Connect with us

Blog Pembaca

”Birahi Menulis” dan Upaya Meninggalkan Jejak

mm

Published

on

Nilla A. Asrudian*

Terkesan berlebihan? Mungkin saja. Tapi itulah yang terjadi di masa awal kepenulisan saya. Pada tahun 1996, terdapat banyak malam seperti itu. Malam dimana saya mengalami ’birahi menulis’ jika boleh disebut demikian.

Saya menulis karena saya membutuhkannya. Karena saya harus! Itu terjadi setiap kali saya tidak bisa tidur padahal saya telah meringkuk manis di atas kasur. Semakin saya mencoba terpejam dan mengelabui diri bahwa sebentar lagi saya akan tertidur, semakin liar pikiran saya mencari sesuatu yang bisa meredakan amukan perasaan yang mendesak minta dipuaskan.

Sesuatu dalam diri saya pada saat itu meluap-luap, menuntut pembebasan. Maka, ketika malam meninggi dan waktu menitik sangat lambat; ketika tak ada satupun yang saya lakukan terasa benar, itulah pertanda bahwa saya harus mencari pena dan kertas lalu menuangkan kata-kata yang menghambur deras.

Terkesan berlebihan? Mungkin saja. Tapi itulah yang terjadi di masa awal kepenulisan saya. Pada tahun 1996, terdapat banyak malam seperti itu. Malam dimana saya mengalami ’birahi menulis’ jika boleh disebut demikian.

Di masa itu, tulisan bergaya tutur ’norak’ dan alur ngalor-ngidul lahir dari pena saya. Tulisan pertama saya adalah – tentu saja – tentang cinta yang berangkat dari pengalaman pribadi. Kata-kata lahir sendiri, nyaris tak terkendali, sampai tahu-tahu terciptalah cerita pendek sebanyak empat halaman berjudul ”Taman” (belakangan, cerpen ini menjadi pembuka buku ”Warna Cinta(-mu Apa?)).

            Cerpen ini pertama kali dibaca seorang rekan saya di kantor (2001). Reaksinya adalah tertawa mengikik, menggoda saya sambil berteriak ”Oh” atau ”Kejam!” dengan ekspresi dibuat-buat. Saya tidak merasa sakit hati. Pertemanan kami sangat dekat sehingga saya selalu pasrah dan akhirnya ikut mengikik malu-malu setiap kali ia meniru potongan dialog yang menurutnya terlalu dramatis itu.

Mundur enam tahun sebelumnya, saya pun pernah belajar menulis puisi. Berkat sebuah buku tulis berisi puisi karya pacar abang saya yang tergeletak di tempat tidurnya – yang saya ’culik’ sejenak dan salin isinya cepat-cepat – saya belajar membuat puisi cinta dan patah hati (ternyata buku itu diberikan sebagai tanda putus sang pacar kepada abang saya). Itulah pelajaran pertama saya dalam menulis puisi.

Yang menarik, dalam keluarga saya tidak ada tradisi membaca atau menulis yang konon seringkali melahirkan seorang penulis. Awalnya, saya tidak tampak menggilai buku kecuali kenyataan bahwa saat masih kecil, di antara enam bersaudara, sayalah yang paling sering meminjam buku cerita dari perpustakaan sekolah. Hal menarik lainnya, di umur dua puluhan, saya sering menggunting halaman koran yang memuat cerpen yang saya anggap menarik. Saya mengklipingnya, menyimpannya lalu membacanya lagi di kemudian hari.

Walau seringkali melihat cerpen penulis-penulis terkenal dimuat di koran, belum terpikir untuk mencoba peruntungan dengan mengirimkan karya saya sendiri. Di malam “birahi menulis’ datang, saya hanya butuh menulis. Itu saja! Tulisan-tulisan itu saya cetak dan jilid seadanya sebagai bacaan pribadi. Beberapa teman kuliah (saat itu saya bekerja sambil kuliah) pernah membacanya. Seorang dari mereka kemudian meminta sejumlah karya saya untuk dimuat dalam terbitan sastra kampus. Saya pun memberikannya.

Setelah menikah di tahun 2008, suami saya mendorong untuk membukukan karya saya dan menyarankan agar mengirimkan yang lainnya ke koran. Saya sempat berpikir, kenapa tidak menjadikan urusan kepengarangan ini sebagai profesi?

Saya mencobanya, mengirimkan karya saya ke berbagai koran. Ragu sempat memenuhi perasaan saya. Sejumlah judul saya kirimkan, tak satupun dimuat atau ketahuan rimbanya. Sejumlah lain saya kirimkan lagi, hasilnya sama. Saya mulai meneliti satu per satu gaya tulisan cerpen yang dimuat di koran; dari satu koran ke koran lainnya. Kabarnya, mereka memiliki standard dan gaya penulisan tertentu. Lalu, saya pun menulis lagi dengan gaya yang (berdasarkan penelitian saya) mereka kehendaki. Namun, karya yang saya kirimkan terapung-apung entah dimana dalam kotak surat elektronik sejumlah redaksi koran. Entah dibaca tapi tak layak muat atau dilewatkan tanpa dibaca. Saya sedih. Tidak dimuat adalah satu hal, ketiadaan kabar-berita adalah hal lain yang lebih menyakitkan. Sebab bagaimanapun, adanya jawaban adalah penghargaan tersendiri bagi upaya penulis.

Hati saya patah. ’Birahi menulis’ saya menurun. Pada malam-malam sunyi dimana waktu berjalan sangat lambat dan udara terasa pas untuk menulis, saya malah tenggelam dalam pemikiran yang menyusahkan hati: mungkin koran tidak memberi kesempatan pada penulis tanpa reputasi; mungkin koran hanya menerima tulisan dewa-dewi sastra meski tulisan mereka kadang kurang sedap dibaca; atau mungkin…. tulisan saya memang hanya sampah, tak layak dipublikasikan kepada pembaca kecuali teman-teman yang ingin menghibur hati saja.

Di antara karya yang saya kirimkan, saya juga rutin mengirimkan cerita anak ke Kompas Minggu. Untuk yang satu ini, saya cukup senang. Saya tidak perlu menunggu dan berharap-cemas sebab redaksi selalu memulangkan setiap karya yang tidak dimuat. Duapuluhan amplop dikembalikan ke alamat rumah saya hingga akhirnya pada 2 Mei 2010 sebuah wesel datang, mengabarkan bahwa dongeng ”Semut yang Sombong dan Pemalas” dimuat. Itu adalah hal paling membahagiakan dalam perjalanan saya sebagai penulis: bahwa akhirnya karya saya ’dihargai’. Dari puluhan karya yang pernah saya kirimkan ke koran, akhirnya saya mendapatkan honor sebesar dua ratus lima puluh ribu rupiah untuk sebuah dongeng yang dianggap layak baca!

”Semut yang Sombong dan Pemalas” menjadi karya pertama dan terakhir yang pernah ’dihargai’ oleh koran bergengsi dalam kurun 2008-2016. Namun sebuah penghargaan lainnya saya dapatkan ketika seorang jurnalis/sastrawan ternama mendukung terbitnya buku kumpulan cerpen ”Warna Cinta(-mu Apa?)” pada tahun 2012. Beliau kemudian menjadi salah seorang penyemangat saya dalam menulis.

Saat ini, berbagai pemikiran tentang hidup-mati, sosial, politik, budaya dan lingkungan menjadi minat saya sehingga menuntut saya untuk lebih banyak belajar dan membaca. Menulis tidak lagi soal datangnya malam ’birahi menulis’ saja melainkan juga proses belajar terus-menerus.

            Untuk dapat hidup layak, saya pernah memiliki berbagai jenis pekerjaan. Tetapi menulis telah lekat dalam darah dan pori-pori: mungkin ia tak menafkahi lahir, tetapi memperkaya batin.

Seiring waktu dan pengalaman menjadi penulis yang kesulitan mendapatkan tempat untuk karyanya, pemikiran tentang honor serta dimuat atau tidak, bukan lagi hal utama. Kini, saya punya banyak kesempatan yang tak dimiliki oleh mereka yang tidak menulis. Sebagai warga negara biasa yang tak mengerti kemana harus menyuarakan pemikirannya secara langsung, saya bisa menyampaikan apa yang ingin saya katakan dengan menulis; sebagai individu yang diharuskan menuntut ilmu, saya memiliki alasan untuk terus belajar; sebagai perempuan yang tidak pernah melahirkan anak dari rahimnya, saya bisa meninggalkan jejak berupa karya yang membuktikan bahwa saya pernah ada di dunia.

Jika memang manusia hidup seperti kerikil yang dilempar ke lautan dan menciptakan riak-riak kecil yang akhirnya lenyap (tanpa bekas) di muka bumi, sebagaimana dikatakan Komarudin Hidayat, bukankah karya adalah jejak terbaik untuk ditinggalkan? (*)

*Nilla A. Asrudian: Penulis lepas dan pegiat tari, bisa disapa melalui akun twitter @dNillaz

 

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Blog Pembaca

Kasmiati: Buku Menentukan Jalan Hidup Seseorang

mm

Published

on

Koleksi Pribadi/ Kasmiati

“Saya sangat meyakini jikalau buku akan menentukan jalan hidup seseorang. Buku bisa jadi representasi yang paling sederhana atau sekaligus yang paling rumit dari diri seseorang.” Tutur Kasmiati, seorang Peneliti dan Dosen, saat ditanya apa arti sebuah buku.

Beginya buku seperti guru yang tidak pernah menghakimi. Memberi nasihat yang bebas ditafsir. “Seringkali buku-buku juga menjadi tempat pelarian. Pelarian dari kebosanan, kesendirian dan kebodohan tentu saja.” Ujarnya.

Bukan pelarian tanpa dasar dan musabab. Kasmiati kecil adalah pribadi introvert, dianggap aneh dan hal itu memaksanya menepi dari kerumunan anak-anak lain. Ia menemukan tempat persembunyian terbaik pada jam istirahat sekolah untuk menghindari ejekan teman-temannya. Cerita dimulai, dalam persembunyiannya ia ketemu dengan buku-buku yang pada satu titik menjadi pondasi tegaknya kehidupannya sekarang.

“Sejak itu, tiap kali jam istrahat saya menghabiskan banyak waktu di tempat tersebut. Inilah awal mula saya menyukai buku. Buku-buku pertama yang saya baca ketika itu adalah  Atheis, Hulubalang Raja, “Dan Damai di Bumi” karya dari penulis Jerman Karl May, saya melewatkan berhari-hari untuk menyelesaikan buku tebal pertama yang saya baca ini. Ketika itu, saya juga membaca buku puisi Acep zam-zam nur yang “di atas rumbia” dulu saya hanya sekedar membacanya tidak mengerti sama sekali apa maksud dari semua buku-buku itu.” Kenang Kasmiati.

“Yang terpenting adalah saya punya tempat khusus di jam istirahat, terhindar dari kesendirian dan ejekan. Jadi saya hanya membaca apa saja yang tersedia di perpustakaan sekolah, sampai kemudian pengalaman-pengalaman membaca semasa kecil ini  ternyata membekas, berakumulasi dan membuat saya begitu menggemari dunia baca-buku hingga saat ini.” kisahnya penuh semangat.

Tidak hanya Kasmiati, di luar sana pun banyak orang memiliki pengalaman hampir serupa. Tapi seperti hidup dan buku-buku ia memiliki ceritanya sendiri, yang unik, mendalam dan personal dan tentu saja menginspirasi. Jangan lewatkan satu detail pun dari kisah Kasmiati dalam wawancara khusus #mencintaibuku yang diselenggarakan Galeri Buku Jakarta berikut ini:

INTERVIEWER

Apa arti buku buat anda? Beri kami kata bijak paling otentik berdasar perkenalan anda dengan buku-buku?

KASMIATI

Guru yang tidak pernah menghakimi. Memberi nasihat yang bebas ditafsir.  Seringkali buku-buku juga menjadi tempat pelarian. Pelarian dari kebosanan, kesendirian dan kebodohan tentu saja. Sebagai seorang yang kikukan buku merupakan penyelamat  saya dari keramaian  dan alat bantu paling utama untuk tidak tenggelam dalam kesedihan. Di luar itu semua saya sangat meyakini jikalau buku akan menentukan jalan hidup seseorang. Buku bisa jadi representasi yang paling sederhana atau sekaligus yang paling rumit dari diri seseorang.

INTERVIEWER

Ceritakan bagaimana anda pertama kali berkenalan dengan (dunia membaca) buku? Moment perkenalan dengan sebuah buku yang membuat anda menjadi pembaca buku? Hal itu pasti sangat berkesan, jadi beri tahu kami dan lebih banyak orang betapa unik dan berharga moment itu?

KASMIATI

Saya lahir dan melewatkan masa kecil di sebuah desa, ketika itu saya sangat kucel dan dianggap aneh (hingga sekarang sih haha), sehingga tidak begitu menarik untuk dijadikan seorang teman. Maka, saya sangat sering melewatkan banyak jam istirahat sendirian. Akhirnya pada sekali waktu saya mengunjungi gedung yang terpisah dari ruang-rang kelas yang ternyata itu adalah perpustakaan sekolah. Sejak itu, tiap kali jam istrahat saya menghabiskan banyak waktu di tempat tersebut. Inilah awal mula saya menyukai buku. Buku-buku pertama yang saya baca ketika itu adalah  Atheis, Hulubalang Raja, “Dan Damai di Bumi” karya dari penulis Jerman Karl May, saya melewatkan berhari-hari untuk menyelesaikan buku tebal pertama yang saya baca ini. Ketika itu, saya juga membaca buku puisi Acep zam-zam nur yang “di atas rumbia” dulu saya hanya sekedar membacanya tidak mengerti sama sekali apa maksud dari semua buku-buku itu. Yang terpenting adalah saya punya tempat khusus di jam istirahat, terhindar dari kesendirian dan ejekan. Jadi saya hanya membaca apa saja yang tersedia di perpustakaan sekolah, sampai kemudian pengalaman-pengalaman membaca semasa kecil ini  ternyata membekas, berakumulasi dan membuat saya begitu menggemari dunia baca-buku hingga saat ini.

INTERVIEWER

Beri tahu kami di mana tempat paling menyenangkan untuk anda membaca buku favorit—yang barangkali tak pernah kami duga sebelumnya? Mungkin di bawah selimut, atau di meja dapur, di toilet, di pantai yang dipenuhi sinar matahari atau duduk di bangku taman? Membenamkan diri Anda dalam buku yang bagus di kereta atau bus ke tempat kerja di mana anda mendapat cara bagus mengangkut pikiran anda ke “tempat lain”? Ceritakan pada kami bagaimana hal itu sangat menyenangkan…

KASMIATI

Di dalam kamar tentu saja, di tempat tidur tepatnya. Selain bantal dan selimut, di tempat tidur, saya selalu menyediakan buku-buku. Ini semisal gula dan kopi yang tidak pernah alpa dari meja makan kami. Hampir tidak ada malam yang terlewatkan tanpa membaca selembar dua lembar dari sebuah buku. Tempat tidur memberikan saya kebebasan memutar tubuh kesegala arah, berbaring, duduk, tengkurap, angkat kaki ke atas, meringkuk, bersandar dan berbagai gaya lainya  dapat saya lakukan dengan bebas sambil membaca. Membaca di tempat tidur juga semacam meditasi ringan sebelum tidur. Tapi ini meditasi yang tidak selalu membantu menjadi lebih tenang dan nyenyak, karena kadang malah membuat semakin gelisah, hingga tidak mau tidur, saking larutnya. Tapi yang pasti membaca di tempat tidur terasa jauh lebih baik daripada merunduk kaku mengeja kata demi kata  di meja belajar.  Terutama ketika hari hujan di akhir pekan, tak ada tuntutan untuk bangun, mandi dan bergegas kerja. Setengah hari lebih dapat saya lewatkan hanya di tempat tidur bangun, membaca, tidur, bangun, membaca  lalu tidur lagi – bangun, mandi keluar tentu dengan membawa serta buku untuk saya baca di tempat kedua terbaik menenggelamkan diri dari kalimat ke kalimat adalah di angkutan umum entah angkot atau kereta api. Membaca serasa memperingkas waktu tempuh perjalanan, aktifitas terbaik untuk membuang gelisah bagi yang telah terlambat dari janji.

INTERVIEWER

Satu buku yang mengubah hidup Anda? Beritahu kami kenapa? dan ceritakan bagaimana hal itu terjadi?

KASMIATI

Kumpulan surat-surat Kartini. Buku pertama yang memperkenalkan saya pada gagasan pembebasan, buku yang membuat saya dikemudian hari menaruh perhatian terhadap kehidupan perempuan. Buku inilah yang memantik saya benar-benar menjadi seorang pembaca, menjadi perempuan yang tidak muda menyerah dan belajar keras agar  terdidik. Mungkin jika saya tidak pernah membaca “habis gelap terbitlah terang” daya juang saya untuk terus belajar tidak akan sebesar saat ini.

Kartini  adalah yang pertama membuka mata saya, membantu saya melihat sesuatu secara berbeda. Hingga hari ini jika saya membaca ulang surat-surat Kartini saya masih begitu terpikat bukan hanya pada keindahan kalimatnya, tapi juga pada semangatnya dan bagaimana kerja menulis serta kekuatan bahasa ternyata benar-benar dapat membuat seseorang tetap bersemangat menjalani hidup di tengah beberapa kekalahan yang menghampiri.

INTERVIEWER

Menurut Anda 5 buku sastra apa saja yang wajib dibaca setiap orang indonesia? Kenapa?

KASMIATI

Menurut saya buku sastra berlatar Indonesia yang perlu dibaca adalah roman “Manusia Bebas” yang berkisah tentang bagaiamana keras kepalanya kedua tokoh utamanya yang merupakan sepasang suami istri tidak lelah dan mudah menyerah  memperjuangkan cita-cita mereka untuk mendirikan sekolah perdikan, tidak ikut-ikutan serta tahan terhadap berbagai macam kesulitan hidup baik materil maupun olok-olokan yang datang. Saya kira tokoh dalam manusia bebas ini penggambarannya sungguh jauh berbeda dari rumusan atau ciri Manusia Indonesia yang di sampaikan oleh Mochtar Lubis dalam “Manusia Indonesia”. Dan tentu saja tetraloginya Pram, kumpulan cerpen Oka Rusmini “Akar Pule” , “Tanah Tabu” yang ditulis oleh Anindita S.Thayf. Buku pemenang 1 sayembara novel DKJ tahun 2008 ini walaupun ditulis dengan gaya bahasa yang sangat sederhana setidaknya ia berhasil membuat saya mampu mengimajinasikan keindahan lembah baliem dan menaruh simpati pada kehidupan perempuan Papua. Saya juga akan merekomendasikan untuk membaca kumpulan cerpennya Martin Aleida “Mati baik-baik Kawan” ini sangat enak dinikmati sambil mendengarkan musik dari Deugalih 😊

INTERVIEWER

Bisakah anda ceritakan 3 buku paling favorit sepanjang hidup anda, bisa berupa buku fiksi atau non fiksi dan beri kami alasannya?

KASMIATI

Wah ini sulit, saya selalu memastikan bahwa buku-buku yang akan saya baca adalah buku yang akan saya sukai. Tapi ada beberapa yang saya berharap bahwa anak-anak saya kelak juga mau membacanya yaitu “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu” buku non fiksi yang membuat saya banyak mewek heheh. Selain itu saya begitu  menggemari buku-bukuyang ditulis oleh Jared Dimond, sangat kaya,  terdapat berbagai pertemuan lintasan ilmu di dalamnya dan lancar. Ke tiga adalah biografinya Ben Anderson “Hidup di luar Tempurung”, ini pertama kali saya membaca buku biografi yang sangat tipis namun penuh dengan intensitas pengalaman hidup.

INTERVIEWER

Misalnya Anda diwajibkan menulis minimal 1 buku selama hidup, buku tentang apa yang ingin anda tulis? dan coba beri tahu kami apa judul yang akan Anda berikan untuk buku tersebut? Hal itu pasti akan terdengar menyenangkan dan barangkali memang anda akan memulai menulisnya!

KASMIATI

Saya selalu ingin menuliskan bukuh yang mempunyai seorang tokoh laki-laki yang ceking, tinggi, jari-jari tanganya kecil,  menyala-nyala sekaligus tabah, miskin dan pembaca. Mempunyai saudara perempuan yang manis, berambut keriting,  bulu matanya lentik, berkulit coklat, merupakan seorang dokter tapi bekerja sebagai seorang antropolog.  Dua saudara yang tidak tumbuh dan diasuh oleh orang yang sama. Mungkin judul bukunya adalah “Stasiun” sebagai reprsentasi dari kehidupan tokohnya yang dipenuhi dengan pertemuan-pertemuan yang dalam  serta perpisahan yang ganjil.

INTERVIEWER

Bagaimana sebaiknya indonesia dalam hal ini khususnya pemerintah, juga kita dan masyarakat lain, berbuat dan hadir untuk mengatasi „krisis‟ literasi di indonesia?

KASMIATI

Pemerintah harus mau sedikit lebih bekerja keras terlibat aktif menyediakan buku-buku dengan kualitas bagus, dan memastikan bahwa setiap orang di negri ini dapat mengakses buku bagus dengan cara yang sama. Pada awalnya saya cukup bahagia mendengar kabar bahwa pengiriman buku akan dialakuakn secara gratis, namun mekanisme pengiriman buku gratis ini mengecewakan saya secara pribadi.Karena ternyata buku-buku yang dapat dikirm gratis hanya ditujukan kepada perpustakaan tertentu dan di luar itu buku harus tetap dibayar normal. Menurut saya ini tetap tidak cukup.  Pertama sebarapa banyak sih perpustakaan yang masuk daftar list berhak memperoleh kiriman buku gratis dan seberapa luas jangkauannya. Tentu representasinya sangat timpang jika akan di perbandingkan dengan luasan wilayah, akses atau juga jumah penduduk. Selain itu buku-buku yang disumbangkan atau tersedia di perpustakaan seringkali tidak dikurasi dan banyak tidka sesuai dnegan kebutuhan pembaca.

Saya menjadi begitu cerewet tentang ini karena sebagai seorang yang hidup di kota kecil di bagian timur Indonesia saya merasakan betul bagaimana biaya pengiriman buku  seringkali jauh lebih mahal daripada harga buku yang dibeli atau pesan dari luar kota.

Tawaran saya sebenarnya sederhana saja, yaitu pengiriman buku setiap tanggal 17 keperpustakaan tetap demikan dan selanjutnya untuk para pembeli buku individu, jika pemerintah tidak dapat mengintervensi untuk  digratiskan juga pada waktu-waktu tertentu setidaknya biaya kirim buku tidak disamakan dengan harga kirim barang lainya atau stengah harga dari biaya kirim ini akan sedikit lebih membantu.

Ke dua, jika kita meyakini bahwa perilaku itu dibentuk dari kebiasaan maka kita semua harus memastikan anak-anak kita, membaca sejak dini. Namun sayangnya menemukan buku berbahasa Indonesia yang baik untuk di baca anak-anak sangat sulit. Buku untuk anak-anak yang cukup bagus rata-rata adalah buku teritan luar dengan harga yang tentu juga jauh lebih mahal. Selain itu saya belum pernah menemukan karya sastra Indonesia yang di sadur untuk bacaan anak-anak. Di negri besar ini bahkan kita tidak hanya terancam dari krisis yang fundamnetal berupa pangan dan kepercayaan tapi juga dari kerja kreatif semisal ketiadaan lagu dan buku untuk anak-anak (*)

Kasmiati: Kelahiran 10 oktober 1990. Menaruh minat pada kehidupan perdesaan, isu perempuan dan ruang. Sehari-hari belajar-mengajar di sebuah Universitas Negri di Sulawesi Tenggara serta mengelolah lembaga penelitian dan pusat studi yang berfokus pada isu kebijakan publik dan ekonomi.

__________________________________________________________________________________________________________________

| chief editor: sabiq carebesth | editor bahasa: marlina sophiana | Redaksi: galeribukujakarta@gmail.com | #MencintaiBuku

Continue Reading

Blog Pembaca

Ama Achmad: Budaya Literasi Belum Populer..

mm

Published

on

Koleksi Pribadi/ Ama Ahmad

Buku serial Harry Potter dan buku cetak sekolah yang memuat puisi Chairil Anwar adalah buku-buku yang memantik kecintaanya pada buku. Petualangannya berlanjut lebih intens setelahnya. Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, 1984 oleh George Orwell adalah beberapa buku yang paling ia rekomendasikan untuk dibaca lebih banyak orang.

Begitulah kisah Ama Achmad, perempuan yang juga menginisiasi Festival Sastra Banggai di kotanya. Anda ingin tahu tempat favoritnya membaca? “tempat favorit saya adalah tempat tidur dan toilet. Saya berbaring, memakai selimut, menaikkan suhu kamar lalu membaca. Saya betah membaca di tempat tidur. Toilet juga adalah tempat favorit untuk membaca. Biasanya buku yang saya baca di toilet adalah buku-buku ringan yang menyenangkan. Semisal buku anak atau novel komedi romantis. Di tempat tidur saya membaca buku-buku yang lebih serius.” Tutur Ama  yang memfavoritkan tiga buku sepanjang masa dari karya-karya Orhan Pamuk, Istanbul; The Kite Runner karya Khaled Hosseini dan Doctor karya Erich Segal.

Sementara itu, ketika ditanya opininya atas perkembangan literasi indonesia, ia menyatakan budaya literasi belum jadi hal populer bagi masyarakat kita bahkan di kalangan para pendidik sendiri. Selain itu akses kepada buku-buku juga menjadi hal krusial lainnya.

Kami beruntung mendaat kesempatan waktu Ama untuk memberi kami beberapa jawaban atas pertanyaan seputar dunia buku dan membaca yang kami ajukan. Anda juga harus membacanya dan menemukan inspirasi mengesankan dalam wawancara lengkap kami berikut ini:

INTERVIEWER

Apa arti buku buat anda? Beri kami kata bijak paling otentik berdasar perkenalan anda dengan buku-buku?

AMA ACHMAD

Buku buat saya adalah teman melakukan perjalanan-perjalanan. Setiap kali saya membaca buku, saya merasa sedang melakukan perjalanan atau petualangan. Buku adalah teman terbaik.

INTERVIEWER

Ceritakan bagaimana anda pertama kali berkenalan dengan (dunia membaca) buku? Moment perkenalan dengan sebuah buku yang membuat anda menjadi pembaca buku? Hal itu pasti sangat berkesan, jadi beri tahu kami dan lebih banyak orang betapa unik dan berharga moment itu?

AMA ACHMAD

Saya mulai membaca sejak kelas 1 SD. Sejak mula bisa membaca, saya sudah berkenalan dengan majalah dan koran. Setelah itu saya mulai kenal majalah Bobo, komik silat Tiger Wong dan serial Lupus. Dari majalah Bobo, saya diajak berkenalan dengan tokoh-tokoh fiksi di dalamnya. Saat itu saya yang penyendiri merasa memiliki teman. Momen paling berkesan yang membuat saya menjadi pembaca buku adalah ketika saya masuk ke perpustakaan sekolah. Saya kagum dengan isi ruangan kecil yang menyimpan banyak buku itu. Penjelajahan saya dimulai, saya menemukan buku-buku cerita anak yang membawa saya bertualang. Sejak itu kesukaan saya terhadap buku makin tak terbendung.

INTERVIEWER

Beri tahu kami di mana tempat paling menyenangkan untuk anda membaca buku favorit—yang barangkali tak pernah kami duga sebelumnya? Mungkin di bawah selimut, atau di meja dapur, di toilet, di pantai yang dipenuhi sinar matahari atau duduk di bangku taman? Membenamkan diri Anda dalam buku yang bagus di kereta atau bus ke tempat kerja di mana anda mendapat cara bagus mengangkut pikiran anda ke “tempat lain”? Ceritakan pada kami bagaimana hal itu sangat menyenangkan…

AMA ACHMAD

Saya, pembaca buku yang tak pernah melewatkan tas saya tanpa buku. Kemana pun saya pergi, tas saya selalu terisi buku. Tempat tidur saya juga dipenuhi buku-buku. Saya merasa ganjil jika tanpa buku. Saya membaca di mana saja. Tapi tempat favorit saya adalah tempat tidur dan toilet. Saya berbaring, memakai selimut, menaikkan suhu kamar lalu membaca. Saya betah membaca di tempat tidur.

Toilet juga adalah tempat favorit untuk membaca. Biasanya buku yang saya baca di toilet adalah buku-buku ringan yang menyenangkan. Semisal buku anak atau novel komedi romantis. Di tempat tidur saya membaca buku-buku yang lebih serius.

Selain dua tempat itu, saya juga membaca buku ketika harus mengantri di bank, di ruang tunggu bandara, di ruang tunggu rumah sakit—di tempat-tempat yang membuat saya harus menunggu.

INTERVIEWER

Satu buku yang mengubah hidup Anda? Beritahu kami kenapa? dan ceritakan bagaimana hal itu terjadi?

AMA ACHMAD

Buku pertama yang saya baca adalah modul milik ayah saya. Tapi buku yang mengubah saya adalah serial Harry Potter dan buku cetak sekolah yang memuat puisi Chairil Anwar. Serial Harry Potter membawa saya “jalan-jalan” jauh, ke tempat-tempat yang tak pernah saya temui sebelumnya. Saya tercerahkan oleh latar belakang penulisnya yang seorang single parent bahwa tak ada yang mustahil dengan terus mencoba dan tentunya terus menulis. Lalu ada buku pelajaran sekolah yang memuat puisi Chairil Anwar. Buku itu merupakan cikal bakal saya tertarik dengan puisi. Buku itu seolah-oleah “mengajak” saya menulis puisi.

INTERVIEWER

Menurut Anda 5 buku sastra apa saja yang wajib dibaca setiap orang indonesia? Kenapa?

AMA ACHMAD

Lima buku sastra yang harus dibaca orang Indonesia menurut saya adalah:

  • Pertama Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Setting novel ini yang berlatar tahun 1946 dan 1965 menarik untuk dibaca. Membacanya adalah melakukan perjalanan-perjalanan jauh ke belakang. Perjalanan yang menyenangkan.
  • Ke dua  1984 oleh George Orwell. Buku ini membuat saya kagum dengan kemampuan Orwell dan imajinasinya. Buku ini terbit pertama kali 1949. Di tahun yang jauh itu, fantasi Orwell sudah begitu hebat. Novel ini menjadi semacam ramalan atas apa yang akan terjadi di masa depan.
  • Ke tiga Sepilihan Puisi Goenawan Mohammad. Saya penggemar beliau. Buku ini buku favorit saya. Buat penggemar puisi sudah semestinya membaca ini.
  • Ke empat Namaku Mata Hari. Saya juga penggemar karya-karya Remy Sylado. Tapi dari semua bukunya, saya jatuh cinta dengan kisah Mata Hari.
  • Ke lima Lelaki Harimau. Saya juga penggemar buku-buku Eka Kurniawan. Buku ini saya baca setelah diberitahu teman. Buku ini “penuh.” Novel ini tak hanya imajinatif tapi juga mengajarkan nilai-nilai moral.

INTERVIEWER

Bisakah anda ceritakan 3 buku paling favorit sepanjang hidup anda, bisa berupa buku fiksi atau non fiksi dan beri kami alasannya?

AMA ACHMAD

Buku favorit sepanjang hidup mungkin banyak. Tapi jika disuruh memilih 3 buku, favorit saya adalah Istanbul karya Pamuk, The Kite Runner karya Khaled Hosseini dan Doctor karya Erich Segal. Ketiga itu buku yang membawa saya berjalan-jalan jauh.

Saya merasa masuk telampau jauh dalam ke kisah-kisah di buku itu tapi anehnya saya menyukainya. Saya merasa melakukan perjalanan bersama tokohnya. Buku-buku itu buku yang saya baca berulang kali.

INTERVIEWER

Misalnya Anda diwajibkan menulis minimal 1 buku selama hidup, buku tentang apa yang ingin anda tulis? dan coba beri tahu kami apa judul yang akan Anda berikan untuk buku tersebut? Hal itu pasti akan terdengar menyenangkan dan barangkali memang anda akan memulai menulisnya!

AMA ACHMAD

Saya mencintai puisi. Jika disuruh memilih, saya akan menulis buku puisi. Meski tentunya saya juga tertarik menulis cerpen. Sekarang saya dan seorang teman sedang dalam proses menulis puisi duet. Di samping itu saya juga sedang mengupayakan menulis puisi tunggal. Saya dan teman-teman di komunitas juga sedang mengumpulkan tulisan yang akan dibukukan dalam sebuah buku berjudul “Luk Pe Kata-Kata.” Buku ini memuat kata-kata dan artinya dalam bahasa Luwuk. Jika menerbitkan buku puisi, saya akan memilih judul “Nama-Nama dan Rindu yang Mati di Halaman Belakang” atau “Tiga Gugus Sunyi” atau “Tentang yang Diam”.

INTERVIEWER

Bagaimana sebaiknya indonesia dalam hal ini khususnya pemerintah, juga kita dan masyarakat lain, berbuat dan hadir untuk mengatasi “krisis‟ literasi di indonesia?

AMA ACHMAD

Setelah berkecimpung di komunitas yang fokus pada literasi, saya merasa hal utama yang membuat keberaksaraan kita memprihatinkan adalah akses buku yang jauh, tenaga pustakawan dan guru yang tidak terliterasi, budaya literasi yang tidak populer.

Akses buku yang jauh mungkin sebagain kecil bisa terjawab oleh kerja-kerja kemanusiaan komunitas dalam hal ini Pustaka Bergerak Indonesia. Tapi pemerintah perlu berpikir kembali untuk menyediakan sudut-sudut baca yang mudah dijangkau masyarakat umum. Bukan dalam bentuk perpustakaan kuno dengan interior membosankan tapi lebih kepada tempat membaca yang konsepnya menyenangkan. Tenaga pustakawan dan guru juga harusnya memenuhi kecakapan literasi. Mengajak anak-anak didik membaca berarti juga membekali diri sendiri—membuat diri lebih literat (beraksara). Upaya membaca 15 menit setiap hari sebelum masuk pelajaran pertama di sekolah akan menjadi percuma jika setelah itu guru tidak mengadakan upaya-upaya lain, misalnya meminta anak didik menceritakan apa yang dibacanya atau menuliskan apa yang dibacanya. Semisal resensi buku yang dibaca atau menceritakan pengalaman membaca buku itu sendiri. Kampanye literasi sangat diperlukan. Kampanye yang masif, yang menyentuh titik-titik terjauh di Indonesia. Tidak hanya figur duta baca yang diperlukan tapi program-program berkelanjutan demi peningkatan tingkat literasi bangsa ini. (*)

Ama Achmad, perempuan asal Banggai ini menyukai membaca dan menulis. Ia juga aktif di berbagai kegiatan literasi dan pendidikan di kotanya. Ia menginisiasi Festival Sastra Banggai di kotanya. Ia dan komunitasnya, Babasal Mombasa, bergerak membuka lapak baca di berbagia tempat di Banggai.  Ama juga senang menulis puisi. Beberapa puisinya dimuat di berbagai antologi bersaam sejak tahun 2013. Tahun ini,puisi-puisinya tergabung dalam antologi bersama “Dari Timur” yaitu atologi bersama dengan alumni Makassar International Writers Festival.

__________________________________________________________________________________________________________________

| chief editor: sabiq carebesth | editor bahasa: marlina sophiana | Redaksi: galeribukujakarta@gmail.com | #MencintaiBuku

Continue Reading

Blog Pembaca

Icha Planifolia: Buku Memberi Saya Banyak Perjalanan Tanpa Batas

mm

Published

on

“Rumah saya berjarak sekitar 38 KM dari pusat kota. Dan orang tua saya tidak bisa mengajak saya terlalu sering berjalan-jalan ke pusat kota karena keterbatasan biaya. Itulah kali pertama saya memiliki buku  selain buku pelajaran sekolah. Kumpulan puisi “Aku” karya Chairil Anwar”. Cerita Icha Planifolia yang kini bekerja sebagai Biomarker Science Liaison.

Perempuan penggerak “Malam Puisi Bandung” yang kini tinggal di Yogya ini, memiliki banyak cerita lain dengan buku-buku dan dunia membaca. Buku baginya seperti anugerah perjalanan tanpa batas. Dengan buku-buku ia menjelajah perjalanan, dunia, tempat-tempat yang tak bisa ia jajaki sebelumnya.

Kini ia ingin menulis buku dan anda tahu buku apa yang ingin ditulis dan dikerjakannya dengan sangat keras? Simak sendiri jawabannya berikut: “Saya ingin menulis sebuah kumpulan cerpen, merangkum banyak peristiwa tentu saja. Tema besarnya adalah bagaimana jika Tuhan menghapus konsep evil dalam kehidupan? Kisah-kisah di dalam buku itu akan menggambarkan kemungkinan dan waktu berjalan paralel. Intinya sebetulnya tentang efek domino. ‘Jika A maka B’ dan di saat yang sama terjadi ‘jika C maka D’. Isu yang dibawa sendiri yang terpikirkan dibenak saya sekarang adalah kemanusiaan, kesetaraan gender, dan fanatisme beragama”.

Kami menayankan beberapa pertanyaan lain pada Icha. Dan setiap jawaban sungguh layak kita simak. Begitu kaya inspirasi dan kisah. Selengkapnya:

INTERVIEWER

Apa arti buku buat anda? Beri kami kata bijak paling otentik berdasar perkenalan anda dengan buku-buku?

ICHA PLANIFOLIA

Bagi saya yang berasal dari dusun dan keluarga yang biasa saja, pada mulanya buku adalah pengantar untuk mengenal apa pun yang tidak pernah saya bayangkan dalam kehidupan saya. Kejadian-kejadian yang tidak ada di sekitar saya.

Buku mengantar saya merasakan perjalanan-perjalanan yang tidak pernah saya tempuh. Mengunjungi tempat-tempat yang sejatinya belum pernah saya kunjungi. Memahami persoalan-persoalan yang mulanya bahkan tidak pernah melintas di kepala saya.

Karena itulah saya terus membaca. “Keep reading. It’s one of the most marvelous adventures that anyone can have.” (Lloyd Alexander)

INTERVIEWER

Ceritakan bagaimana anda pertama kali berkenalan dengan (dunia membaca) buku? Moment berkenalan dengan sebuah buku yang membuat anda menjadi pembaca buku? Hal itu pasti sangat berkesan, jadi beri tahu kami dan lebih banyak orang betapa unik dan berharga moment itu?

ICHA PLANIFOLIA

Moment yang menjadi titik tolak saya berkenalan dengan buku adalah ketika usia 12 tahun, saya masuk sekolah menengah pertama. Pada masa orientasi siswa saya ditunjuk kakak kelas untuk maju menampilkan apa pun yang bisa saya tampilkan di hadapan seluruh siswa baru. Teman-teman lain ada yang bernyanyi, menari, bahkan pencak silat. Rasanya saya tidak punya keterampilan khusus semacam itu. Kakak pendamping saya mengusulkan pembacaan puisi. Ia bahkan berbaik hati meminjamkan puisi karyanya untuk saya bacakan, karena tentu saja saya tidak punya puisi karya saya sendiri sekaligus tidak hapal puisi karya penyair-penyair besar. Saya bahkan belum mengenal penyair kala itu.

Saya masih ingat puisi yang saya bacakan untuk pertama kalinya itu berjudul “Ziarah”, karya kakak kelas saya: Vincen Genera. Sejak hari itu, ada perasaan yang unik terhadap puisi. Semacam sebuah jatuh cinta pada pandangan pertama.

Saya mulai mencari pinjaman bacaan yang berisi puisi. Majalah, buku, apa saja. Pelan-pelan saya menabung uang jajan saya. Waktu kenaikan kelas saya meminta Mama mengantar saya ke Gramedia. Betapa takjub saya, Gramedia itu besar sekali! Maklum rumah saya berjarak sekitar 38KM dari pusat kota. Dan orang tua saya tidak bisa mengajak saya terlalu sering berjalan-jalan ke pusat kota karena keterbatasan biaya. Itulah kali pertama saya memiliki buku  selain buku pelajaran sekolah. Kumpulan puisi “Aku” karya Chairil Anwar.

INTERVIEWER

Beri tahu kami dimana tempat paling menyenangkan untuk anda membaca buku favorit –yang barangkali tak pernah kami duga sebelumnya? Mungkin di bawah selimut, di meja dapur, di toilet, di pantai yang dipenuhi sinar matahari, atau duduk di bangku taman? Membenamkan diri anda dalam buku yang bagus di kereta atau bus ke tempat kerja di mana anda mendapat cara bagus mengangkut pikiran anda ke “tempat lain”? Ceritakan pada kami bagaimana hal itu sangat menyenangkan…

ICHA PLANIFOLIA

Dulu, saya selalu suka menghabiskan waktu membaca buku di kamar tidur. Di atas ranjang saya, sembari berbaring. Kini, saya sudah memiliki ruang baca khusus.

Di ruangan itu, sebuah karpet merah saya gelar, bantal-bantal berbagai ukuran saya letakan di sana, lengkap dengan lampu baca kekuningan. Dengan rak buku dari kayu yang dibuat kekasih saya membatasi sisi utara karpet itu. Beberapa rak buku lain dipasang menggantung di dinding. Jadi saya membaca dinaungi buku-buku dan cahaya kekuningan. Sebelum mulai membaca, saya akan menyalakan dupa. Perjalanan pun dimulai…

INTERVIEWER

Satu buku yang mengubah hidup anda? Beritahu kami kenapa? dan ceritakan bagaimana hal itu terjadi?

ICHA PLANIFOLIA

Jika pertanyaan ini tidak dibatasi jumlah: satu, saya akan menjawab semua buku yang saya baca memengaruhi saya. Namun jika harus memutuskan satu buku, saya kira jawabannya adalah Bumi Manusia. Saya menjadi begitu gelisah usai membaca buku itu. Bukan saja mengenal sejarah, saya menyelami kemanusiaan, harga diri, perjuangan, dan kesetaraan dengan pemaknaan yang berbeda.

INTERVIEWER

Menurut anda 5 buku sastra apa saja yang wajib dibaca setiap orang Indonesia? Kenapa?

ICHA PLANIFOLIA

Sayang sekali saya tidak bisa memikirkan lima buku. Yang terlintas di benak saya hanya empat buku: Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer.

Bagi saya, membaca buku-buku itu adalah mempelajari sejarah dengan cara yang sangat menyenangkan. Sebab gaya bertutur Pram yang ‘showing’ bukan ‘telling’ membuat saya membayangkan setiap detil peristiwa dan pergolakan di masa kolonial. Tetralogi Buru bisa menjadi pemantik untuk mencari kebenaran peristiwa sejarah. Bagaimanapun, karya tersebut merupakan fiksi. Untuk mencari kebenaran sejarah buku fiksi tidak dapat menjadi landasan, sehingga kita perlu membaca lebih banyak buku lain untuk mengetahui mana peristiwa yang benar-benar terjadi, mana yang merupakan imajinasi penulis.

Selain itu, kita memang memiliki sejarah kelam dalam hal intoleransi. Buku-buku ini –bagi saya- sungguh-sungguh menyadarkan saya bahwa pada dasarnya setiap manusia tidak layak disakiti atau direndahkan. Bahwa tidak ada pilihan lain dalam memperlakukan manusia kecuali memanusiakannya.

Berbicara peranan literasi, dalam buku itu kita dapat melihat bagaimana pergerakan perlawanan dapat dilakukan dengan menulis. Maka, membacanya menjadi sangat layak!

INTERVIEWER

Bisakah anda ceritakan 3 buku paling favorit sepanjang hidup anda, bisa berupa buku fiksi atau non fiksi dan beri kami alasannya?

ICHA PLANIFOLIA

Saya coba jabarkan dalam kategori perubahan yang terjadi terhadap diri saya.

Pertama, yang begitu berpengaruh terhadap sisi kemanusiaan saya. Bumi Manusia. Selengkapnya sudah saya sampaikan pada jawaban nomor 4 dan 5.

Kedua, yang merangsang saya untuk berpetualang. Melihat Indonesia dan semua tempat lain lebih dekat. Berkenalan dengan masyarakat lokal. Belajar dari mereka. Belajar dari perjalanan. Belajar menjadi pemberani. Balada Si Roy karya Gol A Gong. Di kemudian hari, buku ini sungguh banyak mengubah saya. Mengantar saya menyambangi banyak tempat asing, mempelajari hidup di tempat-tempat yang jauh dari rumah.

Ketiga, yang mengubah persepsi saya tentang hal-hal yang demikian personal dan intim di hidup saya seperti ketuhanan, pernikahan, dan kesetaraan gender. Pengakuan Eks Parasit Lajang karya Ayu Utami. Banyak dialog muncul di kepala saya, antara saya dan diri saya sendiri. Saya lebih banyak mengajak diri saya berbicara usai membaca buku ini.

Sebenarnya perubahan dalam sisi ini juga sangat dipengaruhi oleh buku Tuhan Izinkan Aku menjadi Pelacur karya Muhidin M. Dahlan. Namun, saya membacanya ketika masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, saya masih belum siap dengan keliaran isi kepala saya ketika itu. Sehingga banyak pemikiran yang saya tepis. Banyak kegelisahan saya abaikan ketika itu.

INTERVIEWER

Misalnya anda diwajibkan menulis minimal 1 buku selama hidup, buku tentang apa yang ingin anda tulis? dan coba beritahu kami apa judul yang akan anda berikan untuk buku tersebut? Hal itu pasti akan terdengar menyenangkan dan barangkali anda memang akan memulai menulisnya!

ICHA PLANIFOLIA

Hahaha…pertanyaannya provokatif sekali! Pertanyaan cerdas! Barangkali setelah ini banyak dari orang yang telah berpartisipasi dalam interview ini sungguh-sungguh mulai menulis. Memberikan kontribusi untuk dunia literasi. Sungguh jeli!

Saya ingin menulis sebuah kumpulan cerpen, merangkum banyak peristiwa tentu saja. Tema besarnya adalah bagaimana jika Tuhan menghapus konsep evil dalam kehidupan? Kisah-kisah di dalam buku itu akan menggambarkan kemungkinan dan waktu berjalan paralel. Intinya sebetulnya tentang efek domino. ‘Jika A maka B’ dan di saat yang sama terjadi ‘jika C maka D’. Isu yang dibawa sendiri yang terpikirkan dibenak saya sekarang adalah kemanusiaan, kesetaraan gender, dan fanatisme beragama.

INTERVIEWER

Bagaimana sebaiknya Indonesia, dalam hal ini khususnya pemerintah, juga kita dan masyarakat lain, berbuat dan hadir mengatasi ‘krisis’ literasi di Indonesia?

ICHA PLANIFOLIA

Saya begitu percaya bahwa semua berawal dari rumah. Kita bisa saja berkata apa pun tentang ‘kesalahan’ pemerintah atau siapa pun sehingga kita mengalami ‘krisis’ literasi. Tetapi saya selalu lebih suka membangun sesuatu daripada mengeluhkan apa yang ada. Maka, dimulai dari diri kita, rumah kita.

Menyuguhkan anak-anak dengan bacaan, mendampingi mereka membaca, mengajak mereka menulis buku harian sejak dini adalah hal-hal yang tampak sederhana namun saya yakin akan berdampak besar bagi diri anak yang suatu hari tumbuh menjadi manusia dewasa dan generasi penerus.

Sebab membaca dan menulis akan membuat setiap kita banyak berpikir, menganalisis, memahami setiap peristiwa tidak terbatas dari satu sudut pandang, dan paling penting tergerak membuat solusi untuk sesuatu hal yang dirasa sebagai sebuah persoalan. (*)

__________________________________________________________________________________________________________________

ICHA PLANIFOLIA: Karyawan swasta/ Biomarker Science Liaison. Menghabiskan masa kecil hingga meraih gelar apoteker di Bandung. Sempat tergabung dengan beberapa komunitas menulis, juga sempat menjadi penggerak Malam Puisi Bandung. Kini tinggal di Yogyakarta.

| chief editor: sabiq carebesth | editor bahasa: marlina sophiana | galeribukujakarta@gmail.com | #MencintaiBuku

Continue Reading

Trending