Connect with us

Puisi

Afrizal Malna: sebuah jantung Jakarta di Batavia

mm

Published

on

ceritakan pada seseorang yang sudah 60 tahun, tentang kota dan generasi yang hilang”. membayangkan gambaran ruang tentang kiri, kanan, atas, bawah, dan kuasa kata melibas masuk ke dalam arah mata angin. seseorang seperti sebuah gang pada ujungnya yang buntu.

sebuah jantung Jakarta di Batavia

Afrizal Malna (lahir di Jakarta, 7 Juni 1957; umur 62 tahun) adalah sastrawan berkebangsaan Indonesia. Namanya dikenal secara luas melalui karya-karyanya berupa puisi, cerita pendek, novel, esai sastra yang dipublikasikan di berbagai media massa. Afrizal juga menulis teks pertunjukan teater yang dipentaskan di berbagai panggung pertunjukan di Indonesia dan mancanegara. Kekhasan karya Afrizal Malna adalah lebih mengangkat tema dunia modern dan kehidupan urban, serta objek material dari lingkungan tersebut. Korespondensi antarobjek itulah yang menciptakan gaya puitiknya.

jantung itu terbuat dari sebuah pasar. lampu patromak dimana-mana. malam dan bekas hujan. “diobral, diobral, buku bekas, kaos oblong, sandal jepit. diobral. kerudung, kutang, celana dalam diobral. gunting kuku, jarum, benang, peniti, siapa mau beli.” –> kota adalah peta terakhir untuk melupakan dari mana asalmu.

pemberontakan teater modern bung muscar dari buku bekas. ajip rosidi teriak-teriak di atas sepeda berlari kencang: “misbach-misbach, puisimu dimuat di majalah siasat.” muslim thaher mendirikan akademi akutansi dari teater bekas. 1967. iwan simatupang petantang-petenteng mau bikin film penyakit kita semua, dan batal. kangkung, bayem …. jengkol, pete. senimanseniman senen sudah biasa membatalkan hari senin di hari minggu. “ada buku death of salesman arthur miller di toko buku loak nasution.”

es sirop, kepala ikan, dendeng kering di restoran padang. telur asin, tempe goreng, kacang buncis di warung sunda. kue putu, pedagang kopi, kacang rebus. malam berbau bedak tebal, aspirin dan pinisilin. pengemis dan sisa-sisa kaki buntung bekas kusta. tukang pijat dengan mata bolong, bunyi kaleng berisi batu menyusuri lorong-lorong malam. bang pi’i dan anak buahnya dari gembong cobra. udara panas dari lampu patromak, garis sebuah perampokan mimpi-mimpi liar. (barclays bank, 1967 itu, mulai membuat mesin teller otomatis pertama di london utara). gubernur ali sadikin sedang mengubah kota. 29 % anggaran kota dipungut dari perjudian. pembangunan, efisiensi, mulai mengubah poster-poster “bapak revolusi”. film nasional mulai meleleh di bawah film-film india.

(seorang anak masuk ke dalam kelambu tidurnya. dia membayangkan di atap kelambu itulah tuhan tinggal). jakarta diriset, disurvei, ditabulasi dalam tabung-tabung populasi menjelang 4 juta penduduk kota.

ibu-ibu mulai berhadapan dengan spiral untuk keluarga berencana, menjaga vagina mereka dari benda-benda asing. setiap aku mulai terkurung dalam kartu keluarga. belok kiri dari bioskop rex ada jalan melati. modernisasi kemudian menggusur dan menghancurkan sang legenda. 

proyek senen, pusat pertokoan modern waktu itu, mulai dibangun. ketika hujan turun, kolamkolam betonnya berubah jadi kolam renang. anakanak kampung berenang-renang dalam kolam itu. berita anak hilang mulai sering terdengar. kepalanya dijadikan tumbal untuk bangunan bertingkat, katanya. hantu dan ketakutan yang aneh mulai ikut dibangun bersama semen dan besi-besi beton. gedung sarinah dipenuhi pengunjung (bukan untuk belanja). tapi untuk mencoba eskalator pertama di kota. naik dan turun di atas tangga berjalan tanpa berjalan.

(seorang anak masuk ke dalam daster tidur ibunya, bermain kelereng di dalamnya. bau ibunya yang tersimpan dalam daster, menyusun lagi dirinya sebagai seorang daging mentah. dia merasa mulai bisa bernapas bersama semua mahluk yang tertanam dalam tubuhnya. sejak itu dia tidak mau keluar lagi dari dalam daster ibunya. sebuah peta terakhir, untuk berhenti memandang dirinya sebagai seseorang).

pasar terus bergerak dan menciptakan dirinya sendiri dari kapal barang, kereta api, truk, oplet dan becak. misbach yusa biran mementaskan teater 30 menit menjelang neraka.

seorang anak, yang selamanya berusia 10 tahun, membawa jantung sebuah kota, masuk ke proyek senen. membeli sebuah kelambu dan daster. menatap simpang-siur lalu-lintas masakini, jalan raya yang telah bertingkat di senen. berusaha membangun kembali masa kanak-kanaknya di atas restoran ayahnya yang telah jadi jalan raya: rumah makan setia. piring keluarganya pecah di bawah runtuhan tembok kota. anak-anak yang jadi orang asing di kota tempatnya lahir.

dia meletakkan jantung itu dalam sebuah puisi, yang dirancang untuk semua yang telah hilang.

meteran 2/3 jakarta

jakarta telah pergi dengan sebuah becak      pagi itu. jadi nama sebuah hari dalam seminggu .

hari itu. tahun 1957 dalam bilangan 2/3. sebuah hari.

sesuatu hari. seorang hari.

melihat seorang pagi berjalan, datang, dengan sisa mimpi dari kipas angin bekas. melangkah dari atas dan bawah. menyebar sebelum ke kiri. mengetuk pintu sebelum pemadam kebakaran memadamkan kata api. punggung siapa terlihat dari belakang? kota itu, Jakarta, membawaku ke mana-mana di tempat yang sama. kadang seperti sungai. kadang seperti banjir. kerumunan angka yang terus berubah dalam batasnya.

kail mengenakan sungai sebagai topengnya, antara makanan dan kematian: riak dan mulut ikan mujair menghirup oksigen, lipatan air dan suara setelah kail menyeret mulutnya. sebuah kampung dengan gang-gang sempit, menawarkan belok dan buntu dalam jual-beli impian. seseorang dengan suara dalam bau kretek, berusaha menjemur bayangan ibunya.

“ceritakan pada seseorang yang sudah 60 tahun, tentang kota dan generasi yang hilang”. membayangkan gambaran ruang tentang kiri, kanan, atas, bawah, dan kuasa kata melibas masuk ke dalam arah mata angin. seseorang seperti sebuah gang pada ujungnya yang buntu.

tanah tinggi planet senen kwitang kali angke dan kisah tentang mat item

nama-nama itu goyang di atas jalan becek berlubang:

matraman paseban cikini kramat tunggak dan buaya terakhir di kali ciliwung

sebelum 100 tahun mobil dan kereta melayanglayang di atas kota.

saya membangun instalasi puisi ini seperti membongkar bangunan bahasa dengan meteran tentang lupa. membungkus kata, memasukkannya ke dalam mikrobiologi neurotik. mulai menulis antara tata kota dan populasi penduduk. gunting masih tersimpan dalam potongannya. titik yang tersesat dalam penggaris bahasa. dan kau tahu, tak seorang pun bisa mengubah arah mata angin di luar penggaris itu; atau kata potong yang berusaha melupakan gunting.

belok  –   lurus  –  balik  –  terus  –   berhenti atau 0,2 % mentok

saya menulisnya dari kenangan yang telah kehilangan termometer dan meterannya. kota yang menghabiskan 2/3 hutang negara. seluruh daerah menatapnya dengan mata hitam. hitam. desa-desa bangkrut. akulah bayi yang lahir sebagai mayat dalam novel muchtar lubis, jakarta dalam senja 1957. kabinet yang goyah dalam jaringan korupsi, menjadi serangga buas dalam makna. seperti kafka dalam metamorfosis seorang pegawai asuransi ——  siapakah koma, siapakah titik, siapakah semua yang diberi tanda dan menghapusnya

            “   ,   .   ?   /  !   ()

tuan-tuan telah hilang ke dalam rekening bank dan saham-saham. sebuah surat warisan di antara jaringan distribusi barang-barang impor. sebuah puisi berusaha menyimpan suara jangrik dalam museum tentang kebersihan kota, dan melupakan cara-cara bagaimana karya sastra ditulis.

*) AFRIZAL MALNA, 2019.

Afrizal Malna (lahir di Jakarta, 7 Juni 1957; umur 62 tahun) adalah sastrawan berkebangsaan Indonesia. Namanya dikenal secara luas melalui karya-karyanya berupa puisi, cerita pendek, novel, esai sastra yang dipublikasikan di berbagai media massa. Afrizal juga menulis teks pertunjukan teater yang dipentaskan di berbagai panggung pertunjukan di Indonesia dan mancanegara. Kekhasan karya Afrizal Malna adalah lebih mengangkat tema dunia modern dan kehidupan urban, serta objek material dari lingkungan tersebut. Korespondensi antarobjek itulah yang menciptakan gaya puitiknya.

Continue Reading
Advertisement

Puisi

Cerita Pedagang Buku

mm

Published

on

Dia telah memimimpikannya begitu lama sejak ia tahu kata-kata telah membuat kekasihnya jatuh cinta; tidak ada impian lainnya, ia hanya ingin berkisah tentang hari-harinya bersama kata-kata—di sanalah dunia sungguh-sungguh nyata, dengan kemurnian yang entah di mana orang-orang dalam kata-kata menjelmakan dirinya yang asli sekalian sunyi; berkisah tentang diri mereka sendiri yang mengurung diri di kamar pengap dalam jiwanya yang lagut; tanpa bekal tidak juga tujuan. Sungai-sungai, gurun, senja dan lautnya, membeku dalam kamarnya; di dalam kata-kata miliknya, orang-orang itu memendam rindu; mengubur cinta dan lukanya; tentang seseorang yang mereka mengira sebagai surga; tetapi lantas seperti surga—Ia tak pernah nyata meski ada.

Kehadiran demi kehilangan berlaku sebagai peristiwa beku. Hingga jendela kamarnya terbuka dan di luar sana tak ada sesiapa, maka ia bertanya: apakah ini kehidupan? Tapi ia telah memimpikan sejak begitu lama: sejak kakasihnya mencintai kata-kata. Dan ia  telah mengira betapa bahaya cinta yang melarung di atas sampan kata-kata; ia rapuh dan terbelah, sekali akan terbakar dan seluruh luruh, jadi abu, hening dalam kedalaman sunyi laut mati. Asapnya akan mengepul perlahan; memadamkan nyala kerinduan yang dulu menghangatkan. Sungguh malang saat segala tak ingin dikenang; tapi kata-kata rupanya tidak terbakar atau hancur, sebab ia tinggal jauh di dinding kalbu, yang terbuat dari waktu; dilekatkan oleh sunyi yang saban pagi kembali tetapi setiap kali meresmikan diri sebagai masa lalu. Lalu suatu pagi ia berhenti mencintai kata-kata.

Sabiq Carebesth, penulis lepas, editor. Sajak ‘Cerita Pedagang Buku’ akan terbit dalam kumpulan sajak terbarunya ‘Samsara Duka’ (Galeri Buku Jakarta, Juni-Juli 2020). Penyair Afrizal Malna dalam prolog untuk Samsara Duka menulis: “Puisi Sabiq Carebesth menggunakan banyak kata yang berfungsi menebar berbagai asosiasi dalam menjaring kerja representasi untuk mendapatkan gambaran leksikalnya. Sebuah pilihan atas bahasa yang bertenaga, banjir dan muncrat–ekspresionis.
Samsara dan duka dalam kumpulan Sabiq merupakan dua korpus yang berfungsi sebagai baling-baling yang menggerakkan narasi maupun sebagai jangkar; duka dilihat sebagai premis dalam melakukan perifikasi. Konsep duka pada gilirannya membawa bagaimana lingkaran Samsara bekerja sebagai semacam makrifat, ngelakoni, jalan penderitaan: lingkaran lumernya batas sensualitas, erotisme, seksualitas dan spritualitas di mana pelacakan atas identitas yang tak lengkap itu dilakukan”.

Semua kata-kata menjadi sama saja, mengaduh dalam peperangan sunyi tentang dirinya sendiri—untuk memenangi nama-nama dari keterbelahan antara waktu dan nafsu—dan ia berhenti menghunus senjata; ia hanya ingin menjadi pedagang buku.

Seorang yang serupa kekasihnya dahulu menghampiri; “Sudah berapa petang kau menungguku? Apa aku seperti kekasihmu dahulu? Untuk apa menunggu bahkan bila kini aku datang padamu; aku tetap bukan kekasihmu yang dulu?”.

Sekali waktu aku hanya ingin kau tahu—jika saja kau adalah kekasihku yang dulu—bahwa cinta telah merebahkan bayanganmu; kaku dalam kalbuku, dan dengan itu aku menunggu. Tahu kau sekarang bahwa aku tak pernah benar-benar menunggu—sebab kepergianmu tak pernah nyata bagiku. Pergilah jika kau masih juga tak memahami segala yang kucari dalam dirimu; cintaku sendiri. Di mana kita telah memilih dari yang lain kala itu, jiwa kita pada petang hari itu jika saja kau ingat, kau tahu betapa indah untuk tahu bahwa jiwa kita dimiliki, dan ada seorang yang menanti? Meski saban pagi tak pernah lagi kudapati tubuhmu yang sunyi dengan gaun tidur warna tanah basah—tak pernah lagi kau di ranjang lusuhku; tubuhmu yang ayu, nafasmu yang ragu, birahimu yang ngilu, lelap dalam rapuh—tetapi dulu, semua itu milikku.

Sekali malam kita sudahi, segala yang tak lagi sanggup kita miliki; meski kutahu tatapan itu dulu dan kini selalu untukku. Saban malam kau cari bayangku, kau peluk luka dukaku, jiwaku menyelinap di antara payudaramu; tempat abadi jiwaku yang kanak-kanak. Oh Tuhan, sudah berapa abad waktu membeku—kini di halaman terakhir bukuku; kutuliskan sekali lagi nama kekasihku dan namaku—sejak kali itu aku tak menulis apa-apa lagi.

Kini aku hanya pedagang buku, saban petang kularungkan buku-buku kegemaranmu, di telan gelombang, hanyut bersama ombak biru. Apa kau terima paket buku-buku itu? Selalu kutulis nama dan alamatmu: gadis jelitaku—di tengah laut biru di dalam mimpiku.  

Sabiq Carebesth

30 April 2020

Continue Reading

Puisi

Puisi-Puisi H.P. Lovecraft

mm

Published

on

Misteri Hidup

Hidup! O, Hidup!

H.P. Lovecraft lahir di Providence, Amerika Serikat 20 Agustus 1890. Seorang penulis horor, fantasi dan fiksi ilmiah. Kredo dari Lovecraft adalah apa yang ia sebut sebagai “cosmicism” atau “horor kosmis”, gagasan bahwa kehidupan tidak dapat dipahami oleh akal manusia dan alam semesta bermusuhan dengan kepentingan umat manusia. Karyanya The Call of Cthulhu telah menjadi rujukan horor modern oleh berbagai penulis dunia dan telah diangkat ke berbagai produk budaya populer seperti komik, film dan serial televisi.

Apalah arti dari pertunjukan indah yang berpendar?

Apakah ingatan itu cepat berlalu?

Ia yang telah mati adalah kunci Kehidupan—

hilang sudah tanda, dalamnya liang kubur

Manusia adalah nafas, dan Hidup adalah api;

Kelahiran adalah kematian, dan paduan suara telah bungkam.

Peraslah keabadian jantung duniawi!

airmata dari utas tua

Hidup! O, Hidup!

Rumah

Ini adalah hunian yang dikelilingi hutan

          dekat dengan bukit-bukit,

     Di mana dahan pohon mengatakan

          Legenda ajaib yang sakit;

     Kayu terlalu tua

          Bahwa mereka bernapas dari kematian,

     Merayapi tanaman merambat, pucat dan dingin,

          Tumbuh dengan keganjilan;

Dan tak ada yang tahu nektar yang mereka sesap itu dari kebun lembap dan berlumpur

     Di kebun itu tumbuh

          bunga mekar yang alami,

     Bertukar pucat dengan tangkap

          wewangian di udara;

     Rupanya matahari sore

          Dengan sinar merah yang bersinar

     Sedang menenun warna buram

          Pada pandangan ganjil,

Dan pada aroma bunga-bunga itu berpendar hari-hari yang tak terhitung jumlahnya.

     Deretan rerumputan melambai

          Di teras dan halaman,

     Kenangan yang redup

          Dari hal-hal yang telah raib;

     Batu-batu jalan

          terhampar dan basah,

     Serta ruh garib mengintai

          saat matahari merah telah terbenam,

Ruh itu disesaki gambar samar yang akan ia segera lupakan.

     Di bulan Juni yang hangat

          Aku bertahan dengan itu semua,

     Saat terpaan surya di siang hari

          Berdenyutlah masa muda

     Rupanya aku menggigil kedinginan,

          Tebersit oleh kilauan,

     Pada sebuah gambar, kubuka gulungannya—

          Terpancarlah rupa usiaku

Menatap waktu sebelum kilat itu keluar dari malam-malamku yang berlimpah.

Arkade

-dengan kepala terangkat

O beri aku kehidupan di desa,

      Tanpa rintangan, bebas, dan jelita;

Tempat di mana semua seni berkembang,

      Grove Court dan Christopher Street.

Aku muak dengan kebiasaan lama,

      Dan kritik yang tak membangun,

Jadi bernyanyilah untuk ruang yang lapang,

      Biar estetikus bekerja dengan bebas.

Di sini setiap penyair adalah seorang jenius,

      Dan para seniman seperti Raphaels,

Lalu di atas atap Patchin Place

      Bakat-bakat itu terdiam dan merenung.

Sebuah Kota

Dahulu begitu cerah dan indah,

          Kota Cahaya itu;

     Sebuah wahyu ditangguhkan

          Di kedalaman malam;

Sebuah kawasan penuh keajaiban dan kemuliaan, di mana kuil-kuilnya seterang pualam.

     Aku ingat musimnya

          Terbit di pandanganku;

     Zaman edan tak beralasan,

          Hari-hari yang menumpulkan otak

Saat musim dingin berjubah putih dan pucat pasi, datang untuk menyiksa dan menggila.

  Lebih indah dari bukit Sion

          Memancar di langit,

     Ketika sinar Orion

          Menggelapkan mataku,

Tidur jadi dipenuhi memori kelam dan berlalu begitu saja.

 Di rumah mewah nan megah

          Dengan ukiran indah,

     Suasana tenang dan teduh

          Di sudut beranda,

Sekeliling taman harum dan keajaiban mekar di sana.

     Bulevar itu memikatku

          Pada lanskap luhur;

     Meyakinkanku dan membusur

          Pada suatu waktu

Aku berkelana dengan penuh kegembiraan dan bersukacita dalam damai.

Dari kejauhan, di alun-alun itu terpampang

          Patung-patung;

     Berjanggut panjang, berwibawa,

          Makam seorang lelaki di sebuah zaman—

Rupanya patung itu rapuh dan janggut pada wajahnya kian hancur.

     Di kota yang berkilauan itu

          Aku tak melihat manusia;

     Tapi itu fantastis, dan bersahabat

          Pada himpunan kenangan,

Dapat bertahan di alun-alun, dan menatapnya dengan penuh kekaguman.

     Aku menemukan bara yang mulai redup

          Bersinar dalam pikiranku,

     Dan berupaya keras mengingat

          Keabadian di masa lampau;

Untuk menjelajah tanpa batas, dan menuju masa lalu yang lepas dari kurungan

     Lalu peringatan menggetarkan itu

          Buat jiwaku menyatu

     Bagai pagi yang merisaukan

          Terbit spektrum kemerahan,

Dan dalam kegugupan aku melayang lewat dongeng mencekam yang terlupa dan hilang.

Ketika Menerima Gambar Angsa

Angsa yang melankolis dengan anggun termenung

Merapati makam delman yang tak beruntung;

Di kawanan rerumputan, pepohonan poplar menangis,

Kuncen dengan sabar merawat makam yang basah.

Seandainya kubisa, haruskah aku menggugat

Bapa surgawi, atau Yang Maha Mulia,

Ketika pernah berkibar begitu tinggi, lalu terempas jauh ke dalam

Menyambut Cygnus yang berduka dengan persembahan!

Kawanan burung dengan dungu masih berhamburan di udara

Merintih perih untuk terus menyanyikan sebuah ode.

Matahari Terbenam

Hari-hari tak berawan datang semakin dekat;

      Keagungan kencana mengendap di ladang;

Lintuh, mencuri bayangan dengan nyaman

      Untuk menenangkan daratan dan lautan.

Dan dalam pelita yang luhur, lembut dan permai,

      Ada jiwa yang jelita, kebahagiaan yang megah;

Melepaskan silau tengah hari, pemandangan nan indah

      Kian berkat dan rahmat di bumi dan langit.

Tak lama pelita paling luhur itu memahkotai masa mudaku,

      Atau kilau paling terang merawat belukar itu,

Senja mengental, dan nampak adegan kilat

      Meninggalkan kenangan akan sucinya cinta!

____

Referensi dan Biodata

1. Misteri Hidup diterjemahkan dari Life’s Mystery

Sumber: http://www.hplovecraft.com/writings/texts/poetry/p353.aspx

2. Rumah diterjemahkan dari The House

Sumber: http://www.hplovecraft.com/writings/texts/poetry/p181.aspx

3. Arkade diterjemahkan dari Arcadia

Sumber: http://www.hplovecraft.com/writings/texts/poetry/p337.aspx

4. Sebuah Kota diterjemahkan dari The City

Sumber: http://www.hplovecraft.com/writings/texts/poetry/p184.aspx

5. Ketika Menerima Gambar Angsa diterjemahkan dari On Receiving a Picture of Swans

Sumber: http://www.hplovecraft.com/writings/texts/poetry/p051.aspx

6. Matahari Terbenam diterjemahkan dari Sunset

Sumber: http://www.hplovecraft.com/writings/texts/poetry/p124.aspx

Selain dari tautan tersebut, puisi-puisi tersebut juga terdapat di buku To a Dreamer: Best Poems of H. P. Lovecraft (Necronomicon Press: 2019) yang dikumpulkan dan disunting oleh S. T. Joshi.

Penerjemah:

Galeh Pramudianto, kelahiran 1993. Bekerja sebagai pendidik dan mengelola platform Penakota.id bersama rekannya. Buku puisinya Asteroid dari Namamu (2019) diterjemahkan ke bahasa Inggris lewat beasiswa Komite Buku Nasional. Ia menerima penghargaan Acarya Sastra 2019 dari Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kemendikbud. Puisinya “Barus, Suatu Pertanyaan” melaju di Majelis Sastra Asia Tenggara 2020.

Puisi-puisi di atas diterjemahkan dari buku To a Dreamer: Best Poems of H. P. Lovecraft (Necronomicon Press: 2019) by S. T. Joshi oleh Galeh Pramudianto. Ia bekerja sebagai pendidik dan mengelola platform Penakota.id bersama rekannya. Buku puisinya “Asteroid dari Namamu” (2019) menerima beasiswa penerjemahan dari Komite Buku Nasional. Ia menerima penghargaan Acarya Sastra 2019 dari Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kemendikbud.

Continue Reading

Puisi

Sabiq Carebesth: Samsara Duka

mm

Published

on

Kirab malam dengan panji-panji hitam di malam larut dan hujan dengan lolongan serigala berusia berabad yang terkutuk oleh nasibnya sendiri sebagai penjaga gerbang sunyi antara malam dan larut; onggokan jiwanya telah melihat cahaya dan mentari terindah yang tak mungkin lagi jadi bagiannya.  Ia telah tahu ke mana kembara—hanya berujung laut mati bagi matanya: ia telah tahu kelana hanya memperpanjang usia duka—tetapi tinggal tiada siapa juga datang—tidak duka tidak cintanya yang dulu, waktu telah memasungnya sebagai tugu peradaban dalam lalu lalang keriuhan. O hendak bagaimana ia tuju lautan dalam jiwanya? Embun dan kabut, terik dan sunyi tak akan menjelmakan apa-apa, sungai-sungai kering, danau-danau bisu, dan gunung-gunung hanya lintasan beku, sedang malam penuh rembulan; dan tak satu lagu pun dapat dikenang. Jiwanya akan mati sebagai penjaga malam dengan lolongan timur dan barat yang gemanya menari-narikan angin, dan pohon-pohon purba sama birunya dengan lumut-lumut waktu yang tak lagi bisa ditakar; usia kerinduan yang telah jadi abadi dalam kefanaan saban hari; begitulah akhir cerita semua cinta sejati; membenam dalam kepurbaan, menjadi langit dan gemintang, perjalanan dan duka cinta, genangan kenangan tentang ranum bibir belia, dan pipi merah jambu yang terbakar terik mentari pertama di laut timur, atau payudara yang bercahaya atau botol-botol bir di redup hotel-hotel, jendela kereta, tempat-tempat dan kesunyian yang tak sempat dikunjungi atau apa saja dalam segala rupa samsara yang tak mungkin dimiliki kecuali dukanya; atau segala rupa panji-panji hitam waktu yang tak mungkin diulang Kembali; sebagai gelak tawa atau percumbuan penuh duka yang mengantar kita ke puncak kekosongan. (*)

__

Jakarta, 28 April 2020

Sabiq Carebesth

Continue Reading

Trending