Connect with us

Buku

Bekerja di Media Masa Kini, Antara Idealisme dan Realitas

mm

Published

on

Oleh Rizka Nur Laily Muallifa


Judul: Belajar Jurnalistik dari Humanisme Harian Kompas | Penulis: Sindhunata | Tahun:   Oktober 2019 | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (GPU) | Tebal: 380 halaman | ISBN: 978-602-06-3465-4

Buku terbeli lebih karena adanya tanggung jawab belajar jurnalistik, meski mungkin amat telat. Suatu malam di toko buku, pembeli mengandaikan tahun 2020, yang akan dimulai dengan melakoni pekerjaan baru sebagai reporter. Setelah dua tahun sebelumnya mengalami sekian penolakan dari perusahaan media.

Buku lebih dulu dibaca daripada mengalami hari-hari berpeluh informasi sebagai bahan menulis berita. Hari-hari ke depan dibayangkan akan terlalu menantang, liputan ke lapangan, mewawancarai beragam orang, melakukan doorstop, tidak sempat makan siang karena dikejar tenggat tulisan, dan pelbagai macamnya. Segala bayangan ideal itu termaktub dalam pengalaman Sindhunata yang disusun jadi buku tebal berjudul Belajar Jurnalistik dari Humanisme Harian Kompas (GPU, 2019).

Sindhunata menceritakan pengalamannya sejak menjadi jurnalis muda di salah satu koran nasional. Termasuk persinggungannya dengan teman-teman wartawannya. Di pembuka buku misalnya, Sindhunata memulai pengisahannya tentang Kartono Ryadi, wartawan fotografi senior di kantornya. Kredo jurnalisme Sindhunata yang diamini sepanjang karir jurnalistiknya konon diilhami dari sosok Kartono.

Menurut penceritaan Sindhunata, Kartono merupakan sosok yang amat tekun mengalami profesinya. Ia misalnya nekat menunggu pesut di Ancol yang diperkirakan akan segera melahirkan sampai lebih dari pukul 00.00 WIB. Sehari-hari ketika turun ke lapangan bersama, Kartono tidak jarang meminta Sindhunata memberhentikan vespanya. Itu artinya, Kartono mendapat objek bernilai berita. Tanpa banyak bicara, Kartono akan menjepretkan foto beberapa kali. Setelah selesai, barulah ia berkata supaya Sindhunata melakukan wawancara terhadap objek yang sudah difotonya.

Mula-mula Sindhunata merasa tidak ada yang menarik, tapi acapkali ketika ia sudah melakukan wawancara akan ditemui sekian hal unik dan tidak terbayangkan sebelumnya. Sebagaimana ia mengenangnya. Pengalaman bersama Kartono mendorong Sindhunata untuk merumuskan sebuah pegangan jurnalistik yang ia yakini sampai sekarang, yakni: “Wartawan pada awalnya adalah pekerjaan kaki, baru kemudian pekerjaan otak”. Artinya, wartawan itu harus mencari objek berita dengan menggunakan kakinya, dengan berjalan terlebih dahulu, sebelum ia menggunakan otak dan pikirannya. Secermelang apa pun otak seorang wartawan, kalau ia malas menggunakan kakinya, ia tidak akan memperoleh berita yang autentik (hlm. 4).

Dilema Berita yang Autentik

Di tahun 1990-an, kredo jurnalisme Sindhunata jelas sangat relevan. Tapi kini, menyatakan bahwasanya pekerjaan wartawan pertama-tama ialah pekerjaan kaki rasanya kurang pas. Tak dimungkiri bahwa semua media massa baik cetak, daring, maupun televisi masih menugaskan wartawannya untuk meliput di lapangan. Tapi jumlah itu saya kira jauh lebih sedikit dibanding para wartawan yang dipekerjakan di hadapan layar komputer saja.

Ilustrasi: Jakob Oetama menulis menggunakan mesin tik (Foto: Kompas.com)

Satu orang turun ke lapangan dan menuliskan hasil liputannya, akan diikuti oleh empat atau lima orang yang memodifikasi hasil liputan wartawan lapangan menjadi beberapa angle tulisan. Mereka ini bekerja di hadapan layar komputer, entah di kantor, di rumah, di kafe, atau di mana saja. Kalau wartawan lapangan bertugas menulis hasil liputannya dalam bentuk kilas berita atau straight news, maka empat atau lima kawannya itu adakalanya dipekerjakan untuk mengolahnya menjadi tulisan yang tidak habis dalam sekali baca. Ataupun kalau tidak memungkinkan menjadi tulisan yang timeless, dipilihlah judul-judul yang kemungkinan bisa menarik lebih banyak pembaca, klikbait. Praktik yang demikian tentu sangat akrab bagi operasional media-media daring di Indonesia.

Sudah menjadi rahasia umum, ongkos penugasan liputan ke lapangan jauh lebih besar daripada mempekerjakan wartawan hanya dari depan layar komputer. Terlebih di Indonesia yang mayoritas masyarakatnya belum merasa perlu mengonsumsi berita-berita aktual dan terpercaya. Perusahaan-perusahaan media bersiasat guna mempertahankan keberlangsungan hidupnya. Media daring mau tidak mau harus terus meningkatkan angka kunjungan halaman atau pageviews. Pasalnya mengandalkan iklan saja jelas tidak memungkinkan.

Di tengah kondisi seperti saat ini, apa yang diceritakan Sindhunata terasa sungguh diperlukan tapi sekaligus membuat hati gamang. Saat di mana media dituntut oleh keadaan untuk tidak keras kepala menjejakkan dirinya pada hal-hal fundamental belaka, tetapi lebih banyak kepada yang adhiapora. Hal-hal ringan dan permukaan yang cenderung dicari banyak pembaca. “…misalnya dengan memakai bahasa-bahasa yang kenes, vulgar, dan adhiaporis belaka” (hlm. 45). Dengan demikian, rasanya sulit untuk “tidak sekadar menghibur pembaca, tapi turut bertanggung jawab mendidik pembacanya jadi humanis” (ibid.).

Mengakhiri Mentalitas Klangenan

Kendatipun demikian, bukan berarti tak ada jalan lain bagi tujuan luhur media. Justru di tengah gempuran informasi sebagaimana yang kita alami sekarang, keberadaan media yang kredibel amat dibutuhkan untuk menyisihkan informasi-informasi bohong yang acapkali tak bisa dirunut pertanggungjawabannya. Media dituntut untuk mencari format-format baru yang bisa senantiasa selaras dengan zaman yang sedang berlangsung. Format baru yang menuntut mentalitas, disiplin, dan teknik kerja yang lain daripada dulu.

“Format baru itu sebagai lapangan sepak bola. Di sana ada aturan permainan, ada disiplin, ada batas, ada wasit, dan penjaga garis. Kalau semuanya ini ditaati dan dapat berfungsi akan lahirlah suatu “isi” sepak bola yang indah dan menarik. Tapi kalau itu semua tidak ditaati, dan kita hanya akan bermain dengan gaya lama, maka lapangan dengan segala disiplin dan peraturannya itu juga tak berbicara apa-apa. Dengan kata lain, saya percaya, bahwa format itu seharusnya membuat kita kreatif, tak kehilangan kebebasan, dan tidak membuat kita jadi mekanis belaka.” (hlm. 158).

Salah satu yang menonjol dari format baru (yang kini semakin gencar dilakukan perusahaan-perusahaan media di Indonesia) adalah “pendek”. Berita, feature, artikel, menjadi lebih pendek daripada dulu. “Memakai istilah jurnalistik Jerman, semoga kata “pendek” tidak dimengerti sebagai Verkurzung tapi sebagai Verdichtung. Verkurzung adalah perpendekan, pemendekan, penyingkatan, sedangkan Verdichtung berarti pemadatan, kondensasi.” (hlm. 161).

Kondensasi bertujuan untuk menarik lebih banyak pembaca. Berita yang pendek memiliki daya pikat lebih bagi kemauan membaca kebanyakan orang Indonesia. Tetapi berita yang pendek tidak berarti kehilangan esensinya. Alhmarhum Rudolf Walter Leonhard, mantan redaktur koran mingguan di Jerman pernah berseloroh bahwasanya tugas para jurnalis ialah selalu dan selalu mencari bahasa yang bisa dimengerti oleh setiap orang, dan di dalam bahasa tersebut semua hal bisa dibicarakan. Itulah sesungguhnya tuntutan kerja yang paling berat. Tsah!

Continue Reading
Advertisement

Buku

Joko Pinurbo, Menjadi Penyair Adalah Menjadi Manusia Biasa

mm

Published

on

Konon, kehidupan Jokpin sejak kecil bersinggungan dengan biskuit Khong Guan. Biskuit Khong Guan menjadi ikon bingkisan yang mewah. Sampai kini, ia mendapati Khong Guan hadir di meja ruang tamu di berbagai perayaan hari raya umat beragama.

Mari kita buka

apa isi kaleng Khong Guan ini

biskuit

peyek

keripik

ampiang

atau rengginang?

Simsalabim. Buka!

Isinya ternyata

ponsel

kartu ATM

tiket

voucer

obat

jimat

dan kepingan-kepingan rindu

yang sudah membatu.

(Bingkisan Khong Guan, 2019)

Oleh Rizka Nur Laily Muallifa

Seorang lelaki paruh baya berjalan tenang melintasi deretan kursi yang sudah penuh terisi. Puluhan pasang mata pirsawan yang hadir bergerak mengikuti langkah lelaki itu sampai ia tiba dan duduk di kursi di atas panggung. Dari kursi pirsawan, kaos berkerah dan celana kain yang membalut tubuhnya tampak longgar. Sementara bagian bawah matanya menghitam.

Begitulah Joko Pinurbo atau yang juga dikenal publik dengan akronim Jokpin malam itu (31/1/2020). Ialah penyair yang menulis puisi Bingkisan Khong Guan. Bersama puluhan puisi lain, puisi yang tak sungkan menyebut merek dagang itu belum lama diterbitkan sebagai buku dan lekas menjadi salah satu buku paling dicari pembeli.

“Saya menulis Khong Guan bukan karena saya duta Khong Guan, juga bukan karena pengen dapat sponsor dari Khong Guan. Saya tidak berhubungan sama perusahaannya. Mereka mungkin malah nggak tahu saya nulis tentang Khong Guan. Andaikan tahu, mungkin malah bingung sendiri membaca puisi-puisi saya. Saat saya sedang merenung, memikirkan citraan apa yang tepat untuk menampung hal-hal yang ingin saya sampaikan, misalnya soal toleransi, kemanusiaan, keberagaman, dan lain-lain, saya berusaha mengingat benda-benda di sekitar saya, yang dekat dengan saya dan masyarakat. Saya kemudian ingat biskuit Khong Guan,” ungkap Jokpin.

Konon, kehidupan Jokpin sejak kecil bersinggungan dengan biskuit Khong Guan. Biskuit Khong Guan menjadi ikon bingkisan yang mewah. Sampai kini, ia mendapati Khong Guan hadir di meja ruang tamu di berbagai perayaan hari raya umat beragama. Biskuit Khong Guan tidak termasuk jenis hidangan yang digemari tamu sehingga tidak lekas habis. Jokpin menyebutnya sebagai yang “biasa-biasa saja, akhirnya habis juga”.

Ia juga menangkap fenomena kaleng Khong Guan yang sering difungsikan untuk wadah rengginang atau jenis penganan lain. Kaleng Khong Guan melampaui manusia. Ia bisa hadir di segala jenis hari raya, ia menampung apa saja yang diletakkan manusia di dalamnya. Demikian Jokpin memberi penjelasan.

Sastra yang Dekat dengan Masyarakat

Siapa bilang dunia sastra itu dunia tersendiri yang terpisah dari masyarakat? Anggapan itu jadi tidak relevan dengan puisi yang ditulis Jokpin. Di Yogyakarta ini, siapa yang tidak tahu atau minimal tidak pernah dengar nama Pasar Beringharjo? Saya kira tidak ada. Masyarakat di luar Yogyakarta pun akrab dengan nama pasar tersebut. Di Kawasan Pasar Beringharjo terpampang sebuah mural dengan tulisan sebagai berikut, Jogja terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan. Mural yang sering dijadikan latar berfoto itu tidak lain ialah penggalan puisi Jokpin.

Penggalan puisi yang dijadikan mural itu menjadi bukti bahwa sastra tidak terpisah dari kehidupan masyarakat. Pilihan kata dalam puisi-puisi Jokpin yang lain juga terasa dekat dengan kita sebagai masyarakat pada umumnya. Kita bisa melihat dari judul-judul buku puisi Jokpin. Celana (1999), Di Bawah Kibaran Sarung (2001), Pacarkecilku (2002), Telepon Genggam (2003), Kekasihku (2004), Pacar Senja (2005), Kepada Cium (2007), Celana Pacarkecilku di Bawah Kibaran Sarung (2007), Tahilalat (2012), Haduh, aku di-follow (2013), Baju Bulan (2013), Bulu Matamu: Padang Ilalang (2014), Surat Kopi (2014), Surat dari Yogya (2015), Selamat Menunaikan Ibadah Puisi (2016), Malam Ini Aku Akan Tidur di Matamu (2016), Buku Latihan Tidur (2017), Perjamuan Khong Guan (2020).

“Puisi Celana saya tulis ketika saya melihat orang-orang Indonesia banyak sekali yang memakai celana jeans. Di kampus saya, di Sanata Dharma, waktu saya main setelah lulus, itu hampir semua mahasiswanya memakai celana jeans. Fenomena itu belum ada waktu saya masih kuliah. Terus terpikirlah untuk menulis puisi tentang celana,” kenang Jokpin.

Demikian halnya dengan puisi-puisi Jokpin yang lain, idenya selalu datang dari pengamatan dan kemudian keinginan mengabadikan apa-apa yang terjadi di masyarakat dalam bentuk puisi. Puisi Telepon Genggam ditulis ketika penggunaan telepon genggam generasi pertama mulai marak di Indonesia. Di tahun 2000-an, telepon genggam yang beredar di Indonesia fungsinya masih terbatas untuk mengirim pesan pendek dan telepon, belum secanggih dan selengkap telepon genggam di era internet seperti saat ini.

Fenomena merebaknya kopi dan menjamurnya kafe-kafe dengan desain yang instagramable juga tak luput dari pengamatan Jokpin. Ia menulis puluhan puisi yang kemudian diterbitkan menjadi buku berjudul Surat Kopi (2014). Jokpin memilih menggunakan kata-kata biasa yang dekat dengan keseharian masyarakat misalnya ibadah, sarung, latihan tidur, dan lain sebagainya.

“Karena puisi saya memang refleksi dari apa yang sedang terjadi di masyarakat. Saya memilih menulis puisi dengan bahasa sehari-hari untuk menyampaikan ide-ide saya, misalnya tentang kemanusiaan, keberagaman, keluarga. Supaya apa? Supaya lebih banyak orang yang bisa memahami apa yang mau saya sampaikan,” ungkap Jokpin setelah menenggak air mineral di hadapannya.

Banyak Membaca, Sedikit Menulis

Lelaki berusia 57 tahun itu sudah menulis puisi sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Jadi ketenarannya saat ini bukan didapat begitu saja. Ada upaya tekun dan serius yang dilakoni Jokpin untuk menjadi penyair.

“Pesan saya untuk anak-anak muda yang ingin jadi penyair, jangan buru-buru. Meskipun dunia internet seperti sekarang mudah sekali mempublikasikan karya, tapi pesan saya jangan terburu-buru mempublikasikannya. Setelah menulis, coba biarkan dulu, diamkan dulu puisimu. Untuk mengambil jarak dengan apa yang kamu tulis. Biasanya kalau selesai menulis kamu langsung mengirimkan ke media massa, itu kamu dikuasai oleh rasa senang atau puas karena telah menyelesaikan tulisan. Padahal boleh jadi tulisanmu itu belum maksimal, masih bisa diperbaiki lagi,” demikian jawaban Jokpin ketika ditanya apa pesannya bagi anak-anak muda yang ingin menjadi penyair seperti dirinya.

Jokpin sendiri memiliki kebiasaan unik. Ia belum berhenti mengedit puisinya kalau belum sebelas kali. Ketika dikonfirmasi oleh merdeka.com, alasan mengapa ia memilih angka sebelas, ternyata sebelas adalah tanggal lahirnya. Ia percaya dan meyakini kalau puisinya belum diedit sebelas kali itu artinya belum layak untuk dikirim ke media massa.

Pesan Jokpin supaya anak-anak muda yang ingin menjadi penyair tidak buru-buru mempublikasikan puisinya ialah untuk meminimalisir kemungkinan puisi itu muncul selintas saja, atau tak diingat siapapun karena memang tidak berbeda dengan puisi-puisi lain yang muncul dengan sangat cepat di berbagai media sosial.

Satu lagi pesan Jokpin untuk anak-anak muda yang ingin menjadi penyair. Menurut Jokpin, penyair harus banyak membaca, baik itu buku atau kejadian sehari-hari. “Penyair atau penulis apapun, ia harus lebih banyak membaca daripada menulis. Katakanlah kalau dibuat perbandingan ya 3:1, 3-nya membaca, 1-nya menulis.” (*)

*) Rizka Nur Laily Muallifa. Pembaca tak tahan godaan. Menghidupi Kematian (2018) ialah kumpulan puisi yang ditulis bersama tiga kawannya. Tulisannya pernah tersiar di Koran Tempo, Kedaulatan Rakyat, Solopos, Suara Merdeka, Koran Madura, Radar Bojonegoro, detik.com, alif.id, basabasi.co, dan beberapa lainnya.

Continue Reading

Buku

Catat! Bukan Tip-tip Menulis ala Bradbury

mm

Published

on

Oleh Setyaningsih–Esais, penulis buku Kitab Cerita (2019)

Ia sudah menakdirkan diri pada seribu kata sehari sejak usia 12 tahun, menjadi penulis sebagai keputusan hidup penting kedua setelah pada usia 11 tahun memutuskan menjadi tukang sulap dan pelancong segala penjuru dunia dengan ilusi dan imajinasi. Ia adalah penulis Amerika, Ray Bradbury, yang tidak menutup diri pernah picisan dan melawan segala persepsi buruk tentang fiksi sains. Bradbury menulis seiyanya satu cerita pendek setiap pekan karena hadiah kecil Natal di tahun ke-12: mesin ketik mainan. Ia telah bertarung dalam belantara kata dengan keras kepala, gairah, kegembiraan, dan kegilaan sampai usia 90 tahun. Maka, bagi dirimu sekalian yang ingin menjadi penulis atau baru berencana banting haluan hidup ke penulisan, jangan berharap banyak mendapatkan tip-tip jitu menulis dalam kumpulan esai otobiografis kocak-memukau garapan Ray Bradbury, Zen dalam Seni Menulis (2018).



Pada akhirnya, usaha paling kecil untuk menang berarti semacam kemenangan. Ingatlah sang pianis yang berkata bahwa jika ia tidak berlatih setiap hari maka ia sendiri akan tahu, jika ia tidak berlatih selama dua hari, kritikus akan tahu, setelah tiga hari, audiens-nya akan tahu. Kau harus tetap mabuk dalam menulis sehingga kenyataan tidak mampu menghancurkanmu. Jadi, kira-kira, tentang itulah buku ini.—Ray Bradbury

Buku ini barangkali akan gagal membikin merinding atau bergidik orang-orang yang belum pernah merasa menulis itu sudah nyaris separuh lebih nyawa hidup, resah karena sering gagal menerbitkan kata-kata kala pagi, atau dikalahkan bertubi-tubi oleh istilah mengerikan “miskin” dan “tidak punya waktu.” Kita bisa menyimak “kesombongan bersahaja” Bradbury sejak dari pengantar, “Dalam perjalananku, aku telah belajar bahwa jika aku membiarkan sehari saja lewat tanpa menulis, aku menjadi gelisah. Dua hari lewat dan aku akan menggigil. Tiga hari lewat dan aku menderita kegilaan. Empat hari lewat dan aku menjadi seperti babi yang terjebak dalam pusaran air. Menulis satu jam saja sudah menjadi tonik. Aku berdiri lagi, berlari berputar-putar, dan berseru-seru.”

Bradbury berhak mengatakan kepada kita tanpa nada pelatihan atau workshop, “Kau harus tetap mabuk dalam menulis sehingga kenyatan tidak mampu menghancurkanmu.” Buku kumpulan esai ini memuat tulisan-tulisan yang digarap dalam pelbagai masa dalam periode sepuluh tahun yang dianggap sebagai penemuan diri dan ketakjuban. Esai-esainya mendokumentasikan secara kronik apa yang terjadi dalam masa-masa memunculkan ide dan tulisan yang selalu dikatakan selalu bisa menyelesaikan diri mereka sendiri. Pembaca bisa menduga Bradbudry masih mengandalkan coretan-coretan di atas kertas yang jadi medium penyimpanan sekaligus pengingatan. Bradbury tidak menciptakan trik atau tip menulis yang bisa hilang karena soal mood, tapi ritme yang terkalender secara biologis dalam tahun-tahun panjang untuk diceritakan ke publik.

Kita cerap salah satunya ketika masih remaja, Bradbury sudah semacam sanggup mengidentifikasi “kekeliruan” yang sangat mungkin menjadi masalah para penulis pemula secara umum. Dia mengatakan, “Aku tumbuh dengan membaca dan mencintai cerita-cerita hantu tradisional karya Dickens, Lovecraft, Poe, dan kemudian Kuttner, Bloch, dan Clark Ashton Smith. Aku mencoba menulis cerita-cerita yang sangat dipengaruhi oleh para penulis yang beragam ini, dan berhasil menciptakan hantu putih berlapis empat, dengan semua bahasa dan gayanya, yang tidak mau mengambang, dan menghilang tanpa jejak. Aku terlalu muda untuk mengidentifikasi masalahku itu karena terlalu sibuk meniru.” Sejak usia 20, Bradbury masih mengakui godaan menjadi imitatif dari para penulis yang terasa seperti menungguinya menulis. Ia pun memulai membuat barisan panjang kata benda untuk menguji dan memprovokasi diri. Danau, jangkrik, malam, jurang, loteng, karnaval, kurcaci, komidi putar, dan segala benda lain diujikan dalam penulis prosa, puisi, dan esai.

Narsis

Tulisan Bradbury, terutama sering dalam bentuk fiksi, tidak lahir dari sekadar aktivitas berkhayal. Menulis mengharuskan bergerak mengamati tata kehidupan sehari-hari, bahkan untuk cerita-cerita yang ingin meramalkan masa depan. Tindakan berpikir dan mengamati bisa dianggap kejahatan. Inilah yang juga menjadikan dirinya terlibat masalah dengan polisi. “Kapan terakhir kali kau diberhentikan oleh polisi di lingkunganmu karena kau suka berjalan, dan mungkin juga berpikir, pada malam hari? Kebetulan hal ini terjadi cukup sering sehingga aku, karena jengkel, menulis “The Pedestrian”, sebuah cerita tentang suatu masa, lima puluh tahun dari sekarang, ketika seorang laki-laki ditangkap dan diperiksa untuk studi, ketika seorang laki-laki ditangkap dan diperiksa untuk studi klinis karena ia bersikeras untuk melihat realitas yang tak ditayangkan televisi, dan menghirup udara yang tak diembuskan pendingin ruangan.”

Seteru dan sekutu Bradbury mengarah pada waktu, ide-ide, dan proses. Gairah dan semangat menjadi dua istilah pembuka yang sakral, menjadikan menulis berjalan gila-gilaan. Bradbury pun sempat bertaruh dengan ruang dan keluarga yang rentan membuat orang-orang yang dulu menyukai menulis tidak menulis lagi. Ruang penyelamatan menulis itu salah satunya perpustakaan yang kocaknya menjadi tempat paling satire untuk menciptakan kisah tentang pembakaran buku di masa depan, Fahrenheit 451.

Novel ini sepertinya novel yang cukup dekat dengan pembaca Indonesia karena sempat diterjemahkan ke bahasa Indonesia pada 2013 oleh penerbit Elex Media Komputindo dan juga difilmkan. Tahun 2018, Gramedia menyusul menerbitkan. Bradbury mengakui novel sebagai investasi recehan dan masuk kategori picisan! Sekitar 1950, Bradbury miskin, menulis, bertekad menghidupi keluarga kecilnya di California. Ia mengetik di garasi, tapi sering tergoda atau terusir oleh anak-anaknya yang mengajak bermain. Sampai akhirnya, perpustakaan merekam kejaran diri dengan ruang dan waktu. Bradbury menulis dengan kocak, “Akhirnya, aku menemukan tempat itu, yaitu ruang mengetik di ruang bawah tanah perpustakaan di University of California di Los Angeles. Di sana, berbaris rapi, ada delapan atau lebih mesin ketik Remington atau Underwood tua yang disewakan satu sen untuk setengah jam. Kau masukkan koinmu, dan jam berdetik dengan gila, dan kau mengetik dengan gila, agar selesai sebelum waktu setengah jam itu habis.”   

Berpamit dari dunia pada usia sekitar 92 tahun, Bradbury memulai persekutuan dengan kata dari keisengan menguyupi komik. Bradbury sepertinya bukan seorang pak tua memberi nasihat bijak kepada kaum pemula penulis yang tidak berminat pada ketelatenan dan kekeraskepalaan untuk menulis, menulis, menulis, dan menerjang segala hambatan yang jitu jadi alasan. Memang untuk esai-esai penuh “kesombongan yang bersahaja” soal menulis ini, kita pantas menerimanya dengan merinding dan takjub. Benar-benar tidak ada dosanya kalau Bradbury memang harus narsis. Narsis karena nulis!

Continue Reading

Buku

Bersin…

mm

Published

on

Oleh Bandung Mawardi

Ia tak bersama kita menanggungkan wabah. Orang-orang “dipaksa” terlalu mengartikan rumah, setelah menganggap diri dan rumah itu “sepele”. Ia beruntung pamitan duluan, memberi kita cerita-cerita wagu dan mengenaskan: rumah. Di Indonesia, ia sering mendapat cemooh. Ia memang keterlaluan bila omong sastra, agama, dan identitas. Orang-orang di Indonesia berhak sebal. Indonesia pun “termiliki” saat ia dolan, bertemu para tokoh: ingin mengerti Islam dan sastra. Kunjungan itu menjadi tulisan terbaca seperti reportase atau catatan orang pelesiran dengan kecerobohan dan pemaknaan mendalam.



A House for Mr. Biswas: A Novel (Anglais) Broché – 13 mars 2001 de V. S. Naipaul | In his forty-six short years, Mr. Mohun Biswas has been fighting against destiny to achieve some semblance of independence, only to face a lifetime of calamity. Shuttled from one residence to another after the drowning death of his father, for which he is inadvertently responsible, Mr. Biswas yearns for a place he can call home. But when he marries into the domineering Tulsi family on whom he indignantly

Di rumah dan wabah belum tamat, kita mengenang VS Naipaul. Sekian buku Naipul sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Di mata pembaca berselera pascakolonial, novel-novel Naipaul itu incaran untuk berpikir dan berkelakar. Ia tak menulis novel mengenai wabah bersaing dengan Albert Camus. Cerita-cerita gubahan Naipaul tak semenegangkan novel-novel besar gubahan para pengarang Prancis, Jerman, Tiongkok, Amerika Serikat, dan Amerika Latin. Kelucuan dan ketololan sering terbaca dalam cerita-cerita Naipaul.

Kita mengingat Mohun alias Tuan Biswas alias “Tuan Bersin”. Sebutan terakhir sengaja diadakan sesuai situasi mutakhir memasalahkan bersih. Pada situasi wabah, orang bersin sembarangan bisa malapetaka. Kita masuk dulu ke novel berjudul Sepetak Rumah untuk Tuan Biswas, novel “teragung” persembahan Naipaul. Novel tebal dan menumpas lapar penasaran pascakolonial. Peraih Nobel Sastra 2001 itu mengisahkan bersin, tak pernah ada niat menjadi kutipan bagi para pembaca mengalami wabah buruk di abad XXI.

Pada suatu lahir, kelahiran mencipta ribut panjang. Kelahiran diinginkan dan ditakutkan. Penghuni dunia bertambah oleh kehadiran Mohun, nama berarti “kekasih”. Arti itu berantakan bila melihat kondisi raga Mohun dan nasib seperti diramalkan pandita. Sang ibu mengadakan pesta sederhana, mengundang orang-orang desa: makan bareng dan berharap memberi doa-doa terindah pada Mohun. Si bapak datang dari tempat jauh, berlagak sombong mengetahui ada pesta. Ibu itu marah, memberi omelan pada suami: “Lihat saja, Tuhan telah membalas kesombongan dan kekasaranmu. Pergi dan lihatlah anakmu! Ia akan menyengsarakanmu. Berjari enam, lahir di saat yang salah. Pergi dan lihatlah! Ia pun mengidap bersin pembawa sial.”

Keluarga itu berkumpul kembali di rumah. Naipaul mulai membuat pembaca terpana dan mengasihani para tokoh dalam novel. Semua gara-gara bersin. Di kesusastraan dunia, Naipaul mungkin pengisah paling menjengkelkan tentang bersin. Kita mengutip: “Mereka tak pernah melalaikan anak malang beserta bersin pembawa sialnya itu. Tuan Biswas mudah terserang flu dan di musim hujan membuat keluarganya terancam miskin. Seandainya Tuan Biswas bersin-bersin sebelum Raghu (bapak) bergi ke pabrik tebu, maka Raghu akan tetap di rumah: menggarap kebun sayuran pagi-pagi dan menghabiskan waktu sorenya dengan membuat tongkat dan sepatu dari kayu… Meskipun demikian, kesialan kecil sering menyertai bersin-bersin Tuan Biswas: uang yang hilang saat belanja, botol retak, atau piring yang pecah. Sekali waktu Tuan Biswas bersin-bersin setiap pagi selama tiga hari berturut-turut.” Bersin itu malapetaka! Bersin tak cuma menandai flu. Bersin bisa memiskinan! Bersin itu mengabarkan sengsara keluarga.

Bersin, bukan masalah terpenting dalam novel gubahan Naipaul. Kita saja sengaja mencomot dan menganggap penting dipikirkan saat mengalami hari-hari di rumah. Kita dianjurkan waras. Pemerintah tak membuat larangan bersin tapi kita dianjurkan mengetahui “tata krama” bersin agar tak mencipta petaka kolosal. Bersin itu masalah besar saat wabah. Kita mulai meninggalkan novel, bergerak ke masalah bersin saja. Naipaul sudah selesai menjadi pengingat. Kita membuka majalah Matra edisi Mei 2007. Bersin dibahas dua halaman di rubrik etiket. Kita membaca sambil mengingat terakhir kali bersin: “Mungkin karena flu tergolong penyakit ringan, sejumlah orang tetap melakukan aktivitas sehari-hari meski penyakit ini menyerang. Masalahnya, produksi lendir yang berlebihan di saat flu cukup menyiksa. Apalagi kalau disertai bersin-bersin yang kadang ‘menumpahkan’ beberapa produksi lendir itu.” Nah, bersin itu masalah. Ulasan berlatar Jakarta setelah banjir. Ulasan diarahkan ke orang-orang kantoran agar membuat pertimbangan serius saat mengidap flu: masuk kerja atau izin di rumah saja.

Di situ, ada anjuran orang sedang flu mendingan mengenakan masker bila ingin terus melakukan peristiwa-peristiwa harian. Orang malu mengenakan masker bisa membekali diri dengan sapu tangan atau tisu. Petunjuk bersin secara sopan: “Jangan sekali-kali mengarahkan muka anda ke wajah orang lain. Sebaiknya, arahkan wajah sedikit ke bawah atau ke arah berlawanan dengan lawan bicara. Jangan lupa gunakan sapu tangan atau tisu. Tapi jangan meneliti ‘isi’ sapu tangan anda setelah bersin. Masukkan saja langsung ke saku dengan santai.” Petunjuk sopan tiada dalam novel berjudul Sepetak Rumah untuk Tuan Biswas. Naipaul belum membentuk tokoh memiliki tata krama berbekal sapu tangan atau tisu. Mohun atau “Tuan Bersin” juga berada di keluarga miskin. Bapak cuma buruh, tak pernah berpredikat orang kantoran dengan acara rapat atau jamuan makan berdalih bisnis. 

Bersin memang masalah gawat bagi kaum kantoran dan bernalar modern. Kita beruntung mendapat petunjuk penting dalam buku berjudul Etiket dan Netikat: Sopan Santun dalam Pergaulan dan Pekerjaan (2016) susunan Marulina Pane. Buku penting tapi tak ada kaitan dengan novel gubahan Naipaul. Penulis buku itu berkaitan dengan keluarga pengarang ternama di Indonesia: ArmijnPane dan Sanoesi Pane. Petunjuk tak disampaikan dalam bahasa puitis: “Selalu bawa sapu tangan atau tisu… segeralah menutup hidung anda saat terasa akan bersin; untuk menahan bersin di acara yang khidmat, tekanlah jari telunjuk anda dengan kuat di bibir atas anda persih di bawah lubang hidung; bersinlah dengan ‘pelan-pelan’, usahakan tanpa suara; palingkan wajah anda dari orang yang berada di sebelah anda; bila sedang duduk, usahakan membungkuk ke bawah; bila bersin berkepanjangan, pergilah ke toilet….”

Petunjuk penting telah terbaca saat kita masih di hari-hari berwabah. Di rumah, orang-orang memiliki tata krama baru. Orang nekat ke kantor pasti diwajibkan memenuhi tata krama ketat dan njlimet. Ah, kita sejenak mengingat Naipaul dan “Tuan Bersin”, ikhtiar kecil “mengejek” kejenuhan selama di rumah. Dulu, masalah bersin sudah disampaikan dalam masalah etiket tapi mesti mendapat penjelasan imbuhan di masa wabah. Kita belum sempat membuka dan membaca novel-novel gubahan para pengarang Indonesia pernah sengaja mengisahkan manusia bersin. Kita cukupkan membaca Naipaul saja. Kita nekat ingin membaca novel selama di rumah mendingan memilih novel-novel tipis membikin tertawa. Jangan pilih novel-novel memicu bersin! Begitu.

Continue Reading

Trending