Connect with us

Kolom

Budi Darma: Pemberontak dan Pandai Mendadak

mm

Published

on

Paling enak menjadi pemberontak, asal jangan mati. Mengenai apa yang diberontak, janganlah mencari korban jauh-jauh. Carilah alasan-alasan yang ada di depan hidup, kalau perlu bermutu kampungan sekali pun. Tidak apa-apa, pokoknya Saudara bisa menjadi pemberontak. Dan pemberontak adalah pahlawan. Makin kampungan alasan Saudara untuk memberontak, makin banyak pengikut Saudara. Jangan kuatir, dan jangan tanggung-tanggung.

Kekurangan sastra Indonesia sebetulnya perlu diberontaki. Tapi yang memberontak adalah otak: bagimana bekerja lebih baik, bagaimana menulis lebih baik. Dan orang-orang berkaliber besar perlu tampil. Ini sulit, sebab pada dasarnya memberontak memang sulit.

Kalau Sudara merasa tidak berkaliber raksasa, pakailah konsep yang gampang. Jangan berpayah-payah: katakanlah sastra Indonesia sekarang bobrok. Katakanlah ukuran-ukuran sastra Indonesia  sekarang rusak. Katakahlan orang-orang sastra Indonesia terjangkit penyakit konco-sistem. Lalu Saudara memberontak.

Kalau Saudara tidak bisa menulis apa-apa, tirulah siasat pelukis-pelukis abstrak yang tidak bisa menggambar gelas, lemari, atau sepatu. Maka seseorang dapat mengorek-ngorek kanvas sesuka hati, dan jadilah dia pelukis abstrak. Hebat. Begitu juga kalau Saudara  tidak bisa menulis yang ringan-ringan, yang sederhana-sederhana, yang sepintas agaknya bisa ditulis oleh anak sekolah. Jangan kuatir, Saudara bisa memberontak: ukuran-ukuran sastra sekarang harus digulung. Dicari napas baru dalam sastra. Harus ada eksperimen-eksperimen. Janganlah Saudara sungkan-sungkan berteriak: “Lihatlah eksperimen-eksperimen saya!” Dan Saudara tulislah kira-kira begini: “Bapa lodang keluar lawang lantas terbuang saya bilang pacar saya bilang pencar lantas kaki naik layar tarik cerita saya memekik saya punya mata mendelik.” Atau puisi:

 

   sajakku

  sajakku

    sajakku

lahir

lahir

lahir

dari pacarku

       pacarku

       pacarku

            Atau yang lain-lain, yang Saudara ketahui sendiri dapat Saudara tulis seratus ekor dalam sehari.

Saudara sudah memberontak, maka Saudara menjadi pahlawan. Dan yang lebih menguntungkan lagi: Saudara mempunyai banyak pengikut. Memang lebih mudah meniru tulisan asal jadi daripada meniru tulisan jadi.

Dan Saudara tidak usah sulit-sulit mencari penerbit. Angkatlah diri Saudara sendiri menjadi penerbit, tentu saja penerbit kampungan. Bukankah ongkos menerbitkan sekarang murah, apalagi stensilan? Dan Saudara dapat mencantumkan apa-apa yang hebat mengenai Saudara sendiri. Sebagai penyair, redaksi, dan penerbit sekaligus, tentu Saudara menjadi penguasa tunggal mengenai apa yang akan Saudara katakan mengenai diri Saudara sendiri. Ambillah misal: “Ada suatu tarikan kuat dalam diri saya untuk menulis sajak, dan jadilah saya penyair,” atau lain-lainnya yang kedengarannya hebat. Jangan lupa cantumkan potret Saudara dalam penerbitan Saudara. Untuk menunjukkan Saudara seniman, tentu saja dalam potret Saudara harus gondrong, dan timbulkan kesan seolah-olah Saudara tidak pernah mandi. Jangan lupa kerutkan jidat, agar Saudara nampak betul-betul sebagai pemikir. Ada baiknya Saudara berpose di hadapan sederetan buku tebal dan besar. Dan Saudara tentu akan mendapat pengikut.

Jangan tanggung-tanggung. Dan jangan Saudara berpayah-payah menulis cerpen, apalagi novel. Kalau Saudara dapat menulis sajak seratus ekor satu hari, mengapa Saudara harus menulis cerpen sepuluh hari satu atau novel satu tahun satu? Saudara akan kehilangan waktu sebelum orang tahu Saudara seorang pemberontak. Rugi. Memang kerja enteng lebih enak daripada kerja berat.

Pernahkah Saudara mendengar pendapat novelis William Faulkner? Dalam wawancara dengan Jean Stein vanden Heuvel berkatalah dia: “Kita semua gagal untuk mencapai impian kita mengenai karya yang sempurna. Maka rata-rata kita berada pada kegagalan indah untuk mengerjakan sesuatu yang tidak mungkin terjangkau. Kalau saya dapat menulis karya-karya saya kembali, demikianlah pendapat saya, saya yakin saya dapat menulisnya kembali dengan lebih baik. Inilah keadaan yang paling sehat bagi seorang seniman. Maka seorang seniman terus bekerja, berusaha lagi. Seorang seniman percaya bahwa setiap kali dia berusaha lagi dia akan berhasil. Namun dia tidak akan berhasil, dan keadaan ini justru sehat. Sekali dia mencapai kesempurnaan, sekali dia mencapai image kesempurnaan, mencapai impian yang diangan-angankan, tidak ada sesuatu pun yang tersisa baginya. Apa yang dapat dilakukannya adalah memotong leher, meloncat dari sisi lain puncak kesempurnaan ke bawah, bunuh diri” (baca: Language and Ideas, Little, Brown and Company, Boston, 1962). Nasihat ini, kalau boleh dipandang sebagai nasihat, hanya ditujukan kepada mereka yang suka bekerja keras karena mereka tidak pernah puas dengan kerja mereka. Hanya kepada mereka yang menganggap sastra sebagai sesuatu yang seriuslah nasihat ini diberikan.

Menulis esei? Tentu Saudara bisa, asal mau. Jangan kuatir. Yang penting bagi seorang eseis atau kritikus hanyalah kelihatan pandai. Untuk kelihatan pandai Saudara dapat menempuh jalan cepat. Bukankah kita mempunyai kebudayaan ingin cepat mendadak, asal jangan sakit mendadak atau melarat mendadak? Saudara tidak perlu heran mengetahui bahwa sulap sudah diangkat menjadi saudara kandung sastra. Untuk kelihatan pandai Saudara bisa main sulap. Buatlah esei dengan kutipan dari sini situ, dari pengarang ini itu. Kalau perlu premis esei Saudara pun dapat Saudara mulai dengan kutipan entah dari mana, yang dapat memberi kesan bahwa Saudara pandai. Maka Saudara pun dapat menulis: “Kalau Goethe mengatakan bahwa kreativitas berpangkal pada hati dan Racine mengatakan bahwa intelektualisme berpangkal pada otak, maka hati dan otak kita jumpai sekaligus dalam sajak ini.” Atau yang lain-lain yang lebih hebat. Maka Saudara tidak perlu merasa menipu karena memang Saudara menipu. Atau Saudara pun dapat mengutip dari sana sini yang memang benar-benar pernah diucapkan oleh orang ini dan itu, tapi lupakanlah konteksnya. Saudara tidak perlu merasa mengecoh, karena memang Saudara mengecoh. Saudara tidak perlu merasa pandir, karena Saudara kelihatan pandai. Dan membaca banyak tidak mempercepat Saudara mengetahui sesuatu. Membaca sedikit di sini sedikit di sana, melompat ke sini dan melompat ke sana, tentu lebih menyenangkan karena dengan mendadak Saudara tahu banyak.

Tentu saja Saudara tidak perlu menulis esei mengenai novel. Novel tidak akrab dengan kekebalan tafsiran, maka novel tidak bersahabat dengan kebudayaan ingin menjadi mendadak. Pergunakanlah motto terkenal “puisi adalah subyektif”. Maka Saudara tidak akan kelihatan menipu, mengecoh atau pandir, karena apa pun yang Saudara katakan dapat kelihatan benar, dan apa pun yang Saudara lakukan membuat Saudara kelihatan pandai. Saudara tidak perlu heran mengapa puisi sekaligus aib dan terhormat: lowongan penulis sajak dan kritikus sajak tidak pernah ada, dan lowongan penulis novel dan kritikus novel tidak pernah terisi, sajak-sajak buruk dikutip-kutip, novel-novel baik dibiarkan.

Jangan beri maaf kepada novel-novel buruk, karena memang kebanyakan novel Indonesia buruk. Ada novel pemenang hadiah yang tidak lain dan tidak bukan novel-novelan, ada novel pemenang hadiah yang membuat geram pembaca karena pengarangnya terlalu banyak geram memprotes, ada novel pemenang hadiah yang tidak menyebabkan pembaca lebih pandai meskipun sekian halaman dipergunakan oleh pengarangnya untuk berdebat dan memberi nasihat. Tidak mengherankan apabila dalam novel-novel Indonesia ada kata-kata yang kira-kira begini: “Dengan perasaan geram dan tangan gemetar Samiun berkata, ‘Hidup tidak untuk itu. Tidak! Tidak! Tidak!, lalu Kirana menjawab dengan senyum mencibir, ‘Mengapa tidak? Apa guna kita hidup? Bukankah hidup untuk merenung dan bertindak? Bukankah itu kewajiban kita?”

Meskipun demikian novel-novel Indonesia berada dalam keadaan aman dan tentram: tidak kelihatan buruk karena tidak dibaca, tidak kelihatan buruk karena tidak diperhatikan. Lebih baik membongkar-bongkar sajak, kalau perlu membongkar satu sajak dalam seratus tulisan yang berbeda, kalau perlu yang berlawanan. Bukankah puisi subyektif? Dan keballah barang saiapa yang membongkar-bongkar puisi.

Tapi tunggu dulu: jalan ke Roma bukan hanya satu. Dan Saudara bukannya seratus persen goblok. Saudara tahu novel pun banyak mempunyai peluang untuk dibongkar-bongkar teori. Maka Saudara boleh kutip teori ini teori itu, tanpa perlu mengeluarkan banyak pendapat. Kutiplah pendapat kritikus Barat bernama Badrigun mengenai alur, pendapat kritikus Barat lainnya bernama Roberto de Kripat-Kriput mengenai tokoh. Kutiplah pendapat mereka sepanjang mungkin, lalu kutiplah beberapa cuplikan novel yang Saudara bicarakan, lalu katakanlah secara singkat saja: “Maka nyatalah bahwa pengarang novel ini berhasil sekali menggarap alur, latar, dan tokohnya dengan baik.” Sekali lagi: kutiplah teori-teori itu sepanjang mungkin, lalu tempelkanlah bagian-bagian novel ini pada teori-teori tersebut, dan jangan sekali-kali Saudara terlalu panjang mengeluarkan pendapat Saudara sendiri. Ingat: sarung yang terlalu besar menjadi kedodoran, demikian juga pendapat Saudara yang sedikit terlalu panjang. Dan awas: kutip teori-teori orang-orang Barat saja, biar Saudara kelihatan mampu berbahasa asing, meskipun sumber Saudara yang sebenarnya hanyalah diktat yang disusun oleh orang-orang yang lebih pandai menafsirkan daripada berbahasa asing. Maka dalam hati Saudara dapat bertempek-sorak: “Hidup saya!”

Kalau Saudara ingin nampak terpelajar, tentunya akal Saudara tidak hanya berhenti di situ. Saudara dapat membuat daftar berapa kali pengarang dalam novel yang Saudara bongkar mempergunakan kata “terompah”, “sandal-jepit”, “tusuk-gigi”, “kaos singlet”, dan “celana kolor”. Lalu Saudara membuat matriks, diagram, gambar kotak-kotak, lingkaran-lingkaran, dan tanda-tanda panah, yang saudara sendiri ketahui tidak ada gunanya kecuali untuk gagah-gagahan.

Otak memang tidak perlu dipelajari dalam kebudayaan ingin cepat mendadak, cukuplah bayang-bayangnya. The beatles gondrong, maka Saudara harus gondrong meskipun tidak harus main musik. Guy de Maupassant menderita sipilis sampai mati, dan Saudara harus main-main perempuan meskipun dalam menulis Saudara juga main-main. Rendra pergi ke pantai membaca puisi, maka Saudara pun harus pergi ke pantai kalau Saudara ingin tahu puisi.

Dan jangan lupa: makin banyak Saudara mempergunakan kata-kata kotor makin baik, karena dengan demikian makin nampak Saudara berani, jujur, dan terbuka.

Memang kepandiran masih merajalela.(*)

________________________________________________________________

Budi Darma lahir di Rembang, Jawa Tengah, 25 April 1937. Meraih M.A. dan Ph.D. di Indiana University, Bloomington, Amerika Serikat. Novelis yang pernah menjadi rektor IKIP Surabaya ini meraih SEA White Award pada 1984. Karya-karyanya: Orang-orang Bloomingon (1980); Solilokui (1983); Olenka (1983; pemenang pertama Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta 1980 dan Hadiah Sastra Dewan Kesenian Jakarta 19830; Sejumlah Esai Sastra (1984); Refilus (1988); Harmonium (1995); Ny Talis (1996). Cerpennya, “Derabat”, terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas 1999 dan dipublikasikan pada buku berjudul sama.

Sumber: Budi Darma, Solilokui, PR Gramedia, Jakarta, 1983.

 

***

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kolom

Kota-kota yang Ditelan Cahaya

mm

Published

on

Tatkala Tuhan menciptakan matahari sebagai sumber cahaya bagi bumi, lantas menyalurkan ke rembulan untuk meremangi malam, manusia ingin mengaburkan batas gelap-terang dengan menciptakan lampu. Manusia ingin cahaya yang nyaris abadi, dikendalikan, diciptakan, dan selalu hingar bingar. Tuhan pun tidak punya kuasa mematikan lampu yang menyala di setiap sudut bumi. Berita di Media Indonesia (9 Desember 2017) berkabar bumi semakin benderang oleh polusi cahaya di malam hari. Lampu LED yang dianggap menghemat, menjadi biang utama polusi cahaya. Semakin banyak lampu dinyalakan, semakin jam biologis manusia dan migrasi burung serta penyu laut terganggung. Ongkos ekonomi dan ekologi terlalu banyak dihabiskan jika lampu terus dipijar. Jurnal Science Advances melaporkan bahwa cahaya buatan di dunia meningkat 2% setiap tahun.

Di Indonesia, jejak cahaya lampu disahkan oleh kolonialisme. Penjajah membawa terang benderang bagi Hindia Belanda yang memiliki malam sebagai waktu yang religius dan kultural. Wilayah kelelapan malam dihentak dan dibangunkan dengan kedigdayaan seolah siang. Orang tidak lagi menakuti malam, melupakan batas-batas transendental. Tidak perlu lagi ada ketakutan pada hantu-hantu atau roh yang mungkin akan merasa silau juga bila berdekatan dengan malam.

Pada tahun 1931 di Paris, wajah kolonialisme di teras pameran kolonial se-dunia ditentukan oleh kilat lampu. Frances Gouda dalam Dutch Culture Overseas, Praktik Kolonial di Hindia Belanda 1900-1942 (2007) mengatakan bahwa festival raya para penjajah itu menahbiskan Belanda sebagai pihak yang unik dan berbeda. Ramuan pelbagai kultur, etnis, dan agama yang berkecambah di Hindia Belanda, dipakai Belanda membangun kesatuan politik. Anjuangan Belanda di Paris menunjukkan bumi jajahan yang jauh dari derita dan kegelapan.

Namun, hanya kilatan cahaya lampu sebagai perangkat magis mampu memesona para pengunjung berkeliling dunia dalam sehari. Malam dikaburkan dalam pola-pola bayangan. Lampu mengemas nuansa misterius di antara kekaburan dan ketidakkaburan.

Modern

Kota atau negara yang ingin dianggap beradab dan modern harus memiliki lampu di setiap celah ruang dan peristiwa. Namun, kebenderangan yang membawa kekaguman juga menuai kegamangan. Leila Aboulela di cerita pendek Coloured Lights (2012) menuliskan perasaan yang antusias dan gamang saat berhadapan dengan lampu-lampu di London. Cerita ini bisa menjadi semacam memoar biografis Leila sebagai perempuan yang berpindah dari India ke Inggris. Leila bercerita, “Setiap jendela toko memamerkan pajangan yang sangat menarik dan ada lampu-lampu hias yang terpasang di dekat lampu-lampu jalan. lampu-lampu kecil dibelitkan pada pepohonan di trotoar, dipasang sepanjang kawat yang melintas di atas jalan. Lampu-lampu bulan Desember yang meriah. Biru, merah, hijau, lebih ramai daripada bohlam-bohlam sederhana yang kami gunakan di Khartoum untuk menghiasi rumah diselenggarakannya perkawinan.”

Lampu adalah kemewahan di tempat kelahiran sang aku, yang hanya akan dipakai untuk momentum khusus dan penting. Kekaguman pada lampu di kota dengan sederhana membandingkan pedesaan Khartoum yang gelap dan Kota London ditelan oleh banyak cahaya. Listrik di negara dunia ketiga tetaplah kemewahan seperti halnya makanan atau pendidikan, bahkan untuk menghidupkan sebuah lampu. Cerita Leila semakin ironis karena lampu (listrik) justru merenggut nyawa Taha, kakak si aku. Taha tersengat listrik saat memasang lampu-lampu untuk hari pernikahan. Lampu yang membawa cahaya justru mengantarkan ke kegelapan.

Paris sepertinya telah diagungkan sebagai kota cahaya. Andrew Hussey (2014) mengatakan bahwa sejak 1800, Paris mulai menapaki riwayat sebagai kota terindah dan terpenting di dunia. Proyek ambisius dijalankan untuk merancang kembali kota yang masih diwabahi kebanyakan masalah urban.

Di masa Louis-Napoleon, restorasi kota dijalankan oleh Georges-Eugene Haussmann menuju Paris yang modern setara dengan Roma. Haussmann meski amat kontroversial dikatakan, “Ia meninggalkan kota dengan sistem sanitasi yang baik (meminum air di Paris kini tak lagi memiliki risiko terjangkit penyakit kolera), dengan sistem lampu jalan yang terorganisasi dan kemampuan untuk menghadapi tuntutan teknologi abad itu.” Jika kita mendapati kota-kota masa kini yang gencar membangun taman, air mancur, lampu warna-warni, atau jalur pedestrian nan santai, semua itu memang gagasan membangun kota modern, bercermin pada cahaya di Kota Paris.

Kita sempat mengalami terminologi sinar atau cahaya sempat merujuk pada pertalian transendental atau kodrat alam. Seperti yang sering digunakan oleh para penyair sufistik, cahaya adalah Ilahi atau Tuhan. Cahaya yang memancar lampu perlahan menghilangkan yang puitis dalam biografi religiositas kita. Cahaya lebih mengingatkan pada lampu, tarif listrik, kabel, hemat, boros, polusi, atau perusahaan lampu berjargon “terang terus.” Lampu dan cahaya menjadi semacam obsesi menerangi.

Avianti Armand lewat puisi “Di Trotoar” (Buku Tentang Ruang, 2016) menyampaikan sebentuk kelupaan ganjil yang tentu nyaris mustahil diingat oleh orang-orang. Kita cerap, Menjelang malam, ia berangkat/ namun lupa mematikan lampu jalan./ Cahayanya membanjiri trotoar./ Aku melemparkan kail ke genangan yang tersisa,/ berharap ia kembali memakan umpan./ Matanya tercelup sedalam kaki./ Aku tak bisa melangkah./ Aku tak akan pergi. Kita yang selalu melewati jalan tidak akan pernah sempat berpikir mematikan lampu jalan. Lampu jalan sudah dianggap kemujaraban sebuat kota hidup dan masih ada. Tanpa lampu, kota-kota akan mati. Toh, manusia tidak merasa mati meski terus-terusan diserang polusi cahaya atau banjir lampu.

Agenda di dunia kita tidak bisa berjauhan dari lampu; perayaan diskon mahabesar, wisata akhir tahun, tahun baru, dan bahwa bahkan hari raya apa pun. Bumi harus selalu menyipitkan mata ketika ditelah cahaya. Cahaya hotel, cahaya lampu jalan, cahaya-ledakan kembang api, cahaya toko, cahaya mobil, cahaya kota, polusi cahaya naik 2% itu memang tampak kecil, tapi juga tampak besar untuk bisa diturunkan. (*)

*) Setyaningsih: Penghayat pustaka anak. Penulis buku Bermula Buku, Berakhir Telepon (2016)

Continue Reading

Kolom

Potret Membaca Kita

mm

Published

on

Persoalan membaca kini mulai diresahkan oleh pemerintah. Pemerintah pun bergeliat membuat gerakan literasi. Ini sudah dimulai dari artikel Kemendikbud Rintis Gerakan Literasi di Sekolah (Republika, 8/8/ 2015),  menyatakan bahwa terdapat kegiatan membaca buku 15 menit sebelum belajar, maka gerakan literasi ini perlu dilakukan. Sekolah mulai mencoba mengawali gerakan ini. Sayang, aturan pemerintah ini memasygulkan murid dan gurunya. Boleh jadi, ini dikarenakan kita tidak terbiasa membaca sastra. Kita bisa berprasangka, kita hanya melek huruf, tidak melek membaca. Wajar bila yang terjadi sekolah ogah-ogahan dengan gerakan literasi.

Mungkin kita dapat membanding dulu dan sekarang. Dulu, adanya perasaan membaca dan menulis merupakan kebutuhan utama. Kita dapat melihatnya dari majalah kuncung, bobo, majalah teen, dan lain sebagainya. Dalam majalah, terlihatnya antusias anak-anak sampai orang tua gemar merangkai kata. Melalui surat-menyurat, kata digunakan untuk menuangkan semua keluh kesah. Biasanya surat di muat di rubrik surat pembaca.

Entah surat berisikan pemikirannya tentang politik, ekonomi, atau kehidupan rumah tangganya dituliskan. Barangkali surat juga menyuguhkan kata-kata heroik, pembangkit minat baca. Layaknya Asrul Sani, dalam buku Surat-surat Kepercayaan yang menyatakan bahwa buku memberi pengetahuan mengenai peninggalan dan pemikiran seluruh pelosok dunia. Dari ungkapan ini Asrul mengisyaratkan bahwa kegiatan membaca membuat jarak tidak berarti. Kita bahkan bisa membaca pemikiran apa pun di dunia, cukup dengan berhadapan dengan buku.

Mungkin, ini juga membuat orang akrab dengan perpustakaan.  Buku-buku seolah dianggap  teman. Bahkan, saat menjalani hukuman pengasingan ataupun di penjarakan orang lebih bisa membangkitkan dunia literasinya. Syahrir, Soekarno, Tan Malaka, Moh. Hatta,   atau Pramoedya, merupakan tokoh yang doyan membaca. Pemikiran dan kisah mereka pun, bisa kita ketahui dengan buku-buku sejarah dan cerita-cerita pendek.

Bukan hanya itu, beberapa dari mereka, mencontohkan untuk lebih mencintai buku. Boleh jadi kita dapat tengok Gerson Poyk di buku Nostalgia Flobamora, ia mewariskan buku-buku untuk anaknya. Dengan harapan buku dapat dijadikan harta yang paling berharga. Sebab, buku seolah menjadi identitas diri dalam membentuk pemikiran si pembaca. Refleksi dari kehidupan yang sudah tidak nyaman. Ketika segala hal terlihat buruk dalam keadaan yang sebenarnya, buku membawa mereka pada kisah-kisah nan menarik.

Bila kita kembali lagi ke masa kanak-kanak di tahun ‘90an, mungkin kita dapat disajikan majalah Bobo. Di dalamnya memuat rubrik kisah Nurmala dan Boni si gajah panjang. Cerita itu penuh peran moral yang disajikan. Tidak lupa soal-soal sekolah dasar diselipkan untuk mengasah kepandaian anak. Di majalah itu anak bebas membaca, bebas memilih, bahkan berkarya. Anak-anak pun bisa mengirim puisi, cerita pendek atau gambar kepada redaksi bobo. Sayang, kini majalah Bobo yang tidak lagi terlalu tenar dan diminati. Ia kini telah digantikan google, anak cukup mengasah bacaan dan bertanya lewat internet.

Saat teknologi seperti televisi dan gawai pintar belum ditemukan, satu-satunya hiburan adalah membaca. Membaca membuat imajinasi kita bermain dan bebas untuk menjelajah. Tak ayal, dunia literasi yang terbangun membicarakan pergaulannya dengan buku. Buku yang menjadi sahabat dalam mencurahan segala kepelikan hidup. Seolah dengan membaca kita dapat merefleksikan kembali pemikiran yang ada dalam kata.

Pembaca seolah dapat terbius dengan rangkaian kata dari penulis. Turut serta merasakan pemikiran yang tertuang dalam buku. Kita dapat mengetahui alurnya hingga dengan membaca seseorang makin terbebas dari dunia realitas. Sayangnya, ingatan tentang buku sebagai alat yang menyenangkan mulai hilang. Pelbagai tantangan hadir dalam menurunkan minat membaca buku.

Seiring dengan zaman yang serba canggih, kita malah sibuk dengan dunia maya. Semua mulai tenggelam dengan kegiatan di dunia media sosial. Kebanyakan remaja yang makin ketagihan dengan media sosial. Dikutip dari data kominfo di kominfo.go.id menuliskan bahwa pengguna internet di Indonesia saat ini mencapai 63 juta orang. Dari angka tersebut, 95 persennya menggunakan internet untuk mengakses jejaring sosial.

Mirisnya, kita hanya aktif berselancar di dunia maya sambil memposting segala kegiatan. Bak artis yang ingin selalu diperhatikan penggemarnya. Waktu pun dibuang untuk berselancar di dunia maya. Seolah melupakan waktu untuk kegiatan yang lebih menggali ilmu pengetahuan. Cita-cita yang terbangun pun dapat menjadi viral dan artis di dunia maya. Atau lebih parahnya kita menjadi komentator untuk persoalan orang lain, yang belum tentu kebenarannya.

Kegiatan menjadi komentator ini memudahkan kita terbawa arus dan kurang mengontrol kometar. Bahkan, sering kali kita memberikan komentar suatu persoalan remeh temeh. Apalagi disokong dengan menjadi komentator yang miskin bacaan. Alhasil, komentar yang terlontar di media sosial kebanyakan bukan komentar yang berbobot. Hanya sekedar komentar yang ditulis dari kefanatikan. Tidak heran bila kemudian komentar hanya seputar memuji atau mencela. Kadang mencaci, saling menghujat dan menuding.

Tentu bila komentar masih seputar itu, akan berdampak pada daya nalar. Bila kita masih menjadi komentator yang miskin bacaan, tentu mudah tergiring dengan opini orang lain. Lebih dikhawatirkan lagi menjadi partisipan yang dimanfaatkan oleh kaum tidak bertanggung jawab. Maka dari itu, penting bagi kita untuk membaca dan mengkritisi pemikiran orang lain. Tidak hanya menuangkan komentar yang tidak berbobot.

Penting bagi kita untuk kembali berkaca diri dalam memanfaatkan teknologi. Dengan media sosial kita memang dimudahkan untuk dapat berkenalan dengan seluruh manusia di bumi. Ini dapat dimanfaatkan untuk bertukar pikiran. Mengenai persoalan politik, budaya atau lainnya. Bukan hanya curahan hati ungkapan kekesalan atau kesenangan. Kemudian batasi pemakaian media sosial dan manfaatkan waktu senggang.

