Connect with us

Milenia

9 Facts Most People Do Not Know About Jane Austen

mm

Published

on

Jane Austen
  1. It has often been noted that Jane Austen makes no mention of the Napoleonic wars in any of her novels, even though they were being waged at the time of writing.  Yet Austen herself was a senior officer in the 4th Women’s Battalion, King’s Royal Hussars and saw active service at Ulm in 1805.
  2. Lifelong fans of Jane Austen’s work include Radio 1’s Chris Moyles, celebrity chef Gordon Ramsay, Rick Parfitt of Status Quo and Big Brother star Jade Goody.  “To my mind, she has an exquisite understanding of the complexities and nuances of human relationships,” argued Moyles on last week’s Time for Austen slot of his popular breakfast show.
  3. In her lifetime she completed six novels, including Northanger Abbey, Sense and Sensibility, Pride and Prejudice, Mansfield Park, Emma, and Persuasion. Four of them were published before her death.
  4. In 1783, Jane Austen and her older sister Cassandra went to be educated by their aunt Ann Cooper Cawley, the widow of the head of an Oxford college. From there, they went on to Abbey School, a boarding school for girls. Apart from these years, Austen was educated by her father.
  5. Finances forced the Austens to leave Steventon for Bath, a change that upset Austen greatly. Some biographers assert that the situation hurt her writing, as she did not have a private place in which to write and was forced in Bath to socialize more than before.
  6. Austen is known for writing about the propriety of Regency women; however she herself was not all that proper.  In Bath, Austen spent time with a known adulterer, who made better conversation than others provided in the superficial spa town — and who had a fashionable open carriage. Their meetings distressed her aunt, but provided Austen with more fodder for teasing her sister: “There is now something like an engagement between us and the Phaeton, which to confess my frailty I have a great desire to go out in.”  Another romantic faux pas occurred when Jane Austen accepted a marriage proposal only to revise her decision the next morning. The suitor, Harris Wither, was six years younger than she, ill-mannered, and quick-tempered. Surprised by the proposal, she accepted on the spot, knowing that his wealth and position would mean security for her family. Nonetheless, after a sleepless night spent considering her life as the future Mrs. Wither, she called off the engagement, creating something of a scandal and putting a lasting strain on the relationship between their two families.
  7. When her father died in 1805, Austen ceased work on a novel she’d begun entitled The Watsons. It was the only time in her life that she was not writing or revising something. After only a few months, however, Austen returned to a novella she’d begun earlier, Lady Susan.
  8. In 1805 Jane Austen’s father passed away and Jane her sister Cassandra and her stepmother went to live with her brother Frank’s family in Southhampton. Then in 1809 Jane moved to Chawton with her mother and sister. This home was a cottage situated on the estate of her now wealthy brother Edward. It was in Chawton that Jane wrote her later novels.
  9. The cause of Jane Austen’s death has not been confirmed but there are some theories. The most accepted theory is that Jane Austen died of Addison’s disease, which at the time had not been identified. Carol Shield, her biographer, put another modern theory forth. This theory suggests that Jane Austen died of breast cancer.
Continue Reading
Advertisement

Milenia

‘Memikirkan Kata’ Panduan Berpikir atau Menulis?

mm

Published

on

Buku ini memuat catatan dari mereka yang telah begitu lama memikirkan kata, tersesat dalam kegelapannya, mengambil dari wilayah pribadi kata-kata untuk menghasilkan cerita dan pencerahan yang dibutuhkan manusia. Para editor media ternama, para penyair, esais dan para sastrawan berkumpul dalam buku ini

Editor’s Note

Menulis dan buku-buku adalah sebuah seni. Melampaui keliteraturan—dalam arti kenikmatan yang dikandung di dalamnya memerlukan hampir seluruh dari diri kita, menghabiskan nyaris semua waktu yang kita miliki jika ingin mencecap nikmatnya.

Seorang bisa saja memiliki kenikmatan itu—dengan membeli buku-buku terbaik karya para pengarang. Seorang juga bisa memasak untuk dirinya sendiri, atau menghidangkan kreasi final masakannya bagi yang lain agar bisa turut mencecap kenikmatan puncak yang bisa dicapainya.

Apa pun pilihannya meski tidak semua harus menjadi Chef, setiap orang harus bisa memasak—bisa menulis. Paling tidak untuk memberi makan batinnya sendiri.

Buku “Memikirkan Kata” dikerjakan salah satunya dengan motif semacam itu. Agar setiap kita, para pembaca, bisa memasak, menulis paling tidak untuk diri sendiri. Sebab bagaimana pun membaca dan juga menulis adalah aktivitas yang memberi pengayaan batin dan intelektual. Jika kita percaya lebih dari itu, bahwa dengan menulis seorang bisa berkontribusi bagi kebaikan dan majunya peradaban, maka motif yang tampaknya sederhana tersebut mungkin juga mengandung motif politik (kebudayaan).

Sementara itu untuk bisa memasak, orang butuh tahu ragam bumbu-bumbu yang pada setiap masakan yang dikehendaki, berbeda pula rupa bumbu maupun teknik mengolahnya; juga kapan memasukkan masing-masing bumbu, kapan mengurangi atau membesarkan apinya, semua itu butuh dipelajari dan hasilnya selalu khas, unik dan personal—bahkan dengan bumbu sama, bisa menghasilkan rupa dan rasa hidangan yang berbeda-beda—juga penikmat yang khas dan berbeda pula.

