Connect with us

Inspirasi

Apa yang Anda Ketahui Setelah Nongkrong Bareng Emma Stone?

mm

Published

on

Bintang ‘La La Land’ bercerita tentang film musikal, serangan kecemasan dan beradu akting dengan Joaquin Phoenix

Oleh Jonah Weiner / http://www.rollingstone.co.id

Beberapa waktu yang lalu Emma Stone keluar sebagai pemenang kategori aktris film terbaik (komedi atau musikal) di Golden Globe berkat perannya dalam film komedi-musikal, La La Land. Kontributor Rolling Stone Jonah Weiner mendapat kesempatan menghabiskan waktu dengan Emma Stone selama beberapa hari. Berikut hal-hal menarik tentang Emma Stone:

Film La La Land membuatnya bergerak lebih leluasa dibandingkan dengan film-film sebelumnya
“Saya tidak ingin Emma menghindari sesuatu yang masih mentah dan rentan, dan salah satu kenikmatan terbesar membuat film ini adalah melihatnya pergi ke suatu tempat yang lebih dalam dan gelap dari sebelumnya. Musikal merupakan genre dimana kamu harus benar-benar bersedia terbalik, jatuh, dan tersandung –kamu tidak bisa pergi kesana dengan terlalu banyak perlindungan. Apa yang menakutkan dari genre ini adalah apa yang menyenangkan, yang memaksamu untuk menggunakan hati untuk menggerakan lengan,” jelas Damien Chazelle berharap Emma Stone mengerahkan kemampuannya dalam film musikal La La Land.

“Aku sering memikirkan ini setiap waktu, tentang membangun karakter Mia. Damien akan menulis, dan menulis ulang, kemudian aku membacanya dan menghubunginya jam enam pagi. “Aku akan memerankannya, kita harus mengganti ini,” lalu kita akan menambahkan dan menulisnya lagi,” ungkap Stone saat proses membangun karakter Mia dengan Chazelle.

Dia hanya memiliki 10 kali kesempatan untuk menyelesaikan satu adegan menari
Salah satu adegan duet menari di Griffith Park dengan satu shot panjang, Stone dan Gosling berusaha keras satu sama lain. “Kami memiliki waktu dua hari untuk mengambil gambarnya. Sebelumnya kami sudah berlatih sekitar empat bulan, tetapi ini perlu keajaiban. Kami hanya memiliki lima kali take setiap harinya sebelum cahaya menghilang. Itulah tekanannnya,” kata Stone. Ia juga mengatakan jika ia dan Gosling gagal sekali maka kesempatannya tinggal sembilan.

Sejak kecil Emma Stone sering berlebihan mengkhawatirkan sesuatu
“Ketika aku berusia tujuh tahun, aku yakin akan terjadi kebakaran di rumah. Aku bisa merasakannya. Ini bukan halusinasi karena ini menyesakkan dada sampai aku merasa tidak bisa bernafas, seperti dunia akan segera berakhir. Begitulah kejadiannya aku tetap merasa khawatir,” ungkap Stone menceritakan masa kecilnya. Ia juga mengatakan bahwa orang tuanya pernah membawanya ada ahli terapi dan hal itu cukup membantu, begitu juga dengan bermain peran merupakan salah satu cara melawan kekhawatiran.

Emma Stone/ getty image

Jonah Hill mengatakan bahwa Stone adalah orang yang merakyat
Jonah Hill yang pernah beradu peran dengan Leonardo DiCaprio dan Brad Pitt mengatakan bahwa Emma Stone merupakan salah satu aktris terbaik yang pernah bekerja sama dengannya. Hill menambahkan, “Ketika ia diminta memerankan seseorang yang cantik dan menarik, dia tidak perlu mencarinya dalam diri orang lain, itulah Emma –dia salah satu yang terbaik di dunia, dan dia tidak pernah membuat orang merasa kurang darinya.”

Selama menjadi aktris, pengalaman yang paling diingatnya adalah saat beradu akting dengan Joaquin Phoenix
Saat produksi film Irrational Man karya Woody Allen bersama Phoenix, Stone bercerita, “Aku merasa seperti seseorang yang belum pernah melewatinya, itu adalah kegagalan yang menyedihkan –Joaquin sering mengubah arahnya. Dia sering kali mengambil keputusan yang berbeda dalam satu adegan, dan kamu tidak tahu kemana dia akan mengarah. Kamu harus siap dan mengukutinya.”

Dia dan Jennifer Lawrence suka menonton film komedi ’90-an yang dibintangi Bette Midler
Teman-teman sepermainan Stone termasuk aktris Martha MacIsaac – berperan sebagai sahabat Stone dan yang membuat Michael Cera tergila-gila dalam film Superbad, Sugar Lyn Beard, dan Jennifer Lawrence. “Kami pergi bersama-sama, kami nongkrong bersama di rumah satu sama lain, menonton hal-hal gila,”kata Stone. Ia juga menambahkan, bulan lalu ia sempat mampir ke rumah Jen dan menonton Hocus Pocus.

Dia memakai pin pendukung Hillary Clinton
“Ini sangat sulit untuk mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya, atau apa yang akan dilakukan,” ujar Stone. “Ini menakutkan untuk tidak mengetahuinya. Namun aku tidak bisa berhenti memikirkan orang yang mudah diabaikan dan dicampakkan –terpinggirkan lebih dari mereka yang pernah merasakannya selama ratusan tahun– dan bagaimana planet ini akan mati tanpa bantuan kita. Hal itu banyak berdatangan.” (rb/wnz)

Continue Reading

Cerpen

Doa Kang Suto

mm

Published

on

Ahmad Tohari *)

Pernah saya tinggal di Perumnas Klender. Rumah itu dekat mesjid yang sibuk. Siang malam orang pada ngaji. Saya tak selalu bisa ikut. Saya sibuk ngaji yang lain.

Lingkungan sesak itu saya amati. Tak cuma di mesjid. Di rumah-rumah pun setiap habis magrib saya temui kelompok orang belajar membaca Al Quran. Anak-anak, ibu-ibu dan bapak-bapak, di tiap gang giat mengaji. Ustad pun diundang.

Di jalan Malaka bahkan ada kelompok serius bicara sufisme. Mereka cabang sebuah tarekat yang inti ajarannya berserah pada Tuhan. Mereka banyak zikir. Solidaritas mereka kuat. Semangat agamis, pendeknya, menyebar di mana-mana.

Dua puluh tahun lebih di Jakarta, tak saya temukan corak hidup macam itu sebelumnya. Saya bertanya: gejala apa ini?

Saya tidak heran Rendra dibayar dua belas juta untuk membaca sajak di Senayan. Tapi, melihat Ustad Zainuddin tiba-tiba jadi superstar pengajian (ceramahnya melibatkan panitia, stadion, puluhan ribu jemaah dan honor besar), sekali lagi saya dibuat bertanya: jawaban sosiologis apa yang harus diberikan buat menjelaskan gairah Islam, termasuk di kampus-kampus sekular kita? Benarkah ini wujud santrinisasi?

Di Klender yang banyak mesjid itu saya mencoba menghayati keadaan. Sering ustad menasihati, “Hiasi dengan bacaan Quran, biar rumahmu teduh.” Para “Unyil” ke mesjid, berpici dan ngaji. Pendeknya, orang seperti kemarok terhadap agama.

Dalam suasana ketika tiap orang yakin tentang Tuhan, muncul Kang Suto, sopir bajaj, dengan jiwa gelisah. Sudah lama ia ingin salat. Tapi salat ada bacaan dan doanya. Dan dia tidak tahu. Dia pun menemui pak ustad untuk minta bimbingan, setapak demi setapak.

Ustad Betawi itu memuji Kang Suto sebagai teladan. Karena, biarpun sudah tua, ia masih bersemangat belajar. Katanya, “Menuntut ilmu wajib hukumnya, karena amal tanpa ilmu tak diterima. Repotnya, malaikat yang mencatat amal kita cuma tahu bahasa Arab. Jadi wajib kita paham Quran agar amal kita tak sia-sia.”

Setelah pendahuluan yang bertele-tele, ngaji pun dimulai. Alip, ba, ta, dan seterusnya. Tapi di tingkat awal ini Kang Suto sudah keringat dingin. Digebuk pun tak bakal ia bisa menirukan pak ustad. Di Sruweng, kampungnya, ‘ain itu tidak ada. Adanya cuma ngain. Pokoknya, kurang lebih, ngain.

“Ain, Pak Suto,” kata Ustad Bentong bin H. Sabit. “Ngain,” kata Kang Suto.
“Ya kaga bisa nyang begini mah,” pikir ustad. Itulah hari pertama dan terakhir pertemuan mereka yang runyem itu. Tapi Kang Suto tak putus asa. Dia cari guru ngaji lain. Nah, ketemu anak PGA. Langsung Kang Suto diajarinya baca Al-Fatihah.

“Al-kham-du …,” tuntun guru barunya. “Al-kam-ndu …,” Kang Suto menirukan. Gurunya bilang, “Salah.”
“Alkhamdulillah …,” panjang sekalian, pikir gurunya itu.
“Lha kam ndu lilah …,” Guru itu menarik napas. Dia merasa wajib meluruskan. Dia bilang, bahasa Arab tidak sembarangan. Salah bunyi lain arti. Bisa-bisa kita dosa karena mengubah arti Quran. Kang Suto takut. “Mau belajar malah cari dosa,” gerutunya.

Kang Suto tahu, saya tak paham soal kitab. Tapi ia datang ke rumah saya, minta pandangan keagamaan saya.

“Begini Kang,” akhirnya saya menjawab. “Kalau ada ustad yang bisa menerima ngain, teruskan ngaji. Kalau tidak, apa boleh buat. Salat saja sebisanya. Soal diterima tidaknya, urusan Tuhan. Lagi pula bukan bunyi yang penting. Kalau Tuhan mengutamakan ain, menolak ngain, orang Sruweng masuk neraka semua, dan surga isinya cuma Arab melulu.

Kang Suto mengangguk-angguk.

Saya ceritakan kisah ketika Nabi Musa marah pada orang yang tak fasih berdoa. Nabi Musa langsung ditegur Tuhan. “Biarkan, Musa. Yang penting ketulusan hati, bukan kefasihan lidahnya.”

“Sira guru nyong,” (kau guruku) kata Kang Suto, gembira.

Sering kami lalu bicara agama dengan sudut pandang Jawa. Kami menggunakan sikap semeleh, berserah, pada Dia yang Mahawelas dan Asih. Saya pun tak keberatan ia zikir, “Arokmanirokim,” (Yang Pemurah, Pengasih).

Suatu malam, ketika Klender sudah lelap dalam tidurnya, kami salat di teras mesjid yang sudah tutup, gelap dan sunyi. Ia membisikkan kegelisahannya pada Tuhan.

“Ya Tuhan, adakah gunanya doa hamba yang tak fasih ini? Salahkah hamba? duh Gusti, yang hati-Nya luas tanpa batas …”

Air matanya lalu bercucuran. Tiba-tiba dalam penglihatannya, mesjid gelap itu seperti mandi cahaya. Terang-benderang. Dan kang Suto tak mau pulang. Ia sujud, sampai pagi …

*) Ahmad Tohari, 1971 

Continue Reading

Inspirasi

Kreativitas Tanpa Batas Bersama Warga Lapas dan Muhidin M Dahlan

mm

Published

on

Oleh: Danang Pamungkas *)

Dari dulu saya paling takut dengan penjara, isinya adalah bangunan kotak kosong, dinding yang tinggi membatasi interaksi, dan besi yang menutupi ruangan. Penjara selalu identik dengan kelompok kriminal, penjahat, dan tempat terburuk bagi manusia. Namun di hari sabtu tepatnya tanggal 5 Mei 2018, saya menginjakkan kaki di tempat yang saya takuti. Saya melihat dengan jelas jeruji paku yang panjangnya melingkari luas tahanan seperti stadion sepak bola. Dinding lapas lebih tinggi ketimbang apa yang saya bayangkan dalam mimpi, sementara puluhan petugas keamanan sudah mengawasi beserta kamera tersembunyi di balik dinding dan jeruji. Saya seperti orang yang diawasi oleh mata di setiap sudut lokasi, gerak-gerik tubuh, dan sorot mata-pun bisa dianalisa oleh piranti canggih era-milenial.  Terbersit dipikiran saya ketika membayangkan bagaimana tokoh utama di dalam  Novel George Orwell berjudul “1984” yang diawasi ketat oleh sistem keamanan yang canggih dan membuat pikirannya di penjara oleh sistem.

Lalu pertanyaan saya muncul, bagaimana bisa warga lapas disini malah membuat pameran literasi, komunitas baca, dan membuat karya?

Saya pun berjalan lebih cepat, melewati pintu demi pintu untuk sampai di gedung pameran. Benar saja, ruangan lapas di dipenuhi lukisan, komik, kata-kata mutiara, kerajinan tangan, dan puisi. Ruangan ini mirip dengan pamertan arsip ketimbang lapas narkotika. Entah ruangan ini yang mendesain adalah warga lapas atau petugas, yang jelas hampir mustahil mendesain ruangan sedemikian rupa tanpa ide, kreatifitas, dan kerja keras.

Saya-pun bertemu dengan warga lapas yang saya lupa namanya. Ia yang mendirikan merek dagang “Patub-Porx” di bidang ukiran kulit, sablon kaos, drawing gambar, dan aneka seni rupa. Merek ini bisa dilihat di Instgram @patub_porx. Berperawakan tatoan di sekujur badan dan tindik di dua telinganya, dibalut pakaian biru-kuning, saya agak canggung untuk ngobrol dengannya. Maklum lingkungan saya adalah kumpulan orang-orang yang tidak tau seni.

Mas Patub-Porx bercerita bagaimana tahun 2017 lalu, , ia membantu temannya yang menjadi warga lapas – mendesain ruangan, dan memamerkan karya. Namun pada 2018 ini ia malah masuk menjadi penghuni lapas bersama temannya. Ia tertawa tak habis pikir, bagaimana nasibnya kini sama dengan temannya.

“Kalau pameran ini saya bersama teman-teman saling sharing dan belajar bareng untuk membuat pameran. Kalau disini semua orang bisa belajar apapun mas. Sudah lihat lukisan saya di lantrai dua belum? Kalau saya melukis bisanya dengan metode Drawing. Nah Mas Danto itu yang menggerakkan teman-teman untuk membuat komunitas baca Kopiku, dan berkesenian disini,” Ucapnya sambil tertawa.

Saya pun berjalan ke ruang pameran lantai dua untuk melihat lukisan Mas Patub_Porx, sekaligus mengikuti workshop penulisan tanpa batas yang dipandu oleh Muhidin M Dahlan (Gus Muh). Acara ini diinisiasi oleh Komunitas Pecinta Buku Lapas (Kopiku), Pustaka Bergerak, Rumah Baca Komunitas, Kemenkumham Yogyakarta, dan Lapas Narkotika Klas IIA Yogyakarta.

Lukisan dari Patub_Porx mempunyai kesan dan pesan yang dalam akan religiusitas dan moral. Ia seperti sedang mengirimkan pesan kepada semua orang bahwa ke-egoisan, kemunafikan, dan kejahatan adalah sifat keduniawian yang harus dihindari. Enam buah lukisannya memiliki ciri khas, dan pesan yang kuat. Orang awam-pun pasti paham makna yang ingin disampaikan oleh si pelukis.

Diskusi-pun dimulai. Banyak orang yang berkumpul termasuk warga lapas, penjaga, pegiat literasi, komunitas, mahasiswa, orang tua, dan aktivis. Saya sebenarnya takut untuk duduk bersebalahan dengan warga lapas, entah pengaruh stereotype lingkungan saya yang diskriminatif atau memang pikiran saya  yangcselalu negatif. Suasana gembira tanpa beban terlihat dari wajah para warga lapas, mereka minum kopi seperti sedang duduk di Cafe Legend, Kota Baru Jogja.

Warga lapas dengan antusias mendnegarkan ceramah Gus Muh  yang berdiri sambil mengerakkan tubuhnya untuk mempraktekkan cara penulis dalam mengimajinasikan subjek dan benda. Gelak tawa tahanan pun pecah, melihat Gus Mus dengan semangat memberikan trik dan tips dalam proses menulis.

“Jangan selalu ingin menulis  tokoh besar seperti Sukarno atau Pramoedya Ananta toer. Menulislah dengan cara kalian sendiri. Materi disekitar kita itulah yang paling mudah untuk kita tulis. Saya pernah membaca pernyataan Pram, bahwa ia tak mungkin bisa produktif menulis menghasilkan banyak buku kalau tidak di penjara. Nah di penjara inilah daya kreatifitas bisa dimaksimalkan lebih jauh. Saya selalu menolak anggapan bahwa biografi selalu identik dengan tokoh besar, saya kemudian menulis biografi tokoh yang bukan siapa-siapa, dan banyak orang yang meremehkan tokoh tersebut, buku saya itu berjudul “Tuhan Izinkan Aku Jadi pelacur.” Dan ternyata benar cerita tokoh tersebut dipahami dan dianggap berharga oleh banyak orang, sampai sekarang bisa tercetak hingga 100 ribu eksemplar. Setelah itu saya yakin semua individu memliki cerita yang unik dan rahasia. Sebenarnya  semua orang bisa dijadikan bahan untuk menulis, jadi menurut saya sekarang ini teman-teman (warga lapas) bisa belajar menulis biografi temannya di satu ruangan atau beda ruangan, bayangkan berapa puluh cerita yang akan bisa di tulis dan diterbitkan.”

“Kalau saya ketemu teman-teman saya, hal yang paling saya sukai adalah melakukan wawancara. Saya selalu mencatat, dan catatan itu saya jadikan bahan cerita untuk buku-buku saya. Nah mungkin teman-teman bisa mencobanya, tulis saja pengalaman teman kalian, bahkan sedetil  mungkin sampai bentuk wajah, hidup, sifat, dan karakternya. Saya yakin itu akan menjadi tulisan yang luar biasa menarik.”

Ia juga membahas bagaimana benda-benda disekitar lapas bisa ditulis menjadi beragam tema. Bagaimana batu, besi, jeruji, dinding, dan baju bisa dibuat tulisan sederhana yang bisa menguraikan kata-kata menjadi tulisan.

Setelah diskusi selesai, saya pun menyapanya untuk berdiskusi mengenai kegiatan literasi penjara. Ia duduk santai sambil menandatangani buku-bukunya, dan sesekali berbincang dengan warga lapas. Saya mearsa beruntung bisa ngobrol dengannya.

“Penjara itu kan batasan, tapi menulis membuatnya tidak terbatas. Tapi harus tahu caranya, menjadikan hal yang biasa menjadi tidak biasa. Bagi mereka benda-benda di dalam lapas itu sudah biasa, sehingga pikiran mereka sudah terstruktur (merasa biasa saja). Itulah yang membuat mereka merasa biasa sekali. Nah bagaimana cara membuat itu tidak biasa. . . kita belajar sastra itu tidak di dapatkan, dari SD dan SMP itu – kita hanya belajar Bahasa Indonesia bukan Sastra Indonesia. Kita belajar menulis sastra kan hanya di luar (komunitas) bagaimana menulis sejak kecil hanya di suruh menulis pergi ke rumah nenek atau kenakalan remaja, sebenarnya kan ada banyak tema yang bisa di eksplorasi. Menulis itu  pekerjaan jalan-jalan dan senang-senang. . . Menurut saya (Literasi penjara) merupakan terobosan, ternyata buku dan kreatifitas bisa masuk dalam penjara – untuk pembekalan mereka bagaimana nanti keluar.”

Gus Muh adalah seseorang yang sangat menginsiprasi banyak anak muda di generasi saya.  Ia banyak menulis buku, dan esai di beberapa media online. Ketika ia bersama  pegiat literasi mendirikan Radio Buku dan Warung Arsip, teman-teman saya merasa terwadahi dan sering nongkrong disana. Meskipun begitu, sampai sekarang saya belum pernah nongkrong di Radio Buku karena  faktor kemalasan.

Pameran literasi pun resmi di tutup oleh penampilan Band Reggae yang membuat suasan begitu berkesan. Beberapa warga lapas ikut bernyanyi dan bergoyang bersama, gelak tawa, dan candaan begitu bising di ruangan. Saya pun juga ikut menggerakkan badan sambil berfoto selfie dengan mereka. Sehari berada di dalam lapas, membuat pandangan saya tentang warga lapas berubah. Lapas bukanlah tempat haram, dan  bukanlah sarangnya penjahat. Lapas hanya tempat yang kebetulan dibuat oleh pemerintah untuk menampung sahabat kita yang sedang tidak beruntung dan butuh perhatian. Di dalam lapas ini semua kreativitas muncul dan terwadahi dengan baik, meskipun terbatas dengan fasilitas maupun aturan.

Saya menjadi heran mengapa di dunia yang lebih bebas, saya seperti berada di penjara dan kehilangan kebebasan. Benar memang kata pepatah Jawa, urip kui mung sawang sinawang[1]!

_______________

*) Danang Pamungkas, lahir di Rembang 2 Desember 1994. Penulis paruh waktu untuk beberapa media online. twitter: @danangpnp, instagram: @danangpnp.

[1] Kosakata Bahasa Jawa yang artinya kurang lebih: hakekat hidup itu hanyalah persoalan bagaimana seseorang memandang atau melihat sebuah kehidupan

Continue Reading

Buku

Menuju (Kematian) Demokrasi?

mm

Published

on

Saat ini, demokrasi merupakan sebuah sistem pemerintahan yang banyak dianut oleh negara-negara yang ada di dunia, terutama setelah berakhir perang dingin pada 1990. Demokrasi dinilai sebagai sebuah sistem yang ideal, karena system yang berasal dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Selain itu, demokrasi juga menganut prinsip pembagian kekuasaan antara eksekutif, legislatif, dan yudikatif.

Akan tetapi, menurut Karl Popper dalam Masyarakat Terbuka dan Musuh-Musuhnya (1945) satu hal yang menjadi daya tarik dalam sistem demokrasi adalah adanya jaminan terhadap hak-hak individu sebagai makhluk yang otonom dalam berpikir dan menyampaikan pendapat. Dalam konteks pemerintahan, pemerintahan dinilai berjalan dengan baik bila pemerintah dan para pemimpin senantiasa membuka diri dan bersikap rendah hati terhadap masukan dan kritik, baik kritik publik baik dari oposisi maupun rakyat biasa. Tujuannya tak lain adalah perbaikan untuk menyejahterakan rakyat.

“Comprehensive, enlightening, and terrifyingly timely.” —New York Times Book Review | “Cool and persuasive… How Democracies Die comes at exactly the right moment.” —The Washington Post _____ Judul Buku : How Democracies Die Penulis : Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt Penerbit : Crown Publishing Tahun Terbit : Cetakan I, Maret 2018 Tebal : 312 halaman, ISBN 978-1-5247-6293-3 Harga : Rp.245.000,-

Namun, satu dekade terakhir muncul gejala populisme secara global di dunia. Populisme merupakan untuk paham yang mengutamakan mengutamakan kepentingan rakyat kecil, ketimbang kalangan elite. Populisme muncul karena demokrasi dianggap gagal mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Isu ini kerap dimanfaatkan untuk memunculkan rasa nasionalisme dalam arti sempit, yang menolak semangat perubahan dan keterbukaan. Dengan kata lain, populisme merupakan salah satu jalan untuk kematian demokrasi.

Fenomena populisme abad ke-21, terjadi di Amerika Serikat dengan terpilihnya Donald Trump yang dalam janji kampanyenya menyiratkan sosok populis dan patriotis (hlm.61). Namun, tentu bukan hanya populisme saja yang menjadikan jalan bagi matinya demokrasi secara global. Hal itu dijabarkan dalam buku yang ditulis oleh Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt yang merupakan dua professor dari Universitas Harvard, Amerika Serikat.

Menurut mereka, jalan kematian demokrasi suatu negara dapat terjadi pada dua pihak yakni pihak internal—pemerintah atau penguasa— dan pihak eksternal—oposisi. Biasanya, pihak oposisi akan memulai kritik dengan gagalnya pemerintah dalam mewujudkan kesejahteraan sosial. Lantas, pihak oposisi akan mengkritiknya dan menyalahkan pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat kecil dan mendukung pihak asing.

Oposisi akan mengkritik keras dan vokal guna mendapatkan perhatian dari rakyat. Tak hanya itu, demi mengakumulasi dukungan dari rakyat, oposisi melalui politisinya akan memanfaatkan sentimen sosial yang ada di masayarakat seperti Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA).

Menurut Cherian George (2016), isu cara saja SARA tak cukup, para politisi biasanya akan melakukan pemelintiran kebencian di masyarakat. Mereka akan memanfaatkan emosi massa, seperti penolakan pembangunan masjid di Ground Zero, Amerika Serikat yang dekat dengan serangan Gedung World Trade Centre (WTC) pada 11 September 2001. Hal itu digunakan oleh partai Republik untuk meraup dukungan dari adanya sentimen terhadap kelompok Islam. Cara ini tentu akan membuat polarisasi di masyarakat, kepanikan, permusuhan, dan saling tidak percaya (hlm.76).

Sedangkan, dari pihak pemerintah, matinya demokrasi ditandai dengan memilih penegak-pengegak hukum yang berasal dari partainya atau koalisi pemerintahan. Dengan demikian, penguasa akan dengan mudah membuat regulasi atau aturan-aturan yang dapat melindungi kekuasaannya dari kritik pihak oposisi (hlm.87-92).

Faktor berikutnya adalah pihak pemerintah atau pendukung pemerintah akan terus menganggap oposisi sebagai musuh.  Biasanya pihak oposisi akan menganggap pemerintah tidak demokratis. Sedangkan, pemerintah akan menganggap oposisi sebagai benih-benih chauvinism atau fasis (hlm.115) Dengan begitu, akan ada terus kekhawatiran dari pemerintah untuk membatasi setiap gerak dan gagasan oposisi. Disadari atau tidak, cara berpikir ini tentu akan semakin membuat polarisasi di masyarakat meruncing. Jadi pihak pemerintah dan oposisi sama-sama berperan atas terjadinya polarisasi di masyarakat.

Penulis mencontohkan, oposisi yang memanfaatkan hal-hal SARA kemungkinan besar akan menjadi dictator yang mengerikan dan justru mematikan demokrasi. Contoh nyata menurut penulis adalah Adolf Hitler di Jerman, dan Benito Mussolini di Italia.

Menjaga Demokrasi

Lantas, bagaimana untuk menjaga demokrasi agar tetap hidup? Steven dan Daniel menawarkan dua elemen untuk menjaga demokrasi. Pertama, adalah menghormati norma sosial. Para politisi baik pemerintah maupun oposisi saling menahan diri untuk tidak melakukan segala cara untuk melakukan segala cara untuk meraih kekuasaan. Apalagi membuat sentimen SARA (hlm.106). Meski terkesan naif, cara ini dinilai akan menciptakan suasana kondusif dalam jalannya pemerintahan.

Elemen kedua adalah media sebagai pilar keempat dalam demokrasi. Media diharapkan untuk tetap independen, tidak menjadi partisan pemerintah, oposisi, atau kelompok politik tertentu. Hal tersebut tentu menjadi tantangan bagi media menjaga indepensi, di tengah pemodal yang berafiliasi dengan kepentingan politik tertentu. Sebab, pers yang independen adalah benteng terakhir demokrasi, tak ada demokrasi yang bisa hidup tanpa pers yang independen (hlm.199).

Buku yang terdiri dari sembilan bab ini tentu sangat Amerika sentris. Hanya sedikit studi kasus yang ditulis di negara lain terkait masalah demokrasi.

Meski begitu, buku cukup layak untuk dibaca oleh berbagai kalangan masyarakat, terutama para politisi. Sebab, penting bagi politisi untuk tidak membuat polarisasi dan konflik horizontal di masyarakat, hanya untuk meraih kekuasaan.

Kita tentu menyadari, tidak ada sebuah sistem yang sempurna, termasuk demokrasi. Namun, hanya dengan demokrasi kita dapat menjunjung tinggi prinsip-prinsip humanisme yang menjamin hak serta kewajiban setiap individu tanpa membedakan SARA. Sebab, hanya dengan seperti itu, demokrasi dapat menjadi  alat untuk mencapai tujuan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. (*)

___________________

Virdika Rizky Utama, Periset di Narasi.tv

Continue Reading

Classic Prose

Trending