Connect with us

Tabloids

A Fresh Look at Your Favorite Young Celebrities

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligula eget dolor. Aenean massa. Cum sociis Theme natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus. Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus. Phasellus viverra nulla ut metus varius laoreet.

mm

Published

on

a

Follow breaking news as they occur around the world; always keep yourself posted with important global and local events

[eltdf_dropcaps type=”normal” color=”” background_color=””]A[/eltdf_dropcaps]liquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus. Phasellus viverra nulla ut metus varius laoreet. Quisque rutrum. Aenean imperdiet. Etiam ultricies nisi vel augue. Curabitur ullamcorper ultricies nisi. Nam eget dui. Etiam rhoncus. Maecenas tempus, tellus eget condimentum rhoncus, sem quam semper libero, sit amet adipiscing sem neque sed ipsum. Nam quam nunc, blandit vel, luctus pulvinar, hendrerit id, lorem. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus. Donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus. Nullam quis ante. magna.

Donec quam felis, ultricies nec, pellentesque eu, pretium quis, sem. Nulla consequat massa quis enim. Nullam dictum felis eu pede mollis pretium. Integer tincidunt.Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligula eget dolor. Aenean massa. Cum sociis Theme natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus. Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus. Phasellus viverra nulla ut metus varius laoreet. Quisque rutrum. Aenean imperdiet. Etiam ultricies nisi vel augue. Curabitur ullamcorper ultricies nisi. Nam eget dui.Etiam rhoncus. Maecenas tempus, tellus eget condimentum rhoncus, sem quam semper libero, sit amet adipiscing sem neque sed ipsum.Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.

Happiness is determined by how much information and affection flows through us covertly every day and year, our minds are intertwined with other people and activities.

Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus. Phasellus viverra nulla ut metus varius laoreet. Quisque rutrum. Aenean imperdiet. Etiam ultricies nisi vel augue. Curabitur ullamcorper ultricies nisi. Nam eget dui. Etiam rhoncus. Maecenas tempus, tellus eget condimentum rhoncus, sem quam semper libero, sit amet adipiscing sem neque sed ipsum. Nam quam nunc, blandit vel, luctus pulvinar, hendrerit id, lorem. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus. Donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus. Nullam quis ante. Etiam sit amet orci eget eros faucibus tincidunt. Duis leo. Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligula eget dolor. Aenean massa. Cum sociis Theme natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus. Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus. Phasellus viverra nulla ut metus varius laoreet. Quisque rutrum. Aenean imperdiet. Etiam ultricies nisi vel augue. Curabitur ullamcorper ultricies nisi. Nam eget dui. Etiam rhoncus. Maecenas tempus, tellus eget condimentum rhoncus, sem quam semper libero, sit amet adipiscing sem neque sed ipsum. Nam quam nunc, blandit vel, luctus pulvinar, hendrerit id, lorem. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus. Donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus. Nullam quis ante.

Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus. Phasellus viverra nulla ut metus varius laoreet. Quisque rutrum. Aenean imperdiet. Etiam ultricies nisi vel augue. Curabitur ullamcorper ultricies nisi. Nam eget dui. Etiam rhoncus. Maecenas tempus, tellus eget condimentum rhoncus, sem quam semper libero, sit amet adipiscing sem neque sed ipsum. Nam quam nunc, blandit vel, luctus pulvinar, hendrerit id, lorem. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus. Donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus. Nullam quis ante. Etiam sit amet orci eget eros faucibus tincidunt. Duis leo.

a
a

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligula eget dolor. Aenean massa. Cum sociis Theme natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus. Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus. Phasellus viverra nulla ut metus varius laoreet. Quisque rutrum. Aenean imperdiet. Etiam ultricies nisi vel augue. Curabitur ullamcorper ultricies nisi. Nam eget dui. Etiam rhoncus. Maecenas tempus, tellus eget condimentum rhoncus, sem quam semper libero, sit amet adipiscing sem neque sed ipsum. Nam quam nunc, blandit vel, luctus pulvinar, hendrerit id, lorem. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus. Donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus. Nullam quis ante.

And that is how it all started…

Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus. Phasellus viverra nulla ut metus varius laoreet. Quisque rutrum. Aenean imperdiet. Etiam ultricies nisi vel augue. Curabitur ullamcorper ultricies nisi. Nam eget dui. Etiam rhoncus. Maecenas tempus, tellus eget condimentum rhoncus, sem quam semper libero, sit amet adipiscing sem neque sed ipsum. Nam quam nunc, blandit vel, luctus pulvinar, hendrerit id, lorem. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus. Donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus. Nullam quis ante. Etiam sit amet orci eget eros faucibus tincidunt. Duis leo. Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus.

Donec quam felis, ultricies nec, pellentesque eu, pretium quis, sem. Nulla consequat massa quis enim. Donec pede justo, fringilla vel, aliquet nec, vulputate eget, arcu. In enim justo, rhoncus ut, imperdiet a, venenatis vitae, justo. Nullam dictum felis eu pede mollis pretium. Integer tincidunt.

Tabloids

Sesuatu yang menyentuh dan membuat kita memutuskan menulis

mm

Published

on

Saya terpesona, mungkin lebih dari yang pernah saya rasakan dengan buku apa pun sebelum atau setelah itu. Sejak saat itu saya memutuskan bahwa saya harus menulis buku-buku saya sendiri dalam periode sejarah yang sama. Dan tidak apa memulai menulis dengan pikiran kosong…

____

From “Writing Tips from Mary Balogh, author of Someone to Hold” 

(P) Affan Firmansyah (e) Sabiq Carebesth

 

Saya terpesona, mungkin lebih dari yang pernah saya rasakan dengan buku apa pun sebelum atau setelah itu. Sejak saat itu saya memutuskan bahwa saya harus menulis buku-buku saya sendiri dalam periode sejarah yang sama. Dan tidak apa memulai menulis dengan pikiran kosong…

Apakah Anda selalu ingin menulis? Bagaimana Anda memulai karir Anda sebagai seorang penulis?

Ya. Ketika masih anak-anak, saat orang-orang bertanya kepada saya apa yang saya inginkan ketika saya tumbuh dewasa, saya akan mengatakan saya ingin menjadi seorang penulis. Saya biasa mengisi buku catatan dengan cerita. Ketika saya tumbuh, tentu saja, saya menyadari bahwa saya perlu makan sehingga saya menjadi guru bahasa Inggris di sebuah sekolah menengah. Kemudian saya menikah dan punya anak. Tidak ada waktu untuk menulis. Saya mengambil cuti setahun setelah kelahiran anak ketiga saya dan mulai membaca daftar bacaan Grade XI yang disarankan kepada saya. Dalam daftar itu termasuk Frederica yang ditulis oleh Georgette Heyer. Saya terpesona, mungkin lebih dari yang pernah saya rasakan dengan buku apa pun sebelum atau setelah itu. Saya memutuskan bahwa saya harus menulis buku-buku saya sendiri dalam periode sejarah yang sama. Saya menulis Regency pertama saya (A Masked Deception) di meja dapur pada malam hari dan kemudian mengetiknya dan mengirimkannya ke sebuah alamat di Kanada yang saya temukan di dalam sampul romansa Signet Regency. Alamat itu adalah pusat distribusi! Namun, seseorang di sana membacanya, menyukainya, dan mengirimkannya ke New York. Dua minggu kemudian saya ditawari kontrak untuk menulis dua buku.

Baca saran menulis lain dari para penulis best seller dunia lainnya dalam buku “Memikirkan Kata” yang akan terbit Agustus, 2019. Info pemesan buku klik poster.

Apa saran terbaik yang pernah anda terima?

Seseorang (saya bahkan tidak ingat siapa) di sebuah konvensi yang saya hadiri suatu ketika memberikan saran untuk para penulis yang terkadang duduk untuk menulis dengan pikiran kosong dan tidak tahu bagaimana atau di mana harus mulai untuk tetap menulis. Kedengarannya tidak masuk akal, tetapi saya sudah mencobanya. Mungkin kata-kata kosong yang akan keluar, tetapi entah bagaimana proses berfikir akan terhubung dan saya akan segera tahu jika apa yang saya tulis benar-benar tidak berarti. Terkadang tidak. Tetapi bahkan jika terjadi, saya akan tahu persis bagaimana saya harus memulai, dan saya akan menghapus kata-kata kosong itu dan terus menulis. Saya tidak pernah menderita blok penulis, tetapi hampir setiap hari saya duduk di depan laptop dengan pikiran kosong.

Klise atau kebiasaan buruk apa yang ingin Anda sampaikan kepada penulis pemula untuk dihindari? Apakah anda masih mengalaminya sendiri?

Anda tidak perlu tahu segalanya sebelum memulai. Anda tidak perlu tahu keseluruhan alur atau setiap nuansa karakter Anda secara mendalam. Anda tidak harus sudah selesai melakukan riset mendalam. Ketiga hal itu penting, tetapi jika Anda menunggu sampai Anda tahu semua yang perlu diketahui, Anda mungkin tidak akan pernah memulai. Pergilah dan pengetahuan akan datang—atau setidaknya pengetahuan tentang riset apa yang harus Anda lakukan.

Apakah Anda pernah membuat karakter berdasarkan orang yang Anda kenal? Kenapa atau kenapa tidak?

Tidak pernah secara sadar. Saya tidak ingin ada orang yang mengenali dirinya sendiri di buku saya. Namun, saya telah menghabiskan hidup yang panjang dengan orang-orang dan berinteraksi dengan mereka dan mengamati mereka. Saya suka karakter saya otentik, jadi saya kira saya saya mengambil semua jenis karakter dari orang-orang di sekitar saya. Dan kadang-kadang ya, tiba-tiba saya berpikir, “Oh, ini dan itu.”

Apa tiga atau empat buku yang mempengaruhi tulisan Anda, atau memiliki pengaruh yang mendalam pada diri Anda?

Semua buku-buku Georgette Heyer akan cocok di sini. Dia sangat menyeluruh dalam risetnya dan sangat akurat dalam penggambaran tentang Inggris era Georgia dan Regency. Pada saat yang sama dia membuat periode itu melekat pada dirinya. Dia memiliki suara dan visi yang sangat khas. Ketika saya mulai menulis buku-buku yang berlatar belakang periode yang sama, saya harus belajar melakukan hal yang sama—untuk menemukan suara dan visi saya sendiri sehingga saya tidak hanya mencoba menirunya (sesuatu yang pada akhirnya tidak pernah berhasil). (AF)

*) Baca saran menulis lain dari para penulis best seller dunia lainnya dalam buku “Memikirkan Kata” yang akan terbit Agustus, 2019. Info pemesan buku klik : Pre Order Buku Memikirkan Kata 

Continue Reading

Tabloids

Pre Order Buku Memikirkan Kata

mm

Published

on

Buku ini memuat catatan dari mereka yang telah begitu lama memikirkan kata, tersesat dalam kegelapannya, mengambil dari wilayah pribadi kata-kata untuk menghasilkan cerita dan pencerahan yang dibutuhkan manusia. Para editor media ternama, para penyair, esais dan para sastrawan berkumpul dalam buku ini untuk membantu anda hidup dalam seni, hidup dalam kata-kata; untuk menjadi pribadi yang tumbuh, khas, berbahagia dan memberi makna bagi kehidupan—dengan menjadi pembaca, pemikir dan pada akhirnya penulis dalam artinya yang paling luas.

Profile Buku

“Memikirkan Kata”

Description

Judul: “Memikirkan Kata” | Penerbit: Galeri Buku Jakarta | Tahun Terbit: Agustus, 2019 | Tebal: Xviii + 556 Hlm | Bahasa: Indonesia | ISBN: 978-979-1442-84-8 | Size : A5 / Full Colour/ Magazine Layout | Harga: Rp. 200.000,- Free Shipping *(only Jabodetabek)

Buku “Memikirkan Kata” terdiri dari 9 bab utama, yaitu:  (1) Pengantar tentang berpikir, membaca dan pada akhirnya menulis. (2) Voice of Editor; Menilik Dapur Pikiran Para Editor Tentang Dunia Kepengarangan (3) The Prose Reader: Retorika Pengantar Tentang Teknik Penulisan (4) Tulisan Bermutu Tinggi: Panduan Tidak Sederhana Tentang Cara Menulis Bermutu  (5) Tentang Inspirasi dari Saul Bellow hingga Gabriel Marquez (6) Writing Tips: Menulis Itu Terkadang Mudah (7) Essay on Art of Writing—Catatan batin dan tanggung jawab para penuis pada zamannya. (8) Interview—obrolan dengan para pengarang tentang dapur menulisnya. (9) Tips Mengarang dari Penulis Buku Best Seller Dunia.

Kesembilan bab tersebut ditujukan untuk 3 pondasi utama yaitu; Pertama: melalui bab 1-2 para pembaca disuguhi “spirit” dunia buku, dunia menulis, bahwa menulis bukan pekerjaan mudah dan untuk menjadi penulis bermutu para penulis dunia telah melalui proses yang tidak satu pun gampang dan instan, bahkan memerlukan waktu belajar seumur hidupnya. Kedua; melalui bab 3-5 pembaca akan mendapatkan dasar teknikal bagaimana menullis baik dan bermutu, bahwa menulis bukan sekedar “mengarang”, ia membutuhkan kapasitas, wawasan pengetahuan, dan pendidikan teknis yang tuntas tentang bahasa, tentang tema, tentang ide dan teknik yang dibutuhkan dalam dunia tulis-menulis lainnya. Ketiga: melalui bab 6 pembaca mendapat “bonus” berupa tips atau panduan untuk menjadikan kerja menulisnya efektif. Dan Keempat: melalui bab 7-8 pembaca akan mendapatkan keluasan perspektif bahwa menulis bukan hanya soal teknik, kemampuan bagus dan tujuan menjadi penulis besar, tapi dunia menulis memiliki tanggung jawab moral sebagaimana pengakuan puncak yang ditulis para peraih nobel dalam bab tersebut. Terakhir adalah bonus bagaimana para penulis dunia terkini, umumnya penulis best seller dunia menghasilkan karya-karya terbaik mereka.

Buku ini akan cocok tidak hanya untuk para pengarang/ penulis baik baru mau pun mereka yang telah bergulat dengan dunia menulis, tapi juga dalam perangkat teknis penulisan guna kebutuhan kerja di era digital saat ini. Sehingga layak dibaca sebagai upaya peningkatan kapasitas staf kantor/ lembaga baik bisnis, pemerintah atau non-pemerintah khususnya staf media-publikasi, periset dan lainnya.

Principal Writers

Para penulis dunia terbaik mau pun para penulis indonesia yang karyanya diterjemahkan dan pemikiraannya ditulis dalam buku ini baik dalam bentuk esai mau pun disajikan dalam wawancara oleh tim editor Galari Buku Jakarta di antaranya adalah:

Orhan Pamuk, Virginia Woolf, Truman Capote, Italo Calvino, Jorge Luis Borges, Gabriel Garcia Marquez, Ivan Bunin, Octavio Paz, Anton Chekhov, Isabel Allende, TS. Eliot, George Orwell, Haruki Murakami, Donald Hall. Joan Didion, E. L. Doctorow, William Faulkner, Leon Edel, Aldous Huxley, John Hersey, Robert Graves, Saul Bellow, John Ashbery, Jon Barth, John Berryman, William Maxwell, Robert Lowell, Stanley Kunitz, Joyce Cary, May Sarton, Jack Kerouac, Katherine Anne Porter, Philip Roth, Robert Penn Warren, Henry Miller.  Eudora Welty, Donald Hall, Natalie Goldberg, Kurt Vonnegut, Louis Dodge, W. Adolphe Robert, Pauline Bloom, J. Everet Courtney, Richard Deming, M.L Stein, Allen Ginsberg, Brian Garfield, Susan Mase, Maria Rita Roewiastuti, Gunawan Wiradi, Ilene Kalish, Afrizal Malna, Sabiq Carebesth, Joko Pinurbo, Albert Payson Terhune, Hugh C. Sherwood, Ernest Hemingway, John Updike, Intan Paramaditha, Alexander McCall Smith, Emily Ruskovich, Caroline Webb, Fiona Davis.

Book Detail

 

Jumlah Halaman

 

Xviii + 556 Hlm
Tanggal Terbit

 

 Agustus 2019

 

ISBN

 

978-979-1442-84-8
Bahasa

 

Indonesia

 

Penerbit

 

Galeri Buku Jakarta
Size/ Colour A5 / Full Colour/ Magazine Layout
Harga Pre Order Rp. 200.000,- Free Shipping *(only Jabodetabek)

 

Books Contents/ Daftar Isi Buku:

Poster Pre Order Buku “Memikirkan Kata” untuk dibagikan.

  • Essay on Reading and Writing: Pengantar tentang berpikir, membaca dan pada akhirnya menulis: Mendengar | Eudora Welty (1909-2001), Membaca Fiksi | Donald Hall (1928-2018) : Kaidah Praktik Menulis | Natalie Goldberg (1948-  ), Bagaimana Menulis Dengan Gaya Tertentu | Kurt Vonnegut (1922-2007), Menulis Dengan Pengolah Kata | William Zinsser (1922-2015)
  • Voice of Editor: Menilik Dapur Pikiran Para Editor Tentang Dunia Kepengarangan: Pengarang dan Gaya Penulisannya | Louis Dodge, Mengapa Ribuan Karya Dibuang Editor ke Tong Sampah | W. Adolphe Robert, Yang Membuat Karya Fiksi Memikat Pembaca | Pauline Bloom, Tiga Resep Rahasia Menulis | J. Everet Courtney, Riset Untuk Penulisan Fiksi | Richard Deming, Nasihat Bagi Yang Ingin Menjadi Penuis Lepas | M.L Stein, Cara Aku Menulis ! | Allen Ginsberg, Sepuluh Aturan Untuk Fiksi Suspense | Brian Garfield, Tuntutan Editor Untuk Cerpen Layak Terbit | Susan Mase dkk.
  • The Prose Reader: Retorika Pengantar Tentang Teknik Penulisan: Tentang Membaca, Menulis dan Menyunting, Argumentasi dan Persuasi, Mengilustrasikan Ide, Klasifikasi, Bagaimana Menulis Esai Deskriptif, Bagaimana Menulis Esai Naratif, Bagaimana Menulis Esai Persuasif, Bagaimana Menulis Esai Menggunakan Contoh, Bagaimana Menulis Esai Menggunakan Klasifikasi.
  • Tulisan Bermutu Tinggi: Panduan Tidak Sederhana Tentang Cara Menulis Bermutu : Tulisan Bermutu Tinggi; Modal Yang Perlu Dimiliki Seorang Penulis | Maria Rita Roewiastuti, Mau Menulis? | Gunawan Wiradi, Buku-Buku Bagus Tidak Ditulis, Tetapi Ditulis Ulang | Ilene Kalish, Cara Menulis Artikel “How-to” Berkualitas | Hugh C. Sherwood , Menulis Dengan Kesederhanaan | Albert Payson Terhune.
  • Inspirasi: Bagaimana ide bekerja—dari Saul Bellow hingga Gabriel Marquez: Cara Terbaik agar Tidak Gagal Menulis Novel | Joan Didion, Saat Ide Menulis Macet dan Pengarang Putus Asa | E. L. Doctorow, Aku Tak Pernah Mengenal Inspirasi | William Faulkner, Bagaimana Menulis Bagian Awal Sebuah Cerita | Yang Paling Susah adalah Paragraf Pertama | Gabriel Garcia Marquez, Ide Tak Terbentuk | Tiba-tiba, Ia Mengendap Lama | Katherine Anne Porter, Kalimat Pembuka Novel Butuh Perjuangan | Philip Roth, Menemukan Ide Itu Mudah, Yang Susah Menulisnya | Robert Penn Warren, Mereka di Udara, Menunggu Kesempatan Bersuara | Henry Miller, dll
  • Writing Tips: Menulis Itu Terkadang Mudah: 6 Nasihat UtamaMenulis Prosa Dari Ernest Hemingway, Begini cara para penulis dunia menaklukan lembaran kosong & “writer’s block, Tips Utama untuk Tulisan yang Lebih Baik | Tips Utama Menulis sebuah Ulasan, Tips Utama untuk Menulis Online, Bagaimana Caranya Puisi dapatMeningkatkan Keahlian Menulismu, Tips Menulis Cerpen ala Kurt Vonnegut, Menemukan Ruang untuk Menulis.
  • Artist at Work: Bagaimana para pengarang itu begitu keras bekerja : Koper Milik Ayah | Orhan Pamuk, Terkadang Kata-Kata Melipat Sayapnya, Lalu Mati | Virginia Woolf, Truman Capote Meets an Idol | Dotson Rader, Italo Calvino: Sebuah Memoar | Pietro Citati, Life into Art | Tiga Hari Bersama Gabo | Silvana Paternostro, Catatan Tentang Jorge Luis Borges | André Maurois, Merenda Suara Rendra | Sabiq Carebesth, Tentang Chekhov | Ivan Bunin, Mencari Masa Kini | Octavio Paz, Virginia Woolf Was More Than Just a Women’s Writer | Danny Heitman, Inspirasi Rahasia Gabriel Marquez Akhirnya Mengungkapkan Dirinya | Nicholas Shakespeare.
  • Interview: Merayakan Obrolan Tentang Semesta Seni: Menulis dan Jalan Hidup Isabel Allende | Alison Beard, Percakapan Dengan TS. Eliot | Shiv K Kumar, Afrizal Malna Di Antara Tubuh dan Kematian | Sabiq Carebesth, Motif Politik dalam Kepengarangan Orwell | Sabiq Carebesth, Intertekstualitas dan Sihir Intan Paramaditha | Sabiq Carebesth, Gabriel Márquez dalam Labirin Sastra dan Imajinasi | Adam Nossiter and Rodrigo Garcia, Jokpin Yang Tak Pernah Lelah Mennghisap Bahasa | Sabiq Carebesth, Haruki Murakami: Saya Kurang Suka Pada Gaya Kepenulisan Realis, Kaos Kaki Hangat Eliot Untuk Penyair Hall | Uldis Tīron dan Arnis Rītups, Octavio Paz: Antusiasme Dan tanda (resmi) perpuisian.

        _________

Tata Cara Order Buku

  • Order : untuk melakukan pre order silakan ikuti langkah berikut (1) Transfer pembayaran buku ke rekening Bank BCA: No. Rekening: 7180045290,  atas Nama ANTO. / Rekening Bank Mandiri : 0060009767587 an Sabiq M (2) Simpan dan kirim bukti transfer ke WhatsApp: : +62 82 111 450 777 (3) Kirim juga Nama dan alamat pos untuk pengiriman paket Buku.
  • Order Information: Pengiriman paket buku akan dilakukan pada Agustus, 2019. Update informasi hubungi: +62 82 111 450 777 (Whatsapp-Galeri Buku Jakarta) or email: galeribukujakarta@gmail.com

___

Continue Reading

Tabloids

Virginia Woolf lebih dari Sekedar Penulis Perempuan; Dia adalah pengamat kehidupan sehari-hari

mm

Published

on

Virginia Woolf, seorang pencinta bahasa yang hebat, pemikir bahasa—Dia pasti akan geli mengetahui bahwa, sekitar tujuh dekade setelah kematiannya, ia ditempatkan dan bertahan dengan sangat jelas dalam budaya populer—lebih sebagai pemain kata-kata—dalam judul drama Edward Albee yang cukup terkenal, “ Who’s Afraid of Virginia Woolf?”, Albee, seorang profesor perguruan tinggi yang bermasalah dan istrinya yang sama-sama bersedih, mencela satu sama lain dengan menyanyikan “Siapa Takut Besar, Bad Wolf?”

Danny Heitman, From HUMANITIES, May/June 2015, Volume 36, Number 3

Penerjemah: Susan Gui |  Editor: Sabiq Carebesth

____

Reputasi Woolf menempatkan dirinya sebagai “Penulis Perempuan” paling sering menjadi subjek teori sastra: penulis buku yang lebih menarik untuk dipelajari teorinya ketimbang menikmati tulisannya. Tapi, dalam prosa yang ditulis oleh Woolf, ia adalah satu penulis yang dapat memberikan kepuasan kepada para pembaca literatur modern, daya tariknya melampaui gender. Tanyakan saja kepada Michael Cunningham, penulis buku The Hours, pengarang yang mendapat pujian kritis dari karya yang diilhami oleh karya fiksi klasik milik Woolf, Ny. Dalloway.

“Saya membaca Mrs Dalloway untuk pertama kalinya ketika masih menjadi seorang pelajar Sekolah Menengah Atas di tahun kedua,” Cunningham mengatakan kepada pembaca surat kabar Guardian pada tahun 2011. “Saya sedikit pemalas, sama sekali bukan tipe anak yang akan mengambil buku seperti Mrs Dalloway. Saya membacanya karena alasan ingin membuat seorang gadis terkesan kepada saya setelah membaca buku itu. Saya berharap, tentu ini tujuannya soal asmara, agar saya terlihat lebih sastrawi daripada diri saya sebenarnya di depan gadis itu.”

Cunningham tidak benar-benar memahami semua tema Dalloway ketika pertama kali membacanya, dan dia, sayangnya, pada akhirnya juga tidak mendapatkan gadis yang mengilhami dia untuk mengambil novel Woolf. Tapi dia jatuh cinta dengan gaya Woolf.

“Saya bisa melihat, bahkan sebagai anak yang tidak terlatih dan malas, kepadatan dan simetri serta kekakuan kalimat Woolf,” kenang Cunningham. “Saya pikir, wow, dia melakukan sesuatu dengan bahasa seperti apa yang dilakukan Jimi Hendrix dengan gitar. Maksud saya dia berjalan di garis antara kekacauan dan ketertiban, dia riff, dan dia mengambil waktu yang tepat untuk merubah kalimat menjadi acak, lalu Woolf membawanya kembali dan menyatukannya dengan melodi. ”

Woolf membantu mendorong Cunningham menjadi seorang penulis. Novelnya The Hours pada dasarnya menceritakan kembali buku Mrs Dalloway sebagai sebuah cerita di dalam sebuah cerita, berganti-ganti antara variasi narasi asli Woolf dan spekulasi fiksi tentang Woolf sendiri. Novel Cunningham pada tahun 1998 memenangkan Hadiah Pulitzer untuk fiksi, kemudian diadaptasi menjadi film 2002 dengan nama yang sama, dibintangi oleh Nicole Kidman sebagai Woolf.

Artikel Lengkap ““Virginia Woolf lebih dari Sekedar Penulis Perempuan; Dia adalah pengamat kehidupan sehari-hari” bisa dibaca dalam buku “Memikirkan Kata” yang akan terbit Agustus, 2019. Klik untuk Pre Order.

“Saya yakin dia tidak akan menyukai buku itu—dia adalah seorang kritikus yang ganas,” kata Cunningham tentang Woolf, yang meninggal pada tahun 1941. “Dia mungkin akan merasa ragu dengan film ini, meskipun saya suka berpikir bahwa Woolf akan senang melihat dirinya diperankan oleh seorang bintang Hollywood yang cantik.”

Nicole Kidman menciptakan gebrakan untuk film tersebut dengan mengenakan hidung palsu untuk membuat wajahnya sedikit kaku seperti Woolf, membangkitkan Woolf sebagai seorang perempuan yang pernah digambarkan oleh teman keluarga Nigel Nicolson sebagai sosok “selalu cantik tetapi tidak pernah cantik.”

Woolf, seorang tokoh penulis feminis, mungkin tidak akan terkejut jika layar lebar tentang hidupnya akan memicu banyak pembicaraan tentang bagaimana dia ‘terlihat’ daripada apa yang dia lakukan. Tapi Woolf juga sangat ingin membumikan tema sastranya dalam dunia sensasi dan fisik, jadi mungkin ada beberapa nilai yang mempertimbangkan gagasannya, juga mengingat bagaimana rasanya melihat dan mendengarnya.

Kita tahu mana foto profil terbaik dari seorang Woolf. Banyak gambar Woolf menunjukkan pandangannya ke samping, seperti gambar di koin. Namun ada pengecualian yang paling berbeda dan menunjukkan sosok lain dari Woolf,l yaitu foto yang diambil pada tahun1939 oleh Gisele Freund di mana Woolf mengintip langsung ke kamera. Woolf membenci foto itu— mungkin karena, pada tingkat tertentu, dia tahu betapa tangkas Freund menangkap subjeknya. “Aku benci diangkat di atas tongkat untuk ditatap siapa pun,” keluh Woolf, yang mengeluh bahwa Freund telah melanggar janjinya untuk tidak mengedarkan foto itu.

Aspek yang paling mencolok dari foto adalah intensitas pandangan Woolf. Baik dalam percakapan dan tulisannya, Woolf memiliki kejeniusan untuk tidak hanya melihat subjek, tetapi melihat melalui itu, menggali kesimpulan dan implikasi di berbagai tingkatan. Mungkin itulah sebabnya mengapa laut begitu menonjol dalam fiksinya, sebagai metafora untuk dunia di mana arus cerah yang kita lihat di permukaan realitas terungkap, namun setelah dilihat lebih dekat, kedalaman laut ternyata turun ke bawah sejauh bermil-mil.

Contohnya, esai Woolf yang secara luas di-antologikan,” The Death of the Moth,” di mana  Woolf memperhatikan saat-saat terakhir dari kehidupan seekor ngengat, lalu ia mencatat pengalaman itu sebagai jendela menuju kerapuhan dari segala eksistensi. “Makhluk kecil yang tidak penting itu sekarang tahu kematian,” tulis Woolf.

Ketika saya melihat ngengat yang mati, pada menit ini kemenangan atas kekuatan yang begitu besar berarti bagi seorang antagonis dan proses ini membuat saya heran. .  Ngengat yang telah memperbaiki dirinya sekarang berbaring dengan sopan dan tanpa komplain. Oh ya, dia sepertinya berkata, kematian lebih kuat dari saya.

Woolf mengambil taktik miniatur yang sama dalam “The Mark on the Wall,” sebuah sketsa di mana narator mempelajari tanda di dinding yang akhirnya terungkap sebagai seekor siput. Meskipun premisnya terdengar sangat membosankan—padanan sastra menonton cat kering —tanda di dinding berfungsi sebagai lokus konsentrasi, seperti arloji penghipnotis, memungkinkan narator mempertimbangkan segala hal mulai dari Shakespeare hingga Perang Dunia I. Dalam penelusurannya yang halus tentang bagaimana pikiran bebas bergaul dan penggunaan monolog interior yang banyak, sketsa tersebut berfungsi sebagai semacam kunci bagi gerakan sastra modernis yang membuat Woolf bekerja tanpa lelah untuk maju.

Penetrasi sensitif ala Woolf mulai mencari bentuknya, karena dia berharap orang-orang di sekitarnya untuk melihat dunia yang sama tanpa berkedip. Dia tampaknya tidak memiliki banyak kesabaran untuk obrolan ringan. Seorang sarjana terkenal, Hermione Lee, menulis biografi lengkap Woolf pada tahun 1997, Lee mengakui beberapa kecemasan tentang prospek, apakah mungkin, untuk menyapa Woolf secara langsung. “Saya pikir saya akan takut bertemu dengannya,” tulis Lee. “Aku takut tidak cukup pintar untuknya.”

Nicolson, putra teman dekat Woolf dan kekasihnya yang dulu, Vita Sackville-West, memiliki kenangan indah berburu kupu-kupu dengan Woolf ketika dia masih kecil—suatu acara yang membuat Woolf menikmati hiburan yang pernah ia nikmati di masa kecil. “Virginia dapat mentolerir untuk bermain dengan anak-anak di waktu yang singkat, tetapi Woolf akan melarikan diri dari bayi,” kenangnya. Nicolson juga ingat ketidaksukaan Woolf kepada generalisasi yang hambar, bahkan ketika diucapkan oleh anak-anak muda. Dia pernah meminta Nicolson muda untuk mengirimkan laporan rinci di pagi hari, termasuk kualitas matahari yang telah membangunkannya, dan apakah dia mengenakan kaus kaki kanan terlebih dulu atau kirinya saat berpakaian.

“Hal tersebut adalah pelajaran dalam pengamatan, tetapi juga merupakan petunjuk, ”tulisnya bertahun-tahun kemudian. “‘Kecuali kamu menangkap gagasan pada sayap-sayap dan menancapkannya, kamu akan segera berhenti memilikinya.’ Adalah nasihat bahwa aku harus mengingat sepanjang hidupku. ”

Bersyukur berkat dokumentasi Woolf yang dilakukan untuk BBC, kami tidak perlu menebak seperti apa suaranya. Dalam rekaman 1937, tersedia secara online, Woolf merefleksikan bagaimana bahasa Inggris melakukan penyerbukan dan berkembang menjadi bentuk-bentuk baru. “Kata-kata kerajaan kawin dengan rakyat jelata,” katanya kepada pendengar dalam referensi subversif untuk turun tahta Raja Edward VIII baru-baru ini, yang telah kehilangan tahtanya untuk dapan menikahi seorang perempuan berkebangsaan Amerika, Wallis Simpson. Suara Woolf terdengar syahdu dan ningrat, seperti Eleanor Roosevelt versi bahasa Inggris. Tidak mengherankan, mungkin, mengingat asal Woolf di salah satu keluarga paling terkemuka di Inggris.

Adeline Virginia Stephen atau lebih dikenal dengan Virginia Woolf lahir pada 25 Januari 1882. Virginia adalah putri dari Sir Leslie Stephen, seorang penulis esai, editor, dan intelektual publik, dan Julia Prinsep Duckworth Stephen. Julia, menurut Panthea Reid penulis biografi Woolf, “dipuja karena kecantikan dan kecerdasannya, pengorbanan dirinya dalam merawat orang sakit, dan keberaniannya ketika harus menjadi janda muda.”

Orang tuanya, Leslie dan Julia Stephen, keduanya duda sebelumnya, memulai pernikahan mereka pada tahun 1878 dengan empat anak kecil: Laura (1870-1945), putri Leslie Stephen dan istri pertamanya, Harriet Thackery (1840-1875); dan George (1868-1934), Gerald (1870-1937), dan Stella Duckworth (1869-1897), anak-anak Julia Prinsep (1846-1895) dan Herbert Duckworth (1833-1870).

Leslie dan Julia memiliki empat anak lagi: Virginia, Vanessa (1879-1961), dan anak laki-laki Thoby (1880-1906) dan Adrian (1883-1948). Mereka semua tinggal di 22 Hyde Park Gate di London.

Meskipun saudara lelaki kandung dan tiri dari Virginia mendapatkan pendidikan universitas, Woolf diajar sebagian besar di rumah. Pengalaman inilah membentuk pemikiran Woolf tentang bagaimana lingkungan sekitarnya dan masyarakat kala itu memperlakukan perempuan. Latar belakang keluarga Woolf, membawanya ke dalam lingkaran tertinggi kehidupan budaya Inggris. “Orang tua Woolf mengenal banyak tokoh intelektual dari era Victoria akhir dengan baik,” Hussey mencatat, “menghitung di antara teman-teman dekat mereka seperti George Meredith, Thomas Hardy, dan Henry James. Bibi buyut Woolf, Julia Margaret Cameron adalah seorang fotografer perintis yang membuat potret penyair Alfred Tennyson dan Robert Browning, naturalis Charles Darwin, dan filsuf serta sejarawan Thomas Carlyle, dan masih banyak lainnya. ”

Woolf memiliki akses bebas di perpustakaan ‘mammoth’milik ayahnya dan memanfaatkannya sebaik mungkin. Membaca adalah hasratnya—dan tindakannya, seperti hasrat apa pun, untuk terlibat secara aktif, bukan menjadi sampel secara pasif. Dalam sebuah esai tentang ayahnya, Woolf mengingat kebiasaan ayahnya melantunkan puisi ketika berjalan atau menaiki tangga, dan pelajaran yang diambil darinya tampaknya tak terhindarkan. Pada awalnya, ia belajar untuk memasangkan sastra dengan vitalitas dan gerakan, dan bahwa kepekaan mengalir sepanjang esai-esainya yang kritis, berkumpul dalam banyak volume, termasuk koleksinya pada tahun 1925, The Common Reader. Judul ini mengambil isyarat dari daya tarik Woolf untuk jenis pembaca yang, seperti dia, berpendidikan tanpa sekolah, bukan seperti seorang sarjana profesional. Bersambung….(*)

*)Danny Heitman, adalah kolomnis untuk Baton Rouge, Louisiana, daily The Advocate and esais tetap untuk banyak media lain. Heitman adalah pengarang “A Summer of Birds: John James Audubon at Oakley House”.

___

Artikel Lengkap “Virginia Woolf lebih dari Sekedar Penulis Perempuan; Dia adalah pengamat kehidupan sehari-hari” bisa dibaca dalam buku “Memikirkan Kata” yang akan terbit Agustus, 2019. Klik “Pre Order Buku Memikirkan Kata” untuk pemesanan buku.

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending