Connect with us

Milenia

Bermobil di Jalan Indonesia

mm

Published

on

Oleh SetyaningsihEsais, penulis buku Kitab Cerita (2019)

Mobil pernah berpendar dalam imajinasi sederhana. Mobil menjadi replika atas kecepatan, impian, keberhasilan, dan unjuk diri dalam permainan mobil-mobilan. Demi mencipta pengalaman nyaris realis, anak-anak menirukan suara mesin, mengatur kecepatan, dan segera membangun jalan-jalan lebar serta bersih di dalam kepala. Bermobil imajiner itu jelas tidak lagi mengingatkan gubahan lagu anak-anak milik Ibu Sud pada 1938 yang berdendang merdu dan mengajak anak-anak berhati-hati: awas kendaraan jalan hati-hati.

Ibu Sud sangat mafhum bahwa jalan di tanah jajahan telah ramai kendaraan, termasuk mobil. Dalam kasus berkendara di jalan, kendaraan tidak bermesin seperti sepeda, delman, atau gerobak harus lebih waspada. Cerap lagu “Bung Polisi Pengatur Lalu Lintas” (Ketilang,1982), hai kawan bung polisi kita/ bekerja dengan tangkas/ mengatur lalu lintas/ tengoklah tangannya diacu-acukannya/ itulah perintah yang tepat bagi rakyat/ ayuh ini lalu, itu tunggu dulu/ ayuh itu lalu, ini tunggu dulu/ awas kendaraan jalan hati-hati. Adab di jalan menentukan keselamatan di jalan.

Pembentukan jalan di masa kolonial memang meminta kompensasi nyawa. Ada 51.615 mobil di Hindia Belanda pada 1939, paling banyak berada di Jawa. Sebagai contoh di Surabaya pada 1928, kasus kecelakaan serius paling sering disebabkan oleh mobil lalu menyusul kereta api (Rudolf Mrazek, 2006). Di jalanan modern, segala kendaraan bermesin memang mencipta cara baru ‘berkelana’. Proyek ambisius pembangunan jalan di tanah jajahan adalah mukjizat kecepatan, pondasi ekonomi, penciptaan gaya hidup modern berkendara, dan sekaligus cara baru mengalami musibah.

Dalam dunia kerakyatan yang senang bertukar kabar, kecelakaan bisa menjadi cerita empatik sekaligus heroik. Terkadang, cerita tentang kecelakaan di jalan bisa lebih dramatis dibandingkan kejadian aslinya. Kecelakaan memang musibah. Tapi, kecelakaan sebagai cerita yang biasanya melibatkan mobil dengan sepeda atau pejalan kaki menjadi acuan mengenalkan kedigdayaan jalan, teknologi kendara, persaingan, keramaian, dan (akhirnya) sikap berhati-hati.

Di buku pelajaran lawas berbahasa Jawa berjudul Tataran II (R. Wignjadisastra, 1950) muncul cerita berjudul “Katjilakan”. Cerita dilengkapi gambar seorang simbok menggendong bakul yang hampir tertabrak mobil. Diceritakan bahwa Pak Koentjoeng mengabarkan kepada anak dan istri tentang kecelakaan yang melibatkan mobil, Mbok Tomblok, dan sapi. Mbok Tomblok berjalan di sisi kanan yang seketika membuat mobil kaget. Pak Koentjoeng berpesan kepada anak, “Moelané kowé jèn pada mlakoe sing ngati-ngati. Metoe pinggir kiwa. Wong montor koewi ora kena disanak.” Pesan memantik cerita kecelakaan lain yang menewaskan ayam, “Anoe pak. Pitiké Mijem, djare ija mati ketoendjang montor. Toedjoené pitikkoe ora.” Mobil tidak hanya menakuti manusia, tapi mengancam nyawa binatang yang sembarangan melenggang di jalan

Rezim Mobil

Di tengah diplomasi pengembalian keris Kyai Naga Siluman milik Pangeran Diponegoro oleh pemerintah Belanda kepada pemerintah Indonesia, muncul wacana pengembalian naskah kuno dan artefak sejarah lainnya. Tajuk harian Solopos, 14 Maret 2020, mengingatkan pada mobil berjuluk kereta setan atau Benz Victoria Phaeton milik Pakubuwana X. Inilah mobil pertama di Indonesia yang mengenalkan modernitas di tanah jajahan. Mobil bermesin satu silinder tidak kembali setelah dipinjam Belanda untuk pameran mobil pada 1924 dan saat ini dirumahkan di Museum Louwman, Belanda.

Sejarahwan John Pemberton (2018) menulis, “zaman kemajuan sering menempatkan Pakubuwono X di jalan dalam mobilnya atau di atas gerbong ekstra Baginda atau, sebagaimana di sini, di sebuah hotel.” Pakubuwono X bertakhta ketika perpolitikan di Hindia Belanda mengalami perubahan-perubahan besar. Ia menyaksikan sekaligus mengalami kemajuan komunikasi, transportasi, perekonomian di Surakarta yang menjadi titik perhubungan modern, salah satunya ditandai dengan pembangunan stasiun kereta api. Kita membayangkan Pakubuwana X melakukan perjalanan dinas ke desa-desa di Jawa Tengah di atas mobil. Itulah salah satu cara modernitas dikenalkan, menakutkan tapi sangat mengagumkan.

Mobil semula dinikmati sekelumit elite birokrat pribumi, menjadi semakin wajar dalam tatanan kekuasaan dan ditularkan sebagai gaya hidup. Secara politis, mobil melanggengkan sekaligus mengguncang kemapanan rezim. Pemerintah Orde Baru membuat banyak orang bermimpi tentang mobil sebelum terbang dengan pesawat. Di buku himpunan surat kepada Soeharto berjudul Anak Indonesia dan Pak Harto (1991), ada surat dari Tiwik cs (Yayuk, Tri, Ike, dan Yuli) dari Banyumanik, Semarang Selatan.

Tiwik cs menyampaikan kekesalan karena melewatkan satu hal penting saat parade penyambutan obor perdamaian di Jalan Setia Budi dalam rangka Hari Persahabatan 1986. Tiwik cs menulis, “Rencananya jam 2.30 tapi setelah ditunggu kok lama buanget, setelah jam 3.30 ternyata obornya sudah lewat dan berada di dalam mobil. Wah hati “Tiwik cs” sangat dongkol deh…bukan cuma hati “Tiwik cs” aja, tapi hati semua anak-anak, adik-adik, embak-embak, dan masih banyak lagi.” Mobil-mobil telah mulai memasuki jalanan pembangunan. Bagi anak, sekadar melihat saja cukup mengisi pengalaman fantastis. Mobil ibarat benda ajaib dari masa penemuan yang jauh tapi ingin turut mereka rasakan.

Tiwik cs pasti belum lahir ketika Indonesia mengalami bakar-bakaran mobil dalam Peristiwa Malari (15 Januari 1974). Ada 807 mobil dirusak-dibakar. Mahasiswa menyambut kunjungan Perdana Menteri (PM) Jepang Kakuei Tanaka dengan amarah dan demonstrasi di Pangkal Udara Halim Perdanakusuma. Bahkan ketika Jakarta masih mencekam pada tanggal 17 Januari, mobil senyaman apa pun tidak menjamin keselamatan tamu negara. PM Kakuei Tanaka diterbangkan dari Bina Graha ke pangkalan udara dengan helikopter (Asvi Warman Adam di Kompas, 16 Januari 2003). Penolakan pada tamu negara yang berarti menolak modal asing diarahkan pada pembakaran (komoditas) mobil. Hal ini bisa juga menganalogikan kekuasaan seperti mobil, hanya membuat nyaman (penguasa) di dalam dan mengabaikan (rakyat) di luar.

Kita selalu mengingat Jepang sebagai negeri mahapembuat mobil. Eh, di majalah Bobo edisi 12 Maret 2020, ada pengumuman 30 finalis lomba menggambar “Toyota Dream Car Art Contest” 2020. Menariknya, anak-anak serius ingin menciptakan mobil yang tidak lagi menunjukkan kepemilikan mewah-individualistik, normatif secara fungsi, bukti kekuasaan, dan gaya hidup mapan. Mobil anak-anak ini lahir dari imajinasi futuristik bersendi pada empati atas keselamatan bumi dan humanisme global. Misalnya Syhaloom Calysta Nazhwa (6 tahun) dari Boyolali, menggambar mobil pemasak raksasa untuk korban bencana alam yang diberi nama Giant Cooker Car for Disaster Victims.

Nama mobil memang harus berbahasa Inggris untuk menegaskan kecanggihan. Ada juga mobil melayang berbentuk galon yang di atasnya tumbuh pohon-pohon. Mobil menyalurkan selang air ke galon di darat yang dikelilingi banyak orang. Mobil Galon ini digambar oleh Melia Zalfa Nabila (11 tahun). Selain dua mobil ini, kita masih mendapati mobil-mobil bermisi mulia; Mobil Kebakaran Hutan dan Lahan, Garbage Cleaning Cars in Space, Mobil Masker Polusi, Anti Bullying Car, Mobil Rotan Ramah Lingkungan, Saving Marine. Pejabat yang jelas dipinjami Pajero, Avanza, atau Xenia untuk bekerja, sepertinya harus belajar mengamalkan kendaraan dari anak-anak mobil impian Toyota.

Di rumah, kantor, tempat ibadah, sekolah, lobi bank, depan warung pecel, pusat perbelanjaan, tempat wisata, atau bahkan jalan perumahan sempit, sangat biasa mobil ditemukan. Bau bensin atau kepulan debu dari laju mobil bukan lagi keajaiban dari zaman bergerak maju. Kita berhasil dibuat sangat biasa menghadapi mobil. Kendaraan keluarga, dinas, dakwah, atau bisnis bentuknya mobil. Yang cukup baru sekitar dua tahun ini, keluarga menunjukkan identitas keagamannya dengan memasang stiker “Moslem Family” di kaca belakang mobil. Dunia ini masih menanggung macet karena mobil. Mungkin, jalan ke surga akan menanggung masalah yang sama. (*)

Continue Reading
Advertisement

Milenia

Bersatu Dalam rasa—Kumpulan Resep Masakan Praktis

mm

Published

on

Pandemi Coronavirus disease 2019 (Covid-19) ini datang begitu saja dan mengubah hampir seluruh pola hidup manusia. Gedung sekolah lengang, lorong perkantoran sepi. Orang-orang lebih banyak mendekam atau beraktivitas di dalam rumah, demi memutus mata rantai penularan virus SARS CoV-2 yang mematikan.

Perubahan itu terjadi pula pada aktivitas kuliner masyarakat urban. Mereka tak lagi makan siang di resto di sela-sela waktu bekerja. Di masa pandemi ini, mereka memilih untuk mengonsumsi masakan rumah. Ikhtiar meyakinkan diri bahwa makanan yang dikonsumsi aman dari virus, sekaligus menambah kehangatan momentum kumpul keluarga. 

Aktivitas perdapuran menjadi lebih sering dilakukan. Para koki rumah menjajal menu baru atau sekadar mempraktikkan kembali menu lama. Pada titik itulah, kami—sekelompok perempuan muda yang berkumpul untuk saling mendukung dan berbagi terhadap sesama—mencoba berkontribusi.

Kami menawarkan alternatif resep masakan rumahan yang praktis dan mudah dipraktikkan oleh siapa saja.  Ikhtiar ini sejalan dengan gagasan sejarawan dan penulis buku Sapiens: A Brief History of Humankind (2014) Yuval Noah Harari, bahwa cara utama untuk menangkal epidemi ini bukan dengan pemisahan, melainkan kerja sama: kolaborasi. Dengan kolaborasi resep masakan ini, kami berharap agar orang-orang betah #dirumahaja.

Belajar, bekerja dan beribadah di rumah. Harapan itu begitu besar, sebesar harapan kita semua agar pandemi ini segera berlalu. Secara umum, buku ini berisikan empat kategori. Berupa kudapan (appetizer), hidangan utama (signature dish), makanan penutup (dessert), dan minuman (beverage). Kami mengucapkan terima kasih kepada  Agung Sedayu dan Ari Ambarwati yang telah memberikan endorsement. Dengan dukungan kalian, buku ini menjadi lebih dapat diterima oleh masyarakat luas.

Ucapan terima kasih juga kami haturkan kepada teman-teman geng Kulinerita Kekinian lainnya: Igna, Ilmia, Irene, Janti, Kiki, Muno, Nancy, Nurul, Reni, Sari, Annisatul Ummah, Wina, dan Ayu. Kalian adalah sumbu semangat kami untuk terus berkarya. Semoga buku ini bermanfaat.

Klik tautan berikut untuk mengunduh Kumpulan Resep Masakan Praktis untuk di rumah saja.

Continue Reading

Milenia

Sayembara Manuskrip Puisi Jakarta: Siapakah Jakarta

mm

Published

on

“SIAPAKAH JAKARTA”
Sayembara Manuskrip Puisi Jakarta

By Galeri Buku Jakarta 2020

Masalah Jakarta adalah bagaimana caranya seseorang mengalami dirinya sebagai warga kota? Apakah juga kota ini terlalu angkuh untuk seseorang merasa kesulitan untuk menjadi warga kota. Siapakah Jakarta? Yang terus angkuh, sibuk dengan segala yang terasa mengasingkan kita dan memblok diri kita untuk mengalami kewargaan kota ini?

Sebagian orang melihat Jakarta antara rutinitas dan kreativitas, antara kemacetan dan keihklasan, antara polusi dan kebertahanan untuk mutasi. Halnya menjadi semacam meniti tali tambang usang. Sebagain lain memilih cara “mengalami” Jakarta dengan cara paling sederhana; turun hambur ke jalan bersama yang berangkat dan pulang kerja, merasakan kemacetan dengan lapang dada, melihat galain proyek dari waktu ke waktu tanpa batas usang dan tak perlu bertanya apa dan kenapa, segala seperti dititik yang sama. Sementara yang lain lagi merasa berada di luar realitas, antara penderitaan dan kenikmatan; melihat spion motor yang copot dihempas ketidaksengajaan orang-orang, melihat anak kecil kencing di got, melihat dua mobil di gang memilih diam tiada siapa akan mengalah, kebuntuan, kata-kata kasar, panas matahari di lampu merah, apa yang membuat anda mengalami Jakarta?

Galeri Buku Jakarta, tahun ini mengadakan Sayembara Manuskrip Puisi Jakarta. Sayembara ini memanggil para penulis Indonesia untuk turut merespon kemanusiaan abad ini. Merefleksikan wajah kota-kota yang tengah kebingungan mencari bentuk dan sandaran kesadaran di tengah konstruksi sosial politik yang semakin rumit dan cenderung involutif dalam kegagapan menghadapi abad baru, budaya industri baru dan konteks perkembangan ekonomi mau pun politik yang relatif baru dan dalam beberapa ruang-dimensi berbeda sama sekali dibanding pada beberapa dekade lalu.

Proyek ini ditujukan untuk menghadirkan puisi sebagai mahluk konkrit dalam upaya kultural merebut kesadaran warga dari keterasingan dan kebingungannya. Sayembara manuskrip puisi ini mengambil tema utama: SIAPAKAH JAKARTA (tanpa tanda tanya).

PARA PENYAIR

Sayembara manuskrip puisi Jakarta ini akan ditujukan kepada publik melalui sayembara. Para pemenanganya adalah 15 penyair yang naskahnya oleh Dewan Juri/ kurator dipilih sebagai layak dan terbaik untuk mewakili tema utama SIAPAKAH JAKARTA dan akan diterbitkan dalam buku Antologi Sajak Jakarta bersama para penyair tamu—yaitu para penyair yang diminta oleh Galeri Buku Jakarta untuk terlibat dalam proyek ini.

PENYAIR TAMU

Selain 15 penyair peserta sayembara puisi Jakarta, beberapa penyair tamu akan turut terlibat dalam proyek ini, mereka adalah penyair yang dimintai langsung oleh galeri buku Jakarta untuk ikut menulis puisi bertema “Siapakah Jakarta”. Diantaranya adalah: Afrizal Malna, Aan Mansyur, Esha Tegar Putra, Joko Pinurbo, Hamdy Salad, Mutia Sukma, Kang Maman, Hasan Aspahani, dan nama nama lainnya.

SAYEMBARA

Sayembara ini akan berlangsung mulai pada bulan Maret hingga final penjurian dan peluncuran pada Agustus-September 2020. Tidak memberikan hadiah berupa uang kepada peserta sayembara mau pun penyair tamu. Apresiasi diberikan hanya dalam bentuk penerbitan buku antologi bersama puisi Jakarta.

Dan berikut adalah ketentuannya:

1. KETENTUAN UMUM

  • Peserta adalah warga negara Indonesia (dibuktikan dengan fotokopi KTP atau bukti identitas lainnya),
  • Naskah puisi belum pernah diterbitkan/ publikasikan dalam bentuk apa pun baik cetak maupun elektronik.
  • Naskah puisi tidak sedang diikutkan dalam sayembara serupa
  • Naskah puisi ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik
  • Tema bebas dengan merujuk pada tema utama: SIAPAKAH JAKARTA
  • Naskah puisi adalah karya asli, bukan saduran, bukan jiplakan (sebagian atau seluruhnya)

2. KETENTUAN KHUSUS

  • Menggunakan A4, spasi 1, bentuk huruf  Times New Roman ukuran 12,
  • Naskah puisi yang dikirimkan maksimal 5 judul puisi/ sajak.
  • Menyerahkan biodata, alamat surat pos, dan nomor kontak whatsapp di lembar terpisah
  • Naskah dalam dokumen Ms. Word dikirim ke email redaksigbj@gmail.com
  • Peserta tidak wajib mengirim salinan naskah dalam copy ke Panitia Sayembara Puisi Jakarta
  • Batas akhir pengiriman naskah : 11 Juli 2020

3. LAIN – LAIN

  • Para pemenang akan diumumkan dalam Malam Anugerah Sayembara Manuskrip  Puisi Galeri Buku Jakarta Agustus-September 2020 dalam event peluncuran buku.
  • Hak cipta dan hak penerbitan naskah peserta sepenuhnya berada pada penulis
  • Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan surat menyurat.
  • Sayembara ini terbuka bagi siapa saja.
  • Maklumat ini bisa diakses di galeribukujakarta.com
  • Dewan Juri sayembara ini adalah: Afrizal Malna, Damhuri Muhammad, Aan Mansyur dan Saras Dewi.

4. HADIAH      

  • 15 penyair terpilih akan mendapat kesempatan untuk minimal 2 judul puisinya terbit dalam antologi puisi Jakarta bersama para penyair tamu di antaranya: Afrizal Malna, Aan Mansyur, Esha Tegar Putra, Mutia Sukma, Hamdy Salad, Saras Dewi, Joko Pinurbo, Hasan Aspahani dan beberapa penyair tamu lainnya.
  • Masing – masing pemenang akan mendapatkan 3 eksemplar buku antologi puisi Jakarta setelah proses penerbitan.
  • Tidak ada hadiah uang, atau honorarium apa pun dalam sayembara ini.

5. JADWAL

  • Publikasi maklumat: Maret 2020
  • Pengumpulan karya: Juli 2020
  • Penjurian: Agustus 2020
  • Pengumuman pemenang dan Peluncuran: Agustus / September 2020

___
GALERI BUKU JAKARTA

Reclaiming Our Cities With The Culture | www.galeribukujakarta.com | t, ig, f : galeribuku_jkt | email: galeribukujakarta@gmail.com  | unduh Pdf rilis Sayembara Puisi Jakarta di sini | unduh posternya di sini: Poster Sayembara Puisi Jakarta

Continue Reading

Milenia

‘Memikirkan Kata’ Panduan Berpikir atau Menulis?

mm

Published

on

Buku ini memuat catatan dari mereka yang telah begitu lama memikirkan kata, tersesat dalam kegelapannya, mengambil dari wilayah pribadi kata-kata untuk menghasilkan cerita dan pencerahan yang dibutuhkan manusia. Para editor media ternama, para penyair, esais dan para sastrawan berkumpul dalam buku ini

Editor’s Note

Menulis dan buku-buku adalah sebuah seni. Melampaui keliteraturan—dalam arti kenikmatan yang dikandung di dalamnya memerlukan hampir seluruh dari diri kita, menghabiskan nyaris semua waktu yang kita miliki jika ingin mencecap nikmatnya.

Seorang bisa saja memiliki kenikmatan itu—dengan membeli buku-buku terbaik karya para pengarang. Seorang juga bisa memasak untuk dirinya sendiri, atau menghidangkan kreasi final masakannya bagi yang lain agar bisa turut mencecap kenikmatan puncak yang bisa dicapainya.

Apa pun pilihannya meski tidak semua harus menjadi Chef, setiap orang harus bisa memasak—bisa menulis. Paling tidak untuk memberi makan batinnya sendiri.

Buku “Memikirkan Kata” dikerjakan salah satunya dengan motif semacam itu. Agar setiap kita, para pembaca, bisa memasak, menulis paling tidak untuk diri sendiri. Sebab bagaimana pun membaca dan juga menulis adalah aktivitas yang memberi pengayaan batin dan intelektual. Jika kita percaya lebih dari itu, bahwa dengan menulis seorang bisa berkontribusi bagi kebaikan dan majunya peradaban, maka motif yang tampaknya sederhana tersebut mungkin juga mengandung motif politik (kebudayaan).

Sementara itu untuk bisa memasak, orang butuh tahu ragam bumbu-bumbu yang pada setiap masakan yang dikehendaki, berbeda pula rupa bumbu maupun teknik mengolahnya; juga kapan memasukkan masing-masing bumbu, kapan mengurangi atau membesarkan apinya, semua itu butuh dipelajari dan hasilnya selalu khas, unik dan personal—bahkan dengan bumbu sama, bisa menghasilkan rupa dan rasa hidangan yang berbeda-beda—juga penikmat yang khas dan berbeda pula.

Pemesanan Buku “Memikirkan Kata” bisa hubungi kontak Whatsapp: 082111450777

Dalam andaian semacam itu, teknik memasak, teknik menulis, pengetahuan akan bumbu-bumbu, cara mengolah dan cara menghidangkan perlu dipelajari dan dimiliki, meski hasil akhir, dan pada tahapan “pengalaman dan jam tempuh”, semua fase kaidah dan pelajaran teknik itu boleh dilanggar dan dilampaui. Tak terkecuali dalam seni menulis, berlaku juga hal serupa.

Seperti para pendaki menuju puncak, ia sudah lagi berjalan dengan spirit, ketenangan, serta kematangan batin yang didapat tak lain dari semua proses tidak mudah dan tidak sebentar dalam melampaui kaidah-kaidah teknis tersebut. Ia telah menempa diri dengan kejujuran, komitmen dan kesadaran malampui pencapaian subjektif semata. Hemingway suatu kali berujar: “Hal tersulit yang harus dilakukan penulis adalah menuliskan prosa dengan sejujur-jujurnya. Pertama, ia harus tahu subjek yang hendak diceritakkan, lalu tahu caranya menulis—keduanya butuh latihan seumur hidup.”

Sementara Natalie Goldberg pada puncaknya menyeru hal senada: “Soalnya akan seperti seorang master Zen yang mengajarkan kepadamu tentang bermeditasi selama setahun, dan pada tahun berikutnya dia berkata, ‘Abaikan rasa iba kasihan. Berdiri dengan kepala kita sendiri itu juga termasuk ke dalam meditasi’.”

Meski demikian buku “Memikirkan Kata” bukan pertama-tama disusun untuk menjadi “buku panduan” ia dikerjakan untuk membuat kita memiliki kesadaran akan pentingnya dunia buku, membaca dan juga menulis. Juga segala kemungkinan kemajuan yang bisa dibuat dengan “berpikir” dan “kata”.

Ia adalah awalan dan pondasi: pikiran yang kritis, logis, sebab luasnya wasasan dan berlimpahnya pengalaman, bisa menjadi bahan baku utama bangunan peradaban yang kita harapkan—tetapi ia membutuhkan perangkat, dan “kata” adalah bahan baku utamanya, ia disusun menjadi kata-kata, menjadi kalimat, sehingga memiliki makna dan dengan cara itu ia memperlihatkan eksistentinya untuk dipahami, memberi harapan dan sekalian menghadirkan keindahan. Saya rasa itu juga maksud dari judul yang dipilih untuk buku ini—Memikirkan Kata.

This slideshow requires JavaScript.

*

Sementara itu  mari kita bicara realitas faktual. Tetapi tidak dalam bahasan tentang angka dan pencapaian memerangi buta huruf, tinggi dan rendahnya minat baca, angka perpustakaan dan toko buku yang bangsa ini meiliki, atau kualitas pendidikan dan penyelenggaraanya, itu terlampau besar untuk bisa diwacankan dengan pengerjaan buku ini.

Faktualitas yang menjadi pijakan keinginan menghadirkan buku ini adalah faktualitas kultural: bahwa nyaris tanpa perdebatan untuk menyebut budaya literasi, khususnya “budaya menulis” masyarakat kita belum lagi memadai, atau terfasilitasi dalam kaitannya dengan kebijakan publik, atau untuk mengatakan secara lebih konstan: membaca dan menulis belum menjadi budaya bangsa ini. Pada tahap budaya artinya ia menjadi cara hidup masyarakat—bukan sekadar kebutuhan praktis misalnya karena soal pekerjaan atau sekolah barulah seseorang menulis. Budaya menulis itu penting, tetapi harus dimulai juga dari kesadaran bahwa membaca dan menulis adalah begitu penting bagi kemajuan peradaban kita.

Secara praktis, pentingnya kemampuan menulis sebenarnya tidak hanya baik dan diperlukan mereka yang butuh berkembang dalam dunia sastra dan menulis buku-buku, tapi juga dunia industri, iklan, film, kampanye lembaga sosial, kebutuhan dalam ruang pendidikan, benar dan hoaks dalam relatifitas dunia politik, bahkan juga kebutuhan personal branding di era serba digital saat ini.  Di sisi lain perkembangan dunia digital dan teknologi informasi saat ini butuh diimbangi dengan kemampuan literasi dalam artinya yang luas. Dan menulis adalah salah satu pokok yang bisa menjadi pondasi penting khususnya bagi generasi muda dalam peningkatan kapasitas dan perkembangan logika berpikirnya sehingga dapat berkompetisi dan memahami dinamika sosial yang bergerak kian lekas—disruptive. Kemampuan dan kemajuan budaya literasi semacam itu tidak hanya memberi dampak kemajuan tapi juga sekaligus penangkal yang diharpkan mampu mengalahkan lubang hitam puritanisme dan radikalisme. Karenanya yang terpenting dari hal itu adalah terawatnya kemanusiaan dan empati sosial.

“Memikirkan Kata” bisa anda dapatkan dengan harga Rp. 235.000,- |  Kajian atas buku ini klik artikel ‘Memikirkan Kata’ deciphers one of the greatest writing conundrums: Producing words | Pemesanan buku sila hubungi melaui whatsapp 082 111 450 777.

Buku “Memikirkan Kata” sendiri terdiri dari 9 bab utama, yaitu:  (1) Pengantar tentang berpikir, membaca dan pada akhirnya menulis. (2) Voice of Editor; Menilik Dapur Pikiran Para Editor Tentang Dunia Kepengarangan (3) The Prose Reader: Retorika Pengantar Tentang Teknik Penulisan (4) Tulisan Bermutu Tinggi: Panduan Tidak Sederhana Tentang Cara Menulis Bermutu  (5) Tentang Inspirasi: Bagaimana ide bekerja—dari Saul Bellow hingga Gabriel Marquez (6) Writing Tips: Menulis Itu Terkadang Mudah (7) Artist at Work—Bagaimana Pengarang itu Begitu Keras Bekerja. (8) Interview—Merayakan Obrolan Tentang Semesta Seni. (9) Nasihat Mengarang dari Penulis Buku Best Seller Dunia.

Kesembilan bab tersebut ditujukan untuk tiga pondasi utama yaitu; Pertama: melalui bab 1-2 para pembaca disuguhi “spirit” dunia buku, dunia menulis, bahwa menulis bukan pekerjaan mudah dan untuk menjadi penulis bermutu para penulis dunia telah melalui proses yang tidak satu pun gampang dan instan, bahkan memerlukan waktu belajar seumur hidupnya. Kedua; melalui bab 3-5 pembaca akan mendapatkan dasar teknikal bagaimana menullis baik dan bermutu, bahwa menulis bukan sekedar “mengarang”, ia membutuhkan kapasitas, wawasan pengetahuan, dan pendidikan teknis yang tuntas tentang bahasa, tentang tema, tentang ide dan teknik yang dibutuhkan dalam dunia tulis-menulis lainnya. Ketiga: melalui bab 6 pembaca mendapat “bonus” berupa tips atau panduan untuk menjadikan kerja menulisnya efektif. Dan Keempat: melalui bab 7-8 pembaca akan mendapatkan keluasan perspektif bahwa menulis bukan hanya soal teknik, kemampuan bagus dan tujuan menjadi penulis besar, tapi dunia menulis memiliki tanggung jawab moral sebagaimana pengakuan puncak yang ditulis para peraih nobel dalam bab tersebut. Terakhir adalah bonus bagaimana para penulis dunia terkini, umumnya penulis best seller dunia menghasilkan karya-karya terbaik mereka.

Buku ini memuat catatan dari mereka yang telah begitu lama memikirkan kata, tersesat dalam kegelapannya, mengambil dari wilayah pribadi kata-kata untuk menghasilkan cerita dan pencerahan yang dibutuhkan manusia. Para editor media ternama, para penyair, esais dan para sastrawan berkumpul dalam buku ini melalui ulasan atas karyanya, penerjemahan dan juga wawancara atas proses kreatifnya. Semua untuk membantu kita hidup dalam seni, hidup dalam kata-kata; untuk menjadi pribadi yang tumbuh, khas, berbahagia dan memberi makna bagi kehidupan—dengan menjadi pembaca, pemikir dan pada akhirnya penulis dalam artinya yang paling luas.

Pada ujungnya, saya ingin menutup dengan keyakinan Virginia Wolf yang pemikirannya tentang kata-kata dan seni menulis juga tertuang dalam buku ini: “Kata-kata seperti halnya kita, untuk dapat hidup dalam ketenangannya, membutuhkan wilayah pribadi mereka. Kata-kata, menginginkan kita untuk berpikir, dan mereka menginginkan kita untuk merasa; sebelum kita menggunakannya; tetapi mereka juga ingin kita berhenti sejenak; untuk menjadi tak sadar. Ketidaksadaran kita adalah wilayah pribadi mereka; kegelapan kita adalah cahaya bagi mereka…”

Selamat membaca, selamat memikirkan kata…

*) Sabiq Carebesth, editor dan Pendiri Galeri Buku Jakarta

____

“Memikirkan Kata” bisa anda dapatkan dengan harga Rp. 235.000,- |  Kajian atas buku ini klik artikel ‘Memikirkan Kata’ deciphers one of the greatest writing conundrums: Producing words | Pemesanan buku sila hubungi melaui whatsapp 082 111 450 777.

 

Continue Reading

Trending