Pemesanan Buku “Memikirkan Kata” bisa hubungi kontak Whatsapp: 082111450777

Dalam andaian semacam itu, teknik memasak, teknik menulis, pengetahuan akan bumbu-bumbu, cara mengolah dan cara menghidangkan perlu dipelajari dan dimiliki, meski hasil akhir, dan pada tahapan “pengalaman dan jam tempuh”, semua fase kaidah dan pelajaran teknik itu boleh dilanggar dan dilampaui. Tak terkecuali dalam seni menulis, berlaku juga hal serupa.

Seperti para pendaki menuju puncak, ia sudah lagi berjalan dengan spirit, ketenangan, serta kematangan batin yang didapat tak lain dari semua proses tidak mudah dan tidak sebentar dalam melampaui kaidah-kaidah teknis tersebut. Ia telah menempa diri dengan kejujuran, komitmen dan kesadaran malampui pencapaian subjektif semata. Hemingway suatu kali berujar: “Hal tersulit yang harus dilakukan penulis adalah menuliskan prosa dengan sejujur-jujurnya. Pertama, ia harus tahu subjek yang hendak diceritakkan, lalu tahu caranya menulis—keduanya butuh latihan seumur hidup.”

Sementara Natalie Goldberg pada puncaknya menyeru hal senada: “Soalnya akan seperti seorang master Zen yang mengajarkan kepadamu tentang bermeditasi selama setahun, dan pada tahun berikutnya dia berkata, ‘Abaikan rasa iba kasihan. Berdiri dengan kepala kita sendiri itu juga termasuk ke dalam meditasi’.”

Meski demikian buku “Memikirkan Kata” bukan pertama-tama disusun untuk menjadi “buku panduan” ia dikerjakan untuk membuat kita memiliki kesadaran akan pentingnya dunia buku, membaca dan juga menulis. Juga segala kemungkinan kemajuan yang bisa dibuat dengan “berpikir” dan “kata”.

Ia adalah awalan dan pondasi: pikiran yang kritis, logis, sebab luasnya wasasan dan berlimpahnya pengalaman, bisa menjadi bahan baku utama bangunan peradaban yang kita harapkan—tetapi ia membutuhkan perangkat, dan “kata” adalah bahan baku utamanya, ia disusun menjadi kata-kata, menjadi kalimat, sehingga memiliki makna dan dengan cara itu ia memperlihatkan eksistentinya untuk dipahami, memberi harapan dan sekalian menghadirkan keindahan. Saya rasa itu juga maksud dari judul yang dipilih untuk buku ini—Memikirkan Kata.

This slideshow requires JavaScript.

*

Sementara itu  mari kita bicara realitas faktual. Tetapi tidak dalam bahasan tentang angka dan pencapaian memerangi buta huruf, tinggi dan rendahnya minat baca, angka perpustakaan dan toko buku yang bangsa ini meiliki, atau kualitas pendidikan dan penyelenggaraanya, itu terlampau besar untuk bisa diwacankan dengan pengerjaan buku ini.

Faktualitas yang menjadi pijakan keinginan menghadirkan buku ini adalah faktualitas kultural: bahwa nyaris tanpa perdebatan untuk menyebut budaya literasi, khususnya “budaya menulis” masyarakat kita belum lagi memadai, atau terfasilitasi dalam kaitannya dengan kebijakan publik, atau untuk mengatakan secara lebih konstan: membaca dan menulis belum menjadi budaya bangsa ini. Pada tahap budaya artinya ia menjadi cara hidup masyarakat—bukan sekadar kebutuhan praktis misalnya karena soal pekerjaan atau sekolah barulah seseorang menulis. Budaya menulis itu penting, tetapi harus dimulai juga dari kesadaran bahwa membaca dan menulis adalah begitu penting bagi kemajuan peradaban kita.

Secara praktis, pentingnya kemampuan menulis sebenarnya tidak hanya baik dan diperlukan mereka yang butuh berkembang dalam dunia sastra dan menulis buku-buku, tapi juga dunia industri, iklan, film, kampanye lembaga sosial, kebutuhan dalam ruang pendidikan, benar dan hoaks dalam relatifitas dunia politik, bahkan juga kebutuhan personal branding di era serba digital saat ini.  Di sisi lain perkembangan dunia digital dan teknologi informasi saat ini butuh diimbangi dengan kemampuan literasi dalam artinya yang luas. Dan menulis adalah salah satu pokok yang bisa menjadi pondasi penting khususnya bagi generasi muda dalam peningkatan kapasitas dan perkembangan logika berpikirnya sehingga dapat berkompetisi dan memahami dinamika sosial yang bergerak kian lekas—disruptive. Kemampuan dan kemajuan budaya literasi semacam itu tidak hanya memberi dampak kemajuan tapi juga sekaligus penangkal yang diharpkan mampu mengalahkan lubang hitam puritanisme dan radikalisme. Karenanya yang terpenting dari hal itu adalah terawatnya kemanusiaan dan empati sosial.

“Memikirkan Kata” bisa anda dapatkan dengan harga Rp. 235.000,- |  Kajian atas buku ini klik artikel ‘Memikirkan Kata’ deciphers one of the greatest writing conundrums: Producing words | Pemesanan buku sila hubungi melaui whatsapp 082 111 450 777.

