Connect with us

Cerpen

Albert Camus: Antara  Ya dan Tidak

mm

Published

on

BILA benar satu-satunya surga adalah yang telah hilang itu, aku tahu apa nama sesuatu yang lembut dan tak berbelas yang menyelinap ke dalam diriku hari ini. Seorang emigran kembali ke tanah asalnya. Dan aku ingat, Ironi, geram , semua bisu, dan disinilah aku dipulangkan. Aku tak hendak mempertimbangkan kebahagiaanku. Banyak hal yang lebih sederhana dan mudah daripada itu. Sebab dalam jam-jam ketika kugali kenangan dari dasar kealpaan, maka muncul kenangan dari emosi yang murni, yang suatu ketika tergantung di keabadian. Itu saja yang benar bagiku dan aku selalu terlambat menjalani itu. Kita bersuka dalam getar gerak-tangan yang diam, dalam kesantunan sebatang pohon dalam satu panorama. Dan semua yang kita miliki untuk menciptakan kembali cinta adalah suatu detail, tetapi detail yang tidak sempurna: bau suatu kamar yang sudah lama tertutup rapat atau langkah-langkah ganjil di jalanan. Dan bila aku mencintai pada waktu itu, maka aku hanya mencintai diriku sendiri, karena cinta memulihkan kita kapada diri kembali.

Lambat, tenang, dan lamban jam-jam itu kembali hanya bagai gerak—karena saat itu senja, jam itu sedih dan langit tak berbintang; semacam kerinduan yang samar. Setiap gerak-tangan yang tertangkap kembali berkata pada diriku sendiri. Sekali seseorang berkata, “Begitu sulit hidup ini.” Aku ingat nada ucapannya itu. Satu kali yang lain seseorang bergumam, “Kesalahan terburuk, bertapapun, adalah membuat orang lain sengsara. “Bila semua telah lewat, rasa haus akan hidup pun padam. Itukah kebahagiaan? Bila kita menoleh ke belakang kenangan-kenangan itu, dan kita selubungi semua itu dengan rasa murung yang sama, maka muncullah kematian bagai dengan yang cepat. Kita mencintai masa lampau kita, kita rasakan kembali kesengsaraan kita dan kita mencintai yang lebih baik dariapda itu. Ya, barangkali itulah kebahagiaan; perasaan cinta akan ketidakbahagiaan kita.

Seperti itu pula senja ini. Di dalam kafe Habsi, di suatu pojok yang paling jauh dari kota, aku tidak ingat akan kebahagiaan yang lalu, tetapi pada suatu perasaan asing. Hari telah malam. Di dinding-dinding, tampak syeik-syeik berserban hijau dikejar singa-singa kuning-kenari, di antara batang-batang palma yang rimbun daunnya. Di sudut kafe, menyala sebuah lampu asetilen dengan cahaya yang gemetar. Penerangan yang sebenarnya adalah tungku keramik di pendiangan, yang nyala cahayanya menjilati tengah ruang itu, dan aku merasakan bayangan yang sebentar-sebentar terlempar ke mukaku. Aku tepat menghadap ke pintu dan teluk. Pemilik kafe yang membungkuk di pojok seperti sedang memperhatikan gelasku yang telah kosong, di dasar mana selalu tercetak uang untuknya. Tak seorang pun di tengah hiruk-pikuk kota, dan lebih ke bawah lagi tampak sinar-sinar lampu di teluk. Kudengar napas Arab itu amat keras, matanya berkilau di kegelapan. Inikah suara laut di kejauhan itu? Menurut perasaanku, bumi seperti sedang menarik napas panjang di depanku dengan irama yang panjang pula, dan menyeretku pada ketidakpedulian dan ketenangan yang tak kunjung mati. Lukisan singa-singa di dinding tampak berombak di antara bayang-bayang merah yang besar, yang dibentuk oleh nyala api di pendiangan. Lampu-lampu menara mulai menyala: hijau, merah lalu putih. Dan napas panjang bumi terus terdengar; semacam lagu rahasia yang lahir dari ketakpedulian itu. Dan di sinilah aku dipulangkan kembali. Aku ingat ada seorang bocah yang hidup di lingkungan yang miskin ini. Alangkah miskin lingkungan dan rumah itu! Rumah itu hanya berlantai satu dan tak ada lampu di tangga. Dan sekarang, bertahun-tahun kemudian, ia kembali ke sana di tengah malam ini. Ia tahu, bahwa ia akan menaiki tangga itu secepat-cepatnya tanpa sekalipun luput menginjakkan kakinya. Tubuhnya sudah sangat lekat dengan rumah itu. Tangannya masih mengenali susuran-tangga, sungguhpun selalu ada kengerian yang tak pernah bisa diatasinya, dan itu karena lipas yang biasa merayap di pegangan susuran-tangga itu.

PADA sore hari di musim panas laki-laki pekerja kebanyakan duduk di tingkat atas. Di rumahnya hanya ada sebuah jendela kecil. Demikianlah, maka mereka biasa mengangkat kursi ke depan rumah dan menikmati senja di sana. Ada sebuah jalan di depan rumahnya, tukang susu tinggal di sebelah dan di seberang jalan ada kafe-kafe dan suara anak-anak riuh berlarian dari pintu ke pintu.

Tetapi di atas semua ini, di antara batang-batang pohon ficus, adalah langit. Ada ketenangan di lorong yang melarat itu, teapi suatu ketenangan yang mengangkat seluruh nilai ke harkat yang sebenarnya. Pada tingkat perasaan tertentu, langit itu sendiri dan malam yang berbintang adalah kekayaan yang fitri. Tetapi, pada pertimbangan ini, langit merebut kembali artinya yang penuh: keindahan yang tak tertara.

Malam-malam musim panas adalah misteri-misteri yang sarat dengan beban bintang-bintang. Di belakang punggung bocah itu ada jalan ke ruang rumahnya yang berbau apak dan ke kursinya yang kecil, yang didudukinya seperti terpaku di tanah. Tetapi matanya menatap ke atas dan ia seperti tenggelam dalam malam yang bening itu. Sekali-kali melintas kereta lori dengan cepat. Seorang pemabuk bernyanyi sempoyongan di sudut jalan, tanpa menyadari bahwa ia merusak kehendingan malam.

                Ibu bocah itu selalu diam. Sering orang menanyainya, “Apa yang sedang kaupikirkan?” Dan jawabnya selalu, “Tidak ada.” Itu memang  benar. Segalanya ada di sana, maka tiada. Hidupnya, apa-apa yang menjadi perhatiannya, anak-anaknya, semuanya disana; terlalu fitri untuk dirasa.

Dia lemah dan sulit berpikir. Ibunya yang culas dan menguasainya sudah lama mengatasi jiwanya yang lemah. Sungguhpun ia kemudian diselematkan oleh perekawinannya, toh ia mesti pulang ke ibunya lagi sesudah suaminya meninggal. Bintang eroix de guerre untuk suaminya, yang biasa disebut orang “gugur sebagai bunga banngsa”, terpasang di suatu tempat di dinding; sebuah medali berbingkai yang disepuh emas.

Perempuan janda itu juga menerima kiriman pecahan granat yang ditemukan di luka suaminya. Janda itu menyimpannya dengan patuh dan penuh kasih. Dukacitanya adalah sesuatu yang telah lampau. Ia sudah melupakan suaminya, tetapi masih selalu bicara tentang ayah anak-anaknya. Ia bekerja sekadar untuk anak-anaknya, dan memberikan uang hasil kerjanya pada ibunya. Sedang ibunya mendidik anak-anak itu dengan cambuk di tangan. Bila ibunya memukul mereka terlalu keras, perempuan janda itu berkata, “Jangan memukul di kepala.” Karena  anak-anak itu ia yang melahirkan, dan ia sayang pada mereka. Ia mencitai anak-anak itu dengan cinta kasih yang tak pernah diucapkan. Pada malam-malam seperti yang dihadapinya sekarang, bocah itu ingat, perempuan yang sudah menjada itu pulang dari kerjanya yang berat (ia menjadi tukang membersihkan rumah), dan akan ditemukannya rumah itu kosong. Ibunya, si pemegang cambuk, tentu sedang keluar berbelanja dan anak-anaknya masih sekolah. Lalu ia akan duduk terbenam dan bungkam di atas kursi dengan mata terus menatap kosong ke suatu celah di lantai. Malam akan semakin larut di sekitarnya, dan di tengah kegelapan, kebisuan semacam itu seolah sesuatu yang sakral; yang tak tertahankan. Bila si bocah masuk pada saat itu, maka akan gemetarlah pundaknya dan si bocang berhenti; ia takut.

Ia mulai merasakan berbagai hal. Ia mulai menyadari kehadiran dirinya. Tetapi ia seperti ditikam untuk menangis dalam kekelaman itu; kekelaman yang seperti meradang. Ia kasihan pada ibunya. Apakah itu berarti ia mencintai ibunya? Ibunya tak pernah membela atau mengusapnya, karena tak tahu untuk apa.

Lalu si bocah akan diam berdiri di sana tanpa bergerak sedikit pun; memperhatikan ibunya. Bila sesuatu yang ganjil telah mencekamnya, maka si bocah akan measakan pedih luka di dalam dirinya. Ibunya tak akan mendengarnya karena letihnya. Si perempuan tua pemegang cambuk itu akan pulang sebentar kemudian; hidup akan kembali normal—menyalakan lampu kerosen dengan cahaya yang gemetar, lampu minyak tanah, teriakan-teriakan dan kata-kata jorok. Tetapi sejenak keheningan tadi masih mencercahkan suatu titik henti; suatu saat yang tak tergapai. Sebab ia telah merasakannya. Ia mengira bahwa muntahan rasa yang berguncang dalam dirinya itu adalah cinta terhadap ibunya. Dan ia memang patut mencitainya, karena biar bagaimana, itu adalah ibunya.

Perempuan itu tidak memikirkan apa-apa. Di luar ada cahaya dan suara hirup-pikuk; di sini keheningan malam. Bocah itu akan menjadi besar, dan ia akan belajar. Mereka membesarkannya dan mereka mengharapkan terima kasihnya, karena mereka sudah menderita untuknya. Ibunya akan selalu berada dalam pesona keheningan itu. Dan ia akan tumbuh dalam penderitaan. Jadilah laki-laki; itu saja yang masuk hitungan. Neneknya akan mati, lalu ibunya, dan ia sendiri.

Perempuan janda itu lalu terloncat dari kursi karena ketakutan. Si bocah kelihatan tolol menatap ibunya seperti itu. Biarkan ia menggarap rumahnya. Si bocah sudah menggarap pekerjaan rumahnya. Hari ini di kafe yang kumal. Ia sekarang laki-laki. Bukankah itu yang masuk hitungan? Jawabnya mesti tidak, karena menggarap pekerjaan rumah dan setuju menjadi laki-laki adalah untuk menjadi tua.

ARAB itu nongkrong saja di pojok dengan melipat kaki dan tangannya berpeluk pada lutut. Dari teras mengambang bau kopi yang menyodok hidup bersama senda-gurau yang meriah dari orang-orang muda. Motor bot terdengar lagi di kejauhan, dalam dan lembut. Bumi damai di sini, seperti biasanya tiap hari. Betapa tahan dan tetap tak berubahnya perangai ibu yang ganjil itu! Hanya kedamaian bumi yang dapat berkata padanya apa itu sebenarnya. Suatu malam, anaknya—yang sudah dewasa—dipanggilnya. Ia telah mengalami guncangan yang menyebabkan datangnya gangguan pikiran yang berat. Perempuan itu biasa duduk-duduk di tingkat atas waktu sore dan malam hari. Lalu matanya akan mengikuti orang-orang yang lalu-lalang. Di belakang punggungnya, malam semakin larut. Di depannya, toko-toko akan segera menyalakan lampu-lampu. Jalanan akan dipenuhi orang-orang yang lewat dan cahaya lampu.

Ia lalu akan hilang-diri dalam renungan tanpa tujuan itu. Pada  malam yang masih diragukan itu datang seorang lelaki dengan tiba-tiba dan menyeretnya, lalu melakukannya dengan kasar dan kemudian lari  karena terdengar suara-suara ribut. Perempuan itu tak melihat apa-apa lagi, lalu jatuh pingsan. Ia memutuskan, atas nasihat dokter, untuk menemani ibunya  di kamarnya. Ia merentangkan tubuhnya di sebelah ibunya dengan selimut di atasnya.

Waktu itu musim panas. Ketakutan yang ditimbulkan kejadian tadi lama menempel di kamar yang terlalu pengap itu. Langkah-langkah kaki berderap, detap daun pintu dibuka dan ditutup; bergerit-gerit. Di udara, mengambang bau masam minuman yang biasa ditaruh di kamar orang sakit. Perempuan itu membolak-balik dalam tidurnya, mengerang dan kadang-kadang terbangun karena terkejut. Ia berulang kali membangunkannya dari tidur yang gelisah, dan biasanya ia sendiri yang kemudian mandi peluh. Dan sesudah terjaga, perempuan itu akan jatuh tidur setelah bolak-balik melihat arloji tangannya dan nyala lampu yang menari ke sana-kemari. Dan ia merasa, betapa sendirinya mereka pada malam yang begitu sunyi. Sendiri sama sekali. Orang-orang lain tidur nyenyak, sementara mereka berdua terserang demam. Semua yang ada dalam rumah tua itu kosong rasanya. Bila kereta lori tengah malam melintas, seperti makin pupuslah harapan mereka; harapan yang berupa kepastian-kepastian dari suara hiruk-pikuk kota.

Yang terdengar hanya gemanya di rumah itu; itu pun hanya sebentar saja. Dan yang tertinggal adalah taman kesunyian yang besar, di mana mereka dikejutkan oleh momok-momok bercacat yang mengerang. Ia tak pernah merasakan kehilangan seperti itu. Bumi luruh dan bersamanya ilusi hidup menjadi baru setiap hari. Tak ada yang masuk hitungan lagi; tidak juga studi atau ambisinya. Pesan tempat di restoran, atau warna-warna pilihan. Tak satu pun selain rasa sakit dan kematian, di mana ia sendiri merasa terbenam….. Namun, pada jam-jam ketika bumi seperti terpecah-pecah itu, ia hidup. Dan akhirnya ia tertidur juga. Tetapi bukan tanpa membawa beban harapan yang hilang. Lama kemudian, ia diingatkan oleh masam-anggur yang bercampur keringat itu, ketika ia sudah merasakan hubungan yang mempertautkan dirinya dengan ibunya. Dan itu dirasakannya sebagai kelembutan kasih ibunya yang tertebar di sekelilingnya, yang melambung-lambung dengan tulus—peran seorang perempuan yang malang dengan nasib yang rawan.

SEKARANG nyala api di pendiangan sudah ditutupi abu. Dan terus saja terdengar napas-panjang bumi. Gelak seorang lelaki mengalir dan suara perempuan riang mengikutinya. Cahaya-cahaya bergerak bersembulan di teluk; barangkali kapal-kapal nelayan kembali ke pelabuhan. Langit segitiga yang tampak di depanku bebas dari awan. Langit ditebari bintang-bintang dan gemetar bila dilintasi hembusan angin, sayap beludru malam membelai sekelilingku dengan lembut. Masih berapa jauh malam ini; malam yang bukan milikku lagi? Ada sesuatu yang berbahaya dari kata kesederhanaan. Dan malam ini aku mengerti, bahwa seseorang bisa ingin mati karena—sesuai dengan kehidupan yang jernih—tak ada satu pun lagi yang penting. Seseorang menderita dan menemui kemalangan seperti juga orang lain. Ia akan memperpanjang kemalangan dan penderitaannya kalau selalu mencoba mengukuhkan nasibnya. Bijaksana ia. Dan kemudian, suatu malam ia bertemu seorang teman yang disukainya. Teman ini bicara padanya dengan gaya seenaknya. Bila ia pulang, lelaki itu akan bunuh diri. Orang lalu bicara tentang kesukaran-kesukaran pribadi dan gejolak-gejolak yang tersembunyi. Tidak! Bila toh mesti ada suatu sebab, ia bunuh diri karena seorang teman bicara padanya dengan seenaknya. Demikianlah, rasanya aku selalu menemukan arti yang lebih dalam dari dunia ini; kesederhanaan yang selalu meluruhkanku. Ibuku pada malam itu dan kesengsaraannya. Suatu kali lain aku tinggal di sebuah gubuk di luar kota, dengan seekor anjing, dua ekor kucing dan anak-anaknya, semuanya berbulu hitam. Induknya tak bisa merawat  anak-anak itu. Seekor demi seekor anak-anak kucing itu mati. Dan kamar mereka akan dipenuhi dengan kotoran mereka. Dan tiap malam, bila aku pulang, kutemui seekor demi seekor anak-anak kucing itu telah kaku, dengan bibir mereka yang terlipat.

Suatu malam, kutemukan anak kucing yang terakhir tengah dimakan induknya. Bangkainya sudah mulai berbau. Bau kematian bercampur air  kencing. Aku duduk di tengah segala keruntuhan itu, dan dengan tanganku kutikamkan pisau ke dalam kotoran itu dan napasku lalu dipenuhi oleh bau anyirnya. Aku menatap nyala liar yang memancar dari mata hijau kucing betina itu, yang meregangkan tubuhnya di pojok tanpa bergerak-gerak. Ya. Tepat seperti itu pula malam ini.

                Pada titik tertentu dari kevakuman ini, tak satu pun yang menuntun pada yang lain; seperti tak berdasar rasanya orang berharap atau memburu harapan, dan seluruh hidupku hanya tersimpul pada suatu bentuk yang semu. Tetapi kenapa berhenti disana?

Sederhana, segalanya sederhana; di mercusuar itu ada lampu hijau, merah, dan putih—di tengah dingin dan bau kota serta rasa malas yang bangkit di dalam diriku.

Bila malam ini ada gambaran masa kanak-kanak yang kembali padaku, bagaimana aku bsia menolak pelajaran cinta dan kekayaan yang kulukis daripadanya? Karena saat ini adalah bagai sesuatu antara ya dan tidak. Kutinggalkan saat-saat yang lain untuk harapan dan kemudian untuk hidup. Ya, untuk mencari kemurnian dan kesederhanaan surga yang hilang itu—dalam bentuk yang semu. Dengan demikian belum lama berselang, di sebuah rumah di lingkungan tua itu, seorang anak menjenguk ibunya. Mereka duduk berhadapan; diam saja. Tetapi mata mereka bertemu.

“Jadi, bagaimana, Bu?’

“Ya, baik-baik saja.”

“Bosankah Ibu? Apakah aku tak cukup bicara?”

“Oh, kau tak pernah banyak bicara.”

Dan senyum yang masih meleleh di muka perempuan itu. Memang, ia tak pernah bicara dengan ibunya banyak-banyak. Tetapi sebenarnya, apa pula gunanya? Melalui keheningan, suasana menjadi tenang. Ia anaknya dan dia ibunya. Perempuan itu biasa berkata, “Kau tahu.”

Perempuan itu duduk di kaki sofa; kedua tangannya memeluk lutut. Ia duduk di kursi, hampir tidak melihatnya. Juga setiap kali menyambung rokoknya yang memendek. Lalu senyap.

“Mestinya kau tak usah banyak merokok.”

“Benar.”

Bau seluruh lingkungan itu masuk lewat jendela. Akordion di kafe di dekat situ, kendaraan malam yang berat, bau daging asap yang disusul oleh tangis seorang bocah di jalanan ….. Ibu itu bangkit dan mengambil sulaman.

Jari-jarinya kaku dan bengkok-bengkok karena penyakit. Ia tak dapat bekerja dengan cepat.

“Ini sweater kecil. Akan kupakai dengan leher baju putih. Dengan baju hitam ini, cukup pakaianku untuk musim ini.”

Ia bangkit mengambil pelita dan menyalakannya.

“Pada hari-hari terakhir ini, langit cepat menjadi gelap.”

“Memang. Karena sudah bukan  musim panas lagi. Musim dingin juga belum datang. Kau akan kembali lagi kemari?”

“Tetapi aku belum pergi, Bu. Kenapa Ibu berkata begitu?”

“Tidak, hanya sekadar bertanya saja.”

Sebuah kereta lori lewat. Lalu mobil.

“Benarkah aku mirip ayahku?”

“Benar. Tentu saja kau tak mengenalnya. Kau baru berumur enam bulan ketika ia meninggal. Tapi bila kau berkumis kecil ……”

Perempuan itu bicara tentang ayahnya tanpa mengadili atau menghukum. Tanpa kenangan dan emosi. Barangkali ayahnya dirasakannya seperti lelaki-lelaki yang lain. Apalagi ayahnya pergi begitu “formal”; gugur dan mayatnya ditanam di makam pahlawan dan namanya dicantumkan di tugu peringatan.

“Biar bagaimanapun,” kata perempuan itu, “lebih baik begitu. Kalau tidak meninggal, ia akan buta atau gila. Bukankah lebih celaka lagi?”

“Benar.”

Apa pula yang menahannya di kamar itu, kalau bukan kepastian bahwa di situ selalu lebih baik; bahwa kesederhanaan yang absurd dan menyeluruh dari dunia ini telah singgah di kamar itu?

“Kau akan kembali?” tanya perempuan itu. “Aku tahu, kau mesti bekerja. Tapi lama-kelamaan …..”

TETAPI sekarang di mana aku? Dan betapa aku memisahkan kafe kosong ini dari kamar masa lalu itu? Aku tak tahu, apakah aku mengalami semua ini atau hanya membayangkannya saja. Mercusuar masih tegak di sana. Dan Arab itu bangkit dan memberitahu bahwa kafenya sudah mau tutup. Aku mesti pergi. Aku tak ingin lagi kembali ke lingkungan kumal dan berbahaya ini. Benar bahwa aku melihat teluk dan mercusuar untuk terakhir kalinya, dan yang bangkit di dalam diriku bukan lagi harapan akan hari-hari yang lebih baik, tetapi kesan yang tak berubah terahdap semuanya dan diriku sendiri. Ya, semuanya sederhana saja. Manusia yang menjadikan semua ini ruwet. Bukan sebaliknya.

Jangan biarkan mereka berkata pada kita tentang laki-laki yang dijatuhi hukuman mati dan bahwa “ia akan membayar utangnya pada masyarakat”; lebih baik katakan bahwa “ia akan memotogn kepalanya sendiri”. Tampaknya hampir sama, tetapi toh sedikit berbeda.

Dan masih ada orang-orang yang lebih suka melihat nasib mereka di dalam matanya. (*)

(Penerjemah: W. Respati)

————————————–

ALBERT CAMUS, (Nobel Prize for Literature 1957)

Lahir di Mondovi, Aljazair tahun 1913 dan meninggal tahun 1960 di Sens, Prancis. Camus dikenal sebagai salah satu tokoh filsafat eksistensialisme. Bersama Jean-Paul Sartre dan Andre Malraux, ia bahkan disebut-sebut sebagai salah satu dari tritunggal eksistensialis Prancis, yang banyak mengungkap pemikiran tentang eksistensi manusia yang terkenal absurd. Ia terutama membedah dilema pokok manusia modern dalam karya-karyanya, serta penjelasan tentang keberadaan manusia yang tak dapat dipahami dan tanpa tujuan.

Karya-karya Camus meliputi 4 buah novel, di antaranya L’Etranger (1942), Le Peste (1947), dan La Chute (1956); sebuah kumpulan cerita pendek L’Exile et le royaume (1957); sejumlah esai, antara lain L’Envers et l’endroit (1937), Noces (1938), Le Mythe de Sisyphe (1943), dan L’Homme revolte (1951); serta 4 buah drama. Seluruhnya adalah karya-karya terbaik pada zamannya, sehingga Camus dianggap sebagai salah satu pemikir yang paling berpengaruh pada pertengahan abad ke-20.

Dalam keterangan pers-nya, Akademi Swedia menganugerahkan Hadiah Nobel untuk Kesusastraan pada Camus sebagai pengakuan: …”untuk karya sastranya yang penting, yang dengan kesungguhan mengungkap dengan jernih masalah-masalah hati nurani  manusia pada zaman kita sekarang …”

Camus adalah sastrawan kesembilan Prancis (setelah Sully Prudhomme tahun 1901, Frederic Mistral ahun 1904, Romain Rolland tahun 1915, Anatole France tahun 1921, Henry Bergson tahun 1928, Martin du Gard tahun 1937, Andre Gide tahun 1947, dan Francois Mauriac tahun 1952) yang memperoleh penghargaan tersebut. (*)

 

Cerpen

Cinta Ayu

mm

Published

on

Dengan langkah kaki cepat, Ayu bergegas menuju gedung Diponegoro untuk mengikuti seminar. Seminar yang mengambil tema “Menyoal Cinta dan Feminisme” bukan hanya memikat hati Ayu, melainkan kebanyakan hati perempuan. Sebab, pembicara dalam seminar ialah seorang feminis laki-laki, sekaligus aktivis “kemanusiaan” yang menjadi diskursusnya. Kendati ia masih berstatus mahasiswa. Namun, ia bagaikan matahari yang menjadi pusat perhatian di kampusnya. Pagi itu, bukan tanpa perjuangan bagi seorang gadis yang hidupnya normal. Ayu memutuskan alpa sarapan pagi beserta Abah dan Umminya. Satu keputusan radikal yang sepanjang usianya belum sekalipun dilakukannya. “Semoga acaranya belum dimulai,” gumamnya dalam hati.

Setelah setengah berlari menaiki tangga sepanjang lima lantai, Ayu mengatur nafasnya sambil sesekali mengipasi wajahnya yang merah setelah mengambil tempat duduk. “Ayu, sini, kamu lama sekali,” kata April sahabat karibnya. “Ia, maaf saya ketiduran sehabis salat Subuh,” jawabnya pelan.

“Raka sudah berbicara?”

“Belum, Ayu.”

Setelah satu jam berlalu, kini giliran pembicara terakhir yang sudah dinanti-nantikan tampil di podium. “Selamat pagi Puan dan Tuan. Baik untuk menghemat narasi saya langsung masuk pada bagian subtansi…”

“Kenapa tidak mengucapkan Assalamualaikum.”

“Entahlah.”

“Apa dia non-Muslim?”

Ayu tak menjawab. Hanya mengangkat kedua bahunya.

Setelah hampir setengah jam Raka menyampaikan pandangannya, kini waktunya berdiskusi: tanya-jawab. Empat orang penanya sudah mendapatkan jawabannya. Dan Ayu memberanikan diri mengangkat tangannya. “Baik, silakan perkenalkan diri Anda sebelum bertanya,” kata moderator. “Nama saya Ayu Arunika. Saya ingin bertanya pada Mas Raka. Sepanjang penjelasan Anda tentang feminisme. Saya merasa bahwa Anda terlalu liberal. Sebab, Islam justru memuliakan perempuan. Perkara peradaban menghendaki perempuan selalu di bawah laki-laki, karena seorang suami adalah pemimpin dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Sebagai hamba tentu harus taat pada perintah Allah SWT. Itu yang pertama. Yang kedua, atas dasar apa Anda mengajukan argumen bahwa doktrin teologis adalah penyumbang kerusakan alam? Bahkan berperan dalam mendorong rusaknya lingkungan alam akibat doktrin antoposentrisnya. Terima kasih.”

Pertanyaan yang mengagetkan semua orang yang sedang asyik-masyuk mendengar penjelasan Raka, mahasiswa filsafat yang menjadi bintang di acara itu. Dengan tenang Raka menjawab, “Ayu Arunika. Sebagai fakta nama itu indah untuk dikecupkan. Saya tahu arah pertanyaanmu. Benar-benar pertanyaan teologis. Tadi dikecupkan kata “hamba”. Maka, dengan sendirinya ada hierarki dalam kalimat yang Anda susun: Tuhan dan hamba. Saya mengajukan argumen yang basisnya adalah reasoning. Dan Anda mengajukan pertanyaan yang dibungkus dokumen dari langit. Tidak mungkin saya debat dengan argumen. Itu yang pertama. Yang kedua perihal ekofeminisme…”

“Tunggu sebentar. Apa keyakinan Anda?” Ayu memotong.

Setelah diam sesaat, Raka menjawab. “Anda tahu bahwa diskusi ini mengangkat tema feminisme. Artinya tidak membahas tema teologis. Pertanyaan Anda tidak ethics, kendati dibungkus dengan kesantunan bahasa. Karena Anda bertanya sesuatu yang bersifat privat. Tidak mungkin saya jawab di ruang publik. Tapi tidak jadi soal. Pukul setengah empat nanti saya ada perlu di perpustakaan. Jika Anda masih penasaran dan menuntut jawaban dari saya, silakan temui saya.” Selanjutnya diskusi berjalan lancar. Namun pertanyaan dari Ayu membuat orang-orang mulai berpikir ulang tentang sosok sang pembicara.

***

Pukul empat sore Ayu datang ke perpustakaan. Di ruang kecil, tempat diskusi, seorang pemuda sedang duduk dengan tenang. Di tangannya terlihat Ivan Illich: Deshooling Society. Setelah menarik nafas panjang Ayu memberanikan diri menghampirinya. “Assalamulaikum, maaf saya terlambat datang.”

“Tak apa. Artinya dikau masih orang Indonesia. Silakan duduk.”

Jawaban yang membuat wajah Ayu merah sebab malu. “Maaf, tadi saya habis salat Ashar terlebih dahulu.” Jawabnya pelan. “Mas Raka sudah Salat?”

Setelah meletakan Ivan Illich, Raka menatap mata Ayu dengan tatapan tajam. “Puan, apa dikau tahu siapa nama orangtuaku? Pekerjaannya apa? Apa dikau juga tahu sosio-historisku?”

Ayu menggelengkan kepala.

“Pertanyaan teologismu itu menghukum psikologiku. Semacam hukuman bahwa saya telah divonis dalam perkara privat: agama tertentu. Dan seringkali pertanyaan itu dianggap hal yang wajar hingga berkumandang di telinga setiap orang. “Kamu sudah salat? Apa agamamu? Pertanyaan itu buat saya semacam arogansi karena disponsori suara mayoritasisme. Bahkan hal semacam itu, terjadi di wilayah akademis. Seharusnya seorang akademis bisa lepas dari hal semacam itu. Di ruang akademis yang ada hanya pikiran. Universitas dalam definisi bebas ialah wilayah di mana sikap kritis itu tumbuh. Artinya tidak dikekang oleh doktrin teologis. Yang ada hanya dialektika rasionalisme. Sebab universitas adalah tempat lalu lintasnya pikiran. No road to heaven. Dan sebagai warga negara, kita hanya diikat oleh etika publik. Status agama itu hak. Artinya seseorang boleh tidak menggunakan haknya. Paham Ayu?”

Mendengar jawaban Raka, airmuka Ayu merah padam. Baru kali ini ia diceramahi pelajaran di luar nalar pikirannya. Wajahnya menunduk, seakan-akan tak sanggup melihat matanya yang tajam bagai mata pedang. Barulah ia sadar bahwa pemuda yang sedang menceramahinya adalah pemuda yang setiap hari diperbincangkan teman-temannya sesama mahasiswi: Raka adalah pemuda cerdas. Menyukai sastra, filsafat, sosiologi, psikologi, politik, hukum dan pelbagai ilmu pengetahuan lainnya. Ada juga yang mengatakan bahwa Raka penggila filsuf Immanuel Kant, Sartre, Heidegger hingga Ivan Illich. Juga ada pula yang mengatakan bahwa sudah banyak perempuan yang patah hati. Bukan lantaran disakiti, melainkan karena alasan yang abnormal: Raka tidak ingin menikah. Pikiran yang benar-benar gila bagi anak muda seusianya.

“Saya minta maaf bila pertanyaanku membuat Mas Raka tersinggung,” kata Ayu sebelum meninggalkan Raka. Akan tetapi, sebelum Ayu menghilang ditelan pintu perpustakaan, Raka menyahut, “Ayu, saya yang minta maaf. Senang berkenalan denganmu. Di luar ada cafe yang nyaman untuk menikmati segelas kopi dan sepotong kenangan.” Ayu terseyum mendengarnya. Senyuman yang menawan. Demikianlah perempuan gemar membunuh seorang lelaki dengan senyumannya.

***

Waktu bergulir dengan cepat. Bergantinya nama bulan seperti bergantinya siang dan malam. Demikianlah bagi hati anak muda yang hari-harinya diliputi bahagia bertabur bunga. Begitulah hari-hari Ayu dan Raka. Keduanya semakin akrab, bukan hanya sebagai teman, melainkan sepasang kekasih yang sedang mengepakan sayapnya. Selepas pertemuan itu, Ayu terpesona oleh Raka yang dinilainya berbeda.

Kendati kasak-kusuk berita negatif tentang Raka tersebar luas di lingkungan kampus. Namun, hal itu tidak membuat Ayu membatalkan cintanya. Tidak pula mempengaruhi Ayu untuk memadamkan api cinta yang menyala di hatinya. Masih menggema lonceng cinta di pikiran batinnya, baginya Raka serupa sang pengusik sepi yang membunyikan loncengnya. “Janganlah dikau padamkan matahari cinta yang terbit dari hati seorang pujangga,” kata-kata itu bagai anak panah yang dilepaskan dari busurnya tepat mengenai jantung hati gadis pujaannya. Ujar Raka pada Ayu suatu senja di bukit Mandalawangi.

Dalam cinta selalu ada kegilaan. Orang gila yang rasional adalah orang yang sedang dimabuk cinta. Hari-hari berikutnya, di mana kaki Raka melangkah, di situ jejak Ayu tertinggal. Terlebih Raka selalu membimbing langkah kaki Ayu pada tempat yang tak terduga: gunung, hutan, dan sekolah rakyat yang didirikannya bersama para sahabatnya. Deschooling Society adalah kitab sucinya Raka.

Namun, ada yang ganjil dalam pikiran Ayu yang setiap malam selalu menghantuinya. Sebab, selama menjadi kekasih Raka, sekalipun Ayu tak pernah mendengar kata dari kamus agama diucapkan olehnya. Juga tidak sekalipun Ayu mempergoki sisa-sisa jejak ritual keagamaan yang dilakukan Raka. Baik jejak kakinya di Gereja, Masjid, maupun rumah ibadah lainnya yang tertinggal.

Keganjilan itu membuat Ayu memberanikan diri untuk mencari tahu. Entah sudah berapa banyak teman-teman Raka yang diinterogasi. Namun, semuanya menjawab seragam seperti orang mengucapkan kata “Aamiin”, yakni “tidak tahu”. Hingga pada suatu hari Ayu menanyakan langsung kepada Raka. Sebagaimana kebiasaannya, Raka yang suka merenung di tempat sunyi seorang diri di hutan, tiba-tiba dikagetkan oleh kehadiran Ayu yang sudah mengetahui tempat pelariannya. Lama keduanya bertukar pandangan.

Ayu mulai mencium keganjilan kekasihnya itu. Karena tak tahan sambil bercucuran air mata Ayu bertanya, “Apa agamamu Mas? Banyak orang yang membicarakanmu perihal itu. Apakah Mas percaya akan adanya Tuhan?”

Raka tak menjawab. Lama ia terdiam.

“Sekali lagi saya tanya, apa Mas percaya akan adanya Tuhan?”

“Ayu, dikau menyusulku ke sini hanya untuk menanyakan sesuatu yang menjadi antitesis kemanusiaan.” Kemudian Raka menjemput tangan Ayu sambil berujar, “Kamu mencintaiku?” Ayu mengangguk diiringi tangisan.

“Jika dikau percaya Sartre adalah seorang atheis, dan Simon de Beauvoir tidak mempermasalahkannya, maka kamu harus percaya bahwa kekasihmu adalah orang yang percaya sebagaimana kepercayaan Sartre.”

Mendengar jawaban itu, tangisan Ayu semakin dera. Segera saja Ayu melepaskan tangannya dari genggaman Raka. “Wahai dzat yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku di atas agama-MU,” ucap Ayu sebelum pergi.

“Jatuh cinta adalah cara paling manis untuk menyakiti diri sendiri. Sebab, cinta sedari dulu kala selalu saja drama. Cinta adalah kesunyian yang panjang, kendati keramaian selalu mengintainya. Namun cinta selalu memilih untuk sendiri,” kata Raka pada dirinya sendiri. (*)

*) Arian Pangestu, aktif di sekolah feminisme. Artikelnya berupa cerpen, esai, dan puisi dimuat di koran Minggu Pagi, Pikiran Rakyat, Padang Ekspres, Bangka Pos, Radar Surabaya, Harian Analisa. Saat ini aktif sebagai mahasiswa sastra.

Continue Reading

Cerpen

Rahwana Di Tepi Kolam Pemancingan Ikan

mm

Published

on

Memancing adalah usahaku menyelamatkan diri dari kematian. Bagaimana bisa? Iya, setiap ikan yang kudapat dari kolam pemancing mampu menyelamatkanku dari kematian itu. Kematian macam apa? Mengusahakan hidup bahagia bukankah kalimat lain dari menghindari kematian. Dan buatku itu mulia. Sedangkan hidup yang penuh duka nestapa, kesedihan, kesusahan, kemurungan, kegalauan dan lain sejenisnya serupa dengan kematian. Kematian semasa hidup. Tak ada yang lebih buruk dari itu. Siapa tahu, apa yang sudah menggerakkan pikiranku hingga setubuhku, sepagi itu, mematung hidmat di tepi kolam pemancingan ikan. Yang kulakukan bukan laku orang suci yang menyepi di dalam gua Tsur atau naik ke Sinai atau Olympus.

Seperti aku yang beribu, kota ini semestinya memiliki asal-usul yang bisa ditelusuri secara genetika sejarah. Itu akan berguna seperti markah jalan yang akan menolong para sopir. Sopir itu adalah anak-anak zaman dalam perjalanannya menuju kehidupan agung, bukan kematian. Manusia, dalam ekspedisi hidupnya, mengikatkan diri pada dua mitologi, ibu dan rumah. Sehingga, Abdul Wachid BS pun tak kuasa menolak, maka jadikannya sekumpulan puisinya, Rumah Cahaya. Bahkan, sebuah negara menyebut pusat administrasi pemerintahannya dengan nama ibu kota. Jakarta adalah tempat yang kupilih untuk tinggal, meninggalkan ibu di kampung kelahiranku. Sebagai penghormatan, aku menyematkan nama kampung itu di belakang namaku dalam kartu nama.

Kota bagi ibuku tak ubahnya sawah yang ditumbuhi gedung pencakar langit sebagai gulma. Sedangkan gulma adalah sianggit yang akan merebut dengan serakah hara yang menjadi cikal bakal bulir-bulir padi yang hanya mahal ongkos produksinya.

Pernah suatu ketika, aku terbangun dengan mata yang tak awas karena sisa-sisa kantuk mengira terjadi gempa. Sepasang sandal murahan, kipas angin yang sudah rusak, dan keyboard mengapung di atas air setinggi dengkul. Beruntung, laptop dan flashdisk sempat kutaruh di meja sebelum tidur. Kalau dua benda itu ikut terendam, itu akan menjadi subuh terkutuk kedua terbesar dalam sejarah dosa manusia seperti yang menyebabkan Ratna Anjani dan dua saudaranya mewujud segawan, kera.

Tapi, benarlah kata ibu, segala yang di dunia adalah nisbi. Terbatas ruang dan waktu. Dari derita Anjanilah kemudian lahir Anoman yang agung. Kota ini begitu arogan dan culas, hujan pun dituduh sebagai penyebab banjir yang mengapungkan sampah tak berharga dalam kamarku itu. “Menanam padi, pasti akan tumbuh gulma, tapi tak kebalikannya,” kata ibuku suatu hari.

Apa sudah menjadi tabiatnya, manusia takut perubahan, apalagi yang mendadak. Yang membuat kaget. Jantungan. Yang darah tinggi bisa stroke, kalau tak modar sekalian. Bukankah manusia dibekali kemampuan menalar, menganalisis, bersistesis, mengevalusi hingga berimajinasi untuk mengada dari yang ada sesuai kebutuhan dan seleranya. Orang di kota ini, ibarat menanam benih padi kualitas terbaik di atas tanah subur, tapi tak dirawat. Ia akan  menjadi rumpun liar. Angker. Anak-anak takkan menjadikannya tempat bermain, orang dewasa tanpa kesaktian yang mumpuni akan mati sia-sia tak mampu menaklukan ketakutan dan kesunyian di dalamnya.

Kota ini kapankah lepas dari kutukan. Penduduknya diharamkan dari sinar matahari. Tubuh mereka terhimpit bangunanan yang semakin hari makin tinggi besar seperti Rahwana yang lahir dari ayah ibu yang terhasut nafsu. Bahkan, ayam jago tak tahu kapan waktu berkokok, makan, dan kawin. Anak-anak tak bisa membedakan fajar atau senja, timur atau barat, siang atau malam, bagaimana mereka ingat pulang ke rumah dan ibu?  Wajah mereka letih dan tua, bosan dengan permainan hingga berubah friksi.

Sementara itu, kota ini makin sempit karena penduduk harus berbagi tempat dengan koloni tikus, kecoa, dan lalat. Mereka bukan hewan biasa—kalau manusia tak mau disamakan—dari leher hingga kaki mereka adalah manusia, hanya kepala saja yang menyerupai hewan-hewan yang akrab dengan sampah itu. Ah, penduduk kota yang manusia seutuhnya makin punah, dalam satu malam mereka telah berrevolusi menjadi manusia berkepala hewan hanya dengan hasutan dan fitnah. Mereka yang sadar dan tak sanggup menerima perubahan itu memutuskan mengakhiri hidup alih-alih hidup tersiksa tak kuat menahan malu. Ah, kata mereka yang bertahan, malu takkan buat orang kenyang dan hidup.

Hari ini, di kota yang tak penah ibu injak tanahnya, semua kata-kata ibu menjadi nyata. Aku membayangkan, kota ini akan bebas dari kutukan kesialannya bila tanahnya sekali saja ibuku menginjakkan telapak kakinya yang penuh tuah. Seakan kebenaran itu datang kepadaku hanya untuk menggatikan jasadnyanya. Ia datang ketika ibu telah memantapkan dirinya untuk tinggal seorang diri di rumah sunyi tanpa pintu dan jendela. Tapi, aku sendiri menjadi geli ketika tersadar aku sendiri—sebagai penghuni kota—tak pernah menginjak tanahnya dalam arti yang sesungguhnya, kecuali latai keramik atau marmer dan jalan beton atau aspal.

Tanggal merah di hari Jumat—kemewahan yang langka untuk para buruh urban sepertiku—menjadi tanpa makna. Umumnya, orang sepertiku akan pulang kampung, atau menepi ke puncak Bogor menyewa vila untuk satu atau dua malam. Di antara keduanya tak satupun kupilih. Ibarat orang luka parah, hanya diberi obat penahan rasa sakit, bukan disembuhkan lukanya.

Aku tak punya lagi alasan untuk pulang kampung. Berkereta empat atau lima jam hanya untuk menziarahi kuburan rasanya hanya akan menambah deritaku. Aku bahkan tak tahu di sebalah mana ibuku dikuburkan. Apa yang mesti kukatakan pada orang-prang kampung. Mereka akan bertanya, kenapa tak pulang di hari kematian ibumu? Apa tempat kerjamu di tengah samudera sehingga tak dapat dihubungi? Untuk apa pandai dan bersekolah di luar negeri kalau sekarang hanya jadi buruh? Bukankah bos di perusahaanmu yang tak selesai kuliah karena dropout?

Ibu tidak menyukai hobiku yang satu ini meski tak pernah mengatakan dan melarangku. Satu-satunya hal yang tidak pernah ia mau lakukan untukku adalah memasak ikan pancinganku. Karenanya, aku terbiasa mengolah ikan sendiri. Ikan-ikan itu tak pernah kumakan, melainkan kuberikan pada tetangga kanan-kiri rumah. Kepada ibu, mereka kerap memberi pujian atas kemampuanku mengolah ikan. Karena itu pula, ibu sering mendapat kiriman balasan dari para tetangga dalam bentuk masakan yang lain.

Joran yang kuletakkan di lantai tepi kolam yang disemen kasar itu bergerak. Umpannya disambar ikan. Kaki kananku sigap menginjak pangkal joran. Tangan kananku angkat ujung jorannya. Berat. Joran itu membentuk parabol yang indah seperti lengkungan pelangi. Aku merasa joran itu akan patah. Aku melepaskan kuncian tali, memberi jarak yang cukup untuk ikan melakukan perlawanan.

Perlawanan ikan segera berganti pada kejadian empat puluh hari setelah kematian ibu. Satu jam tertidur di dalam mobil, getar ponsel di saku kemeja yang tak lagi rapi membangunkanku. Sejam kemudian, kami baru sampai di rumah setelah kujamu mereka makan malam di restoran mewah. Tak ada pembicaraan serius selama perjamuan, hanya perkenalan seorang gadis yang turut bersama paman.

Selepas subuh, gadis itu sudah berada di dapur yang aku sendiri tak pernah memakainya. Memasak air untuk membuat kopi, kebiasaan yang entah kapan terakhir kali lakukan.

Setelah membicarakan masalah rumah dan sawah peninggalan ibu dan ayah yang harus kuurus agar tak terbengkalai, dia mengingatkanku tentang perjodohanku dengan anak perempuan saudari sepupu ibuku, anak tetangga yang dulu sering kukirim ikan pancingan.

Astaga, ibu pun membaca bahasa cinta masa kecilku yang aku sendiri hampir lupa. Aku berkecil hati karena pernah menyembunyikan sesuatu di balik punggungku dari ibu, dan itu gagal. Meski bukan sesuatu yang perlu ditutupi karena bukan dosa seperti yang pernah melahirkan Rahwana.

Tapi, itu baru hidangan pembuka di restoran, hidangan intinya adalah akulah Rahwana itu sendiri. Gadis yang dijodohkan dengaku oleh ibu adalah Sinta yang hatinya telah dikuasai Rama. Sinta datang kepadaku untuk meminta pembebasan atas ikatan perjodohan yang disepakati antara ibuku dan kedua orang tuanya.

“Bagaimana?”

Aku tak merasa perlu segera menjawab. Kuminum kopi buatan Sinta. Dua tamuku terlihat tegang menunggu jawabanku. Tanpa sadar, aku menghabiskan satu cangkir kopi itu dalam satu teguk saja.

“Aku setuju melepas perjodohan itu.”

Sejam berlalu, ikan menghentikan perlawanannya kemudian bersikap tenang meski mata kail sudah menancap di antara bibir dan matanya. Aku menunda ikan yang hampir pasti kudapat untuk menjawab telfon. Baru kuambil ponsel itu dari dalam tas, berhenti. Kubaca notifikasi, sepuluh panggilan tak terjawab dari nomor yang sama, Sinta. Kubuka pesan WA, foto undangan pernikahan dengan desain sampul gunungan wayang. Tercetak tulisan emas dua nama Sinta dengan Rama, pamanku.

Joran yang sejak tadi kuinjak pangkalnya itu kuangkat. Berasa ringan. Ikan lepas bersama kailnya. Aku membuka tas kecil di pinggang, mengmbil dan memasang kail yang baru. (*)

Bunga Pustaka, 2017

*) Mufti Wibowo. Penulis, tinggal di Jalan Perintis Kemerdekaan 06 Purwokerto. Email: bowoart60@yahoo.co.id

Continue Reading

Cerpen

Teater Bolshoi

mm

Published

on

Teater Bolshoi

oleh: Yury Nagibin

Berakhirlah pelajaran terakhir dari hari terakhir kehidupan sekolah kami. Di depan masih ada ujian-ujian panjang dan sukar, tetapi pelajaran-pelajaran tidak akan pernah kami miliki lagi. Kuliah, seminar, kolokium – seluruh kata-kata yang mengandung kedewasaan tersebut – akan datang kepada kami, auditorium perguruan tinggi dan laboratorium pun akan datang, tetapi baik kelas maupun bangku-bangku sekolah tidak akan pernah datang lagi. Sepuluh tahun masa sekolah dirampungkan dengan bunyi lonceng keparau-parauan yang dikenal, yang muncul di bawah, di dalam ruangan para guru, yang lebih dulu dialiri oleh bunyi tersebut dan bunyi itu naik dengan sedikit terlambat ke arah kami di tingkat enam, yang di dalamnya tersebar kelas-kelas sepuluh. Kami semua, yang tengah tersentuh, terharu, bahagia dan menyesalkan sesuatu, yang merasa bimbang dan tersipu dengan perubahan sekejap mata sendiri dari anak sekolah menjadi orang dewasa, manusia, yang menikah saja pun bahkan boleh, berkeliaran di sepanjang kelas dan koridor, seperti ketakutan keluar dari tembok sekolah menuju dunia, yang menjadi tanpa batas. Dan ada perasaan yang demikian, seakan-akan ada sesuatu yang tidak terkatakan, tidak sampai, tidak terselesaikan selama sepuluh tahun yang telah lalu itu, dan seolah saja hari ini telah menemukan kami dengan tanpa diduga.

Di jendela-jendela yang terbuka lebar warna biru langit yang pekat tampak melimpah, burung-burung merpati mendekut lantaran ingin kawin dengan suara yang kasar di bendul jendela, terasa ada bau yang kuat dari pohon-pohon yang sedang berkembang dan aspal yang meleleh.

Zhenya Rumyantseva masuk ke kelas kami.

“Seryozha[2], bolehkah barang sebentar?” Aku keluar ke koridor. Pada hari yang tidak biasa ini, Zhenya menunjukkan kepadaku mengenai dirinya yang sama sekali tidak biasa. Dia berpakaian, seperti keselaluannya, tanpa cita rasa: pakaian pendek, yang memang sudah kekecilan untuknya di tahun yang lalu dan lebih tinggi dari lututnya, koftochka[3] dari wol, yang tidak bertemu rapat di bagian dada, dan di balik koftochka, dengan warna jadi agak kebiru-biruan karena seringnya dicuci, terlekat bluzka[4]putih, serta sepatu anak-anak yang tidak lancip tanpa hak. Kelihatannya, Zhenya mengenakan pakaian adik perempuannya. Rambut Zhenya yang menggunduk  dan berdebu secara serampangan disatukan dengan jepitan rambut, harspel,[5]dan grebenka,[6]yang menyekitari wajah kecilnya dan tetap saja rambutnya itu menutupi bagian dahi serta lehernya, sedang satu untaian rambutnya selalu jatuh ke hidungnya yang agak pesek dan dia dengan rasa jengkel menepis-nepisnya. Sesuatu yang baru yang ada padanya adalah warna merah yang tipis merata, yang meronai wajahnya, dan sinar mata kelabunya yang besar, tampak dekat dan hidup, kadang serius-penuh kesibukan, kadang lengah-seperti tak melihat.

“Seryozha, saya ingin mengatakan kepadamu: marilah kita bertemu selang sepuluh tahun lagi.”

Percandaan sama sekali bukanlah ciri yang mendasar bagi Zhenya dan secara serius aku bertanya:

“Untuk apa?”

“Saya tertarik, akan jadi apa kamu nanti,” Zhenya mengibaskan untaian rambutnya yang menjengkelkan. “Pada tahun-tahun sekolah ini, kamu begitu membuat saya tertarik.”

Aku berpikiran, bahwa Zhenya Rumyantseva tidak mengenal baik kata-kata itu, maupun perasaan seperti itu. Seluruh hidupnya mengalir di dalam dua lingkungan: pada pekerjaan gugus generasi muda yang intens – dia merupakan pemimpin regu kami – dan pada cita-citanya tentang dunia bintang. Aku tidak pernah mendengar, pada waktu luang dari kesibukan kerjanya Zhenya mengatakan mengenai sesuatu yang lain, kecuali mengenai bintang-bintang, planet, orbit, suar matahari, dan penerbangan ke luar angkasa. Tidak banyak dari kami yang secara tegas dapat menentukan jalan kehidupan sendiri yang selanjutnya, tetapi Zhenya sejak kelas enam telah mengetahui, bahwa dia akan menjadi astronom dan bukan yang lain. Di antara kami tidak pernah ada kedekatan pertemanan, kami belajar di kelas berparalel dan kami bertemu hanya karena pekerjaan di gugus generasi muda. Beberapa tahun lalu akibat sebuah kesalahan aku agak hampir dikeluarkan dari gugus kepanduan. Para kawanku berdiri dengan teguh di belakangku dan aku akhirnya tetap menjadi bagian dari kepanduan. Hanya Zhenya seorang, anak baru di sekolah kami, yang sampai akhir menuntut pengecualian itu. Dan hal yang demikian memberi bekas di dalam relasiku terhadapnya. Tetapi kemudian aku mengerti, bahwa karakter tanpa iba Zhenya terjadi karena usaha untuk mempertinggi ketelitian bagi diri sendiri dan orang lain, sama sekali bukan karena hati yang jelek. Manusia itu sampai ke dasarnya haruslah jernih, berhati teguh, serta dapat dipercaya, dan dia ingin semua yang ada di sekelilingnya jadi seperti itu. Aku bukan seorang kesatria yang tanpa rasa takut dan tanpa cela [7] dan sekarang pengakuannya yang tanpa disangka, membuat aku bingung dan heran.

Di dalam pencarian dengan perdugaan, secara berpikir-pikir aku berlari ke masa lampau, tetapi tidak ada apa pun yang kujumpai, kecuali sebuah pertemuan di Chistye Prudy.[8]

Suatu hari, ketika liburan, kami berkemas ke telaga[9] Khimkinskoye[10] untuk bersenang-senang naik perahu. Dalam perbincangan yang sengit, Chistye Prudy akhirnya ditetapkan jadi lokasi berjumpa. Akan tetapi sedari pagi hujan rintik turun dan ke pusat temu tersebut yang datang hanya aku dengan Pavlik[11]Arshansky, Nina Barysheva dan Zhenya Rumyantseva. Nina datang karena di hari libur dia tak ingin tinggal di rumah, aku datang karena Nina, Pavlik – karena aku, sedangkan mengapa Zhenya datang, bagi kami tampaknya ketika itu tidak jelas. Zhenya tidak pernah hadir di dalam pesta perjamuan kami yang sederhana, tidak pernah pergi bersama kami ke gedung bioskop, ke Park Kultury,[12] dan ke Hermitage.[13] Tidak ada seorang pun yang dapat menduga-duga sikap diam Zhenya, hanya dia memang tidak punya cukup waktu: dia mengerjakan suatu aktivitas pada kelompok astronomi di bawah Universitas NegeriMoskow[14] dan masih melakukan sesuatu di planetarium. Kami menghormati arah dari tujuan tertentu Zhenya tersebut dan tidak ingin mengganggunya. Kami pun akhirnya berkumpul di sebuah tempat besar yang tembus air, di bawah payung raksasa yang terbuat dari kayu di tengah jalan besar. Hujan kadang besar dan berisik, mendera tanah, kadang jadi mengecil ke hampir rintik-benang yang tidak terlihat dan tidak terdengar, tetapi tidak berhenti barang sebentar juga. Awan kelabu yang tak putus-putus tanpa celah cahaya menuju ke atap-atap rumah. Tidak ada pikiran lagi mengenai Khimki.[15] Akan tetapi Zhenya  dengan keras hati membujuk kami untuk pergi. Inilah untuk pertama kalinya dia membiarkan dirinya melakukan penyimpangan kecil terhadap aturan biasanya yang keras dan bagaimana pun itu perlu, bisa-bisa kami dapat sangat beruntung!. Pada kancing jaket beludrunya bergantung bungkusan roti dan lauk-pauknya. Tampak, bahwa sesuatu yang ada di dalam bungkusan itu sangat menyentuh hati. Bagi benak Zhenya, agaknya, tidak pernah sampai, bahwa dapat saja makan pagi di zakusochnaya,[16] di kafe atau bahkan di restoran, seperti yang kami lakukan pada saat perjalanan. Lantaran rasa iba terhadap bungkusannya itu aku pun menawarkan:

“Mari kita bersenang-senang di kolam.” Aku menunjuk ke arah perahu[17]yang tua dan meretak, yang memiliki haluan menjulang dari bekas kayu penyangga gerbong pengangkut barang.[18] “Dan kita akan berimajinasi, bahwa kita sedang ada di Khimki.”

“Atau di laut Mediterranea,”[19] sela Pavlik.

“Atau di samudera Hindia!”[20] sambung Zhenya dengan penuh semangat. “Atau di pantai Greenland!”[21] katanya lagi.

“Kita tidak akan tenggelam?” tanya Nina. “Dan ini patut disesali: aku sebenarnya diajak ke pertunjukan pertama[22] di Moscow Arts Theatre,”[23] kata Nina lagi.

Dayung tidak ada. Kami pun mengambil dua buah papan di pinggiran, mengeluarkan air dari perahu dan kami memulai perjalanan berlayar keliling dunia. Sedikit kemungkinannya, bahwa seseorang dari kami, kecuali Zhenya, yang merasakan kesenangan akan hal itu. Ketika aku dan Pavlik dengan tanpa semangat mengayuhkan kayu di atas air, Zhenya mereka-reka jalur perjalanan. Begitulah kami melewati selat Bosporus,[24] melalui terusan Suez[25] kami masuk ke laut Merah,[26] dari sana ke laut Arab,[27] kemudian bertolak ke kepulauan Sunda Besar,[28] ke Philipina dan masuk ke lautan Pasifik.[29] Karakter kekanak-kanakkan Zhenya yang kasip tampak manis dan mengharukan, tetapi di dalam dirinya ada sesuatu yang ketika itu menyusahkan hatinya:

“Lihatlah!” kata Zhenya sambil menunjuk ke suatu arah, yang memperlihatkan, bahwa di balik ranting-ranting pohon yang berkilau lantaran hujan, pilar-pilar gedung bioskop Kolizei[30] yang basah tampak menghitam penuh kemuraman. “Itu pohon kelapa, pohon sulur-suluran,[31] dan gajah-gajah: kita terbawa ke pantai India!”

Kami jadi saling berpandangan. Hal itu biasa terjadi pada usia tujuh belas tahun, kita mempertahankan kehidupan pribadi sendiri, yang rapuh, yang mudah dilukai oleh lempeng baja ejekan yang disengaja, sinisme yang halus, dan kita tidak mengerti, bagaimana kita dapat begitu naif memperlihatkan diri sendiri.

“Kita mendekati kepulauan Solomon[32] yang mengerikan!” Zhenya mengumumkan dengan suara yang mendatangkan ketidakberuntungan.

“Benar!” Pavlik, orang yang paling baik di antara kami, mengulangi. “Dan itu orang-orang setempat-pemakan manusia,” tunjuknya ke arah sekelompok anak-anak Chistye Prudy, yang berhenti di sekitar pagar keliling telaga untuk merokok. Pelayaran kami yang menjenuhkan, yang menembus hujan, pun berlanjut. Zhenya dengan tanpa lelah memberikan perintah: “Kemudi ke kanan!”, “kemudi ke kiri!”, “naikkan layar!”, “turunkan layar!”, dan dia menemukan jalan berdasarkan letak bintang. Kompas kami rusak saat badai. Dan itu memberinya kesempatan untuk menjamu kami dengan kuliah astronomi, yang aku hanya ingat, bahwa di ekuator langit berbintang seolah-olah terbalik. Kemudian kami harus menanggung malapetaka, Zhenya memberi kami kue keringnya yang terakhir: roti dan lauk-pauknya yang jadi basah. Dengan murung kami mengunyahnya dan Zhenya berkata, bahwa dia sangat tertarik dengan kehidupan Robinson Crusoe.[33] Aku lelah, basah karena air, dan tangan yang memegang bilah papan-pendayung pun aku angkat. Itu membuatku jadi orang yang tak kenal rasa iba dan aku berkata, aku tidak tahu, jika ada buku yang lebih picik dibandingkan Robinson Crusoe.

“Seluruh isi buku penuh oleh kesibukan sempit terhadap makanan, pakaian dan perkakas. Itu tabel harga makanan dan barang rongsokan yang tidak ada habis-habisnya! Itu himne bagi kehidupan rumah tangga yang khusuk!”

“Dan saya tidak tahu apa pun yang lebih menggelorakan dibandingkan hal itu, hal yang kau bilang sebagai tabel harga!” kata Zhenya dengan butiran air di matanya. “Betapa banyak kebebasan di buku itu, sajak-sajak dan mimpi…..”

Perdebatan kami dihentikan oleh Nina Barysheva. Dia tiba-tiba berkata:

“Hore! Di depan ada pantai!”

“Mana? Di mana?” kata Zhenya dengan terkejut.

“Itu, di dekat gerbong pengangkut barang,” kata Nina dengan suara yang sama dan sangat menjemukan. “Sudah, kita telah sampai! Kawan-kawan,[34] aku bisa mati kedinginan, tanpa segelas konyak[35] aku tidak akan mampu mengatasi.”

“Mari kita ke Pokrovka,[36] ke kafe musim panas,”[37] aku mengajak.

Zhenya memandang kami dengan tertegun, pipinya jadi berwarna merah jambu. “Ada apa?” katanya dengan begitu gagah. “Kalau pergi minum[38] ya pergi!”

Kami memasukkan perahu di bawah kayu penyangga gerbong pengangkut barang, kemudian keluar ke arah pantai dan seketika itu juga kami langsung berhadapan dengan Lyalik,[39] kenalan lamaku yang bukan teman. Selama tahun-tahun belakangan ini manusia muda yang berandalan tersebut ada di penjara. Dia sangat kuat, pundaknya lebar, memandang dengan mengernyit dan mengesankan dirinya sebagai penjahat kawakan. Setelah bersejajar dengan kami, Lyalik membenturkan pundaknya yang satu kepadaku, yang lainnya kepada Pavlik dan memaki-maki dengan kasar. Sekarang, di dalam lingkaran cahaya kejayaan perbuatan kriminalnya, dia tahu, bahwa dia tidak memiliki resiko apa pun. Rasa takut kami bukan dimunculkan oleh dirinya, melainkan oleh reputasinya. Dia menindas kami dengan keagungan yang muram dari takdirnya. Kami merasa diri sendiri seperti manusia rewel yang hina, seperti anak bunda yang manja. Bagaimana juga kami mampu bertanding kekuatan dengan manusia yang telah kehilangan akal seperti Lyalik.

“Jangan kau berani memaki-maki, bajingan!” teriak Zhenya. Dia tidak tahu siapa Lyalik, yang dengan diam-diam berputar dan melangkah menuju kami. Akan tetapi Zhenya memotongnya di pertengahan jalan. Dia menarik ke bawah penutup kepala Lyalik yang usang dengan ujungnya  yang sudah patah ke arah hidung sang bajingan, dan dengan sekuat tenaga mendorong dada Lyalik. Sang bajingan pun melayang ke arah kawat pagar dan melewati kawat pagar dia berjungkir balik ke atas rumput, dan jelaslah seketika itu juga, bahwa Lyalik hanyalah seorang bocah, seperti halnya aku dan Pavlik. Dan seluruh tampangnya yang menyeramkan sama sekali tak ada harganya lagi.

“Mengapa kamu mendorongku?” gumam Lyalik dengan lirih, seraya berusaha menarik penutup kepala, yang ada tepat di kedua matanya. Kemudian kami duduk di kafe musim panas di bawah tenda payung dengan motif lajur-lajur yang basah, meminum kopi hitam dengan konyak dan makan gelato.[40] Zhenya, seraya mengernyit, meminum segelas kecil konyak dan tidak tahu bagaimana kejadiannya, jepitan rambut dan harspel-nya secara bersamaan jatuh dari rambutnya yang menggunduk dan lebat, wajahnya jadi memerah dan dia mulai menamai dirinya sebagai peminum berat dan seorang yang kehilangan jiwa. Kami jadi sedikit malu karena dia, kami khawatir, bahwa pekerja kafe tidak akan memberikan konyak lagi kepada kami, lantaran Zhenya masih belum menyerupai seorang gadis yang umurnya lebih tua dari yang seharusnya, seperti halnya di kafe tersebut, dengan rambut kusut dan pakaiannya yang di sepanjang waktu melampaui kedua lututnya. Dan Zhenya berkata, bahwa dia ingin mati di dalam penerbangan luar angkasanya yang pertama, karena tidak boleh sama sekali menguasai ruang angkasa tanpa pengorbanan dan kematian itu lebih baik baginya, lebih patut dihormati, dibandingkan hal yang lain. Kami mengetahui, bahwa dia berkata penuh keikhlasan dan dengan tidak bersyak wasangka terhadap keunggulan jiwa sendiri, hal yang demikian membuat kami jadi merasa rendah. Kami tidaklah seperti itu, bahkan meskipun di bawah pengaruh konyak dan kami memerlukan, meski entah bagaimana,  kesempatan untuk bertahan.

Selebihnya Zhenya tidak lagi bersama kami. Bukan hanya sekali kami mengundangnya untuk hadir ke pertemuan kami, tetapi dia  menampiknya lantaran tidak ada waktu, bisa jadi, dia memang sungguh-sungguh tidak punya cukup waktu, begitu banyak keberhasilan yang dia perlukan! Lantas bagaimana, jika pada hari satu-satunya itu dia datang karena aku dan karena aku juga dia pergi, setelah berkata dengan kejujuran yang berbesar hati: “Tidak berhasil…”

“Mengapa dulu kamu diam saja, Zhenya?” tanyaku.

“Untuk apa mengatakannya kepadamu? Nina Barysheva begitu tertarik kepadamu!”

Dengan perasaan kehilangan yang kecewa dan sedih, aku berkata:

“Di manakah dan kapan kita akan berjumpa?”

“Selang sepuluh tahun, tanggal dua puluh lima Mei, pada jam delapan malam, di bentangan tengah[41] di antara pilar-pilar teater Bolshoi.”

“Dan jika di sana jumlah pilarnya gasal?”

“Di sana ada delapan pilar, Seryozha…Pada waktu itu saya akan menjadi astronom ternama,” tambahnya dengan penuh keinginan, impian dan keyakinan yang teguh. “Sekiranya saya begitu berubah, kau dapat mengenaliku lewat potret-potret.”

“Baiklah, pada saat itu aku juga akan menjadi terkenal,” kataku dan aku berhenti barang sebentar: aku masih benar-benar belum membayangkan, di dalam bidang apa, aku ditakdirkan akan menjadi tersohor dan aku bahkan masih belum mengambil keputusan, ke fakultas mana aku mesti menyerahkan semua dokumen:[42] “Bagaimanapun juga, aku akan datang dengan mobil sendiri…” Itu benar-benar bodoh, tetapi aku tidak menemukan apa pun untuk dikatakan.

“Baguslah kalau begitu,” Zhenya tertawa, “kau akan mengajakku berkeliling kota…”

Tahun-tahun berlalu. Zhenya belajar di Leningrad[43], aku tidak mendengar apa-apa mengenai dirinya. Pada musim dingin tahun 1941, dengan keinginan yang besar aku berusaha mencari berita mengenai takdir kawan-kawanku, aku mengetahui, bahwa Zhenya pada hari pertama perang[44] meninggalkan institut dan masuk ke sekolah penerbang. Pada musim panas tahun 1944 aku terbaring di rumah sakit dan mendengar lewat radio keputusan tentang penganugrahan gelar pahlawan kepada mayor penerbang Rumyantseva. Ketika akukembali dari perang, aku baru mengetahui, bahwa gelar pahlawan itu diberikan kepada Zhenya karena dia telah gugur secara heroik di medan perang.

Hidup terus berjalan lebih jauh. Kadang dengan tiba-tiba aku mengenang perjanjian kami dan untuk beberapa hari sebelum batas waktu aku merasakan kegelisahan yang begitu pedih, begitu menyakitkan, seolah seluruh tahun yang telah lalu hanya aku persiapkan bagi pertemuan tersebut.

Aku tidak menjadi orang ternama, sebagaimana yang aku janjikan pada Zhenya, tetapi di dalam satu hal aku tidak menipunya: aku memiliki opel tua, yang aku beli dengan harga jatuhan di tempat pembuangan mobil rampasan. Aku mengenakan pakaian baru dan pergi ke teater Bolshoi. Sekiranya saja aku di sana bertemu Zhenya, aku akan mengatakan kepadanya, bahwa setelah semua pengelanaan akhirnya aku menemukan jalan sendiri: aku menerbitkan buku cerita, sekarang aku sedang menulis yang kedua. Itu bukanlah buku-buku, yang sebenarnya ingin aku tulis, tetapi aku percaya, bahwa aku akan menuliskan buku-buku tersebut sampai selesai.

Aku memarkir mobil di dekat taman umum, membeli bunga bakung di seorang perempuan penjual bunga dan menuju ke tengah-tengah rentangan di antara pilar-pilar teater Bolshoi. Dan jumlahnya memang benar delapan. Aku tidak lama berdiri di sana, kemudian aku berikan bunga bakung tersebut kepada seorang perempuan kurus bermata kelabu dan pulang ke rumah.

Aku ingin sekejap saja menghentikan waktu, menoleh pada diri sendiri, pada  tahun-tahun yang telah terlewati, mengenang seorang gadis yang mengenakan pakaian pendek dan koftochka yang kesempitan, mengenang perahu yang berat, tetapi bergerak dengan cekatan,  mengenang hujan kecil, yang menaburi permukaan kolam yang berwarna kekuning-kuningan dengan sulur berduri,  mengenang teriakan yang mengharukan: “Kita terbawa ke India!”, mengenang kebutaan jiwa masa muda sendiri dan jiwa masa muda tersebut dengan begitu mudah melalui sesuatu, yang bisa saja menjadi takdir. (*)

Sumber                                    : Zelenaya Ptitsa s Krasnoy Golovoy (Burung Hijau dengan Kepala

Berwarna Merah)

Judul dalam bahasa Rusia       : Zhenya Rumyantseva

Penerbit                                   : Moskovsky Rabochy, 1966

Pengarang                               : Yury Nagibin

Biografi Pengarang                 : Yury  Markovich Nagibin (1920-1994)  merupakan  sastrawan- penulis prosa, jurnalis  dan seorang penulis skenario. Ayah asli Yury Markovich Nagibin adalah Kirill Alexandrovich Nagibin, yang   ditembak   mati   pada tahun   1920,  karena   menjadi anggota  white  guard.   Ketika  itu    Kirill  Alexandrovich meninggalkan   seorang    istri, Kseniya Alekseyevna, yang  sedang mengandung dan meminta kawannya, seorang advokat  bernama Mark Levental,  yang  namanya  kemudian dilekatkan menjadi  patronymic (nama ayah)  pada sang sastrawan,  untukmelindungi    keluarganya.Karya-karya Yury Markovich Nagibin   antara   lain:  The  Double  Mistake,   The  Man From the   Front,  The   Core   of   Life,  The   Commanding   Height,  Difficult Happiness, In Early Spring, Far and Near.

Penerjemah                              : Ladinata, Staf Pengajar Fakultas Ilmu Budaya Unpad Bandung

Sumber gambar                       : http://nnm.me/blogs/spiridonn/yuriy-markovich-nagibin-dnyu-rozhdeniya-posvyashaetsya/ / http://iknigi.net/avtor-yuriy-nagibin/80523-chistye-prudy-sbornik-yuriy-nagibin.html

Catatan kaki: 

[1] Terjemahan dalam bahasa Indonesia diberi judul Teater Bolshoi. Teater ini terletak di kota Moskow dan didirikan atas perkenan Prince Peter Urusov pada tanggal 17 Maret 1776. Awalnya hanya 13 aktor dan 9 artis, 4 penari perempuan dan 3 penari laki-laki dengan seorang koreografer dan 13 pemain musik yang melakukan unjuk seni di sini. Bolshoi dibaca Balshoi: karena tekanan ada pada huruf o kedua, sehingga huruf o pertama dilafalkan jadi a dan artinya besar

[2] Nama diminutif Sergey

[3] Sejenis mantel

[4] Bahasa Rusia untuk kata blouse

[5] Sejenis tusuk rambut, misalnya yang dipakai oleh wanita berkonde

[6] Sejenis penyatu rambut yang bentuknya seperti sisir

[7] Ungkapan khusus yang menyatakan: manusia dengan martabat moral yang tinggi

[8] Artinya kurang lebih Kolam Jernih, merupakan nama stasiun subway yang diinsinyuri oleh Nikolai Koli di Moskow. Sebelum tahun 1703 namanya Poganey Prud. Selain nama stasiun subway, nama Chistye Prudy merujuk (secara lebih dulu) ke area kolam modern, yang memiliki area 1,2 hektar dengan kedalaman rata-rata 1,2 meter

[9] Di sini maksudnya telaga buatan. Telaga buatan Khimkinskoye memiliki volume air 29 juta m3, area seluas 4 km2, lebar 0,8 km, panjang sekitar 9 km dan kedalaman sampai 17 meter. Tempat ini merupakan tempat tamasya

[10] Bentuk kata sifat untuk kata benda Khimki

[11] Nama kesayangan dari Pavel

[12] Artinya kurang lebih Taman Budaya, merupakan nama stasiun subway, yang dibangun pada tanggal 15 Mei 1935. Lokasi subway dekat dengan Gorky Park of Culture and Leisure, yang terletak di sepanjang pinggiran sungai Moskow

[13] Merupakan museum besar di Saint Petersburg, tetapi di sini mengacu ke nama restoran yang sangat terkenal di Moskow. Sekarang gedungnya menjadi the Moscow School of Modern Drama Theatre

[14] Universitas ini dinamakan dengan nama seorang sastrawan dan akademikus Rusia abad 18: Mikhail Lomonosov, yang merupakan pendirinya di tahun 1755. Dulunya universitas ini terletak di tengah kota Moskow di jalan Mohovaya. Sampai sekarang beberapa departemen masih ada di sana. Bangunan induk kira-kira ada 60 gedung dan tower sentral, yang seperti wedding cake berlokasi di Sparrow Hills. Jumlah tampungan mahasiswa kira-kira 50.000 orang

[15] Nama kota yang berasal dari nama sungai Khimka, sejak tahun 1939 masuk menjadi bagian dari kota Moskow

[16] Snack bar, semacam tempat untuk makan makanan kecil

[17] Maksudnya ploskodonka, perahu yang dasarnya datar

[18] Maksudnya teplushka, gerbong pengangkut barang

[19] Nama lainnya Laut (-an) Tengah, merupakan laut yang berhubungan dengan Lautan Atlantik dan dikelililingi oleh Mediterranean region. Di bagian utara Lautan ini dibatasi oleh Anatolia dan Eropa, di selatan oleh Afrika Utara dan di timur oleh Levant

[20] Samudera terbesar ketiga terbesar di dunia, yang menutupi kira-kira 20% permukaan bumi. Samudera Hindia dibatasi di utara oleh anak benua India, di barat oleh Afrika Timur, di timur oleh Indochina, Kepulauan Sunda dan Australia, dan di selatan oleh Samudera Selatan (atau tergantung pada penamaan, oleh Antartika)

[21] Merupakan pulau terbesar di dunia dan memiliki lapisan es terbesar kedua di dunia. Terletak di antara Artika dan Atlantik Utara

[22] Maksudnya première

[23] Maksudnya Moskovsky Khudozhestvenney Akademichesky Teatr, yang didirikan pada tahun 1898 oleh Konstantin Stanilavsky dan penulis drama-sutradara Vladimir Nemirovich-Danchenko. Moscow Arts Theatre merupakan tempat bagi teater naturalistik, yang kontras dengan teater-teater Rusia yang ketika itu didominasi oleh melodrama

[24] Dikenal juga dengan nama selat Istambul, merupakan selat yang membatasi Eropa dan Asia

[25] Merupakan terusan atau jalan air laut buatan di Mesir yang menghubungkan Laut Mediterranea dan Laut Merah. Dibuka pada bulan November 1869

[26] Merupakan teluk air laut  kecil dari samudera  Hindia, yang dibatasi di timur oleh India, di utara oleh Pakistan dan Iran, di barat oleh semenanjung Arab, di selatan, kira-kira, oleh garis di antara Guardafui di Somalia Timur Laut dan Kanyakumari di India

[27] Bagian dari samudera Hindia dan dibatasi oleh semenanjung Arab di sebelah barat dan semenanjung Hindustan di bagian timur Laut

[28] Merupakan gugusan pulau di Indonesia bagian barat, yang meliputi: Kalimantan, Jawa, Sulawesi dan Sumatra

[29] Nama lainnya lautan Teduh, merupakan bagian lautan bumi yang terbesar. Terbentang dari Artika di utara sampai ke lautan Selatan di selatan, dibatasi oleh Asia dan Australia di barat, dan Amerika di timur

[30] Terletak di bagian bernomor ganjil di Chistoprudney Boulevard. Gedung Kolizei (Coliseum) yang bernomor 19a ini dibangun kira-kira pada tahun 1904 dan diarsiteki oleh R. I. Klein. Sekarang menjadi teater Sovremennik

[31] Maksudnya liana, sejenis tumbuhan tropis yang merambat pada pohon lain

[32] Merupakan negara berdaulat di Oceania. Ibukotanya Honiara, yang terletak di pulau Guadalcanal dan merupakan anggota Commonwealth of Nations

[33] Merupakan novel karya Daniel Defoe yang dipublikasikan pertama kali pada tahun 1719. novel ini merupakan otobiografi  fiksi dari Robinson Crusoe, yang terdampar selama 28 tahun di sebuah pulau tropis dekat Venezuela

[34] Maksudnya malchiki, para kawan laki-laki

[35] Maksudnya cognac, minuman brendi berkualitas tinggi, yang biasanya disuling dengan baik di Cognac di Perancis sebelah barat

[36] Nama jalan di Administrasi Distrik Pusat Moskow, yang didasarkan pada nama tserkov’ Pokrova Bozh’yey Materi atau dalam bahasa Inggris disebut dsengan Church of the Intercession of the Mother of God. Tahun 1940-1992 nama jalan sempat diubah menjadi Chernyshevsky Street, untuk menghormati Nikolay Gavrilovich Chernyshevsky (12 Juli 1828 – 17 Oktober 1889): seorang revolusioner demokrat, kritikus, sosialis dan pemikir materialis

[37] Maksudnya kafe outdoor, kafe di luar ruang

[38] Maksudnya minum alkohol dalam kadar yang banyak

[39] Nama diminutif Alexey

[40] Maksudnya ice cream atau es krim

[41] Maksudnya bay, istilah arsitektur untuk menamai bagian gedung yang ditandai oleh elemen-elemen vertikal, dalam soal ini pilar teater

[42] Maksudnya ijasah dan hal-hal yang bertalian

[43] Penamaan untuk kota Saint Petersburg pada tahun 1924-1991

[44] Perang melawan Jerman tahun 1941-1944

Continue Reading

Classic Prose

Trending