Connect with us

Cerpen

Rumor Pembunuh Romantis

mm

Published

on

Oleh: Fahrul Rozi *)

Aku melihatnya berdiri di seberang dengan satu tangan memegang pisau. Dalam kegelapan wajahnya disapu lampu kendaraan dan itu membuat matanya silau dan segera tangan satunya menangkis. Aku duduk menghadap ke arahnya. Cahaya berpantulan di wajah pisau yang ia pegang, mengarah ke mataku, sekejap hilang, sebentar berkilat. Angin menggerakkan rambutnya ke kanan ke kiri, menyentuh muka dan matanya. Segera tangan satunya menyeka. Aku pura-pura tidak memperhatikannya, pura-pura membaca pesan di android. Taksi berhenti di depan. Aku mendongak. Ia masuk tanpa menyingkap ujung gaunnya sehingga ujung gaun merahnya tersangkut di pintu taksi. Sepanjang perjalanan ia tak menyadari hal itu. Tapi aku menyadari dan mengikutinya dari belakang.

Taksi memotong jalan ke kiri, aku membuntuti. Jalan sangat gelap dan banyak orang duduk-berdiri di pinggir jalan. Matanya memancarkan ketidak nyamanan, aku melewati mereka tanpa menoleh lalu mereka berdesis seperti ular kemudian tertawa berkelakar.

            Seseorang, entah siapa menepukku dari belakang. Aku terperanjat dan segera menoleh. Lelaki kurus bertelanjang perut dengan bau alkohol di mulutnya menyuruhku turun. “Turun sebentar bang,” aku mematikan motor dan mengikutinya dari belakang. Sedangkan lelaki dan perempuan yang ada di jalan itu terlihat senyam-senyum lalu tertawa meledak. Ada yang tidak beres. Aku dibawa ke satu ruangan kotor dan bau. Lampu bergelayutan di langit ruangan, cahayanya redup.

            “Duduklah!” perintahnya, dan aku menurut saja.

            “Apa yang kau lakukan di sini?” katanya.

            “Mengikuti Anda,”

            “Bodoh! Maksudku, ngapian kau lewat jalan sini? Emang gak ada jalan lain, Jakarta luas kali!” matanya melebar dengan kedua tangan menekan tatak meja kuat-kuat.

            “Loh, kau sendiri ngapain jegat aku di jalan? Apa itu pekerjaan kalian? Kalau iya mengapa taksi tadi tidak dijegat?” balasku menatap pria berlagak sombong. Ia menarik kursi putarnya, menaikkan kaki ke atas meja lalu menenggak wiski.

            “Kau pasti belum minum, minumlah agar kau tidak mabuk.” Katanya lebih halus sembari menjulurkan wiski.

            “Tidak. Cepat beritahu aku, apa kau kenal perempuan ini,” aku menunjukkan foto.

            Tiba-tiba wajahnya pucat, tangannya bergetar sampai botol wiski yang ia pegang jatuh. Bola matanya berbinar keras, bergerak-gerak seperti mau keluar. Ia ketakutan melihat foto Anjani. Mengapa?

            “Kau tahu perempuan ini?” tanyaku lagi lebih keras sambil mendekatkan ke wajahnya.

            “Ti-ti-d-dak. Jauhkan foto itu dariku,” ucapnya terbata-bata dengan bibir yang bergetar. Aku bertanya lagi dan mendekatkan foto tersebut.

            “Jauh-kan!” ia berteriak sambil berlari terbirit-birit keluar.

Aku keluar mengejarnya. Namun teman-temannya sudah merangkul pria itu dan mereka menatapku penuh kebencian. “Apa yang kau lakukan dengannya?” tanya temannya.

            “Aku tidak melakukan apa pun, ia begitu karena kumenunjukkan foto perempuan ini.” aku angkat foto Anjani.

            Tiba-tiba mereka berlaku seperti pria tadi. Pucat merambat ke wajah, seluruh badan bergetar dan tak dapat bergerak walau pun sepertinya mereka ingin sekali berlari.

            “Jauh-kan!”

            “Pergilah!”

            “Aku tidak mau lihat perempuan itu lagi!”

            Teriak mereka tumbang naik. Aku mundur perlahan meraih motor dan keluar dari jalan gelap dekat stasiun Jatinegara.

***

            Kecurigaanku bertambah setelah semalam melihat keanehan orang-orang di sana. Apa yang Anjani lakukan sampai mereka ketakutan begitu kuat. Benarkah kabar burung yang kudengar. Anjani, adikku tercinta menjadi pembunuh romantis di kota.

Awalnya aku tidak percaya, Anjani perempuan pendiam yang kukenal tiba-tiba menjadi pumbunuh di kota. Kabar burung tersebut menjalar sampai ke telinga Ibu dan Ayah. Mereka segera menyuruhku mencari Anjani di kota. mereka berpesan agar aku menyelamatkannya. Agar aku membawanya kembali ke rumah.

Anjani, ia pernah bercita-cita menjadi insyinyur di kota. Ia membuktikanya merantau ke Jakarta dengan sedikit bekal. Katanya, ia akan bekerja lalu kuliah, dan kemudian meraih cita-citanya.

Saat itu aku tiba di Jakarta tengah malam, dan melihat perempuan bergaun merah dengan rambut terurai berdiri di depan stasiun sambil memegang sebilah pisau. Aku bergidik melihatnya dan buru-buru menyingkir di depannya. Lalu mencari tempat yang terang dan memesan ojol.

Dalam perjalanan sopir ojol memperingatiku agar jangan keluar tengah malam. Perempuan cantik akan membunuhmu lalu akan mengambil harta bendamu dan kemudian mencium keningmu sebagai tanda, korban pembunuh romantis. Ia bilang, perempuan itu tidak akan membunuh tukang ojek. Ia hanya mencari laki-laki tampan berpakain rapi. Ia juga tidak segan membunuh seorang yang mengganggunya.

“Mengapa ia tidak membunuh tukang ojek?” tanyaku jengkel.

“Mungkin ia berpikir tukang ojek terlalu miskin,”

“Jadi tak apa kalau aku keluar dengan tampilan gembel kan?”

“Iya, asal jangan pakai minyak wangi,”

“Kenapa?”

“Ia akan mengejarmu lalu menikam pisau dapurnya,”

Ojol berhenti tepat di depan rumah beratap genting dengan sebuah pagar seng di samping. Aku membayar dan mengetuk pintu. Seorang memutar kunci dari dalam, dan pintu terbuka.

“Kukira perempuan itu. Cepatlah masuk.”

Juna temanku bercerita tentang perempuan cantik pembunuh misterius di Jakarta. Ia bersaksi melihat perempuan itu beraksi di pinggir rel. Ia menusukkan pisau ke jantung pria. Menusuk dua-tiga kali sampai dasi di dadanya memerah kemeja putihnya ternoda. Juna bilang, ia hampir berteriak karena tak kuasa menahan takut dan ingin berlari. Tapi untungnya perempuan itu tiak melihatnya.

“Apakah kau tahu namanya?”
            “Tidak ada orang yang berani bertanya.”

“Kenapa kita bahas perempuan itu, bukannya kau ke sini mencari adikmu?” tanya Juna kemudian.

“Aku mendengar kabar gak enak di kampung. Katanya, adikkulah perempuan cantik pembunuh itu.”

            Juna terperanjat matanya menatapku pelan seolah tidak percaya apa yang kukatakan barusan. Ia menenggak air di gelasnya. Menaruh gelas di atas meja dengan suara keras. “Aku yakin, itu bukan adikmu,”

***

            Setelah seminggu di Jakarta setelah aku menyelidiki tempat perempuan itu biasa berdiri menuggu mangsa. Akhirnya, semalam aku berhasil mengikutinya dan mendapat setidaknya sedikit informasi. Memang. Ia Anjani. Benar-benar Anjani. Ia sudah melepaskan jilbab yang ia sayangi. Penampilanya berubah total. Pertama bertemu aku sempat linglung dan kikuk untuk menyapa. Tapi ia sungguh berbeda. Ia bukan Anjani yang kukenal.

            “Bagaimana, semalam kau berhasil mengejar adikmu?” tanya Juna sambil meletakkan kopi di meja.

            “Berhasil, tapi di tengah perjalanan seorang menghentikanku.”

            “Terus gimana? Apa kau disakiti mereka?”

            “Tidak. Tapi setidaknya aku dapat informasi di sana,”

            “Apa?”

            “Anjani pernah berkunjung ke tempat itu, dekat rel kereta api.”

            “Oh, tempat pelacuran itu.”

            “Jangan-jangan….” Juna menebak.

            “Tidak mungkin mereka ketakutan ketika aku tunjuk fotonya pada mereka,”

            “Jangan-jangan….” Juna menebak lagi namun semua berhenti pada tanda tanya seperti kehabisan jalan.

Pagi ini kami memutuskan makan siang di luar. Menghilangkan duga sangka yang terus menyerang kepala kami.

Malamnya, setelah dibantu Juna mencari lumpur dan Juna melumuri sekujur badanku dengannya. Juna mendengus mencium bau tak sedap. Ia memakai masker dan memberi kode aku akan berhasil. Aku menyiapkan motor dan pergi ke depan stasiun menunggu Anjani datang. Pada sebuah lorong gelap tempat persembunyianku, aku melihat Anjani datang dari arah timur. Aku beringsut dari tempat persembunyian dan mendekatinya sambil berpura-pura mengemis.

            “Semoga ini cukup untuk bapak.” Katanya memasukkan uang merah ke dalam bungkus permen.

            “Terimakasih semoga Anda diberkati Tuhan,” aku kembali ke tempat persembunyian. Dan menunggu ia pergi dari tempat berdirinya.

            Taksi yang sama berhenti di depannya. Aku cepat-cepat membersihkan lumpur dan memakai jaket lalu meraih motor dan mengejarnya dari belakang. Jalan yang taksi lewati semua sama. Ia bahkan memotong jalan kiri dekat stasiun Jatinegara. Aku melihat lagi pemandangan semalam. Tapi kali ini mereka tidak menghentikanku, namun mereka menjauh dan mencoba bersembunyi. Taksi menyeberangi rel kereta. Seorang perempuan lain masuk bersama laki-laki. Taksi memutar balik, aku kalap dan buru-buru bersembunyi dekat rel. Menidurkan motor dan bersembunyi di tumpukan rongsok. Taksi lewat, aku kembali mengikuti. Tapi sayang, kaca taksi tersebut sudah dilapisi, sehingga mataku tak dapat menjangkau.

            Taksi berhenti di sebuah rumah. Menurunkan perempuan bergaun merah. Itu Anjani, pekikku. Aku bersembunyi di gang, dan setelah taksi berlalu aku melihat Anjani masuk ke dalam rumah. Tampak sepi dan gelap. Aku cepat menyusul dan mengetuk pintu. Tidak dibuka. Satu-dua kali tetap tidak dibuka. Aku berbalik dan ingin pergi, tetapi pintu berderit dan aku melihat Anjani, adikku yang cantik.

            “Anjani!” mata Anjani membelalak, dan seperti tidak mengerti ia mundur dan bertanya.

            “Mengapa tuan tahu nama saya?”

            “Aku Panji, kakakmu. Apa kamu sudah melupakanku?”

            “Panji? Aku tidak memiliki kakak bernama Panji, mungkin tuan salah orang.”

Pintu ditutup dan ketukan berkali-kali tidak lagi dibuka. Aku tidak melihat matanya yang dulu. Aku berbalik dan ingin pergi namun pintu dibuka kembali.

“Mungkin yang tuan cari perempuan di dalam foto ini?” Anjani mengeluarkan foto. Aneh, foto itu sama dengan milikku. “Perempuan ini sudah tewas saat bekerja di bar.”

“Tapi…,”

“Wajah kami memang mirip dan kami memang bekerja di tempat yang sama, dan kebetulan nama kami hampir sama, Anjani Suma, dan Anjani Duma. Tapi adikmu sudah lama meninggal.”

“Tidak, tidak mungkin. Kamu Anjani adikku!”

__
Kutub, 10-02-2020

*) Fahrul Rozi lahir di Sampang. Belajar di Prodi Teknik Informatika Universitas Nahdhlatul Ulama Yogyakarta. Saat ini tinggal di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY) cerpennya tersiar di media cetak maupun daring.

Continue Reading
Advertisement

Cerpen

Di Antara

mm

Published

on


Galeh Pramudianto lahir tahun 1993. Bekerja sebagai pendidik dan mengelola platform Penakota.id bersama rekannya. Buku puisinya Asteroid dari Namamu (2019) diterjemahkan ke bahasa Inggris lewat beasiswa Komite Buku Nasional. Ia menerima penghargaan Acarya Sastra 2019 dari Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kemendikbud. Puisinya “Barus, Suatu Pertanyaan” melaju di Majelis Sastra Asia Tenggara 2020.

Karena kamu telah memutuskan untuk memainkan gim ini, maka kamu harus memilih: 1) menjadi tidak terlihat atau 2) bisa membaca pikiran seseorang dari masa kelahiran hingga berakhir di liang lahat? Kamu harus memilih satu. Jika kamu mengabaikan perintah ini maka permainan tidak bisa berlanjut dan hanya bertahan di pilihan menu—sembari menatap karakter yang terus bergerak ke sana ke mari dalam hamparan bit di layar.

Kamu memutuskan untuk memiliki kemampuan membaca pikiran. Kamu memilih itu karena kamu fobia dengan kesepian dan kesendirian. Kalau kamu mendaratkan pada pilihan pertama maka kamu akan stres. Sementara di pilihan kedua nampaknya kamu lebih rileks karena ramai pergumulan dan arus kesadaran di lalu lintas pikiran orang-orang.

Kamu awalnya tidak menyangka dengan ini semua. Gim video di zaman sekarang ternyata bisa begitu ekstrem polahnya. Kamu membeli gim tersebut karena penasaran dengan ragam fitur yang diperbincangkan di forum-forum terjauh, terpinggir dan tergelap di belantara maya. Kamu ingin lari dari kenyataan yang berantakan ini dan menemukan ekstase dan fantasi yang lain di petualangan virtual.

Dan ekstase serta fantasi itu ternyata mewujud nyata. Tuas kendali atau stik yang kamu genggam bergetar hebat. Layar tiba-tiba mati dan gelap. Pandanganmu memudar dan semua nampak buram. Televisi di ruang tengah itu bergoyang-goyang lalu terlepas dari etalase dan menyusut ke dalam lubang matamu.

Seketika itu dunia yang kamu tinggali tak lagi sama. Ketika kamu mampu membaca pikiran orang awalnya kamu nampak baik-baik saja. Tapi ternyata kamu lupa bahwa kamu memiliki masalah dengan penghakiman dan perundungan yang dilakukan orang-orang. Dan itu semakin bekerja dengan baik tatkala kamu mendapati seseorang di hadapanmu, di suatu entah di mana, sekarang dapat membaca pikiranmu.

Kamu ingin berteriak dan menghajar orang-orang yang merundungmu lewat pikirannya. Kamu sudah tidak tahan dengan itu semua. Kamu ingin segera mengambil batu yang ada di sebelah kiri lalu menghantamnya ke kepala si lelaki ini. Ketika kamu memutarbalikan badan dan hendak membungkuk, kamu mendengar ucapan yang tak kamu kira sebelumnya. Ucapan itu tak terdengar lewat bising suara, tetapi berdengung di membran tempani dan berputar-putar terus seperti pita kaset rusak.

“Jangan lakukan! Kita sama-sama memiliki kemampuan ini. Aku ingin menghilangkan Bakat Besar yang mengganggu mentalku ini. Tapi aku tak tahu caranya. Tolong!” ia berbicara denganmu tanpa mengeluarkan suara.

“Maksudmu Bakat Besar?” kamu terheran dengannya.

“Aku telah memiliki kemampuan membaca pikiran ini sejak masih kanak-kanak. Ayahku membelikan gim video itu saat dunia pernah mengalami pagebluk yang terjadi 20 tahun silam. Tahun di mana seharusnya perhelatan sepak bola termegah di Eropa dan Olimpiade terjadi. Ayahku membelikan itu maksudnya agar aku ada hiburan dan tidak stres ketika terlalu lama belajar di rumah. Setelah aku memilih karakter dan kemampuan khusus yang bernama Bakat Besar laknat itu.”

“Jadi kamu berasal dari dua dekade yang lalu?” kamu coba mengingat-ingat masa lalu yang sempat membuatmu ingin mengakhiri hidup.

Apa maksudmu?” ia bertanya keheranan.

“Ketika aku memainkan gim video itu, usiaku sekitar 40 tahun dan tubuhku gampang sakit-sakitan. Tapi sekarang aku merasa lebih bugar dan muda. Aku tak tahu, apa itu hanya efek placebo dari gim ini.” kamu menjelaskan.

“Heh, aku bilang kamu bukan berada di gim lagi! Kamu sudah masuk di dunia baru. Jadi, tubuh dan jiwamu masih tetap ada di dunia sebelumnya, di Bumi atau apalah itu. Tapi setelah itu ia membelah dirinya sendiri dan ada replika dirimu di dunia Antara.” ia menerangkan dengan menggerak-gerakkan bahumu, berusaha meyakinkan.

“Maksudmu di dunia Antara?” kamu menjadi bingung.

“Betul. Orang-orang otomatis akan menggandakan diri dari dunia nyata atau fisik atau apalah itu namanya dan berpindah ke semesta baru yang dinamakan dunia Antara. Maaf maksudku bukan berpindah, tapi ada paralel yang berjalan bersamaan.”

“Jadi, aku yang saat itu berusia 40 tahunan masih hidup? Dan aku yang saat ini lebih muda menjalankan hidup di sini? Di dunia gim video ini?” kamu mencoba mencerna itu semua.

“Kira-kira, begitulah.”

Kamu semakin sadar bahwa sekarang semakin banyak pengguna gim video tersebut di dunia ini. Impian dan harapanmu akan dunia yang lebih baik telah sirna. Impian yang berbasis eskapisme semata ternyata malah menelanmu mentah-mentah. Dirimu masuk ke semesta bernama Antara dan terciptalah Bakat Besar itu. Kamu masih berusaha mengulik ini semua: dunia yang baru, ketika batas kesadaran, realitas dan fantasi telah memudar.

Dunia yang kamu harapkan hanya ada di gim video dan malah membuatmu menjadi cemas karena banyak yang memiliki kemampuan seperti awal kisah ini dimulai: menjadi tidak terlihat atau 2) bisa membaca pikiran seseorang dari masa kelahiran hingga berakhir di liang lahat? Kamu sekarang bingung antara bahagia atau tidak dengan usiamu yang lebih muda 20 tahun ini. Tapi setidaknya, kamu bisa memberi tahu kepadanya dan orang-orang yang memiliki privilese di pemerintahan. Kalau 20 tahun setelah pagebluk itu usai, dunia harus bersiap-siap untuk 20 tahun berikutnya. (*)

Continue Reading

Cerpen

Sakit

mm

Published

on

The-Sick-Child-Marc-Aurele-de-Foy-Suzor-Cote-Oil-Painting


Mycel Pancho—Penikmat kopi pahit. Sudah satu dekade menjadi pekerja teks komersial. Lahir di Jakarta, bertumbuh dewasa di Pulau Dewata dan kembali di ibu kota untuk menjadi tua. Sejak sekolah, pecinta teater ini gemar menikmati sastra dan menulis apa saja untuk tetap waspada. Satu puisinya pernah terbit dalam buku antologi puisi Tentang Angin (2007), produksi Teater Angin SMA 1 Denpasar.

Aku sakit. Sakitnya sudah lama. Akhirnya terbaring di rumah sakit sejak hari ini. Gejala sakitnya aneh. Tidak ada demam, tidak ada batuk apalagi pilek. Pusing tak ada, apalagi sakit kepala. Tapi anehnya, seluruh sendi dan tulangku ngilu. Sakitnya seperti sedang terserang demam menahun. Ngilunya persis seperti cucian diperas berulang-ulang. Kadang telapak kaki dan tangan rasanya seperti ditusuk jarum pentul yang biasa nenek gunakan untuk merapikan seprai ranjang tuannya.

Selain itu, sewaktu-waktu kepalaku juga kliyengan. Rasanya limbung mau jatuh terus. Tapi tidak pusing, tidak sakit kepala. Rasanya hanya berputar terus seperti bianglala yang kebanyakan tamu di akhir pekan. Rasanya juga seperti ditarik kanan kiri tak pakai berhenti.

Pagi ini aku ke rumah sakit bersama ibuku. Setelah dokter sibuk memegang dahiku, mendengar detak jantung dan suara paru-paruku lewat stetoskopnya, mengetuk-ngetuk lututku dengan palu kecil dan menggosok telapak-telapakku dengan tongkat besi. Dokter itu berpikir keras. Ia membuka buku-buku kedokteran dan membolak-balik catatan kesehatanku. Secara tiba-tiba, dokter itu bilang …

“Kamu harus opname hari ini. Nanti kita observasi. Ada asuransi tidak?”

“Ada, Dok. Memang saya sakit apa, Dok?

“Masih belum jelas, makanya kita perlu observasi dulu selama beberapa hari ini”.

Jadilah aku berada di kamar kelas tiga ini. Aku tidur di bangsal paling ujung dekat jendela. Aku tidur dalam satu ruangan dengan lima pesakitan lainnya. Aku tidak sempat sensus siapa saja yang dirawat bersamaku dan sakit apa saja mereka. Kukira besok juga saat bibiku datang, hal itu pasti bisa langsung kuketahui darinya yang bercita-cita jadi ibu RT.

Belum satu hari aku dirawat di rumah sakit, sanak saudara dari ibuku sudah tiba. Mulut cerewetnya sudah pasti ikut serta. Belum apa-apa sudah berkomentar dan memberi diagnosa, lagak macam dokter kelas dunia saja. Mulai pun belum observasiku di rumah sakit itu, sanak saudara sudah bisa beri hasil.

Bibi bilang aku sakit ringan. Paling hanya kolesterol naik. Cukup masuk akal kalau aku ingat-ingat lagi apa saja yang sering kumasukkan ke dalam mulut dan lanjut ke perut. Tak heran juga itu terjadi karena udang rebus kemerahan memang salah satu favoritku sejak anak-anak. Apalagi daging merah adalah idolaku selama tiga tahun belakangannya ini. Semua yang merah lah pokoknya aku suka.

Belum selesai soal kolestrol, suami bibiku menyergah dan berkomentar. Katanya aku mungkin juga kena gula. Diabetes memang ada dalam garis darah keluarga kami. Apalagi, kakekku yang luar biasa sakti dan kuat itu akhirnya malah mati karena gula darahnya naik dalam dua tahun terakhir sebelum dia lepas usia. Tapi aku langsung bilang tidak tidak tidak padanya. Aku yakin aku tidak diabetes karena aku tidak suka manis. Satu-satunya manis yang bisa kusukai hanya wajahmu dan senyumanmu saja.

Aku sakit. Malam ini malam pertama aku menjalani waktu tidur di ranjang rumah sakit. Aku ingin tidur tapi sulit karena keberisikan. Berisik suara tetesan infus, suara AC, suara pasien sebelah yang mengorok, suara pasien di ranjang seberang yang susah nafas, suara pasien di dekat pintu yang kentut melulu, suara suster bolak balik mengecek pasien, suara ibuku yang terus bergerak karena sakit tidur di kursi, sampai suara di kepalaku yang terus memikirkan dan merindukan kamu.

Hari ini teman-teman ibu membesukku. Mereka datang bergerombolan sambil ketawa-ketiwi layaknya orang akan pergi piknik ke pantai. Pakaian mereka pun luar biasa cantik seperti mau peragaan busana. Beberapa ada yang membawa makanan banyak sekali, kurasa mungkin ada yang sungguhan sekalian membawa tikar.

Aku sakit dan teman-teman ibuku ini berkicau tak berhenti soal mistis. Melihat kondisiku, mereka malah cerita soal kawan mereka yang terkena ilmu hitam. Mereka bilang ada temannya yang salah ucap di suatu tempat ke seseorang, besoknya sakit tak jelas, masuk rumah sakit dan tak lama mati. Ada lagi yang cerita bahwa kenalannya tak sengaja melangkahi tangga yang ternyata ada setannya. Seketika orang itu jatuh, kakinya patah dan tidak sembuh sampai setengah usianya lewat.

“Bener lho, Dik. Teman saya sakit nggak jelas kenapa dan tidak sembuh-sembuh. Sudah berobat sana-sini, akhirnya bisa hidup tenang setelah berobat ke orang pintar. Coba saja, Dik. Daripada buang uang di rumah sakit tapi ndak sehat-sehat. Ke orang pintar cuma bayar seikhlasnya, Dik. Dijamin langsung bisa hidup tenang!”

Orang pintar katanya.. Magis katanya. Apa iya aku bisa percaya dengan yang seperti itu saat ini? Orang pintar yang kukenal hanya kamu. Magis yang kupercaya hanya berupa pesonamu yang membuatku tidak bisa tidak melayang kalau sedang kamu pandang.

Lagi pula, jika kuingat-ingat, beberapa waktu belakangan aku tidak pernah salah ucap ke orang lain, apalagi melangkahi tangga. Aku juga tidak suka berbuat aneh-aneh di tempat asing karena keluar rumah pun aku jarang sekali. Kecuali untuk menjumpai kamu.

Hari ini adalah hari ke dua ratus aku di rumah sakit. Asuransiku sudah menyerah menanggung biaya sejak hari ke tiga puluh. Orang tuaku sudah kehabisan barang untuk dijual. Aku pun tak punya aset macam-macam lain yang bisa kugadaikan untuk bayar rumah sakit. Kami semua makin pucat, aku makin sakit. Sementara dokter dan perawat di rumah sakit, cuma mereka yang wajahnya semakin berseri-seri.

Sudah hampir 365 hari aku di rumah sakit, hasil observasi tidak juga keluar. Aku masih saja sakit sendi dan sakit tulang. Sakit yang membuatku tidak bisa pulang. Sakit yang membuat tagihan rumah sakit gendut, sementara rekeningku ikut mengkerut. Sakit yang membuatku ingin kamu datang.

Hari itu akhirnya kamu datang. Kamu datang setelah satu tahun pergi entah untuk menemukan apa. Kamu datang dengan senyumanmu yang selalu kumimpikan setiap malam. Kamu datang dengan kelembutan tanganmu yang dulu mengusapku setiap hari. Kamu datang dengan kehangatan pelukanmu yang dulu membalutku setiap beberapa jam sekali.

Kamu datang, melepas infusku. Saat itu juga aku pulang karena sakitku hilang.

Dan semua dokter di rumah sakit itu..

“Ternyata hanya rindu.. Dasar, bikin kerjaan orang saja”.

Continue Reading

Cerpen

Pencarian

mm

Published

on

Setibanya di rumah, Thaleb tak menemukan kedua anak dan istrinya. Bumi terus berguncang dengan hebatnya. Beton-beton retak dan rubuh, pohon kelapa berayun-ayun ke kiri dan kanan, semua orang memadati jalanan dan berteriak histeris. Ia terus mencari istri dan kedua anaknya. Ia lihat ke belakang rumah, istrinya tidak ada di sana. Thaleb terus memanggil-manggil mereka, tapi tak ada yang menjawab. Ia pun keluar dari rumah, berdiri terpaku di jalannan. Ia melihat ke kiri dan kanan, orang-orang berlari kocar-kacir dan kalimat suci terus terucap lewat mulut mereka.

Tiba-tiba seorang tetangga melintas di hadapannya.

“Uneng, lihat istri dan anakku?” tanya Thaleb pada perempuan tua itu.

“Tadi istrimu membawa anakmu lari pakai sepeda motor,” jawab orang itu. “Menuju arah kota.”

Tanpa pikir panjang, Thaleb pun menyetop seseorang pengendara motor.

“Bang! Bang!” Thaleb menghadangi jalannya. “Boleh aku numpang ke kota?”

“Naiklah!” jawab si pengendara motor.

Thaleb pun langsung naik, dan motor berlalu menuju kota. Di jalanan, banyak anak-anak menangis ketakutan. Bumi terus berguncang tak henti-hentinya. Motor melaju cepat seolah tak mempedulikan guncangan itu.

Setibanya di jalan raya, banyak motor, becak dan mobil mamadati jalan raya, melaju tak tentu arah, sampai-sampai ada yang tertabrak. Suara tangisan anak-anak masih terdengar memadati kuping Thaleb. Ia terus melihat kiri dan kanan, mencari anak dan istrinya. Tiba-tiba motor yang ditumpanginya menabrak sebuah becak yang melaju melawan arah. Mereka pun jatuh.

Lalu ia lihat orang-orang yang ada di dalam becak, kira-kira ada delapan orang, Thaleb langsung menyadari kedua anaknya ada di antara meraka. Ia pun langsung bangun dan menghampiri becak itu. Ternyata yang membawa becak adalah Wak Kasem, orang kampungnya sendiri.

“Ibu di mana?” tanya Thaleb pada kedua anaknya.

“Istrimu tadi tertabrak di jalan raya sana,” jawab Wak Kasem sambil menunjuk tempat istri Thaleb tertabrak. “Tadi istrimu menyuruhku membawa kedua anakmu pergi. Sedangkan dia dibawa mobil yang menabraknya. Kalau aku tidak salah, mobil itu membawanya ke rumah sakit terdekat. Segeralah cari istrimu!”

Kendaraan lain sudah antri panjang di belakang becak dan membunyikan klakson. Thaleb mengelus kedua kepala anaknya, lalu menciumnya.  Becak pun berlalu meninggalkannya.

Ia segera pergi ke tempat istrinya tertabrak. Ia menyetop pengendara lain yang melintas menuju arah itu dan kembali menumpang. Jalan raya padat, suara klakson tak henti-hentinya dibunyikan.

Setiba Thaleb di tempat istrinya tertabrak, ia mendapati motor yang dipakai istrinya tergeletak di pinggir jalan. Motornya hancur dan bannya gembos. Kepala Thaleb tiba-tiba pusing, matanya berkunang-kunang membayangkan bagaimana keadaan istrinya. Bunyi klakson dan suara tangisan anak kecil menyadarkannya dari lamunan.

Guncangan bumi sudah berhenti sesaat. Tanpa pikir panjang, ia pun segera melangkah mencari rumah sakit terdekat. Ia terus berjalan cepat di tengah-tengah kerumunan orang dan kendaraan yang melaju tak tentu arah. Sesekali ia bertabrakan dengan orang lain yang juga terlihat panik.

Tiba-tiba saja, orang-orang yang lari dari arah pantai berteriak mengabarkan sesuatu. Ia dengarkan teriakan itu hati-hati, ternyata orang-orang itu mengatakan bahwa air laut sudah naik setinggi pohon kelapa. Orang-orang dari arah pantai terus berlari menuju kota. Thaleb pun juga ikut berlari menuju kota, sambil mencari istrinya. Ia lihat bangunan roboh, seseorang terjepit di sana terkena reruntuhan beton. Hatinya bergidik ngeri. Di antara yang terjepit reruntuhan itu, hanya kakinyalah yang terlihat, sedangkan separuh badannya terjepit beton besar.

Tiba-tiba dari arah pantai terdengar suara yang cukup berisik. Suara patahan pepohonan, suara seng-seng dan kayu-kayu bangunan. Dari kejauhan, Thaleb melihat air hitam besar datang menggulung semua yang menghalanginya. Ia berlari menuju kota. Sebentar lagi akan sampai di Masjid Raya, pikirnya.

Suara air mengerikan itu membuat hati semua orang takut. Thaleb terus lari berdesak-desakan dengan orang lain. Suara tangisan anak kecil terus memadati pendengaran, berlomba-lomba dengan suara air besar itu. Di tengah-tengah perlariannya, ia menemukan jeringen plastik dan mengambilnya, mungkin ini akan diperlukan nanti, pikirnya. Ia terus berlari menjauh dari air hitam yang terus mengejarnya di belakang sana. Tiba-tiba ia pun terjatuh, tubuhnya terinjak oleh orang-orang. Satu dua orang juga ikut jatuh. Tanpa disadari, air itu pun menyapu dirinya. Air itu menggulung tubuhnya, membenturkannya ke tembok ruko. Jerigen itu masih dipegangnya kuat-kuat. Ia membuka mata ketika di dalam air, tak satu pun yang dapat ia lihat. Tanpa ia sadari, sepotong kayu menghantam kepalanya. Di sisi lain, sebuah seng membelah betisnya. Ia terus digulung air hitam yang mengerikan itu.

Dalam keadaan lemah di dalam air, ia berdoa: “Jika saya masih dibutuhkan di dunia ini, selamatkanlah saya dari bencana ini, ya Allah!” Di dalam hati ia tak henti-hentinya berdoa dan bersalawat.

Tiba-tiba tubuhnya tersangkut di sebuah mobil, lalu ia terangkat ke permukaan karena jerigen yang ada ditangannya. Ia lihat ke atas, banyak orang di atas ruko melihat ke arahnya. Ia meminta tolong pada orang-orang itu. Mereka pun mengulurkan tali ke bawah. Thaleb menyambut tali itu. Ia ikatkan tali itu ke badannya, dan ia pegang kuat-kuat. Orang-orang yang ada di atas ruko pun menarik tubuhnya ke atas.

Thaleb selamat dari bencana tsunami yang menakutkan.

Ia lihat betisnya, ternyata sudah terkoyak lebar dihantam seng saat di dalam air. Ia raba kepalanya, ia temukan darah di sana.

Seseorang yang melihat kejadian itu membuka bajunya dan merobeknya menjadi dua bagian. Orang itu langsung membalut betis dan kepala Thaleb. Darah pun berhenti.

***

Selama dua harmal Thaleb menginap di ruko itu, makan seadanya bersama orang yang menolongnya. Di hari ketiga, air mulai surut, Thaleb pun memberanikan diri untuk turun. Di jalanan, terlihat satu-dua orang berjalan di antara tumpukan sampah dan puing-puing. Ia pun keluar dari ruko dan berjalan terpincang-pincang. Ia melihat mayat sejauh mata memandang. Puing-puing bangunan, mobil, motor, sepeda, pohon-pohon dan lain-lainnya berserakan di jalanan. Bercampur dengan ratusan mayat, bahkan ribuan. Hati Thaleb kembali bergidik ngeri.

Bantuan pun mulai datang, para tentara mengevakuasi para korban. Bantuan makanan, kesehatan dan posko-posko pun mulai didirikan. Thaleb terus menyusuri jalanan dengan kaki pincang mencari istri dan kedua anaknya. Orang-orang juga banyak mencari saudaranya. Satu-dua orang anak kecil terlihat menangis di sudut kota, karena tak menemukan ayah dan ibunya.

Kaki Thaleb terus melangkah tak tentu arah. Sampai di sudut kota lainnya, ia melihat seorang anak sedang menangis, kira-kira berumur tiga tahun. Ia hampiri anak itu. Ia elus kepalanya. Lalu anak itu digendongnya. Anak itu terus menangis sejadi-jadinya. Thaleb membawa anak itu melanjutkan pencarian istri dan anaknya. Sampai matahari mau tenggelam, istri dan kedua anaknya tidak juga ditemukan.

Ia pun memutar haluan menuju posko bantuan. Ia melangkah di antara puing-puing bangunan, pohon, dan mayat. Mega merah menyapu permukaan bumi yang luluh-lantak dihantam air besar. Hari mulai gelap, dan ia terus melangkah pelan dan pasti. Anak itu sudah terlelap dipelukannya.

Tak lama kemudian, Thaleb pun sampai di posko. Ia berikan anak itu pada seorang perempuan pengurus posko.

“Anak Bapak?” tanya perempuan itu.

“Bukan.” Kepalanya menggeleng. “Aku temukan di sudut kota.”

Perempuan itu melirik ke kakinya, ia lihat betis Thaleb mulai mengeluarkan darah. Kain yang menutupi luka itu sudah kotor terkena air di jalanan.

“Kaki Bapak kenapa?” tanya perempuan itu. Lalu ia berikan anak itu pada temannya. Setelah itu ia mendekati kaki Thaleb dan memandangi betis itu. Ia buka kain pengikat, dan betisnya yang terkoyak lebar itu pun ternganga. Perempuan itu kaget bukan main. Ia segera membawa Thaleb ke tempat medis. Ia bersihkan luka itu, lalu luka itu pun dijahit.

Thaleb tertidur karena keletihan berjalan seharian mencari kedua anak dan istrinya. Dalam tidurnya, ia berjumpa dengan istri dan kedua anaknya sedang bermain di sebuah taman. Karena mimpi itu, tepat jam tiga malam, ia terbangun. Ia lihat di sekitar, banyak orang terluka sedang tidur di sekelilingnya.

Ia pun keluar dari posko, dan seseorang mencegatnya. “Bapak mau ke mana? Istirahatlah dulu, Pak. Luka kaki Bapak belum sembuh benar.”

“Mau mencari anak-anak dan istriku.”

“Istirahatlah dulu, Pak, besok akan saya bantu mencari istri dan anak-anak Bapak. Mungkin mereka ada di posko ini. Kalau tidak ada di posko ini, mungkin ada di posko lainnya.”

Mendengar kata pemuda itu, Thaleb pun kembali masuk ke dalam tenda dan kembali beristirahat.

***

Keesokan harinya, setelah makan, Thaleb pun menuju tempat informasi posko itu bersama pemuda semalam. Ia mencari daftar nama pengungsi, ia berharap nama istri dan anak-anaknya ada dalam daftar. Tetapi, nama itu tak ditemukannya.

Ia pergi ke posko kedua, ia lihat orang-orang di sana dalam keadaan murung. Ia pergi ke tempat informasi untuk menanyakan daftar nama pengungsi, tapi nama istri dan kedua anaknya tidak juga ketemu.

Ia tak putus asa, dengan ditemani pemuda itu, ia pergi ke posko lainnya. Dan nama anak dan istrinya juga tidak ada di sana. Begitu juga dengan posko-posko selanjutnya, ia tidak menemukan anak dan istrinya.

Setelah itu, Thaleb menyuruh pemuda itu untuk pulang ke posko. “Pulanglah ke posko. Saya akan cari istri dan anak saya di tempat lain. Mudah-mudahan ketemu.”

Thaleb segera memberikan nama istri dan kedua anaknya pada pemuda itu, berangkali ada laporan dari posko-posko lain. Tidak lama kemudian, pemuda itu pun berlalu pergi.

Setelah berjalan beberapa langkah tak tentu arah, ia menemukan sebuah dompet yang ia kenal betul. Ya, dompet itu adalah milik istrinya. Ia ambil dompet itu, lalu ia buka. Thaleb mendapatkan KTP istrinya dan dua lembar foto anaknya yang sudah kusam, basah terkena air tsunami. Saat itu kali pertama ia meneteskan air mata. (*)

Surabaya, 2020 | Tsunami Aceh, 26 Desember 2004

___
Puji M. Arfi, lahir di Aceh 19 Februari 1999. Sekarang sedang menempuh pendidikan S-1 jurusan Sejarah Peradaban Islam di UIN Sunan Ampel Surabaya. Alumni Pesantren Dayah Modern Darul Ulum, Banda Aceh. Sekarang sedang mempelajari seni di (BMS) Bengkel Muda Surabaya. Menjadi salah seorang penggagas komunitas Cangkruk Rasa: Komunitas literasi Surabaya. Buku yang telah terbit: novel Dilema Penjara Suci: Sebuah Catatan Harian Santri Bodoh, (2019) dan Kumpulan Cerpen Perahu Pinggiran Kota, (2019).

Continue Reading

Trending