Connect with us

Cerpen

Baltasar dan Blimunda

mm

Published

on

By Jose Saramago*

Kini mereka siap berangkat. Pastor Bartolomeo merenungi langit biru cerah yang terbentang luas di atas, tak berawan, dengan matahari yang berkilau cemerlang. Ia menatap ke arah Baltasar yang tengah memegang tali penutup layar, kemudian pada Blimunda, dan berharap bahwa gadis itu dapat meramalkan masa depan macam apa yang akan mereka hadapi.

“Mari kita percayakan diri kita pada Tuhan, jika memang ada,” gumamnya pada diri sendiri, lalu dalam nada tertahan ia berkata, “Tarik, Baltasar.”

Tetapi Baltasar tak langsung bereaksi karena tangannya gemetar, hal ini seperti mengucapkan doa Fiat, tak segera terjadi begitu diucapkan. Seseorang menariknya dan kita berakhir entah di mana. Blimunda mendekat dan meletakkan kedua tangannya di atas tangan Baltasar dan, dengan isyarat persetujuan, mereka berdua menarik tali itu. Layar melengkung ke satu sisi, membuat matahari bersinar secara langsung pada bola-bola keemasan.

“Kini apa yang akan terjadi pada kita?”

Mesin bergetar lalu bergoyang-goyang seakan-akan benda itu mencoba menjaga keseimbangannya. Terdengar suara gesekan keras plat logam dan tongkat kumparan, lalu tiba-tiba, seolah-olah disedot oleh sebuah pusaran berkilau, benda itu menikung tajam dua kali lalu membumbung naik melewati dinding rumah latihan, mengendalikan keseimbangannya, mendongak ke atas bagaikan seekor anjing laut dan meluncur seperti sebatang anak panah, tegak luruh dengan langit.

Tergoncang oleh pusaran cepat itu, Baltasar dan Blimunda terjerembab di dek kayu tempat mesin, namun Pastor Bartolomeo Lourenco telah meraih salah satu bandul penahan layar yang membuatnya dapat melihat bumi menjauh dalam kecepata luar biasa, daratan kini terlihat telanjang, lalu hilang di tengah bebukitan, dan nun di kejauhan sana, Lisabon, tentu saja, dan sungai.

Ah, laut, lautan yang pernah aku, Bartolomeo Lourenco de Gusmao, layari dua kali dari Brasil, lautan tempat aku berlayar ke Belanda, menuju begitu banyak daratan dan udara yang mengantarku, Passarola, angin bergemuruh di telingaku, dan tak seekor burung pun yang melesat tinggi, seandainya Sang Raja bisa melihatku saat ini, seandainya Tomas Pinto Brandao yang melecehkanku bisa melihatku kini, jika saja Dinas suci Inkuisisi bisa menyaksikanku saat ini, mereka semua akan menyadari bahwa aku adalah anak Tuhan yang terpilih 3, ya, aku, Pastor Bartolomeo Lourenco, yang melesat ke angkasa dibimbing kejeniusanku, dibantu pula oleh sepasang mata Blimunda, jika memang ada mata di surga, dan juga dibantu oleh tangan kanan Baltasar.

“Di sini Tuhan bersama kita, seseorang yang selalu kehilangan tangan kirinya. Blimunda, Baltasar, datang dan lihatlah. Bangkitlah, jangan takut.”

Mereka tidak takut, mereka bahkan takjub pada keberanian mereka sendiri. Pendeta itu tertawa dan berteriak. Dia berjaga-jaga dengan berpegangan pada pegangan tangga dan berjalan mondar-mandir melintasi dek mesin untuk mengawasi  daratan di bawah sana, di utara, selatan, timur, dan barat, bumi terlihat begitu luas, dan kini mereka begitu jauh darinya. Baltasar dan Blimunda akhirnya jatuh terduduk, dengan gugup berpegangan pada temali, lalu pada pegangan tangga, silau oleh cahaya dan angin, tiba-tiba mereka tak lagi merasa takut.

“Ah,” pekik Baltasar, “Kita telah melakukannya!”

Dia memeluk Blimunda dan menangis tersedu-sedu bagaikan seorang anak yang hilang. Seorang tentara yang telah mengalami perang, yang telah membunuh seorang musuh di Pegoes dengan belatinya, dan kini menangis bahagia seraya memeluk Blimunda yang menciumi wajahnya yang dekil. Pendeta itu menghampiri mereka dan ikut berpelukan.

Tiba-tiba lelaki itu merasa gelisah oleh analogi orang Itali yang menggambarkan bahwa penderita itu seperti Tuhan, Baltasar anaknya, dan Blimunda adalah roh kudus, dan kini mereka bertiga terbang di angkasa bersama-sama.

“Hanya ada satu Tuhan,” teriaknya, namun angin merenggut kata-kata dari mulutnya.

Kemudian Blimunda berkata, “Bila kita membuka layar, kita akan terus membumbung dan mungkin bahkan bisa membaur dengan matahari.”

Kita tak pernah bertanya pada diri sendiri apakah ada sedikit kebijaksanaan dalam kegilaan, bahkan saat mengenali bahwa kita semua memang gila. Inilah cara menjaga sisi kegilaan ini, dan bayangkanlah apa yang akan terjadi jika orang-orang gila menuntut diperlakukan seakan-akan mereka sejajar dengan orang waras, yang hanya sedikit gila, dengan dalih bahwa mereka sendiri masih memiliki sedikit kebijaksanaan, sebagai batas penghalang eksistensi mereka seperti Pastor Bartolomeo Lourenco.

Jika kita membuka layar dengan tiba-tiba, kita akan jatuh ke bumi seperti segumpal batu, dan bila kita memanjangkan tali dan mengatur kekencangannya agar layar terkembang perlahan, akan tersisa  bayangan pada bola-bola keemasan dan mesin pun mengendur.”

Mesin itu telah berhenti memanjat dan bergerumuh di angkasa, sayap-sayapnya dilebarkan, menuju arah utara, dan tampak bagaikan tak bergerak. Pendeta membuka layar sedikit lebih lebar, tiga per empat bola keemasan telah tertutup bayangan dan mesin mulai menurun perlahan, rasanya seperti berlayar melintasi sebuah danau yang tenang dengan perahu kecil.

Perlahan-lahan daratan mulai muncul, Lisabon membayang dalam pandangan, Lapangan Istana yang berbentuk bujur sangkar tak rapi, liku-liku lorong jalanan, dekorasi beranda tempat tinggal pendeta dan tempat para petugas Dinas Suci Inkuisisi memaksa masuk untuk menahannya.

Mereka datang terlambat, para petugas yang amat teliti dalam urusan langit, namun lupa menengok ke langit biru di mana mereka akan menemukan mesin itu, setitik bulatan mungil jauh di sana, namun bagaimana mungkin mereka bisa mendongakkan mata apabila mereka dihadapkan pada ketakutan mereka, pada selembar halaman Injil yang dirobek, pada Al-Qur’an yang disederhanakan menjadi serpihan-serpihan tak terbaca. Mereka langsung pergi ke Rossio dan markas Dinas Suci Inkuisisi unuk melaporkan sang pendeta telah kabur menghindari penangkapan, dan tak pernah terpikir oleh mereka bahwa orang itu berlindung di kubah langit raksasa, yang tak akan pernah mereka ketahui, karena cukup jelas bahwa Tuhan memiliki kemurahan pada orang-orang gila, cacat, dan eksentrik, namun nyaris tidak bagi para petugas Dinas Suci Inkuisisi.

Passarola itu menurun sedikit lebih rendah hingga tanah Pangeran Aveiro muncul dalam pandangan, dan ketiga penerbang ini tampak jelas merupakan para pemula, mereka kurang pengalaman untuk bisa membedakan dataran-dataran penting dengan sekali pandang, sungai-sungai dan parit, danau-danau, desa-desa yang berkilauan bagai bintang-bintang di bumi, hutan-hutan lebat, mereka dapat melihat keempat dinding rumah latihan, bandara tempat mereka meluncur terbang.

Angin selatan berhembus, sebuah tiupan yang mengacak-acak rambut Blimunda. Dengan angin semacam ini mereka tak akan bisa pergi ke mana-mana, akan seperti mencoba berenang melintasi samudera.

Baltasar bertanya, “Apakah aku sebaiknya menggunakan bagian bawah?”

Setiap koin memiliki dua sisi, pertama yang dikatakan oleh pendeta, “Hanya ada satu Tuhan.” Kini Baltasar ingin tahu, “Apakah sebaiknya aku menggunakan sisi bagian bawah?”

Apabila Tuhan menolak untuk terlibat, manusia harus mencoba berusaha. Tetapi Pastor Bartolomeo Lourenco tampak termangu-mangu, dia tak berbicara ataupun bergerak, menatap nanar pada bentang alam; sungai dan laut, pegunungan dan dataran.

Keheningan begitu menyesakkan, angin berhenti berhembus, tak sehelai rambut pun di kepala Blimunda terusik.

“Gunakan bagian bawah, Baltasar,” pendeta itu memutuskan. (*)


 

*José de Sousa Saramago GCoISE (lahir 16 November 1922 – meninggal 18 Juni 2010 pada umur 87 tahun) adalah seorang penulis yang berasal dari Portugal. Ia menerima Penghargaan Nobel Sastra pada 1998. Umumnya karya-karyanya menghadirkan sudut pandang subversif pada peristiwa bersejarah, menekankan faktor manusia daripada cerita resmi. (Wikipedia)

Cerpen

Doa Kang Suto

mm

Published

on

Ahmad Tohari *)

Pernah saya tinggal di Perumnas Klender. Rumah itu dekat mesjid yang sibuk. Siang malam orang pada ngaji. Saya tak selalu bisa ikut. Saya sibuk ngaji yang lain.

Lingkungan sesak itu saya amati. Tak cuma di mesjid. Di rumah-rumah pun setiap habis magrib saya temui kelompok orang belajar membaca Al Quran. Anak-anak, ibu-ibu dan bapak-bapak, di tiap gang giat mengaji. Ustad pun diundang.

Di jalan Malaka bahkan ada kelompok serius bicara sufisme. Mereka cabang sebuah tarekat yang inti ajarannya berserah pada Tuhan. Mereka banyak zikir. Solidaritas mereka kuat. Semangat agamis, pendeknya, menyebar di mana-mana.

Dua puluh tahun lebih di Jakarta, tak saya temukan corak hidup macam itu sebelumnya. Saya bertanya: gejala apa ini?

Saya tidak heran Rendra dibayar dua belas juta untuk membaca sajak di Senayan. Tapi, melihat Ustad Zainuddin tiba-tiba jadi superstar pengajian (ceramahnya melibatkan panitia, stadion, puluhan ribu jemaah dan honor besar), sekali lagi saya dibuat bertanya: jawaban sosiologis apa yang harus diberikan buat menjelaskan gairah Islam, termasuk di kampus-kampus sekular kita? Benarkah ini wujud santrinisasi?

