen dapat sponsor dari Khong Guan. Saya tidak berhubungan sama perusahaannya. Mereka mungkin malah nggak tahu saya nulis tentang Khong Guan. Andaikan tahu, mungkin malah bingung sendiri membaca puisi-puisi saya. Saat saya sedang merenung, memikirkan citraan apa yang tepat untuk menampung hal-hal yang ingin saya sampaikan, misalnya soal toleransi, kemanusiaan, keberagaman, dan lain-lain, saya berusaha mengingat benda-benda di sekitar saya, yang dekat dengan saya dan masyarakat. Saya kemudian ingat biskuit Khong Guan,” ungkap Jokpin.

Konon, kehidupan Jokpin sejak kecil bersinggungan dengan biskuit Khong Guan. Biskuit Khong Guan menjadi ikon bingkisan yang mewah. Sampai kini, ia mendapati Khong Guan hadir di meja ruang tamu di berbagai perayaan hari raya umat beragama. Biskuit Khong Guan tidak termasuk jenis hidangan yang digemari tamu sehingga tidak lekas habis. Jokpin menyebutnya sebagai yang “biasa-biasa saja, akhirnya habis juga”.

Ia juga menangkap fenomena kaleng Khong Guan yang sering difungsikan untuk wadah rengginang atau jenis penganan lain. Kaleng Khong Guan melampaui manusia. Ia bisa hadir di segala jenis hari raya, ia menampung apa saja yang diletakkan manusia di dalamnya. Demikian Jokpin memberi penjelasan.

Sastra yang Dekat dengan Masyarakat

Siapa bilang dunia sastra itu dunia tersendiri yang terpisah dari masyarakat? Anggapan itu jadi tidak relevan dengan puisi yang ditulis Jokpin. Di Yogyakarta ini, siapa yang tidak tahu atau minimal tidak pernah dengar nama Pasar Beringharjo? Saya kira tidak ada. Masyarakat di luar Yogyakarta pun akrab dengan nama pasar tersebut. Di Kawasan Pasar Beringharjo terpampang sebuah mural dengan tulisan sebagai berikut, Jogja terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan. Mural yang sering dijadikan latar berfoto itu tidak lain ialah penggalan puisi Jokpin.

Penggalan puisi yang dijadikan mural itu menjadi bukti bahwa sastra tidak terpisah dari kehidupan masyarakat. Pilihan kata dalam puisi-puisi Jokpin yang lain juga terasa dekat dengan kita sebagai masyarakat pada umumnya. Kita bisa melihat dari judul-judul buku puisi Jokpin. Celana (1999), Di Bawah Kibaran Sarung (2001), Pacarkecilku (2002), Telepon Genggam (2003), Kekasihku (2004), Pacar Senja (2005), Kepada Cium (2007), Celana Pacarkecilku di Bawah Kibaran Sarung (2007), Tahilalat (2012), Haduh, aku di-follow (2013), Baju Bulan (2013), Bulu Matamu: Padang Ilalang (2014), Surat Kopi (2014), Surat dari Yogya (2015), Selamat Menunaikan Ibadah Puisi (2016), Malam Ini Aku Akan Tidur di Matamu (2016), Buku Latihan Tidur (2017), Perjamuan Khong Guan (2020).

“Puisi Celana saya tulis ketika saya melihat orang-orang Indonesia banyak sekali yang memakai celana jeans. Di kampus saya, di Sanata Dharma, waktu saya main setelah lulus, itu hampir semua mahasiswanya memakai celana jeans. Fenomena itu belum ada waktu saya masih kuliah. Terus terpikirlah untuk menulis puisi tentang celana,” kenang Jokpin.

Demikian halnya dengan puisi-puisi Jokpin yang lain, idenya selalu datang dari pengamatan dan kemudian keinginan mengabadikan apa-apa yang terjadi di masyarakat dalam bentuk puisi. Puisi Telepon Genggam ditulis ketika penggunaan telepon genggam generasi pertama mulai marak di Indonesia. Di tahun 2000-an, telepon genggam yang beredar di Indonesia fungsinya masih terbatas untuk mengirim pesan pendek dan telepon, belum secanggih dan selengkap telepon genggam di era internet seperti saat ini.

Fenomena merebaknya kopi dan menjamurnya kafe-kafe dengan desain yang instagramable juga tak luput dari pengamatan Jokpin. Ia menulis puluhan puisi yang kemudian diterbitkan menjadi buku berjudul Surat Kopi (2014). Jokpin memilih menggunakan kata-kata biasa yang dekat dengan keseharian masyarakat misalnya ibadah, sarung, latihan tidur, dan lain sebagainya.

“Karena puisi saya memang refleksi dari apa yang sedang terjadi di masyarakat. Saya memilih menulis puisi dengan bahasa sehari-hari untuk menyampaikan ide-ide saya, misalnya tentang kemanusiaan, keberagaman, keluarga. Supaya apa? Supaya lebih banyak orang yang bisa memahami apa yang mau saya sampaikan,” ungkap Jokpin setelah menenggak air mineral di hadapannya.

Banyak Membaca, Sedikit Menulis

Lelaki berusia 57 tahun itu sudah menulis puisi sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Jadi ketenarannya saat ini bukan didapat begitu saja. Ada upaya tekun dan serius yang dilakoni Jokpin untuk menjadi penyair.

“Pesan saya untuk anak-anak muda yang ingin jadi penyair, jangan buru-buru. Meskipun dunia internet seperti sekarang mudah sekali mempublikasikan karya, tapi pesan saya jangan terburu-buru mempublikasikannya. Setelah menulis, coba biarkan dulu, diamkan dulu puisimu. Untuk mengambil jarak dengan apa yang kamu tulis. Biasanya kalau selesai menulis kamu langsung mengirimkan ke media massa, itu kamu dikuasai oleh rasa senang atau puas karena telah menyelesaikan tulisan. Padahal boleh jadi tulisanmu itu belum maksimal, masih bisa diperbaiki lagi,” demikian jawaban Jokpin ketika ditanya apa pesannya bagi anak-anak muda yang ingin menjadi penyair seperti dirinya.

Jokpin sendiri memiliki kebiasaan unik. Ia belum berhenti mengedit puisinya kalau belum sebelas kali. Ketika dikonfirmasi oleh merdeka.com, alasan mengapa ia memilih angka sebelas, ternyata sebelas adalah tanggal lahirnya. Ia percaya dan meyakini kalau puisinya belum diedit sebelas kali itu artinya belum layak untuk dikirim ke media massa.

Pesan Jokpin supaya anak-anak muda yang ingin menjadi penyair tidak buru-buru mempublikasikan puisinya ialah untuk meminimalisir kemungkinan puisi itu muncul selintas saja, atau tak diingat siapapun karena memang tidak berbeda dengan puisi-puisi lain yang muncul dengan sangat cepat di berbagai media sosial.

Satu lagi pesan Jokpin untuk anak-anak muda yang ingin menjadi penyair. Menurut Jokpin, penyair harus banyak membaca, baik itu buku atau kejadian sehari-hari. “Penyair atau penulis apapun, ia harus lebih banyak membaca daripada menulis. Katakanlah kalau dibuat perbandingan ya 3:1, 3-nya membaca, 1-nya menulis.” (*)

*) Rizka Nur Laily Muallifa. Pembaca tak tahan godaan. Menghidupi Kematian (2018) ialah kumpulan puisi yang ditulis bersama tiga kawannya. Tulisannya pernah tersiar di Koran Tempo, Kedaulatan Rakyat, Solopos, Suara Merdeka, Koran Madura, Radar Bojonegoro, detik.com, alif.id, basabasi.co, dan beberapa lainnya.

Continue Reading

Buku

Catat! Bukan Tip-tip Menulis ala Bradbury

mm

Published

on

Oleh Setyaningsih–Esais, penulis buku Kitab Cerita (2019)

Ia sudah menakdirkan diri pada seribu kata sehari sejak usia 12 tahun, menjadi penulis sebagai keputusan hidup penting kedua setelah pada usia 11 tahun memutuskan menjadi tukang sulap dan pelancong segala penjuru dunia dengan ilusi dan imajinasi. Ia adalah penulis Amerika, Ray Bradbury, yang tidak menutup diri pernah picisan dan melawan segala persepsi buruk tentang fiksi sains. Bradbury menulis seiyanya satu cerita pendek setiap pekan karena hadiah kecil Natal di tahun ke-12: mesin ketik mainan. Ia telah bertarung dalam belantara kata dengan keras kepala, gairah, kegembiraan, dan kegilaan sampai usia 90 tahun. Maka, bagi dirimu sekalian yang ingin menjadi penulis atau baru berencana banting haluan hidup ke penulisan, jangan berharap banyak mendapatkan tip-tip jitu menulis dalam kumpulan esai otobiografis kocak-memukau garapan Ray Bradbury, Zen dalam Seni Menulis (2018).



Pada akhirnya, usaha paling kecil untuk menang berarti semacam kemenangan. Ingatlah sang pianis yang berkata bahwa jika ia tidak berlatih setiap hari maka ia sendiri akan tahu, jika ia tidak berlatih selama dua hari, kritikus akan tahu, setelah tiga hari, audiens-nya akan tahu. Kau harus tetap mabuk dalam menulis sehingga kenyataan tidak mampu menghancurkanmu. Jadi, kira-kira, tentang itulah buku ini.—Ray Bradbury

Buku ini barangkali akan gagal membikin merinding atau bergidik orang-orang yang belum pernah merasa menulis itu sudah nyaris separuh lebih nyawa hidup, resah karena sering gagal menerbitkan kata-kata kala pagi, atau dikalahkan bertubi-tubi oleh istilah mengerikan “miskin” dan “tidak punya waktu.” Kita bisa menyimak “kesombongan bersahaja” Bradbury sejak dari pengantar, “Dalam perjalananku, aku telah belajar bahwa jika aku membiarkan sehari saja lewat tanpa menulis, aku menjadi gelisah. Dua hari lewat dan aku akan menggigil. Tiga hari lewat dan aku menderita kegilaan. Empat hari lewat dan aku menjadi seperti babi yang terjebak dalam pusaran air. Menulis satu jam saja sudah menjadi tonik. Aku berdiri lagi, berlari berputar-putar, dan berseru-seru.”

Bradbury berhak mengatakan kepada kita tanpa nada pelatihan atau workshop, “Kau harus tetap mabuk dalam menulis sehingga kenyatan tidak mampu menghancurkanmu.” Buku kumpulan esai ini memuat tulisan-tulisan yang digarap dalam pelbagai masa dalam periode sepuluh tahun yang dianggap sebagai penemuan diri dan ketakjuban. Esai-esainya mendokumentasikan secara kronik apa yang terjadi dalam masa-masa memunculkan ide dan tulisan yang selalu dikatakan selalu bisa menyelesaikan diri mereka sendiri. Pembaca bisa menduga Bradbudry masih mengandalkan coretan-coretan di atas kertas yang jadi medium penyimpanan sekaligus pengingatan. Bradbury tidak menciptakan trik atau tip menulis yang bisa hilang karena soal mood, tapi ritme yang terkalender secara biologis dalam tahun-tahun panjang untuk diceritakan ke publik.

Kita cerap salah satunya ketika masih remaja, Bradbury sudah semacam sanggup mengidentifikasi “kekeliruan” yang sangat mungkin menjadi masalah para penulis pemula secara umum. Dia mengatakan, “Aku tumbuh dengan membaca dan mencintai cerita-cerita hantu tradisional karya Dickens, Lovecraft, Poe, dan kemudian Kuttner, Bloch, dan Clark Ashton Smith. Aku mencoba menulis cerita-cerita yang sangat dipengaruhi oleh para penulis yang beragam ini, dan berhasil menciptakan hantu putih berlapis empat, dengan semua bahasa dan gayanya, yang tidak mau mengambang, dan menghilang tanpa jejak. Aku terlalu muda untuk mengidentifikasi masalahku itu karena terlalu sibuk meniru.” Sejak usia 20, Bradbury masih mengakui godaan menjadi imitatif dari para penulis yang terasa seperti menungguinya menulis. Ia pun memulai membuat barisan panjang kata benda untuk menguji dan memprovokasi diri. Danau, jangkrik, malam, jurang, loteng, karnaval, kurcaci, komidi putar, dan segala benda lain diujikan dalam penulis prosa, puisi, dan esai.

Narsis

Tulisan Bradbury, terutama sering dalam bentuk fiksi, tidak lahir dari sekadar aktivitas berkhayal. Menulis mengharuskan bergerak mengamati tata kehidupan sehari-hari, bahkan untuk cerita-cerita yang ingin meramalkan masa depan. Tindakan berpikir dan mengamati bisa dianggap kejahatan. Inilah yang juga menjadikan dirinya terlibat masalah dengan polisi. “Kapan terakhir kali kau diberhentikan oleh polisi di lingkunganmu karena kau suka berjalan, dan mungkin juga berpikir, pada malam hari? Kebetulan hal ini terjadi cukup sering sehingga aku, karena jengkel, menulis “The Pedestrian”, sebuah cerita tentang suatu masa, lima puluh tahun dari sekarang, ketika seorang laki-laki ditangkap dan diperiksa untuk studi, ketika seorang laki-laki ditangkap dan diperiksa untuk studi klinis karena ia bersikeras untuk melihat realitas yang tak ditayangkan televisi, dan menghirup udara yang tak diembuskan pendingin ruangan.”

Seteru dan sekutu Bradbury mengarah pada waktu, ide-ide, dan proses. Gairah dan semangat menjadi dua istilah pembuka yang sakral, menjadikan menulis berjalan gila-gilaan. Bradbury pun sempat bertaruh dengan ruang dan keluarga yang rentan membuat orang-orang yang dulu menyukai menulis tidak menulis lagi. Ruang penyelamatan menulis itu salah satunya perpustakaan yang kocaknya menjadi tempat paling satire untuk menciptakan kisah tentang pembakaran buku di masa depan, Fahrenheit 451.

Novel ini sepertinya novel yang cukup dekat dengan pembaca Indonesia karena sempat diterjemahkan ke bahasa Indonesia pada 2013 oleh penerbit Elex Media Komputindo dan juga difilmkan. Tahun 2018, Gramedia menyusul menerbitkan. Bradbury mengakui novel sebagai investasi recehan dan masuk kategori picisan! Sekitar 1950, Bradbury miskin, menulis, bertekad menghidupi keluarga kecilnya di California. Ia mengetik di garasi, tapi sering tergoda atau terusir oleh anak-anaknya yang mengajak bermain. Sampai akhirnya, perpustakaan merekam kejaran diri dengan ruang dan waktu. Bradbury menulis dengan kocak, “Akhirnya, aku menemukan tempat itu, yaitu ruang mengetik di ruang bawah tanah perpustakaan di University of California di Los Angeles. Di sana, berbaris rapi, ada delapan atau lebih mesin ketik Remington atau Underwood tua yang disewakan satu sen untuk setengah jam. Kau masukkan koinmu, dan jam berdetik dengan gila, dan kau mengetik dengan gila, agar selesai sebelum waktu setengah jam itu habis.”   

Berpamit dari dunia pada usia sekitar 92 tahun, Bradbury memulai persekutuan dengan kata dari keisengan menguyupi komik. Bradbury sepertinya bukan seorang pak tua memberi nasihat bijak kepada kaum pemula penulis yang tidak berminat pada ketelatenan dan kekeraskepalaan untuk menulis, menulis, menulis, dan menerjang segala hambatan yang jitu jadi alasan. Memang untuk esai-esai penuh “kesombongan yang bersahaja” soal menulis ini, kita pantas menerimanya dengan merinding dan takjub. Benar-benar tidak ada dosanya kalau Bradbury memang harus narsis. Narsis karena nulis!

Continue Reading

Buku

Bersin…

mm

Published

on

Oleh Bandung Mawardi

Ia tak bersama kita menanggungkan wabah. Orang-orang “dipaksa” terlalu mengartikan rumah, setelah menganggap diri dan rumah itu “sepele”. Ia beruntung pamitan duluan, memberi kita cerita-cerita wagu dan mengenaskan: rumah. Di Indonesia, ia sering mendapat cemooh. Ia memang keterlaluan bila omong sastra, agama, dan identitas. Orang-orang di Indonesia berhak sebal. Indonesia pun “termiliki” saat ia dolan, bertemu para tokoh: ingin mengerti Islam dan sastra. Kunjungan itu menjadi tulisan terbaca seperti reportase atau catatan orang pelesiran dengan kecerobohan dan pemaknaan mendalam.



A House for Mr. Biswas: A Novel (Anglais) Broché – 13 mars 2001 de V. S. Naipaul | In his forty-six short years, Mr. Mohun Biswas has been fighting against destiny to achieve some semblance of independence, only to face a lifetime of calamity. Shuttled from one residence to another after the drowning death of his father, for which he is inadvertently responsible, Mr. Biswas yearns for a place he can call home. But when he marries into the domineering Tulsi family on whom he indignantly

Di rumah dan wabah belum tamat, kita mengenang VS Naipaul. Sekian buku Naipul sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Di mata pembaca berselera pascakolonial, novel-novel Naipaul itu incaran untuk berpikir dan berkelakar. Ia tak menulis novel mengenai wabah bersaing dengan Albert Camus. Cerita-cerita gubahan Naipaul tak semenegangkan novel-novel besar gubahan para pengarang Prancis, Jerman, Tiongkok, Amerika Serikat, dan Amerika Latin. Kelucuan dan ketololan sering terbaca dalam cerita-cerita Naipaul.

Kita mengingat Mohun alias Tuan Biswas alias “Tuan Bersin”. Sebutan terakhir sengaja diadakan sesuai situasi mutakhir memasalahkan bersih. Pada situasi wabah, orang bersin sembarangan bisa malapetaka. Kita masuk dulu ke novel berjudul Sepetak Rumah untuk Tuan Biswas, novel “teragung” persembahan Naipaul. Novel tebal dan menumpas lapar penasaran pascakolonial. Peraih Nobel Sastra 2001 itu mengisahkan bersin, tak pernah ada niat menjadi kutipan bagi para pembaca mengalami wabah buruk di abad XXI.

Pada suatu lahir, kelahiran mencipta ribut panjang. Kelahiran diinginkan dan ditakutkan. Penghuni dunia bertambah oleh kehadiran Mohun, nama berarti “kekasih”. Arti itu berantakan bila melihat kondisi raga Mohun dan nasib seperti diramalkan pandita. Sang ibu mengadakan pesta sederhana, mengundang orang-orang desa: makan bareng dan berharap memberi doa-doa terindah pada Mohun. Si bapak datang dari tempat jauh, berlagak sombong mengetahui ada pesta. Ibu itu marah, memberi omelan pada suami: “Lihat saja, Tuhan telah membalas kesombongan dan kekasaranmu. Pergi dan lihatlah anakmu! Ia akan menyengsarakanmu. Berjari enam, lahir di saat yang salah. Pergi dan lihatlah! Ia pun mengidap bersin pembawa sial.”

Keluarga itu berkumpul kembali di rumah. Naipaul mulai membuat pembaca terpana dan mengasihani para tokoh dalam novel. Semua gara-gara bersin. Di kesusastraan dunia, Naipaul mungkin pengisah paling menjengkelkan tentang bersin. Kita mengutip: “Mereka tak pernah melalaikan anak malang beserta bersin pembawa sialnya itu. Tuan Biswas mudah terserang flu dan di musim hujan membuat keluarganya terancam miskin. Seandainya Tuan Biswas bersin-bersin sebelum Raghu (bapak) bergi ke pabrik tebu, maka Raghu akan tetap di rumah: menggarap kebun sayuran pagi-pagi dan menghabiskan waktu sorenya dengan membuat tongkat dan sepatu dari kayu… Meskipun demikian, kesialan kecil sering menyertai bersin-bersin Tuan Biswas: uang yang hilang saat belanja, botol retak, atau piring yang pecah. Sekali waktu Tuan Biswas bersin-bersin setiap pagi selama tiga hari berturut-turut.” Bersin itu malapetaka! Bersin tak cuma menandai flu. Bersin bisa memiskinan! Bersin itu mengabarkan sengsara keluarga.

Bersin, bukan masalah terpenting dalam novel gubahan Naipaul. Kita saja sengaja mencomot dan menganggap penting dipikirkan saat mengalami hari-hari di rumah. Kita dianjurkan waras. Pemerintah tak membuat larangan bersin tapi kita dianjurkan mengetahui “tata krama” bersin agar tak mencipta petaka kolosal. Bersin itu masalah besar saat wabah. Kita mulai meninggalkan novel, bergerak ke masalah bersin saja. Naipaul sudah selesai menjadi pengingat. Kita membuka majalah Matra edisi Mei 2007. Bersin dibahas dua halaman di rubrik etiket. Kita membaca sambil mengingat terakhir kali bersin: “Mungkin karena flu tergolong penyakit ringan, sejumlah orang tetap melakukan aktivitas sehari-hari meski penyakit ini menyerang. Masalahnya, produksi lendir yang berlebihan di saat flu cukup menyiksa. Apalagi kalau disertai bersin-bersin yang kadang ‘menumpahkan’ beberapa produksi lendir itu.” Nah, bersin itu masalah. Ulasan berlatar Jakarta setelah banjir. Ulasan diarahkan ke orang-orang kantoran agar membuat pertimbangan serius saat mengidap flu: masuk kerja atau izin di rumah saja.

Di situ, ada anjuran orang sedang flu mendingan mengenakan masker bila ingin terus melakukan peristiwa-peristiwa harian. Orang malu mengenakan masker bisa membekali diri dengan sapu tangan atau tisu. Petunjuk bersin secara sopan: “Jangan sekali-kali mengarahkan muka anda ke wajah orang lain. Sebaiknya, arahkan wajah sedikit ke bawah atau ke arah berlawanan dengan lawan bicara. Jangan lupa gunakan sapu tangan atau tisu. Tapi jangan meneliti ‘isi’ sapu tangan anda setelah bersin. Masukkan saja langsung ke saku dengan santai.” Petunjuk sopan tiada dalam novel berjudul Sepetak Rumah untuk Tuan Biswas. Naipaul belum membentuk tokoh memiliki tata krama berbekal sapu tangan atau tisu. Mohun atau “Tuan Bersin” juga berada di keluarga miskin. Bapak cuma buruh, tak pernah berpredikat orang kantoran dengan acara rapat atau jamuan makan berdalih bisnis. 

Bersin memang masalah gawat bagi kaum kantoran dan bernalar modern. Kita beruntung mendapat petunjuk penting dalam buku berjudul Etiket dan Netikat: Sopan Santun dalam Pergaulan dan Pekerjaan (2016) susunan Marulina Pane. Buku penting tapi tak ada kaitan dengan novel gubahan Naipaul. Penulis buku itu berkaitan dengan keluarga pengarang ternama di Indonesia: ArmijnPane dan Sanoesi Pane. Petunjuk tak disampaikan dalam bahasa puitis: “Selalu bawa sapu tangan atau tisu… segeralah menutup hidung anda saat terasa akan bersin; untuk menahan bersin di acara yang khidmat, tekanlah jari telunjuk anda dengan kuat di bibir atas anda persih di bawah lubang hidung; bersinlah dengan ‘pelan-pelan’, usahakan tanpa suara; palingkan wajah anda dari orang yang berada di sebelah anda; bila sedang duduk, usahakan membungkuk ke bawah; bila bersin berkepanjangan, pergilah ke toilet….”

Petunjuk penting telah terbaca saat kita masih di hari-hari berwabah. Di rumah, orang-orang memiliki tata krama baru. Orang nekat ke kantor pasti diwajibkan memenuhi tata krama ketat dan njlimet. Ah, kita sejenak mengingat Naipaul dan “Tuan Bersin”, ikhtiar kecil “mengejek” kejenuhan selama di rumah. Dulu, masalah bersin sudah disampaikan dalam masalah etiket tapi mesti mendapat penjelasan imbuhan di masa wabah. Kita belum sempat membuka dan membaca novel-novel gubahan para pengarang Indonesia pernah sengaja mengisahkan manusia bersin. Kita cukupkan membaca Naipaul saja. Kita nekat ingin membaca novel selama di rumah mendingan memilih novel-novel tipis membikin tertawa. Jangan pilih novel-novel memicu bersin! Begitu.

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending