Connect with us

Cerpen

Api Diana

mm

Published

on

Aku ingin bercinta sampai mati, tetapi acara bedah buku itu sudah berakhir. Diana dan aku harus bergegas, dan kepada tuan rumah yang juga sekaligus pembicara utama di bedah buku kali ini, kukatakan dengan wajah tanpa dosa: “Sering-seringlah menerbitkan karya dan undang aku seperti malam ini.”

Oleh Ken Hanggara *)

Aku hanya bercanda. Penulis yang juga sahabatku itu pacar Diana, dan aku bukan jenis pemain yang suka menantang bahaya. Berhubungan intim dengan pacar sahabatmu pada waktu bersamaan, di bangunan yang seatap dengan suatu acara penting yang mana sahabatmu itu menjadi rajanya, adalah kekurang-ajaran yang pantas mendapat ganjaran. Aku tidak berharap ganjaran berat kelak menimpaku.

Orang bilang aku sinting, tetapi Diana diam-diam menggilai kesintinganku. Sudah berkali-kali kumohon kepadanya agar berhenti merayuku dan berhenti memesan kamar hotel diam-diam untuk kami berdua.

Diana bilang, “Dia tidak seistimewa kamu.”

Pertama kali bertemu Diana, kukira gadis ini bahagia. Sahabatku pengarang yang sukses dengan buku-buku fiksi yang luar biasa. Dia layak mendapat penghargaan dan uang dan ketenaran. Dia juga pantas menggaet perempuan seindah Diana, dan keduanya terlihat bahagia dengan semua yang mereka miliki.

Aku yang bukan siapa-siapa menyadari itu.

Pada satu kesempatan aku turut datang merayakan kemenangan sahabatku di jagat literasi tanah air. Dia memang tidak pernah melupakan keberadaanku yang dulu sering membantu ketika sedang kesulitan. Aku dulu beruntung dengan bisnis rumah makanku, dan sahabatku mendapat manfaat dari bisnis itu sebelum suatu telepon datang untuknya, mengabarkan jika karyanya yang tempo hari dikirim ke sebuah penerbit diterima untuk diterbitkan. Sejak itu sahabatku bukan lagi penulis muda yang miskin.

Roda berputar. Akulah yang kemudian sering kena masalah. Bisnisku naik-turun dan lama-lama bangkrut. Utang menumpuk sampai kujual beberapa aset, dan kini yang tersisa hanya rumah kecil dan pekerjaan yang tak kuinginkan. Aku tidak perlu menyebut pekerjaan itu. Aku malu. Jelas aku tak seberuntung sahabatku.

Dalam undangan-undangan bedah buku atau sekadar bincang sastra yang diadakan sahabatku, atau di mana dia menjadi narasumbernya, aku selalu melihat sosok lain di panggungnya. Aku melihat perwujudan manusia sukses dengan masa depan cerah. Jauh berbeda dariku yang merana dengan pakaian yang sering kali sengaja tak kucuci sampai seminggu lebih demi menghemat deterjen.

Pertemuanku dengan Diana dimulai di salah satu pesta, dan itu terjadi secara tidak sengaja. Diana tidak benar-benar lebur ke acara-acara yang menjadikan pacarnya raja dalam semalam. Itu karena dia sibuk mengurus bisnisnya dan dia juga masih kuliah. Ketika Diana benar-benar ikut dan aku juga kebetulan di sana, sahabatku mengenalkan gadis itu sebagai masa depan keduanya.

“Diana masa depan keduaku setelah semua yang kucapai hari ini,” katanya waktu itu.

Aku ingat kalimat tersebut. Suatu kalimat yang seorang sahabat dari masa kecil katakan, di acara yang membawa nama besarnya, sementara tidak jauh dari kami berdiri perempuan anggun yang mirip sebagai mimpi di siang bolong. Aku benar-benar merasa ditarik ke alam mimpi, tetapi tidak diizinkan masuk, sebab tiket yang disediakan untuk istana masa depan hanya tersedia untuk sahabatku dan gadis bernama Diana itu.

Aku tidak berpikir ingin merebut Diana atau apa. Sejak awal pikiranku cuma satu: betapa beruntung sahabatku. Kurasa dia layak mendapat semuanya. Tapi, Diana datang padaku suatu sore. Dia bilang, dia bisa mencari info soal di mana tempat tinggalku atau di mana aku bekerja, meski saat kami berjabat tangan dulu, aku tidak menjabarkan siapa diriku dengan mendetail.

Aku tidak tahu kenapa Diana datang ke tempatku, tetapi mendadak aku ditarik ke celah antara sepasang kekasih ini. Aku diajak bermain api oleh Diana dalam percintaan yang membuat jantungku nyaris copot setiap mendapat telepon dari sahabatku.

Diana cantik. Setiap lelaki tidak akan tahan oleh godaan yang dia lakukan. Tidak perlu keahlian khusus untuknya demi melakukan dosa semacam itu. Ia jauh lebih cantik dari bayangan bidadari yang dapat kuimajinasikan seumur hidupku.

Awalnya aku merasa sangat berdosa. Terkadang diam-diam kupukul pipiku sendiri, lalu kukecap darah dari bagian dalam mulutku, sehingga asinnya mengingatkanku pada masa lalu sahabatku yang belum sukses. Aku sering memandangi wajahku lama-lama di depan cermin sebelum tidur. Di sana kubayangkan akulah yang berdiri dengan gagah di podium tempat sahabatku selama ini menyapa para pengagum karyanya.

“Ya, doakan saja karya terbaru saya segera terbit,” katanya selalu, ketika menutup perjumpaan di setiap acara.

Kubayangkan, bibirku yang tebal yang mengucap kalimat basi macam itu di depan penonton. Sayangnya, aku bukan pengarang sukses. Aku hanya lelaki biasa yang sedang kehilangan masa jayanya saat usiaku masih terbilang muda. Betapa menyedihkan. Aku bahkan tak pernah sekalipun bercita-cita menjadi pengarang.

“Tidak ada yang menyedihkan, Dakir,” sangkal Diana. “Kamu masih bisa membuat kisah suksesmu. Dari nol. Tak ada yang tak mungkin. Kamu mampu, kalau kamu mau. Aku bisa bantu, dan pacarku tidak keberatan membantumu, karena dia pernah bercerita kalau dulu kamulah satu-satunya yang membantunya.”

Aku tak benar-benar yakin hidupku akan membaik setelah perselingkuhan dengan pacar sahabatku berlangsung dan justru kami nikmati, karena tidak ketahuan dan sebab tak ada yang curiga. Pertemuan-pertemuan kami tidak terendus karena saking sibuknya sahabatku, dan jarangnya jadwal mereka bertemu. Aku sendiri bisa menggunakan waktu luangku yang banyak.

Saat perselingkuhan ini kupikir akan menjadi penyakit akut yang tak tersembuhkan, aku bayangkan Diana milikku seutuhnya. Aku bayangkan Diana tidak punya hubungan dengan sahabatku. Aku bayangkan kelak akulah yang menjadi suami gadis itu. Bahkan, perlahan dan pasti, beberapa teman kerjaku tahu permainan ini. Tentu aku tidak bodoh. Tidak ada di antara mereka yang mengenal sahabatku, tetapi kemudian oleh tiap orang di tempat kerja, aku disebut-sebut sebagai orang tersinting yang pernah ada.

Itu bukan sekadar julukan. Aku mungkin sinting saat menerima rayuan Diana demi membuat sensasi tersendiri di antara kami. Maksudku, dalam acara bedah buku waktu itu; di bangunan yang sama di mana acara sahabatku dimulai, kami malah asyik bercinta di antara rak-rak buku. Semua itu terjadi begitu saja.

Hanya saja, rasa takut tetap ada di dadaku. Diana tidak pernah terlihat benar-benar takut, tetapi dia bilang, “Setiap orang punya rasa takut. Aku juga takut kalau sampai dia tahu. Bagaimana hubungan kalian? Bagaimana rencana pernikahanku? Di sini, sekarang, aku merasa sahabatmu mengintip, padahal kamu dengar sendiri dia sedang berbicara di ruang tengah.”

Biasanya, selesai kami berbuat gila di tempat-tempat tak terduga, yang berjarak tak terlalu jauh dari sahabatku, aku langsung menjauh dari Diana dan kadang berpikir amat lama tentang bagaimana semua ini berakhir. Sahabatku, barangkali tetap berjaya dengan karyanya. Diana jadi istri yang baik, atau barangkali menolak semua yang mereka telah rencanakan? Kukira itu bisa terjadi. Diana mengaku tak bahagia dengan sahabatku.

Aku sendiri?

Bertahun-tahun setelah ini, yang muncul di pikiranku hanya satu: apa sahabatku itu masih menganggapku sahabat? Jawabannya tergantung dari apa dia tahu permainanku dan Diana atau tidak sama sekali. (*)

*) KEN HANGGARA lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, dan skenario FTV. Karyanya terbit di berbagai media. Bukunya: Museum Anomali (2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (2018).

Continue Reading
Advertisement

Cerpen

Pale Blue Eyes

mm

Published

on

Arini Rachmatika *)

Ketika pundaknya mulai terasa nyeri lagi, Yosan beringsut dan berbaring. Diletakannya sekaleng cincau dingin di kening dan dipejamkannya mata. Telapak kaki kanannya yang gatal mengusap-usap punggung kaki yang lain. Kelopak matanya berderak-derak, bilur air dari kaleng menelusup ke sana. Dia meraih ujung kaus dan diusapnya lelehan itu. Kaleng cincau diturunkan, dia tepejam lagi, lalu mulai menggumamkan sesuatu yang rupanya sebuah lagu.

Kadang-kadang, dia berpikir ingin mendaftar kursus. Ingin sekali dia bisa bernyanyi. Selain mengisi kekosongan sesudah berkegiatan seharian, dia ingin bisa melakukannya buat sekadar menghibur diri sendiri. Walau tidak tahu apa-apa soal musik, Yosan ingin bisa mengecap kecutnya Pale Blue Eyes di lidah. Yang kian asam waktu tidak mampu menujukan liriknya pada seseorang. Lagu itu, pertama kali diperdengarkan oleh tetangga di sebelah kamarnya yang telah pindah. Seterusnya Yosan lah yang gantian memutarnya.

Jam sebelas malam. Jendela dibuka meski udara kering di luar. Kamar-kamar di sebelahnya tak lagi berpenghuni. Sunyi sekali, dia bisa dengan jelas mendengar dengus napas sendiri. Tidak hujan, tidak berangin, dan tidak ada yang bisa dilakukan, sudah 4 hari teleponnya mati. Terjadi secara tiba-tiba, ketika seperti biasa ibu jarinya tidak henti-henti meluncut di atas layar.

Dia terlalu keras berusaha agar pikirannya selalu diisi sesuatu. Tapi tidak oleh buku-buku. Meski berjejalan di rak, mereka tidak lagi diindahkannya. Dia sudah berhenti membaca sebab tidak seorangpun bisa diajak bicara tentang itu. Melakukannya sama saja seperti mengenang kemudahan masa kecil, menyenangkan tapi cuma buang-buang waktu.

Belakangan, dia menghabiskan malam-malamnya dengan menonton serial TV di internet. Semua orang bisa diajak mengobrol soal itu. Kapanpun, bahkan selagi menonton filmnya. Dalam pandangan Yosan, layar komputer dan telepon tumpang tindih. Itu dilakukan sampai pening dan mengantuk. Jeda sedikit saja bisa membuatnya meringis. Dan sekarang telepon, internet, serta serialnya mati. Kelewat banyak jeda. Ombak itu mulai menyapu tepi jiwanya. Tukang servis di toko menjajikannya lusa. Yosan mengerang.

Saat seperti inilah yang Yosan takuti akan terjadi. Absennya distraksi membawa kembali perasaan itu dengan wujudnya yang nyata. Kehampaan sudah seabad lalu bersarang dalam dirinya. Rasanya seolah ada padang dalam diri setiap orang, dan miliknya sudah jadi jurang yang terus melebar. Seakan ke dalam diri sendiri, dia bisa jatuh kapan saja dan tertelan.

Meski begitu, dia menolak mengakui perasaan semacam itu. Menolak mengakui bahwa dirinya sudah ditinggalkan. Mereka yang sempat dekat menjauh akibat ketakutannya sendiri. Dia memang orang yang berupaya membuat percakapan, tapi jauh di dalam, dia takut kalau mereka jadi lebih dekat dan mengacaukan hidupnya. Takut kalau orang lain berkunjung ke tempatnya tinggal dan hapal kebiasaannya. Kalau seseorang mengorek inti dirinya dan menertawakannya.

Seekor kucing milik penyewa rumah merayap ke tempat sampah di depan kamar dan bertengkar dengan plastik, menimbulkan suara keresak yang berisik. Yosan mengutuk karena itu menjadikannya makin sulit tidur. Menjadikan rasa hampa makin kuat dan menguasainya. Kadang, di waktu lain, dia heran kenapa pernah berpikir buat bunuh diri.

Rupanya pikiran itu masih ada di sudut kepalanya. Memang tak tertahankan. Kiranya dia tidak ingin berumur panjang kalau hidup ialah kekosongan yang berlapis-lapis. Tapi tentu, waktunya bukan sekarang. Nanti pagi ada hari yang lain lagi buatnya menemui orang lain dan melupakan jurang itu.

Setelah menghabiskan cincaunya yang tidak lagi dingin, erangannya Yosan, dan dia bisa tertidur. Lampu kamar dibiarkan menyala. Di dinding ada kalender tahun lalu, kertas-kertas dengan daftar film yang harus dihabiskan, dan salinan lirik lagu Pale Blue Eyes. Di lantai, teronggok kaleng yang kopong bagai jiwanya. Manis yang tertinggal mengundang semut-semut hitam beredar, menyaru di rambutnya, lalu merambat ke leher, letak yang paling sering dia pikirkan buat memutus rasa hampa yang melahapnya dari dalam.

Kucing semalam kembali ke tempat sampah dan dengan ceroboh menenggelamkan diri dalam timbunan benda, dari kotak teh hingga helaian rambut. Si kucing mengeong marah dan amukannya membangunkan Yosan dari tidur yang pengap. Dia lega sekarang sudah pagi. Pundaknya sudah tidak begitu nyeri.

Dia bangun, meraih sampo di tas belanja, kemudian bergegas ke kamar mandi. Di dalam dicobanya menyanyikan sebuah lagu tapi kemudian menyerah di larik kedua. Keluar dari sana, dia mengeringkan rambut sebelum menyisirnya. Sebelum bersiap, mengunci pintu, lalu pergi. Sebelum sadar hari sudahlah Sabtu dan dia menggigit pundak kanannya sampai biru. (*)

__

Januari 2020

Continue Reading

Cerpen

Rumor Pembunuh Romantis

mm

Published

on

Oleh: Fahrul Rozi *)

Aku melihatnya berdiri di seberang dengan satu tangan memegang pisau. Dalam kegelapan wajahnya disapu lampu kendaraan dan itu membuat matanya silau dan segera tangan satunya menangkis. Aku duduk menghadap ke arahnya. Cahaya berpantulan di wajah pisau yang ia pegang, mengarah ke mataku, sekejap hilang, sebentar berkilat. Angin menggerakkan rambutnya ke kanan ke kiri, menyentuh muka dan matanya. Segera tangan satunya menyeka. Aku pura-pura tidak memperhatikannya, pura-pura membaca pesan di android. Taksi berhenti di depan. Aku mendongak. Ia masuk tanpa menyingkap ujung gaunnya sehingga ujung gaun merahnya tersangkut di pintu taksi. Sepanjang perjalanan ia tak menyadari hal itu. Tapi aku menyadari dan mengikutinya dari belakang.

Taksi memotong jalan ke kiri, aku membuntuti. Jalan sangat gelap dan banyak orang duduk-berdiri di pinggir jalan. Matanya memancarkan ketidak nyamanan, aku melewati mereka tanpa menoleh lalu mereka berdesis seperti ular kemudian tertawa berkelakar.

            Seseorang, entah siapa menepukku dari belakang. Aku terperanjat dan segera menoleh. Lelaki kurus bertelanjang perut dengan bau alkohol di mulutnya menyuruhku turun. “Turun sebentar bang,” aku mematikan motor dan mengikutinya dari belakang. Sedangkan lelaki dan perempuan yang ada di jalan itu terlihat senyam-senyum lalu tertawa meledak. Ada yang tidak beres. Aku dibawa ke satu ruangan kotor dan bau. Lampu bergelayutan di langit ruangan, cahayanya redup.

            “Duduklah!” perintahnya, dan aku menurut saja.

            “Apa yang kau lakukan di sini?” katanya.

            “Mengikuti Anda,”

            “Bodoh! Maksudku, ngapian kau lewat jalan sini? Emang gak ada jalan lain, Jakarta luas kali!” matanya melebar dengan kedua tangan menekan tatak meja kuat-kuat.

            “Loh, kau sendiri ngapain jegat aku di jalan? Apa itu pekerjaan kalian? Kalau iya mengapa taksi tadi tidak dijegat?” balasku menatap pria berlagak sombong. Ia menarik kursi putarnya, menaikkan kaki ke atas meja lalu menenggak wiski.

            “Kau pasti belum minum, minumlah agar kau tidak mabuk.” Katanya lebih halus sembari menjulurkan wiski.

            “Tidak. Cepat beritahu aku, apa kau kenal perempuan ini,” aku menunjukkan foto.

            Tiba-tiba wajahnya pucat, tangannya bergetar sampai botol wiski yang ia pegang jatuh. Bola matanya berbinar keras, bergerak-gerak seperti mau keluar. Ia ketakutan melihat foto Anjani. Mengapa?

            “Kau tahu perempuan ini?” tanyaku lagi lebih keras sambil mendekatkan ke wajahnya.

            “Ti-ti-d-dak. Jauhkan foto itu dariku,” ucapnya terbata-bata dengan bibir yang bergetar. Aku bertanya lagi dan mendekatkan foto tersebut.

            “Jauh-kan!” ia berteriak sambil berlari terbirit-birit keluar.

Aku keluar mengejarnya. Namun teman-temannya sudah merangkul pria itu dan mereka menatapku penuh kebencian. “Apa yang kau lakukan dengannya?” tanya temannya.

            “Aku tidak melakukan apa pun, ia begitu karena kumenunjukkan foto perempuan ini.” aku angkat foto Anjani.

            Tiba-tiba mereka berlaku seperti pria tadi. Pucat merambat ke wajah, seluruh badan bergetar dan tak dapat bergerak walau pun sepertinya mereka ingin sekali berlari.

            “Jauh-kan!”

            “Pergilah!”

            “Aku tidak mau lihat perempuan itu lagi!”

            Teriak mereka tumbang naik. Aku mundur perlahan meraih motor dan keluar dari jalan gelap dekat stasiun Jatinegara.

***

            Kecurigaanku bertambah setelah semalam melihat keanehan orang-orang di sana. Apa yang Anjani lakukan sampai mereka ketakutan begitu kuat. Benarkah kabar burung yang kudengar. Anjani, adikku tercinta menjadi pembunuh romantis di kota.

Awalnya aku tidak percaya, Anjani perempuan pendiam yang kukenal tiba-tiba menjadi pumbunuh di kota. Kabar burung tersebut menjalar sampai ke telinga Ibu dan Ayah. Mereka segera menyuruhku mencari Anjani di kota. mereka berpesan agar aku menyelamatkannya. Agar aku membawanya kembali ke rumah.

Anjani, ia pernah bercita-cita menjadi insyinyur di kota. Ia membuktikanya merantau ke Jakarta dengan sedikit bekal. Katanya, ia akan bekerja lalu kuliah, dan kemudian meraih cita-citanya.

Saat itu aku tiba di Jakarta tengah malam, dan melihat perempuan bergaun merah dengan rambut terurai berdiri di depan stasiun sambil memegang sebilah pisau. Aku bergidik melihatnya dan buru-buru menyingkir di depannya. Lalu mencari tempat yang terang dan memesan ojol.

Dalam perjalanan sopir ojol memperingatiku agar jangan keluar tengah malam. Perempuan cantik akan membunuhmu lalu akan mengambil harta bendamu dan kemudian mencium keningmu sebagai tanda, korban pembunuh romantis. Ia bilang, perempuan itu tidak akan membunuh tukang ojek. Ia hanya mencari laki-laki tampan berpakain rapi. Ia juga tidak segan membunuh seorang yang mengganggunya.

“Mengapa ia tidak membunuh tukang ojek?” tanyaku jengkel.

“Mungkin ia berpikir tukang ojek terlalu miskin,”

“Jadi tak apa kalau aku keluar dengan tampilan gembel kan?”

“Iya, asal jangan pakai minyak wangi,”

“Kenapa?”

“Ia akan mengejarmu lalu menikam pisau dapurnya,”

Ojol berhenti tepat di depan rumah beratap genting dengan sebuah pagar seng di samping. Aku membayar dan mengetuk pintu. Seorang memutar kunci dari dalam, dan pintu terbuka.

“Kukira perempuan itu. Cepatlah masuk.”

Juna temanku bercerita tentang perempuan cantik pembunuh misterius di Jakarta. Ia bersaksi melihat perempuan itu beraksi di pinggir rel. Ia menusukkan pisau ke jantung pria. Menusuk dua-tiga kali sampai dasi di dadanya memerah kemeja putihnya ternoda. Juna bilang, ia hampir berteriak karena tak kuasa menahan takut dan ingin berlari. Tapi untungnya perempuan itu tiak melihatnya.

“Apakah kau tahu namanya?”
            “Tidak ada orang yang berani bertanya.”

“Kenapa kita bahas perempuan itu, bukannya kau ke sini mencari adikmu?” tanya Juna kemudian.

“Aku mendengar kabar gak enak di kampung. Katanya, adikkulah perempuan cantik pembunuh itu.”

            Juna terperanjat matanya menatapku pelan seolah tidak percaya apa yang kukatakan barusan. Ia menenggak air di gelasnya. Menaruh gelas di atas meja dengan suara keras. “Aku yakin, itu bukan adikmu,”

***

            Setelah seminggu di Jakarta setelah aku menyelidiki tempat perempuan itu biasa berdiri menuggu mangsa. Akhirnya, semalam aku berhasil mengikutinya dan mendapat setidaknya sedikit informasi. Memang. Ia Anjani. Benar-benar Anjani. Ia sudah melepaskan jilbab yang ia sayangi. Penampilanya berubah total. Pertama bertemu aku sempat linglung dan kikuk untuk menyapa. Tapi ia sungguh berbeda. Ia bukan Anjani yang kukenal.

            “Bagaimana, semalam kau berhasil mengejar adikmu?” tanya Juna sambil meletakkan kopi di meja.

            “Berhasil, tapi di tengah perjalanan seorang menghentikanku.”

            “Terus gimana? Apa kau disakiti mereka?”

            “Tidak. Tapi setidaknya aku dapat informasi di sana,”

            “Apa?”

            “Anjani pernah berkunjung ke tempat itu, dekat rel kereta api.”

            “Oh, tempat pelacuran itu.”

            “Jangan-jangan….” Juna menebak.

            “Tidak mungkin mereka ketakutan ketika aku tunjuk fotonya pada mereka,”

            “Jangan-jangan….” Juna menebak lagi namun semua berhenti pada tanda tanya seperti kehabisan jalan.

Pagi ini kami memutuskan makan siang di luar. Menghilangkan duga sangka yang terus menyerang kepala kami.

Malamnya, setelah dibantu Juna mencari lumpur dan Juna melumuri sekujur badanku dengannya. Juna mendengus mencium bau tak sedap. Ia memakai masker dan memberi kode aku akan berhasil. Aku menyiapkan motor dan pergi ke depan stasiun menunggu Anjani datang. Pada sebuah lorong gelap tempat persembunyianku, aku melihat Anjani datang dari arah timur. Aku beringsut dari tempat persembunyian dan mendekatinya sambil berpura-pura mengemis.

            “Semoga ini cukup untuk bapak.” Katanya memasukkan uang merah ke dalam bungkus permen.

            “Terimakasih semoga Anda diberkati Tuhan,” aku kembali ke tempat persembunyian. Dan menunggu ia pergi dari tempat berdirinya.

            Taksi yang sama berhenti di depannya. Aku cepat-cepat membersihkan lumpur dan memakai jaket lalu meraih motor dan mengejarnya dari belakang. Jalan yang taksi lewati semua sama. Ia bahkan memotong jalan kiri dekat stasiun Jatinegara. Aku melihat lagi pemandangan semalam. Tapi kali ini mereka tidak menghentikanku, namun mereka menjauh dan mencoba bersembunyi. Taksi menyeberangi rel kereta. Seorang perempuan lain masuk bersama laki-laki. Taksi memutar balik, aku kalap dan buru-buru bersembunyi dekat rel. Menidurkan motor dan bersembunyi di tumpukan rongsok. Taksi lewat, aku kembali mengikuti. Tapi sayang, kaca taksi tersebut sudah dilapisi, sehingga mataku tak dapat menjangkau.

            Taksi berhenti di sebuah rumah. Menurunkan perempuan bergaun merah. Itu Anjani, pekikku. Aku bersembunyi di gang, dan setelah taksi berlalu aku melihat Anjani masuk ke dalam rumah. Tampak sepi dan gelap. Aku cepat menyusul dan mengetuk pintu. Tidak dibuka. Satu-dua kali tetap tidak dibuka. Aku berbalik dan ingin pergi, tetapi pintu berderit dan aku melihat Anjani, adikku yang cantik.

            “Anjani!” mata Anjani membelalak, dan seperti tidak mengerti ia mundur dan bertanya.

            “Mengapa tuan tahu nama saya?”

            “Aku Panji, kakakmu. Apa kamu sudah melupakanku?”

            “Panji? Aku tidak memiliki kakak bernama Panji, mungkin tuan salah orang.”

Pintu ditutup dan ketukan berkali-kali tidak lagi dibuka. Aku tidak melihat matanya yang dulu. Aku berbalik dan ingin pergi namun pintu dibuka kembali.

“Mungkin yang tuan cari perempuan di dalam foto ini?” Anjani mengeluarkan foto. Aneh, foto itu sama dengan milikku. “Perempuan ini sudah tewas saat bekerja di bar.”

“Tapi…,”

“Wajah kami memang mirip dan kami memang bekerja di tempat yang sama, dan kebetulan nama kami hampir sama, Anjani Suma, dan Anjani Duma. Tapi adikmu sudah lama meninggal.”

“Tidak, tidak mungkin. Kamu Anjani adikku!”

__
Kutub, 10-02-2020

*) Fahrul Rozi lahir di Sampang. Belajar di Prodi Teknik Informatika Universitas Nahdhlatul Ulama Yogyakarta. Saat ini tinggal di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY) cerpennya tersiar di media cetak maupun daring.

Continue Reading

Cerpen

Kamera Tua

mm

Published

on

lelaki itu melepaskan fantasinya. Ia mulai menelepon seseorang disana, yang ia catat sendiri. Ya, seorang pelacur cantik yang ia idamkan. Ia memintanya untuk datang ke rumah.

 Aflaha Rizal *)


Desas-desus terdengar dari ruang dapur lelaki itu, yang masih amat muda, dan belum menikah. Tak perlu kau tahu namanya, hanya yang perlu kau tahu, ia adalah lelaki muda yang sedang mencuci piring, dengan hidupnya yang belum menikah. Lelaki itu selalu berkata, “Menikah itu sebenarnya seperti pembayaran untuk memuaskan nafsu birahi semata kepada perempuan. Serupa pembayaran uang untuk menyewa pelacur. Tetapi ditutupi lewat perayaan kebahagiaan dari kedua mempelai, dua antar mertua, dan undangan tamu yang berbahagia.” Apa bedanya? Ya, hanya pesta kebahagiaan selepas membayar uang kepada pelacur lewat pernikahan. Perkataan itu pernah ia lontarkan kepada seorang kawannya, yang bekerja sebagai penulis cerita pendek dan kini sudah tidak menulis lagi. Lantaran tidak ada ide yang baru untuk menulis.

Hidupnya kini menjadi seorang petani, juga membangun perpustakaan tua yang ada di desa Kepala Tiga. Desa yang tidak pernah ditemukan di peta negara, dan tentunya, tak pernah dipedulikan oleh seorang presiden yang duduk di istana, beserta jajaran dan juga menteri yang hidup bermewahan. Mencuci piring, bagi lelaki itu, katanya, seperti sedang membersihkan sebuah dosa manusia selama hidup. Dan kau mendengarnya itu bagai tubuhnya yang ganjil. Ya, lelaki muda itu memang amat ganjil. Dengan kepalanya, hidupnya, juga waktu-waktunya.

Namun ia masih bekerja di sebuah instansi, tetapi ia merasa muak dengan pekerjaan itu. Tetapi, hidup perlu makan dan perlu pakaian. Meski kau tahu, pekerjaan dimana-mana, akan selalu timbul muak dan kebosanan dari sebuah keharusan dan kewajiban. Apakah tidak patut bila bermasalan di saat memiliki istri dan anak yang mesti dihidupi? Kau tentu akan tetap melakukannya, di saat kau muak dan bosan dalam hidup ini.

Piring-piring yang menumpuk, kini semua bersih dari kotoran dosa yang berasal dari makanan. Tempat cucian piring telah bersih. Kini, lelaki muda itu menuju ruang tamu dan memutar piringan hitam. Sebuah lagu romantis yang mengingatkan dirinya pada mantan kekasihnya, yang pernah ia minta untuk tidur bersama. Kekasihnya itu menolak, dengan alasan, “Aku tak mau diriku direnggut kau sebelum menikahiku.” Sebenarnya, kau melihat wajah lelaki itu yang tertawa ketika mengingat masa lalunya itu. Perempuan itu, yang diberi nama Tenun, memiliki hasrat seksual yang harus dibuangnya, demi untuk menjaganya sebelum menikah. Apapun perihal cinta maupun percintaan dari seorang kekasih, hasrat seksual atau berhubungan badan tak bisa dilepas. Dan akan tetap dilakukannya.

“Aku takut bila kita dipergok warga,” ucap Tenun saat itu.

“Kau tahu, warga sini seperti menjaga kesucian mereka dan moral mereka. Padahal, mereka juga sebenarnya tidak bermoral. Aku melihat mereka menebar fitnah kepada warga lain, dengan alasan yang tidak kuketahui. Dan mereka selalu menyebut diri mereka bermoral.”

“Kau selalu menceritakan ini dengan persepsimu. Kau tak harus menilai mereka bahwa apa yang dilakukan oleh mereka adalah bejat.”

“Tetapi, manusia memang memiliki bejatnya bukan?” tanya lelaki itu, yang kau dengar bagai manusia yang sama sekali tidak ada pegangan aturan dan juga agama.

Lelaki muda itu sebenarnya beragama, ia selau menunaikan agamanya. Tetapi, orang-orang selalu meragukan agama lelaki muda itu sendiri. Namun kau tak perlu melihat apa agama lelaki itu, selain punya cinta dan hasrat untuk bertahan hidup. Tentu, sebagian masa lalunya yang pahit, terekam dalam kamera tua-nya. Ia merekam secara sembunyi perihal ayahnya yang memukuli ibunya di ruang tamu, saat lelaki muda itu masih kecil dan tidak tahu apa-apa. Kecakapan dalam bermain kamera yang diajarkan oleh ibunya sudah tertanam, dan kelak pada cita-citanya, ia ingin menjadi seorang kameramen, tetapi tidak tercapai.

Pekerjaan di instansi ini berkat dari ayahnya yang punya kenalan. Dengan perkataan, “Anak muda ini harus punya masa depan yang baik, biar tidak susah mencari uang. Apalagi, pensiun masa tua-nya juga menjamin.” Dengan berat hati, lelaki muda itu menerimanya, melepas cita-citanya sebagai kameramen. Suatu ketika, saat masih di ruang tamu, kau mendengar lelaki muda itu mengucap kata, “Bajingan!” seolah kata-kata itu ia maki kepada ayahnya yang kolot dan tidak punya pikiran terbuka. Sepanjang kuliah, ia tentu dibatasi pertemanannya. Selain harus belajar, lulus cepat, dan dapat pekerjaan serta mencari uang yang banyak. “Jangan lah jadi mahasiswa aktivis yang tiada gunanya itu. Memaki pemerintah karena tidak adil, padahal mereka juga menikmati hasil yang dibangun pemerintah. Mereka itu sama kayak komunis tahu! Liberal, tidak ada pegangan aturan serta agama.” Ucap ayahnya suatu ketika, yang kali ini, kau mendengar bahwa lelaki itu dendam akan masa lalunya.

“Apakah menjadi aktivis itu salah?” lelaki muda itu mengucap pertanyaan di ruang tamu, sendirian, mengenai masa lalunya yang kau dengar. Ya, saat lelaki muda itu melontarkan pertanyaan kepada ayahnya yang sedang minum kopi, ayahnya menjawab. “Salah besar! Mengungkapkan pendapat itu boleh, tapi ada jelasnya gitu loh. Bukan hanya menebar, ‘Wah pemerintah ini tidak adil’, ‘Kasus ini harus dituntaskan’. Padahal, salah mereka juga yang menolak pembangunan. Dan itu baik untuk kesejahteraan mereka.”

Saat ini, ketika lelaki muda itu sudah bekerja, ia hanya menertawakan ayahnya yang sama sekali bodoh. Padahal, kau tahu, lelaki muda itu punya ayah yang berpendidikan hingga gelar doktor. Tetapi masalah nalar logika dan kritis, sama sekali tidak ada. Selain kritis yang dibangun oleh orang-orang yang meremehkan kaum orang bawah yang menentang itu.

Lelaki muda itu kini mulai merasakan hasrat ingin bercinta. Tentu kau melihat gerakannya yang kini menuju kelaminnya sendiri, yang perlahan-lahan berdiri. “Mantan kekasihku yang kini telah menikah, kini juga merasakan rasanya bercinta. Tetapi menutupi dirinya lewat pernikahan.” Ia naik turunkan kelaminnya itu, dengan kau yang melihat matanya yang memejam, dengan suara musik dari piringan hitam yang perlahan membangkitkan rasa birahinya.

“Ah!” lelaki itu melepaskan fantasinya. Ia mulai menelepon seseorang disana, yang ia catat sendiri. Ya, seorang pelacur cantik yang ia idamkan. Ia memintanya untuk datang ke rumah.

__________

 

Kamera tua itu, tentu, berisi kekerasan ayahnya kepada ibunya. Tidak ada yang lain. Ia ingin menjual kamera tua itu, kepada orang-orang yang tahu akan kasus kekerasan dalam rumah tangga. Kepada kawannya yang seorang penulis cerita pendek, yang bernama Garcia, yang seolah-olah kau teringat pengarang yang bernama Gabriel Garcia Marquez itu, untuk menawarkan kamera tua untuk dijual lewat tulisannya sebagai promosi. Kawannya yang datang ke rumah itu berkata, “Aku tidak bisa menulis untuk membuat orang lain tertarik pada barang yang kau jual, selain menulis cerita pendek.” Lelaki muda itu kau dengar tertawa keras, bahkan kepalanya menghadap wajah kawannnya itu.

“Kau tolol!” umpatnya. “Hidupmu lebih parah dari aku. Kau hidup berkubang dengan fantasi yang tolol. Apakah kau tak pernah merasakan realitas yang membuatmu tahu, seperti, bercinta salah satunya?”

“Aku sudah punya istri, dan sudah merasakannya. Memangnya engkau yang tak menikah?”

“Hahahhahaha.” Lelaki muda itu tertawa. “Kukira kau belum mencoba. Baiklah, bisakah kau kerja keras dulu untuk menjual barang ini?”

“Memangnya berisi apa?” tentu, Garcia yang kau dengar pertanyaannya itu, tidak tahu apa isinya.

“Tentang ayahku, yang selalu memukul ibuku.”

“Apa?” Garcia seolah tercengang akan pernyataan kawan anehnya itu.

“Ya, ayahku bejat tahu! Ia menyiksa ibuku hingga mati. Dan kini, ayahku masih hidup. Aku mau setelah ini, kameraku yang terjual dengan rekaman yang tersembunyi, bisa menimbulkan keadilan dan menghukum kejahatan ayahku.”

“Apakah selama ini tak ada kepolisian yang tahu?”

Lelaki muda itu kau dengar berteriak, bahkan wajahnya yang berubah seperti mengejek seseorang. Ayahnya juga dekat dengan jenderal kepolisian, sudah pasti kasus ini telah ditutup dengan uang tunai besar yang diberikan kepadanya, agar tidak terkuak kasus ini. “Kau tahu, uang itu mempermudah segalanya. Aku muak dengan uang. Uang bisa membuat seseorang tahu keburuan dan bejatnya mereka. Bahkan juga seorang perempuan sekalipun.”

“Bukankah uang memang kebutuhan manusia dan juga perempuan, apalagi dalam hubungan asmara?”

“Memang. Aku tahu, tetapi, banyak rasa cinta yang kemudian tak nyata, selain uang yang berbicara.”

Di dunia ini, kau pun tahu, dengan uang adalah barang yang bisa membuat segalanya mudah. Kau juga muak dengan uang, tetapi kau selalu melakukannya untuk hidup. Bahkan kekasihmu sekalipun, yang ditinggalkan karena alasan uangmu sudah tidak ada di saat kau susah. Padahal, kekasihmu pernah berkata, ‘Aku akan mencintai kau dalam suka dan duka, bahkan badai yang menerjang’. Garcia yang memandang wajah kawannya itu bertanya lagi, “Apa langkah untukmu selanjutnya?” tentu, kau mendengar lelaki muda itu menjanjikan sebagian uang dari kamera yang terjual.

“Dan uang sebagian itu, bisa kau beli buku-buku baru. Atau bibit baru untuk menanam padimu.” Ucap lelaki muda.

Maka, lelaki muda itu sepakat kepada Garcia untuk menulis barang promosi perihal kamera tua, yang dibutuhkan seorang pakar kasus kriminal yang harus melaporkan kejadian yang ditutupi ayahnya selama beberapa tahun.

___________

 

“Kamera ini seperti punya kamu dulu,” ucap ayahnya yang sedang membaca koran, tentu, promosi barang yang dijual dengan sebuah tulisan milik kawannya itu terbit di koran. Lelaki muda itu berancang-ancang mencari argumen untuk membalas kepada ayahnya, bila ia tahu, bahwa kamera tua milik lelaki muda itulah yang ia jual. “Ah, kemana, ya, kamera itu?”

“Tidak tahu. Rusak sepertinya, Yah,” ucap lelaki muda itu.

“Masa rusak?”

“Ya, namanya barang. Seperti juga kematian. Manusia akan mati, pun barang begitu. Mau usaha sekeras apapun, kalau sudah berakhir, ya akan berakhir.”

“Bijak juga kata-katamu, tak sia-sia ayah menyekolahkan kamu. Itu namanya anak pemuda negara yang membangun bangsa. Bukan seperti aktivis yang menentang pemerintah, yang mirip komunis itu.”

Dalam hati lelaki muda itu, kau dengar seruan tawa yang paling keras untuk menghina argumen ayahnya yang semakin hari semakin tolol. Jika kamera itu terjual hanya khusus bagi orang-orang kriminolog dan juga pakar kasus pembunuhan, maka ayahnya suatu hari akan ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara. Dalam diri lelaki itu, ada dendam kesumat bagai binatang yang lepas dari sangkar, yang dikurung sang tuan agar tidak kabur dan mengamuk. Lelaki muda itu duduk manis, sambil mendengarkan ayahnya bercerita mengenai kekasih barunya yang paling cantik. Ia perlihatkan fotonya itu kepada lelaki muda itu, dan juga kau lihat wajah perempuan yang cantik itu.

“Wah, montok.” Kata lelaki muda itu.

“Siapa dulu? Ayah!” ucapnya bagai membanggakan dirinya.

Namun, sebentar lagi, dendam itu akan tiba. Ayahnya akan mati di dalam penjara, seperti yang diinginkan lelaki muda itu.

__________

 

Kamera tua itu kemudian terjual, lima hari kemudian setelah promosi dengan tulisan yang ciamik milik kawannya terbit di koran. Para kriminolog dan pakar permasalahan kasus pembunuhan saling berlomba-lomba menawarkan harga lewat kawannya itu. Disitu tertulis di koran, ‘Di kamera ini, ada jejak rekaman manusia biadab yang menyiksa istrinya sendiri, yang selama ini ditutup-tutupi dan tidak terungkap’. Sayangnya, ayah lelaki muda itu, tolol dan tidak tahu. Selain hanya menatap kamera tua yang barangkali, begitu ia kenal.

Barang itu jatuh kepada seorang kriminolog yang masih satu pekerjaan di kantor kepolisian. Uang tunai itu diberikan kepada kawannya lalu mulai dibagi-bagi dari lelaki muda itu. Tentu, uang itu banyak, barangkali bisa membeli mobil atau rumah mewah di kota. Dan uang itu, ia pakai dengan kawannya untuk bersenang-senang di dalam kamarnya. Membelanjakan sebagian uang untuk membeli makanan ringan dan minuman alkohol dingin di minimarket. Lalu menonton film di laptop dengan remang lampu kamar yang menyala. Hidup sesederhana itu, selepas dendam untuk ayahnya sendiri.

            Maka, ayahnya itu kini tertangkap, saat sedang berduaan di dalam kamar hotel bersama kekasih cantiknya. Tentu, mereka berdua sedang telanjang bulat dan berhubungan badan, tetapi kepergok oleh kepolisian untuk menangkapnya atas kasus penyiksaan terhadap istrinya yang membuatnya mati. Untuk membuatnya malu, sang kepolisian membopong ayahnya yang masih dalam keadaan telanjang bulat. Hingga kelamin itu tertampak dan dilihat oleh pengunjung hotel. Para perempuan yang ada di hotel, terutama di lobi, menutup matanya. Kekasihnya itu kini sendirian di kamar, ia tidak tahu dan tiba-tiba, kekasihnya ditangkap.

Untuk perihal perempuan cantik itu, tampaknya kekagetan itu hanya selintas. Ia kembali tenang, dengan memakai pakaiannya kembali dan menikmati barang semalam di hotel mewah eksekutif ini, sekali lagi.

__________

 

“Bajingan kamu!” teriak ayah lelaki muda itu, dan kau mendengarnya bagai kemarahan kesumat bercampur kesetanan.

“Kau yang bajingan!” balas anaknya.

“Akan kupastikan, kau dipecat dari kantor instansi kawan ayah!”

“Silahkan, tak mengapa. Aku muak dengan pekerjaan dan hidupku yang dikendalikan ayah. Sekarang, mampus lah sebagai pengkhianat di penjara. Ini hutang yang telah lunas atas kematian ibuku.”

Ayahnya memukul besi penjara. Tak terima akan perlakuan anaknya. Dan lelaki muda yang masih kau dengar itu, tertawa begitu keras. Telah puas membuat dendam itu telah selesai. Dan ayahnya menderita di dalam penjara. Semoga cepat mati dan berada di neraka, tentu, Tuhan tak sudi menerima surga untukmu ayah. Hanya ibu yang pantas, yang dimatikan atas siksaanmu. Setelah berucap, lelaki muda itu pergi. Ayahnya berteriak dengan tangisan yang merongrong. Polisi yang berjaga, memukul penjara untuk tenang.

Lelaki muda itu pulang, melangkah pelan di tengah kota. Tentu dengan mobil peninggalan ayahnya yang kini sekarang miliknya. Lalu menelepon nomor kontak yang tersimpan disana, menunggu panggilan tersambung. Terangkat kemudian dari seorang perempuan, yang kau kenal suaranya itu, bermanja-manja bahkan serak-serak yang dapat membuat birahi seseorang menaik seketika. “Kamu dimana? Jadi hari ini?” bertanya seorang perempuan itu.

“Jadi dong, sayang,” lelaki muda itu tampak senang. Sebab telah puas ia sekarang.

“Di tempat biasa, ya,” ucap seorang perempuan.

Mobil melintasi kendaraan yang berjalan pelan, mengitari kota dengan gedung-gedung tinggi. Orang-orang di dalam gedung juga serupa, banyak pengkhianat dan juga bangsatnya. Lelaki muda itu juga telah muak tinggal di kota, ia ikut dengan kawannya yang menjadi petani, sekaligus membuat tempat lumbung padi agar padi tetap berkembang dan terjual banyak. Lelaki muda itu meyakinkan dirinya, bahwa menjadi petani ia bisa hidup dan kaya.

Perempuan yang sedang menunggu itu, tentu, adalah bekas kekasih ayahnya sendiri, yang kau temukan ketika ayahnya sedang telanjang bulat bersamanya di kamar hotel saat penangkapan itu terjadi. (*)

*) AFLAHA RIZAL, Penulis. Karya yang telah diterbitkan berupa kumpulan cerpen secara indie: Cuaca Sama(2016), Cuaca Sama II(2017). Puisi yang lain, masuk pada antologi, media online, dan pernah terbit di Radar Selatan(2019), dan Koran Tempo(2019). Cerpen terbarunya kini sedang diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris tahun ini, oleh Inter Sastra. Juga pernah diundang di Festival Sastra Bengkulu 2019 sebagai penulis terbaik.

 

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending