Connect with us
a a

Tabloids

A Fresh Look at Your Favorite Young Celebrities

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligula eget dolor. Aenean massa. Cum sociis Theme natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus. Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus. Phasellus viverra nulla ut metus varius laoreet.

mm

Published

on

Follow breaking news as they occur around the world; always keep yourself posted with important global and local events

[eltdf_dropcaps type=”normal” color=”” background_color=””]A[/eltdf_dropcaps]liquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus. Phasellus viverra nulla ut metus varius laoreet. Quisque rutrum. Aenean imperdiet. Etiam ultricies nisi vel augue. Curabitur ullamcorper ultricies nisi. Nam eget dui. Etiam rhoncus. Maecenas tempus, tellus eget condimentum rhoncus, sem quam semper libero, sit amet adipiscing sem neque sed ipsum. Nam quam nunc, blandit vel, luctus pulvinar, hendrerit id, lorem. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus. Donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus. Nullam quis ante. magna.

Donec quam felis, ultricies nec, pellentesque eu, pretium quis, sem. Nulla consequat massa quis enim. Nullam dictum felis eu pede mollis pretium. Integer tincidunt.Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligula eget dolor. Aenean massa. Cum sociis Theme natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus. Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus. Phasellus viverra nulla ut metus varius laoreet. Quisque rutrum. Aenean imperdiet. Etiam ultricies nisi vel augue. Curabitur ullamcorper ultricies nisi. Nam eget dui.Etiam rhoncus. Maecenas tempus, tellus eget condimentum rhoncus, sem quam semper libero, sit amet adipiscing sem neque sed ipsum.Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.

Happiness is determined by how much information and affection flows through us covertly every day and year, our minds are intertwined with other people and activities.

Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus. Phasellus viverra nulla ut metus varius laoreet. Quisque rutrum. Aenean imperdiet. Etiam ultricies nisi vel augue. Curabitur ullamcorper ultricies nisi. Nam eget dui. Etiam rhoncus. Maecenas tempus, tellus eget condimentum rhoncus, sem quam semper libero, sit amet adipiscing sem neque sed ipsum. Nam quam nunc, blandit vel, luctus pulvinar, hendrerit id, lorem. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus. Donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus. Nullam quis ante. Etiam sit amet orci eget eros faucibus tincidunt. Duis leo. Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligula eget dolor. Aenean massa. Cum sociis Theme natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus. Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus. Phasellus viverra nulla ut metus varius laoreet. Quisque rutrum. Aenean imperdiet. Etiam ultricies nisi vel augue. Curabitur ullamcorper ultricies nisi. Nam eget dui. Etiam rhoncus. Maecenas tempus, tellus eget condimentum rhoncus, sem quam semper libero, sit amet adipiscing sem neque sed ipsum. Nam quam nunc, blandit vel, luctus pulvinar, hendrerit id, lorem. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus. Donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus. Nullam quis ante.

Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus. Phasellus viverra nulla ut metus varius laoreet. Quisque rutrum. Aenean imperdiet. Etiam ultricies nisi vel augue. Curabitur ullamcorper ultricies nisi. Nam eget dui. Etiam rhoncus. Maecenas tempus, tellus eget condimentum rhoncus, sem quam semper libero, sit amet adipiscing sem neque sed ipsum. Nam quam nunc, blandit vel, luctus pulvinar, hendrerit id, lorem. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus. Donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus. Nullam quis ante. Etiam sit amet orci eget eros faucibus tincidunt. Duis leo.

a
a

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligula eget dolor. Aenean massa. Cum sociis Theme natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus. Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus. Phasellus viverra nulla ut metus varius laoreet. Quisque rutrum. Aenean imperdiet. Etiam ultricies nisi vel augue. Curabitur ullamcorper ultricies nisi. Nam eget dui. Etiam rhoncus. Maecenas tempus, tellus eget condimentum rhoncus, sem quam semper libero, sit amet adipiscing sem neque sed ipsum. Nam quam nunc, blandit vel, luctus pulvinar, hendrerit id, lorem. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus. Donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus. Nullam quis ante.

And that is how it all started…

Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus. Phasellus viverra nulla ut metus varius laoreet. Quisque rutrum. Aenean imperdiet. Etiam ultricies nisi vel augue. Curabitur ullamcorper ultricies nisi. Nam eget dui. Etiam rhoncus. Maecenas tempus, tellus eget condimentum rhoncus, sem quam semper libero, sit amet adipiscing sem neque sed ipsum. Nam quam nunc, blandit vel, luctus pulvinar, hendrerit id, lorem. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus. Donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus. Nullam quis ante. Etiam sit amet orci eget eros faucibus tincidunt. Duis leo. Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus.

Donec quam felis, ultricies nec, pellentesque eu, pretium quis, sem. Nulla consequat massa quis enim. Donec pede justo, fringilla vel, aliquet nec, vulputate eget, arcu. In enim justo, rhoncus ut, imperdiet a, venenatis vitae, justo. Nullam dictum felis eu pede mollis pretium. Integer tincidunt.

Tabloids

Nasihat Bagi yang Ingin Menjadi Penulis Lepas

mm

Published

on

Tentu saja, pengalaman pribadi mungkin menarik perhatian para editor majalah. Dan memang belum tentu artikel berdasar pengalaman pribadi tidak bisa mendatangkan pendapatan dari menjual tulisan nonfiksi ke media massa.

Setelah mengajarkan materi menulis nonfiksi kepada mahasiswa selama lebih dari 10 tahun, saya menyadari sejumlah masalah yang kerap membuat banyak karya penulis pemula ditolak redaksi majalah. Bukan karena mereka pemula dan kemudian disepelekan, yang saya persoalkan. Yang jadi perhatian saya adalah banyak penulis pemula melupakan hal-hal mendasar, penentu nasib karya mereka.

Sejumlah poin dalam artikel saya ini didasarkan pada pembacaan ratusan naskah karya para mahasiswa usia 19 hingga 67 tahun. Banyak dari mereka sempat berpikir bekerja sebagai penulis lepas. Tetapi hanya sedikit yang merealisasikan niatnya. Berikut ini adalah daftar lima hal yang membuat—dan mungkin anda—gagal menjadi penulis nonfiksi dengan status freelancer sukses.

  1. Anda tidak bisa menulis nonfiksi hanya dengan berdiam diri di rumah

Pekerjaan tersulit saya di beberapa kelas adalah meyakinkan para mahasiswa bahwa mereka tidak bergantung pada pengalaman pribadi, keluarga dan teman untuk mendapat bahan tulisan nonfiksi.

Sebagian dari mereka ragu dan takut menghubungi orang asing untuk wawancara, alih-alih bersikap ramah dan akrab. Akibatnya, mereka menulis artikel hanya dengan mengandalkan wawancara dengan kolega dekatnya atau atas dasar pengalaman pribadi.

Tentu saja, pengalaman pribadi mungkin menarik perhatian para editor majalah. Dan memang belum tentu artikel berdasar pengalaman pribadi tidak bisa mendatangkan pendapatan dari menjual tulisan nonfiksi ke media massa.

Tetapi, yang sering tidak disadari oleh para penulis pemula ialah pengalaman pribadi hanya sesekali saja bisa menjadi sumber ide tulisan. Padahal, penulisan nonfiksi menuntut pencarian materi seluas mungkin. Begitu punya ide, penulis harus pergi ke mana pun fakta berada. Mungkin harus melakukan wawancara dengan selusin orang asing di banyak tempat yang berbeda.

“Cobalah wawancara,” begitu saya mendorong para mahasiswa. “Tidak sesulit yang kamu pikirkan. Begitu kamu memecahkan kebekuan dengan satu atau dua pertanyaan, sisanya sering berjalan dengan mudah.”

  1. Jangan menulis topik yang terlalu luas

Suatu kali, saya meminta mahasiswa saya datang ke kelas dengan membawa ide soal topik tulisan nonfiksi. Sebagian dari mereka mengusulkan topik soal “Lingkungan,” “Berkemah,” “Pengungsi Perang Vietnam,” “Krisis Pangan” dan “Berselancar.”

“Bagaimana dengan topik Lingkungan?” Saya bertanya ke salah satu mahasiswa. Dia mengangkat bahu dan mengakui tidak benar-benar memahami topik ini. Kesalahan dia adalah mengajukan topik dengan cakupan tertalu luas, tidak fokus. Ia contoh korban sindrom esai: ambil topik gagah dan buat tulisan panjang untuk sekedar memuaskan dosen mereka.

Baca Juga:

*) Artikel lengkapnya bisa dibaca dalam buku “Memikirkan Kata” yang akan diterbirkan secara eksklusif oleh Galeri Buku Jakarta (Maret, 2019) sepenuhnya guna mendukung laman galeribukujakarta.com

Continue Reading

Tabloids

Riset Untuk Penulisan Fiksi

mm

Published

on

Salah satu nasihat banyak penulis berpengalaman kepada para pemula, yang kerap disalahpahami, ialah: “Tulislah tentang apa yang kamu ketahui.”

Banyak pemula salah paham karena mengira harus mengarang cerita soal hal-hal yang dekat dengan kehidupannya, sehingga menjauhi tema-tema asing dengan konteks yang belum pernah mereka temui. Akibatnya, mereka pun percaya, harus menulis soal kisah-kisah di perkotaan saja, jika tempat bermukim selama hidupnya adalah di kota. Sebaliknya, jika mereka besar di perdesaan, cerita karangan mereka juga harus melulu memiliki latar belakang kehidupan di desa.

Tentu saja, banyak penulis profesional tak mengikuti saran seperti itu. Jika mereka mematuhi saran“sesat” itu, tak akan ada penulis novel sejarah dan fiksi ilmiah. Ini karena maksud sebenarnya dari nasihat di atas ialah: “Ketahuilah apa yang kamu tulis.”

Memang benar, pengarang harus mampu membubuhkan banyak detail yang memuat informasi akurat meski ceritanya fiksi. Pembaca bisa gampang mencela si pengarang jika saja di karangannya ada cerita soal penjahat yang menarik pistol jenis x, tapi ia tidak menulis kaliber pelurunya secara akurat.

Baca Juga:

Namun, apakah penulis perlu hidup lama di penjara untuk menulis cerita soal kehidupan para napi dan sipir? Tentu saja, pengarang hanya perlu bicara dengan satu atau dua sipir dan napi untuk menulis fiksi dengan latar kehidupan di bui.

Hanya saja, ada teknik tertentu untuk mengumpulkan bahan cerita seperti ini. Tanpa tahu teknik yang tepat, orang yang tinggal puluhan tahun di penjara pun bisa gagal menulis kisah yang bagus dan menarik dengan latar kehidupan di balik jeruji besi?

Saya dulu punya teman yang bekerja sebagai polisi selama 20 tahun dan setelah pensiun mencoba peruntungan dengan mengarang cerita fiksi. Cukup mudah dimengerti, dia memilih fiksi kriminal, karena berharap dengan latar belakang pengalamannya, bisa mengarang cerita fiksi yang terkesan otentik.

Dia lalu mengirim karya pertamanya soal cerita polisi dan perampok ke salah satu agen yang sengaja memburu karangan penulis pemula dengan alasan harganya murah.

Kecuali untuk surat-surat pribadi, teman saya tidak pernah menulis sepatah kata pun, termasuk saat ia masih duduk di bangku sekolah. Tak heran, si agen dengan mudah menemukan banyak kesalahan di karangan teman saya. Bahkan catatan si agen hampir sama panjangnya dengan fiksi karya teman saya itu.

Semula teman saya menerima dengan lapang saat membaca catatan kritis dari si agen. Akan tetapi, ketika dia tahu si agen meragukan latar belakangnya sebagai polisi, dia mulai emosi.

“Tunggu saja, aku akan menulis untuk si brengsek itu dan memberitahunya bahwa aku bekerja sebagai polisi selama dua puluh tahun,” katanya.

“Itu jelas kesan kamu pernah jadi polisi tidak muncul dalam ceritamu,” kataku padanya. Dan, faktanya ia tidak pernah membuktikan omangannya.

Sebenarnya, teman saya itu salah memahami maksud si agen. Tak ada yang meragukan pengetahuannya soal kisah polisi dan perampok. Si agen hanya mengkritik cara teman saya tadi dalam mengisahkan fiksi soal polisi dan perampok. Karena meski kaya detail, karangan teman saya kering dan terkesan dibuat-buat. Ini sebenarnya kesalahan umum di kalangan penulis pemula yang merasa sudah menulis fiksi berkualitas karena isinya terkait dengan hal yang sangat mereka ketahui.

Padahal, mereka perlu mengetahui teknik untuk membuat fiksi yang terkesan otentik dan menarik. Tanpa tahu tekniknya, si pengarang hanya seolah-olah menulis ensiklopedia, bukan cerita yang memikat pembaca.

Menaburi Cerita Dengan Detail Menarik

Ada teknik cukup mudah untuk menggambarkan latar dalam kisah secara menarik meski tidak sesederhana dalam praktiknya. Pada dasarnya, teknik ini soal cara memasukkan banyak detail yang tepat pada naskah cerita, sehingga keberadaannya tidak mengganggu alur kisah.

Agar detail-detail itu tidak mengganggu cerita, harus dimunculkan saat alur cerita memang membutuhkannya. Jika detail-detail itu terlalu berlebihan dalam menjelaskan latar cerita, pembaca akan mudah menemukan keanehan.

*) Artikel lengkapnya bisa dibaca dalam buku “Memikirkan Kata” yang akan diterbirkan secara eksklusif oleh Galeri Buku Jakarta (Maret, 2019) sepenuhnya guna mendukung laman galeribukujakarta.com

Continue Reading

Tabloids

Membaca Fiksi | Donald Hall (1928-2018)

mm

Published

on

Photo by Gary Knight / Getty Image

Ketika kita membaca kesusastraan yang hebat, ada sesuatu yang berubah di dalam diri kita, sesuatu yang memang tetap berubah. Kesusastraan menjadi material yang diingat untuk berpikir. Tidak ada seorang pun yang telah membaca The Death of Ivan Ilyich dengan baik akan menjadi sungguh-sungguh sama seperti semula.

Ketika kita belajar membaca fiksi, kita memperoleh semacam kesenangan dan kekayaan yang tidak akan pernah bisa kita hilangkan. Meski di satu sisi studi kesusastraan bukan kegiatan keseharian—beberapa orang membuat buku-buku mereka sebagai bacaan yang hidup—pada sisi yang lainnya studi kesusastraan hampir seperti kegiatan praktik, sama halnya seperti kita bernafas.

Rekam jejak kesusastraan dan perwujudannya selama berabad-abad dari pikiran dan perasaan manusia, mengawetkan bagi kita pikiran-pikiran manusia, yang hidup sebelum kita, manusia-manusia yang sama seperti kita dan juga tidak serupa dengan kita, yang dapat menentang siapa pun, yang bisa kita ukur berdasar pada kesamaan kemanusiaan dan perbedaan historis. Dan ketika kita membaca cerita-cerita dari orang-orang kontemporer, cerita-cerita itu menerangi dunia kita semua, dunia yang kita bagi.

Ketika kita membaca kesusastraan yang hebat, ada sesuatu yang berubah di dalam diri kita, sesuatu yang memang tetap berubah. Kesusastraan menjadi material yang diingat untuk berpikir. Tidak ada seorang pun yang telah membaca The Death of Ivan Ilyich dengan baik akan menjadi sungguh-sungguh sama seperti semula. Membaca menambahkan perangkat, yang dengannya kita mengobservasi, mengukur, dan menilai orang-orang dan kekayaan alam semesta, kita memahami perbuatan dan motif-motif orang lain dan diri kita sendiri.

Di dalam cerita fabel semut dan belalang, semut yang bijak membangun gudang bagi dirinya untuk menghadapi musim dingin dan dia berhasil dengan baik; belalang yang pandir tidak menyimpan apa-apa dan dia binasa. Siapa pun yang menampik studi kesusastraan dengan dasar bahwa itu tidak berfaedah—bagi ahli kimia atau pun seorang insinyur, bagi kepala tukang atau pun teknisi X-ray—jelas membebek sang belalang.

Ketika kita menutup hidup kita dari segala sesuatu, terkecuali makanan dan tempat bernaung, ada sebagian dari diri kita yang kelaparan sampai mati. Makanan untuk rasa kelaparan yang demikian itu adalah musik, lukisan, film, drama, sajak, cerita, dan novel.

Banyak tulisan di surat kabar, majalah, dan novel populer bukan merupakan kesusastraan, jika kita menyimpan kata tersebut bagi karya berkualitas tinggi. Pembacaan yang demikian itu memberikan kita sedikit makanan sebagaimana kebanyakan televisi dan makanan cepat saji. Selama musim dingin yang panjang dan musim panas yang enerjik, kita tentunya memerlukan makanan kesusastraan.

Baca Juga:

Membaca fiksi lama dan baru—membawa kita kepada karya-karya sastra Rusia abad sembilan belas, sastra Inggris kontemporer, Irlandia, terutama tukang cerita Amerika—kita bangun sebuah gudang ilmu pengetahuan dan kita mengentertain diri kita dengan sebaik-baiknya. Tetapi untuk memperoleh kesenangan dan pemahaman dari fiksi, kita harus belajar bagaimana cara membacanya. Tidak ada seorang pun yang berharap untuk mendatangi satu pun komputer dan memprogramnya tanpa terlebih dulu mempelajari sesuatu mengenai komputer tersebut. Untuk beberapa alas an—bisa jadi lantaran kita telah familiar dengan kata-kata dari masa kecil kita dan mengambil kata-kata tersebut dengan begitu saja—kita cenderung untuk berpikir bahwa pandangan yang cepat terhadap kata-kata yang telah ditulis mestilah memberikan ganjaran kepada kita dan bahwa jika kita tidak mendapatkan kepuasan yang instan, maka karya itu ada di luar kita, atau tidak layak, tidak relevan atau pun menjemukan. Tetapi di dalam seluruh kehidupan kita, di dalam keterampilan yang lain, kita membutuhkan instruksi dan latihan—untuk mampu menunggang sepeda, mengendarai mobil, bermain gitar, menembakkan bola ke dalam keranjang basket, mengetik dan berdansa.

Sampul Buku “Memikirkan Kata” Panduan Menulis Untuk Semua. Akan Terbit secara ekseklusif oleh Galeri Buku Jakarta, (Maret, 2019)

Pengetahuan yang kita peroleh dari kesusastraan dapat terlihat membingungkan. Terkadang karya-karya yang hebat bisa saling berkontradiksi di dalam penggeneralisasian dari apa yang bisa kita ambil dari karya-karya tersebut. Satu karya dapat merekomendasikan kesendirian, karya yang lain—pergaulan masyarakat. Satu karya bisa menyarankan kita untuk menangkap momen, karya yang lain—untuk menjalani kehidupan kontemplasi. Atau, dua orang pembaca dapat tidak bersepakat mengenai implikasi dari sebuah karya dan keduanya saling berbantahan dengan meyakinkan, dengan referensi yang detail terhadap tulisan, untuk memberikan dukungan pada interpretasi yang bertentangan. Karya fiksi yang kompleks tidak dapat direduksi menjadi bermakna simpel dan benar. Di dalam teks aritmatika yang elementer, jawaban bisa saja dicetak pada bagian belakang buku. Tetapi tidak ada jawaban yang dicetak di bagian belakang buku apa saja dari koleksi kesusastraan.

Ketidakjelasan dan kerawanan yang mudah terperosok dalam ambiguitas yang demikian mengganggu beberapa pembaca sastra. Setelah diskusi dalam forum-forum sastra mengenai cerita pendek sepanjang satu jam dengan beragam interpretasi yang ditawarkan, mereka, kita, ingin mengetahui: “Tetapi apakah artinya itu?” Kita harus mengakui bahwa kesusastraan bukanlah sesuatu yang eksak dan kebenarannya tidak gampang untuk diverifikasi. Kemungkinannya, sebuah cerita dapat memaksudkan beberapa hal dengan sekaligus, bukan hanya benar-benar satu hal saja. Masalah yang demikian ini tidak untuk dikatakan, tetapi, ini memaksudkan apa pun, yang di dalamnya bisa ditemukan oleh siapa pun. Meskipun pendapat berbeda dan secara adil dapat dipertahankan, hal itu merupakan sesuatu yang umum, tetapi kesalahan lebih umum terjadi. …

*) Artikel lengkapnya bisa dibaca dalam buku “Memikirkan Kata” yang akan diterbirkan secara eksklusif oleh Galeri Buku Jakarta (Maret, 2019) sepenuhnya guna mendukung laman galeribukujakarta.com

Continue Reading

Trending