Connect with us

Cerpen

Albert Camus: Antara  Ya dan Tidak

mm

Published

on

BILA benar satu-satunya surga adalah yang telah hilang itu, aku tahu apa nama sesuatu yang lembut dan tak berbelas yang menyelinap ke dalam diriku hari ini. Seorang emigran kembali ke tanah asalnya. Dan aku ingat, Ironi, geram , semua bisu, dan disinilah aku dipulangkan. Aku tak hendak mempertimbangkan kebahagiaanku. Banyak hal yang lebih sederhana dan mudah daripada itu. Sebab dalam jam-jam ketika kugali kenangan dari dasar kealpaan, maka muncul kenangan dari emosi yang murni, yang suatu ketika tergantung di keabadian. Itu saja yang benar bagiku dan aku selalu terlambat menjalani itu. Kita bersuka dalam getar gerak-tangan yang diam, dalam kesantunan sebatang pohon dalam satu panorama. Dan semua yang kita miliki untuk menciptakan kembali cinta adalah suatu detail, tetapi detail yang tidak sempurna: bau suatu kamar yang sudah lama tertutup rapat atau langkah-langkah ganjil di jalanan. Dan bila aku mencintai pada waktu itu, maka aku hanya mencintai diriku sendiri, karena cinta memulihkan kita kapada diri kembali.

Lambat, tenang, dan lamban jam-jam itu kembali hanya bagai gerak—karena saat itu senja, jam itu sedih dan langit tak berbintang; semacam kerinduan yang samar. Setiap gerak-tangan yang tertangkap kembali berkata pada diriku sendiri. Sekali seseorang berkata, “Begitu sulit hidup ini.” Aku ingat nada ucapannya itu. Satu kali yang lain seseorang bergumam, “Kesalahan terburuk, bertapapun, adalah membuat orang lain sengsara. “Bila semua telah lewat, rasa haus akan hidup pun padam. Itukah kebahagiaan? Bila kita menoleh ke belakang kenangan-kenangan itu, dan kita selubungi semua itu dengan rasa murung yang sama, maka muncullah kematian bagai dengan yang cepat. Kita mencintai masa lampau kita, kita rasakan kembali kesengsaraan kita dan kita mencintai yang lebih baik dariapda itu. Ya, barangkali itulah kebahagiaan; perasaan cinta akan ketidakbahagiaan kita.

Seperti itu pula senja ini. Di dalam kafe Habsi, di suatu pojok yang paling jauh dari kota, aku tidak ingat akan kebahagiaan yang lalu, tetapi pada suatu perasaan asing. Hari telah malam. Di dinding-dinding, tampak syeik-syeik berserban hijau dikejar singa-singa kuning-kenari, di antara batang-batang palma yang rimbun daunnya. Di sudut kafe, menyala sebuah lampu asetilen dengan cahaya yang gemetar. Penerangan yang sebenarnya adalah tungku keramik di pendiangan, yang nyala cahayanya menjilati tengah ruang itu, dan aku merasakan bayangan yang sebentar-sebentar terlempar ke mukaku. Aku tepat menghadap ke pintu dan teluk. Pemilik kafe yang membungkuk di pojok seperti sedang memperhatikan gelasku yang telah kosong, di dasar mana selalu tercetak uang untuknya. Tak seorang pun di tengah hiruk-pikuk kota, dan lebih ke bawah lagi tampak sinar-sinar lampu di teluk. Kudengar napas Arab itu amat keras, matanya berkilau di kegelapan. Inikah suara laut di kejauhan itu? Menurut perasaanku, bumi seperti sedang menarik napas panjang di depanku dengan irama yang panjang pula, dan menyeretku pada ketidakpedulian dan ketenangan yang tak kunjung mati. Lukisan singa-singa di dinding tampak berombak di antara bayang-bayang merah yang besar, yang dibentuk oleh nyala api di pendiangan. Lampu-lampu menara mulai menyala: hijau, merah lalu putih. Dan napas panjang bumi terus terdengar; semacam lagu rahasia yang lahir dari ketakpedulian itu. Dan di sinilah aku dipulangkan kembali. Aku ingat ada seorang bocah yang hidup di lingkungan yang miskin ini. Alangkah miskin lingkungan dan rumah itu! Rumah itu hanya berlantai satu dan tak ada lampu di tangga. Dan sekarang, bertahun-tahun kemudian, ia kembali ke sana di tengah malam ini. Ia tahu, bahwa ia akan menaiki tangga itu secepat-cepatnya tanpa sekalipun luput menginjakkan kakinya. Tubuhnya sudah sangat lekat dengan rumah itu. Tangannya masih mengenali susuran-tangga, sungguhpun selalu ada kengerian yang tak pernah bisa diatasinya, dan itu karena lipas yang biasa merayap di pegangan susuran-tangga itu.

PADA sore hari di musim panas laki-laki pekerja kebanyakan duduk di tingkat atas. Di rumahnya hanya ada sebuah jendela kecil. Demikianlah, maka mereka biasa mengangkat kursi ke depan rumah dan menikmati senja di sana. Ada sebuah jalan di depan rumahnya, tukang susu tinggal di sebelah dan di seberang jalan ada kafe-kafe dan suara anak-anak riuh berlarian dari pintu ke pintu.

Tetapi di atas semua ini, di antara batang-batang pohon ficus, adalah langit. Ada ketenangan di lorong yang melarat itu, teapi suatu ketenangan yang mengangkat seluruh nilai ke harkat yang sebenarnya. Pada tingkat perasaan tertentu, langit itu sendiri dan malam yang berbintang adalah kekayaan yang fitri. Tetapi, pada pertimbangan ini, langit merebut kembali artinya yang penuh: keindahan yang tak tertara.

Malam-malam musim panas adalah misteri-misteri yang sarat dengan beban bintang-bintang. Di belakang punggung bocah itu ada jalan ke ruang rumahnya yang berbau apak dan ke kursinya yang kecil, yang didudukinya seperti terpaku di tanah. Tetapi matanya menatap ke atas dan ia seperti tenggelam dalam malam yang bening itu. Sekali-kali melintas kereta lori dengan cepat. Seorang pemabuk bernyanyi sempoyongan di sudut jalan, tanpa menyadari bahwa ia merusak kehendingan malam.

                Ibu bocah itu selalu diam. Sering orang menanyainya, “Apa yang sedang kaupikirkan?” Dan jawabnya selalu, “Tidak ada.” Itu memang  benar. Segalanya ada di sana, maka tiada. Hidupnya, apa-apa yang menjadi perhatiannya, anak-anaknya, semuanya disana; terlalu fitri untuk dirasa.

Dia lemah dan sulit berpikir. Ibunya yang culas dan menguasainya sudah lama mengatasi jiwanya yang lemah. Sungguhpun ia kemudian diselematkan oleh perekawinannya, toh ia mesti pulang ke ibunya lagi sesudah suaminya meninggal. Bintang eroix de guerre untuk suaminya, yang biasa disebut orang “gugur sebagai bunga banngsa”, terpasang di suatu tempat di dinding; sebuah medali berbingkai yang disepuh emas.

Perempuan janda itu juga menerima kiriman pecahan granat yang ditemukan di luka suaminya. Janda itu menyimpannya dengan patuh dan penuh kasih. Dukacitanya adalah sesuatu yang telah lampau. Ia sudah melupakan suaminya, tetapi masih selalu bicara tentang ayah anak-anaknya. Ia bekerja sekadar untuk anak-anaknya, dan memberikan uang hasil kerjanya pada ibunya. Sedang ibunya mendidik anak-anak itu dengan cambuk di tangan. Bila ibunya memukul mereka terlalu keras, perempuan janda itu berkata, “Jangan memukul di kepala.” Karena  anak-anak itu ia yang melahirkan, dan ia sayang pada mereka. Ia mencitai anak-anak itu dengan cinta kasih yang tak pernah diucapkan. Pada malam-malam seperti yang dihadapinya sekarang, bocah itu ingat, perempuan yang sudah menjada itu pulang dari kerjanya yang berat (ia menjadi tukang membersihkan rumah), dan akan ditemukannya rumah itu kosong. Ibunya, si pemegang cambuk, tentu sedang keluar berbelanja dan anak-anaknya masih sekolah. Lalu ia akan duduk terbenam dan bungkam di atas kursi dengan mata terus menatap kosong ke suatu celah di lantai. Malam akan semakin larut di sekitarnya, dan di tengah kegelapan, kebisuan semacam itu seolah sesuatu yang sakral; yang tak tertahankan. Bila si bocah masuk pada saat itu, maka akan gemetarlah pundaknya dan si bocang berhenti; ia takut.

Ia mulai merasakan berbagai hal. Ia mulai menyadari kehadiran dirinya. Tetapi ia seperti ditikam untuk menangis dalam kekelaman itu; kekelaman yang seperti meradang. Ia kasihan pada ibunya. Apakah itu berarti ia mencintai ibunya? Ibunya tak pernah membela atau mengusapnya, karena tak tahu untuk apa.

Lalu si bocah akan diam berdiri di sana tanpa bergerak sedikit pun; memperhatikan ibunya. Bila sesuatu yang ganjil telah mencekamnya, maka si bocah akan measakan pedih luka di dalam dirinya. Ibunya tak akan mendengarnya karena letihnya. Si perempuan tua pemegang cambuk itu akan pulang sebentar kemudian; hidup akan kembali normal—menyalakan lampu kerosen dengan cahaya yang gemetar, lampu minyak tanah, teriakan-teriakan dan kata-kata jorok. Tetapi sejenak keheningan tadi masih mencercahkan suatu titik henti; suatu saat yang tak tergapai. Sebab ia telah merasakannya. Ia mengira bahwa muntahan rasa yang berguncang dalam dirinya itu adalah cinta terhadap ibunya. Dan ia memang patut mencitainya, karena biar bagaimana, itu adalah ibunya.

Perempuan itu tidak memikirkan apa-apa. Di luar ada cahaya dan suara hirup-pikuk; di sini keheningan malam. Bocah itu akan menjadi besar, dan ia akan belajar. Mereka membesarkannya dan mereka mengharapkan terima kasihnya, karena mereka sudah menderita untuknya. Ibunya akan selalu berada dalam pesona keheningan itu. Dan ia akan tumbuh dalam penderitaan. Jadilah laki-laki; itu saja yang masuk hitungan. Neneknya akan mati, lalu ibunya, dan ia sendiri.

Perempuan janda itu lalu terloncat dari kursi karena ketakutan. Si bocah kelihatan tolol menatap ibunya seperti itu. Biarkan ia menggarap rumahnya. Si bocah sudah menggarap pekerjaan rumahnya. Hari ini di kafe yang kumal. Ia sekarang laki-laki. Bukankah itu yang masuk hitungan? Jawabnya mesti tidak, karena menggarap pekerjaan rumah dan setuju menjadi laki-laki adalah untuk menjadi tua.

ARAB itu nongkrong saja di pojok dengan melipat kaki dan tangannya berpeluk pada lutut. Dari teras mengambang bau kopi yang menyodok hidup bersama senda-gurau yang meriah dari orang-orang muda. Motor bot terdengar lagi di kejauhan, dalam dan lembut. Bumi damai di sini, seperti biasanya tiap hari. Betapa tahan dan tetap tak berubahnya perangai ibu yang ganjil itu! Hanya kedamaian bumi yang dapat berkata padanya apa itu sebenarnya. Suatu malam, anaknya—yang sudah dewasa—dipanggilnya. Ia telah mengalami guncangan yang menyebabkan datangnya gangguan pikiran yang berat. Perempuan itu biasa duduk-duduk di tingkat atas waktu sore dan malam hari. Lalu matanya akan mengikuti orang-orang yang lalu-lalang. Di belakang punggungnya, malam semakin larut. Di depannya, toko-toko akan segera menyalakan lampu-lampu. Jalanan akan dipenuhi orang-orang yang lewat dan cahaya lampu.

Ia lalu akan hilang-diri dalam renungan tanpa tujuan itu. Pada  malam yang masih diragukan itu datang seorang lelaki dengan tiba-tiba dan menyeretnya, lalu melakukannya dengan kasar dan kemudian lari  karena terdengar suara-suara ribut. Perempuan itu tak melihat apa-apa lagi, lalu jatuh pingsan. Ia memutuskan, atas nasihat dokter, untuk menemani ibunya  di kamarnya. Ia merentangkan tubuhnya di sebelah ibunya dengan selimut di atasnya.

Waktu itu musim panas. Ketakutan yang ditimbulkan kejadian tadi lama menempel di kamar yang terlalu pengap itu. Langkah-langkah kaki berderap, detap daun pintu dibuka dan ditutup; bergerit-gerit. Di udara, mengambang bau masam minuman yang biasa ditaruh di kamar orang sakit. Perempuan itu membolak-balik dalam tidurnya, mengerang dan kadang-kadang terbangun karena terkejut. Ia berulang kali membangunkannya dari tidur yang gelisah, dan biasanya ia sendiri yang kemudian mandi peluh. Dan sesudah terjaga, perempuan itu akan jatuh tidur setelah bolak-balik melihat arloji tangannya dan nyala lampu yang menari ke sana-kemari. Dan ia merasa, betapa sendirinya mereka pada malam yang begitu sunyi. Sendiri sama sekali. Orang-orang lain tidur nyenyak, sementara mereka berdua terserang demam. Semua yang ada dalam rumah tua itu kosong rasanya. Bila kereta lori tengah malam melintas, seperti makin pupuslah harapan mereka; harapan yang berupa kepastian-kepastian dari suara hiruk-pikuk kota.

Yang terdengar hanya gemanya di rumah itu; itu pun hanya sebentar saja. Dan yang tertinggal adalah taman kesunyian yang besar, di mana mereka dikejutkan oleh momok-momok bercacat yang mengerang. Ia tak pernah merasakan kehilangan seperti itu. Bumi luruh dan bersamanya ilusi hidup menjadi baru setiap hari. Tak ada yang masuk hitungan lagi; tidak juga studi atau ambisinya. Pesan tempat di restoran, atau warna-warna pilihan. Tak satu pun selain rasa sakit dan kematian, di mana ia sendiri merasa terbenam….. Namun, pada jam-jam ketika bumi seperti terpecah-pecah itu, ia hidup. Dan akhirnya ia tertidur juga. Tetapi bukan tanpa membawa beban harapan yang hilang. Lama kemudian, ia diingatkan oleh masam-anggur yang bercampur keringat itu, ketika ia sudah merasakan hubungan yang mempertautkan dirinya dengan ibunya. Dan itu dirasakannya sebagai kelembutan kasih ibunya yang tertebar di sekelilingnya, yang melambung-lambung dengan tulus—peran seorang perempuan yang malang dengan nasib yang rawan.

SEKARANG nyala api di pendiangan sudah ditutupi abu. Dan terus saja terdengar napas-panjang bumi. Gelak seorang lelaki mengalir dan suara perempuan riang mengikutinya. Cahaya-cahaya bergerak bersembulan di teluk; barangkali kapal-kapal nelayan kembali ke pelabuhan. Langit segitiga yang tampak di depanku bebas dari awan. Langit ditebari bintang-bintang dan gemetar bila dilintasi hembusan angin, sayap beludru malam membelai sekelilingku dengan lembut. Masih berapa jauh malam ini; malam yang bukan milikku lagi? Ada sesuatu yang berbahaya dari kata kesederhanaan. Dan malam ini aku mengerti, bahwa seseorang bisa ingin mati karena—sesuai dengan kehidupan yang jernih—tak ada satu pun lagi yang penting. Seseorang menderita dan menemui kemalangan seperti juga orang lain. Ia akan memperpanjang kemalangan dan penderitaannya kalau selalu mencoba mengukuhkan nasibnya. Bijaksana ia. Dan kemudian, suatu malam ia bertemu seorang teman yang disukainya. Teman ini bicara padanya dengan gaya seenaknya. Bila ia pulang, lelaki itu akan bunuh diri. Orang lalu bicara tentang kesukaran-kesukaran pribadi dan gejolak-gejolak yang tersembunyi. Tidak! Bila toh mesti ada suatu sebab, ia bunuh diri karena seorang teman bicara padanya dengan seenaknya. Demikianlah, rasanya aku selalu menemukan arti yang lebih dalam dari dunia ini; kesederhanaan yang selalu meluruhkanku. Ibuku pada malam itu dan kesengsaraannya. Suatu kali lain aku tinggal di sebuah gubuk di luar kota, dengan seekor anjing, dua ekor kucing dan anak-anaknya, semuanya berbulu hitam. Induknya tak bisa merawat  anak-anak itu. Seekor demi seekor anak-anak kucing itu mati. Dan kamar mereka akan dipenuhi dengan kotoran mereka. Dan tiap malam, bila aku pulang, kutemui seekor demi seekor anak-anak kucing itu telah kaku, dengan bibir mereka yang terlipat.

Suatu malam, kutemukan anak kucing yang terakhir tengah dimakan induknya. Bangkainya sudah mulai berbau. Bau kematian bercampur air  kencing. Aku duduk di tengah segala keruntuhan itu, dan dengan tanganku kutikamkan pisau ke dalam kotoran itu dan napasku lalu dipenuhi oleh bau anyirnya. Aku menatap nyala liar yang memancar dari mata hijau kucing betina itu, yang meregangkan tubuhnya di pojok tanpa bergerak-gerak. Ya. Tepat seperti itu pula malam ini.

                Pada titik tertentu dari kevakuman ini, tak satu pun yang menuntun pada yang lain; seperti tak berdasar rasanya orang berharap atau memburu harapan, dan seluruh hidupku hanya tersimpul pada suatu bentuk yang semu. Tetapi kenapa berhenti disana?

Sederhana, segalanya sederhana; di mercusuar itu ada lampu hijau, merah, dan putih—di tengah dingin dan bau kota serta rasa malas yang bangkit di dalam diriku.

Bila malam ini ada gambaran masa kanak-kanak yang kembali padaku, bagaimana aku bsia menolak pelajaran cinta dan kekayaan yang kulukis daripadanya? Karena saat ini adalah bagai sesuatu antara ya dan tidak. Kutinggalkan saat-saat yang lain untuk harapan dan kemudian untuk hidup. Ya, untuk mencari kemurnian dan kesederhanaan surga yang hilang itu—dalam bentuk yang semu. Dengan demikian belum lama berselang, di sebuah rumah di lingkungan tua itu, seorang anak menjenguk ibunya. Mereka duduk berhadapan; diam saja. Tetapi mata mereka bertemu.

“Jadi, bagaimana, Bu?’

“Ya, baik-baik saja.”

“Bosankah Ibu? Apakah aku tak cukup bicara?”

“Oh, kau tak pernah banyak bicara.”

Dan senyum yang masih meleleh di muka perempuan itu. Memang, ia tak pernah bicara dengan ibunya banyak-banyak. Tetapi sebenarnya, apa pula gunanya? Melalui keheningan, suasana menjadi tenang. Ia anaknya dan dia ibunya. Perempuan itu biasa berkata, “Kau tahu.”

Perempuan itu duduk di kaki sofa; kedua tangannya memeluk lutut. Ia duduk di kursi, hampir tidak melihatnya. Juga setiap kali menyambung rokoknya yang memendek. Lalu senyap.

“Mestinya kau tak usah banyak merokok.”

“Benar.”

Bau seluruh lingkungan itu masuk lewat jendela. Akordion di kafe di dekat situ, kendaraan malam yang berat, bau daging asap yang disusul oleh tangis seorang bocah di jalanan ….. Ibu itu bangkit dan mengambil sulaman.

Jari-jarinya kaku dan bengkok-bengkok karena penyakit. Ia tak dapat bekerja dengan cepat.

“Ini sweater kecil. Akan kupakai dengan leher baju putih. Dengan baju hitam ini, cukup pakaianku untuk musim ini.”

Ia bangkit mengambil pelita dan menyalakannya.

“Pada hari-hari terakhir ini, langit cepat menjadi gelap.”

“Memang. Karena sudah bukan  musim panas lagi. Musim dingin juga belum datang. Kau akan kembali lagi kemari?”

“Tetapi aku belum pergi, Bu. Kenapa Ibu berkata begitu?”

“Tidak, hanya sekadar bertanya saja.”

Sebuah kereta lori lewat. Lalu mobil.

“Benarkah aku mirip ayahku?”

“Benar. Tentu saja kau tak mengenalnya. Kau baru berumur enam bulan ketika ia meninggal. Tapi bila kau berkumis kecil ……”

Perempuan itu bicara tentang ayahnya tanpa mengadili atau menghukum. Tanpa kenangan dan emosi. Barangkali ayahnya dirasakannya seperti lelaki-lelaki yang lain. Apalagi ayahnya pergi begitu “formal”; gugur dan mayatnya ditanam di makam pahlawan dan namanya dicantumkan di tugu peringatan.

“Biar bagaimanapun,” kata perempuan itu, “lebih baik begitu. Kalau tidak meninggal, ia akan buta atau gila. Bukankah lebih celaka lagi?”

“Benar.”

Apa pula yang menahannya di kamar itu, kalau bukan kepastian bahwa di situ selalu lebih baik; bahwa kesederhanaan yang absurd dan menyeluruh dari dunia ini telah singgah di kamar itu?

“Kau akan kembali?” tanya perempuan itu. “Aku tahu, kau mesti bekerja. Tapi lama-kelamaan …..”

TETAPI sekarang di mana aku? Dan betapa aku memisahkan kafe kosong ini dari kamar masa lalu itu? Aku tak tahu, apakah aku mengalami semua ini atau hanya membayangkannya saja. Mercusuar masih tegak di sana. Dan Arab itu bangkit dan memberitahu bahwa kafenya sudah mau tutup. Aku mesti pergi. Aku tak ingin lagi kembali ke lingkungan kumal dan berbahaya ini. Benar bahwa aku melihat teluk dan mercusuar untuk terakhir kalinya, dan yang bangkit di dalam diriku bukan lagi harapan akan hari-hari yang lebih baik, tetapi kesan yang tak berubah terahdap semuanya dan diriku sendiri. Ya, semuanya sederhana saja. Manusia yang menjadikan semua ini ruwet. Bukan sebaliknya.

Jangan biarkan mereka berkata pada kita tentang laki-laki yang dijatuhi hukuman mati dan bahwa “ia akan membayar utangnya pada masyarakat”; lebih baik katakan bahwa “ia akan memotogn kepalanya sendiri”. Tampaknya hampir sama, tetapi toh sedikit berbeda.

Dan masih ada orang-orang yang lebih suka melihat nasib mereka di dalam matanya. (*)

(Penerjemah: W. Respati)

————————————–

ALBERT CAMUS, (Nobel Prize for Literature 1957)

Lahir di Mondovi, Aljazair tahun 1913 dan meninggal tahun 1960 di Sens, Prancis. Camus dikenal sebagai salah satu tokoh filsafat eksistensialisme. Bersama Jean-Paul Sartre dan Andre Malraux, ia bahkan disebut-sebut sebagai salah satu dari tritunggal eksistensialis Prancis, yang banyak mengungkap pemikiran tentang eksistensi manusia yang terkenal absurd. Ia terutama membedah dilema pokok manusia modern dalam karya-karyanya, serta penjelasan tentang keberadaan manusia yang tak dapat dipahami dan tanpa tujuan.

Karya-karya Camus meliputi 4 buah novel, di antaranya L’Etranger (1942), Le Peste (1947), dan La Chute (1956); sebuah kumpulan cerita pendek L’Exile et le royaume (1957); sejumlah esai, antara lain L’Envers et l’endroit (1937), Noces (1938), Le Mythe de Sisyphe (1943), dan L’Homme revolte (1951); serta 4 buah drama. Seluruhnya adalah karya-karya terbaik pada zamannya, sehingga Camus dianggap sebagai salah satu pemikir yang paling berpengaruh pada pertengahan abad ke-20.

Dalam keterangan pers-nya, Akademi Swedia menganugerahkan Hadiah Nobel untuk Kesusastraan pada Camus sebagai pengakuan: …”untuk karya sastranya yang penting, yang dengan kesungguhan mengungkap dengan jernih masalah-masalah hati nurani  manusia pada zaman kita sekarang …”

Camus adalah sastrawan kesembilan Prancis (setelah Sully Prudhomme tahun 1901, Frederic Mistral ahun 1904, Romain Rolland tahun 1915, Anatole France tahun 1921, Henry Bergson tahun 1928, Martin du Gard tahun 1937, Andre Gide tahun 1947, dan Francois Mauriac tahun 1952) yang memperoleh penghargaan tersebut. (*)

 

Cerpen

Tiara

mm

Published

on

by Widya Yustina *)

“Mas Edi menelepon tadi.”

“Apa, Bu?” tanyaku.

“Iya, Mas Edi menelepon Ibu.”

“Oh, ya?”

“Nyariin kamu.”

Untuk apa dia mencariku?

“Dia bilang nomor handphone-mu tak bisa lagi dihubungi, makanya itu mungkin dia nelepon kemari.”

“Begitu ya? Lain kali, kalau Mas Edi telepon, ndak usah diangkat saja ya, Bu,”

“Lho?”

“Iya, pokoknya nanti kalau Mas Edi telepon lagi, langsung tutup saja sama Ibu.”

“Hhmm… Sebenarnya bukan sekali ini saja dia kontak Ibu, minggu lalu juga Mas Edi telepon, nanya kabar Tiara, mungkin kangen.”

Kangen? Tumben kangen.

Nduk… Mungkin sudah saatnya kalian bicara, biar bagaimana keadaannya, pikirkan masa depan anakmu, Tiara.”

Apakah selama ini dia memikirkannya?

 “Genduk… Ibumu ini bicara serius.”

Inggih, Ibu, tapi sekarang Lastri pergi kerja dulu ya.”

“Kamu ini… Baiklah kalau begitu, hati-hati di jalan ya.”

Suara Ibu bergetar terdengar waswas. Tiara, bayi perempuanku, beringsut nyaman dalam dekapan neneknya. Usianya belum genap 2 tahun, rambutnya keriwil, hidungnya lumayan bangir. Manis kalau tersenyum. Kugenggam jari-jemarinya yang montok dan menggemaskan. Kucium keningnya lalu pamit pada ibuku.

Tetangga dan handai tolan bilang, Tiara sangat persis mirip bapaknya ketimbang denganku. Sorot matanya acapkali mengingatkanku pada sesosok lelaki yang dulu sangat kuhormati, Mas Edi Wibowo, atau haruskah kusebut saja namanya tanpa panggilan hormat ‘Mas’? Ingin rasanya kuenyahkan dia dari ingatan. Namun, setiap kali menatap Tiara, mustahil melakukannya.

Pria itu begitu memesona waktu awal jumpa. Pintar dan tampak bersahaja. Posturnya tak terlalu tinggi namun kesan wibawa terpancar kuat darinya. Setelan kemejanya rapi. Rambutnya disisir klimis. Sepatu pantofelnya mengilat. Menjinjing tas kulit berwarna cokelat. Kami bertemu muka di bus kota.

Alih-alih bersikap cuek, aku terkejut melihatnya tersenyum padaku. Tunggu, apa benar ia tersenyum padaku? Kutengok kanan dan kiri, benar pandangannya tertuju padaku saja. Jantungku tersendat, dihunjam ratusan anak panah. Sepersekian detik terbang ke langit ketujuh. Pipiku memerah, dibuatnya jadi salah tingkah.

“Kenalkan, namaku Edi, Edi Wibowo.”

“Ah iya, saya… Ayu Lastri, panggil saja Lastri, Mas.”

Silir angin menembus celah jendela kaca tempat duduk kami berdampingan. Semerbak aroma wangi parfum segar tercium hidungku seketika membuat harga diriku terhempas karena cuma pakai deodoran. Harga parfumnya pasti mahal, pikirku kala itu.  Mas Edi terpaksa naik bus karena motor bebek yang dikendarainya mendadak mogok di tengah jalan. Ia hendak pergi mengajar di salah satu universitas tinggi negeri di Yogyakarta.

Pertemuan itu kukenang sebagai tengara bahwa hidup selalu memberi kejutan. Enam bulan setelah perkenalan, kami menggelar pesta pernikahan kecil-kecilan. Mas Edi, seorang Pegawai Negeri Sipil, mengenyam pendidikan doktoral di Amerika, melabuhkan petualangan cintanya padaku. Seorang gadis biasa-biasa saja, bahkan hanya lulusan diploma. Mungkinkah itu benar disebut cinta jika akhirnya membuatku sengsara?

 “Mbak, Mbak, ojek Mbak…,” lamunanku seketika buyar oleh seruan tukang ojek pangkalan.

“Oh iya, tolong antar saya ke Belo Garmen Industri di Jalan Mergo sari ya pak.”

“Ah, siap!” ujarnya sambil menyodorkan helm.

Matahari menggeliat bersinar garang. Bunyi klakson menggemuruh. Kabut udara dari asap kendaraan bercampur dengan butiran semangat dan keringat. Deru mesin motor melaju kencang di jalanan. Membelai rambutku yang panjang terurai, terkena imbasan angin. Jalanan yang sama kutempuh selama dua tahun ini menuju tempat perusahaanku bekerja di bagian administrasi.

Gajinya tak terlalu besar tetapi paling tidak dapat menyelamatkan harga diriku ketimbang menagih janji tanggung jawab dari ayah Tiara, seolah-olah itu utang. Tiara masih berumur 6 bulan waktu bapaknya itu menjatuhkan talak. Mas Edi rupanya kecantol cinta lain, sesama kolega.

Entah kapan dan di mana mereka bertemu, hanya Tuhan yang tahu. Perempuan itu tak mau mengaku ketika kuhubungi. Jejak perselingkuhan mereka tetap tercium meski suamiku berusaha menutupinya. Saat itu pula, harga diriku sebagai istri telah lenyap. Perselingkuhan itu seketika mematikan sumbu cinta di dalam hatiku. Menghancurkan keyakinanku akan ikatan suci sebuah perkawinan.

Gelora hasrat puber kedua telah membuatnya mati rasa. Tugasnya menjadi tugasku. Menjadi seorang ayah sekaligus menjadi seorang ibu. Demi anakku, rela kulakukan segala. Kepala menjadi kaki, kaki menjadi kepala. Kini laki-laki itu mencari-cariku setelah dia nyatakan urusan kami selesai bertahun-tahun lalu. Hidup tak sebercanda itu.

“Pak, pak, berhenti di sini ya.” Motor berhenti di lajur jalanan beraspal, khusus karyawan pabrik.

“Berapa, Pak?” ujarku sambil membuka helm.

“Eeh, itu, gak apa-apa, Mbak, gak usah bayar.”

“Lho?” ucapannya membuat keningku seketika berkerut.

“Jangan, bener gak apa-apa.”

“Masa gratis? Kan jadi gak enak saya.”

“Bener gak apa-apa, itu tapi, nganu, begini, saya kepengin ngobrol sama Mbak, sebentar saja, boleh ya?”

“Mau ngobrol apa?”

“Eehhmm…, gini, anu…, saya sering perhatikan Mbak kalau pulang kerja malam, pergi ke mana-mana juga sendirian, apa ndak takut begitu?” Bola matanya menyipit. Alisnya tegak. Sudut bibirnya merruncing, menampak seringai serigala.

“Dengar kabar, Mbak janda ya? Apa ndak kesepian? Boleh sekali-kali saya temani? Nanti pulang kerja, kita jalan-jalan dulu ya, gimana? Mau?”

Wajahku sontak terasa panas bagai ditampar bara. Sekelebat bayangan pedang muncul menghunjam dada pria paruh baya bertubuh gempal itu. Tubuhnya ambruk, menggelepar-gelepar di atas tanah. Mulutnya mesem-mesem sembari terus mengeluarkan celotehan busuk. Perutku mual ketika jari-jemarinya mencoba menyentuhku.

Kurogoh kocek lima puluh ribuan, kulemparkan kehadapannya lalu beranjak pergi. Pandanganku kabur, tergenang air mata. Hati remuk bagai gelas retak berdebu. Sepagi ini menanggung malu. Duh Gusti Mahasuci yang Maha menyaksikan segala, harus berapa lamakah lagi menahan diri dari fitnah, bujuk rayu dari segala penjuru?

Belumlah reda gemuruh di dalam dadaku. Langkah kakiku mendadak terhenti. Terlihat kerumunan karyawan berjejalan di depan pintu pabrik. Selembar kertas pengumuman tertempel di pintu gerbang yang tertutup rapat itu. Aku bergegas menghampiri Marni, seorang teman yang kukenal bekerja di bagian operator.

“Ada apa ini ribut-ribut, Mar?”

“Oh kamu, Las, ini perusahaan ngasih pengumuman, kegiatan operasional pabrik kita ditutup, katanya hasil tes beberapa karyawan kita positif kena corona.”

“Apa?!” Ucapan Marni seketika membuat mulutku menganga.

“Yang benar? Siapa, Mar?”

“Iya benar. Mulai hari ini kita ndak usah datang ke pabrik lagi. Tuh! kamu baca saja sendiri,” ujar Marni sambil berlalu pergi. Aku pun bergegas mendekat ke arah kerumunan, bergesek beradu, membaca sendiri isi pengumuman itu. Ternyata benar yang dikatakan Marni. Pabrik ditutup sementara waktu.

Suasana semakin ricuh. Sebagian karyawan berteriak-teriak sambil mengacung-acungkan tangan. Seseorang kemudian merusak kertas pengumuman itu lalu melemparkannya ke tanah. Petugas keamanan menyuruh kami mundur dan bersabar menunggu instruksi lanjutan dari pimpinan. Marni tampak diam berdiri di seberang jalan, mata kami saling bertatapan.

Seluruh kejadian beruntun pagi ini pun membuat dadaku sesak, jantungku berdetak kencang tak karuan. Kepalaku mendadak pening alang bukan kepalang. Bagaimana akan kuberi makan anakku? Apa yang harus kulakukan sekarang?  Hanya pekerjaan ini yang kuandalkan. Hidup berhemat agar mampu bertahan. Kuabaikan keinginan serta kebutuhan pribadiku agar Tiara bisa hidup layak.

Sekumpulan ojek terlihat berada di tikungan tampak asyik mengobrol, salah seorang dari mereka tertawa terbahak-bahak. Langkah kakiku otomatis berbelok, memutar arah, berjalan lebih jauh menuju persimpangan, menaiki angkutan umum, kembali menuju tempat ibuku sebagai karyawan yang dirumahkan. Dalam perjalanan, pikiranku kembali menerawang. Berita pagi ini sulit kuterima, dan sejujurnya aku pun belum tahu akan bagaimana. Akan tetapi, aku harus mampu menghadapinya, karena aku adalah seorang ibu. Ibu yang bahkan rela mati demi anaknya.

Selesai.

__
*) Widya Yustina lahir di Ciamis, 1986. Menyelesaikan studi Ilmu Jurnalistik di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Bandung. Selain hobi menulis, ia juga gemar menonton dan jalan-jalan. Karyanya yang lain diantaranya, Buku Dongeng Fabel 2019 Jilid 1 (2019), Menenun Rinai Hujan (2019) bersama Sapardi Djoko Damono, Orakadut Jadi Tokoh (2020) kumpulan antologi cerpen bersama Golagong.

Continue Reading

Cerpen

Asmara Lembah Silikon

mm

Published

on

Kegentingan yang terjadi akibat ulah Hafiz Imtiaz tak mungkin diselamatkan. Big data harus merelakan kehilangan limbah digital yang sudah membatu di gudang penyimpanan milik pemulung. Namun, para  founder dan co-founder di Lembah Silikon tak perlu terlalu gusar. Irman Gugelman dan Hafiz Imtiaz berhasil mencapai kesepakatan.

Damhuri Muhammad *)

Di mata orang-orang yang lemah daya ingat, Hafiz Imtiaz adalah hard disk drive  (HDD)  bernyawa.  Seolah-olah ada ribuan folder  penyimpan ingatan dalam big storage  yang tertanam di jantungnya. Di gudang penyimpanan itulah rupa-rupa ingatan dikandangkan. Mulai dari ingatan remeh, seperti hari pertama bisa pipis sendiri, hari pertama bisa menyalakan korek api, hari pertama pakai seragam sekolah, atau hari pertama bisa mengendarai sepeda tanpa bantuan dua roda samping.

            Ada pula folder berisi memori-memori yang terklasifikasi pada level medium, semacam rahasia perempuan yang ternyata berjodoh dengan laki-laki yang dulu kerap ia hina dengan kata-kata yang lebih menyakitkan dari kematian, jawaban atas rasa penasaran kenapa gadis ayu level dewa rela menerima pinangan duda seusia bapaknya, termasuk ingatan atas hari pertama melihat tubuh perempuan tanpa busana dari pengalaman mengintip orang mandi. Tersedia pula folder khusus dengan berlapis-lapis kata kunci, berisi koleksi ingatan berkategori kelas berat. Misalnya, jawaban akurat atas tanda tanya besar perihal kematian mendadak seorang jaksa tinggi yang lazimnya dibereskan dengan dalih serangan jantung. Atau jawaban tak tersangkal atas  kenyinyiran netizen kenapa seorang Presiden yang dulu dibela mati-matian oleh pendukungnya, kini menjadi penguasa kesepian dan tinggal menunggu momentum derita post power syndrome.

            Sebelum total berkhidmat sebagai penggenggam ingatan, Hafiz Imtiaz pernah menyebut dirinya sebagai pemulung. Pekerjaannya mengais-ngais sampah di belantara big data, seperti pemulung yang berkeliling dari gang ke gang di permukiman padat, mencari kardus atau botol plastik bekas. Di jagat maya, sampah yang ia bereskan tentu meme sisa TwitWar, politisi berkepala lembu hasil olah photoshop, diagram palsu, hingga infografis berisi statistik yang sudah ketahuan halu.

            “Sampah doyannya sampah juga,” sindir netizen, saat Hafiz Imtiaz sempat mengunggah meme kadaluarsa berjudul dibuang sayang.

Tapi ketika sebuah isu baru memerlukan sokongan konten lama itu, meme milik si penggenggam ingatan sudah lenyap. Sampah yang melesap ke dalam big storage-nya hilang tak berbekas, dan tak bakal terlacak search engine secanggih Google sekalipun. Piranti lunak bikinan Hafiz Imtiaz bagai mesin pengisap hoaks, kebencian, dan  bacot unfaedah. Akibat pekerjaan si pemulung, ruang interaksi media sosial tidak lagi bergairah. Konten yang tersisa hanya buku-buku teori yang bikin ngantuk, nasihat-nasihat jaim berbungkus basa-basi, dan video-video kultum yang lebih buruk dari pidato politisi.

            “Hai Pemulung. Algoritmamu itu, mukjizat dari rasul mana?” tanya seorang pakar datamining  bernama Irman Gugelman, yang kemudian diketahui sebagai utusan khusus penguasa Lembah Silikon.

            “Kau mau kemewahan seperti apa, anak muda? Jangan menganggu tatanan  kekacauan informasi bikinan kami!” lanjut Irman Gugelman, yang terdengar seperti bujukan.

            “Saya memulung yang tak berguna. Mukjizat itu datang dari jazirah Bantar Gebang. Seperti langit dan bumi bedanya dengan Lembah Silikon,” balas Hafiz Imtiaz. Santai.

Meski dapat menembus big storage milik pemulung, misi penting utusan khusus dari Lembah Silikon gagal. Jutaan gigabyte limbah, aset penting penguasa Lembah Silikon, sudah terlanjur menjadi fosil di big storage si pemulung.

            “Secara visual, timbunan fosil itu membentuk anatomi makhluk yang sedang membungkuk, seolah-olah ia sedangmenyembah Dajjal itu!” kata Irman Gugelman, melaporkan kegagalan misinya.

            “Rekomendasi Anda?” tanya pejabat ring satu Lembah Silikon.

Irman Gugelman diam. Ia hanya membayangkan algoritma baru, yang dapat menciptakan kecerdasan buatan sekaliber kecerdasan Nabi, terutama yang  punya mukjizat dapat menghidupkan data mati.

***

            Kegentingan yang terjadi akibat ulah Hafiz Imtiaz tak mungkin diselamatkan. Big data harus merelakan kehilangan limbah digital yang sudah membatu di gudang penyimpanan milik pemulung. Namun, para  founder dan co-founder di Lembah Silikon tak perlu terlalu gusar. Irman Gugelman dan Hafiz Imtiaz berhasil mencapai kesepakatan.

            “Yang sudah hilang tak bisa kalian temukan. Tapi, saya akan berhenti sebagai pemulung!” kata Hafiz Imtiaz setelah menolak semua iming-iming dari Lembah Silikon.

            “Sekadar simpanan guna mengamankan hidupmu di usia senja, tak berminat juga, Pemulung?” tanya Irman Gugelman, yang ia maklumatkan sebagai peluang penghabisan.

            “Saya tidak akan pernah tua! Saya menolak ketuaan. Ndak usah repot-repot, Sodara!” balas Hafiz Imtiaz.

            Sejak itulah si pemulung beralihrupa menjadi penggenggam ingatan. Itupun hanya untuk membuat piranti lunak bikinannya tetap bekerja, sekadar bertahan untuk tidak berakhir sebagai barang rongsokan. Portofolio Hafiz Imtiaz yang pernah mengguncang kedigdayaan para inventor dan inovator Lembah Silikon, membuat ia begitu mudah mendapatkan klien. Si penggenggam ingatan seperti gula yang dikerubungi kawanan semut. Banyak tawaran yang mengandung ajakan agar ia kembali berkiprah sebagai pemulung dalam wajah baru, misalnya menghisap data pribadi dari sebuah platform percakapan daring yang disebut-sebut telah meraup 7 juta user. Tangkapan besar yang sangat berharga bagi saudagar ruang iklan, dan potensi tak ternilai  incaran para kontestan pemilihan Walikota.

            “Kami bisa membantu penyempurnaan piranti lunak Anda. Setelah itu kita bergembira ria di pesta kemenangan Walikota,” kata perwakilan tim sukses salah satu kandidat.

            “Tiga kali tawaran macam ini mendatangi saya, dan saya sudah menolaknya empat kali. Saya alergi politik. Bila kambuh, antibiotiknya kurang ampuh!” kata Hafiz Imtiaz.

            Penggenggam ingatan tak tergoyahkan. Ia hanya ingin bekerja atas nama kemanusiaan. Menyimpan dan mengonservasi ingatan yang di masa datang mungkin akan berguna, terutama bagi kaum yang sudah tumpul daya ingatnya. Hafiz Imtiaz tahu betul, sampah-sampah digital yang ia musnahkan, telah membuat banyak orang abai menjaga ingatan. Terlalu banyak bicara, ketagihan bergunjing, dan hobi berkelahi di linimasa, bisa membuat orang tidak lagi mampu menghapal nomor ponsel sendiri.

            “Ini tentang letak tahi lalat Miftahul Hayati, mantan nomor delapan. Kelak saya akan mengambilnya,” kata pelanggan mula-mula bernama Aulad Mustaqbal. “Jangan sekali-kali berpikir untuk kembali mengaktifkan fitur pemusnahan di perkakas rongsokmu itu!”  tambah Aulad dengan sorot mata mengandung ancaman.

            “Soal imbalan atas jasa ini, tak perlu kuatir.  Sesuai tarif yang tertera, dan tak bakal ditawar.”  

            Bagi Aulad Mustaqbal, mantan nomor delapan itu istimewa. Sekali waktu, pernah menyelamatkan mukanya di hadapan ibu mertua. Masa itu ia sedang jalan berduaan dengan Miftahul Hayati di sebuah mal. Celakanya, ibu mertua sedang berbelanja di mall yang sama. Mereka berpapasan di pintu masuk sebuah toko pakaian dalam. Beruntung ada kawan laki-laki bernama Untung di antara dirinya dan Miftahul Hayati. “Ini siapa, Ananda?” tanya ibu mertua, curiga. Aulad Mustaqbal berkeringat dingin, tapi Miftahul Hayati lekas bertindak. “Saya istri Mas Untung!” balasnya, sambil merangkul sahabat kekasihnya itu. Ibu mertua lega. Curiga yang menyala-nyala padam seketika.

            “Titipan saya hanya berisi angka-angka. Tapi kalau hilang, percayalah, saya akan menderita sebagai tua bangka tanpa nostalgia,” kata pelanggan selanjutnya.

            Di folder itu tersimpan nomor punggung pesepak bola idola ayahnya, saat pelanggan itu berusia 9 tahun. Begitu juga nomor celana dalam pertama, yang dibelikan ibunya beberapa hari setelah ia disunat. Nomor rumah tempat ia dirawat sebagai bayi prematur sebelum kemudian pindah dari kota ke kota, dari negara ke negara. Nomor sepatu olah raga pertama hadiah paman, pada hari ulang tahun yang tak didampingi ayah-ibu lantaran keduanya sedang menjalani sidang perceraian di pengadilan agama.  Dan, yang paling berharga adalah nomor kursi yang tertera pada lembaran tiket bioskop, pada kesempatan mula-mula ia memberanikan diri menonton dengan pacar perdana.

            Jangan dikira mereka tidak berlangganan platform dengan teknologi komputasi awan semacam I-Cloud atau Google Drive. Tapi menurut analisa si penggenggam ingatan, mereka tidak mau lagi bertelanjang dalam jerat raksasa bikinan orang-orang culas di Lembah Silikon. Perisai privasi mereka sudah bolong di sana-sini, lantaran terlalu sering mengunggah data pribadi dalam ekosistem digital. Mereka ingin melarikan diri dari intaian algoritma yang memperlakukan mereka sebagai mangsa di belantara big data.

            “Bagaimana kita bisa mempercayai penggenggam ingatan?” tanya Aulad Mustaqbal pada sejawat-sejawat sesama pelanggan.

            “Semua jejaknya mengandung perlawanan atas kuasa Lembah Silikon. Ia belum punya pengalaman berkhianat!” balas pelanggan bernama Maya Rumantir.

            “Lagi pula, titipan kita cuma remah-remah yang tak mungkin laku dijual.”

            “Apa kau bilang? Remah-remah? Aku sudah lama mencari mantan kedelapan. Hanya saja aku sedang sibuk untuk beberapa tahun ke depan, makanya kunci pencarian kutitipkan sementara. Jaga bicaramu, Nyonya!”

            “Ahai, kau pikir letak tahi lalat tak bergeser pasca revolusi kosmetik?”

            “Berhentilah menakut-nakutiku seperti anak kecil!”

            “Penggenggam ingatan peluang kita satu-satunya. Juru selamat dari penjarahan ingatan besar-besaran yang dikendalikan dari Lembah Silikon. Percayai Hafiz Imtiaz! Oke?”

            “Yups. I have no choice!

****

            Lantaran berbagai kesibukan, kotak surel milik Aulad Mustaqbal telah melewatkan tiga pesan yang seharusnya masuk secara otomatis. Artinya, sudah tiga bulan penggenggam ingatan me-nonaktifkan fitur notifikasi. Setelah berkali-kali diperiksa, dikontak berulang-ulang, Aulad Mustaqbal berkesimpulan; penggenggam ingatan telah menghilang!  Begitu pula bunyi pesan berantainya ke seluruh pelanggan. Kepanikan tak terhindarkan.

            “Celaka! Kita akan berakhir sebagai manula tanpa nostalgia!”

            “Bedebah kunyuk! Ia pikir ingatan bisa dilelang, hah?” umpat Maya Rumantir.

            “Tenang, Sodara-sodara. Bukankah kita punya asuransi kehilangan?”

            “Tai kucing! Asuransi macam apa yang mau mengganti ingatan yang hilang?”  

            Selepas kabar buruk itu, Aulad Mustaqbal adalah pelanggan yang sudah lupa letak tahi lalat mantan kekasihnya. Di dagu, pipi kanan, bawah pusar, atau bahu kiri? Entahlah. Oh, Miftahul Hayati. Satu-satunya yang bisa memastikannya adalah serbuk ingatan dalam  folder  yang sudah raib.

            “Lapor polisi aja gimana, Bro?”

            “Sejak kapan Polsek punya detektif  bagi maling ingatan?”

            “Kalau begitu, kita umumkan saja di Twitter.”

            “No! Itu yang diharapkan rejim Lembah Silikon,” kata Aulad Mustaqbal.   

            Sementara para pelanggan sudah di berada ambang putus asa dan hampir mengikhlaskan hidup mereka sebagai calon manula paling menderita, nun di Lembah Silikon, persisnya di sebuah klinik mewah dengan perkakas medik super canggih, pasien atas nama Miftahul Hayati, baru selesai menjalani operasi ringan; membuang tahi lalat di punggungnya, tepat di bawah tato kupu-kupu biru.

            “Kau bebas sekarang, Sayang! Ia tak mungkin lagi menemukanmu,” bisik Hafiz Imtiaz, dalam senyum bahagia, sambil mendekap perempuan itu erat-erat.

Damhuri Muhammad: Menulis cerpen, esai budaya, artikel politik, dan resensi buku  di  sejumlah media nasional.  Buku fiksi terkininya Anak-anak Masa Lalu (2015). Buku nonfiksi terbarunya, Takhayul Milenial (2020). Associate editor Galeri Buku Jakarta. 

Continue Reading

Cerpen

Pagi Ini, Ada Burung yang Mati

mm

Published

on

By Ruly R *)

Pukul tujuh lebih delapan belas. Masih pagi untuk merutuki nasib, namun Sarju sudah melakukan itu. Dua lembar lima ribuan habis disekali putaran dadu permainan pasar.

“Kirik!” umpat Sarju entah untuk siapa. Wajahnya penuh kesal. Uang yang didambakan berlipat seperti dalam mimpinya kemarin malam justru menguap.

Memang setiap pagi lelaki itu hobi menyambangi meja putaran dadu. Kalau siang kerjanya kalau tidak nongkrong di warung tuak tentu tidur di rumah. Jika waktu malam tiba, dia suka mengendap untuk mengambil barang yang laku dijual.

Pagi ini setelah kalah di meja putaran, Sarju memutuskan untuk menyusuri panjangnya trotoar. Kaki dan fisik Sarju masih saja segar, meski usianya sudah tidak bisa dikatakan muda.

Sarju mengedar pandang ke jalan raya. Cepat dan ugal-ugalan kendaraan yang melintas, saking cepatnya seakan nyawa para pengendara itu lebih dari satu. Tampak kepanikan dan terburu-buru bertumpuk di pagi hari. Ada juga bocah sekolah dengan wajah cemas karena telat berangkat, tampak resah menunggu datangnya angkot.

Sayup suara burung, lalu semakin jelas. Cericit burung beradu dengan bisingnya deru kendaraan. Burung itu terbang melintang di atas kepala Sarju, hinggap dari satu pohon di sebelah utara jalan ke sisi selatan jalan. Sarju saksama melihat burung itu.

Memang, saat ini jarang sekali burung di jalanan kota, sama jarangnya dengan pohon-pohon di sisi kanan-kiri jalan. Gedung-gedung lebih subur tumbuh di kabupaten tempat tinggal Sarju, utamanya di kompleks perkantoran kabupaten, yang hanya berjarak tidak lebih dari dua ratus meter dengan jarak pasar.

Burung terus bercericit. Nyaring terdengar meski terus ditingkahi suara motor dan mobil. Mata Sarju masih saksama melihat burung itu, seakan tak ada hal lain yang ingin ditatapnya pagi ini. Suara burung memanggil ingatan Sarju. Dia ingat desanya. Rindu menyelusup halus pada hati Sarju.

Di waktu yang telah lalu—sebelum dia pindah ke kabupaten ini, cuitan burung menjadi hal akrab bagi Sarju. Membelah dan merentang waktu, nasib dan keadaan berubah seiring zaman, namun ingatan Sarju menjadi bola-bola yang utuh karena suara burung dan desanya. Ingatan yang sebenarnya tidak sempurna bahkan cacat dan bopeng di sana-sini. Hal yang tidak bisa ditambalnya sampai sekarang.

***

Sarju tinggal dan tumbuh bersama kakeknya di desa. Tanpa teman, kecuali keadaan alam sekitarnya saja. Sarju masih ingat betapa itu memedihkan dan memilukan. Satu anak sepantaran saja tak ada yang mau berkawan dengannya. Hanya satu kawan yang ada, yaitu kakeknya sendiri.

“Gak masalah. Ayo melu golek kayu wae,”[1] ucap kakeknya yang langsung mengambil parang ketika melihat raut wajah Sarju yang sedih. Kakeknya memang pandai mengalihkan perasaan Sarju yang sedang berduka. Bukan sekadar mencari kayu saja, kadang Sarju diajak ke sawah, atau tiga bulan sekali pergi ke kota untuk menjual hasil panen. Di pasca panen itu, Sarju benar-benar senang, segala permintaannya pasti akan dipenuhi kakeknya, kecuali satu yaitu teman.

Sarju tidak pernah belajar di bangku sekolah. Ketika bocah sepantarannya mengenyam pendidikan formal, Sarju justru lebih giat membantu kakeknya ke sawah atau main sendiri ke kuburan. Pernah suatu kali kakeknya marah, ketika Sarju membawa kemboja yang begitu banyak.

Nggo opo?!”[2]

“Dolanan,” jawab Sarju ragu.

Setelah peristiwa itu Sarju tidak berani lagi membawa kamboja, bahkan dia takut main ke kuburan. Kakeknya pasti akan marah kalau tahu dirinya main di sana. Tidak ada orang atau teman yang dimilikinya selain kakeknya sendiri.

Penah suatu kali Sarju juga bertanya kenapa dia tak memilik teman. Kakeknya hanya tersenyum. Senyum yang getir dan penuh kepahitan, tumpukan beban datang dari senyum itu. Kakek justru mengajak Sarju ke kreteg Mojo. Di sana kakek menunjuk tempuran sungai dan menyebut Geger Boyo. Sarju hanya diam, tak ada tanya miliknya.

Semua diketahui Sarju seiring usianya yang terus bertambah dan kakeknya mulai sakit-sakitan. Satu waktu, ketika malaikat maut sudah membayang dalam benak kakek, Sarju baru mengetahui yang sebenarnya. Permintaan maaf keluar dari lelaki yang tinggal lunglit itu. Maaf karena selama ini banyak yang disembunyikan kakeknya, terutama kenapa Sarju tidak punya kawan atau lebihnya warga desa mengasingkan mereka untuk tinggal di kaki bukit. Terbata kakek menceritakan itu pada Sarju.

“Aku muk melu-melu, Ju,”[3] ucap kakek. Semua terang diceritakan kakek ketika dia ikut partai palu-arit. Satu malam di musim bediding, beberapa orang bertubuh tegap, berseragam, dan berwajah garang mendobrak pintu rumah kakek yang lama. Tubuh kakek diseret paksa ke Geger Boyo.[4] Kebengisan di depan mata, tidak ada warga yang berani melihat apalagi sampai meningkah saat itu, kecemasan dan ketakuan seakan menyatu dalam benak warga. Kepercayaan berubah menjadi kecurigaan, keluarga kakek mulai dikucilkan. Saat itu hanya ada satu hal untuk keluarga kakek—menyingkir dari desa.

Bertahun kejadian itu berlalu, namun kesepian abadi dalam keluarga Sarju. Usia selalu ada batasnya, banyak cara atau juga sebab untuk mati. Sarju lahir. Hanya tinggal ibunya, ayah Sarju bunuh diri saat ibu Sarju mengandung. Dan saat belum genap usia Sarju empat tahun kakeknya pulang dari pengasingan di Nusakambangan. Kakeknya tak dibunuh di Geger Boyo, namun dibawa ke Nusakambangan setelah dari tempat itu.

Seperti Tuhan telah menggariskan nasib, kesunyian dan kesepian lekat dalam diri Sarju. Karena sakit yang entah apa, ibu Sarju meninggal. Satu keberuntungan, kakeknya sudah ada di rumah waktu itu.

Kakeknya bercerita bagaimana dia bertahan karena Sarju. Bulir halus keluar dari dua mata Sarju. Tidak berhenti sampai beberapa hari karena kakeknya meninggal. Segala menyesakan bagi Sarju yang sudah bukan lagi bocah. Tidak ada warga yang melayat, bahkan untuk tanah seukuran 2×1 meter, Sarju harus mencangkul sendiri. Terbayang wajah kakek, terngiang permintaan maaf dari kakek, semakin waktu, semakin Sarju merasakan kedegilan dan kesepian yang nyata. Bagi Sarju tidak ada cara membunuh kesepian kecuali memang pergi jauh meninggalkan desa. Begitu yang dilakukannya.

***

Bunyi klakson dari motor yang ugal-ugalan membuyarkan lamunan Sarju. Burung yang dilihatnya dari tadi hanya meloncat-loncat kecil tanpa meninggalkan ranting pohon. Lalu lintas masih ramai. Bunyi klakson kembali berulang, kali ini burung itu terbang berpindah pohon. Burung itu melintas di atas kepala Sarju lagi.

Kembali, suara klakson dari satu kendaraan melintas. Tidak lama burung itu hinggap di pohon lalu terbang lagi. Menukik dan terlalu rendah burung itu melayang di atas jalan, mobil bercat putih melintas cepat. Dada Sarju tiba-tiba sesak. Matanya tajam menatap jalan. Pagi ini, ada burung yang mati. Sarju menjadi saksi, tapi tidak ada yang bisa dituntut karena matinya burung itu, sama seperti ingatan dan kata-kata kakenya yang mengiang dalam benak Sarju hingga sekarang.

“Opo pancen kudu nyalahke kahanan?”[5] begitu yang pernah diucap kakeknya dulu.

Bagi Sarju, dulu dan saat ini masih tetap sama saja, karena dia hanya bisa menangis. (*)

______

*) Ruly R, bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Mahasiswa di STKIP PGRI Ponorogo. Novel terbarunya berjudul Kalah (Rua Aksara, 2020). Surat-menyurat: riantiarnoruly@gmail.com


[1] Tidak masalah. Ayo ikut cari kayu saja.

[2] Buat apa?

[3] Aku hanya ikut-ikut, Ju.

[4] Dua tempuran sungai di Sungai Mojo (Sungai yang terletak di antara Solo dan Sukoharjo). Saat tragedi kemanusiaan tahun 1965, tempat itu dijadikan salah satu ladang pembantaian orang yang dianggap Komunis.

[5] Apa memang harus menyalahkan keadaan?

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending