Connect with us

Editor's Choice

Ayahanda: Pribadinya dalam Kenanganku

mm

Published

on

Oleh: Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono*

 

Saya berkesempatan pula melihat perpustakaan Prof. Mohammad Yamin S.H. yang telah berpindah… Apa yang saya lihat sungguh menyedihkan. Perpustakaan itu tidak sebagaimana yang seharusnya, buku-buku tidak teratur menurut katalog, bahkan pada satu sisi yang panjang, terjemur oleh sinar matahari yang menembus langsung dari jendela yang tak bertirai. Perpustakaan ini jelas tidak terawat, bahkan tak ada tenaga khusus yang ditugaskan mengurusnya sepenuhnya.

Pada saat itu langsung terlintas di pikiran saya, betapa akan sangat menyedihkan apabila perpustakaan ayah menemui nasib yang sama. Sejak itu saya bertekad, bagaimana pun juga, anak-anak Hatta harus merawat sendiri buku-buku ayah, milik pribadi beliau yang bagi ayah sendiri tak ada taranya.

                      

Buku Cerita

Ayah mencintai buku, dan beliau berusahan pula menanamkan rasa cinta buku kepada kami bertiga. Oleh karena itu, sejak kecil saya diberi bacaan yang bermutu, dimulai dengan buku cerita kanak-kanak. Pada usia 8 tahun, saya sudah mempunyai koleksi buku cerita yang jumlahnya mencapai 3 deretan rak buku, sebagian besar merupakan buku-buku cerita yang paling bermutu di masa kecil saya. Ayah juga menyesuaikan pilihan atas buku menurut tingkatan usia saya, sehingga perkembangan bacaan saya teratur baik.

Setelah timbul kegemaran mengumpulkan buku-buku ceria, dengan sendirinya saya terbiasa untuk menyimpan buku-buku pelajaran dari kelas yang sebelumnya, bahkan sampai sekarang pun, buku-buku pelajaran saya sejak dari SD masih merupakan bagian dari koleksi buku saya, yang tentunya berguna bagi anak saya kelak.

Biasanya adik meniru kakak. Maka kegemaran mengumpulkan buku yang ditanamkan ayah kepada saya diwarisi pula oleh adik-adik saya.

Sayang sekali bahwa saya kemudian tidak cermat mengawasi peminjaman buku-buku oleh sahabat-sahabat saya di sekolah, sehingga sebagian besar dari buku-buku saya yang paling menarik hilang untuk seterusnya.

Setelah dewasa barulah saya lebih menyadari bahwa saya membutuhkan buku-buku lama yang pernah saya miliki untuk diceritakan kepada anak saya. Buku-buku seperti Anak Jawi dan Anak Harimau karangan Bagindo Saleh, atau Cerita Nenek Putih Rabiah karangan Ny. Limbak Tjahaja, Pak Madong, Si Samin yang saya lupa pengarangnya, saya anggap sungguh menarik untuk dibaca oleh anak-anak sekarang. Sayang sekali jika anak-anak lebih mengetahui cerita anak-anak dari negara lain atau cerita dari Indonesia sendiri tetapi yang lebih mementingkan segi komersial daripada soal mutu.

Kegemaran membaca buku yang ditanamkan ayah sejak kecil ternyata menguntungkan kami bertiga dalam hal memperolah nilai yang baik dalam pelajaran tata Bahasa Indonesia. Keuntungan lainnya, kami memperoleh pengetahuan tentang adat istiadat beberapa masyarakat di Indonesia atau karya-karya sastra.

Ketika saya masih kuliah, dosen “Kesusteraan Nusantara” yang memberikan kuliah mengenai kesusateraan Hindu dan inti cerita-cerita wayang merasa bangga bahwa kuliah beliau dapat dipahami oleh mahasiswa non-Jawa, sebab saya, yang (dianggapnya) orang Minangkabau, dapat memperoleh nilai baik sekali dalam ujian matakuliah tersebut. Beliau tidak tahu bahwa bekal pengetahuan dasar saya tentang isi kuliah beliau sebetulnya saya peroleh melalui bacaan waktu kecil, termasuk di antaranya komik Mahabarata karangan R. A . Kosasih, yang diberikan oleh ayah.

Semasa mahasiswa, terutama waktu saya dan ayah tinggal di Hawai selama 6 bulan, ayah turut memberi saran-saran tentang buku-buku yang perlu dibeli mengenai bidang saya, antropologi. Kami sering pergi ke took buku universitas untuk memilih buku-buku dengan tenang, dan pulang dengan taksi karena ternyata tanpa disadari buku-buku yang kami beli sudah terlalu banyak dan tak terangkat lagi.

Milik Ayah yang Paling Berharga

Ketika saya harus mengurus penerbitan majalah dengan Pertamina pada tahun 1976, saya berkesempatan pula melihat perpustakaan Prof. Mohammad Yamin S.H. yang telah berpindah ke Pertamina. Pada saat perpustakaan beliau itu dibeli, Pertamina sedang berada dalam “zaman kejayaannya”.

Apa yang saya lihat sungguh menyedihkan. Perpustakaan itu tidak sebagaimana yang seharusnya, buku-buku tidak teratur menurut katalog, bahkan pada satu sisi yang panjang, terjemur oleh sinar matahari yang menembus langsung dari jendela yang tak bertirai. Perpustakaan ini jelas tidak terawat, bahkan tak ada tenaga khusus yang ditugaskan mengurusnya sepenuhnya.

Pada saat itu langsung terlintas di pikiran saya, betapa akan sangat menyedihkan apabila perpustakaan ayah menemui nasib yang sama. Sejak itu saya bertekad, bagaimana pun juga, anak-anak Hatta harus merawat sendiri buku-buku ayah, milik pribadi beliau yang bagi ayah sendiri tak ada taranya.

Pada suatu hari ayah memanggil saya ke ruang kerjanya. Dengan mimik yang biasa, beliau berkata, “Meutia, pilihlah buku-buku dari bibliotik ayah di atas yang berguna bagi studi Meutia.”

“Buat apa yah?” saya bertanya.

“Buat Meutia sendiri. Sebab kalau ayah meninggal nanti, mungkin kalian bermaksud menjual buku-buku ayah untuk biaya hidup ibu dan kalian. Meutia kan tahu, pensiun ayah…..”

Belum sampai selesai kalimat itu, saya sudah merasa bahwa beliau mau mengatakan bahwa pensiun ayah takkan cukup untuk membiayai hidup kami, terutama ibu, yang ditinggalkan. Kalau kini ada keluarga yang masih membantu, bagaimanakah bila Ayah meninggal nanti?

