Connect with us

Pemikiran

Anatomi Politik Kekuasaan Niccolo Machiavelli

mm

Published

on

Il Principe (Pangeran)

Selama empat abad sebutan”berkecondongan Machiavelli” alam pikiran dunia sama artinya dengan sesuatu yang berkencongan iblis, serong, busuk, kejam dan jahat. Pengasal sebutan ini, Niccolo Machiavelli, adalah sebuah lambang yagn populer buat para politikus yang suka menghasut, licik, hipokritis, tak kenal moral, tak kenal pirnsip dan yang seluruh filsafatnya membenarkan, bahwa tujuan dapat menghalalkan cara-cara yang dipakai untuk mencapai tujuan tersebut. Umumnya orang berpendapat, bahwa undang-undang yang tertinggi bagi Machiavelli, adalah undang-undang oporunisme politik, Di Inggris abad ke-XVII, “Old Nick” adalah sebuah pemeo yang sekaligus dapat digunakan bagi syaitan dan Machiavelli. Apakah terdakwa ini dapat dibela, dan apakah ada keadaan tertentu yang dapat meringankan tuduhan-tudukan yang dilancarkan terhadapnya?

Rerputasi Machiavelli yang menyeramkan i ni boleh dikatakan seluruhnya bersumber pada sebuah buku, Pangeran, yang ia tulis  dalam tahun 1513, tapi yang baru diterbitkan dalam tahun 1532, lima tahun sesudah pengarangnya meninggal. Tidak ada buku yang dapat dipisahkan dari kurun zaman ia diciptakan. Dan kenyataan ini belum pernah digambarkan begitu jelas sebagimana halnya dengan buku Pangeran. Sungguhpun begitu, seperti juga setiap karangan besar, buku ini megnandung petunjuk-petunjuk yang berlaku untuk semua jaman.

Sampai tahun 1498 – pada waktu mana, dalam usia 29 tahun ia menjabat kedudukan sekretaris republik Florence – sangat sedikit sekali diketahui orang tentang kehidupan Machiavelli. Selama delapanbelas tahun ia mengabdi kepada negara-kota ini. Perutusan-perutusan diplomatik telah membawanya sampai-sampai ke Tuskani, menyebarang Apenina ke Roma, dan kemudian sampai kebalik pegunungan Alpina. Ia berkenalan dengan Contessa Caterina Sforza, dengan Pandolfo, Petrucci, adikara dari Siena, Ferdinand dari Aragon. Loui XII dari Perancis, Kaisar Maximilian, Paus Alexander VI, Paus Julius II dan Cesare Borgia. Sengketa politik antara Florence dan negara-negara kota lainnya seperti Cenesia, Pisa, Milan, dan Napoli waktu itu berlangsung dengan tak henti-hentinya. Politik dijaman itu luar biasa korupnya. Machiavelli, sebagai seorang penelaah sifat-sifat manusia yang tajuam merasa dirinya seperti kan didalam air, dan dipelbagai kesempatan ia telah memperlihatkan keahlian dan kesanggupannya dalam melangsungkan perundingan-peruindingan sulit. Realisme dan sinisme yang kemudian ia perlihatkan dalam soal-soal politik, tak sangsi lagi tentu bersumber pada pengalaman-pengalamannya; dimana ia belajar untuk tidak menghiraukan alasan apapun juga kecuali alasan ketamakan dan egoisme.

Suatu perobahan nasib kemudian terjadi atas diri Machiavelli. Berkat bantuan Spanyol, Keluarga Medici berhasil menggulingkan republik tersebut dan menegakkan kekuasaan mereka di Florence. Machiavelli dipecat, dipenjarakan, disiksa, dan akhirnya dibuant ke tanah miliknya di pedalaman tidak jauh dari San Casciano. Dan – kecuali selama beberapa masa yang singkat – ia mengasingkan diri sampai ajalnya tiba, yaitu dalam tahun 1527. Pekerjaan yang terutama ia kerjakan selama itu untuk pengisi waktu, yang olehnye dirasakan sebagai tahun-tahun yang panjang dan mengisengkan, ialah menulis kitab-kitab: Pangeran, Pelbagai Istikarah, kecakapan Berperang dan Sejarah Florence – buku-buku mana semuanya menbicarakan masalah politik yang telah lewat dan yang masih berlangsung kala itu.

Dalam soal-soal yang berhubungan dengan urusan-urusan umum tidak terdapat peluapan-peluapan rasa dalam sifat Machavelli, tapi dalam hubungan dengan satu soall ia menunjukkan perasaan yang sangat meluap dan dalam. Ia adalah seorang patriot sejati dengan kerinduan besr kepada Italia yang bersatu. Mungkin ia adalah seseorang pebmahas yang keras dan skeptis, seorang manusia intelek murni yang sinis, tapi jika mulai ia membicarakan persatuan Italia, maka ia didorong oleh suatu gelora hati, kebijakan, semangat serta kelincahan. Memang setiap patriot akan menangis melihat keadaan Italia dipermulaan abad ke-XVI yang begitu menyedihkan.

Suatu berncana politik, ekonomi dan agama yang hebat sedang berlangsung di Italianya Machiavelli. Ditempat lain, di Inggris, Perancis dan Spanyol, setelah mengalami pergulatan yang lama. Italia, konsepsi dari suatu organisasi nasional atau federal tidak dikenali sama sekali. Pada saat itu ada lima kesatuan politik besar yang menguasai negeri t ersebut; Milan, Florence, Venesia, Negara Gereja dan Napoli. Yang terkuat dan terbesar adalah Venesia. Perpecahan politik yagn tak berhingga adalah pangkal kelemahan-kelemahan yang tetap bagi Italia, dan karena itu dengan sendirinya seolah-olah menghimbau-himbau hasutan dan campur-tangan luar negeri. Penyerangan dimulai oleh Charles VIII dari Perancis dalam tahun 1494. Beberapa tahun kemudian setelah ia mengundurkan diri, Lois XII dan Ferdinand dari Aragon bersepakat untuk membagi Kekrajaan Napoli diantara mereka. Kaisar Maximilian mengirimkan pasukan-pasukannya untuk merebut Venesia. Tentara-tentara dari Jerman, Swis, Perancis dan Spanyol  mara dan bertempur diatas bumi Italia.

Sementara itu diantara bangsa Italia sendiri, cekcok sesama mereka, dendam umum, perampokan dan pembunuhan bersimaharajalela. Republik berperang melawan rebuplik, yang satu iri hati melihat kekuasaan yang lain sehingga dengan cara demikian mereka tidak berhasil sama sekali untuk membentuk suatu barisan bersama buat menangkis musuh dari luar. Gereja, yang tatkala itu sedang berada dalam jaman yang paling kotor dari seluruh sejarahnya, karena khawatir akan naiknya seorang saingan yang mungkin merebut puncak kekuasaan yang ia duduki, lebih menyukai perpecahan dari persatuan bagi Italia.

Machiavelli menyadari, barangkali lebih dalam lagi dari siapapun juga dalam jamannya, bahaya-bahaya yang mengencam Italia. Ditempat peristirahatan yang dipaksakan kepadanya, ia memikirkan dan merenungkan bencana-bencana yang menimpa tanah airnya yang tercinta, dan ia yakin bahwa satu-satunya harapan untuk selamat tergantung pada kemungkinan timbulnya seorang pemimpin besar – seorang pemimpin yang cukup besar dan bertangan besi, yang sanggup memaksakan kewibawaannya kepada negera-negara Italia yang kecil-kecil itu, supaya berpadu menjadi negara yang satu, yang dapat mempertahankan diri sendiri dan menghalaukan orang asing yang dapat dicari? Pangeran adalah konsepsi Machiavelli tentang macamnya pemimpin yang dikehendaki ituu dan kumpulan petunjuk-petunjuk yang cukupp mengenai jalan-jalan yang harus ia tempuh untuk mencapai hasil tersebut.

Biarpun pangeran dipersembahkan pada Lorenzo de Medici, penguasa baru Florence, tapi tokoh utama buku ini ialah Cesare Borgia. Putra Paus Alexander VI, yang diangkat menjadi kardinal waktu ia berumur tujuhbelas tahun, seorang pemimpin militer yang cakap, penakluk Romagna, dan seorang diktator yang kejam dan tak kenal kasihan. Dalam tahun 1502, Machiavelli pernah dikirim sebagai duta keistananya, dan sebagai diulaskan oleh Nevins, Machiavelli telah “melihat dengan penuh kekaguman, bagaimana cekatannya Borgia mempergilirkan pemakaian kehati-hatian dengan kekurang-ajaran, kata-kata yang manis dengan tindakan berdarah; bagaimana dingin sikapnya dalam menggunakan sifat chianat dan hipokrasi; bagaimana ganasnya ia mempergunakan terror untuk memelihara kepatuhan mereka yang telah ia taklukkan; dan betapa keras dan tepat genggamannya pada suatu negara yang telah rebut”. Dengan jalan mempergunakan lidah yang bercang, keganasan dn kelancungan Cesare mencapai suatu hasil yang gemilang tapi yang pendek umurnya. Machiavelli adalah seorang pengikut yang gigih dari bentuk pemerintahan yang bercorak republik, tetapi setelah ia pelajari keadaan Italia yang mengkhawatirkan dan yang menyedihkan ia yakin, bahwa Cesare Borgia adalah seorang pemimpin yang seyiogyanya, untuk mengakhiri keadaan kacau-balau ini.

Demikianlah, dengan semangat cinta tanah air yang diilhamkan oleh pandangannya tentang sebuah negera yang bersatu, sadar akan kebutuhan-kebutuhan yang mendesak pada kala itu dan sadar akan kesempatan baik yang terbuka bagi seorang pengusa baru. Machiavelli melepaskan segala tenaga dan kegembiraannya yang telah bertumpuk, kedalam penciptaan buku Pangeran. Buku ini ditulis waktu enam bulan terakhir dari tahun 1513, dan beberapa waktu kemudian disampaikan keistana Lorenzo, dengan penjelasan-persembahan pengarangnya, “ setelah melihat bahwa mustahil untuk memberikan pemberian yang lebih berharga dari pada suatu keskempatan untuk memahamkan dalam waktu sesingkat-singkatnya segala yang telah saya pelajari selama bertahun-tahun dengan begitu susah dan dalam ancaman bahaya yang begitu banyak.”

Dalil ajaji dari kitab Pangeran ini, ialah, bahwa kesejahteraan negara menghalalkan segala tindakan dan bahwa terdapat perbedaan ukuran dalam soal kehidupan umum dan kehidupan prive. Menurut ajaran i ni, tidak ada salahnya jika seorang negarawan melakukan tindakan kekerasan dan kedustaan untuk kepentingan umum, biarpun tindakan ini adalah suatu tindakan yang sangat tercela, bahkan boleh dianggap bersifat pidana jika ia berlangsung dalam hubungan prive. Pendeknya, Machiavelli memisahkan etika dari politik.

Buku Pangeran adalah sebuah buku penuntun bagi para pangeran (atau sebagai dikatakan orang: sebuah buku pegangan bagi para adikara), untuk mengajar mereka bagaimana cara merebut dan mempertahankan kekuasaan – kekuasaan, bukan untuk kepentingan penguasa, tapi untuk kepentingan rakyat banyak; supaya rakyat ini dapt diberi suatu pemerintahan yang kukuh, terhindar dari revolusi dan penyerangan-penyerangan dari luar. Dengan cara-cara bagaimana kekukuhan dan keamanan ini dapat dicapai?

Monarchi yang bersifat turun-temurun dibicarakan secara singkat, karena sekiranya penguasa itu mempunyai kecerdasan dan ketajaman pikiran, ia akan dapat mempertahankan pengawasannya atas pemerintahan. Sebaliknya masalah suatu monarchi baru jauh lebih ruwet lagi. Sekiranya wilayah-wilayah yang baru ditaklukkan mempunyai kebangsaan dan bahasa yang sama dengan negara yang menaklukkannya itu, pengawasan boleh dikatakan mudah juga, apa lagi jika kedua gasar yang berikut dituruti; “ pertama, supaya dihancurkan garis silsilah lama dari para pangeran; kedua, supaya jangan diadakan perubahan dalam soal hukum dan pajak.

“Tapi sekiranya negara-negara yang ditaklukkan itu berada di daerah dimana terdapat perbedaan bahasa, adat-istiadat dan hukum, maka kesulitan jadi berlipat ganda. Dalam hal ini nasib yang baik dan perlakuan yang tepat diperlukan untuk mengatasinya”. Cara-cara yang dapat dipakai untuk kepentingan pengendalian, demikian Machavelli melanjutkan sarannya, ialah, Penguasa itu sendiri pergi dan bermukim di daerah itu; dengan jalan mengirimkan koloni-koloni (ini lebih murah ongkosnya dari membelanjai sebuah tentara pendudukan): dengan jalan mengikat persahabatan dengan tetangga-tetangga yang lebih lemah dan berusaha melemahkan tetangga-tetangga yang kuat. Karena tak menghiraukan petunjuk-petunjuk dasar inilah, maka Louis XII dari Perancis telah menderita kekalahan dan kehilangan jajahannya.

Dalam sebuah istikarah mengenai “Bagaimana propinsi-propinsi harus diperintah”, Machiavelli mengusulkan tiga cara supaya sebuah negara yang biasa “hidup dibawah undang-undangnya sendiri dan dalam kemerdekaan ….. dapat dikendalikan. Pertama dengan jalan menghancurkannya; kedua, dengan pergi dan berdiam di tempat itu sendiri; ketiga, dengan jalan mewajibkan ia membayar upeti dan menyerahkan pemerintahannya kepada sekelompok bumi-putera yang harus mengusahakan supaya penduduk yang lain tetap merasa bersahabat dengan kita”. Diantara pilihan-pilihan yang ada, salah satu dri kedua pertama dipujikan sebagai paling selamat.

Tapi sekiranya kota atau propinsi yagn baru direbut itu telah biasa hidup dibawah seorangn pangeran, dan silsilah keluarganya telah habis, maka mustahillah bagi penduduk, yang pasa satu pihak biasa patuh dan dipihak lain direnggutkan dari penguasanya yang lama, untuk semufakat biat memilih seorang pemimpin diantara mereka sendiri; dan karena mereka tidak tahu bagaimana caranya hidup sebagai orang merdeka, sehingga mereka akan lamban sekali dalam soal mengangkat senjata, seorang asing akan dapat menarik mereka dan mempergunakan mereka untuk kepentingannya sendiri.

Dalam uraian selanjutnya “Mengenai luhak-pangeran baru” Machiavelli memperingantkan, “Supaya orang jangan lupa bahwa tabiat orang banyak tidak teguh adanya, dan bahwa, memang mudah untuk meyakinkan orang banyak mengenai sesuatu, tapi sangat susah untuk menjaga supaya mereka tetap taat kepada keyakinan itu. Sebab itu, semuanya harus disusun begitu rupa, sehingga sekiranya orang tidak lagi yakin dengan sukarela, maka keyakinan itu bisa dipaksakan.”

Pengarang kemudian meneruskan dengan menyanjung dan memuji perjalanan hidup Cesare Borgia, sebagai seorang kuat par excellence. Dan ia memintakan maaf atas pembunuhan dan pengkhianatan yang telah dilakukan.

Sekiranya dibayangkan kembali tindakan-tindakannya, saya tidak tahu bagaimana menjalankannya, malahan menurut hemat saya …” saya harus menyajikannya sebagai contoh bagi mereka yang karena nasib atu atas kehendak orang lain dijadikan untuk memerintah. Karena ia sebagai seseorang yang mempunyai jiwa yang agung dan cita-cita yang jauh akibatnya, mustahil akan dapat menyalurkan perbuatan-perbuatannya dengan cara lain ….. Karena itu mereka yang menginginkan dirinya terjamin dalam luhak barunya, yang ingin beroleh sahabat, yang ingin mengatasi segalanya baik dengan paksaan ataupun tipu-muslihat, mereka yang ingin dirinya dicintai dan ditakuti oleh rakyat, ingin menghancurkan mereka yang punya kekuatan atu akal-akal yagn dapat merusak dirinya, ingin mengganti susunan lama dengan susunan yang baru, ingin keras dan bijaksana, ingin berjiwa besar dan liberal, ingin menghancurkan keperajuritan yang tak setia dan menciptakan yang baru, menjaga tali persahabatan dengan raja-raja dan pangeran-pangeran begitu rupa sehingga mereka bersedia menolong dengan penuh semangat dan berhasti-hati apabila menghina, tidak akan menemui contoh yang lebih hidup dari pada beliau ini.

Seorang penakluk yang telah merebut suatu negaara “harus secepat mungkin menjalankan tindakan penghancuran dengan satu kali pukul, sehingga ia tidak suah mengulanginya setiap hari. Dengan cara begitu ia mendapat kesempatan untukmenenterampkan pikiran orang dan sesudah itu merebut hati mereka dengan memberikan keuntungan-keuntungan ………. Dan keuntungan-keuntungan ini harus dianugerahkan sedikit demi sedikti sehingga dapat dinikmati dengan cara yang lebih besar.”

Ketakutan kepada hukuman adalah Cuma salah satu dari jalan-jalan yang dapat ditempuh oleh penguasa yang cerdik dalam mengendalikan rakyatnya:

Bagi seorang pangeran adalah amat penting untuk tetap mengadakan hubungan yang ramah dengan rakyat, karena sekiranya tidak, maka ia tidak akan boleh sokongan dalam masa-masa buruk……….. Jangan coba mengingkari saja dengan menunjukkan kepada peribahasa lama, “Ia yang bertupang atas rakyat sama dengan bertupang atas pasir.” Ucapan ini mungkin benar jika seorang warga-negara secara pribadi bertupang pada rasa cinta rakyat padanya dan berharap akan beroleh pertolongan mereka, jika ia dikalahkan oleh seteru-seterunya atau oleh alat-alat hukum. Tapi seorang pangeran, seorang laki-laki yang perkasa yang sanggup memimpin, yang tau bagaimana menjaminkeamanan dalam negaranya, tak pernah akan menyesal karena ia telah menegakkan keamanan dirinya diatas rasa cinta rakyat kepadanya.

Dalam memperbincangkan luhak-luhak pangeran agama, yaitu luhak-luhak yang langsung berada dibawah pemerintahan gereja, Machiavelli menyodorkan ulasan-ulasannya yang paling menghancurkan dan paling mencemoohkan.

Luhak-luhak ini diperoleh berkat jasa atau nasib yang baik, tapi dipertahankan tanpa kedua hal ini; luhak-luhak pangeran ini didukung oleh peraturan-peraturan agama yagn suci, yang mempunyai fitri dan akibat begitu rupa sehingga dapat menjamin kewibawaan pangeran-pangeran mereka, apapun juga yang mereka lakukan atau bagaimanapun juga cara hidup mereka. Pangeran—angeran ini memiliki daerah-daerah yang tidak mereka pertahankan dan rakyat yang tidak mereka perintah.

Disini dan ditempat lain dalam karangannya, keberangsangan Machiavelli yang paling geram terhadap gereja Rumawi pada permulaan abad ke-XVI, adalah disebabkan oleh karena gereja ini supaya diadakan pemisahan yan tegas antara gereja dan negara.

Karena sebuah pemerintah yang kuat memerlukan tentara yang baik, maka Machiavelli menganggap soal-soal emiliteran sebagai soal yang amat penting. Ia telah membicarakan soal ini denganpanjang lebar. Kebanyakan negara-negara italia dalam jamannya telah biasa mempergunakan pasukan-pasukan sewaan, yang sebagian besar teridri dari bangsa asing, untuk membela mereka. Pasukan-pasukan seperti ini, kata Machiavelli, adalah “tak berfaedah dan berbahaya.” Sebuah tentara kebangsaan yang terdiri dari warga-negara akan lebih tepat lagi dan akan lebih dapat dipercayai. Karena keselamatan nasional mungkin tergantugn dari kekuasaan bersesenjata, seorang pangeran yang memerintah harus mengaggap soal-soal militer sebagai pokok perhatian dan telaahnya yang utama.

Beberapa bab telah diisi oleh Machiavelli untuk menjelaskan tingkah-laku para pangeran – tingkah laku yang tepat dalam keadaan yang tepat.

Antara cara seseorang hidup dan cara bagaimana semestinya ia hidup terdapat perbedaan yang sangat besar……….. Bagi seorang pangeran yagn ingin mempertahankan kedudukannya perlu sekali berlaku lain disamping berlaku baik, dan memakai atau tidak memakai kebaikannya sesuai dengan kehendak keadaan ……….. Saya tahu, setiap orang akan membenarkan bahwa amatlah terpujinya jika seorang pangeran dianugerahi segala sifat-sifat yang dianggap orang baik; tapi, karena tidak mungkin ia memiliki atau menjalankan semua sifat-sifat ini …… ia setidak-tidaknya harus cukup cendekia untuk mengarifi bagaimana caranya mengelakkan noda-noda dari kekurangan-kekurangan yang mungkin menyebabkan ia kehilangan, pemerintahannya.

Seorang pangeran tak usah takut akan disebut seorang kedekut, dalam “membelanjakan apa yang termasuk miliknya dan milik rakyatnya atau yang termasuk milik o rang lain …………. Mengenai milik yang tak masuk milik kita sendiri atau milik rakyat kita harus bersifat dermawan …………… karena berlaku dermawan dengan harta orang lain (yang diperoleh dengan jalan penaklukan militer) tidaklah akan menurunkan derajat kita malahan menaikkan. Yang merugikan ialah memberikan harta milik sendiri. Tidak ada sifat yang begitu merusak bagi diri sendiri sebagai sifat kita akan kehilangan alat yang memungkinkan sifat itu, lalu kita jatuh miskin dan hina orang; atau untuk mengelakkan kemiskinan kita lalu menjadi tamak sehingga dibenci orang.”

Kekejaman harus dianggap oleh seorang pangeran sebgai salah sebuah senjata untuk menjaga supaya rakyat tetap bersatu dan patuh, “Karena ia yang menindas kekacauan dengan memberikan beberapa contoh yang dapat dipakai sebagai peringatan, akhirnya akan lebih pemurah jadinya, dari pada seseorang yang karena terlalu lembut membiarkan keadaan berlarut dengan semaunya dan dengan demikian akhirnya mengakibatkan penggarongan dan pertumpahan darah; yang terakhir ini akan mencederai seluruh negara, sedangkan kekerasan seorang pangeran hanya akan membencanai individu.”

Machiavelli berkata dalam sebuah bait yang termasyur:

Dari ini timbullah pertanyaan manakah yang lebih baik; lebih dicintai dari pada ditakuti, atau lebih ditakui dari pada dicintai. Barangkali orang akan menjawab, bahwa pada diri kita sebaiknya dilekatkan keduanya. Tapi karena cinta dan ketakutan mustahil bisa hidup berdampingan, sekiranya kita harus membuat pilihan diantara keduanya, maka akan lebih aman jika kita lebih lagi ditakuti dari pada dicintai. Karena umumnya bolehlah dipastikan, bahwa manusia tak tahu berteria kasih, cerewet, seorang akal, cepat untuk mengelakan bahaya, tamak akan keuntungan, hanya setia kepada kita selama kita masih dapat melimpahkan keuntungan padanya, dan siapsedia untuk menumpahkan darah mereka, dan mengorbankan harga-benda mereka, nyawa mereka, anak-anak mereka buat kita, asal bahaya itu masih jauh; tapi dalam saat-saat yang genting mereka akan mengkhianati kita.

Ucapan ini adalah ucapan yang sinis, biarpun Machiavelli mengakhiri pertimbangannya dalam soal cinta lawan ketakutan ini dengan memberikan nasihat kepada seorang pangeran, bahwa “ia harus melakukan segalanya untuk mengelakkan kebencian orang.”

Tidak ada bagian dari Pangeran ini yang umumnya begitu dikutuk dan dibenci seperti halnya dengan bab kedelapanbelas mengenai “bagaimana caranya seorang pangeran harus memenuhi janji.” Sebutan yang berarti busuk dan “berkecondongan Machiavelli” sebagian besar disebabkan oleh bab inilah, jika dibandingkan dengan bagian-bagian lainnya dari buku itu. Dalam bab ini pengarang mengakui, bahwa menepati janji adalah sesuatu yagn terpuji, tetapi ia juga mengatakan, bahwa kelicikan dan kelancungan, hipokrisi dan melanggar janji adalah perlu dan dapat dimaafkan untuk kepentignan penjaminan kekuasaan politik.

Ada dua jalan untuk memperjuangkan sesuatu; pertama dengan jalan hukum, kedua dengan jalan kekerasan; yang pertama dalah wajar buat manusia, sedangkan yang kedua buat hewan. Tetapi karena cara yang pertama sering tam memberikan hasil, maka perlulah dipakai cara yang kedua. Jadi seorang pangeran harus tahu mempergunakan sebaik-baiknya tindakan-tindakan baik yang bersifat manusia maupun yang bersifat hewan ……… Tapi karena seorang pangeran harus arif bagaimana memakai sifat hewan dengan cendekia, ia harus memilih diantara hewan-hewan itu, singa dan rubah; karena singa tak dapt membela diri dari perangkap sedangkan rubah tak dapat membela diri terhadap serigala ………. Seorang pangeran yagn pandai tak mungkin dan tidak perlu menepati janjinya jika hanya akan merugikan dirinya sendiri dan jika sebab-sebab yang memberikan alasasn padanya untuk menjunjung janji itu sudah tidak ada lagi. Sekiranya semua manusia baik, tapi karena manusia tidak jujur dan tidak memegang janji terhadap mereka; dalam hal ini belum pernah ada pangeran yang tak tahu memperoleh alasan yang masuk alan untuk menutupi sebuah janji yang dilanggar …………… Tapi manusia begitu mutlak dikendalikan oleh kebutuhan-kebutuhannya yang da pada satu saat, sehingga seseorang yang ingin menipu tak akan pernah sia-sia mencari korban yang bersedia ditipu ………….. karena itu, adalah baik utnuk berlaku seolah-olah kita pemurah, setia pada janji, berperikemanusiaan, alim, suka terus-terang dan juga betul-betul seperti itu; tapi pikiran harus diatur begitu rupa sehingga jika perlu, kita harus tahu dan sanggup untuk berubah menjadi sebaliknya …………. Setiap orang tahu bagaimana lahirnya kita kelihatannya, tapi hanya sedikit sekali yang mengetahui bagimana kita sebenarnya.

Amatlah pentingnya bagi seorang pangeran, demikian Machavelli berpetua, untuk mengelakkan kebencian dan kutukan orang. Dua sebab yang mungkin sekali menerbitkan dendam orang banyak padanya, adalah: “jika pangeran ini suka merampok dan suka menjamah harta benda dan isteri rakyatnya ………. Seorang pangeran dijauhi orang jika ia kelihatannya banyak tingkah, genit, kebetina-betinaan, pengecut dan tidak tegas.” Selanjutnya seorang penguasa harus mempopulerkan diri dengan membagi-bgikan anugerah secara pribadi, “dan menyerahkan pada alat-alat hukum kewajiban utnuk membagi-bagikan hukuman, ya bahkan pencitaan segala yang mungkin menimbulkan rasa tidak senang.” Benteng-benteng sekalipun, tidak akan dapat menyelamatkan seorang pangeran sekiranya rakyat benci kepadanya.

Dalam memberikan petunjuk kepada seorang pangeran tentang “Bagaimana ia harus bersikap” Machiavelli menganjurkan supaya:

………….. seorang pangeran memperlihatkan, bahwa ia adalah seorang “pembela pahala” dan pebmeri anugerah kepada mereka yang telah menunjukkan hasil luar biasa dalam kepandaian apapun juga. Sesuai dengan ini ia harus mendorong rakyatnya dengan jalan mebmeri kemungkinan kepada mereka  buat mencapai panggilan jiwa masing-masing, baik panggilan ini bersifat dagang, tani ataupun yang lain, dalam suasana terjamin, sehingga mereka tidak usah takut utnuk memperindah milik mereka, karena khawatir akan direbut dari tangannya, atau mengundurkan diri dari pembukaan perusahaan karena takut kepada pajak.

Kenang-kenangan Roma purba, yang b egitu dikagumi oleh Machavelli, dijadikan nasihat bagi seorang pangeran, “supaya pada musim yang tepat rakyat dihiburkan dengan pesta-pesta dan tontonan-tontonan.

Machiavelli adalah seorang yang sangat yakit kepada nasib dan takdir. Barangkali keyakinan ini adalah sutau cermin dari sikap orang dalam jamannya terhadap astrologi. “Menurut kiraan saya adalah sangat mungkin,” demikian ia menulis, “bahwa nasib mengendalikan sebagian dari tindakan-tindakan kita, sedangkan pengendalian paroh yang lain, atau sedikit lebih kurang dari itu, diserahkan kepada kia sendiri.” Pendiriannya ini sebetulnya tidaklah begitu bersifat tawakkal, karena disamping itu ia yakin, bahwa manusia memiliki kekuasaan tertentu terhadap nasibnya, dan  “karena adadlah lebih baik jika kita bersifat garang dari pada bersifat ahti-hati. Karena nasib ini adalah seorang perempuan yang harus dipukul dan diperlakukand engan kasar supaya ia menurut; dan ia lebih sedia dituani oleh orang-orang yang memperlakukan dia seperti itu dari pada oleh mereka yang lebih malu-malu dan lunak dalamperlakuannya. Dan selalu, seperti halnya dengan seorang perempuan, ia lebih menyukai yang muda, karena orang muda lebih berani dan keras, dan akan mengendalikan dia dengan kelancangan yang lebih besar.”

Buku Pangeran diakhiri dengan “Sebuah peringatan untuk membebaskan Italia,” sebuah seruan lantang kepada rasa kebangsaan. Masa sudah masak bagi seorang pangeran baru, “seorang pahlawan Italia” untuk maju kedepan, karena Italia dalam “keadaan yang hina sekarang,” “lebih ladi berkedudukan budak belian dari orang Ibrani, lebih tertindas lagi dari orang Paris, lebih terpecah-belah dari orang Athena, tak punya pemimpin, tak punya susunan, terpukul, rusak, dirobek-robek, dilunjah-lunjah dan dibiarkan hancur dalam segala cara ………….. Kita lihat bagaimana ia berdoa kepada Tuhan supaya merngirimkan seseorang utnuk menyelamatkannya dari kekejaman-kekejaman yang biadab dan tindasan-tindasan ini. Kita lihat juga bagaimana sedia dan inginya ia mengikuti setiap panji-panji asal saja ada orang yang mengibarkannya.”

Machiavelli mengakhiri pembelaannya yang lancar ini dengan kata berikut:

Kesempatan bagi Italia untuk akhir-akhirnya berseru kepada pembelanya tidak boleh dibiarkan lewat. Alangkah besarnya cinta yagn disediakan orang untuk menerimanya (pangeran baru itu) disegala propinsi-propinsi yang telah menderita karena bencana asing, alangkah dahaganya rakyat kepda pembalasan dendam, alangkah teguhnya kesetiaan, alangkah besrnya pengabdian mereka, da alangkah banyaknya air mata, tidak dapat saja teakan dengan kata-kata. Gapura manakah yang tidak akan terbuka baginya? Rakyat yang manakah yang akan menolak untuk patuh kepadanya? Iri hati yang manakan yang ingin menghambatnya? Orang Italia yang manakan yang tidak akan memujinya? Tindihan yang biadab sekarang ini telah memualkan dengan tak ada taranya.

Tapi tigaratus limapulu tahun harus lewat dahulu sebelum persatuan Italia, bebs dari pendudukan penguasaan bangsa asing, seperti yang diimpikan Machiavelli dapat terlaksana.

Salinan-salinan naskah buku Pangeran telah bereda semasa perangnya masih hidup dan selama beberapa tahun setelah ia meninggal. Penerbitannya dalam tahun 1532 telah disetujui oleh Paus Clement VII, saudara sepupu dan pangeran kepada siapa buku ini telah dipersembahkan. Dalam masa duapuluh tahun sesudahnya, telah diterbitkan duapuluh lima edisi. Lalu mulailah tofan berkumpul. Dewan Trente memerintahkan supaya karya-karya Machiavelli dimusnahkan. Di Roma ia dituduh sebagai seorang atheis dan karangan-karangannya disana dan ditempat-tempat lain di Eropah dilarang. Kaum Jeuit di Jerman membakar patung-patungnya. Baik kaum Katolik maupun Protestan bersatu dalam hantaman-hataman mereka terhadap dia. Dadlam tahun 1559 semua kerja machiavelli dimasukkan kedalam Index Buku-buku Terlarang.

Baru dalam abad ke-XIX  reputasi Machiavelli dibersihkan sedikit dan beroleh pengakuan Gerakan-gerakan revolusioner di Amerika, Perancis jerman dan ditempat-tempat lain menimbulkan suatu dorongan yang tak tertahan kerah penduniawian negera, kearah pemisahan negera dan gereja. Perjuangan Italia untuk mencapai kemerdekaan yang mencapai puncak kejayaannya dalam tahun 1870, memperoleh ilhamnya dari patriot besar Machiavelli. Dalam sebuah essay yang sangat jelas. H. Douglas Gregory memperlihatkan, bahwa degnan jalan mengikuti petunjuk-petunjuk Machiavelli pemimpin Italia, Cavour, telah berhasil mempersatukan Italia dan mengusir penjajahnya. Sekiranya ia mengikuti jalan lain, maka hasil yang akan ia peroleh tidak akan melebihi kekandasan dan kehancuran adanya.

Bahwa para diktator dan adikara-adikara dari setiap jaman telah banyak menemukan petunjuk-petunjuk yang berguna dalam kitab Pangeran tak dapat disangsikan lagi. Daftar dari pembaca-pembacanya yang khusyuk sungguh menakjubkan; Kaisan Carlos V dan Catherina de Medici mengangumi karangan ini; Oliver Cromwell memperoleh salinan naskahnya lalu menyadur prinsip-prinsip yang ia temui didalamnya dan memasukkannya kepemerintahan. Kemakmuran Bersama di Inggris; Henry III dan Henry IV dari Perancis kedapatan menyimpan buku ini waktu mereka dibunuh; buku ini telah menolong Frederik Agung membentuk politik Prusia; Louis XIV memakai buku ini sebagi “kalang-hulu” yang disukai; sejilid dari buku ini yang berisi catatan-catatan ditemui dalam kereta Napoleon Bonaparte di Waterloo; pendapat-pendapat Napoleon III mengenai pemerintahan sebagian besar diambil dari buku ini; dan Biasmarek adalah seorang pengikut yang yakin. Dan belum lama berselang. Adolf Hitler, menurut ucapannya sendiri, selalu menyediakan kitab Pangeran disamping ranjangnya, sebagai  sumber ilham yang tetap; dan Benito Mussolini menerangkan, “Saya percaya bahwa Pangeran karangan Machiavelli patut dijadikan pembimbing tertinggi bagi seorang negarawan. Ajaran-ajarannya sekarang ini masih hidup karena selama empatratus tahun tidak ada perubahan-perubahan besar yang terjadi dalam pikiran manusia ataupun dalam tindakan-tindakan negara-negara.” (Kemudian Mussolini merobah pendiriannya, karena dalam tahun 1939, dalam daftar pengarang-pengarang modern dan lama, yang dimasukkan kedalam Index buku-buku fasis yang tidak boleh diedarkan oleh ahli-ahli perpustakaan Roma, tercantum nama Machiaavelli).

Sebaliknya pengurai-pengurai kejadian, sejarah yang bersemangat telah menjelaskan, bahwa orang-orang lalim seperti Hitler dan Mussolini umumnya menemui akhir mereka yang menyedihkan karena mereka tidak memperdulikan atau salah menafsirkan prinsip-prinsip fundamentil tertentu yang dimaskhurkan oleh Machiavelli.

Para penelaah Machiavelli bersepakat untuk mengatakan, bahwa pikiran-pikirannya tak mungkin difahamkan dengan lengkap jika disamping Pangeran orang tidak membaca istikarah-istikarahnya (Discourses). Kitab Istikarah-istikarah ini, yang telah ditulis selama lima tahun dan yang diterbitkan untuk pertama kalinya dalam tahun yang sama dengan Pangeran, adalah sebuah hasil-kerja yang jauh lebih besar. Salah satu perbedaan yang terdapat antara kedua buku ini menurut pendapat yang ada, ialah bahwa Istikarah-istikarah membicarakan “bagaimana seharusnya” sedangkan Pangeran seluruh luhak-luhak pangeran, yaitu negara-negara yang diperintah oleh monarchi tunggal. Istikarah-istikarah mengemukakan prinsip-prinsip yang harus diikui oleh sebuah republik.

Jika kedua buku ini dibaca dan dibandingkan, maka orang akan beroleh kesimpulan yang mengherankan. Kesimpulan ini memperlihatkan bahwa Machiavelli adalah seorang republikein yang yakin. Ia tidak menyukai despotisme dan ia menganggap kombinasi pemerintahan monarchi dan rakyat sebagai suatu pemerintahan terbaik. Tidak ada satu penguasapun yang selamat tanpa kecintaan rakyatnya. Negara-negara yang paling kukuh kedudukannya adalah negara–negara yang diperintah olehpangeran-pangeran yang kekuasaannya dibatasi oleh undang-undang dasar. Dalam pandangan Machiavelli timbangan rakyat adalah sehat. Hal ini dapat dilihat pada serangannya terhadap peribahasa purba yang berbunyi, “Bertupang pada rakyat sama artinya dengan bertupang atas pasir”. Pemerintahan yang ia cita-citakan ialah pemerintahan republik Roma purba, dan dalam kitabnya Istikarah-istikarah ia selalu kembali kepada cita-cita ini.

Kalau begitu, mengapa Machiavelli yang diatas segala-galanya lebih tinggi menghargai pemerintahan republik bagi suatu rakyat yang merdeka, menulis buku Pangeran? Buku ini ditulis untuk suatu masa yang chas dan untuk suatu keadaan yang chas. Tak sangsi lagi Machiavelli rupanya menyadari, bahwa adalah mustahil membangunkan suatu republik dengan berhasil di Italia abad ke-XVI itu. Buku Pangeran ditulis sematma-mata dengan maksud menarik pertolongan seorang kuat untuk menyelamatkan rakyat Italia dari kedudukannya yang celaka dan korupsi politik yang sedang berlangsung. Dihadapan pada suatu krisis yang mendesak italia tidak bisa bersikap banyak pilihd alam mencari senjata untuk menyelamatkan dirinya.

Biarpun banyak suaha sudah dilakukan untuk memulihkan namanya kembali, tapi masih saja pendapat yang beragam-ragam mengenai Machiavelli tersiar luas. Keadaan yang dijelaskan Giuseppe Prezzolini beberapa tahun yang lalu masih saja berlangsung sampai saat kini.

Kita kini memiliki Jesuit Machiavelli, seorang musuh gereja; patriot Machiavelli, Imam  Mahdi untuk kesatuan Italia dan keluarga Savory; militer Machiavelli, pelpor tentara-tentara nasional; ahli filsafat Machiavelli yang telah menemui suatu cara berpikir baru—jiwa yang praktis; dam Machiavelli sastrawan—banyak kaum sasterawan yang mengangumi gayanya yang jantan dan bentuk-kalimatnya yang lancang. Dan kesemua Machiavelli ini adalah Machiavelli yang syah.

Susah untuk diingkari, bahwa ada orang sebelum Karl Marx yang sebagai seorang revolusioner, mempunyai pengaruh begitu besar pada pemikiran politik seperti halnya dengan Machiavelli. Jadi pada tempatnya sekalilah jika padanya diberikan julukan “Pembina Ilmu Politik.” (*)

*Dari berbagai sumber. Dikelola oleh Tim Redaksi Galeri Buku Jakarta. All rights reserved

Continue Reading
Advertisement

Pemikiran

Emmanuel Lévinas Menyingkap Totalitas, Menjumpai Eksterioritas

mm

Published

on

jiwa tidak pernah pergi ke sesuatu yang lain daripada dirinya sendiri dan tidak pernah pergi ke sesuatu yang lain daripada dirinya sendiri

Oleh Ahmad Jauhari

 

Biografi & Bibliografi Lévinas

Dalam kalender Lithuania (Rusia) tercacat bahwa, Emmanuel Lévinas lahir pada tanggal 12 Januari 1906. Namun, di Prancis ia diperingati hari kelahirannya, dengan kalender Barat pada 30 Desember 1906 (Steinfels, Majalah The New York Times tentang Obituary, http://home.pacbell.net/atterton/lévinas/Obituary.htm). Lévinas lahir di Kaunas, Lithuania atau dulu Kovno dalam bahasa Rusia. Waktu itu Lithuania adalah bagian dari Rusia, sebelum pecah Revolusi di negara tersebut, di bawah pemerintahan Tsar. Sang ayah adalah seorang pengusaha buku. Keluarga ini termasuk golongan kelas ekonomi menengah. Lévinas merupakan anak sulung (tertua) dengan dua saudara laki-laki, yakni Boris dan Aminadab (http://plato.stanford.edu/entries/levinas/index.html).

Pada tahun 1914 segera sesudah pecah Perang Dunia I, keluarga Lévinas berimigrasi ke Karkhov, di negara Ukrania. Beberapa tahun lamanya, Lévinas sempat mengenyam pendidikan di Ukrania sekaligus menyaksikan sendiri peristiwa-peristiwa sekitar revolusi Rusia (1917). Pada tahun 1920 ia beserta keluarganya, kembali ke Lithuania serta menyelesaikan pendidikan sekolah menengahnya di tempat asalnya, Kaunas. Pada tahun 1923 Lévinas muda pergi ke Prancis untuk belajar filsafat di Universitas Stasbourg.

Ia sangat terkesan dengan suasana intelektual dan kultural negara ini. Tentang Prancis ia berkata: “Orang dapat melekat diri pada bangsa ini dengan hati dan budi sama seperti karena asal-usul” (Bertens, 2006: 309). Pelajaran filsafatnya, mendapat arahan dari Maurice Pradines, belajar psikologi dari Charles Blondel, dan memperdalam sosiologi dibawah bimbingan Maurice Halbwachs. Ia juga berkawan baik dengan seorang kritikus sastra bernama Maurice Blanchot. Begitu tekunnya Lévinas belajar, sampai ia pandai menulis dengan bahasa Prancis yang cukup bagus sehingga para pembaca tulisan-tulisannya tidak mengira kalau ternyata Lévinas bukan penduduk asli negara Prancis.

Selama dua semester pada tahun 1928-29 Lévinas bertandang ke Freiburg (Jerman) untuk belajar filsafat pada Edmund Husserl. Juga sempat bertemu dengan Martin Heidegger, profesor muda yang menggantikan Husserl pada akhir semester musim dingin 1928/29. Di tahun 1929, Lévinas menulis sebuah artikel panjang tentang buku Husserl yang dikenal sebagai Ideen I. Lévinas menyelesaikan studinya pada Universitas Sorbonne di Paris pada tahun 1930 dengan disertasi dalam bahasa Prancis tentang La théorie de I’intuition dans la phénoménologie de Husserl (The Theory of Intuition in Husserl’s Phenomenology). Kemudian pada tahun 1931 Lévinas menerjemahkan karya Husserl yang berjudul Cartesianische Meditationen (Meditasi-Meditasi Gaya Descartes) dalam bahasa Prancis dengan dibantu oleh Gabrielle Peiffer.

Kemudian pada tahun 1932, Lévinas mempersunting Raïssa Levi, seorang ahli musik dari Vienna. Pernikahan mereka dikaruniai tiga orang anak, yakni si sulung bernama Simone Hansel (perempuan), kedua bernama Andrée Éliane (perempuan), dan ketiga bernama Michael (laki-laki). Lévinas, pada tahun 1934, kembali menerbitkan bukunya menyangkut analisis filsafat tentang ‘Hitlerism‘, dengan judul Reflections on the Philosophy of Hitlerism.

Pada tahun 1935, Lévinas kembali menerbitkan sebuah esai original tentang ontologi hermeneutik dengan judul On Escape, pada Émile Bréhier’s journal Recherches philosophiques (reprinted in 1982). Pada tahun 1939 ia disuruh masuk dinas militer Prancis. Sehingga, di tahun 1940 ia ditangkap tentara Nazi, kemudian meringkuk di Fallingsbotel, sebuah penjara khusus untuk para perwira militer dengan kamp nr. 1492 yang diperuntukkan bagi tahanan perang keturunan Yahudi sampai tahun 1945. Sementara itu, seluruh saudara-saudaranya yang berada di Lithuania semua terbunuh oleh tentara Nazi. Sedangkan Raïssa (istri Lévinas) dan Simone (anak mereka) bersembunyi di Orléans.

Kemudian pada tahun 1947 kembali mempublikasikan buku kecilnya tentang De I’existence à I’existant (Existence and Existents/Keberadaan dan Yang Ada) yang sebagian besar ditulisnya di dalam tahanan. Tidak kalah menarik juga tulisan berjudul Le temps et I’autre (Time and the Other/Waktu dan yang Lain). Tulisan ini merupakan kumpulan empat ceramah yang diberikan di Collège Philosophique, sebuah lembaga filsafat yang didirikan bersama sahabat baiknya, Jean Wahl. Sesudah perang reda masih di tahun yang sama, Lévinas dipercaya menjadi direktur pada École Normale Israélite Orientale, di Paris. Lembaga ini bergerak dalam mendidik guru-guru bahasa Prancis bagi sekolah-sekolah Yahudi di kawasan Laut Tengah.

Selanjutnya pada tahun 1949, setelah meninggalnya anak perempuan mereka yang kedua bernama Andrée Éliane, Lévinas dan istrinya dikaruniai seorang anak laki-laki yang bernama Michael, sebagaimana disebut di atas. Di kemudian hari, Michael menjadi seorang ahli piano dan composer (penggubah lagu) yang cukup handal. Di tahun yang sama, Lévinas menerbitkan bukunya yang menarik tentang En découvrant l’existence avec Husserl et Heidegger (Menemukan Eksistensi Bersama Husserl dan Heidegger) yang merupakan kumpulan tulisan-tulisannya.

Selanjutnya, pada tahun 1957 Lévinas menyerahkan pembacaannya yang pertama atas Talmud pada sebuah lembaga bernama Colloque des Intellectuels juifs de Langue française, dengan dibantu oleh Vladimir Jankélévitch, André Neher, dan Jean Halpérin serta yang lain. Talmud dimaksudkan sebagai kompilasi karangan-karangan para Rabbi Yahudi yang berisi tentang nasehat-nasehat dan dialog-dialog tentang makna Kitab Suci dan cara hidup agama Yahudi. Talmud sebetulnya merupakan endapan-endapan dalam tradisi lisan yang sungguh sangat penting sesudah Alkitab Ibrani (Bertens, 2006: 312).

Pada tahun 1961, Lévinas mempublikasikan karya filsafatnya yang cukup masyhur yaitu Totalité et infini: Essai sur I’exteriorité (Totality and Infinity: An Essay on Exteriority). Berkat buku ini ia mendapat kehormatan sebagai ‘doktor negara’, dikarenakan karya-karya sebelumnya diterima sebagai ‘tesis tambahan’. Inilah buku filosofis yang begitu original, sehingga melambungkan nama Emmanuel Lévinas ke jenjang dunia internasional. Di tahun ini juga ia diangkat sebagai profesor pada Université de Poitiers dalam usia 55 tahun.

Kemudian pada tahun 1963 menerbitkan karangan-karangannya tentang agama dan kebudayaan Yahudi yang dikumpulkan dengan judul Difficult Freedom: Essays on Judaism (Kebebasan Penuh Kesukaran: Esai tentang Judisme). Selanjutnya, di tahun 1967 Lévinas dipanggil untuk diangkat sebagai profesor pada Université de Paris, Nanterre bersama dengan Paul Ricoeur. 1968 mempublikasikan buku berjudul Quatres lectures talmudiques (Nine Talmudic Readings). Tahun 1972 juga menulis buku tentang Humanisme de I’autre homme (Humanisme manusia Lain), yang merupakan kumpulan sejumlah artikel yang ditulisnya dalam kurun waktu antara tahun 1964 dan 1970. Lagi-lagi Lévinas pada tahun 1973 diangkat menjadi Profesor di Université de Paris IV-Sorbonne sampai masa pensiunnya (1976).

Lévinas kembali menulis sebuah karya cukup penting yang di daulat sebagai the second magnum opus sesudah Totalitas dan tak berhingga adalah buku Autrement qu´être ou au-delà de I´essence pada tahun 1974 (Otherwise than Being, or Beyond Essence/Lain daripada Ada atau di Seberang Esensi). Buku ini merupakan persembahan Lévinas untuk teman-temannya di antara enam juta jiwa yang dibunuh oleh tentara Nazi. Hadir lagi pada tahun 1975 buku yang berjudul Sur Maurice Blanchot (Tentang Maurice Blanchot, belum ada terjemahan bahasa Inggrisnya).

Kemudian buku berjudul Noms propres (Proper Names/Nama-Nama Diri) pada tahun 1976 yang membahas sekitar filsuf-filsuf, pengarang-pengarang dan penyair-penyair yang dikagumi Lévinas. Kemudian, pada tahun 1977 hadir juga buku berjudul Du sacré au saint (Nine Talmudic Readings). Menyangkut masalah-masalah ketuhanan, pada tahun 1982 Lévinas mengumpulkan tulisannya yang berjudul De Dieu qui vient à I’idée (Of God Who Comes to Mind/Tentang Allah yang Sampai pada Pikiran). Lalu Beyond the Verse serta buku kecil hasil wawancara dengan Philippe Nemo yang pernah disiarkan di radio Prancis dalam bentuk populer, dengan judul Ethique et infini (Ethics and Infinity/Etika dan Tak Berhingga).

Berlanjut pada tahun 1984 hadir lagi bukunya yang berjudul Transcendance et Intelligibilité (dalam terjemahan Inggris menjadi Emmanuel Lévinas: Basic Philosophical Writings). Kemudian di tahun 1987 bukunya tentang Outside the Subject, sebuah kumpulan tulisan yang membahas pelbagai filsuf kuno maupun kontemporer, bahasa, dan politik. Lalu tahun 1988 terbit lagi buku berjudul In the Time of the Nations. Kemudian, tahun 1990 mempublikasikan buku berjudul De l’oblitération: Entretien avec Françoise Armengaud (belum ada edisi Inggrisnya). Buku ini mendiskusikan seorang ahli seni pahat bernama Sasha Sosno dari Lithuania.

Selanjutnya, pada tahun 1991 terbit juga buku Entre Nous: On Thinking-of-the-Other. Buku ini menjadikan Levinas masuk dalam kandidat untuk sebuah penghargaan bergengsi atas Les Cahiers de L’Herne. Pada tahun 1993 kembali terbit bukunya yang berasal dari ceramah-ceramahnya di Sorbonne pada tahun 1973-74, dengan judul God, Death, and Time. Selanjutnya, pada sebuah lembaga bernama Cerisy-la-Salle diadakan sebuah annual colloquium (seminar tahunan) kemudian diterbitkan sebagai bukti perhatiannya terhadap originalitas pikiran-pikiran Emmanuel Lévinas.

Pada bulan September tahun 1994 Lévinas berduka karena Raïssa (sang istri) di panggil sang Maha Kuasa. Di tahun yang sama Lévinas kembali menerbitkan kumpulan esai berjudul Liberté et commandement (belum ada edisi Inggrisnya) dan Unforeseen History (Yang Tak Terduga), yang di edit oleh Pierre Hayat. Kemudian pada tahun 1995 hadir lagi buku Alterity and Transcendence.

Akhirnya, pada tanggal 25 bulan Desember tahun 1995 Emmanuel Lévinas tutup umur di Paris, dengan usia 90 tahun. Meskipun ia telah tiada, namun beberapa koleganya mengumpulkan beberapa tulisan yang belum diterbitkan sebagai bentuk penghormatan. Termasuk pada tahun 1996 hadir lagi bukunya tentang New Talmudic Readings. Serta pada tahun 1998 kompilasi tulisannya kembali hadir dengan judul Éthique comme philosophie première (belum ada edisi Inggrisnya).

Demikianlah, sekilas tentang riwayat hidup Emmanuel Lévinas dan karya-karyanya. Di beberapa Universitas terutama di Eropa dan Amerika pikiran-pikiran Lévinas hingga hari ini masih sering diselenggarakan diulas dengan pelbagai seminar dan konferensi internasional sebagai penghormatan atas jasa-jasa dan pengaruhnya terhadap ilmu-ilmu humaniora, terlebih lagi dalam ranah ilmu psikologi.

Originalitas gagasan-gagasan Lévinas patut untuk direnungkan sebab menurut pendapat penulis bahwa kegagalan-kegagalan dalam menyelami pribadi orang lain diasalkan oleh pandangan bahwa orang lain merupakan realitas sebagaimana di dalam pikiranku. Konflik antar pribadi di dalam kehidupan manusia sehari-hari lebih disebabkan oleh cara berpikir seseorang terhadap manusia lain. Bukannya justru ‘yang Lain’ harus tunduk pada cara seseorang melihatnya, melainkan ia mestinya mampu menyapa (appèl) eksistensi orang lain dengan keberlainannya.

 

Pemikiran Levinas: Totalitas, Tak Berhingga, dan Eksterioritas

Ada tiga kata kunci yang mesti dilewati, untuk memahami karya besar filosofis Emmanuel Levinas tentang Totality and Infinity: An Essay on Exteriority, 1969. Hal ini, sebagai pintu masuk ke inti dasar filsafat Levinas. Istilah itu menyangkut Totalitas, Tak Berhingga, dan Ekstertioritas. Tiga kata kunci itu memang diambil dari judul buku tersebut.

Istilah Totalitas, bagi Levinas, bernada kurang baik. Seluruh perjalanan filsafat Barat, menurut Levinas, selama ini bertumpu pada totalitas. Dengan kata lain, filsafat Barat hendak membangun sebuah rancang-bangun realitas yang berpangkal pada ‘ego’ sebagai rujukannya. Tradisi filsafat, selama ini, bertolak dari ‘aku’ dan hendak kembali pada ‘aku’. Tatanan berpikir semacam ini disebut Levinas sebagai la philosohie du Meme (the philosophy of the Same). Arti meme dalam bahasa Prancis bermakna ‘diri’ (self) maupun ‘sama’ (same) (Bertens, 1981: 27).

Realitas ini dapat ditelusur dari pernyataan Plotinus bahwa jiwa tidak pernah pergi ke sesuatu yang lain daripada dirinya sendiri dan tidak pernah pergi ke sesuatu yang lain daripada dirinya sendiri (ibid). Pernyataan Descartes tentang cogito ergo sum (aku berpikir, maka aku ada) seolah mempertegas hal ini. Realitas ini juga masih menyusup dalam pemikiran Husserl maupun Sartre. “Ada” bagi mereka, dimengerti sebagai “imanensi” atau “interioritas”. Filsafat yang selalu bertumpu pada totalitas itu tadi, disebut Levinas sebagai “ontologi”. Ontologi menurut Levinas merupakan pemikiran tentang ‘yang sama’ (to auto), tentang ‘diri sendiri’.

Untuk dapat memahami istilah le Meme terlebih dahulu diterangkan sedikit tentang apa yang dimaksudkan dengan le Moi. Istilah ini bermakna melepaskan diri dari atau dengan mengambil jarak terhadap “yang Lain”. Hal ini bisa dimungkinkan oleh karena adanya dimensi psikisme. Dimensi ini melahirkan prinsip batin yang memunculkan si Aku yang berdiri sendiri dan bebas. Si Aku kemudian berhubungan dengan “yang Lain”. Hubungan ini kemudian disebut sebagai suatu pemisahan yang radikal. Karenanya, yang muncul dari dan karena pemisahan ini adalah suatu ada yang terpisah sama sekali, suatu “entre redicalement separe”.

Pemisahan ini dimaksudkan untuk menyatakan suatu pribadi yang benar-benar berdiri sendiri dan bebas. Pribadi ini juga menyatakan bahwa ia selalu tetap dengan dirinya sendiri. Artinya, berhadapan denga “yang Lain”, ia tetap sama. Tetap sama dimaksudkan sebagai jalan untuk memulihkan identitasnya. Ungkapan ini menyatakan adanya sutau proses identifikasi yang tak ada hentinya dari suatu Aku, suatu pribadi yang satu dan sama. Proses ini sekaligus menyatakan bahwa si Aku adalah pribadi yang bebas, dan itu benar-benar ungkapan kongkret dan hidup(Alex Lanur, 1978: 61-62). Jadi, le Meme hendaknya lebih dipahami dalam konteks le Moi di atas.

Kemudian totalitas yang sedemikian rigor tadi, tiba-tiba didobrak oleh datangnya “Yang Tak Berhingga”. Secara prinsipil, realitas ini dimengerti bukan untuk dimaksukkan ke dalam lingkup pengetahuan maupun kemampuan “ego”. Yang Tak Berhingga itu adalah “Orang Lain” (Autrui, I’Autre). Totalitas yang telah saya susun dengan susah-payah, seketika hancur berantakan, oleh sebab perjumpaan dengan Orang Lain. Artinya, orang lain hadir dengan keberlainannya (Magnis, 2006: 106). Istilah “Autrui” disandingkan oleh Levinas dengan ungkapan-ungkapan seperti “alterite”, “axteriorite”, atau “Etranger” (yang asing). Ungkapan-ungkapan tersebut mau menunjukkan bahwa hubungan ini haruslah dengan sesuatu yang sama sekali di luar dari dan tak pernah boleh menjadi bagian dari totalitas si Aku. Itu berarti bahwa dalam hubungan tersebut kedirian serta keberlainan dari “yang lain” haruslah tetap dipertahankan secara mutlak. Dan, apa yang sama sekali berada di luar adalah orang lain (Autrui).

Di mata Levinas, filsafat Barat selama ini memandang adanya sesama manusia belum pernah dilihat dengan semestinya. Orang Lain, bagi Levinas merupakan fenomena sui generis, suatu fenomen yang sama sekali unik. Orang Lain bukan bagian dari totalitas saya. Ia selalu tampak sebagai suatu eksterioritas. Suatu kepadatan yang tak terselami. Orang Lain bukanlah “alter-ego”. Saya tidak dapat menjumpai Orang Lain, dengan bertolak dari “ego”. Dia lain sama sekali. Orang Lain merupakan si Pendatang, ia Orang Asing (I’Etranger). Bagi Levinas, dalam konteks ini istilah ‘metafisika’ bermakna pemikiran yang membuka diri bagi dimensi yang tak Berhingga, dengan hadirnya ‘yang lain’ (to heteron).

Satu tesis pokok Levinas adalah metafisika ditempatkan melampaui ontologi, oleh sebab perjumpaan dengan Orang Lain merupakan momentum etis. Karenanya, kodrat metafisika pada dasarnya bersifat etis. Maka, metafisika dan etika, bagi Levinas tidak dapat dipisahkan.

Etika adalah “filsafat pertama”. Istilah filsafat pertama adalah nama yang dipakai Aristoteles, guna menunjuk metafisika (Levinas, 1989: 123). Prioritas metafisika melampaui ontologi, menurut Levinas, bersinergi dengan apa yang dikatakan Plato bahwa idea “Baik” harus ditempatkan di seberang idea “Ada”. Istilah yang dinamakan momentum etis.

Dalam konteks ini, Levinas menggunakan istilah yang cukup menarik: substitution (mengganti tempat orang lain, menjadi sandera bagi  orang lain). Sandera dalam arti, menggantikan posisi orang lain (Bertens, 1985: 468). Bagi pemikiran ontologis, tak memuat pemahaman substitusi. Ontologi hanya memperbincangkan tanggung jawab bagi dirinya sendiri. Maka, Levinas berusaha memberikan pendasaran yang sama sekali lain dengan cogito Descartes. Jika Descartes mendasarkan subjektivitas pada cogito ergo sum (aku berpikir, jadi aku ada). Levinas mendasarkannya pada Respondeo ergo sum (aku bertanggung jawab, jadi aku ada) (Levinas, 1989: 469).

 

Levinas Menatap “Wajah” dan “Tanggung Jawab”

Untuk membahas dua istilah di atas, ada sebuah nukilan wawancara Philippe Nemo dengan Levinas yang terangkum dalam buku Ethique et Infini (Ethics and Infinity), 1982. Pertama-tama Nemo menanyakan tentang apa yang terjadi bila ‘memandang’ orang lain? Pandangan atau memandang, dalam kaca mata Levinas mengindikasikan pada pengenalan atau persepsi. Padahal, pengenalan mengandaikan keterarahan pada Orang Lain, bagaikan sebuah objek. Maka, bagi Levinas akses kepada Wajah dari semula bersifat etis (Bertens, 1987: 82-83).

Bagi Levinas, Wajah merupakan makna, dan makna menurutnya itu tanpa konteks. Artinya, “Wajah tidak bisa menjadi isi yang dapat Anda tangkap dengan pemikiran; Wajah tidak bisa dirangkum, ia menghantar Anda ke seberang”. Jadi, Wajah adalah makna pada dirinya sendiri. Engkau adalah engkau. Kemudian Nemo mempertajam, relasi etis ini, di satu pihak ada di seberang pengetahuan. Di lain pihak, pembicaraan saya dengan Orang Lain, begitu sebaliknya, tercantum dalam percakapan. Bukankah percakapan itu sendiri adalah sesuatu yang termasuk pengetahuan? Percakapan, menurut Levinas dibedakan antara ‘mengatakan’ (le dire) dan ‘apa yang dikatakan’ (le dit). Le dire bermakna mengatakan. Hal ini dipakai Levinas untuk menunjuk kehadiran Wajah sekaligus sebagai penerimaan pertanggung-jawaban atas Orang Lain. Jadi, le dire itu bersifat metafisis, yang termasuk dalam konteks dari “yang Lain”. Sedang le dit maknanya apa yang pada kenyataannya dikatakan. Dengan kata lain, apa yang dirumuskan dalam bahasa. Hal ini, le dit berarti mengandung sifat ontologis, yang termasuk dalam konteks “yang sama” (Magnis, 2006: 107).

Kenyataan ini dapat direfleksikan sebagai berikut; misalnya, Andi sedang naik Bus, duduk bersebelahan dengan seorang nenek, yang tidak dikenal Andi sebelumnya. Andi mulai mengobrol tentang keluarganya, tujuannya, atau tentang apa saja. Tindakan menyapa itu oleh Levinas disebut le dire (mengatakan). Sedangkan kata-kata yang dipakai oleh Levinas disebut sebagai le dit (apa yang dikatakan).

Dalam menjawab perjumpaan dengan orang lain, yang berlangsung dengan cara kekerasan, benci, dan penghinaan. Levinas menjawab, pengandaian tentang pembalikan itu, bagi Levinas, dianggap ada keberatan lain yang jauh lebih besar, yakni kenyataan hukum akibat munculnya pihak ketiga (Magnis, 2006: 107). Tetapi bagi Levinas, apa pun motivasi yang menjelaskan pembalikan itu, pengandaian tentang Wajah menjadi hal yang utama. Menyangkut tanggung jawab untuk Orang Lain, Levinas memahami tanggung jawab sebagai struktur hakiki, pertama, dan fundamental dari subjektivitas (dalam konteks etis). Tanggung jawab, baginya adalah tanggung jawab untuk Orang Lain. Dimengerti sebagai tanggung jawab untuk yang tidak menjadi urusan saya, atau bahkan yang tidak menyangkut saya.

Bagi Levinas, akses kepada Wajah tidak berlangsung melalui jalan persepsi, melalui intensionalitas yang terarah pada persamaan. Jadi, saat Orang Lain memandang saya, segera saya bertanggung jawab atas dia, bahkan tanpa perlu saya mengambil tanggung jawab terhadap dia; tanggung jawab itu bertumpu atas diri saya. Itulah tanggung jawab melebihi apa yang saya lakukan. Biasanya, orang bertanggung jawab atas apa yang dilakukan orang itu sendiri. Levinas bahkan mengatakan bahwa “tanggung jawab itu pada awal mula adalah suatu bagi-Orang-Lain (pour autrui)”. Itu berarti tindakan (saya) bertanggung jawab atas tanggung jawabnya itu sendiri. Hal ini bertentangan dengan Sartre, misalnya, yang melihat subjektivitas sebagai pour soi (bagi dirinya) (Magnis, 2006: 107).

Subjektivitas, bagi Levinas bukanlah pour soi (bagi dirinya) sebagaimana Sartre, melainkan pour autrui (bagi-Orang-Lain). Jadi, istilah lain subjek bagi Levinas adalah pour autrui. “Dekatnya Orang Lain” (proximite, proximity), bukan dalam arti ruang; ia famili dekat saya dan seterusnya, melainkan ia (Orang Lain) mendekati saya, dan sekaligus “mendera dan menyandera” saya untuk bertanggung jawab. Hal ini tidak dapat disamakan dengan intensionalitas yang mengarah pada kenyataan bahwa saya “mengenal” Orang Lain. Mengenal berarti memandang Orang Lain bagaikan objek.

Relasi intersubjektif, bagi Levinas merupakan suatu relasi non-simetris. “Dalam arti ini”, kata Levinas, “saya bertanggung jawab atas Orang Lain tanpa menunggu balasannya, sekalipun itu mengakibatkan saya kehilangan nyawa”. Justru dalam relasi non-simetris inilah aku menjadi “subjek”. Levinas memakai kata “subjek”, dalam konteks bahasa aslinya (Latin), “subjectum”, yang berasal dari “subjicere”, artinya “menaklukkan”. Maka, dalam arti inilah aku justru “menaklukkan” Orang Lain. Ada satu ungkapan dari Dostoyevski, dalam novel Karamazov Bersaudara, yang sering dikutip Levinas, “kita bersalah atas segalanya adan atas semua orang di hadapan semua orang, dan saya lebih bersalah daripada siapa pun” (Bertens, 1985: 469).

Ruh atau dasar dari ide tentang tanggung jawab untuk manusia lain, menurut Levinas adalah “des-inter-essement”. Istilah ini, sebagaimana dalam kata bahasa Inggris “disinterestedness”. Istilah Prancis itu pun bermakna sikap tanpa pamrih, sikap tidak mencari kepentingan sendiri. Istilah itu dibentuk dari kata Latin “interesse” (kepentingan), tapi juga “esse” (ada). Levinas ingin menunjukkan, dengan kata itu, bahwa subjektivitas dengan tanggung jawabnya melepaskan diri dari kepentingan diri dan bahkan dari “Ada”. Maka, tendensi subjek, bagi Levinas, tidak egosentris, melainkan bagi Orang Lain. Sehingga, Dia-konia (istilah Yunani, yang berarti: pelayanan, bantuan) mendahului setiap dia-log (Bertens, 1987: 91).

“…Tanggung jawab”, kata Levinas, “ialah apa yang secara eksklusif bertumpu pada saya dan yang—secara manusiawi—tidak dapat saya tolak. Beban ini adalah martabat tertinggi dari yang unik” (Bertens, 1987: 91). Sehingga, subjek dapat menggantikan diri bagi semua orang. Tapi tak seorang pun dapat menggantikan diri bagi subjek. Itulah identitas ku, kata Levinas, yang tidak terasingkan sebagai subjek. Jadi, sayalah yang bertanggung jawab bukan saja atas perbuatan-perbuatan saya, melainkan juga atas perbuatan-perbuatan orang lain. Dengan hal ini, saya tidak dapat mengatakan bahwa orang lain bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatan saya. Jadi, benarlah apa yang dikatakan Dostoyevski, dalam novel Karamazov Bersaudara, di mana Starets (Sang Nabi) Zosima berkata: “setiap orang di antara kita bersalah terhadap semua orang lain, dan saya lebih bersalah daripada siapa pun” (Bertens, 1987: 91)

Memang, pikiran Levinas terutama dalam Totality and Infinity: An Essay on Exteriority cukup menggugah, dan bahkan melampaui kategori-kategori hubungan intersubjektivitas dalam konteks psikologi. Hubungan subjek dengan orang lain tidak terjebak dalam konteks sadisme maupun peristiwa masokhisme. Erich Fromm berkata, sadisme adalah “nafsu untuk menguasai orang lain secara mutlak”. Di lain pihak, bila saya menjadikan diriku objek untuk subjek lain, maka yang terjadi ialah peristiwa masokhisme, “saya membiarkan diri diperlakukan secara keras oleh orang lain dan dikuasai secara mutlak oleh mereka” (Ignas Kleden, 1981: 27). Levinas hendak melampaui dua kebuntuan tersebut. Ia melihat hubungan antara subjek dengan orang lain medahului ataupun menerobos benteng epistemologi. Orang lain bukanlah tema, ia adalah jurang di dasar entah.

Tegasnya, saya menangkap bahwa Levinas menuntun kita untuk selalu keluar dari diri kita sendiri, dan itu memungkinkan kita untuk mampu menyapa orang lain dengan keberlainannya. Sebab, orang lain bukanlah alter-ego, melainkan yang sama sekali lain dari subjek. Orang lain bukanlah bagian dari totalitas yang saya bangun. Ia memiliki eksterioritasnya sendiri, yang terlepas dari jangkauan saya. Agar dapat menjumpainya, saya harus ke luar dari imanensi saya. Ia membuka dimensi yang tak berhingga bagi diri saya. “Yang Lain, sebagai yang lain”, menurut Levinas, “bukan hanya sebuah alter-ego. Ia adalah sesuatu yang bukan saya” (Levinas, 1989: 124).

Dalam konteks ini, Levinas berbeda pandangan dengan beberapa kaum idealis, termasuk Barkeley, yang melihat hubungan kita dengan dunia eksterior, termasuk “yang Lain” dikonstitusi oleh intelegibilitas. Berkeley melihat, “yang Lain” harus dapat dipahami dan dapat diuraikan.  Namun, Levinas menolak pandangan ini. “Yang Lain” baginya tidak dapat dipahami dan mendahului norma-norma inteligibilitas. Hadirnya “yang Lain” menunda pemahaman kita terhadapnya. Ia mengelak dari kategori-kategori epistemik. Itulah sebabnya, untuk dapat terbuka dengan “yang Lain” pengetahuan dan inteligibilitas harus dilampaui untuk membiarkan “yang Lain” meruntuhkan totalitas saya sebagai ego dan otonomi kesadaran saya. “Membiarkan” (letting be) berbeda dengan “memahami” (to comprehend). Membiarkan adalah upaya melampaui kategori formal yang dibentuk oleh pengetahuan kita untuk memproyeksikan “yang Lain” (Al-Fayyadl, 2005: 148-149).

Akhirnya, dapat dikatakan bahwa Levinas tampaknya menyajikan sesuatu yang baru, dan berbeda dari yang biasanya kita dengar dalam filsafat. Kebaruan itu terletak pada ajarannya tentang ketaktergantungan setiap individu, atau setiap orang. Hubungan dengan orang lain ialah pengakuan bahwa orang lain sebagaimana adanya. Artinya, orang lain itu bukan saja diakui dan dihargai, melainkan juga harus diakui dan dihargai dalam ke-diri-an dan keberlainannya. Pengakuan tersebut bukanlah sesuatu yang abstrak, melainkan kongkret. Pengakuan ini memungkinkan terwujud dalam perbuatan nyata. Itulah mengapa bandul filsafat Levinas tidak beranjak dari si ‘Aku’, melainkan bertolak dari orang lain. Itulah sebabnya filsafat Levinas dinamakan sebagai filsafat tentang “yang Lain” atau filsafat tentang orang lain. (*)

Karya-karya Levinas

1930 La théorie de I’intuition dans la phénoménologie de Husserl (Teori Intuisi dalam Fenomenologi Husserl)

1934 Reflections on the Philosophy of Hitlerism.

1935 On Escape

1947 De I’existence à I’existant (Existence and Existents)

1947 Le temps et I’autre (Time and the Other)

1949 En découvrant l’existence avec Husserl et Heidegger (Menemukan Eksistensi Bersama Husserl dan Heidegger)

1961 Totalité et infini: Essai sur I’exteriorité (Totalitas dan Infinitas: Esai tentang Eksterioritas)

1963 Difficult Freedom: Essays on Judaism

1968 Quatres lectures talmudiques (Nine Talmudic Readings)

1972 Humanisme de I’autre homme (Humanisme manusia Lain)

1974 Autrement qu´être ou au-delà de I´essence (Lain daripada Ada atau di Seberang Esensi)

1975 Sur Maurice Blanchot (Tentang Maurice Blanchot)

1976 Noms propres (Proper Names/Nama-Nama Diri)

1977 Du sacré au saint (Nine Talmudic Readings)

1982 De Dieu qui vient à I’idée (Of God Who Comes to Mind)

1982 Ethique et infini (Ethics and Infinity)

1984 Transcendance et Intelligibilité (Basic Philosophical Writings)

1987 Outside the Subject

1988 In the Time of the Nations

1990 De l’oblitération: Entretien avec Françoise Armengaud

1991 Entre Nous: On Thinking-of-the-Other

1993 God, Death, and Time

1994 Liberté et commandement

1994 Unforeseen History (Yang Tak Terduga)

1995 Alterity and Transcendence

1996 New Talmudic Readings.

1998 kompilasi Éthique comme philosophie première

 

Karier dan Penghargaan

 

Lahir 30 Desember 1906, di Rusia

1923, belajar di Universitas Stasbourg, Prancis.

1928-29, belajar di Universitas Freiburg, Jerman

1930, menyelesaikan studi di Universitas Sorbonne, Prancis.

1947, Direktur pada École Normale Israélite Orientale, di Paris

1961, mendapat ‘doktor negara’ atas Buku Totalité et infini: Essai sur I’exteriorité

1961, Profesor pada Université de Poitiers

1967, Profesor pada Université de Paris

1973, Profesor di Université de Paris IV-Sorbonne

1991, kandidat penghargaan atas Les Cahiers de L’Herne.

 

*) Ahmad Jauhari; Penulis Buku Homo Turbulen: Diskursus Religiositas, Individualitas, dan Sosialitas (2019); Alumnus Magister Filsafat Universitas Gadjah Mada

Continue Reading

Pemikiran

Rasionalisme dalam Keheningan Rousseau dan Rumi

mm

Published

on

Di era modernisme dewasa ini, penting bagi kita merefleksikan kembali hakikat hidup: menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan lingkungan alam tempat kita tinggal. Dari Abad Pencerahan hingga era modernisme ini yang melahirkan sains, teknologi, dan industri ternyata menyimpan sisi yang memprihatinkan. Sebab, perkembangan itu pada akhirnya menyebabkan terjadinya dehumanisasi: perilaku manusia yang begitu kompleks–menjerumus ke arah reduksi. Manusia tak ubahnya seperti mesin yang berjalan. Sebagaimana yang dikatakan Thomas Hobbes, manusia ibarat mesin berakal

Ironisnya, cara berpikir rasional dan logis yang sedemikian kompleks tidak dibarengi dengan kepekaan emosi dan perasaan, menyebabkan manusia menjadi makhluk yang rasional. Akibatnya, kita memandang manusia seperti mesin-mesin yang berjalan yang digerakan oleh akal (rasio) belaka–nihil kepekaan emosi dan perasaan-perasaannya. Keadaan semacam itu sejatinya dapat mengkikis moralitas. Seperti persaingan dalam aspek sosio-politik, ekonomi, dan kebudayaan yang menyebabkan manusia yang satu ingin mengusai manusia lainnya atau dalam istilah Hobbes disebut homo homini lupus (manusia adalah serigala bagi manusia lainnya).

Maka, sangat relevan bagi kita untuk kembali merefleksikan pemikiran Jean Jacques Rousseau (1712-1778). Sebagaimana kita ketahui, Rousseau adalah seorang filosof Abad Pencerahan yang menolak rasionalisme Perancis Abad 18. Ia beranggapan rasionalisme bukan satu-satunya energi untuk membangun tatanan “dunia baru” yang lebih baik. Sebaliknya, Rousseau memilih mengutamakan aspek kepekaan emosi, kehalusan jiwa dan perasaan-perasaannya daripada penalaran logika dan rasionalitas semata. Rousseau juga mempunyai posisi unik dalam pemikiran filsafat politik Barat. Rousseau adalah seorang filosof yang sulit diklasifikasi. Misalnya, apakah Rousseau seorang pendukung liberal, totalitarian, indiviualisme, atau kolektivisme? Namun, posisi Rousseau yang unik menjadi wajar karena tokoh ini menjangkau pelbagai spektrum intelektual yang luas. Misalnya, Macfarlane (dalam Ahmad Suhelmi: 2001) menyebutkan Rousseau sebagai tokoh yang melahirkan gagasan individualisme ekstrem meskipun di sisi lain ia pembela mati-matian kolektivisme.

Terlepas dari posisi intelektual Rousseau itu, ia merupakan peletak dasar era romantisme sebagai lawan dari rasionalisme. Rousseau mengkritik pengkultusan terhadap akal (rasio). Pendewaan terhadap akal hanya akan membuat manusia kehilangn fitrahnya sebagai makhluk perasa (la sensibilite) yang mengedepankan emosi daripada akal (rasio). Menurutnya, manusia yang mendewakan akal budi tanpa menyertakan aspek kepekaan emosi, kehalusan jiwa dan perasaan-perasaannya seperti jasad tanpa ruh.

Seorang romantis seperti Rousseau akan sangat mudah tergores hatinya jika melihat kemiskinan, ketidakadilan, dan penindasan yang dialami oleh masyarakatnya. Dalam hal ini romanitsme Rousseau jelas menolak hiruk-pikuk kebisingan kehidupan modernitas, industrialisasi, dan ekspansi kapitalisme yang hanya akan merusak tatanan kehidupan dan alam tradisional. Rasioanalisme dan modernisme juga akan merenggut manusia dari sifat alamiyahnya, manusia dalam peradaban modern menyebabkan manusia terasing dari kehidupannya sendiri. Peradaban modern telah menodai kesucian alam dan menjadi penyebab ketimpangan sosial, ekonomi, dan politik di antar manusia. Barangkali hanya segelintir orang saja dari kita yang merindukan aroma hutan; merindukan burung-burung bernyanyi. Watak kapitalisme telah mengepung kehidupan modern. Bukan hanya “menginvasi” kota, melainkan hingga masuk jauh ke tengah hutan dan teluk pantai: pembakaran hutan dan reklamasi teluk pantai Jakarta demi kalkulasi keuntungan bisnis salah satunya. Dengan demikian, pemikiran romantisme Rousseau adalah antitesis dari rasionalisme dan modernisme (pembentuk pemberontakan intelektual Abada Pencerahan).

Jauh sebelum Rousseau meletakan gagasannya dalam era romantisme yang mengutamakan kepekaan emosi, kehalusan jiwa dan perasaannya di Eropa abad 18-an, khususnya bagi aliran romantisme (kesusastraan) Eropa. Seorang ulama sekaligus penyair mashur sudah terlebih dahulu menolak mengkultuskan atau mendewakan kekuatan akal; ia adalah Jalaluddin Rumi (1207-1273). Rumi melalui puisi-puisinya yang mashur itu bukan hanya berisi perihal cinta illahiyyah–Tuhan sebagai satu-satunya tujuan, melainkan juga kritik terdahap pendewaan terhadap akal. Baginya, pemahaman atas dunia hanya mungkin di dapat melalui jalan cinta, bukan semata-mata lewat kerja fisik atau indera.

Keberadaan Rumi seperti oase di tengah padang gurun bagi manusia yang kering akan ajaran-ajaran tauhid. Rumi hadir lakasana sang fajar yang menyingsing di antara pekat kabut-kabut awan untuk menerangi gelapnya jiwa. Sebagaimana kita ketahui Rumi mengorek moralitas manusia yang mengalami dekadensi. Rumi menjadi sosok kontraproduktif bagi mereka yang mendewakan rasionalitas tetapi kering spiritualitas. Sebagaimana sejarah mencatat bahwa Rumi hidup di zaman Mu’tazilah, sebuah madzab Islam yang menjunjung tinggi kekuatan akal (rasio). Bagi Rumi pemahaman akal untuk membongkar “keberadaan” “sesuatu yang tersembunyi” hanya akan sia-sia. Bahakan lebih dari itu, pendewaan terhadap akal hanya akan melemahkan iman seseorang. Pada akhirnya sesuatu yang bersifat “ghaib” (metafisika) tidak akan mudah dipercayainya. Sebab, segala sesuatu yang tidak dapat dipahami, dicerna, dan dibuktikan keberadaannya oleh akal tidak akan dipercaya sebagai sesuatu kebenaran yang eksak.

Bila Rousseau adalah inisiator gerakan romanitisme (sastra) di Eropa, maka Rumi adalah guru spiritual filsafat cinta. Hakikat cinta, pun sama dalam pemikiran Rousseau yang hanya dapat dipahami oleh kepekaan emosi, kehalusan jiwa dan perasan-perasaannya. Jalan cinta itu pula yang menghantarkan kerinduan Rumi pada Illahiyah. Sebagimana yang ditulis dalam syair-syairnya: Dia adalah orang yang mempunyai ketiadaan/ saya mencintainya dan saya mengaguminya/ saya memilih jalannya dan saya memalingkan muka ke jalannya.

Di era modernisme yang berkiblat pada sains, teknologi, dan industri penting bagi kita untuk kembali mengasah kepekaan emosi, kehalusan jiwa dan perasaan untuk merawat sendi-sendi kehidupan. Kendati perubahan adalah sifat alamiah yang tidak dapat dicegah, namun bukan berarti perubahan itu justru mengarah pada sesuatu yang bersifat destruktif. Jika Aristoteles meyakini hanya manusia yang “berpolitik” yang membedakan antara manusia dengan binatang. Maka dalam analogis lainnya, hanya kepekaan emosi, kehalusan jiwa dan perasaan yang dapat membedakan manusia dengan mesin. Hanya dengan pendekatan itu pula yang dapat menjadikan manusia hidup sebagai manusia, bukan sebagai mesin-mesin yang berjalan. (*)

*) Ade Mulyono, aktif di sekolah feminisme. Artikelnya dimuat di beberapa media cetak dan internet. Saat ini tinggal di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Continue Reading

Pemikiran

The Author Function (1969)

mm

Published

on

French philosopher Michel FOUCAULT at home.

— Foucault, Michel “The Author Function.” Excerpt from “What is an Author?” Translation D.F. Bouchard and S. Simon, In Language, Counter-Memory, Practice, 124-127. Cornell University Press, 1977.

In dealing with the “author” as a function of discourse, we must consider the characteristics of a discourse that support this use and determine its differences from other discourses. If we limit our remarks only to those books or texts with authors, we can isolate four different features.

First, they are objects of appropriation; the form of property they have become is of a particular type whose legal codification was accomplished some years ago. It is important to notice, as well, that its status as property is historically secondary to the penal code controlling its appropriation. Speeches and books were assigned real authors, other than mythical or important religious figures, only when the author became subject to punishment and to the extent that his discourse was considered transgressive. In our culture and undoubtably in others as well discourse was not originally a thing, a product, or a possession, but an action situated in a bipolar field of sacred and profane, lawful and unlawful, religious and blasphemous. It was a gesture charged with risks before it became a possession caught in a circuit of property values. But it was at the moment when a system of ownership and strict copyright rules were established (toward the end of the eighteenth and beginning of the nineteenth century) that the transgressive properties always intrinsic to the act of writing became the forceful imperative of literature. It is as if the author, at the moment he was accepted into the social order of property which governs our culture, was compensating for his new status by reviving the older bipolar field of discourse in a systematic practice of transgression and by restoring the danger of writing which, on another side, had been conferred the benefits of property.

Secondly, the “author-function” is not universal or constant in all discourse. Even within our civilization, the same types of texts have not always required authors; there was a time when those texts which we now call “literary” (stories, folk tales, epics and tragedies) were accepted, circulated and valorized without any questions about the identity of their author. Their anonymity was ignored because their real or supposed age was a sufficient guarantee of their authenticity. Text, however, that we now call “scientific” (dealing with cosmology and the heavens, medicine or illness, the natural sciences or geography) were only considered truthful during the Middle Ages if the name of the author was indicated. Statements on the order of “Hippocrates said…” or “Pliny tells us that…” were not merely formulas for an argument based on authority; they marked a proven discourse. In the seventeenth and eighteenth centuries, a totally new conception was developed when scientific texts were accepted on their own merits and positioned within an anonymous and coherent conceptual system of established truths and methods of verification. Authentication no longer required reference to the individual who had produced them; the role of the author disappeared as an index of truthfulness and, where it remained as an inventor’s name, it was merely to denote a specific theorem or proposition, a strange effect, a property, a body, a group of elements, or a pathological syndrome.

At the same time, however, “literary” discourse was acceptable only if it carried an author’s name; every text of poetry or fiction was obliged to state its author and the date, place, and circumstance of its writing. The meaning and value attributed to the text depended upon this information. If by accident or design a text was presented anonymously, every effort was made to locate its author. Literary anonymity was of interest only as a puzzle to be solved as, in our day, literary works are totally dominated by the sovereignty of the author. (Undoubtedly, these remarks are far too categorical. Criticism has been concerned for some time now with aspects of a text not fully dependent upon the notion of an individual creator; studies of genre or the analysis of recurring textual motifs and their variations from a norm ther than author. Furthermore, where in mathematics the author has become little more than a handy reference for a particular theorem or group of propositions, the reference to an author in biology or medicine, or to the date of his research has a substantially different bearing. This latter reference, more than simply indicating the source of information, attests to the “reliability” of the evidence, since it entails an appreciation of the techniques and experimental materials available at a given time and in a particular laboratory).

The third point concerning this “author-function” is that it is not formed spontaneously through the simple attribution of a discourse to an individual. It results from a complex operation whose purpose is to construct the rational entity we call an author. Undoubtedly, this construction is assigned a “realistic” dimension as we speak of an individual’s “profundity” or “creative” power, his intentions or the original inspiration manifested in writing. Nevertheless, these aspect of an individual, which we designate as an author (or which comprise an individual as an author), are projections, in terms always more or less psychological, of our way of handling texts: in the comparisons we make, the traits we extract as pertinent, the continuities we assign, or the exclusions we practice. In addition, all these operations vary according to the period and the form of discourse concerned. A “philosopher” and a “poet” are not constructed in the same manner; and the author of an eighteenth-century novel was formed differently from the modern novelist.

___________

Since 1998, Foucault.info has been providing free access to a large selection of texts. All texts by Michel Foucault for educational purpose, under fair use of the Berne Convention.

foucault.info | Michel Foucault, Info.
Page last updated on Saturday, 22nd February 1969 — Paris

 

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending