Connect with us

Tips Menulis

Bagaimana Menulis Resensi Buku? Belajar Pada Damhuri Muhammad

mm

Published

on

Resensi atau timbangan buku–belakangan disebut juga kritik buku, dapat dikatakan sebagai tulisan popular berisi ulasan kritis dan komprehensif terhadap pokok-pokok pikiran dari sebuah buku baru, baik fiksi maupun non-fiksi. Corak penulisannya ringan, lugas, ringkas, sesuai dengan ketersediaan ruang pemuatan di media massa–koran, majalah, dan tablod. Panjang resensi biasanya berkisar antara 6.000 hingga 7.000 karakter (with space). Resensi dilengkapi dengan gambar sampul depan buku, dan data buku yang menjelaskan; nama penulis, penerjemah, editor, ketebalan, bulan dan tahun terbit, serta harga jual buku.

Ukuran kebaruan sebuah buku yang layak diresensi dan layak pula dimuat oleh media, biasanya berkisar antara 1 sampai 6 bulan setelah terbit. Meskipun belakangan ada juga media yang menerima resensi terhadap buku-buku lama, terutama yang mengalami cetak-ulang.

Para penulis resensi buku di media-media luar negeri, katakanlah yang biasa muncul di www.newyorker.com, www.theguardian.com, atau www.amazon.com, biasanya berasal dari kalangan akademisi atau editor profesional. Namun, tidak demikian halnya dengan kelaziman penulisan resensi buku di Indonesia. Para peresensi yang biasa tampil di media-media nasional banyak yang bermula dari komunitas-komunitas pembaca buku, dan hanya sesekali ditemukan peresensi buku dari kalangan akademisi. Namun karena keterampilan menulis yang handal, hingga kini media tetap mempercayai dan menampilkan karya-karya mereka. Sebutlah misalnya nama-nama seperti Anwar Holid, Hikmat Darmawan, Nur Mursidi, Hernadi Tanzil, Muhidin M Dahlan, Adi Thoha, dan lain-lain.

Oleh karena sifatnya kajian, resensi lazim menggunakan sudut pandang keilmuan sosial tertentu, seperti sosiologi, antropologi, arkeologi, sejarah, atau psikologi. Bila jenis buku yang ditimbang adalah buku fiksi, perspektif yang biasa digunakan penulis adalah kritik sastra, linguistik, filsafat seni (estetika), fenomenologi, semiotika, hermeneutika, dan lain-lain.

Namun, resensi berbeda dengan esai kajian yang tersiar di jurnal-jurnal akademik. Resensi menghindari penggunanaan istilah-istilah teoritis yang rigid. Penulis resensi biasanya berupaya menyederhanakan pemahaman teoritis tersebut dengan kalimat-kalimat praktis yang dapat dicerna oleh sebanyak-banyaknya pembaca. Mengingat koran, majalah, atau tabloid yang menyediakan rubrik buku, adalah media publik dengan pembaca umum dari berbagai kalangan.

Tujuan utama dari sebuah resensi buku adalah menunjukkan keunikan, kekuatan, kelebihan atau bahkan keistimewaan dari sebuah buku. Cara mengukurnya sederhana. Bila setelah membaca sebuah resensi, pembaca langsung tergerak untuk mencari buku tersebut di toko buku, atau memesannya secara online, maka resensi dapat dikatakan telah berhasil. Dengan begitu, unsur marketing tak dapat dihindarkan dari sebuah resensi. Penerbit akan menyukai peresensi yang mahir meresapkan strategi promosi dalam tulisannya. Meski begitu, media tidak bisa menerima begitu saja resensi yang terlalu berbau iklan. Media tetap mempertimbangkan ulasan kritis yang berkedalaman terhadap kandungan buku. Dan, yang lebih penting lagi, media akan sangat menyukai resensi yang dikontekstualisasikan dengan persoalan-persoalan aktual, terutama hal-ihwal yang sedang menjadi perhatian media.

Tahap-tahap Latihan Menulis Resensi Buku

(khusus untuk buku fiksi)

1      

Mendeskripsikan Pengalaman Baca

Setiap peserta melaporkan pengalaman baca terhadap buku-buku fiksi, baik fiksi serius maupun fiksi popular. Masing-masing peserta setidaknya dapat melaporkan pengalaman baca sekitar 1-2 buku¾bila lebih akan lebih baik. Variabel yang dapat dilaporkan, antara lain:

  1. Apa tema utama buku yang sudah tuntas Anda baca?
  2. Apa masalah utama yang Anda temukan dalam buku tersebut?
  3. Sebutkan nama-nama tokoh rekaan pengarang yang menurut Anda penting dari buku tersebut! Rinci perannya satu per satu!
  4. Deskripsikan perwatakan yang telah Anda dalami dari masing-masing tokoh rekaan tersebut!
  5. Menurut Anda, apakah kisah yang tersuguh dalam buku tersebut menarik dan patut diperbincangkan?
  6. Bila menurut Anda kisahnya tidak menarik, seperti apa semestinya kisah tersebut dirancang dan diakhiri?
  7. Menurut Anda, apakah kisah tersebut penting bagi khalayak pembaca di Indonesia?

Laporan bacaan ditulis dalam bahasa yang lugas. Instruktur akan memberikan waktu 15 menit. Setelah itu, masing-masing peserta akan mempresentasikannya secara lisan.

  1.       

Cara Menemukan Gagasan Utama

Bila agama melihat benar-salah secara hitam-putih, begitu juga dengan etika, yang selalu memposisikan “yang buruk” di bawah derajat “yang baik,” sastra agak berbeda dalam melihat persoalan ini. Tokoh rekaan bernama Aziz–dalam roman Tenggelamnya Kapal Van der Wijk, mahakarya Buya Hamka–adalah sosok lelaki jahat, karena dengan cara sewenang-wenang ia merampas Hayati dari tangan Zaenuddin–laki-laki miskin yang amat dicintainya. Setelah Hayati dipersuntingnya, dalam waktu yang tidak terlalu lama, perempuan itu memang hidup dalam keberlimpahan dan kemewahan menurut ukuran kurun itu, tapi kemudian Aziz menzalimi istrinya. Bukan hanya dengan kata-kata kasar, tapi juga dengan kekerasan fisik, hingga akhirnya Hayati tidak merasa berbahagia. Namun, bukan berarti Aziz bejat seutuhnya. Meski suka berfoya-foya, berjudi dan main perempuan, bukankah ia tidak pernah melalaikan tanggung jawab sebagai suami? Bahkan pada saat posisinya terjepit–jatuh miskin dan terlilit utang¾ khususnya ketika ia bertugas sebagai pegawai Belanda di Surabaya, ia mati-matian berupaya menyelamatkan kehidupan keluarganya, menyelamatkan Hayati istrinya dari ancaman kemiskinan. Aziz rela mengemis bantuan pada Zaenuddin, mantan kekasih Hayati yang sedang bertabur bintang masa itu. Bahkan Aziz berani menumpang tinggal di rumah laki-laki yang telah ia buat menderita seumur-umur. Inilah yang disebut dengan wilayah abu-abu dalam ranah sastra. Para ahli menyebutnya “wilayah ambigu”. Dalam yang jahat masih ada yang luhur. Dalam kelam masih ada secercah cahaya. Dalam keriuhan ternyata ada kesendirian. Begitu seterusnya. Dan, persoalan ini dapat menjadi gagasan utama dalam resensi Anda. Uraian ini sekadar contoh tentang cara menemukan ide yang akan menjadi penyangga dalam resensi Anda.

  1. Dari 1-2 buku fiksi yang telah Anda laporkan, dapatkah Anda menemukan sebuah ide yang bakal menjadi perhatian utama dalam resensi Anda?
  2. Masing-masing peserta dapat mengajukan ide atau gagasan utama secara lisan, lalu instruktur akan mengajukan sejumlah pertanyaan kritis guna menstimulasi berkembangnya layar kreatif Anda dalam menulis resensi.
  3. Dapatkah Anda membandingkan gagasan utama tersebut dengan gagasan serupa yang pernah Anda temukan pada buku fiksi yang lain? Apa keistimewaan buku yang sedang Anda resensi, dan apa kelemahannya bila dibandingkan dengan buku-buku lain yang pernah mengusung persoalan serupa di masa lalu?
  4. Setelah merasa yakin dengan pilihan ide masing-masing, instruktur akan mempersilahkan peserta untuk mulai menulis. Waktunya sekitar 20 menit. Tidak perlu langsung jadi. Cukup 1 halaman saja. Cukup menjadi sebuah resensi mentah saja…

Evaluasi

Masing-masing resensi mentah yang sudah dikumpulkan oleh peserta akan dievaluasi, dan yang dianggap kuat oleh instruktur, akan dibahas satu per satu. Pembahasan akan melibatkan semua peserta. Instruktur akan membacakannya di hadapan peserta, hingga semua peserta dapat mengajukan pertanyaan, menanggapi, menambahkan, atau bisa juga menyangkalnya dengan argumentasi-argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena waktu yang mungkin terbatas, instruktur akan memilih 3 esai mentah terbaik. Berikut sejumlah kriteria yang dapat menjadi pokok perhatian dalam sesi pembahasan:

  1. Pilihan tema
  2. Pilihan judul
  3. Penguasaan terhadap materi bacaan
  4. Keluasan wawasan
  5. Keterampilan berbahasa
  6. Ketajaman analisa

Finishing  

Gagasan-gagasan pendukung yang diperoleh dari tahap evaluasi, dapat langsung ditulis untuk menyempurnakan resensi mentah menjadi resensi yang utuh. Resensi yang tidak terpilih untuk diperbincangkan secara bersama-sama tetap dilanjutkan dengan cara yang merujuk pada ide-ide kreatif, sebagaimana yang diperoleh dari tahap evaluasi. Waktu yang tersisa digunakan untuk finishing esai. Masing-masing resensi dikumpulkan, untuk dinilai oleh instruktur, dan diserahkan kepada panitia penyelenggara.

Publikasi

Resensi yang dinilai kuat gagasannya, relevan dengan persoalan-persoalan kekinian, tajam analisanya, dan menarik cara penyajiannya, akan mendapatkan ruang pemuatan di media cetak, khususnya koran atau majalah yang menyediakan rubrik buku. Perlu dicatat, resensi Anda akan beroleh imbalan yang setimpal. Harian Kompas, memberikan honor esai sastra antara 750 rb s/d Rp. 1 juta. Harian Jawa Pos, sekitar Rp.750 ribu. Bila Anda merasa tertantang untuk menjadi peresensi profesional¾dan itu pasti tidak akan menyita waktu Anda dalam kesibukan lain¾ikutilah tips ringan di bawah ini:

  1. Pilihlah tema yang unik dan menarik bagi pembaca umum¾dari semua kalangan. Misalnya “Korupsi dalam Teks Fiksi.” Konsekuensi dari pilihan tema ini adalah mengumpulkan sejumlah karya fiksi, apapun bentuk dan genrenya, yang gagasan utamanya bertolak dari kompleksitas persoalan korupsi. Lalu, kajiannya dikontekstualisasikan, atau dihubungkaitkan dengan persoalan-persoalan kekinian, hingga menjadi sebuah ulasan yang up to date dan menarik untuk diperbincangkan.
  2. Sesuaikan panjang tulisan dengan ruang yang tersedia di koran. Resensi yang terlalu panjang, meskipun menarik, tidak akan dimuat.
  3. Kenali media yang akan Anda kirimi resensi. Setiap media selalu memiliki kepentingan. Tema “Tuhan dalam Karya Sastra” bisa saja sulit mendapatkan akses di media yang terbilang alergi dengan isu-isu agama. Namun, bila penggarapannya dilakukan dengan pertimbangan dan kehati-hatian, sensitifitas yang biasa dihindari media dapat tertutupi. Maka, setiap istilah yang digunakan mesti dijaga dan diperiksa secara cermat, hingga tidak berbenturan dengan kepentingan media tertentu, apalagi dengan kepentingan pembaca pada umumnya.
  4. Upayakan resensi bersifat informatif bagi pembaca, terutama info-info terkini perihal buku yang sedang menjadi perhatian. Lakukan perbandingan dengan buku-buku yang terbit sebelumnya, begitu pula dengan kajian yang pernah ada sebelumnya. Bila perlu tambahkan dengan kajian-kajian terhadap tema serupa yang pernah dilakukan oleh esais atau peneliti sastra di luar negeri. Dengan begitu, resensi akan menjadi kaya, dalam pengetahuan, luas daya jangkaunya.
  5. Provokasilah pembaca dengan keterampilan berbahasa, hingga pembaca akan tergesa mencari buku yang Anda resensi ke toko buku atau memesannya secara online. Buatlah pembaca tidak akan pernah tenang sebelum memiliki bukunya.
  6. Mungkin Anda perlu sedikit berdoa…

Happy writing!

*Damhuri Muhammad, lahir 1 Juli 1974. Alumnus Pascasarjana Filsafat Universitas Gadjah Mada ini bermukim di Jakarta. Ia menulis cerpen, esai seni, dan kritik buku di media-media nasional. Karya fiksinya: Laras (2005) Lidah Sembilu (2006), Juru Masak (2009). Cerpennya Ratap Gadis Suayan, Bigau, dan Orang-orang Larenjang terpilih dalam buku cerpen pilihan Kompas, pada tahun pemilihan yang berbeda-beda. Buku esainya; Darah-daging Sastra Indonesia (2010). Sehari-hari ia bekerja sebagai redaktur sastra di harian Media Indonesia, Jakarta. Preview karya-karyanya dapat dibaca di: www.damhurimuhammad.blogspot.com. Ia dapat dihubungi via akun twitter: @damhurimuhammad

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Editor's Choice

Tentang Inspirasi, dari Gabriel Marquez hingga Tennessee Williams

mm

Published

on

Kutukan terbesar bagi seorang penulis bisa jadi adalah ketika ia tak memiliki inspirasi, ia tak punya rencana apa yang akan dikerjakannya esok pagi setelah pada hari sebelumnya ia tidur sangat larut. Tapi apakah inspirasi itu? Bagaiamana penulis menemukan dan memegangi inspirasinya? Bagaimana ia bekerja untuk proses kreatif penulisan? Dari mana-mana kata-kata itu datang dan sajak-sajak itu terbentuk? Bagaimana cerita itu menemukan alurnya dan titik mulanya?

Berikut adalah beberapa inspirasi tentang inspirasi dari para maestro yang bisa dipastikan akan menginspirasimua, tentu saja itu harus ditautkan dengan kerja kerasmu selama ini dan membaca inspirasi ini dengan perlahan dan mendalam. Mari kita simak..

“Salah satu hal tersulit adalah paragraf pertama. Aku menghabiskan berbulan-bulan pada paragraf pertama dan saat aku mendapatkannya, paragraf selanjutnya muncul begitu saja dengan sangat mudah. Pada paragraf pertama kau mengatasi semua masalah dengan bukumu. Temanya ditentukan, gaya penulisannya, nadanya. Setidaknya dalam kasusku, paragraf pertama seperti sebuah sampel bagaimana keseluruhan buku itu nantinya. Itulah mengapa menulis buku kumpulan cerpen jauh lebih sulit daripada menulis sebuah novel. Setiap kali kau menulis cerpen. Kau harus memulai dari awal lagi”.

-Gabriel Garcia Marquez

“Terdapat dua teori tentang inspirasi. Salah satunya bahwa puisi dapat benar-benar didiktekan padamu, seperti yang terjadi pada William Blake. Kau berada dalam suasana halusinasi, dan kau mendengar sebuah suara atau bahkan kau sedang berkomunikasi dengan sesuatu di luar dirimu, seperti sajak baru milik James Merril, yang dia katakan didiktekan melalui papan Ouija oleh Auden dan orang-orang lain.

Gagasan lainnya adalah milik Paul Valery, apa yang dia sebut une ligne donnee, bahwa kau diberikan satu baris dan kau mencoba mengikuti petunjuk ini, menghasilkan keseluruhan sajak dari baris itu. Pengalamanku sendiri adalah bahwa sebuah ritme atau sesuatu muncul di kepalaku yang kurasakan harus kulakukan, aku harus menuliskannya, menciptakannya.

Contohnya, aku ingat sedang melihat ke luar jendela di atas kereta dan menyaksikan sebuah pemandangan industrial, pabrik-pabrik, tumpukan ampas bijih, dan baris itu muncul di kepalaku: “Sebuah bahasa tentang daging dan mawar-mawar.” Latar belakang pemikiran ini adalah bahwa pemandangan industrial itu merupakan sebuah bahasa, yang orang ciptakan dari alam, perbedaan mencolok dari alam dan industrial, ”A language of flesh and roses.” Persoalan dengan sajaknya adalah bagaimana mempertemukan koneksi ini, mencoba mengingat kembali apa yang sebenarnya kau pikirkan pada saat itu, dan mencoba untuk menciptakan ulang hal itu. Jika aku memikirkan sebuah sajak, aku mungkin saja menghabiskan enam bulan menulis, tapi apa yang benar-benar kucoba lakukan adalah mengingat apa yang kupikirkan pada saat itu.”

-Stephen Spender

“Sesuatu yang kubaca atau kulihat menetap di kepalaku selama lima atau enam tahun. Aku selalu mengingat tanggal, tempat, ruangan, jalan, ketika pertama kali aku menemukannya. Misalnya. World Enough and Time, aku dan Katherine Anne Porter kami berdua di Library of Congress sebagai Fellows. Kami berada di bangku gereja yang sama, memiliki kantor yang bersebelahan. Dia datang masuk suatu hari dengan sebuah pamflet, pengadilan bagi Beauchamp untuk pembunuhan terhadap kolonel Sharp. Dia mengatakan “Ya, Red, kau sebaiknya membaca ini.” Begitulah. Aku membacanya selama lima menit. Tetapi aku menghabiskan enam tahun membuat bukunya. Buku apa pun yang kutulis dimulai dengan sekelebat namun menghabiskan banyak waktu untuk mewujud. Semua versi pertamamu ada di kepalamu jadi pada saat akhirnya kau duduk untuk menulis kau memiliki sejumlah baris yang dikembangkan di kepalamu.”

-Robert Penn Warren

“Proses dimana ide untuk pertunjukkan datang padaku selalu merupakan sesuatu yang tak dapat kugambarkan dengan tepat. Sebuah pertunjukkan terlihat mewujud begitu saja, seperti sesuatu yang aneh dan muncul tiba-tiba hal itu menjadi semakin jelas dan semakin jelas dan semakin jelas. Idenya sangat samar pada awalnya, seperti pada kasus Streetcar, yang muncul setelah Menagerie. Aku tahu-tahu saja mempunyai penglihatan tentang seorang perempuan di penghujung masa mudanya. Dia sedang duduk di atas sebuah kursi sendirian di samping sebuah jendela dengan cahaya bulan mengalir jatuh pada wajahnya yang muram, dan dia kemudian berdiri di samping seorang lelaki yang akan dinikahinya.

Aku yakin aku sedang memikirkan saudara perempuanku karena dia benar-benar jatuh cinta dengan seorang lelaki muda di International Shoe Company yang memacarinya. Lelaki itu sangatlah tampan, dan saudara perempuanku sedalam-dalamnya mencintai lelaki itu. Kapan pun telepon berdering, dia hampir pingsan. Dia akan berpikir lelaki itu yang menelpon untuk mengajaknya berkencan, kau mengerti? Mereka bertemu setiap malam, dan suatu hari dia tidak menelpon lagi. Itulah saat pertama Rose mulai mengalami sebuah kemerosotan mental. Dari penglihatan itu Streescar berevolusi. Aku menyebutnya, pada saat itu, Blanche’s Chair in the Moon, yang merupakan judul yang sangat jelek. Tapi dari gambaran itulah, kau paham, tentang seorang perempuan duduk di samping jendela, begitulah Streetcar datang padaku.”

-Tennessee Williams

Apakah Anda menemukan inspirasi untuk proses kreatifmu? Jika sama sekali tidak sebaiknya anda merubah rencana dan mencari pekerjaan lain selain menulis…

————————-

*Diolah dari berbagai sumber oleh Marlina Sopiana dan Sabiq Carebesth. Arikel lengkap tentang inspirasi bisa dibaca lengkap dalam edisi perdana Halaman Kebudayaan “Book, Review & Culture” yang akan terbit tahun ini.

Continue Reading

Editor's Choice

Tips Utama untuk Tulisan yang Lebih Baik

mm

Published

on

Ada banyak jenis tulisan yang berbeda-beda: esai, laporan, surat-surat, pidato, surel pekerjaan. Apapun alasanmu untuk membubuhkan kata-kata di atas halaman, dan apapun gaya penulisanmu, ada beberapa tips universal yang akan membantumu merangkai pesan dan memperbaiki tulisanmu:

1. Tegas akan tujuanmu

Pertanyaan paling mendasar untuk ditanyakan pada dirimu sendiri sebelum memulai adalah mengapa kamu menulis.

Dalam esai atau tugas akademik, tujuanmu adalah untuk menyampaikan informasi dan fakta-fakta dan menarik kesimpulan-kesimpulan. Tapi jika kamu menulis sebuah laporan bisnis, kamu mungkin akan membuat rekomendasi untuk langkah-langkah spesifik. Dalam sebuah surat pengaduan kamu akan mencari hasil tertentu, misalnya pengembalian dana.

Selalu simpan tujuanmu di dalam kepala untuk menghindari keluar dari topik. Bahkan lebih baik: tuliskan tujuanmu dalam beberapa kata sesingkat mungkin, cetak itu, dan letakkan kertas itu di sampingmu selagi kamu menulis.

2. Pilih gaya yang cocok

Dalam percakapan, kita secara alami mengadaptasikan apa yang kita katakan dan bagaimana mengatakannya agar pantas bagi orang yang kita ajak bicara. Kita berbicara pada manajer atau dosen kita dengan satu cara, kepada teman dengan cara lain, dan seterusnya. Untuk tulisan yang baik sangatlah penting melakukan hal yang sama: pilihlah sebuah gaya penulisan dan kata-kata sehingga orang yang ditujukan tulisanmu akan merasa nyaman dan bereaksi dengan baik pada tulisanmu. Tulisan akademik memiliki satu gaya, tulisan bisnis gaya yang lain, penulisan blog berbeda lagi.

3. Memulai dengan sebuah rencana

Terlalu sering orang menulis tanpa rencana. Hasilnya seringkali tulisan yang tidak berkesinambungan, dengan bagian-bagian yang tidak berkaitan, tidak masuk dengan cara yang jelas, dan tidak ada jalan keluar yang jelas. Tak peduli kamu menulis sebuah laporan dengan 10.000 kata atau sebuah surat pengaduan, menciptakan sebuah rencana yang jelas dan terstruktur adalah langkah pertama untuk membuat pesanmu tersampaikan dengan cepat dan dengan cara yang paling efektif. Peta pikiran, atau penyusunan informasi secara visual dengan diagram-diagram dapat menjadi alat yang berguna.

4. Menulis untuk pembaca, bukan dirimu sendiri

Tujuanmu dalam menulis adalah untuk mengomunikasikan ide-ide dan informasi kepada orang lain, dan kamu harus mengingatnya dengan setiap kata dan kalimat yang kamu tulis. Secara berulang tanyakan dirimu sendiri untuk siapa tiap-tiap informasi itu ditujukan.

Karena kamu memiliki pemahaman yang jelas tentang apa dan mengapa kamu menulis, sangatlah mudah untuk terbawa arus dan memasukkan informasi yang hanya penting bagimu-dan tidak bagi orang lain. Jika kamu menuliskannya kamu akan menyia-nyiakan waktumu dan waktu orang lain.

5. Tuntun pembaca ke dalam tulisanmu

Tugasmu adalah untuk membantu pembaca memahami pesanmu dengan cepat dan tepat sekali. Untuk melakukan ini, sangatlah perlu untuk memperlihatkan dengan jelas bagaimana bagian-bagian yang berbeda saling berkaitan satu sama lain.

Setiap kalimat, setiap paragraf harus relevan dengan apa yang ditulis sebelumnya dan apa yang dituliskan kemudian. Kamu harus menggunakan kata-kata dan frase-frase yang menghubungkan atau membedakan untuk memperlihatkan kaitannya, misalnya, sebagai hasilnya, dengan cara ini, berbeda dengan. Kepala tulisan yang informatif juga membantu pembaca mengikuti alur pikiranmu, jadi jangan takut untuk menggunakannya.

6. Gunakan kata kerja pasif dengan tepat

Dalam jenis tulisan tertentu, seperti konteks-konteks saintifik, kata kerja pasif secara tepat dan sering digunakan. Tetapi dalam tulisan yang lebih umum orang seringkali menggunakannya dengan tidak tepat, atau secara berlebihan.

Persoalannya adalah hal itu dapat membuat sebuah tulisan menjadi tidak personal saat seharusnya tulisan itu menjadi personal karena ia menggarisbawahi tindakannya bukan orang yang melakukannya. Tapi sangat sering siapa orang yang melakukan suatu tindakan merupakan bagian yang sangat penting dari pesannya. Penting untuk mengerti kapan kata pasif berguna dan kapan tidak.

—————————–

Diterjemahkan dari Top Tips for Better Writing. Oxforddictionaries.com

Continue Reading

Editor's Choice

Tips Utama untuk Menulis Online

mm

Published

on

Membaca di atas layar sangatlah berbeda dengan membaca kata-kata yang tercetak di buku-buku atau surat kabar. Orang tidak membaca secara berkesinambungan, dari atas ke bawah. Mereka melihat sekilas untuk mengetahui apa yang menarik baginya. Lalu mereka membaca cepat bagian yang secara khusus menarik perhatian mereka. Konsekuensinya, sangatlah penting untuk memastikan apa yang kamu tulis dapat dengan mudah dilihat sekilas dan tidak sulit dibaca cepat. Tapi, pertama-tama kamu membutuhkan orang untuk dapat menavigasikan apa yang telah kamu tulis.

Berikut beberapa tips untuk membuat karya online-mu efektif:

1. Pergunakan banyak waktu untuk membuat judul yang baik

Judul tulisanmu merupakan salah satu cara orang dapat menemukan karyamu. Judul juga harus membuat mereka ingin membacanya. Jadi sangatlah penting untuk memberikan banyak waktu untuk menjadikannya tepat. Hasilnya bukan hanya lebih banyak pembaca tetapi juga para pembaca yang sepenuhnya tertarik dengan apa yang kamu tulis.

2. Mulailah dengan sebuah rangkuman atau cuplikan

Orang-orang mungkin tidak akan membaca keseluruhan tulisanmu untuk melacak gagasan yang berharga atau saran yang menarik bagi mereka. Ingatlah bahwa mereka orang yang sibuk-sama sibuknya denganmu! Sampaikan segera dalam susunan kepala tulisanmu dan beritahu pembaca apa yang dapat mereka harapkan untuk ditemukan. Hal itu akan memberi mereka sebuah perasaan antisipasi.

3. Gunakan kepala tulisan untuk menuntun pembaca memahami pesanmu

Tidak semua orang akan membaca segala yang kamu tulis. Orang-orang memilah-milah dan membaca cepat. Tugasmu adalah mengarahkan mereka ke informasi yang paling relevan bagi diri mereka pribadi.

Kepala tulisan yang baik membantu mereka dalam sekali lihat dimana dan apa itu.

4. Buatlah tulisanmu mudah dicerna

Sebuah tulisan online yang padat penuh dengan teks sangat tidak menarik. Keuntungan dari menulis online adalah tulisanmu tidak hanya berupa teks. Kamu bisa menambahkan gambar-gambar dan video untuk mendukung atau mengembangkan pesanmu dan meningkatkan ketertarikan dan kegairahan visual.

Dan ingat juga bahwa orang-orang memiliki waktu yang terbatas dan daya fokus yang terbatas, jadi kamu perlu menjadi ringkas. Menjadi ringkas berarti kata-kata pendek, kalimat-kalimat pendek, paragraf-paragraf pendek.

5. Gunakan istilah sehari-hari

Tujuanmu adalah mengomunikasikan ide-ide secara jernih dan cepat; bukan untuk membuat orang terkesan dengan keahlian bahasa Inggrismu yang sangat baik. Katakan sesuatu itu unnecessary (tak perlu. pener) daripada superfluous (berlebih-lebihan atau tak berguna. pener). Sebut itu typical (khas. pener) bukan quintessential (intisari atau contoh murni. pener). Jika kamu memerlukan bantuan untuk menemukan sebuah kata yang sederhana, periksalah situs online thesaurus. Ingatlah, sebagian dari pembacamu mungkin tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pertama mereka.

6. Hindari menjadi terlalu teknis

Apa artinya itu? Artinya berhat-hati dengan kata yang kamu pilih, dan gunakan yang umum pada keseharian. Dan itu berarti menghindari jargon yang digunakan oleh para profesional di bidangmu yang mana orang lain tak selalu mengerti. Ini salah satu contoh: SEO (search engine optimization). Kamu mungkin memahami artinya dengan tepat dan mengapa hal itu penting, tapi apakah pembacamu mengerti?

7. Pergunakan waktu untuk menjadikannya baik

Jangan mempublikasikannya segera. Penulis-penulis kreatif memeriksa ulang dan merevisi apa yang mereka tulis. Jadi kamu pun harus begitu. Simpan rancangan tulisanmu, lalu periksa itu lagi nanti, sebaiknya saat pikiranmu sedang sangat segar. (Banyak orang merasa terbantu dengan mencetak rancangan tulisannya dan mengeditnya di kertas.)

Ketika kamu memeriksa rancangan tulisanmu, tidak hanya menemukan kesalahan ejaan dan tatabahasa yang kamu biarkan pada waktu pertama. Kamu juga akan tahu bagaimana cara mengekspresikan pemikiranmu dengan lebih jernih.

8. Tambahkan tautan untuk memperdalam tulisanmu

Tautan yang cocok akan membantumu menyampaikan pesanmu dan membantu pembaca mengerti hal itu sepenuhnya. Tautan memiliki beberapa fungsi. Kamu bisa menggunakannya untuk mengarahkan orang pada sumber-sumber tambahan mengenai topikmu. Mereka dapat bertautan dengan bukti atau contoh-contoh yang mendukung apa yang kamu katakan. Atau dapat memberitahukan pembaca dimana tempat menemukan cara pandang yang berlawanan.

Kamu bahkan dapat menggunakannya untuk mengarahkan pembaca pada sebuah definisi yang jelas atas sebuah term atau frase yang kamu gunakan, untuk membuat mereka mengerti apa yang kamu maksud dengan tepat.

———————

Diterjemahkan Marlina Sopiana dari Top Tips for Online Writing. Oxforddictionaries.com

Continue Reading

Classic Prose

Trending