Connect with us

Puisi

Afrizal Malna: sebuah jantung Jakarta di Batavia

mm

Published

on

ceritakan pada seseorang yang sudah 60 tahun, tentang kota dan generasi yang hilang”. membayangkan gambaran ruang tentang kiri, kanan, atas, bawah, dan kuasa kata melibas masuk ke dalam arah mata angin. seseorang seperti sebuah gang pada ujungnya yang buntu.

sebuah jantung Jakarta di Batavia

Afrizal Malna (lahir di Jakarta, 7 Juni 1957; umur 62 tahun) adalah sastrawan berkebangsaan Indonesia. Namanya dikenal secara luas melalui karya-karyanya berupa puisi, cerita pendek, novel, esai sastra yang dipublikasikan di berbagai media massa. Afrizal juga menulis teks pertunjukan teater yang dipentaskan di berbagai panggung pertunjukan di Indonesia dan mancanegara. Kekhasan karya Afrizal Malna adalah lebih mengangkat tema dunia modern dan kehidupan urban, serta objek material dari lingkungan tersebut. Korespondensi antarobjek itulah yang menciptakan gaya puitiknya.

jantung itu terbuat dari sebuah pasar. lampu patromak dimana-mana. malam dan bekas hujan. “diobral, diobral, buku bekas, kaos oblong, sandal jepit. diobral. kerudung, kutang, celana dalam diobral. gunting kuku, jarum, benang, peniti, siapa mau beli.” –> kota adalah peta terakhir untuk melupakan dari mana asalmu.

pemberontakan teater modern bung muscar dari buku bekas. ajip rosidi teriak-teriak di atas sepeda berlari kencang: “misbach-misbach, puisimu dimuat di majalah siasat.” muslim thaher mendirikan akademi akutansi dari teater bekas. 1967. iwan simatupang petantang-petenteng mau bikin film penyakit kita semua, dan batal. kangkung, bayem …. jengkol, pete. senimanseniman senen sudah biasa membatalkan hari senin di hari minggu. “ada buku death of salesman arthur miller di toko buku loak nasution.”

es sirop, kepala ikan, dendeng kering di restoran padang. telur asin, tempe goreng, kacang buncis di warung sunda. kue putu, pedagang kopi, kacang rebus. malam berbau bedak tebal, aspirin dan pinisilin. pengemis dan sisa-sisa kaki buntung bekas kusta. tukang pijat dengan mata bolong, bunyi kaleng berisi batu menyusuri lorong-lorong malam. bang pi’i dan anak buahnya dari gembong cobra. udara panas dari lampu patromak, garis sebuah perampokan mimpi-mimpi liar. (barclays bank, 1967 itu, mulai membuat mesin teller otomatis pertama di london utara). gubernur ali sadikin sedang mengubah kota. 29 % anggaran kota dipungut dari perjudian. pembangunan, efisiensi, mulai mengubah poster-poster “bapak revolusi”. film nasional mulai meleleh di bawah film-film india.

(seorang anak masuk ke dalam kelambu tidurnya. dia membayangkan di atap kelambu itulah tuhan tinggal). jakarta diriset, disurvei, ditabulasi dalam tabung-tabung populasi menjelang 4 juta penduduk kota.

ibu-ibu mulai berhadapan dengan spiral untuk keluarga berencana, menjaga vagina mereka dari benda-benda asing. setiap aku mulai terkurung dalam kartu keluarga. belok kiri dari bioskop rex ada jalan melati. modernisasi kemudian menggusur dan menghancurkan sang legenda. 

proyek senen, pusat pertokoan modern waktu itu, mulai dibangun. ketika hujan turun, kolamkolam betonnya berubah jadi kolam renang. anakanak kampung berenang-renang dalam kolam itu. berita anak hilang mulai sering terdengar. kepalanya dijadikan tumbal untuk bangunan bertingkat, katanya. hantu dan ketakutan yang aneh mulai ikut dibangun bersama semen dan besi-besi beton. gedung sarinah dipenuhi pengunjung (bukan untuk belanja). tapi untuk mencoba eskalator pertama di kota. naik dan turun di atas tangga berjalan tanpa berjalan.

(seorang anak masuk ke dalam daster tidur ibunya, bermain kelereng di dalamnya. bau ibunya yang tersimpan dalam daster, menyusun lagi dirinya sebagai seorang daging mentah. dia merasa mulai bisa bernapas bersama semua mahluk yang tertanam dalam tubuhnya. sejak itu dia tidak mau keluar lagi dari dalam daster ibunya. sebuah peta terakhir, untuk berhenti memandang dirinya sebagai seseorang).

pasar terus bergerak dan menciptakan dirinya sendiri dari kapal barang, kereta api, truk, oplet dan becak. misbach yusa biran mementaskan teater 30 menit menjelang neraka.

seorang anak, yang selamanya berusia 10 tahun, membawa jantung sebuah kota, masuk ke proyek senen. membeli sebuah kelambu dan daster. menatap simpang-siur lalu-lintas masakini, jalan raya yang telah bertingkat di senen. berusaha membangun kembali masa kanak-kanaknya di atas restoran ayahnya yang telah jadi jalan raya: rumah makan setia. piring keluarganya pecah di bawah runtuhan tembok kota. anak-anak yang jadi orang asing di kota tempatnya lahir.

dia meletakkan jantung itu dalam sebuah puisi, yang dirancang untuk semua yang telah hilang.

meteran 2/3 jakarta

jakarta telah pergi dengan sebuah becak      pagi itu. jadi nama sebuah hari dalam seminggu .

hari itu. tahun 1957 dalam bilangan 2/3. sebuah hari.

sesuatu hari. seorang hari.

melihat seorang pagi berjalan, datang, dengan sisa mimpi dari kipas angin bekas. melangkah dari atas dan bawah. menyebar sebelum ke kiri. mengetuk pintu sebelum pemadam kebakaran memadamkan kata api. punggung siapa terlihat dari belakang? kota itu, Jakarta, membawaku ke mana-mana di tempat yang sama. kadang seperti sungai. kadang seperti banjir. kerumunan angka yang terus berubah dalam batasnya.

kail mengenakan sungai sebagai topengnya, antara makanan dan kematian: riak dan mulut ikan mujair menghirup oksigen, lipatan air dan suara setelah kail menyeret mulutnya. sebuah kampung dengan gang-gang sempit, menawarkan belok dan buntu dalam jual-beli impian. seseorang dengan suara dalam bau kretek, berusaha menjemur bayangan ibunya.

“ceritakan pada seseorang yang sudah 60 tahun, tentang kota dan generasi yang hilang”. membayangkan gambaran ruang tentang kiri, kanan, atas, bawah, dan kuasa kata melibas masuk ke dalam arah mata angin. seseorang seperti sebuah gang pada ujungnya yang buntu.

tanah tinggi planet senen kwitang kali angke dan kisah tentang mat item

nama-nama itu goyang di atas jalan becek berlubang:

matraman paseban cikini kramat tunggak dan buaya terakhir di kali ciliwung

sebelum 100 tahun mobil dan kereta melayanglayang di atas kota.

saya membangun instalasi puisi ini seperti membongkar bangunan bahasa dengan meteran tentang lupa. membungkus kata, memasukkannya ke dalam mikrobiologi neurotik. mulai menulis antara tata kota dan populasi penduduk. gunting masih tersimpan dalam potongannya. titik yang tersesat dalam penggaris bahasa. dan kau tahu, tak seorang pun bisa mengubah arah mata angin di luar penggaris itu; atau kata potong yang berusaha melupakan gunting.

belok  –   lurus  –  balik  –  terus  –   berhenti atau 0,2 % mentok

saya menulisnya dari kenangan yang telah kehilangan termometer dan meterannya. kota yang menghabiskan 2/3 hutang negara. seluruh daerah menatapnya dengan mata hitam. hitam. desa-desa bangkrut. akulah bayi yang lahir sebagai mayat dalam novel muchtar lubis, jakarta dalam senja 1957. kabinet yang goyah dalam jaringan korupsi, menjadi serangga buas dalam makna. seperti kafka dalam metamorfosis seorang pegawai asuransi ——  siapakah koma, siapakah titik, siapakah semua yang diberi tanda dan menghapusnya

            “   ,   .   ?   /  !   ()

tuan-tuan telah hilang ke dalam rekening bank dan saham-saham. sebuah surat warisan di antara jaringan distribusi barang-barang impor. sebuah puisi berusaha menyimpan suara jangrik dalam museum tentang kebersihan kota, dan melupakan cara-cara bagaimana karya sastra ditulis.

*) AFRIZAL MALNA, 2019.

Afrizal Malna (lahir di Jakarta, 7 Juni 1957; umur 62 tahun) adalah sastrawan berkebangsaan Indonesia. Namanya dikenal secara luas melalui karya-karyanya berupa puisi, cerita pendek, novel, esai sastra yang dipublikasikan di berbagai media massa. Afrizal juga menulis teks pertunjukan teater yang dipentaskan di berbagai panggung pertunjukan di Indonesia dan mancanegara. Kekhasan karya Afrizal Malna adalah lebih mengangkat tema dunia modern dan kehidupan urban, serta objek material dari lingkungan tersebut. Korespondensi antarobjek itulah yang menciptakan gaya puitiknya.

Continue Reading
Advertisement

Puisi

Sajak Sajak Angga Wijaya

mm

Published

on


Lidah Dimana-mana


Langit sampaikan pesan, seakan berkata
“Aku meniup nyawa, menumbuhkan lidah

di tubuh, bukan semata hanya percuma.

Lidah untuk berkata yang baik, bukan untuk

bergunjing, bak cerita sinetron menjelma

racun pagi hingga malam hari”

Namun terjadi sebaliknya; dimana-mana,

orang kerap gunakan lidah untuk hal buruk.

Gemar bicara tak benar, kaum munafik di

kitab suci yang hanya jadi sesembahan.

Jangan terlalu berharap pada gerombolan,

mereka membunuh kita dengan kata pedas. 

Mata yang berbinar seiring percakapan yang

makin panas. Seperti dalam film, kumpulan

makhluk malas tak berguna. Ada yang

kurang jika tak membicarakan orang lain.

Seakan mereka paling utama dan sempurna

Kuman di seberang lautan tampak begitu jelas

Lidah menjulur dari segala tempat; layar ponsel

pintar, pintu, jendela bahkan dari lubang kemaluan

manusia itu. Hingga pada suatu waktu, di alam

setelah kematian, lidah mereka terbagi menjadi

potongan kecil, tumbuh di sekujur tubuh yang

terpanggang api abadi neraka. Cerita itu

kudengar berkali-kali beberapa hari ini.


2020

Penyair Melihat Hujan


Dari kamar lantai dua kontrakan, penyair itu melihat hujan

Suara air jatuh di atap rumah sebelah yang baru dibangun

Ia kehilangan langit tempat awan berarak, sumber inspirasi

ketika ia menulis puisi. Kini di depannya hanya hamparan

tembok. Tapi tak apa, semua akan menjadi biasa oleh hal itu

Hujan ternyata tak lama, hanya mampir sebentar basahi malam

yang amat gerah.Istrinya tertidur pulas, setelah seharian  bekerja

di toko bangunan sebagai tenaga administrasi. Kucing tak tampak

di kamar, mereka beranjak setelah mendapat makanan.Pergi malam

hari dan kembali di pagi hari sesuka hati bagai raja di istana.

Penyair itu belum juga tertidur, ia bahagia kini bisa bekerja lagi.

Kemarin kawan di ibu kota menelponnya, ia ditawari menjadi

Wartawan budaya. Istri juga ikut senang, setidaknya

bebannya berkurang karena kini ada pemasukan baru

Tak risau ketika melihat saldo tabungan terus berkurang

Terlalu bahagia juga tak baik, sebab itu bisa membuat senyawa

dalam otak tak seimbang. Penyair itu ingin meminum obat tidur,

tapi ia menundanya. Biarlah malam ini ia merayakan kebahagiaan

dengan duduk di beranda memandangi sisa hujan dan udara dingin

Ia bersyukur telah diberi ruang untuk menjadi dirinya. Sudah enam

buku ia tulis dalam dua tahun ini. Tak pernah terpikir sebelumnya,

kini ia menjadi penulis. Mencintai hidup dengan segala upaya,

seperti hujan selalu tepat janji, datang saat amat dirindukan.

2020

Beranda Rumah Sakit Jiwa


Bisa keluar ruangan bangsal begitu

membahagiakan. Bagai raja sehari,

duduk menonton berita di televisi.

Tapi hati-hati, benda itu bisa bicara
Bercakap-cakap dengan kegilaan
Mengajakmu berbincang berdua

Pengatur saluran terus kau ganti
Perawat tersenyum lalu melarang
Mengajakmu kembali ke bangsal

“Coba ramal saya, kamu indigo?
kudengar kabar tentang dirimu
akhir-akhir ini saya sering lelah”

Aku menjawab dengan tuntas
Di matanya kulihat rasa cemas
Kebosanan jelang menopause

Kami berpisah saat senja tiba
Berbisik ia pada teman sejawat
Tepat saat pintu terali dibuka

“Skizofrenia Paranoid. Kasihan.
Kudengar ia mahasiswa pintar,
ditinggal kekasih amat dicinta”

Aku tersenyum mendengarnya
Batas kewarasan sangat tipis
Tak ada cermin untuk berkaca



2020

Belajar Bercinta

Sepasang anak muda itu hidup bersama. Berbagi banyak hal;

cinta, uang, air mata. Pelaminan selalu dinanti, tapi apa daya

kantong lebih sering kosong. Biaya hidup mesti dipenuhi;

kontrakan, listrik, air, pulsa juga kuota internet untuk bekerja

dan hiburan pelepas lelah selepas rutinitas.

Jangan kalian pikir ini hanya soal asmara atau hubungan ranjang.

Mereka telah lama beranjak dari hal itu. Cinta tak hanya seks,

ia lebih agung dari naluri rendah ini. Bisa jadi, mereka telah lama

belajar bercinta. Tahun-tahun awal kamar menjadi saksi percintaan

di ujung senja yang muram.

Pertengkaran beberapa kali menghiasi hari dalam babak hidup

membara,waktu demi waktu. Ada saatnya mereka bersedih

kehilangan seekor kucing, ada kala tawa penuhi ruang hati tak

sepi oleh kesunyian. Cinta menjadi dasar  rumah jiwa yang

merdeka. Aku adalah saksi apa yang mereka alami.


2020

___

I Ketut Angga Wijaya, lahir di Negara, Bali, 14 Februari 1984. Belajar menulis puisi sejak SMA saat bergabung di Komunitas Kertas Budaya asuhan penyair Nanoq da Kansas. Buku kumpulan puisi terbarunya, Tidur di Hari Minggu (2020). Selain penulis,sehari-hari ia bekerja sebagai wartawan di Denpasar.

.

Continue Reading

COFFEESOPHIA

Tak Ada Sajak di Kafe-Kafe

mm

Published

on

I

Samsara Duka
(Aug, 2020)
by Sabiq Carebesth

ISBN 978-623-93949-0-5
____
Puisi Sabiq Carebesth dalam buku ini menggunakan banyak kata yang berfungsi menebar berbagai asosiasi.Sebuah pilihan atas bahasa yang bertenaga, banjir dan muncrat—Samsara dan duka dalam kumpulan Sabiq merupakan dua korpus yang berfungsi sebagai baling-baling yang menggerakkan narasi maupun sebagai jangkar; duka dilihat sebagai premis dalam melakukan perifikasi—dan lingkaran Samsara bekerja sebagai semacam makrifat, ngelakoni, jalan penderitaan: lingkaran lumernya batas sensualitas, erotisme, seksualitas dan spritualitas di mana pelacakan atas identitas yang tak lengkap itu dilakukan.
-Afrizal Malna, Penyair.
__
Buku ini bisa dipesan via kontak whatsapp 082111450777 atau tokopedia bookcoffeeandmore
Rp. 100.000

Aku tak menulis sajak untuk pembaca

Mereka mudah murka dan kecewa

Sajak-sajakku bukan pelipur lara

Aku menulis sajak untuk angin

Mereka hening dan luas.

Di sana

Sajak-sajakku bisa rebah istirah

Sebab kerap

Ia lelah menempuh jalan panjang

Melewati tiap hampa dan sia-sia;

Ia rapuh dan lambat

Tapi senantiasa mencari puncak;

Di sana hanya hening

Di sana hanya kekosongan;

Selalu hanya sejenak

Tapi sajakku memahami

Terjalnya jalan kembali ke mula

Ingatan dari mana ia lahir

Merepih jalan memuncak.

II

Aku pernah mengira sajakku terbuat dari waktu

Mengira tersusun dari sore yang menderita

Dengan bunyi senja yang beringsut pada gelap

Dangan tatakan dari kayu di mana jiwa dibelah;

Sementara kuncup bunga tetap mekar tak iba—

pada sajakku.

Tapi sajakku tak dibuat untuk pembaca

Sajakku memang bukan sajak

Ia hanya sajak—memenuhi takdirnya

Untuk memapah jiwa-jiwa

Keluar dari sekam hampa

Agar senantiasa berdetak

Meski dengan suara jauh

Meski dengan kebisuan serigala

Serupa kepak rajawali di pucuk langit

Atau suara kesunyian tempat ibadah

Yang ditinggalkan hasrat para penyembah

Karena kematian yang tak memberi aba

III

Sajakku

Sajak-sajak rapuh

Yang tak sanggup bertahan

Untuk sampai pada pembacanya

Ia lahir lalu mendaki

Kembali pada sepi sebelum sempat

Duduk di antara pengunjung kafe

Yang tak pernah sempat menuntaskan

Menulis sajak tentang sajak-sajak

Tapi kini tak ada sajak di kafe-kafe

Sebab di luar hujan membadai

Orang-orang berlindung dalam kaca

Senantiasa sia-sia dan mengulanginya

Mereka membayar gairah

Dengan cinta yang ditambatkan sejenak

dan terburu;

Tak sempat bercumbu

Sibuk mengulur waktu

Seolah waktu segera habis

Dan kebisuan pun tak sempat memakna

IV

Aku menulis sajakku di kafe

Tapi sajakku bukan sajak

Sajakku tidak ditulis

Untuk dibaca para pembaca

Aku menulis sajak di kafe

Tapi tak ada sajak di kafe-kafe

Dan kau menunggu akhir sajakku?

Aku tidak menulis sajak untukmu

Aku telah menghapus dendam sukmaku

Sebelum sempat menjadi sajak

Maka sajakku tak punya kekuatan

Untuk meledak dan menulis sejarah

Waktu selalu lekas

Tapi sajak-sajak tidak

Sebab ia kedinginan

Seperti rumah yang ditinggalkan

Seperti pendaki di ujung petang

Ia hanya ingin istirah

Atau pohon-pohon kepurbaan akan menelannya

Hilang dalam gerbang sepi

Membeku bersama dingin

yang tak mungkin dipahaminya.

V

Kenapa sajak-sajak harus ditulis untuk pembaca?

Sajakku tak kutulis untuk pembaca!

Aku tak ingin sajakku dibaca

Sajakku bukan sajak

Aku ingin sajakku dibentangkan

Dalam sukma sehingga jiwamu membahana

Atau biarkan sajakku

Menjadi lumut pepohonan

Yang mewarnai jiwa

Menjadi selimut bagi tubuh waktu

Dan ketika para serigala menjadi sepi

Sajakku menjulang mengabarkan nyanyian

Agar sang rajawali kembali

Menemui kekasihnya yang tersesat

Di antara belantara kesepian

Di antara pepohonan purba

Dan para pendaki masih mencari

Nyanyian bagi jiwanya yang duka

Maka kutulis sajakku

Untuk menjadi kabut

Selimut bagi jiwa yang beku

Agar penantiannya menumbuhkan dedaunan rindu

Yang berguguran di hutan-hutan waktu

Menjadi api bagi peziarah puncak

Dengannya kehangatan menyerta

Peziarah tiba di puncaknya

Dan sajakku merayakan kenangannya

Sendirian..

VI

Sementara di kafe aku memesan kopi

Sambil melihat matahari berwarna putih

Aku tak juga mendapati sajak-sajak

Tak mendapati dedaunan dan peziarah

Tidak serigala kedinginan

Tidak juga rajawali yang kesepian

Kekasihku pun tak ada

Aku mencari sajak-sajakku

Tak ada yang membacakannya

Di kafe hanya pendusta

Yang membual tentang mimpi

Menebus hasrat dengan cinta

Yang sebentar dan tak berbalas

Masing-masing menjauh dari jiwanya

Kehilangan sajak-sajak milik jiwanya

Dan sajakku tak kunjung berhenti

Bernyayi ria dalam tarian kalbuku

Ia ingin berkisah tapi aku mulai lelah

VII

Aku harus pulang

Membawakan sisa sajakku

Anak gadisku telah menunggu

Di ranjang dengan ribuan malaikat

Menantiku membacakan sajak-sajakku

Di rumah kubacakan sajakku

Untuknya entah ratusan malaikat:

“Tak ada sajak di kafe-kafe

Pergilah pada jauh

Mendakilah pada hasrat

Sebab cinta membawa para ksatria

Pergi berperang sebagai martir

Untuk menaklukkan kesepiannya sendiri

Maka jadikan tanganmu perisai

Dan hatimu martir.”

___

Sabiq Carebesth, 2019

Continue Reading

Puisi

Samsara Duka

mm

Published

on

Samsara Duka
(Aug, 2020)
by Sabiq Carebesth

Sebuah pilihan atas bahasa yang bertenaga, banjir dan muncrat–ekspresionis. Samsara dan duka dalam kumpulan Sabiq merupakan dua korpus yang berfungsi sebagai baling-baling yang menggerakkan narasi maupun sebagai jangkar; duka dilihat sebagai premis dalam melakukan perifikasi— dan lingkaran Samsara bekerja sebagai semacam makrifat, ngelakoni, jalan penderitaan: lingkaran lumernya batas sensualitas, erotisme, seksualitas dan spritualitas di mana pelacakan atas identitas yang tak lengkap itu dilakukan.
____
Afrizal Malna, dalam pengantar untuk buku Samsara Duka

Kirab malam dengan panji-panji hitam di malam larut; hujan dengan lolongan serigala berusia berabad yang terkutuk oleh nasibnya sendiri—sebagai penjaga gerbang sunyi antara malam dan larut; onggokan jiwanya telah melihat cahaya dan mentari terindah yang tak mungkin lagi jadi bagiannya. Ia telah tahu ke mana kembara—hanya berujung laut mati bagi matanya: ia telah tahu kemana kelana hanya memperpanjang usia dukanya—tetapi tinggal tiada siapa datang—tidak duka tidak cintanya yang lalu, waktu telah memasungnya sebagai tugu kesunyian di kota dengan lampu-lampu warna rembulan atau di antara dinding-dinding kafe dan galak tawa muram dari jiwa-jiwa yang diburu ingatan pada luka dan kepalsuan . O hendak bagaimana ia tuju lautan dalam jiwanya? Embun dan kabut, terik dan sunyi tak menjelmakan apa-apa; sungai-sungai kering, danau-danau bisu, dan gunung-gunung hanya lintasan beku—sedang malam penuh rembulan; dan tak satu lagu pun dapat dikenang. Jiwanya akan mati sebagai penjaga malam dengan lolongan timur dan barat yang gemanya menari-narikan angin, dan pohon-pohon purba sama birunya dengan lumut-lumut waktu yang tak lagi bisa ditakar; seperti usia kerinduan yang telah jadi abadi dalam kefanaan saban hari; begitulah akhir cerita semua cinta sejati; membenam dalam kepurbaan, menjadi langit dan gemintang; menjadi perjalanan dan duka cinta, genangan kenangan tentang ranum bibir belia, atau pipi merah jambu yang terbakar terik mentari pertama di laut timur, atau payudara yang bercahaya; atau botol-botol bir di redup hotel-hotel, jendela kereta yang membekukan gerak dan batin, tempat-tempat dan kesunyian yang tak sempat dikunjungi atau apa saja dalam segala rupa samsara—yang tak mungkin dimiliki kecuali dukanya; atau segala rupa panji-panji hitam waktu yang tak mungkin diulang kembali; sebagai gelak tawa atau percumbuan penuh duka—yang mengantar pecinta ke puncak kekosongan. (*)

Jakarta, 28 April 2020

Sabiq Carebesth

___

*) Buku sajak ini akan diterbitan Galeri Buku Jakarta pada pekan ke 4 Agustus 2020. Untuk info pemesanan silakan kontak whatsapp +62 813-1684-2110 (Book Coffee and More )

Continue Reading

Trending