Connect with us

Inspirasi

“Birdman” dan Generasi Emas Oscar

mm

Published

on

Berakhir sudah persaingan sengit di antara dua film yang diunggulkan banyak pihak sejak sepekan terakhir, yaitu Birdman dan Boyhood. Persaingan itu termasuk rivalitas di antara kedua sutradaranya, Inarritu dan Richard Linklater.

Birdman meraih empat penghargaan Oscar, sedangkan Boyhood hanya membawa pulang satu Oscar untuk aktris pendukung terbaik, Patricia Arquette. Prestasi Birdman disamai oleh The Grand Budapest Hotel yang juga meraih empat Oscar, tetapi untuk kategori yang kalah ”prestisius”.

Kemenangan Inarritu membuatnya menjadi orang kedua Meksiko yang meraih Oscar. Sebelumnya, Alfonso Cuaron yang juga berasal dari Meksiko meraih Oscar lewat Gravity. Inarritu, Cuaron, dan Guillermo del Toro adalah tiga sutradara Meksiko yang dijuluki ”Three Amigos”. Mereka dianggap sebagai generasi emas yang berhasil mengangkat pamor industri film Meksiko.

Begitu ketatnya persaingan di antara sejumlah film unggulan terlihat dari perolehan piala Oscar yang merata di setiap film. Tak ada film yang menyapu bersih penghargaan Oscar. Aktor terbaik, misalnya, akhirnya dimenangi Eddie Redmayne (The Theory of Everything) yang bersaing ketat dengan aktor sesama Inggris lainnya, Benedict Cumberbatch (The Imitation Game).

Film Birdman karya sutradara Meksiko, Alejandro G Inarritu, menerima penghargaan Oscar dalam ajang Academy Awards ke-87 sebagai film terbaik, Minggu (22/2) malam, di Los Angeles, Amerika Serikat. Bersamaan dengan itu, Inarritu juga terpilih sebagai sutradara terbaik.

Adapun aktris terbaik dimenangi pemain veteran Julianne Moore (Still Alice) yang memerankan profesor ahli bahasa yang menderita alzheimer. ”Katanya, memenangi Oscar bisa memperpanjang hidup sampai lima tahun. Kalau itu benar, saya berterima kasih kepada dewan juri karena suami saya usianya lebih muda,” ujar Moore, seperti dilaporkan wartawan Kompas, Mohammad Hilmi Faiq, dari Hollywood, Los Angeles.

Pujian juga patut diberikan pada film Whiplash yang merebut tiga Oscar untuk kategori aktor pendukung terbaik (JK Simmons), editing terbaik, dan tata suara terbaik. Film ini bercerita tentang seorang pengajar musik diktator yang mampu mengeluarkan kemampuan terbaik muridnya. Namun, semua anak didiknya mengalami teror mental.

Dibayangi kekecewaan

Penghargaan Oscar kali ini juga dibayangi kekecewaan sejumlah kalangan film karena hampir semua aktor dan aktris yang diunggulkan berkulit putih, sehingga menjadi perbincangan ramai di media sosial dengan tagar #OscarsSoWhite. Salah satu film unggulan yang menceritakan perjuangan aktivis kulit hitam AS, Martin Luther King, Selma, hanya memenangi satu penghargaan untuk kategori lagu terbaik.

Dari film-film yang diunggulkan, terlihat bahwa tema perjuangan individu—baik itu memperjuangkan hak asasi manusia, mengalahkan penyakit yang dideritanya, menguji batas ketahanan mentalnya, maupun menaklukkan ketakutan dalam diri—menjadi pilihan para juri.

Birdman, misalnya, bercerita tentang seorang aktor yang namanya demikian populer berkat permainannya di sebuah film tentang tokoh superhero Birdman, sampai-sampai identitas dirinya sudah diidentikkan dengan sang Birdman. Dua puluh tahun kemudian aktor ini mencoba keluar dari zona nyamannya dengan memproduksi karya panggung. Dan ia menghadapi kenyataan yang serba pahit.

Tengok juga film The Theory of Everything yang berkisah tentang perjuangan ilmuwan Stephen Hawking melawan penyakit ALS yang menderanya. Permainan Redmayne yang gemilang membuat Hawking seperti ”melihat dirinya sendiri” di beberapa adegan dalam film tersebut.

Meriah

Gerimis mengiringi acara penyerahan penghargaan Oscar. Meski demikian, ratusan warga, terutama pelancong, memadati lokasi acara. Penjagaan sangat ketat, tak kurang dari 1.000 petugas keamanan disiagakan di segala penjuru menuju lokasi penganugerahan Oscar. Warga hanya dapat berderet di luar garis di bawah pengawasan ketat petugas. Sebagian tak peduli meski gerimis. ”Saya penasaran dengan para pemenang tahun ini,” kata salah seorang pengunjung, Stephany (31).

Sebagian jalan pada Hall of Fame ditutup sejak dua hari sebelum acara Oscar. Namun, toko-toko yang rata-rata menjual pernak-pernik musik dan film Hollywood masih buka. Saat perhelatan berlangsung, semua toko tutup demi pengamanan jalannya penganugerahan Oscar.

Para sopir taksi yang mengantar tamu undangan mengeluh karena tak bisa dengan cepat sampai tujuan. ”Maaf, jalan ditutup, jadi saya hanya bisa mengantar kira-kira 400 meter dari hotel, selebihnya silakan jalan kaki,” kata Adis Nikogosyam (47), sopir taksi yang ditumpangi Kompas. (AP/AFP) Myrna Ratna, Harian Kompas.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Inspirasi

Joyce Cary: Dari Mana Datangnya Ide Menulis?

mm

Published

on

Seringkali aku tidak mengetahui asal mulanya. Belakangan aku mempunyai pengalaman aneh yang memberiku pandangan sekilas atas prosesnya, sesuatu yang tak pernah kusangka.

Aku sedang berkeliling Manhattan menaiki kapal uap dengan seorang teman dari Amerika, Elizabeth Lawrence dari majalah Harper. Dan aku menyadari seorang gadis duduk sendirian di ujung lain geladak-seorang gadis berusia kira-kira tiga puluh tahun, mengenakan rok yang lusuh. Dia sedang menikmati kesendiriannya. Sebuah ekspresi yang bagus, dengan dahi yang berkerut, kerutan yang banyak sekali. Aku mengatakan pada temanku, “Aku dapat menulis tentang gadis itu—menurutmu dia itu siapa?”

Elizabeth mengatakan bahwa mungkin saja gadis itu seorang guru yang sedang berlibur, dan menanyakanku mengapa aku ingin menulis tentang gadis itu. Aku menjawab sebenarnya aku tak tahu-aku membayangkan gadis itu seorang yang peka dan cerdas, dan mengalami kesulitan karenanya. Mempunyai hidup yang sulit tetapi juga menghasilkan sesuatu darinya. Pada saat-saat seperti itu aku sering membuat catatan. Tapi aku tidak melakukannya—dan aku melupakan seluruh peristiwa itu.

Lalu, kira-kira tiga minggu setelah itu, di San Fransisco, aku bangun di tengah malam, kupikir, dengan sebuah cerita dikepalaku. Aku membuat uraian ceritanya saat itu juga—cerita itu tentang seorang gadis Inggris di negerinya—sebuah dongeng Inggris murni. Hari berikutnya sebuah pertemuan dibatalkan dan aku memiliki sehari penuh yang kosong.

Aku menemukan catatanku dan menuliskan ceritanya-itu adalah peristiwa-peristiwa utama dan sejumlah garis penghubung. Beberapa hari kemudian, di dalam pesawat-waktu yang ideal untuk menulis-aku mulai mengerjakannya, merapikannya, dan aku berpikir, ada apa dengan kerutan-kerutan di wajah itu, itu ketiga kalinya mereka muncul. Dan aku tiba-tiba tersadar bahwa pahlawan Inggrisku adalah gadis di atas kapal Manhattan. Entah bagaimana dia masuk ke dalam alam bawah sadarku, dan muncul kembali dengan sebuah cerita yang utuh.

*) Joyce Cary: Novelis Irlandia

Continue Reading

Inspirasi

Jhon Barth: Bagaimana Saya memulai Menuils?

mm

Published

on

Buku yang berbeda dimulai dengan cara-cara yang berbeda. Aku terkadang berharap bahwa aku semacam penulis yang memulai dengan ketertarikan yang bergairah dengan sesosok karakter dan kemudian, sebagaimana kudengar penulis-penulis lain mengatakan, berikan saja karakter itu sedikit ruang dan lihat apa yang ingin dia lakukan.

Aku bukan penulis semacam itu. Lebih sering aku memulai dengan sebuah bentuk atau wujud, bisa jadi sebuah gambar. Perahu yang mengambang, sebagai contoh, yang menjadi tokoh sentral dalam The Floating Opera, merupakan photo dari sebuah kapal pertunjukkan sesungguhnya yang aku ingat pernah melihatnya saat masih kecil. Namanya ternyata Captain Adams’ Original Unparalleled Floating Opera, dan ketika alam, dengan cara yang tak menyenangkan, menghadiahimu gambar itu, satu-satunya hal mulia yang harus dilakukan adalah menulis sebuah novel tentangnya.

Ini mungkin bukan pendekatan yang paling mulia. Aleksandr Solzhenitsyb, sebagai contoh, hadir dalam media fiksi dengan sebuah tujuan moral yang tinggi; dia ingin, dunia literatur, mencoba untuk mengubah dunia melalui media seperti novel. Aku menghormati dan mengagumi maksud itu, tetapi seringnya seorang penulis besar akan menuliskan novelnya dengan tujuan yang tidak lebih mulia dibandingkan dengan upaya mengecilkan pemerintahan Soviet.

Henry James ingin menulis sebuah buku dalam bentuk sebuah jam pasir. Flaubert ingin menulis sebuah novel tentang nothing. Apa yang kupelajari adalah bahwa keputusan dari inspirasi-inspirasi untuk bernyanyi atau tidak bukan didasarkan pada keluhuran dari tujuan moralmu—mereka akan menyanyi atau tidak, apapun keadaannya.

*) John Barth: Penulis Amerika, dikenal dengan karyanya  “Postmodernist” dan “Metafictional”. 

Continue Reading

Inspirasi

John Ashbery: Menulis Berarti Mengikuti Pergerakan Ide-Ide

mm

Published

on

“Sebenarnya, seringkali saat merevisi; aku akan menghilangkan ide yang merupakan penggagas awalnya. Kukira aku lebih tertarik pada pergerakan di antara ide-ide daripada ide-ide itu sendiri, cara sebuah ide bergerak dari satu titik ke titik yang lain ketimbang tujuannya atau asal mulanya”.

Sebuah ide bisa saja datang padaku, sesuatu yang sangat banal—sebagai contoh, tidakkah aneh rasanya untuk dapat berbicara dan berpikir pada saat yang sama? Itu bisa menjadi ide untuk sebuah puisi. Atau bisa saja kata-kata atau frasa-frasa tertentu menarik perhatianku dengan sebuah makna yang tidak kusadari sebelumnya. Begitu juga, aku sering menyimpan sesuatu yang kudengar orang lain ucapkan, di jalan misalnya.

Sebenarnya, ada sebuah contoh soal itu; di sebuah toko buku aku tak sengaja mendengar seorang bocah laki-laki mengatakan baris terakhir ini pada seorang gadis: “It might give us– what? – some flower soon?”. Aku tidak tahu apa konteksnya, tapi secara tak terduga itu terasa seperti jalan untuk menutup sajakku.

Aku seorang yang yakin pada kebetulan-kebetulan yang tak disengaja. Penutup sajakku yang berjudul “Clepsydra,” dua baris terakhir, datang dari sebuah buku catatan yang kusimpan beberapa tahun sebelumnya, selama kunjungan pertamaku ke Italia. Sesungguhnya aku menulis beberapa sajak selama aku bepergian, yang mana tak biasa kulakukan, tetapi saat itu aku sangat bersemangat atas kunjungan pertamaku disana. Hingga beberapa tahun kemudian, ketika aku sedang berusaha menutup “Clepsydra” dan merasa sangat gugup, aku tiba-tiba saja membuka buku catatan itu dan mememukan kedua baris itu yang telah benar-benar kulupakan; “while morning is still and before the body/ Is changed by the faces of evening.”

Mereka benar-benar apa yang kubutuhkan saat itu. Tapi tak teralu penting seperti apa contoh tunggal ini. Seringkali aku akan mencatat ide-ide dan frasa-frasa, dan kemudian ketika aku siap untuk menulis aku tidak dapat menemukannya. Tapi itu pun tak membuat banyak perbedaan, karena apapun yang muncul pada saat itu akan memiliki kualitas yang sama. Apapun yang ada disana dapat tergantikan. Sebenarnya, seringkali saat merevisi aku akan menghilangkan ide yang merupakan penggagas awalnya. Kukira aku lebih tertarik pada pergerakan di antara ide-ide daripada ide-ide itu sendiri, cara sebuah ide bergerak dari satu titik ke titik yang lain ketimbang tujuannya atau asal mulanya.

*) John Ashbery: Penyair Amerika, meraih hadiah Pulitzer Prize pada 1976

Continue Reading

Classic Prose

Trending