Connect with us

Pemikiran

Anatomi Politik Kekuasaan Niccolo Machiavelli

mm

Published

on

Il Principe (Pangeran)

Selama empat abad sebutan”berkecondongan Machiavelli” alam pikiran dunia sama artinya dengan sesuatu yang berkencongan iblis, serong, busuk, kejam dan jahat. Pengasal sebutan ini, Niccolo Machiavelli, adalah sebuah lambang yagn populer buat para politikus yang suka menghasut, licik, hipokritis, tak kenal moral, tak kenal pirnsip dan yang seluruh filsafatnya membenarkan, bahwa tujuan dapat menghalalkan cara-cara yang dipakai untuk mencapai tujuan tersebut. Umumnya orang berpendapat, bahwa undang-undang yang tertinggi bagi Machiavelli, adalah undang-undang oporunisme politik, Di Inggris abad ke-XVII, “Old Nick” adalah sebuah pemeo yang sekaligus dapat digunakan bagi syaitan dan Machiavelli. Apakah terdakwa ini dapat dibela, dan apakah ada keadaan tertentu yang dapat meringankan tuduhan-tudukan yang dilancarkan terhadapnya?

Rerputasi Machiavelli yang menyeramkan i ni boleh dikatakan seluruhnya bersumber pada sebuah buku, Pangeran, yang ia tulis  dalam tahun 1513, tapi yang baru diterbitkan dalam tahun 1532, lima tahun sesudah pengarangnya meninggal. Tidak ada buku yang dapat dipisahkan dari kurun zaman ia diciptakan. Dan kenyataan ini belum pernah digambarkan begitu jelas sebagimana halnya dengan buku Pangeran. Sungguhpun begitu, seperti juga setiap karangan besar, buku ini megnandung petunjuk-petunjuk yang berlaku untuk semua jaman.

Sampai tahun 1498 – pada waktu mana, dalam usia 29 tahun ia menjabat kedudukan sekretaris republik Florence – sangat sedikit sekali diketahui orang tentang kehidupan Machiavelli. Selama delapanbelas tahun ia mengabdi kepada negara-kota ini. Perutusan-perutusan diplomatik telah membawanya sampai-sampai ke Tuskani, menyebarang Apenina ke Roma, dan kemudian sampai kebalik pegunungan Alpina. Ia berkenalan dengan Contessa Caterina Sforza, dengan Pandolfo, Petrucci, adikara dari Siena, Ferdinand dari Aragon. Loui XII dari Perancis, Kaisar Maximilian, Paus Alexander VI, Paus Julius II dan Cesare Borgia. Sengketa politik antara Florence dan negara-negara kota lainnya seperti Cenesia, Pisa, Milan, dan Napoli waktu itu berlangsung dengan tak henti-hentinya. Politik dijaman itu luar biasa korupnya. Machiavelli, sebagai seorang penelaah sifat-sifat manusia yang tajuam merasa dirinya seperti kan didalam air, dan dipelbagai kesempatan ia telah memperlihatkan keahlian dan kesanggupannya dalam melangsungkan perundingan-peruindingan sulit. Realisme dan sinisme yang kemudian ia perlihatkan dalam soal-soal politik, tak sangsi lagi tentu bersumber pada pengalaman-pengalamannya; dimana ia belajar untuk tidak menghiraukan alasan apapun juga kecuali alasan ketamakan dan egoisme.

Suatu perobahan nasib kemudian terjadi atas diri Machiavelli. Berkat bantuan Spanyol, Keluarga Medici berhasil menggulingkan republik tersebut dan menegakkan kekuasaan mereka di Florence. Machiavelli dipecat, dipenjarakan, disiksa, dan akhirnya dibuant ke tanah miliknya di pedalaman tidak jauh dari San Casciano. Dan – kecuali selama beberapa masa yang singkat – ia mengasingkan diri sampai ajalnya tiba, yaitu dalam tahun 1527. Pekerjaan yang terutama ia kerjakan selama itu untuk pengisi waktu, yang olehnye dirasakan sebagai tahun-tahun yang panjang dan mengisengkan, ialah menulis kitab-kitab: Pangeran, Pelbagai Istikarah, kecakapan Berperang dan Sejarah Florence – buku-buku mana semuanya menbicarakan masalah politik yang telah lewat dan yang masih berlangsung kala itu.

Dalam soal-soal yang berhubungan dengan urusan-urusan umum tidak terdapat peluapan-peluapan rasa dalam sifat Machavelli, tapi dalam hubungan dengan satu soall ia menunjukkan perasaan yang sangat meluap dan dalam. Ia adalah seorang patriot sejati dengan kerinduan besr kepada Italia yang bersatu. Mungkin ia adalah seseorang pebmahas yang keras dan skeptis, seorang manusia intelek murni yang sinis, tapi jika mulai ia membicarakan persatuan Italia, maka ia didorong oleh suatu gelora hati, kebijakan, semangat serta kelincahan. Memang setiap patriot akan menangis melihat keadaan Italia dipermulaan abad ke-XVI yang begitu menyedihkan.

Suatu berncana politik, ekonomi dan agama yang hebat sedang berlangsung di Italianya Machiavelli. Ditempat lain, di Inggris, Perancis dan Spanyol, setelah mengalami pergulatan yang lama. Italia, konsepsi dari suatu organisasi nasional atau federal tidak dikenali sama sekali. Pada saat itu ada lima kesatuan politik besar yang menguasai negeri t ersebut; Milan, Florence, Venesia, Negara Gereja dan Napoli. Yang terkuat dan terbesar adalah Venesia. Perpecahan politik yagn tak berhingga adalah pangkal kelemahan-kelemahan yang tetap bagi Italia, dan karena itu dengan sendirinya seolah-olah menghimbau-himbau hasutan dan campur-tangan luar negeri. Penyerangan dimulai oleh Charles VIII dari Perancis dalam tahun 1494. Beberapa tahun kemudian setelah ia mengundurkan diri, Lois XII dan Ferdinand dari Aragon bersepakat untuk membagi Kekrajaan Napoli diantara mereka. Kaisar Maximilian mengirimkan pasukan-pasukannya untuk merebut Venesia. Tentara-tentara dari Jerman, Swis, Perancis dan Spanyol  mara dan bertempur diatas bumi Italia.

Sementara itu diantara bangsa Italia sendiri, cekcok sesama mereka, dendam umum, perampokan dan pembunuhan bersimaharajalela. Republik berperang melawan rebuplik, yang satu iri hati melihat kekuasaan yang lain sehingga dengan cara demikian mereka tidak berhasil sama sekali untuk membentuk suatu barisan bersama buat menangkis musuh dari luar. Gereja, yang tatkala itu sedang berada dalam jaman yang paling kotor dari seluruh sejarahnya, karena khawatir akan naiknya seorang saingan yang mungkin merebut puncak kekuasaan yang ia duduki, lebih menyukai perpecahan dari persatuan bagi Italia.

Machiavelli menyadari, barangkali lebih dalam lagi dari siapapun juga dalam jamannya, bahaya-bahaya yang mengencam Italia. Ditempat peristirahatan yang dipaksakan kepadanya, ia memikirkan dan merenungkan bencana-bencana yang menimpa tanah airnya yang tercinta, dan ia yakin bahwa satu-satunya harapan untuk selamat tergantung pada kemungkinan timbulnya seorang pemimpin besar – seorang pemimpin yang cukup besar dan bertangan besi, yang sanggup memaksakan kewibawaannya kepada negera-negara Italia yang kecil-kecil itu, supaya berpadu menjadi negara yang satu, yang dapat mempertahankan diri sendiri dan menghalaukan orang asing yang dapat dicari? Pangeran adalah konsepsi Machiavelli tentang macamnya pemimpin yang dikehendaki ituu dan kumpulan petunjuk-petunjuk yang cukupp mengenai jalan-jalan yang harus ia tempuh untuk mencapai hasil tersebut.

Biarpun pangeran dipersembahkan pada Lorenzo de Medici, penguasa baru Florence, tapi tokoh utama buku ini ialah Cesare Borgia. Putra Paus Alexander VI, yang diangkat menjadi kardinal waktu ia berumur tujuhbelas tahun, seorang pemimpin militer yang cakap, penakluk Romagna, dan seorang diktator yang kejam dan tak kenal kasihan. Dalam tahun 1502, Machiavelli pernah dikirim sebagai duta keistananya, dan sebagai diulaskan oleh Nevins, Machiavelli telah “melihat dengan penuh kekaguman, bagaimana cekatannya Borgia mempergilirkan pemakaian kehati-hatian dengan kekurang-ajaran, kata-kata yang manis dengan tindakan berdarah; bagaimana dingin sikapnya dalam menggunakan sifat chianat dan hipokrasi; bagaimana ganasnya ia mempergunakan terror untuk memelihara kepatuhan mereka yang telah ia taklukkan; dan betapa keras dan tepat genggamannya pada suatu negara yang telah rebut”. Dengan jalan mempergunakan lidah yang bercang, keganasan dn kelancungan Cesare mencapai suatu hasil yang gemilang tapi yang pendek umurnya. Machiavelli adalah seorang pengikut yang gigih dari bentuk pemerintahan yang bercorak republik, tetapi setelah ia pelajari keadaan Italia yang mengkhawatirkan dan yang menyedihkan ia yakin, bahwa Cesare Borgia adalah seorang pemimpin yang seyiogyanya, untuk mengakhiri keadaan kacau-balau ini.

Demikianlah, dengan semangat cinta tanah air yang diilhamkan oleh pandangannya tentang sebuah negera yang bersatu, sadar akan kebutuhan-kebutuhan yang mendesak pada kala itu dan sadar akan kesempatan baik yang terbuka bagi seorang pengusa baru. Machiavelli melepaskan segala tenaga dan kegembiraannya yang telah bertumpuk, kedalam penciptaan buku Pangeran. Buku ini ditulis waktu enam bulan terakhir dari tahun 1513, dan beberapa waktu kemudian disampaikan keistana Lorenzo, dengan penjelasan-persembahan pengarangnya, “ setelah melihat bahwa mustahil untuk memberikan pemberian yang lebih berharga dari pada suatu keskempatan untuk memahamkan dalam waktu sesingkat-singkatnya segala yang telah saya pelajari selama bertahun-tahun dengan begitu susah dan dalam ancaman bahaya yang begitu banyak.”

Dalil ajaji dari kitab Pangeran ini, ialah, bahwa kesejahteraan negara menghalalkan segala tindakan dan bahwa terdapat perbedaan ukuran dalam soal kehidupan umum dan kehidupan prive. Menurut ajaran i ni, tidak ada salahnya jika seorang negarawan melakukan tindakan kekerasan dan kedustaan untuk kepentingan umum, biarpun tindakan ini adalah suatu tindakan yang sangat tercela, bahkan boleh dianggap bersifat pidana jika ia berlangsung dalam hubungan prive. Pendeknya, Machiavelli memisahkan etika dari politik.

Buku Pangeran adalah sebuah buku penuntun bagi para pangeran (atau sebagai dikatakan orang: sebuah buku pegangan bagi para adikara), untuk mengajar mereka bagaimana cara merebut dan mempertahankan kekuasaan – kekuasaan, bukan untuk kepentingan penguasa, tapi untuk kepentingan rakyat banyak; supaya rakyat ini dapt diberi suatu pemerintahan yang kukuh, terhindar dari revolusi dan penyerangan-penyerangan dari luar. Dengan cara-cara bagaimana kekukuhan dan keamanan ini dapat dicapai?

Monarchi yang bersifat turun-temurun dibicarakan secara singkat, karena sekiranya penguasa itu mempunyai kecerdasan dan ketajaman pikiran, ia akan dapat mempertahankan pengawasannya atas pemerintahan. Sebaliknya masalah suatu monarchi baru jauh lebih ruwet lagi. Sekiranya wilayah-wilayah yang baru ditaklukkan mempunyai kebangsaan dan bahasa yang sama dengan negara yang menaklukkannya itu, pengawasan boleh dikatakan mudah juga, apa lagi jika kedua gasar yang berikut dituruti; “ pertama, supaya dihancurkan garis silsilah lama dari para pangeran; kedua, supaya jangan diadakan perubahan dalam soal hukum dan pajak.

“Tapi sekiranya negara-negara yang ditaklukkan itu berada di daerah dimana terdapat perbedaan bahasa, adat-istiadat dan hukum, maka kesulitan jadi berlipat ganda. Dalam hal ini nasib yang baik dan perlakuan yang tepat diperlukan untuk mengatasinya”. Cara-cara yang dapat dipakai untuk kepentingan pengendalian, demikian Machavelli melanjutkan sarannya, ialah, Penguasa itu sendiri pergi dan bermukim di daerah itu; dengan jalan mengirimkan koloni-koloni (ini lebih murah ongkosnya dari membelanjai sebuah tentara pendudukan): dengan jalan mengikat persahabatan dengan tetangga-tetangga yang lebih lemah dan berusaha melemahkan tetangga-tetangga yang kuat. Karena tak menghiraukan petunjuk-petunjuk dasar inilah, maka Louis XII dari Perancis telah menderita kekalahan dan kehilangan jajahannya.

Dalam sebuah istikarah mengenai “Bagaimana propinsi-propinsi harus diperintah”, Machiavelli mengusulkan tiga cara supaya sebuah negara yang biasa “hidup dibawah undang-undangnya sendiri dan dalam kemerdekaan ….. dapat dikendalikan. Pertama dengan jalan menghancurkannya; kedua, dengan pergi dan berdiam di tempat itu sendiri; ketiga, dengan jalan mewajibkan ia membayar upeti dan menyerahkan pemerintahannya kepada sekelompok bumi-putera yang harus mengusahakan supaya penduduk yang lain tetap merasa bersahabat dengan kita”. Diantara pilihan-pilihan yang ada, salah satu dri kedua pertama dipujikan sebagai paling selamat.

Tapi sekiranya kota atau propinsi yagn baru direbut itu telah biasa hidup dibawah seorangn pangeran, dan silsilah keluarganya telah habis, maka mustahillah bagi penduduk, yang pasa satu pihak biasa patuh dan dipihak lain direnggutkan dari penguasanya yang lama, untuk semufakat biat memilih seorang pemimpin diantara mereka sendiri; dan karena mereka tidak tahu bagaimana caranya hidup sebagai orang merdeka, sehingga mereka akan lamban sekali dalam soal mengangkat senjata, seorang asing akan dapat menarik mereka dan mempergunakan mereka untuk kepentingannya sendiri.

Dalam uraian selanjutnya “Mengenai luhak-pangeran baru” Machiavelli memperingantkan, “Supaya orang jangan lupa bahwa tabiat orang banyak tidak teguh adanya, dan bahwa, memang mudah untuk meyakinkan orang banyak mengenai sesuatu, tapi sangat susah untuk menjaga supaya mereka tetap taat kepada keyakinan itu. Sebab itu, semuanya harus disusun begitu rupa, sehingga sekiranya orang tidak lagi yakin dengan sukarela, maka keyakinan itu bisa dipaksakan.”

Pengarang kemudian meneruskan dengan menyanjung dan memuji perjalanan hidup Cesare Borgia, sebagai seorang kuat par excellence. Dan ia memintakan maaf atas pembunuhan dan pengkhianatan yang telah dilakukan.

Sekiranya dibayangkan kembali tindakan-tindakannya, saya tidak tahu bagaimana menjalankannya, malahan menurut hemat saya …” saya harus menyajikannya sebagai contoh bagi mereka yang karena nasib atu atas kehendak orang lain dijadikan untuk memerintah. Karena ia sebagai seseorang yang mempunyai jiwa yang agung dan cita-cita yang jauh akibatnya, mustahil akan dapat menyalurkan perbuatan-perbuatannya dengan cara lain ….. Karena itu mereka yang menginginkan dirinya terjamin dalam luhak barunya, yang ingin beroleh sahabat, yang ingin mengatasi segalanya baik dengan paksaan ataupun tipu-muslihat, mereka yang ingin dirinya dicintai dan ditakuti oleh rakyat, ingin menghancurkan mereka yang punya kekuatan atu akal-akal yagn dapat merusak dirinya, ingin mengganti susunan lama dengan susunan yang baru, ingin keras dan bijaksana, ingin berjiwa besar dan liberal, ingin menghancurkan keperajuritan yang tak setia dan menciptakan yang baru, menjaga tali persahabatan dengan raja-raja dan pangeran-pangeran begitu rupa sehingga mereka bersedia menolong dengan penuh semangat dan berhasti-hati apabila menghina, tidak akan menemui contoh yang lebih hidup dari pada beliau ini.

Seorang penakluk yang telah merebut suatu negaara “harus secepat mungkin menjalankan tindakan penghancuran dengan satu kali pukul, sehingga ia tidak suah mengulanginya setiap hari. Dengan cara begitu ia mendapat kesempatan untukmenenterampkan pikiran orang dan sesudah itu merebut hati mereka dengan memberikan keuntungan-keuntungan ………. Dan keuntungan-keuntungan ini harus dianugerahkan sedikit demi sedikti sehingga dapat dinikmati dengan cara yang lebih besar.”

Ketakutan kepada hukuman adalah Cuma salah satu dari jalan-jalan yang dapat ditempuh oleh penguasa yang cerdik dalam mengendalikan rakyatnya:

Bagi seorang pangeran adalah amat penting untuk tetap mengadakan hubungan yang ramah dengan rakyat, karena sekiranya tidak, maka ia tidak akan boleh sokongan dalam masa-masa buruk……….. Jangan coba mengingkari saja dengan menunjukkan kepada peribahasa lama, “Ia yang bertupang atas rakyat sama dengan bertupang atas pasir.” Ucapan ini mungkin benar jika seorang warga-negara secara pribadi bertupang pada rasa cinta rakyat padanya dan berharap akan beroleh pertolongan mereka, jika ia dikalahkan oleh seteru-seterunya atau oleh alat-alat hukum. Tapi seorang pangeran, seorang laki-laki yang perkasa yang sanggup memimpin, yang tau bagaimana menjaminkeamanan dalam negaranya, tak pernah akan menyesal karena ia telah menegakkan keamanan dirinya diatas rasa cinta rakyat kepadanya.

Dalam memperbincangkan luhak-luhak pangeran agama, yaitu luhak-luhak yang langsung berada dibawah pemerintahan gereja, Machiavelli menyodorkan ulasan-ulasannya yang paling menghancurkan dan paling mencemoohkan.

Luhak-luhak ini diperoleh berkat jasa atau nasib yang baik, tapi dipertahankan tanpa kedua hal ini; luhak-luhak pangeran ini didukung oleh peraturan-peraturan agama yagn suci, yang mempunyai fitri dan akibat begitu rupa sehingga dapat menjamin kewibawaan pangeran-pangeran mereka, apapun juga yang mereka lakukan atau bagaimanapun juga cara hidup mereka. Pangeran—angeran ini memiliki daerah-daerah yang tidak mereka pertahankan dan rakyat yang tidak mereka perintah.

Disini dan ditempat lain dalam karangannya, keberangsangan Machiavelli yang paling geram terhadap gereja Rumawi pada permulaan abad ke-XVI, adalah disebabkan oleh karena gereja ini supaya diadakan pemisahan yan tegas antara gereja dan negara.

Karena sebuah pemerintah yang kuat memerlukan tentara yang baik, maka Machiavelli menganggap soal-soal emiliteran sebagai soal yang amat penting. Ia telah membicarakan soal ini denganpanjang lebar. Kebanyakan negara-negara italia dalam jamannya telah biasa mempergunakan pasukan-pasukan sewaan, yang sebagian besar teridri dari bangsa asing, untuk membela mereka. Pasukan-pasukan seperti ini, kata Machiavelli, adalah “tak berfaedah dan berbahaya.” Sebuah tentara kebangsaan yang terdiri dari warga-negara akan lebih tepat lagi dan akan lebih dapat dipercayai. Karena keselamatan nasional mungkin tergantugn dari kekuasaan bersesenjata, seorang pangeran yang memerintah harus mengaggap soal-soal militer sebagai pokok perhatian dan telaahnya yang utama.

Beberapa bab telah diisi oleh Machiavelli untuk menjelaskan tingkah-laku para pangeran – tingkah laku yang tepat dalam keadaan yang tepat.

Antara cara seseorang hidup dan cara bagaimana semestinya ia hidup terdapat perbedaan yang sangat besar……….. Bagi seorang pangeran yagn ingin mempertahankan kedudukannya perlu sekali berlaku lain disamping berlaku baik, dan memakai atau tidak memakai kebaikannya sesuai dengan kehendak keadaan ……….. Saya tahu, setiap orang akan membenarkan bahwa amatlah terpujinya jika seorang pangeran dianugerahi segala sifat-sifat yang dianggap orang baik; tapi, karena tidak mungkin ia memiliki atau menjalankan semua sifat-sifat ini …… ia setidak-tidaknya harus cukup cendekia untuk mengarifi bagaimana caranya mengelakkan noda-noda dari kekurangan-kekurangan yang mungkin menyebabkan ia kehilangan, pemerintahannya.

Seorang pangeran tak usah takut akan disebut seorang kedekut, dalam “membelanjakan apa yang termasuk miliknya dan milik rakyatnya atau yang termasuk milik o rang lain …………. Mengenai milik yang tak masuk milik kita sendiri atau milik rakyat kita harus bersifat dermawan …………… karena berlaku dermawan dengan harta orang lain (yang diperoleh dengan jalan penaklukan militer) tidaklah akan menurunkan derajat kita malahan menaikkan. Yang merugikan ialah memberikan harta milik sendiri. Tidak ada sifat yang begitu merusak bagi diri sendiri sebagai sifat kita akan kehilangan alat yang memungkinkan sifat itu, lalu kita jatuh miskin dan hina orang; atau untuk mengelakkan kemiskinan kita lalu menjadi tamak sehingga dibenci orang.”

Kekejaman harus dianggap oleh seorang pangeran sebgai salah sebuah senjata untuk menjaga supaya rakyat tetap bersatu dan patuh, “Karena ia yang menindas kekacauan dengan memberikan beberapa contoh yang dapat dipakai sebagai peringatan, akhirnya akan lebih pemurah jadinya, dari pada seseorang yang karena terlalu lembut membiarkan keadaan berlarut dengan semaunya dan dengan demikian akhirnya mengakibatkan penggarongan dan pertumpahan darah; yang terakhir ini akan mencederai seluruh negara, sedangkan kekerasan seorang pangeran hanya akan membencanai individu.”

Machiavelli berkata dalam sebuah bait yang termasyur:

Dari ini timbullah pertanyaan manakah yang lebih baik; lebih dicintai dari pada ditakuti, atau lebih ditakui dari pada dicintai. Barangkali orang akan menjawab, bahwa pada diri kita sebaiknya dilekatkan keduanya. Tapi karena cinta dan ketakutan mustahil bisa hidup berdampingan, sekiranya kita harus membuat pilihan diantara keduanya, maka akan lebih aman jika kita lebih lagi ditakuti dari pada dicintai. Karena umumnya bolehlah dipastikan, bahwa manusia tak tahu berteria kasih, cerewet, seorang akal, cepat untuk mengelakan bahaya, tamak akan keuntungan, hanya setia kepada kita selama kita masih dapat melimpahkan keuntungan padanya, dan siapsedia untuk menumpahkan darah mereka, dan mengorbankan harga-benda mereka, nyawa mereka, anak-anak mereka buat kita, asal bahaya itu masih jauh; tapi dalam saat-saat yang genting mereka akan mengkhianati kita.

Ucapan ini adalah ucapan yang sinis, biarpun Machiavelli mengakhiri pertimbangannya dalam soal cinta lawan ketakutan ini dengan memberikan nasihat kepada seorang pangeran, bahwa “ia harus melakukan segalanya untuk mengelakkan kebencian orang.”

Tidak ada bagian dari Pangeran ini yang umumnya begitu dikutuk dan dibenci seperti halnya dengan bab kedelapanbelas mengenai “bagaimana caranya seorang pangeran harus memenuhi janji.” Sebutan yang berarti busuk dan “berkecondongan Machiavelli” sebagian besar disebabkan oleh bab inilah, jika dibandingkan dengan bagian-bagian lainnya dari buku itu. Dalam bab ini pengarang mengakui, bahwa menepati janji adalah sesuatu yagn terpuji, tetapi ia juga mengatakan, bahwa kelicikan dan kelancungan, hipokrisi dan melanggar janji adalah perlu dan dapat dimaafkan untuk kepentignan penjaminan kekuasaan politik.

Ada dua jalan untuk memperjuangkan sesuatu; pertama dengan jalan hukum, kedua dengan jalan kekerasan; yang pertama dalah wajar buat manusia, sedangkan yang kedua buat hewan. Tetapi karena cara yang pertama sering tam memberikan hasil, maka perlulah dipakai cara yang kedua. Jadi seorang pangeran harus tahu mempergunakan sebaik-baiknya tindakan-tindakan baik yang bersifat manusia maupun yang bersifat hewan ……… Tapi karena seorang pangeran harus arif bagaimana memakai sifat hewan dengan cendekia, ia harus memilih diantara hewan-hewan itu, singa dan rubah; karena singa tak dapt membela diri dari perangkap sedangkan rubah tak dapat membela diri terhadap serigala ………. Seorang pangeran yagn pandai tak mungkin dan tidak perlu menepati janjinya jika hanya akan merugikan dirinya sendiri dan jika sebab-sebab yang memberikan alasasn padanya untuk menjunjung janji itu sudah tidak ada lagi. Sekiranya semua manusia baik, tapi karena manusia tidak jujur dan tidak memegang janji terhadap mereka; dalam hal ini belum pernah ada pangeran yang tak tahu memperoleh alasan yang masuk alan untuk menutupi sebuah janji yang dilanggar …………… Tapi manusia begitu mutlak dikendalikan oleh kebutuhan-kebutuhannya yang da pada satu saat, sehingga seseorang yang ingin menipu tak akan pernah sia-sia mencari korban yang bersedia ditipu ………….. karena itu, adalah baik utnuk berlaku seolah-olah kita pemurah, setia pada janji, berperikemanusiaan, alim, suka terus-terang dan juga betul-betul seperti itu; tapi pikiran harus diatur begitu rupa sehingga jika perlu, kita harus tahu dan sanggup untuk berubah menjadi sebaliknya …………. Setiap orang tahu bagaimana lahirnya kita kelihatannya, tapi hanya sedikit sekali yang mengetahui bagimana kita sebenarnya.

Amatlah pentingnya bagi seorang pangeran, demikian Machavelli berpetua, untuk mengelakkan kebencian dan kutukan orang. Dua sebab yang mungkin sekali menerbitkan dendam orang banyak padanya, adalah: “jika pangeran ini suka merampok dan suka menjamah harta benda dan isteri rakyatnya ………. Seorang pangeran dijauhi orang jika ia kelihatannya banyak tingkah, genit, kebetina-betinaan, pengecut dan tidak tegas.” Selanjutnya seorang penguasa harus mempopulerkan diri dengan membagi-bgikan anugerah secara pribadi, “dan menyerahkan pada alat-alat hukum kewajiban utnuk membagi-bagikan hukuman, ya bahkan pencitaan segala yang mungkin menimbulkan rasa tidak senang.” Benteng-benteng sekalipun, tidak akan dapat menyelamatkan seorang pangeran sekiranya rakyat benci kepadanya.

Dalam memberikan petunjuk kepada seorang pangeran tentang “Bagaimana ia harus bersikap” Machiavelli menganjurkan supaya:

………….. seorang pangeran memperlihatkan, bahwa ia adalah seorang “pembela pahala” dan pebmeri anugerah kepada mereka yang telah menunjukkan hasil luar biasa dalam kepandaian apapun juga. Sesuai dengan ini ia harus mendorong rakyatnya dengan jalan mebmeri kemungkinan kepada mereka  buat mencapai panggilan jiwa masing-masing, baik panggilan ini bersifat dagang, tani ataupun yang lain, dalam suasana terjamin, sehingga mereka tidak usah takut utnuk memperindah milik mereka, karena khawatir akan direbut dari tangannya, atau mengundurkan diri dari pembukaan perusahaan karena takut kepada pajak.

Kenang-kenangan Roma purba, yang b egitu dikagumi oleh Machavelli, dijadikan nasihat bagi seorang pangeran, “supaya pada musim yang tepat rakyat dihiburkan dengan pesta-pesta dan tontonan-tontonan.

Machiavelli adalah seorang yang sangat yakit kepada nasib dan takdir. Barangkali keyakinan ini adalah sutau cermin dari sikap orang dalam jamannya terhadap astrologi. “Menurut kiraan saya adalah sangat mungkin,” demikian ia menulis, “bahwa nasib mengendalikan sebagian dari tindakan-tindakan kita, sedangkan pengendalian paroh yang lain, atau sedikit lebih kurang dari itu, diserahkan kepada kia sendiri.” Pendiriannya ini sebetulnya tidaklah begitu bersifat tawakkal, karena disamping itu ia yakin, bahwa manusia memiliki kekuasaan tertentu terhadap nasibnya, dan  “karena adadlah lebih baik jika kita bersifat garang dari pada bersifat ahti-hati. Karena nasib ini adalah seorang perempuan yang harus dipukul dan diperlakukand engan kasar supaya ia menurut; dan ia lebih sedia dituani oleh orang-orang yang memperlakukan dia seperti itu dari pada oleh mereka yang lebih malu-malu dan lunak dalamperlakuannya. Dan selalu, seperti halnya dengan seorang perempuan, ia lebih menyukai yang muda, karena orang muda lebih berani dan keras, dan akan mengendalikan dia dengan kelancangan yang lebih besar.”

Buku Pangeran diakhiri dengan “Sebuah peringatan untuk membebaskan Italia,” sebuah seruan lantang kepada rasa kebangsaan. Masa sudah masak bagi seorang pangeran baru, “seorang pahlawan Italia” untuk maju kedepan, karena Italia dalam “keadaan yang hina sekarang,” “lebih ladi berkedudukan budak belian dari orang Ibrani, lebih tertindas lagi dari orang Paris, lebih terpecah-belah dari orang Athena, tak punya pemimpin, tak punya susunan, terpukul, rusak, dirobek-robek, dilunjah-lunjah dan dibiarkan hancur dalam segala cara ………….. Kita lihat bagaimana ia berdoa kepada Tuhan supaya merngirimkan seseorang utnuk menyelamatkannya dari kekejaman-kekejaman yang biadab dan tindasan-tindasan ini. Kita lihat juga bagaimana sedia dan inginya ia mengikuti setiap panji-panji asal saja ada orang yang mengibarkannya.”

Machiavelli mengakhiri pembelaannya yang lancar ini dengan kata berikut:

Kesempatan bagi Italia untuk akhir-akhirnya berseru kepada pembelanya tidak boleh dibiarkan lewat. Alangkah besarnya cinta yagn disediakan orang untuk menerimanya (pangeran baru itu) disegala propinsi-propinsi yang telah menderita karena bencana asing, alangkah dahaganya rakyat kepda pembalasan dendam, alangkah teguhnya kesetiaan, alangkah besrnya pengabdian mereka, da alangkah banyaknya air mata, tidak dapat saja teakan dengan kata-kata. Gapura manakah yang tidak akan terbuka baginya? Rakyat yang manakah yang akan menolak untuk patuh kepadanya? Iri hati yang manakan yang ingin menghambatnya? Orang Italia yang manakan yang tidak akan memujinya? Tindihan yang biadab sekarang ini telah memualkan dengan tak ada taranya.

Tapi tigaratus limapulu tahun harus lewat dahulu sebelum persatuan Italia, bebs dari pendudukan penguasaan bangsa asing, seperti yang diimpikan Machiavelli dapat terlaksana.

Salinan-salinan naskah buku Pangeran telah bereda semasa perangnya masih hidup dan selama beberapa tahun setelah ia meninggal. Penerbitannya dalam tahun 1532 telah disetujui oleh Paus Clement VII, saudara sepupu dan pangeran kepada siapa buku ini telah dipersembahkan. Dalam masa duapuluh tahun sesudahnya, telah diterbitkan duapuluh lima edisi. Lalu mulailah tofan berkumpul. Dewan Trente memerintahkan supaya karya-karya Machiavelli dimusnahkan. Di Roma ia dituduh sebagai seorang atheis dan karangan-karangannya disana dan ditempat-tempat lain di Eropah dilarang. Kaum Jeuit di Jerman membakar patung-patungnya. Baik kaum Katolik maupun Protestan bersatu dalam hantaman-hataman mereka terhadap dia. Dadlam tahun 1559 semua kerja machiavelli dimasukkan kedalam Index Buku-buku Terlarang.

Baru dalam abad ke-XIX  reputasi Machiavelli dibersihkan sedikit dan beroleh pengakuan Gerakan-gerakan revolusioner di Amerika, Perancis jerman dan ditempat-tempat lain menimbulkan suatu dorongan yang tak tertahan kerah penduniawian negera, kearah pemisahan negera dan gereja. Perjuangan Italia untuk mencapai kemerdekaan yang mencapai puncak kejayaannya dalam tahun 1870, memperoleh ilhamnya dari patriot besar Machiavelli. Dalam sebuah essay yang sangat jelas. H. Douglas Gregory memperlihatkan, bahwa degnan jalan mengikuti petunjuk-petunjuk Machiavelli pemimpin Italia, Cavour, telah berhasil mempersatukan Italia dan mengusir penjajahnya. Sekiranya ia mengikuti jalan lain, maka hasil yang akan ia peroleh tidak akan melebihi kekandasan dan kehancuran adanya.

Bahwa para diktator dan adikara-adikara dari setiap jaman telah banyak menemukan petunjuk-petunjuk yang berguna dalam kitab Pangeran tak dapat disangsikan lagi. Daftar dari pembaca-pembacanya yang khusyuk sungguh menakjubkan; Kaisan Carlos V dan Catherina de Medici mengangumi karangan ini; Oliver Cromwell memperoleh salinan naskahnya lalu menyadur prinsip-prinsip yang ia temui didalamnya dan memasukkannya kepemerintahan. Kemakmuran Bersama di Inggris; Henry III dan Henry IV dari Perancis kedapatan menyimpan buku ini waktu mereka dibunuh; buku ini telah menolong Frederik Agung membentuk politik Prusia; Louis XIV memakai buku ini sebagi “kalang-hulu” yang disukai; sejilid dari buku ini yang berisi catatan-catatan ditemui dalam kereta Napoleon Bonaparte di Waterloo; pendapat-pendapat Napoleon III mengenai pemerintahan sebagian besar diambil dari buku ini; dan Biasmarek adalah seorang pengikut yang yakin. Dan belum lama berselang. Adolf Hitler, menurut ucapannya sendiri, selalu menyediakan kitab Pangeran disamping ranjangnya, sebagai  sumber ilham yang tetap; dan Benito Mussolini menerangkan, “Saya percaya bahwa Pangeran karangan Machiavelli patut dijadikan pembimbing tertinggi bagi seorang negarawan. Ajaran-ajarannya sekarang ini masih hidup karena selama empatratus tahun tidak ada perubahan-perubahan besar yang terjadi dalam pikiran manusia ataupun dalam tindakan-tindakan negara-negara.” (Kemudian Mussolini merobah pendiriannya, karena dalam tahun 1939, dalam daftar pengarang-pengarang modern dan lama, yang dimasukkan kedalam Index buku-buku fasis yang tidak boleh diedarkan oleh ahli-ahli perpustakaan Roma, tercantum nama Machiaavelli).

Sebaliknya pengurai-pengurai kejadian, sejarah yang bersemangat telah menjelaskan, bahwa orang-orang lalim seperti Hitler dan Mussolini umumnya menemui akhir mereka yang menyedihkan karena mereka tidak memperdulikan atau salah menafsirkan prinsip-prinsip fundamentil tertentu yang dimaskhurkan oleh Machiavelli.

Para penelaah Machiavelli bersepakat untuk mengatakan, bahwa pikiran-pikirannya tak mungkin difahamkan dengan lengkap jika disamping Pangeran orang tidak membaca istikarah-istikarahnya (Discourses). Kitab Istikarah-istikarah ini, yang telah ditulis selama lima tahun dan yang diterbitkan untuk pertama kalinya dalam tahun yang sama dengan Pangeran, adalah sebuah hasil-kerja yang jauh lebih besar. Salah satu perbedaan yang terdapat antara kedua buku ini menurut pendapat yang ada, ialah bahwa Istikarah-istikarah membicarakan “bagaimana seharusnya” sedangkan Pangeran seluruh luhak-luhak pangeran, yaitu negara-negara yang diperintah oleh monarchi tunggal. Istikarah-istikarah mengemukakan prinsip-prinsip yang harus diikui oleh sebuah republik.

Jika kedua buku ini dibaca dan dibandingkan, maka orang akan beroleh kesimpulan yang mengherankan. Kesimpulan ini memperlihatkan bahwa Machiavelli adalah seorang republikein yang yakin. Ia tidak menyukai despotisme dan ia menganggap kombinasi pemerintahan monarchi dan rakyat sebagai suatu pemerintahan terbaik. Tidak ada satu penguasapun yang selamat tanpa kecintaan rakyatnya. Negara-negara yang paling kukuh kedudukannya adalah negara–negara yang diperintah olehpangeran-pangeran yang kekuasaannya dibatasi oleh undang-undang dasar. Dalam pandangan Machiavelli timbangan rakyat adalah sehat. Hal ini dapat dilihat pada serangannya terhadap peribahasa purba yang berbunyi, “Bertupang pada rakyat sama artinya dengan bertupang atas pasir”. Pemerintahan yang ia cita-citakan ialah pemerintahan republik Roma purba, dan dalam kitabnya Istikarah-istikarah ia selalu kembali kepada cita-cita ini.

Kalau begitu, mengapa Machiavelli yang diatas segala-galanya lebih tinggi menghargai pemerintahan republik bagi suatu rakyat yang merdeka, menulis buku Pangeran? Buku ini ditulis untuk suatu masa yang chas dan untuk suatu keadaan yang chas. Tak sangsi lagi Machiavelli rupanya menyadari, bahwa adalah mustahil membangunkan suatu republik dengan berhasil di Italia abad ke-XVI itu. Buku Pangeran ditulis sematma-mata dengan maksud menarik pertolongan seorang kuat untuk menyelamatkan rakyat Italia dari kedudukannya yang celaka dan korupsi politik yang sedang berlangsung. Dihadapan pada suatu krisis yang mendesak italia tidak bisa bersikap banyak pilihd alam mencari senjata untuk menyelamatkan dirinya.

Biarpun banyak suaha sudah dilakukan untuk memulihkan namanya kembali, tapi masih saja pendapat yang beragam-ragam mengenai Machiavelli tersiar luas. Keadaan yang dijelaskan Giuseppe Prezzolini beberapa tahun yang lalu masih saja berlangsung sampai saat kini.

Kita kini memiliki Jesuit Machiavelli, seorang musuh gereja; patriot Machiavelli, Imam  Mahdi untuk kesatuan Italia dan keluarga Savory; militer Machiavelli, pelpor tentara-tentara nasional; ahli filsafat Machiavelli yang telah menemui suatu cara berpikir baru—jiwa yang praktis; dam Machiavelli sastrawan—banyak kaum sasterawan yang mengangumi gayanya yang jantan dan bentuk-kalimatnya yang lancang. Dan kesemua Machiavelli ini adalah Machiavelli yang syah.

Susah untuk diingkari, bahwa ada orang sebelum Karl Marx yang sebagai seorang revolusioner, mempunyai pengaruh begitu besar pada pemikiran politik seperti halnya dengan Machiavelli. Jadi pada tempatnya sekalilah jika padanya diberikan julukan “Pembina Ilmu Politik.” (*)

*Dari berbagai sumber. Dikelola oleh Tim Redaksi Galeri Buku Jakarta. All rights reserved

Continue Reading

Pemikiran

Rasionalisme dalam Keheningan Rousseau dan Rumi

mm

Published

on

Di era modernisme dewasa ini, penting bagi kita merefleksikan kembali hakikat hidup: menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan lingkungan alam tempat kita tinggal. Dari Abad Pencerahan hingga era modernisme ini yang melahirkan sains, teknologi, dan industri ternyata menyimpan sisi yang memprihatinkan. Sebab, perkembangan itu pada akhirnya menyebabkan terjadinya dehumanisasi: perilaku manusia yang begitu kompleks–menjerumus ke arah reduksi. Manusia tak ubahnya seperti mesin yang berjalan. Sebagaimana yang dikatakan Thomas Hobbes, manusia ibarat mesin berakal

Ironisnya, cara berpikir rasional dan logis yang sedemikian kompleks tidak dibarengi dengan kepekaan emosi dan perasaan, menyebabkan manusia menjadi makhluk yang rasional. Akibatnya, kita memandang manusia seperti mesin-mesin yang berjalan yang digerakan oleh akal (rasio) belaka–nihil kepekaan emosi dan perasaan-perasaannya. Keadaan semacam itu sejatinya dapat mengkikis moralitas. Seperti persaingan dalam aspek sosio-politik, ekonomi, dan kebudayaan yang menyebabkan manusia yang satu ingin mengusai manusia lainnya atau dalam istilah Hobbes disebut homo homini lupus (manusia adalah serigala bagi manusia lainnya).

Maka, sangat relevan bagi kita untuk kembali merefleksikan pemikiran Jean Jacques Rousseau (1712-1778). Sebagaimana kita ketahui, Rousseau adalah seorang filosof Abad Pencerahan yang menolak rasionalisme Perancis Abad 18. Ia beranggapan rasionalisme bukan satu-satunya energi untuk membangun tatanan “dunia baru” yang lebih baik. Sebaliknya, Rousseau memilih mengutamakan aspek kepekaan emosi, kehalusan jiwa dan perasaan-perasaannya daripada penalaran logika dan rasionalitas semata. Rousseau juga mempunyai posisi unik dalam pemikiran filsafat politik Barat. Rousseau adalah seorang filosof yang sulit diklasifikasi. Misalnya, apakah Rousseau seorang pendukung liberal, totalitarian, indiviualisme, atau kolektivisme? Namun, posisi Rousseau yang unik menjadi wajar karena tokoh ini menjangkau pelbagai spektrum intelektual yang luas. Misalnya, Macfarlane (dalam Ahmad Suhelmi: 2001) menyebutkan Rousseau sebagai tokoh yang melahirkan gagasan individualisme ekstrem meskipun di sisi lain ia pembela mati-matian kolektivisme.

Terlepas dari posisi intelektual Rousseau itu, ia merupakan peletak dasar era romantisme sebagai lawan dari rasionalisme. Rousseau mengkritik pengkultusan terhadap akal (rasio). Pendewaan terhadap akal hanya akan membuat manusia kehilangn fitrahnya sebagai makhluk perasa (la sensibilite) yang mengedepankan emosi daripada akal (rasio). Menurutnya, manusia yang mendewakan akal budi tanpa menyertakan aspek kepekaan emosi, kehalusan jiwa dan perasaan-perasaannya seperti jasad tanpa ruh.

Seorang romantis seperti Rousseau akan sangat mudah tergores hatinya jika melihat kemiskinan, ketidakadilan, dan penindasan yang dialami oleh masyarakatnya. Dalam hal ini romanitsme Rousseau jelas menolak hiruk-pikuk kebisingan kehidupan modernitas, industrialisasi, dan ekspansi kapitalisme yang hanya akan merusak tatanan kehidupan dan alam tradisional. Rasioanalisme dan modernisme juga akan merenggut manusia dari sifat alamiyahnya, manusia dalam peradaban modern menyebabkan manusia terasing dari kehidupannya sendiri. Peradaban modern telah menodai kesucian alam dan menjadi penyebab ketimpangan sosial, ekonomi, dan politik di antar manusia. Barangkali hanya segelintir orang saja dari kita yang merindukan aroma hutan; merindukan burung-burung bernyanyi. Watak kapitalisme telah mengepung kehidupan modern. Bukan hanya “menginvasi” kota, melainkan hingga masuk jauh ke tengah hutan dan teluk pantai: pembakaran hutan dan reklamasi teluk pantai Jakarta demi kalkulasi keuntungan bisnis salah satunya. Dengan demikian, pemikiran romantisme Rousseau adalah antitesis dari rasionalisme dan modernisme (pembentuk pemberontakan intelektual Abada Pencerahan).

Jauh sebelum Rousseau meletakan gagasannya dalam era romantisme yang mengutamakan kepekaan emosi, kehalusan jiwa dan perasaannya di Eropa abad 18-an, khususnya bagi aliran romantisme (kesusastraan) Eropa. Seorang ulama sekaligus penyair mashur sudah terlebih dahulu menolak mengkultuskan atau mendewakan kekuatan akal; ia adalah Jalaluddin Rumi (1207-1273). Rumi melalui puisi-puisinya yang mashur itu bukan hanya berisi perihal cinta illahiyyah–Tuhan sebagai satu-satunya tujuan, melainkan juga kritik terdahap pendewaan terhadap akal. Baginya, pemahaman atas dunia hanya mungkin di dapat melalui jalan cinta, bukan semata-mata lewat kerja fisik atau indera.

Keberadaan Rumi seperti oase di tengah padang gurun bagi manusia yang kering akan ajaran-ajaran tauhid. Rumi hadir lakasana sang fajar yang menyingsing di antara pekat kabut-kabut awan untuk menerangi gelapnya jiwa. Sebagaimana kita ketahui Rumi mengorek moralitas manusia yang mengalami dekadensi. Rumi menjadi sosok kontraproduktif bagi mereka yang mendewakan rasionalitas tetapi kering spiritualitas. Sebagaimana sejarah mencatat bahwa Rumi hidup di zaman Mu’tazilah, sebuah madzab Islam yang menjunjung tinggi kekuatan akal (rasio). Bagi Rumi pemahaman akal untuk membongkar “keberadaan” “sesuatu yang tersembunyi” hanya akan sia-sia. Bahakan lebih dari itu, pendewaan terhadap akal hanya akan melemahkan iman seseorang. Pada akhirnya sesuatu yang bersifat “ghaib” (metafisika) tidak akan mudah dipercayainya. Sebab, segala sesuatu yang tidak dapat dipahami, dicerna, dan dibuktikan keberadaannya oleh akal tidak akan dipercaya sebagai sesuatu kebenaran yang eksak.

Bila Rousseau adalah inisiator gerakan romanitisme (sastra) di Eropa, maka Rumi adalah guru spiritual filsafat cinta. Hakikat cinta, pun sama dalam pemikiran Rousseau yang hanya dapat dipahami oleh kepekaan emosi, kehalusan jiwa dan perasan-perasaannya. Jalan cinta itu pula yang menghantarkan kerinduan Rumi pada Illahiyah. Sebagimana yang ditulis dalam syair-syairnya: Dia adalah orang yang mempunyai ketiadaan/ saya mencintainya dan saya mengaguminya/ saya memilih jalannya dan saya memalingkan muka ke jalannya.

Di era modernisme yang berkiblat pada sains, teknologi, dan industri penting bagi kita untuk kembali mengasah kepekaan emosi, kehalusan jiwa dan perasaan untuk merawat sendi-sendi kehidupan. Kendati perubahan adalah sifat alamiah yang tidak dapat dicegah, namun bukan berarti perubahan itu justru mengarah pada sesuatu yang bersifat destruktif. Jika Aristoteles meyakini hanya manusia yang “berpolitik” yang membedakan antara manusia dengan binatang. Maka dalam analogis lainnya, hanya kepekaan emosi, kehalusan jiwa dan perasaan yang dapat membedakan manusia dengan mesin. Hanya dengan pendekatan itu pula yang dapat menjadikan manusia hidup sebagai manusia, bukan sebagai mesin-mesin yang berjalan. (*)

*) Ade Mulyono, aktif di sekolah feminisme. Artikelnya dimuat di beberapa media cetak dan internet. Saat ini tinggal di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Continue Reading

Pemikiran

The Author Function (1969)

mm

Published

on

French philosopher Michel FOUCAULT at home.

— Foucault, Michel “The Author Function.” Excerpt from “What is an Author?” Translation D.F. Bouchard and S. Simon, In Language, Counter-Memory, Practice, 124-127. Cornell University Press, 1977.

In dealing with the “author” as a function of discourse, we must consider the characteristics of a discourse that support this use and determine its differences from other discourses. If we limit our remarks only to those books or texts with authors, we can isolate four different features.

First, they are objects of appropriation; the form of property they have become is of a particular type whose legal codification was accomplished some years ago. It is important to notice, as well, that its status as property is historically secondary to the penal code controlling its appropriation. Speeches and books were assigned real authors, other than mythical or important religious figures, only when the author became subject to punishment and to the extent that his discourse was considered transgressive. In our culture and undoubtably in others as well discourse was not originally a thing, a product, or a possession, but an action situated in a bipolar field of sacred and profane, lawful and unlawful, religious and blasphemous. It was a gesture charged with risks before it became a possession caught in a circuit of property values. But it was at the moment when a system of ownership and strict copyright rules were established (toward the end of the eighteenth and beginning of the nineteenth century) that the transgressive properties always intrinsic to the act of writing became the forceful imperative of literature. It is as if the author, at the moment he was accepted into the social order of property which governs our culture, was compensating for his new status by reviving the older bipolar field of discourse in a systematic practice of transgression and by restoring the danger of writing which, on another side, had been conferred the benefits of property.

Secondly, the “author-function” is not universal or constant in all discourse. Even within our civilization, the same types of texts have not always required authors; there was a time when those texts which we now call “literary” (stories, folk tales, epics and tragedies) were accepted, circulated and valorized without any questions about the identity of their author. Their anonymity was ignored because their real or supposed age was a sufficient guarantee of their authenticity. Text, however, that we now call “scientific” (dealing with cosmology and the heavens, medicine or illness, the natural sciences or geography) were only considered truthful during the Middle Ages if the name of the author was indicated. Statements on the order of “Hippocrates said…” or “Pliny tells us that…” were not merely formulas for an argument based on authority; they marked a proven discourse. In the seventeenth and eighteenth centuries, a totally new conception was developed when scientific texts were accepted on their own merits and positioned within an anonymous and coherent conceptual system of established truths and methods of verification. Authentication no longer required reference to the individual who had produced them; the role of the author disappeared as an index of truthfulness and, where it remained as an inventor’s name, it was merely to denote a specific theorem or proposition, a strange effect, a property, a body, a group of elements, or a pathological syndrome.

At the same time, however, “literary” discourse was acceptable only if it carried an author’s name; every text of poetry or fiction was obliged to state its author and the date, place, and circumstance of its writing. The meaning and value attributed to the text depended upon this information. If by accident or design a text was presented anonymously, every effort was made to locate its author. Literary anonymity was of interest only as a puzzle to be solved as, in our day, literary works are totally dominated by the sovereignty of the author. (Undoubtedly, these remarks are far too categorical. Criticism has been concerned for some time now with aspects of a text not fully dependent upon the notion of an individual creator; studies of genre or the analysis of recurring textual motifs and their variations from a norm ther than author. Furthermore, where in mathematics the author has become little more than a handy reference for a particular theorem or group of propositions, the reference to an author in biology or medicine, or to the date of his research has a substantially different bearing. This latter reference, more than simply indicating the source of information, attests to the “reliability” of the evidence, since it entails an appreciation of the techniques and experimental materials available at a given time and in a particular laboratory).

The third point concerning this “author-function” is that it is not formed spontaneously through the simple attribution of a discourse to an individual. It results from a complex operation whose purpose is to construct the rational entity we call an author. Undoubtedly, this construction is assigned a “realistic” dimension as we speak of an individual’s “profundity” or “creative” power, his intentions or the original inspiration manifested in writing. Nevertheless, these aspect of an individual, which we designate as an author (or which comprise an individual as an author), are projections, in terms always more or less psychological, of our way of handling texts: in the comparisons we make, the traits we extract as pertinent, the continuities we assign, or the exclusions we practice. In addition, all these operations vary according to the period and the form of discourse concerned. A “philosopher” and a “poet” are not constructed in the same manner; and the author of an eighteenth-century novel was formed differently from the modern novelist.

___________

Since 1998, Foucault.info has been providing free access to a large selection of texts. All texts by Michel Foucault for educational purpose, under fair use of the Berne Convention.

foucault.info | Michel Foucault, Info.
Page last updated on Saturday, 22nd February 1969 — Paris

 

Continue Reading

Pemikiran

Postmodernisme: Kritik Timur terhadap Barat?

mm

Published

on

Melalui sastra dan film diskursus entitas “Timur” (Indonesia bagian Timur) sebenarnya dimunculkan untuk menginterupsi arogansi terhadap hegemoni  “Barat” (Indonesia bagian Barat). Kendati “Timur” harus menelanjangi dirinya sendiri dan menjadi bahan “lelucon” dalam sebuah “teater” di masyarakat luas. Secara tidak langsung upaya semacam itu adalah bentuk kritik “Timur” terhadap “Barat”.

Saat kita mengucapkan kata “Timur” selalu dikonotasikan dengan “sesuatu yang inferior” dan diasosiasikan sebagai kehidupan yang terbelakang; pendidikan, ekonomi, dan sosio-politiknya. Seakan-akan “Timur” adalah gumpalan-gumpalan komunal yang tidak tersentuh oleh tangan modernitas “Barat”. Seakan-akan “Timur” tidak disinari matahari pengetahuan: gelap-gulita. Seakan-akan “Timur” hanyalah pelengkap demografi dan antropologi kebudayaan (nusantara) kita.

Sebab, kehidupan spesies manusia di “Barat” yang dipenuhi gilang-gemilang modernitas telah menjadi antitesis dari kehidupan spesies manusia di “Timur”. Dengan kata lain, jika “Barat” melahirkan modernisme, maka “Timur” adalah antitesis dari “Barat” yang melahirkan postmodernisme. “Barat” adalah lambang kemajuan di masa depan dan “Timur” sebaliknya: distopia.

Melalui kebudayaan: sastra khususnya, novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, “Timur” adalah surga kecil yang dieksploitasi: alam dan manusianya. “Timur” adalah adalah sekumpulan anak-anak kecil yang menelanjangi dirinya untuk ditertawakan kehidupan modernisme. Hanya dengan cara itu, “Timur” dapat mengkritik “Barat”. Dengan mempertontonkan kebodohan, keluguan, dan keterbelakangan, “Timur” membuka diri untuk dilihat mata khalayak, bahkan dunia, hanya supaya kita dapat merenungkan kembali apa yang dinamakan ketidakadilan.

Telah kita saksikan bersama-sama melalui sastra dan film, selalu dikisahkan kehidupan “Timur” yang menguras emosi dan air mata. Semisal Lintang tokoh dalam novel Laskar Pelangi yang berlatar di Belitung adalah anak remaja jenius. Seluruh soal matematika bisa dijawabnya tanpa dengan alat bantu, ia menghitungnya dengan “kecepatan cahaya”. Namun, karena faktor ekonomi Lintang gagal menjadi ahli matematika. Pada akhirnya, ia menjadi manusia yang hidupnya “nomal” saja: mencari makan, beranak-pinak, dan mati. Sebagaimana kebanyakan antropologi manusia “Timur” pada umumnya. Kritik yang sama pada film: Denias, Cahaya dari Timur, Di Timur Matahari, hingga Atambua semuanya seragam: kritik ketidakadilan dan keterbelakangan.

Kritik postmodernisme

Hegemoni (modernisme) corak kebudayaan “Barat” terhadap “Timur” menyebabkan dehumanisasi. Postmodernisme lahir karena kegagalan modernisme “Barat” dalam mengangkat martabat manusia. Bagi postmodernisme, paham modernisme yang didewakan dan ilmu pengetahuan yang dikultuskan di “Barat”, gagal membawa kehidupan yang lebih baik secara menyeluruh (ekstensif) dan eudemian demi tercapainya keadilan sosial (social justice). Karena pada kenyataannya, pascakolonial hingga postmodernisme menjadi haluan bagi penuntut keadilan sosial (social justice), “Timur” tidak selangkah pun bergeser dari nasibnya: apa yang disebut dengan “keterbelakangan”.

Dalam perspektif postmodernisme; “Timur” menuntut pembangunan manusia dalam konteks “ekstensif”. Sebab, selama ini kita hanya dapat melihat, bukan dengan memahami. Persoalan utama “Timur” bukan terletak pada nihilnya infrastrukturnya, melainkan persoalan itu berpusat pada manusianya. Demi apa pemerintah terus-menerus melayani perusahaan freeport? Dalam satu sisi yang lain pemerintah gagal melayani masyarakat di tanah freeport itu berdiri untuk mengeruk, mengangkat, dan membawa emas, perak, tembaga setiap hari masuk ke kantong-kantong pribadinya.

            Yang terjadi selama ini ialah “Barat” sibuk membangun benda mati: infrastruktur apa yang disebut dengan akivitas ekonomi. Akan tetapi, “Barat” lupa tidak membangun peradaban harkat manusia “Timur”, yakni membangun konstruksi berpikirnya. Ringkasnya, “Barat” memuntahkan demagogi bukan pedadogi. Akibatnya, dalam pelbagai hal, pikiran manusia “Timur” selalu terbelakang dan tertinggal.

Karena selama ini yang membekas di kepala, “Barat” diasosiasikan dengan kemajuan dan pembangunan dalam pelbagai hal. Tidak terkecuali membangun dan mengeksploitasi alam yang ada di “Timur”. Apakah hal itu dilakukan untuk kemajuan manusia “Timur?” tentu tidak, melainkan cinta diri yang mendorong lahirnya ambisi untuk meraih segala kejayaan hidup yang hedonistik dan materialistik. Baginya, “Timur” adalah lahan subur “tak bertuan”. Bukan karena tidak ada pemiliknya, melainkan di tempat itu nihil logika, nir-nalar: keterbelakangan akan ilmu pengetahuan. Itulah warisan pikiran “picik” kolonialisme. Dengan demikian, masyarakat “Timur” hanyalah lampiran dalam pembuatan undang-undang.

Selama ini kita abai pada “Timur”, bahkan cenderung tak peduli atas segala kesengsaraannya. Baik dalam pendidikan, ekonomi, politik, terlebih kesehatannya. Masih segar dalam ingatan kolektif kita, di “Timur” puluhan anak terjangkit gizi buruk. Di Jakarta, isu  lapar tersebut justru menjadi komoditas politik, di mana mata kamera mengintai dan mempertontonkannya. Ironisnya kebudayaan filantropi tidak lagi membekas pada diri kita sebagai manusia budaya.

Sudah 73 tahun Bangsa Indonesia merdeka, akan tetapi di wilayah “Timur” Indonesia masih dijajah “keterbelakangan”, yakni  dalam aspek kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan sosio-politiknya. Ada jalan konstitusi yang belum atau barangkali lupa dibangun oleh pemerintah. Sebuah jalan yang akan menghantarkan manusia meraih harkat dan martabatnya. Padahal, konstitusi mengamanatkan pemerintah wajib mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena “keterbelakangan” adalah asbabun nuzul adanya “penjajahan”.

Detik ini telah kita saksikan bersama di mana gugus pengetahuan, gagasan, argumen diletakan di atas meja perundingan tentang siapa pemilik sah “gunung emas”. Bila “Timur” harus menjalani nasibnya yang “hitam”, maka saya ingin meminjam filsafat Stoa: “Timur” adalah anjing yang diseret kereta. “Anjing” diibaratkan sebagai manusia dan “kereta” sebagai takdir. Pertanyaannya, apakah “anjing” tersebut akan selamanya seirama berlari mengikuti laju kereta dengan sukacita sebagai titik kulminasi karena hegemoni “Barat” yang superior terhadap “Timur” yang inferior. (*)

*) Ade Mulono: Mahasiswa sastra dan sekolah feminisme.

Continue Reading

Classic Prose

Trending