Connect with us

Interview

Adania Shibli tentang Mengisahkan Palestina dari Dalam

Adania Shibli / Spesial
mm

Published

on

Kisah itu menggambarkan dengan jelas momen saat Adania dan keluarga menerima panggilan telpon yang tak biasa dari tentara Israel: pesannya adalah untuk meninggalkan bangunan tempat mereka berada karena akan segera dibombardir. Dalam tiga halaman singkat karangan Adania tampil menonjol tanpa sekali pun mengabaikan sisi puitis dari hal-hal umum. Itulah Adania Shibli: lembut tapi menggelisahkan, tenang dan efektif; mendalam, jenaka, dan ampuh.

“Sebuah wawancara dengan pengarang ‘We Are All Equally Far from Love’”

(p) Marlina Sophiana (e) Sabiq Carebesth

 

Gaya khas Adania Shibli datang dari upaya menahan diri. Kesunyian dalam dua novelnya (We Are All Equally Far from Love dan Touch) menghasilkan suspense yang mengerikan, semuanya dilatari suasana Palestina yang indah dan penuh problema. Dan melalui kebiasaan sehari-hari dunia itu meledak dengan gaduh.

We Are All Equally Far from Love merupakan sebuah kisah cinta dan juga sebuah tragedi. Kekuatan misterius novel ini juga terletak di tengah-tengah penggambaran yang sulit dipahami- sama seperti kisah dalam Touch, di mana dinamika keluarga sama menarik dan sama kusutnya seperti pembantaian di Sabra dan Shatila yang bertalian dengan segala hal. Kekerasan dalam karya Adania meriak tanpa sentimentalitas berlebih-lebihan.

Kepelikan yang sama juga muncul dalam cerita pendek terbarunya, yang masuk dalam terbitan Freeman’s family. Kisah itu menggambarkan dengan jelas momen saat Adania dan keluarga menerima panggilan telpon yang tak biasa dari tentara Israel: pesannya adalah untuk meninggalkan bangunan tempat mereka berada karena akan segera dibombardir. Dalam tiga halaman singkat karangan Adania tampil menonjol tanpa sekali pun mengabaikan sisi puitis dari hal-hal umum. Itulah Adania Shibli: lembut tapi menggelisahkan, tenang dan efektif; mendalam, jenaka, dan ampuh.

Jose Garcia 

Apakah itu merupakan keputusan yang disengaja untuk tidak secara eksplisit menyebut Palestina dalam karyamu? Untuk membiarkan pembaca tenggelam dalam drama ketimbang suasananya?

Adania Shibli

Kedua novel itu, dapat saya katakan, sangat kental dengan lanskap Palentina dan bahkan didesain melalui lanskap itu. Mungkin hal-hal yang tak nampak dalam pandangan dunia luar tentang Palestina, yang sangat didominasi oleh liputan media yang terus-menerus.

Sebagai contoh, dalam format yang spesifik media menceritakan peristiwa penting seperti pembantaian di Sabra dan Shatila pada masyarakat luas non-Palestina. Sementara di dalam konteks penduduk Palestina sendiri merasakannya secara berbeda dan melalui berbagai cara-hal itu termasuk kesulitan anak-anak untuk memahami peristiwa itu, atau para orangtua yang mencoba menyelamatkan anak-anak dari peristiwa semacam itu, yang mana merupakan keseharian bagi orangtua di Palestina. Touch menelusuri kegiatan yang utama dan sangat nyata ini di Palestina; tapi ini merupakan bentuk pengalaman yang seringkali luput dari berita-berita yang menjangkau mereka di luar Palestina. Jadi buku ini berhubugan dengan Sabra dan Shatila sebagai sebuah pembantaian yang tak mungkin dipahami oleh anak-anak. Tapi tentu saja, ini hanya salah satu cara memahami pengalaman itu, dan hal ini berlaku untuk beragam peristiwa lainnya, peristiwa-peristiwa politik, sosial, dan ekonomi.

Kemudian di dalam We Are All Equally Far from Love, lanskap Palestina didesain dalam novel ini dalam kesukaran karakter-karakternya untuk bergerak. Jadi, ketimbang mendeskripsikan pos pemeriksaan atau pencegahan pergerakan, buku ini mengisahkan konsekuensi dari pembatasan-pembatasan pergerakan itu. Karakter-karakternya terperangkap dalam ruang klaustraphobia atau lumpuh secara fisik dan mental. Dan dalam kaitannya dengan yang terakhir-kelumpuhan emosional- novel itu melukiskan akibat dari kebrutalan hidup di dalam kondisi opresi politik pada tingkat personal, di mana jiwa manusia, dan kemampuannya untuk mencintai, tergerus. Jadi, daripada menampilkan eksterioritas pengalaman penduduk Palestina, dengan jalan mengubahnya menjadi tontonan bagi orang lain, kedua novel itu mengisahkan konsekuensi-konsekuensi kehidupan sehari-hari penduduk Palestina, lewat hal-hal yang biasa dan banal.

Jose Garcia

Bagaimana tanah air dan kebangsaan membentuk pengalaman-pengalamanmu masa kecilmu?

Adania Shibli

Sebagai orang yang hidup di tempat yang tampak seperti sebuah hukuman untuk kajahatan yang tak pernah mereka lakukan, di usia yang masih sangat muda hal itu memunculkan pertanyaan-pertanyaan tajam dalam kaitannya dengan ide-ide sederhana seperti keadilan, atau ketiadaannya. Saat masih anak-anak Anda tidak benar-benar memisahkan antara keduanya, antara ketidakadilan tentang mengapa sebagian orang memiliki lebih banyak hak istimewa dibanding orang lain.

Itu merupakan pertanyaan-pertanyaan yang saya coba untuk atasi juga di usia yang masih sangat muda; antara melawannya dengan suara lantang, atau memilih berada di samping orang-orang kuat, atau menciptakan duniamu sendiri di mana Anda bisa membayangkan realitas-reaitas yang berbeda-inilah satu-satunya yang terus menarik perhatian saya. Apakah melalui membaca atau menonton diam-diam apa yang terjadi saat itu, saya mengubah sedikit peristiwa-peristiwa itu, membayangkan dunia yang lain. Itu merupakan permainan yang adiktif, dan saya ingat mendapati diri saya tenggelam dalam imajinasi sampai saya terkadang merasa malu karena tak mengingat peristiwa-peristiwa masa lalu seperti yang diingat orang-orang di sekitar saya. Jadi mungkin kesadaran atas ketidakadilan yang terus terjadi yang tak dapat dihindari dalam konteks penduduk Palestina merupakan kekuatan pertama yang mendorong saya ke dunia literatur sejak dini.

Jose Garcia

Touch dan We Are All Equally Far from Love keduanya memiliki banyak rupa karakter-karakter perempuan kuat. Dan saya bukan hanya mengartikan kuat sebagai seorang perempuan independen. Akan tetapi mereka sangat lantang, rumit, dan terkadang karakter yang tercela. Mereka menyembul dari halaman-halaman itu dengan kepribadian dan kecacatan-kecacatan mereka. Seberapa penting feminitas-dan karakter-karakter perempuan-dalam karya Anda?

Adania Shibli

Sejujurnya, Saya tak pernah memikirkan soal perempuan atau laki-laki. Saya bisa bilang, saya tak pernah mengaitkannya dengan diri saya sebagai perempuan; itu hanyalah perspektif dalam hidup. Bisa jadi kebetulan bahwa karya-karya saya memiliki banyak karakter perempuan. Ini bisa saja berubah, mungkin juga tidak.

Di dalam novel baru saya, yang teridiri dari dua bab, tiap bab mempunyai satu protagonis, satu laki-laki dan satu lainnya perempuan. Tapi Anda benar, saat saya menulis bab pertama dengan karakter protagonis seorang laki-laki, saya benar-benar merasakan itu seorang laki-laki, karena menceritakan dunia keteraturan dan kekuasaan-dunia yang saya tak ingin menjadi bagian di dalamnya. Cukup menghibur untuk memainkannya, bahkan dalam kaitannya dengan imajinasi, tapi tak terlalu menarik. Karakter perempuannya cenderung ragu-ragu, berantakan; dia gagap dan berjalan dalam kesia-siaan. Saya lebih tertarik pada karakter-karakter semacam itu, seperti karakter laki-laki dalam Belle de Jour karya Bunuel-karakter laki-laki yang memiliki luka buruk rupa di wajahnya.

Saya tidak mengaitkan feminitas dengan seksualitas. Bagi saya feminitas soal perlawanan terhadap kuasa dan aturan dengan cara yang amat kejam.

Jose Garcia

Ada banyak kesunyian dalam cerita-cerita Anda. Banyak misteri dan juga begitu intim. Bagaimana Anda menyeimbangkan kesunyian yang pekat itu dengan aksi?

Adania Shibli

Anda bisa menemukan jawabannya dalam musik. Saat saya mendengarkan musik, saya menyadari bahwa keseluruhan aksi dan gerakan musikal hanyalah mungkin karena adanya kesunyian yang meresap sebuah karya musik. Saya begitu tertambat pada kesunyian itu dan apa yang dia lakukan, atau apa yang bisa dia lakukan sebelum bunyi bermunculan, atau bahkan apa yang mendorongnya.

Jose Garcia

Kedua buku Anda juga sangat kental nuansa keluarga. Apa peran keluarga dalam proses menulis Anda?

Adania Shibli

Kita terlahir dalam sebuah keluarga, tanpa memilih mereka, dan itulah pengalaman pertama bagi sebagian besar orang. Ketiadaan pilihan itulah yang saya pertanyakan: bagaimana menjalani hidup yang tidak Anda pilih, dan apakah Anda pada akhirnya akan memilih secara sadar. Saya sebetulnya masih heran.

Jose Garcia

Ini membawa saya pada karya cerita pendek Anda untuk terbitan Freeman;s: Family. Apa yang menginspirasi Anda untuk menghampiri topik yang begitu luas (keluarga) melalui cerita itu?

Adania Shibli

itu sesungguhnya momen di mana saya pertama kali menyadari bahwa saya memaksakan ketiadaan pilihan ini pada orang lain, pada anak-anak saya. Ayahnya dan saya punya pilihan untuk hidup bersama, mereka tidak. Jadi anak-anak saya terdampar di sana, di momen yang sangat ekstrem itu-“Seperti inilah panggilan yang dilakukan oleh tentara Israel saat mereka hendak embombardir sebuah bangunan perumahan. Saat seeorang mengangkat telponnya, mereka melepaskan haknya untuk menuntut sang tentara atas kejahatan perang.” Inilah sebuah pemahaman yang didorong oleh ketakutan: ketakukan atas keselamatan mereka. Hingga hari ini saya masih bertanya bagaimana mereka memahami peristiwa itu, dan apakah mereka akan mengingatnya. Tulisan dalam Freeman’s merupakan testimoni untuk mereka ketahui, bukti bahwa itu pernah terjadi untuk anak-anak saya lihat kemudian hari.

Baca Juga: Eksplorasi yang indah nan suram tentang kejiwaan manusia: novel baru karya Adania Shibli

Jose Garcia

Saya menduga panggilan telpon itu sangat mengerikan. Namun, saya sendiri datang dari negeri yang penuh kekerasan dan tak terduga-duga, Saya sadar bahwa orang cenderung menjadi kurang peka dan menjadi terbiasa terhadap kekerasan. Apa yang bisa kita lakukan untuk melawan “jadi biasa saja” itu?

Adania Shibli

Adakah yang bisa kita lakukan untuk melawannya? Saya sendiri heran.

Saya selalu menemukan tempat lewat kata-kata untuk menciptakan kemungkinan-kemungkinan paralel di mana dehumanisasi tumbuh subur. Namun, dalam kehidupan nyata, Anda harus menetralisasi seluruh emosi Anda dan menjadi mati rasa, tapi kemudian menulis menetralisasi penetralisasian tersebut. Orang lain tak memiliki dunia kata-kata untuk menyelamatkan mereka. Tapi ada hal lain, berjalan kaki, trotoar, sebuah pohon, sebuah batu, objek-objek minor tak terhingga yang digubah menjadi tempat bagi mereka melakonkan kemanusiaannya, tempat di mana opresi tak bisa menjangkaunya atau menghancurkannya.

Tahun ini saya mengunjungi sebuah pameran di Palestina, judulnya City Exhibition 5. Pameran itu didedikasikan untuk gagasan tentang “Reconstructing Gaza,” sebuah term yang telah kita dengar berulang-ulang sejak 2014. Para peserta dalam peretunjukkan itu, pelajar dan anak muda, merekonstruksi kota menggunakan puing-puing kota itu sendiri. Kemudian mereka menawarkan benda-benda kesayangan mereka kepada orang-orang Gaza, dari bunga kering sampai gantungan kunci. Sangat menarik untuk mengetahui apa yang dipilih orang-orang itu. Salah seorang bahkan menawarkan untuk membawa bantuan untuk orang-orang Gaza dengan menawarkan sebuah buku puisi dari penyair yang tak dikenal.

Jose Garcia

Apakah Anda mengartikan “jadi biasa saja” itu sebagai mekanisme pertahanan diri?

Adania Shibli

Sesungguhnya saya mengartikan itu sebagai sebuah gerakan seni bela diri. Opresor pertama-tama ingin menghancurkan hasrat hidup Anda, dan kemudian Anda menetralisasinya dengan bertindak seolah ini hal yang normal. Tapi nyatanya Anda menyimpan rahasia di tempat tersembunyi yang mana si opresor anggap terlalu remeh, mereka tak merasa perlu untuk menghancurkanya. Saya ingat saya dua kali pernah diinvestigasi oleh petugas intelijen Israel yang ingin tahu tentang apa yang saya tulis. Ketika saya katakan pada mereka itu semua tentang kisah-kisah cinta yang gagal, mereka kehilangan minatnya terhadap saya.

Jose Garcia

Apakah pemilu AS membutuhkan semacam model “jadi biasa saja” yang baru dibanding yang ada di negeri asal Anda, ataukah sama saja?

Adania Shibli

Bagi saya sepertinya kita tak dapat menyalahkan meluasnya agenda kebencian yang kita saksikan belakangan ini sebagai akibat dari pemilihan umum yang baru terjadi. Saya tidak yakin, bila saja hasilnya berbeda, akan ada perbedaan dalam hal ini. Pemerintahan AS sebelumnya tidak berusaha keras untuk menetralkan kebencian itu. Mungkin akan menjadi semakin parah, tapi hal ini sudah memburuk untuk waktu yang lama, hingga tingkat di mana saya merasa agenda kebencian itu memiliki temponya sendiri, kehidupannya sendiri, dan sepertinya tak terpengaruh oleh pemilu. (*)

Diterjemahkan dari “Adania Shibli on Writing Palestine from the Inside” wawancara oleh Jose Garcia, Februari 2017.

Inspirasi

Buku Harian Steinbeck dan Proses Kreatifnya

mm

Published

on

Dia, Steinbeck, sangat tidak percaya pada pengakuan publik dan rasa puas yang dihasilkannya: “Kehormatan yang aneh. Hal yang paling menyedihkan di dunia.

 

From “How Steinbeck Used the Diary as a Tool of Discipline, a Hedge Against Self-Doubt, and a Pacemaker for the Heartbeat of Creative Work” by BY MARIA POPOVA | www.brainpickings.org |  (p) Virdika R Utama (ed) Sabiq Carebesth

____

Bagaimana Steinbeck Menggunakan Buku Harian sebagai Alat mendisiplinkan diri? membebaskan dirinya dari keraguan dan menjadikan hal itu sebagai alat pacu bagi detak jantung kreatifnya? “Cukup atur pekerjaan satu hari di depan pekerjaan hari terakhir. Begitulah caranya. Dan itulah satu-satunya cara.”

Banyak penulis terkenal telah memperjuangkan manfaat kreatif dari membuat buku harian, tetapi tidak ada yang menempatkan buku harian itu untuk penggunaan praktis yang lebih mengesankan dalam proses kreatif daripada John Steinbeck (27 Februari 1902 – 20 Desember 1968).

Pada musim semi 1938, tak lama setelah melakukan salah satu aksi keberanian artistik terbesar—yaitu mengubah pikiran seseorang ketika sebuah proyek kreatif berjalan dengan baik, seperti yang dilakukan Steinbeck ketika dia meninggalkan sebuah buku yang dia rasa tidak sesuai dengan tugas kemanusiaannya.—dia memulai pengalaman menulis paling intens dalam hidupnya. Buah publik dari kerja ini akan menjadi karya utama tahun 1939, The Grapes of Wrath—sebuah judul yang disetujui isterinya, seorang politisi radikal, Carol Steinbeck, setelah membaca The Battle Hymn of Republic oleh Julia Howe. Novel ini menghasilkan Hadiah Pulitzer Steinbeck pada tahun 1940 dan merupakan landasan bagi Hadiah Nobelnya dua dekade kemudian. Tetapi buah pribadinya dalam banyak hal setidaknya sama pentingnya dan instruktif secara moral.

Bersamaan dengan novel, Steinbeck juga mulai membuat buku harian, akhirnya diterbitkan sebagai Hari Kerja: Jurnal The Grapes of Wrath.

Jurnal The Grapes of Wrath (perpustakaan umum)—buku harian Steinbeck, berisi catatan hidup yang luar biasa dari perjalanan kreatifnya. Hal utama dari buku harian itu adalah pemandangan ambigu: di mana penulis yang luar biasa ini berselisih dengan keraguan diri yang luar biasa bertubi, terkadang penderitaan dan juga kesepian—tetapi ia tetap maju ke depan, dengan semangat dan putaran antusiasme yang setara, didorong oleh tekad yang teguh untuk melakukan yang terbaik dan mungkin. Buku harian menjadi praktik baik penebusan dan bagaimana pun, tampak sebagai sesuatu yang juga transenden.

Steinbeck hanya memiliki dua permintaan untuk buku harian itu—bahwa itu tidak akan dipublikasikan pada masa hidupnya, dan bahwa itu harus dibuat tersedia untuk kedua putranya sehingga mereka dapat “melihat ke belakang mitos dan desas-desus dan sanjungan dan fitnah seorang pria yang hilang menjadi dan untuk mengetahui sampai batas tertentu seperti apa manusia ayah mereka. ”Ia berdiri, di atas segalanya, sebagai bukti tertinggi akan fakta bahwa satu-satunya substansi kejeniusan adalah tindakan harian yang muncul.

Steinbeck in 1959

Steinbeck menangkap ini dengan sempurna dalam catatannya yang berlaku juga untuk bidang usaha kreatif apa pun:

Dalam menulis, kebiasaan tampaknya menjadi kekuatan yang jauh lebih kuat daripada kemauan atau inspirasi. Akibatnya harus ada sedikit kualitas keganasan sampai pola kebiasaan sejumlah kata ditetapkan. Tidak ada kemungkinan, setidaknya dalam diriku, untuk mengatakan, “Aku akan melakukannya jika aku menginginkannya.” Seseorang tidak pernah merasa seperti bangun setiap hari. Bahkan, mengingat alasan terkecil, seseorang tidak akan bekerja sama sekali. Sisanya adalah omong kosong. Mungkin ada orang yang bisa bekerja seperti itu, tetapi saya tidak bisa. Saya harus menurunkan kata-kata saya setiap hari apakah itu ada gunanya atau tidak.

*

Jurnal itu kemudian menjadi alat disiplin diri (dia bersumpah untuk menulis di dalamnya setiap hari kerja, dan melakukannya, menyatakan dalam salah satu catatan pertama: “Bekerja adalah satu-satunya hal yang baik.”), Sebuah mekanisme mondar-mandir (dia memberi dirinya tujuh bulan untuk menyelesaikan buku itu, mengantisipasi itu hanya akan memakan waktu 100 hari, dan menyelesaikannya dalam waktu kurang dari lima bulan, rata-rata 2.000 kata per hari, lama, tidak termasuk buku harian), dan papan suara untuk diri positif yang sangat dibutuhkan -Berbicara dalam menghadapi keraguan terus-menerus (“Saya sangat malas dan hal di depan sangat sulit,” ia putus asa dalam satu catatan; tetapi ia meyakinkan dirinya sendiri di catatan lain: “Keinginan saya rendah. Saya harus membangun kembali keinginan saya. Dan saya bisa melakukannya. ”) Yang terpenting, ini adalah alat pertanggungjawaban untuk membuatnya terus maju meskipun ada banyak gangguan dan tanggung jawab dalam hidup. “Masalah menumpuk sehingga buku ini bergerak seperti siput Tide Pool dengan cangkang dan teritip di punggungnya,” tulisnya, namun yang penting adalah meskipun ada masalah, terlepas dari teritip, ia bergerak. Dia menangkap ini dalam salah satu catatan yang paling pedih, tak lama sebelum menyelesaikan paruh pertama novel:

“Setiap buku tampaknya merupakan perjuangan seumur hidup. Dan kemudian, ketika sudah selesai – pouf! Sudah! Tidak pernah terjadi. Jadi hal terbaik adalah menurunkan kata-kata setiap hari. Dan sekarang saatnya untuk memulai kembali. Dan beberapa hari kemudian, ia kembali ragu-ragu: “Banyak kelemahan saya mulai menunjukkan kepada mereka. Saya harus mengeluarkan benda ini dari sistem otak saya. Saya bukan seorang penulis. Saya telah membodohi diri sendiri dan orang lain. Aku berharap begitu. Keberhasilan ini akan menghancurkan saya dengan pasti. Mungkin tidak akan bertahan lama, dan itu akan baik-baik saja. Saya akan mencoba melanjutkan pekerjaan sekarang. Hanya menjalankan tugas setiap hari. Saya selalu lupa.”

Memang, setelah memulai buku harian itu, Steinbeck memiliki tujuan jelas, pendisiplinan dan perannya sebagai pengingat kemajuan kerjanya saban harian yang semakin meningkat, sering lambat dan kecil, justru yang menghasilkan keseluruhan yang lebih besar. Dalam salah satu catatan pertamanya pada awal Juni, ia menulis:

“Ini adalah buku harian terpanjang yang pernah saya simpan. Tentu saja bukan buku harian tetapi upaya untuk memetakan hari dan jam kerja novel yang sebenarnya. Jika satu hari dilewati maka akan terlihat mencolok pada catatan ini dan akan ada beberapa alasan yang diberikan untuk hal seperti kekeliruan..”

Komitmen Steinbeck terhadap disiplin bukan hanya kesombongan moral atau fetisisme produktivitas—keinginannya sungguh-sungguh untuk menciptakan karya terbesar dalam hidupnya, puncak kemampuannya sebagai manusia yang sadar dan kreatif. Dalam salah satu catatan awal, ia memutuskan:

“Ini pasti buku yang bagus. Itu harus. Saya tidak punya pilihan. Pasti jauh dan jauh dari hal terbaik yang pernah saya coba—lambat tapi pasti, menumpuk detail pada detail sampai gambar dan pengalaman muncul. Sampai semuanya berdenyut-denyut muncul. Dan saya bisa melakukannya. Saya merasa sangat kuat untuk melakukannya.”

Tetapi menurut Dani Shapiro, ada perbedaan tajam antara keyakinan dan keberanian, ini adalah pernyataan yang terakhir, kebajikan yang lebih benar—Steinbeck sangat menyadari segala sesuatu yang mungkin menggagalkan usahanya, kekesalan baik eksternal maupun internal, namun ia tetap memutuskan untuk mengerahkan dirinya, untuk sepenuh hati tentang upaya, meskipun kurangnya kepercayaan diri yang mendalam. Inilah keberanian, hidup yang berdenyut, dari catatan awal lainnya:

“Segala macam hal mungkin terjadi dalam perjalanan buku ini tetapi saya tidak boleh lemah. Ini harus dilakukan. Kegagalan kemauan bahkan untuk satu hari memiliki dampak buruk pada keseluruhan, jauh lebih penting daripada hanya kehilangan waktu dan kata-kata. Seluruh dasar fisik novel ini adalah disiplin penulis, materialnya, bahasa. Dan cukup menyedihkan, jika salah satu dari disiplin itu hilang, semuanya menderita.”

Menulis kadang seperti sebuah tujuan yang puncak, dalam satu catatan ia menyatakan:

Setelah buku ini selesai, saya tidak akan peduli seberapa cepat saya mati, karena pekerjaan utama saya akan berakhir.

Dan di tempat lain:

Ketika saya sudah selesai saya akan bersantai tetapi tidak sampai saat itu. Hidup saya tidak terlalu lama dan saya harus menulis satu buku yang bagus sebelum berakhir.

Tetapi beberapa hari, tekadnya nyaris mengalahkan keraguan dirinya:

“Kalau saja saya bisa mengerjakan buku ini dengan benar, itu akan menjadi salah satu buku yang sangat bagus dan buku yang benar-benar Amerika. Tetapi saya diserang oleh ketidaktahuan dan ketidakmampuan saya sendiri. Saya hanya harus bekerja dari latar belakang ini. Kejujuran. Jika saya dapat menjaga kejujuran, itulah yang dapat saya harapkan dari otak saya yang buruk – jangan pernah marah kepada prasangka pembaca, tetapi bengkokkan seperti dempul untuk pengertiannya.”

Dan beberapa waktu kemudian, keraguan diri itu menjadi sangat luar biasa:

Jika saya bisa melakukan itu semua …. Karena tidak ada orang lain yang tahu kurangnya kemampuan saya seperti yang saya lakukan. Saya mendorongnya sepanjang waktu. Kadang-kadang, saya tampaknya melakukan pekerjaan kecil yang baik, tetapi ketika hal itu dilakukan, itu akan menjadi biasa-biasa saja.

Pada orang lain, ia bisa mengenali keraguan tetapi tidak setuju:

Untuk beberapa alasan saya sedikit gugup. Itu tidak selalu berarti apa-apa. Saya hanya akan menyelam lari dan mengatur apa yang terjadi.

John and Elaine Steinbeck in 1950

Di satu sisi, ini adalah kualitas jurnal (Catatan Harian) yang paling berani—hampir merupakan tulisan suci Buddhis, beberapa dekade sebelum Bradbury’s Zen dalam Seni Menulis, ketika Steinbeck menghadapi pasang surut dan aliran pengalaman. Dia merasakan perasaan keraguannya sepenuhnya, membiarkannya melewatinya, namun mempertahankan kesadaran yang lebih tinggi bahwa mereka hanya: perasaan, bukan Kebenaran.

Namun, yang paling mengejutkan dan paling aneh meyakinkan semua – terutama bagi mereka yang juga bekerja di kuali mendidih ketidakpastian yang merupakan karya kreatif – adalah kasus kronis dan akut Sindrom Impostor milik Steinbeck. Meskipun ia telah mencapai keberhasilan yang kritis dan finansial dengan pekerjaannya sebelumnya, ia tampaknya tidak hanya tidak percaya tetapi juga meremehkan keberhasilan itu, melihat di dalamnya bukan sumber kebanggaan tetapi juga rasa malu. Dalam jurnal awal, ia menulis:

Untuk saat ini, beban keuangan telah dihapus. Tapi itu tidak permanen. Saya tidak dibuat untuk sukses. Saya menemukan diri saya sekarang dengan reputasi yang berkembang. Dalam banyak hal itu adalah hal yang mengerikan … Di antara hal-hal lain saya merasa telah meletakkan sesuatu. Bahwa keberhasilan kecilku ini curang.

Dia sangat keras pada dirinya sendiri, sampai-sampai membiarkan kecurigaannya atas keberhasilannya sendiri membengkak menjadi kecurigaan terhadap keberanian pribadinya dan kebaikan dasar karakternya: Saya harus yakin untuk memilih mana yang cinta dan yang menyesal. Saya bukan orang yang sangat baik. Terkadang murah hati dan baik dan baik dan lain kali berarti dan pendek.

Seperti kebanyakan seniman, ia berulang kali mempertanyakan validitas seni dan kualifikasinya. Bahkan ketika dia hampir menyelesaikan novel yang kelak akan memenangkan Pulitzer dan membawanya mendapatkan Hadiah Nobel, dia masih tidak percaya pada kelebihan dan bakatnya: “Buku ini menjadi kesengsaraan bagiku karena ketidakmampuanku”.

Tak lama sebelum memulai The Grapes of Wrath, Steinbeck menangkap dalam jurnal lain sifat penyelamatan diri yang palsu. “Saya bosan dengan perjuangan melawan semua kekuatan yang telah membawa kesuksesan yang menyedihkan ini terhadap saya. Saya tidak tahu apakah saya bisa menulis buku yang layak sekarang. Itu adalah ketakutan terbesar dari semua. Saya sedang mengerjakannya tetapi saya tidak bisa mengatakannya.”

Dia sangat tidak percaya pada pengakuan publik dan rasa puas yang dihasilkannya: “Kehormatan yang aneh. Hal yang paling menyedihkan di dunia.

Memang, ia mengukur kesuksesannya bukan dari pendapatan atau pujian tetapi dari pekerjaan hari itu. “Inilah buku harian sebuah buku dan akan menarik untuk melihat bagaimana hasilnya. Saya telah mencoba untuk menulis buku harian sebelumnya tetapi mereka tidak berhasil karena keharusan untuk jujur. Dalam hal-hal di mana tidak ada kebenaran yang pasti, saya condong ke arah yang sebaliknya. Kadang-kadang di mana ada kebenaran yang pasti, saya merasa jijik dengan keangkuhannya dan melakukan hal yang sama. Namun dalam hal ini, saya akan mencoba hanya untuk menyimpan catatan hari kerja dan jumlah yang dilakukan di masing-masing dan keberhasilan (sejauh yang saya tahu) hari itu.”

Steinbeck sama-sama tidak terganggu oleh prospek komersial, pekerjaanya adalah sebagai kebutuhan moral: “Tidak tahu siapa yang akan menerbitkan buku saya. Tidak tahu sama sekali. Tidak ada alasan untuk membiarkannya. Harus terus melakukannya. Perlu.”

Proses itu, baginya, didorong oleh apa yang oleh Anne Lamott disebut pendekatan “burung demi burung” untuk ditulis beberapa dekade kemudian. Jurnal kemudian menjadi mekanisme mondar-mandir. Steinbeck menulis:

“Saya bertanya-tanya apakah saya akan pernah menyelesaikan buku ini. Dan tentu saja saya akan menyelesaikannya. Hanya bekerja dalam jangka waktu tertentu dan poco a poco akan selesai. Lakukan saja pekerjaan hari itu.”

__
Selengkapnya dalam Majalah “Book Coffee and More” by Galeri Buku Jakarta

Continue Reading

Interview

Nurani Kata-Kata: Susan Sontag tentang Kebijaksanaan Sastra, Bahaya Opini, dan Tugas Penulis

mm

Published

on

Kita khawatir tentang kata-kata, kita penulis. Kata-kata memiliki arti. Kata-kata menunjukkan sesuatu. Mereka adalah panah. Panah yang terjebak di persembunyian realitas yang keras. Dan semakin mencolok, semakin umum kata itu, semakin mereka juga menyerupai ruangan atau terowongan. Mereka bisa meluas dan memanjang, atau runtuh. Mereka bisa dipenuhi dengan bau tak sedap. Mereka akan sering mengingatkan kita tentang ruangan-ruangan lain, yang lebih suka kita huni atau di mana kita pikir sudah kita huni.

 

___

By: Maria Popova |  (p) Regina L. Helnaz

“Kata-kata adalah milik satu sama lain,” Virginia Woolf berpendapat dalam satu-satunya rekaman suaranya yang masih ada. “Kata-kata adalah peristiwa, mereka melakukan sesuatu, mengubah sesuatu,” Ursula K. Le Guin menulis beberapa dekade kemudian saat merenungkan keajaiban percakapan yang sesungguhnya. Penyair David Whyte kagum pada “ketidakpastian tersembunyi nan indah dan menggugah” ketika ia mulai menghidupkan kembali makna yang lebih mendalam dari kata-kata sehari-hari. Tetapi, apa yang sebenarnya dilakukan kata-kata—apa tanggung jawab mereka terhadap kita dan kita terhadap mereka?

Itulah yang dieksplorasi oleh Susan Sontag (16 Januari 1933 – 28 Desember 2004) dalam pidato penerimaan Jerusalem Prize 2001 yang spektakuler, yang dipublikasikan dengan judul “The Conscience of Words” dalam  At the Same Time: Essays and Speeches (public library)antologi anumerta yang berperan penting dan sangat diperlukan yang menghadirkan Sontag pada kita tentang keberanian moral dan kekuatan perlawanan berprinsip melawan ketidakadilan, kesusastraan dan kebebasan, keindahan vs. ketertarikan, dan nasihatnya kepada para penulis.

Sontag memulai dengan menimbang elastisitas bahasa dan cara kata-kata dapat memperluas makna sebanyak mereka dapat mengerutkannya:

Kita khawatir tentang kata-kata, kita penulis. Kata-kata memiliki arti. Kata-kata menunjukkan sesuatu. Mereka adalah panah. Panah yang terjebak di persembunyian realitas yang keras. Dan semakin mencolok, semakin umum kata itu, semakin mereka juga menyerupai ruangan atau terowongan. Mereka bisa meluas dan memanjang, atau runtuh. Mereka bisa dipenuhi dengan bau tak sedap. Mereka akan sering mengingatkan kita tentang ruangan-ruangan lain, yang lebih suka kita huni atau di mana kita pikir sudah kita huni. Kata-kata bisa berupa ruang tempat kita kehilangan seni atau kebijaksanaan menghuni. Dan pada akhirnya, isi niat batin yang tidak lagi kita ketahui bagaimana menghuninya akan terabaikan, ditutup.

Apa yang kita maksudkan, misalnya, dengan kata “kedamaian”? Apakah yang kita maksudkan adalah tidak adanya perselisihan? Apakah yang kita maksud adalah melupakan? Apakah yang kita maksud adalah pengampunan? Atau apakah yang kita maksudkan adalah kelelahan luar biasa, keletihan, proses kekosongan karena kebencian? Tampaknya, bagi saya, yang dimaksud oleh kebanyakan orang dengan “kedamaian” adalah kemenangan. Kemenangan di pihak mereka. Itulah arti “kedamaian” bagi mereka, sementara bagi orang lain kedamaian berarti kekalahan… Kedamaian menjadi ruang di mana orang tidak lagi tahu cara menghuninya.

Berkaca dari nama lengkap ajang yang menghadirkan pidatonya–the Jerusalem Prize for the Freedom of the Individual in Society–Sontag menggambarkan hubungan penulis dengan kata-kata sebagai alat perantara pribadi:

Yang penting bukanlah apa yang penulis katakan, tetapi ‘apa’ penulis itu sendiri. Para penulis–yang saya maksudkan sebagai anggota komunitas sastra-adalah lambang dari kegigihan (dan kebutuhan) atas visi individual.

Namun karena “ada impuls kontradiktif dalam segala hal,” seperti yang Sontag sendiri dengan tajamnya amati seperempat abad sebelumnya, ada sisi gelap dari gagasan tentang visi individu ini. Dalam sebuah bagian dari aktualitas tertentu di tengah zaman yang kental dengan identitas dan unjuk diri ini, Sontag, yang bertahan hidup selama “the century of the self” (red: dokumenter karya Adam Curtis yang membahas konsumerisme dan demokrasi) menulis:

“Propaganda yang tak henti-hentinya di zaman kita untuk “individu” tampaknya bagi saya sangat mencurigakan, karena “individualitas” itu sendiri menjadi lebih dan lebih lagi sebagai sinonim dari keegoisan. Masyarakat kapitalis memiliki kepentingan pribadi dalam memuji “individualitas” dan “kebebasan” – yang mungkin artinya tidak lebih daripada hak untuk pengembangan diri yang terus-menerus, dan kebebasan untuk berbelanja, memperoleh, menggunakan, mengonsumsi, dan untuk membuat usang.

Saya tidak percaya ada nilai inheren dalam pengembangan diri. Dan saya pikir tidak ada budaya (jika menggunakan istilah tersebut secara normatif) tanpa standar altruisme, jika berkaitan dengan orang lain. Saya percaya ada nilai inheren dalam memperluas pengertian kita tentang kehidupan manusia. Jika sastra telah melibatkan saya sebagai suatu rancangan, pertama sebagai pembaca dan kemudian sebagai penulis, itu adalah perpanjangan dari simpati saya kepada diri-diri lain, domain-domain lain, mimpi-mimpi lain, kata-kata lain, dan teritori lainnya yang menjadi bahan perhatian.

Dalam sebuah sentimen yang hampir kontra budaya saat ini, ketika kita menyaksikan seluruh profesi dibangun di atas maraknya opini yang meluap-luap, Sontag mempertimbangkan tugas sesungguhnya dari penulis:

Susan Sontag

Seorang penulis tidak boleh menjadi mesin opini… Pekerjaan pertama penulis adalah untuk tidak memiliki opini, tetapi untuk mengatakan yang sebenarnya… dan menolak untuk menjadi kaki tangan dari kebohongan dan informasi yang salah. Sastra adalah rumah nuansa dan perselisihan melawan suara-suara penyederhanaan. Tugas penulis adalah mempersulit orang untuk memercayai para perampok batin. Tugas penulis adalah membuat kita melihat dunia apa adanya, penuh dengan berbagai klaim dan bagian, serta pengalaman.

Adalah tugas penulis untuk menggambarkan realitas: realitas busuk, realitas yang penuh dengan berbagai emosi. Ini adalah inti dari kebijaksanaan yang disediakan oleh sastra untuk membantu kita memahami bahwa, apa pun yang terjadi, hal lainnya selalu terjadi.

Ada sesuatu yang vulgar tentang penyebaran opini secara publik tentang hal-hal yang mana seseorang tidak memiliki pengetahuan pribadi yang luas. Jika saya berbicara tentang apa yang tidak saya ketahui, atau yang saya ketahui dengan tergesa-gesa, ini hanya sekadar penyebaran opini belaka.

[…]

Masalahnya dengan opini adalah bahwa seseorang terjebak dengannya. Dan setiap kali penulis menjalankan fungsinya sebagai penulis, mereka selalu melihat… lebih.

Membuktikan kekuatan literatur untuk mengembalikan nuansa dan merayakan apa yang penyair Elizabeth Alexander sebut “multivocality, polyphony, gumbo yaya,”

Kata-kata Sontag memancarkan pengakuan yang menyakitkan tentang kecenderungan kontemporer kita untuk membentuk opini instan dan salah mengartikan apa yang sebenarnya merupakan reaksi terhadap reaksi sebagai opini yang mendasarkan diri pada informasi (informed opinion). Dia mengamati:

Jika sastra itu sendiri, usaha besar ini yang telah dilakukan (dalam lingkup kita) selama hampir tiga ribu tahun, mengandung sebuah kebijaksanaan– dan saya pikir memang begitu dan merupakan inti dari seberapa pentingnya arti yang kita berikan pada sastra–adalah dengan menunjukkan berbagai watak dari takdir pribadi dan komunal kita. Itu akan mengingatkan kita bahwa mungkin ada kontradiksi, terkadang konflik yang tak dapat direduksi, di antara nilai-nilai yang paling kita hargai.

Dari penghargaan atas multiplisitas dan komplementaritas ini muncul tugas sastra tertinggi, serta penghargaan terbesarnya. Berabad-abad setelah Hegel, salah satu yang berpengaruh besar baginya, mengingatkan tentang bahaya fixed opinions, Sontag menulis:

Kebijaksanaan sastra cukup antitesis dengan memiliki opini… Mengutarakan opini, bahkan opini yang benar—kapan pun diminta–merendahkan apa yang dapat dilakukan oleh para novelis dan penyair dengan baik, yaitu mensponsori reflektifitas, untuk mengejar kompleksitas. (RH)

______
Selengkapnya di majalah “Book Review and More” by Galeri Buku Jakarta

Continue Reading

Interview

Pribadi yang Ketiga: Mary Oliver pada Waktu, Konsentrasi, Tugas Seniman, dan Komitmen Inti pada Kehidupan Kreatif

mm

Published

on

“Manusia paling menyesal di dunia adalah mereka yang diberkati panggilan jiwa di bidang kreatif, yang merasakan kekuatan kreatif dalam mereka terus bergolak dan memberontak, dan ia tidak memberikan kekuatan maupun waktu untuk panggilan jiwa itu.”

by MARIA POPOVA | (p) Alethea Monica (e) Sabiq Carebesth
___

“Di dalam konsentrasi yang sepenuh hati,” tulis penyair Jane Hirshfield dalam pertanyaannya yang indah tentang usaha kreativitas “dunia dan diri mulai bersatu. Dengan kondisi itu muncul suatu perluasan: dari apa yang mungkin diketahui, apa yang mungkin dirasakan, apa yang mungkin dilakukan.”

