Connect with us

COLUMN & IDEAS

Biaya-Biaya Manuasiawi” Nonfisik (Piramida Kurban Manusia)

mm

Published

on

“Biaya-Biaya Manuasiawi” Nonfisik[1]

Oleh: Johannes Miller

  1. Salah satu segi dalam Pyramids of Sacrifice yang patut mendapat perhatian khusus adalah apa yang Berger sebut “perhitungan makna”. Sebagaimana dirumuskan dalam tesis kesembilan belas, “manusia berhak hidup di dalam sebuah dunia yang mengandung makna”. Sebab manusia membutuhkan sesuatu kerangka orientasi yang mengartikan dan mengarahkan seluruh hidup dan kerjanya. Suatu dunia yang bisa dimengerti karena disusun dan diatur menurut suatu pola makna dan nilai, sebagaimana ditegaskan dalam hampir semua buku karangan berger. [2] Kerangka orientasi tersebut pada umumnya ditemukan dalam kebudayaan manusiawi, yaitu hasil usaha kolektif suatu masyarakat sepanjang sejarahnya untuk “me-makna-kan” kenyataan yang dihadapi dan dialaminya, baik dengan menafsirkan maupun dengan mengolahnya. Dalam hubungan ini, agama memainkan peranan yang sangat penting.[3]

Berger menandaskan bahwa “perhitungan makna” ini merupakan salah satu segi terpenting sehubungan dengan “biaya-biaya manusiawi”.  Sekalipun penderitaan fisik adalah paling dasariah, namun penderitaan dalam arti kongnitif dan psikis pula menuntut biaya yang terlalu mahal, yaitu kalau makna hidup manusia dicaplok begitu saja  tanpa ada gantinya.

Berpangkal pada pendirian itu, Berger mengupas secara kritis masalah yang sangat pokok dan majemuk, yaitu masalah perbenturan antara modernisasi dan tradisi yang membayangi proses pembangunan hampir di seluruh Dunia Ketiga. Menurut Berger, apa yang dicanangkan sebagai modernisasi tak jarang merupakan suatu ideologi dan “mitos” yang tidak manusiawi.[4] Kesimpulan dirumuskan dalam tesis kedua puluh:

“Modernisasi menuntut harga yang tinggi pada tingkat makna. Mereka yang tidak bersedia membayar harga ini harus dipandang dan diperlakukan dengan hormat, dan tidak boleh diremehkan sebagai ‘terbelakang’ atau ‘irasional’.”

            Peringatan Berger ini tepat pada tempatnya. Cukup lama modernisasi disamakan dengan pembangunan atau bahkan disempitkan pada segi ekonomi saja, bagaikan suatu obat ampuh dan mujarab untuk mengejar kemajuan.  Namun, semakin terdengar suara-suara kritis, berdasarkan pengalaman yang cukup pahit. Proses modernisasi ternyata tidak membawa hasil yang diidam-idamkan, melainkan malah menimbulkan banyak masalah baru. Akibat yang paling buruk adalah proses “meluruhnya kebudayaan” (cultural loss) yang sedang berlangsung dimana-mana.

Dengan demikian, semakin banyak orang kehilangan makna dan pegangan hidup mereka. Banyak gejala sosial yang dikeluhkan dewasa  ini, seperti umpamanya sikap materialis dan konsumtif, yang pada gilirannya menyokong korupsi, ketidaksamarataan sosio-ekonomis, dan kemiskinan rakyat kecil, akhirnya berakar pada kenyataan itu. Yang paling terkena adalah angkatan muda yang dibesarkan ditengah suatu vakum kebudayaan dan nilai.  Tradisi lama telah dibuang sebagai usang atau paling-paling didengung-dengungkan saja, padahal belum ditemukan suatu kebudayaan baru. Kebudayaan barat pun hanya dijiplak dan ditiru secara lahiriah. Di  tengah-tengah kemelut ini, nilai tak tergantikan dari setiap kebudayaan memang perlu disadari kembali.

Sekalipun demikian, tak bisa disangkal bahwa tradisi yang sudah usang juga bisa mencengkam manusia. Misalkan saja suatu kebiasaan takhayul yang barangkali pernah mempunyai fungsi tertentu, tetapi sekarang justru sangat membatasi makna hidup para penganutnya. Ataupun suatu tradisi, seperti umpamanya struktur sosial yang bercorak feodal dan patriarkal, yang hanya dipertahankan oleh segelintir orang elite demi kelestarian kuasa mereka, tetapi membelenggu rakyat kecil dalam kemelaratannya, hal mana juga berarti bahwa makna dunia mereka semakin menyusut. Dengan perkataan lain, tradisi pun bisa makan “biaya-biaya manusiawi” yang sangat tinggi, baik dalam arti fisik maupun dalam arti makna.

  1. Hak manusia atas hidup yang bermakna mempunyai suatu implikasi sangat penting, yang ditegaskan oleh Berger dalam tesis kelima belas:

“Mereka yang merupakan sasaran kebijaksanaan politik harus mempunyai kesempatan untuk berpartisipasi, bukan saja dalam mengambil keputusan-keputusan khusus, tetapi juga dalam merumuskan definisi-definisi situasi yang merupakan dasar dalam mengambil keputusan-keputusan tadi. Partisipasi ini bisa disebut “partisipasi kognitif”.

Perempuan Pejuang Agraria Kendeng

Dengan demikian,  Burger mengemukakan dua imperatif ets. Pertama, bahwa manusia berhak atas partisipasi, dan kedua, bahwa hak partisipasi itu juga mencakup segi kognitif. Jadi, manusia juga berhak untuk ikut serta dalam menafsirkan dan “me-makna-kan” dunia dan kenyataan yang ia hadapi. Kalau tidak demikian, maka sangat besarlah bahaya bahwa rakyat menjadi korban dari keputusan-keputusan politik yang diambil terlepas dari pengetahuan dan kepentingan-kepentingan rakyat itu sendiri. Dengan perkataan lain, manusia tidak boleh dipandang dan diperlakukan sebagai obyek pembangunan belaka, entah dalam analisis yang diadakan kaum cendekiawan, entah dalam kebijaksanaan politik yang diambil oleh para penguasa. Penalaran Nerger dalam hubungan ini sekali lagi adalah perhitungan “biaya-biaya manusiawi”.

Berpijak pada pendirian ini, bab keempat dari Pyramids of Sacrifice menyoroti secara kritis dan mengecam cukup tajam apa yang lazim disebut “peningkatan kesadaran” atau “konsientisasi”. Menurut Berger, dalam setiap program semacam itu tersiratlah pengandaian bahwa terdapat suatu elite atau barisan pelopor politis intelektualis yang memiliki tingkat kesadaran yang lebih tinggi ataupun benar. Entah mereka itu anggota-anggota partai komunis dalam sosialisme, para teknokrat dalam diktatur pembangunan yang bercorak kapitalis, ataupun para pengikut “gerakan konsientisasi” yang diprakarsai oleh Paulo Freire. Berger berpendapat bahwa semua usaha semacam itu bersifat ideologis dan tidak legitim, sebab dalam hal kesadaran tidak ada keunggulan atau tingkat-tingkat hirarkis.

Sejauh mana kritik Berger itu bisa disebut tepat, khususnya sehubungan dengan “konsientisasi” menurut pengertian Freire,[5] yang memang menjadi sasaran utama dari kritik tersebut? Paling tidak dalam dua hal, kritik itu kiranya cukup mengena, sekurang-kurangnya sebagai peringatan. Di pandang sepintas saja, setiap penampilan yang berambisi menyadarkan sudah menimbulkan kesan kesombongan. Kiranya tak ada seorang pun yang senang disadarkan oleh orang lain yang menganggap diri lebih tahu atau lebih sadar. Akan tetapi, setiap usaha “konsientisasi” yang menyangkut makna seluruh kehidupan, mau tak mau memang mengandaikan bahwa rakyat belum atau kurang sadar. Andai kata tidak demikian, maka tak usah diadakan “konsientisasi” karena rakyat sendiri sudah menyadari diri. Begitu pula, tak bisa disangkal bahwa program “konsientisasi” selalu datang dari luar dan paling tidak dalam arti ini juga dari atas. Maka dari itu, setiap pernyataan tentang “rakyat yang menyadarkan diri sendiri” akan terasa ganjil dan gampang menjadi semacam penipuan diri sendiri. Dari sudut logika bahasa saja sudah demikian. Hal yang kedua lebih menyangkut metode. Di bawah judul “konsientisasi” tak jarang dipakai suatu pola yang rupa-rupanya sangat partisipatif, tetapi dalam kenyataannya justru otoriter sekali. Para peserta proses “konsientisasi” tersebut diajak untuk berdiskusi dan mengemukakan pendapat mereka sendiri, tetapi kalau hasil diskusi itu tidak sesuai dengan pendapat para “penyadar”  itu sendiri, maka para peserta dianggap belum sadar dan disuruh berdiskusi lagi, sampai mereka mencapai kesimpulan yang “benar”, yaitu pendapat para “penyadar”, dan diloloskan sebagai sadar.

            Namun demikian, kritik Berger juga tidak luput dari ketimpangan, terutama sejauh menyangkut Paulo Freire. Dalam Pedagogy of the Oppressed[6] buku karangannya yang termasyur, Freire mennguraikan dengan cermat  dan meyakinkan kenyataan “kebudayaan kemelaratan” atau “kebudayaan bisu” rakyat kecil di Amerika Latin. Rakyat itu hidup terkurung dalam lingkungan sosio-budaya yang dikuasai dan diperalatkan oleh golongan elite yang menindasnya.

Freire menunjukkan bahwa penindasan itu merangkum dan telah meresapi seluruh kehidupan rakyat kecil sampai pada akar-akarnya. Mereka tidak hanya menjadi korban fisik, tetapi seluruh proses sosialisasi dan internalisasi dan dengan demikian kesadaran mereka pun telah diperbudak dan dipalsukan oleh semboyan-semboyan dan ideologi kaum elite. Yang disoroti secara khusus oleh Freire ialah lembaga-lembaga pendidikan sebagai sarana dan alat demi melestarikan “kebudayaan bisu” itu. Suatu mekanisme sosio-psikologis yang kemungkinan maupun kenyataannya tidak bisa disangkal.[7] Berdasarkan analisis itu, Freire mengembangkan konsepnya mengenai “konsientisasi”, terutama lewat alfabetisasi.

Kalau dibandingkan dengan pendekatan Berger, maka pendirian dan analisis Freire itu sebenarnya tidak begitu berlainan. Apa yang dituntut oleh Berger sebagai pembongkaran “mitos-mitos”, hak atas suatu dunia yang bermakna, “partisipasi kognitif”, serta suatu etika politik baru yang bersifat “realistis-utopis”, semua tuntutan itu juga tersirat dalam pendekatan Freire. Selain itu, kiranya tak bisa dibantah bahwa Berger pun berbicara sebagai seorang cendekiawan. Dengan perkataan lain, ia pun menyoroti kenyataan rakyat kecil dari luar dan menganggap diri “lebih tahu”, sungguhpun “lebih tahu” tidak sama dengan “lebih sadar”, sebagaimana ditegaskannya sendiri. Jadi, paling tidak dalam arti tertentu ia terkena oleh kritiknya sendiri, walaupun ia memang cukup sadar akan  hal itu dan uraiannya tidak begitu bernada “kenabian”.

Peter L. Berger

Titik perselisihan yang sebenarnya adalah proses penyadaran sendiri serta terutama pola kepemimpinan di dalamnya. Kiranya memang tidak relistis kalau diandaikan bahwa rakyat banyak akan begitu saja bergerak sendiri. Rakyat itu memang biasanya lebih bersikap pasif dan apatis, lantaran mekanisme penindasan majemuk yang dianalisa oleh Freire. Maka dari itu, memang dibutuhkan orang yang mendampingi rakyat, yang mau tak mau merupakan pemimpin dalam arti sosiologis. Tak ada gunanya mengelakkan kenyataan ini. Yang menentukan dalam hal ini adalah pola kepemimpinan serta kepentingan-kepentingan di belakangnya. Apakah pola itu bersifat otoriter, monologis, berprasangka, dan menggurui, ataukah partisipatif, dialogis, terbuka, dan reponsif. Dan apakah para pemimpin tersebut sebenarnya hanya menyampaikan ideologi kaum elite dan dengan demikian menyokong kepentingan-kepentingannya, ataukah sungguh-sungguh dan tanpa pamrih memihak dan memperjuangkan kepentingan-kepentingan rakyat yang tertindas sendiri. Dalam hal ini, kejujuran dan sikap mawas diri dari pihak para pemimpin sangat penting. Mengingat semua itu, peringatan-peringatan Berger berkenaan dengan usaha “peningkatan kesadaran” sangat bermanfaat dan pada tempatnya, sekalipun tidak meyakinkan sepenuhnya.

  1. Apa yang dikemukakan dalam Pyramids of Sacrifice mengenai hak atas suatu dunia yang bermakna dan “partisipasi kognitif” sangat menarik dan penting, lebih-lebih kalau dikaitkan dengan ukuran penilaian “biaya-biaya manusiawi” ataupun penderitaan manusia. Kentaralah disini bahwa ukuran itu tidak boleh dibatasi pada apa yang langsung menyolok mata atau mengesankan. Penderitaan merupakan suatu katagori atau dimensi menyeluruh, artinya bercorak baik fisik maupun kognitif, psikis, sosial, dan sebagainya. Manusia seutuhnya yang perlu diperhitungkan sehubungan dengan “biaya-biaya manusia”. Itulah landasan dan latar belakang dari pengertian pembangunan sebagai “pembebasan manusia dari penderitaan menurut segala segi dan dimensinya”.

Selain itu, nampaklah di sini pula keampuhan dari ukuran penilaian “biaya-biaya manusiawi” kalau dimengerti secara “dialektis-negatif”. Sebagaimana telah dikupas di atas tadi, setiap tradisi kebudayaan bersifat ambivalen atau bermuka dua, artinya bisa memberi makna pada kehidupan manusia, tetapi juga bisa menjadi halangan dalam hal ini. Kesimpulan itu ditarik berdasarkan ukuran penderitaan yang menampakkan diri dalam kenyataan. Suatu kesimpulan yang kiranya sulit tercapai berdasarkan suatu pendekatan yang bersifat apriori. Begitu pula, seluruh diskusi di sekitar “partisipasi kognitif” menunjukkan bahwa dasar etika politik yang diandalkan Berger cukup ampuh untuk menghadapi masalah-masalah pembangunan yang nyata. (*)

 

[1] Pertama kali diterbitkan dalam edisi Indonesia, Agustus 1982 (Prisma, LP3ES).

[2] P.I. Berger, Invitation to Sociology: A Humanistic Perspective, (Harmondsworth: Penguin Books, 1966); P.I. Berger/Th. Luckmann, The Cocial Construction of Reality: A Treatise in the Sociology of Knowledge, (Harmondsworth: Penguin Books, 1966).

[3] Dalam hubungan ini, melulu fungsi agama dalam arti sosiologis dimaksudkan, tanpa mengacuhkan pengertian diri masing-masing agama dalam hal “wahyu”.

[4] Kritik itu diajukan Berger juga terhadap modernitas di negara-negara industry. Bandingkan: P.L. Berger/B. Berger/H. Kellner. The Homeless Mind: Modernization and Consciousness, (Harmondsworth: Penguin Books, 1974); P.L. Berger, Facing Up To Modernity: Excursions in Society, Politics, and Religion. (New York: Basic Book, 1977).

[5] Kritik Berger dalam hal ini terutama didasarkan pada P. Freire, Culture Action for Freedom, (Harmondsworth: Penguin Books, 1972).

[6] P. Freire, Pedagogy of the Oppressed, (Harmondsworth: Penguin Books, 1972).

[7] Masalah itu pernah dibahas dalam karangan saya” “Pendidikan dalam Cengkeraman Kemelaratan”, Kompas, Senin 7 April 1980, hal IV+V.

Continue Reading
Advertisement

COLUMN & IDEAS

“Salah Pilih” Puisi dan Anak

mm

Published

on

Bandung Mawardi *)

Dulu, kita di TK sering bertepuk tangan dan bersenandung. Setiap hari bermain dan bergembira. Pasti! Di TK, bocah-bocah diajak belajar belum mengacu ke serius-serius. Mereka mengerti binatang, tumbuhan, kata, angka, langit, dan lain-lain cenderung dengan bermain, belum menanggungkan kaidah-kaidah ketat keilmuan. Peristiwa menggirangkan tentu bersenandung. Selama di TK, bocah-bocah mengenal dan menghapal puluhan lagu tanpa guru mengumumkan nama para penggubah: Ibu Sud, Pak Dal, Pak Kasur, atau AT Mahmud. Nostalgia di TK adalah bersenandung merdu atau teriak-teriak menjadikan lagu berantakan.

Bandung Mawardi, Esais.

Lagu memang cespleng mengenalkan dan mengantarkan bocah-bocah ke pelbagai pengertian. Guru pun memiliki peristiwa mengajak bocah berpuisi meski gairah tak semeriah lagu. Kita mungkin lupa atau sulit melacak lagi episode belajar membacakan puisi diajarkan oleh guru atau orangtua. Puisi belum keutamaan di TK. Pengingat puisi mungkin bocah ditunjuk guru ikut dalam lomba deklamasi. Puisi kadang dibacakan dalam pentas seni atau peringatan hari-hari nasional. Kita menduga bocah sulit mengingat kata-kata dalam puisi dibandingkan lagu.

Pada 1992, terbit buku berjudul Kumpulan Sajak untuk Anak TK. Buku tipis terbitkan Depdikbud. Buku mustahil tercatat dalam sejarah sastra Indonesia, tersingkir dari perbincangan arus kesusastraan anak di Indonesia. Buku itu “milik negara, tidak diperdagangkan.” Cap mengartikan buku-buku lazim berada di perpustakaan atau pihak-pihak berkepentingan. Para pengarang berlagak berpihak ke pengajaran sastra terduga tak meminati dan memiliki buku bersampul warna hijau tanpa gambar. Buku itu pasti bukan referensi penting bagi Taufiq Ismail, dosen-dosen di jurusan sastra, pengamat bacaan anak, atau kritikus sastra.

Buku terbitan di masa Orde Baru tentu wajib turut dalam capaian pembangunan nasional. Bocah-bocah diajak berpuisi tapi “dipatuhkan” oleh petunjuk-petunjuk cenderung politis ketimbang estetis. Bocah memang tak lekas merasakan tapi tata cara mengajarkan puisi mengikuti alur bentukan situasi pendidikan nasional cap Orde Baru. Misi mengajarkan puisi adalah pengembangan: Pendidikan Moral Pancasila; perasaan, kemasyarakatan, dan kesadaran lingkungan; pengetahuan; jasmani dan kesehatan.

Buku disusun oleh tim. Kita tak bakal mengetahui nama-nama penggubah puisi-puisi dimuat dalam buku. Kita mengutip puisi berjudul “Indonesia” berimajinasi kepulauan: Alangkah banyak pulaumu/ Tak dapat aku menghitungnya/ Tapi ada lima yang kau tahu/ Pulau yang besar di Indonesia// Pulau Sulawesi, pulau Jawa/ Pulau Kalimantan dan Sumatera/ Yang akhir Irian Jaya/ Itulah Indonesia. Guru mungkin mengajarkan sambil menunjuk peta Indonesia di dinding kelas.

Ada puisi bertema makanan berjudul “4 Sehat 5 Sempurna”. Dulu, propaganda pemerintah menginginkan jutaan orang sehat. Sekolah, puskemas, dan posyandu bertugas mengumumkan “4 sehat 5 sempurna” dengan poster atau pidato. Di TK, bocah-bocah menikmati puisi: Sayuran makanan yang bergizi/ Telur, daging, tempe dan tahu/ Jangan lupa buah dan nasi/ Ditambah dengan segelas susu. Masalah besar adalah susu dan buah. Di keluarga-keluarga miskin dan sederhana saat Orde Baru mementaskan muslihat kemakmuran, usaha mengadakan buah dan susu di atas meja itu sulit. Pengecualian di keluarga pejabat, pegawai, atau saudagar. Puisi agak memicu masalah imajinasi dan pengalaman bocah dari keluarga-keluarga miskin. 

Pada masa berbeda, institusi bahasa di naungan pemerintah ingin membuktikan melakukan kerja riset dan publikasi bertema sastra anak. Ikhtiar mengarah ke pendidikan-pengajaran sastra di sekolah. Buku mungkin ingin terbedakan dari selera kebijakan-kebijakan masa Orde Baru. Pada 2003, terbit buku berjudul Antologi Puisi Indonesia Modern Anak-Anak disusun oleh Suyono Suyatmo, Joko Adi Sasmito, dan Erli Yati. Mereka berpredikat pegawai bahasa di instansi pemerintah.

Kita membaca kutipan penjelasan pejabat dicantumkan di buku sepanjang dua halaman: “… Proyek Pembinaan Bahasa dan Sastra Indonesia, secara berkesinambungan menggiatkan penelitian sastra dan penyusunan buku tentang sastra dengan mengolah hasil penelitian sastra lama dan modern ke dalam bentuk buku yang disesuaikan dengan keperluan masyarakat, misalnya penyediaan bacaan anak, baik untuk penulisan buku ajar maupun untuk keperluan pembelajaran apresiasi sastra. Melalui langkah ini diharapkan terjadi dialog budaya antara anak-anak Indonesia pada masa kini dan pendahulunya pada masa lalu agar mereka akan semakin mengenal bentuk keragaman budaya bangsa yang merupakan jati diri bangsa Indonesia.” Kalimat-kalimat khas pejabat tapi wajib ada dalam buku-buku jarang bermutu.

