Connect with us

Art & Culture

Albert Camus Bukan Sisifus, Mungkin Prometheus

mm

Published

on

The gods had condemned Sisyphus to ceaselessly rolling a rock to the top of a mountain, whence the stone would fall back of its own weight. They had thought with some reason that there is no more dreadful punishment than futile and hopeless labor. (Albert Camus, The Myth Of Sisyphus)

Itulah paragraf pembuka essai filsafat “The Myth Of Sisyphus” yang di tulis Albert Camus pada 1942: para dewa telah menghukum Sisifus untuk terus menerus mendorong sebuah batu besar sampai ke puncak sebuah gunung; dari puncak gunung, batu itu akan jatuh kebawah oleh beratnya sendiri. Tidak ada hukuman yang lebih mengerikan daripada pekerjaan yang tak berguna, dan tanpa harapan itu.

Albert Camus bukan Sisifus, Camus adalah Prometheus
Ketika menulis Le Mythe de Sisyphe (1942) Albert Camus bersikeras membayangkan benak Sisifus yang dipayungi bahagia walaupun putra Raja Aeolus dari Thessaly itu ditakdirkan melakukan pekerjaan sia-sia. “Saya tinggalkan Sisifus di kaki gunung! Kita selalu menemukan kembali beban kita, namun Sisifus mengajarkan kesetiaan lebih tinggi yang menyangkal para dewa dan mengangkat batu-batu besar. Ia juga menilai bahwa semua baik adanya…[k]ita harus membayangkan sisifus bahagia.”

I leave Sisyphus at the foot of the mountain! One always finds one’s burden again. But Sisyphus teaches the higher fidelity that negates the gods and raises rocks. He too concludes that all is well…[O] ne must imagine Sisyphus happy. (Camus, The Myth Of Sisyphus)

Camus meyakini sebuah rutinitas, sebagaimanapun absurd dan sia-sia, adalah sebentuk perjuangan yang mampu membuat seseorang membetahkan diri lebih lama dalam dunia yang kian acuh tak acuh ini. Tidak hanya sampai disitu, sampai ketika Camus menulis “Orang Asing” (L’étranger) ia tetap berkeras bahwa Meursault bahagia dengan hukuman mati yang diterimanya bahkan atas suatu tindakan pembunuhan yang tak sepantasnya. Dan ia tidak peduli pada pengampunan, ia tidak membutuhkan keprihatinan apa lagi harus meratapi. Ia menerima yang datang sebagai bagian yang absurd dari yang bernama kehidupan.

Dengan membayangkan diri yang mengada dan merasa bahagia di dalam absurditas, mengatakan “ya” pada penderitaan yang mungkin pilihan satu-satunya yang tersisa di kolong langit ini sebagai pilihan yang disadari sejak awalnya, dan karenanya berarti pilihan itu harus juga dijalani dengan rasa bahagia; sekali pun pada saat yang sama hal itu disadari, hal yang ironis dan tragis dimulai, “find happiness and peace of mind in an absurd universe.” (Fowler, 1987:81).

Akhirnya, “Saya Memberontak Maka Saya Ada” itulah adagium dalam L’Homme Revolte (1951) yang diteriakan Camus atas nama keber-ada-an manusia di kolong langit yang absurd ini: sejarah yang sudah dipilih oleh manusia sendiri dan karenanya ia tidak boleh mundur atau menyerah pada sejarah. Manusia dikolong langit ini adalah pemain utama dari sejarah, tak lain tak bukan manusia bukan budak dari alam dan bukan pula mesin bagi pekerjaanya.

Orang lalu tersebab itu mengidentifikasikan Camus untuk saat yang lama bahwa Camus adalah seorang Eksistensialis. Orang juga tak jarang merayakan keabsurdan hidup sebagai jalan bereksistensi (dengan pengertian yang justeru seringkali mirip dengan pengertian akan chaos dan soliter) . Absurd dan eksistensialis adalah dua kata kunci yang selalu dikait-kaitkan dengan penerima Nobel Sastra 1957 ini, yang ia sendiri, justeru lebih ingin dikategori, jika memang ada penkatagorian, sebagai seniman. “Tidak, saya tidak eksistensialis. Sarte dan aku selalu terkejut melihat nama kami terhubung…” kata Camus.

Akan tetapi sebagai inetelektual zamannya, Camus memiliki objek pertanyaan dan perenungan akan kebebasan manusia dan keadilan kemanusiaanya pada saat-saat di mana kecamuk perang menghadirkan penderitaan, pembunuhan yang secara kasar merampas kebebasan dan karenanya membuat umat manusia terasing dari kemanusiaan dan manusia lain, adalah hal yang paling mungkin untuk memberi justifikasi bahwa Camus seorang pemikir yang secara mendalam memikirkan eksistensi manusia (di hadapan dunia yang menurutnya absurd).

Namun sekali lagi hal itu memang tidak cukup untuk mengatakan bahwa Camus seorang filsuf Eksistensialis yang dengan gigih mendeklarasikan subjektifitas total di mana kemuakan merajalela di bumi seperti neraka-nya Sarte dalam “Nausea” atau Tuhan yang mati di pasar-nya Nietzsche dalam “Also sprach Zarathustra” yang bercitarasa nihilis; sebuah konsep tentang negasi semua nilai yang lebih subtil. Camus juga bukan filsuf yang dengan radikal menentang objektifitas ontologis yang hendak memurnikan iman dan religiusitas dari pengaruh filsafat (hegelian khususnya) yang justeru dipandang tidak bijaksana dan kebablasan sebagaimana pemikirian eksistensialis Kierkgaard yang tertuang dalam “Postscript.” Camus juga bukan, Karl Jaspers juga bukan seperti Martin Heidegger, kenapa?

Saya ingin pertama-tama mengatakan bahwa Camus, sekali pun ia sendiri yang mempopulerkan Sisifus, namun dia akhirnya adalah seorang Prometheus, itu subjektifitas saya peling tidak setelah membaca novelnya “Orang Asing” dan menutupnya dengan novel Camus lainnya “Sampar”. Akhirnya Camus, lain dari Sarte yang muak dan Nietzche yang “Nihilis” terhadap semua janji pengobatan atas individu dan kehidupan yang sakit yang dialami olehnya dan oleh zamannya , Camus adalah Promoteus yang lebih memilih dengan sadar dan berbahagia, menyalakan “api pemberontakan” untuk mengada dihadapan yang Absurd. Dalam hal inilah pertanyaan apakah sebenarnya Camus hanya membayangkan bahwa Sisifus rupanya bahagia dengan hukumannya? Atau Camus juga membayangkan bahwa untuk manusia dan kehidupannya di bumi ia sebenarnya (atas sebuah justifikasi seni) pantas diberikan “Api” sebagai obor dan nyala untuk menerangi dan menghidupi kehidupan (kebudayaan kemanusiannya).

