Connect with us

Cerpen

Anton Pavlovich Chekhov: Pertimbangan Cinta

mm

Published

on

a

Di dalam kasus pembakaran rumah,empat orang laki-laki Yahudi didakwa. Mereka lantas dinyatakan sebagai gerombolan penjahat, tetapi, menurut saya, itu sama sekali tidak adil. Selama makan siang saya sangat gelisah, saya benar-benar tidak ingat, apa yang telah saya katakan. Anna Alekseevna hanya menggeleng-gelengkan kepalanya..

Oleh: Anton Pavlovich Chekhov | Penerjemah: Ladinata

Nikanor seorang yang  sangat saleh dan memiliki keyakinan religius yang tidak memperbolehkannya hidup dengan cara demikian, dia meminta Pelageya, agar menikah dengannya dan tidak menginginkan cara yang lain, mencerca-cercanya dan bahkan Nikanor memukulnya, manakala ia sedang mabuk, Pelageya bersembunyi di atas dan menangis sesegukkan; Alyokhin dan pelayan lainnya di saat yang sama tidak keluar dari rumah untuk melindunginya, sekiranya memang diperlukan.

Pada makan pagi di hari kedua disuguhkan pastel-pastel yang begitu lezat, udang dan kotelet[1] daging domba; dan ketika kami makan, juru masak Nikanor datang ke atas menanyakan kepada para tamu, apakah yang mereka inginkan untuk makan siang. Nikanor adalah seorang yang berperawakan sedang dengan wajah gempal dan mata berbentuk kecil-kecil, bercukur, dan kelihatan, bahwa kumisnya bukan tercukur, tetapi seperti bekas dicerabuti.

Alyokhin menceritakan, bahwa Pelageya yang cantik telah jatuh cinta pada juru masak tersebut. Oleh karena Nikanor seorang pemabuk dan bertabiat kasar, Pelageya tidak mau menikah dengannya, namun setuju hidup secara begitu. Nikanor seorang yang juga sangat saleh dan memiliki keyakinan religius yang tidak memperbolehkannya hidup dengan cara demikian, dia meminta Pelageya, agar menikah dengannya dan tidak menginginkan cara yang lain, mencerca-cercanya dan bahkan Nikanor memukulnya, manakala ia sedang mabuk, Pelageya bersembunyi di atas dan menangis sesegukkan; Alyokhin dan pelayan lainnya di saat yang sama tidak keluar dari rumah untuk melindunginya, sekiranya memang diperlukan.

Perbincangan mengenai cinta dimulailah.

“Bagaimanakah munculnya cinta,” Alyokhin berkata, “mengapa Pelageya tidak mencintai orang lain, yang lebih wajar untuknya baik dari sifat-sifatnya yang lembut maupun bentuk lahiriahnya, tetapi dia justru mencintai Nikanor, si wajah jelek ini (di sini kami semua menyebut Nikanor dengan si wajah jelek), karena di dalam cinta terdapat masalah-masalah yang mendasar dari kebahagiaan pribadi: semua ini belum dikenal dan semuanya boleh ditafsirkan secara terserah. Sampai saat ini hanya satu kebenaran yang tak dapat dibantah, yang telah dikatakan mengenai cinta dan tentu saja itu adalah rahasia yang bersifat agung, sedang sisanya, yakni yang telah ditulis dan dibicarakan, masih tidak terselesaikan, tetapi hanya merupakan masalah- masalah yang diangkat, yang dibiarkan berhenti tanpa pemecahan. Makanya penafsiran yang dapat dipakai untuk satu kejadian, kelihatannya, sudah tak sesuai lagi untuk sepuluh kejadian yang lainnya dan menurut saya, yang paling baik, hal seperti itu dapat dijelaskan melalui setiap peristiwa secara terpisah, sambil jangan mencoba untuk menyimpulkan. Sebagaimana dokter-dokter pernah berkata, mestilah menggolongkan setiap peristiwa yang berlainan menurut sifat khususnya masing- masing.”

“Tepat sekali,” Burkin menyetujui.

“Kita, orang Rusia, orang-orang berhati lurus, yang memiliki kelemahan terhadap masalah-masalah, yang ditinggalkan tanpa penyelesaian tersebut. Biasanya kita memuisikan cinta, menghiasinya dengan kembang-kembang mawar dan burung bulbul. Kita juga, orang Rusia, menghiasi cinta kita dengan masalah-masalah mendasar tersebut, terlebih lagi kita memilih yang paling tidak menarik dari masalah-masalah itu. Di Moskow[2], ketika masih menjadi seorang mahasiswa, saya punya seorang kawan setia: seorang nyonya jelita, yang apabila setiap kali saya merengkuhnya di dalam pelukan, dia berpikir tentang, berapakah yang akan saya berikan pada tiap bulan dan mengingatkan, berapakah sekarang harga satu pon[3]daging sapi. Begitulah kami, manakala bercinta, justru tidak berhenti memberikan pertanyaan-pertanyaan pada diri sendiri: jujurkah ini atau tidak jujur, cendikia ataukah pandir, yang dirujuk oleh cinta itu dan lain sebagainya. Baikkah itu atau tidak baik, saya tidak mengetahui. Akan tetapi, bahwa itu mengusik, tak menyenangkan dan menjengkelkan: saya tahu.”

Kelihatannya sama, dia ingin menceritakan sesuatu. Bagi orang-orang yang hidup sendiri, selalu terjadi sesuatu yang demikian di dalam jiwanya, yakni mereka akan bercerita dengan suka hati. Di kota, para bujangan secara sengaja pergi ke tempat pemandian umum dan ke restoran-restoran hanya untuk berbincang-bincang dan terkadang mereka menceritakan peristiwa-peristiwa yang begitu menarik kepada para pekerja di tempat pemandian umum dan para pelayan restoran tersebut; di desa pun para bujangan biasanya mencurahkan isi hati mereka di hadapan tamu-tamunya. Sekarang langit yang mendung dan pohon-pohon yang basah karena hujan, terpampang di jendela, dalam cuaca seperti ini orang tidak akan pergi kemana-mana dan bukanlah suatu masalah untuk tinggal lebih lama, bercerita dengan segera dan mendengarkan.

“Saya tinggal di Sofino[4] dan sudah lama mengurus pertanian,” Alyokhin memulai, “sejak menamatkan universitas. Berdasarkan pada pendidikan, saya orang yang menghindari pekerjaan kasar. Berdasarkan pada kehendak hati, mestinya saya jadi orang kantoran. Akan tetapi, di perkebunan, ketika saya datang ke sini ada tagihan yang cukup besar ditujukan pada saya, karena ayah saya sebagian besar berhutang untuk membiayai kuliah saya yang agak mahal, maka saya memutuskan untuk tidak pergi dari sini dan akan bekerja selama saya belum bisa membayar hutang tersebut. Saya memutuskan begitu dan mulai bekerja di sini, terus terang, bukannya tanpa rasa yang menjijikkan. Tanah di sini tak begitu layak menghasilkan, maka agar pertanian tidak jatuh pailit, semestinyalah mempekerjakan petani dengan sistem persahayaan atau sistem kontrak yang maksudnya hampir sama-sama juga, atau, bekerja membanting tulang, seperti yang dilakukan para petani, yaitu pergi sendiri ke ladang dengan seluruh anggota keluarga. Di sini tidak ada tanah tengah. Akan tetapi pada waktu itu, saya tidak bermaksud sampai pada hal-hal yang remeh seperti itu. Saya tidak membiarkan sejumput tanah pun dalam ketenangan, saya mengerahkan semua petani laki-laki dan perempuan dari desa sebelah. Pekerjaan saya di sini berkembang pesat; saya sendiri pun membajak, menyemai, memotong dan manakala saya merasa jemu, saya mengernyitkan dahi dengan rasa mual: bagai kucing kampung, yang karena saking laparnya makan ketimun di sebuah kebun; badan saya berasa nyeri dan saya tidur di atas kaki. Pada kali yang pertamalah tampak bagi saya, bahwa saya mampu secara mudah mensenyawakan kehidupan bekerja ini dengan kewajaran kultural; untuk itu yang berharga hanyalah, pikir saya, bertumpu pada hidup dengan aturan eksplisit yang dikenal. Di sini saya berdiam pada bagian atas, di kamar yang depan dan mengharuskan begini: bahwa sesudah makan pagi dan siang, saya mestilah diberi kopi dengan liker manis dan sambil berbaring tidur saya membaca Vestnik Europy[5]pada malam harinya. Namun entah mengapa muncul pendeta kita yang tua, bapak Ivan, dan dalam sekali teguk meminum semua liker manis saya, sedang Vestnik Europy pun melayang ke anak perempuannya, karena pada musim panas, terutama pada saat memotong jerami, saya tidak lagi sempat berbaring di tempat tidur dan sayapun tidur di lumbung di atas kereta salju atau di suatu tempat di gardu penjaga hutan: bagaimana saya bisa benar-benar membaca di sini? Berangsur-angsur saya pindah ke bawah, mulai makan siang di dapur umum dan hanya seorang pelayan yang tinggal pada saya dari kemewahan masa lalu, yang dulunya melayani ayah saya dan saya tak sampai hati untuk memberhentikannya.

Di sini pada tahun-tahun pertama pula saya dipilih ke pertemuan an honorary justice of the peace[6]. Kadang-kadang memang ada kesempatan untuk pergi ke kota dan mengambil bagian dalam sidang-sidang a convention of magistrates[7]dan district court[8]; ini menghibur hati saya. Jika engkau tinggal di sini selama kira-kira dua-tiga bulan tanpa pernah beristirahat, apalagi pada musim dingin, maka engkau pada akhirnya akan mulai merasa rindu terhadap black frock coat. Dan frock coat[9] itu, full-dress coat[10] dan tail coats galore[11], semua ahli hukum, orang-orang yang mendapat pendidikan umum yang baik, yakni orang-orang, yang dengan siapa kita berbicara; berkumpul di dalam district court. Dibanding sesudah tidur di atas kereta salju, sesudah makan di dapur umum di atas bangku, maka duduk dengan memakai baju bersih, sepatu tipis, dengan rantai di atas dada, itu adalah sungguh-sungguh suatu kemewahan!

Di kota saya diterima dengan penuh keramahan, dengan suka hati saya berkenalan. Akan tetapi dari semua kenalan yang paling kokoh dan memang yang paling menyenangkan bagi saya adalah berkenalan dengan Luganovich, kepala district court. Anda berdua mengenalnya: manusia berkepribadian elegan. Itu terjadi tepat sesudah selesainya kasus pembakaran rumah yang termasyur, yakni setelah pemeriksaan pengadilan yang berlangsung selama dua hari, kami berdua ketika itu sama-sama sudah penat. Luganovich menatap saya dan berkata:

“Anda tahu tidak? Marilah ke rumah saya untuk makan siang.”

Itu terjadi secara spontan, karena dengan Luganovich saya tidak seberapa kenal, kecuali hanya yang bertalian dengan hal resmi dan saya tidak sekali pun pernah ke rumahnya. Hanya sebentar saya masuk ke dalam hotel, tempat saya menginap; berganti pakaian dan sesudah itu berangkat untuk makan siang. Dan di sana saya diperkenalkan dengan Anna Alekseevna, istri Luganovich. Waktu itu dia masih sangatlah muda, usianya tidak lebih tua dari 22 tahun, setengah tahun sebelum masa itu dia sudah melahirkan anaknya yang pertama. Suatu kejadian yang sudah lalu dan sekarang saya merasa sukar untuk memastikan, apakah saya benar-benar sangat menyukai keluarbiasaan yang ada padanya, namun pada waktu itu juga, saat makan siang, segalanya bertambah nyata; saya melihat perempuan, yang cemerlang, baik budi, cerdas, memikat hati, seorang wanita, yang dulu belum pernah saya jumpai dan sekelebatan saya merasakan sesuatu yang dekat, sesuatu yang pernah dikenal, tepatnya profil wajah itu, sifat-sifat yang ramah tamah, mata yang kelihatan cerdik, yang suatu ketika, pada masa kanak-kanak pernah saya lihat, di dalam album, yang ditaruh pada lemari laci milik ibu saya.

Di dalam kasus pembakaran rumah,empat orang laki-laki Yahudi didakwa. Mereka lantas dinyatakan sebagai gerombolan penjahat, tetapi, menurut saya, itu sama sekali tidak adil. Selama makan siang saya sangat gelisah, saya benar-benar tidak ingat, apa yang telah saya katakan. Anna Alekseevna hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata kepada suaminya:

“Dmitry[12], bagaimana hal semacam itu bisa terjadi?”

Luganovich adalah seorang yang baik hati, salah satu dari orang-orang yang berjiwa lurus, yang dengan gigih berpegang pada opini, bahwa jika ada orang diseret ke muka pengadilan, maka ia memang jadi bersalah juga dan pengungkapan suatu kesangsian di dalam hukum kebenaran tidak boleh lewat cara yang lain, seperti halnya di dalam sistem yuridis, tertera di atas kertas dan agaknya bukanlah pada waktu makan siang serta bukan pula dalam sebuah perbincangan yang bercorak pribadi.

“Saya dan kamu tidak membakar rumah,” katanya dengan lunak, “dan begitu pun juga, kita tidak diadili, tidak dipenjarakan ke dalam bui.”

Dan keduanya, suami istri itu, berupaya agar saya makan dan minum lebih banyak lagi, melalui beberapa hal yang remeh, misalnya bagaimana mereka berdua bersama-sama menyeduh kopi dan bagaimana mereka satu sama lainnya saling cepat memahami tanpa mengatakan apa-apa, saya dapat menyimpulkan, bahwa mereka berdua hidupnya rukun, bahagia dan menyukai tamu. Setelah makan siang mereka bermain piano dengan berpasangan, kemudian setelah langit jadi gelap, saya kembali ke penginapan. Itu terjadi di awal musim semi. Kemudian saya menghabiskan musim panas tanpa henti-henti di Sofino, bahkan saya tidak pernah memikirkan kota, namun ingatan mengenai seorang wanita dengan rambut pirang terawat rapih tertinggal pada saya di sepanjang hari, saya tidak memikirkannya, tetapi bayangan tipisnya seolah-olah bersemayam di dalam jiwa saya.

Pada musim gugur yang panjang, di kota diadakan sebuah pertunjukkan dengan tujuan amal. Saya masuk ke dalam ruang kegubernuran (saya diundang ke sana saat istirahat), saya melihat, Anna Alekseevna di dekat istri gubernur dan sekali lagi perasaan yang paling tak bisa dibantah mengaliri kecantikan yang mengesankan dan biji mata yang lembut serta manis.

Kami duduk bersebelahan, kemudian menuju serambi.

“Anda tampaknya kurusan,” katanya, “Anda sakit?”

“Ya. Rasanya pundak saya kedinginan dan buruknya saya tidur di udara berhujan.”

“Kelihatannya Anda tidak bersemangat. Saat itu, pada musim semi, ketika Anda datang berkunjung untuk makan siang, Anda tampak lebih muda, lebih segar. Anda waktu itu penuh semangat dan banyak bicara, begitu menarik dan terus terang, saya bahkan sedikit terpikat. Entah mengapa di sepanjang tahun Anda sering muncul di dalam ingatan dan hari ini, justru waktu saya berniat pergi ke teater, saya merasa, bahwa saya akan bertemu dengan Anda.”

Dan dia tertawa.

“Akan tetapi sekarang Anda tidak bersemangat,” ia mengulangi, “itu menjadikan Anda tampak lebih tua.”

Keesokkan harinya saya makan pagi di rumah Luganovich, setelah itu mereka pergi ke vila untuk mengatur segala yang menyangkut musim dingin dan saya pun bersama mereka. Saya kembali ke kota dengan mereka dan pada pertengahan malam saya minum teh di rumah mereka dalam suasana yang sepi, penuh kekeluargaan, ketika tempat pembakaran menyala dan seorang ibu muda yang berjalan-jalan melihat, apakah anak perempuannya sudah tidur. Dan sesudah itu pada setiap kunjungan, saya pasti mampir ke rumah Luganovich. Mereka membiasakannya pada saya dan saya jadi terbiasa. Saya biasanya masuk tanpa perlu melapor, seperti layaknya orang rumah.

“Siapa di sana?” terdengar sebuah suara yang bagi saya terasa begitu indah dari kamar yang agak jauh.

“Itu Pavel Konstantinich[13],” jawab perempuan pelayan kamar atau mungkin pengasuh sang anak.

Anna Alekseevna keluar menghampiri saya dengan wajah yang prihatin dan setiap kali ia bertanya:

“Mengapa Anda begitu lama tidak mampir? Apa terjadi sesuatu?”

Sinar matanya, tangannya yang elegan dan halus: yang dia angsurkan kepada saya, pakaian rumahnya, gaya rambut, bunyi suara dan langkah-langkah kakinya setiap saat memancarkan pada saya segala kesan mengenai sesuatu yang baru, yang luar biasa di kehidupan saya dan yang bersifat fundamental. Kami lama berbincang-bincang dan lama juga berdiam-diam sambil memikirkan masing-masing mengenai diri sendiri atau dia memainkan piano pula untuk saya. Seandainya di rumah tidak ada seorang pun, saya akan tetap tinggal dan menanti, bercakap-cakap dengan si pengasuh, bermain-main dengan anak Anna Alekseevna ataupun rebahan di kamar di atas dipan buatan Turki dan membaca surat kabar dan jika Anna Alekseevna kembali, maka saya akan menjumpainya di ruang depan, mengambil alih segala belanjaannya dan entah mengapa saya membawa semua belanjaan itu setiap kali dengan rasa cinta yang sangat, dengan rasa gembira yang sangat: seperti bocah saja.

Maka ada pepatah: jika perempuan tidak memiliki kesibukan, maka ia akan membeli anak babi. Jika keluarga Luganovich tidak memiliki kesibukan, maka mereka akan berkawan dengan saya. Seandainya saya lama tidak berkunjung ke kota, maka saya tentunya sedang sakit atau sesuatu sedang menimpa saya dan mereka berdua begitu khawatir. Mereka khawatir, bahwa saya seorang yang berpendidikan, yang mengetahui beberapa bahasa asing dan selain itu mempelajari ilmu pengetahuan atau karya-karya susastra, tinggal di desa, bagai seekor bajing di atas putaran roda, banyak bekerja, namun selalu tidak mempunyai uang sepeser pun. Bagi mereka kelihatannya, saya menderita dan bila saya berbicara, tersenyum, makan, maka semua itu hanya untuk menyelimuti penderitaan saya, bahkan di saat-saat yang gembira, ketika saya merasa sedang senang, saya merasakan tatapan mata mereka yang menyelidik. Mereka luar biasa pilunya, manakala kesulitan benar-benar menimpa saya, manakala penagih apa saja menekan saya atau jumlah uang yang tidak mencukupi untuk menutupi pembayaran yang waktunya telah ditetapkan dengan segera; keduanya, suami istri itu, berbisik-bisik di dekat jendela, kemudian Luganovich menghampiri saya dan dengan wajah yang terlihat serius berkata:

“Jika Anda, Pavel Konstantinich, sekarang-sekarang ini memerlukan uang, saya dan istri saya memohon pada Anda, agar tidak usah merasa sungkan dan memakainya dari kami.”

Dan kedua kupingnya jadi memerah, karena gelisah. Namun kembali terjadi, persis sama dengan yang tadi, mereka berbisik-bisik di dekat jendela, Luganovich menghampiri saya dengan kuping berwarna merah dan berkata:

“Saya dan istri saya dengan amat sangat meminta Anda, agar mau menerima pemberian kami ini.”

Dan dia memberikan mata rantai manset, selepah atau lampu meja dan untuk semua itu dari desa, kepada mereka, saya mengirimkan unggas, mentega dan kembang-kembang. Harus dikatakan, secara sambil lewat, mereka berdua adalah orang-orang berpunya. Pada saat pertama kalinya saya sering meminjam dan saya bukan orang yang begitu suka pilih-pilih, saya meminjam hanya di tempat mana yang memungkinkan, akan tetapi tidak ada kekuatan apa pun juga yang dapat memaksa saya untuk meminjam pada keluarga Luganovich. Ya, apa yang bisa dikatakan mengenai hal ini!

Saya adalah orang yang kurang beruntung. Baik di rumah, di ladang, maupun di lumbung saya masih memikirkan Anna Alekseevna, saya berusaha memaklumi rahasia seorang wanita muda, yang cantik dan pintar, yang menikahi seseorang yang kurang menarik, nyaris sudah seperti lelaki tua (usia suaminya lebih dari 40 tahun), dan punya anak darinya. Saya berusaha memaklumi rahasia seorang laki-laki yang kurang begitu menarik, seseorang yang bersifat penuh kebajikan, seseorang yang berjiwa sederhana, yang berhitung dengan pikiran sehat yang menjemukan; di pesta-pesta dansa dan pesta malam laki-laki yang tak bersemangat dan tidak berguna itu bergaul di sekitaran orang-orang berwibawa dengan air muka tunduk dan bersikap tidak pedulian, seperti seekor domba yang di bawa ke sana untuk di jual, meskipun demikian, dia meyakini hak-haknya sendiri untuk bahagia dan memperoleh anak dari Anna Alekseevna dan saya berusaha memahami mengapa Anna Alekseevna justru berjumpa dengan Luganovich, bukan dengan saya dan buat apa ini mesti terjadi, adalah untuk suatu kesalahan yang begitu mengerikan, yang muncul di dalam perikehidupan kami.

Dan setiap kali saya ke kota, setiap melalui sinar matanya, saya melihat, bahwasanya dia menanti; dia sendiri mengakuinya kepada saya: sedari pagi dia memiliki sesuatu rasa yang istimewa, dia telah menduga, bahwa saya akan datang. Kami berbicara lama-lama, berdiam lama-lama, namun kami tidak saling mengaku cinta dan menyembunyikannya dengan rasa takut-takut, dengan rasa cemburu. Kami merasa takut, kalau semua itu akan membuka rahasia kami masing-masing terhadap diri sendiri, untuk apakah cinta kami mampu berjalan seandainya kami tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk memperjuangkannya; kelihatannya bagi saya jadi tidak masuk akal, bahwa cinta saya yang muram dan sunyi dengan tiba-tiba membungkam secara kasar kebahagiaan yang mengaliri hidup suaminya, sang anak, segala isi rumah itu, tempat saya merasa begitu dicintai dan begitu dipercayai. Apakah itu jujur? Seandainya dia mau turut dengan saya, ke mana? Ke manakah saya bisa membawa dia? Itu akan menjadi lain masalah, sekiranya saya memiliki kehidupan yang indah dan menarik, seandainya saya, misalnya, berjuang untuk membebaskan negeri sendiri atau menjadi seorang sarjana ternama, aktor, pelukis, tetapi, kalian tahu, saya bukanlah orang yang seperti itu. Jadi saya hanya akan membawanya dari satu kehidupan yang membosankan ke dalam kehidupan lain yang sama-sama membosankan atau bahkan lebih buruk dari itu. Dan berapa lamakah kebahagiaan kami akan berlangsung? Apakah yang akan terjadi dengannya, jika saya jatuh sakit, meninggal dunia atau yang paling sederhana kalau kami tidak saling mencintai lagi satu sama lainnya?

Dan Anna Alekseevna, rupa-rupanya, mempertimbangkan perihal yang sama. Dia memikirkan tentang suaminya, anaknya dan ibunya yang menyukai suaminya seperti anaknya sendiri. Apabila dia mencurahkan perasaannya sendiri, maka itu menjadikan ia berdusta atau juga berkata yang benar, tetapi di dalam posisinya yang sekarang kedua-duanya sama-sama mengerikan dan tidaklah pantas. Dan dia disiksa oleh pertanyaan: apatah cintanya membawa kebahagiaan bagi saya, apatah dia tidak mempersulit hidup saya dan apatah tanpa rasa bahagia, hidup saya menjadi susah, dipenuhi segala kemalangan? Tampaknya Anna Alekseevna merasa, bahwa dia sudah tidak cukup muda lagi untuk saya, tidak cukup lagi rajinnya dan enerjiknya untuk memulai kehidupan yang baru dan dia berbicara dengan suaminya, bahwa saya mestilah kawin dengan seorang wanita yang pintar dan sepadan, yang akan menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik, yang merupakan partner. Dan dengan secepatnya dia menambahi, bahwa di seluruh pelosok kota wanita yang begitu itu sulit sekali dijumpai.

Tahun-tahun terus berlalu. Anna Alekseevna telah mempunyai dua orang anak. Ketika saya berkunjung ke rumah Luganovich, seorang pelayan tersenyum dengan ramahnya, anak-anak menjerit meneriakkan, bahwasanya paman Pavel Konstantinich datang berkunjung dan mereka bergelayutan pada leher saya; keduanya merasa gembira. Mereka tidak mengerti, apakah yang berkecamuk di dalam jiwa saya; mereka pikir, saya gembira juga. Keduanya melihat sifat-sifat insan berbudi pada saya. Anak-anak yang mulai akil baliq itu merasa, bahwa di sepanjang kamar berjalan insan yang mulia dan sifat mulia ini memunculkan suatu daya tarik yang spesifik pada sikap mereka terhadap saya, persisnya terhadap keberadaan saya dan perikehidupan mereka yang menjadi lebih bersih dan indah. Saya dan Anna Alekseevna bersama-sama pergi ke teater, selalu berjalan kaki; kami duduk bersebelahan di atas bangku, pundak kami bersentuhan, dengan diam-diam saya mengambil binokel[14] dari tangannya, pada saat itu pula saya merasakan, bahwa dia teramat dekat dengan saya, bahwa dia adalah milik saya, bahwa kami tidaklah mungkin hidup tanpa satu sama lainnya, akan tetapi, lantaran adanya suatu bentrokan yang aneh, sekeluarnya dari teater, kami saling mengucapkan selamat jalan dan bersimpangan, bagai orang lain. Sementara di kota orang-orang sudah membicarakan kami entah mengenai apa, namun dari semuanya, tidak satu pun kata yang mengandung kebenaran.

Pada tahun-tahun belakangan ini Anna Alekseevna jadi lebih sering berkunjung, kadang kepada ibunya, kadang ke saudara perempuannya; perasaan tidak suka tengah menerpa hatinya, kesadaran terhadap hidup yang berakhlak busuk dan tidak memuaskan sedang menghampirinya, manakala ia tidak mempunyai keinginan untuk melihat pada, baik suaminya maupun anak-anaknya. Dia sudah melakukan terapi lantaran rasa gelisah yang sangat.

Kami berdiam diri dan berdiam, sebaliknya saat seperti orang asing dia merasakan suatu kejengkelan yang aneh untuk menentang saya; apa pun hal yang saya katakan, dia sudah tidak lagi setuju dan jika saya berdebat, maka dia akan mengambil sudut yang berlawanan dengan saya. Kalaulah saya menjatuhkan sesuatu barang, maka dengan dingin dia berkata:

“Saya katakan selamat untuk Anda.”

Jika saat pergi ke teater, saya lupa membawa binokel, maka dia kemudian berkata:

“Saya sudah tahu, bahwa Anda memang akan lupa.”

Beruntung atau tidak beruntung, pada kehidupan kami tidak terjadi apa-apa, tidak berakhir dengan pasti. Waktu berpisah datang, karena Luganovich diangkat menjadi seorang kepala di guberniya[15] bagian barat. Dengan demikian segala barang furniture, kuda-kuda dan vila mestilah dijual. Ketika kami pergi mengunjungi vila dan kemudian pulang kembali, kami menoleh untuk melihat taman dan atap berwarna hijau buat penghabisan kalinya, maka segalanya jadi menyedihkan dan saya mengerti, bahwa waktunya sudah tiba untuk mengucapkan selamat jalan bukan hanya dengan sebuah vila. Keputusan telah diambil, bahwa pada Agustus akhir kami akan mengantarkan Anna Alekseevna ke Krim, ke tempat mana dokter-dokter mengirimnya dan sebentar lagi Luganovich akan pergi dengan anak-anak ke guberniya bagian barat.

Kami mengantarkan Anna Alekseevna di dalam kerumunan yang padat. Ketika dia telah berpamitan dengan suami dan anak-anaknya, maka tinggallah waktu sesaat sampai bunyi lonceng yang ketiga, saya berlari masuk menjumpainya di kompartemen[16] untuk meletakkan ke atas rak penyimpanan salah satu dari tas-tasnya, yang hampir-hampir dia lupakan dan saya harus mengucapkan selamat jalan. Saat di sana, di dalam kompartemen, sinar mata kami saling berjumpa, daya kehidupan di dalamnya sudah meninggalkan kami berdua, saya mendekapnya, dia menjatuhkan wajahnya ke dada saya dan airmata mulai mengalir dari kedua matanya; menyelimuti wajahnya, pundak, tangan, yang jadi basah lantaran airmata. O, betapa malangnya dia dan saya! Saya mengungkapkan cinta kepadanya dan dengan kepedihan yang ada di dalam hati, saya mengerti, bahwa ketika engkau mencintai, maka segala pertimbangan mengenai cinta haruslah berasal dari sesuatu yang lebih tinggi, lebih fundamental, dari sekedar bahagia ataukah tidak bahagia, berdosa ataukah bermoral di dalam pola berpikir kita, atau tidak perlu mempertimbangkannya sama sekali.

Saya menciumnya untuk yang terakhir kali, menggenggam tangannya dan kami pun berpisah: buat selama-lamanya. Kereta sudah berangkat. Saya duduk di kompartemenyang sebelah, kompartemen itu kosong dan sampai di stasiun yang pertama saya duduk di sana dan menangis. Kemudian saya pulang ke Sofino dengan berjalan kaki.

Selama Alyokhin bercerita, hujan telah berhenti dan matahari mulai tampak. Burkin dan Ivan Ivanich keluar menuju ke balkon; dari sana terlihat suatu pemandangan yang indah ke arah taman dan bentangan sungai, yang sekarang berkilauan di bawah sinar matahari, bagaikan sebuah cermin. Mereka berdua sama-sama kagum pada hamparan pemandangan tersebut dan pada saat yang bersamaan mereka menyayangkan, bahwa laki-laki dengan mata yang memancarkan kebaikan dan kecerdasan itu, yang bercerita kepada mereka dengan hati yang begitu tulus, sesungguhnya di sini, di perkebunan yang sangat luas ini, berjungkir-balik, bagaikan seekor bajing di atas putaran roda dan dia tidak mempelajari ilmu pengetahuan atau sesuatu yang lain, yang akan membuat hidupnya jadi menyenangkan dan mereka juga, rupanya, memikirkan mengenai, bagaimana berdukanya wajah seorang perempuan muda, manakala Alyokhin mengucapkan selamat jalan kepadanya di dalam sebuah kompartemen dan kemudian menciumnya di wajah dan di pundaknya. Di kota mereka berdua pernah melihatnya, Burkin bahkan berkenalan dengannya dan dia berpendapat, bahwasanya Anna Alekseevna adalah seorang wanita yang memang cantik. (*)

 

1898

 

Sumber            : Iz russkoy khudozhestvennoy prozy, Russky Yazyk Publishers, Moscow, 1989

Judul asli         : O lyubvi (dibaca A lyubvi)

Penerjemah      : Ladinata, staf pengajar jurusan bahasa dan sastra Rusia FIB Unpad

*Foto Cover    : kawanku.magz

[1] Makanan khas Rusia yang terbuat dari daging cacah halus sebagai bahan utama dan dibentuk seperti perkedel, oval kepipihan

[2] Ibukota Rusia sekarang. Kota ini dikenal pertama kali dari manuskrip tahun 1147. Yury Dolgoruky dianggap sebagai pendirinya. Anggapan terbaru mengemukakan, bahwa seseorang bernama Kuzma, yang sebenarnya mendirikan kota tersebut

[3] Ukuran berat Rusia kuno, setara dengan 405,5 gram

[4] Terletak di Boksitogorsky rayon, Leningradskaya oblast(region)

[5] European Herald. Jurnal bulanan mengenai masalah sosial-politik dan sastra, terbit di Saint Petersburg (1866-1918)

[6] Peradilan kehormatan setempat: berdasarkan reformasi pengadilan tahun 1864, di dalam setiap Uyezd, selain ada hakim yang mengurus kasus minor sipil dan kriminal, terdapat juga jabatan hakim kehormatan yang menjalankan fungsi-fungsi hakim yang tidak hadir

[7] Pertemuan para hakim, yang diberi wewenang untuk merevisi keputusan hakim-hakim atas permintaan salah satu pihak yang bersengketa

[8] Pengadilan distrik: pada masa sebelum revolusi Rusia merupakan pengadilan pertama untuk kasus sipil dan kriminal

[9] Jenis jas panjang berkancing ganda, biasanya sampai ke pinggang

[10] Pakaian seragam sipil

[11] Jas panjang berbuntut lancip

[12] Dmitry Luganovich

[13] Pavel Konstantinich Alyokhin

[14] Semacam teropong berlensa, untuk melihat jauh lebih jelas di dalam teater

[15] Provinsi, divisi teritorial dan administratif utama di Rusia (1708-1929). Sekarang diubah menjadi oblast (region) dan kray (territory)

[16] Ruang duduk tersendiri bagi penumpang kereta api

Continue Reading
Advertisement

Cerpen

Di Antara

mm

Published

on


Galeh Pramudianto lahir tahun 1993. Bekerja sebagai pendidik dan mengelola platform Penakota.id bersama rekannya. Buku puisinya Asteroid dari Namamu (2019) diterjemahkan ke bahasa Inggris lewat beasiswa Komite Buku Nasional. Ia menerima penghargaan Acarya Sastra 2019 dari Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kemendikbud. Puisinya “Barus, Suatu Pertanyaan” melaju di Majelis Sastra Asia Tenggara 2020.

Karena kamu telah memutuskan untuk memainkan gim ini, maka kamu harus memilih: 1) menjadi tidak terlihat atau 2) bisa membaca pikiran seseorang dari masa kelahiran hingga berakhir di liang lahat? Kamu harus memilih satu. Jika kamu mengabaikan perintah ini maka permainan tidak bisa berlanjut dan hanya bertahan di pilihan menu—sembari menatap karakter yang terus bergerak ke sana ke mari dalam hamparan bit di layar.

Kamu memutuskan untuk memiliki kemampuan membaca pikiran. Kamu memilih itu karena kamu fobia dengan kesepian dan kesendirian. Kalau kamu mendaratkan pada pilihan pertama maka kamu akan stres. Sementara di pilihan kedua nampaknya kamu lebih rileks karena ramai pergumulan dan arus kesadaran di lalu lintas pikiran orang-orang.

Kamu awalnya tidak menyangka dengan ini semua. Gim video di zaman sekarang ternyata bisa begitu ekstrem polahnya. Kamu membeli gim tersebut karena penasaran dengan ragam fitur yang diperbincangkan di forum-forum terjauh, terpinggir dan tergelap di belantara maya. Kamu ingin lari dari kenyataan yang berantakan ini dan menemukan ekstase dan fantasi yang lain di petualangan virtual.

Dan ekstase serta fantasi itu ternyata mewujud nyata. Tuas kendali atau stik yang kamu genggam bergetar hebat. Layar tiba-tiba mati dan gelap. Pandanganmu memudar dan semua nampak buram. Televisi di ruang tengah itu bergoyang-goyang lalu terlepas dari etalase dan menyusut ke dalam lubang matamu.

Seketika itu dunia yang kamu tinggali tak lagi sama. Ketika kamu mampu membaca pikiran orang awalnya kamu nampak baik-baik saja. Tapi ternyata kamu lupa bahwa kamu memiliki masalah dengan penghakiman dan perundungan yang dilakukan orang-orang. Dan itu semakin bekerja dengan baik tatkala kamu mendapati seseorang di hadapanmu, di suatu entah di mana, sekarang dapat membaca pikiranmu.

Kamu ingin berteriak dan menghajar orang-orang yang merundungmu lewat pikirannya. Kamu sudah tidak tahan dengan itu semua. Kamu ingin segera mengambil batu yang ada di sebelah kiri lalu menghantamnya ke kepala si lelaki ini. Ketika kamu memutarbalikan badan dan hendak membungkuk, kamu mendengar ucapan yang tak kamu kira sebelumnya. Ucapan itu tak terdengar lewat bising suara, tetapi berdengung di membran tempani dan berputar-putar terus seperti pita kaset rusak.

“Jangan lakukan! Kita sama-sama memiliki kemampuan ini. Aku ingin menghilangkan Bakat Besar yang mengganggu mentalku ini. Tapi aku tak tahu caranya. Tolong!” ia berbicara denganmu tanpa mengeluarkan suara.

“Maksudmu Bakat Besar?” kamu terheran dengannya.

“Aku telah memiliki kemampuan membaca pikiran ini sejak masih kanak-kanak. Ayahku membelikan gim video itu saat dunia pernah mengalami pagebluk yang terjadi 20 tahun silam. Tahun di mana seharusnya perhelatan sepak bola termegah di Eropa dan Olimpiade terjadi. Ayahku membelikan itu maksudnya agar aku ada hiburan dan tidak stres ketika terlalu lama belajar di rumah. Setelah aku memilih karakter dan kemampuan khusus yang bernama Bakat Besar laknat itu.”

“Jadi kamu berasal dari dua dekade yang lalu?” kamu coba mengingat-ingat masa lalu yang sempat membuatmu ingin mengakhiri hidup.

Apa maksudmu?” ia bertanya keheranan.

“Ketika aku memainkan gim video itu, usiaku sekitar 40 tahun dan tubuhku gampang sakit-sakitan. Tapi sekarang aku merasa lebih bugar dan muda. Aku tak tahu, apa itu hanya efek placebo dari gim ini.” kamu menjelaskan.

“Heh, aku bilang kamu bukan berada di gim lagi! Kamu sudah masuk di dunia baru. Jadi, tubuh dan jiwamu masih tetap ada di dunia sebelumnya, di Bumi atau apalah itu. Tapi setelah itu ia membelah dirinya sendiri dan ada replika dirimu di dunia Antara.” ia menerangkan dengan menggerak-gerakkan bahumu, berusaha meyakinkan.

“Maksudmu di dunia Antara?” kamu menjadi bingung.

“Betul. Orang-orang otomatis akan menggandakan diri dari dunia nyata atau fisik atau apalah itu namanya dan berpindah ke semesta baru yang dinamakan dunia Antara. Maaf maksudku bukan berpindah, tapi ada paralel yang berjalan bersamaan.”

“Jadi, aku yang saat itu berusia 40 tahunan masih hidup? Dan aku yang saat ini lebih muda menjalankan hidup di sini? Di dunia gim video ini?” kamu mencoba mencerna itu semua.

“Kira-kira, begitulah.”

Kamu semakin sadar bahwa sekarang semakin banyak pengguna gim video tersebut di dunia ini. Impian dan harapanmu akan dunia yang lebih baik telah sirna. Impian yang berbasis eskapisme semata ternyata malah menelanmu mentah-mentah. Dirimu masuk ke semesta bernama Antara dan terciptalah Bakat Besar itu. Kamu masih berusaha mengulik ini semua: dunia yang baru, ketika batas kesadaran, realitas dan fantasi telah memudar.

Dunia yang kamu harapkan hanya ada di gim video dan malah membuatmu menjadi cemas karena banyak yang memiliki kemampuan seperti awal kisah ini dimulai: menjadi tidak terlihat atau 2) bisa membaca pikiran seseorang dari masa kelahiran hingga berakhir di liang lahat? Kamu sekarang bingung antara bahagia atau tidak dengan usiamu yang lebih muda 20 tahun ini. Tapi setidaknya, kamu bisa memberi tahu kepadanya dan orang-orang yang memiliki privilese di pemerintahan. Kalau 20 tahun setelah pagebluk itu usai, dunia harus bersiap-siap untuk 20 tahun berikutnya. (*)

Continue Reading

Cerpen

Sakit

mm

Published

on

The-Sick-Child-Marc-Aurele-de-Foy-Suzor-Cote-Oil-Painting


Mycel Pancho—Penikmat kopi pahit. Sudah satu dekade menjadi pekerja teks komersial. Lahir di Jakarta, bertumbuh dewasa di Pulau Dewata dan kembali di ibu kota untuk menjadi tua. Sejak sekolah, pecinta teater ini gemar menikmati sastra dan menulis apa saja untuk tetap waspada. Satu puisinya pernah terbit dalam buku antologi puisi Tentang Angin (2007), produksi Teater Angin SMA 1 Denpasar.

Aku sakit. Sakitnya sudah lama. Akhirnya terbaring di rumah sakit sejak hari ini. Gejala sakitnya aneh. Tidak ada demam, tidak ada batuk apalagi pilek. Pusing tak ada, apalagi sakit kepala. Tapi anehnya, seluruh sendi dan tulangku ngilu. Sakitnya seperti sedang terserang demam menahun. Ngilunya persis seperti cucian diperas berulang-ulang. Kadang telapak kaki dan tangan rasanya seperti ditusuk jarum pentul yang biasa nenek gunakan untuk merapikan seprai ranjang tuannya.

Selain itu, sewaktu-waktu kepalaku juga kliyengan. Rasanya limbung mau jatuh terus. Tapi tidak pusing, tidak sakit kepala. Rasanya hanya berputar terus seperti bianglala yang kebanyakan tamu di akhir pekan. Rasanya juga seperti ditarik kanan kiri tak pakai berhenti.

Pagi ini aku ke rumah sakit bersama ibuku. Setelah dokter sibuk memegang dahiku, mendengar detak jantung dan suara paru-paruku lewat stetoskopnya, mengetuk-ngetuk lututku dengan palu kecil dan menggosok telapak-telapakku dengan tongkat besi. Dokter itu berpikir keras. Ia membuka buku-buku kedokteran dan membolak-balik catatan kesehatanku. Secara tiba-tiba, dokter itu bilang …

“Kamu harus opname hari ini. Nanti kita observasi. Ada asuransi tidak?”

“Ada, Dok. Memang saya sakit apa, Dok?

“Masih belum jelas, makanya kita perlu observasi dulu selama beberapa hari ini”.

Jadilah aku berada di kamar kelas tiga ini. Aku tidur di bangsal paling ujung dekat jendela. Aku tidur dalam satu ruangan dengan lima pesakitan lainnya. Aku tidak sempat sensus siapa saja yang dirawat bersamaku dan sakit apa saja mereka. Kukira besok juga saat bibiku datang, hal itu pasti bisa langsung kuketahui darinya yang bercita-cita jadi ibu RT.

Belum satu hari aku dirawat di rumah sakit, sanak saudara dari ibuku sudah tiba. Mulut cerewetnya sudah pasti ikut serta. Belum apa-apa sudah berkomentar dan memberi diagnosa, lagak macam dokter kelas dunia saja. Mulai pun belum observasiku di rumah sakit itu, sanak saudara sudah bisa beri hasil.

Bibi bilang aku sakit ringan. Paling hanya kolesterol naik. Cukup masuk akal kalau aku ingat-ingat lagi apa saja yang sering kumasukkan ke dalam mulut dan lanjut ke perut. Tak heran juga itu terjadi karena udang rebus kemerahan memang salah satu favoritku sejak anak-anak. Apalagi daging merah adalah idolaku selama tiga tahun belakangannya ini. Semua yang merah lah pokoknya aku suka.

Belum selesai soal kolestrol, suami bibiku menyergah dan berkomentar. Katanya aku mungkin juga kena gula. Diabetes memang ada dalam garis darah keluarga kami. Apalagi, kakekku yang luar biasa sakti dan kuat itu akhirnya malah mati karena gula darahnya naik dalam dua tahun terakhir sebelum dia lepas usia. Tapi aku langsung bilang tidak tidak tidak padanya. Aku yakin aku tidak diabetes karena aku tidak suka manis. Satu-satunya manis yang bisa kusukai hanya wajahmu dan senyumanmu saja.

Aku sakit. Malam ini malam pertama aku menjalani waktu tidur di ranjang rumah sakit. Aku ingin tidur tapi sulit karena keberisikan. Berisik suara tetesan infus, suara AC, suara pasien sebelah yang mengorok, suara pasien di ranjang seberang yang susah nafas, suara pasien di dekat pintu yang kentut melulu, suara suster bolak balik mengecek pasien, suara ibuku yang terus bergerak karena sakit tidur di kursi, sampai suara di kepalaku yang terus memikirkan dan merindukan kamu.

Hari ini teman-teman ibu membesukku. Mereka datang bergerombolan sambil ketawa-ketiwi layaknya orang akan pergi piknik ke pantai. Pakaian mereka pun luar biasa cantik seperti mau peragaan busana. Beberapa ada yang membawa makanan banyak sekali, kurasa mungkin ada yang sungguhan sekalian membawa tikar.

Aku sakit dan teman-teman ibuku ini berkicau tak berhenti soal mistis. Melihat kondisiku, mereka malah cerita soal kawan mereka yang terkena ilmu hitam. Mereka bilang ada temannya yang salah ucap di suatu tempat ke seseorang, besoknya sakit tak jelas, masuk rumah sakit dan tak lama mati. Ada lagi yang cerita bahwa kenalannya tak sengaja melangkahi tangga yang ternyata ada setannya. Seketika orang itu jatuh, kakinya patah dan tidak sembuh sampai setengah usianya lewat.

“Bener lho, Dik. Teman saya sakit nggak jelas kenapa dan tidak sembuh-sembuh. Sudah berobat sana-sini, akhirnya bisa hidup tenang setelah berobat ke orang pintar. Coba saja, Dik. Daripada buang uang di rumah sakit tapi ndak sehat-sehat. Ke orang pintar cuma bayar seikhlasnya, Dik. Dijamin langsung bisa hidup tenang!”

Orang pintar katanya.. Magis katanya. Apa iya aku bisa percaya dengan yang seperti itu saat ini? Orang pintar yang kukenal hanya kamu. Magis yang kupercaya hanya berupa pesonamu yang membuatku tidak bisa tidak melayang kalau sedang kamu pandang.

Lagi pula, jika kuingat-ingat, beberapa waktu belakangan aku tidak pernah salah ucap ke orang lain, apalagi melangkahi tangga. Aku juga tidak suka berbuat aneh-aneh di tempat asing karena keluar rumah pun aku jarang sekali. Kecuali untuk menjumpai kamu.

Hari ini adalah hari ke dua ratus aku di rumah sakit. Asuransiku sudah menyerah menanggung biaya sejak hari ke tiga puluh. Orang tuaku sudah kehabisan barang untuk dijual. Aku pun tak punya aset macam-macam lain yang bisa kugadaikan untuk bayar rumah sakit. Kami semua makin pucat, aku makin sakit. Sementara dokter dan perawat di rumah sakit, cuma mereka yang wajahnya semakin berseri-seri.

Sudah hampir 365 hari aku di rumah sakit, hasil observasi tidak juga keluar. Aku masih saja sakit sendi dan sakit tulang. Sakit yang membuatku tidak bisa pulang. Sakit yang membuat tagihan rumah sakit gendut, sementara rekeningku ikut mengkerut. Sakit yang membuatku ingin kamu datang.

Hari itu akhirnya kamu datang. Kamu datang setelah satu tahun pergi entah untuk menemukan apa. Kamu datang dengan senyumanmu yang selalu kumimpikan setiap malam. Kamu datang dengan kelembutan tanganmu yang dulu mengusapku setiap hari. Kamu datang dengan kehangatan pelukanmu yang dulu membalutku setiap beberapa jam sekali.

Kamu datang, melepas infusku. Saat itu juga aku pulang karena sakitku hilang.

Dan semua dokter di rumah sakit itu..

“Ternyata hanya rindu.. Dasar, bikin kerjaan orang saja”.

Continue Reading

Cerpen

Pencarian

mm

Published

on

Setibanya di rumah, Thaleb tak menemukan kedua anak dan istrinya. Bumi terus berguncang dengan hebatnya. Beton-beton retak dan rubuh, pohon kelapa berayun-ayun ke kiri dan kanan, semua orang memadati jalanan dan berteriak histeris. Ia terus mencari istri dan kedua anaknya. Ia lihat ke belakang rumah, istrinya tidak ada di sana. Thaleb terus memanggil-manggil mereka, tapi tak ada yang menjawab. Ia pun keluar dari rumah, berdiri terpaku di jalannan. Ia melihat ke kiri dan kanan, orang-orang berlari kocar-kacir dan kalimat suci terus terucap lewat mulut mereka.

Tiba-tiba seorang tetangga melintas di hadapannya.

“Uneng, lihat istri dan anakku?” tanya Thaleb pada perempuan tua itu.

“Tadi istrimu membawa anakmu lari pakai sepeda motor,” jawab orang itu. “Menuju arah kota.”

Tanpa pikir panjang, Thaleb pun menyetop seseorang pengendara motor.

“Bang! Bang!” Thaleb menghadangi jalannya. “Boleh aku numpang ke kota?”

“Naiklah!” jawab si pengendara motor.

Thaleb pun langsung naik, dan motor berlalu menuju kota. Di jalanan, banyak anak-anak menangis ketakutan. Bumi terus berguncang tak henti-hentinya. Motor melaju cepat seolah tak mempedulikan guncangan itu.

Setibanya di jalan raya, banyak motor, becak dan mobil mamadati jalan raya, melaju tak tentu arah, sampai-sampai ada yang tertabrak. Suara tangisan anak-anak masih terdengar memadati kuping Thaleb. Ia terus melihat kiri dan kanan, mencari anak dan istrinya. Tiba-tiba motor yang ditumpanginya menabrak sebuah becak yang melaju melawan arah. Mereka pun jatuh.

Lalu ia lihat orang-orang yang ada di dalam becak, kira-kira ada delapan orang, Thaleb langsung menyadari kedua anaknya ada di antara meraka. Ia pun langsung bangun dan menghampiri becak itu. Ternyata yang membawa becak adalah Wak Kasem, orang kampungnya sendiri.

“Ibu di mana?” tanya Thaleb pada kedua anaknya.

“Istrimu tadi tertabrak di jalan raya sana,” jawab Wak Kasem sambil menunjuk tempat istri Thaleb tertabrak. “Tadi istrimu menyuruhku membawa kedua anakmu pergi. Sedangkan dia dibawa mobil yang menabraknya. Kalau aku tidak salah, mobil itu membawanya ke rumah sakit terdekat. Segeralah cari istrimu!”

Kendaraan lain sudah antri panjang di belakang becak dan membunyikan klakson. Thaleb mengelus kedua kepala anaknya, lalu menciumnya.  Becak pun berlalu meninggalkannya.

Ia segera pergi ke tempat istrinya tertabrak. Ia menyetop pengendara lain yang melintas menuju arah itu dan kembali menumpang. Jalan raya padat, suara klakson tak henti-hentinya dibunyikan.

Setiba Thaleb di tempat istrinya tertabrak, ia mendapati motor yang dipakai istrinya tergeletak di pinggir jalan. Motornya hancur dan bannya gembos. Kepala Thaleb tiba-tiba pusing, matanya berkunang-kunang membayangkan bagaimana keadaan istrinya. Bunyi klakson dan suara tangisan anak kecil menyadarkannya dari lamunan.

Guncangan bumi sudah berhenti sesaat. Tanpa pikir panjang, ia pun segera melangkah mencari rumah sakit terdekat. Ia terus berjalan cepat di tengah-tengah kerumunan orang dan kendaraan yang melaju tak tentu arah. Sesekali ia bertabrakan dengan orang lain yang juga terlihat panik.

Tiba-tiba saja, orang-orang yang lari dari arah pantai berteriak mengabarkan sesuatu. Ia dengarkan teriakan itu hati-hati, ternyata orang-orang itu mengatakan bahwa air laut sudah naik setinggi pohon kelapa. Orang-orang dari arah pantai terus berlari menuju kota. Thaleb pun juga ikut berlari menuju kota, sambil mencari istrinya. Ia lihat bangunan roboh, seseorang terjepit di sana terkena reruntuhan beton. Hatinya bergidik ngeri. Di antara yang terjepit reruntuhan itu, hanya kakinyalah yang terlihat, sedangkan separuh badannya terjepit beton besar.

Tiba-tiba dari arah pantai terdengar suara yang cukup berisik. Suara patahan pepohonan, suara seng-seng dan kayu-kayu bangunan. Dari kejauhan, Thaleb melihat air hitam besar datang menggulung semua yang menghalanginya. Ia berlari menuju kota. Sebentar lagi akan sampai di Masjid Raya, pikirnya.

Suara air mengerikan itu membuat hati semua orang takut. Thaleb terus lari berdesak-desakan dengan orang lain. Suara tangisan anak kecil terus memadati pendengaran, berlomba-lomba dengan suara air besar itu. Di tengah-tengah perlariannya, ia menemukan jeringen plastik dan mengambilnya, mungkin ini akan diperlukan nanti, pikirnya. Ia terus berlari menjauh dari air hitam yang terus mengejarnya di belakang sana. Tiba-tiba ia pun terjatuh, tubuhnya terinjak oleh orang-orang. Satu dua orang juga ikut jatuh. Tanpa disadari, air itu pun menyapu dirinya. Air itu menggulung tubuhnya, membenturkannya ke tembok ruko. Jerigen itu masih dipegangnya kuat-kuat. Ia membuka mata ketika di dalam air, tak satu pun yang dapat ia lihat. Tanpa ia sadari, sepotong kayu menghantam kepalanya. Di sisi lain, sebuah seng membelah betisnya. Ia terus digulung air hitam yang mengerikan itu.

Dalam keadaan lemah di dalam air, ia berdoa: “Jika saya masih dibutuhkan di dunia ini, selamatkanlah saya dari bencana ini, ya Allah!” Di dalam hati ia tak henti-hentinya berdoa dan bersalawat.

Tiba-tiba tubuhnya tersangkut di sebuah mobil, lalu ia terangkat ke permukaan karena jerigen yang ada ditangannya. Ia lihat ke atas, banyak orang di atas ruko melihat ke arahnya. Ia meminta tolong pada orang-orang itu. Mereka pun mengulurkan tali ke bawah. Thaleb menyambut tali itu. Ia ikatkan tali itu ke badannya, dan ia pegang kuat-kuat. Orang-orang yang ada di atas ruko pun menarik tubuhnya ke atas.

Thaleb selamat dari bencana tsunami yang menakutkan.

Ia lihat betisnya, ternyata sudah terkoyak lebar dihantam seng saat di dalam air. Ia raba kepalanya, ia temukan darah di sana.

Seseorang yang melihat kejadian itu membuka bajunya dan merobeknya menjadi dua bagian. Orang itu langsung membalut betis dan kepala Thaleb. Darah pun berhenti.

***

Selama dua harmal Thaleb menginap di ruko itu, makan seadanya bersama orang yang menolongnya. Di hari ketiga, air mulai surut, Thaleb pun memberanikan diri untuk turun. Di jalanan, terlihat satu-dua orang berjalan di antara tumpukan sampah dan puing-puing. Ia pun keluar dari ruko dan berjalan terpincang-pincang. Ia melihat mayat sejauh mata memandang. Puing-puing bangunan, mobil, motor, sepeda, pohon-pohon dan lain-lainnya berserakan di jalanan. Bercampur dengan ratusan mayat, bahkan ribuan. Hati Thaleb kembali bergidik ngeri.

Bantuan pun mulai datang, para tentara mengevakuasi para korban. Bantuan makanan, kesehatan dan posko-posko pun mulai didirikan. Thaleb terus menyusuri jalanan dengan kaki pincang mencari istri dan kedua anaknya. Orang-orang juga banyak mencari saudaranya. Satu-dua orang anak kecil terlihat menangis di sudut kota, karena tak menemukan ayah dan ibunya.

Kaki Thaleb terus melangkah tak tentu arah. Sampai di sudut kota lainnya, ia melihat seorang anak sedang menangis, kira-kira berumur tiga tahun. Ia hampiri anak itu. Ia elus kepalanya. Lalu anak itu digendongnya. Anak itu terus menangis sejadi-jadinya. Thaleb membawa anak itu melanjutkan pencarian istri dan anaknya. Sampai matahari mau tenggelam, istri dan kedua anaknya tidak juga ditemukan.

Ia pun memutar haluan menuju posko bantuan. Ia melangkah di antara puing-puing bangunan, pohon, dan mayat. Mega merah menyapu permukaan bumi yang luluh-lantak dihantam air besar. Hari mulai gelap, dan ia terus melangkah pelan dan pasti. Anak itu sudah terlelap dipelukannya.

Tak lama kemudian, Thaleb pun sampai di posko. Ia berikan anak itu pada seorang perempuan pengurus posko.

“Anak Bapak?” tanya perempuan itu.

“Bukan.” Kepalanya menggeleng. “Aku temukan di sudut kota.”

Perempuan itu melirik ke kakinya, ia lihat betis Thaleb mulai mengeluarkan darah. Kain yang menutupi luka itu sudah kotor terkena air di jalanan.

“Kaki Bapak kenapa?” tanya perempuan itu. Lalu ia berikan anak itu pada temannya. Setelah itu ia mendekati kaki Thaleb dan memandangi betis itu. Ia buka kain pengikat, dan betisnya yang terkoyak lebar itu pun ternganga. Perempuan itu kaget bukan main. Ia segera membawa Thaleb ke tempat medis. Ia bersihkan luka itu, lalu luka itu pun dijahit.

Thaleb tertidur karena keletihan berjalan seharian mencari kedua anak dan istrinya. Dalam tidurnya, ia berjumpa dengan istri dan kedua anaknya sedang bermain di sebuah taman. Karena mimpi itu, tepat jam tiga malam, ia terbangun. Ia lihat di sekitar, banyak orang terluka sedang tidur di sekelilingnya.

Ia pun keluar dari posko, dan seseorang mencegatnya. “Bapak mau ke mana? Istirahatlah dulu, Pak. Luka kaki Bapak belum sembuh benar.”

“Mau mencari anak-anak dan istriku.”

“Istirahatlah dulu, Pak, besok akan saya bantu mencari istri dan anak-anak Bapak. Mungkin mereka ada di posko ini. Kalau tidak ada di posko ini, mungkin ada di posko lainnya.”

Mendengar kata pemuda itu, Thaleb pun kembali masuk ke dalam tenda dan kembali beristirahat.

***

Keesokan harinya, setelah makan, Thaleb pun menuju tempat informasi posko itu bersama pemuda semalam. Ia mencari daftar nama pengungsi, ia berharap nama istri dan anak-anaknya ada dalam daftar. Tetapi, nama itu tak ditemukannya.

Ia pergi ke posko kedua, ia lihat orang-orang di sana dalam keadaan murung. Ia pergi ke tempat informasi untuk menanyakan daftar nama pengungsi, tapi nama istri dan kedua anaknya tidak juga ketemu.

Ia tak putus asa, dengan ditemani pemuda itu, ia pergi ke posko lainnya. Dan nama anak dan istrinya juga tidak ada di sana. Begitu juga dengan posko-posko selanjutnya, ia tidak menemukan anak dan istrinya.

Setelah itu, Thaleb menyuruh pemuda itu untuk pulang ke posko. “Pulanglah ke posko. Saya akan cari istri dan anak saya di tempat lain. Mudah-mudahan ketemu.”

Thaleb segera memberikan nama istri dan kedua anaknya pada pemuda itu, berangkali ada laporan dari posko-posko lain. Tidak lama kemudian, pemuda itu pun berlalu pergi.

Setelah berjalan beberapa langkah tak tentu arah, ia menemukan sebuah dompet yang ia kenal betul. Ya, dompet itu adalah milik istrinya. Ia ambil dompet itu, lalu ia buka. Thaleb mendapatkan KTP istrinya dan dua lembar foto anaknya yang sudah kusam, basah terkena air tsunami. Saat itu kali pertama ia meneteskan air mata. (*)

Surabaya, 2020 | Tsunami Aceh, 26 Desember 2004

___
Puji M. Arfi, lahir di Aceh 19 Februari 1999. Sekarang sedang menempuh pendidikan S-1 jurusan Sejarah Peradaban Islam di UIN Sunan Ampel Surabaya. Alumni Pesantren Dayah Modern Darul Ulum, Banda Aceh. Sekarang sedang mempelajari seni di (BMS) Bengkel Muda Surabaya. Menjadi salah seorang penggagas komunitas Cangkruk Rasa: Komunitas literasi Surabaya. Buku yang telah terbit: novel Dilema Penjara Suci: Sebuah Catatan Harian Santri Bodoh, (2019) dan Kumpulan Cerpen Perahu Pinggiran Kota, (2019).

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending