Connect with us

Writing Tips

Bagaimana Menulis Resensi Buku? Belajar Pada Damhuri Muhammad

mm

Published

on

Resensi atau timbangan buku–belakangan disebut juga kritik buku, dapat dikatakan sebagai tulisan popular berisi ulasan kritis dan komprehensif terhadap pokok-pokok pikiran dari sebuah buku baru, baik fiksi maupun non-fiksi. Corak penulisannya ringan, lugas, ringkas, sesuai dengan ketersediaan ruang pemuatan di media massa–koran, majalah, dan tablod. Panjang resensi biasanya berkisar antara 6.000 hingga 7.000 karakter (with space). Resensi dilengkapi dengan gambar sampul depan buku, dan data buku yang menjelaskan; nama penulis, penerjemah, editor, ketebalan, bulan dan tahun terbit, serta harga jual buku.

Ukuran kebaruan sebuah buku yang layak diresensi dan layak pula dimuat oleh media, biasanya berkisar antara 1 sampai 6 bulan setelah terbit. Meskipun belakangan ada juga media yang menerima resensi terhadap buku-buku lama, terutama yang mengalami cetak-ulang.

Para penulis resensi buku di media-media luar negeri, katakanlah yang biasa muncul di www.newyorker.com, www.theguardian.com, atau www.amazon.com, biasanya berasal dari kalangan akademisi atau editor profesional. Namun, tidak demikian halnya dengan kelaziman penulisan resensi buku di Indonesia. Para peresensi yang biasa tampil di media-media nasional banyak yang bermula dari komunitas-komunitas pembaca buku, dan hanya sesekali ditemukan peresensi buku dari kalangan akademisi. Namun karena keterampilan menulis yang handal, hingga kini media tetap mempercayai dan menampilkan karya-karya mereka. Sebutlah misalnya nama-nama seperti Anwar Holid, Hikmat Darmawan, Nur Mursidi, Hernadi Tanzil, Muhidin M Dahlan, Adi Thoha, dan lain-lain.

Oleh karena sifatnya kajian, resensi lazim menggunakan sudut pandang keilmuan sosial tertentu, seperti sosiologi, antropologi, arkeologi, sejarah, atau psikologi. Bila jenis buku yang ditimbang adalah buku fiksi, perspektif yang biasa digunakan penulis adalah kritik sastra, linguistik, filsafat seni (estetika), fenomenologi, semiotika, hermeneutika, dan lain-lain.

Namun, resensi berbeda dengan esai kajian yang tersiar di jurnal-jurnal akademik. Resensi menghindari penggunanaan istilah-istilah teoritis yang rigid. Penulis resensi biasanya berupaya menyederhanakan pemahaman teoritis tersebut dengan kalimat-kalimat praktis yang dapat dicerna oleh sebanyak-banyaknya pembaca. Mengingat koran, majalah, atau tabloid yang menyediakan rubrik buku, adalah media publik dengan pembaca umum dari berbagai kalangan.

Tujuan utama dari sebuah resensi buku adalah menunjukkan keunikan, kekuatan, kelebihan atau bahkan keistimewaan dari sebuah buku. Cara mengukurnya sederhana. Bila setelah membaca sebuah resensi, pembaca langsung tergerak untuk mencari buku tersebut di toko buku, atau memesannya secara online, maka resensi dapat dikatakan telah berhasil. Dengan begitu, unsur marketing tak dapat dihindarkan dari sebuah resensi. Penerbit akan menyukai peresensi yang mahir meresapkan strategi promosi dalam tulisannya. Meski begitu, media tidak bisa menerima begitu saja resensi yang terlalu berbau iklan. Media tetap mempertimbangkan ulasan kritis yang berkedalaman terhadap kandungan buku. Dan, yang lebih penting lagi, media akan sangat menyukai resensi yang dikontekstualisasikan dengan persoalan-persoalan aktual, terutama hal-ihwal yang sedang menjadi perhatian media.

Tahap-tahap Latihan Menulis Resensi Buku

(khusus untuk buku fiksi)

1      

Mendeskripsikan Pengalaman Baca

Setiap peserta melaporkan pengalaman baca terhadap buku-buku fiksi, baik fiksi serius maupun fiksi popular. Masing-masing peserta setidaknya dapat melaporkan pengalaman baca sekitar 1-2 buku¾bila lebih akan lebih baik. Variabel yang dapat dilaporkan, antara lain:

  1. Apa tema utama buku yang sudah tuntas Anda baca?
  2. Apa masalah utama yang Anda temukan dalam buku tersebut?
  3. Sebutkan nama-nama tokoh rekaan pengarang yang menurut Anda penting dari buku tersebut! Rinci perannya satu per satu!
  4. Deskripsikan perwatakan yang telah Anda dalami dari masing-masing tokoh rekaan tersebut!
  5. Menurut Anda, apakah kisah yang tersuguh dalam buku tersebut menarik dan patut diperbincangkan?
  6. Bila menurut Anda kisahnya tidak menarik, seperti apa semestinya kisah tersebut dirancang dan diakhiri?
  7. Menurut Anda, apakah kisah tersebut penting bagi khalayak pembaca di Indonesia?

Laporan bacaan ditulis dalam bahasa yang lugas. Instruktur akan memberikan waktu 15 menit. Setelah itu, masing-masing peserta akan mempresentasikannya secara lisan.

  1.       

Cara Menemukan Gagasan Utama

Bila agama melihat benar-salah secara hitam-putih, begitu juga dengan etika, yang selalu memposisikan “yang buruk” di bawah derajat “yang baik,” sastra agak berbeda dalam melihat persoalan ini. Tokoh rekaan bernama Aziz–dalam roman Tenggelamnya Kapal Van der Wijk, mahakarya Buya Hamka–adalah sosok lelaki jahat, karena dengan cara sewenang-wenang ia merampas Hayati dari tangan Zaenuddin–laki-laki miskin yang amat dicintainya. Setelah Hayati dipersuntingnya, dalam waktu yang tidak terlalu lama, perempuan itu memang hidup dalam keberlimpahan dan kemewahan menurut ukuran kurun itu, tapi kemudian Aziz menzalimi istrinya. Bukan hanya dengan kata-kata kasar, tapi juga dengan kekerasan fisik, hingga akhirnya Hayati tidak merasa berbahagia. Namun, bukan berarti Aziz bejat seutuhnya. Meski suka berfoya-foya, berjudi dan main perempuan, bukankah ia tidak pernah melalaikan tanggung jawab sebagai suami? Bahkan pada saat posisinya terjepit–jatuh miskin dan terlilit utang¾ khususnya ketika ia bertugas sebagai pegawai Belanda di Surabaya, ia mati-matian berupaya menyelamatkan kehidupan keluarganya, menyelamatkan Hayati istrinya dari ancaman kemiskinan. Aziz rela mengemis bantuan pada Zaenuddin, mantan kekasih Hayati yang sedang bertabur bintang masa itu. Bahkan Aziz berani menumpang tinggal di rumah laki-laki yang telah ia buat menderita seumur-umur. Inilah yang disebut dengan wilayah abu-abu dalam ranah sastra. Para ahli menyebutnya “wilayah ambigu”. Dalam yang jahat masih ada yang luhur. Dalam kelam masih ada secercah cahaya. Dalam keriuhan ternyata ada kesendirian. Begitu seterusnya. Dan, persoalan ini dapat menjadi gagasan utama dalam resensi Anda. Uraian ini sekadar contoh tentang cara menemukan ide yang akan menjadi penyangga dalam resensi Anda.

  1. Dari 1-2 buku fiksi yang telah Anda laporkan, dapatkah Anda menemukan sebuah ide yang bakal menjadi perhatian utama dalam resensi Anda?
  2. Masing-masing peserta dapat mengajukan ide atau gagasan utama secara lisan, lalu instruktur akan mengajukan sejumlah pertanyaan kritis guna menstimulasi berkembangnya layar kreatif Anda dalam menulis resensi.
  3. Dapatkah Anda membandingkan gagasan utama tersebut dengan gagasan serupa yang pernah Anda temukan pada buku fiksi yang lain? Apa keistimewaan buku yang sedang Anda resensi, dan apa kelemahannya bila dibandingkan dengan buku-buku lain yang pernah mengusung persoalan serupa di masa lalu?
  4. Setelah merasa yakin dengan pilihan ide masing-masing, instruktur akan mempersilahkan peserta untuk mulai menulis. Waktunya sekitar 20 menit. Tidak perlu langsung jadi. Cukup 1 halaman saja. Cukup menjadi sebuah resensi mentah saja…

Evaluasi

Masing-masing resensi mentah yang sudah dikumpulkan oleh peserta akan dievaluasi, dan yang dianggap kuat oleh instruktur, akan dibahas satu per satu. Pembahasan akan melibatkan semua peserta. Instruktur akan membacakannya di hadapan peserta, hingga semua peserta dapat mengajukan pertanyaan, menanggapi, menambahkan, atau bisa juga menyangkalnya dengan argumentasi-argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena waktu yang mungkin terbatas, instruktur akan memilih 3 esai mentah terbaik. Berikut sejumlah kriteria yang dapat menjadi pokok perhatian dalam sesi pembahasan:

  1. Pilihan tema
  2. Pilihan judul
  3. Penguasaan terhadap materi bacaan
  4. Keluasan wawasan
  5. Keterampilan berbahasa
  6. Ketajaman analisa

Finishing  

Gagasan-gagasan pendukung yang diperoleh dari tahap evaluasi, dapat langsung ditulis untuk menyempurnakan resensi mentah menjadi resensi yang utuh. Resensi yang tidak terpilih untuk diperbincangkan secara bersama-sama tetap dilanjutkan dengan cara yang merujuk pada ide-ide kreatif, sebagaimana yang diperoleh dari tahap evaluasi. Waktu yang tersisa digunakan untuk finishing esai. Masing-masing resensi dikumpulkan, untuk dinilai oleh instruktur, dan diserahkan kepada panitia penyelenggara.

Publikasi

Resensi yang dinilai kuat gagasannya, relevan dengan persoalan-persoalan kekinian, tajam analisanya, dan menarik cara penyajiannya, akan mendapatkan ruang pemuatan di media cetak, khususnya koran atau majalah yang menyediakan rubrik buku. Perlu dicatat, resensi Anda akan beroleh imbalan yang setimpal. Harian Kompas, memberikan honor esai sastra antara 750 rb s/d Rp. 1 juta. Harian Jawa Pos, sekitar Rp.750 ribu. Bila Anda merasa tertantang untuk menjadi peresensi profesional¾dan itu pasti tidak akan menyita waktu Anda dalam kesibukan lain¾ikutilah tips ringan di bawah ini:

  1. Pilihlah tema yang unik dan menarik bagi pembaca umum¾dari semua kalangan. Misalnya “Korupsi dalam Teks Fiksi.” Konsekuensi dari pilihan tema ini adalah mengumpulkan sejumlah karya fiksi, apapun bentuk dan genrenya, yang gagasan utamanya bertolak dari kompleksitas persoalan korupsi. Lalu, kajiannya dikontekstualisasikan, atau dihubungkaitkan dengan persoalan-persoalan kekinian, hingga menjadi sebuah ulasan yang up to date dan menarik untuk diperbincangkan.
  2. Sesuaikan panjang tulisan dengan ruang yang tersedia di koran. Resensi yang terlalu panjang, meskipun menarik, tidak akan dimuat.
  3. Kenali media yang akan Anda kirimi resensi. Setiap media selalu memiliki kepentingan. Tema “Tuhan dalam Karya Sastra” bisa saja sulit mendapatkan akses di media yang terbilang alergi dengan isu-isu agama. Namun, bila penggarapannya dilakukan dengan pertimbangan dan kehati-hatian, sensitifitas yang biasa dihindari media dapat tertutupi. Maka, setiap istilah yang digunakan mesti dijaga dan diperiksa secara cermat, hingga tidak berbenturan dengan kepentingan media tertentu, apalagi dengan kepentingan pembaca pada umumnya.
  4. Upayakan resensi bersifat informatif bagi pembaca, terutama info-info terkini perihal buku yang sedang menjadi perhatian. Lakukan perbandingan dengan buku-buku yang terbit sebelumnya, begitu pula dengan kajian yang pernah ada sebelumnya. Bila perlu tambahkan dengan kajian-kajian terhadap tema serupa yang pernah dilakukan oleh esais atau peneliti sastra di luar negeri. Dengan begitu, resensi akan menjadi kaya, dalam pengetahuan, luas daya jangkaunya.
  5. Provokasilah pembaca dengan keterampilan berbahasa, hingga pembaca akan tergesa mencari buku yang Anda resensi ke toko buku atau memesannya secara online. Buatlah pembaca tidak akan pernah tenang sebelum memiliki bukunya.
  6. Mungkin Anda perlu sedikit berdoa…

Happy writing!

*Damhuri Muhammad, lahir 1 Juli 1974. Alumnus Pascasarjana Filsafat Universitas Gadjah Mada ini bermukim di Jakarta. Ia menulis cerpen, esai seni, dan kritik buku di media-media nasional. Karya fiksinya: Laras (2005) Lidah Sembilu (2006), Juru Masak (2009). Cerpennya Ratap Gadis Suayan, Bigau, dan Orang-orang Larenjang terpilih dalam buku cerpen pilihan Kompas, pada tahun pemilihan yang berbeda-beda. Buku esainya; Darah-daging Sastra Indonesia (2010). Sehari-hari ia bekerja sebagai redaktur sastra di harian Media Indonesia, Jakarta. Preview karya-karyanya dapat dibaca di: www.damhurimuhammad.blogspot.com. Ia dapat dihubungi via akun twitter: @damhurimuhammad

Continue Reading
Advertisement

Writing Tips

Mendekati (dan Menikmati) Puisi Sebagai Teks

mm

Published

on

Puisi memang bisa didekati sebagai sebuah teks. Dalam puisi ada wujud fisik dan ruh. Ada bentuk dan isi. Ada cara ucap ada bahan yang hendak diucapkan. Dari buku yang sama, kita dapat penjelasan bahwa untuk dapat disebut sebagai teks maka sebuah teks harus memenuhi unsur-unsur tekstualitas. Apa itu?

Terbayang bukan bahwa puisi memang bisa didekati sebagai sebuah teks. Dalam puisi ada wujud fisik dan ruh. Ada bentuk dan isi. Ada cara ucap ada bahan yang hendak diucapkan.
Dari buku yang sama, kita dapat penjelasan bahwa untuk dapat disebut sebagai teks maka sebuah teks harus memenuhi unsur-unsur tekstualitas. Apa itu? Ada enam. |Oleh Hasan Aspahani
Penyair, penulis, jurnalis, dan aha kini juga vlogger.

WUJUD fisik puisi itu adalah teks. Menikmati dan mencintai puisi tak mesti harus memahami itu. Tapi, puisi bisa didekati lewat jalan itu, memasukinya sebagai sebagai sebuah medan teks.

Apakah teks? Dalam bahasa Inggris, kini teks juga berarti pesan lewat SMS. “Text me…” berarti kirimi saya SMS. Orang Inggris, karena memang dekat dengan sumber etimologi kata teks itu, menyebut SMS sebagai teks untuk membedakannya dengan pesan yang bisa disampaikan lewat lisan melalui gawai yang sama yaitu ponsel. “Call me…”, lawannya adalah “text me…”.

Konsep teks, text, textum (dari sini juga turun kata tekstil yang tersusun dari jaringan benang), jaringan, muncul menjadi perhatian manusia dalam konteks memahami bahasa. Benang jaringan teks bahasa itu adalah kata-kata.

Lalu pengertian teks itu meluas, menjadi apa saja yang bisa dibaca dan “dibaca”, rambu lalu lintas, iklan, bentuk bangunan, gambar, lukisan, hamparan alam, gaya berpakaian, gerak tubuh, batuknya Pak Harto, kerdip mata Sukarno, diamnya Bung Hatta, senyumnya Dian Sastro, jambulnya Syahrini, dll.

Apa yang menyamakan semua itu? Ada segugus tanda dan simbol, yang daripadanya bisa ditangkap suatu pesan. Itu!

Teks bahasa dimaknai lewat semantik, bagian dari linguistik, yang juga merupakan cabang dari semiotik, satu ilmu yang dikembangkan untuk “membaca” atau memaknai teks, termasuk yang bukan teks bahasa (tulis).

Kita berenang dalam lautan teks. Kita dikepung teks. Baliho, status FB, pesan WA, berita, tweet, email, blog, komentar, dan lain-lain. Tak pernah kita terlelap dalam samudera teks sedahsyat hari-hari ini. Duhai manusia, duhai homo signans, seberapa kuat kita mampu memaknai semua paparan teks semenderu ini? Apakah sebanyak itu teks harus hadir di ruang publik dan ruang privat kita manusia modern ini?

Ah, daripada mumet, mari kita nikmati teks puisi saja. Ya, puisi adalah teks. Yang bisa dinikmati. Nah, biar terasa sedikit ilmiah, saya ingin mengutip apa definisi teks. Benny H. Hood (Semiotik & Dinamika Sosial Budaya) memakai definisi ini: teks adalah satu satuan kebahasaan (verbal) yang mempunyai wujud dan isi, atau segi ekspresi dan segi isi.

Terbayang bukan bahwa puisi memang bisa didekati sebagai sebuah teks. Dalam puisi ada wujud fisik dan ruh. Ada bentuk dan isi. Ada cara ucap ada bahan yang hendak diucapkan.

Dari buku yang sama, kita dapat penjelasan bahwa untuk dapat disebut sebagai teks maka sebuah teks harus memenuhi unsur-unsur tekstualitas. Apa itu? Ada enam. Inilah dia:

1. Kohesi. Unsur-unsur pembentuknya mempunyai kaitan semantis, atau unsur pembangun makna. Penyair menjaga benar unsur ini, ketika ia menulis puisi. Antara lain dengan memilih diksi, membangun metafora, rima, ritme, pokoknya perangkat puitika itulah.

2. Koherensi. Segi isinya, sekali lagi isinya, dapat diterima karena memenuhi logika tekstual. Bukan hanya diterima. Tapi juga diterima dengan nikmat. Teks puisi harus menjanjikan kenikmatan tekstual. Dia harus istimewa dibanding teks bahasa biasa yang bukan puisi.

3. Intensionalitas. Ada intensi, ada tujuan. Ada udang-di-balik-batu-nya. Teks diproduksi dengan tujuan atau maksud tertentu. Puisi juga pasti mengandung itu. Penyair menulis puisi karena itu. Kalau tidak, dia tak akan menulis puisi. Meskipun tak selalu pembaca tahu dan tak perlu juga tahu apa tujuannya menulis puisi itu.

4. Keberterimaan. Teks berterima bagi masyarakat pembaca. Jika tidak, puisi sebagai teks, akan menjadi medan yang gelap, yang tertolak, yang tak diterima pembaca.

5. Intertekstualitas. Ada kaitan semantis dengan teks-teks yang lain. Nah, ini penting sekali dalam puisi. Goenawan Mohamad menyebutnya pasemon. Persemuan. Ada sesuatu yang dihadirkan, atau disusupkan ke dalam teks puisi, yang diam-diam membawa segugus teks dan makna lain. Ketika Chairil Anwar menulis “Ahasveros” dalam sajaknya, maka mitologi yang melibatkan nama itu, menjadi bagian dari makna puisi Chairil. Itu intertektualitas.

6. Informativitas. Ya, teks juga harus mengandung informasi dan pesan tertentu. Di dalam puisi, informasi itu tak terlalu penting lagi, tapi pesannya penting, dan bisa berganda-ganda, membangun atau terbangun dari ambiguitas dari unsur pembentuk teks puisi itu.

Nah, apakah penjelasan ini bikin puisi tampak menjadi semakin ribet? Maafkan, kalau begitu, dan lupakan saja. Kalau mau masih ada penjelasan yang lebih rumit. Puisi kok dilawan. Dekati dan terima puisi sebagai puisi saja. Kalau memang itu lebih nikmat untuk dilakukan.

Jakarta, 20 Februari 2020.

Continue Reading

Writing Tips

Zadie Smith: 10 Saran untuk Penulis

mm

Published

on

Zadie Smith (lahir Oktober 1975) adalah seorang penulis cerita pendek, penyair, penulis esai dan novelis Inggris yang tumbuh di Willesden Green, sebuah daerah kelas pekerja di barat laut London. Pada 2013, ia telah menerbitkan lima novel, yang paling terakhir adalah kisah multifaset dari London, NW (2012), Fail Better (2006), On Beauty (2005), The Autograph Man (2002) dan novel debutnya White Teeth (2000) ), yang semuanya telah menerima pujian kritis nan substansial.

White Teeth adalah kisah yang brilian, ditulis dengan jelas, sangat lucu, ceroboh tentang dua keluarga multi-budaya yang eksentrik di London Barat Laut. Ini menyajikan karakter dari berbagai (dan kadang-kadang campuran) kelas, ras dan kelompok etnis semua berpikir tentang diri mereka sendiri bahwa mereka memiliki kebenaran dalam tahanan. Smith mengatakan dia melihat kesamaan dalam beberapa perilaku karakternya dibandingkan dengan karakternya, mengingat bahwa dia dilahirkan dalam keluarga antar-ras (ayahnya adalah orang Inggris dan ibunya adalah seorang imigran Jamaika).

Meskipun White Teeth jelas tentang multikulturalisme di Inggris, novel ini memenuhi harapan besar dan tidak hanya pembaca Inggris, tetapi juga pembaca Amerika. Smith hampir secara instan dinobatkan sebagai juara fiksi kontemporer dan masa depan sastra ketika dia merilis buku itu. Beberapa kritikus mengatakan dia telah menulis novel yang bahkan tidak dapat dilakukan oleh penulis berbakat pada usia 80 apalagi pada usia muda 22 tahun dan masih seorang mahasiswa di Cambridge.

Tidak pernah diberi tahu apa yang harus dipikirkan atau dilakukan, Smith terus bekerja pada perkembangannya tanpa terpengaruh oleh statusnya yang semakin meningkat di dunia sastra. Dalam beberapa tahun terakhir, ia telah menjadi kritikus intelektual dan budaya publik yang cerdik, menerbitkan esai tentang beragam topik seperti keadaan novel realis, pantasnya fiksi David Foster Wallace, nasib Willesden Green Library Center dan masalah dengan Facebook.

Dalam sebuah wawancara di episode Desert Island Disc BBC, Smith tanpa berbasa-basi mengutuk obsesi media ‘konyol’ dengan penampilannya dan saran tersirat serta ‘seram’ bahwa seorang wanita cantik tidak dapat mencapai kebesaran sastra. Dia mengutip Sylvia Plath sebagai contoh seorang penulis wanita cantik yang telah berhasil dalam pekerjaannya sebelum membahas apa yang dia anggap sikap seksis ‘jahat’:

  1. Ketika masih anak-anak, pastikan Anda membaca banyak buku. Luangkan lebih banyak waktu untuk melakukan ini daripada yang lainnya.
  2. Ketika seorang dewasa, cobalah membaca karya Anda sendiri seperti orang asing akan membacanya, atau bahkan lebih baik, seperti yang dilakukan musuh.
  3. Jangan meromantiskan “panggilan” Anda. Anda bisa menulis kalimat yang baik atau tidak. Tidak ada “gaya hidup penulis”. Yang penting adalah apa yang Anda tinggalkan di halaman.
  4. Hindari kelemahan Anda. Tetapi lakukan ini tanpa mengatakan pada diri sendiri bahwa hal-hal yang tidak dapat Anda lakukan tidak layak dilakukan. Jangan menutupi keraguan diri dengan penghinaan.
  5. Berikan waktu yang cukup untuk menulis dan mengeditnya.
  6. Hindari klik-klik, geng, kelompok. Kehadiran orang banyak tidak akan membuat tulisan Anda lebih baik dari itu.
  7. Bekerja pada komputer yang terputus dari internet.
  8. Lindungi waktu dan ruang di mana Anda menulis. Jauhkan semua orang darinya, bahkan orang-orang yang paling penting bagi Anda.
  9. Jangan mengacaukan penghargaan dengan prestasi.
  10. Katakan kebenaran melmeskipun pembatasan ada di mana-mana- tetap katakan itu. Mengundurkan diri dari kesedihan seumur hidup yang datang karena tidak pernah puas.

*) Dari “Zadie Smith’s White Teeth: 10 Golden Rules for Writers” | (p) Virdika R Utama (e) Sabiq Carebesth

Continue Reading

Tabloids

Ini yang Dituntut Para Editor Atas Cerpen Anda

mm

Published

on

Kriteria fiksi macam apa yang dianggap ‘menjual’? juga bagaimana cara penulis bersaing dengan satu sama lain demi menarik perhatian pembaca? Para editor fiksi dunia—Anthony Varallo, Editor Fiksi, CRAZYHORSE, Susan Burmeister-Brown, Co-Editor, GLIMMER TRAIN STORIES, Susan Mase, Editor Fiksi, NIMROD—membocorkan sedikit tips tentang cerita pendek macam apa yang menurut mereka pantas untuk diterbitkan. Selengkapnya:

  • Pentingnya Gramatikal dan Ejaan

“Pertama-tama, cek ejaan, tanda baca dan penggunaan kalimat dalam tulisanmu…dan kalau kau ingin menulis fiksi, kau juga harus banyak membaca fiksi. Kalau berniat menjadi penulis cerita pendek, maka kau harus membaca cerita pendek sebanyak mungkin. Setelah itu, baca hasil tulisanmu keras-keras. Kalau ada kalimat yang terdengar ‘aneh’—segera cabut dari tulisanmu. Dan jangan pernah mengirim draft pertama tulisanmu kepada editor, karena itu adalah tulisan yang belum selesai. Kenapa kau harus melakukan semua ini? Karena semua poin-poin yang saya sebutkan menyimpulkan bahwa menulis adalah sebuah pekerjaan. Kalau kau ingin ceritamu dibaca banyak orang, maka kau harus bekerja keras. Semua cerita yang ingin kau kirimkan ke editor majalah atau buku harus terbaca rapi, bersih, padat dan jelas. Setiap kalimat yang ada dalam ceritamu harus menunjukkan bahwa kau telah bekerja keras menghasilkan tulisan tersebut. Sebuah karya bisa dikatakan bagus, tapi bagus saja tidak cukup. Untuk meraih pembaca seluas mungkin, diperlukan karya yang luar biasa. Kami menerima banyak sekali kiriman cerita pendek yang bagus, tapi kami hanya menerbitkan cerita-cerita yang menurut kami luar biasa. Cerita-cerita yang tidak terlupakan, yang menyentuh kami, yang sangat kami sukai. Standar ‘cerita bagus’ terlalu rendah untuk kami. Cerita yang luar biasa akan selalu teringat di kepala pembacanya.” ~ Anthony Varallo, Editor Fiksi, CRAZYHORSE

 

  • Baca Artikel serupa dalam buku “Memikirkan Kata” akan terbit Agustus, 2019. Info pemesanan klik gambar.

    Detail yang menguatkan Karakter

“Pembaca sangat peduli terhadap karakter dan bahkan setelah cerita selesai, mereka tetap memikirkan karakter yang mereka temui di dalam cerita tersebut. Cerita harus memiliki detail yang bisa dibayangkan jelas oleh pembaca, serta menjadi pegangan si pembaca. Dan bila ada dialog dalam cerita itu, maka dialog tersebut harus terdengar nyata, dan tidak dibuat-buat atau berlebihan. Selain itu, cerita yang kami cari harus bisa menawarkan pandangan hidup yang segar dan mendalam. Sesuatu yang punya arti serta nilai resonansi terhadap pembaca. Dan, di akhir cerita, pembaca merasa puas. Bukan berarti cerita itu harus berakhir bahagia, tapi ada perasaan bahwa sebagian dari perjalanan si karakter telah tiba di penghujung jalan.” ~ Susan Burmeister-Brown, Co-Editor, GLIMMER TRAIN STORIES

  • Mengejutkan Sejak Pembukaan

“Cerita yang kami inginkan adalah cerita yang bisa mengangkat dirinya di atas cerita-cerita lain—yang menarik perhatian kami dengan cepat, bahkan di kalimat pertama, serta membuat kami terbuai setelah membaca satu, dua paragraf. Cerita yang kami inginkan akan membuat kami terpaku pada setiap kata dan kalimat hingga cerita itu selesai, dan seluruh indera kami terpicu karena begitu senang menemukan cerita yang luar biasa. Cerita seperti ini adalah cerita yang bisa kami cerna, dan juga membuat kami terpukau dan terhubung pada manusia lain. Kami mencari cerita yang bisa menarik perhatian kami lewat ritme, penggunaan kalimat serta kepribadian karakter di dalamnya. Semua karakter harus terasa hidup. Selain itu, detail yang kuat akan membuat suara si penulis dan para karakternya lebih terdengar, hingga membawa pembaca ke bawah permukaan interior atau eksterior cerita. Namun, semua elemen ini juga tidak boleh bertabrakan dengan alur narasi cerita.” Susan Mase, Editor Fiksi, NIMROD.

___

Baca Artikel serupa tentang Tips dan Saran menulis lainnya dalam buku “Memikirkan Kata” akan terbit Agustus, 2019. Info pemesanan Whatsapp 082 111 450 777. Info detail buku klik Order Buku Memikirkan Kata 

 

 

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending