Connect with us

Inspirasi

Apa Dasar Pelukis Menentukan Harga Lukisan “Pesanan”?

mm

Published

on

Oleh: Guruh Ramdani*

Mula-mula mari kita nyatakan bahwa tulisan ini adalah tentang “Lukisan Pesanan”, sehingga seyogya dan sebijaknya untuk tidak lebih dulu mencampur-adukkan dengan andaian bahasan tentang “lukisan idealis”, karena hal itu tentu akan menimbulkan ketidaknyamanan dan malah jadi debat kusir.

Ini bermula tatkala beberapa orang bertanya kepada saya mengenai dasar penentuan harga lukisan pesanan. Sebetulnya saya pribadi tidak punya pengetahuan khusus soal itu, semuanya hanya karena pengalaman bertahun tahun saja, itu pun sebetulnya saya jarang menerima pesanan, karena memang tidak secara terbuka saya umumkan atau sengaja saya cari, berhubung saya disibukkan dengan hal atau pekerjaan lain, utamanya mengajar, termasuk aktifitas melukis atas dorongan pribadi (juga), atau mungkin juga pertimbangan lain dari calon konsumen. Walau pun kalau ada pesanan dan harganya cocok ya saya kerjakan juga. Beberapa informasi didapat juga karena merupakan hasil diskusi (tidak langsung) dengan beberapa teman perupa. Dan hasilnya adalah sebagai berikut:

Kualitas Karya
Tidak bisa dihindari, yang yang menjadi dasar pertimbangan pertama dan utama tentunya adalah kualitas karya. Untuk itu wajib bin kudu seorang seniman menguasai berbagai teknik secara maksimal, dalam hal ini tentunya adalah kemampuan teknis melukis realis, karena suka tidak suka, mayoritas orang yang memesan lukisan adalah “ingin dilukis secara realistis dan indah”, walaupun ada beberapa pengecualian kasus pesanan di dunia seni rupa yang pernah terjadi. Penguasaan teknis di sini adalah menyangkut ilmu melukisnya itu sendiri, maupun pengetahuan dan penggunaan alat dan bahan. Kuasai teknik semua alat dan bahan untuk melukis, jangan hanya terpaku akan satu alat saja. Semakin luas teknik yang kita kuasai akan semakin besar peluangnya. Karena biasanya permintaan konsumen itu suka ada yang ingin dilukis dengan alat dan bahan tertentu.

Kwalitan serta Harga Alat dan Bahan yang Dipergunakan
Seperti yang diketahui bersama bahwa alat dan bahan untuk melukis tidaklah murah. Hal ini harus dipisahkan sebagai indikator memberikan biaya, apakah menggunakan pensil atau cat, di atas kertas atau kanvas, menggunakan pigura atau tidak, harus dihitung dari awal. Sehingga komponen ini bisa menjadi pertimbangan argumentasi kita ketika meminta DP di muka.Kwalitas alat dan bahan pun harus menjadi pertimbangan yang penting dan tidak boleh diabaikan atau sembarangan. Karena perlu diketahui, melukis menggunakan alat dan bahan yang berkualitas secara visual pun akan terlihat lebih keluar kualitas warnanya, dan (justru) penggarapannya pun lebih mudah. Penggunaan alat dan bahan yang berbeda pun (berdasarkan sifatnya masing masing), akan menentukan lamanya waktu pengerjaan, dan itu pun harus diperhitungkan.

Ukurannya
Karena harus diingat, ukuran akan menentukan juga lamanya waktu pengerjaan berikut banyaknya alat dan bahan yang dipergunakan.

Jumlah Kepala Orang yang Akan Dilukis
Hal ini tentunya sudah jadi pengetahuan umum teman teman, karena jika lukisan potret wajah, yang menjadi titik sentral jualannya adalah kemiripan wajahnya. Namun sebaiknya jumlah kepala ini harus dibedakan antara satu orang dengan beberapa orang, jika satu orang nilai jualnya adalah misalkan 600 ribu, maka harus dibagi menjadi dua indikator, yang tiga ratus ribu adalah cat, kanvas, dan kwas yang akan aus; dan yang tiga ratus ribu berikutnya adalah nilai pekerjaan atau jasanya. Sehingga jika harus mengerjakan sebanyak tiga orang dalam satu kanvas, nilai lukisannya adalah 600 ribu ditambah 300 ribu kali dua orang (tambahan), atau satu juta dua ratus ribu rupiah. Tentu biaya ini pun di luar biaya pigura.

Tingkat Kesulitan Pengerjaan
Misalkan, apakah pakaiannya polos atau bermotif rumit (seperti batik)? Apakah background harus digambar secara utuh atau boleh dibuat polos? Kalau memang rumit, baiknya dikenakan saja biaya tambahan, misalkan dari tiga orang, yang menggunakan batik yang rumit satu orang, maka yang satu orang ini dikenakan biaya tambahan misalkan 150 ribu sendiri.

Pengiriman dan Packaging
Seperti yang kita ketahui bahwa pihak jasa pengiriman paket akan menghitung biaya berdasarkan, panjang kali lebar kali berat. Apabila si pemesan ingin dipigura sendiri alias lukisannya dikirim dengan cara digulung, saya tidak membebankan biaya pengiriman apabila masih dalam lingkup pulau Jawa, namun apabila harus ke luar Jawa apalagi ke luar negeri, ya suka tidak suka harus ditanyakan dulu kepada pihak jasa pengiriman. Apabila menggunakan Pigura, apalagi jika menggunakan kaca, maka ukuran lukisan pun akan menjadi lebih besar dari ukuran aslinya, karena jika pinggirannya saja 10 cm, maka lukisan yang berukuran 30 X 40 cm saja akan menjadi 50 X 50 cm, belum lagi beratnya. Belum lagi (kalau pakai kaca) harus dipacking kayu, tentunya akan bertambah berat lagi. Maka bisa dipastikan, efek dari biaya pengiriman semacam ini ini akan membuat rasa terkejut dengan jumlahnya kalau tidak diantisipasi dari awal.

Lamanya Waktu Pengerjaan
Sebaiknya untuk soal ini dihitung berdasarkan jumlah jam, bukan hari, karena bisa saja ada hari yang kosong, dan kita pun harus beristirahat atau mengerjakan soal lain. Atau bisa saja secara teknis jumlah harinya satu bulan, namun jumlah pengerjaannya adalah 60 jam. Maka jika (seandainya) seorang buruh bangunan dibayar 120 ribu per delapan jam kerja, tentunya kita bisa menghitung kapasitas kita, apakah mau dihargai lebih atau kurang dari itu. Kalau selama delapan jam saya dibayar mengajar sekian rupiah, maka saya bagi delapan, dan (kalau saya pribadi) saya naikan menjadi 150 persen dari bayaran yang biasa saya terima tersebut. Karena bagi saya hal tersebut hitungannya adalah lembur.

Sekali tersebut, biaya tersebut hanyalah menyangkut jasa atau waktunya saja, di luar biaya alat dan bahan, apalagi pigura.

Sampai poin di atas harus dibicarakan atau ditanyakan di muka dengan pihak pemesan secara terbuka sebelum menentukan biayanya. Jangan tergesa gesa menentukan harga sebelum dihitung dengan cermat. Lihat dulu fotonya sebelum dilukis, karena dari sana akan bisa ditebak tingkat kesulitannya. Minimal kita bisa menghitungnya dalam kisaran satu atau dua jam. Apalagi untuk pengiriman yang sifatnya di luar kebiasaan atau jauh harus ditanyakan dulu ke pihak jasa pengiriman sebelum diputuskan. Jangan sampai kita merasa nilai pekerjaan kita besar tapi setelah selesai dan dihitung ulang, malah lebih banyak kerja baktinya.

Lingkup Pergaulan (Relasi) dan Citra yang Ditampilkan
Dalam ilmu ekonomi dinyatakan bahwa barang yang sama (misalkan Coca Cola) jika dijual di tempat yang berbeda (di pinggir jalan, di Supermarket, atau di Hotel) akan berbeda pula nilainya. Maka bagi adik adik yang masih sekolah dan lingkup pergaulannya mayoritas adalah teman teman sebaya, mungkin jika mendapat order dari teman teman, sudah bisa ditebak uang saku temannya itu berapa, dan nilai apresiasinya pun terukur. Namun bagi mereka yang cenderung sudah berumur, dan teman temannya sudah banyak yang sukses, apalagi jika orangnya supel, teman dari temannya tersebut juga bisa menjadi pelanggannya. Walau pun demikian, di era teknologi informasi ini, asalkan kita konsisten berkarya, hal hal semacam itu bisa cepat diatasi, yang penting adalah kembali ke poin pertama di atas, “kualitas karya”. Lingkup pergaulan pun bisa dibentuk dengan berpameran, yang akan membuka akses serta kepercayaan publik baik itu masyarakat awam maupun kolektor (akan kesungguhan kita) sebagai perupa, atau juga mengunjungi pameran dan bersilaturahmi dengan sesama seniman biasanya akan membuka akses ke soal ini.

Nilai Inflasi
Kita tahu bahwa semakin lama harga barang juga semakin naik tiap tahunnya. Maka dengan penuh kesadaran kita pun harus memperhitungkan soal ini, dan secara berkala kita harus menaikkan harga setiap tahun secara berkala, entah 5 atau 10%, sehingga tidak terseret perekonomian global. Harus diwaspadai pula kenaikan harga yang terlalu melonjak, karena bisa jadi dalam waktu sesaat anda bisa dapat order dengan nilai sangat besar, tapi puasa dalam jangka panjang.

Atau harga kita di satu sisi sangat tinggi, namun pada saat lain banting harga, sehingga bisa menimulkan ketidakpercayaan di mata konsumen yang pernah memesan. Kenaikan harga itu harus, tapi sedikit demi sedikit dan wajar.

Tingkat Keterkenalan dan Jam Terbang si Pelukisnya.
Suka tidak suka faktor ini akan sangat menentukan nilai jual. Karena tidak mudah juga membentuk nama ini, jadi kita tidak bisa dengan mudah mengatakan, “kok karya saya lebih bagus dari si anu, tapi dia bisa laku mahal sementara saya tidak?” Menyangkut soal ini yang harus dilakukan adalah harus konsisten berkarya dan berpameran, ada atau tidak ada order. Karena tentunya orang yang punya nama itu juga menikmati hasilnya setelah melalui berbagai macam fase perjuangan. Kualitas atau level pameran yang diikuti pun tentunya harus menjadi bahan pertimbangan yang penting pula.

Guruh Ramdani dan karya lukisanya. /Getty Image/ adm/ FB 2016

Jumlah Cadangan Devisa (si Seniman) dan Tingkat Kebutuhannya.
Artinya, jika cadangan devisa, asset atau tabungan) si seniman aman (misalkan si seniman punya tabungan 50 juta rupiah di Bank) maka jadi logis saja jika dia memberikan nilai 5-10 juta untuk satu buah pekerjaannya, karena kira kira, sekian bulan ke depan hidup dia aman. Masa sih dalam satu bulan tidak ada kerjaan sama sekali? Kan kecil kemungkinannya. Atau bisa saja malah dalam satu bulan ada tiga pekerjaan. Maka dari itu, sang seniman pun seharusnya secara berkala menabung penghasilannya, dan secara bertahap (juga) membeli peralatan yang lebih berkualitas.

Hukum Pasar (Menyangkut Permintaan dan Penawaran)
Jika nama kita sudah di atas dan permintaan tinggi, tentunya secara otomatis harga pun akan naik dengan sendirinya.

Sekian mudah mudahan ada manfaatnya. Apa yang ditulis di atas bukan satu satunya dasar pertimbangan atau ketentuan yang tidak bisa ditawar tawar. Dalam prakteknya tentu tidak bisa dihindari adanya negosiasi. Belum lagi pertimbangan lainnya berdasarkan pengalaman masing masing.

“Pak kalau setelah dipraktekkan yang di atas dirasa kemahalan sehingga konsumen nolak, bagaimana?” Kalau saya sih biasanya bertahan, ndak jadi juga tidak masalah. Karena ya itu, menyangkut cadangan devisa tersebut. Lagi pula saya punya penghasilan dan pekerjaan tetap, tidak bergantung dari situ. Di sisi lain, pemesan kita pun mayoritas biasanya sudah bisa mengukur nilai atau kualitas kita. Jadi saran saya anda tetaplah berkarya, ada atau tidak ada pesanan, karena hal tersebutlah yang akan memancing pekerjaan. Syukur syukur (dan ini tidak mustahil) karya yang bukan pesanan tersebut malah dibeli orang dengan nilai lebih tinggi dari karya pesanan. Jika kita baru berkarya satu atau dua buah, namun berharap mendapatkan harga yang tinggi tentu hanya akan berakhir sebagai mimpi, walau pun karya kita bisa dibilang bagus atau luar biasa. Atau dengan kata lain, setelah punya bakat bagus, kita pun harus punya konsistensi berkarya.

Akhirnya seperti saya nyatakan pada awal tulisan ini; yang mau berkomentar, atau urun saran, tolong bingkai diskusinya adalah “Lukisan Pesanan”, sehingga tidak dicampur-adukkan dengan “lukisan idealis”, karena bisa menimbulkan ketidaknyamanan dan malah jadi debat kusir. Terima kasih.. (*)

————————————

*Guruh Ramdani, Pelukis.

Inspirasi

Yang Dipikirkan Novelis Saat Memikirkan Ide Novel

mm

Published

on

Bill Jones, jr/ unsplash

Entah bagaimana dia masuk ke dalam alam bawah sadarku, dan muncul kembali dengan sebuah cerita yang utuh.

Seringkali aku tidak mengetahui asal mulanya. Belakangan aku mempunyai pengalaman aneh yang memberiku pandangan sekilas atas prosesnya, sesuatu yang tak pernah kusangka. Aku sedang berkeliling Manhattan menaiki kapal uap dengan seorang teman dari Amerika, Elizabeth Lawrence dari majalah Harper. Dan aku menyadari seorang gadis duduk sendirian di ujung lain geladak-seorang gadis berusia kira-kira tiga puluh tahun, mengenakan rok yang lusuh. Dia sedang menikmati kesendiriannya. Sebuah ekspresi yang bagus, dengan dahi yang berkerut, kerutan yang banyak sekali. Aku mengatakan pada temanku, “Aku dapat menulis tentang gadis itu-menurutmu dia itu siapa?” Elizabeth mengatakan bahwa mungkin saja gadis itu seorang guru yang sedang berlibur, dan menanyakanku mengapa aku ingin menulis tentang gadis itu. Aku menjawab sebenarnya aku tak tahu-aku membayangkan gadis itu seorang yang peka dan cerdas, dan mengalami kesulitan karenanya. Mempunyai hidup yang sulit tetapi juga menghasilkan sesuatu darinya. Pada saat-saat seperti itu aku sering membuat catatan.

Tapi aku tidak melakukannya-dan aku melupakan seluruh peristiwa itu. Lalu, kira-kira tiga minggu setelah itu, di San Fransisco, aku bangun di tengah malam, kupikir, dengan sebuah cerita dikepalaku. Aku membuat uraian ceritanya saat itu juga-cerita itu tentang seorang gadis Inggris di negerinya-sebuah dongeng Inggris murni. Hari berikutnya sebuah pertemuan dibatalkan dan aku memiliki sehari penuh yang kosong. Aku menemukan catatanku dan menuliskan ceritanya-itu adalah peristiwa-peristiwa utama dan sejumlah garis penghubung. Beberapa hari kemudian, di dalam pesawat-waktu yang ideal untuk menulis-aku mulai mengerjakannya, merapikannya, dan aku berpikir, ada apa dengan kerutan-kerutan di wajah itu, itu ketiga kalinya mereka muncul. Dan aku tiba-tiba tersadar bahwa pahlawan Inggrisku adalah gadis di atas kapal Manhattan. Entah bagaimana dia masuk ke dalam alam bawah sadarku, dan muncul kembali dengan sebuah cerita yang utuh.

-Joyce Cary

*) Artikel lengkapnya bisa dibaca dalam buku “Memikirkan Kata” yang akan diterbirkan secara eksklusif oleh Galeri Buku Jakarta (Maret, 2019) sepenuhnya guna mendukung laman galeribukujakarta.com

Continue Reading

Inspirasi

Saul Bellow, Truman Capote, Tentang “Pembisik” Ide Menulis

mm

Published

on

Photo by Kyle Glenn on Unsplash

Letter form the Editor

Majalah The Paris Review (2018) secara ekslusif menerbitkan The Writers Chapbook, sebuah jilid buku yang berisi intisari-intisari dari rentetan wawancara dengan pengarang-pengarang yang muncul di majalah tersebut sejak tahun 1953. Apa yang ditulis kemudian adalah diskusi-diskusi para pengarang tentang proses awal dari dunia kreatif dan menulis mereka, pengecambahan sebuah puisi, atau sebuah karya fiksi. “Inspirasi” menjadi garis besar dalam rangkuman dari intisari pemikiran para pengarang dunia tentang proses kreatif dan bagaimana mereka menulis pada mulanya.

Saul Bellow,Truman Capote, John Ashbery, Jon Barth, John Berryman, Guillermo Cabrera Infante, Joyce Cary, Joan Didion, E. L. Doctorow,Leon Edel, William Faulkner, Robert Graves, John Hersey, Aldous Huxley, Jack Kerouac, Stanley Kunitz, Robert Lowell, William Maxwell, James Merril, Katherine Anne Porter, Philip Roth, May Sarton, Stephen Spender, Robert Penn Warren, Henry Miller, hingga Gabriel Garcia Marquez terangkum dalam bab ini. Jika Anda benar-benar menyediakan diri untuk “membaca”nya, Anda seharusnya mendapat begitu banyak inspirasi…

_________

Kita Semua Punya Pembisik

Aku mengira bahwa kita semua memiliki seorang pembisik atau komentator yang primitif yang sejak tahun-tahun pertama telah menyediakan saran untuk kita, memberitahu kita bagaimana dunia yang sesungguhnya. Ada seorang komentator semacam itu dalam diriku.

Aku harus menyiapkan landasan baginya. Dari sumber ini muncul kata-kata, frasa-frasa, suku-suku kata; kadang hanya bunyi-bunyian, yang kucoba untuk interpretasi, terkadang paragraf-paragraf utuh, sangat seksama.

Saat E. M. Foster mengatakan, “Bagaimana caranya aku mengetahui apa yang kupikirkan sampai aku mendengar apa yang kukatakan?” dia mungkin saja merujuk pada pembisik miliknya sendiri.

Terdapat instrumen pemeriksaan seperti itu dalam diri kita-pada masa kanak-kanak dalam tingkatan apa pun. Pada penampakan wajah seorang lelaki, sepatunya, warna-warna cahaya, mulut seorang perempuan atau mungkin saja telinganya, kita menerima kata-kata, sebuah frasa, pada saat itu tak berarti apa-apa selain suku kata yang tak masuk akal dari sang komentator yang primitif.

-Saul Bellow

Idemu akan Selalu Menghantuimu

Aku selalu mempunyai ilusi bahwa keseluruhan dari sebuah cerita, permulaannya dan bagian pertengahan dan bagian akhir, terjadi secara simultan dalam pikiranku—ketika aku melihatnya dalam sekejap. Tetapi ketika mengerjakannya, menuliskannya, kejutan-kejutan yang tak berhingga terjadi. Puji Tuhan, karena kejutan, pelintirannya, frasa-frasa yang muncul begitu saja diwaktu yang tepat, adalah keuntungan yang tak terduga, dorongan kecil yang menyenangkan yang membuat penulis terus bekerja.

Suatu masa aku terbiasa menyimpan buku-buku catatan dengan kerangka cerita. Tapi aku mendapati entah bagaimana hal ini mematikan ide dalam imajinasiku. Jika gagasannya cukup baik, jika itu benar-benar milikmu, kau tak akan bisa melupakannya… ia akan menghantuimu sampai kau menuliskanya.

-Truman Capote

Rahasia Kata-Kata

Mari menyebutnya embullo, sebuah kata dari bahasa Kuba yang berarti kemurahan hasrat, sebuah cara khusus yang anggun untuk menaiki gerbong-gerbong musik pikiran. Aku menulis setiap kali hantu suci itu membisikkan kata-kata manis ditelingaku. Tentu saja, aku juga menulis untuk memenuhi tenggat waktu, tapi itu bukan benar-benar menulis. Terkadang kata-kata datang hanya karena aku duduk di di hadapan mesik ketik.

-Guillermo Cabrera Infante

*) Artikel lengkapnya bisa dibaca dalam buku “Memikirkan Kata” yang akan diterbirkan secara eksklusif oleh Galeri Buku Jakarta (Maret, 2019) sepenuhnya guna mendukung laman galeribukujakarta.com

Continue Reading

Inspirasi

Meniti Bahagia, Menapaki Jalan Sunyi Siddhartha

mm

Published

on

Kebahagian adalah ketika seseorang dapat mengalahkan egonya sendiri, demikian intisari utama moralitas yang diajarkan Siddhartha Gautama.

Siddharta Gautama, atau kemudian lebih terkenal dengan nama ‘Buddha’ adalah pribadi ‘Yang Tercerahkan’ jiwanya, setelah melewati jalan panjang dalam kesunyian. Gautama hidup di masa di mana agama dan mitologi dipertanyakan. Di Yunani, pemikir seperti Pythagoras menguji kosmos menggunakan akal, dan di China, Laozi dan Confucius melepaskan etika dari dogma agama.

Buddhisme sebagai filsafat

Brahmanisme, agama yang telah berevolusi dari Vedaisme—kepercayaan kuno berdasarkan teks suci Veda—adalah kepercayaan yang paling banyak dianut di India pada abad ke 6 sebelum masehi, dan Siddharta Gautama adalah orang pertama yang menantang ajarannya dengan nalar filosofis.

Gautama, meskipun dipuja oleh para penganut ajaran Buddha karena kebijaksanaannya, bukanlah seorang mesias atau seorang nabi, dan dia tidak bertindak sebagai perantara antara Tuhan dan Manusia. Ide-idenya datang melalui penalaran, bukan wahyu ilahi, dan inilah yang menandai buddhisme sebagai filsafat dari pada sebuah agama. Pencariannya adalah suatu proses yang filosofis – untuk menemukan kebenaran–dan Gautama percaya bahwa kebenaran yang dia usulkan tersedia bagi kita semua melalui kekuatan nalar.

Seperti kebanyakan filsuf timur, dia tidak tertarik pada pertanyaan metafisik yang tak terjawab dan hanya sebatas menyibukkan orang-orang Yunani. Gautama menilai bahwa manusia yang bersikeras berurusan dengan entitas di luar pengalaman yang dimiliki sebagai manusia, dapat berujung pada spekulasi yang tidak masuk akal. Gautama sendiri percaya, kesibukan mencari sesuatu yang ada ‘di luar’ dirinya akan menegasikan hal penting yang seharusnya dilakukan oleh manusia; yaitu mempertanyakan pada dirinya sendiri tentang tujuan hidup yaitu merumuskan bagaimana sejatinya konsep kebahagiaan, kebajikan, dan kehidupan yang ‘baik’.

Jalan Tengah

Di kehidupan awal, Gautama menikmati kemewahan dan semua kesenangan indra. Namun, Gautama menyadari bahwa apa yang dimiliki pada saat itu tidak cukup untuk membawa dirinya pada kebahagiaan sejati. Dia sangat sadar akan penderitaan di dunia, dan melihat bahwa penderitaan manusia datang dari beragam bentuk, mulai dari penyakit, menjadi tua, kematian, dan kemiskinan.

Gautama mengakui bahwa kesenangan indra yang kita nikmati untuk menghilangkan penderitaan sejatinya jarang memberikan rasa puas yang utuh, ia percaya bahwa kesenangan itu bersifat sementara. Gautama kemudian menemukan pengalaman asketisisme ekstrim, dalam bentuk kesederhanaan dan berpantang. Namun apa yang ditempuh Gautama saat itu tidak membawa pada titik yang lebih dekat dengan pemahaman tentang kebahagiaan itu sendiri.

Akhirnya Gautama sampai pada kesimpulan bahwa harus ada ‘jalan tengah’ antara kesenangan diri dan penyiksaan diri. Jalan tengah ini, menurutnya, harus mengarah pada kebahagiaan sejati, atau ‘pencerahan’ dan untuk menemukannya, ia menggunakan penalaran berdasarkan pada pengalamannya sendiri.

Gautama menyadari bahwa penderitaan bersifat universal. Di mana penderitaan itu sendiri adalah bagian integral dari keberadaan, dan akar penyebab penderitaan kita adalah kefrustrasian manusia antara keinginan dan harapan.

Keinginan-keinginan ini dia sebut ‘keterikatan’, dan keterikatan yang dimaksud tidak hanya keinginan-keinginan indra dan ambisi duniawi kita, tetapi naluri kita yang paling dasar untuk mempertahankan diri kita sendiri. Memuaskan keterikatan ini, menurutnya, dapat membawa kepuasan jangka pendek, tetapi bukan kebahagiaan dan kedamaian pikiran.

Bukan Kehendak Diri

Langkah berikutnya dalam penalaran Gautama adalah bahwa penghapusan keterikatan akan mencegah kekecewaan, dan menghindari penderitaan. Namun untuk mencapai hal ini, dia menyarankan menemukan akar penyebab dari keterikatan kita, yaitu keegoisan itu sendiri. Gautama percaya bahwa keegoisan lebih dari sekedar kecenderungan kita untuk mencari kepuasan dan membuat kita terikat.  Jadi membebaskan diri kita dari keterikatan yang menyebabkan kita kesakitan tidak cukup hanya dengan meninggalkan hal-hal yang kita inginkan—kita harus mengatasi keterikatan kita dengan apa yang diinginkan oleh “diri kita sendiri”.

Tapi bagaimana kita bisa mencapai titik itu? Keinginan, ambisi, dan harapan adalah bagian dari sifat manusia, dan bagi sebagian besar manusia merupakan alasan untuk hidup. Jawabannya, bagi Gautama, bahwa dunia ego adalah ilusi—sebagaimana ia tunjukkan, sekali lagi, oleh proses penalaran. Dia berpendapat bahwa tidak ada di alam semesta yang disebabkan oleh diri sendiri, karena semuanya adalah hasil dari beberapa tindakan sebelumnya, dan masing-masing dari kita hanyalah bagian sementara dari proses kekal lainnya—yang pada akhirnya tidak kekal dan tanpa substansi.

Pada kenyataannya, tidak ada ‘diri’ yang bukan bagian dari entitas yang lebih besar—atau dari ‘bukan kehendak diri’—dan penderitaan disebabkan oleh kegagalan kita untuk mengenali hal ini. Namun, bukan berarti kita mengingkari keberadaan atau identitas pribadi, sebaliknya kita harus memahami diri sendiri apa adanya, bahwa manusia atau ‘diri’ hanya bersifat sementara dan insubstansial.

Dalam pada itu, menuju jalan Gautama, manusia sejatinya memahami konsep ‘bukan kehendak diri’ dimana  tidak ada yang abadi dari hasrat, ambisi dan ekspetasi, alih-alih melekat pada gagasan menjadi “pribadi” yang unik, adalah kunci untuk kehilangan keterikatan itu, dan menemukan pelepasan dari penderitaan.

Jalan Berunsur Delapan

Gautama menelaah sebab-sebab penderitaan yang dialami manusia dengan melihat lebih dalam ke dalam filosofi “Empat Kebenaran Mulia”. Lewat ajaran tersebut, Gautama menelaah bahwa penderitaan itu bersifat universal; keinginan adalah penyebab dari penderitaan; penderitaan dapat dihindari dengan menghilangkan hasrat atau keinginan; dan cara terbaik untuk menghilangkan hasrat adalah dengan mengikuti ‘Jalan Berunsur Delapan’.

Kebenaran terakhir ini mengacu pada apa yang menjadi panduan praktis untuk mencapai “jalan tengah” yang diberikan oleh Gautama bagi para pengikutnya untuk mencapai pencerahan. Jalan Berunsur Delapan (tindakan yang benar, niat yang benar, penghidupan yang benar, usaha yang benar, konsentrasi yang benar, ucapan yang benar, pemahaman yang benar, dan perhatian yang benar) adalah kode etik—resep untuk kehidupan yang baik dan resep kebahagiaan yang pertama kali ditemukan oleh Gautama.

Menuju Nirwana

Gautama melihat tujuan akhir kehidupan di Bumi adalah untuk mengakhiri siklus penderitaan (kelahiran, kematian, dan kelahiran kembali) di mana kita dilahirkan. Dengan mengikuti Jalan Berunsur Delapan, seseorang dapat mengatasi egonya dan menjalani kehidupan yang bebas dari penderitaan dan menikmati pencerahannya. Terpenting, melalui Jalan Berunsur Delapan, sesorang dapat menghindari rasa sakit dari reinkarnasi ke dalam kehidupan dan penderitaan yang lain. Orang yang memahami filosofi dari Jalan Berunsur Delapan akan lebih menyadari nilai “bukan kedirian” dan menjadi satu dengan yang kekal. Pada titik itu, orang telah terlepas dari hal ‘kedirian’ telah mencapai titik Nirwana—yang secara beragam diterjemahkan sebagai “ketidakterikatan”, “tidak-menjadi”, atau secara harfiah “menerangi” (baca: sebagai lilin).

Dalam brahmanisme sewaktu masa Gautama, Nirwana dipandang sebagai satu dengan Tuhan, tetapi Gautama secara hati-hati menghindari penyebutan Tuhan atau tujuan akhir untuk hidup. Dia hanya menggambarkan Nirwana sebagai “tidak dilahirkan, tidak beradab, tidak diciptakan dan tidak berbentuk”, dan melampaui segala pengalaman inderawi.

Setelah melewati masa pencerahannya, Gautama menghabiskan bertahun-tahun berkeliling India, ia berkhotbah dan mengajar. Selama masa hidupnya, ia memperoleh banyak pengikut dan Buddhisme menjadi mapan sebagai agama sekaligus filsafat. Ajarannya diturunkan secara lisan dari generasi ke generasi oleh para pengikutnya, sampai abad ke-1, para pengikutnya mulai menulis ajaran Gautama untuk pertama kalinya. Berbagai aliran mulai muncul ketika Buddhisme tersebar di seluruh India, dan kemudian menyebar ke timur ke Cina dan Asia Tenggara. Buddhisme kemudian menyaingi popularitas Confusianisme dan Taoisme.

Ajaran Gautama menyebar hingga ke kekaisaran Yunani pada abad ke-3 SM, tetapi memiliki pengaruh kecil pada filsafat barat. Namun, ada kesamaan antara pendekatan Gautama terhadap filsafat dan filsafat orang-orang Yunani, yaitu  penekanan Gautama pada penalaran sebagai sarana untuk menemukan kebahagiaan, dan disiplinnya menggunakan dialog filosofis untuk mendidik ajaran-ajarannya.

Pemikiran Gautama akhirnya menemukan gema dalam ide-ide filsuf barat kemudian, seperti dalam konsep David Hume tentang diri dan pandangan Schopenhauer tentang kondisi manusia. Tetapi baru pada abad ke-20, Buddhisme memiliki pengaruh langsung terhadap pemikiran Barat. Sejak saat itu, semakin banyak orang Barat yang beralih ke Buddhisme sebagai pedoman tentang cara hidup. (*)

*) diterjemahkan Susan Gui (ed; Sabiq Carebesth), dari “Happy is He Who Has Overcome His Ego”  (The Philosohy Book; DK London, 2011).

Continue Reading

Trending