Menjadi pemberontak pada yang absurd berarti mengatakan “ya” pada penderitaan yang harus ditanggung oleh manusia bebas sekalipun ia sendiri harus menderita dan menerima hukuman. Ia sadar sepenuhnya bahwa dari pada melihat penderitaan mewabah seperti sampar yang menyakiti seluruh manusia sebagai endemik ketidakadilan dan padamnya api kebudayaan, dari pada membiarkan manusia menjadi budak alam semesta dan buruh bagi mesin, akan lebih baik baginya untuk merelakan diri menjadi pemberontak yang mencuri api para dewa untuk memberi obor bagi nyala kemanusiaan yang bebas dan adil, untuk manusia seluruhnya sebagaimana yang dilakukan Prometheus. Inilah yang ingin saya ketengahkan dalam tulisan ini, yang secara khusus sesungguhnya ingin saya sebut sebagai argumentasi untuk menyatakan “The Camus Actuel” atau Albert Camus yang sesungguhnya. Albert Camus yang melampaui Sisifus; Albert Camus yang memberontak pada dewa untuk kebahagiaan manusia sebagaimana yang dilakukan Prometheus.

Prometheus dan Solidaritas Kemanusiaan

“Ketika aku masih lugu remaja, tak tentu arah dan tujuan; mataku yang bimbang mengarah ke matahari; seakan nun di atas sana ada telinga mendengar keluh kesahku, ada kalbu bagai kalbuku; yang belas kasih pada yang nestapa. Siapa yang bertanya itu? Adakah sungguh kau mengira aku mesti membenci kehidupan, mesti lari sembunyi kegurun, karena tak segala impian remaja berbuah dan berbunga? Disini kududuk, menggubah manusia sesuai citraku, suatu kaum yang menyerupai aku; agar menderita, menangis, sukaria, bahagia; agar tak menggubrismu; sebagaimana Aku.”

Dalam sajak di atas yang ditulis Goethe, sajak aslinya berjudul –Prometheus—dalam trilogi drama Aischylos dikisahkan Prometheus bersekutu dengan Zeus (dewa Yunani tertinggi) memerangi dan mengalahkan para titan. Prometheus sendiri dikenal terutama karena menghadirkan api—sebagai lambang budaya—pada manusia. Karena dilakukannya tanpa izin Zeus ia dirantai pada sebuah tebing dan seekor burung nasar tiap hari datang memakani jantungnya sebagai sebuah hukuman baginya. Dalam karya-karya Ovid, Prometheus dikisahkan mencipta manusia dari tanah liat. Sedangkan dalam puisi Von Goethe ini, berbagai unsur mitologis tersebut dipadukan.

Apa arti Prometheus untuk manusia zaman sekarang? Pasti akan dikatakan bahwa pemberontak yang menentang dewa ini adalah model bagi manusia kontemporer, bahwa protesnya yang bangkit ribuan tahun yang lalu di padang pasir Scythia, memuncak hari ini dalam sebuah ledakan sejarah yang tidak pararel. Namun pada saat yang sama, sesuatu mengatakan kepada kita bahwa korban penganiyaan ini masih berada di antara kita, dan bahwa kita masih tuli terhadap jeritan keras pemberontakan manusia yang memberi tanda kesepian.

Kisah tentang Prometheus bersumber dari mitologi Yunani karya Ny. Sukartini Silitonga “Mitologi Yunani” (1977) mengisahkan dengan baik mitologi Prometheus. Dikasahkan pada waktu alam semesta diciptakan, Amor menyelimuti bumi yang baru lahir tersebut dengan tumbuh-tumbuhan yang lebat dan memberinya mahluk hidup berbagai jenis sebagai penghuninya, dia juga ingin ingin agar mahluk ini tetap memeliki hidup itu dan menikmatinya. Untuk maksud tersebut perlulah manusia diciptakan dan dibekali dengan sejumlah bakat, supaya dapat memeriahkan mahluk yang lain.

Dengan bantuan Promoteus dan Epimeteus, dua anak Lapeteus, salah seorang Titan, mulailah manusia dibentuk dari tanah liat. Dewa bertiga itu mulanya membuat patung yang menyerupai dewa, kemudian Amor diminta untuk menghembuskan nafas kehidupan ke dalam lubang hidung patung. Minerva, puteri Jupeter menganugerahkan jiwa, dan dengan demikian bersemilah hidup di dalam diri manusia, dan dengan demikian bersemilah hidup dalam diri manusia yang lalu bergerak untuk mengamati daerah lingkungannya.

Promoteus bangga akan hasil pekerjaanya, lalu menginginkan supaya kepada manusia diberikan kekuasaan yang besar, melebihi mahluk lain di dunia. Promoteus berpendapat hanya apilah yang dapat menghasilkan yang demikian, sedangkan api adalah suatu anugerah kepada para dewa. Dia juga sadar para dewa tidak akan mau membagikannya kepada manusia dengan sukarela, dan apabila sesorang dapat mengambilnya, maka pencuri itu tidak akan di ampuni untuk selama-lamanya. Promoteus setelah mempertimbangkan cukup lama akhirnya bertekad mencuri api dari para Dewa dengan segala resiko walau pun mungkin ia akan musnah dalam usahanya itu.

Untuk maksud itu Promoteus berangkat pada suatu malam gelap ke Olimpus dan tanpa ketahuan menyusup masuk ke tempat kediaman para dewa dan dia berhasil mencuri api yang lalu ia sembunyikan di dadanya untuk kembali ke bumi dan diberikan kepada manusia untuk seterusnya dipelihara. Manusia segera mempergunakan api itu untuk berbagai tujuan. Tentu saja manusia sangat berterimakasih kepada kebaikan Prometheus yang telah mempertaruhkan nyawanya mendapatkan api bagi manusia.
Dari singgasananya di Olimpus, Jupiter melihat di bumi cahaya yang luar biasa. Tidak lama kemudian dia mengetahui perihal pencurian api itu. Dia sangat marah dan memutuskan menghukum Promoteus tanpa ampun. Prometeus pun dibawa kepegunungan Kaukasia. Disana ia dirantai pada sebuah bukit batu. Kemudian ke tempat itu dibawa burung nasar rakus yang setiap hari harus memakan hati Prometheus. Pengoyakan hatinya dari dari rongga perut oleh paruh dan kuku burung ganas itu menyebebkan sakit yang bukan kepalang. Pada siang hari burung nasar itu mengisi perutnya dengan hati Prometeus, akan tetapi pada kesejukan malam bilamana burung itu tidur, sakit yang diderita Promoteus terhenti dan hatinya tumbuh kembali, seakan tiada ujungnya. Bayangan bahwa dia bertahun-tahun berkepanjangan akan menderita sakit yang sangat, menyebabkan Prometeus sering mengeluarkan keluhan yang menyanyat hati.

*

Bayangkan bahwa Camus lah seorang Prometheus, seorang dewa yang untuk kemanusiaan di bumi, ia mencuri api yang sesungguhnya hanya diperuntukan untuk para dewa. Aksi mencuri yang dilakukan Prometheus bisa kita sejajarkan dengan “pemberontakan” Camus atas kehidupan yang absurd. Dan hukumannya adalah ia harus menanggung hukuman bahwa ia sendiri masih berada di bumi yang absurd bersama manusia-manusia lain yang menderita oleh tidak menariknya kehidupan akibat keterasingannya dari manusia lain dan dari kemanusiaan akibat perang antara pesimisme dan konfrontasi.

Tapi sebagaimana Prometheus, apakah Camus tidak tahu dan tidak bisa meramalkan sikasaan yang harus dijalani dari pemberontakannya? Seperti kata Camus, Hermes mengolok-olok pahalawan ini: “Aku heran, bahwa kau yang setengah dewa, tidak bisa meramalkan siksaan yang sekarang kau jalani.” Tapi Promotehus menjawab bahwa “Aku sudah meramalkannya.” Dan baginya semua dewa pada dasarnya juga menderita karena kesedihan semua manusia. Mereka tahu bahwa keadilan yang buta itu tidak ada, bahwa sejarah tidak memliki mata, dan bahwa karenanya kita harus menolak keadilannya (keadilan dari sejarah yang tidak memiliki mata, buta, yang bisa menerjang siapa saja dari manusia untuk menjadi pahlawan atau sebaliknya, menjadi korban sejarah, korban keadilan) untuk diletakkan ditempatnya, dan sejauh ini hal itu bisa dilakukan, keadilan yang ditemukan oleh pikiran. Di sinilah Promotehus sekali lagi kembali ke dalam abad kita, bersama jeritannya yang menyayat dalam suara-suara erang dan jeritan deretan korban sejarah.

Di tengah situasi memprihatinkan di zaman kita sekarang mitos Prometheus yang dibangunkan Albert Camus dalam dirinya sendiri melalui pemikiran dan karya-karyanya muncul kembali, hadir untuk dengan kesadaran pada sejarah yang absurd dan buta, ia memberontak dari kegelisahan dan tempat yang dirasakannya tidak sesuai hati nurani kemanusiaan, untuk berbicara lantang menjadi pembela gigih atas nilai-nilai moral positif kita dan “manusia-manusia diam yang”, diseluruh dunia, memikul kehidupan yang telah diciptakan untuk mereka.

“Manusia zaman sekarang telah memilih sejarah, dan mereka tidak bisa dan tidak boleh memalingkan wajahnya dari sejarah. Namun alih-alih menguasainya, mereka sepakat sedikit demi sedikit setiap harinya untuk menjadi budaknya. (manusia zaman modern tentu saja memikul serangkaian penderitaan dimuka bumi ini, kekurangan makanan dan kehangatan, dan memandang kebebasan sebagai semata-mata kemewahan yang bisa menunggu) Di sini lah mereka mengkhianati Prometheus, yang ‘berani dalam pikiran dan ringan dalam hati.’” (Albert Camus, Prometheus di Dunia Bawah Tanah, 1946)
Manusia bukan mesin dan ia juga bukan budak dari alam. Ia bebas dan hidup untuk mehaluk yang lain di bumi ini sebagaimana padanya dibekali api kebudayaan. Maka bagi bagi Camus, “Prometheus adalah pahlawan yang cukup mencintai manusia untuk memberinya api dan kebebasan, teknologi dan seni. Kini umat manusia memerlukan dan hanya perduli pada teknologi….[A]pa yang menjadi ciri Prometheus adalah bahwa ia tidak dapat memisahkan mesin dari seni. Ia percaya bahwa jiwa dan tubuh bisa dibebaskan pada waktu yang sama.“

Suara jeritan yang menyanyat dari mitologi Prometheus adalah suara ajakan bagi manusia di zaman kita sekarang untuk berbicara bagi kebebasan dan keadilan seluruh manusia; berbicara sejauh dia dapat bagi mereka yang tidak dapat berbicara.”Fungsi kita hari ini tidak boleh melayani mereka yang membuat sejarah. Kita harus melayani mereka yang menjadi sasaran sejarah itu.” Itulah credo yang disampaikan Camus di balai kota Stock Holm 1957.

Sebagaimana Prometheus akhirnya dibebebaskan dari penderitaan panjangnya oleh Hercules, Albert Camus di bebaskan ketika pada awal Januari 1960, ia tewas dalam kecelakaan mobil pada umurnya yang ke 46 tahun. Dan kita sekarang boleh membayangkan bahwa ia seperti juga Mersault, bukanlah orang yang kalah, ia hanyalah orang yang telah dan masih berbahagia.

“Di depan malam ini yang penuh dengan pertanda dan bintang, aku membuka diriku untuk pertama kalinya kepada perasaan ketidakperdulian dunia. Mengakui bahwa semuanya sama saja, bahkan seakan saudaraku, maka aku pun merasakan bahwa aku dulu bahagia dan aku pun sekarang masih.” (Albert Camus, Orang Aneh, Penerbit Matahari)

“Devant cette nuit chargée de signes et d’étoiles, je m’ouvrais pour la première fois à la tendre indifférence du monde. De l’éprouver si pareil à moi, si fraternel enfin, j’ai senti que j’avais été heureux, et que je l’étais encore….”

Dan sebagaimana ia adalah Prometheus, kita mendoakan dan berterimakasih atas “api” kebebasan yang telah diberikannya melalui berbagai pemikiran dalam esai, drama, atau novelnya yang membuat kita manusia di zaman kini, zaman sesudah perang, bisa menikmati sedikit kehidupan asalkan kita bisa menjaga api kebebasan itu tetap menyala dan tidak dipadamkan dalam sebuah kotak pandora bernama “dominasi sejarah, baik dalam kehidupan berekonomi, sosial, politik, seni dan kebudayaan.

Tulisan pendek ini tidak bertujuan membuat kesimbulan dan bahasan filosofis yang tuntas, karena memang saya rencanakan untuk suatu pengantar dari tulisan yang lebih panjang, karenanya saya ingin menutup tulisan ini dengan pertanyaan untuk kita bersama: kemana kita hendak mengarahkan anak panah pemberontakan kita hari ini? Kemana jeritan Prometheus yang menyayat hati itu hendak kita perdengarkan? Atau tak perlu? (*)

*Sabiq Carebesth : Penulis dan pecinta buku. Editor in Chief Galeri Buku Jakarta. Tulisan ini diunggah pertama kali pada tahun 2012. Ditayangkan kembali untuk mengenang 103 tahun kelahiran Albert Camus.

Continue Reading

Milenia

Mary Wollstonecraft: Pikiran Tidak Memliki Jenis Kelamin

mm

Published

on

Let women share the rights and she will emulate the virtues of man—dalam sebagian besar sejarah yang tercatat, perempuan dilihat sebagai bawahan laki-laki.

Tetapi pada abad ke-18, keadilan atas stigma ini mulai ditantang secara terbuka. Di antara suara-suara yang paling menonjol dalam membongkar paradigma tentang ketertindasan perempuan adalah Mary Wollstonecraft (17591797)—seorang perempuan radikal, penulis dan filsuf berkebangsaan Inggris.

Banyak pemikir sebelumnya telah menyebutkan perbedaan fisik antara kedua jenis kelamin untuk membenarkan ketidaksetaraan sosial antara perempuan dan laki-laki. Namun, dalam masa pencerahan, yaitu selama abad ke-17, beberapa pemikir telah merumuskan pandangan dan gagasan yang mencoba mendobrak diskriminasi kepada perempuan.

Contohnya Filsuf besar John Locke yang menyatakan bahwa pengetahuan diperoleh melalui pengalaman dan pendidikan, validitas pemikiran memang dipertanyakan tapi tidak gender dari si pemikir. Artinya, sebuah gagasan atau hasil dari pemikiran dan perenungan tidak memiliki gender, bisa saja datang dari laki-laki ataupun perempuan.

Pendidikan Setara

Wollstonecraft berpendapat bahwa jika laki-laki dan perempuan diberikan pendidikan yang sama, baik laki-laki dan perempuan akan mendapatkan karakter yang sama dan pendekatan rasional yang sama terhadap kehidupan, karena pada dasarnya mereka memiliki otak dan pikiran yang sama secara mendasar.

Buku karya Wollstonecraft berjudul A Vindication of the Rights of Woman diterbitkan pada tahun 1792, isi dari karya Wollstonecraft merupakan tanggapan terhadap karya Jean-Jacques Rousseaus’s berjudul Emile (1762), yang merekomendasikan bahwa anak perempuan dididik secara berbeda dari pendidikan yang diberikan kepada anak laki-laki, dan pada akhirnya mereka akan belajar tentang rasa hormat.

Tuntutan Wollstonecraft bahwa perempuan harus diperlakukan sebagai warga negara yang setara—dengan hak hukum, sosial, dan politik—masih ditanggapi dengan penuh ejekan hingga akhir abad ke-18. Tapi hal itu akhirnya menabur benih-benih hak pilih dan gerakan feminis yang akan berkembang di abad ke-19 dan ke-20.

Wollstonecraft terus mengajak perempuan untuk menyuarakan hak politik mereka, salah satunya adalah hak untuk memilih anggota dewan yang sebelumnya suara perempuan tidak pernah dihitung. Gagasan Wollstonecraft tentang keadilan bagi perempuan telah menabur benih-benih hak politik bagi perempuan, salah satunya adalah hak untuk memilih anggota dewan.

Nama Wollstonecraft mungkin tidak seterkenal Simone de Beauvoir, namun Wollstonecraft secara tegas dan telah menginspirasi sedari mulanya, menyatakan jika gagasan dan sebuah pemikiran tidak memiliki gender. Gagasan yang baik bisa lahir dari seorang perempuan ataupun laki-laki, dan perempuan sejatinya diberikan hak yang sama dengan laki-laki baik dalam politik dan pendidikan, hingga pada akhirnya kebaikan untuk semua manusia lahir; tanpa harus menegasikan yang lain. (*)

*) diterjemahkan Susan Gui (ed; Sabiq Carebesth), dari Mary Wollstonecraft  and A Vindication of the Rights of Woman” (The Philosohy Book; DK London, 2011).

Continue Reading

Interview

Edmund Husserl: “Pengalaman Itu Sendiri Bukan Sains”

mm

Published

on

Menjelang akhir karirnya, Husserl menulis bahwa impiannya untuk meletakkan sains di atas pondasi yang kuat; telah berakhir! Apa yang terjadi? Sementara filsafat fenomenologi karyanya bahkan telah menjadi salah satu paling diminati dan menjadi pondasi bagi kemajuan filsafat sejak abad 20?

Edmund Husserl adalah filsuf yang dihantui mimpi yang latarnya telah dipenuhi oleh para pemikir sejak zaman Socrates: mimpi tentang kepastian!

Untuk Socrates, masalahnya seperti ini: meskipun kita mudah mencapai kesepakatan tentang pertanyaan yang berkaitan dengan hal-hal yang dapat kita ukur (misalnya, “berapa banyak zaitun yang ada di botol ini?”), namun ketika sampai pada pertanyaan filosofis seperti “apakah keadilan itu?” atau “apa itu kecantikan?”, sepertinya tidak ada cara yang jelas untuk mencapai kesepakatan definisi atas pertanyaan itu. Dan jika kita tidak tahu pasti apa itu keadilan, lalu bagaimana kita bisa berbicara tentang keadilan itu?

Masalah Kepastian

Husserl adalah seorang filsuf yang memulai “keheranannya” sebagai seorang matematikawan. Dia bermimpi dan terus memikirkannya; permasalahan seperti “apa itu keadilan?” bisa diselesaikan seperti bagaimana seorang menyelesaikan masalah matematika “berapa banyak zaitun yang ada di toples?” dengan kata lain, Husserl berharap untuk menempatkan semua ilmu pengetahuan—apapun cabang pengetahuan dan aktifitas manusia, dari matematika, kimia dan fisika hingga etika dan politik–dalam dasar yang lebih utuh.

Teori-teori ilmiah didasarkan pada pengalaman. Tetapi Husserl percaya bahwa pengalaman saja tidak menambah ilmu pengetahuan, karena sebagaimana diketahui oleh semua ilmuwan, pengalaman penuh dengan semua jenis asumsi, bias, dan kesalahpahaman.

Husserl ingin melepaskan semua ketidakpastian ini untuk memberikan kepada ilmu pengetahuan suatu pondasi dasar yang pasti.

Untuk melakukan ini, Husserl menelaah pemikiran filsafat dari seorang filsuf abad ke-17; Rene Descartes. Seperti Husserl, Descartes ingin membebaskan filsafat dari semua asumsi, bias, dan keraguan. Descartes menulis bahwa meskipun hampir semuanya bisa diragukan, ia tidak dapat meragukan bahwa ia meragukannya—layaknya adagium cogito ergo sum—saya berpikir maka saya ada.

Fenomenologi

Husserl mengambil pendekatan yang mirip dengan Descartes, tetapi menggunakannya secara berbeda. Dia menyarankan bahwa jika kita mengadopsi sikap ilmiah untuk mengalami, mengesampingkan setiap asumsi yang kita miliki (bahkan termasuk asumsi bahwa dunia eksternal ada di luar kita), maka kita dapat memulai filsafat dengan bersih, bebas dari semua asumsi.

Husserl menyebut pendekatannya ini dengan “fenomenologi”: penyelidikan filosofis tentang fenomena pengalaman. Kita perlu melihat pengalaman dengan sikap ilmiah, meletakkan ke satu sisi (atau “mengurung keluar” sebagaimana Husserl menyebutnya) setiap asumsi kita. Dan jika kita melihat dengan hati-hati dan cukup sabar, kita dapat membangun landasan pengetahuan yang dapat membantu kita mengatasi masalah filosofis yang telah ada bersama kita sejak awal filsafat.

Namun, para filsuf yang berbeda mengikuti metode Husserl dan mendapatkan hasil yang berbeda, dan ada sedikit perbedaan tentang apa sebenarnya metode itu, atau bagaimana seseorang mempraktikkannya.

Menjelang akhir karirnya, Husserl menulis bahwa impiannya untuk meletakkan sains di atas pondasi yang kuat; telah berakhir!

Tetapi meskipun fenomenologi Husserl gagal mendorong filsafat dengan pendekatan ilmiah untuk pengalaman, atau untuk memecahkan masalah filsafat yang telah bertahan lama, tetapi pemikiran Husserl bagaimana pun telah melahirkan salah satu tradisi terkaya dalam pemikiran abad ke-20. (*)

*) diterjemahkan Susan Gui (ed; Sabiq Carebesth), dari Edmund Husserl and Phenomenology  (The Philosohy Book; DK London, 2011).

Continue Reading

Kajian

Jacques Derrida dan Dekonstruksi Anti Marxis?

mm

Published

on

Belum lama ini, Jacques Derrida memperluas lingkup karyanya saat buku karangannya tentang Marx terbit. Ia mengatakan bahwa filsafat dekonstruksinya tidak bisa secara sederhana dikatakan sebagai anti-Marxis. Maka, sekarang ini, ada yang menunggu-nunggu untuk melihat apakah ada unsur politik dalam gramatologi Derrida.

Derrida, seorang Yahudi Aljazair, lahir di Aljazair pada tahun 1930 dan pindah ke Prancis pada tahun 1959. Ia belajar di Ecole Normale Superieure (re d’Ulm) di Paris, dan mulai memperoleh perhatian publik pada akhir tahun 1965 saat ia menerbitkan dua artikel panjang yang mengulas buku-buku tentang sejarah dan bentuk penulisan pada sebuah jurnal Paris, Critique.[1] Karya ini membentuk landasan bagi buku Derrida yang mungkin paling terkenal, yiatu Of Grammatology.

Ada sejumlah kecenderungan penting yang mendasari pendekatan Derrida pada filsafat, dan lebih khusus lagi, pada tradisi pemikiran Barat. Yang pertama adalah pemkiran untuk bercermin pada tradisi pemikiran Barat dan mengurangi ketergantungan tradisi ini pada logika identitas. Logika identitas diturunkan dari karya Aristoteles, dan, seperti kata Bertrand Russell, terdiri atas unsur-unsur pokok berikut:

  1. Hukum identitas: “Sesuatu adalah sesuatu itu sendiri.”
  2. Hukum kontradiksi: “Sesuatu tidak bisa serentak menjadi ada dan tiada.”
  3. Hukum tidaknya yang berada di tengah: “Antara ada dan tiada tidak boleh ada apa pun juga.”[2]

“Hukum-hukum” pikiran ini tidak hanya mengandaikan adanya suatu koherensi logis, mereka juga mengarah ke sesuatu yang mendalam dan mencirikan tradisi yang terkait dengan suatu realitas pokok – asal usul – yang merujuk hukum-hukum ini. Untuk memelihara koherensi logisnya, asal usul ini haruslah “sederhana” (yaitu bebas dari kontradiksi), homogen (berupa substansi dan keteraturan yang sama), sesuai dengan dirinya sendiri (yaitu berada terpisah dan berbeda dari segala pengantaran, sadar akan dirinya sendiri tanpa ada kesenjangan antara asal usul dengan kesadaran). Jelas bahwa “hukum-hukum” ini menghendaki dikesampingkannya ciri-ciri tertentu seperti: kerumitan, pengantaran, dan perbedaan – singkatnya ciri-ciri yang memunculkan “ketidakmurnian”, atau kerumitan. Proses pengesampingan ini berlangsung dalam tataran umum, metafisis, di mana di dalamnya dilembagakan satu keseluruhan sistem konsep (yang terindra-yang terpikirkan; ideal-nyata; internal-eksternal; fiksi-kebenaran; alam-kultur; lisan-tulisan; keaktifan-kepasifan, dan sebagainya) yang mengendalikan proses pemikiran yang berlangsung di Barat.

Melalui suatu pendekatan yang disebut sebagai “dekonstruksi”. Derrida memulai penelitian mendasar pada bentuk tradisi metafisis Barat dan dasar-dasarnya dalam hukum-hukum identitas. Secara kasar bisa dikatakan bahwa hasil dari penelitian ini tampaknya menyingkap sebuah tradisi yang dipenuhi dengan paradoks dan aporia logis – seperti yang ada dalam filsafat Rousseau berikut ini.

Suatu ketika Rousseau berpendapat bahwa kita harus mendengarkan suara alam. Alam ini identik dengan dirinya sendiri, suatu kumpulan yang tidak perlu ditambah atau dikurangi. Akan tetapi, ia juga menunjuk pada kenyataan bahwa kadang-kadang dalam alam itu terdapat kekurangan – sebagaimana halnya seorang ibu tidak bisa memberikan air susu yang cukup kepada anaknya. Sekarang ini keadaan berkekurangan dilihat sebagai yang umum terdapat di alam, jika bukan sebagai karakteristiknya yang paling umum. Oleh sebab itu, Derrida menunjukkan bahwa alam yang menurut Rousseau itu “cukup-diri” ternyata juga berkekurangan.[3] Keadaan berkekurangan ini malah mengganggu kecukupan diri alam itu sendiri – yaitu identitasnya, atau seperti kata Derrida, kehadiran dirinya. Kecukupan diri alam hanya bisa dipenuhi bila kekurangan ini bisa ditutup. Walaupun begitu, agar logika identitas bisa dipertahankan, kalaupun alam memerlukan penambahan ia juga tidak bisa cukup dengan dirinya sendiri (identik dengan dirinya). Ini karena kecukupan diri dan kekurangan adalah dua hal yang paling bertentangan: salah satu bisa menjadi landasan identitas, tetapi bukan kedua-duanya bila kontradiksi ingin dihindari. Ketidakmurnian identitas, atau dilemahkannya eksistensi diri ini tidak bisa dihindarkan karena, pada umumnya setiap asal usul yang tampaknya “sederhana” mungkin saja datang dari yang bukan asal usul. Manusia memerlukan pengantaran kesadaran, atau cermin bahasa, untuk bisa memahami diri sendiri dan dunia; akan tetapi, pengantaran atau cermin (ketidakmurnian) ini harus disingkirkan dari proses perolehan pengetahuan. Kedua hal itu memang memungkinkan diperolehnya pengetahuan, tetapi tidak termasuk di dalam proses itu. Jika demikian halnya, seperti pada filsafat kaum fenomenologis, maka semua ini (kesadaran, subjektivitas, bahasa) menjadi setara dengan sejnis keberadaan yang identik dengan dirinya.

Proses “dekonstruksi” yang meninjau dasar-dasar pemikiran Barat modern tidak dilakukan dengan harapan agar paradoks atau kontradiksi ini juga tidak mengklaim bahwa ia bisa melepaskan diri dari hal-hal yang mendasari tradisi ini dan membentuk suatu sistem yang berlandaskan pada pemahamannya sendiri. Akan tetapi, perlu dipahami bahwa di sini terpaksa digunakan konsep-konsep yang sebenarnya tidak bisa dipertahankan dalam kerangka klaim yang dibuatnya untuk itu. Singkatnya, ia juga (paling tidak untuk sementara) harus mendukung klaim-klaim ini.

Secara filosofis, dorongan untuk melakukan dekonstruksi tidak hanya untuk menunjukkan bahwa “hukum-hukum” pemikiran itu tidak lengkap. Akan tetapi, kecenderungan yang tampak jelas dalam oeuvre Derrida adalah untuk membangkitkan pengaruh, untuk membuka wilayah baru dalam dunia filsafat sehingga terus bisa menjadi ajang kreativitas dan penemuan baru. Pengertian tentang perbedaan, atau differance, mungkin mengarah kepada kecenderungan kedua yang tampak dalam karya Derrida – yang terkait erat dengan keinginan untuk terus memelihara kreativitas dalam filsafat.

Differance adalah istilah yang diusulkan Derrida pada tahun 1968 dalam hubungannya dengan penelitiannya tentang teori Saussurean dan teori bahasa sturkturalis. Bila Saussure bersusah payah dalam upayanya untuk menunjukkan bahwa dalam bentuknya yang paling umum bahasa bisa dipahami sebagai suatu sistem perbedaan, “tanpa isitilah positif”, maka Derrida melihat bahwa implikasi penuh dari konsep ini tidak dipahami baik oleh kaum strukturalis kontemporer maupun Saussure sendiri. Perbedaan tanpa istilah positif menghendaki secara tak langsung bahwa dimensi bahasa ini harus tetap tidak bisa dikonsepkan. Pada Derrida, perbedaan menjadi prototipe dari hal-hal yang tetap berada di luar lingkup pemikiran metafisis Barat karena kondisi kemungkinan pemikiran ini. Tentu saja, dalam kehidupan sehari-hari orang-orang berbicara tentang segala perbedaan. Sebagai contoh, kita katakan bahwa “x” (yang memiliki kualitas tertentu) berbeda dari “y” (yang memiliki kualtias lain), dan yang biasanya kita maksudkan adalah bahwa di sini dimungkinkan untuk mengungkapkan segala kualitas yang mengakibatkan segala perbedaan ini. Walaupun begitu, ini sebenarnya memberikan pemahaman positif terhadap perbedaan – yang menghendaki bahwa ia bisa berbentuk suatu gejala – sehingga hal ini bukanlah merupakan perbedaan yang dinyatakan Saussure, yaitu yang secara efektif tidak bisa dikonsepkan. Oleh sebab itu, menjadi jelaslah alasan pertama neologisme Derrida: ia ingin memisahkan perbedaan menurut akal sehat yang bisa dikonsepkan dengan perbedaan yang tidak dikembalikan kepada tatanan yang sama dan menerima identitas melalui suatu konsep. Perbedaan itu bukanlah suatu identitas; ia juga bukan merupakan perbedaan dari dua identitas yang berbeda. Perbedaan adalah perbedaan yang di-tunda (defer) – dalam bahasa Prancis, kata kerja yang sama (defferer) bisa berarti membedakan (to differ) atau menangguhkan (to defer). Differance mengingatkan kita pada sekumpulan istilah yang berkembang dalam karya Derrida di mana strukturnya mutlak bersifat ganda: pharmakon (baik racun maupun obat); supplement (baik surplus maupun tambahan yang diperlukan); hymen (baik yang berada di luar maupun yang berada di dalam).

Pembenaran lain untuk neologisme Derrida juga datang dari teori bahasa Saussure. Menurut Saussure, tulisan itu bersifat sekunder bila dibandingkan dengan wicara yang diucapkan oleh semua anggota komunitas bahasa. Bagi Saussure, tulisan itu bahkan merupakan suara bentuk bahasa yang “cacat bentuk” dalam pengertian bahwa (melalui tata bahasa) ia dianggap menjadi representasi sejati darinya, sedangkan Saussure menfklaimbahwa pada kenyataannya esensi bahasa terkandung didalam wicara yang dijalani, yang selalu berubah. Derrida mempertanyakan perbedaan ini, karena dalam perbedaan, ia melihat bahwa baik Saussure maupun kaum strukturalis (bdk. Levi-Strauss) meninjau bahasa tulisan dengan menggunakan pengertian tulisan seperti yang ada dalam kehidupan sehari-hari, yaitu yang berusaha mengabaikan segala kerumitan. Oleh sebab itu, tulisan dianggap sebagai yang sepenuhnya bersifat grafis, yang mungkin bisa membantu ingatan, namun dibandingkan wicara ia tetap bersifat sekunder; secara mendasar ia dianggap fonetik, dan mewakili suara dari bahasa. Wicara itu sendiri dianggap lebih dekat dengan pikrian, yang berarti pada emosi, gagasan, dan kehendak si pembicara. Oleh sebab itu, sebagai primer dan yang lebih asli, wicara dipertentangkan dengan tulisan yang bersifat sekunder dan representatif. Sebagai seorang gramatologis (teoretisi tentang tulisan) Derrida berusaha menunjukkan bahwa pembedaan ini tidak bisa bertahan. Sebagai contoh, istilah differance itu sendiri memiliki unsur grafis yang tak tereduksi lagi, yang tidak bisa diamati pada tataran suara. Selain itu, klaim yang mengatakan bahwa tulisan fonetik itu seluruhnya bersifat fonetik, atau wicara itu seluruhnya terkait dengan pendengaran menjadi dipertanyakan saat tanda baca yang sepenuhnya bersifat rafis muncul, bersama dengan saat diam (spasi) dalam wicara yang tidak bisa terwakili.

Entah bagaimanapun, seluruh oeuvre Derrida merupakan suatu penjelajah bentuk tulisan dalam pengertiannya yang paling luas sebagai suatu differance. Sampai pada titik tulisan itu mencakup unsur-unsur piktografik, ideografik, dan fonetik, tulisan memang tidak identik dengan dirinya sendiri. Oleh sebab itu, tulisan itu selalu tidak murni, dan dengan demikian menantang pengertian tentang identitas, dan akhirnya pengertian tentang asal usul sebagai sesuatu yang “sederhana”. Hal ini bisa seluruhnya ada atau tidak ada, tetapi ini adalah jejak dari penghapusannya dalam upaya mengejar transparansi. Lebih dari itu, di satu sisi tulisan itu lebih “asli” daripada bentuk fenomenalnya. Tulisan sebagai jejak, tanda, grafen menjadi prasyarat bagi semua bentuk fenomental. Pengertian inilah yang secara implisit terdapat dalam salah satu bab Of grammatalogy yang berjudul “The end of the book and the beginning of writing”. Bab ini menunjukkan bahwa dalam pengertiannya yang ketat, tulisan itu bersifat semu, bukan fenomenal; ia bukan apa yang dihasilkannya, melainkan yang memungkinkan dihasilkannya sesuatu. Ia membangkitkan seluruh medan sibernetika, matematika teoretis, dan teori informasi.[4]

Dalam perenungan tentang tema-tema keksusastraan, seni dan psikoanalisis, seperti juga tema-tema fislafat sejarah, salah satu strategi Derrida adalah menampakkan “ketidakmurnian” tulisan (dan identitas apa pun). Derrida sering berupaya memberikan pembenaran secara filosofis dengan menerapkan strategi retoris, grafis, dan puitis (seperti pada Glas, atau The Post Card: From Socrates to Freud and Beyond) sehingga menyadarkan para pembaca akan kaburnya perbatasan antara disiplin (seperti filsafat dan sastra), dan materi-subjek (seperti karya tulis/filsafat dan autobiografi). Dalam presentasi pertamanya di Sorbonne pada tahun 1968 yang membahas difference secara lebih luas dan mendalam, seorang hadirin yang kritis mengatakan, meskipun dengan penuh penyesalan, “Dalam karya Anda, ungkapan itu begitu penting sehingga perhatian pendengar terus-menerus terpecah dan terarah, di satu sisi kepada cara Anda berbicara, dan di sisi lain kepada hal yang ingin Anda katakan.”

Derrida kemudian menjawab hal ini dengan mengatakan, “Saya berusaha menempatkan diri saya pada satu titik di mana hal yang ditandakan tidak lagi bisa dibedakan dengan mudah dari penandanya.”[5]

Petunjuk yang mengatakan tentang tidak mungkinnya memisahkan secara ketat dimensi puitis-serta-retoris naskah (tataran penanda) dari “kandungan” pesan atau makna (tataran yang ditandakan) adalah gerakan yang paling penting dan kontroversial dalam seluruh eksplorasi yang dilakukan Derrida. Meskipun beberapa kritikus sastra Amerika cukup tertarik pada strategi ini, ada yang berpikir sampai sejauh mana sang filsuf mampu mengendalikan strategi ini (secara sadar). Jika perbatasan disiplin dan genre sebenarnya adalah konvensi dengan sejarah tertentu – yaitu, bila mereka dibangun berdasar semacam keyakinan – di sini ada kemungkinan besar untuk merusaknya. Maka yang kemudian dirusak sebenarnya adalah prinsip kerja yang relatif rapuh, bukan suatu prinsip pokok yang sangat mendasar. Dalam karya Laclau (yang diilhami oleh Derrida) tentang teori politik, kerapuhan identitas inilah yang tampaknya memberikan kesegaran baru pada politik. Karena identitas adalah hasil bentukan dan bukan yang paling dasar, mereka pasti rapuh, tetapi tidak kurang penting.

Dari sudut “Yang Lain”, karya Derrida membuka suatu kreativitas baru yang olehnya minat terhadap tulisan sebagai gramatologi memiliki dampak praktis. Di sini kita ingat Derrida pernah menunjukkan bahwa landasan prinsip-prinsip metafisis itu rapuh dan sangat mendua. Karena ia memiliki identitas yang tetap, maka apa yang benar dan “sesuai” (seperti kata benda nama diri), akhirnya akan memunculkan suatu dekonstruksi dari yang “sesuai” ini (misalnya, sebuah nama tidak hanya menunjuk ke suatu objek atau pribadi yang sederhana, “nyata”, atau fenomenal; karena ia juga memiliki dimensi retoris yang memungkinkan adanya permainan kata). Bila sebuah nama diri ditunjukkan sebagai yang “tidak” sesuai, muncullah “tulisan” dalam pengertian Derrida. Nama penyair Prancis, F. Ponge (yang dalam sebuah esai terkenal Derrida diubah menjadi eponge [spon]), menjadi sumber tulisan filosofis yang kreatif dan kritis. Dalam bahasa Inggris, agar muncul serangkaian asosiasi yang “tidak tepat” (improper), kita hanya perlu memikirkan Wordsworth dan “joy” (kegembiraan) dalam nama Jocye. Melalui permainan kata, anagram, etimologi, atau berbagai ciri diakritis (ingat “joy” pada Joyce), nama diri bisa dikaitkan dengan berbagai sistem konsep, gagasan, atau kata-kata (termasuk yang ada dalam bahasa lain). Selain itu Derrida sebenarnya mengaitkan nama diri dengan berbagai jenis citra (imaji) dan suara sehingga, dari satu sudut pandang, naskah rujukan tampak memiliki hubungan yang sangat sedikit dengan naskah yang diulas (lihat perlakuannya terhadap karya Jean Genet dalam Glas; atau esai Signeponge tentang karya Francis Ponge). Sebenarnya, bila kritik sastra tradisional cenderung mencari kebenaran (baik itu semantik, puitis, maupun ideologis) pada naskah sastra yang ditulis sesamanya, dan kemudian menerapkan peranan sekunder dan terhormat saat berhadapan dengan “keunggulan” naskah tersbut, Deriida malah mengubah naskah “primer” menjadi sumber ilham dan kreativitas baru. Sekarang ini para kritikus/pembaca tidak lagi hanya melakukan penafsiran (yang memang tidak pernah sepenuhnya demikian), tetapi bahkan menjadi “penulis”.

Selain itu, bila akal sehat cenderung mengandaikan bahwa keberulangan kurang lebih merupakan kualitas bahasa yang bersifat kebetulan, sehingga kata, frase, kalimat, dan sebagainya bisa diulang-ulang dalam konteks yang berbeda-beda, maka sebenarnya ini adalah kualitas yang menurut Derrida memisahkan tataran penanda dengan yang ditandakan. Oleh sebab itu, jika makna itu terkait dengan konteks, maka dalam kaitannya dengan struktur bahasa, tidak akan ada konteks yang tepat untuk memberikan bukti pada makna akhir. Seperti dikatakan Jonathan Culler, konteks itu tak terbatas. Perdebatan Derrida dengan filsuf Amerika, John R. Searl tentang teori “perfomatif” dari J.L. Austin adalah persis tentang hal ini. Bila Austin berupaya untuk membuat perfomasi yang sesuai (melakukan sesuatu dengan mengatakannya – seperti saat membuat janji) bergantung pada realisasinya dalam konteks yang tepat oleh pelaku yang tepat, maka perfomasi yang tidak sesuai – seperti saat sseseroang mengucapkan “saya mau” di luar upacara perkawinan, atau saat rapat dibuka oleh orang yang salah – tidak bisa dihapuskan dari bahasa. Derrida menegaskan, hal ini terjadi karena ketidaksesuaian terkandung di dalam struktur perfomatif itu sendiri: kualitas keberulangan berati bahwa bahasa – termasuk tanda tangan – bisa dipakai oleh siapa pun pada setiap saat. Oleh sebab itu, keberulangan mensyaratkan kemungkinan adanya tanda tangan yang dipalsukan.

Singkatnya, pencarian filosofis Derrida ini mengklaim untuk melakukan dekonstruksi terhadap semboyan-semboyan yang dipakai secara luas baik dalam dunia akademik maupun dalam bahasa kehidupan sehari-hari. Bahasa sehari-hari itu tidak netral; di dalamnya terdapat berbagai pra-anggapan dan asumsi kultural dari keseluruhan tradisi. Pada saat yang sama, penataan ulang secara kritis pada landasan filsofis dari tradisi ini, mungkin secara tak terduga, menghasilkan suatu penekanan baru terhadap otonomi individu dan kreativitas peneliti/filsuf/pembaca. Mungkin unsur yang bersifat anti-populis tetapi juga anti-Platonis dalam gramatologi adalah sumbangan Derrida yang paling penting bagi pemikiran zaman sesudah perang. (*)

[1] Lihat Jacques Derrida, ‘De Ia grammatologie (I), Critique, 223 (Desember 1965), hlm. 1016-1042; dan ‘De la grammatologie (II)’, Critique, 224 (Januari 1966), hlm. 23-53.

[2] Bertrand Russell, The Problems of Philosophy, London, New York, Oxford University Press, dicetak ulang tahun 1973, hlm. 40.

[3] Jacques Derrida, Of Grammatology, diterjemahkan oleh Gayatri Chakravorty Spivak, Baltimore dan london, Johns Hopkins University Press, 1976, hlm. 145.

[4] Ibid., hlm. 9

[5] David Wood dan Robert Bernasconi (ed.), Derrida and Differance’, Evanston, Northwestern University Press, 1988, hlm. 88.

Continue Reading

Classic Prose

Trending