Namun konsentrasi adalah sebuah seni yang sulit, seni adalah seni, dan tingkat kesulitannya terletak pada konsiliasi konstan dan ketidakselarasan antara diri sendiri dan dunia—suatu kesulitan ganda untuk kondisi tertentu pada waktu kita.

Dua tahun yang lalu sebelum era media sosial, seorang seniman yang hebat asal Perancis; Eugène Delacroix mengeluhkan siksaan yang dibutuhkan untuk menghindari gangguan sosial dalam bidang kreatif; satu setengah abad kemudian, Agnes Martin mengingatkan para calon seniman untuk melakukan penegasan dalam interupsi yang mungkin mereka lakukan, atau merusak privasi mental, emosi, dan spiritual dimana inspirasi muncul.

Namun sama seperti self-critism adalah kritik yang paling tak kenal ampun, self-compassion adalah jenis belas kasih yang paling sulit dipahami, self-distraction adalah jenis gangguan yang paling berbahaya, dan paling sulit untuk dilindungi dalam bidang kreatif.

Bagaimana melindungi nilai terhadap bahaya adalah yang dieksplorasi oleh seorang penyair yang tercinta, Mary Oliver (10 September 1935 – 17 Januari 2019) di dalam sebuah karya yang indah berjudul Dari Kekuatan dan Waktu,” yang ditemukan bersamaan dengan sebuah esai Upstream: Selected Essays (public library).

Oliver menulis: Hari itu adalah pagi yang seperti biasa. Saya sedang di meja. Kemudian telepon berdering, atau seseorang mengetuk pintu. Saya sedang tenggelam dalam benak saya. Dengan enggan saya beranjak, menjawab telepon atau membukakan pintu. Dan pemikiran yang saya pegang, atau yang hampir saya genggam, kemudian hilang… [b]idang kreatif butuh kesendirian. Bidang kreatif membutuhkan konsentrasi tanpa interupsi. Itu membutuhkan seluruh langit untuk dituju, dan tak ada sorot mata melihat hingga sampai pada kepastian yang diinginkannya, namun tidak semuanya secara serentak. Privasi. Sebuah tempat yang terpisah – untuk melangkah, untuk mengunyah pensil, untuk mencoret-coret dan menghapus kemudian mencoret-coret kembali.

Tetapi sama seringnya, jika tidak lebih sering, interupsi tidak datang dari orang lain namun dari diri sendiri, atau diri lain di dalam diri, bersiul dan menggedor panel pintu dan melemparkan diri, menceburkan diri dalam kolam meditasi. Dan apa yang harus dikatakan? Anda harus menelepon dokter gigi, Anda kehabisan mustar, dua minggu kemudian ulang tahun pamanmu yang bernama Stanley tiba. Anda bereaksi, pasti. Kemudian Anda kembali bekerja, hanya untuk menemukan secuplik ide yang telah kembali menuju kabut.

Oliver mengistilahkan ini dengan “intimate interrupter” dan memperingatkan bahwa jauh lebih berbahaya untuk bidang kreatif daripada gangguan eksternal, sebagai tambahan:

“Dunia menumpahkan, dengan cara yang energik dari tempat yang terbuka dan umum, banyak ucapan salam, seperti dunia yang seharusnya. Pertengkaran apa yang dapat terjadi dengan itu? Namun diri dapat mengganggu diri—dan memang – gelap dan masalah yang lebih membuat penasaran.

Mary Oliver

Menggemakan kebingungan Borges atas kepribadian kami yang terpecah belah, Oliver menetapkan pemberlakuan untuk menggali batu penyusun di dalam diri secara berurutan untuk memahami kapasitas secara paralel untuk aliran fokus kreatif dan interupsi tanpa ampun.

Dia mengidentifikasi tiga diri utama yang didiami, dan yang mendiami dia, ketika mereka melakukan semua dari kita: diri sendiri pada masa kecil, yang kita habiskan dalam hidup mencoba untuk menjalin kelanjutan dalam identitas pribadi (“Masa kecil saya pada waktu itu,” dia menulis, “ada bersama saya di jam sekarang pada saat ini. Akan bersama dengan saya dalam kubur.”); pribadi secara sosial, “terbelenggu dengan ribuan pengertian tentang kewajiban”; dan pribadi yang ketiga, semacam kesadaran dalam dunia lain.

Dua pribadi yang pertama, dia membantah, mendiami dunia biasa dan berada dalam setiap orang; pribadi yang ketiga adalah tatanan yang berbeda dan lebih muda hidup dalam diri seorang seniman–Itu adalah tempat sumber energi kreatif berada. Dia menulis:

Pasti ada dalam setiap diri kita, seorang peri yang bukan anak-anak, bukan pula hamba waktu. Itu adalah pribadi ketiga, sesekali dalam diri kita, otoriter dalam diri orang lain. Pribadi ini keluar dengan cinta secara biasa; karena cinta dengan waktu. Haus akan keabadian.

Oliver membedakan tujuan eksistensial dari dua pribadi biasa dengan pribadi yang kreatif:

Katakanlah Anda telah membeli tiket pesawat dan berniat untuk melakukan penerbangan dari New York ke San Fransisco. Apa yang Anda tanyakan kepada pilot ketika Anda menaiki pesawat dan mengambil tempat duduk bersebelahan dengan jendela, yang Anda tak dapat dibuka namun melalui jendela itu Anda dapat melihat ketinggian yang membuat pusing ketika Anda diangkat dari bumi yang aman dan bersahabat ini?

Tentu saja Anda mau pilot menjadi pribadi yang reguler dan biasa. Anda ingin dia untuk mendekati dan melakukan pekerjaannya dengan ketenangan. Anda tidak menginginkan kemewahan, tidak menginginkan sesuatu hal yang baru. Anda meminta dia untuk melakukan hal yang rutin dilakukan, apa yang dia tahu bagaimana melakukannya–menerbangkan pesawat. Anda berharap dia tidak bermimpi. Anda berharap dia tidak akan menukik ke sebuah pemikiran yang berliku-liku. Anda mau penerbangan ini menjadi penerbangan yang biasa saja, tidak luar biasa. Jadi, sama saja halnya dengan dokter bedah, pengemudi ambulans, dan kapten sebuah kapal. Biarkanlah mereka semua bekerja seperti seharusnya yang biasa mereka lakukan dengan kepercayaan diri yang dibutuhkan pekerjaan pada umumnya, tidak lebih. Kebiasaan mereka adalah jaminan dunia. Kebiasaan mereka membuat dunia tetap berputar.

[…]

Di dalam bidang kreatif–apa pun bidang kreatifnya—mereka yang merupakan seniman yang tidak berusaha untuk membantu dunia tetap berputar, namun tetap maju. Yang mana merupakan sesuatu hal yang sama sekali berbeda dari kebiasaan. Pekerjaan seperti itu tidak menyanggah hal yang biasa. Sederhana saja, sesuatu hal yang lain. Pekerjanya membutuhkan sudut pandang yang berbeda—serangkaian prioritas yang berbeda.

Bagian dari sesuatu yang lain ini, Oliver menyangkal, adalah sebuah penggabungan yang tidak biasa dari pribadi yang kreatif—pekerjaan seorang seniman tidak dapat dipisahkan dari kehidupan secara keseluruhan dari seniman itu sendiri, juga keutuhannya tidak dapat dipecah menjadi potong-potongan mekanik dari tindakan dan kebiasaan tertentu. (Di tempat lain, Oliver telah menulis secara indah tentang bagaimana suatu kebiasaan memberikan bentuk namun tidak perlu mengendalikan kehidupan batin kita).

Suatu gagasan dari Keats tentang “kemampuan negatif,” Dani Shapiro mendesak bahwa tugas seorang seniman adalah “untuk merangkul ketidakpastian, untuk diasah dan dikikir olehnya,” dan Georgia O’Keeffe menasihati bahwa sebagai seorang seniman, Anda sepatutnya “menjaga yang tidak kenal selalu diluar Anda,” Oliver mempertimbangkan komitmen utama dari kehidupan kreatif – yang membuat ketidakpastian dan hal yang tidak diketahui bahan baku dari sebuah seni:

Intelektual terkadang mampu bekerja di dalam seni, spiritual tentunya bekerja, dan karya artistik selalu bekerja—Ini adalah kekuatan yang berada dalam genggamannya, kekuatan yang harus menjelajah melampaui dunia saat ini dan mengendalikan kebiasaan itu. Pekerjaan yang sebenarnya tidak dapat dipisahkan dari kehidupan kita secara utuh. Seperti para ksatria pada Abad Pertengahan, hanya ada sedikit orang yang cenderung kreatif dapat melakukannya namun sibuk untuk mempersiapkan dirinya sendiri, jiwa dan raga, untuk pekerjaan yang akan datang—untuk petualangannya yang tidak diketahui. Pada kenyataannya, pekerjaan kreatif itu adalah bagian dari petualangan itu sendiri. Dan tidak ada seniman yang dapat mengerjakan pekerjaan ini, atau ingin melakukannya, dengan energi dan konsentrasi yang tidak utuh. Seni adalah suatu hal yang luar biasa.

Dalam sebuah kepekaan perasaan yang mengingatkan pada surat milik Van Gogh yang bersemangat dalam mengambil resiko dan bagaimana suatu kesalahan yang mengilhami dalam melangkah maju, Oliver kembali pada pertanyaan dari suatu kondisi yang membujuk suatu kreativitas menjadi:

Belum ada yang membuat daftar tempat-tempat dimana suatu hal yang luar biasa dapat terjadi dan tempat-tempat mana yang tidak. Namun masih tetap ada indikasi. Di antara keramaian, dalam ruangan menggambar, di antara kenikmatan, kenyamanan, dan kesenangan, itu jarang terlihat. Itu seperti sisi luar dari pintu. Itu bagaikan pemikiran yang terpusat. Itu ibarat kesendirian. Itu lebih seperti pengambil resiko (risk-taker) daripada pengambil tiket (ticket-taker). Bukannya itu akan mengecilkan arti sebuah kenyamanan, atau menetapkan rutinitas dunia, namun perhatiannya lebih mengarahkan ke tempat lain. Perhatiannya ada pada batas, dan pembuatan bentuk dari ketidakberwujudan yang melebihi batas.

Di atas dari segalanya, Oliver mengamati dari “platform yang beruntung” dari kehidupan yang panjang, penuh dengan tujuan, dan subur, tugas dari seniman adalah salah satu komitmen yang teguh terhadap seni:

Dari sini tentu tidak ada pertanyaan—bidang kreatif membutuhkan kesetiaan seutuh kesetiaan air pada gaya gravitasi. Seseorang yang berjalan dengan susah payah melalui hutan belantara ciptaan yang tidak mengetahui hal ini – yang tidak ‘menelan’ ini – akan hilang. Dia yang tidak mendambakan bahwa keabadian tempat tak beratap harus tinggal di rumah. Orang yang seperti itu sangat layak, berguna, dan bahkan indah, namun bukan seorang seniman. Orang yang seperti itu memiliki kehidupan yang lebih baik dengan ambisi yang tepat dan menyelesaikan pekerjaan yang dibentuk hanya untuk hal yang gemilang pada saat ini. Orang yang seperti itu sebaiknya pergi dan menerbangkan pesawat.

Dia kembali pada masalah konsentrasi, yang bagi seniman adalah suatu bentuk, mungkin bentuk tertinggi dari konsekrasi:

Seniman yang bekerja dan berkonsentrasi adalah orang dewasa yang menolak gangguan dari dirinya sendiri, yang tetap menyerap energi dengan bekerja – yang dengan demikian bertanggungjawab atas pekerjaan tersebut… Gangguan serius untuk bekerja, oleh karena itu, tidak pernah ada gangguan yang tidak menguntungkan, gembira, bahkan menyambut gangguan itu dengan penuh kasih sayang, semua gannguan yang datang kepada kita dari orang lain.

[…]

Saat ini pukul 6 pagi, dan saya sedang bekerja. Saya sedang linglung, ceroboh, lalai dari kewajiban sosial, dan lain-lain. Seperti yang seharusnya. Ban kempes, gigi runtuh, akan ada ratusan makanan yang disajikan tanpa saus mustar. Puisi itu ditulis. Saya telah bergumul dengan malaikat itu dan saya ternodai dengan cahaya namun saya tidak memiliki rasa malu. Saya juga tidak bersalah. Saya bertanggungjawab bukan untuk hal yang biasa, atau yang tepat waktu. Itu tidak termasuk saus mustar atau gigi. Itu tidak meluas pada tombol yang hilang maupun kacang di dalam pot. Kesetiaan saya adalah visi di dalam diri, kapan saja dan bagaimanapun juga itu akan tiba. Bila saya ada rapat dengan Anda pada pukul tiga, bergembiralah bila saya terlambat. Lebih bergembira lagi bila saya tidak datang sama sekali.

Tidak ada cara lain yang layak dilakukan untuk karya seni. Dan kesuksesan sesekali bagi pekerja keras sangat berarti melebihi apapun. Manusia yang paling menyesal di dunia adalah mereka yang merasa panggilannya di bidang kreatif, yang merasakan kekuatan kreatif mereka sendiri bergolak dan memberontak, dan tidak memberikan kekuatan maupun waktu untuk itu.

Hulu adalah pembacaan yang sangat vital dalam totalitas, membumi dan menaikkan dalam waktu yang bersamaan. Dilengkapi dengan Oliver pada cinta dan keliaran yang diperlukan, apa arti perhatian yang sebenarnya, dan ukuran hidup yang dijalani dengan baik? (*)

Editor: Sabiq Carebesth

Continue Reading

Trending