Connect with us

COLUMN & IDEAS

Budi Darma: Pemberontak dan Pandai Mendadak

mm

Published

on

Paling enak menjadi pemberontak, asal jangan mati. Mengenai apa yang diberontak, janganlah mencari korban jauh-jauh. Carilah alasan-alasan yang ada di depan hidup, kalau perlu bermutu kampungan sekali pun. Tidak apa-apa, pokoknya Saudara bisa menjadi pemberontak. Dan pemberontak adalah pahlawan. Makin kampungan alasan Saudara untuk memberontak, makin banyak pengikut Saudara. Jangan kuatir, dan jangan tanggung-tanggung.

Kekurangan sastra Indonesia sebetulnya perlu diberontaki. Tapi yang memberontak adalah otak: bagimana bekerja lebih baik, bagaimana menulis lebih baik. Dan orang-orang berkaliber besar perlu tampil. Ini sulit, sebab pada dasarnya memberontak memang sulit.

Kalau Sudara merasa tidak berkaliber raksasa, pakailah konsep yang gampang. Jangan berpayah-payah: katakanlah sastra Indonesia sekarang bobrok. Katakanlah ukuran-ukuran sastra Indonesia  sekarang rusak. Katakahlan orang-orang sastra Indonesia terjangkit penyakit konco-sistem. Lalu Saudara memberontak.

Kalau Saudara tidak bisa menulis apa-apa, tirulah siasat pelukis-pelukis abstrak yang tidak bisa menggambar gelas, lemari, atau sepatu. Maka seseorang dapat mengorek-ngorek kanvas sesuka hati, dan jadilah dia pelukis abstrak. Hebat. Begitu juga kalau Saudara  tidak bisa menulis yang ringan-ringan, yang sederhana-sederhana, yang sepintas agaknya bisa ditulis oleh anak sekolah. Jangan kuatir, Saudara bisa memberontak: ukuran-ukuran sastra sekarang harus digulung. Dicari napas baru dalam sastra. Harus ada eksperimen-eksperimen. Janganlah Saudara sungkan-sungkan berteriak: “Lihatlah eksperimen-eksperimen saya!” Dan Saudara tulislah kira-kira begini: “Bapa lodang keluar lawang lantas terbuang saya bilang pacar saya bilang pencar lantas kaki naik layar tarik cerita saya memekik saya punya mata mendelik.” Atau puisi:

 

   sajakku

  sajakku

    sajakku

lahir

lahir

lahir

dari pacarku

       pacarku

       pacarku

Atau yang lain-lain, yang Saudara ketahui sendiri dapat Saudara tulis seratus ekor dalam sehari.

Saudara sudah memberontak, maka Saudara menjadi pahlawan. Dan yang lebih menguntungkan lagi: Saudara mempunyai banyak pengikut. Memang lebih mudah meniru tulisan asal jadi daripada meniru tulisan jadi.

Dan Saudara tidak usah sulit-sulit mencari penerbit. Angkatlah diri Saudara sendiri menjadi penerbit, tentu saja penerbit kampungan. Bukankah ongkos menerbitkan sekarang murah, apalagi stensilan? Dan Saudara dapat mencantumkan apa-apa yang hebat mengenai Saudara sendiri. Sebagai penyair, redaksi, dan penerbit sekaligus, tentu Saudara menjadi penguasa tunggal mengenai apa yang akan Saudara katakan mengenai diri Saudara sendiri. Ambillah misal: “Ada suatu tarikan kuat dalam diri saya untuk menulis sajak, dan jadilah saya penyair,” atau lain-lainnya yang kedengarannya hebat. Jangan lupa cantumkan potret Saudara dalam penerbitan Saudara. Untuk menunjukkan Saudara seniman, tentu saja dalam potret Saudara harus gondrong, dan timbulkan kesan seolah-olah Saudara tidak pernah mandi. Jangan lupa kerutkan jidat, agar Saudara nampak betul-betul sebagai pemikir. Ada baiknya Saudara berpose di hadapan sederetan buku tebal dan besar. Dan Saudara tentu akan mendapat pengikut.

Jangan tanggung-tanggung. Dan jangan Saudara berpayah-payah menulis cerpen, apalagi novel. Kalau Saudara dapat menulis sajak seratus ekor satu hari, mengapa Saudara harus menulis cerpen sepuluh hari satu atau novel satu tahun satu? Saudara akan kehilangan waktu sebelum orang tahu Saudara seorang pemberontak. Rugi. Memang kerja enteng lebih enak daripada kerja berat.

Pernahkah Saudara mendengar pendapat novelis William Faulkner? Dalam wawancara dengan Jean Stein vanden Heuvel berkatalah dia: “Kita semua gagal untuk mencapai impian kita mengenai karya yang sempurna. Maka rata-rata kita berada pada kegagalan indah untuk mengerjakan sesuatu yang tidak mungkin terjangkau. Kalau saya dapat menulis karya-karya saya kembali, demikianlah pendapat saya, saya yakin saya dapat menulisnya kembali dengan lebih baik. Inilah keadaan yang paling sehat bagi seorang seniman. Maka seorang seniman terus bekerja, berusaha lagi. Seorang seniman percaya bahwa setiap kali dia berusaha lagi dia akan berhasil. Namun dia tidak akan berhasil, dan keadaan ini justru sehat. Sekali dia mencapai kesempurnaan, sekali dia mencapai image kesempurnaan, mencapai impian yang diangan-angankan, tidak ada sesuatu pun yang tersisa baginya. Apa yang dapat dilakukannya adalah memotong leher, meloncat dari sisi lain puncak kesempurnaan ke bawah, bunuh diri” (baca: Language and Ideas, Little, Brown and Company, Boston, 1962). Nasihat ini, kalau boleh dipandang sebagai nasihat, hanya ditujukan kepada mereka yang suka bekerja keras karena mereka tidak pernah puas dengan kerja mereka. Hanya kepada mereka yang menganggap sastra sebagai sesuatu yang seriuslah nasihat ini diberikan.

Menulis esei? Tentu Saudara bisa, asal mau. Jangan kuatir. Yang penting bagi seorang eseis atau kritikus hanyalah kelihatan pandai. Untuk kelihatan pandai Saudara dapat menempuh jalan cepat. Bukankah kita mempunyai kebudayaan ingin cepat mendadak, asal jangan sakit mendadak atau melarat mendadak? Saudara tidak perlu heran mengetahui bahwa sulap sudah diangkat menjadi saudara kandung sastra. Untuk kelihatan pandai Saudara bisa main sulap. Buatlah esei dengan kutipan dari sini situ, dari pengarang ini itu. Kalau perlu premis esei Saudara pun dapat Saudara mulai dengan kutipan entah dari mana, yang dapat memberi kesan bahwa Saudara pandai. Maka Saudara pun dapat menulis: “Kalau Goethe mengatakan bahwa kreativitas berpangkal pada hati dan Racine mengatakan bahwa intelektualisme berpangkal pada otak, maka hati dan otak kita jumpai sekaligus dalam sajak ini.” Atau yang lain-lain yang lebih hebat. Maka Saudara tidak perlu merasa menipu karena memang Saudara menipu. Atau Saudara pun dapat mengutip dari sana sini yang memang benar-benar pernah diucapkan oleh orang ini dan itu, tapi lupakanlah konteksnya. Saudara tidak perlu merasa mengecoh, karena memang Saudara mengecoh. Saudara tidak perlu merasa pandir, karena Saudara kelihatan pandai. Dan membaca banyak tidak mempercepat Saudara mengetahui sesuatu. Membaca sedikit di sini sedikit di sana, melompat ke sini dan melompat ke sana, tentu lebih menyenangkan karena dengan mendadak Saudara tahu banyak.

Tentu saja Saudara tidak perlu menulis esei mengenai novel. Novel tidak akrab dengan kekebalan tafsiran, maka novel tidak bersahabat dengan kebudayaan ingin menjadi mendadak. Pergunakanlah motto terkenal “puisi adalah subyektif”. Maka Saudara tidak akan kelihatan menipu, mengecoh atau pandir, karena apa pun yang Saudara katakan dapat kelihatan benar, dan apa pun yang Saudara lakukan membuat Saudara kelihatan pandai. Saudara tidak perlu heran mengapa puisi sekaligus aib dan terhormat: lowongan penulis sajak dan kritikus sajak tidak pernah ada, dan lowongan penulis novel dan kritikus novel tidak pernah terisi, sajak-sajak buruk dikutip-kutip, novel-novel baik dibiarkan.

Jangan beri maaf kepada novel-novel buruk, karena memang kebanyakan novel Indonesia buruk. Ada novel pemenang hadiah yang tidak lain dan tidak bukan novel-novelan, ada novel pemenang hadiah yang membuat geram pembaca karena pengarangnya terlalu banyak geram memprotes, ada novel pemenang hadiah yang tidak menyebabkan pembaca lebih pandai meskipun sekian halaman dipergunakan oleh pengarangnya untuk berdebat dan memberi nasihat. Tidak mengherankan apabila dalam novel-novel Indonesia ada kata-kata yang kira-kira begini: “Dengan perasaan geram dan tangan gemetar Samiun berkata, ‘Hidup tidak untuk itu. Tidak! Tidak! Tidak!, lalu Kirana menjawab dengan senyum mencibir, ‘Mengapa tidak? Apa guna kita hidup? Bukankah hidup untuk merenung dan bertindak? Bukankah itu kewajiban kita?”

Meskipun demikian novel-novel Indonesia berada dalam keadaan aman dan tentram: tidak kelihatan buruk karena tidak dibaca, tidak kelihatan buruk karena tidak diperhatikan. Lebih baik membongkar-bongkar sajak, kalau perlu membongkar satu sajak dalam seratus tulisan yang berbeda, kalau perlu yang berlawanan. Bukankah puisi subyektif? Dan keballah barang saiapa yang membongkar-bongkar puisi.

Tapi tunggu dulu: jalan ke Roma bukan hanya satu. Dan Saudara bukannya seratus persen goblok. Saudara tahu novel pun banyak mempunyai peluang untuk dibongkar-bongkar teori. Maka Saudara boleh kutip teori ini teori itu, tanpa perlu mengeluarkan banyak pendapat. Kutiplah pendapat kritikus Barat bernama Badrigun mengenai alur, pendapat kritikus Barat lainnya bernama Roberto de Kripat-Kriput mengenai tokoh. Kutiplah pendapat mereka sepanjang mungkin, lalu kutiplah beberapa cuplikan novel yang Saudara bicarakan, lalu katakanlah secara singkat saja: “Maka nyatalah bahwa pengarang novel ini berhasil sekali menggarap alur, latar, dan tokohnya dengan baik.” Sekali lagi: kutiplah teori-teori itu sepanjang mungkin, lalu tempelkanlah bagian-bagian novel ini pada teori-teori tersebut, dan jangan sekali-kali Saudara terlalu panjang mengeluarkan pendapat Saudara sendiri. Ingat: sarung yang terlalu besar menjadi kedodoran, demikian juga pendapat Saudara yang sedikit terlalu panjang. Dan awas: kutip teori-teori orang-orang Barat saja, biar Saudara kelihatan mampu berbahasa asing, meskipun sumber Saudara yang sebenarnya hanyalah diktat yang disusun oleh orang-orang yang lebih pandai menafsirkan daripada berbahasa asing. Maka dalam hati Saudara dapat bertempek-sorak: “Hidup saya!”

Kalau Saudara ingin nampak terpelajar, tentunya akal Saudara tidak hanya berhenti di situ. Saudara dapat membuat daftar berapa kali pengarang dalam novel yang Saudara bongkar mempergunakan kata “terompah”, “sandal-jepit”, “tusuk-gigi”, “kaos singlet”, dan “celana kolor”. Lalu Saudara membuat matriks, diagram, gambar kotak-kotak, lingkaran-lingkaran, dan tanda-tanda panah, yang saudara sendiri ketahui tidak ada gunanya kecuali untuk gagah-gagahan.

Otak memang tidak perlu dipelajari dalam kebudayaan ingin cepat mendadak, cukuplah bayang-bayangnya. The beatles gondrong, maka Saudara harus gondrong meskipun tidak harus main musik. Guy de Maupassant menderita sipilis sampai mati, dan Saudara harus main-main perempuan meskipun dalam menulis Saudara juga main-main. Rendra pergi ke pantai membaca puisi, maka Saudara pun harus pergi ke pantai kalau Saudara ingin tahu puisi.

Dan jangan lupa: makin banyak Saudara mempergunakan kata-kata kotor makin baik, karena dengan demikian makin nampak Saudara berani, jujur, dan terbuka.

Memang kepandiran masih merajalela.(*)

*) Budi Darma lahir di Rembang, Jawa Tengah, 25 April 1937. Meraih M.A. dan Ph.D. di Indiana University, Bloomington, Amerika Serikat. Novelis yang pernah menjadi rektor IKIP Surabaya ini meraih SEA White Award pada 1984. Karya-karyanya: Orang-orang Bloomingon (1980); Solilokui (1983); Olenka (1983; pemenang pertama Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta 1980 dan Hadiah Sastra Dewan Kesenian Jakarta 19830; Sejumlah Esai Sastra (1984); Refilus (1988); Harmonium (1995); Ny Talis (1996). Cerpennya, “Derabat”, terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas 1999 dan dipublikasikan pada buku berjudul sama.

Sumber: Budi Darma, Solilokui, PR Gramedia, Jakarta, 1983.

Continue Reading
Advertisement

COLUMN & IDEAS

Panduan Menjadi Absurdis

mm

Published

on

Oleh Sabiq Carebesth

Camus tidak dalam rangka melakukan pengadilan pengatahuan mau pun metode perolehan pengetahuan untuk membangun filsafatnya. Lain dari umumnya karakter filsafat (barat) modern yang terus bertumpu pada kritik dan dialektika, katakan seperti istilah dipakai penulis Argentina Jorge Luis Borges, bahwa setiap pengarang memiliki pendahulunya sendiri—Albert Camus menempatkan kritik dan uji materi pengetahuan para pendahulunya hanya pada batas ia menemukan contoh sekaligus penyangkalan yang mungkin baginya untuk menerangkan ihwal absurditas.

Hal itu dimulai dari keyakinan tentang abusrditas itu sendiri—bahwa Camus sama ambigunya dalam menempatkan posisi dirinya; di satu sisi ia adalah penggagas dan pengujar genuine gagasan absurd, di satu sisi ia mengambil jarak dari kerangka absurditas yang dibangunnya untuk memastikan ia keluar sebagai pemenang tunggal; sebagai abusurdis sesungguhnya—keyakinannya itu bertumpu pada dua fakta pokok tentang absurditas yaitu: ambiguitas-paradoks dan keseimbangan untuk berdiri-di antara.

Ambiguitas yang sekilugus inheren dalam paradoksalnya itu adalah pandangannya bahwa absurditas tidak terletak pada salah satu faktor antara manusia dengan rasionalitasnya atau dunia dengan bobot kemustahilannya yang sukar diterima oleh penalaran logis rasionalitas manusia.

Abusrditas berada pada batas keduanya dan bukan pada salah satunya. Sehingga tidak tepat untuk misalnya bertanya “yang absurd manusianya; atau dunia?” dalam pengandaian itu Camus telah menempatkan waktu sebagai yang kini dan di sini, waktu yang hadir dan siap dihadapi sebagai yang semata-mata konkrit, tidak ada kemungkinan nanti dan apa saja yang menarik ke dalam ketidaktahuan untuk dipahami nalar rasional sebagaimana hal itu telah berganti wilayah ke dalam waktu yang mistis dan transenden. Tak soal apakah orang menyebut hal itu agama, Tuhan, harapan, atau semacam itu. Ia hanya menyadari kemungkinan untuk melibati waktu yang kini dan di sini; yang datang untuk memintanya merangkul keseluruhannya termasuk bahwa ketidakmungkinan untuk memahami semuanya adalah realitas itu sendiri dan manusia tidak sebaiknya menyerah pada batas semacam itu, sebaliknya ia mesti memberontak—dengan apa caranya dan batas pengertiannya akan saya bahas lebih pada artikel lain—tetapi sementara untuk dikatakan bahwa pemberontakan itu adalah satu-satunya kemungkinan yang menempatkan eksistensi manusia pada dirinya sendiri dan dirinya sendiri itulah dengan segala kemungkinan tindakan yang bisa membuatnya terlibat di antara rasionalitasnya dan dunia yang mengutuknya, sebagai satu-satunya realitas. Dan demikianlah ia menerimanya sebagai suatu bentuk pemberontakan. Pemberontakan dengan mengatakan “ya” pada segala yang datang kini di sini dan untuk sekarang merupakan satu-satunya cara mengada yang mungkin dan bisa dibenarkan dalam nalar absurditas yang dibangun oleh Camus.

Nalar absurditas Camus ditegakkan dengan keseimbangan manusia untuk tidak perlu terburu-buru atau malah tidak perlu sama sekali mengambil kesimpulan, penegasan, nafsu menerangkan dan ihwal pemuncakan semacam itu sebagaimana hasrat pada penganut Hegelian untuk menemukan keutuhan atas semua seolah lompatan-lompatan kemungkinan realitas bisa ditakar secara anonim. Bahwa jika suatu menemukan faktor pendorongnya ia otomatis melompat ke sesuatu yang berbeda dengan pada saat sama mengugurkan kemungkinan sebelumnya dan kebaruan akan sampai pada puncak realitas utuh yang bentuknya—hanya menunggu dipenuhi oleh penemuan faktor-faktor penggeraknya.

Keseimbangan untuk tetap berada di dalam paradoks dan karenanya memunculkan realitas diri yang ambigu yang dijadikan pondasi membangun kerangka absurditas ala Camus, olehnya dimaknai sebagai hukuman—terkadang—tetapi pada saat bersamaan juga seperti berkah. Dinamika absurdis ditandai oleh kemampuan konsistensinya untuk menerima ambiguitas semacam itu, bahwa memang demikianlah dunia tetapi tidak demikian, soliter sekaligus solider, dan lagi pula, apa yang didapat dari upaya terburu-buru untuk menyimpulkan atau untuk memahamkan diri tentang realitas jika ternyata; realitas itu tak memiliki kesimpulan untuk dimaknai dan dicarikan alternatifnya kecuali di sini, sekarang dan sebagaimana ia melingkupi manusia dalam penalaran rasional seklaigus kemustahilannya.

Pada kerangka upaya pemaknaan filsafati Kierkegerad dan Leon Chestov kita akan menemukan bagaimana Camus menguji kerangka absurditasnya. Tetapi sebagaimana dikatakannya sendiri, itu hanya pada tahapan untuk mengatakan dan menemukan tentang prinsip-prinsip paradoksal dan keseimbangan yang dituntut dari absurdis sejati, dan baik Kierkegerad mau pun Leon Chestov menunjukkan kegagalannya—terutama karena nafsu keduanya untuk membuat kesimpulan akhir sebagai upaya penjelas pemikiran akan makna kehidupan.

Pada Kierkegerad kegagalan ditunjukkan Camus oleh kepastian akhir Kierkegerad untuk justeru di titik ia mendapati dunia ini absurd dan penalaran atasnya runtuh, ia justeru menemukan dan membebankan pada salah satu faktornya yaitu kehidupan itu sendiri. Sehingga kepasrahan harus dihadirkan karena ketidaksampain nalar memahami kekosongan makna kehidupan. Dan penyerahan pada kekosongan menempatkannya pada bentuk final transendensi iman Kristiani yang dianutnya.

Sementara pada Chestov Camus menunjukkan betapa filsuf Rusia itu hampir saja menjadi absurdis sejati, tetapi ia terjebak justeru di titik di mana seperti kata Camus sendiri “Ketika Chestov mencurahkan seluruh nafsunya untuk membuyarkan rasionalisme Spinoza dan betapa kesal ia pada Hegel, ia Justeru menarik kesimpulan mengenai kesia-siaan segala nalar. Ia melakukan pembalikan yang wajar tetapi tidak sah, ia kembali ke keunggulan hal irasional—dan katakanlah ia menjadi amat bersemangat menyanggah rasionalisme Aristotelian.”

Born November 7th, 1913 in Algeria son of French ‘pied-noir’ settlers Camus grew up in poverty in the proletarian neighbourhood of Belcourt in Algiers. His natural talent was spotted by teacher Louis Germain who helped the young Camus win a high school scholarship. Camus would later dedicate his 1957 Nobel Prize acceptance speech to Germain. While at school Camus developed a love of football and played well in goal. He wanted to play professionally but tuberculosis, a disease that would plague him for life, ended these dreams.

Maka demikianlah bahwa Leon Chestov yang hampir saja, dengan keyakinan pada awal pemikirannya bahwa “nalar tidak ada gunanya, tetapi ada sesuatu nun di luar nalar. Bagi jiwa absurd, nalar adalah sia-sia, dan di luar nalar tidak ada sesuatu apa pun.” Bagi Camus persepsi semacam itu bisa dibenarkan dalam membangun logika absurd, sedikit lagi adalah hakikat absurd. Bahwa bagi Camus sendiri “absurditas hanya mempunyai nilai dalam suatu keseimbangan, absurditas terutama berada dalam perbandingan dan sama sekali bukan dalam masing-masing dari unsur perbandingan itu”.

Namun Chestov justeru meletakkan seluruh bobot absurditas pada salah satu unsurnya dan menghancurkan keseimbangannya. Kehauasan untuk mengerti, kerinduan pada yang mutlak, hasrat membuat segalanya menjadi jelas—padahal kita telah tahu hal semacam itu mustahil; nalar selalu efektif tapi pada saat sama irasionalitas senantiasa muncul kembali. Dan hasrat besar untuk menjelaskan dengan mutlak yang dilakukan Chestov maunpun Kierkegerad telah menempatkan keduanya dalam kacamata seorang juri yaitu Camus sendiri dengan buku pedoman “menjadi absurdis sejati” di tangannya—dan keduanya gagal menjadi seorang absurdis sejati.

Tetapi sementara ini penting untuk menutup artikel ini dengan kutipan dari Camus sendiri tentang buku pedoman yang dipegangnya: “Dapat saja dikira bahwa di sini saya mengabaikan masalahnya yang hakiki, yakni masalah iman. Tetapi saya tidak menelaah filsafat Kierkegerad, Chestov, atau lebih jauh lagi Husserl; saya hanya  meminjam sebuah tema dari mereka, dan saya menelaah apakah akibat-akibatnya sesuai dengan kaidah-kaidah yang sudah ditentukan di depan (bunuh diri filosofis). Masalahnya hanyalah bertahan pada satu persoalan.

Apa persoalan terpenting dalam filsafat makna dalam gagasan Camus? Anda tentu sudah mendengarnya. (*)

Jakarta, 18 Mei 2020

Continue Reading

COLUMN & IDEAS

Mewarisi Buku

mm

Published

on

Sharjah Children’s Book Illustration Exhibition / Getty Image / https://publishingperspectives.com/

Oleh Setyaningsih—Esais, penulis buku Kitab Cerita (2019)

Ada yang agak janggal. Romantisasi bacaan anak yang dipermasalahkan oleh Anindita S. Thayf dalam esai “Bacaan Anak dan Kenangan” di rubrik Saujana, Jawa Pos, 12 Januari 2020, ternyata berawal dari rebutan saluran televisi antara anak dan ibu di ruang tunggu klinik gigi. Anak merengek karena tidak suka tayangan Laptop Si Unyil yang tokoh bonekanya jelek dan mulutnya tidak bergerak. Ibu menolak mengganti saluran dengan alasan tayangan inilah yang ditonton ibu waktu kecil. Dari kejadian ini, Anindita melihat bahwa orangtua memaksakan pilihan pada anak, termasuk pilihan buku. Orangtua merasa berhak “menjejalkan” apa yang dulu dibaca, masih “harus” dibaca anaknya saat ini, padahal zaman berubah. 

Anidita tidak jeli membedakan Unyil bagi ibu yang sangat mungkin hadir dalam film seri Si Unyil, ikonciptaan Suyadi atau Pak Raden dengan Unyil di acara Laptop Si Unyil yang hanya menjadi semacam pembawa acara. Unyil tidak hadir dalam bentuk cerita tapi ikon telah beralih peran. Anindita juga hanya mencontohkan sedikit buku “warisan”, seperti Lima Sekawan dan Trio Detektif (tanpa menyebutkan nama penulis) dan novel garapan Lewis Carol atau Astrid Lindgren serta dongeng H.C. Andersen (tanpa mencontohkan atau menyebut judul cerita). Tapi suatu kenyataan lumrah memang bahwa di ruang-ruang anak berada, buku masih jarang dipilih sebagai kejutan, hadiah, teman di kala menunggu.   

Saya teringat kejadian merayakan Bulan Bahasa di PAUD Tenera, Bengkulu Utara, pada Oktober 2017. Suatu pagi, anak-anak berkumpul di aula bundar yang terang. Saya dan teman-teman menyiapkan buku untuk dibacakan kepada anak-anak. Kami memilih buku Seribu Kucing untuk Kakek garapan Suyadi atau Pak Raden, diterbitkan ulang oleh penerbit Noura pada 2017. Edisi awal buku diterbitkan oleh Djambatan pada 1974. Jelas ada rentang waktu yang jauh dari kelahiran buku dan anak-anak PAUD Tenera. Mereka pasti tidak mengenal Pak Raden berkumis dan bersuara khas juga. 

Justru cerita disambut dengan mata lugu tapi berbinar. Ada anak menyimak dengan serius sampai melongo, tertawa di bagian yang lucu, dan tentu anak-anak biasanya menyukai kucing. Bukan karena usia cerita sudah tua, cerita sanggup membawa apa yang dekat dengan anak meski penulisnya tiada dan waktu terus maju. Meski ilustrasi garapan Pak Raden tampil hitam putih, goresannya tegas dan menyiratkan setiap adegan dengan pas. Cerita yang awet mampu membawa apa yang pantas disampaikan ke anak-anak: kejutan, kedekatan, kelucuan, penuturan tanpa beban moralitas.

Bukan Mewarisi Persepsi

Dalam jagat perbukuan, ada cerita-cerita yang seolah ditakdirkan diwariskan. Hal ini, cukup sering menyangkut biografi orangtua sebagai pembaca di masa kanak ataupun tidak lagi kanak. Bahkan ada kesengajaan orangtua merekomendasikan ke penerbit, seperti disampaikan oleh penerbit buku bacaan anak berjudul Gembira garapan A.S. Maxwell yang pada 1977 mengalami cetak ulang kesembilan, “Generasi yang terdahulu telah dewasa, namun masih banyak dari antara mereka yang mengingat buku ini dan kisah-kisah yang terdapat di dalamnya. Dari antara mereka itu banyak yang sudah berkeluarga dan ingin mengisahkan apa yang telah dibaca mereka puluhan tahun yang lalu [….] Mereka menganjurkan supaya buku ini dicetak kembali dan anak-anak mereka dapat membacanya.” Buku Gembira memuat cerita tentang dunia anak, keluarga, binatang, lagu, alat transportasi, cita-cita, dan lain-lain. Buku diminta lahir kembali untuk mengiringi anak-anak bertumbuh. Sangat mungkin, orangtua yang pernah anak ini dulu dikenalkan dengan buku Gembira juga lewat “kenangan” orangtua dan merasa tidak terjejali.

Para pembaca Indonesia tentu turut menjadi masyarakat buku panjang umur. Buku terus dirayakan kelahirannya meski penulis tidak lagi di dunia. Buku disambut pembaca terus berganti. Kita masih bisa mendapati novel ala A Little Princess (2015) yang terbit pertama pada 1904 oleh Frances Hodgson Burnett atau Anne of Green Gables (2017) garapan Lucy Maud Montgomery yang pertama ditulis pada 1908. Pippi Si Kaus Kaki Panjang (2018) diterbitkan pada 1945 oleh Astrid Lindgren masih tetap mewakili naluri anak-anak untuk bebas, usil, dan banyak ide. Cerita predikat klasik masih tetap terbaca hari ini.

Dan dalam biografi keluarga, orangtua memang berkuasa atas politik belanja karena merekalah yang punya modal secara ekonomi. Neil Postman (2009) mengatakan buku menawarkan misteri-misteri kognitif. Sejak penemuan mesin cetak di Barat dan juga berarti penemuan atau penciptaan sikap khusus atas masa kanak, buku menjadi salah satu media penting pengajaran. Anak adalah sosok yang “berbeda” dari orang dewasa, maka ada kebutuhan tertentu disiapkan. Ide tentang masa kanak memang diawali oleh kelas menengah yang terutama memiliki modal ekonomi dan menjadikan mereka terhormat secara sosial. Dikatakan, “Dalam mengatakan apa yang kita harapkan dari seorang anak nantinya, kita mengatakan siapa kita.” Sedang yang terjadi saat ini, kuasa membelikan buku masih diutamakan untuk buku pelajaran atau buku tulis.

Orangtua adalah penjejal buku wajib administratif bagi anak-anaknya. Sering asupan gizi buku imajinatif tidak diberikan karena ada orangtua benar-benar tidak tahu apa yang akan dirayukan kepada anak. Kenangan saja tidak punya lho! Negara pun turut campur mengadakan hal-hal yang semakin meremehkan pengalaman orangtua berbuku, entah gerakan 10 menit membacakan buku, mendongeng, atau Gerakan Nasional Orang Tua Membacakan Buku (Gernas Baku). Orangtua harus diperintah-perintah terus agar sadar menjadi masyarakat lumrah huruf.

Kenangan memang bisa saja sentimental dalam pewarisan cerita. Yang menjadi kunci, mewariskan kenangan buku bukan berarti mewariskan persepsi orangtua atas buku. Ini bukan soal bagus-tidak bagus dan anak harus menyepakatinya. Anak pasti memiliki cara tanggap berbeda dari orangtua atas apa yang dulu dibaca orangtua. Masih ada orangtua yang takut jika anak berani berpendapat berbeda.

Saya tentu menyepakati bahwa “anak-anak yang paling tahu cara menemukan kesenangan murni dalam sebuah buku.” Tapi untuk sampai pada kesenangan murni itu, anak juga perlu digoda, diajak bicara, diajak berdialog-belanja di toko buku atau pasar buku bekas, dan diajak penasaran. Orangtua mesti berusaha menjadi penggoda buku berbekal kenangan-kenangan di rasa dan kepala. (*)  

Continue Reading

COLUMN & IDEAS

Terbang dan Hinggap

mm

Published

on

Bandung Mawardi, Esais. Penulis Dahulu: Mereka dan Puisi (2020)

Hanna Heath, tokoh dalam novel berjudul People of the Book (2015) gubahan Geraldine Brooks. Pakar buku kuno atau ia memilih sebutan konservator untuk buku-buku berusia ratusan tahun bakal bergulat dengan seribu penasaran saat mengurusi naskah. Sekian hal perlahan terjawab tapi ada sisa-sisa sulit terjawab. Mustahil. Kerja di bentangan waktu tanpa ada tanda-tanda jelas untuk selesai atau sampai. Sekian hal dipelajari dan dipahami. Sekian hal harus diajukan ke orang-orang memiliki kepakaran. Di hadapan buku kuno, ia bukan pelamun tapi pencari jawaban-jawaban secuil, setengah, utuh, atau berantakan.

Ia pun wajib mengerti binatang dan geografi. Pada kitab-kitab kuno, binatang adalah unsur, tak cuma kulit-penjilidan. Keberadaan naskah atau kitab terbaca dan tersimpan memungkinkan disinggahi binatang-binatang kecil: tampak atau sulit terlihat mata. Hal-hal mengejutkan lazim mengiringi kesejarahan naskah kuno, melintasi waktu dan berpindah tempat. Benda itu disentuh, dipegang, dibuka sekian orang memiliki beragam misi. Cara membaca kitab dan posisi raga pembaca di suatu tempat turut menentukan “keterlibatan” atau “kehadiran” sekian binatang. Hanna Heath memastikan ada sekian binatang. Kutu buku itu tentu.

Pada suatu penasaran, Hanna Heath menemui Amalie Sutter. Tokoh tekun melakukan studi biologi evolusioner. Kedatangan Hanna Heath untuk “pemastian” sisa atau jejak binatang terdapat di naskah kuno. Mereka berada di laboratorium dan bercakap. Imajinasi menggenapi temuan-temuan melalui tata cara ilmiah. Keseriusan mengarah ke kupu-kupu meski “sejenak” diragukan. Laci ditarik Amalie Sutter dipandangi bersama Hanna Heath. Di situ, tatanan rapi kupu-kupu “dikekalkan”. Geraldine Brooks membahasakan: “Kupu-kupu itu cantik dalam cara yang halus dan lirih.” Dua orang memandangi kupu-kupu di raihan jawaban, melampaui takjub dan pengetahuan sudah termiliki.

Amalie berkata: “Bukan kupu-kupu paling semarak di dunia, dari segi apa pun. Tapi digandrungi kolektor. Mungkin, karena mendapatkannya harus mendaki gunung dulu.” Kupu-kupu itu hidup di pegunungan tinggi, di tempat terjal berbatu. Hanna Heath belum pasti menerima itu jawaban untuk jejak binatang di naskah kuno. Arah ke pembuktian terdengar dari omongan Amalie: “Naskahmu itu, Hanna, apakah pernah menempuh perjalanan ke Pegunungan Alpen?” Jawaban tak mudah. Kitab atau naskah kuno biasa bergerak ke pelbagai tempat di hitungan waktu ratusan tahun dan peristiwa-peristiwa sebagai album sejarah. Kita tak mengikuti ikhtiar mereka menjawab dan membuktikan. Kita menandai saja ada ingatan buku dan kupu-kupu di Eropa. Novel itu rumit. Kita membaca perlahan tanpa memiliki jeda lama untuk berimajinasi dan “memandangi” kupu-kupu. Edisi memberi pujian “tertutupi” oleh sekian persekongkolan berpusat pada naskah kuno.

Kita tinggalkan kupu-kupu di novel gubahan peraih Pulitzer Prize. Kita ingin bersahaja dengan menikmati kupu-kupu di Indonesia. Menikmati dalam puisi. Kupu-kupu itu berada di buku berjudul Batu Ibu (2019) garapan Warih Wisatsana. Di puisi berjudul “Tarianmu”, kita di alur imajinasi kupu-kupu: Bayangkan/ panggung ini sebuah taman/ seekor ulat pucat/ menjelma kupu-kupu/ menjelma dirimu/ melayang anggun seringan angin. Kupu-kupu itu metafora. Pembaca memasuki cerita tubuh dan tari. Pengimajinasian ke babak-babak perubahan, menempatkan kupu-kupu pada “kemenjadian” dan “ibarat”.

Pada dua bait menjelang akhir puisi, terbaca: Kelak semusim semi lagi/ kupu-kupu akan menghampiri/ setelah letih merenungi/ wangi diri yang pergi// Kupu-kupu melepas sayapnya/ seolah ruh pasrah/ berpisah dari tubuh/ melayang bening di udara/ menyentuh luluh mula cahaya/ menyempurnakan yang mahatiada. Puisi ingin bermisteri, menuntun pembaca ke lakon manusia dan tari dalam kesakralan dan penafsiran raga. Puisi bersahaja, mengisahkan kupu-kupu di “tarian”. Kupu-kupu bukan terpokok tapi menetapkan petunjuk. Kita tentu tak cukup dengan sebuah puisi bila ingin mengerti kupu-kupu.

Pada masa lalu, Nusantara menjadi tempat pilihan bagi orang-orang asing mencari dan menulis kupu-kupu. Wallace datang dari negara jauh. Pengembaraan ke hutan-hutan, menemu tetumbuhan dan binatang. Ia terpukau kupu-kupu. Ia melihat sebagai “ilmuwan”, bukan pujangga. Wallace memiliki pengalaman membaca sastra, termasuk novel berjudul Max Havelaar. Kedatangan ke Nusantara tak bermaksud menggubah puisi atau novel tapi mengerti “asal” dan album “sejarah” terbaca dari flora-fauna. Ia memilih menulis surat-surat dikirimkan ke Eropa. Ia pun mengirim surat ke Darwin. Wallace menulis buku “pengetahuan” dalam bentuk laporan berselera sastra. Kita “ahli waris” diperkenankan menengok Nusantara masa lalu dengan membaca halaman-halaman tentang kupu-kupu. Binatang tercatat dan terjelaskan dalam buku berjudul Kepulauan Nusantara: Kisah Perjalanan, Kajian Manusia dan Alam (Komunoitas Bambu, 2019) susunan Alfred Russel Wallace.

Pada pengembaraan di Sumatra, 1861-1862, ia bahagia bertemu kupu-kupu. Di Lobo Raman, ia salah jadwal kunjungan tapi ditebus dengan pencarian dan pencatatan kupu-kupu. Wallace menulis: “Saya banyak menemukan kupu-kupu yang langka dan indah.” Lekaslah ia mencatat rinci, bukan menata kata menjadi puisi! Kallima paralekta, jenis kupu-kupu diinginkan tapi sulit ditangkap. Ia telah mendapat sekian kupu-kupu tapi ada kegagalan mendapat kupu-kupu “dikagumi”. Pengakuan Wallace: “Saya sering mengendap-endap ke tempat persembunyiannya, tetapi ia kemudian akan terbang dan menghilang di tempat yang sama. Beberapa kali saya hanya cukup beruntung bisa melihat dengan saksama di tempat kupu-kupu itu hinggap.” Ia mungkin sebal dan gemas. Memandang kupu-kupu, peristiwa masih mungkin membahagiakan. Kita tak hidup di masa lalu. Wallace mengajak kita turut di “pengalaman” memasuki hutan-hutan memiliki khazanah kupu-kupu mustahil semua tercatat dan dikoleksi untuk dipamerkan ke mata Eropa. Di Sulawesi, Wallace juga sibuk berurusan dengan kupu-kupu. Kita mengandaikan Wallace adalah novelis. Kita bakal mendapat warisan novel “menggetarkan”, bercerita kupu-kupu seabad lalu.

Kini, kita menantikan saja ada para pengarang Indonesia menekuni buku garapan Wallace dan melakukan kunjungan-kunjungan ke pelbagai tempat. Mereka melacak dan melakukan pembuktian mengacu data-data Wallace. Pengalaman dan pengembaraan bertema kupu-kupu mungkin menjadi seratusan puisi dan novel-novel penting. Gubahan sastra itu “bekal” melakukan penginsafan atas perdagangan kupu-kupu. Di lagu, kupu-kupu itu masih merdu untuk mengasuh bocah: “Kupu-kupu yang lucu, ke mana engkau terbang…” Kini, kita masih kekurangan puisi, cerita pendek, dan novel untuk bercerita nasib kupu-kupu di Indonesia, dari masa ke masa.

Kita membaca National Geographic-Indonesia edisi September 2018, memiliki judul utama: “Penangkapan Kupu-kupu: Keruhnya Perdagangan si Sayap Elok Nusantara.” Matthew Teague menulis laporan kemolekan kupu-kupu di Sulawesi dan nasib sial ditanggung kupu-kupu akibat perdagangan demi nafkah. Ia mengingatkan: “Peraturan Indonesia yang mengatur penangkapan, penjualan, dan ekspor kupu-kupu, rumit dan penuh pengecualian. Hal ini memungkinkan spesies yang terancam punah dibiakkan untuk kepentingan komersial, untuk dibeli dan dijual dalam keadaan tertentu.” Kupu-kupu itu incaran para kolektor di pelbagai negara. Para pengarang di Indonesia belum merasa perlu menjadikan kupu-kupu adalah puisi atau cerita. Mereka belum mau menjadi “kolektor” menghidupkan, tandingan dari pamrih komersial.

Sejak ratusan tahun lalu, orang-orang Eropa bersaing memiliki predikat sebagai kolektor kupu-kupu. Orang-orang Jepang juga memiliki perhatian serius mengoleksi kupu-kupu. Pasar kupu-kupu terus membesar dan bergerak menjauh dari “pesona-pesona” masa lalu saat kupu-kupu itu “mengindahkan” Nusantara. Kita juga diingatkan dengan ketekunan Vladimir Nabokov dalam “berburu” kupu-kupu meski tak menghasilkan novel memukau terbaca oleh umat sastra di dunia. Kita menunggu saja kemunculan pengarang Indonesia serius bercerita kupu-kupu.  Begitu.

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending