© 2016 GALERI BUKU JAKARTA. ALL RIGHTS RESERVED.
 

Semangat Literasi dari Kaki Gamalama

Sore yang cerah di awal Maret 2017, saya berkesempatan untuk mengunjungi salah satu sudut Kota Ternate, Maluku Utara. Bersama seorang kawan, saya diajak untuk pergi ke sebuah tempat bernama Taman Nukila, salah satu pusat rekreasi bagi warga Ternate dan wisatawan saat berkunjung ke kota berpenduduk sekitar 200 ribu jiwa itu.

Taman Nukila berada di pesisir pantai Kota Ternate. Selain berbatasan langsung dengan Laut Maluku, dari sini pengunjung juga bisa berhadapan dengan kemegahan Gunung Gamalama yang terlihat eksotis dari kejauhan.

Taman Nukila di akhir pekan ramai dikunjungi. Orang-orang mulai dari usia dewasa hingga anak-anak banyak menghabiskan waktu untuk bersantai di tempat ini.

Teman saya mengajak untuk pergi ke salah satu sudut Taman Nukila. Dari kejauhan saya melihat sekelompok anak muda sedang sibuk membuat karya dari koran dan kardus bekas, sedang di sisi lain, anak-anak kecil sedang menikmati tiap-tiap kalimat dari berbagai buku bacaan.

LJ 1 – Lapak Literasi Jalanan di Taman Nukila (Instagram @LiterasiJalanan)

Inilah Perpustakaan Jalanan Ternate, sebuah lapak kecil yang menyediakan berbagai bahan bacaan yang dapat dinikmati secara gratis bagi siapa saja. Perpustakaan ini dibuat oleh sekelompok anak muda yang menamai gerakannya dengan Literasi Jalanan (LJ), sebuah gerakan sosial berbasis pendidikan untuk anak-anak jalanan di Kota Ternate.

Berawal dari Jalanan

Sulitnya akses terhadap fasilitas penyedia bahan bacaan seperti perpustakaan umum, hingga mahalnya harga-harga buku bacaan, membuat segelintir anak muda Ternate resah. Berangkat dari kegelisahan itu, mereka pun mulai membayangkan bagaimana jika semua bahan bacaan dapat dinikmati secara gratis dengan memanfaatkan keberadaan ruang-ruang publik.

Adlun Fiqri namanya, ia adalah salah satu inisiator pendiri Literasi Jalanan. Bersama 5 orang mahasiswa lainnya, mereka tergerak untuk mengatasi ketimpangan sosial yang terjadi di tempat mereka tinggal. Adlun juga yang sejak awal mengajak saya untuk melihat kegiatan perpustakaan jalanan di Taman Nukila, Kota Ternate.

Sambil menemani beberapa orang anak yang sedang membaca buku, Adlun bercerita kepada saya bagaimana mereka mulai menginisiasi gerakan ini.

Sejak masa Sekolah Menengah Atas, pria kelahiran Desa Sagea, Halmahera Tengah itu sudah aktif bergabung dengan komunitas jalanan yang bergerak pada kerja-kerja kesenian dan kebudayaan. Selain ikut melakukan pengorganisiran anak-anak jalanan Kota Ternate, ia sering pula mengadakan panggung-panggung seni di jalanan sambil mengampanyekan berbagai isu kebudayaan, pendidikan, hingga lingkungan.

LJ 4 – Adlun (baju merah) dengan beberapa relawan Literasi Jalanan (Instagram @LiterasiJalanan)

Saat itu, kepedulian teman-teman komunitas jalanan terhadap keberadaan anak-anak kecil yang turut mengadu nasib di jalanan belumlah semasif seperti sekarang ini. Mereka cenderung acuh dan tak peduli. Hingga di penghujung tahun 2014, Adlun dibantu dengan beberapa orang kawannya berinisiatif untuk mengajak para pengamen cilik penghuni Pasar Gamalama untuk ikut belajar bersama. Kegiatan belajar-mengajar itu dilakukannya setiap sore di akhir pekan.

Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, Adlun dan kawan-kawan kemudian bersepakat bahwa 2 Mei 2015 juga merupakan hari raya bagi Literasi Jalanan.

Ide yang muncul tanpa direncanakan itu ternyata cukup mengundang perhatian banyak pihak. Juni 2015, Adlun dan kawan-kawan pun mendapat bantuan donasi buku anak-anak dari mahasiswa Universitas Muhammadiyah Maluku Utara.

“Setelah itu, spontan kami pun menggelar buku-buku itu di trotoar jalan dan dibaca oleh orang yang lewat. Sebelumnya tidak ada inspirasi dan gambaran sama sekali kami akan melakukan hal ini, yang kemudian kami sebut kegiatan itu sebagai Perpustakaan Jalanan,” ujar pria 22 tahun itu.

Memanfaatkan Ruang Publik

Literasi Jalanan berusaha untuk memanfaatkan kembali keberadaan ruang-ruang publik seperti trotoar jalan, pasar, hingga taman sebagai tempat untuk menimba ilmu, menjadikannya tempat belajar yang asik bagi kelompok anak-anak marjinal di kawasan pasar.

Setahun berselang, 2 Mei 2016, memperingati setahun lahirnya gerakan, Literasi Jalanan pun sempat meresmikan Rumah Belajar. Rumah itu adalah sebuah petak ruang kecil yang disewa dari pedagang pasar untuk dijadikan tempat belajar bagi anak-anak usia 8-18 tahun di kawasan pasar.

“Tapi sayang, sekitar 4 bulan berjalan, kawasan yang kami tempati itu dibongkar karena ada pembangunan pasar baru,” keluh Adlun.

Meski begitu, mereka tetap tak kehilangan semangatnya. Relawan-relawan mahasiswa hingga pekerja kantoran yang ingin bergabung bersama Literasi Jalanan pun datang silih berganti. Bagi mereka, semua orang adalah guru, alam raya tempat belajarnya.

“Saya mencoba memahami dunia literasi secara luas, tidak terbatas pada baca-tulis-hitung. Bagi saya, gerakan literasi adalah gerakan emansipasi menuju keadilan. Bagaimana kita membaca berbagai macam situasi yang ada di sekeliling kita,  lalu kita pikirkan untuk menentukan sikap dan  apa yang harus kita lakukan,” ujar Adlun, yang kini masih menjadi mahasiswa aktif jurusan Antropologi Sosial, Universitas Khairun, Ternate.

Pendidikan merupakan hak dasar setiap anak bangsa yang dilindungi oleh konstitusi. Sebagaimana diatur dalam UUD 45 pasal 31, Negara bahkan wajib untuk memberikan akses pendidikan demi mencerdaskan kehidupan bangsa.

Namun pada perkembangannya, akses terhadap pendidikan seringkali terpenjara dalam ruang-ruang kelas yang membosankan hingga dinginnya gedung perpustakaan.

Literasi Jalanan kemudian hadir dan berusaha untuk menempatkan dirinya sebagai wujud ide pendidikan alternatif. Misi mereka adalah dengan memberikan kebebasan kepada anak-anak yang jauh dari akses pendidikan agar bisa ikut berkreasi sekaligus mengeksplorasi lingkungannya sendiri.

Tak berhenti sampai disitu, gerakan yang diawali dengan tanggung jawab bersama penting untuk saling berjejaring dengan dunia luar. Selain saling membantu untuk melengkapi kekurangan, berjejaring dianggap penting agar bisa saling menguatkan gerakan.

“Kami juga membangun jaringan dengan teman-teman sesama pegiat gerakan Literasi di luar sana. Diantaranya Komunitas Jelajah Buku, Radio Buku, Pustaka Bergerak, Rumah Baca Komunitas Jogja dan berbagai rumah belajar/perpustakaan jalanan lainnya,” terang Adlun.

Semangat Literasi Jalanan seperti mengingatkan kembali pada masa-masa sebelum negara bernama Indonesia lahir. Tahun 1922 silam, Raden Mas Soewardi Soejaningrat atau lebih akrab disapa Ki Hadjar Dewantara, mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa. Taman Siswa sebagai lembaga pendidikan hadir untuk memberikan kesempatan bagi para pribumi, sekaligus mendobrak sistem pendidikan diskriminatif ala Belanda yang hanya bisa dinikmati oleh segelintir pihak.

Meski terlahir dalam darah priayi keturunan keluarga Kadipaten Pakualaman, Raden mas Soewardi Soejaningrat justru menanggalkan gelar kebangsawanannya dan mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara. Hal itu dilakukannya agar lebih merasa bebas untuk dekat bersama pribumi.

Sadar perlu melakukan sesuatu kepada negeri sendiri, Ki Hadjar mewujudkannya dengan menginisiasi sebuah sekolah di tengah masa penjajahan, dengan tujuan melawan penjajah itu sendiri. Perlawanannya dilakukan dengan menjadi guru di tengah kesenjangan pendidikan kaum kolonial. Tanggal kelahiran Ki Hadjar Dewantara pun diperingati setiap tahunnya sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Gagasan untuk menciptakan sistem pendidikan yang layak bagi setiap anak merupakan cita-cita para pendiri bangsa. Dari sudut-sudut jalanan Kota Ternate semangat itu pun ikut dirasakan. Semangat literasi tanpa pamrih coba dihadirkan oleh sekelompok anak muda di kaki Gamalama melalui lapak-lapak buku jalanan serta kegiatan kesenian.

“Kegiatan yang kami lakukan ini merupakan kampanye mengajak masyarakat agar gemar membaca, karena dengan membaca kita banyak mendapatkan pengetahuan, dengan membaca kita melawan, oleh karena itu persenjatai diri dengan membaca. Saya percaya bahwa setiap orang akan membaca pada waktunya. Kalau dia tidak membaca, ya sudah, yang rugi dia,” tutup Adlun kepada saya, sambil membereskan buku-buku di depannya.

————————

*Literasi Jalanan menerima donasi buku, walaupun hanya satu buah. Bagi siapa saja yang ingin bergabung dan berpartisipasi dalam gerakan ini, mereka akan sangat menerima dengan senang hati. Info kegiatan Literasi Jalanan, dapat dilihat melalui akun media social Twitter dan Instagram; @LiterasiJalanan.

**Geril Dwira: Penulis lepas, bergiat di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Gorontalo.

Share Post
Written by

Galeri Buku Jakarta (GBJ) merupakan portal berita literasi; “halaman kebudayaan” yang memuat dan menayangkan karya-karya tulis (literature) mau pun ragam karya seni lain dalam bentuk fotografi, video, mau pun lukisan dengan tujuan mendampingi proses pembangunan manusia Indonesia. Kirim karyamu ke email redaksi: galeribukujakarta@gmail.com Twitter @galeribuku_jkt

No comments

LEAVE A COMMENT