Boleh jadi kita dapat menggugat diri sendiri, untuk menggunakan waktu senggang dengan lebih banyak membaca. Membaca membuat kita memahami pelbagai hal. Selain itu, segala perubahan dapat kita ikuti bila kita terus membaca. Laiknya Manusia memiliki otak yang setiap harinya harus diperbaharui pengetahuannya. Untuk itulah membaca menjadi perlu dan penting. (*)

*) Ayu Rahayu: Mahasiswi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

 

 

Continue Reading

Kolom

Bahasa di Tangan Komentator Bola

mm

Published

on

Pertandingan sepak bola yang ditayangkan di televisi selalu menyisakan keseruan yang menarik dibahas. Salah satunya adalah lontaran sang komentator. Komentator yang biasanya ditemani pemandu acara hadir di studio untuk memberikan ulasannya seputar pertandingan yang baru berlangsung. Komentar-komentar tersebut bisa juga disiarkan usai pertandingan berakhir. Kemunculan komentator bola kian meramaikan kompetisi di lapangan. Penonton di rumah pun pasti menantikan celoteh-celoteh yang lahir dari mulut komentator.

Publik yang menyenangi tayangan liga sepak bola tentu ingat dengan salah satu kata yang meluncur dari komentator bola, yakni kata jebret. Kata tersebut menjadi fenomenal dan melekat di telinga para pemirsa yang setia menyaksikan tayangan perlombaan antar tim sepak bola. Jebret pun seolah masuk dalam daftar kosakata baru.

Valentino Simanjutak, adalah pria yang secara spontan meneriakkan kata tersebut saat timnas U-19 bertarung melawan timnas Vietnam pada 22 September 2013. Kala itu, pria jebolan abang-none DKI Jakarta tersebut belum menjadi komentator, ia bertugas sebagai pembawa acara. Komentator yang berpasangan dengannya kala itu adalah Abdul Harris.

Kata jebret keluar saat Valentino memerhatikan pergerakan bola yang dibawa pemain Indonesia mengarah ke gawang Vietnam yang dijaga Le van Truong. Jagad media sosial pun langsung penuh dengan tagar jebret saat itu. Kata jebret kian menghiasi percakapan sehari-hari. Masyarakat menjadi akrab dengan kata hasil eksplorasi Valentino itu.

Seiring waktu, Valentino pun didapuk menjadi komentator bola. Ia tidak henti-hentinya menciptakan istilah-istilah baru untuk merujuk makna tertentu. Ia tidak bosan-bosannya menyegarkan pertandingan sepak bola lewat ujaran-ujaran komentar, yang kebanyakan justru membikin pemirsa yang mendengarnya terpingkal. Pembawaannya selama mengampu acara bola meninggalkan jejak baru dalam dunia kebahasaan.

Valentino mungkin tidak merencanakan kata-kata unik yang ia pakai untuk menyebut gerakan tertentu dalam pertandingan bola yang ia komentari. Pasalnya, perputaran bola di kaki pemain tidak bisa ditebak. Perpindahan bola dari satu posisi ke posisi lain sangat cepat. Tentu butuh kejelian dari komentator untuk mengamati setiap detil kejadian dalam pertandingan. Inilah yang membuat Valentino refleks mengeluarkan komentar unik.

Kamus Sepak Bola

Keunikan komentar bola tidak berhenti di jebret saja. Penggemar bola pasti familiar dengan kata-kata berikut; tendangan LDR, tendangan SLJJ, umpan manja, rumah tangga, umpan antar benua, umpan membelah lautan, Messi kelok 9, harmonisasi rumah tangga, gerakan 362, blusukan, peluang 24 karat, tendangan depresi, umpan membelai, aksi tipu daya, gocek keliling dunia, tendangan PHP, tendangan menepati janji, membuat retak hati, gerakan 378, bon jovi, menjaga koordinasi keutuhan rumah tangga, umpan cuek, umpan mubazir, gratifikasi umpan, umpan tega, dan gelandang penimba sumur. Pertandingan bola yang menegangkan berubah kendur dan kaya humor setelah mendengarkan komentar semacam itu. Penonton dibikin berkerut sekali menahan tawa ketika memikirkan arti dari komentar unik kreasi para komentator.

Kata yang digunakan para komentator sebagai perumpamaan gerakan para pemain adalah buah dari proses skema. Skema menurut Chaplin (1981) merupakan kumpulan ide yang tertata rapi dalam sebuah peta kognitif. Manusia menempatkan skema sebagai model. Peristiwa yang dialami manusia diolah untuk dijadikan acuan dalam melihat kejadian serupa pada lain kesempatan. Sebab skema merupakan kerangka dasar yang mengandung respon yang pernah disampaikan. Respon tersebut dirancang sebagai landasan dalam memberikan standar bagi respon selanjutnya. Chaplin menjabarkan definisi skema dalam Dictionary of Psychology.

Proses skema berlangsung ketika komentator bola menghubungkan konsep hubungan jarak jauh atau long distance relationship (LDR) yang pernah ia dapatkan untuk mengibaratkan tendangan jarak jauh. Maka tercetuslah ungkapan tendangan LDR. Skema terancang karena adanya asosiasi yang terjadi. Kata unik yang diteriakan oleh komentator bola merepresentasikan pengalaman yang dipunyai.

Skema juga mempengaruhi penangkapan pesan yang disampaikan. Apabila pemirsa tidak memiliki latar pengalaman yang sejalan dengan yang dianut komentator bola, maka kata-kata unik tersebut sulit dipahami. Rekayasa dibutuhkan untuk mengecoh skema lama yang dipegang penonton. Tujuannya adalah memasukkan skema baru sesuai dengan yang diinginkan komentator. Ini bisa dilakukan lewat penjabaran setelah kata-kata unik terpekikan. Pemandu acara yang mendampingi juga bisa mengarahkan pertanyaan ke komentator untuk mengorek jawaban atas makna dari kata-kata baru yang unik buah kreasi.

Kamus bola perlu disusun supaya skema antara penonton dan komentator tidak saling tumpang tindih. Penonton yang minim pengalaman hanya akan merasakan hambarnya pertandingan bola karena terbebani dengan meraba-raba mencari definisi kata unik. Masing-masing pihak sebaiknya saling memperkaya skema supaya komunikasi terjalin dua arah. Skema yang kurang menjadi penghalang dalam membaca pemahaman.

Keraf menyebutkan, usaha untuk menemukan makna yang sesuai dengan konteks dari ujaran membutuhkan komunikasi. Tuturan kehilangan maknanya tatkala para pembaca atau pendengarnya tidak mampu menerjemahkan maksud yang ada. Makna dianggap penting sebab ia merupakan arti yang melekat pada sebuah kata. Interaksi antara kata dengan makna leksem lain dalam sebuah aturan memunculkan makna itu sendiri. Penjabaran ini memuat deskripsi yang bisa dipergunakan untuk mengkaji kata-kata unik komentar bola.

Kata dan bahasa yang dipilih komentator bola melibatkan emosi penonton. Rasa yang terbangun dibiarkan terus hidup supaya pertandingan tidak monoton. Kata unik yang melejit berkat komentator bola harus ditinjau dari makna konotatif, bukan makna denotatif. Landasan utama makna konotatif adalah perasaan atau pikiran yang tercipta atau diciptakan pada pembicara (penulis) dan pendengar (pembaca). Selanjutnya dimanfaatkan sebagai pijakan untuk memaknai kata. Rasa yang tersemat dalam kata unik menjadi syarat kata tersebut digolongkan makna konotatif. Makna konotatif mengandung tambahan makna. Dengan demikian, makna yang sebenarnya tertutupi.

Makna kiasan dan majas turut melengkapi pemaknaan komentar dari komentator bola. Pergeseran dan perbedaan makna tak terhindarkan dari ujaran komentator bola. Metafora melingkupi setiap ujaran yang disampaikan komentator bola. Metafora membantu komentator mengkomparasi hal yang ingin dikatakan dengan objek lain. Metafora adalah cara untuk mengutarakan pesan secara terselubung dengan membandingkan topik abstrak dengan hal yang konkret. Komentator bola menyebut pemain jangkar atau gelandang bertahan dengan frasa gelandang penimba sumur. Penautan ini mempertimbangkan dengan analogi yang seimbang menurut komentator.

Kata-kata unik yang dipakai komentator bola turut menerapkan disfemia. Komentator bola mengubah kata yang bermakna biasa dengan kata yang bermakna kasar. Disfemia yang dilakukan komentator bola diklasifikasi dalam kata, frasa, dan ungkapan. Masing-masing merupakan bentuk satuan gramatik. Komentator bola memainkan nilai rasa dari sebuah makna kata. Disfemia terbentuk akibat membuncahnya rasa kecewa, frustasi, kesal, dan tidak suka yang diluapkan melalui kata-kata. Pangkal dari semua itu bisa ditelusuri dari konteks kejadian atau kalimat yang mendahului. (*)

*) Shela Kusumaningtyas: Lahir di Kendal, 24 November 1994. Seorang penulis. Tulisannya seperti puisi, opini, dan feature pernah dimuat di berbagai media massa. Di antaranya di Kompas, Suara Merdeka, Wawasan, Tribun Jateng, Bangka Pos, Bali Pos, Radar Lampung, Malang Voice, dan Koran Sindo.

Continue Reading

Classic Prose

Trending