Buku ingin berfaedah tapi mengandung masalah. Tim memiliki dalil-dalil pemilihan puisi dalam apresiasi sastra untuk anak: “Puisi yang menampilkan hal-hal yang akrab dengan dunia anak-anak ataupun hal-hal lain yang bisa diterima oleh kalangan anak-anak; Puisi yang secara estetis cukup bernilai tinggi sehingga memperkenalkan dan mengakrabkan pembaca anak-anak pada puisi yang berkualitas.” Tim sudah bekerja keras dalam mencari sumber-sumber bacaan dan bermufakat dalam seleksi puisi. Semua disajikan di buku menantikan pendapat para pembaca.

Kita menduga tim sulit mencari buku-buku puisi (selera) anak sudah diterbitkan sejak masa kolonial sampai masa 1990-an. Dulu, ada puluhan buku cap Inpres adalah buku puisi, tak selalu novel atau kumpulan cerita. Majalah-majalah memuat puisi anak tercatat puluhan: Kunang-Kunang, Si Kuntjung, Gatotkaca, Taman Putra, Ananda, Kawanku, Bobo, dan lain. Koran-koran pun memiliki rubrik puisi anak. Tim sengaja membatasi pilihan sumber atau gagal dalam lacakan sumber.

Buku bermisi apresiasi sastra untuk anak itu malah membuat komposisi: 80% gubahan orang dewasa dan 20% gubahan anak. Kekagetan dalam daftar puisi gubahan kalangan dewasa. Di situ, anak-anak disuguhi puisi-puisi gubahan Amir Hamzah, Chairil Anwar, Asrul Sani, Rendra, Subagio Sastrowardoyo, Sutardji Calzoum Bachri, Taufiq Ismail, Emha Ainun Nadjib, Hammid Jabbar, A Mustofa Bisri, dan lain-lain. Pilihan itu berpengaruh dalam lomba-lomba membaca puisi untuk murid-murid SD. Mereka membacakan puisi-puisi gubahan orang dewasa dengan pengucapan dan gerak “dipaksa” dewasa. Keluguan dan keriangan anak terlalu cepat diselerakan dewasa. Panitia lomba atau dinas-dinas pendidikan tak terlalu mengurusi masalah kepantasan dan kenikmatan puisi-puisi bagi murid-murid SD.

Di situ, dimuat puisi berjudul “Nyanyian Preman” gubahan Rendra. Anak-anak membaca: Wajahku disabet angin jadi tembaga./ Ketombe di rambut, celana kusut./ Umurku ditelan jalan dalam kembara./ Impian di rumput cerita butut// TKW/ Susu macan./ Ijazah SD/ Pengalaman// Adresku pojokan jalan tapi merdeka./ Hidupku bersatu bersama rakyat./ Jiwaku menolak menjadi kuku garuda./ Hatiku setia meskipun cacat.// Kugenggam nasibku mantap tanpa sesalan./ Bapakku mentari bundaku jalan./ Hidupku berlangsung tanpa buku harian./ Berani konsekuen pertanda jantan. Pada masa Orde Baru, puisi itu pernah digarap menjadi lagu oleh Rendra, Iwan Fals, Sawung Jabo, dan lain-lain. Kita mengandaikan saja guru dan murid membaca puisi Rendra sambil “kebingungan” dan sulit menuruti penasaran-penasaran mengacu ke situasi anak.

Buku itu terbit, tak diketahui diminati atau berpengaruh dalam pendidikan-pengajaran sastra anak. Kita mendingan menilik ulang masalah sastra anak. Sekian tahun, perbincangan atau ulasan sastra anak sering prosa ketimbang puisi. Penerbitkan buku-buku anak di Indonesia pun berlimpahan prosa. Burhan Nurgiyantoro dalam buku berjudul Sastra Anak: Pengantar Pemahaman Dunia Anak (2005) menggunakan pelbagai referensi asing menjelaskan ulang: “Puisi anak juga memiliki karakteristik yang identik dengan sastra anak: pengungkapan sesuatu dari kacamata anak. Sebagaimana halnya dengan puisi dewasa, puisi anak juga ditulis dengan seleksi kata yang ketat, pendayaan metafora dan citraan untuk menggambarkan imajinasi, memori, dan emosi.”

Kita bakal bertele-tele memahami dan menambahi penjelasan untuk memasalahkan kehadiran puisi-puisi gubahan para penulis moncer dalam buku berjudul Antologi Puisi Indonesia Modern Anak-Anak. Kita semakin membuktikan sedikit buku mau berpihak ke puisi anak. Artikel dan buku membahas prosa anak sering terbaca, berbeda nasib dengan puisi. Begitu.   

Continue Reading

COLUMN & IDEAS

Marah: Cerita dan Berita

mm

Published

on

Bandung Mawardi *)

Bocah itu sasaran marah. Album biografi memiliki bab-bab awal sebagai bocah dimarahi bapak atau ibu. Bocah mungkin bersalah diganjar marah. Bocah tak bersalah kadang terkena marah. Episode menjadi bocah sudah mengalami dan mencipta ingatan-ingatan marah. Pada saat “pementasan” kemarahan, bocah memilih diam, menangis, atau membalas dengan omelan-omelan. Marah itu peristiwa “dramatis” di pembentukan diri bersama keluarga, teman, guru, dan orang-orang pernah bersama si bocah membuat bab-bab biografis.

*) Bandung Mawardi, Esais.
Penulis Dahulu: Mereka dan Puisi (2020)

Marah memiliki tata cara? Sekian orang menganggap marah tak memiliki kaidah dan urutan. Marah sering mendadak atau “meledak” dalam usaha memendam di hitungan detik, menit, jam, dan hari. Bahasa dan gerak saat marah dimiliki si pemarah tanpa wajib mengikuti petunjuk di sekolah, kursus, les, atau pelatihan secara “profesional”. Pemarah itu aktor. Ia pun mengumbar kata-kata sulit dipelajari melalui tata bahasa formal dan berpijak di kamus-kamus. Kata-kata dalam marah justru peristiwa bahasa mengejutkan tapi mendebarkan bila terduga berdampak fatal.

Kita ingin membaca (lagi) rekaman-rekaman marah dalam gubahan sastra. Pilihan memang mengandung imajinasi. Kita membaca dengan tokoh dan latar berbeda, menginginkan penemuan mutu atau selera marah. Kita mulai dengan buku cerita berjudul Tono dan Tini (1979) gubahan Annie MG Schmidt. Buku cerita disimak bocah-bocah di Belanda, diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Alma Evita Almanar. Pada hari hujan, Tono dan Tini cuma bisa bermain di dalam rumah. Ibu Tono menganjurkan dua bocah itu menikmati waktu dengan menggunting gambar-gambar bagus di buku sudah tak dipakai. Gunting dan 3 buku diberikan ke mereka. Tono dan Tini senang menggunting beragam gambar.

Hujan belum reda, mereka masih ingin menggunting dan mengoleksi gambar. Tono melihat buku-buku di lemari koleksi bapak. Ia sengaja mengambil lagi buku-buku di bagian bawah. Tiga buku tadi sudah habis digunting. Mereka ingin buku-buku lagi, menambahi kegembiraan menggunting. Sekian buku menjadi sasaran penggutingan. Dua bocah girang dan saling pamer. Meni-menit berganti, bapak Tono datang tercengang. Tono dan Tini menggunting, kertas-kertas sisa guntingan dari buku-buku berserakan. Bapak marah melihat buku-buku penting ikut diguntingi. Bapak pun berteriak. Marah! Tono dan Tini berhenti, gunting lepas dari tangan. Pengarang menceritakan: “O, dia sangat marah! Alangkah marahnya dia!” Tono sedih sekali dimarahi. Pada malam hari, Tono tak dibacakan buku oleh bapak. Konon, Tono mendapat hukuman. Rumah memang tempat “pementasan” marah mungkin terjadi setiap hari. Tono mengerti berbuat salah. Marah itu memastikan pihak bersalah. Hukuman pun wajar.

Kita bergerak ke Tiongkok, membaca marah di keluarga miskin berlatar Revolusi Kebudayaan. Marah diceritakan dalam novel berjudul Kisah Seorang Pedagang Darah (2015) gubahan Yu Hua, diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Agustinus Wibowo. Kemarahan biasa terjadi setiap hari dengan pelbagai pemicu. Tiga bocah hidup dalam “roman” kemarahan dicipta bapak dan ibu. Marah mengartikan mengingatkan, mendidik, merendahkan, melukai, dan lain-lain. Tokoh bapak dalam novel memiliki kebiasaan marah dengan parade kata mengejutkan. Kita cuma membaca dalam terjemahan bahasa Indonesia. Kemarahan bapak pada anak: “Kamu genjik cilik. Kamu telur kura-kura cilik… Suatu hari nanti kamu pasti bakal bikin aku mati marah-marah.” Kemarahan akibat makanan, sikap, pekerjaan, politik, atau asmara “diselenggarakan” di rumah. Sekian kata “aneh” itu mengesankan kemarahan memiliki referensi kata dan khazanah kata terwariskan. Pemarah bisa mengumbar kata-kata lugas atau sejenis metafora. Pembaca novel Yu Hua menemukan sekian “pementasan” kemarahan khas dalam kata.

Kita memiliki dua bacaan mengandung marah berasal dari Belanda dan Tiongkok. Kita menemukan tokoh bocah terkena marah. Kesalahan bocah mudah menghasilkan marah. Konon, orangtua berdalih marah untuk memberi “pelajaran” atau membuat si bocah kapok. Marah terasakan serbuan tanda seru. Suara keras, pilihan kata, dan wajah membuat marah itu “bermakna”. Marah itu “api”, “letusan”, “ledakan”, atau “gempuran”. Marah pun menerbitkan sumpah atau kata-kata bertuah “mengundang” petaka. Di hadapan buku cerita atau novel, kita belajar marah di pelbagai peradaban. Kita perlahan mengerti sejarah peradaban besar disahkan kemarahan-kemarahan. Arus peradaban di Yunani, India, Tiongkok, Persia, Mesir, Jepang, Prancis, Amerika Serikat, dan lain-lain pasti memiliki bab-bab marah dengan daftar para tokoh kondang: raja, ratu, jenderal, pengarang, saudagar, filosof, seniman, buruh, dan lain-lain. Kemarahan melegenda dalam album peradaban dunia. Marah mengubah arah kekuasaan. Marah memicu duka dan darah dalam masalah agama. Marah pun bermula dari asmara membuat orang-orang bergelimpangan.

Novel penting bercerita marah digubah oleh Chinua Achebe berjudul Things Fall Apart, diterjemahkan ke bahasa Indonesia berjudul Segalanya Berantakan (1986). Ungkapan dan dampak kemarahan dalam novel menguak sejarah rumit Afrika. Kehidupan suku guncang gara-gara kedatangan “orang kulit putih” membawa misi-misi besar: agama, bisnis, pendidikan, kekuasaan. Novel mengajak pembaca ke halaman-halaman bercerita antropologis. Kemarahan melanda keluarga-keluarga di suku mengakibatkan petaka-petaka. Pembaca mafhum “berantakan” bermula dari salah paham, penghinaan, pelanggaran, atau penindasan Marah dilancarkan sebagai konsekuensi melawan, balasa dendam, putus asa, dan lain-lain. Marah di Afrika itu menggerakkan sejarah: ditolak dan diterima. Buku sejarah sering memiliki halaman-halaman marah. “Berantakan” dari ratusan tahun lalu belum berakhir.

Kita sudah mengingat tiga buku, berusaha mengerti marah di Belanda, Tiongkok, dan Afrika. Buku-buku cerita tak bermaksud menjadi sumber pelajaran sejarah secara “resmi”. Kita membaca dan mengutip saja dalam membuka ingatan-ingatan kemarahan berlangsung di pelbagai negeri, dari masa ke masa. Kita sengaja belum ingin membaca buku-buku cerita gubahan pengarang Indonesia dalam menguak makna dan dampak marah. Buku-buku biar tetap tertutup, menunggu saat paling tepat untuk terbaca dengan tenang.

Konon, orang-orang Indonesia sedang dihebohkan kemarahan tokoh berdampak ke ikhtiar penanggulangan wabah dan pemulihan nasib Indonesia. Kemarahan itu anggaplah “resmi” berkaitan kekuasaan dan pemenuhan amanah sudah diberikan dalam tata cara berdemokrasi, sekian tahun lalu. Kita tak lagi berurusan dengan fiksi tapi fakta. Kemarahan itu ditonton jutaan orang, menimbulkan tafsir-tafsir mungkin memberi pujian atau ledekan. Kemarahan pun menjadi berita di koran-koran terbit 29 dan 30 Juni 2020. Kita pastikan membaca berita-berita, bukan cerita-cerita bergelimang imajinasi. Wabah belum rampung, kita sibuk “bergosip” dengan tema marah. Begitu.

Continue Reading

COLUMN & IDEAS

Emha, Satra dan Pengakuan

mm

Published

on

Oleh Bandung Mawardi *)

Semula, orang-orang mengenali Emha Ainun Nadjib di sastra. Para pembaca majalah Horison masa lalu sering membaca puisi dan cerpen gubahan Emha Ainun Nadjib. Majalah itu tercatat dalam biografi tokoh telah menua. Kini, ia masih lantang saat omong dan sregep menulis. Leren atau tamat tak tercantum dalam “kamus” milik Emha Ainun Nadjib. Di toko buku, kita memastikan puluhan buku Emha Ainun Nadjib menggoda orang untuk membeli dan membaca. Buku lama cetak ulang. Buku baru pun terbit. Di situ, kita membaca nostalgia dan kecenderungan mutakhir ibadah keaksaraan Emha Ainun Nadjib dengan pelbagai ke-mbeling-an dan kesantunan.



Muhammad Ainun Nadjib (born 27 May 1953), best known as Emha Ainun Nadjib or Cak Nun, is an Indonesian poet, essayist, and humanist. Born in JombangEast Java, Nadjib began writing poetry while living in Yogyakarta, publishing his first collection in 1976. He became one of the city’s predominant poets by the late 1980s, and by then had also began writing essays. He is the leader of the Kiai Kanjeng group, which stages dramas and musical performances on religious themes. Early poems by Nadjib have elements of social criticism. However, more prominent are Islamic values, variously described as santri or Sufi. Islam is also a common subject for his essays. His writings have taken a variety of forms, including poetry, essays, novels, and short stories. (Wikipedia)

Keranjingan bersastra memiliki kaitan dengan Horison, sebelum Emha Ainun Nadjib sering menulis kolom di pelbagai koran dan majalah. Kita ingin menghormati Emha Ainun Nadjib saat ulang tahun dengan mengingat babak pergulatan dan pergaulan sastra masa lalu. Di Horison edisi Oktober 1991, kita simak hasil wawancara bersama Emha Ainun Nadjib. Ia tak melulu di sastra. Emha Ainun Nadjib terbukti mumpuni pula di teater dan musik. Ia rajin berceramah atau membuat obrolan-obrolan bertema agama di pelbagai tempat. Sastra mungkin masih pijakan atau titik mula.

Emha Ainun Nadjib menjadi “manusia seribu acara”. Sibuk! Ia kangen bersastra tapi harus berhitung dengan segala peristiwa dan perjumpaan manusia di keseharian. Ia mengaku ingin “menjadi sastrawan kembali”. Sulit! Kita simak perkataan Emha Ainun Nadjib berlatar 1980-an dan 1990-an: “Tapi sebenarnya bertahun-tahun saya hampir tak punya peluang bersastra-sastra ria. Artinya, ragam kegiatan saya yang ‘disusun’ oleh orang banyak kurang toleran terhadap berlangsungnya metabolisme kreativitas sastra saya.” Ia tak mengeluh atau pamer sesalan telah berada dan mengalami pelbagai peristiwa di luar sastra. Sekian kegiatan memang semakin jarang berkategori sastra. Emha Ainun Nadjib telah milik umat beragam tema, tak cuma sastra. Orang-orang memang mulai terpikat dan menganggap Emha Ainun Nadjib itu kolomnis tanpa tanding. Tulisan-tulisan menggairahkan opini publik bersikap atas keadaan aktual. Sastra masih disinggung tapi menipis.

Tarik-ulur dalam menempatkan diri untuk pergulatan keaksaraan dan omongan masa 1990-an memicu dilema. Emha Ainun Nadjib memilih berkelakar: “Yang menyangkut sastra adalah keinginan saya agar kelak saya sanggup merepresentasikannya melalui bahasa sastra. Tapi susah, ya? Sastrawan itu pasti kekasih gelap Tuhan, diizinkan dilalui oleh keindahan-Nya.” Sekian orang tetap membaca puisi-puisi gubahan Emha Ainun Nadjib terbit menjadi buku berjudul 99 Untuk TuhankuSyair Lautan JilbabSeribu Masjid Satu JumlahnyaCahaya Maha Cahaya, dan lain-lain. Di mata kalangan sastra, Emha Ainun Nadjib itu pujangga religius dengan memberi bobot kritik sosial dan sikap-sikap kemanusiaan. Ia tak perlu dipaksa masuk dalam kategori menghasilkan sastra sufistik, sastra profetik, atau sastra transendental.

Pada masa 1970-an dan 1980-an, diskusi sastra dan penulisan kritik sastra menempatkan para pujangga dan buku puisi dalam kategori-kategori mengarah ke keagamaan. Publik membaca dan memberi predikat pada Abdul Hadi WM, Taufiq Ismail, Kuntowijoyo, Emha Ainun Nadjib, Sutardji Calzoum Bachri, Zawawi Imron, dan lain-lain. Di pelbagai perbincangan sastra, nama Emha Ainun Nadjib mungkin disebut tapi ia perlahan tak terlalu “terpandang” dalam gejolak kesusastraan Indonesia. “Saya bukan apa-apa, belum ‘seseorang’ dalam dunia sastra Indonesia,” pengakuan Emha Ainun Nadjib.

Pendapat atau pengalaman bersastra Emha Ainun Nadjib selama sekian tahun terbit menjadi buku berjudul Sastra yang Membebaskan (1984). Buku kecil bekertas buram. Kita membaca (lagi) sebagai pembukti ingatan masa keranjingan bersastra, sebelum Emha Ainun Nadjib menjadi “manusia seribu peristiwa” dan harus “merebut” kewaktuan untuk sastra di masa 1990-an. Tulisan-tulisan dokumentatif dan menjelaskan posisi Emha Ainun Nadjib sebagai penggubah atau pengamat sastra.

Emha Ainun Nadjib menerangkan: “Sejak awal 1982, kita menyaksikan berbagai gugatan agar sastra lebih menunjukkan peran sertanya dalam proses perubahan sosial. Ini jelas bukan sekadar gejala kesusastraan, tapi bersumber pada kompleksitas kegelisahan sosial yang lebih luas. Meskipun batang tubuhnya berupa pemikiran sastra, namun ia adalah ‘saudara kembar’ dari sebutlah meluasnya kesadaran akan keperluan sosiologi dalam banyak ilmu-ilmu pilah modern, munculnya antitesa terhadap tradisi arsitektur modern, tumbuhnya solidaritas-solidaritas dalam kehidupan beragama, atau makin banyak diselenggarakannya kegiatan yang menegur-sapakan berbagai spesialisasi kehidupan.” Sastra “diwajibkan” terbuka, tak sendirian atau dalam pengistimewaan tanpa jamahan atau keterjalinan dengan hal-hal lain.  

Pada 2020, Emha masih menulis beragam tema. Wabah pasti dituliskan dengan kelenturan sikap dan acuan. Orang-orang merasa berhak memberi penghormatan meski tanpa acara besar dan menghebohkan. Situasi tak memungkinkan, Emha Ainun Nadjib mungkin tak menginginkan. Di hadapan kita, Emha Ainun Nadjib telah berubah menandai tua. Wajah itu masih ganteng dan berwibawa dengan sekian kerut. Ketuaan mustahil menghentikan ibadah menulis dan membuat obrolan-obrolan di seantero Indonesia. Ia belum letih. Emha Ainun Nadjib belum ringkih.

Kita mengingat masa muda bersatra di Jogjakarta melalui pengakuan Emha Ainun Nadjib: “Kompetisi yang ketat, suatu perjalanan penuh api, hidup koyak sekolah terbengkalai, hingga akhirnya tiba di sampai ke sampai, meskipun tak akan pernah selesai…. Di Pelopor Yogya ketika itu, suatu hari, puisiku tiba-tiba telah terpasang di ruang ‘Sabana’, suatu tempat tinggi yang di perasaanku waktu itu bagaikan di Arsy. Sesudah membeli sebiji koran itu rasanya ingin aku berlari ke setiap jakan dan gang-gang di kampung-kampung seluruh Jogjakarta untuk melaporkan puisiku.” Kegirangan seorang muda ingin mendapat tempat di sastra, setelah tekun belajar dan mendapat pengasuhan dari Umbu Landu Paranggi. Ia merasa sah sebagai pujangga.

Pulang ke Jombang, Emha Ainun Nadjib mengumumkan ke ibu mengenai puisi di Pelopor Yogya. Puisi tak setinggi pemaknaan bagi ibu dan keluarga. Emha Ainun Nadjib terkejut melakukan kesalahan dugaan dan pengukuran. Ia pun menceritakan pada kita: “Ibuku sama sekali tak terkejut. Bahkan tak sedikit pun ada perubahan di roman mukanya. Meskipun pancaran kasih sayangnya tak pernah berhenti mengalir, tapi aku tahu betul ‘Sabana’ itu tak berarti sama sekali bagi alam hidup pribadi ibuku. Segera sesudah itu aku pun makin melihat juga bahwa semua sahabatku di desa, orang-orang tua, seluruh anggota keluargaku, tidak bergeming oleh pameran itu. Mereka asing.” Emha Ainun Nadjib mulai berhitung ulang: diri, puisi, keluarga, agama, Indonesia, dan lain-lain. Puluhan tahun lalu, ia telanjur menjadi pujangga. Kini, kita tetap mengakui ia adalah pujangga, memberi puisi-puisi di arus penginsafan dan kesadaran mengarah ke religiusitas dan kemanusiaan. Begitu. (*)     

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending