Connect with us

Journal

ADAM SMITH: ORANG SUCI PELINDUNG PERSAINGAN BEBAS

mm

Published

on

; Wealth of Nations (Kekayaan Bangsa-bangsa)

 

Dalam masa dua bulan setelah buku Tom Paine Pikiran Sehat merangsang pengendapan Pernyataan Kemerdekaan dan kejadian-kejadian besar yang lain dari revolusi Amerika, sebuah buku yang kelaknya akan menimbulkan reaksi besar dalam lapangan lain dari kegiatan manusia telah terbit di London. Berbeda dari pembicaraan Paine yang bernyala-nyala, karangan Adam Smith yang berat dan terdiri dari dua jilid. Sebuah penyeledikan mengenai Fitri dan Sebab-sebab dari Kekayaan Bangsa-bangsa (An Inguirv Into the Nature and Causes of the Wealth of Nations) adalah sebuah bom penggerak yang diperlambat, yang pada waktu mula-mula diterbitkan sedikit sekali menarik perhatian. Baru diabad berikutnya, setelah pengarangnya meninggal, karangan ini memperlihatkan pengaruhnya yang penuh.

Tahun 1776 seyogyanya dapat dianggap sebagai akhir dari suatu kurun jaman dan titik permulaan dari kurun jaman yang baru. Revolusi Amerika sudah dimulai, sedangkan revolusi Perancis sedang menggelegak-gelegak, dan revolusi industri yang dicetuskan oleh penemuan tenaga uap lagi giat mengumpulkan kecepatan. Seorang komentator telah menchaskan jaman yang lewat sebagai “masa gelap dari jaman modern”. Di Inggris setiap segi kehidupan ekonomi dalam kenyataannya berada dibawah pengawasan pemerintah yang keras. Harga-harga ditetapkan, gaji dan jam kerja ditentukan, produksi disalurkan, dan perdagangan luar negeri, baik impor maupun ekspor dikuasai seluruhnya oleh negara. Peperangan hampir selalu ada. Politik nasional memerlukan tentara dan angkatan laut yang kuat, jumlah penduduk yang besar, perebutan jajahan diseluruh penjuru dunia dan usaha-usaha untuk melemahkan negara-negara saingan seperti: Perancis, baik dengan jalan yang halal maupun dengan akal busuk. Setiap usul untuk mengadakan pembagian kekayaan yang merata ditolak dengan keras oleh golongan pemerintah. Pendidikan hanya disediakan bagi segolongan kecil yang punya hak-hak istimewa, hukum pidana sangat keras, sedangkan hak politik buat orang banyak untuk sebagian besar hanya ada dalam teori saja, tidak dalam praktek.

Sesuai dengan kebiasaan yang sudah berlangsung selama beberapa turunan, kaum bangsawan pedalaman masih saja menguasai pemerintahan. Tapi suatu klas baru yang kuat terdiri dari kaum saudagar dan kaum industrialis mulai bangun, dan mereka ini menuntut dan memperoleh hak-hak istimewa buat mereka sendiri. Menurut pandangan golongan ini, eksport adalah suatu rakhmat, sedangkan import suatu bencana; uang tidak boleh dikeluarkan dari dalam negeri; suatu keseimbangan dagang yang “menguntungkan” harus dijaga; gaji buruh harus rendah sedangkan waktu kerja mereka harus lama; pajak yang tinggi harus melindungi industri dalam negeri; suatu armada niaga yang kuat perlu sekali adanya; dan setiap tindakan yang menguntungkan kaum merkantilis ini ipso facto dianggap tindakan yang menguntungkan negara sebagai keseluruhan. Parlemen yang berada di bawah tekanan suara yang keras, telah menjadikan sebagian besar dari konsep ini menjadi undang-undang.

Lalu datanglah Adam Smith, yang bermaksud meledakkan pikiran-pikiran ini, pikiran-pikiran mana ia anggap salah dan merugikan. Kehidupan kedewasaan Smith sampai saat ini, boleh dianggap sebagai suatu persiapan untuk pekerjaan raksasa yang kini hendak ia kerjakan. Ia adalah seorang bumiputera Skotlandia. Waktu ia berumur empatbelas tahun (1737) ia mencatatkan diri di Universitas Glosgow. Disana ia dipengaruhi oleh seorang pendidik besar Francis Hutcheson. Keyakinan gurunya ini yang seringkali dikutip orang, yaitu “kebahagiaan terbesar bagi jumlah terbesar” kemudian menjadi filsafat Smith yang menentukan untuk selama-lamanya. Setelah pindah ke Universitas Oxford dimana ia belajar selama enam tahun. Smith mempergunakan sebagian besar waktunya untuk menelaah bacaan-bacaan yang berkenaan dengan segala macam soal, sebanyak-banyaknya. Setelah ia kembali ke Skotlandia, ia memberikan ceramah-ceramah umum sampai tahun 1751, tatkala mana ia diangkat mula-mula untuk mengajarkan logika dan metafisika dan tak lama kemudian untuk mengajarkan filsafat moral di Glasgow. Selama duabelas tahun ia memberikan tenaganya sebagai seorang pengajar yang berbakat dan populer. Reputasinya ini bertambah naik setelah ia menulis sebuah buku yang sangat digemari orang Teori Sentimen Moral (Theory of Moral Sentiments) – sebuah karya yang dianggap kawan-kawan sejamannya lebih besar dari Kekayaan Bangsa-bangsa. Karena tertarik oleh pembayaran yang banyak. Smith meletakkan jabatannya sebagai guru besar lalu menemani seorang pemuda bangsawan sebagai kawan dan guru, dalam perjalanan selama tiga tahun dibenua Eropa. Waktu itu ia berkenalan, terutama di Perancis, dengan ahli-ahli ekonomi, filsafat dan pemikiran-pemikiran politik yang terkemuka.

Dalam tahun 1759, sudah ada rangka-rangka yang kemudian akan menjadi buku Kekayaan Bangsa-bangsa dalam catatan-catatan Smith, tapi buku ini lambat sekali dalam proses pematangannya. Pemusatan pikiran yang bertahun-tahun, telaah dan bacaan, penglihatan langsung, percakapan dengan pelbagai tokoh dari pelbagai lingkungan dan perobahan-perobahan yang tak habis-habisnya harus berlangsung dulu sebelum Smith bersedia untuk menyerahkan kerja besarnya ini kepada pencetak. Selama tiga tahun sebelum buku ini diterbitkan, kebanyakan ia berdiam di London, dimana ia mempercakapkan bukunya dengan Benjamin Franklin, wakil koloni Amerika. Baru tanggal sebilan Maret tahun 1776, buku itu keluar dari percetakan. Semenjak itu buku tersebut telah mengalami cetakan-ulangan yang tak terhitung dan telah diterjemahkan kedalam hampir semua bahasa yang hidup didunia ini.

Paparan ensiklopedia dari Kekayaan bangsa-bangsa menyebabkan nilai buku ini lebih lagi dari hanya sebuah pembicaraan tentang ekonomi. Salah seorang pengeritik telah menyebut buku ini “Sebuah sejarah dan kritik dari segela peradaban Eropa”. Setelah mulai dengan sebuah istikarah tentang pembagian pekerjaan. Smith menyimpang kepembicaraan mengenai asal-usul dan pemakaian uang, harga dari barang-barang, gaji buruh, keuntungan stock, sewa tanah, harga perak dan perbedaan antara kerja yang produktif, dan kerja yang tak produktif. Kemudian ia teruskan dengan pembicaraan tentang perkembangan ekonomi Eropa semenjak jatuhnya Kemaharajaan Roma, uraian dan kritik yang panjang terhadap politik perdagangan dan jajahan negara-negara Eropa, penghasilan raja, berbagai cara pertahanan dan administrasi pengadilan dalam masyarakat yang primitif, asal dan perkembangan tentara-tentara tetap di Eropa, sebuah sejarah pendidikan jaman Abad Pertengahan dan kritik terhadap universitas-universitas jaman Smith, sebuah sejarah kekuasaan duniawi gereja, pertumbuhan hutan umum, dan sebagai peutup penyelidikan tentang prinsip-prinsip pajak dan sistim-sistim dari penghasilan umum.

Thesis umum Smith, atas mana telah ia dasarkan Kekayaan Bangsa-bangsa, yang kiranya tak akan mengherankan kedengarannya jika diucapkan oleh Niccolo Machiavelli, ialah; setiap manusia beroleh dorongan terutama dari ingatan  pada kepentingan diri sendiri. Dorongan dan motif yang berdasarkan keuntungan diri sendirilah yang menjadi latar belakang dari segala kegiatan manusia. Selanjutnya, bukannya ia menganggap segi kelakuan manusia ini sebagai sesuatu yang harus ditolak dan tidak dikehendaki, tapi Smith percaya, bahwa sifat cinta diri sendiri dari seorang individu baik akibatnya bagi kemakmuran masyarakat. Kemakmuran suatu negara akan terjamin sebaik-baiknya, demikian sarannya, dengan mengijinkan “manusia melakukan usaha-usaha yang seragam, tetap dan tidak terhalang-halang untuk memperbaiki nasibnya………, Bukan dari kebaikan hati seorang tukang  daging, atau pembuat bir atau pemasak roti kita harapkan santapan kita, tapi dari perhatian mereka terhadap kepentingan diri mereka sendiri. Kita bicara bukan kepada rasa kemanusiaan mereka, tapi kepada cinta mereka terhadap diri mereka sendiri. Dan kita tidak akan membicarakan kebutuhan-kebutuhan kita, tapi keuntungan-keuntungan mereka”. Bagian yang seperti inilah yang menyebabkan Ruskin menganggap Smith “seorang Skot yang tanggung didikannya dan berpengetahuan separuh yang mengajarkan kemurtadan secara berencana: “Engkau harus membenci Penciptamu, Tuhanmu, buang semua petunjukNya dan rebut harta sesamamu.”

Industri modern, demikian kata Smith, hanya mungkin jika ada pembagian pekerjaan dan penumpukan modal – dan kedua-duanya ini ada oleh karena adanya kepentingan diri sendiri, atau “susunan alam” seperti disebutkan oleh ahli-ahli filsafat abad ke XVIII. Dengan tak disadari suatu “bimbingan dewata” telah memimpin manusia begitu rupa, sehingga dengan jalan bekerja untuk kepentingan diri sendiri, ia dapat memberikan sumbangan untuk kebaikan sesamanya. Tentu saja dapat dimengerti, bahwa campur tangan pemerintah dalam susunan ekonomi harus kurang sekali – pemerintah yang baik, seperti kata Tom Paine dalam hubungan lain, ialah pemerintah yang memerintah sesedikit-sedikitnya.

Sebuah ilustrasi grafis, mengenai pembuatan peniti, telah dipegunakan oleh Smith untuk memperlihatkan keuntungan dari adanya pembagian pekerjaan; “Seorang pekerja yang tidak terdidik dalam pekerjaan ini …………. dan juga tidak kenal mesin-mesin yang dipergunakan untuk kepentingan ini ……. dengan segala usahanya, barangkali paling banyak dapat membuat sebuah peniti dalam satu hari dan pasti tidak akan sanggup membuat duapuluh buah”. Dengan jalan memecahkan proses pembuatan ini “menjadi delapan belas tindakan-tindakan yang terpisah, yang dibeberapa pabrik dijalankan oleh pekerja-pekerja yang bekerja terbagi-bagi…………. Saya telah pernah melihat pabrik seperti ini dimana dipekerjakan hanya sepuluh tenaga pekerja ………….. yang membuat lebih dari 48.000 buah peniti sehari”. Ini adalah hasil “dari pembagian dan kombinasi dari tindakan-tindakan yang sulit dengan cara yang baik”.

Pembagian pekerjaan ini, demikian menurut Smith, berasal dari bangsa-bangsa primitif.

Dalam sebuah suku pengembala dan pemburu, misalnya seseorang jauh lebih cepat dan cekatan dari pada yang lain dalam membuat panah dan busur. Ia seringkali menukar buatannya; ini dengan sapi atau hewan liar kepunyaan kawan-kawannya; dan akhirnya ia ketahui, bahwa dengan cara begini ia bisa mendapat lebih banyak sapi dan hewan liar dari pada jika ia sendiri pergi kepadang untuk menangkapnya. Jadi karena mengingat kepentingan diri sendiri, pembuatan panah dan busur tumbuh menjadi usaha tetapnya …………. Sedangkan yang lain, cekatan dalam membuat rangka dan atap pondok-pondok kecil atau gubuk-gubuk mereka yang dapat dipindah-pindahkan.

Dengan cara yang sama yang ketiga menjadi seorang pandai besi atau penempa tembaga; selanjutnya ada yang menjadi penyamak atau penghias kulit atau jangat ………….. dan dengan demikian, dengan adanya kepastian untuk menukarkan semua bagian yang berlebih dari hasil pekerjaan yang masih tinggal dan tak ia perlukan untuk pakaiannya sendiri, dengan bagian yang demikian pula dari hasil kerja orang lain yang masa-masanya ia perlukan, manusia beroleh dorongan untuk mengasyikkan diri dengan suatu pekerjaan tertentu dan mengembangkan serta mengusahakan kesempurnaan bakat atau kepandaian istimewa yang ada padanya buat kepentingan macam pekerjaan yang khas itu.

Kemudian Smith melanjutkan pembicaraannya mengenai uang dan harga barang. Smith mengemukakan suatu pendirian yang ditolak karena dianggap salah oleh ahli-ahli ekonomi kuno, tapi yang kemudian diterima luas sebagai seruan tanda berkumpul bagi pemikir-pemikir sosialis dari kurun jaman kemudian. Ia berkata: “Hanya kerja, sebagai sesuatu, yang tak berubah nilainya, yang boleh dianggap sebagai standar satu-satunya dan yang sebenarnya, yang dapat dipergunakan untuk menilai dan membandingkan harga setiap barang dalam setiap jaman dan setiap tempat. Ini adalah harga nyatanya; sedangkan uang hanyalah harga nominalnya.”

Tidak ada  dalam buku Kekayaan Bangsa-bangsa kita jumpai suara Smith yang begitu tegas bahkan kadang-kadang amarah seperti dalam terdapat antara kaum majikan dan buruh dan dalam opisisinya terhadap pendirian kaum merkantilis yang mengatakan, bahwa gaji yang rendah akan memaksa buruh untuk bekerja lebih banyak dan dengan demikian menambah kekayaan Inggris. Mengenai yang pertama, ia mengulas. “Buruh ingin beroleh sebanyak mungkin, sedangkan para majikan ingin memberikan sesedikit mungkin. Yang pertama akan bersatu untuk menaikkan gaji, sedangkan golongan kedua akan bersatu untuk menurunkan gaji”.

Ia melanjutkan:

Tapi tidaklah sulit untuk mengetahui, yang mana dari kedua golongan ini, biasanya, yang mempunyai kedudukan terbaik dalam pertikaian ini, dan yang akan dapat memaksa lawannya untuk menyetujui syarat-syarat mereka. Kaum majikan, karena jumlahnya lebih-kecil, akan lebih mudah bersatu. Disamping itu undang-undang memberikan hak-hak atau setidak-tidaknya tidak melarang persatuan mereka, sedangkan persatuan buruh adalah terlarang. Sekarang ini tidak ada undang-undang yang melarang persatuan dengan maksud merendahkan gaji buruh. Tapi sebaliknya banyak sekali undang-undang yang menghalangi kenaikan gaji buruh. Dalam perselisihan-perselisihan seperti ini kaum majikan lebih lama dapat bertahan. Seorang tuan tanah, seorang petani, seorang pemilik pabrik atau seorang saudagar umumnya masih dapat hidup setahun dua dengan persediaan-persediaan yang telah mereka punyai, biarpun mereka tak memakai seorang buruhnya jua. Kebanyakan buruh tidak bisa tahan lebih lama dari seminggu, sebagian kecil dapat bertahan sampai sebulan, sedangkan yang sanggup bertahan sampai setahun dengan tiada pekerjaan boleh dikatakan hampir tidak ada sama sekali. Dalam jangka panjang buruh sama perlunya bagi seorang majikan, seperti seorang majikan bagi buruh, tapi keperluan kaum majikan tidaklah begitu langsung sifatnya.

Simpati Smith yang jelas bagi kaum pekerja rendahan dapat dilihat dalam bait-bait seperti dibawah ini:

Golongan pelayan, buruh dan pekerja dari bermacam lapangan adalah golongan terbesar dalam setiap masyarakat politik yang besar. Apa yang dapat menyebabkan perbaikan bagi keadaan golongan tebesar ini tidak mungkin diterima sebagai suatu yang menyusahkan bagi keseluruhannya. Tidak ada masyarakat yang perkembangan dan kebahagiaannya dapat dijamin, dimana bagian terbesar dari anggota-anggotanya adalah miskin dan melarat. Disamping itu adalah adil, jika mereka yang memberi makan, pakaian dan rumah kepada seluruh rakyat, beroleh bagian dari hasil pekerjaan mereka dan dapat makan, pakaian dan tempat tinggal yang cukup dan baik……………… Penghargaan terhadap pekerjaan mereka yang tinggi …………. akan menaikkan kerajinan rakyat biasa. Gaji yang diperoleh dari perburuhan adalah pendorong kerajinan, kerajinan mana seperti juga halnya dengan sifat-sifat manusia yang lain, akan bertambah baik sesuai dengan penghargaan yang ia peroleh ……………. karena itu, dimana gaji tinggi, kita selalu akan menjumpai para pekerja yang lebih giat, rajin dan cepat, daripada ditempat dimana gaji adalah rendah.

Dan lagi:

Pedangang-pedagang dan industrialis-industrialis kita banyak mengeluh disebabkan kenaikan gaji yang mengakibatkan kenaikan harga dan dengan demikian mengurangkan penjualan barang-barang mereka baik di dalam maupun di luar negeri. Apa akibat yang timbul dari keuntungan mereka yang tinggi, mereka tidak mau bicara apa-apa sama sekali. Mereka menutup mulut mengenai akibat yang merusak dari keuntungan mereka sendiri. Mereka hanya mau megneluh tentang orang lain.

Dua puluh tahun sebelum Pirnsip-prinsip pertumbuhan Penduduk (Principles of Population) disiarkan, teori-teori Malthus sudah didengung-dengungkan oleh Smith:

Setiap spesi hewan menurut alam berlipat-ganda sesuai dengan kemungkinan-kemungkinan pengisian kebutuhannya. Tidak ada spesi yang mungkin berlipat-ganda melewati batas-batas kemungkinan ini. Dalam suatu masyarakat beradab, hanya pada golongan rakyat rendah kekurangan alat-alat kebutuhan dapat membatasi perlipat-gandaan spesi manusia selanjutnya; dan ini hanya dapat berlangsung dengan jalan menghancurkan sebagian besar dan kanak-kanak yang dilahirkan dari perkawinan-perkawinan mereka yang subur.

Jika dilihat dari kenyatan keuntungan perburuhan dalam jaman modern, tekanan-tekanan dan pembatasan feodal yang masih merajalela dalam abad Adam Smith hampir-hampir tak dapat kita bayangkan sama sekali. Larangan bagi setiap bentuk organisasi buruh dalah satu dari halangan-halangan barat yang diharapkan kepada kaum pekerja. Tapi yang lebih berat lagi ialah undang-undang masa-latihan dan undang-undang kolonialisasi.

Undang-undang masa-latihan ini berasal dari jaman Ratu Elizabeth. Seperti dilukiskan oleh Smith, undang-undang ini menentukan “bahwa tidak seorangpun dimasa datang diperolehkan mengerjakan sesuatu pekerjaan, kepandaian atau mysteri yang kala itu dikerjakan di Inggris, sebelum ia untuk kepentigan ini menjalani masa latihan sekurang-kurangnya selama tujuh tahun”. Selama tujuh tahun ini si-majikan hanya memberikan nanfkah hidup. Majikan-majikan tak berperi-kemanusiaan dengan sendirinya mempergunakan kesempatan ini untuk memeras pekerjaan-pekerjaan mereka, meminta banyak dan memberikan sedikit, sedangkan mereka yang menjalankan latihan ini sebetulnya berada dalam suatu keadaan pebudakan. Dalam penolakannya terhadap perlakuan-perlakuan ini. Smith menyatakan, bahwa masa latihan yang lama tidaklah diperlukan, karena kebanyakan pekerjaan dapat dipelajari dalam masa beberapa minggu. Lagi pula, undang-undang masa latihan ini adalah suatu campur tangan yang tidak adil terhadap hak seorang pekerja untuk mengadakan kontrak sendiri bagi kerja yang ia kehendaki, untuk memilih pekerjaannya sendiri dan untuk pindah dari pekerjaan bergaji rendah kejabatan bergaji tinggi.

Demikian juga keberatan-keberatan yang terdapat dalam undang-undang kolonisasi. “Aku berani mengatakan,” demikian Smith menulis “Bahwa hampir tidak ada seseorang yang berumur empatpuluh tahun di Inggris yang tidak pernah merasa berkali-kali dalam hidupnya suatu rasa tertindas dengan kejam oleh undang-undang kolonisasi yang telah diundangkan dalam jaman Ratu Elizabeth ini dan yang sangat jahat akibatnya.” Maksud aslinya ialah untuk mengatur pembagian wakaf untuk orang miskin. Setiap wilayah harus bertanggung jawab atas anggota-anggotanya yang tak mampu. Tapi dalam prakteknya bagi kaum buruh akibat sebenarnya dari undang-undang ini ialah terciptanya suatu golongan hukum seumur hidup dalam kota-kota kelahiran mereka dan adanya halangan-halangan yang hampir-hampir tak dapat diatasi dalam langkah seorang buruh yang hendak pindah dari satu tempat kelain tempat. Menurut hemat Adam Smith, ini adalah suatu contoh lagi, dari ketidak-adilan campur tangan pemerintah dalam hak-hak manusia dan dalam kelangsungan wajar dari sistim ekonomi.

Adam Smith telah mencoba membedakan kerja yang “produktif dan yang “tidak produktif”.

Negara-negara besar tidak pernah jatuh miskin. Kadang-kadang hal ini bisa terjadi jika sifat keroyalan dan tabiat-tercela itu dipunyai secara umum. Seluruh, atau hampir seluruh penghasilan umum dikebanyakan negara dipergunakan untuk membayar tenaga-tenaga yang tidak produktif. Mereka ini adalah golongan-golongan yang menjadi anggota istana-istana yang mewah dan besar jumlahnya, badan-badan gereja yang besar, armada dan angkatan darat yang besar yang dalam masa damai tidak menghasilkan apa-apa yang dapat membayar ongkos-ongkos pembiayaan mereka. Bahkan biarpun dalam keadaan perang. Golongan-golongan ini, karena tak menghasilkan apa-apa harus dibiayai oleh produksi kerja golongan lain. Jika dilipat-gandakan, sehingga mencapai jumlah yang tak perlu, dalam masa satu tahun mereka bisa menghabiskan bagian yang sangat besar dari produksi ini, sehingga  lebihnya tidak cukup untuk menghidupi buruh-buruh yang produktif.

Nasihat-sehat mengenai pekerjaan budak-budak belian, yang sayang sekali tak dihiraukan oleh koloni-koloni di Amerika, disarankan oleh Smith:

Dalam penglihatan saya, pengalaman-pengalaman dari berbagai jaman dan negera telah membuktikan dengan jelas, bahwa kerja-kerja yang dilakukan oleh budak-belian, biarpun kelihatannya perongkosan hanya sekedar untuk melanjutkan umur budak-budak ini saja, sebetulnya adalah pekerjaan yang mahal sekali biayanya. Seseorang yang tidak dapat memperoleh hak-milik, tidak mungkin mempunyai pendirian yang lain kecuali makan sebanyak-banyaknya dan bekerja sedikit mungkin. Kerja apapun yang ia jamah yang akan melebihi keperluan untuk membayar biayanya, hanya mungkin ia lakukan jika ia dipaksa, dan bukan karena ia ingat kepada kepentingan dirinya sendiri.

Dari masalah buruh Smith kemudian mengarahkan pandangannya kepada pembelaan perobahan hukum tanah. Disinipun juga menurut hematnya, peraturan-peraturan pemerintah Inggris yang tidak baik dan undang-undang yang telah kuno menjadi halangan buat kemajuan. Di Inggris abad ke-XVIII kebanyakan tanah adalah tanah-tanah pewarisan fideikomis. Seorang pemilik dapat saja membuat peraturan mengenai pembagian dan penjualan tanahnya dengan cara yang mengikat bagi turunannya untuk selama-lamanya sesudah ia meninggal. Suatu adat kebiasaan lama yang lain ialah adat dari “hukum hak-sulung”, suatu kebiasaan feodal untuk menghindarkan terpecah-pecahnya suatu milik tanah yang besar. Menurut hukum hak-sulung maka satu-satunya yang berhak menerima warisan ialah anak sulung dari si-pemilik, “Tidak ada yang lebih bertentangan dengan kepentingan suatu keluarga yang besar,” demikian kata Adam Smith, “dari pada suatu undang-undang yang mengayakan satu orang tapi yang menyebabkan yang lainnya jatuh melarat.” Ia menganjurkan perdagangan tanah yang bebas dengan menarik kembali undang-undang yang membenarkan pewarisan fideikomis, hak pewarisan mutlak bagi anak sulung dan pembatasan-pembatasan lain mengenai pemindahan-bebas tanah, dengan jalan memberikan perundingan atau penjualan.

Sebuah bab yang termasyur dalam kitab “Kekayaan Bangsa-bangsa” ini ialah bab yang membicarakan soal penjajahan. Seorang ahli menyatakan, bahwa “bab ini adalah suatu ringkasan politik penjajahan yang terbaik yang pernah dituliskan atas kertas”. Smith membagi pembicaraannya ini dalam tiga bagian: (1) “Tentang motif untuk memiliki jajahan baru”, dalam mana digambarkan usaha-usaha penjajahan Yunani, Roma, Venesia, Portugis dan Spanyol; (2) “sebab-sebab kemakmuran jajahan-jajahan baru,” dimana Smith mengemukakan faktor-faktor seperti tanah yang banyak dan murah, gaji yang tinggi,tambahan jumlah penduduk yang berlangsung cepat dan pengetahuan kolonis-kolonis tentang pertanian dan kepandaian-kepandaian lainya (politik kolonial Inggris yang maju jika dibandingkan dengan politik Portugis dan Spanyol yang sempat dan terlalu membatasi); (3) “Tentang keuntungan-keuntungan yang diperoleh Inggris dari penemuan Amerika dan penemuan jalan ke Hindia Timur melewati Tanjung Harapan”, penemuan-penemuan mana dianggap oleh Smith sebagai “dua kejadian terbesar dan terpenting yang pernah dicatat dalam sejarah manusia”.

Pengekangan-pengekangan yang dijalankan terhadap jajahan untuk memperoleh monopoli perdagangan dikutuk oleh Smith sebagai perkosaan terhadap “Hak-hak wajar” dari jajahan tadi. Seperti pada negara-ibu, maka pada jajahanpun sama edannya dan mahalnya, jika sistim kaum merkantilis yang dijalankan. Juga penarikan uang dari negara penjajahan tidak ada henti-hentinya, karena jajahan-jajahan ini tidak akan pernah mau mengenakan pada diri mereka sendiri pajak yang cukup untuk pembayar ongkos pertahanan mereka.

Smith dapat memandang rakyat koloni-koloni di Amerika yang sedang memberontak dengan pandangan yang lebih obyektif dari pada kebanyakan saudara-saudara setanah-airnya. Menurut hematnya, penyelesaikan yang terbaik bagi pertentangan ini, ialah dengan jalan memberikan ijin kepada rakyat dikoloni-koloni itu untuk mengirimkan wakil mereka keparlemen Inggris – jadi persatuan dan bukannya pemisahan – dengan jumlah perwakilan sebanding dengan jumlah pajak yang dihasilkan. Jika sekiranya, dan ini adalah suatu hal yang mustahil, rakyat Amerika lebih banyak menghasilkan pajak dari rakyat Inggris, maka ibu kota mungkin dipindahkan keseberang Atlantika, “kebagian kerajaan yang terbanyak memberikan sumbangan bagi pertahanan umum dan sekongan buat seluruhnya”. Ucapan ini mungkin sekali dapat dipakai sebagai jawaban yang tepat atas seruan Tom Paine yang mengatakan, bahwa “adalah edan untuk berpendirian, bahwa suatu benua harus diperintah oleh sebuah pulau untuk selama-lamanya” karena dengan ini peranan yang dijalankan mungkin terbalik jadinya.

Karena perselisihan antara Inggris dan jajahan. Amerika tidak dapat diselesaikan dengan secara damai. Smith menyerukan kemerdekaan bagi jajahan-jajahan ini, biarpun ia dengan sungguh-sungguh menyadari, bahwa “dengan mengusulkan itu Britania Raja dengan suka-rela harus melepaskan segala kewibawaannya terhadap jajahan-jajahan itu, dan membiarkan mereka memilih pengadilan mereka sendiri, mengundangkan hukum mereka sendiri dan mengadakan perdamaian dan mengumumkan perang sesuai dengan kepatuhan menurut pikiran mereka. Dan ini berani mengusulkan suatu tindakan yang belum pernah dan tidak akan pernah dibenarkan oleh negera manapun didunia ini ……… biar bagaimana susahnyapun untuk memerintahnya, dan biar bagaimana kecilnyapun keuntungan yang masuk jika dibandingkan dengan biaya yang harus dikeluarkan”.

Pikiran Smith yang jernih dan pandangannya yang jauh tergambar dalam sebuah bait dimana ia meramalkan masa datang Amerika, seperti yang tertera di bawah ini:

Mulai dari pemilik kedai, saudagar-saudagar dan ahli-ahli hukum, mereka (kolonis-kolonis Amerika) akan menjadi negarawan-negarawan dan legislator-legislator dan akan dipekerjakan untuk mencapai suatu bentuk baru dari pemerintahan sebuah kerajaan yang luas, yang dalam keyakinan mereka – keyakinan mana mungkin sekali benar – akan menjadi salah sebuah kerajaan terbesar dan menganggumkan yang pernah ada di bumi ini.

Bagian yang paling termasyur, dan tak pelak lagi, bagian yang dapat dianggap sebagai bagian pokok dari kitab. Kekayaan Bangsa-bangsa ini, ialah “Buku IV” yang berkepala “Mengenai sistim ekonomi politik”. Dalam bagian ini dibicarakan dua macam sistim; sistim perdagangan dan sistim pertanian, biarpun tempat yang diberikan kepada pembicaraan sistim perdagangan delapan kali lebih banyak dari pada ruang yang disediakan untuk membicarakan pertanian. Disini Smith membangunkan prinsip-prinsip laissez faire yang semenjak itu selalu dihubungkan dengan namanya. Semua pendapat-pendapatnya mengenai buruh, tanah, barang-barang, uang, harga, pertanian, modal dan pajak boleh dikatakan berpusat pada suatu pembicaraan mengenai perniagaan bebas, baik kedalam ataupun keluar. Hanya berkat perdagangan dalam dan luar negeri yang tak dibatasi, negara dapat mencapai perkembangan dan kemakmuran penuh. Tiadakanlah, demikian Smith, cukai-cukai, premi-premi ekspor dan larangan-larangan regim merkantilis dan monopoli-monopoli dagang dari kongsi-kongsi pilihan yang kesemuanya hanya menahan perkembangan wajar dari industri dan dagang dan pengaliran bebas barang-barang kepada sipemakai. Ajaran “keseimbangan dagang”, yang salah dan yang begitu disanjung-sanjung oleh kaum merkantilis harus ditiadakan. Uang hanya alat dan “tidak ada suatu ukuran pasti yang dapat menetapkan dipihak mana beradanya apa yang disebutkan keseimbangan antara dua negeri, atau yang mana diantara kedua negeri itu telah mengeksport dengan harga yang paling tinggi. Kekayaan tidak terdiri dari uang atau emas dan perak, tapi dari apa yang telah dibeli dengan uang dan yang hanya berharga untuk diperjual-belikan”.

Pembagian pekerjaan tidak saja perlu dan logis antara individu-individu tapi juga antara negara-negara.

Keuntungan-keuntungan yang diberikan alam kepada suatu negara jika dibandingkan dengan negera lain dalam memprodusir sesuatu barang bisa begitu besar, sehingga seantero dunia akan mengakui bahwa adalah pekerjaan yang sia-sia unuk bersaingan dengan negera itu. Dengan pertolongan gelas-gelas, pematang-pematang panas dan dinding-pemanas, buah anggur yang sangat baik dapat ditanam di Skotlandia; dari buah anggur ini juga dapat diperbuat anggur yang baik, tapi dengan harga yang tigapuluh kali lebih mahal dan pada anggur yang sama kualitetnya yang diimport dari luar negeri. Apakah undang-undang yang melarang pemasukan anggur-anggur luar negeri, semata karena hendak memajukan pembuatan claret dan burgundy di Skotlandia, dapat disebut undang-undang yang dapat diterima akal?

Keuntungan-keuntungan ekonomi dari perdagangan bebas disimpulkan oleh Smith dalam ucapan-ucapan berikut:

Setiap pemimpin keluarga yang cerdik akan berpegang kepada kebenaran, bahwa lebih baik membeli dengan harga lebih rendah dari pada membuat sendiri dengan perongkosan lebih tinggi ………….. Apa yang dapat dianggap cerdik dalam kehidupan setiap keluarga jarang sekali dapat dianggap bodoh  dalam sebuah kerajaan. Sekiranya sebuah negeri dapat menolong kita dengan barang-barang yang ongkosnya lebih murah dari pada jika kita buat sendiri, maka lebih baik barang ini dibeli dari mereka dengan salah satu hasil industri kita yang kita kerjakan dengan cara yang lebih menguntungkan dari pada di negeri orang.

Keuntungan bersama dari perdagangan luar negeri dijelaskan oleh Smith sebagai berikut:

Diantara tempat yang manapun juga perdagangan luar negeri itu dilangsungkan, selalu akan dapat diperoleh dari padanya dan macam keuntungan. Perdagangan ini akan mengalirkan keluar bagian-bagian produksi negara dan buruh yang berlebih, terhadap bagian mana tidak ada permintaan, dan sebagai ganti membawa masuk sesuatu yang diperlukan dan dikehendaki …………… Dengan cara begini, kesempatan pasar dalam negeri tidak akan menghambat perkembangan pembagian pekerjaan sampai sempurna sekali dalam cabang kejuruan dan perusahaan yang manapun juga. Dengan jalan membuka pasar yang lebih luas bagi hasil yang manapun juga dari kerja mereka yang melebihi kebutuhan dalam negeri, mereka akan beroleh dorongan untuk menyempurnakan tenaga-tenaga produksi mereka dan menaikkan tingkat produksi tahunan mereka ketingkat yang setinggi-tingginya. Dengan demikian pendapatan dan kekayaan nyata masyarakat akan bertambah.

Bahwa Smith tidak bersikap dogmatis mutlak dalam anjuran untuk melaksanakan perdagangan bebas, kelihatan dan jelas pada pengecualian-pengecualian atau batas-batas yang ia setujui dalam melaksanakan prinsip tersebut. Dalam beberapa hal, ia dijelaskan, “umumnya menguntungkan untuk menekan industri luar negeri sedikit untuk kepentingan kemajuan industri dalam negeri. Pertama, jika suatu industri diperlukan untuk kepentingan pertanahan negara”. Biarpun jika ditinjau dari alasan-alsan ekonomi murni adanya itu tidak dapat dibenarkan, karena “pertanahan lebih penting lagi dari pada kekayaan”. Dalam hidup didunia yang selalu berada dalam keadaan perang ini, Smith mengakui, bahwa negara-negara besar dengan siapa kita dimasa damai dapat berdagang dengan beroleh keuntungan lebih berbahaya dari pada negera-negara yang miskin. Juga ia menyetujui perlindungan pajak untuk “industri-industri muda” sehingga mereka dapat berkembang lebih cepat, kira-kira sampai kebatas dimana mereka dapat mempertahankan diri, jika diukur dari sudut ekonomi. Selanjutnya, Smith menganjurkan supaya segala penurunan tarif harus dilakukan secara “perlahan-lahan, bertingkat-tingkat dan setelah mengumumkan pemberitahuan yang lama”, supaya dapat dilindungi penanaman modal dalam industri-industri yang tidak sanggup mengahdapi saingan luar negeri dan supaya para pekerjanya mendapat kesempatan untuk mencari pekerjaan baru. Pengecualian-pengecualian ini adalah konsesi-konsesi yang wajar bagi mereka yang menentang perdagangan merdeka.

Sekiranya pemerintah, seperti yang dibela oleh Smith, tidak boleh campur tangan dalam soal perdagangan, industri, pertanian dan kebanyakan kegiatan dari sehari-kesehari sebuah negara, apakah menurut hematnya fungsi yang tepat bagi pemerintah? Sebab dengan adanya kenyataan-kenyataan ini maka lapangan pertanggungan-jawab pemerintah akan sempit sekali jadinya. Sebetulnya tanggung jawab negara harus dibatasi pada kewajiban pembelaan terhadap setiap serangan dari luar dan penyelenggaraan badan-badan pengadilan. Smith juga bersedia membiarkan pemerintah mengurus “pendirian dan pemeliharaan lembaga-lembaga dan bangunan-bangunan umum tertentu yang tidak mungkin dapat dianggap termasuk kepentingan perseorangan atau beberapa orang individu; untuk menegakkan dan mengurusnya; karena keuntungan yang diperoleh tidak mungkin dapat mengimbangi pengeluaran perseorangan atau kumpulan individu-individu, sedangkan bagi masyarakat keuntungan ini mungkin sekali bukan saja mengimbangi pengeluaran, tapi bahkan lebih lagi dari pada itu”. Dalam daftar pendek yang telah diperbuat Smith mengenai fungsi-fungsi yang partut diberikan kepada negera termasuk penyelenggaraan jalan-jalan, penerangan jalan dan kota, penyediaan air. Jadi, Adam Smith melihat sedikit sekali alasan untuk adanya apa yang ia sebutkan “mahluk busuk dan licik yang secara umum disebut negarawan dan politikus” diluar pengurusan perdamaian keluar dan keamanan dalam negeri.

Tapi dalam salah satu dari pengecualiannya, ia jauh lebih maju dari jamannya; ikut sertanya pemerintah dalam soal pendidikan rakyat. Smith memberikan penjelasan sebagai berikut:

Seorang manusia yang tidak memakai kesanggupan-kesanggupan akal seorang manusia dengan semestinya, adalah, jika hal ini memang bisa terjadi, lebih hina lagi dari seorang pengecut dan sebenarnya cacat dan pehong dibagian yang lebih hakiki dari sifat-sifat kemanusiaannya. Biarpun negara tidak boleh mengharapkan keuntungan dari pendidikan rakyat rendah, toh golongan ini masih patut mendapat perhatian sehingga tidak sampai terjadi mereka tidak beroleh pendidikan sama sekali. Sebetulnya negara bukannya tidak mendapat manfaat tak berhingga dari pendidikan yang mereka peroleh, Karena makin baik didikan mereka makin kurang mereka dapat dipengaruhi oleh pukauan semangat dan rachyul yang dinegara-negara yang tak mengetahui sering sekali menyebabkan kekacauan yang hebat. Disamping itu seorang yang teridik dan cendekia adalah lebih jujur dan lebih tahu aturan dari pada orang yang bodoh dan dungu. Masing-masing mereka akan merasa diri mereka lebih terhormat dan mereka akan ingin memperoleh penghargaan, dari pimpinan-pimpinan mereka yang sah dan karena itu mereka lebih mau menghormati pemimpin-pemimpin ini ………………. Dinegara-negara yang merdeka dimana keselamatan sebuah pemerintah banyak sekali tergantung dari putusan-putusan yang menguntungkan yang mungkin diberikan oleh rakyat tentang tindakan-tindakannya, adalah penting sekali supaya rakyat dalam soal itu tidak mengeluarkan kesimpulan-kesimpulan dengan terburu-nafsu atau dengan tak dipikirkan terlebih dahulu.

Sebuah penilaian yang tak berat sebelah dan tanpa perasangka mengenai Adam Smith dan karyanya, adalah suatu hal yang sulit sekali untuk diberikan, biarpun diwaktu sekarang ini duaratus tahun setelah bukunya itu diterbitkan. Misalnya, Buckle menganggap kitab Kekayaan Bangsa-bangsa dalam bukunya Sejarah Peradaban (Hystory of Civilization) “…………. mungkin sekali sebuah buku terpenting yang pernah ditulis manusia, baik dilihat dari kadar pikiran-pikiran asli yang terkandung didalamnya maupun pengaruh praktisnya”. Seorang pengarang lain. Max Lener, yang sungguhpun tak begitu bersimpati terhadap Smith, mengaku bahwa Kekayaan Bangsa-bangsa “telah memberikan sumbangan barangkali sama banyak dengan sumbangan kitab modern yang manapun juga yang sampai kini telah ikut membentuk pemandangan hidup sebagai yang kita hadapi sekarang”. Lerner, dengan pandangan yang tajam mengulas, bahwa “mereka yang membaca buku ini terutama adalah mereka yang mengharapkan keuntungan dari caranya memandang dunia – yaitu klas pengusaha yang sedang naik, panitia-panitia eksekutif politik disemua parlemen didunia ini dan panitia-panitia eksekutif intelektuil mereka diakademi-akademi. Melalui golongan-golongan ini karya ini telah memperoleh pengaruh yang besar atas rakyat-rakyat bawahan diseluruh dunia, biarpun mereka tak kenal karya tersebut; dan berkat mereka karya ini juga telah beroleh pengaruh yang besar atas berbagai pendirian ekonomi dan politik nasional”.

Pendapat kedua ahli ini dibenarkan oleh seorang ahli ekonomi politik Inggris yang terkenal J.A.R. Marriott yang mengatakan “Mungkin sekali tidak ada sebuah karyapun yang ditulis dalam bahasa Inggris yang dalam jamannya memperoleh pengaruh begitu jelas atas pemikiran ekonomi secara ilmiah dan atas tindakan-tindakan administratif. Bahwa pengaruh itu masih tetap akan ada, terdapat alasan-alasan yang kuat”. Ahli ekonomi yang lain. W.R. Scott, menambahkan: “Secara intelektuil ia (Smith) adalah seorang jago yang tajam dalam melihat kehidupan ekonomi dengan nanap dan menyeluruh.”

Sebaliknya, banyak pemikir-pemikir liberal dan radikal yang merasa berat untuk memaafkan Smith atas ekses-ekses dari laissez-fairenja sebagai dipraktekkan oleh pengusaha-pengusaha dan industrialis-industrialis yang menganggap tulisan Smith sebagai petunjuk mereka. Ajaran-ajaran yang ia bela untuk keselamatan kaum buruh, petani, pembeli dan masyarakat umumnya, kemudian diputar balikkan oleh kepentingan-kepentingan yang tak bertanggung jawab, untuk memperoleh ijin-ijin tak terbatas bagi diri mereka sendiri, bebas dari segala pengawasan dan campur-tangan pemerintah.

Juga ada lagi teka-teki lama tentang mana yang dulu, ayamkah atau telorkah. Apakah prinsip-prinsip Smith akan dijalankan orang juga dalam perkembangan industri dan perdagangan biarpun tak pernah ia tuliskan, atau apa memang Kekayaan Bangsa-bangsa telah mengendapkan perobahan yang cepat yang terjadi setelah buku ini diterbitkan dan dengan demikian menyediakan suatu filsafat dan rencana untuk gerakan baru ini? Barangkali kebenaran terletak ditengah-tengah diantara keduanya.

Katakanlah, Adam Smith telah memilih saat yang tepat sekali untuk dilahirkan kedunia ini. Sambil berdiri diambang pintu antara dua kurun jaman sejarah, ia mengemukakan liberalisme ekonomi baru. Suatu dunia yang berhati-terbuka mendengarkan dan mempergunakan ajaran-ajarannya untuk menimbulkan suatu perobahan ekonomi yang besar. Pengusaha-pengusaha Inggris, sewaktu Revolusi Industri berlangsung, mengakui kebenaran ajaran-ajaran Smith lalu meniadakan pembatasan-pembatasan dan hak-hak istimewa kaum merkantilis dan dengan demikian telah membawa Inggris dalam abad ke-XIX kekedudukan suatu negara yang terkaya didunia. Dinegara-negara dagang yang besar diluar Inggris, pikiran-pikiran Smith tak kurang pengaruhnya. Sehingga, barangkali hanya sedikit orang yang akan mau mengengkari bahwa Adam Smith memang sepatutnya diberi julukan “Ayah dari ekonomi modern”. (Copyrigth @ Galeri Buku Jakarta)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Buku

Sekilas Karl Marx dan Bukunya Das Kapital

mm

Published

on

Dalam duka-pidato penguburan Karl Marx, Friedrich Engels menyimpulkan bahwa “diatas segala-galanya Karl marx adalah seorang revolusioner, dan tujuan besar dalam hidupnya ialah memberikan sumbangan dengan salah satu cara untuk menghancurkan masyarakat kapitalis dan lembaga-lembaga negara yang telah diciptakan masyarakat ini”. Dengan kata-kata ini, pembantu, murid dan sahabat marx yang terdekat ringkas menyimpulkan tenaga penggerak dari kehidupan pemberontak sosial yang termasyur ini.

Marx terlahir dalam suatu jaman yang gaduh. Pemberontakan dan kekacauan selalu mengancam. Kenangan pada revolusi Perancis yang pertama masih segar sedangkan yang lain sudah mengancam lagi. Jaman-jaman berikutnya ditandai oleh kegetiran dan ketidak-puasan rakyat yang luas, dan pengeritikan terhadap lembaga-lembaga yang ada. Dalam tahun 1848, perasaan ini telah bertumpuk menjadi suatu tenaga yang bisa meledak. Lalu meletuslah revolusi diseluruh Eropa. Bahkan di Inggris, Gerakan Chartis mengancam pemerintahan yang ada. Tekanan-tekanan untuk mengurangi salah-guna yang terlahir dari industrialisme baru, dan penghancuran pertahanan-pertahanan terakhir feodalisme terasa dimana-mana. Jaman ini memang cocok betul buat temperamen Marx yang subversif dan non-conformistis.

Marx dilahirkan dalam tahun 1818 di Trier di Rheinland Jerman sebagai anak seorang ahli hukum yang kaya. Dari kedua belah pihak orang tuanya. Karl adalah keturunan rabbi-rabbi Yahudi, tapi waktu ia masih kanak-kanak seluruh keluarga itu telah masuk agama Nasrani. Dalam hidupnya, barangkali sebagai reaksi terhadap halangan-halangan yang ditimbulkan latar belakang rasialnya, Marx selalu bersikap anti-semit.

Marx muda belajar ilmu-ilmu hukum dan filsafat di Bonn dan Berlin, dengan cita-cita akhirnya akan mencapai kedudukan seorang guru-besar. Tapi pendiriannya yang makin lama makin bertentangan dengan faham-faham kuno telah menutupkan pintu baginya jabatan ini lalu ia mengarahkan diri pada pekerjaan kewartawanan. Sebuah berkala bru Rheinische Zeitung baru saja dimulai penerbitannya dalam tahun 1842, dan Marx menjadi penyumbang yang pertama dan kemudian dalam waktu singkat menjadi pemimpin redaksinya. Serangan-serangan terhadap pemerintah Prusia dan nada suara berkala itu yang umumnya radikal, menyebabkan berkala ini dilarang setelah setahun lebih.

Marx pindah ke Paris untuk mempelajari sosialisme dan menulis untuk sebuah berkala yang juga singkat umurnya. Buku-buku Tahunan Franco-Jerman (Franco-German Year Books). Disana ia berkenalan dengan wakil-wakil terkemuka dan pemikiran-pemikiran sosialis dan komunis. Dilihat dari sudut perjalanan hidup Marx dimasa datangnya, maka saat yang penting dari msa itu ialah, permulaan dari persahabatannya seumur hidup dengan Friedrich Engels. Engels adalah seorang kawan senegeri Marx. Sebagai anak dari seorang pembuat kain, ia boleh dianggap berkemampuan juga dan pengambdiannya kepada cita-cita sosialis sama besarnya dengan Marx sendiri. Dasar-dasar dari kitab Marx yang kemudian akan terbit Das Kapital telah dibangunkan oleh Engels dalam tahun 1845 dengan penerbitan karangannya Keadaan Kelas Buruh di Inggris (Condition of the Working Classs in England).

Agitasi yang dilanjutkan oleh Marx terhadap pemerintah Prusia telah menyebabkan pembesr-pembesar Perancis mengusir dia sebagai seorang asing yang tidak dikehendaki. Ia mencari perlindungan di Brussel selama tiga tahun, dan kemudian untuk waktu singkat ia kembali ke Jerman. Setelah dibuang kembali, ia kembali ke Paris semasa revolusi tahun 1848. Dalam tahun itu dengan bekerja sama dengan Engels ia telah menulis dan menerbitkan Manifes to Komunis yang termasyur. Pamflet ini adalah salah sebuah dri karangan-karangan radikal yang paling garang dn paling berpengaruh yang pernah dicetak Pamflet ini berakhir dengan semboyan yang menggerakkan:

Kaum komunis merasa tidak perlu untuk menyembunyikan pendapat dan maksudnya. Dengan terus terang mereka mengumumkan bahwa tujuan mereka hanya dapat dicapai dengan merubuhkan seluruh susunan masyarakat ini dengan kekerasan. Biarlah klas-klas pemerintahan gemetar depan reolusi komunis. Kaum buruh tidak akan kehilangan apa-apa kecuali berlenggu mereka. Mereka hanya akan memenangi seluruh dunia.

Buruh sedunia bersatulah!

Kemana saja Marx pergi ia adalah seorang tukang pidato yang garang dan aktif; ia mengorganisir gerakan-gerakan buruh; ia memimpin penerbitan-penerbitan komunis dan menganjurkan pemberontakan.

Kekandasan revolusi-revolusi Eropa 1848 sampai 1849 menyebabkan benua ini jadi sempit bagi Marx. Ia pindah ke Inggris dalam musim panas tahun 1849, tatkala mana ia berumur 31 tahun, dan tinggal di Londok untuk seumur hidup. Sebelum itu ia telah menikah dengan Jenny von Westfalen, anak seorang pembesar Prusia, dan istrinya ini tetap setia sebagai kawan sejawatnya untuk hampir selama 40 tahun, menyertainya dalam suatu masa kemelaratan yang amat sangat, kekurangan dan keburukan nasib. Dari keenam anak mereka, hanya tiga yang  hidup dan menjadi dewasa, dan dari yang tiga, dua orang kemudian membunuh diri. Tak sangsi lagi, tahun-tahun kemelaratan ini telah mewarnai pandangan Marx dan menjadi sumber dari begitu banyak kebencian dan kegetiran dalam tulisannya. Hanya bantuan-bantuan keuangan yang sering dari Friedrich Engels yang telah menyelamatkan keluarga Marx dari pada kelaparan. Satu-satunya penghasilan Marx ialah se-guinea seminggu, diterima dari surat kabar Tribune New York sebagai imbuhan terhadap surat-surat tentang soal-soal Eropa, dan pembayaran yang tak tetap buat karangan-karangan yang semata ditulis untuk mencari makan.

Tapi biarpun menderita kemelaratan, buruan penagih-penagih hutang-hutang, penyakit dan kekurangan yang tak putus-putusnya melingkungi Marx didistrik Soho yang guram, dimana ia berdiam. Marx tetap tak lelah-lelahnya dalam usahanya memajukan alasan-alasan sosialis. Dari tahun ke tahun, sering kali sampai 16 jam sehari, ia bekerja di Museum British untuk mengumpulkan bahan yang besar jumlahnya  untuk sebuah karya yang kelak akan diberi nama Das Kapital. Jika tidak dihitung lowong-lowong yang disebabkan oleh kegiatan-kegiatan lain dan penyakit, maka buku ini telah memakan waktu persiapan selama 18 tahun. Engels yang sementara itu menyokong keluarga Marx sudah putus harapan bahwa buku itu akan selesai. “Pada hari naskah itu dimasukkan kepercetakan saya akan minum sampai mabuk dengan segala kebersaran,” katanya. Kedua mereka,Engels dan Marx menyebut buku itu sebagai “buku laknat”, dan Marx mengakui bahwa buku itu adalah sebuah “mimpi ngeri yang sempurna.”

Suatu kejadian besar dalam kehidupan Marx dalam tahun-tahun ini ialah terbentuknya Perhimpunan Kaum Pekerja Internasional yang sekarang dikenal sebagai Internasional Pertama, dalam tahun 1864. Usah aini adalah suatu percobaan. Biarpun telah menarik diri dari kehidupan umum. Marx adalah tenaga yang berdiri dibelakang layar dan ialah yang menulis hampir semua dokumen-dokumen perserikatan ini, pidato-pidato, peraturan-peraturan dan programma. Tapi percekcokan didalam dan persaingan untuk menduduki kursi pimpinan bersamaan dengan ketidak-populeran yang dialami organisasi ini setelah kandasnya Commune Paris dalam tahun 1871, telah menyebabkan Perserikatan ini dibubarkan. Kemudian ia diikuti oleh Internasional Kedua, yang mewakili golongan-golongan sosialis barat dan Internasional Ketiga atau Comintern yang mewakili dunia komunis.

Masa pengandungan yang panjang dari Das Kapital akhirnya berakhir. Diakhir tahun 1866, naskah lengkap dari jilid pertama dikirimkanke Hamburg, dan dalam musim gugur tahun berikutnya buku ini keluar dari percetakan. Buku ini ditulis dalam bahasa Jerman, sedangkan terjemahan dalam bahasa Inggris baru akan terbit kira-kira duapuluh tahun sesudahnya. Terjemahan pertama kedalam bahasa lain – tepat sekali jika dilihat dalam sinar kejadian-kejadian yang akan terjadi sesudahnya – ialah kedalam bahasa Rusia dalam tahun 1872.

Dalam masa Marx, Inggris adalah contoh utama dari cara-cara bekerja sistim kapitalis. Karena itu contoh yangia pakai untuk menjelaskan teori-teori ekonominya hampir semuanya dipungut dari negeri itu. Contoh-contoh yang kejam cukup banyak, karena lembaga kapitalisme dalam masa Victoria pertengahan itu berada dalam keadaannya yang paling kejam. Keadaan-keadaan sosial diperkampungan-perkampungan pabrik tak dapat dikatakan buruknya. Marx yang mendasarkan pendapat-pendapatnya atas laporan-laporan resmi penyelidikan-penyelidikian pemerintah, telah menjanjikan fakta-fakta itu dengan teliti dalam Das Kapital. Perempuan menarik kapal-kapal terusan sepanjang pinggir terusan itu dengan tali dibahu mereka. Perempuan-perempuan dipasang sebagai hewan-hewan pembawa beban, depan kereta-kereta yang membawa batu arang dari tambang-tambang Inggris. Kanak-kanak mulai bekerja dikilang-kilang tekstil semenjak mereka mulai berumur 9 atau 10 tahun selama 12 sampai 15 jam sehari. Dan waktu peraturan giliran malam menjadi kebiasaan, dikatakan bahwa ranjang-ranjang tempat anak-anak tidak pernah dingin karena dipakai bergiliran. Tuberculosis dan penyakit-penyakit lain yang disebabkan pekerjaan telah membunuh mereka dalam jumlah yang tinggi.

Protes-protes mengenai keadaan yang buruk ini sekali-kali tidak hanya terbatas pada Marx saja. Orang-orang yang berperikemanusiaan seperti pengarang-pengarang Charles Dickens, John Ruskin dan Thomas Carlyle telah menulis berjilid-jilid buku dengan penuh semangat, menyerukan perobahan. Parlemen digoncang kearah perwakilan yang korektif.

Marx bangga sekali dengan penelaahan “ilmiah”nya tentang masalah-masalah ekonomi dan sosial. Seperti dikatakanoleh Engels, “Seperti Darwin menemui hukum evolusi dalam salam organik begitu Marx menemui hukum evolusi dalam sejarah manusia. Gejala-gejala ekonomi”, demikian Marx menegaskan, “dapat diamati dan dicatat dengan ketelitian yang sama seperti ilmu alam.” Seringkali ia menunjukkan kekarya-karya ahli-ahli ilmu hayat, kimia dan tabii (ahli ilmu alam), dan nyata sekali bahwa ia beringin untuk menjadi seorang Darwin sosiologi atau barangkali seorang Newton ekonomi. Dengan jalan analisa ilmiah dari masyarakat. Marx yakin bahwa ia telah menemui bagaimana caranya merubah suatu dunia kapitalis menjadi dunia sosialis.

Metodos “ilmiah” Marx telah banyak sekali menolong diterimanya pikirannya dengan luas, karena konsep evolusi dalam semua lapangan telah memukau alam pikiran abad ke-XIX. Dengan jalan menghubungkan teori perjuangan klasnya dengan teori evolusi Darwing. Marx telah memberikan tempat yang terhormat pada pikiran-pikirannya, dan serentak, demikian ia yakin, telah membuat pikiran-pikiran ini tidak bisa diingkari.

Dalam pandangan Marx dan pengikut-pengikutnya, sumbangan Marx yang terpenting dalamsoal penelaahan ekonomi, sejarah dan ilmu-ilmu pengetahuan masyakat yang lain ialah pengembangan sebuah prinsip yang disebut “materialisme dialektika” suatu sebutan yang sukar dimengerti dan mempunyai arti yang ganda. Biarpun sebutan ini diterangkan lebih lengkap dalam tulisan-tulisannya sebelumnya. Das Kapital mempergunakan teori ini sampai kedetail-detailnya.

Metodos dialektika ini telah diambil oleh Marx dari ahli filsafat Jerman Hegel. Dalam hakekatnya, teori ini menytakan, bahwa segala didunia ini berada dalam pergantian yng terus-menerus. Kemajuan diperoleh berkat reaksi terhadap masing-masing yang lahir dari dua tenaga yng bertentangan. Jadi, misalnya sistim penjajahan Inggris yang ditentang oleh Revolusi Amerika telah menghasilkan negara Amerika Serikat. Sebagai disebutkan oleh Laski. “Hukum kehidupan ialah peperangan dari pertentangan-pertentangan dengan pertumbuhan sebagai akibatnya.”

Premise ini telah menyebabkan Marx merumuskan teorinya tentang materialisme sejarah, atau tafsiran ekonomi dari sejarah. “Sejarah dari setiap masyarakat yang ada,” demikian Marx dan Engels membela, “adalah sejarah dari perjuangan kelas. Orang merdeka dan budak-budak, patricier dan plebeier, tuan dan chadam, kepala tukang dan ahli yang pindah-pindah, pendeknya yang menindas dan yang ditindas, berada dalam perentangan yang tajam. Mereka melangsungkan peperangan yang tak ada akhirnya. (*)

*Dari berbagai Sumber. Oleh Tim Redaksi Galeri Buku Jakarta

Continue Reading

Buku

Subyektifitas dan Intersubyektifitas Dari teks “Introduction” to the Second Sex Simone de Beauvoir

mm

Published

on

Simone de Beauvoir (1908-1986) merupakan pemikir perempuan yang terkenal pada masanya dan karyanya menjadi penting di dalam gerakan feminis di seluruh dunia hingga pada saat sekarang. Pemikirannya dipengaruhi oleh Hegel dan Heidegger dan teman hidupnya, Sartre. Beberapa pemikirannya juga mempunyai kesamaan dengan Merleau-Ponty tetapi tidak begitu diketahui oleh banyak orang karena Beauvoir sendiri lebih memilih diam, sebuah sikap yang disebut oleh Monika Langer sebagai komitmen pribadinya terhadap Sartre.

 

Di dalam bukunya Introduction to The Second Sex, Beauvoir menjelaskan tentang situasi yang tidak setara antara perempuan dan laki-laki. Hubungan yang menindas ini berasal dari dua sisi kehidupan perempuan; peran penengah dari struktur politik dan institusi sosial di dalam pembuatan subjektivitas, dan pengalaman hidup dari kebertubuhan perempuan. Beauvoir memulai dengan pertanyaan: “Apakah itu perempuan?”. Dia juga meragukan apakah perempuan masih ada. Ini tentunya adalah pertanyaan metafisika yang ditanyakan dengan ironi tertentu. Di dalam pandangan Beauvoir, tidak ada catatan positif filsafat tentang “Perempuan”; “Perempuan” dikonstruksikan oleh “yang lain” yaitu laki-laki, yang beroperasi untuk menolak nilai positif terhadap kehidupan perempuan. Dengan memahami situasi perempuan kita akan melihat ketidakadilan seksual (dan faktanya ketidakadilan sosial) yang meliputi masyarakat yang hanya bisa diarahkan dengan reorganisasi total dari struktur politik masyarakat. Subjektifitas perempuan berbeda dari laki-laki karena di dalam situasinya saja mereka sudah berbeda.

 

Perempuan hanya diartikan di dalam hubungannya dengan laki-laki. Laki-laki mendapatkan status metafisisnya sebagai “the One” (Yang satu) dan perempuan adalah nothing (tidak ada). Beauvoir mengklaim bahwa struktur dyadic diri-yang lain (self-other) tidak berasal dari spesifik jenis kelamin tertentu, tapi lebih kepada struktur umum eksistensi. Hal ini didapat dari analisa Hegel, kategori “yang lain” menjadi dasar kategori “diri”: diri yang dibentuk dan subjektifitas didapat melalui hubungan dengan “yang lain”. Hal ini mengarahkan Beauvoir kepada pertanyaan: mengapa situasi perempuan yang subjektifitasnya terberi bersifat sebagai inferior terhadap laki-laki? Ada dua cabang pemikiran Beauvoir dalam merespon pertanyaan ini. Pertama, melibatkan penjelasan keadaan alamiah kebebasan dan keadaan alamiah situasi. Kedua, berhubungan dengan relasi antara situasi perempuan dan kebertubuhan perempuan.

 

  1. Keadaan alamiah kebebasan dan keadaan alamiah situasi

 

Di dalam The Ethics of Ambition, Beauvoir berpendapat bahwa eksistensi manusia tidak hanya dualitas bagi dirinya (for-itself) dan dalam dirinya (in-itself), tetapi simultanitas ambiguitasnya. Eksistensi manusia adalah kapasitas subjektifitas untuk mentransendesikan kondisi terberinya dan beban dunia kausal objektif yang berfungsi dengan pengabaian sempurna terhadap rencana seseorang.[1] Ambiguitas juga ada di dalam hubungan kita dengan orang lain. Orang lain yang bagi saya merupakan subjek dan objek, dan hanya saya yang merupakan subjek dan objek bagi diri saya sendiri, jadi saya juga adalah subjek dan objek bagi yang lainnya. Situasi seseorang distrukturkan dengan hubungan resiprositas dengan dunia material, dunia sosial dan tubuh diri seseorang. Kebebasan dan subjektifitasnya terkubur di dalam hubungan interpersonal dan institusi sosial yang membentuk bagian dari situasi seseorang.

 

Penindasan adalah kekerasan spesifik yang diarahkan kepada kelompok tertentu, yang tujuannya secara sistematik untuk merubah situasi di dalam kelompok tersebut, untuk menghalangi mereka dari kebebasan yang dilihat sebagai kompetisi terhadap kebebasan si penindas. Hal inilah yang dilihat Beauvoir sebagai situasi terberi terhadap perempuan. Beberapa situasi tidak bisa ditransendesikan karena mereka telah terstruktur dan tercermin di dalam tindakan dan keinginan seseorang.

 

Di dalam The Second Sex Beauvoir menjelaskan berbagai macam proses yang dialami oleh perempuan yang berdampak terhadap subjektifitasnya sebagai “Yang Lain” terhadap laki-laki. Institusi sosial, khususnya perkawinan, menentukan bahwa laki-laki dan perempuan berlawanan satu sama lain dan tidak setara. Bahkan dalam situasi terbaik sekalipun, seperti: perempuan yang menjalani kehidupan mandiri harus terus menerus berkonflik antara kebebasan di dalam dirinya dan takdir keperempuannya yang secara sosial telah terkonstruksikan.

 

  1. Situasi Perempuan dan Kebertubuhan Perempuan

 

Beauvoir menjelaskan bagaimana situasi perempuan yang terberi sebagai yang inferior. Permasalahan ketidaksetaraan perempuan ini merupakan masalah ontologis dan penjelasan yang diberikan oleh Beauvoir didasarkan kepada ambiguitas tubuh perempuan.

 

Menurut Beauvoir, moralitas dibutuhkan hanya oleh makhluk hidup karena keabadian tidak didorong untuk menjadi segala sesuatu. Kebebasan merupakan ide temporal yang mengandaikan masa depan dan generasi penerus. Beauvoir memperhatikan kebebasan temporalitas sebagai keinginan ontologis pengabdian para spesies. Dia berfikir bahwa membangun kebebasan manusia sebagai “menjadi” adalah kemungkinan spesies untuk mereproduksi diri. Sehingga ambiguitas eksistensi manusia adalah: transendensi ke arah hal yang bersifat biologis. Ini memberi eksistensi bagi perempuan dan situasi karakter spesifiknya. Tubuh perempuan merupakan “elemen penting di dalam situasinya di dunia” karena memungkinkan dia menghabiskan waktu dan energi berdasarkan fungsi alamiahnya terkait dengan kapasitas reproduksi seperti: menstruasi, kehamilan, menyusui dan lain sebagainya.

Perempuan mengalami konflik yang tidak dialami oleh laki-laki, yang disebut dengan konflik antara spesies dan individual. Perempuan berada diantara kebebasan yang mereka inginkan dan yang mereka dapatkan, pengabdian terhadap kebebasan tersebut juga mengikat perempuan. Kebertubuhan perempuan telah membuat mereka berada di dalam ”takdir fisiologis.” Dengan adanya alasan tersebut telah menguntungkan laki-laki untuk dapat mengeksploitasi perempuan, dengan cara membuat perempuan terkubur di dalam ruang domestik, sementara di lain pihak laki-laki bebas mengejar autentisitasnya, aktifitas mengafirmasi diri.

Beauvoir mengkritisi dengan memainkan nilai jenis kebebasan yang dimungkinkan melalui motherhood. Feminis lainnya seperti Luce Irigaray menuduh Beauvoir telah terjebak dengan memberi penghargaan terhadap perbedaan seksual. Hal ini mungkin karena hasil pandangan Beauvoir mengenai transendensi, dimana para ahli lainnya berargumentasi bahwa konsep gender yang mengandaikan konsepsi diri yang bergantung kepada bentuk kehidupan sosial dan konsep tindakan yang berharga didasarkan atas penahanan perempuan di dalam area domestik.

“Introduction” to the Second Sex

 

  1. Pokok Bahasan

Di dalam bab ini Beauvoir ingin mengemukakan keraguannya tentang perempuan. Beauvoir memulai dengan pertanyaan, apakah perempuan benar-benar ada? Jika mereka benar-benar akan selalu ada, baik itu diinginkan atau tidak, tempat seperti apa bagi mereka di dunia ini. Apa yang menjadikan perempuan?

Dimulai dengan pertanyaan: siapakah perempuan? ‘Tota mulier in utero’ yang berarti ‘perempuan adalah kandungan’. Semua orang setuju bahwa perempuan ada di dalam spesies manusia, dan pada saat sekarang kita mengatakan bahwa femininitas berada di dalam bahaya; perempuan terdesak sebagai perempuan, tetap perempuan, dan menjadi perempuan. Kemudian setiap manusia perempuan muda (female) tidak perlu menjadi perempuan dewasa (woman);   untuk dapat dipertimbangkan, dia harus membagi dirinya ke dalam realitas yang mengancam yang disebut dengan femininitas. Beauvoir mempertanyakan, apakah feminitas merupakan suatu atribut yang disembunyikan di dalam ovarium? Atau di dalam esensi Platonik, suatu produk imajinasi filosofis? Walaupun beberapa perempuan berusaha mencari esensinya, tapi sangat sulit untuk mendapat jawaban yang jelas.

Konseptualisme telah kehilangan dasarnya. Pengetahuan biologi dan sosial tidak dapat mengakui keberadaan yang menentukan karakter diri manusia, seperti yang diberikan kepada  perempuan, orang Yahudi atau Negro. Ilmu pengetahuan melihat karakteristik sebagai reaksi ketergantungan di dalam bagian situasi. Pertanyaan selanjutnya yang diajukan Beauvoir adalah, apakah kata perempuan kemudian mempunyai makna yang spesifik? Hal ini diafirmasi oleh orang yang percaya kepada filsafat pencerahan, rasionalisme, nominalisme. Perempuan bagi mereka adalah manusia yang secara arbitrer didesain untuk penggunaan kata perempuan. Di dalam karya, Modern Woman: The Lost Sex, Dorothy Parker[2] menulis: “I cannot be just to books which treat of woman as woman…My idea is that all of us, men as well as women, should be regarded as human beings.” Beauvoir menganggap hal ini sebagai sesuatu yang menjengkelkan. Tentunya perempuan, seperti laki-laki adalah manusia, tapi hal ini adalah sesuatu yang abstrak. Fakta bahwa setiap manusia selalu bersifat singular, individu yang terpisah. Untuk menolak penerimaan ide feminitas, Yahudi, orang kulit hitam adalah tidak menolak bahwa Yahudi, Negro, dan perempuan masih ada sampai saat sekarang – penolakan ini tidak mewakili kebebasan bagi yang memperhatikan – tetapi lebih kepada lari dari realitas. Beauvoir juga mengejek Trotskyte muda yang menolak kelemahan feminitasnya. Tindakan menentang dari perempuan Amerika telah membuktikan bahwa mereka dihantui oleh rasa feminitasnya. Ketika kita berjalan di luar dengan mata terbuka, sudah cukup jelas terlihat bahwa kemanusiaan terbagi ke dalam dua kelas individu. Bisa jadi perbedaan ini palsu, dan mungkin mereka ditakdirkan untuk menghilang. Tetapi apa yang terjadi adalah perbedaan ini tetap ada.

Pertanyaan siapakah perempuan? Bagi Beauvoir adalah suatu analisa yang panjang. Dia pertama akan menjawab, bahwa “Saya adalah perempuan”. Laki-laki tidak pernah menampilkan dirinya sebagai individu dengan preferensi jenis kelamin tertentu. Terms maskulin dan feminin digunakan secara simetris hanya sebagai bentuk, di dalam dokumen hukum. Pada kenyataaannya, hubungan antara dua jenis kelamin tidak seperti dua kutub elektrik; laki-laki mewakili hal positif dan netral, sementara perempuan direpresentasikan sebagai yang negatif, yang dijelaskan dengan kriteria terbatas, tanpa adanya resiprositas. Perempuan mempunyai ovarium, uterus: keanehan ini terpenjara di dalam subjektifitasnya, mempunyai batas berdasarkan keadaan alamiahnya. Bahkan Aristoteles pun mempunyai pandangan negatif terhadap perempuan: “The female is a female by virtue of a certain lack of qualities”. St.Thomas juga mengatakan perempuan sebagai “laki-laki yang tidak sempurna”, dan “incidentalbeing.  

Menurut Beauvoir kemanusiaan adalah bagaimana laki-laki memberikan arti kepada perempuan, bukan sebagai dirinya tetapi sebagai yang relatif bagi laki-laki tersebut; perempuan tidak dilihat sebagai manusia yang otonom. Penyebutan “the sex” merujuk bahwa laki-laki menganggap perempuan sebagai makhluk yang berjenis kelamin. Bagi laki-laki, perempuan adalah jenis kelamin yang absolut. Maka laki-laki adalah subjek dan Absolut sementara perempuan adalah yang lain (Other).[3]

Kategori Other sama tuanya dengan kesadaran itu sendiri. Di dalam masyarakat yang primitif, seseorang dapat menemukan ekspresi dualitas ini – Diri dan yang lain (Other). Dualitas ini tidak terikat dengan pembagian jenis kelamin; dan juga tidak bergantung dengan fakta empiris. Yang lain menjadi kategori fundamental di dalam pemikiran manusia.

Maka tidak ada kelompok yang menggambarkan dirinya tanpa menciptakan yang lain sebagai lawan terhadap dirinya. Seperti: penduduk asli yang melihat pendatang sebagai “yang asing”; Yahudi “berbeda” dengan anti-Semit, Negro “inferior” terhadap para rasis Amerika dan lain sebagainya.

Levi-Strauss di dalam berbagai karyanya tentang masyarakat primitif telah sampai kepada kesimpulan: “Passage from state of Nature to the state of Culture is marked by man’s ability to view biological relations as a series of contrasts; duality, alternation, opposition, and symmetry, whether under definite or vague forms, constitute not so much phenomena to be explained as fundamental and immediately given data of social reality.”[4] Fenomena ini menjadi tidak dapat dipahami jika pada faktanya masyarakat merupakan Mitsein atau persahabatan berdasarkan solidaritas. Jika kita mengikuti Hegel, kesadaran adalah musuh fundamental dari setiap kesadaran yang lain: subjek bisa diletakkan hanya di dalam berlawanan – yang menjadikan dirinya sebagai yang esensial, sebagai yang berlawanan dengan yang lain, tidak penting dan obyek.

Kesadaran yang lain membuat klaim sebaliknya. Penduduk asli suatu negara yang jalan-jalan ke luar negeri terkejut karena menemukan dirinya sebagai “yang asing” oleh penduduk asli negara lain. Maka, terjadilah perang, festival, perdagangan, perjanjian dan kontes diantara penduduk asli, negara dan kelas yang berusaha mencabut konsep “yang lain” dalam makna absolut untuk memanifestasikan relativitasnya; maka mau tidak mau, individu dan kelompok dipaksa untuk sadar akan resiprositas dari hubungan mereka. Yang lain diletakkan sebagaimana mestinya oleh yang satu (the One) dalam menjelaskan dirinya sebagai yang satu (The One). Tapi yang lain tidak mendapatkan status dalam menjadi yang satu (the One), dia harus mematuhi dan menerima pandangan yang lain. Bagaimana apabila kasus ini terjadi kepada perempuan?

Dalam berbagai kasus, yang terjadi adalah mayoritas mendominasi dengan memaksakan aturannya kepada minoritas. Tetapi di dalam halnya perempuan, perempuan bukanlah minoritas, jumlah perempuan dan laki-laki hampir sama di seluruh dunia. Dua kelompok tersebut harusnya bersifat independen, atau mengakui otonominya masing-masing. Tetapi peristiwa sejarah telah memperlihatkan penaklukan yang lemah oleh yang kuat. Mereka ada di dalam kejadian masa lalu, tradisi, dan terkadang di agama dan budaya.

Beauvoir juga melihat hubungan perempuan dan proletariat sebagai sesuatu yang bersifat valid karena mereka dibentuk sebagai minoritas atau unit koletif terpisah dari manusia. Satu peristiwa sejarah dalam dua kelompok tersebut dapat menjelaskan status mereka sebagai kelas dan keanggotaan dari individu partikular di dalam kelas tersebut. Tetapi proletariat tidak selalu ada, berbeda dengan perempuan. Perempuan mempunyai keutamaan di dalam anatomi dan fisiologinya. Di dalam sejarah, mereka selalu disubordinasi oleh laki-laki sehingga ketergantungan mereka bukanlah hasil dari peristiwa sejarah atau perubahan sosial. Alasan mengapa yang lain menjadi absolut di dalam bagiannya adalah kurangnya kontingensi atau kebetulan alami dari fakta sejarah. Kondisi alamiah ini mengatasi kemungkinan perubahan. Keadaan alamiah adalah sesuatu yang terberi, satu untuk semua dan menjadi realitas historis. Jika perempuan tidak pernah menjadi penting, maka hal ini terjadi karena mereka gagal membuat perubahan. Perempuan mendapatkan apa yang  (dirancang) diinginkan oleh laki-laki, sementara perempuan sendiri tidak mendapatkan apa-apa, mereka hanya menerima.

Hal ini terjadi karena perempuan kekurangan arti konkrit untuk mengorganisir dirinya menjadi unit yang dapat berhadapan dengan unit yang lainnya. Perempuan tidak seperti proletariat, perempuan tidak punya masa lalu, sejarah ataupun agama, mereka tidak punya solidaritas kerja dan kepentingan. Perempuan tersebar diantara laki-laki, berada di dalam rumah, pekerjaan rumah, kondisi ekonomi dan bahkan lebih jelas daripada perempuan terhadap perempuan lainnya. Jika mereka borjuis, mereka merasakan solidaritas dengan laki-laki di dalam kelas itu, bukan dengan perempuan proletariat. Proletariat bisa melakukan perlawanan kepada kelas penguasa, tetapi perempuan tidak bisa, bahkan untuk dapat bermimpi memusnahkan laki-lakipun tidak bisa. Ikatan yang menyatukan perempuan dengan penekannya tidak bisa dibandingkan dengan yang lain. Pemisahan jenis kelamin adalah fakta biologis, bukan kejadian di dalam sejarah manusia. Perempuan adalah yang lain di dalam totalitas dimana dua komponen dimungkinkan terhadap satu dengan yang lainnya.

Beauvoir melihat pembebasan yang dilakukan oleh kelas pekerja telah melambat. Budak dan tuan yang disatukan dengan kebutuhan resiprokal tidak dapat membebaskan kaum budak. Di dalam hubungan tuan dan budak, sang tuan tidak membuat kebutuhan yang dia punyai untuk yang lain: dia punya kekuasaan untuk meraih kepuasan melalui tindakannya sendiri; sementara budak, di dalam kondisi ketergantungannya, sadar akan kebutuhannya terhadap tuannya.

Perempuan juga selalu menjadi tergantung kepada laki-laki, dua jenis kelamin ini tidak pernah membagi dunia di dalam kesetaraan. Hal ini terlihat di dalam berbagai segi kehidupan: ekonomi, politik dan industri. Ketika perempuan berusaha mengambil bagian di dalam dunia, tetap ini adalah dunia yang dimiliki oleh laki-laki. Laki-laki dengan kekuasaannya akan memberi perempuan perlindungan material dan akan mengambil justifikasi moral dari keberadaan perempuan.  Bersamaan dengan kepentingan etis individu untuk menerima keberadaan subjektif laki-laki, juga ada usaha untuk mendahulukan kebebasan. Ketika laki-laki membuat perempuan menjadi yang lain, dia kemudian mengharapkan manifestasi kompleksitas. Sedangkan, perempuan bisa gagal meletakkan klaimnya terhadap status subjek karena kurangnya sumberdaya tertentu, karena dia merasa ikatan yang kuat terhadap laki-laki dan karena dia juga diuntungkan dengan perannya sebagai yang Lain.

Dualitas menimbulkan konflik. Yang menang akan muncul dengan status absolutnya, tetapi kenapa laki-laki harus sudah menang semenjak awalnya? Apakah perubahan ini mengarah kepada hal yang baik? Akankan membawa kesetaraan terhadap laki-laki dan perempuan? Pertanyaan ini tidaklah baru. Tapi fakta bahwa perempuan cenderung curiga terhadap segala justifikasi yang dipunyai oleh laki-laki tidak mampu disediakan. Seperti yang diungkapkan oleh feminis abad ke-17, Poulain de la Barre: “All that has been written about women by men should be suspect, for the men are at once judge and party to the lawsuit.” Laki-laki hanya dapat menikmati hak istimewanya pada sesuatu yang absolut dan abadi, sehingga mereka membuat hukum yang menguntungkan jenis kelaminnya, dan para pembuat hukum kemudian menjadikan hukum sebagai prinsip.

Para legislator, pendeta, filsuf, penulis dan ilmuwan telah berusaha memperlihatkan bahwa posisi subordinat perempuan diinginkan di surga dan diuntungkan di dunia. Agama yang ditemukan oleh para lelaki merefleksikan keinginan ini sebagai dominasi. Kita dapat menemukannya di dalam legenda Hawa dan Pandora dimana laki-laki melindungi perempuan. Semenjak jaman dahulu para moralis memperlihatkan kelemahan perempuan. Terkadang bisa terlihat dengan jelas, seperti hukum romawi yang membatasi hak perempuan dengan alasan ”kesintingan dan ketidakstabilan jenis kelamin” hanya karena kelemahan di dalam keluarga terlihat sebagai ancaman terhadap kepentingan laki-laki. Dan di dalam usaha menjaga perempuan yang menikah, maka St.Agustinus pada abad ke-16 mengatakan bahwa “Perempuan adalah makhluk yang tidak bersifat yang menentukan dan konstan”, pada saat perempuan single mampu mengelola hartanya. Montaigne paham betul dengan kondisi perempuan yang seperti ini, seperti yang diungkapkannya: “Perempuan tidak pernah salah ketika mereka menolak menerima aturan bagi mereka, karena laki-laki telah membuat aturan ini tanpa berkonsultasi dengan mereka. Tidak heran banyak intrik dan perselisihan.” Tapi Montaigne tidak berusaha sejauh apa yang dia bicarakan.

Pada abad ke-18, Diderot[5] mengatakan bahwa perempuan, sama dengan laki-laki adalah manusia. Kemudian muncul John Stuart Mill dengan argumentasinya. Pada Abad ke-19, perkelahian para feminis beranjak kepada perkelahian antar pendukung. Salah satu konsekwensi dari revolusi industrial adalah masuknya perempuan menjadi buruh produktif, dan disinilah klaim feminis timbul dari teori menjadi dasar ekonomis, sementara itu penentang mereka menjadi lebih agresif. Walaupun pemilik tanah kehilangan kekuasaannya, borjuis yang melekat kepada moralitas lama menemukan jaminan di dalam kepemilikan pribadi di dalam keluarga. Perempuan disuruh untuk kembali ke rumah karena emansipasinya telah menjadi suatu ancaman. Bahkan dengan kelas pekerja laki-laki berusaha untuk membatasi kebebasan perempuan.

Dalam membuktikan inferioritas perempuan, anti-feminis berusaha tidak hanya menggambarkan di dalam agama, filsafat dan teologi, sebagaimana sebelumnya, tetapi juga terhadap pengetahuan-biologi, psikologi eksperimental dan lain sebagainya. Kebanyakan jatuh pada “kesetaraan di dalam perbedaan” terhadap jenis kelamin lain. Hal ini sama dengan formula “sama tapi terpisah” dari hukum Jim Crow yang ditujukan kepada Negro di Amerika Utara. Perempuan pada masa sekarang adalah inferior terhadap laki-laki, tapi apakah keadaan ini harus tetap berlanjut?

Banyak laki-laki yang berharap bahwa keadaan ini terus berlanjut. Borjuis konservatif masih melihat emansipasi perempuan sebagai ancaman terhadap moralitas dan kepentingan mereka. Siswa laki-laki baru-baru ini menulis: “setiap siswa perempuan yang belajar kedokteran dan hukum mengambil jatah pekerjaan kita.” Dan kepentingan ekonomi tidak hanya menjadi hal utama yang diperhatikan.

Laki-laki yang paling mediocre merasa dirinya setengah dewa jika dibandingkan dengan perempuan. Lebih mudah bagi M.de Montherland[6] berfikir dirinya sebagai pahlawan ketika berhadapan dengan perempuan dibandingkan dengan dia yang bertindak sebagai laki-laki diantara para laki-laki.

Berbagai contoh telah diperlihatkan oleh Beauvoir mengenai sikap maskulin, tetapi laki-laki terus diuntungkan di dalam bentuk yang hampir tidak kentara dari yang lain. Dan parahnya, laki-laki telah menderita inferiority complex, tidak ada yang lebih arogan kepada perempuan, lebih agresif dan menghina, selain daripada laki-laki yang cemas akan kejantanannya. Mereka tidak bisa disalahkan karena tidak bahagia terlepas dari segala keuntungan yang berasal dari mitos, sementara mereka gagal untuk menyadari apa yang mereka dapatkan dari perempuan di masa yang akan datang. Penolakan untuk meletakkan diri sebagai subjek yang unik dan absolut membutuhkan penolakan diri yang besar. Mayoritas laki-laki tidak membuat klaim tersebut secara eksplisit. Mereka tidak mempostulatkan perempuan sebagai yang inferior, sekarang mereka terilhami dengan demokrasi ideal untuk tidak mengenali seluruh manusia sebagai sesuatu yang setara.

  1. Kesimpulan dan Kritik

Di dalam bab Introduction of Second Sex ini, Beauvoir masih berada di tahap awal penjelasan akar ketidaksetaraan perempuan dan laki-laki. Dimulai dari pertanyaan siapakah perempuan, dan jawaban dari berbagai filsuf dimulai dari Plato, kemudian St.Agustinus dan beberapa pemikir Perancis seperti Diderot dan Montherland tidak dapat menjelaskan siapa perempuan sebenarnya. Pertanyaan tentang siapa perempuan? terus menerus diragukan di dalam seluruh bab ini. Perempuan dilihat sebagai objek hasil kontruksi oleh laki-laki. Sejarah dan sistem sosial juga adalah hasil konstruksi laki-laki. Perempuan terberi di dalam kondisi ini. Sementara itu, dominasi laki-laki dan perempuan ini berbeda dengan jenis dominasi lainnya seperti dominasi kelas (borjuis dan proletar), yahudi dan kulit hitam. Jenis lain dari dominasi ini dimungkinkan untuk dapat terjadi pembebasan dan perlawanan, tetapi tidak dengan dominasi laki-laki terhadap perempuan.

Seperti kebanyakan kritik terhadap feminisme, pola pikir feminisme mendasarkan kepada oposisi biner, yang menempatkan laki-laki sebagai lawan terhadap perempuan. Pandangan ini menurut saya tidak bisa melihat apa yang terjadi dengan perempuan di abad-21 dimana banyak perempuan bisa terus berkarya dan menjadi pemimpin yang setara dengan laki-laki. Tanpa harus merasa ditindas. Hal ini dimungkinkan dengan perubahan sudut pandang masyarakat, pengaruh sistem adat dan sistem di dalam keluarga. Gerakan feminis juga mempunyai banyak aliran dimana pandangan yang satu secara substansial berbeda dengan yang lainnya. Hal ini tentunya menjadi sulit dalam perjuangan demi mencapai kesetaraan gender. Alih-alih menciptakan dunia yang setara, membereskan pandangan di dalam satu aliran pemikiran saja belum selesai di dudukkan. (*)

* Rika Febriani, Mahasiswa Paska Sarjana STF. Driyarkara

[1] Kim Atkins, Commentary on De Beavoir,di dalam buku Self and Subjectivity, Blackwell Publishing, 2005, hal. 238.

[2] Dorothy Parker adalah seorang penulis puisi, cerpen, kritik dan satir yang memperhatikan kekurangan masyarakat urban di Abad ke-20.

[3] Kata The Other yang digunakan oleh Beauvoir berasal dari Emanuel Levinas dalam karyanya Temps et l’Autre. Beauvoir menganggap feminitas berlawanan dengan makna absolut, makhluk yang berlawanan ini telah mempengaruhi hubungan diantara keduanya dan dianggap sebagai absolut terhadap yang lain. Otherness mencapai pemaknaannya di dalam femininitas, term yang digunakan dalam tataran yang sama sebagai kesadaran tetapi dengan makna yang berlawanan.

[4] Levi-Strauss, Les Structures elementaires de la parente, Paris, 1948.

[5] Diderot adalah filsuf Perancis yang terkenal dengan idenya tentang kehendak bebas. Di dalam lingkaran abad pencerahan karya Diderot yang terkenal Lettre sur les aveugles (London, 1749), yang mensuport teori pengetahuan Locke. Diderot juga terkenal dengan serangannya terhadap moralitas konvensional.

[6] M.de Montherland adalah seorang anti-feminis dan mempunyai pandangan misoginis. Beauvoir di dalam seluruh bab The Second Sex ini mendiskusikan dan mengutip berbagai pandangan M.de Montherland.

Continue Reading

Buku

Kecemasan dan Realitas (diri) Kita, Suatu Pengantar Analisis Psikoanalisa

mm

Published

on

Oleh Sabiq Carebesth*

Suatu kali, Freud berujar “life is not easy”, “hidup ini tidak mudah”. Ego—“keakuan”—berdiri di tengah-tengah kekuatan-kekuatan dahsyat: realitas; masyarakat, sebagaimana yang direpresentasikan oleh super ego; biologi sebagaimana yang direpresentasikan oleh id. Ketika terjadi konflik di antara kekuuatan-kekuatan ini untuk menguasa ego, maka sangat bisa dipahami kalau ego merasa terjepit dan terancam, serta merasa seolah-olah akan lenyap digilas kekuatan-kekuatan tersebut.  Perasaan terjepit dan terancam ini disebut kecemasan (anxiety). Perasaan ini berfungsi sebagai tanda bagi ego bahwa ketika dia bertahan sambil tetap mempertimbangkan kelangsungan hidup organisme, dia sebenarnya sedang dalam bahaya.

Kecemasan merupakan variabel penting dari hampir semua teori kepribadian. Pada umumnya kecemasan dapat didefininisikan suatu keadaan perasaan keprihatinan, rasa gelisah, ketidak tentuan, atau takut dari kenyataan. Kecemasan berfungsi sebagai tanda adanya bahaya yang akan terjadi, suatu ancaman terhadap ego yang harus dihindari atau dilawan. Dalam hal ini ego harus mengurangi konflik antara kemauan Id dan Superego.

Apabila kecemasan timbul, maka akan mendorong orang untuk melakukan sesuatu atau tindakan supaya tegangan dapat direduksikan atau dihilangkan. Untuk menghadapi kecemasan yang berlebihan, sistem ego terpaksa mengambil tindakan ekstrim untuk menghilangkan tekanan itu. Tindakan tekanan itu, disebut mekanisme pertahanan, sebab tujuannya adalah untuk mempertahankan ego terhadap kecemasan. Kecemasan Neurotik (kesemasan, red) paling lazim menjadi focus pembahasan psikoanalisa, secara lebih mendalam Menurut Freud, (dalam Suryabrata, 2002:139), adalah kecemasan kalau insting-insting tidak dapat dikendalikan dan menyebabkan orang berbuat sesuatu yang dapat dihukum. Kecemasan neurotis ini merupakan suatu gangguan keseimbangan fungsi mental oleh sebab-sebab khusus dari dinamika gangguan kehidupan emosi dan perasaan. Gangguan perasaan semacam ini umumnya diderita oleh penderita neurotis dan tidak berkaitan dengan orang lain. Dengan kata lain, kecemasan neurotis bukanlah ketakutan terhadap insting-insting itu sendiri, melainkan ketakutan terhadap hukuman yang mungkin terjadi jika insting tersebut dipuaskan (Hall dan Lindzey 1993:81).

Kecemasan neurotis ini dengan kuat muncul karena khawatir tidak mampu mengatasi atau menekan keinginan-keinginan primitifnya, ketakutan terhadap tidak terkendalinya naluri-naluri yang menyebabkan seseorang melakukan suatu tindakan yang bisa mendatangkan hukuman.

Ancaman akan kehilangan sesuatu yang berkaitan dengan status sosial, benar-benar sulit mendapatkan toleransi dari penderita neurotis, terutama bagi orang yang sangat ambisius, dinamis dan energik yang secara berlanjut didominasi target materi yang harus diraih. Biasanya orang ini sejak beberapa waktu sebelumnya telah diliputi rasa tak aman karena menempatkan ambisi berlebihan yang justru membuatnya oleng dalam menghadapi kegagalan yang dihadapinya. Dalam kondisi kecemasan yang menekan itu lah ego memunculkan apa yang disebut mekanisme pertahanan. Beberapa diantara mekanisme pertahanan ini dalam tradisi Freudian bisa disebutkan di sini di antaranya adalah: Penolakan, Represi, Asketisme, Isolasi, Penggantian, Penghapusan, Melawan diri sendiri, introjeksi, identifikasi dengan menyerang, regresi, sublimasi, dan rasionalisasi.

Kesadaran Dan Ketidaksadaran: Sebuah Pendekatan Historis Tentang Kepribadian Dan Neurosis Dalam Komunitas Patologis

Apakah teori psikoanalisa Sigmund Freud mencukupi untuk membaca dan menemukan hipotesa analisa tentang struktur kepribadian tokoh dalam sebuah novel, mislanya? Tulisan ini sekali lagi hanya merupakan pengantar.

Freud senidri membagi kepribadian kedalam tiga macam, id, ego, dan super ego. Id merepresentasikan seluruh keinginan instingtual, dank arena sebagian besar keinginan tersebut tidak di izinkan sampai pada tingkat kesadaran, maka keinginan-keinginan ini disebut sebagai keinginan”tidak sadar.” Ego, yang merepresentasikan kepribadian manusia yang telah terorganisasi sejauh mampu mengamati realitas dan melaksanakan fungsi apresiasi realistic, setidaknya menyangkut masalah kelangsungan hidup, bisa dikatakan merepresentasikan “kesadaran.”

Super Ego, internalisasi perintah dan larangan dari masyarakat, bisa termasuk sadar dan tidak sadar, sehingga tidak bisa di identifikasikan dengan kesadaran atau ketidaksadaran. Dari sini lah Freud mengatakan terapi psikoanalisanya adalah membuat alam bawah sadar dapat disadari. Sementara alam sadar (conscious mind) adalah apa yang kita sadari pada saat-saat tertentu, penginderaan langsung, fantasi, perasaan yang kita miliki, alam bawah sadar (unconscieus mind) adalah mencakup segala sesuatu yang sangat sulit di bawa ke alam sadar termasuk segala sesuatu yang memang asalnya alam bawah sadar, seperti nafsu dan insting kita serta segala sesuatu yang masuk ke dalamnya karena kita tidak bisa menjangkaunya, seperti kenangan atau emosi-emosi yang terkait dengan trauma. Freud sendiri menyebut alam sadar sebagai bagian terkecil dari pikiran. Sementara bagian terbesar dari pikiran adalah alam bawah sadar (unconscieus mind).

Konsep alam bawah sadar terlihat sangat rumit, dan memang pada bagian inlah yang paling sering membuat Freud mendapat kritik. Namun dari temuan Freud ini pula pembicaran “tidak sadar individual” dan “tidak sadar kolektif” bermula. Sementara Freud berkata bahwa tujuan terapinya adalah memebuat alam bawah sadar dapat disadari, namun demikian dia membuat alam bawah sadar menjadi tidak jelas: alam bawah sadar adalah kamar gelap tempat hasrat terkurung dan meronta-ronta; lubang tanpa dasar tempat keinginan sumbang (incestuous) terkekang; gua bawah tanah tempat persembunyian pengalaman-pengalaman mengerikan yang setiap saat menghantui kita.

Dengan demikian,“tidak sadar individu” yang dikatakan Freud mengacu pada isi elemen yang ditekan atau ditahan oleh individu karena alasan-alasan kondisi yang dihadapi oleh individu yang bersangkutan serta yang bersifat khusus bagi situasi kehidupan pribadi.

Keterbatasan Freud atau tepatnya anggapan Freud sendiri yang terlalu rumit dengan konsep alam bawah sadar individual harus di akui menjadi keterbatasan sendiri bagi teori Freud, kenyataan bahwa sebagian besar Freud membahas tentang tidak sadar Individu, dan hanya sedikit perhatian pada “tidak sadar sosial”.

Ruang kosong teoritis itulah yang kemudian menjadikan tidak mencukupi menilik suatu psikopatologi individual dan neurosis sosial tenpa berusaha mengaitkan pandangan Freud tetang “alam bawah sadar individual” dengan “alam bawah sadar kolektif” penerus Freud sendiri yaiatu Carl Juang; dalam suatu sisitem kesadaran sosial historis sebagaimana di bicarakan dalam teori Marxis struktur dalam materialisme dialektika historisnya.

***

Sementara itu, terkait “keadaan tidak sadar,” baik dalam Freudian mau pun Marxian meyakini bahwa sebagian besar dari apa yang dipikirkan manusia secara sadar ditentukan oleh kekuatan-kekuatan yang bergerak tanpa diketahuinya, atau dengan kata lain tanpa sepengetahuannya; bahwa manusia menjelaskan tindakan-tindakannya pada diri sendiri sebagai tindakan yang rasional atau tindakan moral, dan rasionalisasi-rasionalisasi tersebut (kesadaran palsu, idiologi) memberikan kepuasan pada dirinya secara subyektif.

Namun, karena didorong oleh kekuatan-kekuatan yang tidak diketahuinya, manusia berarti tidak bebas. Dan bisa mendapatkan kebebasan (dan kesehatan) hanya apa bila dia menyadari tentang kekuatan-kekuatan pendorong ini, atau realitas, sehingga selanjutnya dia bisa menjadi penguasa atas kehidupannya (dalam batasan realitas) dan bukan menjadi budak dari kekuatan-kekuatan buta.

Perbedaan dasar antara Marx Dan Freud terletak dalam konsep mereka tentang sifat dari kekuatan-kekuatan yang menentukan manusia. Bagi Freud, kekuatan-kekuatan ini pada dasarnya merupakan kekuatan fisiologis (libido) atau biologis (insting kematian dan kehidupan).

Bagi Marx, kekuatan-kekuatan ini merupakan kekuatan historis yang melewati sebuah evolusi dalam proses perkembangan sosio-ekonomi manusia. Bagi Marx, kesadaran manusia ditentukan oleh keberadaannya, keberadaanya ditentukan oleh kehidupannya, kehidupan ditentukan oleh bentuk produksi dan struktur sosial, bentuk distribusi dan konsumsi yang dihasilkannya. [catatan kaki: Karl Manheim adalah orang pertama yang mengatakan bahwa doktrin sosialis memiliki”senjata intelektual baru” dengan kemampuan untuk “membuka topeng tidak sadar” (penentangnya). Dia juga melihat bahwa “tidak sadar kolektif dan tindakan yang ditentukannya berperan untuk menutupi aspek-aspek tertentu dari realistas sosial (Karl Manheim, Idiology and Utopia, a Harvest Book, Harcourt, Brace and Co. New York, hal. 33 ff) ]

Marx mengakui dorongan seksual sebagai salah satu dorongan yang ada dalam segala situasi dan bisa diubah oleh kondisi-kondisi sosial hanya sejauh menyangkut bentuk dan arahnya. Artinya bagi Marx, keberadaan manusia dan kesadarannya ditentukan oleh struktur masyarakat di mana dia menjadi bagian di dalamnya. Sementara bagi Freud, masyarakat hanya berpengaruh pada keberadaanya melalui represi,[penejelasn tentang represi bisa dilihat dalam buku personality Theory, Dr. C. George Boeree, Prisma Shopie, Yogyakarta, hal. 44] baik dalam tingkatan yang besar mau pun yang kecil, atas organ fisiologis dan biologis yang dimilikinya.

Perbedaan selanjutnya terdapat pada: Freud meyakini bahwa manusia bisa mengatasi represi tanpa adanya perubahan sosial. Di lain pihak, Marx adalah pemikir pertama yang secara umum menyatakan tentang determinasi kesadaran oleh kekuatan-kekuatan sosial. Marx melihat bahwa realisasi atas manusia yang universal dan sepenuhnya sadar hanya bisa terjadi bersamaan dengan perubahan sosial yang mengarahkan pada tatanan ekonomi dan sosial manusia yang baru dan benar-benar manusiawi.

Hal mana dalam psikoanalisa lebih berdekatan dengan konsep Karl Jung, bahwa Jung lebih memberikan penekanan pada karakter sosial dari neurosis dibandingkan dengan Freud. Dia mempercayai bahwa “neurosis dalam sebagian besar kasus tidak hanya merupakan pertimbangan pribadi, namun lebih merupakan fenomena sosial…” dia lebih jauh lagi mengatakan bahwa di bawah tidak sadar pribadi terdapat sebuah lapisan yang lebih dalam, yaitu “tidak sadar kolektif,” yang “tidak bersifat individual namun universal; berkebalikan dengan keadaan psikis pribadi, ia memiliki isi dan sifat perilaku yang kurang lebih sama di semua tempat dan dalam diri semua individu.

Dengan kata lain, ia adalah sama dalam semua manusia sehingga membentuk suatu elemen pengganti psikis umum dari sebuah sifat super personal yang terdapat dalam diri kita semua.”

Hal itu bagi Jung adalah masalah utama dari karakter universal dari substansi psikis yang terdapat dalam diri semua manusia. Perbedaan “tidak sadar kolektif” dari Jung dengan “tidak sadar sosial” yang dipergunakan di sini adalah sebagai berikut: “tidak sadar kolektif secara langsung menunjuk pada konsisi psikis universal, di mana sebagian besar di antaranya sama sekali tidak bisa mnejadi sadar. Konsep tentang tidak sadar sosial di awalai dengan pandangan tentang karakter represif masyarakat dengan mengacu pada bagian tertentu dari pengalaman manusia yang tidak diperbolehkan sampai pada tingkat sadar oleh masyarakat tertentu; bagian kemanusian dari manusia inilah yang diasingkan oleh masyarakat dari individu yang bersagkutan; “tidak sadar sosial” adalah bagian dari kondisi psikis universal yang di tekan.

 

Resistensi Dan Represi Sebagai Mekanisme Bertahan Dari Kecemasan Neurotis

Penolakan untuk mengakui eksistensi dari sesuatu yang di tekan atau ditahan, oleh Freud disebut sebagai “resistensi.” Kekuatan dari resistensi ini sama dengan kekuatan kecenderungan-kecenderungan represif.

Secara alamai meskipun semua jenis pengalaman bisa ditekan, namun dari kerangka teoritis Freudian bisa disimpulkan bahwa, dalam pandangannya, keinginan-keinginan yang paling banyak mendapat tekanan adalah keinginan-keinginan yang tidak sejalan dengan norma-norma manusia beradab, seperti keinginan seksual—dan mungkin juga revolusi.

Namun apa pun muatan khusus yang dari keinginan yang ditekan, dalam pandangan Freud, semuanya selelau merepresentasikan sisi gelap manusia, sifat anti sosial; sifat primitif manusia yang belum tersublimasi dan yang bertentangan dengan apa yang diyakini oleh manusia sebagai yang beradab. Namun harus di catat bahwa dalam pandangan Freud, represi memiliki arti bahwa “kesadaran” akan dorongan-dorongan tertentu ditekan, tapi bukan dorongan itu sendiri.

Dalam kasus ini, dorongan-dorongan masih tetap ada, namun represi atau penekanan atas kesadarannya akan mengarahkan pada penekanan yang berkaitan dengan pelaksanaan dorongan tersebut. Dalam banyak kasus, represi berarti suatu distorsi atas kesadaran manusia, dan tidak berarti pengahapusan atas dorongan-dorongan yang terlarang dalam diri manusia. Atau dengan kata lain, hal ini berarti bahwa kekuatan-kekuatan tidak sadar disembunyikan dan menentukan tindakan manusia secara tidak sadar.

Pertanyaanya kemudian, ‘mekanisme psikologis’ yang seperti apa yang memungkinkan dilakukannya tindakan represi tersebut? Menurut Freud, mekanisme ini adalah ‘rasa takut’. Rasa takut inilah yang kemduian mendorong kesadaran untuk menyalurkan keinginannya menuju arah lain.

Dalam kaitannya dengan kemungkinan menjadikan yang tidak sadar menjadi sadar, hal yang paling penting adalah mengenali faktor-faktor yang menghambat proses ini. Factor tersebut di antaranya adalah kekuatan mental, kurangnya orientasi yang tepat, perasaan tidak berdaya, tidak adanya kemungkinan untuk mengubah kondisi-kondisi realistik, dan sebagainya. (*)

*Sabiq Carebesth, Penulis. Editor Galeri Buku Jakarta.

Continue Reading

Trending