Connect with us

Inspirasi

Apa Dasar Pelukis Menentukan Harga Lukisan “Pesanan”?

mm

Published

on

Oleh: Guruh Ramdani*

Mula-mula mari kita nyatakan bahwa tulisan ini adalah tentang “Lukisan Pesanan”, sehingga seyogya dan sebijaknya untuk tidak lebih dulu mencampur-adukkan dengan andaian bahasan tentang “lukisan idealis”, karena hal itu tentu akan menimbulkan ketidaknyamanan dan malah jadi debat kusir.

Ini bermula tatkala beberapa orang bertanya kepada saya mengenai dasar penentuan harga lukisan pesanan. Sebetulnya saya pribadi tidak punya pengetahuan khusus soal itu, semuanya hanya karena pengalaman bertahun tahun saja, itu pun sebetulnya saya jarang menerima pesanan, karena memang tidak secara terbuka saya umumkan atau sengaja saya cari, berhubung saya disibukkan dengan hal atau pekerjaan lain, utamanya mengajar, termasuk aktifitas melukis atas dorongan pribadi (juga), atau mungkin juga pertimbangan lain dari calon konsumen. Walau pun kalau ada pesanan dan harganya cocok ya saya kerjakan juga. Beberapa informasi didapat juga karena merupakan hasil diskusi (tidak langsung) dengan beberapa teman perupa. Dan hasilnya adalah sebagai berikut:

Kualitas Karya
Tidak bisa dihindari, yang yang menjadi dasar pertimbangan pertama dan utama tentunya adalah kualitas karya. Untuk itu wajib bin kudu seorang seniman menguasai berbagai teknik secara maksimal, dalam hal ini tentunya adalah kemampuan teknis melukis realis, karena suka tidak suka, mayoritas orang yang memesan lukisan adalah “ingin dilukis secara realistis dan indah”, walaupun ada beberapa pengecualian kasus pesanan di dunia seni rupa yang pernah terjadi. Penguasaan teknis di sini adalah menyangkut ilmu melukisnya itu sendiri, maupun pengetahuan dan penggunaan alat dan bahan. Kuasai teknik semua alat dan bahan untuk melukis, jangan hanya terpaku akan satu alat saja. Semakin luas teknik yang kita kuasai akan semakin besar peluangnya. Karena biasanya permintaan konsumen itu suka ada yang ingin dilukis dengan alat dan bahan tertentu.

Kwalitan serta Harga Alat dan Bahan yang Dipergunakan
Seperti yang diketahui bersama bahwa alat dan bahan untuk melukis tidaklah murah. Hal ini harus dipisahkan sebagai indikator memberikan biaya, apakah menggunakan pensil atau cat, di atas kertas atau kanvas, menggunakan pigura atau tidak, harus dihitung dari awal. Sehingga komponen ini bisa menjadi pertimbangan argumentasi kita ketika meminta DP di muka.Kwalitas alat dan bahan pun harus menjadi pertimbangan yang penting dan tidak boleh diabaikan atau sembarangan. Karena perlu diketahui, melukis menggunakan alat dan bahan yang berkualitas secara visual pun akan terlihat lebih keluar kualitas warnanya, dan (justru) penggarapannya pun lebih mudah. Penggunaan alat dan bahan yang berbeda pun (berdasarkan sifatnya masing masing), akan menentukan lamanya waktu pengerjaan, dan itu pun harus diperhitungkan.

Ukurannya
Karena harus diingat, ukuran akan menentukan juga lamanya waktu pengerjaan berikut banyaknya alat dan bahan yang dipergunakan.

Jumlah Kepala Orang yang Akan Dilukis
Hal ini tentunya sudah jadi pengetahuan umum teman teman, karena jika lukisan potret wajah, yang menjadi titik sentral jualannya adalah kemiripan wajahnya. Namun sebaiknya jumlah kepala ini harus dibedakan antara satu orang dengan beberapa orang, jika satu orang nilai jualnya adalah misalkan 600 ribu, maka harus dibagi menjadi dua indikator, yang tiga ratus ribu adalah cat, kanvas, dan kwas yang akan aus; dan yang tiga ratus ribu berikutnya adalah nilai pekerjaan atau jasanya. Sehingga jika harus mengerjakan sebanyak tiga orang dalam satu kanvas, nilai lukisannya adalah 600 ribu ditambah 300 ribu kali dua orang (tambahan), atau satu juta dua ratus ribu rupiah. Tentu biaya ini pun di luar biaya pigura.

Tingkat Kesulitan Pengerjaan
Misalkan, apakah pakaiannya polos atau bermotif rumit (seperti batik)? Apakah background harus digambar secara utuh atau boleh dibuat polos? Kalau memang rumit, baiknya dikenakan saja biaya tambahan, misalkan dari tiga orang, yang menggunakan batik yang rumit satu orang, maka yang satu orang ini dikenakan biaya tambahan misalkan 150 ribu sendiri.

Pengiriman dan Packaging
Seperti yang kita ketahui bahwa pihak jasa pengiriman paket akan menghitung biaya berdasarkan, panjang kali lebar kali berat. Apabila si pemesan ingin dipigura sendiri alias lukisannya dikirim dengan cara digulung, saya tidak membebankan biaya pengiriman apabila masih dalam lingkup pulau Jawa, namun apabila harus ke luar Jawa apalagi ke luar negeri, ya suka tidak suka harus ditanyakan dulu kepada pihak jasa pengiriman. Apabila menggunakan Pigura, apalagi jika menggunakan kaca, maka ukuran lukisan pun akan menjadi lebih besar dari ukuran aslinya, karena jika pinggirannya saja 10 cm, maka lukisan yang berukuran 30 X 40 cm saja akan menjadi 50 X 50 cm, belum lagi beratnya. Belum lagi (kalau pakai kaca) harus dipacking kayu, tentunya akan bertambah berat lagi. Maka bisa dipastikan, efek dari biaya pengiriman semacam ini ini akan membuat rasa terkejut dengan jumlahnya kalau tidak diantisipasi dari awal.

Lamanya Waktu Pengerjaan
Sebaiknya untuk soal ini dihitung berdasarkan jumlah jam, bukan hari, karena bisa saja ada hari yang kosong, dan kita pun harus beristirahat atau mengerjakan soal lain. Atau bisa saja secara teknis jumlah harinya satu bulan, namun jumlah pengerjaannya adalah 60 jam. Maka jika (seandainya) seorang buruh bangunan dibayar 120 ribu per delapan jam kerja, tentunya kita bisa menghitung kapasitas kita, apakah mau dihargai lebih atau kurang dari itu. Kalau selama delapan jam saya dibayar mengajar sekian rupiah, maka saya bagi delapan, dan (kalau saya pribadi) saya naikan menjadi 150 persen dari bayaran yang biasa saya terima tersebut. Karena bagi saya hal tersebut hitungannya adalah lembur.

Sekali tersebut, biaya tersebut hanyalah menyangkut jasa atau waktunya saja, di luar biaya alat dan bahan, apalagi pigura.

Sampai poin di atas harus dibicarakan atau ditanyakan di muka dengan pihak pemesan secara terbuka sebelum menentukan biayanya. Jangan tergesa gesa menentukan harga sebelum dihitung dengan cermat. Lihat dulu fotonya sebelum dilukis, karena dari sana akan bisa ditebak tingkat kesulitannya. Minimal kita bisa menghitungnya dalam kisaran satu atau dua jam. Apalagi untuk pengiriman yang sifatnya di luar kebiasaan atau jauh harus ditanyakan dulu ke pihak jasa pengiriman sebelum diputuskan. Jangan sampai kita merasa nilai pekerjaan kita besar tapi setelah selesai dan dihitung ulang, malah lebih banyak kerja baktinya.

Lingkup Pergaulan (Relasi) dan Citra yang Ditampilkan
Dalam ilmu ekonomi dinyatakan bahwa barang yang sama (misalkan Coca Cola) jika dijual di tempat yang berbeda (di pinggir jalan, di Supermarket, atau di Hotel) akan berbeda pula nilainya. Maka bagi adik adik yang masih sekolah dan lingkup pergaulannya mayoritas adalah teman teman sebaya, mungkin jika mendapat order dari teman teman, sudah bisa ditebak uang saku temannya itu berapa, dan nilai apresiasinya pun terukur. Namun bagi mereka yang cenderung sudah berumur, dan teman temannya sudah banyak yang sukses, apalagi jika orangnya supel, teman dari temannya tersebut juga bisa menjadi pelanggannya. Walau pun demikian, di era teknologi informasi ini, asalkan kita konsisten berkarya, hal hal semacam itu bisa cepat diatasi, yang penting adalah kembali ke poin pertama di atas, “kualitas karya”. Lingkup pergaulan pun bisa dibentuk dengan berpameran, yang akan membuka akses serta kepercayaan publik baik itu masyarakat awam maupun kolektor (akan kesungguhan kita) sebagai perupa, atau juga mengunjungi pameran dan bersilaturahmi dengan sesama seniman biasanya akan membuka akses ke soal ini.

Nilai Inflasi
Kita tahu bahwa semakin lama harga barang juga semakin naik tiap tahunnya. Maka dengan penuh kesadaran kita pun harus memperhitungkan soal ini, dan secara berkala kita harus menaikkan harga setiap tahun secara berkala, entah 5 atau 10%, sehingga tidak terseret perekonomian global. Harus diwaspadai pula kenaikan harga yang terlalu melonjak, karena bisa jadi dalam waktu sesaat anda bisa dapat order dengan nilai sangat besar, tapi puasa dalam jangka panjang.

Atau harga kita di satu sisi sangat tinggi, namun pada saat lain banting harga, sehingga bisa menimulkan ketidakpercayaan di mata konsumen yang pernah memesan. Kenaikan harga itu harus, tapi sedikit demi sedikit dan wajar.

Tingkat Keterkenalan dan Jam Terbang si Pelukisnya.
Suka tidak suka faktor ini akan sangat menentukan nilai jual. Karena tidak mudah juga membentuk nama ini, jadi kita tidak bisa dengan mudah mengatakan, “kok karya saya lebih bagus dari si anu, tapi dia bisa laku mahal sementara saya tidak?” Menyangkut soal ini yang harus dilakukan adalah harus konsisten berkarya dan berpameran, ada atau tidak ada order. Karena tentunya orang yang punya nama itu juga menikmati hasilnya setelah melalui berbagai macam fase perjuangan. Kualitas atau level pameran yang diikuti pun tentunya harus menjadi bahan pertimbangan yang penting pula.

Guruh Ramdani dan karya lukisanya. /Getty Image/ adm/ FB 2016

Jumlah Cadangan Devisa (si Seniman) dan Tingkat Kebutuhannya.
Artinya, jika cadangan devisa, asset atau tabungan) si seniman aman (misalkan si seniman punya tabungan 50 juta rupiah di Bank) maka jadi logis saja jika dia memberikan nilai 5-10 juta untuk satu buah pekerjaannya, karena kira kira, sekian bulan ke depan hidup dia aman. Masa sih dalam satu bulan tidak ada kerjaan sama sekali? Kan kecil kemungkinannya. Atau bisa saja malah dalam satu bulan ada tiga pekerjaan. Maka dari itu, sang seniman pun seharusnya secara berkala menabung penghasilannya, dan secara bertahap (juga) membeli peralatan yang lebih berkualitas.

Hukum Pasar (Menyangkut Permintaan dan Penawaran)
Jika nama kita sudah di atas dan permintaan tinggi, tentunya secara otomatis harga pun akan naik dengan sendirinya.

Sekian mudah mudahan ada manfaatnya. Apa yang ditulis di atas bukan satu satunya dasar pertimbangan atau ketentuan yang tidak bisa ditawar tawar. Dalam prakteknya tentu tidak bisa dihindari adanya negosiasi. Belum lagi pertimbangan lainnya berdasarkan pengalaman masing masing.

“Pak kalau setelah dipraktekkan yang di atas dirasa kemahalan sehingga konsumen nolak, bagaimana?” Kalau saya sih biasanya bertahan, ndak jadi juga tidak masalah. Karena ya itu, menyangkut cadangan devisa tersebut. Lagi pula saya punya penghasilan dan pekerjaan tetap, tidak bergantung dari situ. Di sisi lain, pemesan kita pun mayoritas biasanya sudah bisa mengukur nilai atau kualitas kita. Jadi saran saya anda tetaplah berkarya, ada atau tidak ada pesanan, karena hal tersebutlah yang akan memancing pekerjaan. Syukur syukur (dan ini tidak mustahil) karya yang bukan pesanan tersebut malah dibeli orang dengan nilai lebih tinggi dari karya pesanan. Jika kita baru berkarya satu atau dua buah, namun berharap mendapatkan harga yang tinggi tentu hanya akan berakhir sebagai mimpi, walau pun karya kita bisa dibilang bagus atau luar biasa. Atau dengan kata lain, setelah punya bakat bagus, kita pun harus punya konsistensi berkarya.

Akhirnya seperti saya nyatakan pada awal tulisan ini; yang mau berkomentar, atau urun saran, tolong bingkai diskusinya adalah “Lukisan Pesanan”, sehingga tidak dicampur-adukkan dengan “lukisan idealis”, karena bisa menimbulkan ketidaknyamanan dan malah jadi debat kusir. Terima kasih.. (*)

————————————

*Guruh Ramdani, Pelukis.

Inspirasi

Kreativitas Tanpa Batas Bersama Warga Lapas dan Muhidin M Dahlan

mm

Published

on

Oleh: Danang Pamungkas *)

Dari dulu saya paling takut dengan penjara, isinya adalah bangunan kotak kosong, dinding yang tinggi membatasi interaksi, dan besi yang menutupi ruangan. Penjara selalu identik dengan kelompok kriminal, penjahat, dan tempat terburuk bagi manusia. Namun di hari sabtu tepatnya tanggal 5 Mei 2018, saya menginjakkan kaki di tempat yang saya takuti. Saya melihat dengan jelas jeruji paku yang panjangnya melingkari luas tahanan seperti stadion sepak bola. Dinding lapas lebih tinggi ketimbang apa yang saya bayangkan dalam mimpi, sementara puluhan petugas keamanan sudah mengawasi beserta kamera tersembunyi di balik dinding dan jeruji. Saya seperti orang yang diawasi oleh mata di setiap sudut lokasi, gerak-gerik tubuh, dan sorot mata-pun bisa dianalisa oleh piranti canggih era-milenial.  Terbersit dipikiran saya ketika membayangkan bagaimana tokoh utama di dalam  Novel George Orwell berjudul “1984” yang diawasi ketat oleh sistem keamanan yang canggih dan membuat pikirannya di penjara oleh sistem.

Lalu pertanyaan saya muncul, bagaimana bisa warga lapas disini malah membuat pameran literasi, komunitas baca, dan membuat karya?

Saya pun berjalan lebih cepat, melewati pintu demi pintu untuk sampai di gedung pameran. Benar saja, ruangan lapas di dipenuhi lukisan, komik, kata-kata mutiara, kerajinan tangan, dan puisi. Ruangan ini mirip dengan pamertan arsip ketimbang lapas narkotika. Entah ruangan ini yang mendesain adalah warga lapas atau petugas, yang jelas hampir mustahil mendesain ruangan sedemikian rupa tanpa ide, kreatifitas, dan kerja keras.

Saya-pun bertemu dengan warga lapas yang saya lupa namanya. Ia yang mendirikan merek dagang “Patub-Porx” di bidang ukiran kulit, sablon kaos, drawing gambar, dan aneka seni rupa. Merek ini bisa dilihat di Instgram @patub_porx. Berperawakan tatoan di sekujur badan dan tindik di dua telinganya, dibalut pakaian biru-kuning, saya agak canggung untuk ngobrol dengannya. Maklum lingkungan saya adalah kumpulan orang-orang yang tidak tau seni.

Mas Patub-Porx bercerita bagaimana tahun 2017 lalu, , ia membantu temannya yang menjadi warga lapas – mendesain ruangan, dan memamerkan karya. Namun pada 2018 ini ia malah masuk menjadi penghuni lapas bersama temannya. Ia tertawa tak habis pikir, bagaimana nasibnya kini sama dengan temannya.

“Kalau pameran ini saya bersama teman-teman saling sharing dan belajar bareng untuk membuat pameran. Kalau disini semua orang bisa belajar apapun mas. Sudah lihat lukisan saya di lantrai dua belum? Kalau saya melukis bisanya dengan metode Drawing. Nah Mas Danto itu yang menggerakkan teman-teman untuk membuat komunitas baca Kopiku, dan berkesenian disini,” Ucapnya sambil tertawa.

Saya pun berjalan ke ruang pameran lantai dua untuk melihat lukisan Mas Patub_Porx, sekaligus mengikuti workshop penulisan tanpa batas yang dipandu oleh Muhidin M Dahlan (Gus Muh). Acara ini diinisiasi oleh Komunitas Pecinta Buku Lapas (Kopiku), Pustaka Bergerak, Rumah Baca Komunitas, Kemenkumham Yogyakarta, dan Lapas Narkotika Klas IIA Yogyakarta.

Lukisan dari Patub_Porx mempunyai kesan dan pesan yang dalam akan religiusitas dan moral. Ia seperti sedang mengirimkan pesan kepada semua orang bahwa ke-egoisan, kemunafikan, dan kejahatan adalah sifat keduniawian yang harus dihindari. Enam buah lukisannya memiliki ciri khas, dan pesan yang kuat. Orang awam-pun pasti paham makna yang ingin disampaikan oleh si pelukis.

Diskusi-pun dimulai. Banyak orang yang berkumpul termasuk warga lapas, penjaga, pegiat literasi, komunitas, mahasiswa, orang tua, dan aktivis. Saya sebenarnya takut untuk duduk bersebalahan dengan warga lapas, entah pengaruh stereotype lingkungan saya yang diskriminatif atau memang pikiran saya  yangcselalu negatif. Suasana gembira tanpa beban terlihat dari wajah para warga lapas, mereka minum kopi seperti sedang duduk di Cafe Legend, Kota Baru Jogja.

Warga lapas dengan antusias mendnegarkan ceramah Gus Muh  yang berdiri sambil mengerakkan tubuhnya untuk mempraktekkan cara penulis dalam mengimajinasikan subjek dan benda. Gelak tawa tahanan pun pecah, melihat Gus Mus dengan semangat memberikan trik dan tips dalam proses menulis.

“Jangan selalu ingin menulis  tokoh besar seperti Sukarno atau Pramoedya Ananta toer. Menulislah dengan cara kalian sendiri. Materi disekitar kita itulah yang paling mudah untuk kita tulis. Saya pernah membaca pernyataan Pram, bahwa ia tak mungkin bisa produktif menulis menghasilkan banyak buku kalau tidak di penjara. Nah di penjara inilah daya kreatifitas bisa dimaksimalkan lebih jauh. Saya selalu menolak anggapan bahwa biografi selalu identik dengan tokoh besar, saya kemudian menulis biografi tokoh yang bukan siapa-siapa, dan banyak orang yang meremehkan tokoh tersebut, buku saya itu berjudul “Tuhan Izinkan Aku Jadi pelacur.” Dan ternyata benar cerita tokoh tersebut dipahami dan dianggap berharga oleh banyak orang, sampai sekarang bisa tercetak hingga 100 ribu eksemplar. Setelah itu saya yakin semua individu memliki cerita yang unik dan rahasia. Sebenarnya  semua orang bisa dijadikan bahan untuk menulis, jadi menurut saya sekarang ini teman-teman (warga lapas) bisa belajar menulis biografi temannya di satu ruangan atau beda ruangan, bayangkan berapa puluh cerita yang akan bisa di tulis dan diterbitkan.”

“Kalau saya ketemu teman-teman saya, hal yang paling saya sukai adalah melakukan wawancara. Saya selalu mencatat, dan catatan itu saya jadikan bahan cerita untuk buku-buku saya. Nah mungkin teman-teman bisa mencobanya, tulis saja pengalaman teman kalian, bahkan sedetil  mungkin sampai bentuk wajah, hidup, sifat, dan karakternya. Saya yakin itu akan menjadi tulisan yang luar biasa menarik.”

Ia juga membahas bagaimana benda-benda disekitar lapas bisa ditulis menjadi beragam tema. Bagaimana batu, besi, jeruji, dinding, dan baju bisa dibuat tulisan sederhana yang bisa menguraikan kata-kata menjadi tulisan.

Setelah diskusi selesai, saya pun menyapanya untuk berdiskusi mengenai kegiatan literasi penjara. Ia duduk santai sambil menandatangani buku-bukunya, dan sesekali berbincang dengan warga lapas. Saya mearsa beruntung bisa ngobrol dengannya.

“Penjara itu kan batasan, tapi menulis membuatnya tidak terbatas. Tapi harus tahu caranya, menjadikan hal yang biasa menjadi tidak biasa. Bagi mereka benda-benda di dalam lapas itu sudah biasa, sehingga pikiran mereka sudah terstruktur (merasa biasa saja). Itulah yang membuat mereka merasa biasa sekali. Nah bagaimana cara membuat itu tidak biasa. . . kita belajar sastra itu tidak di dapatkan, dari SD dan SMP itu – kita hanya belajar Bahasa Indonesia bukan Sastra Indonesia. Kita belajar menulis sastra kan hanya di luar (komunitas) bagaimana menulis sejak kecil hanya di suruh menulis pergi ke rumah nenek atau kenakalan remaja, sebenarnya kan ada banyak tema yang bisa di eksplorasi. Menulis itu  pekerjaan jalan-jalan dan senang-senang. . . Menurut saya (Literasi penjara) merupakan terobosan, ternyata buku dan kreatifitas bisa masuk dalam penjara – untuk pembekalan mereka bagaimana nanti keluar.”

Gus Muh adalah seseorang yang sangat menginsiprasi banyak anak muda di generasi saya.  Ia banyak menulis buku, dan esai di beberapa media online. Ketika ia bersama  pegiat literasi mendirikan Radio Buku dan Warung Arsip, teman-teman saya merasa terwadahi dan sering nongkrong disana. Meskipun begitu, sampai sekarang saya belum pernah nongkrong di Radio Buku karena  faktor kemalasan.

Pameran literasi pun resmi di tutup oleh penampilan Band Reggae yang membuat suasan begitu berkesan. Beberapa warga lapas ikut bernyanyi dan bergoyang bersama, gelak tawa, dan candaan begitu bising di ruangan. Saya pun juga ikut menggerakkan badan sambil berfoto selfie dengan mereka. Sehari berada di dalam lapas, membuat pandangan saya tentang warga lapas berubah. Lapas bukanlah tempat haram, dan  bukanlah sarangnya penjahat. Lapas hanya tempat yang kebetulan dibuat oleh pemerintah untuk menampung sahabat kita yang sedang tidak beruntung dan butuh perhatian. Di dalam lapas ini semua kreativitas muncul dan terwadahi dengan baik, meskipun terbatas dengan fasilitas maupun aturan.

Saya menjadi heran mengapa di dunia yang lebih bebas, saya seperti berada di penjara dan kehilangan kebebasan. Benar memang kata pepatah Jawa, urip kui mung sawang sinawang[1]!

_______________

*) Danang Pamungkas, lahir di Rembang 2 Desember 1994. Penulis paruh waktu untuk beberapa media online. twitter: @danangpnp, instagram: @danangpnp.

[1] Kosakata Bahasa Jawa yang artinya kurang lebih: hakekat hidup itu hanyalah persoalan bagaimana seseorang memandang atau melihat sebuah kehidupan

Continue Reading

Buku

Menuju (Kematian) Demokrasi?

mm

Published

on

Saat ini, demokrasi merupakan sebuah sistem pemerintahan yang banyak dianut oleh negara-negara yang ada di dunia, terutama setelah berakhir perang dingin pada 1990. Demokrasi dinilai sebagai sebuah sistem yang ideal, karena system yang berasal dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Selain itu, demokrasi juga menganut prinsip pembagian kekuasaan antara eksekutif, legislatif, dan yudikatif.

Akan tetapi, menurut Karl Popper dalam Masyarakat Terbuka dan Musuh-Musuhnya (1945) satu hal yang menjadi daya tarik dalam sistem demokrasi adalah adanya jaminan terhadap hak-hak individu sebagai makhluk yang otonom dalam berpikir dan menyampaikan pendapat. Dalam konteks pemerintahan, pemerintahan dinilai berjalan dengan baik bila pemerintah dan para pemimpin senantiasa membuka diri dan bersikap rendah hati terhadap masukan dan kritik, baik kritik publik baik dari oposisi maupun rakyat biasa. Tujuannya tak lain adalah perbaikan untuk menyejahterakan rakyat.

“Comprehensive, enlightening, and terrifyingly timely.” —New York Times Book Review | “Cool and persuasive… How Democracies Die comes at exactly the right moment.” —The Washington Post _____ Judul Buku : How Democracies Die Penulis : Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt Penerbit : Crown Publishing Tahun Terbit : Cetakan I, Maret 2018 Tebal : 312 halaman, ISBN 978-1-5247-6293-3 Harga : Rp.245.000,-

Namun, satu dekade terakhir muncul gejala populisme secara global di dunia. Populisme merupakan untuk paham yang mengutamakan mengutamakan kepentingan rakyat kecil, ketimbang kalangan elite. Populisme muncul karena demokrasi dianggap gagal mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Isu ini kerap dimanfaatkan untuk memunculkan rasa nasionalisme dalam arti sempit, yang menolak semangat perubahan dan keterbukaan. Dengan kata lain, populisme merupakan salah satu jalan untuk kematian demokrasi.

Fenomena populisme abad ke-21, terjadi di Amerika Serikat dengan terpilihnya Donald Trump yang dalam janji kampanyenya menyiratkan sosok populis dan patriotis (hlm.61). Namun, tentu bukan hanya populisme saja yang menjadikan jalan bagi matinya demokrasi secara global. Hal itu dijabarkan dalam buku yang ditulis oleh Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt yang merupakan dua professor dari Universitas Harvard, Amerika Serikat.

Menurut mereka, jalan kematian demokrasi suatu negara dapat terjadi pada dua pihak yakni pihak internal—pemerintah atau penguasa— dan pihak eksternal—oposisi. Biasanya, pihak oposisi akan memulai kritik dengan gagalnya pemerintah dalam mewujudkan kesejahteraan sosial. Lantas, pihak oposisi akan mengkritiknya dan menyalahkan pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat kecil dan mendukung pihak asing.

Oposisi akan mengkritik keras dan vokal guna mendapatkan perhatian dari rakyat. Tak hanya itu, demi mengakumulasi dukungan dari rakyat, oposisi melalui politisinya akan memanfaatkan sentimen sosial yang ada di masayarakat seperti Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA).

Menurut Cherian George (2016), isu cara saja SARA tak cukup, para politisi biasanya akan melakukan pemelintiran kebencian di masyarakat. Mereka akan memanfaatkan emosi massa, seperti penolakan pembangunan masjid di Ground Zero, Amerika Serikat yang dekat dengan serangan Gedung World Trade Centre (WTC) pada 11 September 2001. Hal itu digunakan oleh partai Republik untuk meraup dukungan dari adanya sentimen terhadap kelompok Islam. Cara ini tentu akan membuat polarisasi di masyarakat, kepanikan, permusuhan, dan saling tidak percaya (hlm.76).

Sedangkan, dari pihak pemerintah, matinya demokrasi ditandai dengan memilih penegak-pengegak hukum yang berasal dari partainya atau koalisi pemerintahan. Dengan demikian, penguasa akan dengan mudah membuat regulasi atau aturan-aturan yang dapat melindungi kekuasaannya dari kritik pihak oposisi (hlm.87-92).

Faktor berikutnya adalah pihak pemerintah atau pendukung pemerintah akan terus menganggap oposisi sebagai musuh.  Biasanya pihak oposisi akan menganggap pemerintah tidak demokratis. Sedangkan, pemerintah akan menganggap oposisi sebagai benih-benih chauvinism atau fasis (hlm.115) Dengan begitu, akan ada terus kekhawatiran dari pemerintah untuk membatasi setiap gerak dan gagasan oposisi. Disadari atau tidak, cara berpikir ini tentu akan semakin membuat polarisasi di masyarakat meruncing. Jadi pihak pemerintah dan oposisi sama-sama berperan atas terjadinya polarisasi di masyarakat.

Penulis mencontohkan, oposisi yang memanfaatkan hal-hal SARA kemungkinan besar akan menjadi dictator yang mengerikan dan justru mematikan demokrasi. Contoh nyata menurut penulis adalah Adolf Hitler di Jerman, dan Benito Mussolini di Italia.

Menjaga Demokrasi

Lantas, bagaimana untuk menjaga demokrasi agar tetap hidup? Steven dan Daniel menawarkan dua elemen untuk menjaga demokrasi. Pertama, adalah menghormati norma sosial. Para politisi baik pemerintah maupun oposisi saling menahan diri untuk tidak melakukan segala cara untuk melakukan segala cara untuk meraih kekuasaan. Apalagi membuat sentimen SARA (hlm.106). Meski terkesan naif, cara ini dinilai akan menciptakan suasana kondusif dalam jalannya pemerintahan.

Elemen kedua adalah media sebagai pilar keempat dalam demokrasi. Media diharapkan untuk tetap independen, tidak menjadi partisan pemerintah, oposisi, atau kelompok politik tertentu. Hal tersebut tentu menjadi tantangan bagi media menjaga indepensi, di tengah pemodal yang berafiliasi dengan kepentingan politik tertentu. Sebab, pers yang independen adalah benteng terakhir demokrasi, tak ada demokrasi yang bisa hidup tanpa pers yang independen (hlm.199).

Buku yang terdiri dari sembilan bab ini tentu sangat Amerika sentris. Hanya sedikit studi kasus yang ditulis di negara lain terkait masalah demokrasi.

Meski begitu, buku cukup layak untuk dibaca oleh berbagai kalangan masyarakat, terutama para politisi. Sebab, penting bagi politisi untuk tidak membuat polarisasi dan konflik horizontal di masyarakat, hanya untuk meraih kekuasaan.

Kita tentu menyadari, tidak ada sebuah sistem yang sempurna, termasuk demokrasi. Namun, hanya dengan demokrasi kita dapat menjunjung tinggi prinsip-prinsip humanisme yang menjamin hak serta kewajiban setiap individu tanpa membedakan SARA. Sebab, hanya dengan seperti itu, demokrasi dapat menjadi  alat untuk mencapai tujuan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. (*)

___________________

Virdika Rizky Utama, Periset di Narasi.tv

Continue Reading

Inspirasi

Lima Fakta Menarik Tetang Truman Capote

mm

Published

on

Siapa tidak kenal dengan Breakfast at Tiffany’s, novelet karya Truman Capote yang berhasil menghipnotis seluruh dunia tidak hanya dalam media sastra tetapi juga film, fashion, kuliner dan hampir seluruh budaya pop yang bisa dihasilkan pada zamannya bahkan sampai sekarang. Novel Breakfast at Tiffany’s masih terus diterjemahkan ke berbagai Bahasa hingga hari ini dan terus menambah pembaca setianya tak terkecuali di Indonesia.

Sosok dan keseharian Capote memang mengagumkan, ia sosok yang layak menjadi besar di mana hal itu terlihat jelas bagaimana karya dan pribadinya mampu menginspirasi orang lain dan ragam seni lain. Salah satu contohnya karakter Dill di buku Harper Lee, To Kill a Mockingbird karya Lee tidak lain dan tak bukan adalah pribadi Capote yang dalam kehidupan nyata adalah karib Lee.

Beberapa fakta menarik lain tentang Truman Capote: hidup, pekerjaan, dan keterkaitannya dengan para penulis lain benar-benar tak layak Anda abaikan, simak selangkapnya berikut ini:

  1. Truman Capote mengilhami karakter Dill di buku Harper Lee, To Kill a Mockingbird. Karakter Dill Harris dalam novel Lee didasari oleh tetangga sekaligus sahabat Harper Lee sendiri- Truman Capote. Capote, yang lahir pada tahun 1924 dengan nama Truman Streckfus Persons, mengubah namanya menjadi Truman Capote pada tahun 1935, mengikuti ayah tirinya, Joseph Capote.
  2. Ternyata, Lee bekerja sebagai asisten Capote untuk salah satu bukunya. Karya Truman Capote, In Cold Blood, sebuah karya non-fiksi yang diterbitkan pada tahun 1966, berfokus pada pembunuhan brutal oleh empat orang dari satu keluarga yang sama di Kansas pada tahun 1959. Menulis tentang tragedi terkini tentu saja melibatkan cukup banyak penelitian, sehingga Capote bisa pastikan fakta di karyanya tepat, dan Harper Lee membantu wawancara dan penelitian untuk buku ini. Pembunuhan kemudian akan muncul kembali di dunia Capote dengan cara yang aneh dan paling meresahkan. Yang mengerikan, Capote ternyata mengenal empat korban pembunuhan Manson tahun 1969, masing-masing dari mereka. Capote kemudian mengungkapkan bahwa ‘dari lima orang yang terbunuh di rumah Tate malam itu, saya mengenal empat dari mereka. Saya bertemu dengan Sharon Tate di Cannes Film Festival. Jay Sebring memotong rambut saya beberapa kali. Saya pernah makan siang sekali di San Francisco bersama Abigail Folger dan pacarnya, Frykowski. Dengan kata lain, saya mengenal masing-masing dari mereka.”

Saya tidak peduli apa yang dikatakan orang lain tentang saya selama itu tidak benar. –Truman Capote

  1. Capote menulis drafnya di atas kertas kuning. Pastinya kertas ini adalah ‘kertas kuning yang sangat istimewa’, seperti yang dia ungkapkan dalam sebuah wawancara dengan Paris Review. Kemudian, begitu dia senang dengan drafnya, dia akan mengetiknya di atas kertas putih.
  2. Capote memberi Ray Bradbury jeda lama dalam menulis. Bradbury mendapat jeda penting pertamanya saat dia remaja, di akhir 1930-an. Dia mengajukan sebuah cerita ke majalah Mademoiselle, yang mana seorang Truman Capote muda – yang sebenarnya empat tahun lebih muda dari Bradbury – bekerja sebagai asisten editor. Capote membaca cerita Bradbury, yang berjudul Homecoming, dan merekomendasikan kepada editornya untuk menerbitkannya.

Hidup ialah drama yang lumayan bagus dengan babak ketiga yang ditulis dengan buruk. – Truman Capote

  1. Truman Capote akan berganti kamar hotel jika nomor teleponnya disertai nomor 13. Seperti Stephen King – yang menderita triskaidekaphobia – Capote adalah seorang penulis yang percaya takhayul dan nomor 13 tidak disukainya. Dia juga tidak akan memulai atau mengakhiri sebuah karya pada hari Jumat, karena dia menganggapnya sebagai nasib sial. Terlepas dari kondisi dirinya sendiri, dia berhasil menulis sejumlah karya fiksi dan non-fiksi yang sukses, tidak hanya In Cold Blood, tapi juga novel pendek Breakfast at Tiffany’s (1958), film yang dibintangi Audrey Hepburn. Capote meninggal pada tahun 1984, berusia 59 tahun. Pada tahun 2005, almarhum Philip Seymour Hoffman berperan sebagai penulis dalam film biografi terkenal, Capote.

______________________________________________

*) By Regina N. Helnaz | Editor Sabiq Carebesth

Continue Reading

Classic Prose

Trending