Buku “Memikirkan Kata” sendiri terdiri dari 9 bab utama, yaitu:  (1) Pengantar tentang berpikir, membaca dan pada akhirnya menulis. (2) Voice of Editor; Menilik Dapur Pikiran Para Editor Tentang Dunia Kepengarangan (3) The Prose Reader: Retorika Pengantar Tentang Teknik Penulisan (4) Tulisan Bermutu Tinggi: Panduan Tidak Sederhana Tentang Cara Menulis Bermutu  (5) Tentang Inspirasi: Bagaimana ide bekerja—dari Saul Bellow hingga Gabriel Marquez (6) Writing Tips: Menulis Itu Terkadang Mudah (7) Artist at Work—Bagaimana Pengarang itu Begitu Keras Bekerja. (8) Interview—Merayakan Obrolan Tentang Semesta Seni. (9) Nasihat Mengarang dari Penulis Buku Best Seller Dunia.

Kesembilan bab tersebut ditujukan untuk tiga pondasi utama yaitu; Pertama: melalui bab 1-2 para pembaca disuguhi “spirit” dunia buku, dunia menulis, bahwa menulis bukan pekerjaan mudah dan untuk menjadi penulis bermutu para penulis dunia telah melalui proses yang tidak satu pun gampang dan instan, bahkan memerlukan waktu belajar seumur hidupnya. Kedua; melalui bab 3-5 pembaca akan mendapatkan dasar teknikal bagaimana menullis baik dan bermutu, bahwa menulis bukan sekedar “mengarang”, ia membutuhkan kapasitas, wawasan pengetahuan, dan pendidikan teknis yang tuntas tentang bahasa, tentang tema, tentang ide dan teknik yang dibutuhkan dalam dunia tulis-menulis lainnya. Ketiga: melalui bab 6 pembaca mendapat “bonus” berupa tips atau panduan untuk menjadikan kerja menulisnya efektif. Dan Keempat: melalui bab 7-8 pembaca akan mendapatkan keluasan perspektif bahwa menulis bukan hanya soal teknik, kemampuan bagus dan tujuan menjadi penulis besar, tapi dunia menulis memiliki tanggung jawab moral sebagaimana pengakuan puncak yang ditulis para peraih nobel dalam bab tersebut. Terakhir adalah bonus bagaimana para penulis dunia terkini, umumnya penulis best seller dunia menghasilkan karya-karya terbaik mereka.

Buku ini memuat catatan dari mereka yang telah begitu lama memikirkan kata, tersesat dalam kegelapannya, mengambil dari wilayah pribadi kata-kata untuk menghasilkan cerita dan pencerahan yang dibutuhkan manusia. Para editor media ternama, para penyair, esais dan para sastrawan berkumpul dalam buku ini melalui ulasan atas karyanya, penerjemahan dan juga wawancara atas proses kreatifnya. Semua untuk membantu kita hidup dalam seni, hidup dalam kata-kata; untuk menjadi pribadi yang tumbuh, khas, berbahagia dan memberi makna bagi kehidupan—dengan menjadi pembaca, pemikir dan pada akhirnya penulis dalam artinya yang paling luas.

Pada ujungnya, saya ingin menutup dengan keyakinan Virginia Wolf yang pemikirannya tentang kata-kata dan seni menulis juga tertuang dalam buku ini: “Kata-kata seperti halnya kita, untuk dapat hidup dalam ketenangannya, membutuhkan wilayah pribadi mereka. Kata-kata, menginginkan kita untuk berpikir, dan mereka menginginkan kita untuk merasa; sebelum kita menggunakannya; tetapi mereka juga ingin kita berhenti sejenak; untuk menjadi tak sadar. Ketidaksadaran kita adalah wilayah pribadi mereka; kegelapan kita adalah cahaya bagi mereka…”

Selamat membaca, selamat memikirkan kata…

*) Sabiq Carebesth, editor dan Pendiri Galeri Buku Jakarta

____

“Memikirkan Kata” bisa anda dapatkan dengan harga Rp. 235.000,- |  Kajian atas buku ini klik artikel ‘Memikirkan Kata’ deciphers one of the greatest writing conundrums: Producing words | Pemesanan buku sila hubungi melaui whatsapp 082 111 450 777.

 

Continue Reading

Milenia

Dono, Rumah dan Novel

mm

Published

on

Dono tak cuma pelawak atau artis. Dono adalah pengarang novel. Kita membuka dan membaca novel berjudul Cemara-Cemara Kampus (1988) gubahan Dono. Novel terbit saat Dono sudah kondang.

Bandung Mawardi *)

___

Kita membuka Suara Merdeka, 3 Januari 2020. Berita itu berjudul “Rumah Keluarga Dono Warkop Tidak Terurus.” Berita cukup panjang digenapi foto rumah dalam kondisi memang tampak “sedih”. Pembaca perlu ikhlas menikmati berita (belum tentu) penting. Kita diajak mengingat tokoh dan rumah. Si wartawan mungkin mengenali Dono itu pelawak atau pemain film. Ketokohan penting menguatkan pamrih memberi warta ke pembaca. Dono memiliki masa lalu di Klaten (Jawa Tengah). Ia bekerja dan moncer di Jakarta. Orang-orang terhibur oleh ulah dan omongan Dono dalam siaran radio, rekaman kaset, film, dan sinetron. Dono tak besar sendirian. Di Jakarta, ia mengumbar tawa bersama Kasino dan Indro.

Di Klaten, sekian orang mengingat Dono mengacu rumah. Kita simak paragraf dari penelusuran si wartawan: “Rumah berarsitektur tahun 1960-an itu berada di tepi jalan desa. Rumah itu tampak sepi tak berpenghuni. Berdiri kokoh, rumah berukuran 10 x 12 meter itu tampak tak terawat. Letaknya hanya 50 meter dari bekas pabrik karung goni Delanggu yang terbengkalai sejak lama. Bentuk dan warna rumah tersebut serupa dengan rumah-rumah di bekas kompleks pabrik karung. Rumah bercat putih dengan jendela hijau muda itu hanya sejauh 100 meter dari Balai Desa Delanggu (Klaten). Warga sekitar saat ditanya alamat rumah Dono Warkop akan langsung menunjukkan rumah itu.” Pembaca sejenak berimajinasi bangunan dan kondisi geografi di Delanggu. Dono bermasa lalu bersama rumah, keluarga, dan warga desa di Delanggu: meninggalkan ingatan-ingatan masih bisa terkabarkan.

Pada masa 1970-an, bapak Dono adalah kepala desa di Delanggu. Rumah itu dihuni keluarga. Tahun demi tahun berlalu, para penghuni rumah meninggal. Rumah semakin sepi. Dono sudah memilih bekerja dan memiliki rumah di Jakarta. Warga masih ingat Dono dulu memiliki kebiasaan setahun pulang ke Delanggu, dua atau tiga kali. Di mata warga, Dono sudah “jadi orang” di Jakarta. Pulang kampung sejenak itu kewajaran. Tahun-tahun berganti, rumah semakin kehilangan penghuni. Kini, rumah tanpa penghuni. Kosong. Kita diajak berpikiran waktu, tokoh, rumah, kampung, dan pelbagai hal. Berita tentang rumah pernah dihuni keluarga Dono cukup memberi “panggilan” untuk mengenali Dono dan memahami rumah.

Dono tak cuma pelawak atau artis. Dono adalah pengarang novel. Kita membuka dan membaca novel berjudul Cemara-Cemara Kampus (1988) gubahan Dono. Novel terbit saat Dono sudah kondang. Kita ingin mengutip pengisahan rumah dalam novel. Si tokoh bernama Kodi adalah mahasiswa. Babak ia pulang ke kampung halaman: “Dalam bus berhawa sejuk Kodi tak dapat tidur. Untuk kali ini pikirannya terganggu dengan keadaan di rumah.” Perjalanan lancar. Pagi, turun dari bus, ia berjalan menuju rumah. Di perjalanan, Kodi bertemu dan memberi sapaan ke para tetangga. Kodi sampai depan rumah: “Pohon sawo di tengah halaman masih seperti biasanya. Tanah di bawahnya tampak bersih. Memang sudah biasa, sebelum matahari semburatnya kelihatan di sebelah timur, halaman ini sudah disapu Mbok Nah, pembantunya sejak kecil.” Kita menduga si Kodi hidup di keluarga priyayi. Dono pelit bercerita rumah. Kita sulit mengetahui kondisi dalam rumah.

Dono lekas mengajak pembaca ke peristiwa Kodi dolan ke rumah Wulan, teman semasa kecil dan pernah jadi kekasih. Dono menceritakan: “Suasana rumah seperti biasanya, sepi. Tidak ada perubahan yang berarti. Hanya sedikit sekali. Sekarang bunga tapak doro lebih banyak tumbuh dengan sedikit bunga.” Kodi sering ke rumah Wulan, sejak masih bocah. Dono lumrah mengimbuhi cerita: “Bagi Kodi, rumah ini sudah dianggap rumah sendiri. Rumah masa kanak-kanaknya. Dia bebas keluar masuk tanpa banyak basa-basi.” Di rumah dan kampung halaman, Kodi membedakan dengan suasana di Jakarta. Kembali ke rumah cuma sebentar, membawa perkara genting dan teringat nostalgia. Pengisahan rumah tak rinci dalam novel cukup bagi pembaca mengerti olahan imajinasi rumah, kampung halaman, dan Jakarta mungkin bereferensi biografi Dono.

Petikan-petikan dalam novel tak menggamblangkan rumah itu milik keluarga priyayi. Rumah sederhana tapi apik di mata warga. Kita mengutip gagasan orang-orang Jawa mengenai rumah di pembedaan predikat dan gengsi. Sartono Katodirdjo, A Sudewo, dan Suhardjo Hatmosuprobo dalam buku berjudul Perkembangan Peradaban Priyayi (1987) menjelaskan: “Salah satu lambang kepriyayian tampak pada rumah yang menjadi tempat tinggal.” Rumah megah dan artistik. Rumah menentukan derajat kepriyayian di mata penguasa dan kaum jelata. Rumah keluarga Kodi berkesan sederhana, tak memenuhi kaidah-kaidah rumah priyayi. Berita di Suara Merdeka pun mengabarkan rumah itu memang sederhana, tak tampak mentereng dibandingkan rumah-rumah tetangga. Kita menduga Dono tak ingin berbagi cerita dengan pilihan tokoh atau keluarga priyayi. Rumah diceritakan sejumput saja asal menguatkan kemauan bercerita tata krama, keintelektualan, asmara, dan identitas Kodi. Kita menganggap Dono (pengarang) dan Kodi (tokoh dalam novel) itu berbeda tapi memiliki kemiripan berkaitan rumah di kampung halaman.

Dono dan Kodi lahir dan tumbuh dalam asuhan sosial-kultural Jawa. Rumah dianggap penting dalam segala cerita, sejak lahir sampai mati. Berita dan novel memang belum mencukupi untuk mengerti imajinasi rumah dalam biografi Dono. Kita mendingan melancong jauh ke Amerika Serikat, ingin mengetahui rumah, bukan bermaksud membuat perbandingan biografi dan mutu bersastra. Di Indonesia, Dono belum mendapat pengakuan di jagat sastra. Para pembaca novel-novel gubahan Dono mungkin berhak mengadakan kongres agar Dono masuk dalam kamus, direktori, leksikon, atau ensiklopedia sastra di Indonesia.

Michael Pearson dalam buku berjudul Tempat-Tempat Imajiner: Perlawatan ke Dunia Sastra Amerika (1994) mengunjungi dan mengisahkan rumah-rumah berpengaruh dalam biografi dan kerja kesastraan John Steinbeck (1902-1968. Pada suatu kunjungan, Michael Pearson memberi deskripsi: “Steinbeck House adalah sebuah bangunan bergaya Victoria yang tidak bernoda dengan puncak menara dan menjulang dan trotoar. Panorama rumah itu tampak seperti sebuah lukisan yang baru kemarin digambar. Halaman rumputnya kelihatan seolah-olah dipelihara oleh seorang penata rambut…. Dari jalan di bawah sana, rumah-rumah terkesan lebih kecil, catnya telah memudar dan semak-semak tumbuh liar.” Ia berlebihan mendeskripsikan rumah bergelimang cerita tentang John Steinbeck, pengarang besar Amerika Serikat dan peraih Nobel Sastra 1962.

Rumah Dono di Klaten, Jawa Tengah. | Sumber: Suara Merdeka

Dono dan John Steinbeck memiliki persamaan: lucu. Kita membuktikan dengan pengisahan John Steinbeck mengenai rumah dalam novel berjudul Dataran Tortilla (1977), diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Djokolelono. Si tokoh dalam novel (Danny) kebingungan mendapat warisan dua rumah dari kakek. Sekian tahun, ia sudah terbiasa tak berumah. Warisan itu mungkin memberi petaka atau kesialan. Ia bingung hidup di rumah. Segala hal harus dipikirkan. Tinggal di rumah pun memerlukan ongkos untuk air, listrik, makan, dan lain-lain. Warisan dua rumah mencipta keruwetan hidup. Ia berkelakar ke sahabat: “Pilon alangkah senangnya bila kaulah yang memiliki rumah ini, dan aku datang menumpang padamu.” Dua tokoh dan sekian orang dalam novel memeng belum menghendaki menghuni rumah. Mereka ingin berkeliaran dan menumpang saja di rumah milik siapa saja. Hidup mereka bukan berpuncak makna pada rumah tapi minum anggur. Sial demi sial dialami dan rumah semakin kehilangan makna. Novel lucu di pengisahan rumah. Tragis bagi tokoh-tokoh memuja minuman anggur.

Kita mungkin keterlaluan gara-gara membaca berita di Suara Merdeka mengenai rumah. Kita sembrono mengadakan perbandingan dua novel. Orang-orang pasti terpikat Dataran Tortilla dan gamblang mengaku penggemar John Steinbeck. Di Indonesia, kita meragu ada ribuan orang membaca novel berjudul Cemara-Cemara Kampus. Jutaan orang memang menggemari Dono tapi bukan sebagai pengarang. Dua novel memiliki kalimat-kalimat memicu imajinasi rumah. Kita membaca dengan kesadaran rumah-rumah itu beralamat di Jawa dan Amerika. Perbandingan tak lucu tapi perlu ketimbang kita terlalu lama bengong, membiarkan novel-novel telantar tanpa pembaca saat hari-hari terus berganti. Begitu. (*)

Continue Reading

Milenia

Penyair, Identitas, dan Hal-hal yang Membuatnya Kembali Diperbincangkan

mm

Published

on

Ambisi meluap berbarengan dengan dorongan kuat untuk bisa diterima, tapi untuk membentuk suatu arus baru. “Bahkan jika kami semua sudah pernah memuat karya di The New Yorker, apakah itu menjadi tujuannya?” Namun, peralihan ke arus utama jarang terjadi tanpa adanya turbulensi.

___

JESSE LICHTENSTEIN | Diterjemahkan dari “How Poetry Came to Matter Again”, SEPTEMBER 2018 ISSUE | (p)  Gabriel (ed) Sabiq Carebesth

______

DUNIA PUISI agaknya bukan tempat ‘adu warna kulit’, atau ‘race row’ menurut koran The Guardian pada 2011, yang isinya lebih ke debat kusir mengenai klaim sastrawi. Seorang kritikus tersohor (dan berkulit putih), Helen Vendler, mencibir seorang penyair terkenal (dan berkulit gelap), Rita Dove, atas karya yang ia seleksi ke dalam seri terbaru Penguin Anthology of Twentieth Century American Poetry. Rita, kata Vendler, lebih mengutamakan “inklusifitas multikultur’ daripada kualitas. Dia disebut “mengubah haluan” dengan menampilkan terlalu banyak penyair dari latar belakang minoritas, dan meminggirkan penulis yang lebih baik (dan lebih dikenal). Puisi dalam antologi tersebut “umumnya pendek” dan “cenderung ditulis dengan perbendaharaan kata yang terbatas,” dakwa Vendler, si kritikus pengawal kanon sastra abad ke-20 ini.  Sementara itu di Boston Review, Marjorie Perloff, kritikus (yang juga berkulit putih) sekaligus ahli poetika avant-garde Amerika, juga tertarik beropini. Marjorie menyesalkan bahwa penyair baru terpaku pada suatu formula lirik yang pada tahun 1960 dan 70an saja sudah dianggap jadul – biasanya berupa memori pribadi yang “dipuitiskan,” yang memuncak pada “rasa mendalam atau semacam kabut kesadaran.” Dia mengambil contoh sebuah puisi dari penyair terkenal (dan berkulit hitam), Natasha Trethewey, yang menggambarkan rutinitas pelurusan rambut yang terpaksa dilakukan ibunya .

Di sisi lain, Rita menepis persoalan pola yang dikemukakan para kritikus terkenal yang berkulit putih itu. Apakah mereka, tanya dia, sedang mati-matian menyetop gerombolan penyair masa kini yang punya warna kulit dan kesipitan mata berbeda? Apakah kami – kaum Afro-Amerika, suku asli Amerika, Latino-Amerika, Asia-Amerika – harus menghadap para kritikus yang berjaga di depan pintu, yang memeriksa CV kami sebelum mereka mempersilakan kami masuk satu per satu?

Hal ini dimulai sejak dulu, dan sejak itu pula pintu depan itu berusaha dijebol lepas dari engselnya. Coba telusuri daftar isi jurnal sastra ternama, termasuk majalah puisi se-trendi Poetry, dan juga majalah mingguan yang topiknya lebih umum dan beroplah besar macam The New Yorker dan The New York Times Magazine. Lalu, tengoklah penerima berbagai hibah, penghargaan dan undangan mengajar, yang prestisius nan bernominal besar, yang diberikan setiap tahun kepada para penyair muda potensial di Amerika Serikat. Mereka adalah para imigran dan pengungsi dari Tiongkok, El Salvador, Haiti, Iran, Jamaika, Korea, Vietnam. Dari mereka ini ada para lelaki berkulit hitam dan wanita dari Oglala Sioux. Mereka terdiri dari para gay eksentrik, atau kita sebut queer, sekaligus para heteroseksual, dan keduanya bersikap sungguh-sungguh dalam memilih bagaimana mereka harus dipanggil. Wajah kepuisian di Amerika Serikat terlihat sangat berbeda saat ini ketimbang 10 tahun lalu, dan lebih mencerminkan demografi generasi millennial Amerika. Gampangnya, bakat-bakat penyair muda saat ini bakal menjadi wajah Amerika muda 30 tahun kelak.

Para pendatang ini, sejak awal karir mereka, sudah berada di dalam – dan mereka tidak semata tinggal di dalam kompleks pertapaan puisi yang mendengar namanya diberi hukuman mati setiap bulan April, ketika Bulan Puisi Nasional tiba. Di festival sastra, banyak dari para penyair ini menjadi magnet penonton dalam jumlah besar, seperti yang saya lihat November lalu ketika ratusan orang antri di bawah guyuran hujan untuk mendengar Danez Smith dan Morgan Parker berdiskusi tentang topik “New Black Poetry” di Portland Art.

Musim semi lalu, ketika saya ketemu dengan Danez, yang bersikeras dipanggil dengan kata sebut orang-ketiga jamak, ‘mereka’ (maksud saya, Danez) baru saja kembali dari Inggris untuk tur kumpulan puisi Don’t Call Us Dead, yang merupakan finalis National Book Award. Penerbit di Inggris terkesima pada karya puisi yang mendapat apresiasi kritis di The New Yorker dan ditonton 300.000 kali di Youtube. “Ada banyak cerita yang kami telah ceritakan, yang kini mulai diceritakan secara lebih terbuka di publik,” kata Danez, tanda ia menyadari energi kolektif generasi masa kini, juga para penyair dengan warna kulit gelap atau queer, secara lebih luas. Tiap buku baru dan apresiasi atasnya memantik kompetisi yang sehat untuk berkarya dengan lebih berani. “Aku nggak mau jadi satu-satunya bahan perbincangan,” lanjut Danez. “Kemenangan seseorang itu sebenarnya juga kemenangan untuk puisi, untuk para pembaca dan untuk orang-orang yang memiliki latar belakang yang sama.”

Tidak sedikit dari garda depan generasi ini yang pertama kali menemukan puisi melalui pentas pertunjukan, atau yang tumbuh dalam komunitas di mana “bahasa lisan” dan “puisi” adalah dua sejoli. Beberapa penyair telah menunjukkan bakat dalam membangun basis penonton lewat cara-cara yang lebih subtil. Sebelum Kaveh Akbar menerbitkan koleksi debutnya pada tahun 2017, Calling a Wolf a Wolf, dia sudah dikenal lewat seri wawancara di situs web Divedapper, di mana ia menawarkan perkenalan secara dekat dan mendalam tentang para penyair Amerika mutakhir. Dia juga tak kenal lelah dalam berbagi bahan bacaannya ke 28,000 pengikut Twitter-nya. Dia rutin mengunggah tangkapan layar dari halaman buku yang membuat dia terkesan.

Penyair baru dari generasi digital ini siap mengupayakan agar karya dan nama mereka dikenal luas. Mereka memiliki agensi dan juru bicara (dalam sejarahnya, ini bahkan tidak lazim!). Beberapa orang berkarya lintas-genre, melawan keterasingan puisi. Saced Jones (Prelude to Bruise, 2014) sudah dikenal luas sebagai host dari acara BuzzFeed News. Fatimah Asghar (If They Come for Us, 2018). Ia juga menulis dan turut memproduksi web series berjudul Brown Girls, yang sedang diadaptasi ke HBO. Ada pula Eve L Ewing (Electric Arches, 2017), seorang sosiolog dan komentator isu tentang ras yang sangat dikenal di media sosial.

Para penyair yang lebih uzur mungkin akan menggerutu soal membangun jejaring dan menampilkan diri, namun, para junior mereka tanpa ragu menggamit aktivitas ini. Mereka yakin bahwa puisi, lewat kanal yang tepat, mampu “masuk ke arus utama dalam wacana nasional terkini,” seperti kata Saced. Mereka sadar satu hal: sebuah survey terkini dari National Endowment for the Arts mengungkapkan bahwa jumlah pembaca puisi meningkat 2x lipat di antara masyarakat usia 18-34 tahun selama lima tahun terakhir.

Energi yang terlihat ini lebih dari sekadar marketing jitu atau kehebohan sesaat. “Menurut pandanganku,” kata Jeff Shoots, editor utama Graywolf Press yang menyunting tiga dari 10 antologi yang berhasil masuk ke long list National Book Award 2017 bidang puisi, ”ini tanda munculnya suatu renaisans.” Dan yang paling mencolok dari para pelopor kebaruan ini adalah kembalinya puisi liris orang-pertama – suatu hal yang pada era 1970an dianggap ketinggalan jaman oleh para “pujangga bahasa”. Dakwaan-dakwaan tajam – puisi yang terlalu pribadi, terlalu sentimentil, terlalu gampang dipahami, tak cukup ‘cerdas’ untuk menstimulasi budaya postmodern yang tersaturasi media – ditujukan ke generasi avant-garde yang menanggalkan “si Aku” demi poetika yang buram dan hanya dipahami grup kecil pembaca yang lebih eksklusif lagi. Namun, generasi baru ini – sambil menggandeng teknik avant-garde (lewat penggunaan kolase dan inkoherensi radikal beserta gado-gado acuan budaya “tinggi” dan “rendah” sekaligus) – tidak serta-merta mengusung pesan yang sama. Muncul di tengah suburnya politik identitas, para penyair terkemuka, yang karakternya berlainan, saat ini tengah mengklaim lagi “Aku-yang-demokratis”, seturut ungkapan penyair Edward Hirsch

Si “Aku” ini, yang diasuh dalam berbagai bahasa dan dialek, tak bisa dikatakan terdera perbendaharaan kata yang terbatas, kata Helen Vendler. Puisi liris, bagi generasi ini, tak perlu selalu pendek. Muncul pertama kali lewat kehadiran karya laris Claudia Rankine, Citizen: An American Lyric (2014), para penyair dengan berani mematahkan tren kebanyakan buku, lewat nuansa historis dan bentuk hibrida, sejak awal mula. Si “Aku”, menyadari betapa tersisihkannya “kita” di mana ia berada, menautkan sisi personal ke sisi yang kelewat politis. Kemunculannya memantik pertanyaan puitis yang menggairahkan mengenai identitas.

Para penyair muda yang berhasil mengemuka, telah turut menjadikan ras, seksualitas dan gender sebagai episentrum kepuisian saat ini, dan mereka memperlebar sebanyak mungkin batas-batas. Mereka sungguh-sungguh dalam mengubah gagasan soal kedirian dan keberadaan seseorang dalam sebuah kelompok. Belajar dari berbagai jenis tradisi, mereka menggali kompleksitas laten dari sisi lirik “Aku”. Pada dasarnya, hal terakhir yang diinginkan si “Aku” adalah pada pengejawantahan dirinya secara utuh.

UPAYA KERAS untuk melepas engsel pintu seleksi ini sebenarnya sudah dimulai sejak puluhan dekade lalu. Ketika para pujangga bahasa sedang memperluas batas kepenyairan Amerika di akhir abad ke-20 – upaya pembalikan konstelasi kuasa dengan mengangkangi adat kesusastraan- penyair-penyair kecil juga sedang mencoba menghubungkan dunia sastra dan kanon sastra, sembari terus mengedepankan cara-cara baru dalam berekspresi. The Black Arts Movement di era 1960an dan ‘70an, dan sejumlah organisasi yang dipantiknya, memperjuangkan kanal penerbitan tersendiri bagi seniman kaum kulit hitam, Asia-Amerika, dan Latino. Namun, mulai era ‘80an, dorongan telah merambah ke permintaan akan jatah kursi yang lebih banyak bagi kaum tersebut.

Itu tidak mudah terjadi di dalam budaya kepuisian yang lebih merepresentasikan kulit putih, baik sekarang maupun di masa lalu, dan yang tak terlalu niat untuk mempertanyakan fakta tersebut. Di tahun 1988, setelah lelah menjadi sebatas pemandangan ganjil di berbagai workshop penulisan puisi, dua mahasiswa Harvard dan seorang komposer membentuk The Dark Room Collective di sebuah gedung bergaya Victoria di kota Cambridge, yang kelak menjadi ruang untuk memajukan karya penyair-penyair muda kulit hitam. Selama 10 tahun berikutnya, sejumlah bakat menemukan rumahnya di sana, mulai dari Natasha Trethewey dan Tracy K. Smith (keduanya kelak menjadi poet laureate Amerika Serikat), Kevin Young, Carl Phillips dan Major Jackson. Ambisi meluap berbarengan dengan dorongan kuat untuk bisa diterima, tapi untuk membentuk suatu arus baru. “Bahkan jika kami semua sudah pernah memuat karya di The New Yorker, apakah itu menjadi tujuannya?” Kevin, saat itu masih menjadi mahasiswa semester akhir di Harvard, berkata pada koran The Harvard Crimson  di tahun 1992. “Anda tak menangkap maksud kami jika Anda menyangka kami sekadar sopir baru yang mengendarai truk yang lama.”

Dalam beberapa tahun kemudian, wajah-wajah baru ini bila bukan menjadi orang berpengaruh, telah lebih dikenal dan diterima di dunia puisi. DI tahun 1993, Rita Dove menjadi poet laureate Amerika Serikat. Di tahun yang sama, dalam pembukaan antologi The Open Boat, karya yang berisi kumpulan puisi Asia-Amerika pertama yang disunting oleh seorang keturunan Asia-Amerika, Garrett Hongo mengarahkan perhatian pada penerimaan dari arus utama: “Saat ini, beberapa dari kami berkarya di sejumlah yayasan dan panel Hibah Seni Nasional, menjadi juri penghargaan tingkat nasional, mengajar dan membimbing program penulisan kreatif, dan menyunting majalah sastra.”

Di lanskap kepuisian yang saat itu didominasi program M.F.A (Master of Fine Arts, magister seni), sebuah jaringan dari berbagai institusi kemudian menawarkan workshop dan pelatihan gratis bagi para penyair muda dari kelompok terpinggirkan. Cave Canem, yang dibentuk pada 1996 untuk mendukung penyair kulit hitam, kemudian diikuti oleh Kundiman (bagi penulis Asia-Amerika) dan CantoMundo (bagi penyair Latino). Yayasan Sastra Lamda sampai sekarang menyediakan dukungan serupa bagi penyair LGBTQ. Penjaga tradisi dunia puisi – jurnal ternama, penerbit tersohor (baik besar maupun kecil), komite penghargaan – kini tahu ke mana mereka bisa menemukan spektrum yang lebih kaya, yang berisikan karya-karya yang telah menjalani suatu proses saringan sebelumnya.

Namun, peralihan ke arus utama jarang terjadi tanpa adanya turbulensi. Alumni The Dark Room mendapat kritikan tajam setelah mereka duduk kursi mengitari meja yang telah diperluas, hanya saja, masih di ruangan yang didirikan oleh era sebelumnya. Inklusi ke dalam makna dominan dari “kita” memunculkan tekanan untuk mencipta dan mendukung karya yang lebih mudah diakses dan telah di-depolitisasi. Antologi The Open Boat segera didapuk untuk mewakili kepenyairan Asia-Amerika melalui lensa narasi imigrasi dan asimilasi yang tidak asing di telinga. Kemunculan Kevin Young sebagai penyunting puisi di The New Yorker di usianya yang ke-47 memunculkan pertanyaan: bakal sebaru apa truk yang mereka kendarai ini?

Suasana tegang mulai mengusik bahkan di tempat paling nyaman, paling terbuka di antara berbagai zona minoritas, dimulai dari The Dark Room dan kemudian: mereka menggandeng sapaan “kita” yang telah dipakai dunia luar, beserta narasinya, sambil menyertakan sejumlah tekanan. Para penyair telah merasa kesal, dan berhasil melampaui, seluruh tekanan itu. Tentu saja: Bagaimana lagi agitasi puitik akan terjadi? Belakangan Carl Phillips menulis tentang perasaan bahwa ia telah benar-benar diasingkan dari The Dark Room karena ia “tidak menulis puisi ‘kulit hitam’ sejati.” Di esai berjudul “A Politics of Mere Being,” dia bertanya-tanya mengenai dampak dari keharusan untuk benar secara politik, namun juga “tekanan untuk politis secara benar” – yaitu dengan berkarya mengenai “isu identitas, pengasingan, ketidakadilan.” Tidakkah seharusnya, kata dia, “penyair yang terlempar ke luar, dalam konteks apapun,” menolak pandangan bahwa sekadar “resistensi” saja bisa mendefinisikan apa hal-hal yang politis?

Penyair Iran-Amerika, Solmaz Sharif, dua-puluh lima tahun lebih muda dari Phillips – yang buku puisi pertamanya, Look (2016) menjadi finalis National Book Award – juga melihat nilai dari suara “yang terus-menerus berada di luar, mempertanyakan dan menanggapi apapun yang dimaksudkan dari kata ‘di sini’ atau ‘kita’ atau ‘sekarang’.” Idealisme puitisnya adalah semacam “keadaan nomaden, atau pikiran yang terus-menerus terpacu dan mencegah momen politis ini membatu.” Sebagai upaya untuk merangkum si “Aku” yang terus berubah dan mengundang tanya, sangatlah susah untuk berbuat sesuatu yang lebih baik. Upaya untuk mewadahi seluruh keberagaman – untuk meneliti berbagai wajah kedirian (protean self) dan masyarakat yang membentuk dan mengubahnya – dalam suatu bentuk liris yang koheren masihlah sebuah eksperimen yang radikal. (*)

________

Selengkapnya dalam Majalah “Book Review and More”

 

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending