Connect with us

Buku

11 Penggambaran Paling Realistis tentang Gangguan Jiwa dalam Novel

mm

Published

on

Terdapat tradisi besar tentang gangguan jiwa dalam karya fiksi. Penulis era Victoria senang menyembunyikan perempuan gila di atas sebuah Menara atau loteng, dimana dia dapat perlahan-lahan mengupas wallpaper dari dindingnya atau merintih dan mengerang dengan tidak terkendali sehingga membuat takut para governess muda yang berusaha tidur di lantai bawah. Kemudian, buku-buku akan memperkenalkan pembaca pada perawat-perawat jahat, pemaksaan lobotomi, dan upaya yang ceroboh dalam terapi kejut listrik. Tak perlu dijelaskan, gangguan jiwa memang lebih tidak dipahami pada masa lampau dibandingkan dengan saat ini.

Beberapa dekade terakhir telah membawa perubahan dalam cara pengobatan gangguan jiwa dan bagaimana hal itu digambarkan dalam literatur. Karakter diizinkan untuk turun dari loteng dan menceritakan kisah mereka sendiri. Dalam memoar, pengarang membagi pengalaman-pengalaman mereka dalam catatan-catatan kasar dari sudut pandang orang pertama. Girl, Interrupted, Prozac Nation, dan Running with Scissors hanyalah beberapa contoh – lihatlah daftar dalam link ini 20 Greatest Memoirs of Mental Illness untuk mendapatkan lebih banyak rujukan.

11 novel yang tercantum dibawah ini juga berbicara dengan sangat jujur mengenai gangguan jiwa. Terkadang selubung fiksi mengizinkan para pengarang untuk mencerikan kisah-kisah yang bahkan lebih nyata-mereka dapat menulis tanpa mengkhawatirkan reputasinya sendiri atau reaksi-reaksi dari anggota keluarga. Buku-buku mereka memberikan kita pemahaman yang lebih dalam tentang gangguan jiwa dan cara kita berhadapan dengan gangguan jiwa dalam kebudayaan kita. Mereka juga melakukan apa yang semua literatur besar harus lalkukjan-membiarkan kita untuk mengenal dan peduli pada karakter-karakter selayaknya manusia.

Mrs. Dalloway karya Virginia Woolf (1925)

Satu hari dalam hidup Clarrisa Dalloway, seorang wanita kelas atas Inggris. Melalui karakter Septimus, seorang veteran perang dunia pertama yang mengalami gangguan paska trauma perang, buku ini mengkritisi perlakuan terhadap penyakit kejiwaan. Woolf menggunakan perjuangannya sendiri dengan gangguan bipolar untuk mengisi karakter Septimus.

Tender is the Night karya F. Scott Fitzgerald (1934)

Scott Fitzgerald menulis novel ini ketika istrinya, Zelda, sedang berada di rumah sakit untuk pengobatan skizofrenia. Dikisahkan di Riviera Prancis pada tahun 1920an, Tender is the Night adalah sebuah cerita tentang psikoanalis Dick Diver dan istrinya Nicole…. Yang kebetulan juga menjadi pasiennya.

The Catcher in the Rye karya J.D. Salinger (1951)

Hikayat yang jujur tentang ketidakpuasan masa muda, The Catcher in the Rye masih laku terjual sekitar 250.000 kopi per tahun. Holden Caulfield, pahlawan muda kita, pertama kali muncul dalam sebuah cerita pendek tahun 1945 dalam majalah Collier dengan judul “I;m Crazy.”

The Bell Jar karya Sylvia Plath (1963)

Awalnya dipublikasikan dibawah nama samaran, The Bell Jar merupakan catatan semi-autobiografi dari depresi klinis yang dialami sendiri oleh Plath, sebuah sensasi yang ia deskripsikan sebagai berikut: “Dimanapun aku duduk-di atas dek sebuah kapal atau di kafe di jalan-jalan Paris atau Bangkok-aku akna duduk dibawah tudung gelas yang sama, terkukus dalam udaraku sendiri yang masam.”

I Never Promised You a Rose Garden karya Joanne Greenberg (nama pena: Hannah Green) (1964)

Deborah Blau didiagnosa dengan skizofenia paranoid, menghabiskan tiga tahun di rumah sakit jiwa. Kisahnya selaras dengan pengalaman-pengalaman pengarangnya, dan dokter dalam ceritanya didasarkan pada dokternya di dunia nyata, seorang psikiater German, Frieda Fromm-Reichmann.

Disturbing the Peace karya Richard Yates (1975)

Novel semi-autobiografi ini menceritakan kisah John C. Wilder, seorang perkerja periklanan berubah menjadi penulis skenario yang menghabiskan beberapa waktu di rumah sakit jiwa dan menderita (seperti halnya Yates) delusi-delusi dikarenakan allkohol.

Ordinary People karya Judith Guest (1976)

Conrad mencoba bunuh diri setelah kematian tragis kakak laki-lakinya, sehingga orangtuanya mengirimnya ke rumah sakit jiwa. Setelah keluar dengan bantuan dari psikiater, Conrad memeriksa depresinya dan mencoba untuk memahami kebekuan hubungannya dengan ibunya. Film adaptasi dari Ordinary People, diperankan oleh Mary Tyler Moore memenangkan Academy Award untuk film terbaik tahun 1980.

She’s Come Undone karya Wally Lamb (1992)

Delores Price perlahan-lahan menguraikan kekusutannya setelah berurusan dengan kejadian traumatis sebagai seorang remaja. Sebagai seorang perempuan berusia 20an, dia menghabiskan bertahun-tahun di sebuah institusi setelah sebuah upaya bunuh diri. Dia pada akhirnya berhenti terapi dan berusaha untuk membangun kembali hidupnya dengan caranya sendiri. Lamb kembali menulis tentang gangguan jiwa dalam buku selanjutnya, I Know This Much is True.

 The Hours karya Michael Cunning (1998)

Terinspirasi dari buku pertama dalam daftar kita, Mrs. Dalloway, kisahnya menampakkan satu hari di dalam hidup tiga wanita berbeda zaman, termasuk Virginia Woolf sendiri. The Hours memenangkan Pullitzer Prize untuk karya fiksi di tahun 1999.

The Passion of Alice karya Stephanie Grant (1998)

Salah satu novel yang kurang dikenal dari daftar ini, The Passion of Alice merupakan sebuah potret tangguh yang menyentuh tentang seorang perempuan berusia 25 tahun yang dimasukkan ke sebuah klinik gangguan makan setelah dia hampir mati dikarenakan gagal jantung.

The Marriage Plot karya Jeffrey Eugenides (2011)

Leonard, salah satu karakter utama dalam novel ini, hidup dengan depresi manik yang mempengaruhi pekerjaannya, persahabatannya, dan hubungan percintaannya. Di dalam sebuah wawancara dengan Slate, Eugenides membungkam rumor bahwa Leonard dibuat berdasarkan David Foster Wallace.

——————————————-

Diterjemahkan editor bahasa Galeri Buku Jakarta, Marlina Sophiana, dari 11 of the Most Realistic Portrayals of Mental Illness in Novels by Rebecca Kelley. Pertama kali ditayangkan di www.bustle.com, 13 May 2014.

 

Buku

Dunia Tidak Selalu Baik Baik Saja

mm

Published

on

Sesuai dengan judulnya, dongeng Voltaire ini menceritakan pengalaman Candide setelah diusir dari Istana Baron Thunder-ten-Tronckh, tempat nyaman masa kecil, di mana ia mendapat pendidikan dari guru filsafat Pangloss. Ia diusir gara-gara hal sepele saja, yaitu karena ia berani mencium Cunégonde, putri sang Baron.

Candide adalah sebuah novel satir yang ditulis oleh filsuf Voltaire. Novel ini diterbitkan pertama kali pada 1759 di Jenewa, Swiss. Namun sebelum menyerahkan naskahnya untuk dicetak di Jenewa, Voltaire telah sebelumnya mengirimkan naskah (dengan versi yang berbeda) kepada John Nourse, seorang penerbit di London dan kemungkinan Voltaire juga mengirimkan naskahnya kepada penerbit lain. Karena itu hanya dalam waktu beberapa minggu setelah novelnya terbit di Jenewa, edisi lainnya juga diterbitkan di Paris. London dan Amsterdam. Dalam tahun yang sama, setidaknya tujuh belas edisi Bahasa Prancis dari novel Candide.

Novel ini bercerita tentang seorang anak muda dari Westphalia bernama Candide dan kisahnya bepergian ke banyak tempat untuk menyelamatkan kekasihnya, Cunegonde. Candide merupakan seorang yang sangat optimis meskipun dalam perjalanannya ia selalu menghadapi bencana dan musibah. Sifat optimistiknya itu didapat dari Pangloss yang adalah mentornya.

Melalui novel ini, Voltaire ingin menyatakan ketidaksetujuannya dengan filosofi yang dianut oleh Goofried Leibniz dan Alexander Pope. Leibniz berpendapat bahwa dunia yang diciptakan oleh Tuhan adalah dunia yang terbaik yang mungkin ada dengan aturan dan alasan yang sempurna. Alexander Pope pun berpendapat sama, ia menyatakan dalam esainya bahwa manusia merupakan bagian dari rancangan Tuhan yang besar dan rasional. Dalam novel ini, bencana dan musibah yang dialami Candide secara bertubi-tubi membuatnya tidak percaya lagi bahwa dunia merupakan dunia yang terbaik. Secara tidak langsung Voltaire menyatakan bahwa dunia merupakan sebuah distopia dan meskipun ia percaya Tuhan menciptakan dunia namun ia berpendapat bahwa kekejaman manusia telah membuat dunia ini menjadi tidak sempurna.

*

Sesuai dengan judulnya, dongeng Voltaire ini menceritakan pengalaman Candide setelah diusir dari Istana Baron Thunder-ten-Tronckh, tempat nyaman masa kecil, di mana ia mendapat pendidikan dari guru filsafat Pangloss. Ia diusir gara-gara hal sepele saja, yaitu karena ia berani mencium Cunégonde, putri sang Baron.

Candide yang lugu dan polos sesuai dengan namanya, sangat penurut dan menyerap ajaran gurunya yang fanatic secara membabi buta: bahwa semuanya terbaik dalam dunia terbaik yang mungkin diciptakan. Ia berpetualang dari satu negeri ke negeri lain dan mengalami berbagai masalah:  direkrut menjadi tentara Bulgaria dan dipaksa berperang menyaksikan pembantaian manusia, dan kemudian di negeri Belanda melihat berbagai bentuk kemunafikan manusia. Dalam perjalanan ia bertemu lagi dengan Pangloss, yang bertampang mengerikan karena menjadi korban penyakit kotor. Gurunya menceritakan bahwa keluarga sang Baron porak-poranda: baron dan istri serta putranya dibunuh, dan Cunégonde juga diperkosa dan dibunuh.

Dalam kisah selanjutya, tokoh-tokoh itu dipertemukan dan kemudian dipisahkan lagi dalam kondisi yang tidak menggembirakan karena mengalami berbagai bencana.Terkadang masuk tokoh-tokoh baru yang membawa pikiran yang bertolak belakang, misalnya tokoh Martin. Ia berpendapat bahwa di dunia ini segalanya jelek, demikian juga si Nenek yang melayani Cunégonde. Jadi berlawanan dengan Pangloss yang, di tengah bencana yang paling mengerikan, tetap berpendapat bahwa semuanya baik di dunia terbaik yang mungkin diciptakan.

Bentuk dongeng memungkinkan sang pengarang untuk membuat hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Sebetulnya Voltaire, sebagai salah seorang pengarang terbesar Prancis pada abad ke-18, telah menulis banyak karya drama dan karya ilmiah. Dongeng-dongeng seperti Candide, Si Lugu, dan Suratan Takdir ditulisnya pada masa tua untuk menghibur teman-temannya dalam pertemuan silaturahmi. Namun justru dongengnyalah yang hidup sampai sekarang, bahkan Candide misalnya, telah difilmkan. Jika dibaca secara sepintas lalu, Candide hanyalah dongeng petualangan biasa. Namun jika disimak secara mendalam, kisah ini penuh renungan filsafat dan kritik Voltaire tentang perilaku dan kondisi manusia sepanjang zaman. (*)

Continue Reading

Buku

Berkisah (ke) Sejarah

mm

Published

on

Sejarah identitas memang mengandung perdebatan dan anggapan-anggapan bertaburan dilema.

Oleh: Bandung Mawardi | Esais 

“Saya seperti utang budi kepada Raden Saleh karena lahir banyak sekali cerpen berlatar tahun 1811 sampai seterusnya,” kata Iksaka Banu seperti dimuat dalam Kompas, 23 Januari 2020. Sejak lama, ia bersekutu bareng Kurnia Effendi mengerjakan novel mengenai Raden Saleh. Novel berjudul Pangeran dari Timur bakal terbit. Masa lalu saat bergairah mencari data-data, Iksaka Banu keranjingan menulis cerita pendek: terbit menjadi dua buku.

Pada 2014, Iksaka Banu dengan buku berjudul Semua untuk Hindia meraih Kusala Khatulistiwa Award. Ia memang memberi prosa apik dan merangsang ke pengisahan dan pewartaan sejarah. Tahun-tahun berlalu, ia tampil lagi dengan buku berjudul Teh dan Pengkhianat (2019). Buku masih berisi cerita-cerita merangsang ke renungan sejarah. Di kategori prosa, buku itu menjadi pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2019. Cerita-cerita pantas terbaca dan teringat. Persembahan “unik” di kesusastraan Indonesia mutakhir.

Kita mulai simak cerita berjudul “Di Atas Kereta Angin”. Kita diperkenalkan dengan tokoh-tokoh berwatak kolot dan moderat menanggapi “kemadjoean” dan persaingan identitas di tanah jajahan. Dua tokoh berseberangan memahami identitas diri sebagai manusia Eropa. Si kolot ingin terus menjadi “toean” dihormati, ditakuti dengan rajin memerintah si bumiputra. Larangan-larangan diberikan di perkara busana dan sepeda. Si moderat mengerti situasi zaman, memperkenankan si bumiputra selaku bujang (pembantu di rumah) menaiki sepeda. “Toean” tetap berpikiran lebih beradab itu memberikan pula hak pada si bujang mengenakan pantalon Eropa saat di atas sepeda mengerjakan tugas-tugas.

Latar cerita di Jogjakarta. Si bumiputra mengendarai sepeda dengan busana rapi menjadi polemik. Dua tokoh Belanda itu tak pernah membuat bandingan bahwa sepeda tak melulu bukti kuasa “toean” berkulit putih ke orang-orang terjajah. Di Solo, awal abad XX bumiputra  pun “bersepeda” tapi bermisi berbeda. Di novel berbahasa Jawa gubahan Jasawidagda berjudul Kirti Junjung Drajat (1924), diceritakan sepeda menentukan gairah nasionalisme melalui Boedi Oetomo. Tokoh penggerak di organisasi “modern” itu pemilik toko-bengkel sepeda. Penghasilan besar digunakan untuk hidup dan diberikan ke pembesaran Boedi Oetomo. Sepeda bertokoh kaum bumiputra, berbeda arah dari cerita menguak sejarah buatan Iksaka Banu.

Tokoh bumiputra di cerita Iksaka Banu tetap di posisi rendah. Penjelasan “toean” berlagak mengerti kemajuan dan bersikap etis pada si bujang: “Ia tetap masih mengenakan sarung yang digulung sepinggang… Ia pun memakai ikat kepala. Pendeknya, secara keseluruhan penampilannya masih Jawa seperti warga lainnya. Orang tidak akan keliru mengira ia Eropa.” Sejarah identitas memang mengandung perdebatan dan anggapan-anggapan bertaburan dilema.

Tokoh-tokoh ciptaan Iksaka Banu mengalami gejolak dan kisruh menjalani sekian hal di Nusantara. Pada masa lalu, Nusantara itu rempah-rempah. Cerita berjudul “Kalabaka” mengisahkan perdagangan, moral, tanaman, perang, dan keluarga. Iksaka Banu bukan pemberi sifat-sifat mutlak membedakan nasib kaum Eropa dan bumiputra. Tokoh di cerita itu berkebangsaan Belanda, mati berdalih memberi penghormatan atas hak-hak penghuni Banda. Kematian bersurat untuk membagi derita dan mengingatkan petaka VOC.

Pesan di surat terbaca si putra: “Bila kelak engkau menjadi pengusaha, jangan pernah tergiur bujukan VOC untuk pergi ke Hindia dengan iming-iming menjadi jutawan melalui perdagangan pala atau fuli. Sebab, pada setiap keping sen yang kau simpan, ada darah dan air mata penduduk Banda yang kehilangan asal-usul dan jati diri karena gugur membela tanah air, atau dibawa ke Batavia sebagai budak belian.” Berpihak! Tokoh-tokoh di cerita dan sejarah berhak berpihak meski sadar risiko. Si penulis surat dihukum oleh bangsa sendiri, Eropa mengaku beradab dan membawa pesan Tuhan. Kaum Eropa di Nusantara justru khianat dan pencipta petaka berkepanjangan. Di buku-buku sejarah bertema rempah-rempah, kita semakin mengerti perdagangan dunia membinasakan bumiputra dan membangkrutkan Nusantara sebagai negeri subur.

Cara bercerita di dua cerpen itu terasa “mengejutkan” asal kita mau membandingkan dengan kemahiran dan kepekaan para pengarang Belanda mengisahkan Hindia Belanda masa lalu. Buku berisi cerita-cerita Iksaka Banu itu bakal senewen jika bersanding dengan buku berjudul Bianglala Sastra: Bunga Rampai Sastra Belanda tentang Kehidupan di Indonesia (1979) ditulis kembali oleh Dick Hartoko berdasarkan buku Oost Indische Spiegel susunan Rob Nieuwenhuys. Dulu, kita sering mengacu ke teks-teks sastra gubahan pengarang Belanda atau Indonesia saat ingin mengetahui sejarah Nusantara dan watak manusia-manusia berbeda peran selaku: penjajah dan terjajah. Pada abad XXI, Iksaka Banu menempuh jalan jauh ke waktu silam untuk menggarap cerita-cerita, belum perlu menumpuk warta atau pamer di daftar pustaka puluhan halaman. Cerita memang tak bermaksud menjadi teks sejarah seperti diajarkan di ruang-ruang kuliah. Iksakan Banu menjelaskan: “Bila terlalu banyak memasukkan fakta sejarah, unsur fiksinya bisa hilang, dan cerita akan bergulir dari awal hingga akhir dengan sangat membosankan, seperti buku diktat.”

Dua buku buatan Iksaka Banu berjudul Semua untuk Hindia dan Teh dan Pengkhianat tak sempat terbaca oleh Subagio Sastrowardoyo. Kita menduga buku-buku itu menjadi “bandingan” dan “ledekan” atas segala warisan sastra dari masa lalu bercerita Hindia Belanda. Di buku berjudul Sastra Hindia Belanda dan Kita (1983), Subagio Sastrowardoyo sudah menderet pikat kesusastraan di situasi sejarah terselenggara di Nusantara. Ketekunan Iksaka Banu menulis “fiksi sejarah kolonial” mungkin terpaut jauh dari album sastra sudah mendapat pembahasan dari Rob Nieuwenhuys dan Subagio Sastrowardoyo. Kini, suguhan cerita-cerita itu diganjar penghargaan tanpa ada jaminan memberi rangsang kesejarahan bagi pembaca tak memperoleh daftar pustaka atau daftar warta dari Iksaka Banu.

Di cerita berjudul “Tegak Dunia”, kita masih mungkin membaca sambil membuka buku-buku garapan Denys Lombard dan Nirwan Ahmad Arsuka. Cerita mengenai globe dan Karaeng Pattingalloang. Bumiputra itu fasih sekian bahasa dan keranjingan sains. Ia memesan globe dari Eropa. Manusia-manusia Eropa kaget dan kagum mendapatkan kabar bahwa Karaeng Pattingalloang rajin membaca buku-buku dan memiliki selera sains mungkin saja mengalahkan kaum Eropa di Nusantara. Si Eropa cukup memberi keterangan atas benda pesanan bumiputra berpikiran maju: “Ini sebuah globe! Tiruan bumi. Lengkap dengan relief benua, pulau, samudra, serta keterangan dalam bahasa Spanyol, Portugis, dan Latin. Sesuai permintaan pemesannya.” Kemenangan serasa terbaca di biografi pemesan untuk mengingatkan kepongahan intelektual kaum Eropa.

Kita khatam cerita-cerita dalam Teh dan Pengkhianat mungkin terangsang berjalan ke sejarah. Buku perlu bersanding dengan setumpuk buku sejarah berbahasa Inggris, Belanda, dan Indonesia agar membaca cerita seperti di tebakan atau keterkejutan. Buku menggemaskan di seruan sejarah kolonial. Begitu.

Continue Reading

Buku

Ilustrasi: Imajinasi dan Ideologis

mm

Published

on

Buku Roesdi djeung Misnem memiliki tautan antara Belanda dengan tanah jajahan bersumber kebijakan-kebijakan di pendidikan-pengajaran dasar bagi bumiputra. Pandangan-pandangan politik pihak Belanda teranggap diwakili di pembuatan buku dan penampilan ilustrasi-ilustrasi WK de Bruin.

Bandung Mawardi *)

____

Angan dan pengejawantahan “kemadjoean” di tanah jajahan turut dipengaruhi penerbitan bacaan-bacaan bocah, sejak awal abad XX. Buku-buku diterbitkan menjadi penuntun bocah-bocah bumiputra menapaki jalan kemajuan. Sekian bocah malah sampai ke hasrat menempuhi “jalan ke Barat” gara-gara pikat buku-buku bacaan diajarkan di sekolah. Di buku, mereka membaca cerita dan menikmati ilustrasi merangsang imajinasi mengandung jalinan estetika-ideologis.

Peran penerbit, penulis, dan ilustrator menentukan corak bacaan bagi bocah-bocah dengan pelbagai bahasa: Belanda, “Melajoe”, Jawa, Sunda, Madura, Batak, dan lain-lain. Penerbitan buku untuk bocah memang agak belakangan, belum terlalu menjadi misi besar. Penerbit milik pemerintah kolonial Belanda dan partikelir bersaing di pengadaan buku bacaan bocah. Commisie voor de Volkslectuur mengawali terbitan buku berjudul Serat Kantjil Tanpa Sekar (1909) garapan Wirapoestaka. Sekian buku berlanjut diterbitkan dalam sekian bahasa: Dongeng-Dongeng Soenda (1910) oleh M Saleh dan Ardiwinata, Hikajat Pelandoek Djenaka (1914), Boekoe Pangadjharan (1914), dan Doewa Toeri-Toerian (1917) oleh Arsenius Loemban Tobing (Chritantiowati, Bacaan Anak Indonesia: Tempo Doeloe: Kajian Penduluan Periode 1908-1945, 1996).

Buku-buku untuk bacaan bocah terus terbit, disebarkan ke pelbagai tempat di Taman Poestaka bentukan pemerintah kolonial. Buku-buku berbahasa Jawa dan Sunda mendapat perhatian besar di misi pengajaran dan keaksaraan awal abad XX. Christantiowati mencatat buku berbahasa Sunda digemari bocah-bocah di masa lalu: Genep Belas TjaritaSoeltan Abdoellah djeung HassanPetikaneunManoek Hiber koe DjangdjangnaTjarita Si Kate, dan lain-lain. Kita tak mendapat informasi mengenai sekian buku cuma berisi kata-kata atau digenapi ilustrasi-ilustrasi. Kita menduga buku-buku untuk bocah tentu memikat dengan adonan kata dan gambar.

Masa lalu diundang lagi oleh Hawe Setiawan di buku berjudul Bocah Sunda di Mata Belanda: Interpretasi atas Ilustrasi Buku Roesdi djeung Misnem (2019). Pilihan buku untuk kajian itu mengacu pengenalan bocah-bocah Sunda pernah bersekolah di taraf pendidikan masa awal abad XX. Buku berjudul Roesdi djeung Misnem digarap oleh AC Deenik dan R Djajadiredja digenapi gambar-gambar oleh WK de Bruin. Selama puluhan tahun, buku itu nostalgia dalam cerita dan rupa. Orang-orang masih membincangkan pikat buku lawas itu sampai abad XXI.

Hawe Setiawan menilai buku Roesdi djeung Misnem memiliki tautan antara Belanda dengan tanah jajahan bersumber kebijakan-kebijakan di pendidikan-pengajaran dasar bagi bumiputra. Pandangan-pandangan politik pihak Belanda teranggap diwakili di pembuatan buku dan penampilan ilustrasi-ilustrasi WK de Bruin. Muatan ideologis tebaca berbarengan dengan pengisahan-pengisahan khas di Sunda. Buku 4 jilid dari masa lalu membentuk imajinasi menguak jalinan sastra, pendidikan-pengajaran, identitas, adab, dan kolonialisme.

WK de Bruin lahir di Den Haag, Belanda, 14 Desember 1871. Ia menjadi ilustrator untuk buku-buku pelajaran atau bacaan bocah di Belanda dan tanah jajahan (Hindia Belanda). Dua buku memuat ilustrasi-ilustrasi WK de Bruin memberi pikat ke bocah-bocah bumiputra adalah Kembang SetamanRoesdi djeung Misnem, dan Panggelar Boedi. Hawe Setiawan menghitung ada 158 gambar WK de Bruin di buku Roesdi djeung Misnem. Sekian gambar ingin mengisahkan situasi kehidupan bumiputra di keseharian. Hawe Setiawan belum berani memastikan dalam menggambar WK de Bruin pernah berkunjung ke Hindia Belanda atau mengandalkan foto-foto.

Kita mendapat informasi tambahan dalam tulisan Hermanu di Kitab Si Taloe: Gambar Watjan Botjah 1909-1961 (2008). Ilustrasi-ilustrasi WK de Bruin juga dimuat di buku berjudul Matahari Terbit. Judul itu tak tercantum di buku garapan Hawe Setiawan. Puluhan buku lawas memuat ilustrasi WK de Bruin dan para ilustrator Belanda diamati Hermanu dengan pemberian konklusi: “Kesan bahwa orang-orang pribumi hanya sebagai pembantu atau warga negara kelas dua sangat kental pada gambar di buku-buku yang dicetak untuk pelajaran bagi murid-murid bangsa Belanda, sedangkan bangsa Belanda digambarkan sangat superior.” Sejak mula, maksud menampilkan ilustrasi memang ideologis, selain capaian estetika.

Hawe Setiawan memberi perhatian besar untuk gambar Roesdi, bocah berusia tujuh tahun, saat tangan kanan memegang pisang dan tangan kiri memegang tongkat. Di mata selidik Hawe Setiawan, gambar itu dianggap representasi tatapan-diskriminasi bentukan nalar Eropa sebagai negara kolonial. Pisang berkesan “penistaan” ke bocah pribumi. Gambar itu mungkin mengukuhkan pendefinisian Eropa melihat bocah jajahan seperti kera. Pisang itu makanan kegemaran kera. Gambar di buku terasa bergelimang pamrih kolonial atau Eropa sentris.

Kekhasan Hindia Belanda tampak pula di gambar rumah dan suasana di desa. Gambar-gambar kadang memicu ragu mengenai maksud-maksud WK de Bruin. Di buku bacaan, kuasa Eropa masih ditonjolkan dalam mendefinisikan manusia, peristiwa, dan tempat di tanah jajahan. Hawe Setiawan menilai sekian gambar WK de Bruin cukup “turut memberikan informasi perihal beberapa perubahan dalam tata kehidupan masyarakat Sunda dari masa ke masa.” WK de Bruin berjarak dari realitas kehidupan keseharian di Sunda. Kelemahan tentu ada dan “terlihat” di puluhan ilustrasi. Kelemahan akibat tiada pengamatan mendalam. WK de Bruin tentu berpikiran itu semain imajinasi di buku terbaca bocah, bukan ilustrasi untuk buku-buku ilmu atau riset dengan kaidah-kaidah ketat.

Ilustrasi garapan WK de Bruin tak sememikat atau semengena dengan hasil “pengamatan” Cornelis Jetses. Hermanu di buku berjudul Djalan ke Barat: Jawa di Mata C Jetses (2014) menilai: “Jetses berhasil menghadirkan suasana pedesaan, perkotaan, maupun dalam rumah tangga, sepertinya dia hadir di sana dan memindahkan objek secara detail ke dalam selembar kertas. Di samping itu, dia secara tepat dapat menggambarkan karekater masing-masing tokoh yang digambarkannya dengan sangat luar biasa.” Pujian itu berlebihan tapi mengingatkan kita di perbandingan kekuatan para ilustrator Belanda  dalam terbitan buku-buku pelajaran atau bacaan bocah di tanah jajahan. Hawe Setiawan cuma memberi sekali singgungan ke Jetses sebagai teman WK de Bruin dalam pengerjaan pelat gambar di sekolah rendah di Den Haag, Belanda, 1885. Pembandingan ke Jetses memang tak wajib tapi memungkinkan kita semakin mengerti mutu ilustrasi WK de Bruin dalam pesona dan kelemahan. Begitu. (BM)

 

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending