Connect with us

Blog Pembaca

Semangat Literasi dari Kaki Gamalama

mm

Published

on

Sore yang cerah di awal Maret 2017, saya berkesempatan untuk mengunjungi salah satu sudut Kota Ternate, Maluku Utara. Bersama seorang kawan, saya diajak untuk pergi ke sebuah tempat bernama Taman Nukila, salah satu pusat rekreasi bagi warga Ternate dan wisatawan saat berkunjung ke kota berpenduduk sekitar 200 ribu jiwa itu.

Taman Nukila berada di pesisir pantai Kota Ternate. Selain berbatasan langsung dengan Laut Maluku, dari sini pengunjung juga bisa berhadapan dengan kemegahan Gunung Gamalama yang terlihat eksotis dari kejauhan.

Taman Nukila di akhir pekan ramai dikunjungi. Orang-orang mulai dari usia dewasa hingga anak-anak banyak menghabiskan waktu untuk bersantai di tempat ini.

Teman saya mengajak untuk pergi ke salah satu sudut Taman Nukila. Dari kejauhan saya melihat sekelompok anak muda sedang sibuk membuat karya dari koran dan kardus bekas, sedang di sisi lain, anak-anak kecil sedang menikmati tiap-tiap kalimat dari berbagai buku bacaan.

LJ 1 – Lapak Literasi Jalanan di Taman Nukila (Instagram @LiterasiJalanan)

Inilah Perpustakaan Jalanan Ternate, sebuah lapak kecil yang menyediakan berbagai bahan bacaan yang dapat dinikmati secara gratis bagi siapa saja. Perpustakaan ini dibuat oleh sekelompok anak muda yang menamai gerakannya dengan Literasi Jalanan (LJ), sebuah gerakan sosial berbasis pendidikan untuk anak-anak jalanan di Kota Ternate.

Berawal dari Jalanan

Sulitnya akses terhadap fasilitas penyedia bahan bacaan seperti perpustakaan umum, hingga mahalnya harga-harga buku bacaan, membuat segelintir anak muda Ternate resah. Berangkat dari kegelisahan itu, mereka pun mulai membayangkan bagaimana jika semua bahan bacaan dapat dinikmati secara gratis dengan memanfaatkan keberadaan ruang-ruang publik.

Adlun Fiqri namanya, ia adalah salah satu inisiator pendiri Literasi Jalanan. Bersama 5 orang mahasiswa lainnya, mereka tergerak untuk mengatasi ketimpangan sosial yang terjadi di tempat mereka tinggal. Adlun juga yang sejak awal mengajak saya untuk melihat kegiatan perpustakaan jalanan di Taman Nukila, Kota Ternate.

Sambil menemani beberapa orang anak yang sedang membaca buku, Adlun bercerita kepada saya bagaimana mereka mulai menginisiasi gerakan ini.

Sejak masa Sekolah Menengah Atas, pria kelahiran Desa Sagea, Halmahera Tengah itu sudah aktif bergabung dengan komunitas jalanan yang bergerak pada kerja-kerja kesenian dan kebudayaan. Selain ikut melakukan pengorganisiran anak-anak jalanan Kota Ternate, ia sering pula mengadakan panggung-panggung seni di jalanan sambil mengampanyekan berbagai isu kebudayaan, pendidikan, hingga lingkungan.

LJ 4 – Adlun (baju merah) dengan beberapa relawan Literasi Jalanan (Instagram @LiterasiJalanan)

Saat itu, kepedulian teman-teman komunitas jalanan terhadap keberadaan anak-anak kecil yang turut mengadu nasib di jalanan belumlah semasif seperti sekarang ini. Mereka cenderung acuh dan tak peduli. Hingga di penghujung tahun 2014, Adlun dibantu dengan beberapa orang kawannya berinisiatif untuk mengajak para pengamen cilik penghuni Pasar Gamalama untuk ikut belajar bersama. Kegiatan belajar-mengajar itu dilakukannya setiap sore di akhir pekan.

Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, Adlun dan kawan-kawan kemudian bersepakat bahwa 2 Mei 2015 juga merupakan hari raya bagi Literasi Jalanan.

Ide yang muncul tanpa direncanakan itu ternyata cukup mengundang perhatian banyak pihak. Juni 2015, Adlun dan kawan-kawan pun mendapat bantuan donasi buku anak-anak dari mahasiswa Universitas Muhammadiyah Maluku Utara.

“Setelah itu, spontan kami pun menggelar buku-buku itu di trotoar jalan dan dibaca oleh orang yang lewat. Sebelumnya tidak ada inspirasi dan gambaran sama sekali kami akan melakukan hal ini, yang kemudian kami sebut kegiatan itu sebagai Perpustakaan Jalanan,” ujar pria 22 tahun itu.

Memanfaatkan Ruang Publik

Literasi Jalanan berusaha untuk memanfaatkan kembali keberadaan ruang-ruang publik seperti trotoar jalan, pasar, hingga taman sebagai tempat untuk menimba ilmu, menjadikannya tempat belajar yang asik bagi kelompok anak-anak marjinal di kawasan pasar.

Setahun berselang, 2 Mei 2016, memperingati setahun lahirnya gerakan, Literasi Jalanan pun sempat meresmikan Rumah Belajar. Rumah itu adalah sebuah petak ruang kecil yang disewa dari pedagang pasar untuk dijadikan tempat belajar bagi anak-anak usia 8-18 tahun di kawasan pasar.

“Tapi sayang, sekitar 4 bulan berjalan, kawasan yang kami tempati itu dibongkar karena ada pembangunan pasar baru,” keluh Adlun.

Meski begitu, mereka tetap tak kehilangan semangatnya. Relawan-relawan mahasiswa hingga pekerja kantoran yang ingin bergabung bersama Literasi Jalanan pun datang silih berganti. Bagi mereka, semua orang adalah guru, alam raya tempat belajarnya.

“Saya mencoba memahami dunia literasi secara luas, tidak terbatas pada baca-tulis-hitung. Bagi saya, gerakan literasi adalah gerakan emansipasi menuju keadilan. Bagaimana kita membaca berbagai macam situasi yang ada di sekeliling kita,  lalu kita pikirkan untuk menentukan sikap dan  apa yang harus kita lakukan,” ujar Adlun, yang kini masih menjadi mahasiswa aktif jurusan Antropologi Sosial, Universitas Khairun, Ternate.

Pendidikan merupakan hak dasar setiap anak bangsa yang dilindungi oleh konstitusi. Sebagaimana diatur dalam UUD 45 pasal 31, Negara bahkan wajib untuk memberikan akses pendidikan demi mencerdaskan kehidupan bangsa.

Namun pada perkembangannya, akses terhadap pendidikan seringkali terpenjara dalam ruang-ruang kelas yang membosankan hingga dinginnya gedung perpustakaan.

Literasi Jalanan kemudian hadir dan berusaha untuk menempatkan dirinya sebagai wujud ide pendidikan alternatif. Misi mereka adalah dengan memberikan kebebasan kepada anak-anak yang jauh dari akses pendidikan agar bisa ikut berkreasi sekaligus mengeksplorasi lingkungannya sendiri.

Tak berhenti sampai disitu, gerakan yang diawali dengan tanggung jawab bersama penting untuk saling berjejaring dengan dunia luar. Selain saling membantu untuk melengkapi kekurangan, berjejaring dianggap penting agar bisa saling menguatkan gerakan.

“Kami juga membangun jaringan dengan teman-teman sesama pegiat gerakan Literasi di luar sana. Diantaranya Komunitas Jelajah Buku, Radio Buku, Pustaka Bergerak, Rumah Baca Komunitas Jogja dan berbagai rumah belajar/perpustakaan jalanan lainnya,” terang Adlun.

Semangat Literasi Jalanan seperti mengingatkan kembali pada masa-masa sebelum negara bernama Indonesia lahir. Tahun 1922 silam, Raden Mas Soewardi Soejaningrat atau lebih akrab disapa Ki Hadjar Dewantara, mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa. Taman Siswa sebagai lembaga pendidikan hadir untuk memberikan kesempatan bagi para pribumi, sekaligus mendobrak sistem pendidikan diskriminatif ala Belanda yang hanya bisa dinikmati oleh segelintir pihak.

Meski terlahir dalam darah priayi keturunan keluarga Kadipaten Pakualaman, Raden mas Soewardi Soejaningrat justru menanggalkan gelar kebangsawanannya dan mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara. Hal itu dilakukannya agar lebih merasa bebas untuk dekat bersama pribumi.

Sadar perlu melakukan sesuatu kepada negeri sendiri, Ki Hadjar mewujudkannya dengan menginisiasi sebuah sekolah di tengah masa penjajahan, dengan tujuan melawan penjajah itu sendiri. Perlawanannya dilakukan dengan menjadi guru di tengah kesenjangan pendidikan kaum kolonial. Tanggal kelahiran Ki Hadjar Dewantara pun diperingati setiap tahunnya sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Gagasan untuk menciptakan sistem pendidikan yang layak bagi setiap anak merupakan cita-cita para pendiri bangsa. Dari sudut-sudut jalanan Kota Ternate semangat itu pun ikut dirasakan. Semangat literasi tanpa pamrih coba dihadirkan oleh sekelompok anak muda di kaki Gamalama melalui lapak-lapak buku jalanan serta kegiatan kesenian.

“Kegiatan yang kami lakukan ini merupakan kampanye mengajak masyarakat agar gemar membaca, karena dengan membaca kita banyak mendapatkan pengetahuan, dengan membaca kita melawan, oleh karena itu persenjatai diri dengan membaca. Saya percaya bahwa setiap orang akan membaca pada waktunya. Kalau dia tidak membaca, ya sudah, yang rugi dia,” tutup Adlun kepada saya, sambil membereskan buku-buku di depannya.

————————

*Literasi Jalanan menerima donasi buku, walaupun hanya satu buah. Bagi siapa saja yang ingin bergabung dan berpartisipasi dalam gerakan ini, mereka akan sangat menerima dengan senang hati. Info kegiatan Literasi Jalanan, dapat dilihat melalui akun media social Twitter dan Instagram; @LiterasiJalanan.

**Geril Dwira: Penulis lepas, bergiat di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Gorontalo.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Blog Pembaca

Marita: Buku Memberi Kita Banyak Cara Menyambut (misteri) Hidup

mm

Published

on

“Saya membaca dan mengkoleksi novel-novel bertemakan detektif mulai dari Jhon Grisham, Agatha Christie dan untuk pengarang lokal saya sangat menyukai buah karya S. Mara Gd. Membaca novel karya S. Mara Gd membuat saya terseret arus dalam sebuah petualangan untuk memecahakan sebuah misteri, mencoba mengalisa rangkaian peristiwa pembunuhan yang terjadi hingga harus menebak siapa pembunuh yang sebenarnya.”

Pengakuan itu keluar dari Marita Setyaningsih, membaca dan menggemari novel-novel detektif—sesuatu yang barangkali, akhirnya menjalin hubungan waktu dnegan dengan pekerjaannya sekarang ini; ia seorang Advokat & Legal Consultant. Anda percaya bagaimana buku-buku yang pertama kali anda kenali dan merubah hidup anda pada akhirnya turut menentukan kehidupan dan pilihan karir di masa depan? Tiap orang punya kisahnya sendiri dengan buku-buku, tapi sedikit banyak hal itu mungkin memang terhubung.

Anda ingin tahu buku-buku apa lagi yang digemari sosok Marita dan bagaimana hal itu terkait dengan kenyataan hidupnya sehari-hari? Simak wawancara kami selengkapnya berikut ini:

INTERVIEWER

Apa arti buku buat anda? Beri kami kata bijak paling otentik berdasar perkenalan anda dengan buku-buku?

MARITA SETYANINGSIH

Arti buku buat saya bagaikan tetesan embun pagi hari, saat mata kita terbuka sinar cakrawala langsung menembus relung kalbu terdalam, bersatu mengumpulkan nyawa dan membangitkan semangat menyambut kehidupan hari itu.

INTERVIEWER

Ceritakan bagaimana anda pertama kali berkenalan dengan (dunia membaca) buku? Moment perkenalan dengan sebuah buku yang membuat anda menjadi pembaca buku? Hal itu pasti sangat berkesan, jadi beri tahu kami dan lebih banyak orang betapa unik dan berharga moment itu?

MARITA SETYANINGSIH

Berkenalan dengan dunia membaca berawal ketika saya duduk di bangku SMP kelas 1 buku yang saya baca ketika itu adalah Lima Sekawan Karya Enid Blyton, satu buku sudah saya baca rasa penasaran kian bertambah hingga akhirnya saya mengkoleksi ke 21 novel Lima Sekawan. Saat saya duduk di SMU bacaan saya beralih pada cerpen remaja di jaman itu sangat populer, sebuah cerpen diterbitkan dalam bentuk majalah yang mengisahkan tentang percintaan masa remaja, berawal dari situlah saya mulai gemar membaca dan berlangganan majalah remaja terbitan ibu kota.

Seiring dengan berjalanannya waktu dan bertambahnya usia saya mulai merambah membaca novel entah mengapa saya menyukai novel yang bertemakan detektif, mulailah saya membaca dan mengkoleksi novel-novel bertemakan detektif mulai dari Jhon Grisham, Agatha Christie dan untuk pengarang lokal saya sangat menyukai buah karya S. Mara Gd. Membaca novel karya S. Mara Gd membuat saya terseret arus dalam sebuah petualangan untuk memecahakan sebuah misteri, mencoba mengalisa rangkaian peristiwa pembunuhan yang terjadi hingga harus menebak siapa pembunuh yang sebenarnya. Tokoh utama seorang Polisi bernama Kosasih berpangkat Kapten sangat jeli dalam memilih partner kerjanya seorang mantan narapidana yang bernama Gozali. Hingga akhirnya sang kapten merangkul Gozali masuk dalam lingkungan kehangatan keluarganya, semenjak saat itu mereka berdua saling bahu membahu memecahan misteri kasus yang mereka hadapi di luar jam-jam yang tidak lazim. Tokoh Gozali digambarkan seorang yang bersifat misterius, mempunyai otak yang cerdas dalam memecahkan sebuah kasus dan mengalisa alat bukti hingga akhirnya bisa menemukan sang pembunuh yang sebenarnya.

INTERVIEWER

Beri tahu kami di mana tempat paling menyenangkan untuk anda membaca buku favorit—yang barangkali tak pernah kami duga sebelumnya? Mungkin di bawah selimut, atau di meja dapur, di toilet, di pantai yang dipenuhi sinar matahari atau duduk di bangku taman? Membenamkan diri Anda dalam buku yang bagus di kereta atau bus ke tempat kerja di mana anda mendapat cara bagus mengangkut pikiran anda ke “tempat lain”? Ceritakan pada kami bagaimana hal itu sangat menyenangkan…

MARITA SETYANINGSIH

Membaca bisa saya lakukan dimana saja tetapi tempat membaca yang paling “eksotik” yang pernah saya alami ketika itu adalah kamar rumah sakit, untuk menghilangkan rasa cemas dan dakdikduk yang tiada henti selain berdoa saat akan menjalani sebuah operasi pada keesokan harinya, buku adalah teman setia untuk membunuh rasa takut dan kegalauan tingkat tinggi, dengan membaca saya bisa mengalihkan pikiran negatif dan rasa tidak nyaman pada diri sendiri dan sekaligus obat tidur yang sangat mujarab. Walaupun saat terbangun pada keesokan harinya saya masih diliputi rasa takut yang luar biasa, tetapi dengan membaca tentunya saya mendapatkan sedikit ketenangan dan sejenak mengalihkan perhatian.

INTERVIEWER

Satu buku yang mengubah hidup Anda? Beritahu kami kenapa? dan ceritakan bagaimana hal itu terjadi?

MARITA SETYANINGSIH

Sebuah pertanyaan yang cukup sulit untuk dijawab, hal ini disebabkan karena beberapa buku baik itu fiksi dan non fiksi yang telah saya baca. Sebuah buku yang telah mengubah hidup saya adalah buku berjudul Pelatihan Shalat Khyusu’ karya Abu Sangkan, setelah membaca buku ini ternyata selama ini gerakan sholat yang telah saya lakukan belum baik karena menjadi sempurna itu bukan hal mudah, setidaknya setelah membaca buku tersebut pengetahuan saya bertambah dari yang tidak paham menjadi paham, dan yang salah saya perbaiki, itu merupakan salah satu hal yang mengubah hidup saya.

INTERVIEWER

Menurut Anda 5 buku sastra apa saja yang wajib dibaca setiap orang indonesia? Kenapa?

MARITA SETYANINGSIH

Sangat sulit untuk menjawab pertanyaan ini karena pengalaman dan pengetahuan saya dalam membaca masih belum bisa di katakan baik, dan saya berpikir setiap orang mempunyai selera dalam menentukan pilihan bacaannya dan mengapa itu wajib di baca.

Tetapi saya akan coba mereferensikan satu buah buku karya Ayi Jufridar yang berjudul : 693 KM Jejak Gerilya Sudirman, sebuah novel yang mengharu biru perasaan dari seorang tokoh besar Bangsa Indonesia yang bernama Jenderal Sudirman, di tengah kondisinya yang sangat amat buruk karena penyakit TBC akut yang dideritanya hingga beliau harus ditandu, tidak memupuskan semangatnya juangnya barang sedikitpun untuk melakukan perlawanan melawan Belanda pada agresi perang kedua dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan. Sudirman masih sangat muda ketika terpilih menjadi panglima 29 tahun usianya, baginya Perjanjian Renville adalah sebuah kekalahan Republik dari pada perjanjian politik, dan menganggap Amir Syarifuddin adalah orang yang paling bertanggung jawab karena Amir yang menjadi ketua delegasi Indonesia, “ rakyat juga dijual murah dalam Perjanjian Renville”…..

Setiap orang harus membaca buku ini agar mereka tahu bagaimana Pak Dirman berjuang melawan musuh dalam kondisi yang sangat amat buruk sekalipun, buku ini berkisah perjuangan seorang Jenderal Besar Sudirman yang bergerilya memasuki kawasan hutan diterpa hujan dan rintangan-rintangan yang tidak mudah untuk dilalui, sungguh kasatria sejati dan tidak menyerah hingga titik darah penghabisan.

INTERVIEWER

Bisakah anda ceritakan 3 buku paling favorit sepanjang hidup anda, bisa berupa buku fiksi atau non fiksi dan beri kami alasannya?

MARITA SETYANINGSIH

Marita Setyaningsih, Advokat & Legal Consultant

Buku favorit yang paling berkesan sepanjang hidup saya adalah :

  1. Soekarno Kuantar ke Gerbang, Karya Ramadhan K.H.

Bagi Sukarno muda seorang Inggit Ganarsih merupakan tiga dalam satu diri menjadi seorang ibu, kekasih dan kawan yang hanya memberi tanpa meminta. Ia kekasih satu-satunya yang sangat mencintai Soekarno tidak karena harta dan takhtanya yang memberi dan tak meminta kembali, serta satu-satunya wanita yang pernah menemani Soekarno dalam kemiskinan dan kekurangan.

Bahkan Inggit Ganarsih tidak pernah sehelaipun menanyakan, apalagi menuntut suatu hal yang dijanjikan Soekarno dalam surat perjanjian cerai, yang disaksikan dan ditandatangai oleh Moh. Hatta, Ki Hajar Dewantara dan Kyai H. Mas Mansoer pada tahun 1942. Dengan kebesaran jiwanya Inggit memaafkan Fatmawati bekas anak angkatnya, yang menjalin hubungan kasih dengan ayah angkatnya dan kemudian menjadi istri bekas suami ibu angkatnya. Di sini peran Inggit begitu luar biasa mengorbankan perasaan untuk menerima perlakuan dari orang yang di cintainya, bagi Inggit orang tidak perlu atau mutlak bersekolah tinggi untuk berjiwa besar.

Sebuah buku yang mengaharu biru perasaan bagi yang membacanya terutama kaum hawa, betapa besar kasih dan kesetiaan seorang Inggit kepada Soekarno muda karena usia Inggit jauh lebih tua dari Soekarno, berkujung ke rutan, dan menemani dalam pengasingan bahkan merelakan Soekarno menikah lagi karena ingin punya keturunan, tidak semua perempuan mampu menjalani hidup seperti itu. Inggit tidak hanya mengorbankan perasaan tetapi juga hartanya dia pertaruhkan untuk Soekarno demi memujudkan cita-citanya

  1. Gajah Mada Perang Bubat, Karya Langit Kresna Hariadi

Sebuah novel yang sangat menarik untuk dibaca bagi pengemar sejarah, kisah perjuangan Gajah Mada menyelamatkan Sri Jaya Negara dari pemberontakan Ra Kuti, Perang Bubat adalah episode “gelap” yang dilakukan oleh Patih Gajah Mada dalam menterjemahkan sikap politiknya terhadap Sunda Galuh tahun 1357, berawal dari ketika Prabu Maharaja Linggabuana yang membawa anak gadisnya Dyah Pitaloka Citraresmi ke Majapahit dan dipaksa tunduk pada Majapahit, Prabu Maharaja tidak bisa menerima nista itu dan memilih memberikan perlawanan, peristiwa itulah yang konon kabarnya masih menyisakan jejaknya hingga sekarang yang menganggu hubungan antara Sunda dan Jawa.

Perang Bubat tidak hanya tragedi bagi Majapahit dan Gajah Mada, tetapi juga sebuah tragedi yang memilukan bagi Suku Sunda, ide besar Majapahit kadang dinilai hanya sebagai ambisi yang berlebihan dari seorang Gajah Mada. Tidak ada pengakuan formal dari kerajaan Sunda Galuh untuk menyatu dalam kemaharajaan Majapahit juga kadang dinilai sebagai cacatnya sebuah suku dalam menghadapi sebuah ide besar.

  1. Laskar Pelangi, Karya Andrea Hirata

Sebuah karya sastra yang bisa dibaca oleh semua usia, sangat fenomenal hingga harus naik cetak berulang kali dan  telah di terjemahkan ke dalam 34 bahasa asing dan layak menjadi karya sastra best seller, bahkan berminggu-minggu tampil menghiasi bioskop saat di filmkan.

Sangat ringan dan enak untuk dibaca, Andrea begitu lugas menyampaikan pengalaman hidupnya dari hal yang sangat lugu sederhana tentang dunia pendidikan bersama para sahabatnya yang begitu tulus, jujur, apa adanya, tetapi tawakal dan ulet dalam memperjuangkannya. Karena pada dasarnya kemiskinan tidak dapat dijadikan alasan manusia menjadi bodoh, kemiskinan itu harus dilawan dengan cara yang bijak digambarkan dengan jelas dinovel ini

INTERVIEWER

Misalnya Anda diwajibkan menulis minimal 1 buku selama hidup, buku tentang apa yang ingin anda tulis? dan coba beri tahu kami apa judul yang akan Anda berikan untuk buku tersebut? Hal itu pasti akan terdengar menyenangkan dan barangkali memang anda akan memulai menulisnya!

MARITA SETYANINGSIH

Sebuah buku yang ingin saya tulis adalah sebuah tulisan yang tertuang dalam  “Catatan Perjalanan” yang telah saya tulis dalam bentuk blog (maritasetyaningsih.blogspot.com), blog tersebut merupakan pengalaman pribadi saat saya melakukan traveling dimana kaki melangkah, merupakan suatu kepuasan batin tersendiri bilamana saya berwisata di suatu daerah menemukan keunikan yang khas dari daerah itu sendiri, hingga sayang bilamana terlewatkan begitu saja tanpa kesan, dengan menulis blog saya bisa bercerita tentang banyak hal selama saya traveling, sukanya, dukanya dan kejutan serta menemukan hal-hal yang tak terduga sebelumnya di tempat yang saya kunjungi tersebut, dan bilamana mana rasa rindu akan suatu tempat yang saya kunjungi saya bisa membuka blog tersebut dan membacanya untuk mengobati rasa rindu tersebut, itu mimpi terbesar dalam hidup yang belum menjadi realita menulis buku berdasarkan pengalaman saya selama traveling.

INTERVIEWER

Bagaimana sebaiknya indonesia dalam hal ini khususnya pemerintah, juga kita dan masyarakat lain, berbuat dan hadir untuk mengatasi ‘krisis’ literasi di indonesia?

MARITA SETYANINGSIH

Saat ini kondisi Indonesia sedang mengalami “krisis membaca” terkhusus di kota-kota besar, masyarakat kita sekarang ini lebih mencintai gadget dari pada membaca buku, buku bukan lagi merupakan media yang menarik buat dilirik apalagi untuk dimiliki, aktifitas on line menyebabkan nyaris semua hal bisa diakses oleh kita hanya dengan gengaman tangan.

Kita tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah dalam hal ini, tetapi kita harus berperan aktif menularkan hobby membaca dengan cara yang menarik atau efektif, bisa dengan cara melalui membaca dongeng untuk merangsang daya hayal dan ingat bagi si penerima pesan agar menimbulkan rasa penasaran untuk mengetahui akhir dari suatu dongeng tersebut. Menumbuhkan minat baca bisa juga melalui berbagai komunitas untuk berperan aktif memberikan edukasi pentingnya membaca, bahwa membaca itu lebih asyik dari pada berselancar dengan gadget, memang bukan suatu pekerjaan yang mudah untuk dilakukan, mari kita menyadakan diri kita sendiri untuk mulai membaca kembali koleksi dari buku-buku kita yang belum sempat terbaca atau sudah terbaca. (*)

MARITA SETYANINGSIH: Lahir di Jember Jawa Timur, menyukai udara pegunungan dan hangatnya air laut, keliling pasar tradisional dan menulis blog, serta sesekali motret panorama atau hal-hal yang bersifat unik dan natural. Sampai sekarang masih aktif berprofesi sebagai Advokat dan Legal Consultant. Membaca, berkunjung ke pameran buku dan mengkoleksi buku-buku yang dianggap menarik adalah salah satu kegiatan lain yang saya lakukan di luar aktifitas rutin, impian terbesar dalam hidup saya bisa menulis buku berdasarkan pengalaman traveling yang pernah saya lakukan.

Continue Reading

Blog Pembaca

Nurul: Buku Memang Dunia Kecil, Tapi Nyaris Utuh..

mm

Published

on

The God of Small Things karya Arundhati Roy.  Norwegian Wood karya Haruki Murakami. Namaku Hiroko karya NH. Dini. Sokola Rimba karya Butet Manurung. Bel Canto karya Ann Patchett. Tapi bukan buku-buku itu yang pertama kali membuatnya merasa menemukan hidup yang baru. Adalah “Perahu Kertas” karya Dee (Dewi Lestari) buku yang bagi Nurul Ilmi Elbana ia pilih sebagai satu buku yang merubah hidupnya pada satu fase yang menentukan sekarang. Kenapa?

Menyimak dan menyibak buku-buku paling favorit dan merubah hidup seseorang sebenarnya lebih dari sekedar mengetahui judul buku-buku, tapi mengetahui bagaimana buku-buku bisa menjadi sesuatu yang sangat personal, intim, seperti sebuah pengungkapan rahasia mandalam. Dari buku-buku paling disukai, kita mengetahui paling tidak, hal paling intim bagi seseorang tersebut. Seperti halnya karya Dee bagi Nurul. Ingin tahu jawabannya? Apa arti sebuah buku baginya? Simak wawancara kami selengkapnya berikut ini.

INTERVIEWER

Apa arti buku buat anda? Beri kami kata bijak paling otentik berdasar perkenalan anda dengan buku-buku?

NURUL ILMI ELBANA

Dunia kecil. Tempat saya kabur dari kenyatan-kenyatan pahit, kebisingan, kemalasan, ketidakindahan, dan keputusasaan. Tempat menemukan diri saya sebagai manusia yang utuh. Dari buku-buku saya memahami soal kehidupan dan kemanusiaan.

INTERVIEWER

Ceritakan bagaimana anda pertama kali berkenalan dengan (dunia membaca) buku? Moment perkenalan dengan sebuah buku yang membuat anda menjadi pembaca buku? Hal itu pasti sangat berkesan, jadi beri tahu kami dan lebih banyak orang betapa unik dan berharga moment itu?

NURUL ILMI ELBANA

Perkenalan dengan buku-buku dalam arti membangun kebiasaan membaca dimulai ketika saya mengenal buku-buku cerita. Sayang, saya tak bisa mengingat satu pun judulnya, kalau tak salah diterbitkan oleh departemen agama apa kemendikbud gitu ya. Pada sampulnya tertulis tidak diperjual belikan. Buku itu adalah koleksinya saudara simbah, saya memanggilnya mbah Yai Haeni. Beliau punya banyak koleksi buku. Saya meminjamnya lewat cucu-cucunya yang seumuran dengan saya.

Saya juga sering pinjam buku-buku dan majalah kepada anak beliau yang saat itu sedang kuliah di luar kota. Setelah masuk ke masa SMP saya mulai mencintai buku dengan cara membeli buku. Orang tua saya sudah membiasakan saya membeli buku dan memperbolehkan membeli buku selain buku palajaran. Koleksi buku cerita saya paling awal ya novel-novel islami. Misalnya Pesantren Impian dan Dialog Dua layar karya Asma Nadia.

Saat itu saya juga mengenal Siti Nurbaya, Romeo dan Juliet, dan Layla Majnun yang saya baca di perpustakaan sekolah. Menginjak SMA, saya masuk pesantren Annuqayah dan makin akrab dengan buku-buku. Saya sering menggunakan uang jatah beli kitab atau buku pelajaran untuk membeli novel dan sering diam-diam membaca novel yang disembunyikan dalam kitab ketika ajian kitab berlangsung. Guru Bahasa Indonesia di SMA 3 Annuqayah saat itu, namanya Gus mushthafa yang memberikan banyak inspirasi soal buku-buku. Di pesantren, saya kenalan dengan novel pop pesantren yang diterbitkan Matapena. Lalu mengenal Supernova, Perahu Kertas dan Filosofi Kopi-nya Dewi Lestari. Juga dengan Serial Lima Sekawan-nya Enid Blyton dan The Cronicles of Narnia-nya C.S. Lewis. Ketika menginjakkan kaki di Yogyakarta, saya masuk ke kandang para pemberontak dan pembaca, di Lembaga Pers Mahasiswa Arena. Di Arena sungguh tidak mungkin melepaskan diri dari jeratan buku-buku. Membaca tidak lagi hanya sekadar soal kebiasaan baik, tapi juga soal bagaimana kita bersikap.

INTERVIEWER

Beri tahu kami di mana tempat paling menyenangkan untuk anda membaca buku favorit—yang barangkali tak pernah kami duga sebelumnya? Mungkin di bawah selimut, atau di meja dapur, di toilet, di pantai yang dipenuhi sinar matahari atau duduk di bangku taman? Membenamkan diri Anda dalam buku yang bagus di kereta atau bus ke tempat kerja di mana anda mendapat cara bagus mengangkut pikiran anda ke “tempat lain”? Ceritakan pada kami bagaimana hal itu sangat menyenangkan…

NURUL ILMI ELBANA

Saya dapat membaca di tempat mana pun. Tidak yang harus tempat sunyi, atau harus sambil mendengarkan musik. Tidak. Tapi kalau dulu waktu masih di rumah, saya ingat suka membaca di sofa cokelat tua di ruang tamu. Kadang sampek tertidur di situ. Pas bangun tahu-tahu sudah ada selimut di badan saya.

INTERVIEWER

Satu buku yang mengubah hidup Anda? Beritahu kami kenapa? dan ceritakan bagaimana hal itu terjadi?

NURUL ILMI ELBANA

Aahhh… susah ya kalau hanya satu. Karena ada sekumpulan buku yang bekerja sama mengubah hidup saya. Tapi jika harus menyebut satu buku, mungkin Perahu Kertas-nya Dee kali ya. Karena novel itulah yang berpengaruh ketika masa transisi saya dari remaja menuju dewasa. Saya baca novel Perahu Kertas kalau tak salah kelas dua SMA. Mungkin karena saya juga Aquarius seperti tokoh Kugy dalam novel itu. Lalu saya menebak-nebak diri saya sendiri; apakah saya juga agen Neptunus? Itu mungkin alasan mendasar kenapa saya menyebut buku ini. Berkat Perahu Kertas, untuk pertama kalinya saya mengatakan tidak pada orang tua. Kayak terinspirasi untuk menjadi subjek yang menentukan hidup saya sendiri sejak itu. Saya menolak untuk kuliah di pesantren dan memilih kuliah di Yogyakarta. Padahal orang tua sangat tidak setuju. Sungguh berat hati orang tua memberi izin saya merantau ke Yogyakarta, itu pun dengan beberapa konsekuensi. Tapi saya yakin saja dan nekat saja.

INTERVIEWER

Menurut Anda 5 buku sastra apa saja yang wajib dibaca setiap orang Indonesia? Kenapa?

NURUL ILMI ELBANA

Duuh, pertanyaan susah. Heuheu.

Pertama, The God of Small Things karya Arundhati Roy.

Kedua, Norwegian Wood karya Haruki Murakami.

Ketiga, Namaku Hiroko karya NH. Dini.

Keempat, Sokola Rimba karya Butet Manurung.

Kelima, Bel Canto karya Ann Patchett.

INTERVIEWER

Bisakah anda ceritakan 3 buku paling favorit sepanjang hidup anda, bisa berupa buku fiksi atau non fiksi dan beri kami alasannya?

NURUL ILMI ELBANA

Nurul Ilmi Elbana, mahasiwa salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta, menulis puisi dan esai.

Kenapa cuma tiga siii? Haaa. Pertama, Orange karya Windry Ramadhina. Itu buku bekerja sama dengan Perahu Kertas yang telah mengubah hidup saya. heuheu. Saya suka karakter Faye, dia anak seorang pengusaha. Pewaris tunggal. Tapi lebih menyukai fotografi. Faye bekerja di studio milik temannya, padahal dia bisa membuka studio sendiri yang bahkan lebih besar dari tempat ia kerja. Saya tau, Faye menyukai proses. Saat saya membaca orange di bangku SMA,saya membayangkan hidup ideal ketika dewasa adalah seperti Faye. Heuheu.

Kedua, Serial Lima Sekawan karya Enid Blyton. Ini favorit ketika SMA sih. Cerita petualangan empat orang anak dan satu anjing. Ini buku memantik saya berpetualang, keluar dari Sumenep yang jumud dan melakukan hal-hal yang saya suka. Waktu itu nyesel banget kenapa baru baca pas SMA.

Ketiga, Rumah Kertas karya Carlos Maria Dominguez. Alasannya sederhana, karena buku ini saya tambah rajin beli buku. Haaa. Berkisah soal bagaimana buku-buku telah mengubah hidup seseorang. Tidak hanya mengubah dalam artian mengubah cara berpikir atau tindakan. Tapi juga benar-benar mengubah takdir seseorang. Seseorang mati tertabrak mobil ketika membaca buku atau sesorang mengalami patah tulang karena tertimpa buku. Juga ketika buku-buku terus bertambah dan menjadi mimpi buruk bagi sang tuan. Buku-buku menguasai rumah, berserakan di tangga, dapur, dan kamar mandi. Seorang tokoh yang dikisahkan dalam Rumah Kertas bahkan harus meletakkan buku-bukunya sesuai “kekerabatan”. Misalnya, si tokoh tidak akan meletakkan buku Martin Amis dengan Julian Barnes karena keduanya bermusuhan.

INTERVIEWER

Misalnya Anda diwajibkan menulis minimal 1 buku selama hidup, buku tentang apa yang ingin anda tulis? dan coba beri tahu kami apa judul yang akan Anda berikan untuk buku tersebut? Hal itu pasti akan terdengar menyenangkan dan barangkali memang anda akan memulai menulisnya!

NURUL ILMI ELBANA

Saya ingin mengarsip puisi-puisi yang saya tulis dalam satu buku. Meskipun saya tak yakin puisi saya akan bermanfaat dan menyenangkan bagi pembaca. Yah, masih mencari alasan sejauh mana kegunaan puisi saya bagi pembaca. Karena puisi-pusi yang saya tulis hidup dari keseharian saya dan hanya menuliskan hal-hal remeh temeh dan beberapa kekaguman saya terhadap seorang tokoh, keseharian manusia, rutinitas melelahkan atau perjalanan ke suatu tempat. Jika kelak pada saat yang tepat ada keyakinan, saya akan memutuskan menerbitkannya.

INTERVIEWER

Bagaimana sebaiknya indonesia dalam hal ini khususnya pemerintah, juga kita dan masyarakat lain, berbuat dan hadir untuk mengatasi ‘krisis’ literasi di indonesia?

NURUL ILMI ELBANA

Saya lihat pemerintah sekarang ini mulai memiliki kepedulian terhadap literarsi. Menggratiskan pengiriman buku-buku ke perpustakaan dan komunitas di daerah-daerah pada tanggal tertentu. Tapi, saya pesimis bahwa itu sudah cukup sebagai cara meningkatkan literasi di Indonesia. Pemerintah dan kita semua juga perlu mendukung program-program perpustakaan kecil atau komunitas kecil di pedalaman. Pengiriman buku-buku ke daerah itu tidak cukup. Meratanya distribusi buku-buku tidak berarti kecintaan membaca juga sudah merata. Di desa saya selain tidak ada perpustakaan juga tidak ada program yang memancing anak-anak dan masyarakat untuk cinta membaca.

Bagi saya, peningkatan literasi bisa diawali dengan kecintaan membaca. Misalnya, guru saya selalu memberi rekomendai bacaan bagus, selalu menceritakan pengalamannya setelah membaca buku. Lalu kami, siswa-siswanya tertarik juga membaca. Pelajarannya tidak pernah membosankan karena tidak kaku. Lepas itu saya juga bisa berbagi dengan kawan-kawan soal buku bacaan. Dan mungkin juga kawan-kawan akan berbagi dengan kawan lainnya soal bacaan. Ini sederhana tapi bisa menjadi awal yang baik. (*)

Nurul Ilmi Elbana, mahasiwa salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta, menulis puisi dan esai.

Continue Reading

Blog Pembaca

Kasmiati: Buku Menentukan Jalan Hidup Seseorang

mm

Published

on

Koleksi Pribadi/ Kasmiati

“Saya sangat meyakini jikalau buku akan menentukan jalan hidup seseorang. Buku bisa jadi representasi yang paling sederhana atau sekaligus yang paling rumit dari diri seseorang.” Tutur Kasmiati, seorang Peneliti dan Dosen, saat ditanya apa arti sebuah buku.

Beginya buku seperti guru yang tidak pernah menghakimi. Memberi nasihat yang bebas ditafsir. “Seringkali buku-buku juga menjadi tempat pelarian. Pelarian dari kebosanan, kesendirian dan kebodohan tentu saja.” Ujarnya.

Bukan pelarian tanpa dasar dan musabab. Kasmiati kecil adalah pribadi introvert, dianggap aneh dan hal itu memaksanya menepi dari kerumunan anak-anak lain. Ia menemukan tempat persembunyian terbaik pada jam istirahat sekolah untuk menghindari ejekan teman-temannya. Cerita dimulai, dalam persembunyiannya ia ketemu dengan buku-buku yang pada satu titik menjadi pondasi tegaknya kehidupannya sekarang.

“Sejak itu, tiap kali jam istrahat saya menghabiskan banyak waktu di tempat tersebut. Inilah awal mula saya menyukai buku. Buku-buku pertama yang saya baca ketika itu adalah  Atheis, Hulubalang Raja, “Dan Damai di Bumi” karya dari penulis Jerman Karl May, saya melewatkan berhari-hari untuk menyelesaikan buku tebal pertama yang saya baca ini. Ketika itu, saya juga membaca buku puisi Acep zam-zam nur yang “di atas rumbia” dulu saya hanya sekedar membacanya tidak mengerti sama sekali apa maksud dari semua buku-buku itu.” Kenang Kasmiati.

“Yang terpenting adalah saya punya tempat khusus di jam istirahat, terhindar dari kesendirian dan ejekan. Jadi saya hanya membaca apa saja yang tersedia di perpustakaan sekolah, sampai kemudian pengalaman-pengalaman membaca semasa kecil ini  ternyata membekas, berakumulasi dan membuat saya begitu menggemari dunia baca-buku hingga saat ini.” kisahnya penuh semangat.

Tidak hanya Kasmiati, di luar sana pun banyak orang memiliki pengalaman hampir serupa. Tapi seperti hidup dan buku-buku ia memiliki ceritanya sendiri, yang unik, mendalam dan personal dan tentu saja menginspirasi. Jangan lewatkan satu detail pun dari kisah Kasmiati dalam wawancara khusus #mencintaibuku yang diselenggarakan Galeri Buku Jakarta berikut ini:

INTERVIEWER

Apa arti buku buat anda? Beri kami kata bijak paling otentik berdasar perkenalan anda dengan buku-buku?

KASMIATI

Guru yang tidak pernah menghakimi. Memberi nasihat yang bebas ditafsir.  Seringkali buku-buku juga menjadi tempat pelarian. Pelarian dari kebosanan, kesendirian dan kebodohan tentu saja. Sebagai seorang yang kikukan buku merupakan penyelamat  saya dari keramaian  dan alat bantu paling utama untuk tidak tenggelam dalam kesedihan. Di luar itu semua saya sangat meyakini jikalau buku akan menentukan jalan hidup seseorang. Buku bisa jadi representasi yang paling sederhana atau sekaligus yang paling rumit dari diri seseorang.

INTERVIEWER

Ceritakan bagaimana anda pertama kali berkenalan dengan (dunia membaca) buku? Moment perkenalan dengan sebuah buku yang membuat anda menjadi pembaca buku? Hal itu pasti sangat berkesan, jadi beri tahu kami dan lebih banyak orang betapa unik dan berharga moment itu?

KASMIATI

Saya lahir dan melewatkan masa kecil di sebuah desa, ketika itu saya sangat kucel dan dianggap aneh (hingga sekarang sih haha), sehingga tidak begitu menarik untuk dijadikan seorang teman. Maka, saya sangat sering melewatkan banyak jam istirahat sendirian. Akhirnya pada sekali waktu saya mengunjungi gedung yang terpisah dari ruang-rang kelas yang ternyata itu adalah perpustakaan sekolah. Sejak itu, tiap kali jam istrahat saya menghabiskan banyak waktu di tempat tersebut. Inilah awal mula saya menyukai buku. Buku-buku pertama yang saya baca ketika itu adalah  Atheis, Hulubalang Raja, “Dan Damai di Bumi” karya dari penulis Jerman Karl May, saya melewatkan berhari-hari untuk menyelesaikan buku tebal pertama yang saya baca ini. Ketika itu, saya juga membaca buku puisi Acep zam-zam nur yang “di atas rumbia” dulu saya hanya sekedar membacanya tidak mengerti sama sekali apa maksud dari semua buku-buku itu. Yang terpenting adalah saya punya tempat khusus di jam istirahat, terhindar dari kesendirian dan ejekan. Jadi saya hanya membaca apa saja yang tersedia di perpustakaan sekolah, sampai kemudian pengalaman-pengalaman membaca semasa kecil ini  ternyata membekas, berakumulasi dan membuat saya begitu menggemari dunia baca-buku hingga saat ini.

INTERVIEWER

Beri tahu kami di mana tempat paling menyenangkan untuk anda membaca buku favorit—yang barangkali tak pernah kami duga sebelumnya? Mungkin di bawah selimut, atau di meja dapur, di toilet, di pantai yang dipenuhi sinar matahari atau duduk di bangku taman? Membenamkan diri Anda dalam buku yang bagus di kereta atau bus ke tempat kerja di mana anda mendapat cara bagus mengangkut pikiran anda ke “tempat lain”? Ceritakan pada kami bagaimana hal itu sangat menyenangkan…

KASMIATI

Di dalam kamar tentu saja, di tempat tidur tepatnya. Selain bantal dan selimut, di tempat tidur, saya selalu menyediakan buku-buku. Ini semisal gula dan kopi yang tidak pernah alpa dari meja makan kami. Hampir tidak ada malam yang terlewatkan tanpa membaca selembar dua lembar dari sebuah buku. Tempat tidur memberikan saya kebebasan memutar tubuh kesegala arah, berbaring, duduk, tengkurap, angkat kaki ke atas, meringkuk, bersandar dan berbagai gaya lainya  dapat saya lakukan dengan bebas sambil membaca. Membaca di tempat tidur juga semacam meditasi ringan sebelum tidur. Tapi ini meditasi yang tidak selalu membantu menjadi lebih tenang dan nyenyak, karena kadang malah membuat semakin gelisah, hingga tidak mau tidur, saking larutnya. Tapi yang pasti membaca di tempat tidur terasa jauh lebih baik daripada merunduk kaku mengeja kata demi kata  di meja belajar.  Terutama ketika hari hujan di akhir pekan, tak ada tuntutan untuk bangun, mandi dan bergegas kerja. Setengah hari lebih dapat saya lewatkan hanya di tempat tidur bangun, membaca, tidur, bangun, membaca  lalu tidur lagi – bangun, mandi keluar tentu dengan membawa serta buku untuk saya baca di tempat kedua terbaik menenggelamkan diri dari kalimat ke kalimat adalah di angkutan umum entah angkot atau kereta api. Membaca serasa memperingkas waktu tempuh perjalanan, aktifitas terbaik untuk membuang gelisah bagi yang telah terlambat dari janji.

INTERVIEWER

Satu buku yang mengubah hidup Anda? Beritahu kami kenapa? dan ceritakan bagaimana hal itu terjadi?

KASMIATI

Kumpulan surat-surat Kartini. Buku pertama yang memperkenalkan saya pada gagasan pembebasan, buku yang membuat saya dikemudian hari menaruh perhatian terhadap kehidupan perempuan. Buku inilah yang memantik saya benar-benar menjadi seorang pembaca, menjadi perempuan yang tidak muda menyerah dan belajar keras agar  terdidik. Mungkin jika saya tidak pernah membaca “habis gelap terbitlah terang” daya juang saya untuk terus belajar tidak akan sebesar saat ini.

Kartini  adalah yang pertama membuka mata saya, membantu saya melihat sesuatu secara berbeda. Hingga hari ini jika saya membaca ulang surat-surat Kartini saya masih begitu terpikat bukan hanya pada keindahan kalimatnya, tapi juga pada semangatnya dan bagaimana kerja menulis serta kekuatan bahasa ternyata benar-benar dapat membuat seseorang tetap bersemangat menjalani hidup di tengah beberapa kekalahan yang menghampiri.

INTERVIEWER

Menurut Anda 5 buku sastra apa saja yang wajib dibaca setiap orang indonesia? Kenapa?

KASMIATI

Menurut saya buku sastra berlatar Indonesia yang perlu dibaca adalah roman “Manusia Bebas” yang berkisah tentang bagaiamana keras kepalanya kedua tokoh utamanya yang merupakan sepasang suami istri tidak lelah dan mudah menyerah  memperjuangkan cita-cita mereka untuk mendirikan sekolah perdikan, tidak ikut-ikutan serta tahan terhadap berbagai macam kesulitan hidup baik materil maupun olok-olokan yang datang. Saya kira tokoh dalam manusia bebas ini penggambarannya sungguh jauh berbeda dari rumusan atau ciri Manusia Indonesia yang di sampaikan oleh Mochtar Lubis dalam “Manusia Indonesia”. Dan tentu saja tetraloginya Pram, kumpulan cerpen Oka Rusmini “Akar Pule” , “Tanah Tabu” yang ditulis oleh Anindita S.Thayf. Buku pemenang 1 sayembara novel DKJ tahun 2008 ini walaupun ditulis dengan gaya bahasa yang sangat sederhana setidaknya ia berhasil membuat saya mampu mengimajinasikan keindahan lembah baliem dan menaruh simpati pada kehidupan perempuan Papua. Saya juga akan merekomendasikan untuk membaca kumpulan cerpennya Martin Aleida “Mati baik-baik Kawan” ini sangat enak dinikmati sambil mendengarkan musik dari Deugalih 😊

INTERVIEWER

Bisakah anda ceritakan 3 buku paling favorit sepanjang hidup anda, bisa berupa buku fiksi atau non fiksi dan beri kami alasannya?

KASMIATI

Wah ini sulit, saya selalu memastikan bahwa buku-buku yang akan saya baca adalah buku yang akan saya sukai. Tapi ada beberapa yang saya berharap bahwa anak-anak saya kelak juga mau membacanya yaitu “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu” buku non fiksi yang membuat saya banyak mewek heheh. Selain itu saya begitu  menggemari buku-bukuyang ditulis oleh Jared Dimond, sangat kaya,  terdapat berbagai pertemuan lintasan ilmu di dalamnya dan lancar. Ke tiga adalah biografinya Ben Anderson “Hidup di luar Tempurung”, ini pertama kali saya membaca buku biografi yang sangat tipis namun penuh dengan intensitas pengalaman hidup.

INTERVIEWER

Misalnya Anda diwajibkan menulis minimal 1 buku selama hidup, buku tentang apa yang ingin anda tulis? dan coba beri tahu kami apa judul yang akan Anda berikan untuk buku tersebut? Hal itu pasti akan terdengar menyenangkan dan barangkali memang anda akan memulai menulisnya!

KASMIATI

Saya selalu ingin menuliskan bukuh yang mempunyai seorang tokoh laki-laki yang ceking, tinggi, jari-jari tanganya kecil,  menyala-nyala sekaligus tabah, miskin dan pembaca. Mempunyai saudara perempuan yang manis, berambut keriting,  bulu matanya lentik, berkulit coklat, merupakan seorang dokter tapi bekerja sebagai seorang antropolog.  Dua saudara yang tidak tumbuh dan diasuh oleh orang yang sama. Mungkin judul bukunya adalah “Stasiun” sebagai reprsentasi dari kehidupan tokohnya yang dipenuhi dengan pertemuan-pertemuan yang dalam  serta perpisahan yang ganjil.

INTERVIEWER

Bagaimana sebaiknya indonesia dalam hal ini khususnya pemerintah, juga kita dan masyarakat lain, berbuat dan hadir untuk mengatasi „krisis‟ literasi di indonesia?

KASMIATI

Pemerintah harus mau sedikit lebih bekerja keras terlibat aktif menyediakan buku-buku dengan kualitas bagus, dan memastikan bahwa setiap orang di negri ini dapat mengakses buku bagus dengan cara yang sama. Pada awalnya saya cukup bahagia mendengar kabar bahwa pengiriman buku akan dialakuakn secara gratis, namun mekanisme pengiriman buku gratis ini mengecewakan saya secara pribadi.Karena ternyata buku-buku yang dapat dikirm gratis hanya ditujukan kepada perpustakaan tertentu dan di luar itu buku harus tetap dibayar normal. Menurut saya ini tetap tidak cukup.  Pertama sebarapa banyak sih perpustakaan yang masuk daftar list berhak memperoleh kiriman buku gratis dan seberapa luas jangkauannya. Tentu representasinya sangat timpang jika akan di perbandingkan dengan luasan wilayah, akses atau juga jumah penduduk. Selain itu buku-buku yang disumbangkan atau tersedia di perpustakaan seringkali tidak dikurasi dan banyak tidka sesuai dnegan kebutuhan pembaca.

Saya menjadi begitu cerewet tentang ini karena sebagai seorang yang hidup di kota kecil di bagian timur Indonesia saya merasakan betul bagaimana biaya pengiriman buku  seringkali jauh lebih mahal daripada harga buku yang dibeli atau pesan dari luar kota.

Tawaran saya sebenarnya sederhana saja, yaitu pengiriman buku setiap tanggal 17 keperpustakaan tetap demikan dan selanjutnya untuk para pembeli buku individu, jika pemerintah tidak dapat mengintervensi untuk  digratiskan juga pada waktu-waktu tertentu setidaknya biaya kirim buku tidak disamakan dengan harga kirim barang lainya atau stengah harga dari biaya kirim ini akan sedikit lebih membantu.

Ke dua, jika kita meyakini bahwa perilaku itu dibentuk dari kebiasaan maka kita semua harus memastikan anak-anak kita, membaca sejak dini. Namun sayangnya menemukan buku berbahasa Indonesia yang baik untuk di baca anak-anak sangat sulit. Buku untuk anak-anak yang cukup bagus rata-rata adalah buku teritan luar dengan harga yang tentu juga jauh lebih mahal. Selain itu saya belum pernah menemukan karya sastra Indonesia yang di sadur untuk bacaan anak-anak. Di negri besar ini bahkan kita tidak hanya terancam dari krisis yang fundamnetal berupa pangan dan kepercayaan tapi juga dari kerja kreatif semisal ketiadaan lagu dan buku untuk anak-anak (*)

Kasmiati: Kelahiran 10 oktober 1990. Menaruh minat pada kehidupan perdesaan, isu perempuan dan ruang. Sehari-hari belajar-mengajar di sebuah Universitas Negri di Sulawesi Tenggara serta mengelolah lembaga penelitian dan pusat studi yang berfokus pada isu kebijakan publik dan ekonomi.

__________________________________________________________________________________________________________________

| chief editor: sabiq carebesth | editor bahasa: marlina sophiana | Redaksi: galeribukujakarta@gmail.com | #MencintaiBuku

Continue Reading

Trending