Connect with us

Buku

Afrizal Malna: Puisi Sabiq, tik-tok dinamika dualisme dari identitas yang tak pernah lengkap dan tuntas

mm

Published

on

Oleh Afrizal Malna

Buku kumpulan puisi Sabiq Carebesth ini dilengkapi dengan epilog yang ditulis Sabiq. Di dalamnya dijembrengkan pantulan utama kenapa buku puisi ini ditulis dan berapa lama waktu yang digunakan untuk menulisnya.

SAMSARA DUKA
By Sabiq Carebesth
ISBN 978-623-93949-0-5


Sebuah pilihan atas bahasa yang bertenaga, banjir dan muncrat. Konspirasi arbitrer antara bahasa dan kenyataan dialihkan atau dibelokkan ke arah “pengujar”, seolah-olah bahasa bisa dilihat, digenggam atau dipeluk melalui semacam internalisasi atas “jiwa bahasa” yang dilakukan penyair. Eksprsionisme semcam itu merupakan konstruksi utama bagaimana Sabiq membangun tubuh-puisi dalam kumpulan puisi “Samsara Duka”. Sabiq menggunakan tubuh dan jiwa sebagai “tik-tok” dinamika dualisme dalam berbagai penurunan paradoks-paradoksnya. Pada dunia senirupa hal semacam itu tampak misalnya pada karya-karya S. Sudjojono, Affandi, Van Gogh atau lukisan Screm karya Edvard Munch yang terkenal itu.
Afrizal Malna—Penyair

__
Berisi 32 sajak dalam desain buku full colour 82 halaman. Buku ini akan dirilis pada pekan pertama September 2020

Dalam platform supermarket di sekitar kita (di kota-kota besar), ada kebiasaan ruang kasir tidak hanya berfungsi sebagai tempat membayar barang yang kita beli. Beberapa produk masih ikut didisplay di sekitar meja kasir. Salah satu di antaranya adalah buku catatan berwarna merah. Sabiq mengambil buku ini, warna dan baunya alih-alih menjadi pemicu utama untuknya mengambil keputusan pasti untuk menulis buku puisi ini, dan Sabiq menyelesaikannya dalam waktu satu minggu dengan judul buku: Samsara Duka. Bagaimana “warna” dan “bau” memberi aura spesifik dan membawanya untuk menulis.

Epilog itu merupakan catatan penting untuk mengerti bahwa asal-usul sebuah karya bisa sangat tidak terduga. Mengingatkan novelis Haruki Murakami yang tiba-tiba mendadak memutuskan bahwa dirinya akan menjadi seorang novelis setelah menonton sebuah pertandingan baseball. Tidak ada hubungan langsung antara baseball dengan novel, atau bau kertas dengan puisi. Peristiwa ini adalah sebuah saat di suatu tempat di mana sesuatu, apa pun itu, tiba-tiba membuat kita tercerahkan. Atau membuat kita “menemukan sesuatu yang hilang”, walau kita tidak tahu apa “yang hilang” itu.

Beberapa orang di antara kita, atau banyak orang, merasa tumbuh sebagai “identitas yang tidak lengkap”. Kemudian ada konsep pasangan “perempuan dan lelaki” atau konsep “persahabatan”. Kita merasa lengkap bersama seseorang yang kita cintai atau bersama seorang sahabat. Ketika salah satu di antaranya putus, kerangka “identitas yang tidak lengkap” dari “yang hilang” itu terkesan definitif, kerja metafornya berhenti.

Dalam kumpulan puisi Sabiq ini, proposisi “identitas yang tidak lengkap” dari “yang hilang” itu diposisikan dalam beberapa kategori: perempuan dan lelaki, tubuh dan jiwa, rumah dan jalan, cahaya dan bayangan, kopi dan gelasnya, buku dan pedagang buku yang semuanya berelasi untuk saling melengkapi, bahkan “malam yang tidak punya maghrib dan subuh”:

Perjalanan tanpa maksud

Tanpa timur dan barat

Magrib dan subuhnya

Adalah dunia asing bagi malam

Sebutir debu tak jadi sejarah

Hingga ia menjadi badai

Sabiq menghubungkan beberapa konsep yang berjauhan dan tidak berada dalam satu rumah tangga leksikal, menjadi jalinan struktur yang padat dan meledak. Dalam kutipan di atas, tema yang diluncurkan Sabiq berada dalam spektrum “badai di antara debu dan sejarah”. Kerja metafor dalam kutipan puisi ini tampak tuntas, tidak menyisakan pertanyaan yang tak perlu.

Selamat jalan

Bungkuskan segelas kopiku

Yang penghabisan—

Konsep “yang hilang” juga dituntaskan sebagai “perpisahan”. Momen kreatif kadang mengungkapkan sebuah drama di mana seseorang berada dalam momen “menemukan”, “tercerahkan” kemudian kembali “berlalu”. Lingkaran ini tepat berada dalam doktrin “samsara” dari korpus filsafat India di sekitar Hindu, Budha maupun Jainisme sebagai pusaran spiritual yang kompleks dialami manusia. Dalam konsep ini berlangsung siklus reinkarnasi, karma, pelepasan dan pembebasan ke konsep immaterial. Tetapi apakah kumpulan puisi ini tentang sebuah kisah patah hati dalam hubungan percintaan? Tunggu dulu. Sebentar.

Sabiq menyelesaikan karyanya dalam waktu sepekan. Sebuah durasi yang bisa menjadi perbincangan antara “kerja panjang” atau “kerja singkat” dalam berkarya. Kerja panjang mengandaikan proses produksi dengan ketelitian pada setiap matarantainya dari A hingga Z. Mungkin juga berlangsung proses evaluasi atas sebuah karya sebelum diluncurkan ke publik, mempertimbangkannya berdasarkan beberapa tantangan baru yang dihadapkan ke karya, bahkan mengintervensinya secara brutal untuk menguji puisi yang kita buat.

Kerja singkat, seperti yang dilakukan Sabiq, umumnya mengandaikan keserentakan antara padat, spontan dan intens. Seingat saya, Putu Wijaya juga berada dalam metode kerja seperti ini. Bahkan mungkin editing tidak perlu. Editing membuat nafas karya menjadi tidak lagi organik, terasa artifisial, lebih tepat menjadi kerja studio atau pabrik dengan berbagai prosedur produksi yang harus dilalui. Bahkan salah ketik bisa dilihat sebagai tubuh-organik puisi.

SABIQ CAREBESTH
Lahir Pada 10 Agustus 1985. Pernah Sebentar Merupakan Penulis Lepas/ Kolumnis Untuk Beberapa Koran Dan Media Nasional. Merupakan Pendiri Dan Editor Utama Untuk Laman Galeribukujakarta. Com. Buku Kumpulan Sajaknya Terdahulu “Memoar Kehilangan” (2012) Dan “Seperti Para Penyair” (2017). Saat Ini Tinggal Di Antara Kota-Kota Itu, Duduk Mengeja Waktu Di Kafe Kafe Itu.

Dalam kerja singkat, ketiganya (padat, spontan dan intens) masih dijadikan metode maupun konsep penulisan yang tetap digunakan hingga kini dan terbuka untuk dikembangkan para penulis. Ketiganya juga bisa dikaitkan dengan denyut nafas maupun jantung yang bekerja konstan dan intens dalam tubuh kita, bahwa menulis mengikuti mekanisme biologis tubuh kita. Dan seperti meditasi, pusat mekanisme biologis ini sering dilihat pada gerak nafas yang konstan. Dalam kerja sastra, biasanya terkait langsung dengan genre Haiku dalam tradisi puisi Jepang: puisi sebagai satu tarikan nafas.

Pacu kuda jiwa sejauh jalan

Sabiq tentu tidak memaksudkan puisinya sebagai Haiku. Puisinya bagian dari kegelisahan manusia modern yang traumatik atas bahasa, dan karena itu menggunakan banyak kata yang berfungsi menebar berbagai asosiasi dalam menjaring kerja representasi untuk mendapatkan gambaran leksikalnya. Api, gunung, jiwa, tuak, mabuk, badai, tali ikatan, pilihan kata-kata ini dapat kita temukan dalam salah satu bait puisi Sabiq Carebesth:

Api unggun di gunung jiwa padamkan

Tenggak tuak hidup hingga mabuk

Biar kepayang biar badai menerjang

Kita bertahan atau lepas tali ikatan

Baris itu merupakan konstruksi utama bagaimana Sabiq membangun tubuh-puisi dalam kumpulan puisinya. Sebuah pilihan atas bahasa yang bertenaga, banjir dan muncrat. Umumnya disebut sebagai ekspresionisme. Konspirasi arbitrer antara bahasa dan kenyataan dialihkan atau dibelokkan ke arah “pengujar”, seolah-olah bahasa bisa dilihat, digenggam atau dipeluk melalui semacam internalisasi atas “jiwa bahasa” yang dilakukan penyair. Ujaran (produk narasi dalam puisi) mendapatkan bentuknya melalui bagaimana pengujar menempatkan hubungan-hubungan dalam puisinya.

Puisi-puisi karya Charles Baudelaire, naskah teater atau cerpen August Streindberg maupun para penyair sufi, sering digunakan sebagai rujukan untuk ekspresionisme. Penyair seolah-olah menjelajahi bahasa melalui jiwa, bukan melalui tubuh. Dalam senirupa misalnya tampak pada karya-karya S. Sudjojono, Affandi, Van Gogh atau lukisan Screm karya Edvard Munch yang terkenal itu.

Sabiq menggunakan tubuh dan jiwa sebagai “tik-tok” dinamika dualisme dalam berbagai penurunan paradoks-paradoksnya. “Tik-Tok” merupakan platform internet yang muncul dalam media sosial berbasis video. Platform ini seperti pantun yang bekerja dalam prinsip-prinsip visual medium video. Pelaku masuk ke dalam dinding templete yang sudah tersedia dalam aplikasi yang digunakan. Para tiktokker (sebutan untuk kalangan pemakai Tik-Tok) bekerja baik melalui instagram, FB maupun youtube. Tradisi ini pada puisi bisa kita temukan dalam praktik pantun maupun rima di mana puisi diproduksi melalui dinamika persamaan bunyi pada kata, terutama melalui elemen bunyi huruf vokal.

Sekujur tubuhku telah

Membebani sukmaku yang lara

Nafas ini menenggelamkan

Rinduku yang lagut, sungguh

Aku ingin pulang ke rumah

Di mana rumahku, Mas?

Sudah dikubur—begitu jauh

Kenapa aku harus di sini

Di atas ranjang aneh

Birahiku telah mati—untukmu

Bagaimana kau akan

Bercumbu dengan kematian?

Kebutuhan atas rujukan leksikal agar puisi tetap terhubung dengan wilayah aposteriori yang bisa dialami, membawa Sabiq melakukan personifikasi tik-tok melalui representasi “perempuan dan lelaki, rumah dan kubur”. Pointnya berada pada kebutuhan menggemakan hubungan aktif antara kehidupan dan kematian, atau membuat hubungan indeksikal antara kehidupan dan kematian. Pada sebagian besar puisinya, kerja personifikasi ini menjadi bagian dari konstruksi gender pada umumnya: perempuan dan elemen-elemen performativitas di sekitar lipstik, celana dalam, punggung dan telanjang.

Kematian, kehidupan, cinta, birahi, dendam, maupun duka merupakan lingkaran utama yang berkelindan dalam puisi-puisinya:

Berkilat luka-luka masa lalu

Bagai belati dari timur

Dikubur pasir gurun

Terik tanpa musim

Berabad luka berabad duka

Berabad-abad dusta

Samsara dan duka dalam kumpulan Sabiq merupakan dua korpus yang berfungsi sebagai baling-baling yang menggerakkan narasi maupun sebagai jangkar untuk melihat apakah kumpulan ini memang berbicara tentang putusnya hubungan cinta perempuan dan lelaki. Samsara dan duka di sini menjadi tidak terpisahkan antara “yang-menggerakkan” dan “yang-digerakan”. Duka dilihat sebagai premis dalam melakukan perifikasi.

Dalam gelap kulihat bayang dukamu

Sekali itu kutahu

Dukamu bukan lagi tentangku

Gelap tetap digunakan sebagai setting agar duka seolah-olah bisa dilihat bahkan hanya sebagai bayangan. Konsep duka pada gilirannya membawa bagaimana lingkaran Samsara bekerja sebagai semacam makrifat, ngelakoni, jalan penderitaan: lingkaran lumernya batas sensualitas, erotisme, seksualitas dan spritualitas di mana pelacakan atas identitas yang tak lengkap itu dilakukan: Sejak itu dukamu— Bukan lagi sajak-sajakku. Dan melepasnya kembali: Kita menua dan tak sengaja menderita.

Bukan kesimpulan. Melainkan kilas balik: Sabiq melihat buku catatan dengan kertas berwarna merah dengan bau khas dijual di meja kasir sebuah supermarket. Buku dengan kertas kosong itu memang memprovokasi untuk menuliskan sesuatu di atasnya. Kertas itu memprovokasi “identitas yang tidak lengkap” sebelum menuliskan sesuatu di dalamnya.

Dalam kumpulan puisi Sabiq itu, tetap tertinggal sebuah pertanyaan: di manakah tersisa warna merah dan bau khas dari kertas itu? Dan saya menutup pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban ini, terutama dalam konteks dinamika identitas yang tidak lengkap dan tidak pernah tuntas dengan kutipan puisi Sabiq ini:

Yang tak kau tahu kekasihku

Bahwa aku tak tahu siapa aku

Meski saban waktu

Kutimang jiwaku

Surabaya, 11 Mei 2020

POSTER: SAMSARA DUKA–Printed on acid-free book paper with full colour, in a limited edition, available exclusively from Galeri Buku Jakarta, with all proceeds going to support the galeribukujakarta.com
Continue Reading
Advertisement

Buku

The Alchemist: Mimpi adalah Nasib, Nasib adalah Mimpi

mm

Published

on

Nasib, satu kata yang seringkali jadi alasan paling mutakhir untuk bertahan dalam kenyamanan, ialah yang kadangkala menggoda Santiago dan kita semua untuk bertahan dengan gembalaan, berakhir jadi saudagar kristal, menikah dengan Fatimah, hidup nyaman….

Oleh: Faris Ibrahim *)

Seperti bertemu kenalan di perjalanan. Rasanya tidak ada kebetulan yang paling memuaskan selain pertemuan yang seperti itu; seakan segenap alam semesta bersatu membantu kita untuk saling bertemu. Itulah yang saya rasakan saat membaca The Alchemist: kemujuran. Kemujuran pemula seorang yang baru pertama kali membaca karya Paulo Coelho, kemudian berpapasan dengan seorang kenalan. Santiago namanya, membaca kisahnya seperti bertemu teman seperjalanan.

The Alchemist by Paulo Coelho continues to change the lives of its readers forever. With more than two million copies sold around the world, The Alchemist has established itself as a modern classic, universally admired.
Paulo Coelho’s masterpiece tells the magical story of Santiago, an Andalusian shepherd boy who yearns to travel in search of a worldly treasure as extravagant as any ever found.
The story of the treasures Santiago finds along the way teaches us, as only a few stories can, about the essential wisdom of listening to our hearts, learning to read the omens strewn along life’s path, and, above all, following our dreams.

Tepatnya di karavan, saat Santiago bilang: “aku mau ke Mesir,” saat itulah saya tahu, bahwa Paulo Coelho mempertemukan kami secara kebetulan di jalan. Setelah berjabat tangan, alangkah senangnya berbincang tentang mimpi yang sama- sama kami yakini: kemilau harta di (negeri) piramida. Jauh memang, untungnya ada sang Alkemis yang menuntun kami ke sana, buntungnya kami juga jadi bertemu dengan pedagang kristal di pasar Tangier.

Ituloh pedagang yang bilang: “piramida- piramida itu hanyalah tumpukan batu. Kamu dapat membuatnya di halaman rumahmu.”Agaknya saat mendengar ungkapan itulah, saya, kamu, dan kita semua bertemu secara kebetulan dengan Santiago. Mungkin piramida tidaklah jadi mimpi kita bersama, namun kita sama karena sama- sama bermimpi, dan dalam meraih mimpi, pastilah kita akan berpapasan dengan pedagang kristal, yang meremehkan mimpi kita.

Sang pedagang tentu tidak melakukan itu semata- mata karena membenci kita. Ia hanya membenci dirinya sendiri yang punya mimpi berhaji ke Makkah, namun tak sanggup menutup toko kristalnya. “Dia harus memilih antara apa yang dia telah menjadi terbiasa dengannya dan apa yang ingin dimilikinya,” sebagai pemimpi, kita pasti pernah mengalami apa yang Santiago dan pedagang kristal itu lalui: tarik menarik antara zona nyaman dan hasrat untuk meraih impian.

Kenyamanan dan impian, di antara persimpangan itulah kadangkala sebagian kita berpisah dengan Santiago, lebih memilih jalan hidup si pedagang kristal: “tak pernah pergi ke Mekkah, dan hanya menjalani hidupnya dengan menginginkan hal itu.” Itulah dusta terbesar yang dimaksud oleh pak tua Melchizedek sang raja Salem: ketika kita menyerah dengan mimpi, kehilangan kendali atas apa yang terjadi pada diri, dan hidup lalu dikendalikan oleh nasib.

Nasib, satu kata yang seringkali jadi alasan paling mutakhir untuk bertahan dalam kenyamanan, ialah yang kadangkala menggoda Santiago dan kita semua untuk bertahan dengan gembalaan, berakhir jadi saudagar kristal, menikah dengan Fatimah, hidup nyaman sebagai penasehat para tetua di gurun.

Nasib kadangkala salah terjemah jadi pelarian, padahal nasib seharusnya senada dengan suara hati yang selalu menyeru kita untuk pergi meraih mimpi.

Sebab hati tidak pernah berkhianat, di tengah gurun keraguan kadang kala kita lupa kenyataan yang satu itu. Sang Alkemis padahal berkuda bersama dengan kita, begitu dekat, namun terkadang nasehatnya begitu jauh dari telinga kita: “ingatlah bahwa di mana pun hatimu berada, di sanalah akan kau temukan hartamu.”  Hati adalah kompas para pemimpi, ialah yang mengenalkan kita pada tanda- tanda sang pencipta yang menggiring kita pada piramida mimpi kita semua.

Hatilah yang membuat kita terus berjalan bersama kafilah sang pemimpi ke sana. Domba- domba, kristal yang berkilau, dan Fatimah yang jelita, itu semua juga harta, namun benar kata sang Alkemis: “tapi tak satu pun dari itu semua yang berasal dari piramida.” Itu semua tak sebanding dengan mimpi yang kita terbangun karena memikirkannya, susah tidur karena belum juga mewujudkannya. Pemimpi sejati tidak akan pernah tawar- menawar untuk mewujudkan mimpinya.

Di tengah perjalanan, kita selalu bisa pulang ke Andalusia, Indonesia, kapan pun kita mau, namun begitu mimpi adalah nasib, nasib adalah mimpi, kalau cita- cita untuk tiba di (negeri) piramida belum terwujud, kita belum bisa menyebutnya nasib, pantang pulang sebelum datang; karena hati para pemimpi sejati selalu mendambakan langit, tidak pernah sedikit pun terbesit keinginan untuk jatuh di antara bintang- bintang, lalu dengan menyedihkan menyebutnya sebagai nasib. (*)

*) Faris Ibrahim, sekarang mahasiswa jurusan Akidah- Filsafat di Universitas al- Azhar, Kairo. Penulis buku Diary Azhari. Aktif di kajian pemikiran al- Hikmah PCIM Mesir, kuliah pemikiran Islam di IIIT (International Institute  of Islamic Thought) Zamalek, dan lulus dari WISE (Worldview of Islam Series) tahun 2019.

Continue Reading

Buku

Keniscayaan Meruang(i)

mm

Published

on

Setyaningsih, Esais dan penulis Kitab Cerita (2019)

Kita meruangi ruang secara spasial dan esensial atau guna dan citra, seperti pernah dibentangkan rohaniawan, arsitek, dan penulis Y.B. Mangunwijaya dalam pengantar buku Pengantar Fisika Bangunan (2000). Pengaturan elemen-elemen dasar arsitektural dibangun berbarengan dengan citra atau pantulan jiwa primordial seseorang meruangi. Ruang-ruang yang dibangun tidak berhenti untuk memenuhi tugas fungsional. Penghuninya menentukan seberapa emosional laku meruang diciptakan.


Judul: Mengaduk Ruang: Tafsir Merakyat atas Bangunan | Penulis: Rifai Asyhari | Penerbit: Hatopma | Cetak : Pertama, Oktober 2019 | Tebal: xviii+122 halaman

Begitu bangunan selesai dirancang seorang arsitek atau perancang paling amatir sekalipun dan diwujudkan oleh para tukang, penghuni barangkali adalah pihak paling otoritatif membentangkan pengalaman meruang. Inilah yang dilakukan oleh Rifai Asyhari lewat buku kumpulan esai Mengaduk Ruang: Tafsir Kerakyatan atas Bangunan (2019). Setidaknya dari penuturan ke penuturan yang kentara menonjolkan penghadiran raga diri, Rifai juga membawa pembaca untuk seolah saat ini juga menghadapi bentangan arsitektural. Rifai menempatkan mata pada sekat, tembok, lantai, atap, seng, tanah, udara, kepengapan, kelonggaran, himpitan, jarak, atau kelegaan.

Kita cerap, “Ukuran tiap kamar hanya 3×3.5 meter. Cukup kecil, cukup buat selonjor atau berbaring seorang manusia dewasa. Setiap kamar dipisahkan dinding tripleks yang tipis. Penghuni kos terbiasa mendengar dengkuran halus seorang yang tidur lebih dulu […] Selain dinding tripleks, lantainya tak dipasangi kramik. Hanya lantai semen berlapis plastik. Tidak ada kamar mandi khusus anak kos selain sebuah kamar mandi yang digunakan secara bersamaan oleh keluarga sang pemilik dan anak kos,” (hal. 5). Di esai pertama berjudul “Rasanya Tinggal di Kos Termurah Se-Yogyakarta”, Rifai cukup percaya diri mengajukan kos sebagai ruang spasial yang “dikuasai”, menautkan dengan harga, nilai guna, dan peristiwa para penghuninya.

Namun meski Rifai tidak mengungkapkan secara tersurat dan frontal, kos termurah se-Yogyakarta di Nologaten yang sedemikian sederhana itu, sebenarnya menghadapi hal tidak sederhana. Ada kekuatan pertumbuhan properti di luar dinding batako. “Di sekitar lokasi indekosku, terdapat dua hotel yang ramai dikunjungi orang dari pelbagai daerah. Nologaten makin ramai dan maju. Namun, cerita tentang sepasang orangtua yang kesulitan membangun sebuah rumah kecil nyatanya masih ada,” begitu keniscayaan pertarungan ruang industrial dan rumah saling dinegasikan Rifai. Hotel hanya salah satunya saat komersialisme begitu kuat mempengaruhi pertumbuhan bangunan.

Sebagai efeknya, Rifai memang tidak menampik bahwa kos memang “sebatas untuk tidur” bagi para penghuni yang berstatus mahasiswa mahasiswa semester atas. Mobilitas berkegiatan di luar ruang kos sempit dan sering kurang nyaman cenderung menonjolkan nilai guna daripada citra. Karena sering kos tidak dipersepsikan sebagai rumah, ia tidak dipersiapkan menjadi ruang transisi ke hal-hal lebih emosional.

Bahkan di esai berjudul “Mengingat Rumah dari Episode Kepulangan yang Singkat”, ada perasaan dilematis justru saat Rifai membentangkan peta ingatan masa kecil sekaligus penghadiran masa dewasa atas jalan, pemandangan, ruang-ruang (dalam) rumah, kolam ikan, atau halaman. Pulang ke Jawar, Wonosobo, seperti berpindah ke keterasingan. Kepulangan demi meruang itu cukup sebagai episode “mampir” daripada “singgah” karena perpindahan geografis sekaligus pergantian ruang desa ke kota. Momentum yang diakui Rifai, “Bagiku, mengingat rumah berarti mengingat masa kecil. Kenanganku di Jawar berhenti pada usia 11 tahun. Setelah itu, hanya episode-episode kepulangan dalam jeda yang singkat.”

Namun dari jeda singkat ini, kita bisa menyepakati bahwa kepulangan tidak hanya berarti memulangkan raga, tapi juga emosionalitas yang pernah bertumbuh dalam lipatan arsitektural ataupun peristiwa komunal manusianya. Rifai mengatakan, “Meski jarang kusambangi, itu tetap rumahku. Sejauh apa pun aku pergi, alamat rumah itulah satu-satunya yang kutuju.”

Kerakyatan

Sejak kecil, kita sepertinya kurang diajari cara mempersepsikan diri di hadapan ruang. Kita lebih dituntut untuk tahu fungsi-manfaat suatu tempat. Seringnya, tempat-tempat begitu berjarak dari kehidupan personal kita, apalagi bukan milik kita. Seberapa lama seseorang “mendiami” suatu tempat, ia belum tentu merasa memiliki “meruangi”. “Kerakyatan” yang menjadi istilah kelihatan sepele tapi cukup sakral di judul buku, terutama tidak dihadirkan untuk menunjukkan kelemahan secara ekonomi. Istilah mengalihkan dari kesan monopolistik bahwa arsitektur dalam bentuk secara material, perasaan, sekaligus keilmuan cenderung menjadi hak arsitek, kaum perkotaan pembaca majalah lifestyle dan desain interior, atau mahasiswa arsitektur.  

Bisa jadi, obrolan arsitektur di Galeri Lorong, Tirtonirmolo, Yogyakarta, bersama Anas Hidayat, dosen jurusan Arsitektur dan Desain Komunikasi Visual UPN “Veteran” Surabaya di Galeri Lorong, Tirtonirmolo, menjadikan salah satu pondasi menafsir secara  kerakyatan. Setidaknya sebelum bermimpi memiliki rumah, Rifai percaya untuk terlibat membicarakan tukang, modal, arsitektur berwawasan lingkungan, alienasi ruang perkotaan, atau hunian alternatif. Rifai mencatat, “Setiap individu sebaiknya menafsir karya arsitektur dengan bebas. Meski pemahamannya mungkin berbeda jauh dengan maksud arsitek. Dengan memahami secara bebas, karya arsitektur akan kian beragam dan tidak monoton” (hal. 58).

Pengalaman kerakyatan dipilih Rifai memang cenderung membuat gaya penuturan menjadi lempeng. Boleh dikatakan Rifai sangat percaya pada tafsir yang mendasari subjudul otoritatifnya. Tapi setidaknya paling kuat tampak dalam dua esai enerjik berjudul “Peradaban yang Kebingungan” dan “Wastu Citra: Melampaui Urusan Teknis Arsitektur”, Rifai tidak hanya bertungkus lumus dengan apa yang dilihat dan diruanginya. Masih tetap secara kerakyatan, ada upaya turut dalam polemik tata ruang dan lingkungan yang terjadi sejak masa 70-an ataupun jati diri arsitektur lokal ke-Nusantaraan yang mendapat momentumnya sejak masa kolonial serta begitu dipikirkan oleh Y.B. Mangunwijaya. 

Lantas, pengalaman meruangi “Imajinasi Ruang Rumah Mikro” semacam melengkapi peradaban ruang yang kebingungan di tengah bersikap pada alam. Rifai menjumpai rumah mikro atau rumi yang ditawarkan oleh Studio Akanoma rintisan arsitek muda Bandung, Yu Sing, yang tidak hanya menawarkan hunian alternatif bagi masyarakat perkotaan, tapi juga cara membangun sekaligus menghuni yang berusaha tidak melukai ekologi.

Percayalah, sebelum memasuki ruang-ruang dinamis rumi, kita turut merasakan suguhan paha kambing dan ayam berbumbu rahasia yang menyambut Rifai saat bertandang. Kembali pada cara kerakyatan, Rifai meruangi, “Detail ruangan rumi benar-benar diperhatikan. Aku tidak menganggap rumi seperti garasi yang gelap meski berukuran sama. Banyak laci dan ruang kecil untuk menyimpan barang. Kamar mandinya yang memanjang seluas 1×2.5 meter terasa sangat nyaman. Satu sisi untuk toilet. Sisi lainnya shower dan wastafel. Bersih dan sejuk. Jenis kamar mandi yang memungkinkanmu untuk melamun atau memikirkan persoalan hidup” (hal. 97).

Setiap yang ditangkap mata Rifai adalah upaya memenangkan raga dan emosionalitas meruang dengan merdeka dan merakyat. Memang, perkara memiliki rumah misalnya, tidak hanya dibangun dari impian atau rencana. Betapa Kita membutuhkan material untuk mewujudkan setiap elemen arsitektural mewujud. Rifai telah memulainya dengan mengaduk cara mempersepsikan dan alternatif-alternatif arsitektural bertaut dengan masalah finansial dan ekologi. 

Suatu sepele nan penting, Mengaduk Ruang sedikit mematahkan pakem bahwa buku bertema arsitektur harus mewah dan (sebaiknya) mahal. Begitu pun hunian kita di masa depan.

Continue Reading

Buku

Fahrenheit 451: Membakar Buku di Hari Buku

mm

Published

on

Oleh: Faris Ibrahim *)

Cerita bagus memikat sejak kalimat pertama. Penulis- penulis bagus membuat kita jatuh cinta pada pandangan yang pertama. Mereka tidak akan menunggu sampai kalimat kedua, paragraf kedua, halaman kedua, apalagi bab kedua untuk bisa menarik perhatian kita. Itulah yang dilakukan Ray Bradbury saat menulis Fahrenheit 451. Ia memulai mahakaryanya itu dengan provokasi menarik sejak kalimat pertama: “membakar sungguh menyenangkan.” 


Sixty years after its originally publication, Ray Bradbury’s internationally acclaimed novel Fahrenheit 451 stands as a classic of world literature set in a bleak, dystopian future. Today its message has grown more relevant than ever before. Guy Montag is a fireman. His job is to destroy the most illegal of commodities, the printed book, along with the houses in which they are hidden. Montag never questions the destruction and ruin his actions produce, returning each day to his bland life and wife, Mildred, who spends all day with her television “family.” But when he meets an eccentric young neighbor, Clarisse, who introduces him to a past where people didn’t live in fear and to a present where one sees the world through the ideas in books instead of the mindless chatter of television, Montag begins to question everything he has ever known.

Menyenangkan apanya? Seasyik- asyiknya membakar kembang api, tetap saja akhirnya gemerlapnya menghilang. Membakar pastilah berujung: kehilangan. kehilangan tidak menyenangkan, kehilangan menyedihkan. Makanya kita sering mendengar orang tua kita bilang: jangan bakar- bakaran, jangan main- main dengan api. Orang tua, takut kehilangan kita, itu sebabnya mungkin mereka selalu berat hati meretui hubungan kita dengan api.

Mereka tahu hubungan kita dengannya kadangkala tanpa pemahaman. Yang tidak paham, biasanya terjeremus dalam petaka. Api terbiasa menyulut petaka. Itulah kenapa setan sering disimbolkan dengan api. Main api artinya main- main dengan setan: memancing kedatangan mala- petaka. Api memang bukan mainan, api hadir ke dunia untuk dikendalikan. Dengan api Aang menjadi Avatar, dengan api pula ia melukai lengan Katara, gadis yang paling ia cintai.

Lewat Fahrenheit 451, Bradbury ingin mengajak kita membayangkan itu: keadaan di mana api sudah tidak lagi terkendali, kemudian membakar sesuatu yang paling kita cintai. Setiap tahun kita merayakan Hari Buku karena semua orang mencintai buku, namun apa jadinya kalau kita hidup di zaman di mana semua orang membenci buku? itulah Fahrenheit 451. Tokoh utamanya, Montag, sangat menikmati pekerjaannya: “Senin bakar Millay, Rabu Whitman, Jum’at Faulkner.”

Sejak rumah- rumah sudah kebal dari kebakaran, mereka- mereka yang berprofesi sebagai pemadam kebakaran terancam pengangguran. Rezim berpikir keras, akhirnya munculah sebuah alternatif profesi: petugas kebakaran. Tugas Montag bukan lagi memadamkan, tugasnya membakar. Ia dan teman- teman butuh sesuatu untuk dibakar, sesuatu yang dibenci oleh semua orang sehingga kehilangannya sangat diharap- harapkan. Tersebutlah satu benda bernama: buku.

“Buku adalah peluru,” kata kapten Beatty. Orang bisa saling membunuh gara- gara buku. Buku menyulut kemarahan. Kulit putih tidak pernah gembira saat membaca Uncle Tom’s Cabin, kulit hitam naik pitam saat membaca Little Black Sambo. Buku hanya memecah belah masyarakat. Dengan mempercayai maksim itu, petugas kebakaran sepenuh hati melakoni kerjaannya membakar buku. Kebencian masyarakatlah yang jadi pembenaran.

“Bakar sampai menjadi abu, lalu bakar lagi abunya,” kalimat itu bukan hanya slogan petugas kebakaran. Dari slogan itu kita bisa menjejak kebencian masyarakat terhadap buku yang bencinya sampai ke tulang- tulang. Buku adalah penjahat. “Kata- kata bodoh, kata- kata bodoh, yang jahat dan menyakiti,” begitu kata Mrs. Bowles yang menangis bukan karena keindahan puisi Dover Beach, puisi Matthew Arnold itu jahat karena membuatnya menangis saat mendengarnya.

Itulah yang kita temukan saat membaca paruh awal Fahrenheit 451. Seakan kita dituntun lewat premis- premis logis tokoh- tokohnya untuk mengangguk setuju berakhir membenci buku, menjadikannya penjahat, lantas membakarnya.Namun, beruntungnya memang, Bradbury tidak menceburkan kita begitu saja dalam kekeliruan, tanpa pelampung. Lewat Montag, si tokoh utama, kita diajak pelan- pelan bertobat pernah serampangan meyakini buku sebagai penjahat.

Buku tidaklah jahat, yang jahat kita saja manusia, Bradbury paham betul maksud dari perkataan itu. Usianya masih 15 tahun saat mendengar Hitler memanggang buku- buku di jalanan Berlin. Masa remajanya juga ia habiskan dengan menonton Stalin memenjarakan para pujangga, membakar buku- bukunya. Dan puncaknya adalah pada tahun 1950, saat Senator McCarthy menangkapi teman- teman penulisnya dengan dalih pemberantasan Komunisme.

Sebagai seorang anak yang tumbuh dengan kecintaan melahap buku, hatinya terbakar menyaksikan pembakaran buku dari masa ke masa.  Alhasil dengan kumulasi pengalaman kelam itu, terkumpulah semua alasan untuknya menuliskan Fahrenheit 451, sebuah pledoi terhadap hak asasi buku yang selalu didakwa sebagai penjahat yang nyatanya selalu jadi korban kejahatan para penjahat. Buku dibabat demi melanggengkan kekuasaan, padahal ia hanyalah alat.

Sebagaimana motor yang bisa dipakai pergi sholat, motor juga bisa dipakai menyiram air keras ke orang sehabis sholat. Alat terggantung penggunanya, buku tergantung pembacanya. Kitalah yang salah baca, bukan salah buku. Fahrenheit 451 boleh jadi maksudnya bukan suhu terbakarnya buku, melainkan suhu panasnya kepala kita yang terbakar kebencian saat membaca. Kita membaca untuk mencari pembenaran, bukan kebenaran, di sanalah letak salahnya.

Jika ada seribu rujukan yang mengatakan Covid- 19 benar- benar tragedi, dan hanya satu yang bilang itu konspirasi, maka kita berapi- api menyomot yang satu itu sebagai pembenaran, benar- salah itu urusan belakangan. Saat kita pilih- pilih bacaan, pilih- pilih buku, pilih- pilih tontonan saat itulah sebenarnya kita mulai bersalah, mulai jadi penjahat. Jahat karena menutup seluruh kemungkinan yang benar jadi salah, yang salah jadi benar.

Terkadang dalam membaca kita tidak siap membaca hal- hal‒ yang seperti kata Faber: “memperlihatkan pori- pori di wajah kehidupan,” alias memperlihatkan kenyataan bahwa kita sedang meyakini sesuatu yang salah. Kesalahan terkadang seperti jerawat di sela pori- pori wajah kita. Kita tidak mau itu terlihat, kita berusaha mengaburkan wujudnya dengan bedak, menutup- nutupinya dengan plester luka, kita halalkan segala cara untuk menutupi kesalahan kita.

Ketika kita menutup- nutupi kesalahan, mengingkari kebenaran, sebenarnya itulah cara termudah untuk menyimpulkan kepribadian kita yang anti buku: anti pengetahuan. Setiap Hari Buku, rasanya kita semakin menjelema jadi sosok yang anti buku: kita masih saja memilah- milah pengetahuan, menonton siaran dari kanal pemuja pilihan politik kita saja, dan mencampakkan yang bukan. Bukankah itu sama saja dengan perilaku membakar buku: melenyapkan pengetahuan?


Ray Bradbury (1920–2012) was the author of more than three dozen books, including Fahrenheit 451The Martian ChroniclesThe Illustrated Man, and Something Wicked This Way Comes, as well as hundreds of short stories. He wrote for the theater, cinema, and TV, including the screenplay for John Huston’s Moby Dick and the Emmy Award–winning teleplay The Halloween Tree, and adapted for television sixty-five of his stories for The Ray Bradbury Theater. He was the recipient of the 2000 National Book Foundation’s Medal for Distinguished Contribution to American Letters, the 2007 Pulitzer Prize Special Citation, and numerous other honors.

Kita membayangkan Fahrenheit 451 begitu tak tergapai sebagai distopia, padahal peristiwanya sangat lekat dengan keseharian kita saat membaca. Kita dimanfaatkan oleh mereka- mereka yang tidak membaca namun berkuasa untuk membenci yang mereka benci, menyukai yang mereka sukai. Kita dikotak- kotakkan, demi kepentingan. Semakin kita jauh dari pengetahuan, semakin malas kita membaca, mereka semakin senang; jerawat kekuasaan semakin samar terlihat.

Ketika kekuasaan semakin terbit benderang, pengetahuan semakin menunduk terbenam. Istana akhirnya mendikte kampus. Presiden membakar buku- buku di halaman. Kita yang sadar hanya bisa berteriak- teriak di balik pagar sambil sesekali menggoyang- goyang. Ban- ban mengepul di jalanan berhari- hari terpanggang, sampai akhirnya kita benar- benar lapar dan kelelahan. Akhirnya kita membenarkan apa kata Faber sang kordinator lapangan: “sekarang, sudah terlambat.”

Keesokan harinya kita masih turun ke jalanan ramai- ramai, hanya saja kali ini bukan untuk membakar ban dan menggoyang- goyang pagar istana, hari ini kita ingin membersamai presiden membakar buku- buku yang tersisa. Kita sangsikan nasehat orang tua untuk tidak bakar- bakaran. Kita aminkan perkataan Montag: “membakar, sungguh menyenangkan.”Hari itu Hari Buku, untuk pertama kalinya dalam sejarah kita memperingatinya dengan membakar buku. (*)

*) Penulis buku Diary Azhari, mahasiswa Akidah- Filsafat Universitas al- Azhar, Kairo.

Continue Reading

Trending