Karena saya sudah merasa tahu akhir kalimat itu, saya cepat memutus beliau, “Jangan ayah! Saya tidak mau ambil buku ayah dari atas. Buku-buku ayah tidak boleh kami jual. Masih banyak barang lain yang bisa kami jual kalau memang diperlukan”

Ayah tertegun memandang saya sehingga saya merasa “risi”, karena saya menyangka beliau tertegun karena saya potong kalimatnya, yang hampir tak pernah saya lakukan sebelumnya. Maka saya mencoba menjelaskan kepada yaha, mengapa saya tidak setuju, “ayah tahu, apa yang terjadi dengan buku-buku Yamin? Tidak terurus, menyedihkan…. Saya dan adik-adik seharusnya wajib mengurus bibliotic ayah nanti.” Ayah agak cerah wajahnya mendengar keterangan saya. Lalu saya lanjutkan, “Kalau toh ayah mau memberi saya buku, saya minta yang ayah punya dua.”

Ayahku, betapa mulia hatinya! Buku-buku yang merupakan benda-benda kesayangannya melebihi barang apa pun, yang dikumpulkannya sejak beliau berusia 19 tahun, direlakannya untuk kami jual guna biaya hidup bila ayah sudah meninggal. Bukan rumah yang lebih dulu direlakannya untuk kami jual, melainkan buku kesayangannya. Mungkin beliau berpikir bahwa buku hanya sangat bernilai bagi ayah, sedangkan bila ayah meninggal nanti, keluarga lebih membutuhkan rumah sebagai tempat berlindung. Padahal ibu dan adik-adik pasti juga sependapat dengan saya, tak rela menjual buku-buku ayah untuk kepentingan kami sendiri dari segi materi. Menjelang tidur pada malamnya, terkenang kembali saya pada kata-kata ayah itu, dan tak terasa air mata pun menetes terharu.

Waktu ayah mengatakan soal buku itu, apa yang terbayang di kepala saya hanyalah nasib buku-buku Prof. Yamin, sehingga tanpa berpikir panjang lagi saya menolak tawaran buku dari ayah yang sesuai dengan bidang saya. Namun kemudian, ada hikmah lain dari penolakan saya itu.  Kalau dulu saya menerima, bukankah tak mustahil keluarga lain merasa dianak tirikan? Bagaimana perasaan adik-adik kalau hanya saya yang memperoleh, terutama persaan Halida? Bidang studinya ilmu politik, cukup banyak buku ayah yang bisa dipergunakannya. Lalu, kalau buku-buku ayah sudah dikurangi, apa lagi yang istimewa dari “perpustakaan pribadi Mohammad Hatta”, yang selalu terkenal sebagai perpustakaan pribadi terbesar di Indonesia?

Percakapan antara saya dan ayah itu tetap saya simpan bagi diri saya sendiri sampai ayah wafat. Tidak saya ceritakan kepada siapa pun. Saya takut bahwa jika orang luar mengetahui mereka akan menganggap bahwa ayah memang bermaksud menjual perpustakaannya, barang yang paling dicintainya. Saya takut pula bahwa hal itu bahkan akan menimbulkan ide tertentu pada orang luar yang tidak saya kehendaki, juga tak dikehendaki ibu dan kami semua!

Syukurlah bahwa sejak itu, bila orang menanyakan kepada ayah tentang buku-buku bleiau sesudah ayah meninggal nanti, beliau selalu menjawab, “ketiga anak saya yang memutuskan.” Kepada Pak Wangsa beliau juga antara lain menyebut nama saya untuk mengurus buku beliau. Sudah tentu ini bukan berarti bahwa saya menguasainya sendiri, melainkan saya diberi kewajiban mengambil keputusan terakhir setelah musyawarah dengan adik-adik, tentang apa yang dilakukan terhadap buku ayah sesudah beliau wafat. Dan keputusan saya sejak dulu masih tetap sama: anak-anak Hatta mengurus perpustakaan ayahanda kami sendiri, sebagai tanda bakti kami kepada orang tua. Beliau telah memberikan pendidikan yang tinggi bagi ketiga anaknya, karena itu kami akan dapat mempergunakan buku-buku itu, selain memeliharanya, sesuai dengan bidang ilmu yang kamimiliki. Keyakinan saya semula benar, ibu dan adik-adik, suami dan ipar saya, setuju bahwa kami merawat sendiri buku-buku ayah sebagai tanda bakti kami kepada beliau yang telah tiada.

Saya juga bersyukur bahwa tidak lama kemudian sesudah percakapan kami itu, ayah memberikan kepada saya buku antic The History of Java karangan Thomas Stamford Raffles, jilid I dan II, terbitan tahun 1817, karena ayah memiliki 2 seri. Beliau rupanya ingat akan permintaan saya tersebut di atas. Buku itu dianggapnya sebagai hadiah ulang tahun saya yang ke-30, meskipun tidak tepat diberikannya pada hari itu. Tentu saja buku ini tidak ternilai artinya bagi saya.

Syukur alhamdulillah pula bahwa kurang dari 3 tahun sesudah itu, Pemerintah mengadakan peraturan baru tentang besarnya pension ayah. Maka saya berkata, “Sekarang betul-betul ayah tidak perlu lagi memikirkan tentang buku ayah, dengan adanya pensiun baru ini.” Maksud saya, mengingatkan kembali tentang percakapan kami itu. Ayah tersenyum gembira. (*)

*Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono, adalah seorang ahli antropologi Indonesia. Pernah menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden sejak 25 Januari 2010. Sebelumnya ia menjabat sebagai Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dalam Kabinet Indonesia Bersatu (2004 hingga 2009). Meutia adalah putri mantan wakil presiden dan proklamator Indonesia, Mohammad Hatta. Ia mendapatkan gelar doktor dalam bidang antropologi dari Universitas Indonesia pada tahun 1991. Pada tahun 20022005 ia adalah Ketua Umum Yayasan Hatta.

**Catatan Redaksi: Tulisan ini dicuplik dari buku “Bung Hatta” Pribadinya dalam kenangan yang juga disunting oleh Meutia Farida Hatta Swasono. Tulisan “Ayahanda: Pribadinya dalam Kenanganku” adalah tulisan memoir Meutia dalam buku tersebut. Galeri Buku Jakarta menayangkan tulisan tersebut dalam laman galeribukujakarta.com dengan tujuan menggugah semangat membaca bangsa indonesia, mengenang Bung Hatta dan bagaimana ia memberi inspirasi dalam bidang pendidikan, merawat buku dan budaya membaca dan menulis dalam pribadinya. Semoga bermanfaat.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Buku

Membangun (Kembali) Republik

mm

Published

on

Judul Buku: Membangun Republik
Editor: Baskara T. Wardaya
Penerbit: Galang Press
Tahun Terbit: Juli 2017
Tebal: xxviii+286 halaman,

ISBN 978-602-8174-19-0
Harga: Rp.80.000,-

 

Meningkatnya gerakan intoleransi dan sentimen Suku Agama Ras dan Antargolongan (SARA)  di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, membuat kita mesti menghidupkan kembali tentang diskursus keindonesiaan kita. Setidaknya ada beberapa pertanyaan untuk menghidupkan kembali diskursus tersebut. Pertama, apa raison d’etre Indonesia? Kedua, apakah konsensus berdirinya Republik ini sebagai sebuah negara bangsa benar-benar sudah final? Ketiga, Quo Vadis Indonesia?

Melalui buku yang disunting oleh Baskara T. Wardaya ini, pembaca diajak kembali untuk berdialog mengenai jalannya Republik Indonesia sejak masa prakemerdekaan hingga akhir 1990-an. Buku yang sejatinya kumpulan wawanacara dengan enam indonesianis dan dua intelektual Indonesia yakni Takashi Shiraishi, Bennedict Anderson, George Kahin, Clifford Geertz, Daniel Lev, Bill Liddle, Sartono Kartodirdjo dan Goenawan Mohammad ini setidaknya menyoroti tiga poin penting dalam perjalanan Indonesia yakni politik, budaya, dan hukum.

Dalam konteks politik, setiap kekuasaan memiliki dinamikanya sendiri yang cukup menarik. Selalu ada patahan sejarah di dalam proses menjadi Indonesia, mulai dari kekuasaan Hindu, Budha, Islam, Kolonialisme, hingga menjadi Republik (Parakitri Simbolon: 1995). Sayangnya, tiap fase kekuasaan tersebut dianggap tidak memiliki hubungan satu sama lain.

Salah satunya contohnya adalah ketika para pendiri bangsa bermufakat bahwa bentuk negara Indonesia adalah republik. Padahal, dalam geneaologi kekuasaan di nusantara, tidak pernah ada sekali pun yang memakai bentuk republik. Bahkan, Belanda yang menjajah Indonesia pun merupakan sebuah negara monarki. Semua kepemimpinan di nusantara tidak dibentuk atas kehendak rakyat atau wakil-wakilnya, melainkan hampir selalu berada di tangan sang penguasa tunggal beserta para kerabat dan pendukungnya (hlm.xvii-xviii). Hal ini yang terus terjadi hingga masa kepresidenan Soeharto.

Pemilihan bentuk negara republik merupakan hasil pergulatan intelektual para pendiri bangsa, bukan dari pengalaman empiris seperti yang dituliskan oleh Tan Malaka dalam Naar de Republiek (1925). Konsekuensi dari tidak adanya pengalaman empiris tersebut, sudah pasti memiliki banyak kendala dalam upaya membangun republik. Sebab, Indonesia tidak memiliki preseden yang baik dalam membangun sebuah negara dan bagaimana cara menghadapi masalah.

Hal lain yang tidak dapat dikesampingkan dalam proses politik Indonesia adalah pemuda. Ben Anderson dalam buku Revolusi Pemuda (1988), “Saya percaya bahwa watak khas dan arah dari revolusi Indonesia pada permulaannya memang ditentukan oleh kesadaran pemuda.” Hal itu terus berlanjut saat mengakhir kekuasaan Soekarno pada 1966 dan Soeharto pada 1998. Sayangnya, pemuda sering kali dijadikan alat politik tertentu oleh pimpinan politik dalam pergulatan untuk berkuasa (hlm.57).

Dalam konteks budaya, Indonesia merupakan salah satu negara dan paling masyarakat yang paling kompleks di dunia. Banyaknya perbedaan dalam sebuah masyarakat, memerlukan persatuan untuk mengelolanya. Hal itu berhasil dibuktikan pada 1945, persatuan menjadi alat ampuh untuk meraih kemerdekaan.

Menurut Clifford Geertz, kemajemukan tersebut bisa melebur hanya dalam konteks tertentu, misalnya revolusi 1945. Lantas, setelah bersatu, ikatan-ikatan pengelompokan dan primordial kembali terjadi. Sebab, sifat-sifat primordial merupakan hasil sebuah proses sejarah, bukan sebuah nasib (hlm.147).

Oleh sebab itu setelah kemerdekaan, di dalam masyarakat, sifat-sifat primordial tersebut tetap ada dan kadang saling bersinggungan, hanya saja memerlukan waktu lama untuk menghasilkan gejolak. Dalam masyarakat, kata Geertz, kita akan selalu memikirkan: apa tujuan negara itu? Siapa yang mendapatkan untung dari negara itu? Untuk apa masyarakat berkumpul membuat negara itu?

Dengan demikian, Geertz melihat banyaknya peristiwa politik di Indonesia yang sekaligus merupakan persoalan budaya. Termasuk masalah agama dan sentimen ras (hlm.159). Baik menjelang runtuhnya Soekarno maupun saat menjelang lengsernya Soeharto dari tampuk kekuasaan.

Berkenaan dengan budaya, sifat-sifat feodal seperti pola kekerabatan— membangun oligarki politik dalam sebuah daerah atau partai politik—masih berlaku hingga saat ini menjadi penghambat dalam proses membangun. Ini tentu sebuah paradoks ketika para pendiri bangsa memutuskan membangun republik dan meninggalkan bentuk kekuasaan monarki, tapi tidak bisa menghilangkan sifat-sifat feodal yang kontra produktif dengan demokrasi. Soekarno dalam Sarinah (1947) menyatakan Indonesia merupakan sebuah negara yang dijajah oleh dua kekuatan yakni kolonial dan feodal. Oleh karenanya, setelah revolusi nasional, diperlukan revolusi sosial untuk membentuk sebuah tatanan masyarakat yang baru.

Di ranah hukum, Indonesia masih belum bisa menjadikan hukum sebagai panglima. Hal ini ditambah buruk dengan banyaknya korupsi yang melibatkan lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Hal tersebut semakin mempersulit republik untuk mewujudkan cita-citanya yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Terkait hukum dengan membangun republik mestinya, menurut Daniel Lev, membangun lembaga-lembaga pemerintah dan lembaga-lembaga masyarakat. Dalam sebuah republik yang baik, lembaga pemerintahan mesti dikontrol oleh lembaga-lembaga dalam masyarakat. Elite-elite dalam setiap lembaga memiliki kecenderungan untuk mempertahankan diri dan ini pun harus dikontrol (hlm.156).

Sebenarnya, tidak ada masalah dan atau kesalahan yang baru dalam membangun republik. Hanya saja, kita selalu mengulangi kesalahan yang sama. Seolah-seolah kesalahan itu menjadi sebuah preseden yang layak ditiru. Pengalaman masa lalu tersebut semestinya bisa jadi pijakan dalam membangun republik di masa depan, itulah sebabnya sejarah menjadi penting. Bukankah hanya keledai yang mengulangi kesalahan yang sama?

Peristiwa atau pengalaman dari setiap periode perjalanan bangsa Indonesia selalu terputus. Seolah-olah setiap fase sejarah Indonesia tidak memiliki hubungan dengan fase sebelumnya. Maraknya aksi intoleransi dan sentimen antargolongan pun sudah terjadi sejak 1960-an dan 1990-an. Tinggal bagaimana kita memahami pemahaman sejarah yang baik untuk melalui proses tersebut dengan baik.

Oleh sebab itu, pewarisan ingatan sejarah menjadi sangat penting bagi generasi muda. Sebab, tonggak estafet membangun Indonesia terletak di tangan pemuda. Seperti Ben Andrson katakan, pemuda adalah penggerak sejarah. Namun, tentu dengan cara yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Sebab, semangat zamannya pasti berbeda.

Buku ini menarik untuk dibaca sebagai pengantar untuk memahami persoalan Indonesia dari berbagai sudut pandang. Selain itu, buku ini juga dapat menjadi pengantar untuk memahami karya-karya utuh para tokoh yang terlibat dalam wawancara ini.

Indonesia memang bangsa yang belum selesai, ia masih dalam tahap proses menjadi sebuah bangsa yang kokoh. Namun, bukan berarti Indonesia tidak akan bisa menyelesaikan masalah dan mewujudkan cita-citanya menjadi sebuah bangsa. Apa pun masalahnya, bila dalam upayanya menyelesaikan masalah-masalah besar pascarevolusi rakyat Indonesia mampu menunjukkan yang sama seperti yang telah mereka perlihatkan dalam perjuangan untuk memperoleh kemerdekaan politik, peluang sukses mereka tampak kuat (Kahin: 2013). (*)

| Virdika Rizky Utama, lahir di Jakarta, 10 September 1993. Saat ini adalah Wartawan Majalah GATRA dan Pegiat Komunitas Sejarah Kita

 

Continue Reading

Blog Pembaca

Suraji: Buku-Buku Melapangkan Jiwa

mm

Published

on

Buku-buku melapangkan jiwa, tidak hanya karena ia memberi pengetahuan dan banyak kisah, tapi buku dan pembacanya sendiri sudah menyimpan kisah. Satu orang dengan yang lain memiliki keunikan kisahnya sendiri karena pengalaman dan ceritanya berbeda-beda. Kisah Suraji dengan buku-buku, adalah salah satu yang layak kita simak. Suraji adalah aktivis gerakan sosial yang punya benyak pengalaman perlawanan; memperjuangkan kebebasan dan demokrasi sejak era 90-2000an. Bagaimana buku-buku merubah hidupnya adalah cerita yang unik dan menginspirasi sebagaimana Anda tentu juga memiliki kisah Anda sendiri.

“Waktu kelas 1 SD, saya diajar Ibu Sumiati. Suatu ketika beliau mengajak saya ke ruangan guru, dan di situ ditunjukkan rak dan lemari berisi buku yang disekat terpisah dengan ruangan lain. “Ini perpustakaan,” kata Bu Sum. Saya pun mendekat dan membuka-buka isi rak buku itu. Dari situ saya mulai kenal buku-buku bacaan, dan terpikat untuk  membaca lebih banyak buku lagi.” Tutur Suraji yang kini menjadi Program Manager di Yayasan Bani KH. Abdurrahman Wahid (YBAW) dan aktif di komunitas Jaringan Gusdurian.

Suraji, Program Manager di Yayasan Bani KH. Abdurrahman Wahid (YBAW)

“Menulis itu Gampang” karangan Arswendo Atmowiloto yang dibacanya ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) adalah buku yang menurutnya merubah hidupnya—buku itu memberinya keberanian untuk menulis dan hal itu membuatnya memiliki banyak gagasan, mimpi, dan dengan cara keras menggali inspirasi untuk ditungkan dalam bentuk tulisan.

Ketika kuliah di IAIN Sunan Kalijaga (Sekarang UIN Sunan Kalijaga) bekal itu membawanya menjadi Pemimpin Redaksi Majalah ARENA, majalah mahasiswa yang sempat dalam waktu lama disebut sebagai “anak kandung majalah TEMPO” karena liputannya yang cerdas dan berani. Ketika kantor ARENA diserang terkait penerbitan edisi majalah yang mengkritik keras Orde Baru, Suraji adalah pemimpin redaksi dan salah satu aktor utamanya.

Kami berkesempatan mengajukan beberapa pertanyaan seputar buku dan dunia membaca kepadanya, percayalah wawancara pertama dalam program #MencintaiBuku—Merayakan Indahnya Membaca Buku—yang digagas Galeri Buku Jakarta ini memberi kita begitu banyak memoar dan inspirasi. Seperti kata Suraji, berkah terbesarnya adalah buku-buku melapangkan jiwa kita melewati begitu banyak pengalaman kehidupan. Selamat membaca…

INTERVIEWER

Apa arti buku buat anda? Beri kami kata bijak paling otentik berdasar perkenalan anda dengan buku-buku?

SURAJI

Buku adalah teman bijak yang selalu mengajak kita memandang cakrawala, memandu kita melewati lorong-lorong ruang dan waktu dengan jiwa yang selalu lapang.

INTERVIEWER

Ceritakan bagaimana anda pertama kali berkenalan dengan (dunia membaca) buku? Moment perkenalan dengan sebuah buku yang membuat anda menjadi pembaca buku? Hal itu pasti sangat berkesan, jadi beri tahu kami dan lebih banyak orang betapa unik dan berharga moment itu?

SURAJI

Perkenalan saya dengan buku sejak tahu kosakata “perpustakaan”. Waktu kelas 1 SD, saya diajar Ibu Sumiati, suatu ketika beliau mengajak saya ke ruangan guru, dan di situ ditunjukkan rak dan lemari berisi buku yang disekat terpisah dengan ruangan lain. “Ini perpustakaan,” kata Bu Sum. Saya pun mendekat dan membuka-buka isi rak buku itu.

Dari situ saya mulai kenal buku-buku bacaan, dan terpikat untuk  membaca lebih banyak buku. Biasanya, saya memanfaatkan waktu istirahat kelas, atau kalau ada jam kosong, saya manfaatkan untuk membaca di perpus. Banyak buku-buku cerita rakyat seperti: cerita Bawang Putih dan Bawang Merah, Legenda Rawa Pening, Malin Kundang, Tangkuban Parahu, Legenda Banyuwangi. Ada juga cerita kepahlawanan seperti: Hikayat Hang Tuah, Untung Suropati, Gajahmada, dan masih banyak lagi.

INTERVIEWER

Beri tahu kami di mana tempat paling menyenangkan untuk anda membaca buku favorit—yang barangkali tak pernah kami duga sebelumnya? Mungkin di bawah selimut, atau di meja dapur, di toilet, di pantai yang dipenuhi sinar matahari atau duduk di bangku taman? Membenamkan diri Anda dalam buku yang bagus di kereta atau bus ke tempat kerja di mana anda mendapat cara bagus mengangkut pikiran anda ke “tempat lain”? Ceritakan pada kami bagaimana hal itu sangat menyenangkan…

SURAJI

Saya termasuk orang yang bisa baca di mana saja dan kapan saja. Tapi selama yang pernah saya alami, saya merasakan paling nikmat membaca buku itu sewaktu kecil di sawah. Biasanya kalau musim kemarau, tak ada tanaman di sawah-sawah kampung kami. Hamparan sawah dibiarkan membera. Saat itulah, biasanya di sore hari kami menggiring sapi-sapi piaraan kami ke sawah untuk makan rerumputan. Kami yang masih anak-anak menunggui gembalaan di bawah pohon atau di balik semak-semak, hingga matahari tenggelam dan mengajak pulang sapi-sapi ke kandang. Saya biasanya menyelipkan buku pinjaman dari sekolah, di celana, untuk dibaca sambil menunggu sapi-sapi itu kenyang.

Jika musim penghujan, anak-anak di kampung kami biasanya menyabit rumput di pematang-pematang sawah, atau agak jauhan lagi ke hutan-hutan jati terdekat, tempat rumput-rumput itu tumbuh bebas, lalu kami memasukkannya ke keranjang untuk di bawa pulang. Saya pun biasanya membawa buku di sawah atau hutan, meskipun hanya sempat membacanya beberapa halaman.

INTERVIEWER

Satu buku yang mengubah hidup Anda? Beritahu kami kenapa? dan ceritakan bagaimana hal itu terjadi?

SURAJI

Buku yang mengubah hidup saya, salah satunya adalah buku yang berjudul “Menulis itu Gampang” karangan Arswendo Atmowiloto. Saya membacanya ketika saya sudah usia SMP tahun 1991, juga saya baca waktu di sawah. Buku itu tentang kiat-kiat membuat karangan yang dikemas dalam model tanya-jawab. Buku ini yang menggugah saya untuk berani belajar menulis, mengeksplorasi ide-ide, berimajinasi, dan berpikir bebas. Setelah membacanya saya mulai membuat catatan harian, menuliskan pengalaman, dan memberanikan diri untuk ikut lomba membuat karangan di sekolah, dan juara. Membaca buku itu semakin membuat asyik lagi untuk membaca buku-buku yang lebih tebal; novel atau roman seperti “Siti Nurbaya” dan “Salah Asuhan”. Saya juga jadi gemar memburu majalah-majalah loakan untuk mengenal model tulisan bentuk laporan atau berita. Dari dulu sampai sekarang, di kampung kami belum pernah masuk koran atau majalah. Saya biasanya menabung untuk beli majalah atau tabloid bekas, ketika ada kesempatan pergi ke kota. Majalah seperti Tempo dan Intisari saya dapatkan di warung kertas bekas, yang biasanya dipakai untuk bungkus belanjaan bumbu dapur di pasar, dan itu dijual kiloan. Biasanya majalah-majalah yang sudah tahunan lalu terbitnya. Tapi saya merasa dapat informasi banyak. Jadi buku Arswendo ini membuat saya lebih banyak mencintai buku.

INTERVIEWER

Menurut Anda 5 buku sastra apa saja yang wajib dibaca setiap orang indonesia? Kenapa?

SURAJI

Naskah epik Bugis, “La Galigo”, ini termasuk sastra kuno yang layak kita kenal. Naskah ini penting untuk dibaca, agar kita juga mengenali mitologi yang berkembang di masyarakat lokal Nusantara sebagai sumber pengetahuan dan peradaban. Jadi, sumber pengetahuan tidak hanya science yang bersumber akal saja, tapi juga rasa. Seperti di Barat, Yunani itu juga mengenal mitologi tentang dewa-dewa yang turut mempengaruhi lahirnya pengetahuan-pengetahuan baru.

“Arus Balik” karya Pramoedya Ananta Toer. Novel ini sangat kuat dalam membangkitkan imajinasi tentang manusia dalam peradaban maritim yang terbuka, egaliter, mendukung kemajuan, dan tidak mudah ditaklukkan. Kita sekarang ini perlu membangun mental bangsa maritim seperti itu.

Novel “Harimau-harimau” karya Mochtar Lubis, mewakili karya sastra dengan tema kebebasan, kemerdekaan, dan keberanian. Novel ini perlu dibaca bagi anak muda, supaya tidak gampang takut atau tunduk karena tekanan situasi.

Novel karya AA. Navis, “Robohnya Surau Kami”. Novel ini sangat sarkastik tapi elegan, sangat kuat melakukan kritik sosial terhadap pandangan keagamaan yang mendukung kemapanan dan melanggengkan penindasan atau ketidak-adilan. Penting untuk dibaca bagi orang Indonesia, yang kebanyakan menganut agama, agar nilai-nilai universal agama seperti kemanusiaan, kesetaraan, dan keadilan tidak semakin tergerus oleh sistem sosial yang koruptif dan manipulatif.

Novel “Ronggeng Dukuh Paruk” karya Ahmad Tohari. Novel ini menampilkan sisi humanisme dari masyarakat Indonesia, dengan setting masyarakat pedesaan. Latar cerita dalam novel adalah prahara konflik yang disebabkan oleh pergolakan politik setengah abad yang lalu, yang memakan korban jutaan manusia tidak berdosa. Novel ini mengajak kita kembali merenung, bahwa di atas politik masih ada kemanusiaan.

INTERVIEWER

Bisakah anda ceritakan 3 buku paling favorit sepanjang hidup anda, bisa berupa buku fiksi atau non fiksi dan beri kami alasannya?

SURAJI

Buku berjudul “Waras di Zaman Edan” karangan Mas Supriyanto (Prie GS). Saya membacanya dengan penuh perenungan sambil tersenyum-senyum. Ini buku kumpulan kolom, setiap kolom biasanya mengangkat tema hal-hal yang sepele, remeh-temeh, tapi renungannya dalam. Dan di setiap akhir tulisan kita tersenyum puas karena mendapatkan pencerahan. Buku ini membantu mengurai keruwetan dan kerumitan yang diciptakan sendiri oleh manusia akibat cenderung menganut rutinitas tertentu, atau pola pikir tertentu yang membelenggu.

Novel “Crime and Punishment” karya Vyodor Dostoyevski, sudah diterjemahkan penerbit Obor dengan Judul “Kejahatan dan Hukuman”. Buku ini sangat kuat pesan sosialnya, bahwa kemiskinan atau kesenjangan ekonomi yang sangat lebar dapat menyuburkan tindak kejahatan atau situasi anomali dalam masyarakat. Cerita ini mengetengahkan dilema antara penegakan hukum, moralitas, dan kemanusiaan dalam meghadapi situasi kejahatan akibat kemiskinan akut. Novel ini merupakan kombinasi yang kokoh antara jenis novel yang menyelami sisi kejiwaan (psikologis) dan jenis novel tentang perburuan seorang kriminal (detektif).

Buku kumpulan esai-esainya Gus Dur yang berjudul “Islamku, Islam Anda, Islam Kita”. Buku ini sering saya buka, dan saya baca bagian-bagian yang saya pilih. Banyak topik tentang demokrasi, dan keagamaan diulas. Ulasan Gus Dur membantu mencairkan ketegangan hubungan antara agama dan negara. Intinya, Islam sebagai agama yang dipeluk oleh mayoritas warga Indonesia bukan hanya kompatibel terhadap demokrasi, namun prinsip demokrasi itu sendiri merupakan bagian dari ajaran agama. Tema-tema yang pernah ditulis Gus Dur dalam buku ini masih sangat kuat relevansinya dan tetap aktual.

INTERVIEWER

Misalnya Anda diwajibkan menulis minimal 1 buku selama hidup, buku tentang apa yang ingin anda tulis? dan coba beri tahu kami apa judul yang akan Anda berikan untuk buku tersebut? Hal itu pasti akan terdengar menyenangkan dan barangkali memang anda akan memulai menulisnya!

SURAJI

Saya akan menulis tentang kampung tempat saya dilahirkan. Kampung ini termasuk prototipe desa yang miskin, masyarakatnya hidup bercocok tanam di lahan tadah hujan, dan itu satu-satunya sumber penghasilan utama. Kampung yang susah air. Ibarat penduduk yang tinggal hanya berjuang untuk bertahan hidup sambil menunggu usia tua atau datangnya kematian. Layaknya masyarakat kampung, hubungan kekerabatan masih dijaga, masih mengamalkan ritual-ritual slametan dan kenduri. Tantangan yang dihadapi sekarang adalah degradasi lingkungan pertanian dan makin bertambahnya penduduk. Motivasi menulis buku ini hanya untuk memotret dan mendokumentasikan perikehidupannya saja agar jadi pengetahuan generasi baru nanti. Saya akan menulis layaknya sebuah laporan antropologi atau etnografi yang melihat perubahan budaya masyarakatnya. Saya akan kasih judul buku itu: “Yang Beranjak dan Bertahan” Dari judul buku ini saya ingin menggambarkan bahwa ada perubahan di kampung saya, baik lambat atau cepat, tapi juga ada yang seperti tidak berubah atau bertahan dalam kurun waktu yang lama.

INTERVIEWER

Bagaimana sebaiknya indonesia dalam hal ini khususnya pemerintah, juga kita dan masyarakat lain, berbuat dan hadir untuk mengatasi ‘krisis’ literasi di indonesia?

SURAJI

Di setiap kampung musti ada ruang atau tempat bagi anak-anak untuk membaca dan berdiskusi, belajar menulis dan mengembangkan nalar kritis. Idealnya ada perpustakaan di kelurahan-kelurahan yang itu bisa diakses oleh warga, petani bisa berkumpul mengembangkan pengetahuannya melalui sumber-sumber literatur buku. Di taman-taman kota bagus sekali kalau ada tempat nongkrong buat remaja sekaligus ada perpustakaannya. Di sekolah-sekolah, siswa-siswi difasilitasi untuk membentuk dan mengembangkan klub membaca (reading club). Tersedia buku-buku di kedai dan warung-warung. Perlu menciptakan budaya baca dan menulis dari mulai lingkungan keluarga. Membaca itu termasuk ibadah, sedangkan menulis adalah sedekah. (*)

SURAJI Lahir di Rembang, Agustus 1980. Minat di bidang jurnalisme dan sosial keagamaan. Sekarang aktif di komunitas Jaringan Gusdurian. Ia juga Program Manager di Yayasan Bani KH. Abdurrahman Wahid (YBAW). Menyukai kopi dan wayang kulit.

__________________________________________________________________________________________________________________________

| chief editor: sabiq carebesth | editor bahasa: marlina sophiana | galeribukujakarta@gmail.com | #MencintaiBuku

 

Continue Reading

Cerpen

Valentin Rasputin: Pelajaran Bahasa Perancis

mm

Published

on

Kejadian ini berlangsung pada tahun 1948. Perang[1] belum lama usai, orang-orang ketika itu hidup dengan penuh kesulitan dan kelaparan.

Pada  tahun itu saya pergi dari  desa ke kota untuk melanjutkan pendidikan, lantaran sekolah di desa kami hanya sampai kelas 4.[2]

Di kota saya masuk ke kelas 5. Saya belajar dengan begitu baiknya, di semua mata pelajaran saya memperoleh nilai pyatyorka,[3] kecuali bahasa Perancis.

Dengan bahasa Perancis persoalan yang terjadi pada saya adalah karena pelafalan yang buruk. Untuk membenarkan pelafalan itu, Lidia Mikhailovna, guru bahasa Perancis, kerap menjelaskan, di manakah harusnya menempatkan lidah untuk mendapatkan bunyi yang benar. Tetapi semua kelihatannya sia-sia, lidah saya tidak mematuhi saya. Dan ada sedih yang lain. Ketika saya pulang dari sekolah dan tinggal sendirian, saya berpikiran mengenai rumah di desa. Saya merindukan ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan saya, juga kawan-kawan. Saya sangatlah kurus, dan ibu, ketika datang melihat, dengan penuh kesulitan mengenali saya.

Akan tetapi saya kurus bukan hanya lantaran rindu kepada rumah. Saya pada sepanjang waktu merasa kelaparan. Ibu kadang-kadang mengirimkan roti dan kentang lewat orang-orang, yang pergi ke kota, tetapi itu tidaklah banyak. Dan saya tidak mampu meminta lebih kepada ibu, karena di rumah masih ada saudara laki-laki dan saudara perempuan saya. Kira-kira ada dua kali ibu mengirimkan kepada saya 50 kopek,[4] agar saya dapat membeli susu. Saya membeli susu di tetangga.

Dan pada suatu hari, pemuda sebelah, bernama Fedka[5] bertanya kepada saya:

“Kau main uang?”

“Apa? Main uang?”

“Ya, kalau kau punya uang, mari kita pergi untuk main.”

“Tidak, saya tak punya uang.”

“Ya, kalau begitu mari kita pergi untuk melihat, bagaimana mereka bermain.”

Kami pergi menuju ke sekolah. Di belakang sekolah semua anak-anak berdiri.

“Buat apa kau bawa dia?” seorang yang paling tua di antara kami bertanya kepada Fedka.

“Tidak apa-apa, Vadik,[6] biarkan dia melihat, dia orang kita sendiri,” jawab Fedka.

“Kau akan main?” tanya Vadik kepada saya.

“Saya tidak punya uang.”

“Baiklah, kalau begitu kau lihatlah, jangan bilang kepada siapapun juga, kalau kami main di sini.”

Lebih jauh lagi tidak ada yang memperhatikan saya dan saya mulai melihat. Memahami permainan tersebut tidaklah sukar. Anak-anak menggambar kuadrat[7]di atas tanah yang tidak begitu besar dan meletakkan uang di dalam kuadrat, setiap orang 10 kopek. Kemudian mereka menjauh kira-kira dua meter dan mulai melemparkan koin. Kalau koin jatuh di dalam kuadrat, maka orang yang melempar tersebut mengambil semua, yang ada di dalam kuadrat.

Kelihatannya bagi saya, jika saya ikut main, saya juga akan mampu memenangkannya. Dan demikianlah ketika ibu mengirimkan 50 kopek kepada saya untuk kali ketiga, saya tidak pergi untuk membeli susu. Saya pergi untuk ikut bermain. Mula-mulanya saya kalah 30 kopek, kemudian menang 20 kopek, kemudian menang lagi 50 kopek. Hari tampak sudah malam, saya ingin pulang, tetapi Vadik berkata:

“Main!”

Dia melemparkan koin dan koin tersebut agak tidak sampai ke dalam kuadrat. Dan saya melihat bagaimana Vadik mendorong koin tersebut.

“Kau mendorong koinnya!” kata saya.

“Apa? Coba, kau ulangi!” teriaknya.

“Kau mendorong koinnya!”

Vadik memukul saya. Saya pun terjatuh dan dari hidung saya keluar darah.

“Kau mendorongnya, kau mendorongnya!”

Vadik memukul saya dan saya ketika itu tidak menangis. Kemudian dia meninggalkan saya sendirian. Dengan susah payah saya bangun dan pulang ke rumah.

Di pagi hari saya dengan rasa khawatir melihat diri sendiri di  dalam cermin: hidung jadi membesar, di bawah mata kiri terlihat lebam kebiru-biruan.

“Hari ini di kelas kita ada yang terluka,” kata Lidia Mikhailovna, ketika saya masuk ke dalam kelas. “Apakah yang terjadi?”

“Tidak ada yang terjadi,” jawab saya.

“Hah, tidak ada yang terjadi!” teriak Fedka secara tiba-tiba. “Kemaren dia dipukul Vadik. Mereka main uang!”

Saya tidak tahu, apa yang harus dikatakan. Kami semua tahu dengan jelas, bahwa karena main uang, orang bisa dikeluarkan dari sekolah dan Fedka mengatakan semuanya kepada Lidia Mikhailovna!

“Saya tidak bertanya kepadamu, tetapi jika kau ingin menceritakan mengenai sesuatu, mendekatlah ke papan tulis dan ceritakanlah suatu teks pelajaran.” Lidia Mikhailovna menghentikan kata-kata Fedka. Dan kepada saya, dia berkata: “Kau tunggulah setelah mata pelajaran.”

Setelah mata pelajaran Lidia Mikhailovna menghampiri saya.

“Itu benar, bahwa kau main uang?” tanyanya.

“Benar.”

“Dan bagaimana, kau menang atau kalah?”

“Menang.”

“Berapakah?”

“40 kopek.”

“Dan apa yang akan kau lakukan dengan uang itu?”

“Saya akan membeli susu.”

“Susu?” Lidia Mikhailovna dengan penuh perhatian memandangi saya. “Tetapi tetap saja tidak boleh bermain uang. Kau tahu mengapa? Kita mesti belajar bahasa Perancis. Datanglah ke rumah saya nanti malam,” katanya mengakhiri percakapan.

Begitulah pelajaran bahasa Perancis dimulai untuk saya. Hampir setiap malam saya datang ke rumah Lidia Mikhailovna untuk belajar. Dan setelah belajar, dia mengundang saya untuk makan malam. Tetapi saya seketika itu juga bangun, berkata, bahwa saya tidaklah lapar dan dengan sesegeranya saya berlari pulang. Begitulah berulang beberapa kali, dan kemudian Lidia Mikhailovna berhenti mengundang saya untuk makan.

Pada suatu hari saya diberitahu untuk datang ke sekolah mengambil bingkisan. Saya berpikir, bahwa ibu sekali lagi mengirimkan saya kentang melalui seseorang, tetapi di dalam bingkisan tersebut terdapat makaroni. Makaroni! Di manakah ibu membeli makaroni? Di desa kami makaroni tidak pernah dijual. Surat di dalam bingkisan juga tidak ada. Jika ibu yang mengirimkan bingkisan, maka ibu pasti akan menggeletakkan surat di dalamnya dan di  dalam surat tersebut ibu akan mengisahkan, dari mana kekayaan tersebut bermuasal. Artinya, ini bukanlah ibu. Saya mengambil bingkisan tersebut dan menuju kepada Lidia Mikhailovna.

“Apakah yang  kau bawa itu? Untuk apa?” tanyanya, manakala dia melihat bingkisan.

“Ibu guru yang melakukan ini, ibulah yang mengirimkan ini kepada saya,” kata saya.

“Mengapa kau berpikir, bahwa sayalah yang melakukannya?’

“Karena di desa kami makaroni tidak ada, ibu harusnya  tahu itu.”

Dengan seketika Lidia Mikhailovna tertawa: “Ya, seharusnya lebih dulu saya tahu. Dan apakah yang kalian punya di desa?”

“Kentang.”

“Kami di Ukraina memiliki apel. Di sana sekarang banyak apel. Yah, baiklah, ambillah makaroni tersebut. Kau harus banyak makan, agar bisa belajar.”

Tetapi saya sudah lari menjauh.

Di dalam perkara yang demikian, pelajaran belumlah berakhir, saya masih melanjutkan untuk pergi ke rumah Lidia Mikhailovna. Patutlah diceritakan, bahwa saya telah melakukan keberhasilan dan oleh karenanya saya belajar bahasa Perancis dengan senang hati. Mengenai bingkisan kami tidaklah lagi mengingatnya.

Suatu hari Lidia Mikhailovna berkata kepada saya: “Nah, bagaimana, kau tidak lagi bermain uang?”

“Tidak,” jawab saya.

“Dan bagaimanakah permainan tersebut? Ceritakanlah!”

“Buat ibu, untuk apakah?”

“Itu menarik! Di dalam masa kanak-kanak saya juga bermain-main. Ceritakanlah, tidak perlu takut!”

“Untuk apa saya takut!”

Saya pun menjelaskan aturan permainan kepada Lidia Mikhailovna.

“Mari kita bermain,” tiba-tiba dia menawarkan.

Saya tidak mempercayai pendengaran saya sendiri. “Ibu kan seorang guru!”

“Lantas apa? Guru – mahluk lainkah? Hanya jangan sampai direktur sekolah tahu, bahwa kita main. Nah, mari kita mulai, jika tidak tertarik, kita tidak akan main.”

“Baiklah,” kata saya dengan penuh keraguan.

Kami mulai main. Lidia Mikhailovna tidak beruntung, dan tiba-tiba saya jadi faham, bahwasanya  dia memang tidak ingin memenangkan! Dia sengaja membuang koin, agar koin tersebut sejauh-jauhnya jatuh dari titik tujuan.

“Sudahlah,” kata saya, “kalau caranya demikian saya tidak bermain. Untuk apa ibu justru mengalah?”

“Sama sekali tidak, lihatlah!” kata Lidia Mikhailovna dan dia melemparkan koin. Sekali lagi koin jatuh cukup jauh dan pada ketika itu juga saya melihat, bahwa Lidia Mikhailovna mendorong koin!

“Apa yang ibu lakukan?” teriak saya.

“Apa?”

“Buat apa ibu mendorong koinnya?”

“Tidak, koinnya memang tergeletak di sini,” dengan riang Lidia Mikhailovna menjawab.

Saya langsung tidak ingat, bahwa dia secara khusus memang mengalah pada saya. Saya memandang dengan hati-hati, agar dia tidak mengelabui saya.

Semenjak itu kami bermain hampir pada setiap sore. Sekali lagi saya memiliki uang dan sekali lagi saya membeli susu.

Akan tetapi pada suatu hari segalanya berakhir. Seperti biasanya, pada setiap sore kami bermain dan berbantahan dengan kencang.

“Apakah yang sedang terjadi di sini?” tiba-tiba saja kami mendengar suara yang berat. Di depan kami berdiri direktur sekolah.

“Saya pikir, Anda akan mengetuk pintu terlebih dulu sebelum masuk,” dengan perlahan Lidia Mikhailovna berkata.

“Saya sudah mengetuknya, tetapi tidak seorang pun yang menjawab. Apakah yang sedang terjadi di sini? Saya punya hak untuk mengetahui sebagai direktur sekolah.”

“Kami main uang,” dengan tenang Lidia Mikhailova menjelaskan.

“Anda main uang?…Dengan murid sendiri?!”

“Benar.”

“Anda tahu, saya…saya telah dua puluh tahun mengajar di sekolah, tetapi yang demikian ini…Ini perbuatan kriminal!”

“Selang tiga hari Lidia Mikhailovna pergi. Menjelang keberangkatannya dia berkata kepada saya: “Saya akan pergi ke Ukraina, ke tempat saya sendiri. Dan kau belajarlah dengan tenang. Tidak seorang pun yang akan mengeluarkanmu dari sekolah. Di sini sayalah yang bersalah. Belajarlah.”

Dia pun pergi dan saya tidak pernah melihatnya lagi.

Pada musim dingin, selepas waktu liburan, saya menerima bingkisan. Di dalamnya ada makaroni dan tiga buah apel merah yang besar-besar. Dulu kala saya hanya melihat apel di dalam gambar-gambar, tetapi sekarang saya langsung mengerti, beginilah apel-apel itu.

 

*Biografi Valentin Rasputin

Valentin Grigorevich Rasputin (15 Maret 1937-14 Maret 2015) lahir di desa Atalanka, Rusia dan wafat di Moskow, Rusia. Valentin Rasputin menamatkan Universitas Irkutsk pada tahun 1959 dan dalam beberapa tahun beliau bekerja di surat kabar di Irkutsk dan Krasnoyarsk. Buku pertamanya “The Edge Near The Sky” dipublikasikan tahun 1966 di Irkutsk dan “Man from This World” dikeluarkan tahun 1967 di Krasnoyarsk. Pada tahun yang sama “Money for Maria” dimuat di Angara No. 4 dan pada tahun 1968 “Money for Maria” diterbitkan sebagai buku terpisah di Moskow. Karya-karyanya yang lain: The Last Term (1970), Live and Remember (1974), Farewell to Matyora (1976), You Live and Love (1982), Ivan’s daughter, Ivan’s mother (2004).

Valentin Rasputin sangat dekat dikaitkan dengan gerakan kesusastraan Soviet Pasca Perang yang disebut dengan village prose atau rural prose. Karya village prose biasanya berfokus pada kesulitan kaum tani Soviet, pada gambaran ideal tentang kehidupan desa tradisional, dan secara implisit atau eksplisit mengkritik proyek modernisasi.

**Penerjemah Cerita Pendek ini diterjemahkan oleh Ladinata Jabarti, seorang penerjemah sastra Rusia khususnya sastra klasik Rusia. Ia telah menerjemahkan di antaranya karya-karya Alexander Pushkin, Anton Chekov, Leo Tolstoy dan penulis Rusia lainnya. Menyelesaikan Master Sastra Rusia di  Saint Petersburg State University, kini mengajar di Universitas Padjajaran. Dan salah satu Board of Directors Galeri Buku Jakarta.

 

[1] Великая Отечественная Война (Velikaya Otechestvennaya Voina) atau Great Patriotic War adalah perang  antara Rusia dan Republik-republik yang tergabung di dalam Uni Soviet (kecuali negara-negara Baltik, Georgia, Azerbaijan dan Ukraina) melawan invasi Jerman dengan aliansinya Hungaria, Italia, Rumania, Slovakia, Finlandia, dan Kroasia. Perang berlangsung dari tanggal 22 Juni 1941 sampai tanggal 9 Mei 1945

[2] Primary general education merupakan tingkatan pertama dan berlangsung  selama 4 tahun, basic general education adalah tingkatan kedua berlangsung selama 5 tahun, dari kelas 5 sampai kelas  9, dan secondary (complete) general education yang merupakan tingkatan terakhir, berlangsung selama 2 tahun, dari kelas 10 sampai kelas 11

[3] Sistem penilaian di dalam pendidikan Rusia: единица yedinitsa = 1, двойка dvoika = 2, тройка troika = 3, четвёркa chetvorka = 4 dan пятёрка pyatyorka = 5

[4] Satuan terkecil mata uang Rusia

[5] Berasal dari nama Fyodor

[6] Beberapa sumber  menyebutkan berasal dari nama Vadim

[7] Persegi

Continue Reading

Trending