Jakarta+
Vel ipsam temporibus nisi eos unde rerum vitae
19 July 2025
Sebenarnya, puisi dapat membantu para penulis dari semua lini, baik seorang penulis novel atau penulis non-fiksi untuk meningkatkan keahlian mereka.
Seorang copywriter periklanan
seringkali diberitahu bahwa mereka butuh bersentuhan dengan puisi.
Bagaimanapun, kemampuan untuk mengekspresikan kesan-kesan dan emosi-emosi
kompleks dengan hanya beberapa baris adalah hal yang menjadikan seorang copywriter hebat.
Sebenarnya, puisi
dapat membantu para penulis dari semua lini, baik seorang penulis novel atau
penulis non-fiksi untuk meningkatkan keahlian mereka. Kemampuan untuk memainkan
musik kepada pembaca melalui kata-kata atau menimbulkan beberapa kesan tak
terlupakan adalah hal yang semua penulis cita-citakan untuk dicapai. iUniverse memeriksa
tentang bagaimana kamu dapat menggunakan puisi untuk meningkatkan tulisanmu.[1]
Tentu saja tempat
terbaik untuk memulai mengembangkan keahlian menulismu adalah dengan membaca
sajak-sajak, dan sebanyak mungkin dari mereka. Puisi mempunyai keuntungan
dengan bentuk yang pendek, yang mana mengizinkanmu untuk bereksperimen dengan
banyak gaya penulisan yang berbeda-beda. Cobalah baca beberapa dan lihat
persaan-perasaan dan kesan-kesan apa yang menginspirasimu. Jika mereka
meninggalkan sebuah jejak pada dirimu, tanyakan pada dirimu sendiri mengapa,
apakah puisi ini yang memengaruhimu demikian?
Untuk permulaan,
cobalah membaca “The Raven” karya Edgar Alan Poe, “The Diameter of the Bomb”
karya Yehuda Amichai, dan “Hope is the Thing of Feathers” karya Emily
Dickinson.
Penyair melukis
gambar melalui kata-kata, tetapi lukisan itu tidak terbatas pada penggambaran
visual; penyair harus menstimulasi indera penglihatan kita, penciuman,
pendengaran, dan indera perasa kita sebagaimana sebuah lukisan dapat
melakukannya. Sang penyair menjadi semacam kamera yang menghasilkan
gambar-gambar mengejutkan, segar yang menetap terus-menerus di dalam mata
pikiran. Baris ini, sebagai contoh, menawarkan kesan yang kuat: “Cahaya
matahari mempernis pohon oak menjadi merah tua.”
Cobalah
bermain-main dengan gambaran-gambaran dalam tulisanmu sendiri, atau berlatihlah
menulis satu dua sajak. Lihat kesan-kesan apa yang dapat kamu timbulkan, dan
cobalah memahami mengapa perumpamaan berhasil menstimulasi indera-indera.
Puisi juga
mengajarkan kita bahwa lebih baik menggunakan sebuah kata konkrit untuk
menggantikan kata yang abstrak. Sebuah contoh untuk kata yang konkrit adalah
“hangat”. Ia konkrit karena kamu bisa merasakan kehangatan dengan
indera-inderamu-ia adalah hal yang nyata. Sebuah term yang abstrak misalnya
“kebebasan” atau “kebahagiaan”, karena kamu tidak bisa melihat atau
menyentuhnya.
Menggunakan
kata-kata abstrak dalam puisi melompati indera-indera pembaca, berarti mereka
tidak merasakan idemu secara utuh. Sebagai contoh: “dia merasa bahagia,” tidak
sekuat seperti “pipi merah tomatnya berseri hangat.” Gambaran tentang sebuah
tomat, mungkin terlihat aneh, akan bertahan lebih lama di ingatan pembaca
karena ia konkrit.
Gaya penulisan
apapun yang bertumpu pada hal-hal klise kehilangan dampaknya. Frase-frase yang
digunakan secara berlebihan menyerupai roti basi-tidak ada orang yang ingin
memakannya. Dia mungkin buta seperti kelelawar, atau sesibuk lebah, akan tetapi
hal-hal klise itu compang-camping dan usang dan kehilangan semua kekuatannya.
Sebaliknya, kamu
dapat mengkonversi hal-hal klisemu. Sebagai contoh, coba daftarkan semua
kata-kata yang kamu asosiasikan dengan keadaan sibuk dan ciptakan sebuah frase
baru. Contohnya; “Sibuk seperti seorang perempuan tua yang sedang merajut.”
Menemukan frase-frase yang orisinil akan membangkitkan tulisanmu dengan hidup
yang baru.
Kekuatan puisi
terletak pada kemampuan sang penyair untuk melihat objek-objek, tempat-tempat,
atau ide-ide biasa dengan cara yang sama sekali baru. Kamu mungkin melihat
seorang anak kecil berdiri dalam antrian dengan ibunya, tetapi seorang penyair
akan membayangkan seorang anak laki-laki melukis dinding dengan menggunakan cat
kuku dan ibunya berjuang untuk tidak marah. Cobalah saja melihat hal-hal biasa
dan berusaha untuk melihatnya dengan cara yang sama sekali baru, dan tulisanmu
akan menyukaimu untuk itu.
Penyair munyukai
tema-tema, dan tulisanmu sendiri harus melibatkannya juga. Meskipun begitu,
banyak penulis-penulis baru mendapati bahwa sulit untuk berpegang dengan
tema-tema. Sebuah tema bukan hanya ide. Kamu tidak bisa mengatakan bahwa bukumu
mencakup tema perang karena itu adalah sebuah topik, bukan tema. Kamu dapat
mendefinisikan tema sebagai sebuah ide dengan sebuah opini yang menempel. Oleh
karena itu, temamu mungkin; “meskipun kita mengklaim sebagai orang-orang yang
mencintai kedamaian, perang adalah sebuah aspek alami dari umat manusia.” Ini
adalah opini sang penyair.
Tentu saja, masih
ada jauh lebih banyak hal terkait puisi daripada hal-hal ini. Saran terbaik
untuk membaca sajak adalah membaca setidaknya satu dalam sehari dan
menginternalisasi kesan-kesannya, ritmenya, dan perasaan-perasaannya. Pelajari
hal-hal seperti metafora, kiasan, dan perangkat-perangkat literatur lain yang
dipergunakan oleh penyair. Sekali kamu berpegangan pada puisi, keahlian
menulismu pasti sudah berkembang.
19 July 2025
06 October 2025
27 November 2025
06 January 2026
09 October 2025