Connect with us

Budaya

Bung Hatta: Pribadinya dalam Kenanganku

mm

Published

on

Oleh: Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono *)

Saya berkesempatan pula melihat perpustakaan Prof. Mohammad Yamin S.H. yang telah berpindah… Apa yang saya lihat sungguh menyedihkan. Perpustakaan itu tidak sebagaimana yang seharusnya, buku-buku tidak teratur menurut katalog, bahkan pada satu sisi yang panjang, terjemur oleh sinar matahari yang menembus langsung dari jendela yang tak bertirai. Perpustakaan ini jelas tidak terawat, bahkan tak ada tenaga khusus yang ditugaskan mengurusnya sepenuhnya.

Pada saat itu langsung terlintas di pikiran saya, betapa akan sangat menyedihkan apabila perpustakaan ayah menemui nasib yang sama. Sejak itu saya bertekad, bagaimana pun juga, anak-anak Hatta harus merawat sendiri buku-buku ayah, milik pribadi beliau yang bagi ayah sendiri tak ada taranya.                  

Buku Cerita

Ayah mencintai buku, dan beliau berusahan pula menanamkan rasa cinta buku kepada kami bertiga. Oleh karena itu, sejak kecil saya diberi bacaan yang bermutu, dimulai dengan buku cerita kanak-kanak. Pada usia 8 tahun, saya sudah mempunyai koleksi buku cerita yang jumlahnya mencapai 3 deretan rak buku, sebagian besar merupakan buku-buku cerita yang paling bermutu di masa kecil saya. Ayah juga menyesuaikan pilihan atas buku menurut tingkatan usia saya, sehingga perkembangan bacaan saya teratur baik.

Setelah timbul kegemaran mengumpulkan buku-buku ceria, dengan sendirinya saya terbiasa untuk menyimpan buku-buku pelajaran dari kelas yang sebelumnya, bahkan sampai sekarang pun, buku-buku pelajaran saya sejak dari SD masih merupakan bagian dari koleksi buku saya, yang tentunya berguna bagi anak saya kelak.

Biasanya adik meniru kakak. Maka kegemaran mengumpulkan buku yang ditanamkan ayah kepada saya diwarisi pula oleh adik-adik saya.

Sayang sekali bahwa saya kemudian tidak cermat mengawasi peminjaman buku-buku oleh sahabat-sahabat saya di sekolah, sehingga sebagian besar dari buku-buku saya yang paling menarik hilang untuk seterusnya.

Setelah dewasa barulah saya lebih menyadari bahwa saya membutuhkan buku-buku lama yang pernah saya miliki untuk diceritakan kepada anak saya. Buku-buku seperti Anak Jawi dan Anak Harimau karangan Bagindo Saleh, atau Cerita Nenek Putih Rabiah karangan Ny. Limbak Tjahaja, Pak Madong, Si Samin yang saya lupa pengarangnya, saya anggap sungguh menarik untuk dibaca oleh anak-anak sekarang. Sayang sekali jika anak-anak lebih mengetahui cerita anak-anak dari negara lain atau cerita dari Indonesia sendiri tetapi yang lebih mementingkan segi komersial daripada soal mutu.

Kegemaran membaca buku yang ditanamkan ayah sejak kecil ternyata menguntungkan kami bertiga dalam hal memperolah nilai yang baik dalam pelajaran tata Bahasa Indonesia. Keuntungan lainnya, kami memperoleh pengetahuan tentang adat istiadat beberapa masyarakat di Indonesia atau karya-karya sastra.

Ketika saya masih kuliah, dosen “Kesusteraan Nusantara” yang memberikan kuliah mengenai kesusateraan Hindu dan inti cerita-cerita wayang merasa bangga bahwa kuliah beliau dapat dipahami oleh mahasiswa non-Jawa, sebab saya, yang (dianggapnya) orang Minangkabau, dapat memperoleh nilai baik sekali dalam ujian matakuliah tersebut. Beliau tidak tahu bahwa bekal pengetahuan dasar saya tentang isi kuliah beliau sebetulnya saya peroleh melalui bacaan waktu kecil, termasuk di antaranya komik Mahabarata karangan R. A . Kosasih, yang diberikan oleh ayah.

Semasa mahasiswa, terutama waktu saya dan ayah tinggal di Hawai selama 6 bulan, ayah turut memberi saran-saran tentang buku-buku yang perlu dibeli mengenai bidang saya, antropologi. Kami sering pergi ke took buku universitas untuk memilih buku-buku dengan tenang, dan pulang dengan taksi karena ternyata tanpa disadari buku-buku yang kami beli sudah terlalu banyak dan tak terangkat lagi.

Milik Ayah yang Paling Berharga

Ketika saya harus mengurus penerbitan majalah dengan Pertamina pada tahun 1976, saya berkesempatan pula melihat perpustakaan Prof. Mohammad Yamin S.H. yang telah berpindah ke Pertamina. Pada saat perpustakaan beliau itu dibeli, Pertamina sedang berada dalam “zaman kejayaannya”.

Apa yang saya lihat sungguh menyedihkan. Perpustakaan itu tidak sebagaimana yang seharusnya, buku-buku tidak teratur menurut katalog, bahkan pada satu sisi yang panjang, terjemur oleh sinar matahari yang menembus langsung dari jendela yang tak bertirai. Perpustakaan ini jelas tidak terawat, bahkan tak ada tenaga khusus yang ditugaskan mengurusnya sepenuhnya.

Pada saat itu langsung terlintas di pikiran saya, betapa akan sangat menyedihkan apabila perpustakaan ayah menemui nasib yang sama. Sejak itu saya bertekad, bagaimana pun juga, anak-anak Hatta harus merawat sendiri buku-buku ayah, milik pribadi beliau yang bagi ayah sendiri tak ada taranya.

Pada suatu hari ayah memanggil saya ke ruang kerjanya. Dengan mimik yang biasa, beliau berkata, “Meutia, pilihlah buku-buku dari bibliotik ayah di atas yang berguna bagi studi Meutia.”

“Buat apa yah?” saya bertanya.

“Buat Meutia sendiri. Sebab kalau ayah meninggal nanti, mungkin kalian bermaksud menjual buku-buku ayah untuk biaya hidup ibu dan kalian. Meutia kan tahu, pensiun ayah…..”

Belum sampai selesai kalimat itu, saya sudah merasa bahwa beliau mau mengatakan bahwa pensiun ayah takkan cukup untuk membiayai hidup kami, terutama ibu, yang ditinggalkan. Kalau kini ada keluarga yang masih membantu, bagaimanakah bila Ayah meninggal nanti?

Karena saya sudah merasa tahu akhir kalimat itu, saya cepat memutus beliau, “Jangan ayah! Saya tidak mau ambil buku ayah dari atas. Buku-buku ayah tidak boleh kami jual. Masih banyak barang lain yang bisa kami jual kalau memang diperlukan”

Ayah tertegun memandang saya sehingga saya merasa “risi”, karena saya menyangka beliau tertegun karena saya potong kalimatnya, yang hampir tak pernah saya lakukan sebelumnya. Maka saya mencoba menjelaskan kepada yaha, mengapa saya tidak setuju, “ayah tahu, apa yang terjadi dengan buku-buku Yamin? Tidak terurus, menyedihkan…. Saya dan adik-adik seharusnya wajib mengurus bibliotic ayah nanti.” Ayah agak cerah wajahnya mendengar keterangan saya. Lalu saya lanjutkan, “Kalau toh ayah mau memberi saya buku, saya minta yang ayah punya dua.”

Ayahku, betapa mulia hatinya! Buku-buku yang merupakan benda-benda kesayangannya melebihi barang apa pun, yang dikumpulkannya sejak beliau berusia 19 tahun, direlakannya untuk kami jual guna biaya hidup bila ayah sudah meninggal. Bukan rumah yang lebih dulu direlakannya untuk kami jual, melainkan buku kesayangannya. Mungkin beliau berpikir bahwa buku hanya sangat bernilai bagi ayah, sedangkan bila ayah meninggal nanti, keluarga lebih membutuhkan rumah sebagai tempat berlindung. Padahal ibu dan adik-adik pasti juga sependapat dengan saya, tak rela menjual buku-buku ayah untuk kepentingan kami sendiri dari segi materi. Menjelang tidur pada malamnya, terkenang kembali saya pada kata-kata ayah itu, dan tak terasa air mata pun menetes terharu.

Waktu ayah mengatakan soal buku itu, apa yang terbayang di kepala saya hanyalah nasib buku-buku Prof. Yamin, sehingga tanpa berpikir panjang lagi saya menolak tawaran buku dari ayah yang sesuai dengan bidang saya. Namun kemudian, ada hikmah lain dari penolakan saya itu.  Kalau dulu saya menerima, bukankah tak mustahil keluarga lain merasa dianak tirikan? Bagaimana perasaan adik-adik kalau hanya saya yang memperoleh, terutama persaan Halida? Bidang studinya ilmu politik, cukup banyak buku ayah yang bisa dipergunakannya. Lalu, kalau buku-buku ayah sudah dikurangi, apa lagi yang istimewa dari “perpustakaan pribadi Mohammad Hatta”, yang selalu terkenal sebagai perpustakaan pribadi terbesar di Indonesia?

Percakapan antara saya dan ayah itu tetap saya simpan bagi diri saya sendiri sampai ayah wafat. Tidak saya ceritakan kepada siapa pun. Saya takut bahwa jika orang luar mengetahui mereka akan menganggap bahwa ayah memang bermaksud menjual perpustakaannya, barang yang paling dicintainya. Saya takut pula bahwa hal itu bahkan akan menimbulkan ide tertentu pada orang luar yang tidak saya kehendaki, juga tak dikehendaki ibu dan kami semua!

Syukurlah bahwa sejak itu, bila orang menanyakan kepada ayah tentang buku-buku bleiau sesudah ayah meninggal nanti, beliau selalu menjawab, “ketiga anak saya yang memutuskan.” Kepada Pak Wangsa beliau juga antara lain menyebut nama saya untuk mengurus buku beliau. Sudah tentu ini bukan berarti bahwa saya menguasainya sendiri, melainkan saya diberi kewajiban mengambil keputusan terakhir setelah musyawarah dengan adik-adik, tentang apa yang dilakukan terhadap buku ayah sesudah beliau wafat. Dan keputusan saya sejak dulu masih tetap sama: anak-anak Hatta mengurus perpustakaan ayahanda kami sendiri, sebagai tanda bakti kami kepada orang tua. Beliau telah memberikan pendidikan yang tinggi bagi ketiga anaknya, karena itu kami akan dapat mempergunakan buku-buku itu, selain memeliharanya, sesuai dengan bidang ilmu yang kamimiliki. Keyakinan saya semula benar, ibu dan adik-adik, suami dan ipar saya, setuju bahwa kami merawat sendiri buku-buku ayah sebagai tanda bakti kami kepada beliau yang telah tiada.

Saya juga bersyukur bahwa tidak lama kemudian sesudah percakapan kami itu, ayah memberikan kepada saya buku antic The History of Java karangan Thomas Stamford Raffles, jilid I dan II, terbitan tahun 1817, karena ayah memiliki 2 seri. Beliau rupanya ingat akan permintaan saya tersebut di atas. Buku itu dianggapnya sebagai hadiah ulang tahun saya yang ke-30, meskipun tidak tepat diberikannya pada hari itu. Tentu saja buku ini tidak ternilai artinya bagi saya.

Syukur alhamdulillah pula bahwa kurang dari 3 tahun sesudah itu, Pemerintah mengadakan peraturan baru tentang besarnya pension ayah. Maka saya berkata, “Sekarang betul-betul ayah tidak perlu lagi memikirkan tentang buku ayah, dengan adanya pensiun baru ini.” Maksud saya, mengingatkan kembali tentang percakapan kami itu. Ayah tersenyum gembira. (*)

*Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono, adalah seorang ahli antropologi Indonesia. Pernah menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden sejak 25 Januari 2010. Sebelumnya ia menjabat sebagai Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dalam Kabinet Indonesia Bersatu (2004 hingga 2009). Meutia adalah putri mantan wakil presiden dan proklamator Indonesia, Mohammad Hatta. Ia mendapatkan gelar doktor dalam bidang antropologi dari Universitas Indonesia pada tahun 1991. Pada tahun 2002–2005 ia adalah Ketua Umum Yayasan Hatta.

**Catatan Redaksi: Tulisan ini dicuplik dari buku “Bung Hatta: Pribadinya dalam kenanganku” yang juga disunting oleh Meutia Farida Hatta Swasono. Tulisan “Ayahanda: Pribadinya dalam Kenanganku” adalah tulisan memoir Meutia dalam buku tersebut. Galeri Buku Jakarta menayangkan tulisan tersebut dalam laman galeribukujakarta.com dengan tujuan menggugah semangat membaca bangsa indonesia, mengenang Bung Hatta dan bagaimana ia memberi inspirasi dalam bidang pendidikan, merawat buku dan budaya membaca dan menulis dalam pribadinya. Semoga bermanfaat.

Continue Reading

Budaya

Beragama dengan Sederhana dan Teologi Keluguan

mm

Published

on

Tidak Mengetahui Apa-Apa adalah Sumber Kehidupan yang Bahagia.—Desiderius Erasmus

Agama sejatinya dekat dengan urusan kemanusian, demikianlah sedikit dari pemikiran Desiderius Erasmus. Ia lahir di Rotterdam, Belanda pada tahun 1469 dan merupakan seorang sarjana dan editor pertama dari kitab Perjanjian Baru.

Erasmus dan pemikirannya dipengaruhi oleh metode filologi yang dipelopori oleh kaum humanis Italia. Erasmus membantu meletakkan dasar bagi studi historis-kritis tentang masa lalu, terutama dalam studinya tentang Perjanjian Baru Yunani dan para Bapa Gereja.

Tulisan Erasmus pada akhirnya berkontribusi pada pada penggantian kurikulum skolastik yang lebih tua oleh penekanan humanis baru pada klasik. Dengan mengkritik pelanggaran gerejawi, sambil membandingkan masa lalu yang lebih baik. Erasmus kemudian mendorong adanya sebuah reformasi, yang mencoba mempertemukan antaran Reformasi Prostetant dan Kontra-Reformasi Katolik. Sikap Erasmus yang mencoba untuk lebih independent di tengah kontroversi konfesional yang sengit yaitu menolak antara doktrin Luther tentang Predestinasi dan kekuatan yang diklaim untuk kepausan – sehingga Erasmus kemudian menjadi target kecurigaan dimata partisan dari kedua sisi.

Erasmus sendiri dikenal sebagai seorang filsuf yang humanis. Risalah dalam “In Praise of Folly” yang ditulis oleh Erasmus pada tahun 1509, mencerminkan gagasan-gagasan Humanis yang mulai membanjiri seluruh Eropa selama tahun-tahun awal era kebangkitan atau renaissance, dan memainkan peran kunci dalam reformasi.

Tulisan Erasmus merupakan sindiran jenaka tentang korupsi dan perselisihan doktrinal dari gereja katolik. Namun sebenarnya Erasmus juga memiliki pesan yang serius,  ia menyatakan bahwa kebodohan—di mana Erasmus menyebutnya sebagai ketidaktahuan yang naif – adalah bagian penting dari ‘menjadi manusia’, dan pada akhirnya hal inilah yang membawa manusia kepada kebahagiaan dan kepuasan yang paling besar. Erasmus kemudian menyatakan bahwa pengetahuan, di sisi lain, dapat menjadi beban dan dapat menyebabkan komplikasi yang mungkin membuat kehidupan menjadi sulit.

Iman dan Kebodohan

Dalam penalaran Erasmus, ia menegaskan bahwa agama juga adalah bentuk kebodohan, dalam keyakinan seharusnya hanya diletakkan pada keyakinan itu sendiri dan tidak bisa dikaitkan dengan penalaran. Erasmus menolak pencampuran antara rasionalisme Yunani kuno dengan teologi Kristian oleh filsuf abad pertengahan, seperti St Augustine of Hippo dan Thomas Aquinas sebagai intelektualisasi teologis yang mengklaim bahwa itu adalah akar penyebab dari korupsi iman agama.

Erasmus sendiri mendukung kembalinya keyakinan sederhana yang tulus yaitu dengan individu membentuk hubungan pribadi dengan Tuhan, dan bukan yang ditentukan oleh doktrin katolik.

Erasmus menasihati kita untuk menerima apa yang dia lihat sebagai semangat sejati dari kitab suci—kesederhanaan, keluguan dan kerendahan hati. Erasmus percaya bahwa itulah sifat dasar manusia yang memegang kunci kehidupan bahagia. (*)

*) diterjemahkan Susan Gui (ed; Sabiq Carebesth), dari “Happy is He Who Has Overcome His Ego”  (The Philosohy Book; DK London, 2011).

Continue Reading

Budaya

Amrus dan Perkumpulan Seniman Petarung

mm

Published

on

“Membabi-buta kejam sekali, saudara sendiri diperlakukan semena-mena. Putus dan dibalik Kebenaran. Kami dijadikan penghianat bangsa. Boleh dimatiin seperti anjing liar di jalanan.” (Puisi Dua Puluh Satu, Amrus Natalsya)

“Dulu sebelum rumah ini jadi, malah ramai yang berkunjung ke sini. Rata-rata mahasiswa, tapi sekarang sudah tidak pernah,” kata Amrus Natalsya lirih. Bola matanya yang sudah menguning dan keruh menerawang. “Kalian mau nginap? Kalau mau biar disiapkan. Di mana saja ya, nanti digelarkan tikar,” ujarnya dengan suara bergetar namun cukup terdengar lantang.

“Terima kasih pak. Kami harus pulang ke Jakarta. Tidak ada persiapan untuk bermalam,” ujar kami bersamaan. Saya melihat telepon selular yang ada di saku, waktu sudah pukul 5 sore. Setelah mengambil gambar bersama melalui kamera telepon seluler, kami pun pamit undur diri.

Saya bersama empat rekan yang lain, Kreshna, Palupi, Isma dan Laras memang tidak diundang datang ke galeri milik Amrus Natalsya yang berada di perkampungan warga di Cigombong, Lido, Bogor tersebut. Kebetulan saja, beberapa hari sebelum kedatangan, ada rekan yang memberitahukan kalau ada galeri mantan aktivis Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) di Bogor.

Info awalnya sebenarnya bukan galeri milik Amrus Natalsya, melainkan galeri Lekra. Saya pun merasa penasaran, apakah benar perkataan seorang teman, ada galeri Lekra di Bogor. Rasa penasaran itu tentu saja muncul. Bagaimana pun nama Lekra masih dilekatkan dengan stigma buruk; lembaga kebudayaan yang menjadi bagian Partai Komunis Indonesia (PKI) dan terlibat kudeta 1965.

Saya pun meminta Kreshna menelusuri di internet.

“Bukan galeri khusus Lekra, tapi galeri punya pendiri Sanggar Bumi Tarung, Amrus Natalysa,” kata Kreshna. Sanggar Bumi Tarung merupakan wadah para seniman Lekra bidang seni rupa. Sanggar ini didirikan di Yogyakarta, oleh para mahasiswa Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), tahun 1961 silam, salah satunya Amrus Natalsya.

Selain Amrus, ada beberapa nama pendiri lainnya seperti Djoko Pekik, Isa Hasanda, Adrianus Gumelar, Hardjija Pudjanadi, Sudiyono SP, Dj. M. Gultom, Sudjatmoko dan Misbach Tamrin. Nama terakhir ini terbilang cukup dekat dengan Amrus.

”Misbah sering datang. Dia tinggal di Kalimantan, tanah kelahirannya. Ini ada buku tentang Misbah dan teman-teman Bumi Tarung Saya lagi nunggu, katanya mau dikirimin,” ujar Amrus menunjukkan buku berjudul Berlayar di Tengah Badai; Misbach Tamrin dalam Gemuruh Seni Politik yang tergeletak di meja depan kami.

Tahun 2011 silam, para pendiri sanggar Bumi Tarung reuni dan menggelar pameran berjudul “50 Tahun Bumi Tarung” di Galeri Nasional, Jakarta. Saat pameran itu, dari sekian banyak anggota Bumi Tarung, tinggal sembilan perupa yang tersisa, yakni Amrus Natalsya, Djoko Pekik, Misbach Tamrin, Isa Hasanda, Suhardjijo, Adrianus Gumelar, Dj. Gultom, Soediono, dan Muryono.

Reuni dan pameran Bumi Tarung cukup menyedot perhatian. Setengah abad lalu, seniman yang tergabung dalam Lekra baik itu di ruang sastra maupun rupa terkenal dengan kedisiplinannya. Mereka juga terikat dengan metode 1.5.1, suatu prinsip kebudayaan yang diusung Lekra. Di buku autobiografinya yang berjudul Berlayar di Tengah Badai; Misbah memaparkan metode tersebut. Metode “1.5.1” ini, kata Misbah, saling melengkapi satu sama lain dan tidak bisa dipisahkan.

Beberapa koleksi lukisan Amrus Natalsya

Satu (1) yang disebut awal adalah prinsip menempatkan “Politik sebagai Panglima.” Lima (5) di tengah menunjukkan lima petunjuk operasional artistik, yakni “meluas dan meninggi”, “tinggi mutu ideologi dan tinggi mutu artistik”, “tradisi baik dan kekinian revolusioner”, “kreativitas individual dan kearifan massa”, serta “realisme sosial dan romantik revolusioner”. Sedangkan satu (1) terakhir merupakan penyeimbang dari dua sebelumnya, yaitu prinsip “Turun ke Bawah alias Turba”.

Prinsip ini merujuk pada penempatan secara langsung pengalaman para seniman dalam kehidupan masyarakat bawah. Pada saat turba, seniman Lekra tidak boleh menjaga jarak dengan rakyat, dan bukan datang sebagai tamu yang dilayani, melainkan harus menjadi bagian dari rakyat jelata. Tak heran, dalam beberapa hasil karya perupa Bumi Tarung yang tersisa, tema tentang kehidupan petani dan buruh selalu menjadi yang utama.

Karya-karya tersebut sebagian masih terpajang di galeri milik Amrus. Kepada Amrus, keinginan bertanya soal relevansi prinsip itu pun tak tertahankan. ”Kalau zaman kami dulu, itu zamannya Nasakom. Kalau zaman sekarang nggak tau zaman apa ini. Bingung. Sudah tidak ada perang dingin lagi kan. Peristiwa G30S itu juga akibat perang dingin. Mungkin sudah tidak lagi relevan politik sebagai panglima,” kata Amrus.

Selain lukisan tentang petani, di galerinya, terlihat banyak lukisan yang menggambarkan suasana perkampungan cina atau pecinan. Lukisan tersebut digambarnya di atas kanvas maupun kayu mahoni yang dicukil lalu dilukis. ”Oh itu lukisan yang dulu pernah dipamerkan. Ini menggambarkan Etnis Tionghoa sudah jadi bagian bangsa Indonesia, sekaligus sebagai penghormatan atas tragedi 1998 yang menimpa mereka,” kata Amrus.

***

Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang. Mobil Avanza yang kami tumpangi dari Jakarta menuju kawasan Bogor menepi, tepatnya di depan gerbang masuk Lido Resort yang berada di pinggir Jl Raya Bogor-Sukabumi Km 21. Menurut blog yang menjadi panduan kami, galeri tersebut berada tidak jauh dari Lido Resort. Patokannya gapura di pinggir jalan, lalu masuk ke dalam jalan tersebut.

Setelah bertanya dengan beberapa penjaga di gerbang Lido Resort, kami memutuskan untuk menyusuri jalan perkampungan di seberang Lido Resort. Kreshna mengingat, ada beberapa tanda menuju galeri Amrus, selain gapura yang berwarna kuning, juga terdapat kantor polisi. Sekitar dua ratus meter menyeberang dari gerbang Lido Resort, terlihat ada gapura yang berada dekat dengan kantor polisi.

Gapura tersebut tidak berbeda jauh dengan deskripsi yang tertulis di blog. Hanya saja, warna gapura tersebut sekarang menjadi merah. Mobil pun memasuki gapura dan menyusuri jalan yang hanya bisa dilalui satu mobil tersebut. Sekitar 200 meter dari gapura, Isma berkata, “tuh galerinya. Ada tulisan Galeri Amrus. Di sebelah kiri jalan, masuk gang.”

Melihat jalan yang sangat sempit, akhirnya mobil diparkirkan di lahan material pinggir jalan. Kami pun berjalan menghampiri galeri. Baliho bulat yang bertuliskan Galeri Amrus ternyata hanya dipasangkan di atas warung yang kebetulan menghadap muka jalan. Sementara posisi galeri berada di samping gang.

Galeri Amrus Natalsya

Galeri Amrus berbentuk rumah, dengan halaman terbuka dan pagar yang ditumbuhi tumbuhan rambat. Ketika memasuki pagar, terlihat banyak kandang unggas yang berisi kalkun, ayam kate dan burung sejenis parkit. Di ruang tengah, terlihat banyak jejeran lukisan kanvas. “Dari mana ya ade-ade?”tanya seorang perempuan yang sudah cukup sepuh.

Setelah memperkenalkan diri, kami pun dipersilakan duduk. Ibu itu bernama Atai, istri ketiga Amrus. Ibu Atai merupakan perempuan asli Lido. “Bapak lagi berobat ke kota, di RS PMI. Tadi siang berangkatnya,” kata Bu Atai. Bu Atai menyuruh kami untuk beristirahat sembari melihat-lihat karya seni yang ada di pelataran galeri.

Di salah satu sudut galeri, terlihat seorang pemuda yang sedang melukis. ”Sedang melukis apa kang?”pertanyaan itu meluncur. “Oh ini, hanya sedang menambahkan warna saja. Ini karya bapak, saya hanya membantu pewarnaan saja. Nanti detilnya bapak yang finishing,” kata pria bernama Asrul

Menurut Asrul, Amrus masih sangat jeli dan detil jika sudah bicara soal karya rupa. “Apalagi kalau cukil kayu, waduh, itu bapak detil sekali. Ini contohnya,” katanya sambil menunjukkan salah satu karya cukil yang berada di dekatnya. Asrul sudah setahun mengikuti Amrus. Ia mengakui banyak belajar dengan menjadi asisten Amrus.

Galeri Amrus ini cukup luas. Menempati lahan sekitar 700 meter. Hampir seluruh temboknya tidak ada yang dicat, melainkan masih diselimuti semen yang tidak diaci. Galeri ini berdiri setinggi tiga lantai, yang tiap lantainya terdapat pajangan lukisan-lukisan Amrus. Bu Atai mengajak kami mengunjungi beberapa sudut ruangan galeri.

“Ini mungkin salah satu karya bapak yang paling serius saat ini. Pesenan Pak Fadli Zon. Barusan orangnya nelepon, bisa ke rumah gak. Tapi kan bapak lagi kontrol di rumah sakit,” kata Bu Atai sambil menunjukkan sebuah bidang kayu yang sangat besar. Karya tersebut berbentuk kerumunan orang yang sedang tawaf mengelilingi Ka’Bah. “Karya ini sudah dikerjakan selama beberapa tahun,” sambung Bu Atai.

Selain sebagai politikus, Fadli Zon memang dikenal sebagai sejarawan dan kolektor karya seni. Menurut Ibu Atai, sudah beberapa kali Fadli main dan memesan beberapa karya dari Amrus. Meski dikenal sangat membenci anasir-anasir komunisme, Fadli cukup dekat dengan Amrus. Bahkan di buku puisi Amrus, Fadli memberikan epilog.

***

Sebagai seorang seniman, Amrus bersama kawan-kawannya di Bumi Tarung pernah mengalami masa keemasan. Terlebih di era Orde Lama, Presiden Soekarno sangat memperhatikan seniman-seniman yang revolusioner. Pada tahun 1964, ia dan anggota Bumi Tarung mengadakan pameran selama Konferensi Seni Sastra Revolusioner (KSSR) yang diinisiasi PKI.

Keterkenalannya sebagai pematung kayu yang dikagumi Bung Karno semakin melambungkan namanya di kalangan seniman revolusioner. Bersama pelukis Batara Lubis, dan karikaturis A Sibarani, Amrus pernah menjadi delegasi yang mewakili pemuda Indonesia di acara Pekan Pemuda se-Dunia di Wina, Austria. Selain itu, ia juga pernah diundang oleh Uni Soviet, Tiongkok dan Saudi Arabia.

Namun, seiring dengan memanasnya situasi politik nasional, Bumi Tarung mulai merasakan beratnya konsekuensi atas pilihan ideologi berkeseniannya itu. Puncaknya, ketika terjadi gerakan 30 September 1965 (G-30-S), mereka dituduh sebagai anggota PKI. Patung kayu karya Amrus berjudul Epos Perjuangan Revolusi 1945 pesanan Hotel Duta dan patung Keluarga Tandus di Senja di Akademi Ali Archam dibakar massa.

Teman-temannya seperti Harmani dan Harjatno, ditangkap dan digebuki hingga tewas.  Para anggota Bumi Tarung yang di Yogyakarta, seperti Sutopo, Djoko Pekik, Suroso, dan Sudiyono S.P., ditahan. Ng. Sembiring yang pulang ke kampung halamannya di Sumatera Utara juga ditahan. Sementara Misbah Tamrin seperti yang diceritakannya dalam buku Berlayar di Tengah Badan terciduk di Banjarmasin, Kalimantan. Misbah sendiri dipenjara selama 13 tahun tanpa proses pengadilan.

Sementara Amrus, Isa Hasanda, dan Dj. Gultom yang menyelamatkan diri berpindah-pindah tempat tinggal di Jakarta. Namun ketiganya juga tertangkap pada 1968 lewat “Operasi Kalong”. Amrus tertangkap di rumah kontrakannya yang berada di bilangan Grogol, Jakarta Barat. Berbeda dengan Misbah yang dipenjara hingga belasan tahun, Amrus hanya mengalami masa penahanan selama lima tahun, dari 1968-1973.

Dari seluruh anggota Bumi Tarung, Kuslan Budiman yang sedikit beruntung. Ketika itu, ia berada di Tiongkok untuk mempelajari Teater Rakyat. Karena huru-hara tahun 1965 itu, ia tidak bisa kembali ke Tanah Air; dari Tiongkok pindah ke Moskow hingga akhirnya menetap dan menjadi eksil di Belanda.

Amrus Natalsya

Usai keluar dari penjara, para seniman Bumi Tarung memulai segala sesuatunya untuk bertahan hidup dengan stempel “eks-tapol” yang membatasi gerak dan gagasan mereka. Amrus menjadi juru foto keliling, sedangkan Djoko Pekik pernah berprofesi sebagai tukang jahit. Keduanya memberikan gambaran tentang sulitnya kehidupan sekitar 30 anggota Bumi Tarung ketika itu.

Namun sembari berseloroh, Amrus mengatakan saat ini kawan-kawannya di Bumi Tarung yang masih hidup sudah kaya raya. “Lihat itu Pekik, lukisannya laku miliaran rupiah. Sudah kaya dia… hahahaha. Jadi kalau masih muda jangan takut hidup susah, harus berani,” kata Amrus.

Sama seperti Pekik, Amrus pun mulai menikmati jerih payahnya sebagai seorang seniman dengan karya bermutu artistik tinggi. Seorang kolektor bernama Etty Mustafa menggandengnya sebagai mitra. Etty bukan hanya menjadi kolektor khusus karya Amrus, tapi juga menjadi dealer yang memasarkan karya-karya Amrus yang laris manis karena melalui tiga genre media seni, mulai dari patung kayu, lukisan kanvas dan lukisan kayu. (*)

*) Wahyu Arifin, alumnus Universitas Negeri Jakarta. Pernah mampir kuliah di STF Driyarkara dan mengawali karir jurnalistiknya majalah Didaktika, Tabloid Transformasi dan sebuah  media cetak berklaim nasional.

Continue Reading

Budaya

Mengembalikan Kedigdayaan Maluku

mm

Published

on

Tak ada yang memungkiri, Tiongkok merupakan penguasa ekonomi awal abad XXI. Bahkan, tingkat pertumbuhan Tiongkok merupakan yang tertinggi kedua di dunia. Tiongkok dapat mengancam kedigdayaan ekonomi Amerika Serikat (AS). Padahal, hingga akhir abad XX AS merupakan penguasa ekonomi dunia, jauh meninggalkan Tiongkok.

Tak pelak, pencapaian yang diraih Tiongkok menimbulkan persaingan dengan AS. Bahkan, untuk menahan laju perekonomian Tiongkok, AS membangun jalur perdagangan transpasifik Trans Pacific Partnership (TPP) pada masa pemerintahan Presiden Barack Obama 2009 lalu. Sedangkan, Tiongkok, membangkitkan kembali jalur sutera yang pernah dirintis oleh pedagang-pedagangnya pada awal masehi, untuk kembali menguasai perekonomian dunia.

Lalu di manakah posisi Indonesia? Sebagai negara yang memiliki posisi geografis yang sangat strategis, Indonesia dapat masuk dalam kedua kutub persaingan dua jalur perekonomian dunia. Tapi apakah Indonesia harus memilih salah satu diantaranya atau Indonesia dapat membuat poros baru perdagangan dunia?

Melalui buku ini, Komarudin Watubun mencoba menawarkan sebuah gagasan agar Indonesia untuk dapat membuat poros perekonomian dunia yang baru? Di mana, bagaimana, dan mengapa, Indonesia mesti membangun poros perekonomian itu?

Komarudin menawarkan gagasan bahwa Maluku dapat dijadikan sebagai poros perekonomian Indonesia abad XXI. Pertanyaan yang kemudian muncul, kenapa harus Maluku? Kenapa poros perdagangan dunia tidak dimulai di bagian Barat Indonesia yang sudah memiliki sarana dan prasarana yang lengkap dibandingkan wilayah Timur Indonesia seperti Maluku?

Secara umum, buku ini terdiri atas tiga bagian yakni kondisi Maluku dan Indonesia saat ini, sejarah Maluku, dan strategi untuk mewujudkan Maluku sebagai pusat perekonomian Indonesia dan dunia. Penulis mengungkapkan empat tesis untuk memperkuat alasan pemilihan Maluku menjadi titik perdagangan Indonesia dan dunia.

Pertama, tentu nilai historis dan ekonomis Maluku bagi Nusantara sejak abad XII hingga abad XX. Layaknya Tiongkok yang membangkitkan kembali jalur sutera, sejarah semestinya tidak menjadi benda mati dan hanya menjadi pelajaran menghafal di sekolah. Sebab, dalam perjalanan sejarah nusantara, Indonesia terutama Maluku pernah memiliki jalur perekonomian sendiri. Jalur tersebut dinamakan jalur rempah, Maluku menjadi titik pusatnya.

Dalam catatam sejarah, Maluku merupakan penghasil rempah-rempah terbaik dunia yang merupakan komoditas perdagangan termahal mengalahkan harga emas di dunia pada abad XVI. Bahkan, selama abad XVI—XVIII Maluku memasok kebutuhan rempah-rempah dunia yang melahirkan globalisasi, jaringan maritim dunia, inovasi, dan revolusi sistem keuangan dan korporasi global pertama kali di dunia (hlm.247).

Bahkan, karena kekayaannya, Spanyol dan Portugal sebagai kekuatan imperialis kuno memperebutkan Maluku. Perselisihan tersebut bahkan  menghasilkan Perjanjian Zaragoza yang membagi belahan bumi barat di antara Spanyol dan Portugal dan diprakarsai oleh Paus pada 7 Juni 1494.

Judul Buku : Maluku, Staging Point RI Abad ke-21 Penulis : Komarudin Watubun Penerbit : Yayasan Taman Pustaka Tahun Terbit : Cetakan I, November 2017 Tebal : vi + 431 halaman Harga : Rp.120.000

Namun, tak hanya dua negara tersebut yang memperebutkan Maluku, Belanda pun pada Dua abad setelahnya, ikut dalam persaingan memperebutkan Maluku. Sebab, siapa yang dapat menguasai rempah-rempah Maluku, maka akan dapat menguasai perdagangan Eropa (hlm.274) Hal itu merupakan nilai historis dan strategis Maluku.

Kedua, Geostrategis Maluku dan Indonesia. Posisi Maluku dan sekitarnya memiliki jalur-jalur terbuka yang sangat banyak, khususnya bila zona Maluku dan sekitarnya dijadikan basis produksi, penyedia, dan transit arus komoditi jasa, mineral strategis, manuisa, barang, jasa, uang dan informasi. Sebab, wilayah Maluku sangat terbuka ke Filipina, Brunei, Australia, Papua Nugini, Korea Selatan, Jepang, Tiongkok hingga Australia.

Maluku dapat menjadi opsi lain sebagai titik pusat jalur perdagangan Indonesia. Sebab, bila mengikuti rute yang dibangun oleh Belanda yang berpusat pada Jakarta dan melalui commercial hub atau transit di Singapura yang dibangun oleh Inggris, maka komoditas dari Indonesia sangat terbatas. Tak hanya itu, jalur itu hanya menguntungkan Singapura (hlm.129).

Ketiga, faktor mineral strategis Maluku. Maluku memiliki kekayaan alam selain rempah-rempah yaitu ladang gas Blok Masela. Blok Masela merupakan ladang gas abadi yang dimiliki oleh Indonesia dengan cadangan gasnya yang bisa bertahan selama 70 tahun ke depan. Cadangan gasnya mencapai 10,73 triliun cubic feet (tcf).

Selain itu, produk dari gas dapat diolah kembali menjadi 200 produk turunan (hlm.74). Bahkan, Rizal Ramli saat masih menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman menyatakan, apabila dikelola dengan baik, maka ladang Blok Masela dapat mengalahkan penghasilan gas dan minyak Qatar.

Keempat, seleksi alam dan segitiga arus alam Maluku selama ini pada tiga tingkat global.  Secara historis ratusan tahun sejak pramasehi, kebutuhan masyarakat dunia dapat dipasok dari kawasan arus alam Papua, Maluku, dan Nusa tenggara Timur (NTT). Zona tersebut merupakan satu garis alam (hlm.395).

Pola hubungan alam zona-zona tersebut saling terkait, saling mendukung, dan saling melindungi. Oleh sebab itu, penerapan strategi sosial, ekonomi, dan lingkungan pada zona tersebut akan perubahan signifikan dan bersamaan pada seluruh sektor yaitu pertanian, kehutanan, perikanan, kelautan, peternakan, dan perhubungan baik secara nasional maupun internasional.

Posisi Indonesia—terutama Maluku—yang sangat strategis semestinya dapat dijadikan untuk membangun poros perekonomian baru, bukan harus memilih antara jalur transpasifik AS dan jalur sutera Tiongkok. Tentu saja, pembangunan Maluku menjadi poros ekonomi baru Indonesia harus dapat menyejahterahkan rakyat Maluku dan Indonesia.

Sebab, hingga saat ini, dibalik kekayaan alam yang melimpah, Provinsi Maluku menjadi salah satu provinsi miskin di Indonesia. Bahkan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka pengangguran Indonesia pada Agustus 2017 mencapai 7,04 juta orang atau naik 10 ribu orang dari bulan sebelumnya yang tercatat 7,03 juta. Dengan demikian, Provinsi Maluku menjadi daerah dengan Tingkat Pengangguran Tertinggi (TPT) dengan persentasi 9,29 persen.

Oleh sebab itu, buku ini sangat layak untuk dibaca oleh semua kalangan, terutama pemerintah dan rakyat Indonesia khususnya Maluku. Bagi pemerintah, buku ini dapat dijadikan sebagai pedoman untuk membangun perekonomian yang berpihak pada rakyat. Sedangkan, bagi rakyat Maluku, buku ini mengingatkan agar kita tak lengah atau terlena dengan kekayaan alam yang dimiliki. Kita tentu tak ingin mengulangi kesalahan pengelolaan kekayaan alam yang kita miliki di Papua yang tak memberi dampak bagi rakyat Indonesia. Selain itu, buku ini banyak memiliki data-data yang sangat lengkap, baik data sejarah maupun data ekonomi dan geostrategis politik dunia.

Kita tentu tak ingin terus membenarkan sebuah adagium bahwa kekayaan alam suatu negara adalah kutukan. Kekayaan alam hanya menghasilkan konflik dan kemiskinan bagi sebuah negara. Kita tentu ingin membuktikan bahwa kekayaan alam yang dimiliki oleh Indonesia dapat menyejahterakan rakyatnya. Sehingga, sila kelima dalam pancasila bukan lagi sebuah cita-cita, melainkan sebuah realitas dan keniscayaan bagi rakyat Indonesia.

*) Virdika Rizky Utama, Penulis dan Wartawan Majalah GATRA

Continue Reading

Classic Prose

Trending