Connect with us

Cerpen

Albert Camus: Antara  Ya dan Tidak

mm

Published

on

BILA benar satu-satunya surga adalah yang telah hilang itu, aku tahu apa nama sesuatu yang lembut dan tak berbelas yang menyelinap ke dalam diriku hari ini. Seorang emigran kembali ke tanah asalnya. Dan aku ingat, Ironi, geram , semua bisu, dan disinilah aku dipulangkan. Aku tak hendak mempertimbangkan kebahagiaanku. Banyak hal yang lebih sederhana dan mudah daripada itu. Sebab dalam jam-jam ketika kugali kenangan dari dasar kealpaan, maka muncul kenangan dari emosi yang murni, yang suatu ketika tergantung di keabadian. Itu saja yang benar bagiku dan aku selalu terlambat menjalani itu. Kita bersuka dalam getar gerak-tangan yang diam, dalam kesantunan sebatang pohon dalam satu panorama. Dan semua yang kita miliki untuk menciptakan kembali cinta adalah suatu detail, tetapi detail yang tidak sempurna: bau suatu kamar yang sudah lama tertutup rapat atau langkah-langkah ganjil di jalanan. Dan bila aku mencintai pada waktu itu, maka aku hanya mencintai diriku sendiri, karena cinta memulihkan kita kapada diri kembali.

Lambat, tenang, dan lamban jam-jam itu kembali hanya bagai gerak—karena saat itu senja, jam itu sedih dan langit tak berbintang; semacam kerinduan yang samar. Setiap gerak-tangan yang tertangkap kembali berkata pada diriku sendiri. Sekali seseorang berkata, “Begitu sulit hidup ini.” Aku ingat nada ucapannya itu. Satu kali yang lain seseorang bergumam, “Kesalahan terburuk, bertapapun, adalah membuat orang lain sengsara. “Bila semua telah lewat, rasa haus akan hidup pun padam. Itukah kebahagiaan? Bila kita menoleh ke belakang kenangan-kenangan itu, dan kita selubungi semua itu dengan rasa murung yang sama, maka muncullah kematian bagai dengan yang cepat. Kita mencintai masa lampau kita, kita rasakan kembali kesengsaraan kita dan kita mencintai yang lebih baik dariapda itu. Ya, barangkali itulah kebahagiaan; perasaan cinta akan ketidakbahagiaan kita.

Seperti itu pula senja ini. Di dalam kafe Habsi, di suatu pojok yang paling jauh dari kota, aku tidak ingat akan kebahagiaan yang lalu, tetapi pada suatu perasaan asing. Hari telah malam. Di dinding-dinding, tampak syeik-syeik berserban hijau dikejar singa-singa kuning-kenari, di antara batang-batang palma yang rimbun daunnya. Di sudut kafe, menyala sebuah lampu asetilen dengan cahaya yang gemetar. Penerangan yang sebenarnya adalah tungku keramik di pendiangan, yang nyala cahayanya menjilati tengah ruang itu, dan aku merasakan bayangan yang sebentar-sebentar terlempar ke mukaku. Aku tepat menghadap ke pintu dan teluk. Pemilik kafe yang membungkuk di pojok seperti sedang memperhatikan gelasku yang telah kosong, di dasar mana selalu tercetak uang untuknya. Tak seorang pun di tengah hiruk-pikuk kota, dan lebih ke bawah lagi tampak sinar-sinar lampu di teluk. Kudengar napas Arab itu amat keras, matanya berkilau di kegelapan. Inikah suara laut di kejauhan itu? Menurut perasaanku, bumi seperti sedang menarik napas panjang di depanku dengan irama yang panjang pula, dan menyeretku pada ketidakpedulian dan ketenangan yang tak kunjung mati. Lukisan singa-singa di dinding tampak berombak di antara bayang-bayang merah yang besar, yang dibentuk oleh nyala api di pendiangan. Lampu-lampu menara mulai menyala: hijau, merah lalu putih. Dan napas panjang bumi terus terdengar; semacam lagu rahasia yang lahir dari ketakpedulian itu. Dan di sinilah aku dipulangkan kembali. Aku ingat ada seorang bocah yang hidup di lingkungan yang miskin ini. Alangkah miskin lingkungan dan rumah itu! Rumah itu hanya berlantai satu dan tak ada lampu di tangga. Dan sekarang, bertahun-tahun kemudian, ia kembali ke sana di tengah malam ini. Ia tahu, bahwa ia akan menaiki tangga itu secepat-cepatnya tanpa sekalipun luput menginjakkan kakinya. Tubuhnya sudah sangat lekat dengan rumah itu. Tangannya masih mengenali susuran-tangga, sungguhpun selalu ada kengerian yang tak pernah bisa diatasinya, dan itu karena lipas yang biasa merayap di pegangan susuran-tangga itu.

PADA sore hari di musim panas laki-laki pekerja kebanyakan duduk di tingkat atas. Di rumahnya hanya ada sebuah jendela kecil. Demikianlah, maka mereka biasa mengangkat kursi ke depan rumah dan menikmati senja di sana. Ada sebuah jalan di depan rumahnya, tukang susu tinggal di sebelah dan di seberang jalan ada kafe-kafe dan suara anak-anak riuh berlarian dari pintu ke pintu.

Tetapi di atas semua ini, di antara batang-batang pohon ficus, adalah langit. Ada ketenangan di lorong yang melarat itu, teapi suatu ketenangan yang mengangkat seluruh nilai ke harkat yang sebenarnya. Pada tingkat perasaan tertentu, langit itu sendiri dan malam yang berbintang adalah kekayaan yang fitri. Tetapi, pada pertimbangan ini, langit merebut kembali artinya yang penuh: keindahan yang tak tertara.

Malam-malam musim panas adalah misteri-misteri yang sarat dengan beban bintang-bintang. Di belakang punggung bocah itu ada jalan ke ruang rumahnya yang berbau apak dan ke kursinya yang kecil, yang didudukinya seperti terpaku di tanah. Tetapi matanya menatap ke atas dan ia seperti tenggelam dalam malam yang bening itu. Sekali-kali melintas kereta lori dengan cepat. Seorang pemabuk bernyanyi sempoyongan di sudut jalan, tanpa menyadari bahwa ia merusak kehendingan malam.

                Ibu bocah itu selalu diam. Sering orang menanyainya, “Apa yang sedang kaupikirkan?” Dan jawabnya selalu, “Tidak ada.” Itu memang  benar. Segalanya ada di sana, maka tiada. Hidupnya, apa-apa yang menjadi perhatiannya, anak-anaknya, semuanya disana; terlalu fitri untuk dirasa.

Dia lemah dan sulit berpikir. Ibunya yang culas dan menguasainya sudah lama mengatasi jiwanya yang lemah. Sungguhpun ia kemudian diselematkan oleh perekawinannya, toh ia mesti pulang ke ibunya lagi sesudah suaminya meninggal. Bintang eroix de guerre untuk suaminya, yang biasa disebut orang “gugur sebagai bunga banngsa”, terpasang di suatu tempat di dinding; sebuah medali berbingkai yang disepuh emas.

Perempuan janda itu juga menerima kiriman pecahan granat yang ditemukan di luka suaminya. Janda itu menyimpannya dengan patuh dan penuh kasih. Dukacitanya adalah sesuatu yang telah lampau. Ia sudah melupakan suaminya, tetapi masih selalu bicara tentang ayah anak-anaknya. Ia bekerja sekadar untuk anak-anaknya, dan memberikan uang hasil kerjanya pada ibunya. Sedang ibunya mendidik anak-anak itu dengan cambuk di tangan. Bila ibunya memukul mereka terlalu keras, perempuan janda itu berkata, “Jangan memukul di kepala.” Karena  anak-anak itu ia yang melahirkan, dan ia sayang pada mereka. Ia mencitai anak-anak itu dengan cinta kasih yang tak pernah diucapkan. Pada malam-malam seperti yang dihadapinya sekarang, bocah itu ingat, perempuan yang sudah menjada itu pulang dari kerjanya yang berat (ia menjadi tukang membersihkan rumah), dan akan ditemukannya rumah itu kosong. Ibunya, si pemegang cambuk, tentu sedang keluar berbelanja dan anak-anaknya masih sekolah. Lalu ia akan duduk terbenam dan bungkam di atas kursi dengan mata terus menatap kosong ke suatu celah di lantai. Malam akan semakin larut di sekitarnya, dan di tengah kegelapan, kebisuan semacam itu seolah sesuatu yang sakral; yang tak tertahankan. Bila si bocah masuk pada saat itu, maka akan gemetarlah pundaknya dan si bocang berhenti; ia takut.

Ia mulai merasakan berbagai hal. Ia mulai menyadari kehadiran dirinya. Tetapi ia seperti ditikam untuk menangis dalam kekelaman itu; kekelaman yang seperti meradang. Ia kasihan pada ibunya. Apakah itu berarti ia mencintai ibunya? Ibunya tak pernah membela atau mengusapnya, karena tak tahu untuk apa.

Lalu si bocah akan diam berdiri di sana tanpa bergerak sedikit pun; memperhatikan ibunya. Bila sesuatu yang ganjil telah mencekamnya, maka si bocah akan measakan pedih luka di dalam dirinya. Ibunya tak akan mendengarnya karena letihnya. Si perempuan tua pemegang cambuk itu akan pulang sebentar kemudian; hidup akan kembali normal—menyalakan lampu kerosen dengan cahaya yang gemetar, lampu minyak tanah, teriakan-teriakan dan kata-kata jorok. Tetapi sejenak keheningan tadi masih mencercahkan suatu titik henti; suatu saat yang tak tergapai. Sebab ia telah merasakannya. Ia mengira bahwa muntahan rasa yang berguncang dalam dirinya itu adalah cinta terhadap ibunya. Dan ia memang patut mencitainya, karena biar bagaimana, itu adalah ibunya.

Perempuan itu tidak memikirkan apa-apa. Di luar ada cahaya dan suara hirup-pikuk; di sini keheningan malam. Bocah itu akan menjadi besar, dan ia akan belajar. Mereka membesarkannya dan mereka mengharapkan terima kasihnya, karena mereka sudah menderita untuknya. Ibunya akan selalu berada dalam pesona keheningan itu. Dan ia akan tumbuh dalam penderitaan. Jadilah laki-laki; itu saja yang masuk hitungan. Neneknya akan mati, lalu ibunya, dan ia sendiri.

Perempuan janda itu lalu terloncat dari kursi karena ketakutan. Si bocah kelihatan tolol menatap ibunya seperti itu. Biarkan ia menggarap rumahnya. Si bocah sudah menggarap pekerjaan rumahnya. Hari ini di kafe yang kumal. Ia sekarang laki-laki. Bukankah itu yang masuk hitungan? Jawabnya mesti tidak, karena menggarap pekerjaan rumah dan setuju menjadi laki-laki adalah untuk menjadi tua.

ARAB itu nongkrong saja di pojok dengan melipat kaki dan tangannya berpeluk pada lutut. Dari teras mengambang bau kopi yang menyodok hidup bersama senda-gurau yang meriah dari orang-orang muda. Motor bot terdengar lagi di kejauhan, dalam dan lembut. Bumi damai di sini, seperti biasanya tiap hari. Betapa tahan dan tetap tak berubahnya perangai ibu yang ganjil itu! Hanya kedamaian bumi yang dapat berkata padanya apa itu sebenarnya. Suatu malam, anaknya—yang sudah dewasa—dipanggilnya. Ia telah mengalami guncangan yang menyebabkan datangnya gangguan pikiran yang berat. Perempuan itu biasa duduk-duduk di tingkat atas waktu sore dan malam hari. Lalu matanya akan mengikuti orang-orang yang lalu-lalang. Di belakang punggungnya, malam semakin larut. Di depannya, toko-toko akan segera menyalakan lampu-lampu. Jalanan akan dipenuhi orang-orang yang lewat dan cahaya lampu.

Ia lalu akan hilang-diri dalam renungan tanpa tujuan itu. Pada  malam yang masih diragukan itu datang seorang lelaki dengan tiba-tiba dan menyeretnya, lalu melakukannya dengan kasar dan kemudian lari  karena terdengar suara-suara ribut. Perempuan itu tak melihat apa-apa lagi, lalu jatuh pingsan. Ia memutuskan, atas nasihat dokter, untuk menemani ibunya  di kamarnya. Ia merentangkan tubuhnya di sebelah ibunya dengan selimut di atasnya.

Waktu itu musim panas. Ketakutan yang ditimbulkan kejadian tadi lama menempel di kamar yang terlalu pengap itu. Langkah-langkah kaki berderap, detap daun pintu dibuka dan ditutup; bergerit-gerit. Di udara, mengambang bau masam minuman yang biasa ditaruh di kamar orang sakit. Perempuan itu membolak-balik dalam tidurnya, mengerang dan kadang-kadang terbangun karena terkejut. Ia berulang kali membangunkannya dari tidur yang gelisah, dan biasanya ia sendiri yang kemudian mandi peluh. Dan sesudah terjaga, perempuan itu akan jatuh tidur setelah bolak-balik melihat arloji tangannya dan nyala lampu yang menari ke sana-kemari. Dan ia merasa, betapa sendirinya mereka pada malam yang begitu sunyi. Sendiri sama sekali. Orang-orang lain tidur nyenyak, sementara mereka berdua terserang demam. Semua yang ada dalam rumah tua itu kosong rasanya. Bila kereta lori tengah malam melintas, seperti makin pupuslah harapan mereka; harapan yang berupa kepastian-kepastian dari suara hiruk-pikuk kota.

Yang terdengar hanya gemanya di rumah itu; itu pun hanya sebentar saja. Dan yang tertinggal adalah taman kesunyian yang besar, di mana mereka dikejutkan oleh momok-momok bercacat yang mengerang. Ia tak pernah merasakan kehilangan seperti itu. Bumi luruh dan bersamanya ilusi hidup menjadi baru setiap hari. Tak ada yang masuk hitungan lagi; tidak juga studi atau ambisinya. Pesan tempat di restoran, atau warna-warna pilihan. Tak satu pun selain rasa sakit dan kematian, di mana ia sendiri merasa terbenam….. Namun, pada jam-jam ketika bumi seperti terpecah-pecah itu, ia hidup. Dan akhirnya ia tertidur juga. Tetapi bukan tanpa membawa beban harapan yang hilang. Lama kemudian, ia diingatkan oleh masam-anggur yang bercampur keringat itu, ketika ia sudah merasakan hubungan yang mempertautkan dirinya dengan ibunya. Dan itu dirasakannya sebagai kelembutan kasih ibunya yang tertebar di sekelilingnya, yang melambung-lambung dengan tulus—peran seorang perempuan yang malang dengan nasib yang rawan.

SEKARANG nyala api di pendiangan sudah ditutupi abu. Dan terus saja terdengar napas-panjang bumi. Gelak seorang lelaki mengalir dan suara perempuan riang mengikutinya. Cahaya-cahaya bergerak bersembulan di teluk; barangkali kapal-kapal nelayan kembali ke pelabuhan. Langit segitiga yang tampak di depanku bebas dari awan. Langit ditebari bintang-bintang dan gemetar bila dilintasi hembusan angin, sayap beludru malam membelai sekelilingku dengan lembut. Masih berapa jauh malam ini; malam yang bukan milikku lagi? Ada sesuatu yang berbahaya dari kata kesederhanaan. Dan malam ini aku mengerti, bahwa seseorang bisa ingin mati karena—sesuai dengan kehidupan yang jernih—tak ada satu pun lagi yang penting. Seseorang menderita dan menemui kemalangan seperti juga orang lain. Ia akan memperpanjang kemalangan dan penderitaannya kalau selalu mencoba mengukuhkan nasibnya. Bijaksana ia. Dan kemudian, suatu malam ia bertemu seorang teman yang disukainya. Teman ini bicara padanya dengan gaya seenaknya. Bila ia pulang, lelaki itu akan bunuh diri. Orang lalu bicara tentang kesukaran-kesukaran pribadi dan gejolak-gejolak yang tersembunyi. Tidak! Bila toh mesti ada suatu sebab, ia bunuh diri karena seorang teman bicara padanya dengan seenaknya. Demikianlah, rasanya aku selalu menemukan arti yang lebih dalam dari dunia ini; kesederhanaan yang selalu meluruhkanku. Ibuku pada malam itu dan kesengsaraannya. Suatu kali lain aku tinggal di sebuah gubuk di luar kota, dengan seekor anjing, dua ekor kucing dan anak-anaknya, semuanya berbulu hitam. Induknya tak bisa merawat  anak-anak itu. Seekor demi seekor anak-anak kucing itu mati. Dan kamar mereka akan dipenuhi dengan kotoran mereka. Dan tiap malam, bila aku pulang, kutemui seekor demi seekor anak-anak kucing itu telah kaku, dengan bibir mereka yang terlipat.

Suatu malam, kutemukan anak kucing yang terakhir tengah dimakan induknya. Bangkainya sudah mulai berbau. Bau kematian bercampur air  kencing. Aku duduk di tengah segala keruntuhan itu, dan dengan tanganku kutikamkan pisau ke dalam kotoran itu dan napasku lalu dipenuhi oleh bau anyirnya. Aku menatap nyala liar yang memancar dari mata hijau kucing betina itu, yang meregangkan tubuhnya di pojok tanpa bergerak-gerak. Ya. Tepat seperti itu pula malam ini.

                Pada titik tertentu dari kevakuman ini, tak satu pun yang menuntun pada yang lain; seperti tak berdasar rasanya orang berharap atau memburu harapan, dan seluruh hidupku hanya tersimpul pada suatu bentuk yang semu. Tetapi kenapa berhenti disana?

Sederhana, segalanya sederhana; di mercusuar itu ada lampu hijau, merah, dan putih—di tengah dingin dan bau kota serta rasa malas yang bangkit di dalam diriku.

Bila malam ini ada gambaran masa kanak-kanak yang kembali padaku, bagaimana aku bsia menolak pelajaran cinta dan kekayaan yang kulukis daripadanya? Karena saat ini adalah bagai sesuatu antara ya dan tidak. Kutinggalkan saat-saat yang lain untuk harapan dan kemudian untuk hidup. Ya, untuk mencari kemurnian dan kesederhanaan surga yang hilang itu—dalam bentuk yang semu. Dengan demikian belum lama berselang, di sebuah rumah di lingkungan tua itu, seorang anak menjenguk ibunya. Mereka duduk berhadapan; diam saja. Tetapi mata mereka bertemu.

“Jadi, bagaimana, Bu?’

“Ya, baik-baik saja.”

“Bosankah Ibu? Apakah aku tak cukup bicara?”

“Oh, kau tak pernah banyak bicara.”

Dan senyum yang masih meleleh di muka perempuan itu. Memang, ia tak pernah bicara dengan ibunya banyak-banyak. Tetapi sebenarnya, apa pula gunanya? Melalui keheningan, suasana menjadi tenang. Ia anaknya dan dia ibunya. Perempuan itu biasa berkata, “Kau tahu.”

Perempuan itu duduk di kaki sofa; kedua tangannya memeluk lutut. Ia duduk di kursi, hampir tidak melihatnya. Juga setiap kali menyambung rokoknya yang memendek. Lalu senyap.

“Mestinya kau tak usah banyak merokok.”

“Benar.”

Bau seluruh lingkungan itu masuk lewat jendela. Akordion di kafe di dekat situ, kendaraan malam yang berat, bau daging asap yang disusul oleh tangis seorang bocah di jalanan ….. Ibu itu bangkit dan mengambil sulaman.

Jari-jarinya kaku dan bengkok-bengkok karena penyakit. Ia tak dapat bekerja dengan cepat.

“Ini sweater kecil. Akan kupakai dengan leher baju putih. Dengan baju hitam ini, cukup pakaianku untuk musim ini.”

Ia bangkit mengambil pelita dan menyalakannya.

“Pada hari-hari terakhir ini, langit cepat menjadi gelap.”

“Memang. Karena sudah bukan  musim panas lagi. Musim dingin juga belum datang. Kau akan kembali lagi kemari?”

“Tetapi aku belum pergi, Bu. Kenapa Ibu berkata begitu?”

“Tidak, hanya sekadar bertanya saja.”

Sebuah kereta lori lewat. Lalu mobil.

“Benarkah aku mirip ayahku?”

“Benar. Tentu saja kau tak mengenalnya. Kau baru berumur enam bulan ketika ia meninggal. Tapi bila kau berkumis kecil ……”

Perempuan itu bicara tentang ayahnya tanpa mengadili atau menghukum. Tanpa kenangan dan emosi. Barangkali ayahnya dirasakannya seperti lelaki-lelaki yang lain. Apalagi ayahnya pergi begitu “formal”; gugur dan mayatnya ditanam di makam pahlawan dan namanya dicantumkan di tugu peringatan.

“Biar bagaimanapun,” kata perempuan itu, “lebih baik begitu. Kalau tidak meninggal, ia akan buta atau gila. Bukankah lebih celaka lagi?”

“Benar.”

Apa pula yang menahannya di kamar itu, kalau bukan kepastian bahwa di situ selalu lebih baik; bahwa kesederhanaan yang absurd dan menyeluruh dari dunia ini telah singgah di kamar itu?

“Kau akan kembali?” tanya perempuan itu. “Aku tahu, kau mesti bekerja. Tapi lama-kelamaan …..”

TETAPI sekarang di mana aku? Dan betapa aku memisahkan kafe kosong ini dari kamar masa lalu itu? Aku tak tahu, apakah aku mengalami semua ini atau hanya membayangkannya saja. Mercusuar masih tegak di sana. Dan Arab itu bangkit dan memberitahu bahwa kafenya sudah mau tutup. Aku mesti pergi. Aku tak ingin lagi kembali ke lingkungan kumal dan berbahaya ini. Benar bahwa aku melihat teluk dan mercusuar untuk terakhir kalinya, dan yang bangkit di dalam diriku bukan lagi harapan akan hari-hari yang lebih baik, tetapi kesan yang tak berubah terahdap semuanya dan diriku sendiri. Ya, semuanya sederhana saja. Manusia yang menjadikan semua ini ruwet. Bukan sebaliknya.

Jangan biarkan mereka berkata pada kita tentang laki-laki yang dijatuhi hukuman mati dan bahwa “ia akan membayar utangnya pada masyarakat”; lebih baik katakan bahwa “ia akan memotogn kepalanya sendiri”. Tampaknya hampir sama, tetapi toh sedikit berbeda.

Dan masih ada orang-orang yang lebih suka melihat nasib mereka di dalam matanya. (*)

(Penerjemah: W. Respati)

————————————–

ALBERT CAMUS, (Nobel Prize for Literature 1957)

Lahir di Mondovi, Aljazair tahun 1913 dan meninggal tahun 1960 di Sens, Prancis. Camus dikenal sebagai salah satu tokoh filsafat eksistensialisme. Bersama Jean-Paul Sartre dan Andre Malraux, ia bahkan disebut-sebut sebagai salah satu dari tritunggal eksistensialis Prancis, yang banyak mengungkap pemikiran tentang eksistensi manusia yang terkenal absurd. Ia terutama membedah dilema pokok manusia modern dalam karya-karyanya, serta penjelasan tentang keberadaan manusia yang tak dapat dipahami dan tanpa tujuan.

Karya-karya Camus meliputi 4 buah novel, di antaranya L’Etranger (1942), Le Peste (1947), dan La Chute (1956); sebuah kumpulan cerita pendek L’Exile et le royaume (1957); sejumlah esai, antara lain L’Envers et l’endroit (1937), Noces (1938), Le Mythe de Sisyphe (1943), dan L’Homme revolte (1951); serta 4 buah drama. Seluruhnya adalah karya-karya terbaik pada zamannya, sehingga Camus dianggap sebagai salah satu pemikir yang paling berpengaruh pada pertengahan abad ke-20.

Dalam keterangan pers-nya, Akademi Swedia menganugerahkan Hadiah Nobel untuk Kesusastraan pada Camus sebagai pengakuan: …”untuk karya sastranya yang penting, yang dengan kesungguhan mengungkap dengan jernih masalah-masalah hati nurani  manusia pada zaman kita sekarang …”

Camus adalah sastrawan kesembilan Prancis (setelah Sully Prudhomme tahun 1901, Frederic Mistral ahun 1904, Romain Rolland tahun 1915, Anatole France tahun 1921, Henry Bergson tahun 1928, Martin du Gard tahun 1937, Andre Gide tahun 1947, dan Francois Mauriac tahun 1952) yang memperoleh penghargaan tersebut. (*)

 

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cerpen

Ziarah Bit

mm

Published

on

Apa yang akan mereka lakukan bila sungguh-sungguh ketemu? Mungkin mereka akan jalan-jalan sepanjang sore, membeli es krim di Taman Bungkul, atau menyesap kopi di Kafe Cakcuk. Atau mungkin juga mereka akan memutuskan untuk menghabiskan waktu di H20, memilih sebuah meja dan duduk berseberangan, lalu saling diam, saling memandang, tangan mereka bertaut di atas meja, dan penjaga berkacamata akan berkali-kali melirik untuk memastikan mereka tidak melakukan perbuatan mesum. Mereka memang tidak akan berbuat mesum. Tidak. Dari semua kemungkinan yang bisa terjadi, berbuat mesum tidak termasuk di dalamnya. Salah satu dari mereka mungkin akan beranjak ke rak terdekat setelah berpandangan sepuluh detik dan mulai merasa rikuh, mengambil satu buku puisi secara acak, membuka halaman juga secara acak, dan melisankan puisi apa pun yang terpacak di dalamnya lirih-lirih. Setelah itu mereka tertawa tertahan.

“Puisi ini lebih bagus dari puisi Suyitno,” demikian Bit barangkali akan berkata.

“Tapi tidak ada puisi yang lebih penting ketimbang puisi Suyitno,” Aliya menanggapi.

Dan mereka kembali tertawa.

Dunia memang penuh perdebatan, pertentangan, perbedaan, ketidaksetujuan dari satu pihak kepada pihak lain atas satu hal. Agama, politik, penggusuran, drama korea, Tere Liye, Kusala Sastra Khatulistiwa, Jerusalem, tingkat kepahitan kopi, cara menyuguhkan bubur ayam, definisi soto, dan banyak lagi. Namun semua, tidak bisa tidak, akan bersepakat bahwa puisi Suyitno, seseorang yang satu-satunya cita-citanya adalah menjadi penyair namun jelas-jelas tak memiliki kemampuan untuk itu, adalah puisi yang buruk. Buruk sekali, malah. Demi Tuhan, salah satu berkah terbesar yang merungkupi Suyitno adalah ia hidup di zaman media sosial telah melebarkan sayap dan menancapkan cakar-cakarnya sedemikian rupa hingga lelaki ceking dengan kumis melintang dan rambut abu-abu itu sanggup mengumumkan puisi-puisi ciptaannya ke khalayak. Bebas. Tanpa mesti melewati tatapan bengis mata redaktur yang senantiasa dicurigai keobyektifan dan kapasitas keilmuannya. Bertahun-tahun sebelumnya, mati-matian Suyitno mengirim ratusan, kalau tidak ribuan, puisi ke koran-koran dan majalah-majalah, mulai dari yang dianggap memiliki wibawa dan pengaruh dalam bidang kesusatraan hingga yang acak adut dan sama sekali tidak masuk radar halaman bermutu. Dan tak satu pun yang dimuat. Ia juga tak kapok-kapok mengirim manuskrip puisi, yang dilambari pengantar muluk-muluk yang ia tulis sendiri, ke penerbit. Dan tak satu pun penerbit yang membalas kirimannya. Media sosial membuatnya mungkin melakukan apa yang dulu tidak mungkin ia lakukan. Dan dengan kegirangan yang luar biasa, ia mengumumkan siapa dirinya: aku penyair!

Di bawah kuasa ilusi bahwa puisi-puisi yang dihasilkannya adalah puisi-puisi paling adiluhung yang pernah diproduksi manusia sepanjang peradaban, seperti kebanyakan – atau kalau tidak, semua – penyair, Suyitno merasa ia memiliki tanggungjawab untuk memaksa orang lain membaca puisi-puisinya. Tak lega dengan mengunggah puisi-puisinya belaka (khususnya dan terutama di Facebook), ia juga menandai akun-akun orang lain dalam unggahannya. Dan untuk kerja kerasnya, ia setidaknya menuai lima tanda suka dan nol komentar dari empat puluh tanda paksaannya. Itu sudah cukup membuatnya tersenyum puas.

Tak ada pola khusus mengenai bagaimana Suyitno menentukan akun-akun siapa yang akan ia tandai. Dalam seminggu, kadang satu akun ia tandai lima kali, kadang satu kali, dan kadang tidak sama sekali. Dengan lima ribu akun yang berteman dengannya, ia memiliki banyak komposisi kemungkinan. Pada akhir September 2017, murni ketidaksengajaan, ia menandai Bit dan Aliya dalam penandaan yang sama atas puisi singkatnya. Berteman di Facebook, itu judul puisinya. Isinya singkat belaka, hanya dua baris: sejak aku mengenalmu/aku bertambah teman.

Bit dan Aliya bukan orang yang suka puisi. Apalagi pembaca puisi yang baik. Apalagi mengerti teori-teori dalam dunia perpuisian. Namun tak urung, mereka tertawa ngakak sehabis membaca puisi Suyitno. Sebagai orang yang lahir dan tumbuh besar di Indonesia dan pernah mengenyam Sekolah Dasar, mereka pernah membaca beberapa puisi Chairil Anwar, Rendra, dan Toto Sudarto Bachtiar. Dan tentu saja puisi-puisi mereka tidak bisa dibandingkan dengan puisi Suyitno. Dan puisi dari ketiga penyair itu, setidaknya, memberi Bit dan Aliya dasar seperti apa puisi itu sebenarnya.

Bit punya waktu berlimpah. Umurnya dua puluh lima dan orangtuanya memperlakukannya laiknya porselen yang gampang retak. Kakaknya meninggal diseruduk motor yang dikendarai pemuda mabuk pada usia sepuluh tahun. Sejak itu, Bit menjadi anak tunggal. Trauma mendalam yang mendera orangtuanya menyebabkan mereka begitu protektif terhadap Bit. Bit, yang berselisih usia lima tahun dari kakaknya, tumbuh dalam begitu banyak larangan. Jangan menyeberang jalan sembarangan. Jangan bermain dengan anak itu.  Jangan lari-larian. Jangan bermain lumpur. Jangan hujan-hujan. Jangan jajan permen. Jangan pulang sekolah telat. Jangan naik sepeda pancal. Jangan lupa pakai sandal. Jangan memanjat pohon. Jangan menyentuh beling. Jangan pergi ke ujung gang. Jangan sampai tisunya ketinggalan. Jangan pakai kaos kaki ungu. Jangan petak umpet, cuma bikin capek. Jangan ikut kasti, nanti kakimu patah. Jangan ini. Jangan itu. Pada akhirnya, tanpa disadari, Bit telah menjelma pemuda tanpa keberanian melakukan apa pun. Ia lebih memilih menghabiskan waktu di dalam rumah bila tidak ada sesuatu yang memaksanya untuk beraktivitas di luaran. Ia juga cenderung kesulitan dalam pergaulan sosial secara langsung, yang mendorongnya menjauh dari kehidupan sosial semacam itu. Ia, praktis, tak pernah memiliki teman, apalagi teman dekat. Dan orangtuanya, yang masih dihantui tragedi kematian anak sulungnya, menganggap itu yang terbaik bagi Bit. Sebagai kompensasi dari tindak protektif mereka, mereka menyediakan apa pun yang berpotensi membuat Bit nyaman dan krasan di rumah. Mulai dari konsol game hingga akhirnya gawai-gawai termutakhir dengan koneksi internet yang lajak. Selepas kuliah, Bit yang tidak kunjung mendapat pekerjaan menghabiskan waktu dengan berselancar di media sosial. Lalu ia, pada suatu hari, menerima permintaan pertemanan dari Suyitno di Facebook. Dan akhir September itu, ia ditandai dalam sebuah kiriman puisi yang menyedihkan. Keberlimpahan waktu yang dimiliki Bit lah yang menyebabkan pemuda itu secara iseng mengklik tanda reaksi tawa, satu-satunya reaksi yang didapat puisi Suyitno tersebut, dan mendapati nama akun Aliya.

Bit yakin ia jatuh cinta pada saat itu. Gambar profil Aliya menampilkan sosok gadis ideal masa kini: kulit putih, hidung mancung, bibir tipis segar, mata sipit, rambut lurus sepunggung, dan tubuh langsing semampai. Bit mengklik akun itu dan mulai berjalan-jalan di linimasa Aliya. Bit tidak mendapat banyak info dari keterangan akun. Hanya bahwa Aliya tinggal di Surabaya. Di unggahan foto Aliya dan keterangan yang menyertai foto tersebut, Bit mendapat gambaran bagaimana suasana kafe Cakcuk atau bagaimana rak-rak buku berderet-deret di perpustakaan H20. Itu semua adalah tempat-tempat yang asing bagi Bit meski sepanjang hayatnya hingga saat itu ia tinggal di Surabaya.

Dengan gelegak aneh di kedalaman dadanya, Bit menjelajahi waktu yang membeku di linimasa Aliya. Sebelumnya, tentu saja, ia mengajukan permintaan pertemanan. Untung saja akun Aliya diatur publik hingga ia tidak perlu menunggu permintaan pertemanannya disetujui untuk segera memulai perjalanannya membongkar jejak-jejak arkeologis kehidupan Aliya.

“Ia punya banyak teman,” batin Bit setelah beberapa saat. Ia menemukan ratusan reaksi dan komentar yang didapat Aliya dari setiap unggahannya, dan ratusan foto-foto yang menandakan betapa perempuan itu suka dan acap jalan-jalan serta kumpul-kumpul dengan banyak orang. Bit juga kerap bercanda dengan teman-teman media sosialnya, namun itu terbatas di media sosial. Dari tiga ribu teman Facebook-nya – dua ratus di antaranya cukup sering berinteraksi dengannya – ia belum pernah ngopi darat dengan mereka dan ngobrol bertatap muka secara langsung. Ia terlalu pemalu. Beberapa teman mayanya yang berdomisili di Surabaya pernah mengajaknya kopi darat. Namun Bit tak pernah menanggapi permintaan itu. Bukannya tidak ingin, namun ia hanya gentar. Ia tak tahu harus bersikap bagaimana bila pertemuan langsung itu terjadi. Ia juga tak tahu apa yang akan mereka bicarakan nantinya. Facebook dan platform media sosial lainnya telah menyelamatkannya dari kegagapan semacam itu, namun tak pernah benar-benar membantu menyelesaikan semua masalahnya. Hal pertama yang terlintas di benaknya setiap kali mendapatkan ajakan untuk kopi darat adalah pengalaman-pengalamannya selama sekolah atau kuliah, di mana ia senantiasa menghabiskan waktu sendirian di sudut kelas dan memandang teman-temannya saling bercanda. Beberapa kali ada teman yang mencoba mengajaknya bercakap, namun secara reflek, ia melindungi diri dengan cara membungkam; hanya mengangguk atau menggeleng.

Empat menit setelah mengklik akun Aliya untuk pertama kalinya, Bit merasakan dorongan untuk mengirim pesan pribadi ke kotak pesan Aliya. Namun dengan segera ia mendapati bahwa ia tak tahu apa yang akan ia tulis. Ia tugur. Lalu ia meneruskan menjelajahi linimasa Aliya. Tiga jam setelah permintaan pertemannya terkirim, Aliya menyetujuinya. Dan sepuluh detik kemudian, Aliya memperbaharui statusnya. Siap-siap kopi darat nih, tulis Aliya. Bit merasakan dadanya panas. Mangkel. Cemburu? Bit tidak tahu.

Bit menunggu. Ia ingin mengomentari status itu. Namun baru satu kata ia tulis, buru-buru ia hapus. Begitu berulang-ulang. Tak ada kata atau kalimat yang layak untuk ditulis di kolom komentar, pikir Bit. Hingga akhirnya Bit membanting dirinya sendiri ke atas kasur. Ia berguling-guling seraya membayangkan apa yang akan mereka lakukan bila mereka benar-benar bertemu. Bertemu sebagai sepasang kekasih. Mungkin mereka akan jalan-jalan sepanjang sore. Atau membeli es krim di Taman Bungkul. Atau membaca buku puisi sambil tertawa-tawa di H20.

Namun khayalan Bit tidak akan pernah terjadi. Tiga jam empat puluh lima menit setelah Aliya memperbaharui statusnya, puluhan kiriman menyesaki dinding akun Aliya. Semuanya muram. Semua menyampaikan pernyataan duka cita. Bit tak percaya apa yang jelas-jelas tersurat dari kiriman-kiriman itu, bahwa Aliya ditemukan dengan leher nyaris putus digorok oleh lelaki yang dikenalnya melalui Facebook pada perjumpaan langsung mereka yang pertama. Beberapa akun memacak foto pembunuh, seorang pemuda sepantaran Bit, dengan cambang dan kumis lebat dan model rambut undercut, yang telah berhasil dibekuk polisi setengah jam setelah kejadian.

Bit mengunggah gambar karangan mawar di dinding akun Aliya. Berulang-ulang setiap hari. Sebuah ziarah yang seakan abadi ke kuburan yang dibangun dengan pondasi algoritma dan bit komputer. Akun Aliya terkesan singun.  Begitu singun. (*)

*) Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Buku ceritanya yang sudah terbit berjudul Wisata Buang Cinta (2013) dan Adakah Bagian dari Cinta yang Belum Pernah Menyakitimu (2015). Sedang buku puisinya berjudul Ludruk Kedua (2016). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.

 

 

 

Continue Reading

Cerpen

Samuel Beckett: Molloy

mm

Published

on

Aku ada dikamar Ibu. Sekarang aku memang tinggal di sana. Aku tak tahu, bagaimana aku bisa sampai ke sana. Barangkali dengan ambulans, sejenis kendaraan atau angkutan tertentu. Aku tidak betah. Heran. Aku tak pernah disana sendirian.

Ada seorang laki-laki yang rutin berkunjung setiap minggu. Mungkin aku harus berterima kasih padanya. Dia tidak banyak bicara. Dia memberiku uang dan mengambil berkas-berkas. Lebih banyak berkas, akan lebih banyak uang. Ya, aku bekerja sekarang. Setidak-tidaknya, yang kuangankan, sedikit mirip. Lagi pula aku tidak tahu persis, bagaimana sesungguhnya bekerja itu. Agaknya ini tidak penting.

Apa yang sesungguhnya kuinginkan sekarang adalah membicarakan hal-hal yang telah lewat, mengucapkan selamat tinggal, lalu mengakhiri dengan kematian. Tetapi mereka tak mengiinginkan hal itu terjadi padaku. Ya, kukatakan mereka, karena lebih dari satu—tampaknya begitu. Tetapi, hanya orang itu-itu saja yang datang. Kamu akan bisa mengerjakannya nanti, katanya. Baguslah.

Nyatanya, aku tak akan membiarkan semua ini terus tertinggal. Yaitu ketika dia datang dengan berkas-berkas baru yang ia bawa minggu berikutnya. Mereka sibuk menandai dengan tanda-tanda yang sama sekali tidak kumengerti. Karena itu, aku sengaja tak membacanya. Dan ketika aku tidak mengerjakan apa-apa, mereka tidak memberiku apa-apa. Bahkan mengancamku.

Sebenarnya aku tidak bekerja demi uang. Lalu, untuk apa? Aku tidak tahu. Sungguh, aku tidak tahu banyak. Sebagai contoh, kematian Ibu. Apakah berliau sudah meninggal waktu aku datang? Ataukah beliau meninggal kemudian, yaitu baru meninggal beberapa saat setelah kedatanganku?

Kukira Ibu sudah dimakamkan. Entahlah. Mungkin mereka malah belum menguburkannya. Yang pasti, di sisi lain, aku memiliki kamarnya. Aku tidur di ranjangnya. Aku buang air dan meludah di pispotnya. Aku sudah mengambil alih tempatnya. Barangkali, semakin lama aku semakin mirip dengannya.

Yang lebih kubutuhkan sekarang sebenarnya seorang anak laki-laki. Barangkali suatu saat nanti aku akan memiliki satu. Tapi kupikir tidak. Dia sudah sangat tua sekarang. Hampir setua aku. Dia hanyalah pelayan rendahan. Ini bukan cintaku yang sesungguhnya.

Cinta yang sejati telah kupersembahkan pada orang yang lainnya lagi. Kita akan membicarakannya setelah ini. Namanya? Ah, aku sudah lupa. Dan agaknya, bagi diriku sendiri, kadang-kadang seakan aku merasa begitu mengetahui ihwal anak laki-lakiku tadi. Aku bentul-betul menganguminya. Kemudian aku meyakinkan diriku kalau itu tidak mungkin. Seperti juga tidak mungkinya aku dapat mengagumi orang lain. Aku bahkan sudah lupa, bagaimana mengeja dan memilah kata-kata. Tampaknya ini tidak penting.

Baiklah. Dia adalah kartu ajaib bagiku, yang datang secara khusus untuk menjengukku. Agaknya dia datang hanya setiap hari Minggu. Pada hari-hari yang lain, dia libur. Dia selalu keharusan. Dialah yang membentakku kalau aku mulai mengerjakan sesuatu yang menurutnya salah; dan aku seharusnya mengerjakannya secara berbeda. Mungkin dia benar. Aku harus memuliai dari permulaan lagi; seperti meneliti suatu kesalahan yang usang dan membingunkan—bisakah kalian bayangkan?

Ini permulaan bagiku. Mungkin karena itulah mereka membiarkannya saja.Aku menemui banyak kesulitan. Padahal ini baru permulaan—kalian lihat? Seolah-olah sekarang aku sedang mendekati titik akhir. Apakah yang kukerjakan saat ini jauh lebih baik? Entahlah.

Kota itu tidak jauh. Ada dua orang, mungkin tidak mudah kalian pahami. Yang satu pendek, yang satunya lagi lebih tinggi. Mererka bergerak meninggalkan kota. Mula-mula yang satu, kemudian yang lainnya. Dan kemudian, dengan susah-payah mereka mengingat-ingat semua perbuatan yang telah mereka kerjakan. Udara dingin menusuk tajam, sehingga mereka mengenakan mantel-mantel tebal. Mereka tampak serupa satu sama lain.

Tetapi tak ada lagi yang mereka kerjakan. Pada awalnya jarak yang lebar membentang diantara mereka. Mereka tidak saling melihat. Padahal mereka sudah mencapai keadaan di mana kepala mereka saling berhadapan. Namun, dikarenakan jarak yang lebar, ruang yang lapang, dan kemudian karena tanah yang bergelombang yang menyebabkan jalanan jadi ikut bergelombang—meskipun tidak curam dan terjal tapi cukup berkelok. Tetapi saatnya tiba, ketika mereka berdua tiba di sebuah ruang yang sama dan akhirnya tikungan-tikungan itu bertemu.

Untuk mengatakan bahwa mereka saling memperkenalkan diri, tidak, tidak ada apa pun yang jadi jaminannya. Tetapi, barangkali dari suara langkah-langkah kaki atau ditandai gemerisik uap insting yang samar-samar, mereka saling mendongakkan kepala dan saling menyelidiki satu sama lain, untuk menentukan langkah-langkah yang baik sebelum akhirnya mereka berhenti dan saling berhadapan.

Ya, mereka tidak saling melewati, tetapi mengendap-endap, berhadap-hadapan, mengadu wajah seperti ketika di desa: pada suatu senja di ruas jalan yang sejuk, dua sosok bayang-bayang saling berkelebat, tanpa terjadi sesuatu yang luar biasa. Tetapi barangkali saja mereka sudah saling mengenal satu sama lain, mengagumi satu sama lainnya, saling memuji, bahkan setelah mereka sampai ke sudut-sudut kota.

Mereka berjalan memutar, melewati laut yang ada di ujung timur. Jauh dari padang-padang rumput, memanjat cakrawala tinggi dengan menggubah sedikit kata-kata. Kemudian keduanya berjalan ke arah masing-masing. A melintasi kota, B melewati jalanan yang seolah teramat sulit untuk dia mengerti. Atau semuanya.

Selama dia pergi dengan langkah-langkah tak menentu dan terkadang terlalu sering menghentikan langkahnya untuk mengamati apa saja, dia seperti seseorang yang mencoba memperbaiki letak penanda batas-tanah-milik di dalam benaknya. Pada suatu hari, barangkali dia harus berkali-kali membalikkan langkahnya—kalian tak akan pernah tahu kenapa.

Dia tampak tua. Dan dengan pandangan mata penuh penyesalan, ia menekuri kesunyian yang telah ditempuhnya berabad-abad, bertahun-tahun, berhari-hari, dan bermalam-malam tanpa bernah berpikir untuk membiarkan keajaiban-keajaiban itu muncul justru pada hari kelahirannya, atau bahkan jauh-jauh hari sebelumnya.

Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kulakukan? Sekarang, perlahan, sebuah bisikan. Sekarang, lebih teliti dari apa yang telah dikerjakan seorang pelayan teladan. Dan selanjutnya? Sesudah itu? Dan sering pula muncul sebagai jeritan. Dan pada akhirnya, aku harus percaya padanya. Aku tahu, tinggal ini kesempatanku. Tinggal ini saja. Aku percaya lagi pada umur panjangku. Dan sekarang aku mengunyah apa saja dengan asyik.

Apa yang kubutuhkan sekarang adalah dongeng-dongeng yang membutuhkan waktu sangat lama untuk memahaminya, dan aku tidak yakin apakah itu ada, memberi informasi padamu, pada kalian, hal-hal tertentu; tentang benda-benda yang kuketahui, tentang hal-hal yang tidak kumengerti. Hal-hal yang begitu menyulitkanku, juga yang tak pernah menyulitkanku.

Apapun bahasanya. Apa pun istilahnya. Aku bahkan telah mempelajari apa profesinya, karena aku tertarik pada keahlian-keahlian. Dan berpikir: aku mencoba mengerjakan yang terbaik untuk tidak bercerita tentang diriku sendiri. Pada suatu ketika aku mungkin akan bercerita tentang ternak-ternak, tentang langit dan apa saja, apabila aku mampu melakukannya.

Aku di sana, kemudian dia meninggalkan aku. Dia tampak terburu-buru. Dia mengembara, seperti yang sudah pernah kukatakan pada kalian; tetapi, setelah tiga menit berbicara denganku, dia tampak terburu-buru. Aku percaya padanya. Dan sekali lagi, aku tak akan menceritakan diriku sendiri. Tidak, itu tidak seperti aku. Tetapi bagaimana aku harus mengatakannya, aku tidak tahu.

Memperbaiki diri sendiri, menyempurnakan diri sendiri, oh tidak. Aku tak akan bisa membiarkan diriku sendiri. Bebas. Ya. Aku tak tahu apa artinya itu, tetapi itulah kata yang kupilih dan kugunakan. Bebas untuk mengerjakan apa saja, bebas untuk tidak melakukan apa-apa, bebas untuk mengetahui—tapi apa? Mungkin hukum-hukum pemikiran; pemikiran-pemikiranmu sendiri yang serupa air mengalir secara proporsional ketika ia memutuskan untuk membasahimu. Dan kalian akan mengerjakan hal-hal yang baik, paling tidak, tidak terlalu buruk untuk menghapus teks-teks, menghilangkan margin-margin, mengisi lubang kata-kata, sampai segalanya menjadi kosong dan datar. Sehingga segala kesibukan yang tampaknya dahsyat, menakutkan dan tak berperasaan atau semacamnya menjadi tak terkatakan, sampai tak ada lagi isu kemiskinan. Jadi aku tak merasa ragu untuk mengerjakan semua yang lebih baik, paling tidak, tidak terlalu buruk, dan tidak menyusahkan diriku sendiri dengan serangkaian observasi tentang segala sesuatu yang akan terjadi nanti.

Aku memiliki cacat untuk dapat membangkitkan semangat orang lain, yaitu orang-orang yang bertongkat. Kemudian bisik-bisikan dan gumam-gumam itu kembali dimulai. Untuk bersunyi sendiri; mengembalikan peranan lebih dari sekadar objek-objek.

Kemudian, aku masih hidup. Mungkin kehadiranku masih berguna. Mahkota dan pakaian kebesaran kupandang sebagai sesuatu yang belum layak kubicarakan sekarang, karena masih terlalu dini. Tanpa ragu-ragu aku akan membicarakannya nanti, jika sudah tiba saatnya untuk membicarakan penemuan kebaikan-kebaikan serta harapan-harapan milikku. Jika tidak, aku akan merelakannya hilang, terselip di antara hari-hari sekarang dan nanti. Tetapi, bahkan ketika semua itu hilang, mereka tetap akan mendapat tempat, di dalam daftar semua barang kesayanganku. Tetapi, mudah bagi ingatanku; tidak seharusnya aku menghilangkannya. Seperti tongkat setiaku, yang tidak seharusnya kuhilangkan juga.

Barangkali sekarang aku sedang berada di puncak atau di lereng, di antara orang-orang penting dan terkenal, demi orang lain. Kalau tidak, bagaimana mungkin aku dapat melihat begitu jauh, begitu dekat di tangan, begitu banyak hal yang tetap dan yang berpindah-pindah. Tetapi, apa yang akan dilakukan seseorang yang sudah sangat terkenal di tempat yang hampir-hampir tak beriak ini? Dan aku, apa yang kukerjakan di sini, dan kenapa mesti datang?

Ada banyak hal yang mesti kita coba dan temukan. Tetapi ada hal-hal tertentu yang tidak seharusnya kita pikirkan dengan serius. Ada sebagian dari segala sesuatu yang secara penampakan wajud lahirnya memiliki cacat tersendiri. Dan pada suatu ketika aku mungkin menjadi bingung oleh kontrasnya perbedaan-perbedaan itu. Tetapi pertentangan-pertentangan adalah tempat kediamanku. (*)

_______________________

*) Samuel Beckett: Peraih Nobel Prize for Literature 1969. Lahir di Dublin, Irlandia tahun 1906 dan meninggal tahun 1989 di Paris, Prancis. Beckett dianggap sebagai salah satu pengarang abad ke-20 yang paling inovatif dan berpengaruh. Hal ini berangkat dari keyakinannya, yang lalu membekas dalam karya-karyanya, bahwa hidup manusia adalah absurd, tidak jelas, keras, dan akhirnya tidak memiliki tujuan. Secara pribadi, ia gigih menyuarakan metafora-metafora tentang malaise moral manusia.

Beckett terutama dikenal sebagai penulis drama, tetapi ia juga menulis novel dan puisi. Ia telah menulis enam novel, empat naskah drama serta lusinan framen yang lebih pendek, selain sebuah esai dan satu kumpulan puisi. Tetapi yang membuat namanya dikenal adalah karya drama Waiting for Godot (1952) yang disebut-sebut sebagai drama paling penting dalam abad ke-20.

Dalam keterangan pers-nya, Akademi Swedia menganugerahkan Hadiah Nobel Keusastraan pada Beckett sebagai pengakuan: “…..untuk karangan-karangannya yang dalam serta mengungkap kekurangan manusia modern, mendapatkan tempat yang luhur lewat bentuk novel dan drama gaya baru…..

Beckett adalah sastrawan kedua Irlandia (Setelah William Butler Yeats tahun 1923) yang memperoleh penghargaan tersebut. Atau sastrawan ketiga setelah George Benard Shaw (tahun 1925) yang kemudian hijrah dan menjadi warga negara Inggris.

**) Penerjemah: Endang Susanti R.A.

 

 

 

Continue Reading

Cerpen

Kotak Kardus Aulina

mm

Published

on

Aulina berusia empat tahun tiga bulan ketika mengejutkan bapaknya dengan berkata, “belikan aku hape android. Aku mau liat youtube.” Bapaknya menyemburkan kopi pagi yang baru dihirupnya ketika itu. Pedagang peracangan itu meletakkan piring gelasnya yang masih berisi kopi, lalu memandang lekat-lekat bocah playgroup tersebut. “Apa yang kau katakan?” tanyanya tak percaya.

“Teman-teman bawa hape ke sekolah,” jawab si bocah. “Dan mereka liat youtube.”

Bapaknya mengangkat si bocah, lalu meletakkannya di pangkuannya. “Emangnya ada apa di youtube?

“Banyak Yah. Ada video-video bagus,” ujar si bocah. Lalu mulutnya nyerocos menceritakan lagu-lagu dan aneka jenis jogetan yang ia saksiksan di layar ponsel temannya, juga kisah seorang putri yang mampu menciptakan salju dari kibasan tangan atau bagaimana seorang putri artis seumuran dengannya menghabiskan hari di salon untuk mencuci rambut dan melumuri tubuh dengan krim entah apa. “Setelah itu, dia main kuda-kudaan dan sepatunya yang bagus robek,” sambung Aulina. Mulut mungilnya tampak menggemaskan dan matanya berkilauan. “Tapi dia pinter Yah, soalnya dia gak nangis,” tambahnya. Bapaknya tertawa sebelum mencubit pipinya.

“Kamu juga pintar. Hayo mandi sana. Sebentar lagi kamu harus berangkat. Mana ibumu?”

“Tapi hapenya?”

“Kamu kan masih kecil,” jawab bapaknya seraya tertawa.

Permintaan itu terus diulang Aulina hingga seminggu kemudian. Seiring hari, rengekan dan rayuannya lebih dahsyat dari sebelumnya. Bapak dan ibunya, yang mulanya mengira Aulina akan segera melupakan keinginannya, segera merasa terteror. Awalnya, mereka mencoba mengalihkan perhatian Aulina dengan mengajaknya jalan-jalan ke pasar kecamatan dan menjajaninya sosis goreng kesukaan si bocah. Itu berhasil membujuk Aulina, tapi tak lama. Keesokan harinya, Aulina kembali merengek. Ibunya mengambil boneka panda kesukaan Aulina dan mengulang dongeng bagaimana seorang bocah yang durhaka kepada orangtuanya dikutuk menjadi binatang yang di kemudian hari disebut panda. Biasanya, dongeng itu cukup mangkus meredam kerewelan Aulina. Namun tidak kali itu. Aulina berteriak bahwa ia bosan pada kisah panda dan satu-satunya yang ia ingini adalah hape android supaya ia bisa lihat youtube seperti teman-temannya di playgroup. Bapaknya tidak diam saja dalam episode runyam itu. Lelaki tiga puluhan tahun tersebut menyalakan televisi dua puluh satu inchi dan menyetelnya pada chanel yang menayangkan Shaun The Sheep. “Aku mau youtube,” Aulina kembali berteriak, kali ini sambil memuntahkan air mata. Pada hari kedelapan, tak tahan dengan rengekan tanpa akhir dan mustahil diredakan tersebut, mereka memarahi Aulina dan mengatakan beberapa perkara dengan cara yang tidak semestinya mereka gunakan kepada anak berusia empat tahun tiga bulan. Perkara-perkara itu meliputi bahwa Aulina selayaknya bersyukur bisa makan tiap hari dan berkesempatan merasakan playgroup dan tak perlu meminta yang aneh-aneh mengingat pekerjaan bapaknya yang hanya pedagang pracangan tak memungkinkan mereka untuk hidup mewah. Sementara cara tidak pantas yang mereka terapkan antara lain, berkata dengan suara keras dan cenderung membentak, mata merah, dan ludah yang berkali-kali muncrat menimpa wajah si bocah. Aulina sempat membantah perkataan bapaknya. Ia bilang bahwa Sri, yang sudah tidak punya bapak, bisa punya hape android. Bapaknya merespon ucapan Aulina yang terkesan meremehkan dan mencabik harga diri seorang bapak itu dengan sebuah tamparan di pipi yang merupakan puncak dari ketidakpantasan tersebut.

Hari itu, Aulina mengurung diri di kamar. Itu adalah suatu hari Minggu yang cerah. Likuran tahun sebelumnya, pada hari libur seperti itu, bapak dan ibu Alina akan menghabiskan waktu dengan bermain petak umpet atau sondah atau bentengan di luar rumah bersama kawan-kawan mereka. Namun hari itu, lingkungan sekitar mereka tampak kalis dari anak kecil. Orangtua Alina tahu, zaman sudah berubah. Tak ada lagi pemandangan bocah yang berlarian dan bermain di luar rumah hingga lupa waktu sehingga memaksa orangtua mereka untuk marah-marah menyuruh mereka pulang. Anak-anak kini lebih suka mendekam dalam rumah dengan gawai di tangan, menghabiskan hari dengan menekuri benda ajaib mungil tersebut. Mereka sesungguhnya menginginkan Aulina tumbuh seperti anak-anak lain sezamannya. Mereka tak ingin Aulina menjadi aneh karena merupakan satu-satunya anak yang tidak punya gawai. Namun apa daya, mereka memang belum memiliki cukup uang untuk memenuhi keinginan tersebut.

Di dalam kamar, Aulina menghabiskan hari dengan menangis dan terus menangis. Ia tidak mempedulikan panggilan ibunya dan malah memperkeras volume tangisannya. Bapaknya, alih-alih ikut membujuknya, justru menyibukkan diri dengan barang dagangan. Kepada istrinya, lelaki itu hanya berkara singkat, “nanti kalau capek juga berhenti nangis.”

Kenyataannya, bukan Alina yang capek, melainkan ibunya. Dan pada akhirnya, capek  membujuk Alina, ibunya menyetujui pendapat suaminya. Mengerti bahwa ibunya juga tidak lagi berusaha membujuknya, Aulina malah menjadi-jadi. Ia tidak hanya menangis, melainkan juga membongkar kotak mainannya dan melempar-lemparkan isinya. Sisi si boneka berambut merah terlontar hingga ambang pintu, panci dan kompor plastik kecil berserakan di bawah meja, buku cerita bergambar robek beberapa halaman, dan bola-bola plastik kecil aneka warna bergelindingan ke seantero ruangan.

Kotak mainan itu sesungguhnya adalah kardus bekas bungkus televisi dua puluh satu inchi dan cukup besar untuk menyembunyikan tubuh Aulina. Setelah mengosongkan kardus tersebut dan ibunya tidak kunjung muncul, Aulina meneruskan ngambeknya dengan memasuki kardus tersebut. Di sanalah, kelelahan menangis dan mengacak-acak mainannya, ia jatuh tertidur.

Belum lama matanya terpejam ketika ia merasa terjatuh. Tubuhnya yang payah membuatnya terlelap dengan cepat ketika otaknya belum siap. Otak itu, merespon tubuh yang tiba-tiba lemah, memerintahkan otot untuk bersiap dan menegang. Itulah sesungguhnya yang terjadi namun Aulina mengira ia terpeleset lantas terjatuh dalam tidur. Ia tersentak dan terbangun. Dan di sanalah ia menemukan dirinya, di antara gumpalan salju, langit biru cerah, dan angin yang membawa lagu-lagu merdu. Lagu itu memiliki syair dalam bahasa yang tidak ia mengerti. Namun tubuhnya bergoyang secara intuitif. Semua terasa begitu asing, tentu saja. Namun alih-alih takut, ia justru tertawa. Ia melonjak-lonjak. Rambutnya terkibas kencang hingga ujungnya terjuntai ke depan dadanya. Ia terkejut. Rambutnya hanya sepanjang bahu. Jadi mustahil rambut itu bisa terkibas hingga ke dada. Ia meraba rambutnya. Panjang hingga pantat dan terkepang. Warnanya merah tembaga. Mengingatkannya pada rambut seorang putri yang mampu menciptakan salju dari kibasan tangan. Dan pada waktu itu pula ia menyadari bahwa tubuhnya juga telah berubah. Dadanya membusung. Ia merabanya. Ia menjerit mendapati dua buah dada besar kencang di sana. Ia meraba pinggulnya. Jauh lebih besar dari yang ia ingat. Bajunya juga bukan baju motif polkadot yang ia kenakan sebelumnya, melainkan gaun seperti yang ia lihat dalam video youtube yang dikenakan oleh para putri.

Aulina tak tahu apa yang terjadi. Dan perutnya mulai bernyanyi. Ia lapar.

Ia mengamati sekelilingnya lebih cermat. Hamparan yang begitu luas, seperti tak terbatas. Gumpalan salju jauh lebih banyak dari yang ia sangka, menjadikan lanskap itu seakan medan berwarna putih semata. Dan itu membuatnya takut. Ia berteriak. Lanskap mengembalikan teriakannya. Itu membuatnya semakin kalut. Ia berteriak lebih kencang. Dan pantulan yang ia dengar lebih mengerikan. Ia berlari. Ia memanggil ibunya. Ia memanggil bapaknya. Namun tak ada sahutan. Ia berlari lebih kencang, sekencang yang ia bisa. Hamparan itu, kenyataannya, bukannya seperti tak terbatas, melainkan memang tak memiliki batas. Aulina mengira ia telah berlari sepanjang hari namun yang membentang di depannya tetaplah hamparan putih dengan gundukan salju terserak di mana-mana. Beberapa saat kemudian, sebuah gundukan salju menghalangi langkah kakinya. Ia terantuk dan terjatuh dengan muka membentur lantai terlebih dahulu. Ia merasa semua menggelap dengan cepat. Ia menangis. Namun tak ada suara yang keluar dari tenggorokannya.

Aulina terbangun dua jam kemudian, ketika tangan ibunya menepuk-nepuk pundak dan pipinya. “Kamu kok tidur di sini? Ayo bangun,” ujar ibunya. Aulina menguap pelan. Lalu celingukan.  Tak ada hamparan tak bertepi dengan gundukan salju di sana-sini. Tak ada langit biru cerah. Tak ada angin yang menyanyikan lagu-lagu dengan lirik dalam bahasa yang ia tidak mengerti. Ia meringkuk dalam kotak kardus bekas bungkus televisi yang digunakan sebagai kotak penyimpan mainannya. Ia berada dalam kamarnya belaka, dengan langit-langit internit yang dikotori sejumlah sarang laba-laba. Ia meraba rambutnya. Sebahu dan tidak terlalu tebal. Ia menyentuh dadanya. “Ibu,” ia berkata lirih seraya menatap ibunya. Matanya berkaca-kaca.

“Hei, apa itu?” sang ibu mengangkatnya. “Apa yang terjadi di sini?”

Di dalam kardus itu, terserak butiran-butiran berwarna putih. Basah dan dingin.

“Kau tak apa?” ibunya meletakkan telapak tangan di kening Aulina. “Kau demam,” lirih ibunya.

Sore itu, Aulina dibawa ke bidan kampung. Bapaknya yakin bahwa demam tersebut disebabkan permintaan Aulina yang tidak dituruti dan akan sembuh dengan sendirinya. Namun ibunya tak mau ambil resiko. (*)

*) Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Buku ceritanya yang sudah terbit berjudul Wisata Buang Cinta (2013) dan Adakah Bagian dari Cinta yang Belum Pernah Menyakitimu (2015). Sedang buku puisinya berjudul Ludruk Kedua (2016). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.

Continue Reading

Classic Prose

Trending