Di Klender yang banyak mesjid itu saya mencoba menghayati keadaan. Sering ustad menasihati, “Hiasi dengan bacaan Quran, biar rumahmu teduh.” Para “Unyil” ke mesjid, berpici dan ngaji. Pendeknya, orang seperti kemarok terhadap agama.

Dalam suasana ketika tiap orang yakin tentang Tuhan, muncul Kang Suto, sopir bajaj, dengan jiwa gelisah. Sudah lama ia ingin salat. Tapi salat ada bacaan dan doanya. Dan dia tidak tahu. Dia pun menemui pak ustad untuk minta bimbingan, setapak demi setapak.

Ustad Betawi itu memuji Kang Suto sebagai teladan. Karena, biarpun sudah tua, ia masih bersemangat belajar. Katanya, “Menuntut ilmu wajib hukumnya, karena amal tanpa ilmu tak diterima. Repotnya, malaikat yang mencatat amal kita cuma tahu bahasa Arab. Jadi wajib kita paham Quran agar amal kita tak sia-sia.”

Setelah pendahuluan yang bertele-tele, ngaji pun dimulai. Alip, ba, ta, dan seterusnya. Tapi di tingkat awal ini Kang Suto sudah keringat dingin. Digebuk pun tak bakal ia bisa menirukan pak ustad. Di Sruweng, kampungnya, ‘ain itu tidak ada. Adanya cuma ngain. Pokoknya, kurang lebih, ngain.

“Ain, Pak Suto,” kata Ustad Bentong bin H. Sabit. “Ngain,” kata Kang Suto.
“Ya kaga bisa nyang begini mah,” pikir ustad. Itulah hari pertama dan terakhir pertemuan mereka yang runyem itu. Tapi Kang Suto tak putus asa. Dia cari guru ngaji lain. Nah, ketemu anak PGA. Langsung Kang Suto diajarinya baca Al-Fatihah.

“Al-kham-du …,” tuntun guru barunya. “Al-kam-ndu …,” Kang Suto menirukan. Gurunya bilang, “Salah.”
“Alkhamdulillah …,” panjang sekalian, pikir gurunya itu.
“Lha kam ndu lilah …,” Guru itu menarik napas. Dia merasa wajib meluruskan. Dia bilang, bahasa Arab tidak sembarangan. Salah bunyi lain arti. Bisa-bisa kita dosa karena mengubah arti Quran. Kang Suto takut. “Mau belajar malah cari dosa,” gerutunya.

Kang Suto tahu, saya tak paham soal kitab. Tapi ia datang ke rumah saya, minta pandangan keagamaan saya.

“Begini Kang,” akhirnya saya menjawab. “Kalau ada ustad yang bisa menerima ngain, teruskan ngaji. Kalau tidak, apa boleh buat. Salat saja sebisanya. Soal diterima tidaknya, urusan Tuhan. Lagi pula bukan bunyi yang penting. Kalau Tuhan mengutamakan ain, menolak ngain, orang Sruweng masuk neraka semua, dan surga isinya cuma Arab melulu.

Kang Suto mengangguk-angguk.

Saya ceritakan kisah ketika Nabi Musa marah pada orang yang tak fasih berdoa. Nabi Musa langsung ditegur Tuhan. “Biarkan, Musa. Yang penting ketulusan hati, bukan kefasihan lidahnya.”

“Sira guru nyong,” (kau guruku) kata Kang Suto, gembira.

Sering kami lalu bicara agama dengan sudut pandang Jawa. Kami menggunakan sikap semeleh, berserah, pada Dia yang Mahawelas dan Asih. Saya pun tak keberatan ia zikir, “Arokmanirokim,” (Yang Pemurah, Pengasih).

Suatu malam, ketika Klender sudah lelap dalam tidurnya, kami salat di teras mesjid yang sudah tutup, gelap dan sunyi. Ia membisikkan kegelisahannya pada Tuhan.

“Ya Tuhan, adakah gunanya doa hamba yang tak fasih ini? Salahkah hamba? duh Gusti, yang hati-Nya luas tanpa batas …”

Air matanya lalu bercucuran. Tiba-tiba dalam penglihatannya, mesjid gelap itu seperti mandi cahaya. Terang-benderang. Dan kang Suto tak mau pulang. Ia sujud, sampai pagi …

*) Ahmad Tohari, 1971 

Continue Reading

Cerpen

Perempuan yang Pertama-tama Kutemui Dalam Hening

mm

Published

on

*) Aura A. Asmaradana[1]

Aku menemui Klara di dalam bis komuter. Selama tiga minggu berturut-turut, ia memilih duduk di sampingku, seringkali di baris kedua sebelah kiri. Ketika duduk di dalam bis, aku lebih sering membaca apapun yang ada di dalam tas. Buku-buku atau sekadar lembar-lembar rancangan pembelajaran semester atau beberapa kertas bungkus kacang rebus yang terselip.

Selasa pertama, ketika bis berhenti di kompleks perumahan Klara, ia naik dengan memeluk sebuah buku tebal ukuran folio. Esok hari dan hari-hari setelahnya begitu pula. Waktu itu, dalam hati aku menduga Klara memilih duduk denganku karena ia melihatku membaca diktat kuliah—merasa senasib sepenanggungan sebagai mahasiswa.

Kalau sedang tak membaca, di dalam bis, aku tidur. Apalagi ketika penumpang penuh, lampu dalam bis akan dimatikan. Maka aku tak mungkin lagi membaca. Klara pun kuperhatikan begitu. Ia akan mengeluarkan seplastik masker sekali pakai dari dalam tas, mengeluarkan selembar, mengenakannya, dan tidur. Aku tahu ada banyak orang yang tak mau mulutnya terlihat ketika tidur. Bisa jadi mereka tertidur dengan mulut menganga, tak kuasa membendung air liur, atau hanya sekadar perasaan tak nyaman diperhatikan orang lain.

Butuh tiga minggu hingga aku dan Klara berhasil bercakap-cakap secara verbal. Percakapan kami selalu tanpa kata-kata. Sekali waktu, ia ngambek padaku. Dari awal peristiwa hingga akhirnya duduk bersama kembali, kami tak pernah bicara satu sama lain. Cerita ini baru kami bagi setelah berani berbincang lebih jauh.

Waktu itu hari Kamis. Aku duduk di kursi baris kedua sebelah kanan karena baris sebelah kiri sudah ada yang lebih dulu menempati. Klara duduk di sebelah kiriku. Melamun. Mengeluarkan masker. Memasangnya. Tidur. Aku pun tertidur setelah menyelesaikan membaca salah satu bagian introduksi Kritik Atas Rasio Murni dan belum juga memahaminya. Kernet mengumpulkan ongkos, aku terbangun. Membayar dengan uang pas, selembar sepuluh ribu dan selembar lima ribu. Bis naik di jalan layang. Aku terbangun lagi. Kulirik Klara yang masih tertidur. Aku memejamkan mata lagi tanpa benar-benar tidur. Bis terus berada di jalan layang hingga gedung-gedung khas perkotaan terlihat dan penumpang bis berkasak-kusuk. Bis mulai ambil jalur kiri karena hendak keluar tol. Klara masih tidur. Aku tahu tak jauh lagi ia harusnya turun. Keberanianku membangunkannya maju mundur. Di satu sisi aku agak cemas ia tak terbangun, di sisi lain aku percaya bahwa ia tak mungkin abai pada keributan di sekitarnya. Tapi aku pun ragu untuk membangunkannya. Apa kata-kata yang harus kupakai untuk membangunkannya? “Halo, bis sudah mau berhenti.” “Hai, sebentar lagi harusnya turun, kan?”

Aku menegakkan punggung. Klara masih tidur ketika bis turun dari jalan layang. Tepat ketika bis berhenti di tepian jalan, orang-orang mengantri untuk turun di lorong bis, ia tersentak bangun. Setelah sebentar melirik ke arahku yang pura-pura tak lihat, ia menyiapkan ranselnya dan turun. Aku merasa sedikit bersalah. Sedikit saja. Sebab toh ia akhirnya bangun dan tak melewatkan kuliah paginya. Minggu depannya, Selasa hingga Kamis, ia tak mau lagi duduk di sampingku. Ia duduk di seberang lorong, sejajar dengan tempatku.

Selasa berikutnya, ia naik bis tepat ketika aku masih membiarkan inhaler menggantung di lubang hidungku. Ia berdiri sebentar di lorong, melihatku, mungkin merasa iba melihatku yang kalah oleh pendingin ruang, mata sembab dan berair akibat flu. Klara duduk di sampingku. Mengeluarkan sebungkus masker. Mengenakannya dan mulai tidur seakan menyiapkan diri untuk menemaniku, menghangatkanku.

Aku tak pernah bilang pada Klara bahwa aku sangat bersyukur tidak mengajaknya bicara lebih dulu. Gengsi. Klara pun mungkin begitu. Kami hanya berkomunikasi dalam hening. “Kau tahu, keheningan seringkali lebih menyampaikan banyak hal.” Ujarku kemudian, mengingat pembahasan kelas kuliah seminar sore sebelumnya membahas tentang Dasein yang berdiskursus dengan cara schweigen. Klara manggut-manggut.

Pada pagi berjalanan licin di akhir bulan, kami mulai bicara. Kami menyaksikan kecelakaan dari balik jendela bis. Sesaat sebelum Klara turun di dekat kampusnya, seorang pengendara menuntun sepeda motornya melintasi pembatas jalan tinggi bertanaman hias demi menghindari razia oleh Polantas. Ia dengan gesit menurunkan sepeda motor dari atas pembatas jalan, menumpanginya dalam hitungan detik, mengendarainya di busway. Sanggup mengelak dari bis Transjakarta yang membunyikan klakson panjang, ia jatuh tertimpa sepeda motornya sendiri dan tak sanggup mengelak dari hantaman sedan yang melaju kencang di jalur kiri. Aku dan Klara menyaksikannya tersungkur di jalan basah akibat hujan semalaman. Semua terjadi begitu cepat dan tertata. Seperti ada tangan besar tak terlihat yang dengan lincah menata segala gerak serta maut. Pengendara motor itu tak bergerak lagi. Bahkan ketika tubuhnya dibopong ramai-ramai ke tepian.

Aku melirik Klara di samping kiri. Ia menatapku, seolah menanti responku atas peristiwa itu. Aku mengembuskan napas yang lama tertahan. Ia meringis. Padaku. Tadinya kukira bukan. Tapi tak ada siapapun di kursi itu selain aku. Aku menggelengkan kepala sambil menarik napas panjang. “Ngeri.” Akhirnya. Aku mendengar suara Klara bergema di dalam kepalaku. Jenis suara yang selama ini kuduga-duga macamnya; kukira-kira saja dari perawakan badan sekitar seratus enam puluh lima sentimeter dengan wajah oval, lesung pipi, dan rambut silky kuncir kuda. Suara itu lebih tegas dan berat daripada yang kupikirkan selama berminggu-minggu. “Iya.” Penumpang yang sudah berdiri di lorong berisik sekali. Namun aku tak dapat dengar komentar mereka karena telingaku sepenuhnya dikepung suara Klara. “Helmnya lepas.” Kataku. Padahal Klara juga melihatnya. Ia mengangguk. Bibir naik separuh. Ada kekhawatiran di lesung pipinya. Ia bangun dari duduk. Aku melepasnya pergi. Sungguh tak sanggup menunggu Selasa pagi.

Sejak itu, Klara dan aku berbincang banyak. Ia membahas beberapa buku yang pernah kubaca. Ingatannya tentang beberapa yang baru kubaca membuat kembang api meledak di kedua pipiku—ketika ia bilang dengan hati-hati. “Aku tidak mengintip, lho. Siapapun yang duduk di sebelahmu pasti bisa baca.” “Aku tahu. Tapi kau kan yang memilih duduk di sini.” Ia tersipu. “Sesama mahasiswa.” Dan pada masanya, aku akhirnya dapat menuntaskan rasa penasaranku, “Buku babonmu itu, kenapa tidak dimasukkan saja ke dalam tas?” Sebab kulihat tasnya tak penuh-penuh amat. Kutimbang, buku itu sepertinya muat dalam tas.  “Supaya kelihatan terpelajar.” Aku mencibir Klara hingga puas karena jawaban itu.

Usiaku dan Klara terpaut cukup jauh. Aku dua puluh empat, ia di akhir dua puluh satu. Tanpa diminta, aku menjelaskan padanya tentang kemalasanku kembali ke kampus setelah cuti satu semester. Dua semester. Tiga…. “Kamu bodoh.” Aku terhenyak. “Padahal kuliahmu asik.” Aku mengiyakan saja. Iya, kuliah filsafat memang fancy. Iya pula, mungkin aku memang bodoh.

Beberapa pertemuan setelah membicarakan hal-hal di permukaan, aku sering bercerita padanya tentang situasi di kampus. Ia pun begitu. Tentang dosen. Beberapa teman. Beberapa laki-laki. Beberapa laki-laki tampan. Laki-laki tampan beruban di pascasarjana—dalam cerita Klara, “Ia rajin ke Gereja.” Laki-laki tampan urakan berkulit coklat tua—dalam ceritaku, “Ia membiarkan tumbuh jenggot dan kumisnya. Juga mencepol rambutnya yang keriting mengembang.” Klara ber-ih panjang. Tapi mungkin kemudian ia ingat gerombolan uban di kepala calon kekasihnya, maka ia segera diam. “Ia bahkan lebih tua darimu.” “Tidak masalah, kan?” “Iya, karena sampai sekarang dari obrolan-obrolan kami tidak terjadi apa-apa” “Uh, apalagi aku. Bahkan aku sengaja tak mau tahu namanya.” Kubilang pada Klara, kekaguman jenis apapun akan luntur setelah manusia mendapatkan informasi terlalu mendalam. Kupikir, rasa penasaran itu justru bumbu utama. Semakin banyak dapat informasi, pengalaman mencecap rasa itu tidak berkesan lagi. Klara tak selalu sepakat padaku—meski masih mendorongku untuk bercerita tentang laki-laki yang beberapa tahun lebih muda usianya dariku itu. “Ia sama mudanya denganmu.” Kataku.

Obrolan-obrolan aku dan Klara menyentuh segala hal seperti beliung. Ketika aku bercerita tentang tema penelitian redaksi teks, aku baru tahu bahwa ayah Klara ada di penjara. “Kau tahu siapa yang sebetulnya membaptis Yesus di sungai Yordan?” “Yohanes Pembaptis.” “Dalam Injil Lukas, Yohanes sudah dipenjara ketika Yesus dibaptis.” “Tapi ia melihat Roh Kudus turun pada Yesus.” “Itu di teks yang lain.” Klara manggut-manggut. “Terima kasih, ya.” “Apa?” “Bisa jadi bahan obrolanku dengan Wahyu.” Ia menyebut nama laki-laki beruban itu. Aku tertawa saja waktu itu. “Coba kita lihat. Kalau kecenderungan tafsirannya sangat harfiah dan tekstual, itu menandakan dia tak peka. Berarti kamu memang harus bilang cinta duluan.” Kerut di kening Klara. “Tak ada hubungannya tauk!” Aku menguap. Sejak sering berbincang, kami berdua tak pernah tidur lagi di bis. “Aku tidur sebentar, ya.” Matahari naik pelan-pelan di horison. Klara mengangguk. Aku hampir lelap ketika Klara bicara. “Omong-omong soal Roh Kudus, waktu SD, aku pernah diminta menggambarnya oleh seorang frater ketika ret-ret.” Klara tahu aku mendengarkannya meski kedua mata terpejam. “Teman-teman menggambar merpati dan api dan kilatan cahaya. Aku menggambar tiang jemuran.” Aku melek dan langsung memelototinya. Hampir tertawa tapi tak jadi. Raut wajah Klara datar dan dingin. Aku bekerja keras menimbang apa ia akan tersinggung kalau aku tertawa? “Sesaat sebelum dipenjara, ayahku bilang bahwa Roh Kudus adalah tiupan angin keras yang sanggup memenuhi seluruh rumah. Pasti bisa mengeringkan cucian ibu walau segunung.” Aku terkagum-kagum pada sosok separuh asing di hadapanku. Aku berpikir, mungkin suatu hari, ketika Klara tak sedang sentimentil begitu, aku akan bertanya lebih banyak tentang ayahnya. Mungkin pula ada waktu ketika aku dan ia bisa datang mengunjunginya dalam penjara.

Satu hari di April yang basah, aku memberanikan diri mengajak Klara pergi. “Ke toko buku saja.” Kukira yang hendak ia perlihatkan adalah daftar beberapa buku yang ia inginkan, tapi yang kutemukan malah daftar bolpoin gel, stabilo, tipe-x, post-it, pensil mekanik, pensil serut HB, B2, B3, B4, dan seterusnya. “Aku memang tak pernah datang ke toko buku untuk membeli buku.” Ia mengangkat bahu. Kami berjanji untuk pergi hari Minggu sore. Namun aku mendapat telepon dari Klara menjelang pukul sepuluh malam di hari Sabtu. Waktu aku menemuinya di teras rumahnya—setelah bermacet-macet naik angkot sepanjang tiga kilometer saja—aku menemukan lebam besar warna buah manggis dan sedikit kulit dadas dan darah kering di sudut kelopak matanya. “Ini kecelakaan.” Aku agak kesal Klara tak memberitahuku tentang pertemuan dengan Wahyu malam Minggu itu. “Bagaimana ceritanya?” Ia menambahkan prolog sepanjang dan selihai ular sebelum akhirnya sampai di inti cerita. Aku agak terkejut mendengar keberaniannya bertindak. Kalau aku adalah Klara, mungkin aku sibuk menimbang apa yang bisa kulakukan untuk mendapatkan pembelaan seorang pengacara. Kalau Klara adalah aku, tentu ia takkan mendapat luka lebam.

“Aku tidak menyukainya.” Sesal Klara. “Sudah kubilang. Kau harus menciptakan jarak dalam mengagumi seseorang, membiarkannya tetap jadi misteri.” “Seperti Tuhan.” Kami berbincang lagi soal laki-laki dan Tuhan, meski tak banyak-banyak. Padahal kuyakin sekitar mata Klara masih berdenyut pedih. Malam itu adalah kali pertama percakapan kami tidak dibatasi laju bis dan jam kuliah pertama pukul setengah delapan pagi.

Di ujung malam, ketika aku pamit pulang dan memeluk Klara serta berpesan supaya ia menjaga diri, ia mengecup bibirku lama-lama. Pipiku. Baiklah, mungkin bibir. Agak ke pipi. Bibir di bagian ujung. Klara memegangi pipiku selama ciuman itu, seolah tak membiarkan aku pergi, meski sebetulnya kepalaku rasanya hendak lepas dan menggelinding di jalan aspal. Tatapan mata Klara padaku setelahnya terasa seperti ia telah membayar lunas segala sesuatu.

Sebelumnya mungkin aku keliru. Setelah mendapat ciuman di luar persetujuan, aku tidak sibuk mengingat apa yang bisa kulakukan untuk mendapatkan pembelaan seorang pengacara. Klara tak serta merta jadi seorang bajingan. Aku tak menampar seperti yang dilakukan Klara sehingga Wahyu kemudian meledak. Aku malah memikirkan segala teori tentang menjaga jarak—yang runtuh seketika. Aku mendapatkan fakta betapa nikmat tenggelam dalam misteri setelah mendapatkan segala tentangnya; tentang perempuan yang pertama-tama kutemui dalam hening di bis.

Dari sentuhan bibir Klara malam itu, diam-diam aku tak bisa menghapus bayangan laki-laki tampan berkulit coklat bak nelayan yang melaut belasan siang, serta bagaimana ia mengisap-embuskan asap rokoknya. (*)

Cawang, 13-14 April 2018

[1] Aura Asmaradana (Twitter: @aurasmaradana) sedang berusaha menyelesaikan perkuliahan di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta. Gemar menulis cerita pendek, puisi, dan esai. Karyanya yang telah dibukukan adalah Solo Eksibisi (kumpulan cerita, 2015) dan Solilokui (novel, 2018).

Continue Reading

Cerpen

Cinta yang Sulit

mm

Published

on

Kawan pertamanya di semesta ganjil ini adalah seekor ayam jago muda. Dengan suaranya yang tipis dan belum matang benar, si ayam jago muda senantiasa menjadi yang pertama berkokok. Jago-jago yang lain, dengan malas-malasan, kemudian mengikutinya. Sesekali mereka mengeluh apalah gunanya berkokok di semesta yang seperti itu. Sia-sia belaka, tukas yang lain. Namun tak urung, mereka tetap saja berkokok. Jago-jago yang benar-benar labil. Ayam-ayam betina akan bangun dari tidur mereka dan berciap-ciap ribut. Lalu hari yang membosankan pun dimulai. Mereka berkeliaran. Kadang-kadang, mengikuti kebiasaan alami kaum ayam, mereka mematuk-matuk lantai semesta tersebut. Namun tak ada cacing atau remah tanah yang bisa diasin. Bahkan, tak ada partikel apa pun yang masuk melalui paruh-paruh mereka. Semesta ini bersih dan jembar dengan caranya sendiri yang sepertinya tak terdeskripsikan. Bukan hanya umat ayam penghuni semesta tersebut, tentu saja. Banyak. Aneka tetumbuhan seperti bayam dan kangkung, hingga binatang-binatang, mulai sapi hingga kelelawar dan tikus.

“Bagaimana bisa ada tikus dan kelelawar?” ia pernah bertanya seperti itu.

“Menado,” jawab si ayam jago muda. “Mereka masuk ke sini ketika ia berada di Menado.”

“Ia pernah ke Menado? Itu kan jauh,” katanya. “Kukira ia tidak cukup kaya untuk bisa pergi ke Menado.”

“Kau beruntung aku sudah berada di sini cukup lama. Lebih lama ketimbang kelelawar dan tikus itu. Jadi aku bisa tahu dengan pasti bagaimana ia bisa sampai ke Menado, lalu memasukkan kelelawar dan tikus itu ke sini. Jadi begini,” si ayam mendehem sebentar. Ia mengepakkan sayapnya tiga kali, membenahi posisi berdirinya, lalu meneruskan, “dia seorang penyair. Kau pasti tahu itu kan? Sekitar tiga tahun yang lalu, ia pernah dikirim oleh Dewan Kesenian Jawa Timur untuk menghadiri temu sastrawan di sana. Semua biaya ditanggung. Selain itu, ia juga mendapat uang saku yang cukup banyak. Ini akan ada hubungannya denganmu.”

“Ada hubungannya denganku? Apa maksudmu?”

“Dengan uang saku yang ia dapat, ia melamar perempuan itu.”

“Siti?”

“Siti.”

“Oh.”

“Kenapa?”

“Kukira mereka kawin lari.”

“Mereka memang kawin lari.”

“Apa maksudmu? Bukankah katamu ia melamar Siti. Lalu kenapa mereka kawin lari?”

“Lamarannya ditolak. Mereka beda agama. Masa kau tidak tahu itu? Dan karena ditolak itulah, mereka kawin lari. Uang yang sedianya untuk beli peningset itu yang mereka gunakan untuk lari dan mengontrak rumah di tepi kali itu.”

“Begitu?”

“Begitulah. Dan kau sudah tahu apa yang kemudian terjadi.”

Ia memang tahu apa yang kemudian terjadi. Sejak suatu sore tiga tahun yang lalu, hari kedua kepindahan pasangan muda tersebut, ia tahu hampir semua yang terjadi atas mereka. Ia sedang mengintai seekor kodok yang tengah bersantai di pinggir kali sewaktu Siti hendak membuang sampah. Setengah tubuhnya tersembunyi di balik gerumbul semak. Namun ekornya yang panjang menjulur tak terlindung. Jarak mereka tidak begitu jauh, sekitar dua puluh meter. Cahaya matahari sore menimpa sisik-sisik gelapnya. Takdir menumbukkan padangan mata Siti ke ekornya.

“Buaya… buaya…” Siti berteriak seraya menjatuhkan keranjang sampahnya dan berlari balik ke rumah petak kontrakannya. Ia terkejut mendengar teriakan itu dan melesat nyemplung ke dalam kali. Si kodok juga terkejut dan melompat entah ke mana. Tak lama kemudian, seorang laki-laki keluar dari rumah, dengan Siti yang mukanya sepucat mayat mengikuti dan mengintip dari balik bahu.

“Di mana buayanya?” lelaki itu bertanya.

“Di sana. Tadi aku melihat ekornya. Di sana. Mungkin sudah pergi. Tapi hati-hatilah.”

Si lelaki menggenggam sebilah parang. Dengan mantap, ia berjalan menuju semak-semak. Melempar batu ke sana. Lalu diam sebentar dalam jarak lima meter.

“Kalau memang ada buaya, pasti ia sudah keluar,” kata si lelaki.

“Mungkin batunya kurang besar.”

Si lelaki memungut batu yang lebih besar. Lalu melemparkannya ke gerumbul semak.

“Tidak ada,” kata si lelaki. Lalu ia berjalan semakin mendekati gerumbul itu. Dan dengan parangnya, ia tebasi gerumbul itu.

“Tidak ada apa-apa.”

“Tapi aku bersumpah.”

“Mungkin kau hanya salah lihat.”

Ia mengamati adegan itu dengan sepasang mata kecilnya dari bawah permukaan air yang coklat. Itulah saat ia merasa darahnya yang dingin berubah hangat. Ia lupa akan dirinya, akan bahaya yang mengancamnya. Ia berenang ke tepian yang baru saja ia tinggalkan. Seperti ada magnet yang menariknya. Dan ia tahu, perempuan itulah magnet tersebut. Si lelaki sudah membalikkan badan dan mulai melangkah menuju rumah kontraknya ketika ia sampai di tepian. Siti berjalan mengikuti lelaki itu, namun sebelum memasuki halaman rumah, Siti menoleh. Pandangan mereka bertemu. Siti kembali menjerit. Dan ia merasa tubuhnya kaku.

Si lelaki menoleh. Lantas tertawa kencang. “Itu biawak. Bukan buaya. Sama sekali tidak berbahaya,” kata si lelaki di sela-sela tawa.

Sejak itu, satu-satunya hal yang ia ingini adalah melihat si perempuan yang di kemudian hari, dari bagaimana si lelaki memanggil, ia ketahui bernama Siti. Semakin dekat semakin baik. Dan dalam rangka itulah ia kerap menyelinap di antara tumpukan sampah tak jauh dari rumah petak tersebut, kadangkala ia mendekam di antara potongan kayu dan tong-tong yang berada di samping rumah. Namun yang paling ia sukai adalah berada di kolong tempat tidur pasangan baru tersebut.

Beberapa kali Siti memergokinya. Ia gembira ketika tahu bahwa Siti mengetahui kehadirannya. Namun tidak dengan Siti. Perempuan itu selalu berteriak. Dan si lelaki akan segera datang untuk mengusirnya.

“Usir yang jauh supaya dia tidak kembali lagi,” begitu selalu yang dikatakan Siti.

“Jangan takut. Nanti aku akan menangkapnya. Daging biawak enak kalau dimasak rica-rica.”

“Ih… jangan begitu. Menjijikkan.”

Namun si lelaki tak pernah berhasil menangkapnya. Ia terlalu gesit. Sekali waktu, ia hampir tertangkap. Si lelaki bahkan berhasil menyabetkan parang yang merobek punggungnya. Namun ia segera berlari. Kesakitan yang ia rasakan memberi semacam kekuatan ekstra yang tak ia duga sebelumnya. Setelah kejadian itu, ia menjadi lebih berhati-hati.

Namun dua minggu yang lalu, ia memutuskan untuk menyerahkan dirinya. Dan untuk keputusan paling penting dalam keseluruhan takdirnya itu, ia berhutang kepada seekor kodok yang sedianya bakal menjadi menu makan siangnya. Seekor kodok petapa, pikirnya, dan karenanya, telah memperoleh pencerahan yang tidak didapat oleh kebanyakan makhluk. Kodok itu, tanpa ia tahu bagaimana, mengerti bahasanya.

“Aku lebih suka menjadi santapanmu ketimbang mati karena usia tua dan membusuk dalam tanah,” kata si kodok. “Dengan menjadi santapanmu, aku tidak benar-benar mati. Aku akan meneruskan hidupku, hanya saja dalam semesta tubuhmu, menjadi bagian dari dirimu.”

Itu adalah hari ketiga ia tersiksa dalam nelangsa yang tidak karuan besarnya. Itu adalah hari ketiga ia mengetahui bahwa Siti telah meninggalkan si lelaki setelah sebuah pertengkaran atas hal yang sama, namun telah mencapai puncaknya. Ia berada di kolong ranjang ketika pertengkaran tersebut terjadi. Dan karenanya, ia tahu detil-detilnya.

“Kita ini kualat. Karena itu rezeki kita seret. Aku lapar. Dan kita terancam jadi gelandangan kalau tidak bisa membayar kontrakan bulan depan,” rintih Siti terbata, di antara isak tangis yang sedemikian pilu.

“Sabarlah. Aku yakin sebentar lagi tulisanku akan ada yang terbit. Dan itu berarti kita akan dapat honor.”

“Seberapa besar honormu? Tidak. Kau tahu, bukan karena tulisanmu jelek sehingga jarang ada yang mau memuatnya. Tapi karena kualat. Kita sudah melawan orangtua kita. Kita ini durhaka. Ini hukuman.”

“Ada apa denganmu? Kau dulu tidak pernah berkata seperti ini.”

“Dulu aku belum tahu kalau kita akan kualat.”

Keesokan paginya, Siti meninggalkan rumah itu sebelum si lelaki bangun. Pergi untuk selama-lamanya. Dan ia tahu, ia tidak akan pernah bertemu lagi dengan Siti kalau ia tidak melakukan sesuatu. Ucapan si kodoklah yang membuatnya keluar dari persembunyiannya, menampakkan diri pada si lelaki, dan membiarkan lelaki lapar itu menebas kepalanya, lalu mengulitinya, memotong-motong dagingnya, memasaknya, lalu memangsanya.

Dan seperti yang dikatakan si kodok, ia ternyata tidak benar-benar mati. Ia hanya berpindah semesta. Meneruskan hidup dalam diri si lelaki. Dan bertemu serta berkenalan dengan banyak makhluk yang juga meneruskan hidup dalam diri si lelaki.

Ia berharap si lelaki akan menyusul Siti dan membujuknya, dan mereka akan kembali hidup bersama, lalu berbahagia selama-lamanya. Namun ucapan si ayam jago muda membuat semangatnya menyusut.

“Kau tahu apa yang membuat hubungan mereka tidak direstui?”

Ia menggeleng.

“Mereka beda agama. Dan secinta-cintanya mereka satu sama lain, keimanan mereka jauh lebih kuat. Mereka memang bukan orang saleh dan karenanya kau tak akan mendapatkan mereka tengah beribadah. Kekurang salehan mereka, selain cinta tentu saja, yang menyebabkan mereka memutuskan kawin lari. Namun toh, tetap saja, tak ada yang mau mengalah dengan berpindah agama. Mereka pikir itu bukan kendala yang berarti. Dan sekarang kau tahu, yang menjadi kendala adalah kelaparan. Uang. Dan aku yakin, bila ia menyusul Siti, orang tua Siti hanya akan memberi dua pilihan: berpisah atau ia pindah agama.”

“Kemungkinan mana yang lebih besar?”

“Berpisah.”

Tapi si lelaki, ternyata, tak pernah menyusul Siti. Tak pernah. Dan ia, yang merasa pengorbanannya sia-sia, hanya bisa merutuki si lelaki: lelaki terkutuk ini tidak pernah benar-benar mencintai Siti. (*)

*) Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Buku ceritanya yang sudah terbit berjudul Wisata Buang Cinta (2013) dan Adakah Bagian dari Cinta yang Belum Pernah Menyakitimu (2015). Sedang buku puisinya berjudul Ludruk Kedua (2016). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.

 

Continue Reading

Classic Prose

Trending