Connect with us

Cerpen

Anton Pavlovich Chekhov: Pertimbangan Cinta

mm

Published

on

a

Di dalam kasus pembakaran rumah,empat orang laki-laki Yahudi didakwa. Mereka lantas dinyatakan sebagai gerombolan penjahat, tetapi, menurut saya, itu sama sekali tidak adil. Selama makan siang saya sangat gelisah, saya benar-benar tidak ingat, apa yang telah saya katakan. Anna Alekseevna hanya menggeleng-gelengkan kepalanya..

Oleh: Anton Pavlovich Chekhov | Penerjemah: Ladinata

Nikanor seorang yang  sangat saleh dan memiliki keyakinan religius yang tidak memperbolehkannya hidup dengan cara demikian, dia meminta Pelageya, agar menikah dengannya dan tidak menginginkan cara yang lain, mencerca-cercanya dan bahkan Nikanor memukulnya, manakala ia sedang mabuk, Pelageya bersembunyi di atas dan menangis sesegukkan; Alyokhin dan pelayan lainnya di saat yang sama tidak keluar dari rumah untuk melindunginya, sekiranya memang diperlukan.

Pada makan pagi di hari kedua disuguhkan pastel-pastel yang begitu lezat, udang dan kotelet[1] daging domba; dan ketika kami makan, juru masak Nikanor datang ke atas menanyakan kepada para tamu, apakah yang mereka inginkan untuk makan siang. Nikanor adalah seorang yang berperawakan sedang dengan wajah gempal dan mata berbentuk kecil-kecil, bercukur, dan kelihatan, bahwa kumisnya bukan tercukur, tetapi seperti bekas dicerabuti.

Alyokhin menceritakan, bahwa Pelageya yang cantik telah jatuh cinta pada juru masak tersebut. Oleh karena Nikanor seorang pemabuk dan bertabiat kasar, Pelageya tidak mau menikah dengannya, namun setuju hidup secara begitu. Nikanor seorang yang juga sangat saleh dan memiliki keyakinan religius yang tidak memperbolehkannya hidup dengan cara demikian, dia meminta Pelageya, agar menikah dengannya dan tidak menginginkan cara yang lain, mencerca-cercanya dan bahkan Nikanor memukulnya, manakala ia sedang mabuk, Pelageya bersembunyi di atas dan menangis sesegukkan; Alyokhin dan pelayan lainnya di saat yang sama tidak keluar dari rumah untuk melindunginya, sekiranya memang diperlukan.

Perbincangan mengenai cinta dimulailah.

“Bagaimanakah munculnya cinta,” Alyokhin berkata, “mengapa Pelageya tidak mencintai orang lain, yang lebih wajar untuknya baik dari sifat-sifatnya yang lembut maupun bentuk lahiriahnya, tetapi dia justru mencintai Nikanor, si wajah jelek ini (di sini kami semua menyebut Nikanor dengan si wajah jelek), karena di dalam cinta terdapat masalah-masalah yang mendasar dari kebahagiaan pribadi: semua ini belum dikenal dan semuanya boleh ditafsirkan secara terserah. Sampai saat ini hanya satu kebenaran yang tak dapat dibantah, yang telah dikatakan mengenai cinta dan tentu saja itu adalah rahasia yang bersifat agung, sedang sisanya, yakni yang telah ditulis dan dibicarakan, masih tidak terselesaikan, tetapi hanya merupakan masalah- masalah yang diangkat, yang dibiarkan berhenti tanpa pemecahan. Makanya penafsiran yang dapat dipakai untuk satu kejadian, kelihatannya, sudah tak sesuai lagi untuk sepuluh kejadian yang lainnya dan menurut saya, yang paling baik, hal seperti itu dapat dijelaskan melalui setiap peristiwa secara terpisah, sambil jangan mencoba untuk menyimpulkan. Sebagaimana dokter-dokter pernah berkata, mestilah menggolongkan setiap peristiwa yang berlainan menurut sifat khususnya masing- masing.”

“Tepat sekali,” Burkin menyetujui.

“Kita, orang Rusia, orang-orang berhati lurus, yang memiliki kelemahan terhadap masalah-masalah, yang ditinggalkan tanpa penyelesaian tersebut. Biasanya kita memuisikan cinta, menghiasinya dengan kembang-kembang mawar dan burung bulbul. Kita juga, orang Rusia, menghiasi cinta kita dengan masalah-masalah mendasar tersebut, terlebih lagi kita memilih yang paling tidak menarik dari masalah-masalah itu. Di Moskow[2], ketika masih menjadi seorang mahasiswa, saya punya seorang kawan setia: seorang nyonya jelita, yang apabila setiap kali saya merengkuhnya di dalam pelukan, dia berpikir tentang, berapakah yang akan saya berikan pada tiap bulan dan mengingatkan, berapakah sekarang harga satu pon[3]daging sapi. Begitulah kami, manakala bercinta, justru tidak berhenti memberikan pertanyaan-pertanyaan pada diri sendiri: jujurkah ini atau tidak jujur, cendikia ataukah pandir, yang dirujuk oleh cinta itu dan lain sebagainya. Baikkah itu atau tidak baik, saya tidak mengetahui. Akan tetapi, bahwa itu mengusik, tak menyenangkan dan menjengkelkan: saya tahu.”

Kelihatannya sama, dia ingin menceritakan sesuatu. Bagi orang-orang yang hidup sendiri, selalu terjadi sesuatu yang demikian di dalam jiwanya, yakni mereka akan bercerita dengan suka hati. Di kota, para bujangan secara sengaja pergi ke tempat pemandian umum dan ke restoran-restoran hanya untuk berbincang-bincang dan terkadang mereka menceritakan peristiwa-peristiwa yang begitu menarik kepada para pekerja di tempat pemandian umum dan para pelayan restoran tersebut; di desa pun para bujangan biasanya mencurahkan isi hati mereka di hadapan tamu-tamunya. Sekarang langit yang mendung dan pohon-pohon yang basah karena hujan, terpampang di jendela, dalam cuaca seperti ini orang tidak akan pergi kemana-mana dan bukanlah suatu masalah untuk tinggal lebih lama, bercerita dengan segera dan mendengarkan.

“Saya tinggal di Sofino[4] dan sudah lama mengurus pertanian,” Alyokhin memulai, “sejak menamatkan universitas. Berdasarkan pada pendidikan, saya orang yang menghindari pekerjaan kasar. Berdasarkan pada kehendak hati, mestinya saya jadi orang kantoran. Akan tetapi, di perkebunan, ketika saya datang ke sini ada tagihan yang cukup besar ditujukan pada saya, karena ayah saya sebagian besar berhutang untuk membiayai kuliah saya yang agak mahal, maka saya memutuskan untuk tidak pergi dari sini dan akan bekerja selama saya belum bisa membayar hutang tersebut. Saya memutuskan begitu dan mulai bekerja di sini, terus terang, bukannya tanpa rasa yang menjijikkan. Tanah di sini tak begitu layak menghasilkan, maka agar pertanian tidak jatuh pailit, semestinyalah mempekerjakan petani dengan sistem persahayaan atau sistem kontrak yang maksudnya hampir sama-sama juga, atau, bekerja membanting tulang, seperti yang dilakukan para petani, yaitu pergi sendiri ke ladang dengan seluruh anggota keluarga. Di sini tidak ada tanah tengah. Akan tetapi pada waktu itu, saya tidak bermaksud sampai pada hal-hal yang remeh seperti itu. Saya tidak membiarkan sejumput tanah pun dalam ketenangan, saya mengerahkan semua petani laki-laki dan perempuan dari desa sebelah. Pekerjaan saya di sini berkembang pesat; saya sendiri pun membajak, menyemai, memotong dan manakala saya merasa jemu, saya mengernyitkan dahi dengan rasa mual: bagai kucing kampung, yang karena saking laparnya makan ketimun di sebuah kebun; badan saya berasa nyeri dan saya tidur di atas kaki. Pada kali yang pertamalah tampak bagi saya, bahwa saya mampu secara mudah mensenyawakan kehidupan bekerja ini dengan kewajaran kultural; untuk itu yang berharga hanyalah, pikir saya, bertumpu pada hidup dengan aturan eksplisit yang dikenal. Di sini saya berdiam pada bagian atas, di kamar yang depan dan mengharuskan begini: bahwa sesudah makan pagi dan siang, saya mestilah diberi kopi dengan liker manis dan sambil berbaring tidur saya membaca Vestnik Europy[5]pada malam harinya. Namun entah mengapa muncul pendeta kita yang tua, bapak Ivan, dan dalam sekali teguk meminum semua liker manis saya, sedang Vestnik Europy pun melayang ke anak perempuannya, karena pada musim panas, terutama pada saat memotong jerami, saya tidak lagi sempat berbaring di tempat tidur dan sayapun tidur di lumbung di atas kereta salju atau di suatu tempat di gardu penjaga hutan: bagaimana saya bisa benar-benar membaca di sini? Berangsur-angsur saya pindah ke bawah, mulai makan siang di dapur umum dan hanya seorang pelayan yang tinggal pada saya dari kemewahan masa lalu, yang dulunya melayani ayah saya dan saya tak sampai hati untuk memberhentikannya.

