Connect with us

Cerpen

Albert Camus: Antara  Ya dan Tidak

mm

Published

on

BILA benar satu-satunya surga adalah yang telah hilang itu, aku tahu apa nama sesuatu yang lembut dan tak berbelas yang menyelinap ke dalam diriku hari ini. Seorang emigran kembali ke tanah asalnya. Dan aku ingat, Ironi, geram , semua bisu, dan disinilah aku dipulangkan. Aku tak hendak mempertimbangkan kebahagiaanku. Banyak hal yang lebih sederhana dan mudah daripada itu. Sebab dalam jam-jam ketika kugali kenangan dari dasar kealpaan, maka muncul kenangan dari emosi yang murni, yang suatu ketika tergantung di keabadian. Itu saja yang benar bagiku dan aku selalu terlambat menjalani itu. Kita bersuka dalam getar gerak-tangan yang diam, dalam kesantunan sebatang pohon dalam satu panorama. Dan semua yang kita miliki untuk menciptakan kembali cinta adalah suatu detail, tetapi detail yang tidak sempurna: bau suatu kamar yang sudah lama tertutup rapat atau langkah-langkah ganjil di jalanan. Dan bila aku mencintai pada waktu itu, maka aku hanya mencintai diriku sendiri, karena cinta memulihkan kita kapada diri kembali.

Lambat, tenang, dan lamban jam-jam itu kembali hanya bagai gerak—karena saat itu senja, jam itu sedih dan langit tak berbintang; semacam kerinduan yang samar. Setiap gerak-tangan yang tertangkap kembali berkata pada diriku sendiri. Sekali seseorang berkata, “Begitu sulit hidup ini.” Aku ingat nada ucapannya itu. Satu kali yang lain seseorang bergumam, “Kesalahan terburuk, bertapapun, adalah membuat orang lain sengsara. “Bila semua telah lewat, rasa haus akan hidup pun padam. Itukah kebahagiaan? Bila kita menoleh ke belakang kenangan-kenangan itu, dan kita selubungi semua itu dengan rasa murung yang sama, maka muncullah kematian bagai dengan yang cepat. Kita mencintai masa lampau kita, kita rasakan kembali kesengsaraan kita dan kita mencintai yang lebih baik dariapda itu. Ya, barangkali itulah kebahagiaan; perasaan cinta akan ketidakbahagiaan kita.

Seperti itu pula senja ini. Di dalam kafe Habsi, di suatu pojok yang paling jauh dari kota, aku tidak ingat akan kebahagiaan yang lalu, tetapi pada suatu perasaan asing. Hari telah malam. Di dinding-dinding, tampak syeik-syeik berserban hijau dikejar singa-singa kuning-kenari, di antara batang-batang palma yang rimbun daunnya. Di sudut kafe, menyala sebuah lampu asetilen dengan cahaya yang gemetar. Penerangan yang sebenarnya adalah tungku keramik di pendiangan, yang nyala cahayanya menjilati tengah ruang itu, dan aku merasakan bayangan yang sebentar-sebentar terlempar ke mukaku. Aku tepat menghadap ke pintu dan teluk. Pemilik kafe yang membungkuk di pojok seperti sedang memperhatikan gelasku yang telah kosong, di dasar mana selalu tercetak uang untuknya. Tak seorang pun di tengah hiruk-pikuk kota, dan lebih ke bawah lagi tampak sinar-sinar lampu di teluk. Kudengar napas Arab itu amat keras, matanya berkilau di kegelapan. Inikah suara laut di kejauhan itu? Menurut perasaanku, bumi seperti sedang menarik napas panjang di depanku dengan irama yang panjang pula, dan menyeretku pada ketidakpedulian dan ketenangan yang tak kunjung mati. Lukisan singa-singa di dinding tampak berombak di antara bayang-bayang merah yang besar, yang dibentuk oleh nyala api di pendiangan. Lampu-lampu menara mulai menyala: hijau, merah lalu putih. Dan napas panjang bumi terus terdengar; semacam lagu rahasia yang lahir dari ketakpedulian itu. Dan di sinilah aku dipulangkan kembali. Aku ingat ada seorang bocah yang hidup di lingkungan yang miskin ini. Alangkah miskin lingkungan dan rumah itu! Rumah itu hanya berlantai satu dan tak ada lampu di tangga. Dan sekarang, bertahun-tahun kemudian, ia kembali ke sana di tengah malam ini. Ia tahu, bahwa ia akan menaiki tangga itu secepat-cepatnya tanpa sekalipun luput menginjakkan kakinya. Tubuhnya sudah sangat lekat dengan rumah itu. Tangannya masih mengenali susuran-tangga, sungguhpun selalu ada kengerian yang tak pernah bisa diatasinya, dan itu karena lipas yang biasa merayap di pegangan susuran-tangga itu.

PADA sore hari di musim panas laki-laki pekerja kebanyakan duduk di tingkat atas. Di rumahnya hanya ada sebuah jendela kecil. Demikianlah, maka mereka biasa mengangkat kursi ke depan rumah dan menikmati senja di sana. Ada sebuah jalan di depan rumahnya, tukang susu tinggal di sebelah dan di seberang jalan ada kafe-kafe dan suara anak-anak riuh berlarian dari pintu ke pintu.

Tetapi di atas semua ini, di antara batang-batang pohon ficus, adalah langit. Ada ketenangan di lorong yang melarat itu, teapi suatu ketenangan yang mengangkat seluruh nilai ke harkat yang sebenarnya. Pada tingkat perasaan tertentu, langit itu sendiri dan malam yang berbintang adalah kekayaan yang fitri. Tetapi, pada pertimbangan ini, langit merebut kembali artinya yang penuh: keindahan yang tak tertara.

Malam-malam musim panas adalah misteri-misteri yang sarat dengan beban bintang-bintang. Di belakang punggung bocah itu ada jalan ke ruang rumahnya yang berbau apak dan ke kursinya yang kecil, yang didudukinya seperti terpaku di tanah. Tetapi matanya menatap ke atas dan ia seperti tenggelam dalam malam yang bening itu. Sekali-kali melintas kereta lori dengan cepat. Seorang pemabuk bernyanyi sempoyongan di sudut jalan, tanpa menyadari bahwa ia merusak kehendingan malam.

                Ibu bocah itu selalu diam. Sering orang menanyainya, “Apa yang sedang kaupikirkan?” Dan jawabnya selalu, “Tidak ada.” Itu memang  benar. Segalanya ada di sana, maka tiada. Hidupnya, apa-apa yang menjadi perhatiannya, anak-anaknya, semuanya disana; terlalu fitri untuk dirasa.

Dia lemah dan sulit berpikir. Ibunya yang culas dan menguasainya sudah lama mengatasi jiwanya yang lemah. Sungguhpun ia kemudian diselematkan oleh perekawinannya, toh ia mesti pulang ke ibunya lagi sesudah suaminya meninggal. Bintang eroix de guerre untuk suaminya, yang biasa disebut orang “gugur sebagai bunga banngsa”, terpasang di suatu tempat di dinding; sebuah medali berbingkai yang disepuh emas.

Perempuan janda itu juga menerima kiriman pecahan granat yang ditemukan di luka suaminya. Janda itu menyimpannya dengan patuh dan penuh kasih. Dukacitanya adalah sesuatu yang telah lampau. Ia sudah melupakan suaminya, tetapi masih selalu bicara tentang ayah anak-anaknya. Ia bekerja sekadar untuk anak-anaknya, dan memberikan uang hasil kerjanya pada ibunya. Sedang ibunya mendidik anak-anak itu dengan cambuk di tangan. Bila ibunya memukul mereka terlalu keras, perempuan janda itu berkata, “Jangan memukul di kepala.” Karena  anak-anak itu ia yang melahirkan, dan ia sayang pada mereka. Ia mencitai anak-anak itu dengan cinta kasih yang tak pernah diucapkan. Pada malam-malam seperti yang dihadapinya sekarang, bocah itu ingat, perempuan yang sudah menjada itu pulang dari kerjanya yang berat (ia menjadi tukang membersihkan rumah), dan akan ditemukannya rumah itu kosong. Ibunya, si pemegang cambuk, tentu sedang keluar berbelanja dan anak-anaknya masih sekolah. Lalu ia akan duduk terbenam dan bungkam di atas kursi dengan mata terus menatap kosong ke suatu celah di lantai. Malam akan semakin larut di sekitarnya, dan di tengah kegelapan, kebisuan semacam itu seolah sesuatu yang sakral; yang tak tertahankan. Bila si bocah masuk pada saat itu, maka akan gemetarlah pundaknya dan si bocang berhenti; ia takut.

Ia mulai merasakan berbagai hal. Ia mulai menyadari kehadiran dirinya. Tetapi ia seperti ditikam untuk menangis dalam kekelaman itu; kekelaman yang seperti meradang. Ia kasihan pada ibunya. Apakah itu berarti ia mencintai ibunya? Ibunya tak pernah membela atau mengusapnya, karena tak tahu untuk apa.

Lalu si bocah akan diam berdiri di sana tanpa bergerak sedikit pun; memperhatikan ibunya. Bila sesuatu yang ganjil telah mencekamnya, maka si bocah akan measakan pedih luka di dalam dirinya. Ibunya tak akan mendengarnya karena letihnya. Si perempuan tua pemegang cambuk itu akan pulang sebentar kemudian; hidup akan kembali normal—menyalakan lampu kerosen dengan cahaya yang gemetar, lampu minyak tanah, teriakan-teriakan dan kata-kata jorok. Tetapi sejenak keheningan tadi masih mencercahkan suatu titik henti; suatu saat yang tak tergapai. Sebab ia telah merasakannya. Ia mengira bahwa muntahan rasa yang berguncang dalam dirinya itu adalah cinta terhadap ibunya. Dan ia memang patut mencitainya, karena biar bagaimana, itu adalah ibunya.

Perempuan itu tidak memikirkan apa-apa. Di luar ada cahaya dan suara hirup-pikuk; di sini keheningan malam. Bocah itu akan menjadi besar, dan ia akan belajar. Mereka membesarkannya dan mereka mengharapkan terima kasihnya, karena mereka sudah menderita untuknya. Ibunya akan selalu berada dalam pesona keheningan itu. Dan ia akan tumbuh dalam penderitaan. Jadilah laki-laki; itu saja yang masuk hitungan. Neneknya akan mati, lalu ibunya, dan ia sendiri.

Perempuan janda itu lalu terloncat dari kursi karena ketakutan. Si bocah kelihatan tolol menatap ibunya seperti itu. Biarkan ia menggarap rumahnya. Si bocah sudah menggarap pekerjaan rumahnya. Hari ini di kafe yang kumal. Ia sekarang laki-laki. Bukankah itu yang masuk hitungan? Jawabnya mesti tidak, karena menggarap pekerjaan rumah dan setuju menjadi laki-laki adalah untuk menjadi tua.

ARAB itu nongkrong saja di pojok dengan melipat kaki dan tangannya berpeluk pada lutut. Dari teras mengambang bau kopi yang menyodok hidup bersama senda-gurau yang meriah dari orang-orang muda. Motor bot terdengar lagi di kejauhan, dalam dan lembut. Bumi damai di sini, seperti biasanya tiap hari. Betapa tahan dan tetap tak berubahnya perangai ibu yang ganjil itu! Hanya kedamaian bumi yang dapat berkata padanya apa itu sebenarnya. Suatu malam, anaknya—yang sudah dewasa—dipanggilnya. Ia telah mengalami guncangan yang menyebabkan datangnya gangguan pikiran yang berat. Perempuan itu biasa duduk-duduk di tingkat atas waktu sore dan malam hari. Lalu matanya akan mengikuti orang-orang yang lalu-lalang. Di belakang punggungnya, malam semakin larut. Di depannya, toko-toko akan segera menyalakan lampu-lampu. Jalanan akan dipenuhi orang-orang yang lewat dan cahaya lampu.

Ia lalu akan hilang-diri dalam renungan tanpa tujuan itu. Pada  malam yang masih diragukan itu datang seorang lelaki dengan tiba-tiba dan menyeretnya, lalu melakukannya dengan kasar dan kemudian lari  karena terdengar suara-suara ribut. Perempuan itu tak melihat apa-apa lagi, lalu jatuh pingsan. Ia memutuskan, atas nasihat dokter, untuk menemani ibunya  di kamarnya. Ia merentangkan tubuhnya di sebelah ibunya dengan selimut di atasnya.

Waktu itu musim panas. Ketakutan yang ditimbulkan kejadian tadi lama menempel di kamar yang terlalu pengap itu. Langkah-langkah kaki berderap, detap daun pintu dibuka dan ditutup; bergerit-gerit. Di udara, mengambang bau masam minuman yang biasa ditaruh di kamar orang sakit. Perempuan itu membolak-balik dalam tidurnya, mengerang dan kadang-kadang terbangun karena terkejut. Ia berulang kali membangunkannya dari tidur yang gelisah, dan biasanya ia sendiri yang kemudian mandi peluh. Dan sesudah terjaga, perempuan itu akan jatuh tidur setelah bolak-balik melihat arloji tangannya dan nyala lampu yang menari ke sana-kemari. Dan ia merasa, betapa sendirinya mereka pada malam yang begitu sunyi. Sendiri sama sekali. Orang-orang lain tidur nyenyak, sementara mereka berdua terserang demam. Semua yang ada dalam rumah tua itu kosong rasanya. Bila kereta lori tengah malam melintas, seperti makin pupuslah harapan mereka; harapan yang berupa kepastian-kepastian dari suara hiruk-pikuk kota.

Yang terdengar hanya gemanya di rumah itu; itu pun hanya sebentar saja. Dan yang tertinggal adalah taman kesunyian yang besar, di mana mereka dikejutkan oleh momok-momok bercacat yang mengerang. Ia tak pernah merasakan kehilangan seperti itu. Bumi luruh dan bersamanya ilusi hidup menjadi baru setiap hari. Tak ada yang masuk hitungan lagi; tidak juga studi atau ambisinya. Pesan tempat di restoran, atau warna-warna pilihan. Tak satu pun selain rasa sakit dan kematian, di mana ia sendiri merasa terbenam….. Namun, pada jam-jam ketika bumi seperti terpecah-pecah itu, ia hidup. Dan akhirnya ia tertidur juga. Tetapi bukan tanpa membawa beban harapan yang hilang. Lama kemudian, ia diingatkan oleh masam-anggur yang bercampur keringat itu, ketika ia sudah merasakan hubungan yang mempertautkan dirinya dengan ibunya. Dan itu dirasakannya sebagai kelembutan kasih ibunya yang tertebar di sekelilingnya, yang melambung-lambung dengan tulus—peran seorang perempuan yang malang dengan nasib yang rawan.

SEKARANG nyala api di pendiangan sudah ditutupi abu. Dan terus saja terdengar napas-panjang bumi. Gelak seorang lelaki mengalir dan suara perempuan riang mengikutinya. Cahaya-cahaya bergerak bersembulan di teluk; barangkali kapal-kapal nelayan kembali ke pelabuhan. Langit segitiga yang tampak di depanku bebas dari awan. Langit ditebari bintang-bintang dan gemetar bila dilintasi hembusan angin, sayap beludru malam membelai sekelilingku dengan lembut. Masih berapa jauh malam ini; malam yang bukan milikku lagi? Ada sesuatu yang berbahaya dari kata kesederhanaan. Dan malam ini aku mengerti, bahwa seseorang bisa ingin mati karena—sesuai dengan kehidupan yang jernih—tak ada satu pun lagi yang penting. Seseorang menderita dan menemui kemalangan seperti juga orang lain. Ia akan memperpanjang kemalangan dan penderitaannya kalau selalu mencoba mengukuhkan nasibnya. Bijaksana ia. Dan kemudian, suatu malam ia bertemu seorang teman yang disukainya. Teman ini bicara padanya dengan gaya seenaknya. Bila ia pulang, lelaki itu akan bunuh diri. Orang lalu bicara tentang kesukaran-kesukaran pribadi dan gejolak-gejolak yang tersembunyi. Tidak! Bila toh mesti ada suatu sebab, ia bunuh diri karena seorang teman bicara padanya dengan seenaknya. Demikianlah, rasanya aku selalu menemukan arti yang lebih dalam dari dunia ini; kesederhanaan yang selalu meluruhkanku. Ibuku pada malam itu dan kesengsaraannya. Suatu kali lain aku tinggal di sebuah gubuk di luar kota, dengan seekor anjing, dua ekor kucing dan anak-anaknya, semuanya berbulu hitam. Induknya tak bisa merawat  anak-anak itu. Seekor demi seekor anak-anak kucing itu mati. Dan kamar mereka akan dipenuhi dengan kotoran mereka. Dan tiap malam, bila aku pulang, kutemui seekor demi seekor anak-anak kucing itu telah kaku, dengan bibir mereka yang terlipat.

Suatu malam, kutemukan anak kucing yang terakhir tengah dimakan induknya. Bangkainya sudah mulai berbau. Bau kematian bercampur air  kencing. Aku duduk di tengah segala keruntuhan itu, dan dengan tanganku kutikamkan pisau ke dalam kotoran itu dan napasku lalu dipenuhi oleh bau anyirnya. Aku menatap nyala liar yang memancar dari mata hijau kucing betina itu, yang meregangkan tubuhnya di pojok tanpa bergerak-gerak. Ya. Tepat seperti itu pula malam ini.

                Pada titik tertentu dari kevakuman ini, tak satu pun yang menuntun pada yang lain; seperti tak berdasar rasanya orang berharap atau memburu harapan, dan seluruh hidupku hanya tersimpul pada suatu bentuk yang semu. Tetapi kenapa berhenti disana?

Sederhana, segalanya sederhana; di mercusuar itu ada lampu hijau, merah, dan putih—di tengah dingin dan bau kota serta rasa malas yang bangkit di dalam diriku.

Bila malam ini ada gambaran masa kanak-kanak yang kembali padaku, bagaimana aku bsia menolak pelajaran cinta dan kekayaan yang kulukis daripadanya? Karena saat ini adalah bagai sesuatu antara ya dan tidak. Kutinggalkan saat-saat yang lain untuk harapan dan kemudian untuk hidup. Ya, untuk mencari kemurnian dan kesederhanaan surga yang hilang itu—dalam bentuk yang semu. Dengan demikian belum lama berselang, di sebuah rumah di lingkungan tua itu, seorang anak menjenguk ibunya. Mereka duduk berhadapan; diam saja. Tetapi mata mereka bertemu.

“Jadi, bagaimana, Bu?’

“Ya, baik-baik saja.”

“Bosankah Ibu? Apakah aku tak cukup bicara?”

“Oh, kau tak pernah banyak bicara.”

Dan senyum yang masih meleleh di muka perempuan itu. Memang, ia tak pernah bicara dengan ibunya banyak-banyak. Tetapi sebenarnya, apa pula gunanya? Melalui keheningan, suasana menjadi tenang. Ia anaknya dan dia ibunya. Perempuan itu biasa berkata, “Kau tahu.”

Perempuan itu duduk di kaki sofa; kedua tangannya memeluk lutut. Ia duduk di kursi, hampir tidak melihatnya. Juga setiap kali menyambung rokoknya yang memendek. Lalu senyap.

“Mestinya kau tak usah banyak merokok.”

“Benar.”

Bau seluruh lingkungan itu masuk lewat jendela. Akordion di kafe di dekat situ, kendaraan malam yang berat, bau daging asap yang disusul oleh tangis seorang bocah di jalanan ….. Ibu itu bangkit dan mengambil sulaman.

Jari-jarinya kaku dan bengkok-bengkok karena penyakit. Ia tak dapat bekerja dengan cepat.

“Ini sweater kecil. Akan kupakai dengan leher baju putih. Dengan baju hitam ini, cukup pakaianku untuk musim ini.”

Ia bangkit mengambil pelita dan menyalakannya.

“Pada hari-hari terakhir ini, langit cepat menjadi gelap.”

“Memang. Karena sudah bukan  musim panas lagi. Musim dingin juga belum datang. Kau akan kembali lagi kemari?”

“Tetapi aku belum pergi, Bu. Kenapa Ibu berkata begitu?”

“Tidak, hanya sekadar bertanya saja.”

Sebuah kereta lori lewat. Lalu mobil.

“Benarkah aku mirip ayahku?”

“Benar. Tentu saja kau tak mengenalnya. Kau baru berumur enam bulan ketika ia meninggal. Tapi bila kau berkumis kecil ……”

Perempuan itu bicara tentang ayahnya tanpa mengadili atau menghukum. Tanpa kenangan dan emosi. Barangkali ayahnya dirasakannya seperti lelaki-lelaki yang lain. Apalagi ayahnya pergi begitu “formal”; gugur dan mayatnya ditanam di makam pahlawan dan namanya dicantumkan di tugu peringatan.

“Biar bagaimanapun,” kata perempuan itu, “lebih baik begitu. Kalau tidak meninggal, ia akan buta atau gila. Bukankah lebih celaka lagi?”

“Benar.”

Apa pula yang menahannya di kamar itu, kalau bukan kepastian bahwa di situ selalu lebih baik; bahwa kesederhanaan yang absurd dan menyeluruh dari dunia ini telah singgah di kamar itu?

“Kau akan kembali?” tanya perempuan itu. “Aku tahu, kau mesti bekerja. Tapi lama-kelamaan …..”

TETAPI sekarang di mana aku? Dan betapa aku memisahkan kafe kosong ini dari kamar masa lalu itu? Aku tak tahu, apakah aku mengalami semua ini atau hanya membayangkannya saja. Mercusuar masih tegak di sana. Dan Arab itu bangkit dan memberitahu bahwa kafenya sudah mau tutup. Aku mesti pergi. Aku tak ingin lagi kembali ke lingkungan kumal dan berbahaya ini. Benar bahwa aku melihat teluk dan mercusuar untuk terakhir kalinya, dan yang bangkit di dalam diriku bukan lagi harapan akan hari-hari yang lebih baik, tetapi kesan yang tak berubah terahdap semuanya dan diriku sendiri. Ya, semuanya sederhana saja. Manusia yang menjadikan semua ini ruwet. Bukan sebaliknya.

Jangan biarkan mereka berkata pada kita tentang laki-laki yang dijatuhi hukuman mati dan bahwa “ia akan membayar utangnya pada masyarakat”; lebih baik katakan bahwa “ia akan memotogn kepalanya sendiri”. Tampaknya hampir sama, tetapi toh sedikit berbeda.

Dan masih ada orang-orang yang lebih suka melihat nasib mereka di dalam matanya. (*)

(Penerjemah: W. Respati)

————————————–

ALBERT CAMUS, (Nobel Prize for Literature 1957)

Lahir di Mondovi, Aljazair tahun 1913 dan meninggal tahun 1960 di Sens, Prancis. Camus dikenal sebagai salah satu tokoh filsafat eksistensialisme. Bersama Jean-Paul Sartre dan Andre Malraux, ia bahkan disebut-sebut sebagai salah satu dari tritunggal eksistensialis Prancis, yang banyak mengungkap pemikiran tentang eksistensi manusia yang terkenal absurd. Ia terutama membedah dilema pokok manusia modern dalam karya-karyanya, serta penjelasan tentang keberadaan manusia yang tak dapat dipahami dan tanpa tujuan.

Karya-karya Camus meliputi 4 buah novel, di antaranya L’Etranger (1942), Le Peste (1947), dan La Chute (1956); sebuah kumpulan cerita pendek L’Exile et le royaume (1957); sejumlah esai, antara lain L’Envers et l’endroit (1937), Noces (1938), Le Mythe de Sisyphe (1943), dan L’Homme revolte (1951); serta 4 buah drama. Seluruhnya adalah karya-karya terbaik pada zamannya, sehingga Camus dianggap sebagai salah satu pemikir yang paling berpengaruh pada pertengahan abad ke-20.

Dalam keterangan pers-nya, Akademi Swedia menganugerahkan Hadiah Nobel untuk Kesusastraan pada Camus sebagai pengakuan: …”untuk karya sastranya yang penting, yang dengan kesungguhan mengungkap dengan jernih masalah-masalah hati nurani  manusia pada zaman kita sekarang …”

Camus adalah sastrawan kesembilan Prancis (setelah Sully Prudhomme tahun 1901, Frederic Mistral ahun 1904, Romain Rolland tahun 1915, Anatole France tahun 1921, Henry Bergson tahun 1928, Martin du Gard tahun 1937, Andre Gide tahun 1947, dan Francois Mauriac tahun 1952) yang memperoleh penghargaan tersebut. (*)

 

Cerpen

Rahwana Di Tepi Kolam Pemancingan Ikan

mm

Published

on

Memancing adalah usahaku menyelamatkan diri dari kematian. Bagaimana bisa? Iya, setiap ikan yang kudapat dari kolam pemancing mampu menyelamatkanku dari kematian itu. Kematian macam apa? Mengusahakan hidup bahagia bukankah kalimat lain dari menghindari kematian. Dan buatku itu mulia. Sedangkan hidup yang penuh duka nestapa, kesedihan, kesusahan, kemurungan, kegalauan dan lain sejenisnya serupa dengan kematian. Kematian semasa hidup. Tak ada yang lebih buruk dari itu. Siapa tahu, apa yang sudah menggerakkan pikiranku hingga setubuhku, sepagi itu, mematung hidmat di tepi kolam pemancingan ikan. Yang kulakukan bukan laku orang suci yang menyepi di dalam gua Tsur atau naik ke Sinai atau Olympus.

Seperti aku yang beribu, kota ini semestinya memiliki asal-usul yang bisa ditelusuri secara genetika sejarah. Itu akan berguna seperti markah jalan yang akan menolong para sopir. Sopir itu adalah anak-anak zaman dalam perjalanannya menuju kehidupan agung, bukan kematian. Manusia, dalam ekspedisi hidupnya, mengikatkan diri pada dua mitologi, ibu dan rumah. Sehingga, Abdul Wachid BS pun tak kuasa menolak, maka jadikannya sekumpulan puisinya, Rumah Cahaya. Bahkan, sebuah negara menyebut pusat administrasi pemerintahannya dengan nama ibu kota. Jakarta adalah tempat yang kupilih untuk tinggal, meninggalkan ibu di kampung kelahiranku. Sebagai penghormatan, aku menyematkan nama kampung itu di belakang namaku dalam kartu nama.

Kota bagi ibuku tak ubahnya sawah yang ditumbuhi gedung pencakar langit sebagai gulma. Sedangkan gulma adalah sianggit yang akan merebut dengan serakah hara yang menjadi cikal bakal bulir-bulir padi yang hanya mahal ongkos produksinya.

Pernah suatu ketika, aku terbangun dengan mata yang tak awas karena sisa-sisa kantuk mengira terjadi gempa. Sepasang sandal murahan, kipas angin yang sudah rusak, dan keyboard mengapung di atas air setinggi dengkul. Beruntung, laptop dan flashdisk sempat kutaruh di meja sebelum tidur. Kalau dua benda itu ikut terendam, itu akan menjadi subuh terkutuk kedua terbesar dalam sejarah dosa manusia seperti yang menyebabkan Ratna Anjani dan dua saudaranya mewujud segawan, kera.

Tapi, benarlah kata ibu, segala yang di dunia adalah nisbi. Terbatas ruang dan waktu. Dari derita Anjanilah kemudian lahir Anoman yang agung. Kota ini begitu arogan dan culas, hujan pun dituduh sebagai penyebab banjir yang mengapungkan sampah tak berharga dalam kamarku itu. “Menanam padi, pasti akan tumbuh gulma, tapi tak kebalikannya,” kata ibuku suatu hari.

Apa sudah menjadi tabiatnya, manusia takut perubahan, apalagi yang mendadak. Yang membuat kaget. Jantungan. Yang darah tinggi bisa stroke, kalau tak modar sekalian. Bukankah manusia dibekali kemampuan menalar, menganalisis, bersistesis, mengevalusi hingga berimajinasi untuk mengada dari yang ada sesuai kebutuhan dan seleranya. Orang di kota ini, ibarat menanam benih padi kualitas terbaik di atas tanah subur, tapi tak dirawat. Ia akan  menjadi rumpun liar. Angker. Anak-anak takkan menjadikannya tempat bermain, orang dewasa tanpa kesaktian yang mumpuni akan mati sia-sia tak mampu menaklukan ketakutan dan kesunyian di dalamnya.

Kota ini kapankah lepas dari kutukan. Penduduknya diharamkan dari sinar matahari. Tubuh mereka terhimpit bangunanan yang semakin hari makin tinggi besar seperti Rahwana yang lahir dari ayah ibu yang terhasut nafsu. Bahkan, ayam jago tak tahu kapan waktu berkokok, makan, dan kawin. Anak-anak tak bisa membedakan fajar atau senja, timur atau barat, siang atau malam, bagaimana mereka ingat pulang ke rumah dan ibu?  Wajah mereka letih dan tua, bosan dengan permainan hingga berubah friksi.

Sementara itu, kota ini makin sempit karena penduduk harus berbagi tempat dengan koloni tikus, kecoa, dan lalat. Mereka bukan hewan biasa—kalau manusia tak mau disamakan—dari leher hingga kaki mereka adalah manusia, hanya kepala saja yang menyerupai hewan-hewan yang akrab dengan sampah itu. Ah, penduduk kota yang manusia seutuhnya makin punah, dalam satu malam mereka telah berrevolusi menjadi manusia berkepala hewan hanya dengan hasutan dan fitnah. Mereka yang sadar dan tak sanggup menerima perubahan itu memutuskan mengakhiri hidup alih-alih hidup tersiksa tak kuat menahan malu. Ah, kata mereka yang bertahan, malu takkan buat orang kenyang dan hidup.

Hari ini, di kota yang tak penah ibu injak tanahnya, semua kata-kata ibu menjadi nyata. Aku membayangkan, kota ini akan bebas dari kutukan kesialannya bila tanahnya sekali saja ibuku menginjakkan telapak kakinya yang penuh tuah. Seakan kebenaran itu datang kepadaku hanya untuk menggatikan jasadnyanya. Ia datang ketika ibu telah memantapkan dirinya untuk tinggal seorang diri di rumah sunyi tanpa pintu dan jendela. Tapi, aku sendiri menjadi geli ketika tersadar aku sendiri—sebagai penghuni kota—tak pernah menginjak tanahnya dalam arti yang sesungguhnya, kecuali latai keramik atau marmer dan jalan beton atau aspal.

Tanggal merah di hari Jumat—kemewahan yang langka untuk para buruh urban sepertiku—menjadi tanpa makna. Umumnya, orang sepertiku akan pulang kampung, atau menepi ke puncak Bogor menyewa vila untuk satu atau dua malam. Di antara keduanya tak satupun kupilih. Ibarat orang luka parah, hanya diberi obat penahan rasa sakit, bukan disembuhkan lukanya.

Aku tak punya lagi alasan untuk pulang kampung. Berkereta empat atau lima jam hanya untuk menziarahi kuburan rasanya hanya akan menambah deritaku. Aku bahkan tak tahu di sebalah mana ibuku dikuburkan. Apa yang mesti kukatakan pada orang-prang kampung. Mereka akan bertanya, kenapa tak pulang di hari kematian ibumu? Apa tempat kerjamu di tengah samudera sehingga tak dapat dihubungi? Untuk apa pandai dan bersekolah di luar negeri kalau sekarang hanya jadi buruh? Bukankah bos di perusahaanmu yang tak selesai kuliah karena dropout?

Ibu tidak menyukai hobiku yang satu ini meski tak pernah mengatakan dan melarangku. Satu-satunya hal yang tidak pernah ia mau lakukan untukku adalah memasak ikan pancinganku. Karenanya, aku terbiasa mengolah ikan sendiri. Ikan-ikan itu tak pernah kumakan, melainkan kuberikan pada tetangga kanan-kiri rumah. Kepada ibu, mereka kerap memberi pujian atas kemampuanku mengolah ikan. Karena itu pula, ibu sering mendapat kiriman balasan dari para tetangga dalam bentuk masakan yang lain.

Joran yang kuletakkan di lantai tepi kolam yang disemen kasar itu bergerak. Umpannya disambar ikan. Kaki kananku sigap menginjak pangkal joran. Tangan kananku angkat ujung jorannya. Berat. Joran itu membentuk parabol yang indah seperti lengkungan pelangi. Aku merasa joran itu akan patah. Aku melepaskan kuncian tali, memberi jarak yang cukup untuk ikan melakukan perlawanan.

Perlawanan ikan segera berganti pada kejadian empat puluh hari setelah kematian ibu. Satu jam tertidur di dalam mobil, getar ponsel di saku kemeja yang tak lagi rapi membangunkanku. Sejam kemudian, kami baru sampai di rumah setelah kujamu mereka makan malam di restoran mewah. Tak ada pembicaraan serius selama perjamuan, hanya perkenalan seorang gadis yang turut bersama paman.

Selepas subuh, gadis itu sudah berada di dapur yang aku sendiri tak pernah memakainya. Memasak air untuk membuat kopi, kebiasaan yang entah kapan terakhir kali lakukan.

Setelah membicarakan masalah rumah dan sawah peninggalan ibu dan ayah yang harus kuurus agar tak terbengkalai, dia mengingatkanku tentang perjodohanku dengan anak perempuan saudari sepupu ibuku, anak tetangga yang dulu sering kukirim ikan pancingan.

Astaga, ibu pun membaca bahasa cinta masa kecilku yang aku sendiri hampir lupa. Aku berkecil hati karena pernah menyembunyikan sesuatu di balik punggungku dari ibu, dan itu gagal. Meski bukan sesuatu yang perlu ditutupi karena bukan dosa seperti yang pernah melahirkan Rahwana.

Tapi, itu baru hidangan pembuka di restoran, hidangan intinya adalah akulah Rahwana itu sendiri. Gadis yang dijodohkan dengaku oleh ibu adalah Sinta yang hatinya telah dikuasai Rama. Sinta datang kepadaku untuk meminta pembebasan atas ikatan perjodohan yang disepakati antara ibuku dan kedua orang tuanya.

“Bagaimana?”

Aku tak merasa perlu segera menjawab. Kuminum kopi buatan Sinta. Dua tamuku terlihat tegang menunggu jawabanku. Tanpa sadar, aku menghabiskan satu cangkir kopi itu dalam satu teguk saja.

“Aku setuju melepas perjodohan itu.”

Sejam berlalu, ikan menghentikan perlawanannya kemudian bersikap tenang meski mata kail sudah menancap di antara bibir dan matanya. Aku menunda ikan yang hampir pasti kudapat untuk menjawab telfon. Baru kuambil ponsel itu dari dalam tas, berhenti. Kubaca notifikasi, sepuluh panggilan tak terjawab dari nomor yang sama, Sinta. Kubuka pesan WA, foto undangan pernikahan dengan desain sampul gunungan wayang. Tercetak tulisan emas dua nama Sinta dengan Rama, pamanku.

Joran yang sejak tadi kuinjak pangkalnya itu kuangkat. Berasa ringan. Ikan lepas bersama kailnya. Aku membuka tas kecil di pinggang, mengmbil dan memasang kail yang baru. (*)

Bunga Pustaka, 2017

*) Mufti Wibowo. Penulis, tinggal di Jalan Perintis Kemerdekaan 06 Purwokerto. Email: bowoart60@yahoo.co.id

Continue Reading

Cerpen

Jika Neraka Itu Ada…

mm

Published

on

Ole: Ferry Fansuri

Terkadang saat kuberdiri diantara senja itu kubisa merasakan hawa dingin yang pekat, bisa kusentuh aliran udara disekitarku. Terasa waktu berhenti seketika, entah ini sebuah ilusi tapi yang kurasakan nyata. Gejala itu selalu terjadi ketika mata ini menemukan burung-burung gereja berkeliaran di sekeliling diriku. Cuma aku tak habis berpikir kenapa burung-burung gereja ini ada disini, apalagi kampung ini tidak ada tradisi atau jejak burung-burung gereja itu.

Mereka begitu jinak berjalan dihamparan sawah kampung kami, melompat-lompat sesekali terbang rendah di dahan-dahan, ranting pada pohon-pohon rindang disana. Munculnya burung-burung gereja ini semenjak pertikaian itu terjadi di kampung kami. Dulu kampung ini yang dibelah sungai yang mengalir di tengah-tengah memberikan penghidupan bagi penduduk disini. Tanah disini bagai melempar sebuah biji akan menghasilkan buah-buahan, tumbuh subur dan tak pernah habis.

Disini dulunya terdapat dua kampung yang saling berdekatan biarpun secara harfiah berbeda. Kampung Maidiling ada diutara sungai ini, disana tengah bangunan kokoh bertahtakan tembok dan diatas tanda salib. Gereja bergaya renaisance menjulang dan dipuja masyarakat Maidiling. Sedangkan bagian selatan dari sungai besar tersebut Kampung Sidempuan setiap senja atau saat ayam belum berkokok, alunan ayat-ayat suci begitu merdu ditelinga. Dua kampung saling berdekatan dan bersahabatan, berabad-abad tak pernah sekalipun bermusuhan atau menumpahkan darah untuk hal yang konyol sekalipun.

Tapi tepat dua ratus abad setelah bulan Oktober yang lalu, masa kelam merudung kedua desa tersebut. Diawali gemuruh awah hitam bukan menandakan hujan, muncul sosok asing yang meracuni kedua desa tersebut. Dia datang entah darimana atau dari dunia antah berantah, mulutnya begitu berbisa dan siapa saja yang mendengarkannya seperti dihipnotis untuk membenarkan semua perkataannya. Berkoar tentang kemurnian ajaran, siapa sesat atau bukan, pilihan neraka atau surga dan hal-hal yang tak bisa dipikirkan oleh akal pikiran.

“Tak maukah engkau janji Surga bagimu jika masih membenarkan Neraka untukmu”

Doktrin-doktrin itu membangkitkan napsu purba dalam penduduk kampung tersebut. Orang asing menuduh bahwa toleransi adalah bahaya laten yang harus diberantas sampai akar-akarnya. Semua perbedaan akan menimbulkan pertikaian di masa depan jika tidak ditekan sejak dini.

“Sesuatu yang murni itu merupakan hal mutlak dan tidak bisa diganggu gugat”

Entah kenapa dari sanalah kemudian muncul wajah-wajah beringas kesetanan yang terus merangsek ke ubun-ubun. Hawa iblis keluar dari cangkang manusianya, saling olok, ejek kemudian adu fisik tak terhindarkan. Aku dulu merasa hawa yang begitu panas melingkupi kampungku ini, Sidempuan dulu berhawa sejuk karena konon kadar oksigen disini tinggi hingga harapan hidup penduduknya tinggi diatas rata-rata. Tak heran disini tak pernah jatuh sakit biarpun sudah berumur lebih 100 tahun.

Tapi saat ini berbeda, pertumpahan darah terus terjadi. Gesekan kecil atas nama agama pun berujung bertikai tak habis-habisan. Aku sendiri tak habis pikir mengapa mereka menumpahkan darah hanya janji-janji surga dan neraka sesuai ajaran yang mereka pegang. Apakah nalar dan logika mereka tak dipakai untuk mencerna semua ini?.

Tiap kali ada hinaan dari kampung sebelah, kumpulan pemuda kampung ini terbakar emosi dan menyulut emosi. Tangan-tangan mereka berkumpul benda-benda tumpul yang dikit demi dikit diasah menjadi tajam. Tapi aku tak bergeming sedikitpun atas ajakan mereka, caci maki dilontarkan dari mulut-mulut mereka yang berbusa dan berbau arak.

“Pengecut !!”

“Penista !!”

“Murtad!!”

Ocehan dan rancuan mereka tan aku gubris sama sekali, lebih baik aku moksa daripada harus menebas orang-orang yang tak sejalan dengan kita. Manusia diciptakan dengan derajat yang sama yang membedakan amalan dan napsunya.

Mereka selalu pulang dengan bersimbah darah apakah itu sebuah kemenangan atau kekalahan, itu sama saja. Andai aku bisa menghentikan semua tanpa kaki ini tetap terjejak masuk kedalam tanah.

Sebenarnya aku membenci mereka yang melakukan ini. Demi apa? demi rancuan-rancuan tak becus menerangkan apa itu Surga atau Neraka.

Aku membenci mereka yang culas menjual agama demi sebuah kemurnian yang omong kosong belaka.

Aku menghujat mereka yang begitu gampang menumpahkan darah saudara-saudara yang tak sejalan atau tidak seiman. Mereka menganggap apa yang dilakukan adalah perang suci yang direstui penguasa langit.

Kuingin melenyapkan mereka !

Memberanggus !

Menggibas !

Menghembuskan topan !

Memporak porandakan !

Tapi aku hanya manusia lemah hati dan pikiran, ada secuil ketakutan yang berkutat dalam rongga dadaku. Menyerah akan keadaanku yang ganjil dan mereka pun mengucilkan dan memasung diriku di tanah antah berantah. Hingga mereka bisa bebas melakukan pekerjaan nistanya itu tanpa diriku.

Hura-hara itu sudah sampai ke titik pedih, kulihat langit mendung berbalut merah jingga hampir semerah darah. Teriakan-teriakan menyayat dari wanita serta bocah kecil membahana beriringan kegelapan menelusup.

Kejadian itu terus bergulir dari hari ke hari, minggu ke mingu sampai berbulan-bulan. Entah aku tak tahu sampai kapan ini akan berakhir, dulu disini gemah lo jinawi berganti gersang sengsara. Tanah disini kering membentuk petak-petak pecah, tak ada juluran padi atau korekan katak, semua hilang kusam.

***

            Kehampaan dan keheningan ini selalu kurasakan saat memasuki kampung ini, udara sekitarnya sekali lagi terhenti. Kaki ini mencoba melangkah dan sejurus mata ini melihat rumah-rumah itu tampak kosong melompong tanpa penghuni. Kemana orang-orang beringas itu, apakah masih trengginas untuk menyerang kampung sebelahnya? Atau semua tewas ditebas parang terbang kiriman dukun sakti milik kampung seberang.

Tidak ada jejak kaki atau saksi mata yang nyata untuk ditanyakan, makhluk hidup tak diijinkan menghirup napas di bumi Sidempuan ini. Sungai disana tampak keruh hitam pekat bak tinta yang akan dikuaskan pada lukisan kesedihan. Langit diatas tidak sejingga dulu, sekarang merah sedarah. Tiba-tiba gemuruh beriringan  kilat berkejaran dengan guntur, awan hitam itu menyemburkan airmata yang tersampaikan hujan. Titik-titik air itu mengenai mata dan mukaku, bau amis dan sangir terasa di hidungku.

Ini darah!!

Guyuran hujan itu berubah menjadi darah mengenangi tanah, kaki telanjangku merasakan gemericik air darah itu. Tapi yang kurasakan beda, rinai hujan perlahan menetes seperti waktu terhenti seketika. Ujung jariku bisa menyentuh bulir-bulir itu, aku bisa menyibak dan menepisnya. Gejala apakah ini?

Bersamaan itu muncul burung-burung gereja berkeliaran di sekitarku. Kasat mata aku melihat ratusan bahkan ribuan burung gereja itu terbang berseliweran tak tentu arah. Berputar-putar diatas kepalaku, kemudian hinggap diatas kubah berujung bintang rembulan itu.

Sunyi dan senyap.

Terkadang ada sebuah pertanyaan yang dalam tempurung otak ini bergeliat saat melihat burung-burung gereja yang nangkring di kubah bulan bintang ini. Agama apakah yang tepat buat mereka? Mereka dikenal burung gereja yang bisa hinggap kemana mereka mau tanpa kuatir. Jika mereka punya agama, tak mungkin rela menjejakkan kakinya diatas kubah itu.

Suara-suara koak-koak itu muncul dari burung-burung gereja itu, menciptakan senandung kematian yang memekakkan telinga ini. Mata bulat hitam itu menatap tajam ke arahku, mereka seperti menginginkan diriku. Sekali kepak berterbangan jingkat diatas ubun-ubun, berputar-putar. Sekali kibas, burung-burung gereja itu menerjang. Mata ini melihat itu dengan terbelalak tak percaya, mereka mengincar mata ini. Paruh burung-burung itu menusuk kedua mata ini, masuk kedalam menyelinap dan melesat hilang dalam pupil bola mata ini. Mereka terus masuk tanpa henti, aku hanya berteriak kesakitan.

“Hentikan !!”

Teriakanku tak membuat mereka berhenti memasuki mataku, tidak hanya satu tapi ribuan terus dan terus. Akhirnya terhenti saat burung gereja terakhir lenyap kedalam kedua mataku. Aku merasakan perih yang amat sangat, disela-sela kelopak mataku meleleh darah hitam pekat. Aku hanya bisa memegangi dan menutupi salah satu mataku, raunganku menggelegar.

Aku pun tertunduk.

Saat kubuka mata ini, kulihat sekitarku bergelimpang mayat-mayat bersimbah darah dan tangan kananku lunglai begitu saja meloloskan sebilah parang belepotan darah segar yang tercecer beku.  (*)

Surabaya, November 2017

Continue Reading

Cerpen

Layar Sebelah

mm

Published

on

Galeh Pramudianto *)

Untuk pertama kalinya Pentol bertemu dan berbincang lama dengan seorang produser film. Hal yang awalnya sering ia bayangkan, namun tidak secepat ini terjadi. Tiga hari yang lalu sebelum ia dimaki-maki dan dinasihati Bang Nide, Pentol mendapat telepon dari salah satu rumah produksi film.

“Ini dengan Mas Pentol? Bisa ke kantor Layar Sebelah sekarang? Kami sedang butuh penulis skenario horror.”

Tanpa pikir panjang Pentol langsung menuju kantor Layar Sebelah. Ini awal yang bagus untuk masuk ke industri film di Indonesia, Pentol meyakini. Maka bergegaslah ia ke kantor Layar Sebelah. Pentol duduk di ruang tunggu, ketika satpam sedang memanggil salah seorang kru. Ia perhatikan benar-benar kantornya. Dinding dengan balutan warna kuning gading, dibubuhi banyak kata-kata motivasi dan penyemangat hidup. Ia mendelik. Merasa belum mendapatkan atmosfer rumah produksi yang bergerak di bidang sinematografi, ia melihat ke sudut dinding lainnya.

Terpampang poster-poster film berjudulkan ajaib: Hantu Terbang Tanpa Hati, Setan Asem Manis, Jenglot Jengkol, Kuntilanak Kekanak-kanakan dan lain sebagainya. Pentol menelan ludah. Awalnya ia ingin mengabadikan gambar-gambar tersebut lewat telepon genggamnya, namun urung ia lakukan karena sudah keburu dipanggil oleh salah satu kru Layar Sebelah. Masuklah ia ke dalam suatu ruangan.

“Dengan Mas Pentol?” tanya salah seorang kru perempuan dengan tatapan sedikit heran.

“Iya Mbak, betul.”

“Mas selama ini sudah pernah nulis apa aja?”

Langsung dihujam dengan pertanyaan oportunis, Pentol langsung menjawab diplomatis.

“Sejauh ini satu film televisi (FTV) dan serial horor, Mbak. Tergantung kebutuhan dari

pihak Layar Sebelah, saya siap untuk menulis genre apapun.”

“FTV dan horor? Judulnya apa? Pol skenario atau hanya sinopsis?”

“Ehm, satu skenario dan satu sinopsis mbak.”

Pentol seperti tidak siap menerima jawaban. Ia sedikit terbata menjawab. Mbak-mbak yang belum memperkenalkan nama tersebut, memandang wajah Pentol dengan terukur. Dari kening sampai dagu. Seolah kualitas penulis skenario dapat dilihat dari tampangnya.

“Oke, jadi begini. Saya dapat kontakmu dari Mas Jae. Kenal kan?” Pentol kembali

kebingungan.

“Saya kenalnya bang Nide mbak.”

“Oalah Nide. Iya, Jae dapet kontakmu dari Nide. Jadi gini mas, kenalin saya Okta. Layar

Sebelah lagi ada proyek untuk film layar lebar. Mas sudah sering bikin horor?”

“Sering sih nggak mbak Okta, tapi saya orangnya mau belajar dan terus terpacu

menghasilkan karya-karya terbaik unuk belantika film Indonesia.” Dengan sok gagah

Pentol menjawab.

“Oke, film horor terakhir apa yang kamu tonton? Terus kenapa kamu suka itu?”

“Lokal atau luar?”

“Terserah.”

“Saya suka film Rekah. Manifestasi horor yang begitu kuat lewat atmosfer dan

pembangunan karakter. Premis kuat dengan mengambil mitos kebudayan di Indonesia. Dicampur dengan realisme magis ala prosa latin, membuat Rekah begitu manis dalam mise en scène—”

“Oke, oke cukup. Kalau sutradara favorit?” Mbak Okta memotong.

“Tapi yang luar negeri belum Mbak?”

“Udah, udah. Nggak masalah.”

“Kalau untuk dalam negeri saya suka sama mas Girang Negeri. Karya-karyanya begitu

berisi dengan konten yang artistik dan kedalaman cerita. Ia sering kali mengangkat nuansa lokal diimbangi dengan kebudayaan populer. Mas Girang bisa mengimbangi antara estetika dan komersil. Antara film sebagai seni dan sebagai bisnis, lalu—”

“Oh oke, cukup. Cukup.”

Mbak Okta kembali memotong penjelasan Pentol. Kemudian ia menelpon atasannya. Produser yang dimaksud.

“Ayo ikut saya ke atas. Kita ketemu Pak Kapur.”

**

“Sebelum kita masuk ke konsep cerita, deal di awal dulu deh ya mas. Nanti udah sepakat, malah harganya yang nggak cocok lagi.” Ujarnya terkekeh.

Pentol kembali belum siap langsung ditembak harga. Ia berpura-pura memasang wajah sok tahu dan berpengalaman. Ia yakin bahwa harga ini langsung cocok dan kesempatan dia untuk menulis skenario layar lebar dapat terwujud.

“Empat, Pak Kapur.”

“Wah gila kamu. 40? Memang kau sebelumnya sudah pernah nulis layar lebar?”

“Empat juta Pak.”

Raut muka Pak Kapur langsung berubah. Pria keturunan India ini nampak menyunggingkan senyum. Kemenangan seperti berada di kubu Layar Sebelah. Pentol nampak merasa menyesal. Ia begitu lugu dan tidak mengetahui industri film seperti apa dan berapa upah yang layak untuk dibayarkan.

“Oke kalau begitu Pak. Jadi saya ada proyek film layar lebar. Bapak belum pernah nulis untuk layar lebar kan? ini kesempatan bapak untuk masuk ke industri. Kalau film ini meledak, yang untung jelas bapak. Bapak akan dicari ke mana-mana dan dapat banyak tawaran,” Pak Kapur tersenyum.

“Nah sekarang kita lihat cuplikan film ini dulu. Setelah itu saya jelaskan.”

Pak Kapur pun menjelaskan dengan rinci. Ia mengatakan akan membuat film horor berjudul Vila Berhantu. Pentol awalnya ragu, karena Pak Kapur menyomot alur di film yang telah ditonton sebelumnya untuk kepentingan film yang ia inisiasi. Tapi Pentol berpikir lebih jauh. Ia menganggap ini sebagai batu loncatan untuk karir menulisnya. Selama ini, sebagai mahasiswa prestasi menulisnya hanya sampai tingkat universitas. Label medioker erat dengannya. Maka ia terima lah film hantu yang aji mumpung itu.

“Bagaimana Pak? Sepakat? Saya tunggu 3 hari dari sekarang sudah jadi draf 1 ya?”

“Nggak kerangka dulu pak? Outline?”

“Wah saya maunya langsung skenario. Orang yang kerja sama dengan saya semua

langsung skenario. Saya nggak mau capek-capek dan buang-buang waktu banyak baca. Ya, you tau sendiri kan, I sibuknya kaya apa? pendanaan, pemasaran, pengawasan dan lain-lain. Yah, you tau lah kayak beginian.”

Keduanya pun bersalaman dan sepakat. Pentol keluar Layar Sebelah dengan perasaan berkecamuk. Senang karena mendapat kesempatan nulis film layar lebar, dan bingung karena masih belum tau birokrasi dan ritme kerja dari industri ini.

**

Saat mengendarai motor untuk sampai rumah, Pentol tersenyum-senyum sendiri. Ia kilas balik dengan pengalamannya saat ikut unit kegiatan mahasiswa (UKM) di bidang sinematografi. Dari mulai pertama kali ia menjadi boom man ketika produksi bersama seniornya di UKM, sampai menulis dan menyutradarai film pendek pertamanya sendiri. Meski prestasi terbaiknya di bidang audio visual hanya sampai tingkat nominasi di sebuah kompetisi film pendek, namun ia yakin dengan semua pelajaran itu.

Vila Berhantu sekali lagi baginya bisa menjadi batu loncatan untuk melangkah lebih jauh. Ia kesampingkan egonya ketika berhadapan dengan film festival art-house yang semua orang awam tidak mengerti. Ia singkirkan pandangan bahwa long shot dengan objek yang statis adalah manifestasi semiotik gambar yang luhur. Ia sekarang fokus pada permukaan saja: jam weker menandakan pagi hari, kokok ayam, matahari terbit, adegan berlari dengan latar musik kencang, dialog-dialog klise dan lain sebagainya. Pentol mulai mendalami itu semua. Hal yang sebenarnya ia jauhi saat bergiat di UKM-nya terdahulu.

Tiga hari telah berlalu. Beberapa kali ponsel Pentol berdering. Pak Kapur menagih janji yang sudah disepakati: Draf 1 Villa Berhantu. Namun, Pentol panik. Naskahnya belum selesai. Tinggal beberapa adegan untuk mencapai garis finis. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan Pentol, karena ketika mendapat mandat ia langsung mengejar hal yang tidak ia ketahui secara mendalam. Ia riset tentang berbagai formula film horor. Jump scare yang tidak kacangan. Membangun atmosfer ketakutan dengan logika. Semua ia bangun dengan presisi. Ia tidak mau namanya buruk di kalangan kritikus ketika lagi-lagi film horor yang keluar berbau seks dan cacat logika. Namun, hal tersebut malah menyita waktunya. Ia riset selama seharian penuh, dan dua hari ia kebut untuk adegan serta dialog.

“Pentol! Kau jangan malu-maluin saya! Sudah benar namamu saya rekomendasikan.

Kredibilitas saya yang hancur, bukannya kau!”

Pentol pun menjelaskan dengan panjang lebar ke bang Nide lewat telepon. Bang Nide adalah guru teater dan filmnya ketika masa SMA. Ia mengatakan tidak bisa mengatur ritme kerja ketika ditawarkan nulis layar lebar namun hanya dengan 3 hari harus sudah selesai. Mendengar 3 hari tenggatnya, bang Nide pelan-pelan mulai memahami masalahnya.

“Ya, harusnya kau kabarkan ke Pak Kapur dong kalau belum selesai. Jangan hilang

ditelan bumi begini. Kan yang kena semprot saya juga.”

“Iya bang. Saya takut kalau bilang belum selesai nanti saya dicoret dari proyek ini. Masalahnya saya belum tekan kontrak.”

“Memangnya kau pasang tarifmu berapa—3 hari bisa selesai?”

“4 juta bang.”

“Tolol kau Tol! Masak bikin layar lebar dihargain 4 juta. Merendahkan penulis skenario

itu namanya. Merendahkan saya juga. Layar lebar tuh minimal 10 juta.”

Pentol makin tersudut ketika mengetahui fakta langsung dari praktisi. Ia arahkan kursor untuk menyimpan hasil ketikannya selama 3 hari belakangan. 3 hari yang membuatnya tak beranjak dari manapun kecuali kamar mandi dan dapur.

“Oke begini deh. Sebenernya keterlaluan juga 3 hari jadi draf 1. Tidak ada itu di industri.

Minimal skenario layar lebar itu 2 bulan. Revisi sana-sini. Itu pun kalau kita ngomongin kualitas. Nah sekarang coba kita kerjain bareng-bareng. Kau besok ke rumahku, deh ya.”

**

Untuk pertama kalinya Pentol bertemu dan berbincang lama dengan seorang produser film. Hal yang awalnya sering ia bayangkan, namun tidak secepat ini. Tidak secepat ini menerima kenyataan pahit bahwa skenario yang ditulisnya dengan susah payah belum ada kabar sampai setengah tahun lebih. Setelah bang Nide dan Pentol sepakat untuk menawarkan harga 20 juta kepada Pak Kapur, maka dari itu pula Pentol belum mendapat kabar lanjutan dari bang Nide dan Pak Kapur.

Ia menyadari bahwa batas antara reel life dan real life itu memang begitu tipis. Setipis harapannya saat ini yang terbentur dengan realita. Dari kejadian tersebut Pentoel jadi teringat salah satu cerpen yang ia pernah baca saat awal kuliah. Cerpen tersebut berjudul What is Really Good Picture for Me karya Misbach Yusa Biran. Sambil telentang di atas kasur, Pentol membaca kalimat akhir cerpen tersebut, begini bunyinya: Mereka menuntut betul adanya film Indonesia yang bermutu, masa tidak mau sedikit mempertaruhkan uangnya demi kemajuan seni film Indonesia? Siapa tahu!

*) Galeh Pramudianto, bekerja sebagai tenaga pendidik dan mengelola media Penakota.id bersama handai tolannya. Naskah teaternya Poligon masuk nominasi Rawayan Awards 2017 (DKJ) Karya-karyanya telah dimuat di media lokal dan nasional. Beberapa cerpennya termaktub di antologi bersama Kelas Melamun (2017). Buku puisi perdananya Skenario Menyusun Antena (IBC, 2015).

Continue Reading

Classic Prose

Trending