Di sini pada tahun-tahun pertama pula saya dipilih ke pertemuan an honorary justice of the peace[6]. Kadang-kadang memang ada kesempatan untuk pergi ke kota dan mengambil bagian dalam sidang-sidang a convention of magistrates[7]dan district court[8]; ini menghibur hati saya. Jika engkau tinggal di sini selama kira-kira dua-tiga bulan tanpa pernah beristirahat, apalagi pada musim dingin, maka engkau pada akhirnya akan mulai merasa rindu terhadap black frock coat. Dan frock coat[9] itu, full-dress coat[10] dan tail coats galore[11], semua ahli hukum, orang-orang yang mendapat pendidikan umum yang baik, yakni orang-orang, yang dengan siapa kita berbicara; berkumpul di dalam district court. Dibanding sesudah tidur di atas kereta salju, sesudah makan di dapur umum di atas bangku, maka duduk dengan memakai baju bersih, sepatu tipis, dengan rantai di atas dada, itu adalah sungguh-sungguh suatu kemewahan!

Di kota saya diterima dengan penuh keramahan, dengan suka hati saya berkenalan. Akan tetapi dari semua kenalan yang paling kokoh dan memang yang paling menyenangkan bagi saya adalah berkenalan dengan Luganovich, kepala district court. Anda berdua mengenalnya: manusia berkepribadian elegan. Itu terjadi tepat sesudah selesainya kasus pembakaran rumah yang termasyur, yakni setelah pemeriksaan pengadilan yang berlangsung selama dua hari, kami berdua ketika itu sama-sama sudah penat. Luganovich menatap saya dan berkata:

“Anda tahu tidak? Marilah ke rumah saya untuk makan siang.”

Itu terjadi secara spontan, karena dengan Luganovich saya tidak seberapa kenal, kecuali hanya yang bertalian dengan hal resmi dan saya tidak sekali pun pernah ke rumahnya. Hanya sebentar saya masuk ke dalam hotel, tempat saya menginap; berganti pakaian dan sesudah itu berangkat untuk makan siang. Dan di sana saya diperkenalkan dengan Anna Alekseevna, istri Luganovich. Waktu itu dia masih sangatlah muda, usianya tidak lebih tua dari 22 tahun, setengah tahun sebelum masa itu dia sudah melahirkan anaknya yang pertama. Suatu kejadian yang sudah lalu dan sekarang saya merasa sukar untuk memastikan, apakah saya benar-benar sangat menyukai keluarbiasaan yang ada padanya, namun pada waktu itu juga, saat makan siang, segalanya bertambah nyata; saya melihat perempuan, yang cemerlang, baik budi, cerdas, memikat hati, seorang wanita, yang dulu belum pernah saya jumpai dan sekelebatan saya merasakan sesuatu yang dekat, sesuatu yang pernah dikenal, tepatnya profil wajah itu, sifat-sifat yang ramah tamah, mata yang kelihatan cerdik, yang suatu ketika, pada masa kanak-kanak pernah saya lihat, di dalam album, yang ditaruh pada lemari laci milik ibu saya.

Di dalam kasus pembakaran rumah,empat orang laki-laki Yahudi didakwa. Mereka lantas dinyatakan sebagai gerombolan penjahat, tetapi, menurut saya, itu sama sekali tidak adil. Selama makan siang saya sangat gelisah, saya benar-benar tidak ingat, apa yang telah saya katakan. Anna Alekseevna hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata kepada suaminya:

“Dmitry[12], bagaimana hal semacam itu bisa terjadi?”

Luganovich adalah seorang yang baik hati, salah satu dari orang-orang yang berjiwa lurus, yang dengan gigih berpegang pada opini, bahwa jika ada orang diseret ke muka pengadilan, maka ia memang jadi bersalah juga dan pengungkapan suatu kesangsian di dalam hukum kebenaran tidak boleh lewat cara yang lain, seperti halnya di dalam sistem yuridis, tertera di atas kertas dan agaknya bukanlah pada waktu makan siang serta bukan pula dalam sebuah perbincangan yang bercorak pribadi.

“Saya dan kamu tidak membakar rumah,” katanya dengan lunak, “dan begitu pun juga, kita tidak diadili, tidak dipenjarakan ke dalam bui.”

Dan keduanya, suami istri itu, berupaya agar saya makan dan minum lebih banyak lagi, melalui beberapa hal yang remeh, misalnya bagaimana mereka berdua bersama-sama menyeduh kopi dan bagaimana mereka satu sama lainnya saling cepat memahami tanpa mengatakan apa-apa, saya dapat menyimpulkan, bahwa mereka berdua hidupnya rukun, bahagia dan menyukai tamu. Setelah makan siang mereka bermain piano dengan berpasangan, kemudian setelah langit jadi gelap, saya kembali ke penginapan. Itu terjadi di awal musim semi. Kemudian saya menghabiskan musim panas tanpa henti-henti di Sofino, bahkan saya tidak pernah memikirkan kota, namun ingatan mengenai seorang wanita dengan rambut pirang terawat rapih tertinggal pada saya di sepanjang hari, saya tidak memikirkannya, tetapi bayangan tipisnya seolah-olah bersemayam di dalam jiwa saya.

Pada musim gugur yang panjang, di kota diadakan sebuah pertunjukkan dengan tujuan amal. Saya masuk ke dalam ruang kegubernuran (saya diundang ke sana saat istirahat), saya melihat, Anna Alekseevna di dekat istri gubernur dan sekali lagi perasaan yang paling tak bisa dibantah mengaliri kecantikan yang mengesankan dan biji mata yang lembut serta manis.

Kami duduk bersebelahan, kemudian menuju serambi.

“Anda tampaknya kurusan,” katanya, “Anda sakit?”

“Ya. Rasanya pundak saya kedinginan dan buruknya saya tidur di udara berhujan.”

“Kelihatannya Anda tidak bersemangat. Saat itu, pada musim semi, ketika Anda datang berkunjung untuk makan siang, Anda tampak lebih muda, lebih segar. Anda waktu itu penuh semangat dan banyak bicara, begitu menarik dan terus terang, saya bahkan sedikit terpikat. Entah mengapa di sepanjang tahun Anda sering muncul di dalam ingatan dan hari ini, justru waktu saya berniat pergi ke teater, saya merasa, bahwa saya akan bertemu dengan Anda.”

Dan dia tertawa.

“Akan tetapi sekarang Anda tidak bersemangat,” ia mengulangi, “itu menjadikan Anda tampak lebih tua.”

Keesokkan harinya saya makan pagi di rumah Luganovich, setelah itu mereka pergi ke vila untuk mengatur segala yang menyangkut musim dingin dan saya pun bersama mereka. Saya kembali ke kota dengan mereka dan pada pertengahan malam saya minum teh di rumah mereka dalam suasana yang sepi, penuh kekeluargaan, ketika tempat pembakaran menyala dan seorang ibu muda yang berjalan-jalan melihat, apakah anak perempuannya sudah tidur. Dan sesudah itu pada setiap kunjungan, saya pasti mampir ke rumah Luganovich. Mereka membiasakannya pada saya dan saya jadi terbiasa. Saya biasanya masuk tanpa perlu melapor, seperti layaknya orang rumah.

“Siapa di sana?” terdengar sebuah suara yang bagi saya terasa begitu indah dari kamar yang agak jauh.

“Itu Pavel Konstantinich[13],” jawab perempuan pelayan kamar atau mungkin pengasuh sang anak.

Anna Alekseevna keluar menghampiri saya dengan wajah yang prihatin dan setiap kali ia bertanya:

“Mengapa Anda begitu lama tidak mampir? Apa terjadi sesuatu?”

Sinar matanya, tangannya yang elegan dan halus: yang dia angsurkan kepada saya, pakaian rumahnya, gaya rambut, bunyi suara dan langkah-langkah kakinya setiap saat memancarkan pada saya segala kesan mengenai sesuatu yang baru, yang luar biasa di kehidupan saya dan yang bersifat fundamental. Kami lama berbincang-bincang dan lama juga berdiam-diam sambil memikirkan masing-masing mengenai diri sendiri atau dia memainkan piano pula untuk saya. Seandainya di rumah tidak ada seorang pun, saya akan tetap tinggal dan menanti, bercakap-cakap dengan si pengasuh, bermain-main dengan anak Anna Alekseevna ataupun rebahan di kamar di atas dipan buatan Turki dan membaca surat kabar dan jika Anna Alekseevna kembali, maka saya akan menjumpainya di ruang depan, mengambil alih segala belanjaannya dan entah mengapa saya membawa semua belanjaan itu setiap kali dengan rasa cinta yang sangat, dengan rasa gembira yang sangat: seperti bocah saja.

Maka ada pepatah: jika perempuan tidak memiliki kesibukan, maka ia akan membeli anak babi. Jika keluarga Luganovich tidak memiliki kesibukan, maka mereka akan berkawan dengan saya. Seandainya saya lama tidak berkunjung ke kota, maka saya tentunya sedang sakit atau sesuatu sedang menimpa saya dan mereka berdua begitu khawatir. Mereka khawatir, bahwa saya seorang yang berpendidikan, yang mengetahui beberapa bahasa asing dan selain itu mempelajari ilmu pengetahuan atau karya-karya susastra, tinggal di desa, bagai seekor bajing di atas putaran roda, banyak bekerja, namun selalu tidak mempunyai uang sepeser pun. Bagi mereka kelihatannya, saya menderita dan bila saya berbicara, tersenyum, makan, maka semua itu hanya untuk menyelimuti penderitaan saya, bahkan di saat-saat yang gembira, ketika saya merasa sedang senang, saya merasakan tatapan mata mereka yang menyelidik. Mereka luar biasa pilunya, manakala kesulitan benar-benar menimpa saya, manakala penagih apa saja menekan saya atau jumlah uang yang tidak mencukupi untuk menutupi pembayaran yang waktunya telah ditetapkan dengan segera; keduanya, suami istri itu, berbisik-bisik di dekat jendela, kemudian Luganovich menghampiri saya dan dengan wajah yang terlihat serius berkata:

“Jika Anda, Pavel Konstantinich, sekarang-sekarang ini memerlukan uang, saya dan istri saya memohon pada Anda, agar tidak usah merasa sungkan dan memakainya dari kami.”

Dan kedua kupingnya jadi memerah, karena gelisah. Namun kembali terjadi, persis sama dengan yang tadi, mereka berbisik-bisik di dekat jendela, Luganovich menghampiri saya dengan kuping berwarna merah dan berkata:

“Saya dan istri saya dengan amat sangat meminta Anda, agar mau menerima pemberian kami ini.”

Dan dia memberikan mata rantai manset, selepah atau lampu meja dan untuk semua itu dari desa, kepada mereka, saya mengirimkan unggas, mentega dan kembang-kembang. Harus dikatakan, secara sambil lewat, mereka berdua adalah orang-orang berpunya. Pada saat pertama kalinya saya sering meminjam dan saya bukan orang yang begitu suka pilih-pilih, saya meminjam hanya di tempat mana yang memungkinkan, akan tetapi tidak ada kekuatan apa pun juga yang dapat memaksa saya untuk meminjam pada keluarga Luganovich. Ya, apa yang bisa dikatakan mengenai hal ini!

Saya adalah orang yang kurang beruntung. Baik di rumah, di ladang, maupun di lumbung saya masih memikirkan Anna Alekseevna, saya berusaha memaklumi rahasia seorang wanita muda, yang cantik dan pintar, yang menikahi seseorang yang kurang menarik, nyaris sudah seperti lelaki tua (usia suaminya lebih dari 40 tahun), dan punya anak darinya. Saya berusaha memaklumi rahasia seorang laki-laki yang kurang begitu menarik, seseorang yang bersifat penuh kebajikan, seseorang yang berjiwa sederhana, yang berhitung dengan pikiran sehat yang menjemukan; di pesta-pesta dansa dan pesta malam laki-laki yang tak bersemangat dan tidak berguna itu bergaul di sekitaran orang-orang berwibawa dengan air muka tunduk dan bersikap tidak pedulian, seperti seekor domba yang di bawa ke sana untuk di jual, meskipun demikian, dia meyakini hak-haknya sendiri untuk bahagia dan memperoleh anak dari Anna Alekseevna dan saya berusaha memahami mengapa Anna Alekseevna justru berjumpa dengan Luganovich, bukan dengan saya dan buat apa ini mesti terjadi, adalah untuk suatu kesalahan yang begitu mengerikan, yang muncul di dalam perikehidupan kami.

Dan setiap kali saya ke kota, setiap melalui sinar matanya, saya melihat, bahwasanya dia menanti; dia sendiri mengakuinya kepada saya: sedari pagi dia memiliki sesuatu rasa yang istimewa, dia telah menduga, bahwa saya akan datang. Kami berbicara lama-lama, berdiam lama-lama, namun kami tidak saling mengaku cinta dan menyembunyikannya dengan rasa takut-takut, dengan rasa cemburu. Kami merasa takut, kalau semua itu akan membuka rahasia kami masing-masing terhadap diri sendiri, untuk apakah cinta kami mampu berjalan seandainya kami tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk memperjuangkannya; kelihatannya bagi saya jadi tidak masuk akal, bahwa cinta saya yang muram dan sunyi dengan tiba-tiba membungkam secara kasar kebahagiaan yang mengaliri hidup suaminya, sang anak, segala isi rumah itu, tempat saya merasa begitu dicintai dan begitu dipercayai. Apakah itu jujur? Seandainya dia mau turut dengan saya, ke mana? Ke manakah saya bisa membawa dia? Itu akan menjadi lain masalah, sekiranya saya memiliki kehidupan yang indah dan menarik, seandainya saya, misalnya, berjuang untuk membebaskan negeri sendiri atau menjadi seorang sarjana ternama, aktor, pelukis, tetapi, kalian tahu, saya bukanlah orang yang seperti itu. Jadi saya hanya akan membawanya dari satu kehidupan yang membosankan ke dalam kehidupan lain yang sama-sama membosankan atau bahkan lebih buruk dari itu. Dan berapa lamakah kebahagiaan kami akan berlangsung? Apakah yang akan terjadi dengannya, jika saya jatuh sakit, meninggal dunia atau yang paling sederhana kalau kami tidak saling mencintai lagi satu sama lainnya?

Dan Anna Alekseevna, rupa-rupanya, mempertimbangkan perihal yang sama. Dia memikirkan tentang suaminya, anaknya dan ibunya yang menyukai suaminya seperti anaknya sendiri. Apabila dia mencurahkan perasaannya sendiri, maka itu menjadikan ia berdusta atau juga berkata yang benar, tetapi di dalam posisinya yang sekarang kedua-duanya sama-sama mengerikan dan tidaklah pantas. Dan dia disiksa oleh pertanyaan: apatah cintanya membawa kebahagiaan bagi saya, apatah dia tidak mempersulit hidup saya dan apatah tanpa rasa bahagia, hidup saya menjadi susah, dipenuhi segala kemalangan? Tampaknya Anna Alekseevna merasa, bahwa dia sudah tidak cukup muda lagi untuk saya, tidak cukup lagi rajinnya dan enerjiknya untuk memulai kehidupan yang baru dan dia berbicara dengan suaminya, bahwa saya mestilah kawin dengan seorang wanita yang pintar dan sepadan, yang akan menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik, yang merupakan partner. Dan dengan secepatnya dia menambahi, bahwa di seluruh pelosok kota wanita yang begitu itu sulit sekali dijumpai.

Tahun-tahun terus berlalu. Anna Alekseevna telah mempunyai dua orang anak. Ketika saya berkunjung ke rumah Luganovich, seorang pelayan tersenyum dengan ramahnya, anak-anak menjerit meneriakkan, bahwasanya paman Pavel Konstantinich datang berkunjung dan mereka bergelayutan pada leher saya; keduanya merasa gembira. Mereka tidak mengerti, apakah yang berkecamuk di dalam jiwa saya; mereka pikir, saya gembira juga. Keduanya melihat sifat-sifat insan berbudi pada saya. Anak-anak yang mulai akil baliq itu merasa, bahwa di sepanjang kamar berjalan insan yang mulia dan sifat mulia ini memunculkan suatu daya tarik yang spesifik pada sikap mereka terhadap saya, persisnya terhadap keberadaan saya dan perikehidupan mereka yang menjadi lebih bersih dan indah. Saya dan Anna Alekseevna bersama-sama pergi ke teater, selalu berjalan kaki; kami duduk bersebelahan di atas bangku, pundak kami bersentuhan, dengan diam-diam saya mengambil binokel[14] dari tangannya, pada saat itu pula saya merasakan, bahwa dia teramat dekat dengan saya, bahwa dia adalah milik saya, bahwa kami tidaklah mungkin hidup tanpa satu sama lainnya, akan tetapi, lantaran adanya suatu bentrokan yang aneh, sekeluarnya dari teater, kami saling mengucapkan selamat jalan dan bersimpangan, bagai orang lain. Sementara di kota orang-orang sudah membicarakan kami entah mengenai apa, namun dari semuanya, tidak satu pun kata yang mengandung kebenaran.

Pada tahun-tahun belakangan ini Anna Alekseevna jadi lebih sering berkunjung, kadang kepada ibunya, kadang ke saudara perempuannya; perasaan tidak suka tengah menerpa hatinya, kesadaran terhadap hidup yang berakhlak busuk dan tidak memuaskan sedang menghampirinya, manakala ia tidak mempunyai keinginan untuk melihat pada, baik suaminya maupun anak-anaknya. Dia sudah melakukan terapi lantaran rasa gelisah yang sangat.

Kami berdiam diri dan berdiam, sebaliknya saat seperti orang asing dia merasakan suatu kejengkelan yang aneh untuk menentang saya; apa pun hal yang saya katakan, dia sudah tidak lagi setuju dan jika saya berdebat, maka dia akan mengambil sudut yang berlawanan dengan saya. Kalaulah saya menjatuhkan sesuatu barang, maka dengan dingin dia berkata:

“Saya katakan selamat untuk Anda.”

Jika saat pergi ke teater, saya lupa membawa binokel, maka dia kemudian berkata:

“Saya sudah tahu, bahwa Anda memang akan lupa.”

Beruntung atau tidak beruntung, pada kehidupan kami tidak terjadi apa-apa, tidak berakhir dengan pasti. Waktu berpisah datang, karena Luganovich diangkat menjadi seorang kepala di guberniya[15] bagian barat. Dengan demikian segala barang furniture, kuda-kuda dan vila mestilah dijual. Ketika kami pergi mengunjungi vila dan kemudian pulang kembali, kami menoleh untuk melihat taman dan atap berwarna hijau buat penghabisan kalinya, maka segalanya jadi menyedihkan dan saya mengerti, bahwa waktunya sudah tiba untuk mengucapkan selamat jalan bukan hanya dengan sebuah vila. Keputusan telah diambil, bahwa pada Agustus akhir kami akan mengantarkan Anna Alekseevna ke Krim, ke tempat mana dokter-dokter mengirimnya dan sebentar lagi Luganovich akan pergi dengan anak-anak ke guberniya bagian barat.

Kami mengantarkan Anna Alekseevna di dalam kerumunan yang padat. Ketika dia telah berpamitan dengan suami dan anak-anaknya, maka tinggallah waktu sesaat sampai bunyi lonceng yang ketiga, saya berlari masuk menjumpainya di kompartemen[16] untuk meletakkan ke atas rak penyimpanan salah satu dari tas-tasnya, yang hampir-hampir dia lupakan dan saya harus mengucapkan selamat jalan. Saat di sana, di dalam kompartemen, sinar mata kami saling berjumpa, daya kehidupan di dalamnya sudah meninggalkan kami berdua, saya mendekapnya, dia menjatuhkan wajahnya ke dada saya dan airmata mulai mengalir dari kedua matanya; menyelimuti wajahnya, pundak, tangan, yang jadi basah lantaran airmata. O, betapa malangnya dia dan saya! Saya mengungkapkan cinta kepadanya dan dengan kepedihan yang ada di dalam hati, saya mengerti, bahwa ketika engkau mencintai, maka segala pertimbangan mengenai cinta haruslah berasal dari sesuatu yang lebih tinggi, lebih fundamental, dari sekedar bahagia ataukah tidak bahagia, berdosa ataukah bermoral di dalam pola berpikir kita, atau tidak perlu mempertimbangkannya sama sekali.

Saya menciumnya untuk yang terakhir kali, menggenggam tangannya dan kami pun berpisah: buat selama-lamanya. Kereta sudah berangkat. Saya duduk di kompartemenyang sebelah, kompartemen itu kosong dan sampai di stasiun yang pertama saya duduk di sana dan menangis. Kemudian saya pulang ke Sofino dengan berjalan kaki.

Selama Alyokhin bercerita, hujan telah berhenti dan matahari mulai tampak. Burkin dan Ivan Ivanich keluar menuju ke balkon; dari sana terlihat suatu pemandangan yang indah ke arah taman dan bentangan sungai, yang sekarang berkilauan di bawah sinar matahari, bagaikan sebuah cermin. Mereka berdua sama-sama kagum pada hamparan pemandangan tersebut dan pada saat yang bersamaan mereka menyayangkan, bahwa laki-laki dengan mata yang memancarkan kebaikan dan kecerdasan itu, yang bercerita kepada mereka dengan hati yang begitu tulus, sesungguhnya di sini, di perkebunan yang sangat luas ini, berjungkir-balik, bagaikan seekor bajing di atas putaran roda dan dia tidak mempelajari ilmu pengetahuan atau sesuatu yang lain, yang akan membuat hidupnya jadi menyenangkan dan mereka juga, rupanya, memikirkan mengenai, bagaimana berdukanya wajah seorang perempuan muda, manakala Alyokhin mengucapkan selamat jalan kepadanya di dalam sebuah kompartemen dan kemudian menciumnya di wajah dan di pundaknya. Di kota mereka berdua pernah melihatnya, Burkin bahkan berkenalan dengannya dan dia berpendapat, bahwasanya Anna Alekseevna adalah seorang wanita yang memang cantik. (*)

 

1898

 

Sumber            : Iz russkoy khudozhestvennoy prozy, Russky Yazyk Publishers, Moscow, 1989

Judul asli         : O lyubvi (dibaca A lyubvi)

Penerjemah      : Ladinata, staf pengajar jurusan bahasa dan sastra Rusia FIB Unpad

*Foto Cover    : kawanku.magz

[1] Makanan khas Rusia yang terbuat dari daging cacah halus sebagai bahan utama dan dibentuk seperti perkedel, oval kepipihan

[2] Ibukota Rusia sekarang. Kota ini dikenal pertama kali dari manuskrip tahun 1147. Yury Dolgoruky dianggap sebagai pendirinya. Anggapan terbaru mengemukakan, bahwa seseorang bernama Kuzma, yang sebenarnya mendirikan kota tersebut

[3] Ukuran berat Rusia kuno, setara dengan 405,5 gram

[4] Terletak di Boksitogorsky rayon, Leningradskaya oblast(region)

[5] European Herald. Jurnal bulanan mengenai masalah sosial-politik dan sastra, terbit di Saint Petersburg (1866-1918)

[6] Peradilan kehormatan setempat: berdasarkan reformasi pengadilan tahun 1864, di dalam setiap Uyezd, selain ada hakim yang mengurus kasus minor sipil dan kriminal, terdapat juga jabatan hakim kehormatan yang menjalankan fungsi-fungsi hakim yang tidak hadir

[7] Pertemuan para hakim, yang diberi wewenang untuk merevisi keputusan hakim-hakim atas permintaan salah satu pihak yang bersengketa

[8] Pengadilan distrik: pada masa sebelum revolusi Rusia merupakan pengadilan pertama untuk kasus sipil dan kriminal

[9] Jenis jas panjang berkancing ganda, biasanya sampai ke pinggang

[10] Pakaian seragam sipil

[11] Jas panjang berbuntut lancip

[12] Dmitry Luganovich

[13] Pavel Konstantinich Alyokhin

[14] Semacam teropong berlensa, untuk melihat jauh lebih jelas di dalam teater

[15] Provinsi, divisi teritorial dan administratif utama di Rusia (1708-1929). Sekarang diubah menjadi oblast (region) dan kray (territory)

[16] Ruang duduk tersendiri bagi penumpang kereta api

Continue Reading
Advertisement

Cerpen

Tiara

mm

Published

on

by Widya Yustina *)

“Mas Edi menelepon tadi.”

“Apa, Bu?” tanyaku.

“Iya, Mas Edi menelepon Ibu.”

“Oh, ya?”

“Nyariin kamu.”

Untuk apa dia mencariku?

“Dia bilang nomor handphone-mu tak bisa lagi dihubungi, makanya itu mungkin dia nelepon kemari.”

“Begitu ya? Lain kali, kalau Mas Edi telepon, ndak usah diangkat saja ya, Bu,”

“Lho?”

“Iya, pokoknya nanti kalau Mas Edi telepon lagi, langsung tutup saja sama Ibu.”

“Hhmm… Sebenarnya bukan sekali ini saja dia kontak Ibu, minggu lalu juga Mas Edi telepon, nanya kabar Tiara, mungkin kangen.”

Kangen? Tumben kangen.

Nduk… Mungkin sudah saatnya kalian bicara, biar bagaimana keadaannya, pikirkan masa depan anakmu, Tiara.”

Apakah selama ini dia memikirkannya?

 “Genduk… Ibumu ini bicara serius.”

Inggih, Ibu, tapi sekarang Lastri pergi kerja dulu ya.”

“Kamu ini… Baiklah kalau begitu, hati-hati di jalan ya.”

Suara Ibu bergetar terdengar waswas. Tiara, bayi perempuanku, beringsut nyaman dalam dekapan neneknya. Usianya belum genap 2 tahun, rambutnya keriwil, hidungnya lumayan bangir. Manis kalau tersenyum. Kugenggam jari-jemarinya yang montok dan menggemaskan. Kucium keningnya lalu pamit pada ibuku.

Tetangga dan handai tolan bilang, Tiara sangat persis mirip bapaknya ketimbang denganku. Sorot matanya acapkali mengingatkanku pada sesosok lelaki yang dulu sangat kuhormati, Mas Edi Wibowo, atau haruskah kusebut saja namanya tanpa panggilan hormat ‘Mas’? Ingin rasanya kuenyahkan dia dari ingatan. Namun, setiap kali menatap Tiara, mustahil melakukannya.

Pria itu begitu memesona waktu awal jumpa. Pintar dan tampak bersahaja. Posturnya tak terlalu tinggi namun kesan wibawa terpancar kuat darinya. Setelan kemejanya rapi. Rambutnya disisir klimis. Sepatu pantofelnya mengilat. Menjinjing tas kulit berwarna cokelat. Kami bertemu muka di bus kota.

Alih-alih bersikap cuek, aku terkejut melihatnya tersenyum padaku. Tunggu, apa benar ia tersenyum padaku? Kutengok kanan dan kiri, benar pandangannya tertuju padaku saja. Jantungku tersendat, dihunjam ratusan anak panah. Sepersekian detik terbang ke langit ketujuh. Pipiku memerah, dibuatnya jadi salah tingkah.

“Kenalkan, namaku Edi, Edi Wibowo.”

“Ah iya, saya… Ayu Lastri, panggil saja Lastri, Mas.”

Silir angin menembus celah jendela kaca tempat duduk kami berdampingan. Semerbak aroma wangi parfum segar tercium hidungku seketika membuat harga diriku terhempas karena cuma pakai deodoran. Harga parfumnya pasti mahal, pikirku kala itu.  Mas Edi terpaksa naik bus karena motor bebek yang dikendarainya mendadak mogok di tengah jalan. Ia hendak pergi mengajar di salah satu universitas tinggi negeri di Yogyakarta.

Pertemuan itu kukenang sebagai tengara bahwa hidup selalu memberi kejutan. Enam bulan setelah perkenalan, kami menggelar pesta pernikahan kecil-kecilan. Mas Edi, seorang Pegawai Negeri Sipil, mengenyam pendidikan doktoral di Amerika, melabuhkan petualangan cintanya padaku. Seorang gadis biasa-biasa saja, bahkan hanya lulusan diploma. Mungkinkah itu benar disebut cinta jika akhirnya membuatku sengsara?

 “Mbak, Mbak, ojek Mbak…,” lamunanku seketika buyar oleh seruan tukang ojek pangkalan.

“Oh iya, tolong antar saya ke Belo Garmen Industri di Jalan Mergo sari ya pak.”

“Ah, siap!” ujarnya sambil menyodorkan helm.

Matahari menggeliat bersinar garang. Bunyi klakson menggemuruh. Kabut udara dari asap kendaraan bercampur dengan butiran semangat dan keringat. Deru mesin motor melaju kencang di jalanan. Membelai rambutku yang panjang terurai, terkena imbasan angin. Jalanan yang sama kutempuh selama dua tahun ini menuju tempat perusahaanku bekerja di bagian administrasi.

Gajinya tak terlalu besar tetapi paling tidak dapat menyelamatkan harga diriku ketimbang menagih janji tanggung jawab dari ayah Tiara, seolah-olah itu utang. Tiara masih berumur 6 bulan waktu bapaknya itu menjatuhkan talak. Mas Edi rupanya kecantol cinta lain, sesama kolega.

Entah kapan dan di mana mereka bertemu, hanya Tuhan yang tahu. Perempuan itu tak mau mengaku ketika kuhubungi. Jejak perselingkuhan mereka tetap tercium meski suamiku berusaha menutupinya. Saat itu pula, harga diriku sebagai istri telah lenyap. Perselingkuhan itu seketika mematikan sumbu cinta di dalam hatiku. Menghancurkan keyakinanku akan ikatan suci sebuah perkawinan.

Gelora hasrat puber kedua telah membuatnya mati rasa. Tugasnya menjadi tugasku. Menjadi seorang ayah sekaligus menjadi seorang ibu. Demi anakku, rela kulakukan segala. Kepala menjadi kaki, kaki menjadi kepala. Kini laki-laki itu mencari-cariku setelah dia nyatakan urusan kami selesai bertahun-tahun lalu. Hidup tak sebercanda itu.

“Pak, pak, berhenti di sini ya.” Motor berhenti di lajur jalanan beraspal, khusus karyawan pabrik.

“Berapa, Pak?” ujarku sambil membuka helm.

“Eeh, itu, gak apa-apa, Mbak, gak usah bayar.”

“Lho?” ucapannya membuat keningku seketika berkerut.

“Jangan, bener gak apa-apa.”

“Masa gratis? Kan jadi gak enak saya.”

“Bener gak apa-apa, itu tapi, nganu, begini, saya kepengin ngobrol sama Mbak, sebentar saja, boleh ya?”

“Mau ngobrol apa?”

“Eehhmm…, gini, anu…, saya sering perhatikan Mbak kalau pulang kerja malam, pergi ke mana-mana juga sendirian, apa ndak takut begitu?” Bola matanya menyipit. Alisnya tegak. Sudut bibirnya merruncing, menampak seringai serigala.

“Dengar kabar, Mbak janda ya? Apa ndak kesepian? Boleh sekali-kali saya temani? Nanti pulang kerja, kita jalan-jalan dulu ya, gimana? Mau?”

Wajahku sontak terasa panas bagai ditampar bara. Sekelebat bayangan pedang muncul menghunjam dada pria paruh baya bertubuh gempal itu. Tubuhnya ambruk, menggelepar-gelepar di atas tanah. Mulutnya mesem-mesem sembari terus mengeluarkan celotehan busuk. Perutku mual ketika jari-jemarinya mencoba menyentuhku.

Kurogoh kocek lima puluh ribuan, kulemparkan kehadapannya lalu beranjak pergi. Pandanganku kabur, tergenang air mata. Hati remuk bagai gelas retak berdebu. Sepagi ini menanggung malu. Duh Gusti Mahasuci yang Maha menyaksikan segala, harus berapa lamakah lagi menahan diri dari fitnah, bujuk rayu dari segala penjuru?

Belumlah reda gemuruh di dalam dadaku. Langkah kakiku mendadak terhenti. Terlihat kerumunan karyawan berjejalan di depan pintu pabrik. Selembar kertas pengumuman tertempel di pintu gerbang yang tertutup rapat itu. Aku bergegas menghampiri Marni, seorang teman yang kukenal bekerja di bagian operator.

“Ada apa ini ribut-ribut, Mar?”

“Oh kamu, Las, ini perusahaan ngasih pengumuman, kegiatan operasional pabrik kita ditutup, katanya hasil tes beberapa karyawan kita positif kena corona.”

“Apa?!” Ucapan Marni seketika membuat mulutku menganga.

“Yang benar? Siapa, Mar?”

“Iya benar. Mulai hari ini kita ndak usah datang ke pabrik lagi. Tuh! kamu baca saja sendiri,” ujar Marni sambil berlalu pergi. Aku pun bergegas mendekat ke arah kerumunan, bergesek beradu, membaca sendiri isi pengumuman itu. Ternyata benar yang dikatakan Marni. Pabrik ditutup sementara waktu.

Suasana semakin ricuh. Sebagian karyawan berteriak-teriak sambil mengacung-acungkan tangan. Seseorang kemudian merusak kertas pengumuman itu lalu melemparkannya ke tanah. Petugas keamanan menyuruh kami mundur dan bersabar menunggu instruksi lanjutan dari pimpinan. Marni tampak diam berdiri di seberang jalan, mata kami saling bertatapan.

Seluruh kejadian beruntun pagi ini pun membuat dadaku sesak, jantungku berdetak kencang tak karuan. Kepalaku mendadak pening alang bukan kepalang. Bagaimana akan kuberi makan anakku? Apa yang harus kulakukan sekarang?  Hanya pekerjaan ini yang kuandalkan. Hidup berhemat agar mampu bertahan. Kuabaikan keinginan serta kebutuhan pribadiku agar Tiara bisa hidup layak.

Sekumpulan ojek terlihat berada di tikungan tampak asyik mengobrol, salah seorang dari mereka tertawa terbahak-bahak. Langkah kakiku otomatis berbelok, memutar arah, berjalan lebih jauh menuju persimpangan, menaiki angkutan umum, kembali menuju tempat ibuku sebagai karyawan yang dirumahkan. Dalam perjalanan, pikiranku kembali menerawang. Berita pagi ini sulit kuterima, dan sejujurnya aku pun belum tahu akan bagaimana. Akan tetapi, aku harus mampu menghadapinya, karena aku adalah seorang ibu. Ibu yang bahkan rela mati demi anaknya.

Selesai.

__
*) Widya Yustina lahir di Ciamis, 1986. Menyelesaikan studi Ilmu Jurnalistik di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Bandung. Selain hobi menulis, ia juga gemar menonton dan jalan-jalan. Karyanya yang lain diantaranya, Buku Dongeng Fabel 2019 Jilid 1 (2019), Menenun Rinai Hujan (2019) bersama Sapardi Djoko Damono, Orakadut Jadi Tokoh (2020) kumpulan antologi cerpen bersama Golagong.

Continue Reading

Cerpen

Asmara Lembah Silikon

mm

Published

on

Kegentingan yang terjadi akibat ulah Hafiz Imtiaz tak mungkin diselamatkan. Big data harus merelakan kehilangan limbah digital yang sudah membatu di gudang penyimpanan milik pemulung. Namun, para  founder dan co-founder di Lembah Silikon tak perlu terlalu gusar. Irman Gugelman dan Hafiz Imtiaz berhasil mencapai kesepakatan.

Damhuri Muhammad *)

Di mata orang-orang yang lemah daya ingat, Hafiz Imtiaz adalah hard disk drive  (HDD)  bernyawa.  Seolah-olah ada ribuan folder  penyimpan ingatan dalam big storage  yang tertanam di jantungnya. Di gudang penyimpanan itulah rupa-rupa ingatan dikandangkan. Mulai dari ingatan remeh, seperti hari pertama bisa pipis sendiri, hari pertama bisa menyalakan korek api, hari pertama pakai seragam sekolah, atau hari pertama bisa mengendarai sepeda tanpa bantuan dua roda samping.

            Ada pula folder berisi memori-memori yang terklasifikasi pada level medium, semacam rahasia perempuan yang ternyata berjodoh dengan laki-laki yang dulu kerap ia hina dengan kata-kata yang lebih menyakitkan dari kematian, jawaban atas rasa penasaran kenapa gadis ayu level dewa rela menerima pinangan duda seusia bapaknya, termasuk ingatan atas hari pertama melihat tubuh perempuan tanpa busana dari pengalaman mengintip orang mandi. Tersedia pula folder khusus dengan berlapis-lapis kata kunci, berisi koleksi ingatan berkategori kelas berat. Misalnya, jawaban akurat atas tanda tanya besar perihal kematian mendadak seorang jaksa tinggi yang lazimnya dibereskan dengan dalih serangan jantung. Atau jawaban tak tersangkal atas  kenyinyiran netizen kenapa seorang Presiden yang dulu dibela mati-matian oleh pendukungnya, kini menjadi penguasa kesepian dan tinggal menunggu momentum derita post power syndrome.

            Sebelum total berkhidmat sebagai penggenggam ingatan, Hafiz Imtiaz pernah menyebut dirinya sebagai pemulung. Pekerjaannya mengais-ngais sampah di belantara big data, seperti pemulung yang berkeliling dari gang ke gang di permukiman padat, mencari kardus atau botol plastik bekas. Di jagat maya, sampah yang ia bereskan tentu meme sisa TwitWar, politisi berkepala lembu hasil olah photoshop, diagram palsu, hingga infografis berisi statistik yang sudah ketahuan halu.

            “Sampah doyannya sampah juga,” sindir netizen, saat Hafiz Imtiaz sempat mengunggah meme kadaluarsa berjudul dibuang sayang.

Tapi ketika sebuah isu baru memerlukan sokongan konten lama itu, meme milik si penggenggam ingatan sudah lenyap. Sampah yang melesap ke dalam big storage-nya hilang tak berbekas, dan tak bakal terlacak search engine secanggih Google sekalipun. Piranti lunak bikinan Hafiz Imtiaz bagai mesin pengisap hoaks, kebencian, dan  bacot unfaedah. Akibat pekerjaan si pemulung, ruang interaksi media sosial tidak lagi bergairah. Konten yang tersisa hanya buku-buku teori yang bikin ngantuk, nasihat-nasihat jaim berbungkus basa-basi, dan video-video kultum yang lebih buruk dari pidato politisi.

            “Hai Pemulung. Algoritmamu itu, mukjizat dari rasul mana?” tanya seorang pakar datamining  bernama Irman Gugelman, yang kemudian diketahui sebagai utusan khusus penguasa Lembah Silikon.

            “Kau mau kemewahan seperti apa, anak muda? Jangan menganggu tatanan  kekacauan informasi bikinan kami!” lanjut Irman Gugelman, yang terdengar seperti bujukan.

            “Saya memulung yang tak berguna. Mukjizat itu datang dari jazirah Bantar Gebang. Seperti langit dan bumi bedanya dengan Lembah Silikon,” balas Hafiz Imtiaz. Santai.

Meski dapat menembus big storage milik pemulung, misi penting utusan khusus dari Lembah Silikon gagal. Jutaan gigabyte limbah, aset penting penguasa Lembah Silikon, sudah terlanjur menjadi fosil di big storage si pemulung.

            “Secara visual, timbunan fosil itu membentuk anatomi makhluk yang sedang membungkuk, seolah-olah ia sedangmenyembah Dajjal itu!” kata Irman Gugelman, melaporkan kegagalan misinya.

            “Rekomendasi Anda?” tanya pejabat ring satu Lembah Silikon.

Irman Gugelman diam. Ia hanya membayangkan algoritma baru, yang dapat menciptakan kecerdasan buatan sekaliber kecerdasan Nabi, terutama yang  punya mukjizat dapat menghidupkan data mati.

***

            Kegentingan yang terjadi akibat ulah Hafiz Imtiaz tak mungkin diselamatkan. Big data harus merelakan kehilangan limbah digital yang sudah membatu di gudang penyimpanan milik pemulung. Namun, para  founder dan co-founder di Lembah Silikon tak perlu terlalu gusar. Irman Gugelman dan Hafiz Imtiaz berhasil mencapai kesepakatan.

            “Yang sudah hilang tak bisa kalian temukan. Tapi, saya akan berhenti sebagai pemulung!” kata Hafiz Imtiaz setelah menolak semua iming-iming dari Lembah Silikon.

            “Sekadar simpanan guna mengamankan hidupmu di usia senja, tak berminat juga, Pemulung?” tanya Irman Gugelman, yang ia maklumatkan sebagai peluang penghabisan.

            “Saya tidak akan pernah tua! Saya menolak ketuaan. Ndak usah repot-repot, Sodara!” balas Hafiz Imtiaz.

            Sejak itulah si pemulung beralihrupa menjadi penggenggam ingatan. Itupun hanya untuk membuat piranti lunak bikinannya tetap bekerja, sekadar bertahan untuk tidak berakhir sebagai barang rongsokan. Portofolio Hafiz Imtiaz yang pernah mengguncang kedigdayaan para inventor dan inovator Lembah Silikon, membuat ia begitu mudah mendapatkan klien. Si penggenggam ingatan seperti gula yang dikerubungi kawanan semut. Banyak tawaran yang mengandung ajakan agar ia kembali berkiprah sebagai pemulung dalam wajah baru, misalnya menghisap data pribadi dari sebuah platform percakapan daring yang disebut-sebut telah meraup 7 juta user. Tangkapan besar yang sangat berharga bagi saudagar ruang iklan, dan potensi tak ternilai  incaran para kontestan pemilihan Walikota.

            “Kami bisa membantu penyempurnaan piranti lunak Anda. Setelah itu kita bergembira ria di pesta kemenangan Walikota,” kata perwakilan tim sukses salah satu kandidat.

            “Tiga kali tawaran macam ini mendatangi saya, dan saya sudah menolaknya empat kali. Saya alergi politik. Bila kambuh, antibiotiknya kurang ampuh!” kata Hafiz Imtiaz.

            Penggenggam ingatan tak tergoyahkan. Ia hanya ingin bekerja atas nama kemanusiaan. Menyimpan dan mengonservasi ingatan yang di masa datang mungkin akan berguna, terutama bagi kaum yang sudah tumpul daya ingatnya. Hafiz Imtiaz tahu betul, sampah-sampah digital yang ia musnahkan, telah membuat banyak orang abai menjaga ingatan. Terlalu banyak bicara, ketagihan bergunjing, dan hobi berkelahi di linimasa, bisa membuat orang tidak lagi mampu menghapal nomor ponsel sendiri.

            “Ini tentang letak tahi lalat Miftahul Hayati, mantan nomor delapan. Kelak saya akan mengambilnya,” kata pelanggan mula-mula bernama Aulad Mustaqbal. “Jangan sekali-kali berpikir untuk kembali mengaktifkan fitur pemusnahan di perkakas rongsokmu itu!”  tambah Aulad dengan sorot mata mengandung ancaman.

            “Soal imbalan atas jasa ini, tak perlu kuatir.  Sesuai tarif yang tertera, dan tak bakal ditawar.”  

            Bagi Aulad Mustaqbal, mantan nomor delapan itu istimewa. Sekali waktu, pernah menyelamatkan mukanya di hadapan ibu mertua. Masa itu ia sedang jalan berduaan dengan Miftahul Hayati di sebuah mal. Celakanya, ibu mertua sedang berbelanja di mall yang sama. Mereka berpapasan di pintu masuk sebuah toko pakaian dalam. Beruntung ada kawan laki-laki bernama Untung di antara dirinya dan Miftahul Hayati. “Ini siapa, Ananda?” tanya ibu mertua, curiga. Aulad Mustaqbal berkeringat dingin, tapi Miftahul Hayati lekas bertindak. “Saya istri Mas Untung!” balasnya, sambil merangkul sahabat kekasihnya itu. Ibu mertua lega. Curiga yang menyala-nyala padam seketika.

            “Titipan saya hanya berisi angka-angka. Tapi kalau hilang, percayalah, saya akan menderita sebagai tua bangka tanpa nostalgia,” kata pelanggan selanjutnya.

            Di folder itu tersimpan nomor punggung pesepak bola idola ayahnya, saat pelanggan itu berusia 9 tahun. Begitu juga nomor celana dalam pertama, yang dibelikan ibunya beberapa hari setelah ia disunat. Nomor rumah tempat ia dirawat sebagai bayi prematur sebelum kemudian pindah dari kota ke kota, dari negara ke negara. Nomor sepatu olah raga pertama hadiah paman, pada hari ulang tahun yang tak didampingi ayah-ibu lantaran keduanya sedang menjalani sidang perceraian di pengadilan agama.  Dan, yang paling berharga adalah nomor kursi yang tertera pada lembaran tiket bioskop, pada kesempatan mula-mula ia memberanikan diri menonton dengan pacar perdana.

            Jangan dikira mereka tidak berlangganan platform dengan teknologi komputasi awan semacam I-Cloud atau Google Drive. Tapi menurut analisa si penggenggam ingatan, mereka tidak mau lagi bertelanjang dalam jerat raksasa bikinan orang-orang culas di Lembah Silikon. Perisai privasi mereka sudah bolong di sana-sini, lantaran terlalu sering mengunggah data pribadi dalam ekosistem digital. Mereka ingin melarikan diri dari intaian algoritma yang memperlakukan mereka sebagai mangsa di belantara big data.

            “Bagaimana kita bisa mempercayai penggenggam ingatan?” tanya Aulad Mustaqbal pada sejawat-sejawat sesama pelanggan.

            “Semua jejaknya mengandung perlawanan atas kuasa Lembah Silikon. Ia belum punya pengalaman berkhianat!” balas pelanggan bernama Maya Rumantir.

            “Lagi pula, titipan kita cuma remah-remah yang tak mungkin laku dijual.”

            “Apa kau bilang? Remah-remah? Aku sudah lama mencari mantan kedelapan. Hanya saja aku sedang sibuk untuk beberapa tahun ke depan, makanya kunci pencarian kutitipkan sementara. Jaga bicaramu, Nyonya!”

            “Ahai, kau pikir letak tahi lalat tak bergeser pasca revolusi kosmetik?”

            “Berhentilah menakut-nakutiku seperti anak kecil!”

            “Penggenggam ingatan peluang kita satu-satunya. Juru selamat dari penjarahan ingatan besar-besaran yang dikendalikan dari Lembah Silikon. Percayai Hafiz Imtiaz! Oke?”

            “Yups. I have no choice!

****

            Lantaran berbagai kesibukan, kotak surel milik Aulad Mustaqbal telah melewatkan tiga pesan yang seharusnya masuk secara otomatis. Artinya, sudah tiga bulan penggenggam ingatan me-nonaktifkan fitur notifikasi. Setelah berkali-kali diperiksa, dikontak berulang-ulang, Aulad Mustaqbal berkesimpulan; penggenggam ingatan telah menghilang!  Begitu pula bunyi pesan berantainya ke seluruh pelanggan. Kepanikan tak terhindarkan.

            “Celaka! Kita akan berakhir sebagai manula tanpa nostalgia!”

            “Bedebah kunyuk! Ia pikir ingatan bisa dilelang, hah?” umpat Maya Rumantir.

            “Tenang, Sodara-sodara. Bukankah kita punya asuransi kehilangan?”

            “Tai kucing! Asuransi macam apa yang mau mengganti ingatan yang hilang?”  

            Selepas kabar buruk itu, Aulad Mustaqbal adalah pelanggan yang sudah lupa letak tahi lalat mantan kekasihnya. Di dagu, pipi kanan, bawah pusar, atau bahu kiri? Entahlah. Oh, Miftahul Hayati. Satu-satunya yang bisa memastikannya adalah serbuk ingatan dalam  folder  yang sudah raib.

            “Lapor polisi aja gimana, Bro?”

            “Sejak kapan Polsek punya detektif  bagi maling ingatan?”

            “Kalau begitu, kita umumkan saja di Twitter.”

            “No! Itu yang diharapkan rejim Lembah Silikon,” kata Aulad Mustaqbal.   

            Sementara para pelanggan sudah di berada ambang putus asa dan hampir mengikhlaskan hidup mereka sebagai calon manula paling menderita, nun di Lembah Silikon, persisnya di sebuah klinik mewah dengan perkakas medik super canggih, pasien atas nama Miftahul Hayati, baru selesai menjalani operasi ringan; membuang tahi lalat di punggungnya, tepat di bawah tato kupu-kupu biru.

            “Kau bebas sekarang, Sayang! Ia tak mungkin lagi menemukanmu,” bisik Hafiz Imtiaz, dalam senyum bahagia, sambil mendekap perempuan itu erat-erat.

Damhuri Muhammad: Menulis cerpen, esai budaya, artikel politik, dan resensi buku  di  sejumlah media nasional.  Buku fiksi terkininya Anak-anak Masa Lalu (2015). Buku nonfiksi terbarunya, Takhayul Milenial (2020). Associate editor Galeri Buku Jakarta. 

Continue Reading

Cerpen

Pagi Ini, Ada Burung yang Mati

mm

Published

on

By Ruly R *)

Pukul tujuh lebih delapan belas. Masih pagi untuk merutuki nasib, namun Sarju sudah melakukan itu. Dua lembar lima ribuan habis disekali putaran dadu permainan pasar.

“Kirik!” umpat Sarju entah untuk siapa. Wajahnya penuh kesal. Uang yang didambakan berlipat seperti dalam mimpinya kemarin malam justru menguap.

Memang setiap pagi lelaki itu hobi menyambangi meja putaran dadu. Kalau siang kerjanya kalau tidak nongkrong di warung tuak tentu tidur di rumah. Jika waktu malam tiba, dia suka mengendap untuk mengambil barang yang laku dijual.

Pagi ini setelah kalah di meja putaran, Sarju memutuskan untuk menyusuri panjangnya trotoar. Kaki dan fisik Sarju masih saja segar, meski usianya sudah tidak bisa dikatakan muda.

Sarju mengedar pandang ke jalan raya. Cepat dan ugal-ugalan kendaraan yang melintas, saking cepatnya seakan nyawa para pengendara itu lebih dari satu. Tampak kepanikan dan terburu-buru bertumpuk di pagi hari. Ada juga bocah sekolah dengan wajah cemas karena telat berangkat, tampak resah menunggu datangnya angkot.

Sayup suara burung, lalu semakin jelas. Cericit burung beradu dengan bisingnya deru kendaraan. Burung itu terbang melintang di atas kepala Sarju, hinggap dari satu pohon di sebelah utara jalan ke sisi selatan jalan. Sarju saksama melihat burung itu.

Memang, saat ini jarang sekali burung di jalanan kota, sama jarangnya dengan pohon-pohon di sisi kanan-kiri jalan. Gedung-gedung lebih subur tumbuh di kabupaten tempat tinggal Sarju, utamanya di kompleks perkantoran kabupaten, yang hanya berjarak tidak lebih dari dua ratus meter dengan jarak pasar.

Burung terus bercericit. Nyaring terdengar meski terus ditingkahi suara motor dan mobil. Mata Sarju masih saksama melihat burung itu, seakan tak ada hal lain yang ingin ditatapnya pagi ini. Suara burung memanggil ingatan Sarju. Dia ingat desanya. Rindu menyelusup halus pada hati Sarju.

Di waktu yang telah lalu—sebelum dia pindah ke kabupaten ini, cuitan burung menjadi hal akrab bagi Sarju. Membelah dan merentang waktu, nasib dan keadaan berubah seiring zaman, namun ingatan Sarju menjadi bola-bola yang utuh karena suara burung dan desanya. Ingatan yang sebenarnya tidak sempurna bahkan cacat dan bopeng di sana-sini. Hal yang tidak bisa ditambalnya sampai sekarang.

***

Sarju tinggal dan tumbuh bersama kakeknya di desa. Tanpa teman, kecuali keadaan alam sekitarnya saja. Sarju masih ingat betapa itu memedihkan dan memilukan. Satu anak sepantaran saja tak ada yang mau berkawan dengannya. Hanya satu kawan yang ada, yaitu kakeknya sendiri.

“Gak masalah. Ayo melu golek kayu wae,”[1] ucap kakeknya yang langsung mengambil parang ketika melihat raut wajah Sarju yang sedih. Kakeknya memang pandai mengalihkan perasaan Sarju yang sedang berduka. Bukan sekadar mencari kayu saja, kadang Sarju diajak ke sawah, atau tiga bulan sekali pergi ke kota untuk menjual hasil panen. Di pasca panen itu, Sarju benar-benar senang, segala permintaannya pasti akan dipenuhi kakeknya, kecuali satu yaitu teman.

Sarju tidak pernah belajar di bangku sekolah. Ketika bocah sepantarannya mengenyam pendidikan formal, Sarju justru lebih giat membantu kakeknya ke sawah atau main sendiri ke kuburan. Pernah suatu kali kakeknya marah, ketika Sarju membawa kemboja yang begitu banyak.

Nggo opo?!”[2]

“Dolanan,” jawab Sarju ragu.

Setelah peristiwa itu Sarju tidak berani lagi membawa kamboja, bahkan dia takut main ke kuburan. Kakeknya pasti akan marah kalau tahu dirinya main di sana. Tidak ada orang atau teman yang dimilikinya selain kakeknya sendiri.

Penah suatu kali Sarju juga bertanya kenapa dia tak memilik teman. Kakeknya hanya tersenyum. Senyum yang getir dan penuh kepahitan, tumpukan beban datang dari senyum itu. Kakek justru mengajak Sarju ke kreteg Mojo. Di sana kakek menunjuk tempuran sungai dan menyebut Geger Boyo. Sarju hanya diam, tak ada tanya miliknya.

Semua diketahui Sarju seiring usianya yang terus bertambah dan kakeknya mulai sakit-sakitan. Satu waktu, ketika malaikat maut sudah membayang dalam benak kakek, Sarju baru mengetahui yang sebenarnya. Permintaan maaf keluar dari lelaki yang tinggal lunglit itu. Maaf karena selama ini banyak yang disembunyikan kakeknya, terutama kenapa Sarju tidak punya kawan atau lebihnya warga desa mengasingkan mereka untuk tinggal di kaki bukit. Terbata kakek menceritakan itu pada Sarju.

“Aku muk melu-melu, Ju,”[3] ucap kakek. Semua terang diceritakan kakek ketika dia ikut partai palu-arit. Satu malam di musim bediding, beberapa orang bertubuh tegap, berseragam, dan berwajah garang mendobrak pintu rumah kakek yang lama. Tubuh kakek diseret paksa ke Geger Boyo.[4] Kebengisan di depan mata, tidak ada warga yang berani melihat apalagi sampai meningkah saat itu, kecemasan dan ketakuan seakan menyatu dalam benak warga. Kepercayaan berubah menjadi kecurigaan, keluarga kakek mulai dikucilkan. Saat itu hanya ada satu hal untuk keluarga kakek—menyingkir dari desa.

Bertahun kejadian itu berlalu, namun kesepian abadi dalam keluarga Sarju. Usia selalu ada batasnya, banyak cara atau juga sebab untuk mati. Sarju lahir. Hanya tinggal ibunya, ayah Sarju bunuh diri saat ibu Sarju mengandung. Dan saat belum genap usia Sarju empat tahun kakeknya pulang dari pengasingan di Nusakambangan. Kakeknya tak dibunuh di Geger Boyo, namun dibawa ke Nusakambangan setelah dari tempat itu.

Seperti Tuhan telah menggariskan nasib, kesunyian dan kesepian lekat dalam diri Sarju. Karena sakit yang entah apa, ibu Sarju meninggal. Satu keberuntungan, kakeknya sudah ada di rumah waktu itu.

Kakeknya bercerita bagaimana dia bertahan karena Sarju. Bulir halus keluar dari dua mata Sarju. Tidak berhenti sampai beberapa hari karena kakeknya meninggal. Segala menyesakan bagi Sarju yang sudah bukan lagi bocah. Tidak ada warga yang melayat, bahkan untuk tanah seukuran 2×1 meter, Sarju harus mencangkul sendiri. Terbayang wajah kakek, terngiang permintaan maaf dari kakek, semakin waktu, semakin Sarju merasakan kedegilan dan kesepian yang nyata. Bagi Sarju tidak ada cara membunuh kesepian kecuali memang pergi jauh meninggalkan desa. Begitu yang dilakukannya.

***

Bunyi klakson dari motor yang ugal-ugalan membuyarkan lamunan Sarju. Burung yang dilihatnya dari tadi hanya meloncat-loncat kecil tanpa meninggalkan ranting pohon. Lalu lintas masih ramai. Bunyi klakson kembali berulang, kali ini burung itu terbang berpindah pohon. Burung itu melintas di atas kepala Sarju lagi.

Kembali, suara klakson dari satu kendaraan melintas. Tidak lama burung itu hinggap di pohon lalu terbang lagi. Menukik dan terlalu rendah burung itu melayang di atas jalan, mobil bercat putih melintas cepat. Dada Sarju tiba-tiba sesak. Matanya tajam menatap jalan. Pagi ini, ada burung yang mati. Sarju menjadi saksi, tapi tidak ada yang bisa dituntut karena matinya burung itu, sama seperti ingatan dan kata-kata kakenya yang mengiang dalam benak Sarju hingga sekarang.

“Opo pancen kudu nyalahke kahanan?”[5] begitu yang pernah diucap kakeknya dulu.

Bagi Sarju, dulu dan saat ini masih tetap sama saja, karena dia hanya bisa menangis. (*)

______

*) Ruly R, bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Mahasiswa di STKIP PGRI Ponorogo. Novel terbarunya berjudul Kalah (Rua Aksara, 2020). Surat-menyurat: riantiarnoruly@gmail.com


[1] Tidak masalah. Ayo ikut cari kayu saja.

[2] Buat apa?

[3] Aku hanya ikut-ikut, Ju.

[4] Dua tempuran sungai di Sungai Mojo (Sungai yang terletak di antara Solo dan Sukoharjo). Saat tragedi kemanusiaan tahun 1965, tempat itu dijadikan salah satu ladang pembantaian orang yang dianggap Komunis.

[5] Apa memang harus menyalahkan keadaan?

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending